• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. Abstrak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. Abstrak"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN BERBASIS KOMUNIKATIF BERBANTUAN MEDIA

ANIMASI BERPENGARUH TERHADAP HASIL

BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD

NEGERI GUGUS V KECAMATAN

KARANGASEM

I Km. Ngurah Budi Aditya

1

, I Wyn. Wiarta

2

, Siti Zulaikha

3 123

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: {ngurahbudi564

1

, wayan.wiarta

2

, siti_zulaikha349

3

} @yahoo.com.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional di kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini tergolong penelitian quasy experiment dengan desain

Nonequivalent control group design. Jumlah keseluruhan populasi adalah 210 orang siswa. Sampel

penelitian ini adalah siswa kelas V di SD Negeri 3 Pertima (kelas eksperimen) dan siswa kelas V SD Negeri 2 Bugbug (kelas kontrol). Data hasil belajar matematika dikumpulkan dengan instrument berupa tes objektif bentuk pilihan ganda, kemudian data dianalisis dengan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis uji-t diperoleh bahwa thitung 6,13 > ttabel

2,000 dengan dk = 66 (∑n-2 = 68 – 2 = 66) taraf signifikansi 5%, demikian pula nilai rata-rata kelompok eksperimen 73,44 sedangkan nilai rata-rata kelompok kontrol 58,80. Hal ini berarti hasil belajar kelompok eksperimen lebih dari hasil belajar kelompok kontrol (73,44 > 58,80). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Berbasis Komunikatif berbantuan media animasi berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Komunikatif, media animasi, hasil belajar Matematika.

Abstract

This study aims to recognize the significant difference of mathematic learning’s result between students who learned through base communicative of aiding animation media with students who learned through the conventional learning in the fifth grade of state- primary school cluster V in Karangasem District at period 2013/2014. Characteristic of this study grouped to Queasy-Experimental by designing Group control nonequivalent design. The number populations of the whole were 210 students. The sample of these researches were the fifth grade students in state 3 primary school Pertima (as an experimental class) and the fifth grade students in state2 Bug bug (as a control class). Data result of mathematic learning was collected by Test objective instrument in multiple choice forms, Data was analyzed by T-test then. The result of researching showed that there was significant difference of mathematic learning’s result between students who learned through base communicative of aiding animation media with students who learned through the conventional learning. This is showed from analysis result T-test obtained that T-count 6,13> T-tabel 2,000 with DK = 66 ( n-2= 68 – 2 = 66) significant level 5 %, thus,

(2)

Therefore, we can be concluded that learning base communicative of aiding animation media impacts to mathematic learning’s result of the fifth grade students in state primary school cluster V in Karangasem District at period 2013/2014.

Keywords : Communicative-Based Learning, media animation, Mathematics learning outcomes.

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi sekarang ini pemerintah telah mengungkapkan berbagai cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) agar dapat bersaing sejalan dengan kemajuan teknologi modern di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat. Sehingga keberhasilan menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Menurut Muhsetyo (2007:1.2) mengemukakan bahwa “Matematika mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstrak, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis”. Lebih lanjut diungkapkan bahwa “keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta, konsep, operasi dan prinsip. Ciri keabstrakan matematika beserta ciri lainnya yang tidak sederhana, menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, dan pada akhirnya banyak siswa kurang tertarik terhadap matematika”.

Kenyataan di lapangan, salah satu materi yang dirasa sulit oleh sebagian besar siswa kelas V SD Negeri di Gugus V Karangasem adalah menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah.

Yang disebabkan karena pembelajaran yang berlangsung di sekolah sampai sekarang ini, pada umumnya masih bersifat konvensional. Hal ini dilakukan oleh guru karena guru mengejar target kurikulum untuk menyelesaikan materi pembelajaran atau bahan ajar dalam kurun waktu tertentu. Penerapan pembelajaran konvensional yang sedang berlangsung, yaitu pembelajaran yang dimulai dari menjelaskan teori, pemberian contoh soal dan diakhiri dengan latihan soal serta metode ceramah menjadi pilihan utama sebagai metode pembelajaran. Penggunaan metode ceramah secara dominan sangat tidak sesuai dengan pembelajaran matematika, karena konsep-konsep yang terkandung dalam pelajaran matematika memiliki tingkat abstraksi yang tinggi. Dengan metode ini, pengetahuan yang dimiliki siswa hanya bersifat prosedural yaitu siswa cenderung menghafal contoh-contoh yang diberikan oleh guru tanpa terjadi pembentukan konsepsi yang benar dalam struktur kognitif siswa.

Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah beserta guru kelas V pada tanggal 15 dan 18 Februari 2013, informasi yang diberikan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah. Terutama pada soal cerita, yang proses penyelesaiannya harus sistematis. Kebanyakan siswa yang kurang paham dengan langkah penyelesaiannya, sehingga berdampak pada hasil jawaban yang salah.

Oleh karena itu, pembelajaran berbasis komunikatif merupakan salah satu pembelajaran yang sesuai dengan paham konstruktivis sebab dengan memberikan kesempatan siswa untuk

(3)

berkomunikasi secara maksimal berarti siswa mengantarkan dirinya dalam

memahami, mengembangkan,

menerapkan, dan menjelaskan suatu proses matematika (student center). Menurut Ansari (2003) Pembelajaran Berbasis Komunikatif adalah pembelajaran yang dikembangkan melalui pola interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa untuk menciptakan komunikasi yang terarah sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang komunikatif dan menyenangkan. Lebih khusus lagi, mengacu pada pendapat Baroody yang merekomendasikan bahwa pembelajaran matematika harus dapat membantu siswa mengkomunikasikan ide matematika melalui lima aspek komunikasi yaitu : (1) representasi, (2) mendengar, (3) membaca teks secara aktif, (4) diskusi, dan (5) menulis (Asikin,2001). Sedangkan Menurut Suyatno (2009 : 91) bahwa desain yang bermuatan komunikatif harus mencangkup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis.

Selain menggunakan pembelajaran berbasis komunikatif, juga digunakan media animasi dalam pembelajaran. Animasi merupakan gambar bergerak yang merupakan imbas dari kemajuan IPTEK. Penggunaan animasi tidak terlepas dari peran komputer. Animasi dapat dihasilkan melalui grafik komputer 3D ataupun 2D. Animasi adalah gambar yang dibuat dengan menggunakan teknik tertentu sehingga gambar tersebut menjadi seakan bergerak apabila dilihat oleh mata. Menurut Arsyad (2011 :172) bahwa informasi yang disajikan melalui multimedia ini berbentuk dokumen yang hidup, dapat dilihat dilayar monitor atau ketika di proyeksikan ke layar lebar melalui overhead projector , dan dapat didengar suaranya, dilihat gerakannya (video atau animasi) .Media animasi, dilihat dari

sifatnya termasuk media audiovisual,yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat. Misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media auditif (unsur suara saja) dan media visual (hanya dapat dilihat saja) Sanjaya( 2006 : 170). Secara umum dapat dikatakan bahwa animasi suatu kegiatan untuk menghidupkan atau menggerakan sebuah gambar sehingga gambar tersebut menjadi terlihat hidup dan nyata. Harapan yang dicapai dengan menggunakan media animasi ini adalah dapat memberikan kegairahan siswa untuk belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Berdasarkan analisis terhadap hasil observasi dan wawancara, menunjukkan bahwa kurangnya keaktifan siswa dalam mengkomunikasikan hasil pemikirannya di dalam pembelajaran. Rendahnya interaksi siswa di dalam kelas, karena pembelajaran yang dilakukan guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri konsep yang sedang dibelajarkan. Oleh karena itu, guru perlu memahami tentang karakteristik matematika. Sehingga dapat mengajarkan materi tersebut dengan penuh dinamika dan inovasi dalam pembelajarannya. Depdiknas (2003:2) mengemukakan bahwa : Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

Perlu disadari bahwa guru membelajarkan tidak hanya sekedar memberikan atau menyampaikan informasi kepada siswa, banyak tindakan maupun kegiatan yang harus dilakukan dalam pembelajaran, sehingga materi bisa diterima dengan baik, yang akan berimbas pada prestasi belajar siswa lebih baik pula. Tindakan yang dimaksud adalah tindakan

(4)

yang bisa memotivasi siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut maka diambil keputusan menciptakan pembelajaran Matematika dengan tepat, dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, mengkomunikasikan pemikirannya dan menuliskan hasil diskusinya sehingga siswa lebih memahami konsep yang diajarkan. Oleh karena itu melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi permasalahan yang diuraikan di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika antara siswa yang belajar melalui Pembelajaran Berbasis Komunikatif Berbantuan Media Animasi dengan siswa yang belajar melalui Pembelajaran Konvensional pada siswa kelas V SD Negeri Gugus V Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014 ?

METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2013/2014 di kelas V Sekolah Dasar Gugus V Kecamatan Karangasem. Pada dasarnya penelitian itu bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional di kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonequivalent control group design. Dalam nonequivalent control group design terdapat dua kelompok yang dipilih , salah satunya sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lainnya sebagai kelas kontrol. Kemudian diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal kedua kelompok tersebut , apakah ada perbedaan

dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

Kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan, tetapi diberikan pembelajaran konvensional. Masing-masing kelompok tersebut sama-sama diberikan pre-test dan post-test. Faktor validitas internal penelitian tidak memiliki kelemahan serta dapat dikontrol , seperti : latar belakang keluarga, test, instrument, gender, dan mortalitas (kematian).

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (sugiono, 2010:61). Sedangkan menurut Darmadi (2011 :14) Populasi adalah keseluruhan dengan ciri yang sama, populasi terdiri dari orang, benda, kejadian, waktu dan tempat dengan sifat atau ciri yang sama. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang diteliti, tetapi juga meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki objek atau subjek tersebut.

Jadi dapat disimpulkan pengertian dari populasi adalah himpunan dari seluruh objek atau subjek yang memiliki ciri-ciri dan sifat tertentu yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri yang berada di Gugus V Kecamatan Karangasem yang berjumlah 210 orang yang terdiri dari tujuh sekolah yaitu : SD Negeri 2 Pertima, SD Negeri 3 Pertima, SD Negeri 1 Bugbug, SD Negeri 2 Bugbug, SD Negeri 3 Bugbug, SD Negeri 6 Bugbug, dan SD Negeri 7 Bugbug. Semua sekolah yang terdapat di SD Gugus V sudah dinyatakan setara secara akademik oleh Ketua Gugus V Karangasem.

Menurut Noor (2010:148) menyatakan bahwa sampel (sampling) adalah proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi, sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau karaketristiknya membuat kita dapat

(5)

mengeneralisasikan sifat atau karakteristik tersebut pada elemen populasi. Menurut Trianto (2010 :231) mengatakan sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang sama atau serupa dengan populasinya. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil, yang dianggap mewakili seluruh populasi. Syarat sampel yang baik harus representatif (karakteristik sampel sama dengan karakteristik populasi) dan memadai(ukuran sampel cukup untuk meyakinkan kestabilan karateristiknya). Dalam pemilihan sampel penelitian ini tidak dilakukan pengacakan individu,karena tidak bisa mengubah kelas yang sudah terbentuk sebelumnya. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti. Hal ini untuk menghindari kemungkinan pengaruh dari keadaan subjek mengetahui dirinya dilibatkan dalam eksperimen, sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan.

Berdasarkan karakteristik populasi dan tidak bisa dilakukan pengacakan individu, maka pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling, yang dirandom atau diacak adalah kelas. Setelah mendapatkan kelas eksperimen dan kelas kontrol, selanjutnya dilakukan uji kesetaraan sampel penelitian melalui pemberian soal pre-test, untuk mengetahui tingkat kesetaraan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol maka hasil pre-est diuji terlebih dahulu normalitas dan homogenitasnya. Kemudian soal pre test tersebut diuji tingkat kesetaraannya dengan menggunakan uji-t.

Setelah kedua kelas dinyatakan setara maka peneliti melakukan pengundian terhadap kedua kelas tersebut untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil pengundian tersebut terpilih siswa kelas V SD Negeri 3 Pertima sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas V SD Negeri 2 Bugbug sebagai kelas kontrol.

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab munculnya variabel terikat. Variabel bebas yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi yang dibelajarkan pada kelompok eksperimen dan pendekatan pembelajaran konvensional yang dibelajarkan pada kelompok kontrol. Sedangkan Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau variabel yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas . variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar pada mata pelajaran Matematika.

Pengertian daya pembeda (DP) dari sebuah butir soal adalah menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara testi (siswa) yang mengetahui jawabannya dengan benar dengan testi (siswa) yang tidak dapat menjawab soal tersebut (siswa yang menjawab salah). Dengan kata lain daya pembeda butir soal adalah kemampuam butir soal itu untuk membedakan antara testi (siswa) yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan testi (siswa) yang berkemampuan rendah.

Instrumen yang dibuat sebanyak 50 butir soal. Dari hasil perhitungan uji validitas diperoleh 40 soal, dari hasil perhitungan uji daya beda diperoleh 3 soal dengan kriteria jelek, 19 soal dengan kreteria cukup, dan 18 soal dengan kriteria baik, dari hasil perhitungan tingkat kesukaran diperoleh 6 soal dengan kriteria sukar, 29 soal dengan kriteria sedang, dan 5 soal dengan kriteria mudah, sedangkan dari hasil perhitungan uji reliabilitas tersebut diperoleh tingkat reliabiltas dari 8,859 sehingga reliabiltas dari soal-soal tersebut tergolong sangat tinggi. Setelah melakukan uji coba instrumen diperoleh sebanyak 30 butir soal yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar Matematika. Tes ini mengungkapkan tentang penguasaan siswa terhadap pelajaran Matematika yang mereka peroleh di kelas V. Setiap soal disertai dengan empat alternative jawaban yang dipilih siswa (alternative a,b,c,dan d). Setiap item diberikan skor satu bila siswa

(6)

menjawab dengan benar (jawaban dicocokan dengan kunci jawaban). Serta skor nol untuk siswa yang menjawab salah. Skor setiap jawaban kemudian dijumlahkan dan jumlah tersebut merupakan skor variabel hasil belajar Matematika. Skor hasil belajar Matematika bergerak dari 0-100. Skor 0 merupakan skor minimal ideal dari hasil belajar Matematika serta 100 merupakan skor maksimal tes hasil belajar Matematika. Tes disusun oleh mahasiswa dan guru bidang studi Matematika serta melalui bimbingan dari dosen pembimbing. Sebelum tes tersebut digunakan terlebih dahulu tes di uji validitas dan reliabilitasnya, daya beda dan indeks kesukaran.

Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa sampel berdistribusi normal dan homogen maka untuk menguji hipotesinya digunakan uji t dengan taraf signifikansi 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data nilai hasil belajar matematika siswa pada kelas V SD Negeri 3 Pertima tentang materi menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi Untuk memperoleh gambaran tentang hasil belajar Matematika, data dianalisis dengan analisis deskriptif agar dapat diketahui mean, standar deviasi, varian, skor maksimal, dan skor minimal pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Berdasarkan hasil analisis post-test yang dilakukan terhadap kelas eksperimen diperoleh mean= 73.44, standar deviasi = 10.32, varians = 106.44, skor maksimum pada kelas eksperimen adalah 90 dan skor minimum adalah 53.

Sedangkan hasil analisis post-test yang dilakukan terhadap kelas kontrol diperoleh mean= 58.80, standar deviasi = 9.26, varians = 85.82,

skor maksimum pada kelas kontrol adalah 80 dan skor minimum adalah 43.

Berdasarkan data yang telah dipaparkan, dapat dikatakan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi lebih baik dari hasil belajar kelompok kontrol yang

dibelajarkan menggunakan

pembelajaran konvensional. Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas, dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk membuktikan bahwa frekuensi data hasil penelitian benar-benar berdistribusi normal. Untuk kelas eksperimen diperoleh X2hit = 2,03 dengan taraf signifikan 5% ( = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh X2tabel = 11,07, karena X2tabel > X2hit maka Ho diterima. Ini berarti sebaran data nilai post-test matematika siswa kelas V SD Negeri 3 Pertima pada kelas eksperimen berdistribusi normal. Demikian juga untuk kelas kontrol diperoleh X2hit = 3,92 dengan taraf signifikan 5% ( = 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh X2tabel = 11,07, karena X2tabel > X2hit maka Ho diterima. Ini berarti sebaran data nilai post test matematika siswa kelas V SD Negeri 2 Bugbug pada kelas kontrol berdistribusi normal.

Untuk uji homogenitas varians dilakukan terhadap varians pasangan antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji yang digunakan adalah uji F dengan kriteria data homogen jika Fhitung < Ftabel. Berdasarkan hasil perhitungan Fhitung diperoleh sebesar 1,24 sedangkan Ftabel pada taraf signifikansi 5% dengan db pembilang = 35 dan db penyebut 31 adalah 1,84. Ini berarti Fhitung lebih kecil dari Ftabel (1,24 < 1,84 ) , maka Ho diterima. Sehingga dapat dinyatakan bahwa varians data hasil post-test kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.

(7)

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t. Kriteria pengujian adalah H0 ditolak jika thitung > ttabel. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh

thitung sebesar 6,13. Dengan taraf

signifikansi 5% dan dk = 66 diperoleh batas penolakan hipotesis nol sebesar 2,000. Hal itu menunjukkan Ha diterima. Dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar

matematika siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

Hasil perhitungan uji-t disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Tabel Uji Hipotesis Penelitian antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi terhadap hasil belajar matematika, dapat dilihat dari rata-rata nilai post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil yang diperoleh adalah rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih besar dari pada kelompok kontrol (73.44 > 58.80). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Berbasis Komunikatif berbantuan media animasi berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

Penerapan pembelajaran konvensional, yaitu pembelajaran yang dimulai dari menjelaskan teori, pemberian contoh soal dan diakhiri dengan latihan soal serta metode ceramah menjadi pilihan utama sebagai metode pembelajaran. Penggunaan metode ceramah secara dominan sangat tidak sesuai dengan pembelajaran matematika, karena konsep-konsep yang terkandung dalam pelajaran matematika memiliki tingkat abstraksi yang tinggi. Pembelajaran berbasis komunikatif merupakan salah satu pembelajaran yang sesuai dengan paham konstruktivis sebab dengan memberikan kesempatan siswa untuk berkomunikasi secara maksimal

berarti siswa mengantarkan dirinya sendiri dalam memahami, mengembangkan, menerapkan, dan menjelaskan suatu proses matematika. Hal ini berimplikasi pada terciptanya suasana pembelajaran yang komunikatif dan menyenangkan. Untuk menambah semangat dalam pembelajaran berbasis komunikatif ditambahkan dengan menggunakan media animasi yang dapat menarik perhatian siswa.

Pada pertemuan awal SD Negeri 3 Pertima dan SD Negeri 2 Bugbug sama-sama diberikan pre test kepada kedua kelompok tersebut untuk memperoleh tingkat kesetaraan kelompok. Dari hasil analisis data pre test kedua SD tersebut dinyatakan setara. Setelah itu kedua kelompok tersebut diberikan pembelajaran sebanyak 6 kali pertemuan sesuai perlakuan yang sudah ditentukan yaitu untuk SD Negeri 3 Pertima dijadikan kelas eksperimen dengan dibelajarkan menggunakan pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi sedangkan untuk SD Negeri 2 Bugbug dijadikan kelas kontrol dengan dibelajarkan pembelajaran konvensional. Setelah kedua kelompok tersebut sama-sama memperoleh 6 kali perlakuan maka kedua kelompok tersebut sama-sama diberikan post test. Dari hasil post test

Kelompok Penelitian thitung ttabel Status

Hasil Belajar Matematika

6,13 2,00 H0 ditolak

(8)

kedua kelompok tersebut diperoleh nilai rata-rata untuk kelompok eksperimen yaitu 73,44 sedangkan untuk nilai rata-rata kelompok kontrol yaitu 58,80. Kemudian data post test kedua kelompok tersebut diuji dengan uji prayarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. Hasil dari uji prasyarat data post test tersebut dinyatakan data kedua kelompok tersebut normal dan homogen.

Setelah mengetahui data post test kedua kelompok tersebut normal dan homogen, maka dilakukan analisis data post test dengan menggunakan uji t sehingga diperoleh thitung sebesar 6,13. Dengan taraf signifikansi 5% dan dk = 66 diperoleh batas penolakan hipotesis nol sebesar 2,000. Berarti thitung > ttabel, maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

Dengan adanya minat dan motivasi belajar, sehingga pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi memiliki pengaruh yang cukup menumbuhkan semangat belajar siswa dalam pembelajaran matematika yaitu dapat dilihat dalam faktor internal maupun eksternal.

Dari segi faktor internal, siswa memiliki semangat untuk mengikuti pembelajaran matematika yang ditumbuh kembangkan dari dalam diri siswa itu sendiri ketika siswa secara langsung mengalami pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi yang sangat menyenangkan. Sedangkan dari segi faktor eksternal, siswa terpacu untuk bersaing secara aktif dan termotivasi baik dari lingkungan maupun keluarga serta

dengan teman-temannya untuk mengamati dan mengikuti pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi sehingga siswa antusias mengikuti pembelajaran yang berlangsung.

Kelebihan dari pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi ini adalah untuk; 1) melibatkan siswa secara aktif dalam eksplorasi matematika; 2) memberikan

kesempatan siswa untuk

mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman yang diperolehnya; 3) mendorong agar siswa

mampu mengembangkan dan

menggunakan berbagai strategi dalam memecahkan suatu permasalahan; 4) mendorong siswa agar lebih berani mengambil resiko dalam menyelesaikan soal; 5) memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkomunikasi dalam menjelaskan idenya dan untuk mendengarkan ide lain. Sehingga pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dapat mengaktifkan suasana kelas ketika proses pembelajaran. Harapan yang dicapai dengan menggunakan media animasi ini adalah dapat memberikan kegairahan siswa untuk belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa menjadi pasif karena dalam model pembelajaran konvensional peran guru lebih besar dalam proses pembelajaran sedangkan siswa hanya menjadi pendengar yang baik. Sehingga yang menyebabkan terjadinya perbedaan kedua hasil belajar tersebut yaitu dalam pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi siswa mengalami pembelajaran yang menyenangkan dan menumbuhkan semangat siswa untuk berperan aktif pada pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa menjadi pasif sehingga siswa tidak dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal dalam pembelajaran, ini

(9)

dikarenakan siswa menjadi pendengar yang pasif sedangkan disini peran guru lebih aktif dari pada siswa.

Hal ini didukung oleh hasil penelitian Ariantini (2010). Yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan keaktifan dan prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis komunikatif dengan resitasi tugas dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran menggunakan

pendekatan konvensional pada siswa kelas V SD Negeri 5 Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2009/2010.

Diperkuat oleh hasil penelitian Dewi (2013), yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan aktivitas dan hasil belajar IPA antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode komunikatif dengan resitasi tugas dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran menggunakan

pendekatan konvensional pada siswa kelas V SD Negeri 4 Banyuasri Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2012/2013.

Dengan demikian dipastikan bahwa model pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi memberikan pengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Nilai hasil belajar kelompok eksperimen siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi termasuk kategori sangat baik sebanyak 14 siswa atau sebesar 43,75%, dengan kategori baik sebanyak 14 siswa atau 43,75%, dan dengan kategori cukup sebangayk 4 siswa atau sebasar 12,50%. Nilai hasil belajar matematika kelompok kontrol siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional termasuk kategori sangat baik sebanyak 4

siswa atau sebesar 11,11%, kategori baik sebanyak 12 siswa atau sebesar 33,33% dan kategori cukup sebanyak 20 siswa atau sebesar 55,56%.

Nilai rata-rata hasil belajar Matematika yang dicapai oleh kelompok eksperimen yaitu 73,44 sedangkan untuk kelompok kontrol yaitu 58,80. Dapat dilihat nilai rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini dikarenakan kelompok eksperimen dibelajarkan dengan pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi. Dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan dengan menggunakan uji-t, diketahui bahwa thit = 6,13 > ttab= 2,000, maka h0 ditolak dan ha diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika antara siswa yang belajar melalui pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi dengan siswa yang belajar melalui pembelajaran konvensional di kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis komunikatif berbantuan media animasi berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas V SD Negeri Gugus V Kecamatan Karangasem Tahun Pelajaran 2013/2014.

Daftar Rujukan

Ariantini, Ni Kadek.2010. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Komunikatif Dengan Resitasi Tugas Dalam Upaya Meningkatkan Keaktifan Dan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas V SD

Negeri 5 Kecamatan

Karangasem.(Tidak diterbitkan). Undiksha Singaraja.

Arsyad , Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

(10)

Ansari, Bansu, Irianto. 2003. Model Pembelajaran Berbasis Komunikatif Dengan Strategi think-talk-write

Dalam Rangka

Menumbuhkembangkan

Kemampuan Pemahaman dan Komunikasi Matematika Siswa SMU.

Asikin, moh. 2001. Komunikasi Matematika Dalam RME. Makalah di sajikan seminar nasional RME di Universitas Senata Darma Yoyakarta tanggal 14-15 november 2001

Darmadi , Hamid.2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Depdiknas, 2003. Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan. Jakarta : Depdiknas. Depdikbud . 1994. Kurikulum Menengah

Pertama (GBPP) Mata Pelajaran Matematika. Jakarta.

Muhsetyo, Gatot,dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Noor, Juliansyah. 2010. Metodelogi Penelitian. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media. Sugiyono .2010. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Susana dewi,Luh Ayu.2012. Penerapan Metode Komunikatif Dengan Resitasi Tugas Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V Semester Ganjil SD N. 4 Banyuasri Kecamatan Buleleng. (Tidak diterbitkan). Undiksha Singaraja.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo : Masmedia Buana Pustaka.

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Kreatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Gambar

Tabel 1. Tabel Uji Hipotesis Penelitian antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Referensi

Dokumen terkait

Asumsi Teori : Dalam hal ini terdapat sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti gagasan teori penggunaan dan kepuasaan sebagaiman dikemukakan Katz, Blumler dan Gurevitch

Berdasarkan hasil analisis usahatani bawang merah yang diberi mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan biaya produksi

Pemanfaatan teknologi hormon dengan konsentrasi dan dosis yang tepat dapat merangsang perubahan jenis kelamin, meningkatkan perkembangan gonad dan pertumbuhan

Penulis bertujuan membangun Sistem Informasi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak untuk membantu pengolahan data laporan polisi pada Polres Madiun Kota dan

- Tujuan pelaksanaan EITI Daerah yaitu : Meningkatkan kerjasama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam upaya transparansi penerimaan negara dari

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan dalam penelitian ini, persepsi masyarakat terhadap dampak pengembangan migas dari kegiatan migas menunjukkan bahwa adanya kegiatan migas

dilakukan oleh para remaja yang berada di tempat wisata pantai Dalegan. Perilaku yang ditujukan kepada orang lain bukan perilakuyang

Terbentuk pengakuan dan penghargaan terhadap praktek-praktek cerdas dan karya-karya terbaik dalam program-program pembangunan yang berorientasi MDGs, yang akan menjadi insentif