• Tidak ada hasil yang ditemukan

CORNER. Sunday School. Content RECI KIDS' CHURCH. Edisi January - March Edisi Oct - Dec Menjadi Keluarga yang Sehat Rohani - 2 to 6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "CORNER. Sunday School. Content RECI KIDS' CHURCH. Edisi January - March Edisi Oct - Dec Menjadi Keluarga yang Sehat Rohani - 2 to 6"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Sunday School

CORNER

Edisi January - March 2017

Sunday School

CORNER

Content

Menjadi Keluarga yang Sehat Rohani - 2 to 6 Lesson Summary - 7 to 9

Q & A - 10 to 11

Edisi Oct - Dec 2018

(2)

Lesson Summary

What kind of family life do you want your children to remember?

> Kehidupan keluarga seperti apa yang engkau ingin anak-anakmu mengenangnya?

What kind of atmosphere do you want to have in your home? > Atmosfir apa yang ingin engkau ciptakan di dalam rumahmu? What kind of family do you want to be known for?

> Keluarga seperti apa yang engkau ingin orang lain lihat dari rumahmu? What kind of parent do you want to be?

> Engkau mau menjadi orang tua seperti apa?

What behaviours do you want your family members to demonstrate?

> Sikap -sikap apa yang engkau ingin anggota keluargamu perlihatkan satu sama lain?

What goals will you have for your children at various stages of their lives? > Apa yang engkau ingin anak-anakmu capai dalam setiap fase hidup mereka?

What kinds of Biblical qualities do you believe children should exhibit? > Kualitas biblikal seperti apa yang anak-anakmu harus nyatakan? What mode of discipline do you feel is best in your home?

> Model disiplin apa yang engkau rasa paling baik bagi rumah tanggamu? What changes do you need to make in order to allow your family to have more time/fun together?

> Perubahan-perubahan apa yang engkau perlukan untuk membuat keluargamu memiliki lebih banyak kebersamaan dan kegembiraan sebagai sebuah keluarga? What are you willing to sacrifice in order to accomplish these plans?

> Siapkah engkau berkorban demi memenuhi semua ini?

Menjadi Keluarga Yang Sehat

Rohani

(Part 2)

(3)

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita renungkan dan

diskusikan dengan pasangan kita ketika kita merindukan untuk memiliki

sebuah keluarga yang sehat secara rohani.

Ketika kita menyebut keluarga kita sebagai keluarga Kristen, kita

sebagai orang tua Kristen, kita mau menjalani prinsip-prinsip apa

yang Tuhan berikan bagi setiap kita dengan taat dan setia. Kita

merindukan anak-anak kita menjadi generasi yang mengenal firman

Allah, taat dan hidup di dalam kebenaran. Sebagai orang tua kita

membimbing mereka bertumbuh dalam iman dan menghidupi satu

spiritual environment dimana Allah hadir di tengah-tengah rumah

tangga kita sehari-hari.

"Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

Kasihilah TUHAN, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan

segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang

kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu

dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila

engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan

apabila engkau bangun" (Ulangan 6:4-7).

Allah memerintahkan umatNya untuk mengajar dan membimbing anak-anak sejak dini untuk mengenal Allah. Dan tugas orang tua Kristen adalah mengajar anak-anak melalui hidup sehari-hari sebagai model pengikut Allah yang otentik dan sejati. Kita menyatakan komitmen kita dengan teratur membaca firman Tuhan secara pribadi dan bersama keluarga; kita memakai waktu bersama seluruh keluarga untuk berdoa, melayani di rumah Tuhan dan berbagian dalam pekerjaan misi dengan talenta, waktu dan uang kita. Anak-anak melihat kita, papa dan mama sama-sama berdoa dengan rutin setiap hari, bukan hanya di saat-saat krisis. Di situ anak-anak melihat kita sungguh-sungguh menempatkan Tuhan sebagai prioritas bagi keluarga kita dalam segala situasi dan keadaan. Dan inilah bagian yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan sebagai intentional environment di rumah kita.

(4)

Harus kita akui, perjalanan menciptakan sebuah keluarga yang sehat rohani tidak akan selalu lancar dan mulus adanya. Kita sering jatuh bangun dan gagal menjadi contoh teladan bagi anak-anak kita. Kita tidak konsisten, terutama saat pekerjaan dan kesibukan menyita waktu. Semangat kita bisa lemah, doa kita menjadi kendor, kita undur dalam pelayanan. Emosi kita fluktuasi seiring dengan kondisi di luar, sehingga kita menjadi tidak sabar menghadapi kelemahan dan kegagalan. Kita memarahi dan menghukum anak bukan di dalam kebenaran, tetapi untuk memuaskan hati kita yang egois dan mementingkan kenyamanan diri ini.

Itulah sebabnya setiap saat dan setiap waktu kita perlu bergantung sepenuhnya kepada pertolongan Allah Roh Kudus, menghibur, mengingatkan dan menguatkan kita. Kita tidak akan bisa mencapai perfection, godliness, atau kebaikan sekeras apapun kita berusaha. Hanya Allah yang bisa memberikan transformasi secara supranatural bagi kondisi rohani kita. Jika kita tidak memahami hal ini dan anak-anak kita tidak memahami hal ini, kita bisa jatuh kepada tingkah laku agamawi dan kepada kemunafikan karena kita memaksakan diri dari eksterior hidup kita.

Kita tidak boleh mengajar anak-anak kita hanya untuk menjadi anak yang baik, anak yang taat, anak yang sopan dan manis. Kita tidak boleh mengajar anak-anak kita hanya bertingkah laku sebagai anak-anak Kristen. Seringkali kita terjebak dan tergoda untuk melakukan hal ini, karena kita mau orang memuji kita sebagai orang tua yang berhasil, karena anak-anak kita memperlihatkan good behaviour dan kita puas melihat hal itu.

Dalam artikel "How to Raise a Pagan Kid in a Christian Home," [Membesarkan Anak Kafir dalam Rumah Tangga Kristen] Barrett Johnson berkata:

"Injil Kristus bukan membuat orang jahat menjadi orang baik, tetapi membuat orang yang mati menjadi hidup. Jika kita hanya mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita tanpa bersandar kepada kuasa transformasi yang dikerjakan oleh Injil dan hidup yang sepenuhnya bersandar kepada kehendak Allah, maka kita sedang membesarkan anak-anak kafir yang bermoral.

(5)

Apakah engkau mengajar anak-anakmu " be good because the Bible tells you to" [jadilah anak baik karena Alkitab mengatakan seperti itu] ataukah engkau mengajar anak-anakmu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi anak baik tanpa pengampunan dan anugerah Tuhan Yesus Kristus? Ada perbedaan besar dari dua hal ini. Yang satu menuju kepada moralisme, yang satu menuji kepada pertobatan dan penyesalan. Yang satu menuju kepada self-righteousness [kesombongan diri], yang satu menuju kepada hidup yang menyadari bahwa Kristus adalah segala-galanya dan tidak ada yang lebih berarti daripada Dia." Tentu saja pada waktu anak-anak kita masih kecil, kita harus mengajarkan benar dan salah dalam bentuk moral behaviour karena itu menjadi prinsip dan aturan yang bisa mereka pahami. "Ayo bilang terima kasih, say 'thank you'"; "Eh, tidak boleh pukul adik ya!"; "Jangan berbohong."; "Jangan nakal." Ini adalah kalimat-kalimat yang kita berikan untuk mereka setiap hari. "These are the rules. Just do it because I say so!"

Saat kita mengajarkan prinsip-prinsip ini, kita tidak pikirkan persoalan hati mereka. Kita hanya concern kepada tingkah laku mereka karena ini penting bagi hidup sosial mereka dengan orang lain. Namun ketika mereka sudah lebih besar, ketika mereka sudah bisa berkomunikasi dan hidup sosial mereka sudah lebih kompleks, kita tidak boleh terus memakai moral behaviour seperti pada waktu mereka masih kecil. Pada saat itu sudah seharusnya kita membimbing mereka kepada pertumbuhan spiritualnya, apa alasan di balik semua moral behaviour itu.

Dan pertumbuhan spiritual itu, apa yang ada di dalam hati mereka lebih penting, karena dari situ ekspresi apa yang terpancar keluar. Kita tidak lagi sekedar menyuruh mereka "Ayo bilang terima kasih, say 'thank you'" tetapi kita beri alasan kenapa kita perlu berterimakasih dan bahwa sikap gratitude itu datang karena kita selalu tidak layak menerima kebaikan orang kepada kita. Kita tidak lagi bilang, "These are the rules. Just do it because I say so!" karena tidak boleh hanya taat hukum tetapi apa yang menjadi motivasi di baliknya. Pada stage itu kita bimbing anak kita berdoa kepada Roh Kudus untuk menolong dia. Jika kita tidak membimbing anak kita pada transisi itu, kita akan kembali jatuh kepada godaan untuk membuat anak-anak baik, bukan anak-anak saleh.

(6)

Yesus tidak meminta kita menciptakan anak-anak baik, tetapi Yesus menuntut umatNya beriman kepadaNya. Beriman bukan hanya taat secara religius, tetapi memiliki relasi yang otentik bersama Yesus, mengalami Dia dalam hidup sehari-hari, bukan hanya mengenal secara teori belaka. Maka sebuah keluarga yang sehat rohani bergantung kepada pertolongan Allah sepenuhnya, meminta bijaksana dari Tuhan setiap hari bagaimana membesarkan anak-anak di dalam Tuhan, bukan hanya dengan ide-ide kreatif kita. Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang sehat rohaninya akan bertumbuh mengenal Allah, mengasihi, menghormati, mengutamakan Allah, mencintai orang lain, mencintai gerejanya, hidup dengan penuh makna karena tahu dunia ini bukan tempat ultimate mereka. Kita bisa melihat semua aspek ini dari anak-anak yang datang dari Gospel-centred homes, yang orang tuanya mengasihi Yesus dengan sepenuh hati, melayani gerejaNya dengan aktif, menghidupi Injil dengan seutuhnya dalam hidup sehari-hari.

Memang Amsal 22:6 tidak otomatis menjadi mantra atau formula yang bakal terjadi 100%, namun Amsal ini memberi kita prinsip yang penting, yang datang dari Allah yang memanggil umatNya menyampaikan firmanNya dari generasi ke generasi. "Train up a child in the way he should go; even when he is old he will not depart from it." Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu. Mulailah setiap hari dengan berkata kepada dirimu sendiri:

> "I recognise that my children have been entrusted to me by God and that I need His guidance to raise them."

> "I know I live in a sinful world, but I will seek to put God's character on display in my home in everyday situations."

> "I know there is higher calling as a parent than controlling my children's behaviour - and that is forming their faith."

> "I seek to grow spiritually myself, knowing that the overflow of this will have a positive impact on my child."

God bless you and your family![kz]

(7)

TODDLER

October - I Can Help God (Sambungan dari September lesson)

Apakah Toddler tahu bahwa mereka dapat membantu Allah?

Mereka akan belajar bagaimana mereka dapat membantu Allah dalam banyak cara. Mereka akan dibimbing oleh guru dengan praktek aktivitas yang menyenangkan bagaimana membantu Allah di gereja maupun di rumah.

Mereka akan terlibat langsung dalam pelayanan kid's church pada hari minggu. Setiap pelajaran dimulai dengan cerita tokoh Alkitab dan diikuti oleh cerita gambar yang terjadi sehari di dalam keluarga si kecil.

November / Mid December - Jesus Teaches Me

Toddler akan belajar isi dari Alkitab yaitu apa yang Tuhan mau di dalam kehidupan mereka setiap hari.

Beberapa hal yang akan menjadi pokok pelajaran 1. Belajar bagaimana “Let your light shine for God” 2. Belajar tumbuh kuat di dalam Tuhan

3. Belajar taat atas perintah Tuhan

4. Belajar bagaimana memaafkan orang lain 5. Belajar berbagi kepada teman dan orang lain

6. Balajar untuk tetap berdoa kepada Tuhan setiap saat

Setiap pelajaran dimulai dengan cerita di dalam Alkitab tentang Tuhan mengajar murid murid nya dan diikuti oleh diskusi dan cerita / gambar aktivitas sehari hari yang pada umumnya terjadi di keluarga si kecil.

EXPLORER A

Di bulan November ini anak anak explorer A akan membahas tentang cerita bagaimana Petrus bertemu dengan malaikat dan dibebaskan dari penjara. Minggu kedua mereka akan mendengarkan cerita tentang Lydia penjual kain ungu yang diselamatkan dan menjadi pengikut Tuhan. Di minggu ketiga kita akan mulai pembahasan tentang rasul Paulus yang dimulai dengan cerita Paulus dan Silas di penjara dan bagaimana mereka terlepas dari penjara tersebut dan penjaga penjara jadi percaya Tuhan. Bulan November akan di tutup dengan penginjilan Paulus di Athena.

(8)

Awal bulan Desember kita masih akan melanjutkan tentang perjalanan Paulus di Roma. Minggu kedua di bulan December kita akan mulai memasuki cerita natal dengan cerita tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Untuk 2 minggu terakhir di bulan December anak anak akan mendengarkan kembali tentang cerita natal dan kelas akan digabung dengan Toddler dan Explorer B.

EXPLORER B

For the next 6 weeks Explorer B student will learn why and how to praise Jesus, such as His peace, miracles, comfort and promise of heavens. Each of chapter include Bible story, memory verse and numerous activities to help reinforce the lessons about the ways we praise Jesus.

ADVENTURER

Oktober (Lesson 35 - 38)

Tema besar untuk bulan Oktober adalah We Tell How Jesus Helped People. Hati Tuhan kita penuh dengan belas kasihan dan kebaikan. Dia memberikan pertolongan kepada mereka yang lemah, kepada mereka yang dikucilkan dari komunitas. Yesus ingin kita memuji Dia dan menceritakan kebaikan yang Dia lakukan sehingga teman teman, keluarga, atau siapapun yang ada di sekitar kita mengenal Dia.

November (Lesson 39-40, Lesson 21--22)

Anak-anak akan melanjutkan 2 lessons dari tema besar Oktober, lalu mulai mempersiapkan diri menyambut Natal di masa Advent. Berita kelahiran Kristus adalah berita sukacita dan penuh dengan pengharapan. Dia adalah Tuhan yang layak disembah.

Desember (Lesson 23-25, 51)

Anak-anak masih akan melihat kepada kelahiran Kristus dan kiranya hati mereka boleh terus dipenuhi kasih kepada Kristus, yang mau turun ke dunia untuk memberikan kabar baik, yaitu keselamatan.

(9)

NAVIGATOR

October - November

Meneruskan dari kisah kisah tentang kebangkitan Yesus, anak anak akan membelajari tentang pergerakan gereja mula mula, dengan cerita cerita dari Peter, John, Stephen dan Phillip yang gencar memberitakan tentang kabar keselamatan. Dari cerita cerita ini, kiranya anak anak dikuatkan imannya dan lebih terdorong untuk memberitakan injil.

November - December

Di bulan ini, anak anak akan berfokus kepada cerita cerita tentang peristiwa pertobatan Paulus dan pengabaran injilnya yang menggebu gebu. Anak anak akan belajar bahwa Tuhan bisa mengubah orang yang tadinya tidak percaya menjadi percaya. Anak anak juga akan dikuatkan untuk menjadi orang kristen yang relevan jaman.

YOUNG ACHIEVER

Di bulan November dan December anak anak Young Achiever akan belajar tentang Allah, attributes of God, mengerti sifat sifat Allah yang pengasih, pengampun dan juga yang adil.

Topik topik yg akan di bahas akan membantu anak anak untuk mengerti Allah dengan lebih dalam dan bagaimana menjadi anak yang mengerti tujuan dan rencana Allah di dalam kehidupan mereka.

Pembahasan akan di mulai dengan Allah itu baik, Sempurna, Mengenal secara details tentang kita, Panjang Sabar dan Pengampun dan bahwa Yesus adalah Allah.

Anak anak akan di tantang untuk menjadi pelaku Iman, mengaplikasikan standard Allah di dalam pemikiran serta perbuatan mereka sehari hari.

(10)

Q & A

Q

: Saya merasa bahwa saya terlalu sering memarahi anak saya, sehingga

suasana rumah menjadi negatif dan tidak menyenangkan. Namun di lain pihak saya tahu bahwa hal itu perlu untuk mendisiplinkannya. Apa yang seharusnya saya lakukan?

A

: Kita tahu bahwa anak kita perlu dikoreksi jika ia berbuat salah, tapi jika kita merasa bahwa disiplin yang kita lakukan telah menghilangkan atmosfir positif di rumah kita, sudah saatnya untuk kita melakukan ”relationship check” untuk memastikan bahwa keluarga kita seimbang dalam membangun hubungan yang erat dan koreksi/ disiplin yang sesuai.

Anak-anak memerlukan ketegasan, arahan, batasan, instruksi dan koreksi. Namun perlu diingat bahwa mereka juga memerlukan banyak kasih sayang, pengajaran, belas kasihan, afirmasi, apresiasi dan hubungan. Kasih sayang dapat diungkapkan dalam bentuk afirmasi, dorongan (encouragement), support, atau cukup dengan menghabiskan waktu bersama. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk dapat connect dengan hati seorang anak, tapi satu hal yang pasti yang membuat anak merasa connect dengan kita adalah saat kita menunjukan empati kepadanya.

Empati disampaikan dengan cara memvalidasi perasaan terluka/ sakit atau kekecewaan yang dialami anak. Setelah itu baru kita dengan lembut memberikan saran, jika diperlukan. Misalnya, saat seekor kucing mencakar anak yang berusia 3 tahun yang bermain kasar kepada si kucing. Omelan kita mungkin bukan cara yang tepat dalam menghadapinya. Ada baiknya jika kita mungkin bisa berkata, “Ouch, sakit ya? Sepertinya si kucing ga suka bermain kasar ya?” Atau contoh lain ketika anak umur 8 tahun yang berkata lapar sebelum jam makan malam karna dia menolak makan siangnya, kita bisa berkata, “Wah pasti lapar sekali ya kamu. Itu waktu yang panjang untuk menahan lapar.”

Jika kita menghilangkan empati dan memilih untuk langsung marah, anak akan cenderung bersikap buruk. Mereka akan menganggap bahwa kita merendahkan mereka, bersikap dingin dan suka berespon dengan amarah. Empati sangat diperlukan karna empati menyampaikan rasa sayang kita dan di saat yang sama juga membuat anak memahami tanggung jawab dalam kesalahan yang mereka lakukan. Sewaktu kita menyampaikan concern kita pada anak yang sedang menghadapi kegagalan, hal tersebut akan membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Hal itu membuat kita berada dalam tim yang sama dengan anak, sehingga saat mereka menghadapi tantangan kehidupan ke depan – mereka tidak ragu untuk mengkomunikasikannya dengan orang tua.

(11)

Seorang ayah bercerita, “Saya adalah seorang problem solver. Saya menunjukkan kasih saya kepada anak-anak dengan menyelesaikan masalah mereka. Belakangan ini saya baru disadarkan bahwa anak perempuan remaja saya terkadang tidak butuh solusi dari saya. Dia sangat mampu menyelesaikannya sendiri. Saat dia curhat kepada saya, lalu saya memberikan solusi, dia malah merasa saya tidak peduli kepadanya – sungguh terbalik dengan apa yang saya pikir sedang saya lakukan. Saya belajar bahwa terkadang pendekatan yang paling baik adalah berempati, mencoba membayangkan apa yang sedang dia rasakan. Menariknya, saat saya melakukan itu, dia malah meminta saran dari saya – dan saya jadi bisa membantunya! Kunci dari hubungan kami adalah kerelaan saya untuk connect dengan anak saya dalam level emosional.”

Saat kita langsung memberikan solusi pada anak kita di saat mereka belum siap, kita malah menjadi frustrasi karna anak kita tidak berespon dengan baik pada saran yang kita berikan. Jika kita tidak yakin apakah anak kita sedang mengharapkan empati atau pertolongan, kita bisa mulai dengan bertanya kepada mereka, “Kamu butuh ide dari Mama?” Pertanyaan seperti ini akan membuat anak merasa bahwa mereka dihargai, karna kita tidak langsung semerta-merta memberi solusi tanpa mendengar apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Banyak orang tua yang mau menghabiskan waktu bersama dengan anak untuk melakukan aktivitas pilihan orang tua itu sendiri. Mereka berpikir “wah aktivitas ini menarik, saya akan ajak anak saya untuk melakukan ini bersama saya.” Coba pertimbangkan untuk berikan waktu kita, misalkan setengah jam, untuk melakukan aktivitas yang anak-anak kita suka. Melissa senang bermain dengan boneka. Saat saya bermain boneka dengannya, rasanya 30 menit itu berjalan sangat lama, karna saya sesungguhnya tidak suka bermain boneka. Namun dalam aktivitas itu, saya disadarkan bahwa saya seringkali enjoy berelasi dengan anak saya dengan cara saya sendiri. Saya lupa bahwa saya perlu mengenal keunikan anak saya dan mencoba mengerti apa yang dia suka atau tidak suka. Tuhan banyak memberikan instruksi, koreksi dan batasan kepada kita sebagai anak-anakNya, namun keinginanNya yang terdalam adalah mempunyai hubungan yang personal dengan kita. Dalam Wahyu 3:20 Yesus mengekspresikan keinginganNya tersebut, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Ingatlah bahwa hubungan/ relasi adalah fondasi atas semua hal yang kita perlu lakukan dalam keluarga kita. (msg)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut, sangat menarik melakukan penelitian guna menentukan adanya morf atau varian baru pada individu suku pulau Madura (yang berbeda dengan urutan

Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan sistem penjualan padi yang berlaku di daerah penelitian, (2) Menganalisis tingkat pendapatan

• Anda bisa membagi buku ini kepada: umat di wihara, anggota Sa ṅ gha, guru agama Buddha, anak sekolah mingguan, teman, keluarga, perpustakaan, atau melalui Ehipassiko

PADA HARI JUMAAT BERTARIKH 1 APRIL 2011 JAM 9.00 PAGI DALAM KAMAR PENOLONG KANAN PENDAFTAR. MAHKAMAH TINGGI

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah data yang di dapat dari web KNKT [5] yang berisikan tentang kecelakaan pesawat komersil yang pernah terjadi di Indonesia dari tahun 2002

Pengumpulan data dengan melakukan wawancara langsung bersama dengan pihak pengelola Biro Perjalanan Shambala Tour and Travel atau yang terkait dengan perusahaan

Biji maupun stek batang dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman jarak pagar, namun memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang beragam pada media

Gambar 2 menunjukkan bahwa lama waktu fermentasi mempengaruhi kadar etanol yang didapatkan (Warsa, dkk., 2013).Hal ini menunjukkan bahwa kadar etanol hasil fermentasi yang