• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tanggungjawab Sosial Perusahaan

Menurut Andreas Lako (2011) CSR merupakan kewajiban asasi perusahaan yang tidak boleh dihindari. Hal ini berdasar pada teori akuntabilitas korporasi

(corporate accountability theory). Menurut teori ini, perusahaan harus bertanggung

jawab atas semua konsekuensi yang ditimbulkannya baik sengaja maupun tidak sengaja kepada para stakeholder.

Secara khusus, teori tersebut menyatakan CSR tidak hanya sekedar aktivitas kedermawan (charity) yang bersifat sukarela kepada sesama seperti yang dipahami para pebisnis selama ini, tetapi juga harus dipahami sebagai suatu kewajiban asasi yang melekat dalam sistem serta praktik bisnis. Alasannya karena CSR merupakan konsekuensi logis dari adanya hak asasi yang diberikan negara kepada perusahaan untuk hidup dan berkembang dalam suatu area lingkungan.

Teori-teori lainnya juga menekankan akan pentingnya perusahaan peduli dan melaksanakan CSR secara tepat, sungguh-sungguh, dan konsisten. Setidaknya ada lima dasar teoritis yang memiliki perspektif yang sama dengan teori akuntabilitas korporasi. Teori-teori tersebut adalah :

a. Teori Stakeholder. Teori ini menyetakan bahwa kesuksesan dan hidup matinya suatu perusahaan sangan tergantung pada kemampuannya menyeimbangkan beragam

(2)

10

kepentingan dari para stakeholder. Jika mampu, maka perusakaan akan meraih dukungan yang berkelanjutan dan menikmati pertumbuhan pangsa pasar, penjualan serta laba. Dalam perspektif teori stakeholder, masyarakat dan lingkungan merupakan stakeholder inti yang harus diperhatikan.

b. Teori legitimasi ( legitimacy theory). Dalam perspektif teori legitimasi, perusahaan dan komunitas sekitarnya memiliki relasi sosial yang erat karena keduanya terikat dalam suatu “social contract”. Teori Kontrak Sosial (social contract) menyatakan bahwa keberadaan perusahaan dalam suatu area karena didukung secara politis dan dijamin oleh regulasi pemerintah serta parlemen yang juga merupakan representasi dari masyarakat. Dengan demikian ada kontrak sosial secara tidak langsung antara perusahaan dan masyarakat dimana masyarakat memberi costs dan benefits untuk keberlanjutan suatu perusahaan. Karena itu CSR merupakan suatu kewajiban asasi perusahaan yang tidak bersifat sukarela.

c. Teori sustainabilitas korporasi ( corporate sustainability theory). Menurut teori ini, agar bisa hidup dan tumbuh secara berkelanjutan perusahaan harus mengintegrasikan tujuan bisnis dengan tujuan sosial dan ekologi secara utuh. Pembangunan bisnis harus berlandaskan pada tiga pilar utama yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan secara terpadu, serta tidak mengorbankan kepentingan generasi-generasi berikutnya untuk hidup dan memenuhi kebutuhannya. Dalam perspektif teori corporate sustainability, masyarakat dan lingkungan adalah pilar dasar dan utama yang menentukan

(3)

11

keberhasilan bisnis suatu perusahaan sehingga harus selalu diproteksi dan diberdayakan.

d. Teori political economy. Menurut teori ini domain ekonomi tidak dapat diisolasikan dari lingkungan dimana transaksi-transaksi ekonomi dilakukan. Laporan keuangan (ekonomi) perusahaan merupakan dokumen sosial dan politik serta juga dokumen ekonomi. Karena tidak dapat diisolasikan dari masyarakat dan lingkungan, perusahaan wajib memperhatikan dan melaksanakan CSR.

e. Teori keadilan (justice theory). Menurut teori ini dalam sistem kapitalis pasar bebas laba/rugi sangat bergantung pada the equal rewards and previleges yang terdapat dalam laba dan kompensasi. Laba/rugi mencerminkan ketidak adilan antar pihak yang dinikmati atau diderita suatu perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus adil kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya yang sudah turut menanggung dampak eksternalitas perusahaan melalui program-program CSR.

1. Definisi CSR

Yusuf Wibisono (2007) mengemukakan beberapa definisi pengertian CSR dari sejumlah lembaga internasional diantaranya World Business Council for

Sustainable Development dalam publikasinya Making Good Business Sense

mendefinisikan CSR sebagai “Continuing commitment by business to behave

(4)

12

of the workforce and their families as well as of the local community and society at large.”

Versi lain mengenai definisi CSR dikemukakan oleh World Bank. Lembaga keuangan global ini mendefinisikan CSR sebagai berikut :

The commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees ang their representatives the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development.

Sementara itu sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri mengenai CSR. Uni Eropa ( EU Green Paper on CSR ) mengemukakan bahwa “ CSR is concept whereby companies integrate social and environmental concern in their business operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basic.”

Dalam ISO 26000 : Guidance Standard on Social Responsibility (2010) menerjemahkan tanggung jawab sosial sebagai tanggung jawab suatu organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis, yang konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat, memperhatikan kepentingan dari para stakeholder, sesuai hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma-norma internasional dan terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi, dalam pengertian ini meliputi baik kegiatan, produk maupun jasa.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan adalah suatu bentuk pertanggungjawaban yang dilakukan

(5)

13

perusahaan atas dampak-dampak yang ditimbulkan dari kegiatan operasionalnya yaitu dengan meningkatkan kualitas hidup karyawan, lingkungan dan masyarakat luas. Disamping aktivitas perusahaan untuk mengasilkan profit yang tinggi, seharusnya perusahaan juga memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya antara lain dengan menyediakan produk yang aman dikonsumsi, menjamin bahwa aktivitas produksi perusahaan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem lingkungan sekitar, menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, menyediakan lingkungan kerja yang aman atau membatu penyediaan modal bagi usaha kecil di lingkungan perusahaan.

2. Ruang Lingkup CSR

Di dalam ISO 26000 : Guidance Standard on Social Responsibility (2010) dijelaskan tujuh elemen dasar dari praktik CSR yang dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu :

a. Tata kelola perusahaan

Elemen ini mencakup bagaimana perusahaan harus bertindak sebagai elemen dasar dari tanggungjawab sosial dan sebagai saran untuk meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menerapkan perilaku yang bertanggungjawab sosial (socially

(6)

14 b. Hak Asasi Manusia

Elemen ini mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia. Hak asasi manusia terbagi menjadi dua kategori utama, kategori pertama mangnai hak-hak sipil dan politik (civil and polotical rights) yang mencakup hak untuk hidup dan kebebasan

(right to life and liberty), kesetaraan dimata hukum (equity before the law) dan hak

untuk berpendapat (freedom of expression). Kategori kedua mengenai hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (economic, social and cultural rights) yang mencakup hak untuk bekerja (right to work), hak atas pangan (right to food), hak atas kesehatan

(right to health), hak atas pendidikan (right to education) dan hak atas jaminan sosial ( right to social security).

c. Ketenagakerjaan (labour practices)

Elemen ini mencakup seluruh hal yang terdapat di dalam prinsip dasar deklarasi ILO 1944 dan hak-hak tenaga kerjan dalam deklarasi hak asasi manusia.

d. Lingkungan

Elemen ini mencakup pencegahan polusi sebagai dampak aktivitas perusahaan, pencegahan global warming, pendayagunaan sumber alam secara efektif dan efisien, dan pengunaan sistem manajemen lingkungan yang efektif dan berkelanjutan.

(7)

15

e. Praktik operasional yang adil (fair operational practices)

Elemen ini mencakup pelaksanaan aktivitas sarana etik dan pengungkapan aktivitas perusahaan yang transparan, pelaksanaan aktivitas pemilihan pemasok yang etis dan sehat, penghormatan terhadap hak-hak intelektual dan kepentingan stakeholder, serta perlawanan terhadap korupsi.

f. Konsumen (consumer issues)

Elemen ini mencakup penyediaan informasi yang akurat dan relevan tentang produk perusahaan kepada pelanggan, penyediaan produk yang aman dan bermanfaat bagi pelanggan.

g. Keterlibatan dan pengembangan masyarakat (community envolvement and

development)

Elemen ini mencakup pengembangan masyarakat, peningkatan kesejahteraan masyarakat, aktivitas sosial kemasyarakatan (philantrophy), dan melibatkan masyarakat di dalam aktivitas operasional perusahaan.

3. Prinsip-Prinsip CSR

Ranah CSR mengandung dimensi yang sangat luas dan kompleks. Di samping itu, tanggung jawab sosial (social responsibility) juga mengandung interpretasi yang sangat berbeda, terutama dikaitkan dengan kepentingan pemangku kepentingan

(8)

16

penyederhanaan, banyak ahli menggarisbawahi prinsip dasar yang terkandung dalam CSR.

Crowther David (2008) mengurai prinsip-prinsip CSR menjadi tiga, yaitu ;

1. Sustainability

Berkaitan dengan bagaimana perusahaan dalam melakukan aktivitas tetap memperhitungkan keberlanjutan sumberdaya di masa depan. Keberlanjutan juga memberikan arahan bagaimana penggunaan sumberdaya sekarang tetap memperhatikan dan memperhitungkan kemampuan generasi masa depan. Dengan demikian sustainability berputar pada keberpihakan dan upaya bagaimana society memanfaatkan sumber daya agar tetap memperhatikan generasi masa depan.

2. Accountability

Merupakan upaya perusahaan untuk terbuka dan bertanggungjawab atas aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibutuhkan ketika aktivitas perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. Konsep ini menjelaskan pengaruh kuantitatif aktivitas perusahaan terhadap pihak internal dan eksternal (Crowther David, 2008).

Akuntabilitas dapat dijadikan sebagai media bagi perusahaan membangun image dan network terhadap para stakeholder. Nor Hadi (2009) menunjukkan bahwa tingkat keluasan dan keinformasian laporan perusahaan memiliki konsekuensi sosial maupun ekonomi. Tingkat akuntabilitas dan tanggungjawab perusahaan menentukan legitimasi stakeholder eksternal, serta meningkatkan transaksi saham perusahaan.

(9)

17

Crowther David (2008) menyatakan akuntabilitas dan keterbukaan (disclosure) memiliki manfaat secara sosial dan ekonomi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa informasi yang disampaikan perusahaan bermanfaat bagi para stakeholder dalam mendukung pengambilan keputusan. Agar informasi dalam laporan perusahaan sebagai wujud akuntabilitas memenuhi kualifikasi, maka akuntabilitas seharusnya mencerminkan karakteristik antara lain : (1) understand ability to all paries

concerned; (2) relevance to the users of the information provided; (3) reliability and terms of accuracy of measurement, representation of impact and freedom of bias; and (4) comparability, which implies consistency, both over time and between different organizations.

3. Transparency

Transparansi merupakan prinsip penting bagi pihak eksternal. Transparansi bersinggungan dengan pelaporan aktivitas perusahaan termasuk dampak terhadap pihak eksternal. Crowther David (2008) menyatakan :

Transparency, as a principle, means that the external impact of the actions of the organisasion can be ascertained from that organisasion’s reporting and pertinent facts are not disguised within that reporting. ... the effect of the action of the of the organisation, including external impacts, should be apparent to all from using the information provided by organisation’s reporting mechanism.

Transparansi merupakan satu hal yang amat penting bagi pihak eksternal, berperan untuk mengurangi asimetri informasi, kesalahpahaman, khususnya informasi dan pertanggungjawaban berbagai dampak dalam lingkungan.

(10)

18 4. Undang – Undang Mengenai CSR

Dalam Buletin Akuntansi Staf Bapepam dan LK No. 8 dinyatakan bahwa tidak adaketentuan spesifik yang mengatur perlakuan akuntansi atas pengeluaran dana dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Akan tetapi alokasi dana tersebut dapat dianalogikan dengan pemberian sumbangan. Perlakuan akuntansi atas pengeluaran dana dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yang diperlakukan sebagaimana sumbangan perlu mempertimbangkan beberapa hal.

Hal yang perlu dipertimbangkan seperti dalam penjelasan :

1. ISAK No. 3 : Interprestasi Tentang Perlakuan Akuntansi atas Pemberian Sumbangan atau Bantuan (Buletin Akuntansi Staf Bapepam dan LK No. 8)

“ Sumbangan atau bantuan diakui sebagai beban dalam penetapan laba-rugi bersih periode berjalan, kecuali apabila pemberian sumbangan atau bantuan tersebut berkaitan dengan perolehan suatu aktiva.”

Pada paragraph 3 dinyatakan juga bahwa

“ Sumbangan atau bantuan diakui pada saat terjadinya dengan menggunakan dasar akrual. Saat terjadinya pemberian suatu sumbangan atau bantuan adalah pada saat kondisi tertentu yang disyaratkan untuk pemberian sumbangan atau bantuan telah terpenuhi, atau bila kegiatan atau transaksi tertentu yang mendasarinya telah dilakukan atau pada saat dijanjikan atau dibayar.”

2. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Pasal 74

1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

(11)

19

2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang melaksanakannya dilakukan memperhatikan kepatuhan dan kewajaran.

3) Persero yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur

dengan Peraturan Pemerintah.

Yusuf Wibisono (2007) menyatakan bahwa UU No. 40 pasal 27 kurang memberikan penjelasan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan, sedangkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang tertuang dalam pasal 34 menjelaskan mengenai tanggung jawab sosial perusahaan sebagai berikut : Pasal 15

Setiap penanam modal berkewajiban :

a). Menerapkan prinsip Corporate Governance yang baik. b). Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.

c). Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal.

(12)

20

e). Mematuhi semua ketentuan perundang-undangan. Pasal 17

Penanam Modal yang mengusahakan Sumber Daya Alam yang tidak terbarukan wajib mengalokasi secara bertahap untuk pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Pasal 34

Badan usaha / usaha perseorangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana ditentukan dalam pasal 15 dapat dikenai sanksi administratif berupa :

a) Peringatan tertulis

b) Pembatalan kegiatan usaha

c) Pembekuan kegiatan usaha dan atau fasilitas penanaman modal d) Pencabutan kegiatan usaha dan atau fasilitas penanaman modal

5. Manfaat CSR

Andreas Lako (2011) mengungkapkan bahwa dari perspektif keuangan, ada lima hipotesis berkenaan dengan peran strategis dan manfaat ekonomik CSR bagi perusahaan, yaitu :

(13)

21

Pertama, CSR berpengaruh positif meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Hipotesis itu didasarkan pada premis bahwa perusahaan yang berinvestasi pada CSR akan mendapatkan citra positif, reputasi bagus dan goodwill sehingga akan mendapatkan banyak kemudahan dari para stakeholder dalam akses ekonomi, pasar dan bisnis dalam jangka panjang.

Kedua, CSR meningkatkan nilai pasar perusahaan. Nilai pasar yang dimaksud adalah nilai pasar saham bagi perusahaan go public. Hipotesis itu didasarkan pada prediksi teori sinyal (signaling theory) dan teori pasar efisien (efficient market

hypothesis/EMH). Teori sinyal menyatakan bahwa perusahaan yang peduli dan

mengungkapkan informasi CSR memberi sinyal positif ke pasar bahwa perusahaan itu memiliki risiko yang rendah, punya prospek yang bagus dan memiliki business life

cycle yang pasti dan berkelanjutan. Sehingga pelaku pasar akan mengapresiasi harga

saham dari perusahaan yang peduli CSR.

Ketiga, CSR meningkatkan efisiensi, produktifitas dan efektivitas kinerja operasional bisnis. Hipotesis itu didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan yang peduli pada CSR internal akan meningkatkan rasa nyaman, rasa memiliki, kepuasan dan etos kerja bagi karyawan dan pihak-pihak yang bekerja dalam jaringan bisnis perusahaan. Peningkatan itu berdampak positif pada efisiensi biaya dan produktifitas output, kualitas produk/jasa dan efektivitas pencapaian tujuan bisnis. Pada akhirnya pencapaian itu akan menaikkan laba dan nilai ekuitas perusahaan.

(14)

22

Keempat, CSR menurunkan resiko dan memudahkan perusahaan mendapatkan akses pendanaan dari para kreditor dan investor. Hipotesis ini didasarkan pada premis bahwa perusahaan yang peduli CSR akan dinilai memiliki risiko finansial dan risiko bisnis yang rendah serta memiliki prospek bisnis yang bagus oleh para kreditor dan investor. Karena itu perusahaan pantas diberi pendanaan dengan tingkat suku bunga yang rendah. Para investor juga memiliki persepsi yang sama.

Kelima, CSR dan pengungkapan informasinya dalam pelaporan perusahaan bisa mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dengan para stakeholder. Implikasinya, resistensi para stakeholder akan rendah dan risiko-risiko perusahaan bisa diminimalisir. Political costs juga dapat diminimalisir karena perusahaan diapresiasi sebagai the good corporate citizen yang patut dilindungi.

6. Pengungkapan CSR

Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-134/BL/2006 Tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten atau Perusahaan Publik mengatur bahwa :

- Laporan Tahunan wajib memuat uraian singkat mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang telah dan akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam periode laporan keuangan tahunan terakhir

(15)

23

- Uraian mengenai aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan

Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang disebut Sustainibility Reporting. Sustainibility Reporting dalam Rika Nurlela & Islahuddin (2008) adalah Pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sustainability report harus menjadi dokumen strategis yang berlevel tinggi yang menempatkan isu-isu, tantangan dan peluang.

Dalam bukunya, Ismail Solihin (2009) menyatakan bahwa Sustainable Reports adalah laporan yang bersifat non finansial yang dapat dipakai sebagai acuan oleh perusahaan untuk melihat pelaporan dari dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan. Akan tetapi tidak semua perusahaan di Indonesia membuat sustainability reports dan banyak mengungkapkan kegiatan CSR dalam annual report.

Dengan adanya ketentuan dari pemerintah bahwa perusahaan publik wajib untuk mengungkapkan kegiatan CSR maka perusahaan memasukkan item-item CSR baik bidang sosial, tenaga kerja, dan lingkungan dalam laporan tahunannya. Laporan Tahunan perusahaan (Annual Report)adalah laporan keuangan yang dibuat setiap tahun yang berisi kinerja perusahaan dilihat melalui ikhtisar keuangan dan kinerja perusahaan non financial seperti kegiatan CSR atau SDM perusahaan bahkan laporan dewan komisaris atau jajaran direksi. Laporan keuangan tahunan perusahaan

(16)

24

merupakan laporan yang dipublikasikan kepada publik yang mengangkat topik seputar kegiatan operasional perusahaan selama satu tahun.

B. Kinerja Keuangan yang Mempengaruhi Pengungkapan CSR

Belum adanya standar baku yang mengatur tentang pelaporan aktivitas sosial perusahaan menyebabkan adanya keanekaragaman bentuk pengungkapan sosial perusahaan. Setiap perusahaan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda dalam pengungkapan CSR sesuai dengan karakteristik perusahaan. Banyak faktor yang mempengaruhi CSR antara lain ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, ukuran dewan komisaris, maupun profile yang dianggap sebagai variabel dalam pengungkapan CSR. Mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi pengungkapan CSR perusahaan, maka penelitian ini akan berfokus pada tiga variabel apakah ukuran perusahaan, profitabilitas dan leverage perusahaan akan berpengaruh terhadap CSR perusahaan.

1. Ukuran Perusahaan

Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak dari perusahaan kecil, karena perusahaan besar akan menghadapi resiko politis yang lebih besar daripada perusahaan kecil. Secara teori perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan politis, yaitu tekanan untuk melakukan CSR. Pengungkapan sosial yang lebih besar akan mengurangi biaya politis bagi perusahaan. Dengan mengungkapkan kepedulian sosial melalui laporan keuangan, maka dalam jangka panjang perusahaan

(17)

25

akan terhindar dari biaya besar sebagai akibat dari tuntutan masyarakat. Di samping itu perusahaan besar cenderung memiliki publik demand yang tinggi akan informasi dibanding dengan perusahaan kecil.

Faktor lain adalah perusahaan besar memiliki sumber daya besar, sehingga perusahaan mampu untuk membiayai penyediaan informasi untuk kepentingan internal maupun eksternal. Dengan demikian perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan yang besar untuk dapat melakukan pengungkapan CSR dengan lebih lengkap. Sebaliknya perusahaan kecil dengan sumber dayanya yang relatif kecil mungkin tidak memiliki infomasi siap saji sebagaimana yang dimiliki perusahaan besar, sehingga perlu adanya tambahan biaya yang relatif besar untuk dapat melakukan pengungkapan CSR dengan lengkap.

Ukuran perusahaan dapat diproksikan dari nilai kapitalisasi pasar, total aset, total tenaga kerja, dsb (Retno, 2006). Pada penelitian ini ukuran perusahaan dinyatakan dengan jumlah aktiva perusahaan pada BUMN di Indonesia. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui bahwa semakin besar jumlah aktiva perusahaan maka semakin besar pula tanggung jawab sosial yang harus diungkapkan. Dalam penelitian ini variabel ukuran perusahaan disajikan dalam bentuk logaritma karena nilai dan sebarannya yang besar dibanding variabel lain. Pengukurannya dengan menggunakan rumus :

SIZE = Total Aktiva Perusahaan

(18)

26 2. Profitabilitas

Profitabilitas dalam Sri Sulastri (2007) diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau profit dalam upaya meningkatkan nilai pemegang saham.

Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Ukuran profitabilitas dapat berbagai macam seperti laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian investasi/aktiva, dan tingkat pengembalian ekuitas pemilik. Rasio profitabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Keuntungan yang layak dibagikan perusahaan adalah keuntungan setelah pajak. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen. Para manajer tidak hanya mendapatkan dividen tetapi juga mendapatkan power yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan. Dengan demikian semakin besar dividen

(dividend payout) akan semakin menghemat biaya modal, di sisi lain para manajer

menjadi meningkat powernya bahkan bisa meningkatkan kepemilikannya akibat peneriamaan dividen sebagai hasil keuntungan yang tinggi. Jadi, profitabilitas menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam keputusan investasinya.

Beberapa ukuran untuk menentukan profitabilitas perusahaan antara lain

return of equity, return on assets, earning per share, net profit dan operating ratio.

(19)

27 Laba bersih setelah pajak ROA =

Total aktiva

Peneliti menggunakan ROA karena dengan rasio ROA, peneliti dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam memutar seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dan penggunaan ROA dalam mengukur profitabilitas.

3. Leverage

Leverage adalah penggunaan biaya tetap dalam usaha untuk meningkatkan

(lever up) profitabilitas. Leverage merupakan tolak ukur sejauh mana aktivitas perusahaan dibiayai oleh hutang. Leverage dibagi menjadi dua, yaitu Operating

Leverage dan Financial Leverage. Operating Leverage adalah tingkat sampai sejauh

mana biaya-biaya tetap digunakan di dalam operasi sebuah perusahaan. Operating

leverage juga dapat diartikan sebagai penggunaan dana denganbiaya tetap dengan

harapan pendapatan yang dihasilkan dari penggunaan dana tersebut dapat menutup biaya tetap dan biaya variabel. Sedangkan financial leverage adalah tingkat sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (utang dan saham preferen) digunakan dalam struktur modal sebuah perusahaan.

(20)

28

Teori keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan rasio leverage yang lebih tinggi akan lebih banyak mengungkapkan informasi karena biaya keagenan perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih tinggi. Tambahan informasi diperlukan untuk menghilangkan keraguan pemegang obligasi terhadap dipenuhinya hak-hak mereka sebagai kreditur. Oleh karena itu perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi memiliki kewajiban untuk melakukan ungkapan yang lebih luas daripada perusahaan dengan rasio leverage yang rendah.

Dalam penelitian ini indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage adalah Debt to Equity Ratio (DER). Pengukurannya menggunakan rumus :

Total Kewajiban DER =

Equitas Pemegang Saham

Dalam penelitian ini pengungkapan CSR merupakan variabel dependen. Pengungkapan CSR merupakan data yang diungkap oleh perusahaan berkaitan dengan aktivitas sosialnya yang meliputi tema lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, lain-lain tentang tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat dan umum.

Check list dilakukan dengan melihat pengungkapan tanggung jawab sosial

(21)

29

keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat dan umum (Cahya, 2010). Kemudian diberikan nilai 1 jika mengungkapkan dan nilai 0 jika tidak mengungkapkan kemudian dijumlah total pengungkapan. Masukkan total pengungkapan tiap perusahaan ke rumus CSR Indeks.

Total Pengungkapan CSR =

Total item indikator pengungkapan CSR (63)

C. Penelitian Terdahulu

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial. Untuk menggambarkan lebih rinci mengenai penelitian sebelumnya, penulis merangkumnya dalam tabel berikut ini.

(22)

30

Tabel 2.1

Penelitian sebelumnya mengenai pengungkapan CSR

Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian

Fr. Reni Retno Anggraini

(2006) Variabel Independen : Persentase kepemilikan manajemen, tipe industri,

ukuran perusahaan,

prifitabilitas, leverage Variabel Dependen : Pengungapan informasi sosial

Variabel seperti persentase kepemilikan manajemen dan tipe industri

berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial, sedangka ukuran perusahaan, leverage dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial.

Yie Ke Feliana, Cornelia Susatya, dan Stevanus Hadi Darmadji (2007)

Variabel Independen : Likuiditas perusahaan, leverage, profitabilitas, porsi saham publik, dan lama perusahaan go publik. Variabel Dependen : Kelengkapan pengungkapan (disclosure) laporan keuangan Tingkat kelengkapan pengungkapan informasi baik wajib dan sukarela hanya ditentukan oleh lama perusahaan go

publik, sedangkan

pengungkapan informasi wajib dipengaruhi oleh leverage dan porsi saham perusahaan yang dikuasai publik

Rika Nurlela dan

Islahuddin (2008) Variabel Independen : Pengaruh Corporete Social

Responsibility Variabel dependen : Nilai perusahaan Kepemilikan manajemen sebagai Variabel Moderating CSR, persentase kepemilikan manajemen serta interaksi antara corporate social responsibility dengan persentase kepemilikan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.

(23)

31

Tabel 2.1 lanjutan

Penelitian sebelumnya mengenai pengungkapan CSR

Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian

Anggara Fahrizqi (2010) Variabel Independen : Ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage dan ukuran dewan komisaris Variabel dependen : Pengungkapan CSR

Ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan CSR, sedangkan leverage dan ukuran dewan

komisaris tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR Bramantya Adhi Cahya

(2010) Variabel Independen : Ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage Variabel dependen :

Pengungkapan CSR

Ukuran perusahaan dan leverage berpengaruh terhadap pengungkapan CSR, sedangkan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR D. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan BUMN dan mengetahui pengaruh size/ukuran perusahaan, profitabilitas dan leverage terhadap pengungkapan CSR.

Size/ukuran perusahaan merupakan variabel yang banyak digunakan untuk

menjelaskan pengungkapan sosial yang dilakukan perusahaan dalam laporan tahunan yang dibuat. Secara umum perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini karena perusahaan besar akan menghadapi risiko politis yang lebih besar dibanding perusahaan kecil (Cahya, 2010). Dengan

(24)

32

mengungkapkan kepedulian pada lingkungan melalui pelaporan keuangan, maka perusahaan dalam jangka waktu panjang bisa terhindar dari biaya yang sangat besar akibat dari tuntutan masyarakat. Secara teorotis perusahaan besar tidak akan lepas dari tekanan, dan perusahaan yang lebih besar dengan operasi dan pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat akan mengungkapkan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Dikaitkan dengan teori agensi, bahwa semakin besar suatu perusahaan maka biaya keagenan yang muncul juga semakin besar, untuk mengurangi biaya keagenan tersebut perusahaan besar cenderung mengungkapkan informasi yang lebih luas.

Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam mencetak keuntungan baik dalam bentuk laba perusahaan maupun nilai ekonomis atas penjualan, aset bersih perusahaan maupun modal sendiri (Raharjaputra, 2009). Hubungan kinerja keuangan dengan tanggung jawab sosial perusahaan paling baik diekspresikan dengan profitabilitas, hal ini disebabkan karena tingkat profitabilitas dapat menunjukkan seberapa baik pengelolaan manajemen perusahaan, oleh sebab itu semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan maka pengungkapan CSR cenderung semakin luas. Dikaitkan dengan teori agensi, perolehan laba yang semakin besar akan membuat perusahaan mengungkapkan informasi sosial yang semakin luas.

Leverage mencerminkan resiko keuangan perusahaan karena dapat menggambarkan struktur modal perusahaan dan mengetahui resiko tak tertagihnya suatu utang. Semakin tinggi leverage suatu perusahaan, maka perusahaan memiliki resiko keuangan yang tinggi sehingga menjadi sorotan dari para debtholders. Teori

(25)

33

keagenan memprediksi bahwa perusahaan dengan tingkat leverage yang lebih tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi karena biaya keagenan perusahaan dengan struktur modal seperti itu lebih tinggi (Anggraini, 2006).

Berdasarkan beberapa teori diatas, maka dapat dibuat kerangka pemikiran seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.1

Kinerja Keuangan Perusahaan yang Mempengaruhi Pengungkapan CSR Size/Ukuran

Perusahaan

Profitabilitas

Leverage

Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Gambar

Tabel 2.1 lanjutan

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan dalam tugas akhir ini adalah bagaimana mencari taksiran total populasi berdasarkan sampel yang diambil dengan metode Detectability Simple Random Sampling baik

Mahasiswa dalam memahami konsep mata kuliah hukum perdata pada indikator (4) masih rendah hanya mencapai 64-66%, oleh karena itu pada siklus kedua selain kegiatan

Untuk mengetahui letak perbedaan perpindahan panas yang terjadi pada paving block yang terbuat dari abu hasil pembakaran serat dan cangkang pada boiler dengan komposisi

Berdasarkan pengujian yang dilakukan, dengan jangkauan pengiriman data oleh tag RFID sejauh 20 m, kendaraan dapat tetap dideteksi meskipun kendaraan melaju melewati

9 Apabila ada Pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak menuruti peraturan seperti yang terlihat mencolok adalah Pegawai negeri sipil sering kita temukan pulang sebelum waktu

Dari analisis data hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa hasil belajar kelas eksperimen yang menerapkan permainan bingo dalam model pembelajaran kooperatif