Hanif Journal
HMI Komisariat Adab dan Humaniora Cabang Gowa Raya Vol. 1, No. 1 (2021)
Analisis Perjuangan HMI dalam
Memerdekakan Ummat dan Bangsa
Indonesia dari Pengaruh Kolonialisme
Muh. EL Mubarak
HMI Komisariat Adab dan Humaniora Cabang Gowa Raya Raya e-mail: [email protected]
Abstract
The idea of establishing an Islamic Student Organization and forming a youth forum is a spirit that has never faded in the thoughts of the founders of HMI. The milestones starting from before the old order, the old order and the new order became clear evidence that there was always the idea of establishing a place to accommodate the ideas and ideas of an Islamic student union. This idea arose because of circumstances that were seen as obstacles to the nation's development process where the situation was different in each case. HMI as an Islamic organization, of course, is always in line with the Islamic Religion movement as a religion of struggle, and this is what determines and inspired the birth of HMI. The general situation before the birth of HMI will be described below, were the factors behind the establishment of HMI. The arrival of the British, Portuguese, Spanish and Dutch to Indonesia, apart from being colonizers, was also the bearer of the "Missi and Zending" brought with it Western civilization. This paper is reviewed by paying attention to: topic selection, data collection as primary and secondary sources, selection of sources in the form of HMI's Struggle in Liberating the Identity Values of the Indonesian Ummah and Nation from the Influence of Colonialism and source credibility, then equipped with interpretations, so as to display the pattern and style of HMI in its implementation. chronological order of writing. The type of this research is qualitative research, so this research is descriptive-analytic.
Keywords: HMI Struggle, Colonialism, Identity Value
Abstrak
Gagasan untuk mendirikan Organisasi Mahasiswa Islam dan membentuk suatu wadah kepemudaaan yang merupakan semangat yang tidak pernah pudar dalam pemikiran para pendiri HMI. Tonggak sejarah mulai dari sebelum orde lama, orde lama dan orde baru menjadi bukti nyata bahwa ada selalu gagasan untuk mendirikan sebuah wadah tempat menampung ide dan gagasan akan persatuan mahasiswa Islam. Gagasan tersebut muncul karena akibat keadaan yang dipandang dapat menjadi kendala bagi proses perkembangan bangsa dimana kendala tersebut berbeda situasinya dalam setiap masamHMI sebagai organisasi Islam, tentu saja selalu sejalan dengan gerakan Agama Islam sebagai agama perjuangan, dan inilah yang menentukan dan mengilhami kelahiran HMI. Situasi umum sebelum kelahiran HMI, seperti akan
dituturkan di bawah ini, merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya HMI.Kedatangan Bangsa Inggris, Portugis, Spanyol, dan Belanda ke Indonesia, di samping sebagai penjajah, adalah sekaligus pembawa pembawa “Missi dan Zending” yang membawa serta peradaban Barat.
Adapun tulisan ini diulas dengan memperhatikan: pemilihan topik, pengambilan data sebagai sumber primer maupun sekunder, seleksi sumber berupa Perjuangan HMI Dalam Memerdekakan Nilai Identitas Ummat Dan Bangsa Indonesia Dari Pengaruh Kolonialisme maupun kredibilitas sumber, kemudian dilengkapi dengan interpretasi, sehingga menampilkan pola dan corak HMI dalam bentuk penulisan yang diatur secara kronologis. Adapun jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, maka penelitian ini bersifat deskriptif-analitik.
Kata Kunci: Perjuangan HMI, Kolonialisme, Nilai Identitas
Pendahuluan
Dengan melihat kondisi bangsa Indonesia yang di jangkit berbagai bentuk persoalan, Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir dalam poros mempertahankan keutuhan NKRI dan mengangkat derajat ummat islam (Islam Keindonesiaan), Itulah yang coba di realisasikan dalam melihat kondisi bangsa dan ummat. Harapan Organisasi HMI dideklarasikan (antara lain) sebagai organisasi mahasiswa yang independen, kader Umat dan Bangsa, dan tidak menjadi underbouw sebuah partai politik, termasuk partai politik Islam. Wajar jika Jenderal (Besar) Sudirman saat itu menyambut HMI sebagai Harapan Masyarakat Indonesia karena dalam HMI berkumpul orang terpelajar, yang tentunya diharapkan dapat memberi manfaat bagi masa depan bangsanya. Ada warna Islaman dan ke-Bangsaan sejak kelahirannya. Tidak mengherankan, ketika RI menghadapi perang kemerdekaan melawan Belanda, mereka juga mendirikan pasukan bersenjata yang dikenal sebagai Corp Mahasiswa. Dengan cita-cita pendirian HMI seperti itu, harus diakui, tidaklah mudah memegang khittah HMI di tengah lingkungan keumatan dan kebangsaan selama ini. Pluralism yang mewarnai umat dan bangsa tentu menyulitkan formula HMI sebagai kader umat dan bangsa.
Dalam perjalanannya, HMI selalu ditarik ke kanan dan ke kiri untuk berpihak kepada salah satu kekuatan umat dan bangsa. Sikap independen sering menjadi pertaruhan tidak mudah. Tidak jarang HMI dikesankan sebagai tidak independen lagi. Oleh karena itu merujuk kondisi itulah yang telah penulis paparkan diatas maka penulis ingin membahas denganlebih rinci tentang persoalan-persoalan tersebut dalam makalah ini yang berjudul “Analisis Perjuangan HMI Dalam Memerdekakan Nilai Identitas Ummat dan Bangsa Indonesia Dari Pengaruh Kolonialisme”.
Penelitian ini merupakan jenis kualitatif melalui studi pustaka. Tahapan penelitian dilaksanakan dengan menghimpun sumber kepustakaan dan artikel di media. Proses penelitian dilakukan dengan mengambil studi pustaka dari literature, buku-buku, maupun dari internet. Kemudian dilakukan telaah dan kajian yang relevan dengan penelitian. Untuk membahas hasil penelitian dilakukan deskripsi dengan mengaitkan dari literature, buku-buku maupun dari internet. Selanjutnya membuat kesimpulan hasil penelitian.
Pembahasan
A. Hubungan Kondisi Ummat dan Bangsa Indonesia Masa dan Pasca Kemerdekaan Dengan Latar Belakang Berdirinya HMI.
1. Kondisi Islam di tengah-tengah pergulatan, percaturan dan perubahan politik di Indonesia pada masa dan pasca kemerdekaan
Dari kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tahun 1945 yang di mana telah menyisakan berbagai luka kesedihan, dan juga melihat berbagai usaha yang dilakukan masyarakat sehingga berbagai pula yang mengalami kemorosotan. Situasi umat Islam di Indonesia tidak jauh beda dengan Islam di dunia, secara ilmu pengetahuan dan teknologi juga masih dikuasai oleh dunia Barat. Dalam tulisannya Lafran Pane yang berjudul “keadaan dan kemungkinan kebudayaan Islam di Indonesia” menjelaskan ada empat golongan kondisi sosiologis umat Islam di Indonesia sebelum berdiri HMI. “Golongan Pertama, golongan awam (golongan terbesar). Yaitu umat Islam yang hanya melaksanakan amalan ajaran Islam dengan ceremonial. Seperti upacara kawin, adat istiadat, dan lain-lain. Golongan Kedua, golongan mistik. Golongan ini melaksanakan ajaran Islam dengan hubungan manusia dengan Allah Swt. hanya memikirkan dunia akhirat saja, sementara permasalahan dunia sosial-politik bangsa di Indonesia tidak terpikirkan oleh mereka. Golongan Ketiga, golongan alim ulama. Umat Islam di Indonesia melaksanakan ajaran Islam persis dengan ajaran Rasulullah Saw. Sementara ajaran Islam Arab berbeda dengan ajaran Islam di Indonesia. Golongan Keempat, golongan terpelajar. Golongan ini merupakan golongan terkecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan situasi zaman yang selaras dengan ajaran Islam. Kaum terpelajar ini menyesuaikan diri dengan melaksanakan ajaran Islam dalam bermasyarakat dan berbangsa dengan tujuan untuk kemaslahatan negara dan bangsa”.
Tuntutan Perang Kemerdekaan untuk memperoleh pengakuan kedaulatan rakyat merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan memerlukan persatuan dan kesatuan dari sengenap umat islam sebagai tulang punggung bangsa dan negara. Bersamaan dengan kondisi ruang dan waktu ketika itu keluarlah
Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia Nomor: X/1945 tertanggal 3 November 1945, yang ditanda tangani Wakil Presiden RI Drs. Mohammad Hatta yang membolehkan berdirinya partai-partai. Seperti diketahui, pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, pemerintah Jepang tidak memberi ijin kepada rakyat untuk mendirikan partai politik. Semua kegiatan politik dan gerakan rakyat diawasi, termasuk MIAI (Majelis Islam A’laa Indonesia), yang kemudian digantikan Masyumi tahun 1943 sebagai buatan Jepang. Padahal rakyat membutuhkan partai sebagai alat untuk memperjuangkan aspirasinya sebagai bangsa yang ingin merdeka. Maka keluarlah Pengumuman Pemerintah seperti disebut di atas.
Untuk merespon pengumuman pemerintah itu atas kesepakatan pemimpin- pemimpin umat islam yang tergabung dalam partai dan organisasi islam, bertempat di gedung madrasah mualimin muhammadiyah Jl.taman sari 68 yogyakarta tanggal 7 November 1945 dilangsungkan kongres umat islam indonesia (KUII) yang I setelah indonesia merdeka, yang dikuti seluruh partai- partai dan sebagian besar organisasi-organisasi islam dari selulruh indonesia. KUII tersebut telah mengambil keputusan:
a) Mendirikan Partai politik islam yang bersama masyumi (majelis syuro muslimin indonesia).
b) Ikrar bersama-sama, tidak menghendaki berdirinya partai politik islam lain, kecuail masyumi.
c) Masyumilah yang akan memperjuangkan nasih umat islam di bidang politik.
Berdirinya masyumi sebagai satu-satunya partai islam maka partai partai islam yang ada waktu itu seperti PSII, PII, penyadar, permi dileburkan dan berfusi menjadi satu dengan masyumi sebagai partai unitaris sedang organisasi islam non politik seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), PUT,AL jamiatul.
Washliyah, Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) menjadi anggota istimewa dari Masyumi, seperti disebutkan dalam pasal II anggaran tujuan partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum islam di dalam kehidupan orang seorang, masyarakat dan negara republik indonesia sedang program dalam negari yaitu:
a) Memperkuat persiapan umat islam untuk berjihad fi sabilillah
b) Memperkuat bersian pertahanan negara indonesia dengan berbagai usaha yang diwajibkan agama islam
c) Menyesuaikan susunan dan sifat masyumi sebagai pusat persatuan umat islam indonesia sehingga dapat menggerakkan dan memimpin perjuangan umat islam indonesia seluruhnya
d) Memohon kepada pemerintah republik indonesia supaya mendesak kaum
sekutu menyegerakn perlucutan senjata tentara jepang dan
KUII I itu juga memutuskan: a) membentuk berisan Hizbullah dan berisan yang bersenjata bambu runcing b) memperkokoh organisasi partai masyumi buatan jepang tahun 1943 karena dibentukkan dan didirikan tanpa campur tangan pihak luar sekalipun nama lama tetap dipakai ungkapan lain tentang terbentuknya masyumi bahwa pembentukan masyumi di yogyakarta tanggal 7 November 1945, melalui kongres umat islam indonesia tempaknya harus pula dipandang sebagai jawaban atas keperluan umat islam untuk pula dipandang sebagai jawaban atas keperluan umat islam untuk mempunyai suatu institusi politik yang mampu memperjuangkan aspirasi politik mereka di penggung nasional. KUII waktu itu sekaligus menghasilkan kesepakatan bahwa masyumi merupakan satu-satunya institusi politik islam.
2. Latar Belakang Berdirinya HMI
Sebelum lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, terlebih dulu berdiri organisasi kemahasiswaan bernama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang beranggotakan mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada yang pada waktu itu hanya memiliki Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra.Oleh karena Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dirasa tidak memperhatikan kepentingan para mahasiswa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Tidak tersalurnya aspirasi keagamaan merupakan alasan kuat bagi para mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi kemahasiswaan yang berdiri dan terpisah dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta.
Pada tahun 1946, suasana politik di Indonesia khususnya di Ibukota Yogyakarta mengalami polarisasi antara pihak Pemerintah yang dipelopori oleh Partai Sosialis, pimpinan Syahrir - Amir Syarifuddin dan pihak oposisi yang dipelopori oleh Masyumi, pimpinan Soekiman - Wali Al-Fatah dan PNI, pimpinan Mangunsarkoro - Suyono Hadinoto serta Persatuan Pernyangannya Tan Malaka. Polarisasi ini bermula pada dua pendirian yang saling bertolak belakang, pihak Partai Sosialis (Pemerintah) menitik beratkan perjuangan memperoleh pengakuan Indonesia kepada perjuangan berdiplomasi, pihak oposisi pada perjuangan bersenjata melawan Belanda.
Polarisasi ini membawa mahasiswa yang juga sebagian besar dari mereka adalah pengurus Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta berorientasi kepada Partai Sosialis. Melalu mereka inilah Partai Sosialis mencoba mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Namun mahasiswa yang masih memiliki idealisme tidak dapat membiarkan usaha Partai Sosialis hendak mendominir Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. Dengan suasana yang sangat kritis dikarenakan Belanda semakin memperkuatkan diri dengan terus-menerus mendatangkan bala bantuan dengan persenjataan modern yang kemudian pada tanggal 21 Juli 1947 terjadilah
yang dinamakan Agresi Militer Belanda I. Dengan situasi yang demikian para mahasiswa yang berideologi murni tetap bersatu menghadapi Belanda, mencegak setidak-tidaknya mengurangi efek-efek dari polarisasi politik yang sangat melemahkan potensi Indonesia menghadapi Belanda. Karenanya mereka menolah keras akan sikap dominasi Partai Sosialis terhadap mahasiswa yang dinilai akan mengakibatkan dunia mahasiswa terlibat dalam polarisasi politik.
Berbagai hal ini yang mendorong beberapa orang mahasiswa untuk mendirikan organisasi baru. Meskipun sebenarnya jauh sebelum adanya keinginan untuk mendirikan organisasi baru sudah ada cita-cita akan itu, namun selalu ditunda dan dianggap belum tepat. Namun melihat dari berbagai kondisi yang ada dirasa cita-cita yang sudah lama diharapkan itu perlu diwujudkan karena bila membiarkan Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta lebih lama didominasi oleh Partai Sosialis adalah hal yang tidak tepat. Penolakan sikap dominasi Partai Sosialis terhadap Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa Islam, melainkan juga mahasiswa kristen, mahasiswa katolik, serta berbagai mahasiswa yang masih menjunjung teguh ideologi keagamaan.
B. Gerakan Intelektual HMI Dalam Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI merupakan suatu organisasi yang bernafaskan Islam dan bersifat independen atau bebas dan merdeka tidak tergantung dan memihak dengan kelompok atau golongan tertentu. HMI telah berdiri sejak 5 februari 1947 dan sampai sekarang organisasi ini masih berkiprah dan terus berkembang ke berbagai Universitas yang dimana suatu Universitas tersebut terdapat mahasiswa Islam maka di Universitas tersebut terdapat organisasi HMI ini, organisasi ini sangatlah luas seiring dengan banyaknya Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia. Dari awal terbentuknya HMI telah ada komitmen keumatan dan kebangsaan yang bersatu secara integral sebagai dasar perjuangan HMI yang dirumuskan dalam tujuan HMI yaitu:
a) Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia yang didalamnya terkandung wawasan atau pemikiran kebangsaan atau ke-Indonesiaan
b) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam yang didalamnya terkandung pemikiran ke-Islaman
Karna dengan melihat kondisi Negara Indonesia yang mengalami beberapa perubahan yang mencoba memasang ideologi yang mencoba menghilangkan nilai religiusnya, maka Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam pun mengarah agar lebih berkembang dalam mengawal. Organisasi ini merupakan suatu organisasi pengkaderan dimana bertujuan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi Allah SWT. HMI telah melewati banyak fase atau tahap dalam perkembangannya seperti di jelaskan di atas sehingga kini HMI tetap dan terus menjalankan syariat organisasinya yang nasionalis dan tetap bernuansa Islam, sehingga kader-kader HMI sekarang menjadi seorang muslim yang nasionalis, berintelektual yang sekaligus menjunjung tinggi asas-asas keIslaman di Indonesia agar membuat Negara ini bangkit dan terus maju dalam pembangunan baik dalam segala aspek manapun, dan untuk menunjukkan kepada Negara luar khususnya Negara non-muslim bahwa Indonesia sebagai Negara dengan umat muslim terbanyak di dunia bisa membuat rakyat dan negaranya maju dalam segala bidang dan tetap menjunjung tinggi asas-asas keislaman. Sebagai Mahasiswa atau kaum intelektual di masa sekarang, dengan sifat keindependen dari HMI ini kita harus selalu dituntut untuk mengambil sikap berani, kritis, adil, jujur dan selalu berpikir obyektif dan rasional. Dengan sifat independen inilah Mahasiswa harus mampu mencari, memilih dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran, maka kader-kader HMI haruslah berkualitas karena itu merupakan suatu modal untuk meningkatkan mutu dari kader HMI sehingga mampu berperan aktif pada masa sekarang dan mendatang. Dengan mengetahui sejarah terbentuknya organisasi ini pada masa lalu, kita dapat mengetahui semangat juang HMI. Merupakan sebuah tonggak bagi HMI untuk meneruskan perjuangan pencipta dan para pendahulu di HMI agar selalu terciptanya hari esok yang lebih baik. Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada dalam cengkaraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai masyarakat kelas bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri atau rakyat yang sudah seideologi dengan mereka.
Perjuangan kelahiran HMI bukan hanya milik kader HMI semata, akan tetapi rakyat Indonesia terpanggil untuk memiliki HMI sebagai lembaga kontrol kekuasaan, dan bersama rakyat memperjuangkan segala kepentingannya di atas kepentingan elite di negara ini. Kini 70 tahun sudah HMI bersama rakyat Indonesia dalam membangun kemajemukan dan integritas negara ini. Ditengah sentiment politik elite kekuasaan negara yang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, telah banyak mengabaikan dan menepis ekspektasi rakyat baik dalam dalam ekonomi kerakyatan, kesejahteraan eran HMI dalam sejarah kehidupan bangsa dan negara Indonesia merupakan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. HMI dengan sengaja telah ikut mewarnai sejarah panjang dinamikan kebangsaan Indonesia. Perjuangan dan pengabdian HMI terhadap eksistensi negara ini patut di banggakan pula, karena riwayat fase perjuangan HMI dalam mendorong pembangunan Indonesia tumbuh seiring dengan penegakan NKRI sebagai satu kekuatan integrasi bangsa dan negara.rakyat, maupun mutu pendidikan dan kesehatan rakyat, demokrasi, perlindungan hukum serta proteksi negara terhadap rakyat kecil. Perjalannan HMI sangat terekam jelas asas
perjuangannya dari masa ke masa, hal ini membuktikan kebenaran perjuangan dalam mengisi rung kemerdekaan dan pembangunan di negara tercinta ini. Dalam perjalanannya, HMI memiliki fase kesejarahannya sendiri dalam interaksinya dengan umat dan bangsa. Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, sejarawan HMI, malah membagi kesejarahan HMI dalam lima zaman perjalanan HMI dan 10 fase perjuangan yakni, zaman perang kemerdekaan dan masa kemerdekaan (1946-1949) yang dibagi dalam fase konsolidasi spiritual dan proses berdirinya HMI (November 1946-5 Februari 1947), fase berdiri dan pengokohan (5 Februari-30 November 1947), dan fase perjuangan bersenjata dan perang kemerdekaan, dan menghadapi pengkhianatan dan pemberontakan PKI I (1947- 1949). Dalam fase tantangan II HMI dituntut dapat terus eksis meskipun alumninya banyak tertimpa musibah dan HMI digerogoti berbagai macam permasalahan termasuk konflik internal di HMI sendiri.
Kelima fase zaman perjuangan tersebut di atas, HMI tak berhenti bergerak dan terus berbuat untuk kemerdekaan dan mengisi pembangunan di negara ini. Ini bukti faktual perjuangan HMI dalam mengabdikan diri dalam membela negara, memperjuangkan hak-hak rakyat, serta menjaga kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
C. Konsolidasi Intelektual HMI Dalam Merumuskan Keislaman dan Keindonesiaan
Pemikiran keislaman dan keindonesiaan atau wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan HMI yang bersumber dari rumusan tujuan HMI yang pertama dan kedua, Hari Azhar Aziz, Ketua Umum PB HMI period 1983-1986 mengatakan bahawa orientasi pemahaman perspektif kesejarahan memberikan gambaran bahawa gerak perjuangan HMI bukan peristiwa yang penubuhan sendiri. Ia akan selalu tampil sebagai pancaran dari idea dasar kelahiran HMI, seperti terungkap dari tujuan HMI. Terdapat dua makna yang mewarnai pemikinan HMI. Pertama, telah menjadi tekad HMI untuk membela, mempertahankan Negara Republik Indonesia serta menjaga kedaulatannya sejak merdeka 17 agustus 1945. Telah menjadi keyakinan HMI, hanya dalam negara merdeka dan berdaulat saja cita-cita untuk meningkatkan derajat rakyat Indonesia di bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur dapat tercapai. Dari tema pernikiran seperti itu menurut Hari Azhar Azis, HMI menempatkan dirinya sebagai salah satu barisan, yang selalu tampil ke atas manakala datang penggilan untuk membela, mempertahankan dan mempersatukan bangsa Indonesia. Pemikiran keislaman — keindonesiaan HMI seperti diungkapkan di atas memiliki berbagai corak.
Corak suatu pemikiran bukanlah suatu yang penubuhan sendiri, akan tetapi terbentuk dan ditentukan faktor dalaman dan luaran. Demikian juga halnya
dengan corak pemikiran keislarnan - keindonesiaan HMI. Faktor dalaman ditentukan dan berkaitan dengan hal-hal yang dimiliki HMI sebagai dasar berpijak ke arah pembentukan corak pemikirannya. Faktor dalaman yang dimaksud adalah karakteristik atau jati diri yang melekat dan dimiliki HMI, yang terbentuk dalam mengiringi proses penubuhannya dan perkembangan berikutnya, yang mengandung prinsip-pninsip wawasan keislaman, wawasan keindonesiaan, tujuan HMI, sifat independen, berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi kader, berperan sebagai organisasi perjuangan dan sebagai sumber insani pembangunan bangsa dan moden.
Wawasan keislaman - keindonesiaan, menunjukkan bahawa HMI mesti sentiasa menempatkan Islam yang bersifat universal sebagai sumber motivasi, sumber inspirasi di tengah-tengah pergumulan kepelbagaian, keberagamaan dan ideologi lain yang berbagai-bagai. Pemikiran keislaman - keindonesiaan HMI mesti melihat reality bangsa Indonesia itu, sebagai suatu negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang sangat majemuk. Juga mesti dapat ditunjukkan kepada bangsa Indonesia bahawa agama Islam itu dapat menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridloi Allah SWT, sebagai suatu tugas kerja kemanusiaan. Independensi HMI dan pemikirannya dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat di tengah-tengah masyarakat yang pluralistik. Seperti dalam huraian dapatan kajian dapat dikenalpasti akan dakwah yang dilakukan HMI.
Berikut ini beberapa hal aktiviti dakwah yang berkenaan dengan dakwah Islam. Pertama, menegakkan dan mengembangkan agama Islam yang bersumber pada Al Quran dan al-Sunnah, untuk tegaknya keyakinan Tauhid, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang majemuk, dengan melakukan dakwah amar ma„ruf nahi munkar. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif, konstruktif, pro-aktif, inklusif, integratif, bersama-sama kerajaan Republik Indonesia serta seluruh kekuatan bangsa, guna meningkatkan harkat dan martabat serta peradaban bangsa Indonesia dalam bidang kehidupan beragama, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, sosial, politik, kemasyarakatan dan dimensi kehidupan lainnya, serta hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia, untuk mencapai masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diridhoi Allah SWT, menuju Indonesia baru di masa hadapan. Seterusnya, keempat, membina kader-kader intelektual dan pejuang bangsa yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, keilmuan dan independen, sebagai calon pemimpin bangsa di masa mendatang untuk mengisi Proklamasi 17 agustus 1945 dan menyempurnakan perjuangan bangsa mencapai cita-citanya. Kelima, membendung dan memberantas bahaya abadi dan latent paham/ajaran komunis dalam segala bentuk dan manifestasinya, serta paham-paham lain yang bertentangan dengan
Islam dan Pancasila. Dan keenam, sentiasa mengusahakan persatuan dan kesatuan umat Islam dan bangsa Indonesia yang majemuk, serta keutuhan negara kesatuan
Republik Indonesia dari Sabang Sampai Merauke, sebagai syarat mutlak tercapainya cita-cita umat Islam dan bangsa Indonesia yang besar dan luhur dalam hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Maklumat di atas bukan bererti sudah akhir. Namun dengan tetap berpegang pada paradigma yang transendental itu dakwah HMI masih dapat dikembangkan secara dinamis, sepanjang pengembangan itu tetap relevan. Jika dikaji secara seksama bahawa 6 butir dakwah HMI itu, tidak hanya bersifat idea dan tematis sahaja atau suatu teori yang siap dioperasionalkan. Oleh itu, diperlukan usaha yang berterusan dalam mewujudkan idea berkenaan. HMI yang pemikiran dan kegiatannya memperoleh inspirasi dari nilai-nilai keislaman dan konteks kultural Indonesia. Maka dakwah HMI pun tidak terlepas dari kerangka itu. Akan bangkit pertanyaan: “bagaimana pengertian yang spesifik tentang pemikiran keislaman dan keindonesiaan?
Nurcholis Madjid dalam salah satu tulisannya mengatakan dalam HMI, keislaman dan keindonesiaan telah terpadu secara utuh, sehingga dalam
mengekspresikan keislamannya, HMI telah sekaligus menyatakan
keindonesiaannya. Dalam pandangan HMI komitmen kepada keindonesiaan merupakan kelanjutan dari sistem keimanannya. HMI mengindonesia kerana hendak mengejawantahkan nilai-nilai luhur yang diserapnya dari ajaran-ajaran Islam. Maka dalam menglslam, HMI menglslam dalam wadah yang dikaruniakan Tuhan kepadanya iaitu tanah air Indonesia. Keislaman dan keindonesiaan bagi HMI bukan masalah alternatif satu sama lain, tetapi dua sisi dari sekeping mata uang (Nurcholis Madjid, 1997:iv).
Memimpin merupakan sebahagian dari dakwah iaitu menegakkan keadilan, menjaga agar setiap orang memperoleh hak asasinya. Dalam waktu yang sama menghormati kemerdekaannya sebagai kewujudan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Adapun peranan HMI sebagai organisasi perjuangan, mengisyaratkan, agar dengan pemikiran-pemikiran HMI dapat mendatangkan suatu perubahan ke arah perbaikan dan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan hakikat perjuangan itu yakni melakukan perubahan, perombakan, perbaikan, penyempumaan terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan tuntuan zaman sehingga lebih baik dan masa sebelumnya.
Penutup
Untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, maka pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan umat Islam akan agamanya harus ditingkatkan, sehingga dapat mengetahui dan memahami ajaran Islam secara benar dan utuh. Kebenaran Islam memiliki jaminan kesempurnaannya sebagai peraturan
untuk kehidupan yang dapat menghantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Tugas suci umat Islam adalah mengajak umat manusia kepada kebenaran Illahi dan kewajiban umat Islam adalah menciptakan masyarakat adil makmur material dan spiritual. Dengan adanya gagasan pembaharuan pemikiran keislaman, diharapkan kesenjangan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dapat diminimalisir, bahkan kalau bisa dihilangkan, hal ini dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam.
Kader merupakan ujung tombak dari HMI. Tanpa kader HMI tinggal menunggu akhir riyawatnya. Tugas HMI adalAh membina kadernya untuk dibina dan diarahkan supaya pola pikir, pola tingkah dan pola lakunya menjadi sumber inspirasi dan sumber motisi bagi generasi selanjutnya. HMI harus bisa merekonstruksi formula-formula aparatur organisasinya supaya lebih inspiratif bagi mahasiswa secara umum dan kader HMI sendiri untuk berproses dan berjuang dalam Himpunan ini. Kader HMI harus siap dikader, mengkader diri dan mengkader orang lain. Kader merupakan aset berharga bagi umat bangsa dan Negara ini. Mereka semualah yang akan menjadi intelektual, pemimpin, ulama, ilmuan , negarawan, ekonom, yang paripurna penerus bangsa dan harapan umat. Maka sudah menjadi tugas HMI untuk mencetak kader-kader berkualitas yang mengabdi pada umat, bangsa dan negaranya dengan ikhlas limardhotilah.
Tujuan HMI sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4. AD ART HMI yaitu: “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam dan Bertanggung Jawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridhoi Allah subhanahu wataalah”. Pada esensinya terdapat dua tujuan yakni tujuan mikro dan tujuan makro.Tujuan mikro kita ber- HMI adalah Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Sedangkan tujuan makronya adalah Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
Dalam rangka pengabdian dan pembangunan HMI terhadap umat dan bangsa itu bisa dimakanai HMI sebagai organisasi yang melahirkan kualitas anak bangsa yang berkualitas, akan tetapi kita sebagai kader saja tidak cukup perlu adanya kesadaran bersama untuk membangun bangsa ini baik itu dengan menjadikan Islam sebagai sumber nilai, inspirasi dan motifvasi yang menyentuh segala aspek ke-Indonesiaan dan ke-Bangsaan negara ini. Ataupun dengan mendemokratisasikan setiap tatanan masyarakat Indonesia dengan kunci Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam jangan dimaknai sebagai lembaga, idologi, aliran yang mempersempit makna Islam itu sendiri, akan tetapi Islam harus
dikontekstualisasikan sebagai tatanan nilai yang relefan dalam setiap lokus dan tempusnya al-Islamu shalihun lukuli zamani wa makani, sehingga Islam sebagai azas HMI merupakan jalan yang lurus menuju rahmat dan ridhonya.
Daftar Pustaka
Anawagis, F. (2020). Refleksi Peradaban Islam Masa Rasulullah terhadap Polarisasi Gerakan Islam HMI terhadap Bangsa Indonesia. Jurnal
Khitah: Kajian Islam, Budaya dan Humaniora, 1(1), 50-60.
Azhari Akmal Taringan. Islam Mazhab HMI : Tafsir Tema Besar Nilai Dasar
Perjuangan (NDP). Jakart,. Kultura. 2007
Sitompul Agussalim, Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (th. 1947-
1975), Surabaya: bina ilmu, 1976.
Satria, wibawa hariqo, Lafran Pane; Jejak dan Pemikirannya, Jakarta: Penerbit Lingkar, 2011.
Sitompul Agussalim, Citra HMI, cet II. Jakarta: CV Misaka Galiza, 2008. Sitompul Agussalim, Menyatu dengan Umat Menyatu dengan Bangsa: Pemikiran
Keislaman-Keindonesiaan HMI 1947-1997, Jakarta : Penerbit Logos
Wacana Ilmu, 2002.
Sitompul Agussalim, Historiografi Himpunan Mahasiswa Islam th. 1947- 1993,
cet.II. Jakarta: Misika Galiza, 2008.
Madjid, Nurcholish. 1987. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Penerbit HMI; Jakarta
Sitompul, Agus. 2008. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah
Perjuangan Bangsa Indonesia. Penerbit CV Misaka Galiza; Jakarta
Zulkarnaen,
Fajar. 2003. Mengakhiri Infantilisme HMI. Penerbit HMI Press; Bandung Solichin. HMI Candradimuka Mahasiswa Jakarta, Sinergi Persadatama
Foundation. 2010
Nur, A., & Makmur, Z. (2020). Implementasi Gagasan Keindonesiaan Himpunan Mahasiswa Islam; Mewujudkan Konsep Masyarakat Madani Indonesian Discourse Implementation of Islamic Student Association; Realizing Civil Society Concept. Jurnal Khitah, 1(1).