• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mei 2016 Vol. 5, No. 1 :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mei 2016 Vol. 5, No. 1 :"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK MEDIASI PERBANKAN SEBAGAI

ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN

INDONESIA (ANALISIS ASPEK KEADILAN, KEPASTIAN

HUKUM, DAN KEMANFAATAN)

Oleh :

Nyoman Satyayudha Dananjaya,1 Kadek Agus Sudiarawan2 Abstract

There is difficulty in determining the position of mediation institutions as preferred of dispute resolution between the Bank and the Customers when viewed from the side of justice, legal certainty and the expediency that can be produced for the parties. On one side banking mediation has various advantages characteristic, but on the other side there are still many obstacles that must be overcome so that mediation can be applied effectively.Types of research used in this paper included the normative legal research which put the law as a norm building system. This research uses secondary data where all of these data are analyzed using the qualitative methods. The report of this study is presented in a descriptive analysis. From the aspect of justice, banking mediation conducted by Bank Indonesia need to have serious attention because it is not able to be objective that eventually will harm customers. Aspects of Legal Certainty, not maximal to set the authority for impose administrative sanctions to banks that do not comply with the contents of the mediation agreement and its become the main problem, and The Expediency Aspect: not yet known the extent of the banking institutions in community become barrier itself. So to address this dispute, independent mediation banking institutions should be formed by banking associations and Bank Indonesia needs to re-socialization the existence of banking mediation institutions to the public by displaying all of its advantages characteristic. Keywords: Banking Mediation, Alternative Dispute Resolution, Aspect of

Justice, Aspects of Legal Certainty, Aspects of Expediency

Abstrak

Terdapat kesultan dalam menentukan kedudukan lembaga medas sebaga plhan penyelesaan sengketa antara Bank dengan Nasabah jka dtnjau dar ss keadlan, kepastan hukum dan kemanfaatan yang mampu dhaslkan bag para phak yang bersengketa. Dsatu ss medas perbankan memlk berbaga keunggulan karakterstk, namun dss lan mash banyak kendala yang harus

dhadap agar medas perbankan n dapat terlaksana dengan efektf. Jens

peneltan yang dgunakan dalam tulsan n termasuk ke dalam peneltan hukum normatf yang meletakan hukum sebaga sebuah bangunan sstem norma. Data yang dgunakan dalam peneltan n adalah data sekunder data. Seluruh

1 Penuls pertama adalah Dosen Fakultas Hukum Unverstas Udayana, Denpasar, Bal, alamat Jalan

Pulau Bal No.1 Denpasar, emal : satyayudhad@gmal.com

2 Penuls kedua adalah Dosen Fakultas Hukum Unverstas Udayana, Denpasar, Bal, alamat Jalan

(2)

data yang terkumpul danalss dengan menggunakan metode kualtatf. Hasl

peneltan dsajkan dalam suatu laporan yang bersfat deskrptf analss. Dar

aspek keadlan medas perbankan yang dlaksanakan Bank Indonesa perlu mendapat perhatan serus karena dkhawatrkan tdak mampu berskap obyektf yang akhrnya akan merugkan nasabah. Dar Aspek Kepastan Hukum : belum maksmalnya pengaturan mengena kewenangan untuk menjatuhkan sanks admnstratf kepada bank yang tdak mematuh s kesepakatan medas menjad permasalahan utama, dan dar Aspek Kemanfaatan : belum dkenal luasnya lembaga medas perbankan d kalangan masyarakat menjad faktor penghambat tersendr. Sehngga untuk mengatas permasalah n lembaga medas perbankan ndependen oleh asosas perbankan harus segera dbentuk dan Bank Indonesa perlu mensosalsakan kembal keberadaan lembaga medas perbankan kepada masyarakat luas dengan menamplkan segenap keunggulan karakterstk yang dmlknya.

Kata Kunc : Medas Perbankan, Altenatf Penyelesaan Sengketa, Aspek Keadlan, Aspek Kepastan Hukum, Aspek Kemanfaatan

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lembaga Perbankan merupakan pokok sstem keuangan yang memegang peranan pentng dalam sstem perekonoman dan menggerakkan pembangunan Indonesa. Dalam perkembangan kehdupan masyarakat modern sepert sekarang n, tdak dapat dpungkr bahwa duna perbankan saat n memlk peranan pentng dalam kehdupan manusa dan memegang poss yang domnan, sebab bank merupakan penyeda dana bag para pelaku usaha, sehngga pelaku usaha dapat menjalankan aktifitasnya, salah satunya adalah dalam bentuk pnjaman.

Bank sebaga financial

intermediary institution selan bertugas untuk menghmpun dana dan menjalankan usahanya terutama dar dana masyarakat yang kemudan

menyalurkan kembal kepada

masyarakat, bank juga memberkan jasa-jasa keuangan dan pembayaran lannya yang memudahkan masyarakat dalam kehdupan perekonoman

dkeseharannya.3

Pengaturan mengena

perbankan d Indonesa dmula sejak dlahrkannya UU No.14 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Perbankan yang kemudan dgant dengan UU No.7 tahun 1992 Tentang Perbankan dan selanjutnya dengan Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No.7 Tahun 1992 Tentang Perbankan.

Dalam hal hubungan hukum yang terjad antara bank dan nasabah, tdak dapat dpungkr bahwa hubungan n potensal akan menmbulkan sengketa antar phak terkat. Adapun masalah dan sengketa antara nasabah dan

3 Burhanuddn Abdullah, 2006, Jalan Menuju Stabilitas Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Pustaka LP3ES Indonesa,

(3)

perbankan dsebabkan oleh 4 (empat) hal utama yang melput :

1. Informas yang kurang memada

mengena karakterstk produk atau jasa yang dtawarkan bank.

2. Pemahaman nasabah terhadap

aktvtas dan produk serta jasa perbankan yang mash kurang.

3. Ketmpangan hubungan antara

nasabah dengan bank, khususnya bag nasabah pemnjam dana.

4. Tdak adanya saluran memada

untuk memfasltas penyelesaan frks atau permasalahan yang terjad antara nasabah dengan bank.4

Bank Indonesa sebaga otortas pengawas ndustr perbankan memlk kepentngan dalam menngkatkan perlndungan hukum terhadap nasabah perbankan Indonesa. Adapun berbaga regulas kemudan dterbtkan guna menguatkan perlndungan hukum terhadap nasabah dantaranya melput: Penerbtan regulas dalam bdang perbankan mengena perlndungan nasabah bank dantaranya adalah Penerbtan Peraturan Bank Indonesa (PBI) No. 7/6/PBI/2005 tentang Transparans Informas Produk Bank dan Penggunaan Data Prbad Nasabah dan PBI No. 7/7/PBI/2005 tentang Penyelesaan Pengaduan Nasabah dan PBI No.8/5/PBI/2006 tentang Medas Perbankan.

4 Mulaman D. Hadad, Perlindungan

dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia,

tercantum dalam URL : http://www.b.go. ddakses tgl 1 Maret 2016

Selama n praktek perbankan Indonesa belum banyak menggunakan proses non ltgas dalam menyelesakan sengketa. Hal n dapat terlhat dar perjanjan-perjanjan oleh phak bank dan masalah yang tdak mencantumkan klausula sepert arbtrase, medas,

dan sebaganya sepert yang

dkemukakan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbtrase dan Alternatf Penyelesaan Sengketa. Sejatnya ketdakpuasan-ketdakpuasan dalam penyelesaan sengketa d bdang perbankan sesungguhnya sangat terfokus pada kengnan untuk dapat menyelesakan sengketa dengan cepat, tepat dan efektf. Penyelesaan sengketa melalu alternatf penyelesaan sengketa kemudan menjad menark untuk danalss dan dkembangkan lebh lanjut sebaga solus penyelesaan sengketa perbankkan Indonesa.

Bank Indonesa kemudan

mengeluarkan Peraturan Bank

Indonesa Nomor 7/7/PBI/2005

tentang Penyelesaan Pengaduan Nasabah. Oleh karena drasa kurang dapat memuaskan nasabah, Bank Indonesa sebaga pemegang otortas tertngg kemudan mengambl nsatf untuk mengeluarkan Peraturan Bank Indonesa Nomor 8/5/PBI/2006 Jo Peraturan Bank Indonesa Nomor 10/1/ PBI/2008 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesa Nomor 8/5/ PBI/2006 tentang Medas Perbankan (PBI Medas Perbankan) yang mengatur secara lebh dalam dan rnc

(4)

mengena medas perbankan sebaga salah satu bentuk alternatif dispute

resolution dalam menyelesakan

sengketa-sengketa perbankan d Indonesa.

Ketentuan-ketentuan hukum

pada masa kolonal Belanda dan hngga masa-masa awal setelah kemerdekaan secara khusus memang tdak menegaskan secara kongkret medas sebaga salah satu bentuk penyelesaan sengketa, bak dpengadlan maupun dluar pengadlan. Ketentuan mengena medas baru dtemukan dalam UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbtrase dan Alternatf Penyelesaan Sengketa, Peraturan Pemerntah (PP) No.54 Tahun 2000 tentang Lembaga Penyeda Jasa Pelayanan Penyelesaan Sengketa Lngkungan Hdup d Luar Pengadlan dan PERMA No. 2 tahun 2003 tentang prosedur Medas d Pengadlan yang kemudan dgantkan oleh PERMA No. 1 tahun 2008 dan drubah dengan PERMA No.1 Tahun 2016.

Dterbtkannya UU No.30 Tahun 1999 membawa perubahan pentng bag pola penyelesaan sengketa dalam kehdupan masyarakat

Indonesa. Keluarnya peraturan

perundang-undangan n membawa angn baru bag para phak yang ngn menyelesakan sengketa dluar pengadlan. Undang-undang No.30 Tahun 1999 memberkan dorongan kepada para phak bersengketa agar menunjukkan ktkad bak karena tanpa ktkad bak apapun yang dputuskan dluar pengadlan tdak

akan dapat dlaksanakan. Prnsp

win-win solution dan penyelesaan

sengketa secara cepat telah menjad plhan dalam duna bsns akhr-akhr n, sehngga keberadaan UU No.30 Tahun 1999 benar-benar memenuh kebutuhan hukum masyarakat yang semakn berkembang.

Dalam konteks penyelesaan suatu sengketa perbankan, peranan lembaga medas sangatlah pentng dalam upaya mencapa kesetaraan antara para phak yang berada dalam konflik sehingga dapat menyelesaikan secara nternal. Dmana salah satu

upaya melalu mekansme medas.6

Dewasa n hampr semua negara

mengembangkan berbaga jalan

terobosan alternatf, karena kelemahan penyelesaan sengketa melalu ajudkas yang mengakbatkan terkurasnya sumber daya, dana, waktu, pkran dan tenaga, dan mula mengedepankan pola-pola penyelesaan sengketa d

luar pengadlan.7

Terkhusus dalam duna

perbankan Indonesa, proses medas sebaga salah satu bentuk penyelesaan

sengketa alternatf merupakan

kelanjutan dar pengaduan nasabah

5 Syahrzal Abbas, 2011, Mediasi Dalam Hukum Syariah,Hukum Adat dan Hukum Nasional,

Kencana, Jakarta, hlm.139

6 Inosentus Samsul, 2009, Pengembangan

Model Penyelesaan Sengketa Perbankan dalam Perpekstf Perlndungan Konsumen, dkutp dar Artkel dalam Buletn Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Drektur Hukum Bank Indonesa, Jakarta, hlm.27-28.

7 Susant Ad Nugroho, 2008, Proses

Penyelesaan Sengketa Konsumen Dtnjau dar Hukum Acara serta Kendala Implementasnya, Kencana, Jakarta, hlm.13.

(5)

apabla nasabah merasa tdak puas atas penanganan dan penyelesaan yang dberkan bank. Kehadran medas perbankan dnla sangat pentng, dkarenakan selan penyelesaan melalu jalur n drasa lebh efektf dan lebih efisien bagi para pihak yang bersengketa.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang datas penuls kemudan tertark untuk melakukan peneltan hukum dalam lngkup Hukum Perbankan Indonesa untuk berusaha menganalss : Bagamanakah karakterstk medas

perbankan sebaga alternatf

penyelesaan sengketa perbankan ndonesa dtnjau dar ss keadlan, kepastan hukum dan kemanfaatan yang mampu dhaslkan bag para phak yang bersengketa ?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dar penulsan n alah melput :

a. Untuk mengkaj dan mengetahu

karakterstk medas perbankan sebaga alternatf penyelesaan sengketa perbankan ndonesa dtnjau dar ss keadlan,

kepastan hukum dan

kemanfaatan yang mampu dhaslkan bag para phak yang bersengketa

b. Untuk menambah wawasan

dan pengetahuan bag penuls d bdang lmu hukum bak teor maupun praktek dalam

hal n lngkup Hukum Perbankan khususnya dbdang alternatf penyelesaan sengketa perbankan

c. Untuk menerapkan lmu dan

teor-teor hukum yang telah penuls peroleh agar dapat member manfaat bag penuls sendr secara khusus, nsttus dan masyarakat pada umumnya.

II. METODE PENELITIAN

Peneltan hukum merupakan suatu kegatan lmah, yang ddasarkan pada metode, sstematka dan pemkran tertentu yang bertujuan untuk mempelajar satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan

menganalssnya secara lebh dalam.8

Jens Peneltan yang dgunakan dalam tulsan n termasuk ke dalam peneltan hukum normatf yang meletakan hukum sebaga sebuah bangunan sstem norma. Data yang dgunakan dalam peneltan n adalah data sekunder. Seluruh data yang terkumpul danalss dengan menggunakan metode kualtatf. Hasl peneltan n dsajkan dalam suatu laporan yang bersfat dskrptf analss. Bersfat deskrptf karena dar peneltan n dharapkan dapat memberkan gambaran secara menyeluruh dan sstemats mengena asas-asas hukum, kadah-kadah hukum, doktrn dan peraturan perundang-undangan yang berkatan dengan peneltan n.

8 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, hlm.43

(6)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Analisis Aspek Keadilan

Bank merupakan lembaga keuangan yang sangat dbutuhkan oleh masyarakat dalam melakukan transaks keuangan, maupun transaks

lannya.9 Dalam dnamka perjalanan

suatu kegatan perbankan, tdak bsa dpungkr nasabah merupakan konsumen dar pelayanan jasa perbankan. Kedudukan nasabah dalam hubungannya dengan pelayanan jasa perbankan, berada pada dua poss yang bergantan sesua dengan ss mana mereka berada. Pada dasarnya nasabah merupakan konsumen dar pelaku usaha yang menyedakan jasa

d sektor usaha perbankan.10

Secara khusus saat kta berbcara mengena aspek keadlan dar pengaturan medas perbankan. Analss dapat dlakukan dengan

membedah ketentuan-ketentuan

dalam PBI Medas Perbankan dan menganalss pont-pont strategs yang mash lekat dengan aspek ketdakadlan dalam pengaplkasan ketentuan tersebut, tentunya psau analss yang dgunakan tdak lan alah konsep sstem hukum Lawrence M.Fredman yang melput substans, struktur dan budaya hukum. Dmana substans, struktur dan budaya hukum yang menyebabkan aspek keadlan n redup harus segera dformulaskan

9 Adwdjaja dan Rva Wrasasmta, 2000, Analisis Kredit, Bandung, CV Ponr Jaya,

hlm.11.

10 Muhamad Djumhana, 2003. Hukum

Perbankan di Indonesia, PT Ctra, Bandung,

hlm.282

ulang untuk meningkatkan efektifitas dan memperkuat nla keadlan bag phak-phak yang memlh menyelesakan sengketanya melalu jalan medas perbankan.

Substansi

Ketentuan Pasal 3 ayat 4 PBI Medas Perbankan mengatur bahwa : sepanjang lembaga medas ndependen sebagamana dmaksud pada ayat (1) belum dbentuk, fungs medas perbankan dlaksanakan oleh Bank Indonesa, perlu mendapat perhatan karena dkhawatrkan BI tdak mampu berskap obyektf yang akhrnya akan merugkan nasabah. Hal n menjad ttk tolak lemahnya poss nasabah dalam pelaksanaan suatu penyelesaan sengketa melalu medas perbankan. Selan tu dtegaskan pula oleh Mantan Drektur Investgas dan Medas Perbankan Bank Indonesa Ahmad Fuad mengatakan bahwa, hal yang palng mendasar yang menjad alasan segera dbentuknya medas oleh asosas perbankan adalah karena medas bukanlah tugas dar Bank Indonesa. Tugas Bank Indonesa yang sesungguhnya adalah untuk menjaga stabltas moneter.11

Struktur

Secara struktur penyelenggaraan medas perbankan sendr, dealnya

11 Bank Indonesa, 2009, Bank Indonesia

Desak Lembaga Perbankan Segera Bentuk Mediasi, dkutp dar: http://www.

hukumonlne.com dakses pada 8 Maret 2016

(7)

dlaksanakan oleh lembaga ndependen. Dengan dlaksankannya fungs medas perbankan oleh lembaga ndependen maka proses medas akan lebh obyektf karena medator tdak mempunya kepentngan dalam sengketa yang tengah terjad. Bank Indonesa sesungguhnya bukanlah lembaga resolusi konflik tetapi melaksanakan fungs tu. Sesua dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) PBI No.8/5/PBI/2006, medas d bdang perbankan dmaksud dlakukan oleh suatu lembaga medas perbankan ndependen yang dbentuk asosas perbankan. Pembentukan lembaga

medas perbankan ndependen

tersebut dalam PBI tersebut dber tenggat waktu pelaksanaan palng lambat pada tanggal 31 Desember 2007 dan dtentukan pula dalam

pelaksanaan medas perbankan

ndependen tersebut harus senantasa

dkoordnaskan dengan Bank

Indonesa. Adapun asosas perbankan yang membentuk lembaga medas perbankan ndependen dapat terdr dar gabungan asosas perbankan

untuk menjaga ndependensnya.12

Berdasar pada ketentuan dalam Pasal 3 ayat (4) PBI No.8/5/PBI/2006, mengngat akan pembentukan lembaga medas perbankan ndependen tersebut

12 Erna Prlasar, 2008, Mediasi Perbankan Sebagai Wujud Perlindungan Terhadap Nasabah Bank, Artkel dalam Jurnal Legslas

Indonesa Volume 5 Nomor 2, Drektorat

Jendral Peraturan Perundang-undangan

Departemen Hukum dan Hak Asas Manusa, Jakarta, hlm.43

tdak dapat dlaksanakan dalam waktu sngkat, sementara kebutuhan medas perbankan sudah mendesak, maka pada tahap n fungs medas perbankan yang seharusnya dlaksanakan Bank Indonesa sampa pada akhr tahun 2007, maka berdasarkan Peraturan Bank Indonesa Nomor 10/1/PBI/2008 yang merupakan peraturan perubahan terhadap peraturan Bank Indonesa sebelumnya, karena hngga akhr tahun 2007 lembaga medas perbankan ndependen belum dapat dbentuk, sehngga untuk sementara waktu Bank Indonesa tetap melaksanakan fungs medas sampa dengan terbentuknya

lembaga medas perbankan

ndependen oleh asosas perbankan n merupakan salah satu faktor mengapa dar sekan banyak sengketa yang masuk untuk dselesakan melalu medas perbankan, mash sangat sedkt yang dapat dselesakan dengan tuntas.

Budaya Hukum

Terkat dengan aspek budaya hukum, hambatan juga datang dar dalam operasonal medas perbankan sendr. Dengan nsttus lembaga penyelesaan sengketa perbankan yang dlaksanakan oleh Bank Indonesa tersebut bsa mempengaruh skap dan perlaku Bank Indonesa lebh merasa sebaga hakm dalam penyelesaan sengketa nasabah dar pada sebaga medator. Apabla medator Bank Indonesa menggunakan pendekatan

(8)

dmana pendekatan legal-postvstk

seharusnya dhndarkan karena

karakterstk sengketa nasabah

bank serngkal bersfat khas dan komplek sehngga memerlukan cara penyelesaan yang komperhensf. Selan tu juga karena sengketa nasabah dengan bank mempunya tngkat ketmbangan poss tawar yang besar, dmana bank berada dalam poss yang jauh lebh kuat dar nasabah.

Kekhawatran medas akan

menyelesakan sengketa yang

berpangkal pada pemahaman normatf sempt merupakan salah satu hal yang juga menjad penyebab terhambatnya pelaksanaan penyelesaan sengketa melalu medas perbankan. Serngkal proses medas berujung pada hasl sepakat atau tdak sepakat” hanya karena terlalu kaku terhadap aturan batas waktu penyelesaan sengketa. Contoh kegagalan lannya msalnya pengaduan nasabah dtolak hanya karena terlalu sempt dalam menafsrkan pengertan-pengertan tertentu sehngga akan

sangat merugkan nasabah.13

Selan pandangan-pandangan datas menurut data Bank Indonesa bahwa medas perbankan sendr sebenarnya belum dkenal luas oleh nasabah. Mash banyak nasabah yang tdak mengetahu keberadaannya meskpun Bank Indonesa mewajbkan tap bank memberkan nformas tentang hak-hak nasabah termasuk

13 Herlana, 2011, Peran Bank Indonesia dalam Mediasi Perbankan, tercantum dalam URL

: http://www.hukumonlne.com dakses tanggal 8 Maret 2016, hlm.153

medas. Mnmnya nformas dar bank n menyebabkan sebagan nasabah berhent pada tahap pengaduan nasabah saja, tanpa melanjutkan proses ke medas meskpun mereka tdak puas dengan penyelesaan sengketa yang dmlknya. Hal n membuktkan bahwasanya apa yang damanatkan dalam ketentuan Pasal 14 PBI Medas Perbankan dan Surat Edaran Bank Indonesa Nomor 8/14/DPNP yang menentukan kewajban publkas oleh bank terkat adanya sarana medas perbankan dan kewajban publkas

melalu meda-meda publkas

sebagamana dtentukan surat edaran tersebut belum dlaksanakan secara maksmal.

3.2 Analisis Aspek Kepastian Hukum

Dengan semakn berkembangnya duna perbankan Indonesa yang kemudan dwarna oleh berbaga sengketa-sengketa yang terjad antara bank dan nasabah. Dalam konteks

perlndungan terhadap nasabah

n, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesa (YLKI) juga melhat bahwa nasabah serngkal mengalam kesultan dalam mencar penyelesaan sengketa dengan bank. YLKI telah

berperan dalam menyelesakan

sengketa perbankan antara nasabah dengan bank sebelum terbentuknya

lembaga medas perbankan.

Namun demkan, terdapat beberapa kelemahan yang membuat poss YLKI cenderung tdak kuat, dmana

(9)

serngkal beberapa dar bank yang terlbat tdak mengndahkan surat pangglan dar YLKI meskpun YLKI telah mendapat kepercayaan dar nasabah yang menderta kerugan. Bank menyampakan argumentasnya bahwa YLKI tdak memlk kewenangan untuk memaksa bank untuk menanggap atau datang memenuh pangglan. Akbatnya, sengketa nasabah tdak dapat memperoleh penyelesaan secara

tuntas dan berkeadlan.14

Padahal jka danalss lebh dalam, sesungguhnya YLKI memlk mekansme yang efektf untuk memaksa bank mengndahkan pangglan YLKI untuk menyelesakan sengketa dengan nasabah yatu melalu meda massa. Kredbltas YLKI yang terpercaya d masyarakat dapat djadkan senjata dengan membertakan bank mana

yang mempunya track record bagus

sehubungan dengan pelayanan

konsumen dan mana yang tdak. Namun, hal n tdak dlaksanakan karena akbatnya akan membahayakan kepercayaan masyarakat terhadap bank tertentu.

Konds sebagamana dpaparkan datas kemudan kembal terulang dan mash serng terjad ketka Lembaga Medas Perbankan n muncul dan dampu oleh Bank Indonesa

sebelum terbentuknya asosas

perbankan ndependen. Hal n tak lan dsebabkan oleh mash belum kuatnya ketentuan-ketentuan dalam PBI Medas perbankan mengatur

14 Herlana, op.cit, hlm.147

secara tegas atau member kepastan hukum terhadap phak-phak yang bersengketa terutama bag phak perbankan yang ada dposs domnan, sehngga ketdakpastan hukum n kemudan serngkal merugkan phak-phak yang bersengketa.

Substansi

Dar ss substans ketentuan-ketentuan sepert: pada pengaturan pelaksanaan dan penuangan hasl kesepakatan perdamaan (katannya dengan Pasal 13 PBI Medas Perbankan tentang kewajban Bank dalam pelaksanaan hasl kesepakatan dan penuangan dalam akta kesepakatan). Efektifitasnya sangat tergantung dari tkad bak para phak menaat hasl kesepakatan tersebut. Apabla salah satu phak tdak mau melaksanakan kesepakatan yang telah dcapa, tdak ada upaya hukum yang dapat dlakukan untuk memaksakannya dan tdak datur pula tentang pendaftaran kesepakatan. Kelemahan n telah dusahakan untuk datas oleh Peraturan Bank Indonesa tentang Medas Perbankan. Dmana, dalam hal n Bank Indonesa

dberkan pengaturan mengena

kewenangan untuk menjatuhkan sanks admnstratf (Pasal 16 angka 1 PBI Medas Perbankan) kepada bank yang tdak mematuh s kesepakatan medas. Bentuk sanks tersebut berupa teguran tertuls serta dperhtungkannya ketdakpatuhan tu dalam komponen penlaan tngkat kesehatan bank (Pasal 16 angka 2

(10)

PBI tentang Medas Perbankan). Pemberan sanks oleh Bank Indonesa

sebaga lembaga ekternal (ekternal

authority) dapat dbenarkan dem

efektifitasnya mediasi. Namun

demkan, sanks dar Bank Indonesa tersebut belum cukup maksmal untuk member perlndungan kepada nasabah. Sanks dar Bank Indonesa tdak bersfat tegas dan memaksa agar bank melaksanakan kewajbannya, tetap lebh kepada sanks admnstratf dan sanks sosal saja. Nasabah yang drugkan tdak dapat menggunakan upaya hukum untuk mendapatkan gant kerugan yang menjad haknya.

Dsampng tu PBI tentang Medas Perbankan tdak mengatur mengena sanks apabla nasabah tdak mau melaksanakan kesepakatan. Penentuan bahwa yurdks medas adalah sengketa antara nasabah dan bank yang dsebabkan tdak dpenuhnya tuntutan finansial nasabah oleh bank, tdak menghlangkan kemungknan bahwa dalam hasl kesepakatan medas juga terdapat kewajban atau prestas yang dbebankan kepada nasabah.

Struktur

Dar ss struktur dapat danalss

bahwa lembaga pelaksana medas perbankan yatu Bank Indonesa sendr mengalam kesultan untuk menghubung pejabat d bank yang berkompeten untuk dpanggl dan menjalan proses medas. Serngkal, utusan yang dkrm oleh bank tdak memlk kewenangan memutus. Hal

n dsebabkan belum terdapat suatu pengaturan khusus yang mampu mengkat dan member kepastan hukum terkat kewajban bank secara mendetal terkat pelaksanaan medas perbankan beserta sanks-sanks yang tegas bag phak-phak yang tdak patuh kepadanya. Hal n berakbat proses medas tdak dapat berjalan sebagamana mestnya sebab staff tdak dapat menawarkan ops-ops atau memberkan alternatf penyelesaan masalah. Sehngga proses medas tdak berjalan efektf dan membutuhkan waktu lama.

Budaya Hukum

Kemudan dar ss budaya hukum katannya dengan Kepastan Hukum dapat dlhat dar Fakta dlapangan yang menunjukkan bahwa mash banyak pejabat bank yang belum mengetahu ketentuan medas perbankan. Salah seorang narasumber yang merupakan staff salah satu Bank yang memlk kantor cabang dberbaga daerah pun mengatakan bahwa a dan beberapa rekannya tdak memaham medas perbankan. Menurutnya, apabila terjadi konflik dengan nasabah dengan salah satu kantor cabang, maka akan dselesakan d kantor cabang tersebut oleh staf bank yang bersangkutan. Apabla nasabah tdak puas maka sengketa dteruskan kepada kantor wlayah yang membawah cabang tersebut. Apabla mash terdapat ketdakpuasan maka akan dteruskan dkantor pusat

(11)

d Jakarta.

Narasumber tersebut menya-takan belum pernah mendapat sengketa melbatkan bank tersebut dengan nasabahnya dselesakan dengan medas perbankan d Bank Indonesa. Lebh lanjut a menyatakan bahwa beresko bag bank yang menjad tempatnya bekerja untuk menyelesakan sengketa ke Bank Indonesa karena akan berpengaruh terhadap reputas bank sendr. Dengan alasan tersebut, maka kantor pusat kemudan akan berusaha semaksmal mungkn menyelesakan sengketa dengan nasabahnya. Jad dalam hukum terdapat bentrokan yang tak dapat dhndarkan, pertkaan yang selalu berulang antara tuntutan-tuntutan

keadlan dan tuntutan-tuntutan

kepastan hukum. Makn banyak hukum memenuh syarat, peraturan tetap, yang sebanyak mungkn menadakan ketdakpastan, jad makn tepat dan tajam peraturan hukum tu, makn terdesaklah keadlan.

3.3 Analisis Aspek Kemanfaatan

Sesua dengan data statstk Bank Indonesa terkat sengketa-sengketa

yang dajukan penyelesaannya

melalu medas perbankan, ddapat bahwasanya sejak dbuka pada Januar 2006 medas perbankan dsambut dengan postf oleh nasabah perbankan Indonesa. Hal n terbukt dar antusasme nasabah dalam mengadukan sengketa mereka ke medas perbankan. Data statstk

tentang jumlah sengketa menunjukkan pada sejak bulan Januar 2006 hngga Desember 2006 jumlah pengaduan dan permohonan penyelesaan sengketa melalu medas Bank Indonesa

tercatat sebanyak 151 sengketa.15

Kemudan pada tahun 2007 berdasarkan data Bank Indonesa, sepanjang 2007 Bank Indonesa telah menerma sebanyak 64.288 pengaduan. Dar jumlah tu, 97,8 persen pengaduan adalah pengaduan nasabah d bdang sstem pembayaran. Ssanya, pengaduan d bdang penghmpunan dana, penyaluran dana, produk kerja sama dan produk lannya. Dar seluruh pengaduan tu, permntaan penyelesaan dengan cara medas sebanyak 200 sengketa. Sampa akhr 2007, Bank Indonesa telah menyelesakan 90 persen sengketa dan ssanya sedang dalam

proses penyelesaan.16

Dalam perkembangan kemudan, penyelesaan sengketa melalu medas perbankan pada tahun 2008 hngga 2012 dar seg kuanttas pengajuan sengketa nasabah dengan bank telah mengalam penngkatan pesat. Data statstk Bank Indonesa menyebutkan,

penanganan sengketa medas

perbankan sejak Januar hngga Jun 2008 adalah 158 kasus. Dar jumlah tersebut sebanyak 89 kasus selesa tanpa medas, 60 kasus sedang

15 Bank Indonesa, 2012, hal.155, dkutp dar

http://www.b.go.d/web/d, dakses pada 13 Maret 2016.

(12)

dproses, 6 kasus dselesakan oleh bank dan 3 kasus dselesakan dengan medas perbankan. Dan hngga untuk trwulan tahun 2012 n sudah terdapat 148 kasus perbankan, dan yang bsa dmedas hanya 25 kasus, dan jka dhtung hngga Desember 2011 lalu terdapat 510 kasus perbankan yang terjad d duna perbankan Indonesa. Konds demkan kemudan terus terjad hngga tahun 2015 dmana sangat sedkt sengketa yang dapat

dselesakan melalu medas

perbankan. Hal n menunjukkan mash lemahnya tngkat penyelesaan kasus atau sengketa perbankan melalu Alternatf Penyelesaan Sengketa d Indonesa d tengah maraknya kasus atau sengketa yang terjad d duna

perbankan Indonesa.17

Berdasarkan uraan data

statstk datas, dapat danalss bahwa terdapat beberapa faktor yang menjad penyebab dan mempengaruh mash lemahnya tngkat penyelesaan sengketa melalu medas perbankan d Indonesa yang antara lan melput beberapa hal utama sepert adanya beberapa ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesa mengena Medas Perbankan yang memlk beberapa kelemahan.

Substansi

Analss dar ss Substans yang kemudan sangat berkorelas dengan aspek kemanfaatan dar berlakunya PBI Medas Perbankan n dapat

17 Ibid

dcermat dalam beberapa ketentuan pasal-pasal dalam PBI n yang mereduks aspek kemanfaatan tu sendr dengan ketentuan-ketentuan

yang menyultkan phak-phak

yang bersengketa, yang dantaranya melput : ketentuan yang menyatakan bahwa semua permohonan medas harus dtujukan kepada Drektorat Investgas dan Medas Perbankan d Kantor Pusat Bank Indonesa d Jakarta (Pasal 15 PBI Medas Perbankan), dpercaya sebaga faktor penghambat penyelesaan sengketa yang efektf.

Dsampng alasan kepraktsan,

terutama bag nasabah yang

berdomsl d luar Jawa, juga masalah efisiensi waktu. Akan dibutuhkan waktu yang relatf lama untuk Drektorat Investgas dan Medas dapat menangan semua kasus yang terjad d seluruh Indonesa. Dar seg kepraktsan dan baya pelaksanan medas perbankan. Meskpun proses medas dapat dlakukan d kantor Bank Indonesa yang palng dekat dengan domsl nasabah atau bank, medator tetaplah dar kantor Bank Indonesa Jakarta. Hal n bermbas pada besarnya baya yang harus dkeluarkan Bank Indonesa dalam menjalankan fungs mediasi. Akan lebih efisien bila Bank Indonesa ddaerah dber kewenangan untuk melaksanakan fungs medas perbankan n.

Selan tu secara substans menurut data Bank Indonesa bahwa medas perbankan sendr sebenarnya belum dkenal luas oleh nasabah.

(13)

Mash banyak nasabah yang tdak mengetahu keberadaannya meskpun Bank Indonesa mewajbkan tap bank memberkan nformas tentang hak-hak nasabah termasuk medas. Mnmnya nformas dar bank n menyebabkan sebagan nasabah berhent pada tahap pengaduan nasabah saja, tanpa melanjutkan proses ke medas meskpun mereka tdak puas dengan penyelesaan sengketa yang dmlknya. Hal n membuktkan bahwasanya apa yang damanatkan dalam ketentuan Pasal 14 PBI Medas Perbankan dan Surat Edaran Bank Indonesa Nomor 8/14/DPNP yang menentukan kewajban publkas oleh bank terkat adanya sarana medas perbankan dan kewajban publkas

melalu meda-meda publkas

sebagamana dtentukan surat edaran tersebut belum dlaksanakan secara maksmal.

Struktur

Terkat dengan struktur dalam

pelaksanaan medas perbankan

yang sangat berkorelas dengan aspek kemanfaatan alah medator. Hal n dapat kta temukan sepert pada ketentuan Pasal 5 ayat (1) PBI Nomor 8/5/PBI/2006 dan PBI No.10/1/PBI/2008 tentang Medas Perbankan yang menyatakan bahwa : Bank Indonesa menunjuk medator, namun tdak menjelaskan (selama belum dbentuk Lembaga Medas Independen) apakah medator berasal dar ntern Bank Indonesa atau

staff dar Bank Indonesa ataupun medator professonal. Ayat (2) menyebutkan tentang syarat medator

yatu mempunya pengetahuan

perbankan, keuangan atau hukum, tdak mempunya kepentngan dengan para phak dan tdak mempunya kepentngan dengan para phak dan tdak mempunya hubungan darah maupun semenda dengan para phak.

Dar syarat-syarat tersebut, dapat dasumskan bahwa medator yang dtunjuk Bank Indonesa bsa berasal dar dalam Bank Indonesa atau nternal Bank Indonesa ataupun dar luar Bank Indonesa, asalkan memenuh syarat-syarat yang telah dtetapkan. Analss terhadap ketentuan menurut pandangan penuls, selayaknya selan syarat yang telah dcantumkan tersebut

hendaknya dtambahkan bahwa

seorang medator harus mempunya sertifikat mediator.

Dalam praktek-praktek medas d pengadlan, ketdakberhaslan hakm berperan sebaga medator banyak dsebabkan oleh karena mereka tdak mendapatkan pelathan medator sehngga tdak menerapkan teknk dan strateg medas yang benar. Apabla Bank Indonesa tdak mensyaratkan adanya sertifikat mediator bagi para medatornya, dar Aspek Kemanfaatan bukan tdak mungkn bahwa medas perbankan akan banyak mengalam kebuntuan, walaupun yang berperan sebaga medator adalah ahl dalam bdang perbankan, hukum ataupun ekonom. Pengetahuan substans

(14)

permasalahan yang dsengketakan walaupun perlu untuk dmlk oleh seorang medator, namun tdak mutlak dbutuhkan. Hal n dsebabkan menurut praktek medas, medator maupun para phak dperkenankan untuk memnta bantuan ahl untuk dmnta pendapat atas sengketa yang sedang berlangsung. Adapun nla terpentng yang harus dmlk oleh seorang medator adalah kemampuan menganalss dan keahlan mencptakan

pendekatan prbad.18

Budaya Hukum

Dar aspek budaya hukum

penyelesaan sengketa dengan

cara medas belum membudaya d kalangan masyarakat. Sehngga untuk konds demkan sangat dperlukan sosalsas dan pubkas maksmal terkat keberadaan lembaga medas perbankan dan keunggulan-keunggulan penyelesaan sengketa melalu medas perbankan.

Permasalahan lan yang juga serngkal dtemukan alah nasabah yang kurang memaham kasus poss yang sebenarnya, nasabah juga tdak memberkan dokumen yang lengkap, serta tdak mencantumkan telepon yang bisa dihubungi untuk proses klarifikasi oleh Drektorat Investgas dan Medas Perbankan Bank Indonesa. Hal-hal yang sfatnya tekns serngkal menjad penghambat pelaksanaan medas perbankan dapat berlangsung secara lebih praktis dan efisien.

18 Suyud Margono, 2000, ADR dan Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum,

Ghala Indonesa, Jakarta, hlm,47.

Kelemahan dan beberapa

faktor penghambat nlah yang kemudan membuat pengaplkasan medas perbankan sebaga alternatf penyelesaan sengketa mash kurang maksmal. Dperlukan suatu metode-metode pendukung untuk memperkuat pelaksanaan medas sebaga plhan yang tepat, yang apabla dbandngkan dengan bentuk penyelesaan lannya, medas perbankan memlk begtu banyak keunggulan karakterstk yang akan memberkan banyak keuntungan bag nasabah dan bank.

IV. PENUTUP 4.1 Simpulan

Berdasarkan uraan

permasalahan yang telah dbahas, maka dapat dtark smpulan yakn sebaga berkut :

- Analisis Aspek Keadilan :

Medas Perbankan yang dlaksanakan Bank Indonesa sepanjang lembaga medas ndependen belum terbentuk perlu mendapat perhatan serus karena dkhawatrkan tdak mampu berskap obyektf yang akhrnya akan merugkan nasabah. Idealnya medas perbankan dlaksanakan oleh lembaga ndependen. Selan tu Pendekatan legal-postvstk yang dlakukan oleh Bank Indonesa dalam proses medas perbankan seharusnya dhndarkan karena karakterstk sengketa nasabah bank serngkal bersfat khas dan kompleks sehngga memerlukan cafra penyelesaan yang kompregensf.

(15)

- Analisis Aspek Kepastian

Hukum : pengaturan pelaksanaan

dan penuangan hasl kesepakatan perdamaian efektifitasnya sangat tergantung dar tkad bak para phak menaat hasl kesepakatan tersebut dan pengaturan mengena kewenangan untuk menjatuhkan sanks admnstratf kepada bank yang tdak mematuh s kesepakatan medas belum cukup maksmal untuk member perlndungan kepada nasabah. Sanks dar Bank Indonesa tdak bersfat tegas dan memaksa agar bank melaksanakan kewajbannya.

- Analisis Aspek Kemanfaatan: ketentuan bahwa semua

permohonan medas harus dtujukan kepada Drektorat Investgas Medas Perbankan d Kantor Pusat Bank Indonesa d Jakarta dan penyelesaan sengketa melalu medas yang belum membudaya dkalangan masyarakat

merupakan salah satu faktor

penghambat penyelesaan sengketa secara efektf

4.2 Saran

Berdasarkan data dan smpulan yang dperoleh, maka adapun saran yang dapat dberkan antara lan :

- Lembaga medas perbankan

ndependen perlu segera dbentuk

oleh asossas perbankan

sebaga bentuk tanggung jawab dalam member perlndungan kepada nasabah bank secara maksmal

dan mengembalkan fungs

Bank Indonesa untuk menjaga

stabltas moneter.

- Dperlukan suatu pengaturan

sanks yang tegas dan memaksa dar Bank Indonesa agar bank

melaksanakan kewajbannya

untuk bertanggung jawab

dan memenuh segala bentuk

mekansme penyelesaan

sengketa melalu medas

sehngga dapat menngkatkan efektifitas mediasi perbankan sebaga alternatf penyelesaan sengketa antara bank dan nasabah yang memlk begtu banyak keunggulan karaktertk.

- Bank Indonesa perlu

mensosalsakan kembal

keberadaan lembaga medas perbankan kepada masyarakat

dengan menegaskan

kewajban setap bank

untuk mengnformaskan

pada nasabahnya akan

ketersedaan medas perbankan

dan beran memberkan

sanks yang tegas bag bank-bank yang berman dan tdak melaksanakan kewajbannya secara maksmal.

DAFTAR BACAAN 1. Buku

Adwdjaja dan Rva Wrasasmta, 2000,Analss Kredt, CV Ponr Jaya, Bandung.

Burhanuddn Abdullah, 2006. Jalan Menuju Stabltas Mencapa

Pembangunan Ekonom

Berkelanjutan, Pustaka LP3ES Indonesa, Jakarta.

(16)

Erna Prlasar, 2008. Medas Perbankan Sebaga Wujud Perlndungan Terhadap Nasabah

Bank, Drektorat Jendral

Peraturan Perundang-undangan Departemen Hukum dan Hak Asas Manusa, Jakarta.

Inosentus Samsul, 2009.

Pengembangan Model

Penyelesaan Sengketa

Perbankan dalam Perpekstf

Perlndungan Konsumen,

Drektur Hukum Bank Indonesa, Jakarta.

Muhamad Djumhana, 2003. Hukum Perbankan d Indonesa, PT Ctra, Bandung.

Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Peneltan Hukum, UI Press, Jakarta

Susant Ad Nugroho, 2008. Proses

Penyelesaan Sengketa

Konsumen Dtnjau dar

Hukum Acara serta Kendala

Implementasnya, Kencana,

Jakarta.

Suyud Margono, 2000. ADR dan Arbtrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghala Indonesa, Jakarta.

Syahrzal Abbas, 2011. Medas Dalam Hukum Syarah,Hukum Adat dan Hukum Nasonal, Kencana, Jakarta.

2. Artikel

Mulaman D. Hadad, Perlndungan dan Pemberdayaan Nasabah Bank Dalam Arstektur Perbankan

Indonesa, tercantum dalam

URL: http://www.b.go.d,

dakses pada tanggal 1 Maret 2016.

Bank Indonesa, 2009, Bank Indonesa Desak Lembaga Perbankan Segera Bentuk Medas, dkutp dar http://www.hukumonlne. com /dakses pada 8 Maret 2016.

Herlana, 2011, Peran Bank Indonesa dalam Medas Perbankan, tercantum dalam URL :

http://www.hukumonlne.com/, dakses tanggal 8 Maret 2016. Bank Indonesa, Data Bank Indonesa

terhadap Kasus-Kasus Perbankan melalu Medas, tercantum dalam URL : http://www.b.go. d/web/d/, dakses tanggal 13 Maret 2016.

3. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 30 Tahun

1999 Tentang Arbtrase

dan Alternatf Penyelesaan Sengketa, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 1999 Nomor 138.

Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 7

Tahun 1992 Tentang Perbankan, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 1998 Nomor 182

Peraturan Bank Indonesa Nomor 7/7/ PBI/2005 Tentang Penyelesaan

(17)

Pengaduan Nasabah, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 2005 Nomor 17 DPNP/ DPbs/DPBPR

Peraturan Bank Indonesa Nomor

10/10/PBI/2008 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesa Nomor 7/7/PBI/2005 Tentang Penyelesaan Pengaduan Nasabah, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 2008 Nomor 38 DPNP/UKMI/DPbs/ DKBU

Peraturan Bank Indonesa Nomor 8/5/PBI/2006 Tentang Medas Perbankan, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 2006 Nomor DPNP/DPbS/DPBPR Peraturan Bank Indonesa Nomor

10/1/PBI/2008 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesa Nomor 8/5/PBI/2006 Tentang Medas Perbankan, Lembaran Negara Republk Indonesa Tahun 2008 Nomor 10 DPN/DPbs/DPBR

Surat Edaran Mahkamah Agung No.8/14/DPNP Perhal Medas Perbankan.

Referensi

Dokumen terkait

Dua pertiga dari wilayah Indonesia merupakan Laut dan merupakan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di samping itu, secara geografis Indonesia terletak

Dari koefisien variasi, terlihat tingkat fluktuasi konsentrasi Nitrit effluent IPAL Banyumanik 2013 tipe Shallow sewer merupakan yang paling tidak stabil/heterogen,

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh semakin kecil konsentrasi kitosan akan memberikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus yang semakin

Perlindungan terhadap konsumen pengguna tenaga listrik menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 bahwa pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan dan pemegang izin usaha

Kemampuan bertanggungjawab dapat diartikan sebagai suatu keadaan psikis sedemikian, yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan, baik dilihat dari

Untuk mengetahui pengaruh penambahan debit 248 l/s dari mata air jalur Bregas II terhadap kondisi hidrolik, dilakukan pemodelan dengan software Watercad V8i.

Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di kawasan perbatasan memerlukan penindakan melalui prosedur hukum yang berlaku, karena dapat menyebabkan kerugian yang besar

Maharupa Gatra Banjarmasin menunjukkan bahwa variabel disiplin kerja dan variabel kemampuan kerja secara positif dan signifikan mempengaruhi kinerja karyawan.. DAFTAR PUSTAKA Anwar