KINETIKA
KRISTALISASI
LARUTAN
GULA
(SUKROSA)
PADA
PEMBUATAN
GULA
TEBU
Arif Jumari , Dewi
Rachmawati,
Risqi
KumiawanJurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNS
Abstract: One of the
steps
of sugarmanufacturing
process iscrystallization
sugardissolved in sugar cane
juice.
To able todesign
thecrystallization
processproperly,
crystallization
kinetics must be well known. Theobjectives
of this research was todetermine the
parameters
ofcrystallization
kinetic of sugar from sugar solution. Theseparameters
werefrequency
factor(Kg,o),
activation energy(EG)
andcrystallization
orde(g).
Theexperiments
were carried out batchwise withtemperature
range of30°G
and50°C , and
agitation
of 200 rpm and 400 rpm.Sugar
remainedin the solution wass
measured
using
refractometer. The results obtained ofKg.o
were0,0093
memt'
foragitation
of 200 rpm and0,0109
menif1
foragitation
of 400 rpm,EG
was1,9253
KJ!moland g was
0,5837
Keyword
:crystallization
kinetic,
frequency
factor,
activation energy andcrystallization
orde
PENDAHULUAN
Gula
merupakan
salah satukebutuhan
pokok
manusia,
sehingga
masalah
penyediaan
gula
di pasaranmenjadi
sangat
penting.
Penyediaan
gula
di Indonesia saat inidiperoleh
dariproduksi
dalamnegeri
dansebagian
dari
impor.
Untukmenjamin
keuntungan
semua
pihak
baik sisiprodusen
(petani
dan
pabrik gula)
maupun sisi konsumenyaitu harga
yang lebihterjangkau,
maka prosesproduksi
yang salahsatunya
adalah proses
pembuatan
gula
harus etlsien.Secara umum proses
pembuatan
gula
di industrimeliputi
beberapa
tahap.
Yaitutahap
persiapan,
tahap
penggilingan
danekstraksi,
tahap
pemumian
nira,
tahap
pemekatan
nira,
tahap
kristalisasi dansentrifugasi
sertatahap
penyelesaian
akhir. Kristalisasibertujuan
mengubah
gula
yang ada dalam niramenjadi
kristaldengan
keseragaman
ukuran dan kemumian tertentu. Setelahgula
dalam nira berbentukkristal,
kristalgula dipisahkan
daricairannya
dengan
prosessentrifugasi.
Di dalam proses
kristalisasi,
data-data kinetik kristalisasi
merupakan
hal yangpenting
untuk mendesain atatpengkristal
(
crystallizer)
yangoptimal
atau
mengevaluasi
unjuk
kerja
(performance)
daricrystallizer
yang ada.Data-data kinetika kristalisasi tersebut
hanya
dapat
diperoleh
melaluipenelitian.
Selanjutnya
data-data kinetik kristalisasi inidapat
dipergunakan
untuk menentukanlaju
pembentukan
danperbesaran
kristal yangpada
gilirannya
dapat
menentukan desain dan kondisioperasi
crystallizer.
Kinetika kristalisasi nu
dipengaruhi
konsentrasikesetimbangan
dari larutan
(solubility)
yangdipengaruhi
olehtemperatur
dan konsentrasi larutan. Dalampenelitian
ini kedua variabeltersebut akan dievaluasi untuk
mendapatkan
data-data kinetika kristalisasi larutangula
pada
berbagai
temperatur.
DASARTEORI
Kristalisasi adalah suatu proses
dimana butir-butir
padat
terbentuk darisuatu fase
homogen.
Di dalamkristalisasi,
larutandipekatkan
danbiasanya
didinginkan
sampai
konsentrasi larutan
menjadi
lebih besardari
kelarutannya
pada
suhu itu.Akhimya
terbentuk kristaldengan
kemumian yang
cukup tinggi.
Seperti
pada
sistem dua faselainnya
dimanaterjadi
transfer,
suatu kondisisetimbang
diperlukan
dalamrangka
menentukan batasdriving
forcebagi
proses transfer.Pengendapan
suatu kristalpadat
hanya
dapat
te?adi
karena gayabatas muka
permukaan
padatan.
Konsentrasi
pada
batas mukapadatan
merupakan
larutanjenuh
dan berada dalam keadaansetimbang
dengan
konsentrasi badan cairan
sehingga
konsentrasi badan cairan harus lebih
besar dari konsentrasi
jenuhnya.
The
Boundary
Layer Theory
Pertumbuhan kristal dari larutan lewat
jenuh,
zat terlarutmeninggalkan
larutan
pada
lapisan
antara cairan-kristal danbergabung
ke kristal.Lapisan
antara ini
berkeseimbangan
dinamikdengan
permukaan
kristal dan larutan.Secara umum, ketebalan
lapisan
antaraini
tergantung
pada
temperatur
dankondisi hidrodinamik larutan.
Dengan
demikian proses kristalisasidapat
dibagi
menjadi
tahap-tahap
dasarsebagai
berikut:
•
perpindahan
zat dari larutan kelapisan
difusi.• difusi zat melewati
lapisan
difusi.•
penggabungan
partikel
zat kekristal.
•
pembuangan
panas yangterjadi
selama
pertumbuhan
kristal dari kristal ke induk larutan.Kecepatan
pertumbuhan
krtstal total ditentukan olehkecepatan
terendah dari
masing-masing
proses di atas.Yang
sering
terjadi
kecepatan
pertumbuhan
kristal total ditentukan olehkecepatan
difusi zat melaluilapisan
difusi atau
kecepatan
penggabungan
partikel
zat ke kristal.Untuk kasus satu
dimensi,
ketergantungan
konsentrasiterhadap
jarak
daripermukaan
kristal secaraskematik
dapat
dilihatpada
Gambar1,
sebagai
berikut :Gambar 1. llustrasi hubungan konsentrasi
larutan dengan jarak dari permukaan kristal
Kinetika Kristalisasi Larutan Gula
(Sukrosa)
pada
Pembuatan Gula Tebu(Arif
Jumari,
dkk)
Kecepatan
pertambahan
massakristal
dapat
disamakandengan
kecepatan
difusi melaluilapisan
difusidengan
persamaan :dm
dC
--=D.A.-
(1)
dt dx
Hubungan
konsentrasi dan posrst di dalamlapisan
difusidapat
dituliskansebagai
berikut :dC
C-C;
-=--(2)
dx
8
substitusi persamaan(2)
ke persamaan(1) diperoleh
:dm,
-- =kdA(C-C.)
(3)
dt
IKecepatan
penggabungan
partikel
zat kepermukaan
kristaldapat
didekati oleh persamaan :
dm,
-k
,j ---dA(C-C;)
(4)
dt
Untuk = 1 kombinasipersamaan
(3)
dan(4) menghasilkan
-dmc
=KaAb..C
(5)
dt
1 1 1dengan
-=-+-Ka
kd
kin
Bila
kd
lebih besar darik;n
kecepatan
pertumbuhan
kristal ditentukan olehkecepatan
difusi,
sebaliknya
bitak.J
lebih kecil darik;n
kecepatan
pertumbuhan
kristalditentukan oleh
kecepatan
penggabungan
partikel
zat kepermukaan
kristal.Untuk i =
2,
kombinasipersamaan
(4)
dan(5) menghasilkan:
_
dnt
=A-I-(I+
'2k;.
tC-(4kd
tC+I)2)
dtk;./
2kd
k,.
/kd
...(6)
Persamaan
(6)
di atasdapat
didekati oleh persamaan yang
sederhana
(Nyvlt, 1985) sebagai
berikut
-dmc
= K
.!).Cg
(7)
dt g
dengan
konstantaKg=
KG.A
Konstanta
Kg
tergantung
pada
temperatur
dan konstanta tersebut sesuaidengan
persamaan Archenius untukmemperoleh
persamaan umumkecepatan
pertumbuhan
kristalsebagai
fungsi
temperatur.
PersamaanArchenius tersebut adalah :
Ea
Kg
= K g.uexp(-
RT)
(8)
Substitusi persamaan(8)
ke persamaan(7) diperoleh
:dm,
-(
EG
cg
---Kg0exp
--)ti
(9)
dt ' RTMetode Tak
Langsung
(Indirect
Method)
Penentuan Kinetika Kristalisasi
Penentuan tidak
langsung
didasarkan
pad
apengukuran
konsentrasi
terhadap
waktu kristalisasidi dalam
eksperimen
secara batch.Metode ini disebut
juga
metode kurvadesupersaturasi
(Desupersaturation
Curve)
karena konsentrasi larutan dan kelarutandigunakan
untukmenghitung
supersaturasi
terhadap
waktu. Pada metodepenentuan
tidaklangsung
ini,
masa
deposit
akibat kelahiran kristalbaru
dapat
diabaikan.Dengan
demikianmetode
penentuan
tidaklangsung
ini tidakdapat
memperkirakan
kinetika kelahiran kristal baru dan menganggappertumbuhan
kristalmerupakan
prosesyang dominan dalam kristalisasi.
Dengan
demikian data kinetika kristalisasimenggunakan
metode tidaklangsung
inihanya
berlaku bilakecepatan
kelahiran kristal baru tidakcukup
signifikan
terhadap
kecepatan
pertumbuhan
kristal.Dengan
asumsi bahwakecepatan
kelahiran kristal relatifsangat
kecil,
makaperubahan
supersaturasi
sama
dengan
perubahan
massa kristal dandapat
dituliskandm;
dtiC
-=-(10)
dtdt
Persamaan(10)
ke persamaan(9) diperoleh
d!).C
-EG)
g --- - K Oexp(--
!).C
...(11)
dt
s.RT
Pada proses kristalisasi larutan
nira
menjadi
gula,
ke dalam larutan nira ditambahkan bibit kristal. Hal inimenunjukkan
bahwa kelahiran kristalprimer
tidakterjadi
dalam kristalisasi larutan nira.Pada
penelitian
ini,
bibit kristalditambahkan ke dalam larutan lewat
jenuh,
danpenentuan
parameter-parameter
kinetik kristalisasidigunakan
menggunakan
metodepenentuan
tidaklangsung
sehingga
kecepatan
kelahiran kristal diabaikanterhadap
kecepatan
pertumbuhan
kristal.Dengan
demikianpersamaan
(11)
di atasdapat
digunakan
sebagai
persamaanempiris
dalampenelitian
ini. Dalampenelitian
ini datayang akan
diperoleh
dalameksperimen
adalah konsentrasi larutan
terhadap
waktu
pada
berbagai
temperatur.
Dari data-data tersebut konstanta-konstanta dalam persamaan(11) dapat
ditentukanPELAKSANAAN PENELITIAN
Bahan baku yang
digunakan
dalampenelitian
ini adalahgula
dan bibit kristalgula
sertaaquades
sebagai
pelarut.
Alat-alat yang
digunakan
dan susunannyadapat
dilihatpada
gambar
2.(1)
orde
(g)
dengan
pemrograman matlab.Hasil dari
pengolahan
datadapat
dilihatpada
gambar
3 dan 4 dan tabel 1.(5)
0
Keterangan :
1. Motor pengaduk
2. T ermometer
3. Labu leher tiga
4. Kompor listrik
5. statif
Gambar 2. Skema
rangkaian
alatpercobaan
Penelitian dilakukan
dengan
membuat larutan
gula
lewatjenuh
dengan
cara memanaskan larutanterlebih dulu
sampai
suhu tertentu dan kemudiandidinginkan
sampai
sampai
suhu tertentu. Larutan kemudian
dimasukkan ke dalam reaktor dan
dimasukkan bibit kristal
gula.
Setiap
selang
waktu tertentu konsentrasilarutan diukur
menggunakan
refraktometer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dilakukan
dengan
menggunakan
variabel suhu dankecepatan
putar
pengaduk.
Dari datapenelitian
yangberupa
konsntrasi larutan dirubahmenjadi
harga
!::i.C.Harga
!::i.C numerupakan
hasilpengurangan konsentrasi larutan
dengan
konsentrasijenuh
larutanpada
temperatur
terkait.Sehingga
diperoleh
data t::.C
pada
kecepatan
putar
pengadukan
200 rpm dan 400 rpm. Daridata t::.C tersebut dan persamaan
(11)
ditentukan
frequency
factor(K9,0),
activation energy(EG)
andcrystallization
Gambar 3. Kurva LlChasil simulasi dan 4C data
terhadap t pada kecepatan putar 200 ram
Gambar 4. Kurva LlC hasil simulasi dan LlCdata
terhadap t pada kecepatan putar 400 ram
Tabel 1.
Harga
parameter
kinetik kristalisasiKecepatan
1Kg,O
EG
gputar
(menif
(KJ/mol)
(rpm)
1)
200
0,0093
2,0627
0,5887
400
0,0109
1,7879
0,5788
Rata-rata -
1,9253
0,5837
Kinetika Kristalisasi Larutan Gula
(Sukrosa)
pada
Pembuatan Gula Tebu(Arif
Jumari,
dkk)
Pada Gambar 3 dan 4
tampak
bahwa
pada
temperatur
kristalisasi semakintinggi,
LICmenunjukkan
harga
yang semakin rendah. Hal rm
disebabkan karena konsentrasi
jenuh
larutan
gula
semakin besarterhadap
kenaikkan
temperatur.
Sehingga
pada
temperatur
yang lebihtinggi
akan memberikanharga
l1C yang lebihrendah,
demikianpula sebaliknya,
pada
suhu yang lebih rendah akandiperoleh
L\C yang lebih
tinggi.
Dari
perbandingan
gambar
3dan 4 diketahui bahwa
pada
kecepatan
putar
400 rpm memiliki L\C yang lebih besar dari saatkecepatan
putar
200 rpmpada
temperatur
yang sama. Hal iniditunjukkan
otenharga
K9,0
yang lebih besarpada
kecepatan
putar
yang lebih besar. Hal inidapat
terjadi
karenadengan
pengadukan,
partikel-partikel
kristal yang sudah terbentuk terdistribusi
secara merata
(homogen)
ke seluruhbagian
reaktor membentuksuspensi.
Bilakecepatan
pengadukan
lebihcepat,
makasuspensi
yang terbentuk lebihhomogen
danpartikelnya
lebih merata.Dengan
tersebamya
partikel
kristal keseluruh
bagian
gula,
akan lebihmempermudah
transfer massa darilarutan ke kristal karena
permukaan
interface lebihluas,
makinluasnya
interface
mempercepat
proseskristalisasi.
Harga
K9,0
EG
dan gpada
suhuyang berbeda,
harganya
konstan(perubahannya
tidaksignifikan).
Hal inimenunjukkan
bahwakonstanta-konstanta tersebut bukan
merupakan
fungsi
sunuTerjadinya
penyimpangan
pada
penelitian
disebabkan oleh suhuyang tidak bisa selalu konstan.
K9,0
adalah faktor frekuensi tumbukan antar molekul zat terlarut.Seperti
terlihatpada
Tabel1,
K9,0
merupakan
suatu konstanta yangdipengaruhi
kecepatan
pengadukan
dantidak
dipengaruhi
sunu.K9.0
pada
400rpm lebih besar dari 200 rpm.
Penyebabnya
adalahpada pengadukan
yang lebih
cepat,
gerak
molekul zat terlarut lebihcepat,
sehingga
frekuensitumbukannya
lebih besar.g adalah orde kristalisasi yang
besamya
0,5
sampai
2,0.
Ordekristalisasi
penelitian
ini sudah masuk dalamharga
kisaran tersebut. Ordekristalisasi tidak
dipengaruhi
oleh suhu dangerak
molekul. Orde kristalisasihanya
dipengaruhi
oleh karakteristiksolut dan solven. Oleh Karena itu
harga
orde kristalisasi antarakecepatan
200rpm dan 400 rpm
dapat
disamakan dandiambil
rata-ratanya.
EG
adalahenergi
aktivasi,
yaitu
jumlah
energi
minimal yangdiperlukan
untuk
terjadinya
proses kristalisasi.Harga
EG
dipengaruhi
oleh sifat intrinsikyang dimiliki suatu zat dan tidak
dipengaruhi
oleh suhu sertakecepatan
putar
pengadukan
sehingga
pada
penelitian
ml,EG
dapat
disamakandengan
mengambil
rata-ratanya.
PadaEG
lebih besar dari 42 KJ/mol yangmengontrol
proses adalah reaksikimia,
sedangkan
harga
EG
yang lebih rendahdikontrol oleh transfer massa. Pada
penelitian
iniEG
kurang
dari 42 KJ/molsehingga
proses kristalisasi dikontrololeh transfer massa. Dalam hal ini transfer massa terdiri dari 2
langkah,
yaitu
difusipartikel
gula
pada
lapisan
antara kristal-larutan serta
penggabungan
partikel gula
ke kristal.KESIMPULAN
1.
Kecepatan
transfer massa zatgula
pada operasi
kristalisasi larutangula
dalamtangki
berpengaduk
dikontrol oleh dualangkah
tahapan
yaitu
difusi zat melewati
lapisan
difusi danpenggabungan
partikel
zatgula
kekristal.
2.
Besamya
faktor frekuensi(K9,0),
energi
aktivasi(EG)
dan ordekristalisasi
(g)
dalam reaksi kristalisasi larutangula
tebu bukanmerupakan
fungsi
suhu.3. Persamaan
Kecepatan
reaksikristalisasi
yaitu
:• Pada
kecepatan
putar
pengadukan
200 rpm :-dt:,.C
=0,0093.e
-1,ns%r
./J.Co.5837
dt• Pada
kecepatan
putar
Kg,O
= g = R = T = t =d!:iC
-1.n531 --- =0,0109.e
.IRT./:iC0,5837
dtDAFTAR LAMBANG DAN ARTI
A = luas
permukaan
kristal(cm2)
Ci = konsentrasi
lapisan
antara(gr/
gr)
C* = konsentrasi larutan
(gr/gr)
l1C = selisisih konsentrasi larutan
dengan
konsentrasijenuhnya
(gr/gr)
D = koefisien difusi
(gr/det.cm3)
EG
=energi
aktivasi(KJ/mol)
o = ketebalan
lapisan
antara(cm)
Kd
= konstantakecepatan
difusi(gr/det.cm2)
KG
= Konstantakecepatan
gabungan
(gr/det.cm2)
K;n
= konstantakecepatan
penggabungan
partikel
zat kepermukaan
kristal(gr/mnt.cm2)
faktor frekuensi
(
1/menit)
orde kristalisasi
tetapan
gas ideal(KJ/mol. K)
temperatur
kristalisasi(°C)
waktu kristalisasi
(menit)
DAFT AR PUST AKAFadilah,
2002,
Pedoman PerkuliahanOperasi
Teknik KimiaIV,
Universitas Sebelas
Maret,
Surakarta.
Geankoplis,
C.J.,
1983,
Transport
Process and Unit
Operation,
Allyn
and Bacon
Inc.,
Massachusetts. HanselmanD.,
and Little8.,
2000,
Matlab Bahasa
Komputasi
Teknis,
Penerbit
Andi,
Yogyakarta.
Kirk &
Otmer,
1991,
Encyclopedia
ofChemical
Technology,
JohnWiley
&
Sons,
New York.Moerdokusumo,
A.,
1993,
Pengawasan
Kualitas dan Pembuatan Gula di
Indonesia,
Penerbit1TB,
Bandung.
Nyvlt,
J.,
Sonne,
0., Matuchova,
M.,
andBroul,
M.,
1985,
The Kinetics of IndustrialCrystallization,
Butterworth-Heinemann,
London.Kinetika Krista/isasi Larutan Gula