• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci: Ketersediaan bahan baku, Modal, Tenaga Kerja, Nilai Produksi, Pendapatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Kunci: Ketersediaan bahan baku, Modal, Tenaga Kerja, Nilai Produksi, Pendapatan"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

vi

Judul : Analisis Pengaruh Input Terhadap Nilai Produksi Dan Pendapatan Pengrajin Kulit Di Kota Denpasar

Nama : Kadek Fitri Dwipayanti NIM : 1306105142

ABSTRAK

Sektor industri merupakan sektor penggerak pertumbuhan ekonomi suatu negara oleh karena sektor industri adalah sektor yang dapat memberikan nilai tambah terbesar dan memiliki kontribusi yang signifikan sehingga menyebabkan meluasnya peluang kerja yang dapat meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya beli). Perkembangan sektor industri kerajinan di Kota Denpasar sudah berkembang pesat, yaitu salah satunya kerajinan kulit. Kerajinan kulit memiliki prospek yang baik kedepannya sehingga sangat perlu dikembangkan lagi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja terhadap nilai produksi, untuk mengetahui pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, dan nilai produksi terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar, dan untuk mengetahui peran nilai produksi dalam memediasi pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar.

Penelitian ini menggunakan data primer melalui kuisioner yang disebarkan kepada pengrajin kulit di Kota Denpasar dengan populasi sebanyak 243 unit usaha dan sampel yang dapat diambil adalah sebanyak 71 unit usaha. Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur (path analysis) untuk menganalisis pengaruh langsung antara variabel satu dengan variabel lainnya dan uji sobel menganalisis pengaruh tidak langsung melalui variabel mediasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bahan baku yang selalu tersedia tidak mempengaruhi nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar. Modal dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar. Variabel ketersediaan bahan baku, modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar, tenaga kerja tidak berpengaruh positif terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar, dan nilai produksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar. Nilai produksi merupakan variabel intervening yang memediasi pengaruh variabel ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar.

Kata Kunci: Ketersediaan bahan baku, Modal, Tenaga Kerja, Nilai Produksi, Pendapatan

(2)

vii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 16

1.3 Tujuan Penelitian ... 16

1.4 Kegunaan Penelitian... 17

1.5 Sistematika Penulisan ... 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Landasan Teori dan Konsep ... 19

2.1.1 Konsep Industri... 19

2.1.2 Konsep Bahan Baku ... 20

2.1.3 Konsep Modal... 22

2.1.4 Teori Tenaga Kerja ... 25

2.1.5 Teori Produksi ... 27

2.1.6 Konsep Pendapatan ... 29

2.1.7 Konsep Kerajinan ... 30

2.1.8 Hubungan ketersediaan bahan baku terhadap nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar... 31

2.1.9 Hubungan ketersediaan bahan baku terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar ... 31

2.1.10 Hubungan modal terhadap nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar ... 32

2.1.11 Hubungan modal terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar ... 33

2.1.12 Hubungan tenaga kerja terhadap nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar... 34

2.1.13 Hubungan tenaga kerja terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar... 35

2.1.14 Hubungan Nilai produksi terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar... 36

2.2 Hipotesis Penelitian ... 37

(3)

viii BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian ... 38

3.2 Lokasi Penelitian ... 38

3.3 Obyek Penelitian ... 38

3.4 Identifikasi Variabel ... 39

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 39

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 40

3.6.1 Jenis Data ... 40

3.6.2 Sumber Data ... 41

3.7 Populasi, Sampel dan Metode Penentuan Sampel ... 42

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 43

3.9 Teknik Analisis Data ... 44

3.9.1 Teknik Analisis Jalur Path... 44

3.9.2 Pengujian Hipotesis Antar Variabel Penelitian... 47

3.9.3Uji Sobel ... 52

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 54

4.2 Karakteristik Responden ... 55

4.2.1 Umur Responden ... 55

4.2.2 Tingkat Pendidikan ... 56

4.2.3 Ketersediaan bahan baku... 57

4.2.4 Modal Pengrajin Kulit di Kota Denpasar ... 57

4.2.4 Tenaga Kerja Pengrajin Kulit di Kota Denpasar ... 59

4.2.5 Nilai Produksi Pengrajin Kulit di Kota Denpasar ... 59

4.2.6 Pendapatan Responden... 60

4.2.8 Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh Pengrajin Kulit di Kota Denpasar... 61

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 62

4.3.1 Pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap Nilai Produksi Pengrajin Kulit di Kota Denpasar ... 62

4.3.2 Pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap Pendapatan Pengrajin Kulit di Kota Denpasar ... 63

4.3.3 Evaluasi Terhadap Validitas Model ... 63

4.3.4 Nilai Kekeliruan Taksiran standar ... 66

4.3.5 Nilai Koefisien Determinasi Total ... 66

4.3.6 Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian ... 67

4.3.7 Peran Variabel Nilai Produksi Sebagai Variabel Mediasi ... 79

4.3.8 Pembahasan Hasil Penelitian... 81

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 87

5.2 Saran ... 88

DAFTAR RUJUKAN ... 89

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 95

(4)

ix

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman

1.1 Sepuluh Besar Komoditas Ekspor Hasil Kerajinan Provinsi Bali Tahun 2011-2015 (Rupiah) ... 4 1.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Bali Atas

Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) 2011-2015 ... 9 1.3 Jumlah Sentra Unit usaha, Tenaga Kerja, Modal, dan Nilai

Produksi pada Industri Pengerajin Kulit di Provinsi Bali

Tahun 2015 ... 11 1.4 Jumlah Unit Usaha Industri Pengrajin Kulit Menurut

Kecamatan di Kota Denpasar Tahun 2015 ………... 12 3.1 Jumlah Populasi dan Sampel Pengrajin Kulit di Kota Denpasar

Tahun 2015 ... 43 4.1 Distribusi Responden Pengrajin Kulit di Kota Denpasar

Berdasarkan Kelompok Umur ... 55 4.2. Distribusi Responden Pengrajin Kulit di Kota Denpasar

Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 57 4.3 Distribusi Responden Pengrajin Kulit di Kota Denpasar

Berdasarkan Modal ... 58 4.4 Distribusi Responden Pengrajin Kulit di Kota Denpasar

Berdasarkan Tenaga Kerja... 59 4.5 Nilai Produksi Responden Pengrajin Kulit di Kota Denpasar... 60 4.6 Jumlah Pendapatan Responden Pengrajin Kulit di Kota

Denpasar ... 61 4.7 Ringkasan Koefisien Jalur... 63 4.8 Ringkasan Pengaruh Langsung, Pengaruh Tidak Langsung

dan Total Pengaruh Antar Variabel Penelitian... 65

(5)

x

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman

1.1 Perkembangan dan perbandingan nilai ekspor hasil kerajinan kulit pada Tahun 2011-2015 (Persen) ... 6 1.2 Kontribusi Industri Kerajinan Kulit Terhadap PDRB

Provinsi Bali Pada Tahun 2011-2015 (dalam persen)………….. 10 3.1 Model Analisis Jalur (Path Analysis) ... 44 4.1 Diagram Analisis Jalur Penelitian ... 64

(6)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Halaman

1. Kuisioner analisis pengaruh input terhadap nilai produksi

dan pendapatan pengrajin kulit di kota Denpasar... 95 2. Data Ketersediaan Bahan Baku, Modal, Tenaga Kerja, Nilai

Produksi, dan Pendapatan Pengrajin Kulit di Kota Denpasar... 101 3. Hasil Regresi I ... ... 104 4. Hasil Regresi II ... 105

(7)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan suatu negara agraris yang memiliki keunggulan pada sektor industri. Sektor industri diyakini sebagai sektor yang dapat memimpin sektor-sektor lain dalam sebuah perekonomian menuju kemajuan, sektor kerajinan telah menerima perhatian khusus sebagai bagian penting dari budaya industry (Foroogh, 2015). Produk-produk industrial selalu memiliki dasar tukar (terms of trade) yang tinggi atau lebih menguntungkan serta menciptakan nilai tambah

yang lebih besar di bandingkan produk-produk sektor lain. Hal ini disebabkan karena sektor industri memiliki variasi produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat marginal yang tinggi kepada pemakainya (Dumairy, 1997 : 227).

Provinsi Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata dan menghasilkan berbagai kerajinan, khususnya kerajinan tangan di Bali berkembang sangat pesat. Menurut Ahmad (2000) potensi sektor industri berfungsi sangat relevan untuk penyerapan tenaga kerja dalam skala kecil. Industri kerajinan di Provinsi Bali memiliki makna tersendiri, selain itu terdapat banyak berbagai jenis produk kerajinan sebagai peluang bisnis dan produk ekspor. Kerajinan ini memperlihatkan bentuk dan jenisnya sangat beragam dengan makna ekonomis, industri kerajinan sangat potensial untuk dikembangkan karena industri kerajinan ke depanya mampu meningkatkan eskpor non migas. Perkembangan industri kerajinan juga meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri yang memberikan

(8)

2

dampak kesempatan kerja (Boediono,1993:153). Kerajinan dan seni tradisonal adalah budaya dunia dan perannya dalam meningkatkan dinamika pembangunan (Ali, 2014).

Proses perkembangan ekonomi tidak lepas dari sektor industri, industrialisasi diperlukan sebagai suatu keharusan karena menjamin kelangsungan proses pembangunan ekonomi panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkan pendapatan perkapita setiap tahun.

Industrialisasi merupakan akar pokok pembangunan nasional dan pembangunan daerah, yang bertujuan mewujudkan masyarakat yang maju. Industrialisasi berperan meningkatkan produktivitas masyarakat, menciptakan lapangan usaha, meningkatkan devisa, dan memperluas lapangan kerja. Industri kerajinan di Provinsi Bali memiliki daya saing dan mampu menyerap tenaga kerja sekaligus penghasil devisa, industri memiliki peranan yang sangat vital dalam perekonomian. Salah satu industri kerajinan yang berkembang pesat adalah industri kerajinan kulit.

Menurut Dadaglio (2003) industri kerajinan kulit merupakan industri yang lebih diminati masyarakat dari segi keberdayagunaanya. Produk kulit adalah salah satu komoditas yang banyak di perdagangkan dan umum digunakan di dunia.

Perdagangan kulit dan produk kulit diperkirakan tumbuh lebih dari 60 miliar per tahun. Hal ini terjadi terutama di negara berkembang, dimana negara berkembang memegang pangsa 45 persen dari pangsa pasar prodiksi kulit di perdagangan dunia (Dianna, 2004). Beberapa pemasok barang kulit adalah perusahaan kecil dan menengah di negara-negara berkembang yang telah berhasil menembus pasar

(9)

3

ekspor. Negara maju mulai meninggalkan produksi kulit secara bertahap dan mulai bergeser ke negara berkembang dikarenakan tingkat upah yang tinggi dan norma-norma lingkungan yang ketat di negara maju (Bhandari. 2012).

Saat ini pusat produksi kulit berada di Asia. Negara terkemuka dalam industri kulit adalah China, India, dan Hongkong. Italia memimpin dalam industri garmen berbahan kulit, selain itu para pesaing terbesar Italia dalam industri kulit adalah Cina, Indonesia, dan Hongkong. Industri kerajinan kulit tampaknya mampu bertahan ditengah-tengah krisis yang terjadi sekarang di Indonesia. Modal yang digunakan dalam usaha industri kulit ialah menggunakan modal yang bersumber dari negara sendiri dan jika produksinya di ekspor maka akan menambah keuntungan bagi industri kecil tersebut. Pengembangan industri kerajinan kulit akan membantu mengatasi masalah pengangguran mengingat teknologi yang digunakan adalah teknologi padat karya sehingga dapat memperbesar lapangan kerja dan kesempatan usaha, yang pada gilirannya mendorong pembangunan daerah dan kawasan pedesaan.

Industri kecil kerajinan selama ini telah dapat menunjukkan hasil yang baik terbukti dengan adanya peningkatan produksi, produktivitas, serta adanya peluang pasar hasil komoditinya. Sebagian besar produsen kerajinan kulit di Provinsi Bali adalah produsen yang berskala industri kecil dan termasuk di antara 17 jenis hasil kerajinan berskala rumah tangga yang menembus pasar ekspor.

Kerajinan kulit telah memberikan sumbangan dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri kerajinan kulit lebih potensial dikembangkan untuk menunjang sektor pariwisata, meningkatkan

(10)

4

ekspor industri tanpa migas dan meningkatkan pendapatan pengrajin tersebut.

Industri kerajinan kulit hingga saat ini masih menjadi komoditi unggulan yang dikembangkan baik dari segi design maupun mutunya. Berikut merupakan 10 besar Hasil Kerajinan Provinsi Bali Tahun 2011-2015 yang di tunjukkan pada Tabel 1.1

Tabel 1.1 Sepuluh Besar Komoditas Ekspor Hasil Kerajinan di Provinsi Bali Tahun 2011-2015 (Rupiah)

No Hasil

Kerajinan 2011 2012 2013 2014 2015

1 Kerajinan

kayu 77.805.653 63.341.444 71.493.260 90.618.137 73.243.287 2 Kerajinan

Furniture 30.635.943 30.804.932 34.818.965 28.175.524 34.715.939 3 Kerajinan

Perak 26.748.603 27.288.653 21.968.434 23.738.340 22.566.727 4 Kerajinan

Bambu 9.542.874 10.475.545 12.864.022 9.486.097 18.335.991 5 Kerajinan

Logam 11.914.775 11.652.365 9.741.524 11.228.568 15.211.828 6 Kerajinan

Terracota 7.201.117 4.020.457 3.410.240 2.334.873 2.566.727 7 Kerajinan

Kulit 9.901.719 8.484.569 9.705.384 9.236.328 9.541.913 8

Kerajinan Batu Padas

18.506.462 15.359.503 11.484.690 10.265.244 14.772.477

9 Kerajinan

Anyaman 1.535.987 2.448.140 2.085.820 1.062.490 3.643.201 10 Kerajinan

Keramik 1.246.419 1.910.242 1.053.703 1.478.951 1.660.458 Sumber: Dinas Perindustrian dan Pendapatan Provinsi Bali, 2015

Tabel 1.1 menunjukkan sepuluh besar komoditas ekspor hasil kerajinan di Provinsi Bali tahun 2011-2015, dapat dilihat dari tahun 2011-2015 kerajinan kulit dari 5 tahun berada diperingkat keenam dan kerajinan kayu berada diperingkat pertama dilanjutkan dengan kerajinan furniture, dan kerajinan perak. Kerajinan

(11)

5

kulit di Provinsi Bali merupakan sektor industri kerajinan yang mulai berkembang dan merupakan salah satu kerajinan unggulan di Provinsi Bali. Kerajinan Kulit mengalami kenaikan dan penurunan secara fluktuatif selama 5 tahun. Nilai kerajinan kulit paling tinggi terjadi pada tahun 2011 dengan nilai 9.901.719. Pada tahun 2012 mengalami penurunan dengan nilai 8.484.569. Namun pada tahun 2013 kerajinan kulit mengalami peningkatan dengan nilai 9.705.384 dan tahun 2014 kerajinan kulit mengalami penurunan kembali dengan nilai 9.236.328 namun pada tahun 2015 kerajinan kulit kembali mengalami peningkatan dengan nilai 9.541.913, hal ini berarti mengalami peningkatan cukup stabil. Nilai ekspor kerajinan kulit tidak bisa menembus angka lebih dari 10.000.000 $ tidak seperti kerajinan yang sudah unggul seperti kerajinan kayu, furniture, dan perak. Selain komiditi kerajinan kayu dan perak, produk-produk kerajinan kulit merupakan produk yang banyak diminati di Indonesia bahkan mancanegara. Bentuk dan juga fungsi produk kerajinan kulit yang sangat beraneka ragam membuat produk kerajinan kulit menjadi sebuah produk kerajinan yang sangat unik dan menarik.

Barang-barang dari kulit hasil sentuhan tangan-tangan terampil pengrajin Bali mampu memberikan kontrisbusi yang besar terhadap nilai ekspor daerah ini, kerajinan kulit juga mampu menyerap tenaga kerja dilihat dari pengrajin kulit yang tidak hanya berasal dari daerah Bali namun juga dari luar Bali yang meciptakan lapangan pekerjaan dari kerajinan kulit. Pengrajin sangat kreatif memperoduksi aneka jenis cinderamata bernilai seni unik dengan harga yang terjangkau oleh sebagian besar pelancong dalam negeri maupun turis asing yang berlibur ke Bali. Hal ini disebabkan karena permintaan konsumen kerajinan kulit

(12)

6

cukup stabil tiap tahunnya maka jika digambarkan dengan diagram akan terlihat seperti pada Gambar 1.1

Gambar 1.1 Perkembangan dan perbandingan nilai ekspor hasil kerajinan kulit pada Tahun 2011-2015 (Persen)

Berdasarkan diagram diatas, nilai yang dihasilkan kerajinan kulit dari tahun 2011 hingga 2015 memang mengalami kenaikan dan penurunan secara berfluktuatif setiap tahunnya. Dapat dilihat pada Gambar 1.1 peningkatan hasil kerajinan kulit tahun 2011 paling tinggi yaitu sebesar 22 persen hal ini disebabkan karena meningkatnya daya beli importir luar negeri yang mengkibatkan ekspor permintaan bertambah dan produksi kerajinan kulit juga meningkat. Pada tahun 2012 dan tahun 2014 kerajinan kulit mengalami penurunan sebesar 19 persen karena terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi disejumlah negara tujuan mengakibatkan barang-barang berupa kerajinan tidak menjadi kebutuhan utama sehingga permintaan konsumen dan ekspor kerajinan kulit menjadi menurun dan menyebabkan nilai produksi mengalami penurunan akan tetapi nilai produksi

17.00%

18.00%

19.00%

20.00%

21.00%

22.00%

23.00%

2011 2012 2013 2014 2015

Industri Kerajinan Kulit

Industri Kerajinan Kulit

(13)

7

kerajinan kulit meningkat kembali pada tahun 2015 sebesar 20 persen sama dengan kenaikan nilai produksi pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2013 dengan nilai produksi sebesar 20 persen, sehingga kenaikan ekuivalennya sama.

Banyak faktor yang menyebabkan nilai produksi kerajinan kulit mengalami penurunan sehingga terjadi inefesiensi, salah satu diantaranya kendala yang dihadapi para perajin dalam proses produksi belum sepenuhnya ditunjang dengan teknologi pengolahan untuk percepatan proses produksi. Teknologi pengolahan yang dimaksud adalah jenis mesin dan peralatan yang digunakan pada umumnya oleh pengrajin contohnya seperti mesin jahit, palu, dan lainnya, penggunaan teknologi yang tepat guna mendukung adanya inovasi produk belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh pengrajin, karena kebanyakan produksi kerajinan kulit di Kota Denpasar lebih banyak yang menggunakan tenaga manusia dibandingkan teknologi.

Hal ini karena menurut pengrajin, kerajinan kulit di Kota Denpasar memperlihatkan desain yang unik dan menarik yang memiliki keunikan khusus karena dibuat asli dari kulit hewan dan memiliki nilai estetika yang sangat diminati konsumen, proses pembuatanya memerlukan keahlian dan ketelitian khusus yang tidak dapat diperkerjakan oleh mesin, dan lemahnya pengendalian kualitas terhadap komoditas barang yang dihasilkan, contohnya berkaitan dengan manajemen dan teknis produksi seperti pengendalian kualitas bahan baku yang tidak digunakan secara optimal dan kualitas bahan baku yang masih kurang bagus untuk digunakan dalam proses produksi sehingga akan berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan sehingga produksi menjadi menurun. Selain faktor diatas,

(14)

8

yaitu kesulitan menghadapi harga bahan baku kulit yang berfluktuasi, sehingga menyebabkan produksi relatif terbatas.

Karakteristik sosial ekonomi pengusaha industri kerajinan kulit dianalisa untuk mengetahui bagaimana kaitannya terhadap pendapatan pengusaha Industri kerajinan kulit di Provinsi Bali yang sebagian besar menggantungkan sumber pendapatannya dari sektor industri ini. Industri kerajinan kulit di Provinsi Bali dinilai cukup berkembang apabila dilihat dari jumlah industri yang ada dan telah banyak orang yang mengenalnya. Kegiatan produksi tentunya memerlukan unsur- unsur yang dapat digunakan dalam proses produksi yang disebut faktor produksi.

Faktor produksi ikut andil dalam mempengaruhi tingkat pendapatan pengerajin.

Produk-produk hasil kerajinan kulit pada industri kerajinan kulit telah terjalin kerjasama yang baik antara pengusaha dengan distributor dan konsumen.

Sektor industri pengolahan memegang peranan penting sebagai penyumbang pendapatan, baik pendapatan nasional maupun regional, penyediaan lapangan pekerjaan, dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat. Peranan sektor industri pengolahan atau kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDRB) terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Besarnya sumbangan sektor industri pengolahan terhadap PDRB Provinsi Bali dapat dilihat pada Tabel 1.2

(15)

9

Tabel 1.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Bali Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta Rupiah) 2011-2015

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2015

Tabel 1.2 menunjukkan peranan atau kontribusi seluruh kategori lapangan usaha atau industri terhadap pertumbuhan PDRB Bali. Secara keseluruhan, laju pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan setiap tahunya semakin bertambah, pada tahun 2015 sebesar Rp.115.446.723. Menurut Badan Pusat Statitik (BPS) (2015) selama perode tahun 2011- 2015 kontribusi kerajinan kulit terhadap PDRB Bali merupakan kategori yang mempunyai rata-rata laju pertumbuhan dibawah rata-

NO

Lapangan Usaha

/Industri 2011 2012 2013 2014 2015

1

Industri Makanan

dan Minuman 25.860.478 28.896.715 32.470.650 38.243.327 44.726.302 2 IndustriTembakau 361.025 397.897 439.656 528.159 590.829 3 Industri Tekstil 4.464.386 5.189.240 5.699.460 6.315.224 7.449.364 4 Industri Kulit 2.341.310 2.536.094 2.855.219 3.135.432 3.448.377

5

Industri Kayu, Anyaman,Gabus, dan Rotan

23.183.548 24.558.081 27.714.194 31.769.709 36.166.205 6 Industri Kertas 324.291 354.119 364.608 381.632 436.253 7 Industri Kimia 898.660 947.536 1.042.720 1.139.010 1.300.098 8

Industri Karet

dan Plastik 1.583.058 1.746.383 1.912.826 2.078.230 2.192.423

9

Industri Barang Galian bukan Logam

3.240.060 3.903.779 4.656.793 5.377.861 6.293.230

10

Industri

Barang Logam 972.964 1.010.363 1.108.791 1.200.997 1.389.745 11

Industri Mesin

danPerlengkapan 58.444 62.854 65.666 70.167 71.951 12

Industri Alat

Angkutan 23.470 26.745 29.892 32.617 37.017

13 Industri Furniture 4.638.897 5.065.074 5.815.990 6.864.780 8.348.164

14

Industri Pengolahan Lainnya

2.075.384 2.298.500 2.387.112 2.706.242 2.996.765 PDRB 70.025.975 76.993.380 86.563.577 99.843.387 115.446.723

(16)

10

rata laju pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 6,62 persen. Kontribusi kerajinan kulit masih terbilang relatif kecil dan mengalami peningkatan dan penurunan setiap tahunnya. Dari gambar diagram 1.2 dapat dilihat peranan kontribusi kerajinan kulit terhadap PDRB Bali Pada tahun 2011-2015.

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2015

Gambar 1.2 Kontribusi Industri Kerajinan Kulit Terhadap PDRB Provinsi Bali Pada Tahun 2011-2015 (dalam persen)

Secara keseluruhan, laju pertumbuhan kontribusi PDRB kerajinan kulit pada tahun 2011 sebesar 3,30 persen, namun pada tahun 2012 menurun menjadi 3,20 persen, pada tahun 2013 kembali mengalami peningkatan sebesar 3,30 persen, dan pada tahun 2014 menurun kembali sebesar 3,10 persen dan tahun 2015 kembali menurun sebesar 3 persen. Kontribusi kerajinan kulit mengalami kenaikan dan penurunan setiap tahunnya jika dibandingkan dengan kontribusi PDRB seluruh industri di Bali yang terus mengalami peningktan setiap tahunya, kontribusi kerajinan kulit terbilang cukup kecil.

3.30%

3.20%

3.30%

3.10%

3.00%

2.85%

2.90%

2.95%

3.00%

3.05%

3.10%

3.15%

3.20%

3.25%

3.30%

3.35%

2011 2012 2013 2014 2015

Laju Pertumbuhan Kontribusi PDRB Kerajinan Kulit

Laju Pertumbuhan Kontribusi PDRB Kerajinan Kulit

(17)

11

Kemampuan dalam usaha meningkatkan kinerja produksi harus tetap ditingkatkan agar menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar.

Pengelolaan proses produksi yang baik sangat dibutuhkan agar aktivitas produksi dapat berjalan dengan lancar dan stabil. Persediaan bahan baku kerajinan kulit dalam hal ini produksi kulit, merupakan hal pokok yang penting dalam kegiatan produksi. Untuk meningkatkan jumlah produksi sejalan dengan adanya permintaan dalam suatu produk. Industri kerajinan kulit di Provinsi Bali sangat potensial dan tersebar di setiap Kabupaten. Tabel 1.3 menggambarkan jumlah sentra unit usaha, tenaga kerja, modal, dan nilai produksi industri pengrajin kulit di Provinsi Bali.

Tabel 1.3 Jumlah Sentra Unit usaha, Tenaga Kerja, Modal, dan Nilai Produksi pada Industri Pengerajin Kulit di Provinsi Bali Tahun 2015

No. Kabupaten/

Kota

Jumlah Unit Usaha

Tenaga Kerja (orang)

Modal (Juta Rupiah)

Nilai Produksi (Juta Rupiah)

1 Jembrana 2 25 110.245 927

2 Tabanan 9 67 608.325 2.108.500

3 Denpasar 243 1510 5.339.959 28.201.320

4 Badung 12 167 858.258 14.031.341

5 Gianyar 5 170 2.096.888 16.088.000

6 Bangli 0 0 0 0

7 Karangasem 3 16 40.448 93.615

8 Klungkung 0 0 0 0

9 Buleleng 5 15 149.362 952.072

Jumlah 279 1.970 9.203.485 62.401.848

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali

Tabel 1.3 menunjukkan jumlah industri pengerajin kulit serta jumlah tenaga kerja, modal, dan nilai produksi menurut Kabupaten atau Kota di Provinsi Bali, terdapat paling banyak sentra usahanya adalah Kota Denpasar dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Pada Tabel 1.3 dapat dilihat industri kerajinan kulit di

(18)

12

Kota Denpasar menunjukkan jumlah unit usahanya terdapat sebanyak 243 unit usaha pengrajin kulit, Kota Denpasar adalah pusatnya berbagai jenis kerajinan kulit. Sementara di Kabupaten Bangli dan Klungkung industri kerajinan kulit masih kurang berkembang.

Sentra industri kerajinan kulit paling berkembang banyak di Kota Denpasar. Industri pengrajin kulit di Kota Denpasar tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar Barat, Denpasar Timur, dan Denpasar Utara. Tabel 1.4 menggambarkan jumlah sentra unit usaha industri pengrajin kulit di Kecamatan Kota Denpasar.

Tabel 1.4 Jumlah Unit Usaha Industri Pengrajin Kulit Menurut Kecamatan di Kota Denpasar Tahun 2015

NO Kecamatan Jumlah Unit Usaha

1 Denpasar Selatan 109

2 Denpasar Barat 105

3 Denpasar Timur 14

4 Denpasar Utara 15

Jumlah 243

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, 2015

Tabel 1.4 jumlah unit usaha industri pengerajin kulit di Kota Denpasar terdapat 243 unit usaha kerajinan kulit, dimana industri pengrajin kulit paling banyak terdapat di Kecamatan Denpasar Selatan sebanyak 109 unit usaha, Denpasar Barat 105 unit usaha, Denpasar Utara 15 unit usaha, dan Denpasar Timur 14 unit usaha. Berkembangnya industri pengrajin kulit di Kota Denpasar dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengurangi pengangguran dan masalah ketenagakerjaan, selain itu keberadaan industri kecil di Indonesia sangat

(19)

13

relevan dalam konteks Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, karena keberadaanya dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan pendapatan.

Perkembangan industri pengrajin kulit di Kota Denpasar pada umumnya masih memiliki beberapa kendala. Industri sejenis dengan modal kuat masih mendominasi dalam proses pemasaran dan proses produksi, persaingan usaha yang ketat, ketersediaan bahan baku dari segi kualitas juga menjadi kendala pengrajin kulit untuk meningkatkan nilai produk serta penggunaan tenaga kerja belum optimal, sangat berpengaruh terhadap kapasitas produksi. Banyaknya industri pengrajin kulit di Kota Denpasar dikarenakan Kota Denpasar merupakan ibukota dan sentra tujuan pariwisata domestik maupun mancanegara, sehingga industri kerajinan kulit menjadi penunjang fasilitas pembangunan di Kota Denpasar

Ada berbagai faktor produksi yang dipertimbangkan pengrajin kulit untuk menjalankan kegiatan usaha diantaranya adalah ketersediaan bahan baku. Bahan baku atau bahan penolong merupakan bahan yang membentuk bagian yang menyeluruh produk jadi. Ketersediaan bahan baku merupakan faktor produksi yang dibutuhkan dalam proses hasil produksi, sehingga persediaan bahan baku didalam sebuah perusahaan merupakan hal penting untuk dikendalikan dengan baik, penggunaan bahan baku harus dilakukan dengan sebaik mungkin dilihat dari ketersediaan bahan baku yang terdapat dalam industri sehingga perusahaan dapat menghasilkan pendapatan yang optimal dari hasil produksi yang diperoleh.

(20)

14

Untuk mengolah semua bahan baku tidak terlepas dari peranan tenaga kerja.

Faktor- faktor yang mempengaruhi pendapatan pengerajin kulit adalah faktor tenaga kerja yang mempunyai pengaruh terhadap faktor produksi. Menurut Jules (2012) tenaga kerja merupakan indikator yang memberikan multiplier effect yang lebih baik dari bahan tambahan yang lainnya terhadap pendapatan. Menurut Simanjuntak (1990:69) tenaga kerja yang digunakan berupa orang yang mampu bekerja untuk memberikan jasa/usaha dan mampu melakukan kegiatan yang mempunyai nilai ekonomis yaitu kegiatan yang menghasilkan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Sukirno (2000) tenaga kerja merupakan individu yang menawarkan ketrampilan dan kemampuan dengan tujuan menghasilkan barang-barang yang diproduksi. Menurut Mankiw (2000:46) semakin banyak jumlah tenaga kerja maka semakin meningkat jumlah barang yang diproduksi.

Peningkatan jumlah tenaga kerja akan berimbas terhadap tingkat pendapatan dan output yang diproduksi yang juga meningkatkan nilai produksi. Tenaga kerja merupakan cara mengontrol produksi dan inovasi untuk menciptakan produksi suatu kerajinan (Martin, 1986).

Faktor lain yang dapat mempengaruhi pendapatan pada sektor industri pengrajin kulit adalah modal. Modal adalah faktor yang sangat mendukung proses produksi. Modal kerja yang dimiliki pengerajin kulit dipergunakan untuk menjalankan usaha atau membiayai operasional perusahaan tanpa mengorbankan aktiva lain dengan tujuan memperoleh laba yang optimal. Penelitian yang di lakukan Maya (2013), menyatakan bahwa kendala utama yang dihadapi oleh sebagian besar pengerajin kulit adalah modal awal untuk mendatangkan bahan

(21)

15

baku. Perusahaan mikro dan kecil yang bergerak disektor informal sering kekurangan akses terhadap pembiayaan eksternal (Parinduri, 2016). Industri kecil atau kerajinan lebih mudah didirikan dengan jumlah modal dan jumlah produksi yang jauh lebih sederhana ketimbang mendirikan industri menengah dan besar (Reiner, 2012). Revalthy (2016) dan Khalaf (2013), menyatakan modal merupakan salah satu faktor produksi dan menetukan produktivitas perusahaan yang berdampak terhadap pendapatan. Nilai modal yang dimiliki oleh pengerajin kulit relatif rendah karena pengerajin hanya mengandalkan asset pribadi miliknya.

Secara umum permasalahan yang dihadapi industri kerajinan kulit adalah minimnya modal, kesulitan pemenuhan bahan baku dalam jangka panjang, keterbatasan teknologi, sumber daya manusia dengan kualitas yang baik (terutama berkaitan dengan manajemen dan teknis produksi).

Permasalahan dari segi informasi mengenai pasar dan tren, serta kesulitan dalam memasarkan produk yang dihasilkan juga menjadi kendala pengrajin kulit (Tambunan 2006:69-70). Selain itu terdapat pula permasalahan yang bersifat internal yang bersumber dari dalam perusahaan itu sendiri yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan modal kerja, dan masalah eksternal yaitu persaingan yang semakin ketat.

Mengingat sedemikian pentingnya kedudukan input untuk menghasilkan suatu produk seperti ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja dalam mempengaruhi nilai produksi dan pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar, maka penulis terdorong untuk meneliti analisis pengaruh input terhadap nilai produksi dan pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar.

(22)

16 1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap nilai produksi pengrajin kulit di Kota Denpasar?

2. Bagaimana pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, dan nilai produksi terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar?

3. Apakah nilai produksi memediasi pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dari rumusan masalah yang telah di uraikan di atas, maka dapat di jabarkan beberapa tujuan penelitian yaitu:

1) Untuk menganalisis pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap nilai produksi pada pengrajin kulit di Kota Denpasar.

2) Untuk menganalisis pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, dan nilai produksi terhadap pendapatan pada pengrajin kulit di Kota Denpasar.

3) Untuk menganalisis peran nilai produksi dalam memediasi pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, dan tenaga kerja terhadap pendapatan pengrajin kulit di Kota Denpasar

1.4 Kegunaan Penelitian 1) Kegunaan Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca untuk memberikan tambahan teori, mendukung jurnal yang sudah ada, baik

(23)

17

sebagai pelengkap maupun bahan perbandingan, dan menambah refrensi untuk penelitian selanjutnya.

2) Kegunaan Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan untuk para pengusaha dan menjelaskan nilai estetis dari kerajinan kulit. Memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai pengaruh ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, dan nilai produksi terhadap tingkat pendapatan pada pengerajin kulit di Kota Denpasar dan kepada masyarakat yang tidak bergelut di dalamnya dapat menghasilkan pemahaman akan kekuatan karakteristik visual kerajinan kulit sehingga dapat menjadi acuan untuk mengembangkan tingkat pendapatan pada pengerajin kulit.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dalam penyusunan skripsi ini, maka penulisannya terbagi atas lima bab secara terinci dan sistematis. Sistematika dari masing-masing bab adalah sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisi uraian mengenai latar belakang masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan mengenai teori-teori atau konsep-konsep yang relevan untuk membangun rumusan hipotesis sebagai acuan dan landasan dalam memecahkan masalah yang ada, antara lain konsep industri, konsep bahan baku, konsep modal, teori tenaga kerja, teori

(24)

18

produksi, konsep pendapatan, konsep kerajinan, serta hubungan antar variabel dan juga pada bab ini dibahas hasil penelitian sebelumnya.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam bab ini menguraikan mengenai metode penelitian. Metode penelitian ini terdiri dari lokasi penelitian, objek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, metode penentuan sampel, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data.

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Bab ini akan menyajikan gambaran umum wilayah, karakteristik responden, serta menguraikan pembahasan yang berkaitan dengan pengujian pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung variabel ketersediaan bahan baku, modal, tenaga kerja, nilai produksi, dan pendapatan pengrajin kulit yang berada di Kota Denpasar.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini merupakan bab penutup yang mengemukakan simpulan akhir dari pembahasan yang menjadi jawaban dari permasalahan dan saran-saran sebagai bahan pertimbangan bagi para pengrajin kulit.

Gambar

Tabel  1.1  Sepuluh  Besar  Komoditas  Ekspor  Hasil  Kerajinan  di  Provinsi  Bali  Tahun 2011-2015 (Rupiah)   No  Hasil  Kerajinan  2011  2012  2013  2014  2015  1  Kerajinan  kayu  77.805.653  63.341.444  71.493.260  90.618.137  73.243.287  2  Kerajinan
Gambar  1.1  Perkembangan  dan  perbandingan  nilai  ekspor  hasil  kerajinan  kulit  pada Tahun 2011-2015 (Persen)
Tabel  1.2  Produk  Domestik  Regional  Bruto  (PDRB)  Provinsi  Bali  Atas   Dasar  Harga  Berlaku  Menurut  Lapangan  Usaha  (Juta  Rupiah)  2011-2015
Gambar  1.2  Kontribusi  Industri  Kerajinan  Kulit  Terhadap  PDRB  Provinsi  Bali Pada Tahun 2011-2015 (dalam persen)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penjualan pribadi merupakan melakukan pendekatan secara personal kepada nasabah. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh PT. Bank Sumut Syariah Capem H.M. Yamin Medan

Pangodian Harapan, Analisis Pengaruh Citra Lembaga, Kualitas Pelayanan Dan Kedekatan Emosional Terhadap Loyalitas Dengan Kepuasan Sebagai Variabel Moderating” (Studi Kasus

³%HODMDU DGDODK VXDWX SURVHV SHUXEDKDQ WLQJNDK ODNX LQGLYLGX PHODOXL LQWHUDNVL GHQJDQ OLQJNXQJDQQ\D´ -DGL EHODMDU DNWLI DGDODK VXDWX VLVWHP EHODMDU mengajar yang menekankan

Aplikasi “Alkitab (Holy Bible)” ini dibangun pada platform Windows Phone 8 karena aplikasi sejenis pada platform tersebut belum memiliki bahan bersaat teduh dan

Streptomycetes yang diisolasi dari daerah non rhizosfer yang memiliki kemampuan menghambat EC adalah strain TA NR 2 dengan zona hambat 23 mm.. Sedangkan strain dari daerah

Berdasarkan peraturan menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia nomor 22 tahun 2015 Tentang Biaya Kuliah Tunggal Dan Uang Kuliah Tunggal

Pada Tahun 2018, pergolakan dalam pembahasan dan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) berjalan dengan sangat alot, sehingga pengesahnya Molor

Apabila Jaminan Jasa Pelayanan berlaku, dan ketentuan-ketentuan untuk Jaminan Jasa Pelayanan sebagaimana ditetapkan pada Tarif dan Pedoman Jasa Pelayanan telah dipenuhi, jika