75
Al-Hasany Vol. 1, No. 1, Juli–Desember 2016 Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Kependidikan PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
DALAM MENGHADAPI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Oleh: Nursri Hayati
Dosen Tetap pada Sekolah Tinggi Agama Islam Tapanuli (STAITA) Padangsidimpuan
ABSTRAK
Basically, Islamic educational institutions have an ideal role in the era of the Asean Economic Community. Islamic educational institutions belonging to the three (3) forms, namely; informal Islamic educational institutions, non-formal Islamic educational institutions and formal Islamic education institutions. Each form has a domain and a different role. In the era of the Asean Economic Community skilled, smart, and competitive human resources need to be prepared.
Kata kunci: Islamic Educational Institutions, Asean Economic Community.
A. Pendahuluan.
Jika kita menelusuri garis waktu kearah yang sudah tergoreskan, secara khusus di Indonesia, pendidikan islam telah ada sejak islam masuk. Pada zaman pra-penjajahan Belanda telah berdiri surau-surau, langgar, dan/atau masjid di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini menjadi salah satu bukti adanya aktivitas pendidikan islam.
Perkembangan pendidikan islam bukan tanpa hambatan. Di era penjajahan Belanda selama 350 tahun plus era penjajahan Jepang selama 3,5 tahun, kita mengenal banyak tokoh Islam seperti Pati Unus, Panglima Fatahillah, Sultan Baabullah, Sultan Iskandar Muda, hingga tokoh nasional seperti K.H. Hasyim Asy‟ari (Pendiri Pesantren Tebu Ireng dan Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan jauh lebih banyak yang tidak disebutkan. Semua tokoh ini menentang penjajahan dan menjadikan pendidikan Islam sebagai bagian dari perjuangan mereka.
76
Jika kita melihat dalam skala Eks-Kabupaten Tapanuli Selatan1, salah satu tokoh yang turut serta dalam sejarah perkembangan pendidikan islam adalah Prof.
Syekh H. Ali Hasan Ahmad Addary2. Cendikiawan muslim ini adalah salah satu Guru Besar Pendidikan Islam Modern di Tapanuli Selatan dan tokoh NU Sumatera Utara. Beliau adalah pendiri Universitas Islam Tapanuli (UISTA) dan termasuk tokoh yang terlibat dalam mendirikan IAIN Sumatera Utara. Begitu banyak ide-ide beliau yang dituangkan dalam bentuk organisasi, lembaga, atau instansi yang kemudian menjadi bagian dari pendidikan islam di daerah itu saat ini.
Mendengar dan/atau membaca fakta-fakta sejarah tersebut, kita dapat menyadari bahwa salah satu strategi pendidikan islam yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menghadapi perubahan zaman adalah membentuk lembaga pendidikan Islam. Hal ini ditandai dengan dibangunnya surau, langgar, dan mesjid serta dibentuknya lembaga-lembaga pendidikan islam formal yang dicita-citakan sebagai sentral pengembangan islam dalam mencapai tujuan pendidikan islam itu sendiri.
Pembentukan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, bukan semata-mata hanya sebagai wadah aktualisasi diri dan/atau institusi sosial yang akan menjadi bagian dari dinamika masyarakat. Tapi murni sebagai cita-cita luhur para pendahulu kita untuk membentuk; manusia seutuhnya, manusia Abdullah, manusia kholifah fil-ardh, manusia yang memiliki kepribadian muslim, manusia dengan kepribadian yang merealisasikan ajaran islam dalam kehidupannya.
Hingga mampu menghadapi perubahan zaman, salah satunya akibat globalisasi.
Perlu juga kita ketahui, bahwa globalisasi berarti kenaikan intensitas lintas kultur, norma sosial, kepentingan dan ideologi antar bangsa. Oleh karena itu, setiap bangsa dituntut memiliki kesiapan kultural untuk melakukan integrasi terhadap sistem internasional tanpa terkaburkan identitas negara. Globalisasi juga menyebabkan kesenjangan yang semakin melebar antara bekal moral dengan kemampuan intelektual. Oleh karena itu, setiap bangsa harus memiliki sumber daya manusia yang memiliki kemampuan intelektual dan berbasis moral.
1Sekarang telah dibagi menjadi 1 Pemerintah Kota dan 4 Pemerintah Kabupaten.
2http://www.nu-tapsel.rizalubis-web.com/2014/11/prof-syekh-h-ali-hasan-ahmad-addary.html, diakses pada pukul 11.45 wib, 24 Desember 2015.
77
Salah satu bentuk dari globalisasi yang sedang mewabah ini adalah pembentukan suatu komunitas dalam waktu dekat yang sering disebut dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau disebut juga dengan Asean Economic Community (AEC)3. Disebutkan bahwa: “Dalam menghadapi persaingan yang teramat ketat selama MEA ini, negara-negara ASEAN haruslah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif”.
Untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil, cerdas dan kompetitif diperlukan strategi dalam berbagai aspek. Salah satu aspek yang memiliki peran penting adalah peran lembaga pendidikan. Dengan kata lain, lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menghasilkan SDM sesuai dengan kebutuhan zaman, termasuk MEA.
MEA adalah suatu momen dalam perputaran zaman yang dapat dijadikan sebagai salah satu titik point kebangkitan pendidikan islam ke arah selanjutnya.
Namun, juga bisa menjadi salah satu titik pelemahan peran lembaga pendidikan islam dalam kehidupan kekinian. Mengingat peluang kedua hal tersebut sama besarnya, maka segala kemungkinan bisa terjadi.
Selanjutnya, fokus utama dalam kajian ini adalah bagaimana peran lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan zaman, khususnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, untuk menghadapi Era MEA tersebut dibutuhkan SDM yang terampil, cerdas, dan kompetitif.
B. Lembaga Pendidikan Islam.
Dalam ilmu sosilogis, kata “lembaga” sering diwakilkan dengan kata
“institusi”. Makna kata “lembaga” dari perspektif berbagai disiplin ilmu belum mengerucut pada satu kesimpulan yang absolut, meski ada kesamaan tujuan. Hal tersebut memang sulit terjadi mengingat penggunaan dan pemaknaan kata
“lembaga” juga tidak sama dan disiplin ilmu yang dipakai juga masih berkembang dan berbeda-beda. Namun ada semacam kesamaan sudut pandang tentang kata
3https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_Ekonomi_ASEAN, diakses pada pukul 12.25 wib, 24 Desember 2015.
78
“lembaga” yang juga sering diidentikkan sebagai salah satu bentuk kelompok sosial.
Dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia (KKBI), kamus versi online4, ada 6 point arti kata “lembaga”. Namun, hanya 3 point makna kata yang diangkat untuk kebutuhan pemaknaan dalam tulisan ini mengingat 3 point makna kata lainnya sudah terwakili. 3 point yang dianggap mewakili tersebut, yakni : (1)acuan, ikatan (tentang mata cincin dan sebagainya); (2)badan (organisasi) yang tujuannya melakukan suatu penyelidikan keilmuan atau melakukan suatu usaha; (3)pola perilaku manusia yang mapan, terdiri atas interaksi sosial berstruktur dalam suatu kerangka nilai yang relevan.
Selanjutnya, makna pendidikan Islam oleh Haidar Putra Daulay didefinisikan sebagai pendidikan yang bertujuan membentuk pribadi muslim yang seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah, menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dan alam semesta.5
Agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam memaknai kata Lembaga Pendidikan Islam, diambil suatu kesimpulan. Dimana, dalam tulisan ini, Lembaga Pendidikan Islam dimaknai sebagai acuan, ikatan, badan (organisasi), dan/atau pola perilaku manusia yang menunjukkan interaksi sosial berstruktur dalam rangka membentuk pribadi muslim yang seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah, menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Ada pendapat yang menyebutkan bahwa terdapat 3 bentuk lembaga pendidikan6 saat ini; (1)Lembaga Pendidikan Keluarga; (2)Lembaga Pendidikan Sekolah; (3)Lembaga Pendidikan Masyarakat. Jika kita kaitkan dengan Lembaga Pendidikan Islam (yang merupakan salah satu jenis lembaga pendidikan), maka Lembaga Pendidikan Islam juga demikian.
4http://kbbi.web.id/lembaga, diakses pada 13.12 wib, 24 Desember 2015.
5Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 6.
6http://kangmahfudz.blog.com/2013/11/21/fungsi-dan-peran-lembaga-pendidikan/, diakses pada jam 13.40 tanggal 24 Desember 2015.
79
Haidar Putra Daulay mencoba melihat pendidikan Islam sebagai lembaga dan membaginya ke dalam 3 (tiga) bentuk, yakni: (1)Lembaga pendidikan informal, yang berlangsung di rumah tangga; (2)Lembaga pendidikan nonformal, yang berlangsung di masyarakat; (3)Lembaga pendidikan formal, yang berlangsung di sekolah (pesantren, sekolah, madrasah, dan pendidikan tinggi)7.
Kedua pendapat tersebut pada dasarnya adalah sama. Lembaga Pendidikan Formal, dengan istilah berbeda disebut juga Lembaga Pendidikan Sekolah.
Lembaga Pendidikan Nonformal dengan istilah berbeda disebut juga Lembaga Pendidikan Masyarakat. Lembaga Pendidikan Informal dengan istilah berbeda disebut juga Lembaga Pendidikan Keluarga. Perbedaan istilah mungkin akan memicu perbedaan pengklasifikasian mengingat perkembangan ilmu sosial yang belum berhenti dan tidak bersifat exacta.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, domain lembaga pendidikan informal adalah rumah tangga. Rumah tangga bisa saja hanya sebatas anggota keluarga inti (ayah, ibu, dan anak), namun jika ada anggota keluarga lain yang bukan anggota keluarga inti, selama asumsinya adalah sebatas rumah tangga (misal; mertua, menantu, ponakan, paman, dan sebagainya) selama itu pula ia dikatakan lembaga pendidikan informal.
Demikian pula halnya dengan lembaga pendidikan nonformal yang domainnya adalah masyarakat. Tidak ada batasan tentang seluas apa masyarakat yang terlibat. Selama asumsinya adalah bukan sebatas rumah tangga dan tidak termasuk kategori sekolah formal (pesantren, sekolah, madrasah, dan pendidikan tinggi), maka ia dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan nonformal.
Secara khusus, lembaga pendidikan formal adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang dibentuk atas dasar kebutuhan yang lebih luas dan waktu yang lebih lama. Terdapat kelembagaan yang khusus mengatur segala aktifitas dalam lembaga pendidikan formal (manajemen/administrasi resmi), kompleksitas permasalahan, rutinitas yang memiliki intensitas dan legalitas resmi (terstruktur), dan pengaturan-pengaturan lain yang mungkin tidak didapatkan pada lembaga pendidikan informal dan nonformal. Asumsi yang digunakan untuk melihat suatu
7Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia…, hlm. 10.
80
lembaga pendidikan formal adalah sisi legalitas aturan hukum yang berlaku dan menempatkan lembaganya sebagai suatu aktifitas formal.
Jika melihat Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jalur pendidikan di Indonesia juga ada 3, yakni; pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Akan tetapi, terdapat perbedaan persepsi dalam pengklasifikasian jenis pendidikan berdampak pada pengklasifikasian jenis lembaganya. Seperti contoh; asumsi yang digunakan untuk melihat suatu lembaga pendidikan nonformal di Indonesia harus sesuai dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 12, yang menyatakan bahwa “pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang”. Sehingga lembaga pendidikan informal yang domainnya adalah rumah tangga namun terstruktur dan berjenjang juga dapat dikategorikan sebagai lembaga pendidikan nonformal. Perbedaan persepsi ini mungkin saja terjadi karena adanya perbedaan antara kepentingan kebutuhan peraturan dan kajian teoritis.
Dalam tulisan ini, persepsi yang digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk lembaga pendidikan islam adalah persepsi yang menempatkan; (1)domain lembaga pendidikan islam informal adalah rumah tangga; (2)domain lembaga pendidikan islam nonformal adalah masyarakat; dan (3)domain lembaga pendidikan islam formal adalah sekolah.
C. Peran Lembaga Pendidikan Islam.
Sebagaimana telah disepakati sebelumnya, lembaga pendidikan Islam dimaknai sebagai acuan, ikatan, badan (organisasi), dan/atau pola perilaku manusia yang menunjukkan interaksi sosial berstruktur dalam rangka membentuk pribadi muslim yang seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah, menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Dengan demikian, peran lembaga pendidikan Islam tidak akan melenceng jauh dari tujuan pendidikan islam.
81
Melihat realitas yang ada, maka berbicara tentang peran tidak lepas dari tugas dan fungsi. Demikian juga dengan lembaga pendidikan Islam. Peran lembaga pendidikan Islam adalah melaksanakan tugas dan fungsinya yang nantinya akan bermuara pada tujuan utama dari lembaga pendidikan Islam itu sendiri.
Oleh sebab itu, peran lembaga pendidikan Islam adalah mencapai tujuan lembaga pendidikan Islam. Dimana tujuan lembaga pendidikan Islam adalah;
(1)membentuk pribadi muslim seutuhnya; (2)mengembangkan seluruh potensi manusia baik berbentuk jasmaniya maupun rohaniyah; dan (3)menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dan alam semesta.
Tidak hanya itu, lembaga pendidikan Islam memiliki peran lain. Peran lain dimaksud tidak terlepas dari impact (dampak) yang diperoleh karena tercapainya tujuan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Sebagai contoh, pencapaian lembaga pendidikan Islam dalam membentuk pribadi muslim seutuhnya, akan berdampak pada pembentukan sebuah peradaban Islam setidak-tidaknya di daerah domain lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Jika pencapaian lembaga pendidikan Islam itu berdampak dalam skala yang lebih besar (misalnya suatu negara), maka bukanlah hal yang mustahil jika terbentuk suatu negara dengan individu yang memiliki kepribadian muslim seutuhnya.
Di Indonesia, lembaga pendidikan Islam hanyalah salah satu dari lembaga- lembaga pendidikan yang ada. Meskipun Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, akan tetapi tidak semua penduduknya memilih dan/atau menggunakan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat untuk belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan. Setidaknya, sudah sejauh mana peran lembaga pendidikan Islam di Indonesia?.
Secara statistik untuk tingkat perguruan tinggi, ditemukan8 1.106 Akademi di Indonesia, 238 Politeknik, 2.397 Sekolah Tinggi, 123 Institut, 531 Universitas dan 7 komunitas akademi. Sehingga terdapat 4.402 lembaga pendidikan formal (berstatus negeri dan swasta) yang telah terdata oleh Kementrian Riset dan
8http://forlap.dikti.go.id/perguruantinggi/homegraphpt, Kategori PT:Negeri, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Kementrian Riset dan Perguruan Tinggi, 2015. Diakses pada tanggal 5 Februari 2015.
16:07 wib.
82
Perguruan Tinggi. Lembaga pendidikan tersebut mencakup seluruh jenis lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, termasuk lembaga pendidikan Islam formal.
Selanjutnya, dalam sumber lain9 disebutkan bahwa jumlah Perguruan Tinggi Islam Negeri di Indonesia adalah 55 lembaga. Terdiri dari 11 Universitas Islam Negeri, 25 Institut Agama Islam Negeri, dan 19 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Sedangkan jumlah perguruan tinggi agama islam swasta di Indonesia adalah 652 lembaga. Terdiri dari 92 FAI/Universitas, 43 Institut Agama Islam, dan 517 Sekolah Tinggi Agama Islam. Dengan demikian, total lembaga pendidikan Islam formal di Indonesia hingga akhir tahun 2015 (negeri dan swasta) adalah 707 lembaga.
Jumlah lulusan dari setiap lembaga pendidikan tidaklah sama apalagi kualitasnya. Sehingga jika harus mengukur kualitas dan kuantitas output Sumber Daya Manusia yang dihasilkan oleh 707 lembaga pendidikan islam formal yang ada, belum dapat dipastikan. Belum adanya data pendukung dan kurangnya sumber daya untuk hal itu adalah keterbatasan penulis. Hal ini merupakan peluang bagi semua pihak yang ingin mengkajinya lebih dalam.
Akan tetapi, bukan berarti peran lembaga pendidikan Islam dari sisi lembaga pendidikan formal menjadi tidak ada. Peran lembaga pendidikan Islam setidaknya akan mempengaruhi setiap individu atau kelompok yang terlibat di dalam interaksi sosial terstrukturnya. Khususnya 707 lembaga pendidikan Islam formal yang sudah ada.
Jika melihat perbandingan jumlah lembaga pendidikan yang ada, maka rasio jumlah lembaga pendidikan formal yang ada di Indonesia dengan jumalh lembaga pendidikan Islam formal adalah sebesar 16 % (persen). Rasio ini memang bukan realisasi peran sesungguhnya dan tidak akan bisa mewakili pengukuran peran lembaga pendidikan Islam formal yang ada di Indonesia. Akan tetapi cukup sebagai gambaran eksistensi lembaga pendidikan Islam dari sisi lembaga pendidikan formal di Indonesia.
Data lembaga pendidikan tersebut, hanya untuk tingkat pendidikan tinggi saja. Dengan kata lain, pada jenjang pendidikan tinggi, lembaga pendidikan Islam
9http://diktis.kemenag.go.id/bansos/cari_nspt.php, diakses pada Diakses pada tanggal 5 Februari 2015.
16:15 wib.
83
menunjukkan eksistensi yang cukup untuk berperan dalam Sistem Pendidikan Nasional. Bagaimana dengan lembaga pendidikan Islam formal lainnya?. Hal ini masih terbuka lebar untuk dikaji oleh siapapun.
Pada sub bahasan sebelumnya telah disepakati 3 (tiga) bentuk lembaga pendidikan Islam. Setiap bentuk lembaga pendidikan Islam yang ada memiliki peran yang tidak selalu sama atau identik. Maksudnya, peran lembaga pendidikan Islam informal tidak selalu sama atau identik dengan peran lembaga pendidikan islam nonformal atau peran lembaga pendidikan islam formal.
D. Peran Lembaga Pendidikan Islam Informal.
Berbicara tentang rumah tangga identik dengan mengkaji keluarga. Namun, rumah tangga sebagai domain lembaga pendidikan Islam informal memiliki arti yang lebih luas jika dibanding dengan keluarga. Meski demikian, dalam perpektif lembaga pendidikan Islam informal, keluarga dapat menjadi salah satu contohnya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, keluarga adalah pabrik terbesar yang akan menyediakan sumber daya manusia (SDM). Dengan kata lain, peran yang sudah melekat pada keluarga adalah menjaga/memelihara ketersediaan SDM.
Menurut Al Rasyidin10 ada beberapa syarat agar sebuah keluarga dianggap ideal, yakni : (1)diikat oleh kesamaan keyakinan atau aqidah; (2)diikat oleh kesamaan visi dan cita-cita; dan (3)diikat oleh kesamaan gairah dalam beraktifitas atau ber-„amal sholeh. Jika syarat tersebut terpenuhi, maka akan terbentuk sebuah keluarga ideal.
Secara logika, keluarga ideal akan lebih mudah menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dimana, adanya kesamaan keyakinan, kesamaan visi dan cita-cita, dan kesamaan gairah dalam beraktifitas akan mempermudah pencapaian tujuan membentuk individu sesuai kebutuhan zaman. Inilah salah satu arti penting peran keluarga dalam menghasilkan bentuk kehidupan yang lebih baik.
10Al Rasyidin, “Pengembangan Pendidikan Agama dalam Keluarga (sebuah renungan bagi orang tua)”, dalam Syafaruddin (Ed), Pendidikan dan Transformasi Sosial, (Medan: Citapustaka Media Perintis, 2009), hlm. 35.
84
Hanya saja, bentuk keluarga ideal tersebut hampir mustahil terealisasi dalam kehidupan nyata. Realitas ini telah disampaikan oleh Al Rasyidin yang menyatakan:
“…..Kini, sebuah keluarga umumnya hanya diikat oleh hubungan darah atau keturunan semata. Mereka berasal dari satu ayah dan ibu dan tinggal menetap dalam satu rumah atau tempat tinggal yang sama, tetapi visi, cita-cita, dan aktivitas amal mereka berbeda-beda. Di antara keluarga- keluarga masa kini bahkan tidak jarang ditemukan adanya perbedaan aqidah di kalangan anggota keluarga, antara ayah-ibu, bahkan sesama anak atau anggota keluarga lainnya.” 11
Fenomena tersebut memberikan suatu penjelasan tentang keadaan keluarga di era saat ini. Meski keadaan itu tidak terjadi pada semua keluarga, akan tetapi hal ini menjadi salah satu faktor pelemahan/penguatan peran keluarga.
Tidak hanya itu saja, permasalahan lain seperti kemampuan edukatif, lemahnya ekonomi, dan kurangnya rasa kepercayaan diri setiap/sebagian individu dalam keluarga, membuat peran keluarga juga semakin melemah atau menguat. Kemampuan untuk mendidik, melatih, membimbing, dan/atau memberikan contoh teladan dalam keluarga juga sangatlah penting. Mengingat keluarga adalah tempat pertama “mengecap pendidikan”, peran keluarga dalam hal tersebut bisa menjadi faktor pelemahan/penguatan. Lemahnya ekonomi keluarga memang menjadi hal yang dihadapi mayoritas keluarga dalam sebuah negara miskin bahkan negara yang sudah maju sekalipun.
Kurangnya daya ekonomis untuk memenuhi kebutuhan pokok12 akan mempengaruhi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap sekunder. Kurangnya rasa percaya diri setiap/sebagian individu dalam keluarga sering mempengaruhi pola pikir untuk melakukan pilihan-pilihan dalam keputusan penting.
Jika melihat keluarga dalam kepentingannya sebagai lembaga pendidikan Islam informal, maka peran keluarga untuk mencapai tujuan pendidikan Islam masih jauh dari optimal. Meski Indonesia negara mayoritas muslim, akan tetapi
11Al Rasyidin, “Pengembangan Pendidikan Agama…, hlm. 36.
12Sandang, pangan dan papan.
85
tidak semua keluarga muslim menjadikan tujuan pendidikan Islam sebagai tujuan keluarga.
Oleh sebab itu, berdasarkan pemaparan yang ada, maka ada beberapa peran lembaga pendidikan Islam informal dalam kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM), yakni; (1)menjaga/memelihara ketersediaan SDM;
(2)mempengaruhi terbentuknya ideologis dasar (permasalahan kesamaan akidah, visi, cita-cita); (3)mempengaruhi terbentuknya watak dan sikap dasar (permasalahan kesamaan gairah dalam beraktifitas, dan kemampuan edukatif);
(4)mempengaruhi kesiapan fisik (permasalahan ekonomi); (5)mempengaruhi kesiapan mental/psikis (permasalahan kepercayaan diri). Dengan demikian, setiap keluarga berperan dan bertanggung jawab dalam menjaga, memelihara keutuhan keluarga. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tahrim:6
اَهُّي َ أَٰٓ َي َي ِ لَّذِ
اَهُدوُقَو اٗراَن ۡمُكيِلۡه َ ٱ
أَو ۡمُك َسُفن َ
أ ْ آوُق ْ اوُنَناَء ُاالَّذِٱ
ُ َراَ ِ ۡ َو ٞظ َلَِغ ٌةَكِئَٰٓ َلَن اَهۡيَلَع ٱ
َنو ُصۡعَي لَّذِ
لَّ ٞداَدِش َ لَّذِٱ
َنوُرَمۡؤُ اَن َنوُلَعۡفَيَو ۡمُهَرَم َ أ ٓاَن ٦
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
E. Peran Lembaga Pendidikan Islam Nonformal.
Masyarakat sebagai domain lembaga pendidikan nonformal berakibat pada banyaknya kemungkinan lembaga yang tergolong ke dalam jenis lembaga ini. Luasnya golongan yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat memerlukan suatu kesepakatan untuk memudahkan analisanya.
Oleh sebab itu, digunakan asumsi yang telah disepakati sebelumnya.
Dimana, lembaga pendidikan nonformal adalah lembaga pendidikan yang domainnya bukan sebatas rumah tangga dan tidak termasuk kategori sekolah formal (pesantren, sekolah, madrasah, dan pendidikan tinggi). Meski demikian, asumsi tersebut masih luas namun sudah jelas perbedaanya dengan domain bentuk lembaga pendidikan lainnya.
Setidaknya, diperlukan suatu kesepakatan yang dijadikan dasar agar diperoleh kesamaan persepsi tentang peran lembaga pendidikan nonformal ini.
86
Dalam hal ini, fungsi masyarakat sebagai lembaga dapat menjadi kesepakatan yang mengungkapkan perannya dalam pendidikan.
Untuk itu, penulis mengutip pendapat Soerjono Soekanto13 yang menyatakan bahwa ada 3 fungsi lembaga kemasyarakatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia yakni ;
1. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah-laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan;
2. Menjaga keutuhan masyarakat; dan
3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (sosial controli). Artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah-laku anggota-anggotanya.
Berdasarkan fungsi tersebut, dapat kita sepakati bahwa salah satu peran masyarakat sebagai lembaga pendidikan Islam nonformal adalah memberikan pedoman pada anggota lembaga pendidikan Islam. Tentunya, pedoman yang berlaku adalah pedoman yang sesuai dengan pedoman yang dipakai dalam pendidikan Islam. Setidaknya, dominasi pedoman yang dipakai dalam pendidikan Islam akan lebih jelas.
Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan Islam nonformal dalam kaitannya untuk menghasilkan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif dapat berupa pedoman yang akan mendidik anggota masyarakat tentang tingkah laku atau sikap dalam menghadapi masalah. Dengan adanya pedoman sebagai hasil dan/atau dampak dari fungsi kelembagaan masyarakat, maka setidaknya lembaga kemasyarakat memiliki peran dalam membentuk SDM yang terlatih dengan ketentuan/kesepakatan yang berlaku di masyarakat.
Istilah yang sering digunakan terkait pedoman yang berlaku di masyarakat adalah norma.
Secara sosiologis, ada 4 pengertian norma yang dikenal14 di masyarakat yakni; cara, kebiasaan, tata kelakukan (perilaku), dan adat istiadat. Masing-
13Soerjono Soekanto, Sosiologi : Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1990), hlm. 219.
14Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar…, hlm. 220.
87
masing pengertian norma tersebut dianggap memiliki dasar yang sama namun memiliki perbedaan tingkat kekuatan memaksa individu untuk melaksanakannya. Sebagai contoh; cara adalah pengertian norma yang menunjukkan suatu bentuk aktivitas perbuatan melakukan sesuatu, namun tidak terlalu mengikat pada setiap individu untuk melakukannya. Akan tetapi, adat istiadat yang juga dianggap sebagai bentuk aktivitas perbuatan melakukan sesuatu, mengikat individu untuk melakukannya. Perbedaan tingkat kekuatan mengikat inilah yang membedakan cara dan adat istiadat.
Peran lain masyarakat sebagai lembaga pendidikan Islam nonformal juga dapat dilihat dari fungsinya untuk menjaga keutuhan komunitasnya. Peran ini dianggap sebagai tindakan survive (bertahan hidup) terhadap kemungkinan hal yang dapat mengancam keutuhan masyarakat itu sendiri. Sebagai dampak dari fungsi kelembagaan masyarakat tersebut, setiap individu yang terlibat dalam interaksi sosial kelembagaan masyarakat juga akan terlatih untuk turut bertindak survive dalam keadaan yang sesuai. Hingga mampu menumbuhkan jiwa kompetitif.
Selain itu, fungsi social control yang ada pada domain lembaga pendidikan Islam informal yaitu masyarakat, akan berdampak pada pembentukan SDM yang menyadari pentingnya pengawasan agar tujuan tercapai sesuai rencana.
Dampak yang diharapkan dari fungsi ini adalah tumbuhnya moralitas SDM (mawas diri) yang didasari atas rasa kesadaran kepentingan bersama.
Berdasarkan pemaparan-pemaparan tentang peran lembaga pendidikan Islam nonformal tersebut, maka dapat disepakati bahwa terdapat beberapa peran dalam kaitannya dengan sumber daya manusia (SDM), yakni;
(1)mempengaruhi watak dan sikap dasar sekaligus ideologis SDM(dampak dari fungsi pemberian pedoman); (2)mempengaruhi terbentuknya jiwa kompetitif dan kooperatif (dampak dari fungsi upaya menjaga keutuhan masyarakat); dan (3)mempengaruhi pembentukan moral sosial-kultural (dampak dari adanya fungsi social control).
88 F. Peran Lembaga Pendidikan Islam Formal.
Asumsi yang digunakan untuk melihat suatu lembaga pendidikan formal adalah sisi legalitas aturan hukum yang berlaku dan menempatkan lembaganya sebagai suatu aktifitas formal. Oleh sebab itu setidaknya terdapat 4 kelompok yang termasuk dalam kelompok lembaga pendidikan Islam Formal ini, yaitu; madrasah, pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi.
1. Madrasah.
Menurut Haidar15, madrasah adalah lembaga pendidikan Islam yang tumbuh sejak masuknya ide-ide pembaruan pemikiran Islam di Indonesia pada awal abad ke dua puluh. Namun, saat ini madrasah sudah dianggap sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam.
Ada 3 bentuk umum madrasah di Indonesia, yakni; madrasah ibtidaiyah (setingkat SD), madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), dan madrasah aliyah (setingkat SMA/SMK). Yang membedakan madrasah dengan lembaga lainnya adalah materi bahan ajar yang diberikan berupa pengetahuan dasar tentang agama Islam sebagai bekal pengetahuan dan moral keagamaan. Bahan ajar agama Islam yang ada tidak seluas materi di Pesantren namun lebih luas jika dibanding pendidikan Agama Islam di Sekolah. Meski demikian madrasah juga mengajarkan pengetahuan umum sebagai bagian dari pengetahuan dasar pula. Mata pelajaran akidah akhlak pada madrasah diharapkan sebagai bahan dasar pembentukan pengetahuan moral keagamaan.
Sejarah awal mula timbulnya madrasah, menunjukkan adanya kebutuhan akan lembaga yang dibentuk untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Oleh sebab itu, peran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam formal adalah (1)menyediakan kebutuhan pengetahuan dasar dan menengah pendidikan Agama Islam; (2)memberikan pendidikan karakter SDM yang memiliki moral keagamaan.
15Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia…, hlm. 26.
89 2. Pesantren.
Seiring waktu, pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang juga sudah mulai mengalami perkembangan. Dahulu (zaman penjajahan/pra kemerdekaan hingga sebelum era reformasi), pesantren yang ada di Indonesia termasuk ke dalam jenis pesantren salafi (tradisional).
Namun seiring waktu, telah banyak berdiri pesantren dengan konsep baru yang sering disebut pesantren khalafi (modern). Perbedaan keduanya terlihat pada, keadaan pesantren salafi yang terkonsentrasi pada pengajaran kitab- kitab klasik dan nonklasik sedangkan pesantren khalafi menjadikan kurikulum sebagai pedoman, manajemen lembaga dan metode pembelajaran yang diperbaharui dari metode pengajaran di pesantren salafi.
Perbedaan utama antara madrasah dengan pesantren, terletak pada kedalaman kajian dan keluasan materi yang diajarkan di pesantren yang lebih luas dibanding di madrasah. Meskipun sama-sama berkonsentrasi pada kajian keagamaan.
Hal ini juga memberikan pengaruh yang berbeda terhadap peran masing-masing jenis pesantren dalam menghasilkan sumber daya manusia.
Ketiadaan atau kurangnya pengajaran ilmu-ilmu umum pada pesantren salafi dapat berakibat pada lemahnya kompetensi alumni pesantren salafi di bidang pengetahuan umum. Namun demikian, jika melihat peran pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam formal, maka dapat dilihat bahwa pesantren berperan untuk membentuk kompetensi SDM yang baik dalam bidang pengetahuan agama.
Selain itu, dahulu pesantren berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat gerakan pengembangan Islam sebagaimana menurut Dr. Soebardi dan Prof.
Johns yang dikutip oleh Zamaksyari Dhofier:
Lembaga-lembaga pesantren itulah yang paling menentukan watak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling penting bagi penyabaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Dari lembaga- lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam di Asia Tenggara yang tersedia secara terbatas, yang dikumpulkan
90
oleh pengembara-pengembara pertama dari perusahaan-perusahaan dagang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini.16
Pendapat tersebut mencoba menyampaikan kepada kita bahwa dahulunya, pesantren memiliki peran yang sangat crusial sebagai lembaga pendidikan Islam yang utama dalam mengembangkan pendidikan Islam.
Meski mengingat kondisi hukum dan politik saat itu, pesantren bukanlah lembaga pendidikan formal yang diakui penguasa/penjajah. Tapi sifat kelembagaannya menempatkannya menjadi bagian dari lembaga pendidikan Islam formal.
Situasi dan kondisi pesantren (khususnya salafi), menjadi suatu nilai khusus yang mampu membentuk kepribadian yang jauh dari pengaruh masyarakat luas. Kehidupan berasrama atau mondok dalam waktu 3 atau 6 tahun (bahkan ada yang lebih) di usia antara 12-18 tahun adalah keadaan yang akan memberi kesan mendalam tentang proses pembentukan karakter yang mandiri dan memiliki jiwa kesadaran yang tinggi. Kehidupan sosial yang tidak akan didapati pada sekolah umum biasanya.
Berdasarkan pemaparan yang ada, maka peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam formal adalah: (1)sebagai lembaga yang berperan dalam penyebaran agama Islam dan menyiapkan SDM (seperti: da’i) yang mampu mengemban misi penyebaran ajaran agama Islam; (2)menyiapkan SDM dengan kemampuan kompetensi keagamaan yang baik; (3)menjadi wadah pembentukan SDM yang mandiri dan memiliki jiwa kesadaran yang tinggi.
3. Sekolah.
Yang dimaksud dengan “sekolah” dalam sub bahasan ini bukanlah istilah yang sifatnya umum. Sekolah disini bermakna sebagai lembaga pendidikan berjenjang (dasar, menengah pertama, dan menengah atas) dan
16Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1983), hlm. 17-18.
91
terstruktur, dimana kompetensi kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis non-agama (sains) dianggap sebagai tujuan dasar.
Dengan kata lain, perbedaan utama antara sekolah dengan pesantren/madrasah adalah konsentrasi bahan ajar sekolah yang mengedepankan materi pengetahuan umum. Pendidikan Agama Islam di sekolah tidak memiliki kuantitas yang cukup. Hal ini ditandai dengan minimnya jumlah jam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan Islam formal tetap memiliki peran meski dengan sedikitnya jumlah jam mata pelajaran Agama Islam.
Setidaknya, sekolah masih tetap mengajarkan pendidikan Agama Islam dan sering menjadikannya sebagai ukuran pengetahuan anak didik yang merepresentasikan moral anak didik itu sendiri.
Berdasarkan pemaparan yang ada, maka disimpulkanlah peran sekolah. Oleh sebab itu, peran sekolah sebagai lembaga pendidikan Islam formal adalah (1)menyediakan pengetahuan dasar yang dianggap penting tentang ajaran Agama Islam sesuai kurikulum pendidikan nasional;
(2)mempengaruhi pembentukan moral SDM melalui pengajaran Agama Islam.
4. Perguruan Tinggi.
Fokus dalam kajian ini tentunya adalah perguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta dan fakultas pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi non keagamaan Islam. Sebab, yang termasuk dalam kategori lembaga pendidikan Islam formal dengan sub domain perguruan tinggi adalah perguruan tinggi yang menjadikan pendidikan Agama Islam sebagai bagian dari fokus lembaganya.
Ada tiga fungsi utama perguruan tinggi, yang dikenal dengan nama Tri Dharma Perguruan Tinggi. Fungsi pertama adalah fungsi pendidikan dan pengajaran. Fungsi kedua adalah fungsi penelitian. Fungsi ketiga adalah fungsi pengabdian kepada masyarakat. Berdasarkan fungsi utama perguruan tinggi tersebut, kita dapat melihat peran apa saja yang dimainkan oleh perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan Islam formal atau apa
92
saja dampak fungsi utama perguruan tinggi dalam kaitannya sebagai lembaga pendidikan Islam formal.
Gagasan penulis terhadap peran perguruan tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam formal untuk menghasilkan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif dan mengingat adanya 3 fungsi utama perguruan tinggi dapat kita lihat dalam tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 1.1
Peran Perguruan Tinggi sebagai Lembaga Pendidikan Islam untuk menghasilkan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif.
Fungsi Utama
Perguruan Tinggi Peran Perguruan Tinggi sebagai Lembaga Pendidikan Islam
Fungsi Pendidikan dan Pengajaran
a. Membentuk kompetensi SDM yang ahli sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka tekuni.
b. Melatih, mengasah dan mengembangkan minat, kompetensi dan bakat SDM kearah
profesionalisme
c. Mempengaruhi SDM untuk memperkuat jiwa kompetitif dalam situasi yang lebih kompleks dari jenjang pendidikan sebelumnya.
d. Membentuk SDM dengan ekstra skill seperti;
penguasaan bahasa asing, penguasaan teknologi, budaya kerja sama yang baik, dan sebagainya
Fungsi Penelitian
a. Membentuk SDM yang terampil sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka tekuni.
b. Melatih kemampuan SDM dalam menjalin kerja sama yang baik.
Fungsi Pengabdian kepada Masyarakat
a. Membentuk SDM yang memiliki moralitas sosial.
b. Melatih kesiapan mental SDM dalam realitas lapangan pekerjaan.
G. Peran Lembaga Pendidikan Islam dalam menghadapi MEA dan permasalahannya.
Seperti yang dipaparkan pada sub bahasan sebelumnya, lembaga pendidikan Islam dapat menunjukkan peran yang mencukupi kebutuhan perubahan zaman. Demikian juga halnya dengan era masyarakat ekonomi asean, lembaga pendidikan Islam yang ada tetap memberikan kontribusi yang cukup dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil,
93
cerdas dan kompetitif. Bahkan lembaga pendidikan Islam mampu melebihi kebutuhan yang dibutuhkan.
Adapun peran lembaga pendidikan Islam sesuai dengan domainnya dan perannya dalam memenuhi kebutuhan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif sudah disajikan dalam sub bahasan sebelumnya. Jika disajikan dalam suatu sistematika penyajian (yakni; tabel), akan diperoleh hasil sebagai berikut ini;
Tabel 1.2
Peran Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Bentuk Lembaga
Pendidikan Domain Peran LPI terkait SDM
Informal Rumah
Tangga
a. Menjaga/memelihara ketersediaan SDM;
b. Mempengaruhi terbentuknya ideologis dasar (permasalahan kesamaan akidah, visi, cita- cita);
c. Mempengaruhi terbentuknya watak dan sikap dasar
(permasalahan kesamaan gairah dalam beraktifitas, dan kemampuan edukatif);
d. Mempengaruhi kesiapan fisik (permasalahan ekonomi);
e. Mempengaruhi kesiapan mental/psikis (permasalahan kepercayaan diri)
Nonformal Masyarakat
a. Mempengaruhi watak dan sikap dasar sekaligus ideologis SDM
(dampak dari fungsi pemberian pedoman);
b. Mempengaruhi terbentuknya jiwa kompetitif dan kooperatif
(dampak dari fungsi upaya menjaga keutuhan masyarakat); dan
c. Mempengaruhi pembentukan moral sosial- kultural
(dampak dari adanya fungsi social control)
Formal Sekolah
Formal
a. Peran Madrasah; peran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam formal adalah (1)menyediakan kebutuhan pengetahuan dasar dan menengah pendidikan Agama Islam; (2)memberikan pendidikan karakter SDM yang memiliki moral keagamaan b. Peran Pesantren; (1)sebagai lembaga yang
berperan dalam penyebaran agama Islam dan menyiapkan SDM (seperti: da’i) yang mampu mengemban misi penyebaran ajaran agama Islam; (2)menyiapkan SDM dengan
94
kemampuan kompetensi keagamaan yang baik; (3)menjadi wadah pembentukan SDM yang mandiri dan memiliki jiwa kesadaran yang tinggi.
c. Peran Sekolah; (1)menyediakan pengetahuan dasar yang dianggap penting tentang ajaran Agama Islam sesuai kurikulum pendidikan nasional; (2)mempengaruhi pembentukan moral SDM melalui pengajaran Agama Islam d. Peran Perguruan Tinggi (Tabel 1.1)
Kemudian, jika kita melihat kebutuhan SDM yang diisyaratkan untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, terdapat 3 syarat. 3 (tiga) syarat dimaksud adalah : (1) SDM yang terampil; (2)SDM yang cerdas; (3) SDM yang kompetitif.
Agar kebutuhan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif dapat terpenuhi, maka solusi yang dapat dijadikan opsi adalah dengan cara melibatkan setiap bentuk lembaga pendidikan Islam yang ada. Mulai dari lembaga pendidikan Islam informal, lembaga pendidikan Islam nonformal, hingga lembaga pendidikan Islam formal. Namun, bukan tidak mungkin peran salah satu lembaga pendidikan Islam yang ada juga mampu memenuhi kebutuhan tersebut selama peran yang ada benar-benar memberikan proses yang menghasilkan output dan dampak yang sesuai.
Melihat tabel 1.2, peran lembaga pendidikan Islam dan syarat SDM yang perlu disiapkan untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean, peran lembaga pendidikan Islam sangatlah ideal. Oleh sebab itu, peran lembaga pendidikan Islam bukan hal yang bisa diabaikan.
Namun jika melihat sisi realitasnya, masih terdapat permasalahan berikut ini:
1. Meskipun jumlah lembaga pendidikan Islam terus bertambah, akan tetapi kualitas SDM yang dihasilkan masih dipertanyakan17;
2. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam belum menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pilihan utama, bahkan
17 Haidar Putra Daulay, op.cit, hlm.69.
95
hingga domain keluarga (pendidikan informal) dan domain masyarakat (pendidikan nonformal).
3. Adanya semacam keraguan terhadap kualitas SDM lembaga pendidikan Agama Islam yang dianggap kurang menguasai ilmu pengetahuan umum (sains).
H. Penutup.
Lembaga pendidikan Islam memiliki tiga bentuk yang diklasifikasikan berdasarkan domain aktifitasnya. Pertama, lembaga pendidikan Islam informal yang berlangsung di rumah tangga. Kedua, lembaga pendidikan Islam nonformal yang berlangsung di masyarakat. Ketiga, lembaga pendidikan Islam formal yang berlangsung di Sekolah (madrasah, pesantren, sekolah umum, dan perguruan tinggi).
Peran lembaga pendidikan Islam sesuai bentuk-bentuk yang ada tidak sama. Domain aktivitas/interaksi sosial lembaga pendidikan Islam mengakibatkan adanya perbedaan peran dari setiap bentuk lembaga pendidikan Islam yang ada.
Dalam kajian ini, keberhasilan peran-peran tersebutlah yang diharapkan menjadi bagian dari upaya untuk menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asean. Dimana pada era Masyarakat Ekonomi Asean dibutuhkan adanya sumber daya manusia (SDM) yang terampil, cerdas dan kompetitif.
Seyogyanya, jika gagasan ideal tentang peran lembaga pendidikan Islam yang ada berfungsi dengan baik, maka permasalahan kebutuhan akan SDM yang terampil, cerdas dan kompetitif akan terpenuhi. Sehingga perubahan zaman yang terjadi seperti Era Masyarakat Ekonomi Asean akan dengan mudah dihadapi. Meski tidak dipungkiri, masih ada permasalahan yang belum terselesaikan secara baik (kualitas output lembaga pendidikan Islam, kurangnya minat masyarakat untuk menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai pilihan, dan asumsi tentang kualitas SDM lembaga pendidikan Islam yang dianggap hanya berkompetensi penuh di bidang keagamaan saja).
96
DAFTAR PUSTAKA
Al Rasyidin, “Pengembangan Pendidikan Agama dalam Keluarga (Sebuah Renungan bagi Orangtua)”, dalam Syafaruddin (Ed), Pendidikan dan Transformasi Sosial, Medan: Citapustaka Media Perintis, 2009.
Daulay, Haidar Putra, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Dhofier, Zamaksyari, Tradisi Pesantren Jakarta: LP3ES, 1983.
http://diktis.kemenag.go.id/bansos/cari_nspt.php, diakses pada Diakses pada tanggal 5 Februari 2015. 16:15 wib.
http://forlap.dikti.go.id/perguruantinggi/homegraphpt, Kategori PT:Negeri, Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Kementrian Riset dan Perguruan Tinggi, 2015. Diakses pada tanggal 5 Februari 2015. 16:07 wib.
http://kangmahfudz.blog.com/2013/11/21/fungsi-dan-peran-lembaga- pendidikan/, diakses pada jam 13.40 tanggal 24 Desember 2015.
http://kbbi.web.id/lembaga, diakses pada 13.12 wib, 24 Desember 2015.
http://www.nu-tapsel.rizalubis-web.com/2014/11/prof-syekh-h-ali-hasan- ahmad-addary.html, diakses pada pukul 11.45 wib, 24 Desember 2015.
https://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_Ekonomi_ASEAN, diakses pada pukul 12.25 wib, 24 Desember 2015.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi: Suatu Pengantar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1990.