• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. A. Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. A. Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Putusan

1. Pengertian Pertimbangan Hakim

Salah satu aspek yang sangat penting agar dapat terwujud nilai dalam suatu putusan yang memuat keadilan serta adanya kepastian hukum ialah pertimbangan hakim. Dimana pertimbangan hakim ini dapat memiliki manfaat bagi pihak yang bersangkutan maka hakim harus teliti dan cermat, jika tidak maka pertimbangan dari hakim tersebut dapat dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.

Hakim sebagai pejabat yang memimpin suatu persidangan haruslah bersikap adil dalam memutuskan sebuah perkara. Keputusan yang diambil hakim haruslah mengandung kepastian hukum, manfaat serta keadilan bagi seluruh pihak yang bersangkutan. Namun, apabila hakim tidak mengolah pertimbangan hukum secara tepat Mahkamah Agung dapat membtalkan pertimbangan hukum tersebut. Dalam pemeriksaan suatu perkara, seorang hakim memerlukan bukti yang akan dipergunakan untuk menjadi objek pertimbangan memutuskan sebuah perkara.

Selain itu, pada hakikatnya pertimbangan hakim hendaknya juga memuat tentang hal-hal sebagai berikut :

a. Akar masalah

b. Fakta yang terbukti di sebuah persidangan yang di analisa yuridis

(2)

12

c. Dalam menarik kesimpulan dalam amar putusan, hakim haruslah mempertimbangkan petitum dari penggugat secara teliti

2. Dasar Pertimbangan Hakim

Dalam mengadili suatu perkara, putusan hakimlah yang merupakan puncak klimaks. Dalam memberikan keputusan, hakim menimban antara lain :

a. Keputusan mengenai peristiwa yang terjadi, dalam tuduhan yang dituduhkan apakah benar terdakwa melalukannya

b. Keputusan mengenai hukum yang diberikan, perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa apakah sebuah tindak pidana, dan apakah terdakwa bersalah dan dapat dikenai pidana

c. Keputusan mengenai pidana yang diberikan, apabila terdakwa memang benar dapat dipidana.5

Disebutkan dalam Pasal 8 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman bahwa :

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut,dan atau dihadapkan dimuka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya pututsan pengadilan dan menyatakan kesalahannya dan memperoleh keuatan hukum tetap”

Dan pada pasal 1 butir 11 KUHAP menyebutkan bahwa:

5 Sudarto. Hukum dan Hukum Pidana. Alumni. Bandung. 1986. hlm 74

(3)

13

“Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini”

Sebuah putusan dapat dikatakan sah dan berkekuatan hukum tetap bila di kemukakan di sidang yang terbuka. Syarat hakim agar sebuah putusan tersebut dikatakan sah ialah harus didasarkan pada berbagai pertimbangan yang dapat diterima oleh semua pihak serta tidak melenceng dari kaidan hukum yang berlaku, yang disebut dengan pertimbangan hukum atau legal reasoning. Dalam merumuskan pertimbangan hukum, hakim harus bijar, teliti, dan sistematik. Hal- hal yang dalam pertimbangan hakim harus berisi fakta peristiwa, fakta hukum, penerapan norma hukum baik dalam hukum positif, hukum kebiasaan, yurisprudensi, serta teori hukum dll yang berdasar pada aspek dan metode penafsiran hukum.

Pada Pasal 193 ayat 1 KUHAP yang menentukan Pemutusan pemidanaan berisi tentang:

“jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana. Seorang hakim haruslah independen, tidak memihak kepada siapapun juga, dalam persidangan semuanya diperlakukan sama.”

(4)

14

Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dalam mengadili suatu perkara tugas hakim ialah mengadili perkara dengan menegakkan keadilan serta hukum yang berlaku dan bersikap adil serta tidak terpengaruh oleh pihak manapun. Pada Pasal 24 UUD Negara RI Tahun 1945 termuat tentang jaminan kebebasan untuk melaksanakan peradilan dalam menegakkan hukum serta keadilan. Dalam menjatuhkan suatu putusan, hakim memiliki pertimbangan antara lain :

1) Pertimbangan yuridis

Menurut Rusli Muhammad Pertimbangan hakim secara yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yuridis yang terungkap dalam persidangan dan oleh Undang-Undang ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan misalnya dakwaan jaksa penuntut umum, keterangan terdakwa, keterangan saksi, barang-barang bukti, dan pasal-pasal dalam peraturan hukum pidana. Pertimbangan hakim secara yuridis didasarkan atas fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan.

Fakta-fakta hukum diperoleh selama proses persidangan yang didasarkan pada kesesuaian dari keterangan saksi, keterangan terdakwa mapun barang bukti yang merupakan satu rangkaian. Fakta hukum ini kemudian oleh hakim menjadi dasar pertimbangan yang berhubungan dengan apakah perbuatan terdakwatelah memenuhi seluruh unsur tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Unsur-unsur ini akan menunjukkan jenistindakpidana yang telah dilakukan.

(5)

15

Pertimbangan hakim yuridis juga berkaitan dengan berat ringannya pidana yang dijatuhkan, lamanya ancaman pidana dan bentuk dari pidana jenis pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa selain itu Pertimbangan yuridis adalah pertimbangan yang didasarkan dari sudut pandang hukum yang menjadi dasar sebelum memutus perkara, hakim akan menarik fakta-fakta dalam proses persidangan yang merupakan konklusi komulatif dari keterengan para saksi, keterangan terdakwa dan barang bukti. Fakta-fakta yang dihadirkan dalam persidangan, biasanya berorientasi dari lokasi, waktu kejadian, dan modus operandi tentang bagaimana tindak pidana dilakukan dan juga melihat bagaimana akibat yang ditimbulkan. Pertimbangan hakim dalam putusan hakim harus mengetahui aspek teoritik, pandangan doktrin, yurisprudensi, dan posisi kasus yang ditangani. atau memperberatkan terdakwa6

Dalam pasal 340 KUHP, hakim dapat membuktikan dakwaan tersebut dengan melihat Pasal 183 KUHAP yang mengatur bahwa untuk menentukan pidana kepada terdakwa, kesalahannya harus terbukti dengan sekurang- kurangnya dua alat bukti yang sah; dan atas keterbuktian dengan sekurang- kurangnya dua alat bukti yang sah tersebut, hakim memperoleh keyakinan bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Hakim juga dapat mrmbuktikan dakwaan dengan 5 alat bukti yang tercantum dalam Pasal 184 ayat 1 KUHAP yaitu Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Petunjuk, dan Keterangan terdakwa.

6 Salvadoris Pieter dan Erni Dwita Silambi, “Pembuktian Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berancana Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana”, Jurnal Restorative Justice, Vol.3 No. 1 (Mei, 2019), 88-89

(6)

16 2) Pertimbangan sosiologis

Kepastian hukum menekankan agar hukum atau peraturan ditegakan sebagaimana yang diinginkan oleh bunyi hukum/peraturannya. Fiat Justitia et pereat mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Adapun nilai sosiologis menekankan kepada kemanfaatan bagi masyarakat. Didalam memutus sebuah perkara dan mempertimbangkan layak tidaknya seseorang dijatuhi pidana seorang hakim didasarkan oleh keyakinanhakim dan tidak hanya berdasarkan bukti–bukti yang ada.

Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Pasal 5 ayat (1) “tentang kekuasaan kehakiman” menyatakan bahwa “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

ketentuan ini dimaksudkan agar putusan hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat”.7 Jadi, hakim merupakan perumus dan penggali nilai- nilai hukum yang hidup di kalangan rakyat. Oleh karena itu, ia harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Dalam menentukan putusan yang diberikan kepadanya, perkara pidana tersebut tidak terlepas dari sistem pembuktian negatif (negative wetterlijke), yaitu suatu perbuatan dapat dikatakan terbukti dengan adanya alat-alat bukti serta keyakinan seorang hakim dengan landasan integritas moral yang baik.

7 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 5 ayat (1).

(7)

17 B. Putusan Pengadilan

1. Pengertian Putusan Pengadilan

Seperti yang dipaparkan pada Pasal 178 HIR, Pasal 189 RB dalam Undang – Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman hakim akan melaksanakan musyawarah guna mengambil putsan yang di jatuhkan apabila pemeriksaan tersebut telah selesai. Pemeriksaan akan dikatakan selesai jika telah melewati tahap jawaban dari tergugat, replik dari penggugat, serta duplik tergugat yang selanjutnya ialah tahap pembuktian dan konklusi,\. Setelah selesai, pemeriksaan akan ditutup dan setelahkan akan dilakukan penjatuhan putusan.

Dalam penjatuhan putusan inilah hakim perlu musyawarah tentang apa yang akan dijatuhkan kepada pihak yang berperkara.

Putusan pada uraian ini adalah putusan peradilan tingkat pertama. Dan memang tujuan akhir proses pemeriksaan perkara di Peradilan Agama, diambilnya suatu putusan oleh hakim yang berisi penyelesaian perkara yang disengketakan.

Berdasarkan putusan itu, ditentukan dengan pasti hak maupun hubungan hukum para pihak dengan objek yang disengketakan. Sehubungan dengan itu, dapat dikemukakan berbagi segi yang berkaitan dengan putusan. Setelah pemeriksaan perkara yang meliputi proses mengajukan gugatan penggugat, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat, pembuktian dan kesimpulan yang diajukan baik oleh penggugat maupu oleh tergugat selesai dan pihak-pihak yang berperkara

(8)

18

sudah tidak ada lagi yang ingin dikemukakan, maka hakim akan menjatuhkan putusan terhadap perkara tersebut.8

1. Asas Putusan

Dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2004 dijelaskan bahwa asas harus ditegakkan agar sbuah putusan tidak mengandung kecacatan antara lain :

1) Wajib Mengadili Seluruh Bagian Gugatan Asas kedua, digariskan dalam Pasal 178 ayat (2) HIR, Pasal 189 ayat (2) RBG, dan Pasal 50 Rv.

2) Tidak diperbolehkan untuk mengabulkan lebih dari tuntutan 3) Harus di ucapkan di muka umum atau terbuka 9

C. Pengertian dan Jenis Tindak Pidana Pembunuhan dalam KUHP 1. Pengertian Pembunuhan

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta mengemukakan bahwa

“membunuh artinya membuat supaya mati, menghilangkan nyawa, sedangkan pembunuhan berarti perkara membunuh, perbuatan atau hal membunuh”10

Dalam Pasal 338 KUHP, menyebutkan pengertian pembunuhan yaitu

“barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain dipidana karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahum”.

8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Pasal 5 ayat (1).

9 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h.797

10 W.J.S Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2006, hlm. 194

(9)

19

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, kesengajaan menghilangkan nyawa orang lain termasuk sebagai suatu pembunuhan. Dapat dikatakan sengaja, apabila seorang pelaku melakukan tindakan atau suatu kegiatan yang akhirnya berakibat hilangnya nyawa atau meninggalnya orang lain.

Tindak pidana pembunuhan merupakan delik materil dimana itik beratnya pada akibat yang dilarang, delik ini dianggap selesai jika akibatnya sudah terjadi, bagaimana cara melakukan perbuatan itu tidak menjadi masalah. Seperti hal nya pada pasal 338, yang terpenting ialah matinya seseorang, yang caranya dapat digorok, dipukul, ditembak, dan sebagainya. Maka, belum dikatan suatu tindak pidana apabila belum berakibat meninggalnya orang lain.

2. Jenis-Jenis Pembunuhan yang Diatur dalam KUHP

Pada Bab XIX KUHP pasal 338 sampai dengan pasal 350 KUHP termuat ketetapan pidana berupa kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja. Kejahatan tersebut kategorikan sebaagain pembunuhan, antara lain :

1) Pembunuhan biasa

Terdapat pada pasal 338 KUHP yang berisi :

“barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”

Terdapat dalam pasal 338 KUHP yang dimana menurut P.A.F. Lamintang, tindak pidana yang diatur dalam merupakan tindak pidana dalam bentuk pokok

(10)

20

(Doodslag In Zijn Grondvorm), yaitu semua unsur-unsurnya telah dirumuskan secara rinci didalam delik.11

2) Pembunuhan terkualifikasi

Terdapat pada pasal 339 KUHP yang berisi :

“Pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului oleh kejahatan dan yang dilakukan dengan maksud untuk memudahkan perbuatan itu, jika tertangkap tangan, untuk melepaskan diri sendiri atau pesertanya daripada hukuman, atau supaya barang yang didapatkannya dengan melawan hukum tetap ada dalam tangannya, dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun”.

Perbedaan pasal ini dengan pasal 338 KUHP yakni terdapat unsur diikuti, disertai atau didahului oleh kejahatan. Maksud dari diikuti ialah melakukan pebunuhan yang setelahnya akan dibarengi kejahatan lainnya.

3) Pembunuhan yang direncanakan

Terdapat pada pasal 340 KUHP yang berisi :

“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama duapuluh tahun”

Unsur yang terdapat pada pembunuhan berencana ini adalah unsur subyektifnya berupa dilakukan dengan sengaja dan direncanakan terlebih dahulu,

11 P.A.F. Lamintang, Delik-delik Khusus, Bina Cipta, Bandung, 1986, hlm. 39

(11)

21

sedangkan unsur objektifnya berupa menghilangkan nyawa orang lain. Menurut M. Sudradjat Bassar, jika unsur-unsur di atas telah terpenuhi, dan seorang pelaku sadar dan sengaja akan timbulnya suatu akibat tetapi ia tidak membatalkan niatnya, maka ia dapat dikenai Pasal 340 KUHP.12

4) Pembunuhan yang dilakukan dengan permintaan oleh korban Terdapat pada pasal 344 KUHP yang berisi :

“Barangsiapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun”.

Pada pasal ini memiliki unsur khusus yakni, atas permintaan yang jelas dan sungguh-sungguh. Tidak cukup hanya dengaan persetujuan belaka, karena hal itu tidak memenuhi perumusan pasal 344 KUHP

5) Pembunuhan tidak sengaja

Terdapat pada pasal 359 KUHP yang berisi :

“Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun”

Perbuatan tindak pidana tidak sengaja dilakukan ialah bentuk kejahatan yang akibatnya tidak diinginkan oleh pelaku. Hukuman yang di kenakan ialah

12 M. Sudradjat Bassar, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Dalam KUHP, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1986, hlm. 24.

(12)

22

pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.13

Menurut Saparinah, dilihat berdasar perilaku sosial perilaku menyimpang meruppakan perbuatan yang menyeleneh aturan dari lingkungan sosial yang bersangkutan dengan cara pengendalian menggunakan sanksi pidana.14

Andi Hamzah sendiri mengungkapkan pembalasan merupakan hakekat dari sanksi pidana, dan penjeraan yang diberikan kepada pelaku pelanggaran hukum itu sendiri merupakan tujuan dari sanksi pidana. Agar tidak terbentuk potensi menjati penjahat dan masyarakat akan merasa terlindung dari segala bentuk kejahatan.15

D. Penegakan Hukum Pidana

Penegakan hukum pidana merupakan sebuah solusi untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum pidana sebagai sebuah kenyataan, dimana melarang apa yang bertentangan dengan hukum (on recht) dan mengenakan penderitaan bagi pelanggar larangan itu..16

Menurut Andi Hamzah, istilah penegakan hukum sering disalah artikan seakanakan hanya bergerak di bidang hukum pidana atau di bidang represif.

Istilah penegakan hukum disini meliputi baik yang represif maupun yang preventif. Jadi kurang lebih maknanya sama dengan istilah Belanda

13 Pipin Syarifin, Hukum Pidana di Indonesia, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 62.

14 Ibid. hlm. 23

15 Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia, Pradya Paramita, Jakarta, 1989, hlm. 34

16 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 60

(13)

23

rechtshanhaving. Berbeda dengan istilah law enforcement, yang sekarang diberi makna represif, sedangkan yang preventif berupa pemberian informasi, persuasive, dan petunjuk disebut law compliance, yang berarti pemenuhan dan penataan hukum. Oleh karena itu lebih tepat jika dipakai istilah penanganan hukum atau pengendalian hukum.17

Satjipto Raharjo berpendapat bahwa usaha dalam mewujudkan ide suatu kepastian hukum, kemanfaatan sosial serta agar keadilan menjadi nyata merupakan hakikat suatu penegakan hukum. Atau dapat juga diartikan sebagai penyelenggaraan hukum oleh petugas yang bersangkutan dan setiap orang memiliki keperluan dan sesuai dengan kewenangan masing-masing menurut aturan yang berlaku. Maka, dapat disimpulkan bahwa penegakan hukum merupakan keserasihan antara nilai, kaidah, dan kaidah serta perilaku nyata manusia. Itulah yang menjadi patokan untuk perilaku atau tindakan yang dianggap pantas yang bertujuan untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian.18

Gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada ketidak serasian antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola prilaku. Gangguan tersebut timbul apabila terjadi ketidakserasian antara nilai-nilai yang berpasangan, yang menjelma dalam kaidah-kaidah yang simpang siur dan pola perilaku yang tidak terarah yang mengganggu kedamaian pergaulan hidup. Menurut Soerjono Soekanto penegakan hukum bukan semata-mata berarti pelaksanaan perundang-

17 Andi Hamzah. 2005. Asas-asas Penting dalam Hukum Acara Pidana. Surabaya : FH Universitas.

hlm. 2

18 Satjipto Raharjo, Hukum dan Masyarakat, Cetakan Terakhir, Angkasa, Bandung, 1980, hlm. 15

(14)

24

undangan. Walaupun dalam kenyataan di Indonesia kecenderungannya adalah demikian. Sehingga pengertian Law Enforcement begitu populer. Bahkan ada kecenderungan untuk mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksana keputusan-keputusan pengadilan. Pengertian yang sempit ini jelas mengandung kelemahan, sebab pelaksanaan peundang-undangan atau keputusan pengadilan, bisa terjadi malahan justru mengganggu kedamaian dalam pergaulan hidup masyarakat.19

E. Tujuan Pemidanaan

Dalam menjatuhkan atau memberikan pidana haruslah mengingat pedoman diantaranya terdapat tujuan pemidanaan.. Adapun tujuan pidana menurut Wirjono Prodjodikoro yaitu :

a. Untuk menakuti-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan baik secara menakut-nakuti orang banyak (generals preventif) maupun menakut-nakuti orang tertentu yang sudah melakukan kejahatan agar dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (speciale preventif); atau b. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang melakukan kejahatan

agar menjadi orang-orang yang baik tabiatnya sehingga bermanfaat bagi masyarakat.20

F. Teori Keadilan Hukum

Keadilan berasal dari kata adil, menurut Kamus Bahasa Indonesia adil adalah tidak sewenang-wenang, tidak memihak, tidak berat sebelah. Adil terutama

19 Soerjono Sukamto, Sendi-Sendi Ilmu Hukumdan Tata Hukum, Alumni, Bandung, 1982, hlm.5

20 Wirjono Prodjodikoro, Tindak Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia, P.T Eresco, Jakarta , 1980, hlm. 3.

(15)

25

mengandung arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas norma- norma objektif. Keadilan pada dasarnya adalah suatu konsep yang relatif, setiap orang tidak sama, adil menurut yang satu belum tentu adil bagi yang lainnya, ketika seseorang menegaskan bahwa ia melakukan suatu keadilan, hal itu tentunya harus relevan dengan ketertiban umum dimana suatu skala keadilan diakui. Skala keadilan sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, setiap skala didefinisikan dan sepenuhnya ditentukan oleh masyarakat sesuai dengan ketertiban umum dari masyarakat tersebut.21

Tertera jelas unsur keadilan Di Indonesia terdapat pada sila ke 5 Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dalam sila ke 5 tersebut mengandung makna untuk memiliki tujuan dalam hidup bermasyarakat secara adil. Adapun keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungannya manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan masyarakat, bangsa, dan negara, serta hubungan manusia dengan Tuhannya.22 Kata adil sendiri, juga dapat ditemikan pada pancasila yaitu sila kedua dan kelima, pembukaan UUD 1945 yaitu alinea II dan IV, serta GBHN 1999-2004 tentang visi.

Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan negara, yaitu mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya dan seluruh wilayahnya, mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut

21 M. Agus Santoso, Hukum,Moral & Keadilan Sebuah Kajian Filsafat Hukum, Ctk. Kedua, Kencana, Jakarta, 2014, hlm. 85.

22 Ibid, hlm. 86.

(16)

26

sebagai dasar dalam pergaulan antar negara sesama bangsa didunia dan prinsip- prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antarbangsa di dunia dengan berdasarkan suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa, perdamaian abadi, serta keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial).23

Aristoteles dalam karyanya yang berjudul Etika Nichomachea menjelaskan pemikiran pemikirannya tentang keadilan. Bagi Aristoteles, keutamaan, yaitu ketaatan terhadap hukum (hukum polis pada waktu itu, tertulis dan tidak tertulis) adalah keadilan. Dengan kata lain keadilan adalah keutamaan dan ini bersifat umum. Theo Huijbers menjelaskan mengenai keadilan menurut Aristoteles di samping keutamaan umum, juga keadilan sebagai keutamaan moral khusus, yang berkaitan dengan sikap manusia dalam bidang tertentu, yaitu menentukan hubungan baik antara orang-orang, dan keseimbangan antara dua pihak. Ukuran keseimbangan ini adalah kesamaan numerik dan proporsional. Hal ini karena Aristoteles memahami keadilan dalam pengertian kesamaan. Dalam kesamaan numerik, setiap manusia disamakan dalam satu unit. Misalnya semua orang sama di hadapan hukum. Kemudian kesamaan proporsional adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, sesuai kemampuan dan prestasinya.24

Aristoteles menekankan teorinya pada perimbangan atau proporsi.

Menurutnya di dalam negara segala sesuatunya harus diarahkan pada cita-cita yang mulia yaitu kebaikan dan kebaikan itu harus terlihat lewat keadilan dan

23 Ibid,hlmn 87

24 Hyronimus Rhiti, Filsafat Hukum Edisi Lengkap (Dari Klasik ke Postmodernisme), Ctk.

Kelima, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2015, hlm. 241.

(17)

27

kebenaran. Penekanan perimbangan atau proporsi pada teori keadilan Aristoteles, dapat dilihat dari apa yang dilakukannya bahwa kesamaan hak itu haruslah sama diantara orang-orang yang sama (J.H. Rapar, 1991 : 82). Maksudnya pada satu sisi memang benar bila dikatakan bahwa keadilan berarti juga kesamaan hak, namun pada sisi lain harus dipahami pula bahwa keadilan juga berarti ketidaksamaan hak.

Teori keadilan Aristoteles berdasar pada prinsip persamaan. Dalam versi modern teori itu dirumuskan dengan ungkapan bahwa keadilan terlaksana bila hal-hal yang sama diperlukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan secara tidak sama.

Aristoteles membedakan keadilan menjadi keadilan distributif dan keadilan komutatif. Keadilan distributif adalah keadilan yang menuntut bahwa setiap orang mendapat apa yang menjadi haknya, jadi sifatnya proporsional. Di sini yang dinilai adil adalah apabila setiap orang mendapatkan Keadilan distributif berkenaan dengan penentuan hak dan pembagian hak yang adil dalam hubungan antara masyarakat dengan negara, dalam arti apa yang seharusnya diberikan oleh negara kepada warganya. Hak yang diberikan dapat berupa benda yang tak bisa dibagi (undivided goods) yakni kemanfaatan bersama misalnya perlindungan, fasilitas publik baik yang bersifat administratif maupun fisik dan berbagai hak lain, di mana warga negara atau warga masyarakat dapat menikmati tanpa harus menggangu hak orang lain dalam proses penikmatan tersebut. Selain itu juga benda yang habis dibagi (divided goods) yaitu hak-hak atau benda-benda yang dapat ditentukan dan dapat diberikan demi pemenuhan kebutuhan individu pada warga dan keluarganya, sepanjang negara mampu untuk memberikan apa yang

(18)

28

dibutuhkan para warganya secara adil, atau dengan kata lain dimana terdapat keadilan distributif, maka keadaan tersebut akan mendekati dengan apa yang disebut keadaan dimana tercapainya keadilan sosial bagi masyarakat.

Sebaliknya keadilan komutatif menyangkut mengenai masalah penentuan hak yang adil di antara beberapa manusia pribadi yang setara, baik diantara manusia pribadi fisik maupun antara pribadi non fisik. Dalam hubungan ini suatu perserikatan atau perkumpulan lain sepanjang tidak dalam arti hubungan antara lembaga tersebut dengan para anggotanya, akan tetapi hubungan antara perserikatan dengan perserikatan atau hubungan antara perserikatan dengan manusia fisik lainnya, maka penentuan hak yang adil dalam hubungan ini masuk dalam pengertian keadilan komutatif. obyek dari hak pihak lain dalam keadilan komutatif adalah apa yang menjadi hak milik seseorang dari awalnya dan harus kembali kepadanya dalam proses keadilan komutatif. obyek hak milik ini bermacam-macam mulai dari kepentingan fisik dan moral, hubungan dan kualitas dari berbagai hal, baik yang bersifat kekeluargaan maupun yang bersifat ekonomis, hasil kerja fisik dan intelektual, sampai kepada hal-hal yang semula belum dipunyai atau dimiliki akan tetapi kemudian diperoleh melalui caracara yang sah. Ini semua memberikan kewajiban kepada pihak lain untuk menghormatinya dan pemberian sanksi berupa ganti rugi bila hak tersebut dikurangi, dirusak atau dibuat tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Di dalam konsep keadilan distributif muncul pertanyaan atau masalah tentang kapan timbulnya hak tersebut dan bagaimana pembagian hak itu, apa harus merata atau harus proporsional?. Berbeda dengan keadilan komutatif yang

(19)

29

timbul dari hak yang semula ada pada seseorang atau yang diperolehnya secara sah dalam proses keadilan komutatif, maka dalam keadilan distributif dasarnya atau perolehan hak tersebut sematamata timbul dari keadaan di mana seseorang itu menjadi anggota atau warga dari suatu negara. Tidak seharusnya mereka yang bukan warga negara memperoleh kemanfaatan kecuali dalam hubungan yang bersifat timbal balik terutama dalam hubungan internasional antar negaranegara modern, sehingga seseorang asing dapat pula menikmati hak-hak atau fasilitas lain dari suatu negara yang dikunjunginya.25

Lebih jelasnya, keadilan distributif menurutnya adalah keadilan yang berlaku dalam hukum publik, yaitu berfokus pada distribusi, honor kekayaan, dan barang-barang lain yang diperoleh oleh anggota masyarakat. Kemudian keadilan korektif berhubungan dengan pembetulan sesuatu yang salah, memberikan kompensasi kepada pihak yang dirugikan atau hukuman yang pantas bagi pelaku kejahatan. Sehingga dapat disebutkan bahwa ganti rugi dan sanksi merupakan keadilan akorektif menurut Aristoteles. Teori keadilan menurut Arsitoteles yang dikemukakan oleh Theo Huijbers adalah sebagai berikut: 26

1) Keadilan dalam pembagian jabatan dan harta benda publik. Disini berlaku kesamaan geometris. Misalnya seorang Bupati jabatannya dua kali lebih penting dibandingkan dengan Camat, maka Bupati harus mendapatkan kehormatan dua kali lebih banyak daripada

25 Bahder Johan Nasution, “KAJIAN FILOSOFIS TENTANG KONSEP KEADILAN DARI PEMIKIRAN KLASIK SAMPAI PEMIKIRAN MODERN” terdapat dalam

https://jurnal.uns.ac.id/yustisia/article/download/11106/9938, Diakses terakhir tanggal 18 April 2022

26 Ibid, hlm. 242.

(20)

30

Camat. Kepada yang sama penting diberikan yang sama, dan yang tidak sama penting diberikan yang tidak sama;

2) Keadilan dalam jual-beli. Menurutnya harga barang tergantung kedudukan dari para pihak. Ini sekarang tidak mungkin diterima;

3) Keadilan sebagai kesamaan aritmatis dalam bidang privat dan juga publik. Kalau seorang mencuri, maka ia harus dihukum, tanpa mempedulikan kedudukan orang yang bersangkutan. Sekarang, kalau pejabat terbukti secara sah melakukan korupsi, maka pejabat itu harus dihukum tidak peduli bahwa ia adalah pejabat;

4) Keadilan dalam bidang penafsiran hukum. Karena Undang- Undang itu bersifat umum, tidak meliputi semua persoalan konkret, maka hakim harus menafsirkannya seolah-olah ia sendiri terlibat dalam peristiwa konkret tersebut. Menurut Aristoteles, hakim tersebut harus memiliki epikeia, yaitu “suatu rasa tentang apa yang pantas”.

Sampai saat ini, pembagian Aristoteles mengenai keadilan tetap relevan sebagai suatu tindakan yang ditujukan untuk mempertahankan hukum dari segala sisi Undang-Undang sebagai pengikat resmi terhadap keadilan distributif.

Sedangkan, pekerjaan hakim ialah guna pengadil guna menegakkan hukum serta mempertahankan suatu keadilan menurut Undang-Undang sebagai keadilan komutatif. Maka dari itu wajar apabila sering terjadi multipresepsi terhadap pendefenisian hukum.

Meskipun demikian, tetap penting untuk dikemukakan pengertian hukum.

Paling tidak sebagai dasar untuk memberi pemhaman awal agar dapat

(21)

31

diidentifikasi sifat pembedaannya dengan ilmu sosial lainnya. Seperti ilmu sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, politik, dan sebagainya.Atas dasar penelitian yang pernah dilakukan Soerjono Soekanto mengidentifikasi paling sedikit sepuluh arti hukum sebagai berikut:

1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran;

2. Hukum sebagai disiplin yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atas gejalagejala yang dihadapi;

3. Hukum sebagai kaidah, yakni sebagai pedoman atau patokan perilaku yang pantas dan diharapkan;

4. Hukum sebagai tata hukum, yakni struktur proses perangkat kaidah- kaidah hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu, serta berbentuk tertulis;

5. Hukum sebagai petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang berhubungan erat dengan penegak hukum;

6. Hukum sebagai keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi;

7. Hukum sebagai proses pemerintahan, yakni proses hubungan timbal balik antara unsur-unsur pokok dari sistem kenegaraan;

8. Hukum sebagai perilaku yang ajeg atau teratur;

9. Hukum sebagai jalinan nilai-nilai, yakni jalinan dari konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap baik dan buruk;

10. Hukum sebagai seni (legal art).

(22)

32

Dalam menguraikan pengertian hukum di makalah ini, penting juga dikemukakan defenisi hukum yang pernah diuraikan oleh Muchtar Kusumatmadja.Dasar falsafatinya sehingga penting untuk diuraikan pendapat tersebut. Sebab Kusumaatmadja berhasil menggabungkan atau dengan kata lain mendamaikan semua aliran pemikiran dalam ilmu hukum sehingga teori hukum yang pernah dipertahankan oleh masing-masing mazhabnya bertemu dalam satu kesatuan pengertian sebagaimana Kusumaatmadja menyebutnya “sistem hukum”.Lengkapnya, bahwa hukum didefenisikan sebagai mazhab hukum Unpad

“Law and Developmet” adalah seperangkat kaidah, asas-asas, lembaga hukum dan setiap proses-proses yang mengikat daya keberlakuannya.27

Achmad Ali mendefinisikan hukum dari berbagai ahlinya dan dirangkum yang akhirnya membuahkan kesimpulan bahwa “definisi yang dapat mengatrikulasikan hukum ini”. Achmad Ali memandang bahwa apa yang dimaksud sebagai hukum adalah yang dimanifestasikan dalam wujud yaitu hukum sebagai kaidah (hukum sebagai sollen) dan hukum sebagai kenyataan (hukum sebagai sein).

Bahwa hukum sebagai kenyataan merupakan hal yang paling utama tetapi tidak berarti bahwa hukum sebagai kaidah dapat diabaikan, sebab hukum sebagai kenyataan tetap bersumber dari hukum sebagai kaidah. Hanya saja lebih konkretnya hukum sebagi kaidah tidak saja yang termuat dalam hukum positif belaka, tetapi keseluruhan kaidah sosial yang diakui keberlakuannya oleh otoritas

27 Mochtar Kusumaatmadja. Konsep-konsep Hukum dalam Pembangunan. Bandung: Alumni 2006. Hlm 1- 15

(23)

33

tertinggi yang ada dalam masyarakat. Lebih jauh lagi, Achmad Ali mengemukakan bahwa hukum adalah :28

“Seperangkat kaidah atau aturan yang tersusun dalam suatu sistem yang menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh manusia sebagai warga masyarakat dalam kehidupan bermasyarakatnya, yang bersumber baik dari masyarakat sendiri maupun dari sumber lain, yang diakui keberlakuannya oleh otorias tertinggi dalam masyarakat tersebut, serta benar-benar diberlakukan oleh warga masyarakat (sebagai suatu keseluruhan) dalam kehidupannya, dan jika kaidah tersebut dilanggar akan memberikan kewenangan bagi otoritas tertinggi untuk menjatuhkan sanksi yang sifatnya eksternal.”

Menurut John Rawls, keadilan adalah fairness (justice as fairness).

Pendapat John Rawls ini berakar pada teori kontrak sosial Locke dan Rousseau serta ajaran deontologi dari Imanuel Kant. Beberapa pendapatnya mengenai keadilan adalah sebagai berikut:29

1) Keadilan ini juga merupakan suatu hasil dari pilihan yang adil. Ini berasal dari anggapan Rawls bahwa sebenarnya manusia dalam masyarakat itu tidak tahu posisinya yang asli, tidak tahu tujuan dan rencana hidup mereka, dan mereka juga tidak tahu mereka milik dari masyarakat apa dan dari generasi mana (veil of ignorance).

28 Achmad Ali. Menguak Tabir Hukum. Jakarta: Toko Gunung Agung 2002. Hlm. 35.

29 Ibid, hlm. 246-247

(24)

34

Dengan kata lain, individu dalam masyarakat itu adalah entitas yang tidak jelas. Karena itu orang lalu memilih prinsip keadilan;

2) Keadilan sebagai fairness menghasilkan keadilan prosedural murni.

Dalam keadilan prosedural murni tidak ada standar untuk menentukan apa yang disebut “adil” terpisah dari prosedur itu sendiri. Keadilan tidak dilihat dari hasilnya, melainkan dari sistem (atau juga proses) itu sendiri;

3) Dua prinsip keadilan pertama, adalah prinsip kebebasan yang sama sebesar- besarnya (principle of greatest equal liberty). Prinsip ini mencakup antara lain ; kebebasan untuk berperan serta dalam kehidupan politik (hak bersuara, hak mencalonkan diri dalam pemilihan), kebebasan berbicara ( termasuk kebebasan pers);

kebebasan berkeyakinan (termasuk keyakinan beragama);

kebebasan menjadi diri sendiri (person)serta hak untuk mempertahankan milik pribadi;

Kedua yaitu prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the principle of fair equality of opportunity). Inti prinsip pertama adalah bahwa perbedaan sosial dan ekonomis harus diatur agar memberikan manfaat yang paling besar bagi mereka yang paling kurang beruntung. Istilah perbedaan sosio-ekonomis dalam prinsip perbedaan menuju pada ketidaksamaan dalam prospek seorang untuk mendapatkan unsur pokok kesejahteraan, pendapatan, dan

(25)

35

otoritas. Sedang istilah yang paling kurang beruntung (paling kurang diuntungkan) menunjuk pada mereka yang paling kurang mempunyai peluang untuk mencapai prospek kesejahteraan, pendapatan dan otoritas.30

Thomas Aquina mengelompokan keadilan menjadi 2 antara lain :

1) Keadilan umum, dimana keadilan ini sesuai dengan Undang-Undang guna kepentingan umum.

2) Keadilan khusus, yaitu keadilan berdasarkan dengan asas kesamaan atau proposionalitas.31

a. Hubungan Hukum dan Keadilan

Keadilan hukum dalam setiap kehidupan manusia dapat dirasakannya sendiri, sehingga keadilan itu memiliki proses metabolisme hukum dan hasilnya mampu mewujudkan kebahagiaan hidup sebagai sesuatu yang dihasilkan dari sebuah keadilan hukum, sebab jika ingin memperoleh kepastian hukum maka keadilan harus ditegakkan diatas hukum itu sehingga menjadi sangat subjektif dan individual. Dalam teori hukum keadilan adalah tujuan dari terbentuknya hukum, secara esensi ada jarak antara hukum dengan keadilan pada saat manusia menggerakkan hukum maka pada saat ituhukum belum berisi keadilan tetapi dalam proses hukum barulah keadilan itu dapat dicapai oleh manusia, alasannya undang-undang bersifat abstrak

30 Damanhuri Fattah, “ Teori Keadilan Menurut John Rawls”, terdapat dalam

http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/TAPIs/article/view/1589 , Diakses terakhir tanggal 17 April 2022

31 Nursidik. OP.Cit. Hlm. 139

(26)

36

sedangkan perkara-perkara yang muncul bersifat konkret. Keadilan dalam cita hukum yang merupakan pergulatan kemanusaiaan berevolusi mengikuti ritme zaman dan ruang dari dahulu sampai sekarang akan terus berlanjut sampai manusia tidak beraktifitas lagi. Keadilan harus terwujud disemua ini dan setiap produk manusia haruslah mengandung nilai-nilai keadilan karena sejatinya perilaku yang tidak adil akan melahirkan ketidakseimbangan yang berakibat kerusakan baik pada diri manusia maupun alam semesta.

Friedmann menyatakan formulasi keadilan aristoteles merupakan salah satu kontribusi terbesarnya bagi filsafat hukum juga membedakan antara keadilan menurut hukum dan keadilan menurut alam serta pembedaan antara keadilan abstrak dan kepatutan.32

Hukum sangat erat hubungannya dengan keadilan, bahkan ada pendapat bahwa hukum harus digabungkan dengan keadilan, supaya benar-benar berarti sebagai hukum, karena memang tujuan hukum itu adalah tercapainya rasa keadilan pada masyarakat. Suatu tata hukum dan peradilan tidak bisa dibentuk begitu saja tanpa memerhatikan keadilan, karena adil itu termasuk pengertian hakiki suatu tata hukum dan peradilan, oleh karenanya haruslah berpedoman pada prinsip- prinsip umum tertentu. Prinsip–prinsip tersebut adalah yang menyangkut kepentingan suatu bangsa dan negara, yaitu merupakan keyakinan yang hidup

32 Dany Try Hutama Hutabarat, Yunia Amanda Hidayat, Nur Amida, Muhammad Yusuf, Hazali, Miftahul Khoiroh Rawi, April Julianto, M.Munawir Sirait, Lafirsto Yogkismun Julianto, Ikhwan Affandi, Nazunda, CindyAldina, “HUBUNGAN HUKUM DAN KEADILAN DITINJAU DARI FILSAFAT HUKUM” terdapat dalam

http://nusantarahasanajournal.com/index.php/nhj/article/view/257/178, diakses pada 19 April 2022

(27)

37

dalam masyarakat tentang suatu kehidupan yang adil, karena tujuan negara dan hukum adalah mencapai kebahagiaan yang paling besar bagi setiap orang.33

Di dalam Pancasila kata adil terdapat pada sila kedua dan sila kelima.

Nilai kemanusiaan yang adil dan keadilan sosial mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan berkodrat harus berkodrat adil, yaitu adil dalam hubungannya dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungnnya serta adil terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Konsekuensi nilai-nilai keadilan yang harus diwujudkan meliputi:

a. Keadilan distributif, yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap warganya, dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban;

b. Keadilan legal, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara;

c. Keadilan komutatif, yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan yang lainnya secara timbal balik.34

33 M. Agus Santoso,Op.Cit, hlm. 91

34 Ibid, hlm. 92

(28)

38

Hubungan hukum dan keadilan pula dapat diamati pada setiap tujuan hukum. Mulai dari tujuan hukum ajaran etis, ajaran prioritas baku hingga ajaran kasusistis. Satupun dari ajaran tersebut tidak ada yang dapat melepaskan diri dari tujuan hukum pada sisi keadilannya. Hanya saja dilengkapi dengan tujuan hukum lain seperi kepastian, kemanfaatan, dan predictibility.Termasuk pula bagi pembentuk perundang-undangan sekalipun konsisten untuk melepaskan diri dari sisi keadilan sebagai salah satu tujuan hukum, pada hakikatnya masih dituntut untuk merumuskan teori hukum berdimensi keadilan yang dapat mendukung pentingnya undang-undang tertentu dilembagakan dalam lembaga negara. Bahwa dalam setiap perundang-undangan selalu dilengkapi dengan konsideran menimbang, mengatur, menetapkan. Perlu diketahui di dalam konsideran menimba ng tersebut, terdapat pertimbangan filsufis yang mencatat tujuan hukum sebagai keadilan atas pembentukan Undang-Undang itu.35

35 Soedikno Mertokusumo. 2005. Mengenal Hukum. Yogyakarta: Liberty 2005. Hlm. 78.

Referensi

Dokumen terkait

Cabai rawit yang memiliki karakter warna buah muda putih seperti pada genotipe CRM 03, Patra-3, dan Bara menampilkan bobot buah lebih berat, diameter buah lebih besar serta

Namun, Kode Etik Guru Indonesia juga menampilkan keharusan bagi seorang guru mengetahui bagaimana cara beretika kepada orang tua/wali dari peserta didik, (ada 7 poin),

Yurisprudensi tetap adalah putusan – putusan hakim tingkat pertama, dan putusan tingkat banding yang telah berkekuatan hukum tetap atau putusan Mahkamah agung sendiri yang telah

Bagan diatas menjelaskan proses hermeunitika historikalitas Gadamer yang dapat disimpulkan bahwa terdapat enam elemen vital dalam hermeunitika historis diantaranya sebagai

Permasalahan tersebut muncul berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu putusan pemidanaan yang telah berkekuatan hukum tetap, tetapi di dalam amar putusannya tidak

Dengan demikian alternatif pemecahan yang baikltepat dalam mengatasi masalah antrian kapal tuna long line di PPSJ adalah menambah fasilitas pelayanan menjadi 6

current( prevalence( (dengan! pertanyaan:! “apakah!dalam!12!bulan!terakhir!pernah!didiagnosis!asma!oleh!dokter! atau! memunyai! gejala!

Epilepsi  kumpulan gejala  otak, ditandai  gangguan kesadaran, motorik, sensorik, otonom, psikis, tiba-tiba dan sesaat,  disfungsi sel saraf otak (lepas aktivitas