PT. INDUSTRI KAPAL INDONESIA (PERSERO)
YUSNITA 10573 02308 10
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2014
PT. INDUSTRI KAPAL INDONESIA (PERSERO)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana
YUSNITA 10573 02308 10
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2014
i
Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui....
Namun ketika kita punya keyakinan, Pintu pasti akan dibukakan untuk kita Mungkin bukan pintu yang selalu kita inginkan Namun pintu yang akhirnya akan terbukti terbaik untuk kita.
(A.J. Cronin)
Tak selamanya rencana akan terwujud Ikhtiar , Sabar dan Ikhlas adalah kunci Positif thinking…
Menggapai harapan….
Karena Allah Maha Mengetahui..
( Yusnita )
Ku dedikasikan untukmu……
Ayahanda dan Ibunda tercinta, dan Saudara-Saudaraku serta
orang-orang yang senantiasa menyayangiku…
iii
Harga Umum Terhadap Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan pada PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode biaya historis dan tingkat harga umum sebagai informasi tambahan yang mencerminkan perubahaan harga agar laporan keuangan yang disajikan merupakan informasi yang relevan dan interpretatif dalam pengambilan keputusan PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar. Di dalam penelitian terdapat dua variabel yaitu Akuntansi Biaya Historis dan Akuntansi Tingkat Harga Umum. Populasi penelitian ini adalah seluruh laporan keuangan PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar dan Indeks Harga Konsumen yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan berupa laporan laba rugi, neraca, laporan laba ditahan dan laporan aktiva tetap PT Industri Kapal Indonesia (Persero) dan Indeks Harga Konsumen yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik periode 2011-2013. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis yang membandingkan antara penerapan akuntansi biaya historis dengan penerapan akuntansi tingkat harga umum.
Dari hasil uji relevan dan interpretatif untuk laporan keuangan yang disusun dengan metode General Price Level Accounting, diketahui persentase jumlah
iv
relevan atau sama dengan 90,9% dan persentase jumlah yang memenuhi Number Of Dollat Attribute (NOD) untuk tahun 2011-2012 terdapat 19 dari 21 elemen
laporan keuangan yang interpretatif atau sama dengan 90,4% untuk tahun 2012- 2013 terdapat 22 elemen laporan keuangan yang interpretatif atau sama dengan 100%.
Dari hasil di atas maka diperoleh kesimpulan yang menunjukkan lebih dari 50% elemen laporan keuangan yang memiliki nilai COG > 1000 unit dan lebih dari 50% elemen laporan keuangan yang memiliki nilai NOD = Indeks harga konsumen, hal ini menunjukkan bahwa metode General Price Level Accounting lebih relevan dan interpretatif dibandingkan dengan metode Historical Cost Accounting. Dengan demikian hipotesis yang diajukan yaitu diduga bahwa
penerapan akuntansi tingkat harga umum menyajikan informasi yang lebih relevan dan interpretatif pada saat terjadi perubahan harga atau inflasi sedangkan dengan penerapan akuntansi biaya historis dalam penyusunan laporan keuangan PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar” diterima.
v
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Tiada kata yang paling indah dan patut diucapkan oleh penulis selain puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik dalam rangka penyelesaian studi pada Program S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar. Dengan Judul “Pengaruh Penerapan Metode Biaya Historis dan Tingkat Harga Umum dalam Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan pada PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar”.
Skripsi ini terdiri dari lima bab, yaitu Bab I Pendahuluan, yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat hasil penelitian.
Bab II Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pikir, yang meliputi tinjauan pustaka, kerangka pikir, dan hipotesis. Bab III Metode Penelitian, Lokasi dan Waktu Penelitian, Definisi Operasioal dan Pengukuran Variabel, Metode Pengumpulan Data, dan Metode Analisa Data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, meliputi hasil penelitian dan pembahasan. Bab V Kesimpulan dan Saran, yang meliputi kesimpulan dan saran.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini telah menyita banyak waktu, tenaga, curahan pikiran serta materi dan penulis menyadari bahwa tanpa bantuan
vi
1. Dr. H. Andi Rustam, SE. M.M. Ak. sebagai pembimbing I yang dengan tulus memberikan nasehat, bimbingan serta petunjuk selama penyusunan dan penulisan skripsi ini serta selama penulis menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Abd. Salam, SE. M.Si. Ak. Sebagai pembimbing II yang dengan tulus dan sabar serta bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, dan petunjuk selama penyusunan dan penulisan skripsi ini.
3. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, serta para Pembantu Dekan yang telah memberikan kemudahan dalam rangka penyusunan skripsi ini.
4. Pimpinan dan segenap karyawan/karyawati PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar yang telah meluangkan waktunya dan memberikan data-data yang penulis butuhkan..
5. Teristimewa buat Ayahanda Saparuddin dan Ibunda Hj. Rahmania yang selalu memberikan perhatian, kasih sayang, motivasi, dan do’a yang tulus dan tiada henti-hentinya serta segalanya dalam hidup ini.
6. Teman-teman seperjuangan di kampus Andi Ninarti, Eka, Uhni, Qalby, serta seluruh teman-temanku di angkatan 2010 yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang senantiasa memberikan Do’a, dukungan, dan semangat selama ini.
vii
kekurangan. Oleh karena itu, penulis harapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Dan akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Makassar, Mei 2014
YUSNITA
viii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
MOTTO ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan masalah... 3
C. Tujuan Penelitian ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Laporan Keuangan ... 5
B. Konsep Biaya Historis ... 12
C. Akuntansi Tingkat Harga Umum ... 15
D. Kedudukan Masing-masing Laporan Keuangan Berrdasarkan Biaya Historis dan Laporan Keuangan Tinngkat Harga Umum ... 27
E. Kerangka Pikir ... 29
F. Hipotesis ... 32
BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33
B. Definisi Operasional Variabel ... 33
C. Metode Pengumpulan Data ... 34
D. Metode Analisis Data ... 34
ix
C. Pembagian Tugas dan wewenang ... 41
BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kebijakan Akuntansi ... 45
B. Penyajian Kembali Laporan Keuangan Menurut Tingkat Harga Umum ... 51
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 94
B. Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 96
LAMPIRAN ... 98
RIWAYAT HIDUP x
1. Klasifikasi Item-item moneter dan non moneter Pada laporan keuangan PT Industri Kapal Indonesia (persero) di Kota Makassar
52
55 2. Posisi aset moneter untuk laporan keuangan yang berakhir
per 31 desember 2011-2013
3. Penilaian kembali neraca tahun 2011-2013 menurut tingkat harga umum per 31 desember 2011-2013
56
4. Penilaian kembali aset tetap tahun 2011 menurut tingkat harga umum per 31 Desember 2011 (dalam rupiah)
59
5. Penilaian kembali aset tetap tahun 2012 menurut tingkat harga umum per 31 Desember 2012 (dalam rupiah)
60
6. Penilaian kembali aset tetap tahun 2013 menurut tingkat harga umum per 31 Desember 2013 (dalam rupiah)
61
7. Penilaian kembali akun-akun laporan laba rugi tahun 2011-2013 menurut tingkat harga umum. (dalam rupiah)
63
8. Jumlah aktiva moneter netto yang dimiliki perusahaan per 1 Januari 2011-2013
66
9. Pengakuan laba rugi daya beli hutang moneter pada akhir tahun 2011
67
10. Pengakuan laba rugi daya beli hutang moneter pada akhir tahun 2012
68
11. Pengakuan laba rugi daya beli hutang moneter pada akhir tahun 2013
69
xi
keuangan
xii
No Judul Halaman
1. Kerangka Pikir 32
xiii
1. Neraca konsilidasi PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar 2011-2013
2. Laporan Laba Rugi konsolidasi PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar per 31 Desember 2011-2013
3. Laporan perubahan modal konsolidasi PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar per 31 Desember 2011-2013
4. Daftar Aktiva Tetap PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di kota Makassar pe 31 Desember 2011-2013
5. Struktur organisasi PT Industri Kapal Indonesia (Persero) 6. Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia
xiv
PENGARUH PENERAPAN METODE BIAYA HISTORIS DAN TINGKAT HARGA UMUM TERHADAP PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN
PADA PT INDUSTRI KAPAL INDONESIA (PERSERO) DI MAKASSAR Oleh:
NAMA : YUSNITA NIM : 105730 2308 10
Telah Mengikuti Ujian Skripsi Dan Dinyatakan Lulus Pada Tanggal 20 Agustus 2014 Pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 8 September 2014 Menyetujui :
Pembimbing I
Dr.H. Andi Rustam, SE.M.M.Ak
Pembimbing II
Abd.Salam, SE.M.Si.Ak
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar
Drs.H. Mahmud Nuhung, MA NBM: 497 794
Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar
Ismali Badollahi, SE, M. Si. Ak NBM: 107 3428
ii
dan bisnis dengan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor:
dan telah dipertahankan di depan penguji pada hari Rabu tanggal 20 bulan Agustus tahun 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 20 Agustus 2014 Panitia ujian:
1. Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd ( ... ) (Rektor Unismuh Makassar)
2. Ketua : Dr. H. Mahmud Nuhung, M.A ( ... ) (Dekan Fakultas Ekonomi)
3. Sekretaris : H. Sultan Sarda, SE., MM ( ... ) (Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi)
4. Penguji : a) Dr. Andi Rustam, SE.M.M.Ak ( ... )
b) Dr.H. Muhammad Rusydi, M.Si ( ... )
c) Moh. Aris Pasigai, SE.M.M ( ... )
d) Drs.H.Hamzah Limpo, MS ( ... )
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang perekonomiannya masih tergolong dalam kategori berkembang. Sebagai negara berkembang, kondisi perekonomian dewasa ini diwarnai dengan situasi inflasi, yaitu kecenderungan kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus.
Tingkat inflasi di Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun, hal ini dipengaruhi oleh perubahan daya beli masyarakat dan kenaikan faktor-faktor produksi dan biaya produksi. Inflasi merupakan kenyataan ekonomi yang tidak dapat dihindari termasuk bidang akuntansi di dalamnya terutama dalam penyusunan laporan keuangan.
Laporan keuangan secara umum disusun berdasarkan prinsip nilai historis.
Di mana prinsip ini menganggap bahwa harga-harga yang terjadi akan tetap stabil dan tidak mengadakan penyesuaian bila terjadi perubahan harga (inflasi). Menurut Soetjipto (2002:4) mengemukakan bahwa: Akuntansi biaya historis tidak mengakui perubahan daya beli umum dari uang, dengan asumsi bahwa harga unit moneter adalah stabil, dan laporan keuangan yang disajikan berdasarkan nilai historis tidak mencerminkan perubahan atau kemampuan daya beli dari bermacam-macam aset dan klaim dalam perusahaan serta tidak mengukur pendapatan dengan sewajarnya sebagai hasil matching rupiah dalam laporan laba- rugi.
1
Kelemahan dari prinsip nilai historis ini adalah tidak mencerminkan perubahan daya beli pada masa inflasi. Sehingga laporan keuangan tersebut memberikan informasi yang kurang akurat dan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya pada keadaan inflasi. Untuk mencerminkan keadaan inflasi disusun laporan keuangan berdasarkan akuntansi tingkat harga umum Soetjipto (2002:4) mengemukakan bahwa “akuntansi tingkat harga umum menempatkan kembali historical cost accounting dengan merefleksikan perubahan daya beli dari mata
uang”.
Leng (2005:150) mengemukakan bahwa General price-level accounting menyediakan informasi yang relevan bagi manajemen dalam evaluasi dan penggunaannya. Jadi laba dan rugi berdasarkan tingkat harga umum dihasilkan dari penanganan item-item moneter yang merefleksikan respon manajemen terhadap inflasi. Pada akhirnya, general price level accounting menyajikan pengaruh inflasi secara umum terhadap laba dan menyediakan hasil investasi yang lebih realistis.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa relevansi lebih berkepentingan dengan masa sekarang dan masa mendatang, karena itu informasi yang didasarkan pada nilai historis dianggap kurang relevan untuk tujuan pengambilan keputusan khususnya dalam kondisi ekonomi yang cenderung mengalami inflasi.
Sebagai salah satu perusahaan industri di Indonesia PT Industri Kapal Indonesia (Persero) dalam aktivitasnya memproduksi kapal-kapal laut, bahan baku yang digunakan didominasi besi baja dan logam sangat dipengaruhi oleh
inflasi, sehingga dalam proses pencatatan akuntansinya memerlukan perlakuan khusus sehingga tidak terjadi bias dalam pelaporannya terutama dalam penyajian laporan keuangan. Inflasi dapat digunakan sebagai tambahan informasi pada laporan keuangan dengan cara menyusun laporan keuangan tersebut berdasarkan tingkat harga umum yang menunjukkan nilai sesungguhnya dari barang yang dihasilkan yang dilihat secara keseluruhan.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Pengaruh Penerapan Metode Biaya Historis dan Tingkat Harga Umum Terhadap Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan pada PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah “Apakah penyesuaian laporan keuangan metode biaya historis dengan tingkat harga umum berpengaruh terhadap penyesuaian laporan keuangan yang lebih akurat pada PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar”?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran dan masukan tentang tingkat perbedaan laporan keuangan yang disusun berdasarkan metode biaya historis
dengan tingkat harga umum agar mampu memberikan informasi yang relevan dan interpretatif pada PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar untuk pengambilan keputusan saat ini dan masa yang akan datang demi kemajuan perusahaan.
D. Manfaat Penelitian
Dari tujuan di atas, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara praktis maupun teoritis:
Adapun yang menjadi manfaat penelitian secara praktis dan teoritis, yaitu:
1. Diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi bagi perusahaan, khususnya dalam pemberian informasi tepat dan terpercaya guna membantu manajemen melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.
2. Sebagai bahan masukan bagi pengembangan ilmu dalam penerapan teori-teori yang diperoleh selama mengikuti kuliah serta menambah pengalaman dalam menganalisa suatu masalah secara ilmiah terhadap suatu masalah yang dihadapi perusahaan.
3. Sebagai bagian pemenuhan dan referensi atau bahan rujukan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan maupun untuk mengadakan penelitian lebih lanjut yang relevan dengan masalah yang dikaji.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Laporan Keuangan
a. Definisi Laporan Keuangan
Drs. S. Munawir (2010:2) memberikan definisi tentang laporan keuangan, bahwa laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Laporan keuangan menyajikan kondisi keuangan perusahaan, hasil operasi, perubahan arus dana, dan perubahan ekuitas pemilik.
Selanjutnya menurut Yadiati (2005:5) Laporan keuangan adalah informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan oleh manajemen dari suatu perusahaan kepada pihak internal dan eksternal, yang berisi seluruh kegiatan bisnis dari satu kesatuan usaha yang merupakan salah satu alat pertanggungjawaban dan komunikasi manajemen kepada pihak-pihak yang membutuhkannya.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah laporan periodik utama yang disusun menurut prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum. Laporan keuangan menyajikan kondisi keuangan perusahaan, hasil operasi, perubahan arus dana, dan perubahan ekuitas pemilik.
b. Tujuan Laporan Keuangan
Sofyan Syafri Harahap (2011:70) mendefinisikan tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
5
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Selanjutnya menurut Hery (2013:8) dalam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 1 menjelaskan bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perubahan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.
Adapun tujuan penyajian laporan keuangan oleh sebuah entitas dapat dirinci menurut Rudianto (2012:20) adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal perusahaan.
2. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercayai mengenai perubahan sumber-sumber ekonomi perusahaan yang timbul dalam aktivitas usaha demi memperoleh laba.
3. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan untuk mengestimasi potensi perusahaan dalammenghasilkan laba di masa depan.
4. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan ketika mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan lama.
5. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan sumber-sumber ekonomi dan kewajiban, seperti informasi tentang aktivitas pembiayaan dan investasi.
6. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan secara umum tujuan dari laporan keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
c. Jenis-Jenis Laporan Keuangan
Arief Sugiono, Edy Untung (2008:5) mengemukakan bahwa “komponen laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas”.
1. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan dari satu kesatuan usaha yang merupakan keseimbangan antara aktiva (asets), kewajiban (liabilities), dan modal (equity) per tanggal tertentu, misalnya per tanggal 31 Desember 2005.
Menurut Harnanto (2002:117) mengemukakan bahwa Neraca adalah suatu laporan yang bersifat historis yang menyajikan efek kumulatif dari seluruh transaksi yang dinyatakan ke dalam unit moneter berdasarkan harga historisnya.
Posisi yang yang digambarkan yaitu posisi harta, utang, dan modal. Klasifikasi yang digambarkan ini memang timbul sebagai akibat dari konsep double entry
accounting system yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
akuntansi keuangan.
Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut dengan Balance Sheet. Definisi tentang komponen neraca; harta, utang, modal akan dibahas sebagai berikut :
a. Harta (aset) dan kewajiban (liability)
Definisi harta menurut FASB sebagaimana yang dikutip oleh Sofyan Syafri Harahap (2011:210) aset adalah kemungkinan keuntungan ekonomi yang diperoleh atau dikuasi di masa yang akan datang oleh lembaga tertentu sebagai akibat dari transaksi atau kejadian yang sudah berlalu. Selanjutnya dalam Standar Akuntansi Keuangan (2009:9) mengemukakan bahwa “aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan”.
Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa aset adalah sumber daya perusahaan yang diperoleh dari transaksi masa lalu dan memiliki manfaat ekonomi masa depan.
Definisi kewajiban menurut FASB sebagaimana yang dikutip oleh Sofyan Syafri Harahap (2011:212) : Kewajiban adalah kemungkinan pengorbanan kekayaan ekonomis di masa yang akan datang yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk masa yang akan datang sebagai akibat suatu transaksi atau kejadian yang sudah terjadi.
Prinsip yang berlaku sekarang dalam pengakuan dan penilaian aktiva dan kewajiban sesuai yang digariskan Accounting Principle Board (APB) sebagaimana yang dikutip oleh Sofyan Syafri Harahap (2011:210) adalah sebagai berikut :Pencatatan aktiva didasarkan pada kejadian kapan perusahaan mendapatkan kekayaan atau aktiva itu dari pihak lain sedangkan kewajiban kapan muncul kepada pihak lain. Penilaian keduanya didasarkan pada nilai tukar, nilai pengorbanan pada pengalihan terjadi. Nilai ini disebut nilai akuisisi.
b. Modal pemilik
Ikatan Akuntan Indonesia dalam PSAK nomor 21 (2009:21.1) mengemukakan bahwa “Ekuitas adalah hak pemilik dalam perusahaan, yaitu selisih antara aset dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan ukuran nilai jual perusahaan tersebut”. Definisi berikutnya Menurut Sofyan Syafri Harahap (2011:213): Modal pemilik adalah suatu hak yang tersisa atas aktiva suatu lembaga setelah dikurangi kewajibannya.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penilaian terhadap transaksi modal ini sama dengan penilaian pada harta dan kewajiban, yaitu berdasarkan harga pasar pada saat terjadinya transaksi. Dalam hal ini pencatatan modal saham harus dipisahkan nilai raihnya dengan nilai jualnya. Laba ditahan dicatat sebagai akumulasi laba bersih dari tahun-tahun sebelumnya.
2. Laporan laba rugi
Ahmad Syafi’i Syakur (2009:29) Laporan laba rugi merupakan suatu ukuran penting yang sangat diperlukan dalam analisis keuangan perusahaan. Hasil
operasi perusahaan diukur dengan membandingkan antara pendapatan perusahaan dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan.
Definisi Penghasilan dan Beban berdasarkan Ahmad Syafi’i Syakur (2009:30) :
1. Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.
2. Beban (expense) adalah biaya yang telah dimanfaatkan dalam usaha memperoleh pendapatan dalam suatu periode, atau yang sudah tidak memberikan manfaat ekonomi untuk kegiatan masa-masa berikutnya.
3. Keuntungan dan kerugian. Keuntungan merupakan peningkatan ekuitas (kekayaan bersih) dari transaksi yang bersifat tidak normal dan jarang terjadi selama satu periode tertentu, terkecuali dari investsi atau penambahan prive. Kerugian merupakan penurunan ekuitas (kekayaan bersih) dari transaksi yang bersifat tidak normal dan jarang terjadi selama satu periode tertentu, kecuali berasal dari biaya atau pembayaran deviden.
4. Pendapatan. Aliran masuk atau kenaikan aktiva suatu perusahaan atau penurunan kewajiban yang terjadi dalam suatu periode akuntansi yang berasal dari aktivitas produksi dan penjualan barang, penyerahan jasa, dan aktivitas lainnya yang merupakan usaha pokok perusahaan.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa untuk bisa menentukan penghasilan atau laba bersih dalam suatu periode akuntansi
diperlukan tidak hanya kriteria pengakuan pendapatan, tetapi juga prinsip-prinsip pengakuan beban dan kerugian.
3. Laporan Perubahan Modal
Di samping penyusunan neraca dan laporan rugi laba, pada akhir periode akuntansi biasanya juga disusun laporan yang menunjukkan sebab-sebab perubahan modal perusahaan. Baridwan (2004:39) mengemukakan bahwa:
Perusahaan dengan bentuk perseroan, perubahan modalnya ditunjukkan di dalam laporan laba tidak dibagi.
Didalam laporan ini ditunjukkan laba tidak dibagi awal periode,ditambah dengan laba seperti yang tercantum di dalam laporan perhitungan rugi laba dan dikurangi dengan deviden yang diumumkan selama periode yang bersangkutan.
d. Pengukuran Akuntansi
Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi.
Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengukuran tertentu. Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan seperti yang dikemukakan Komite Standar Akuntansi Keuangan-IAI melalui pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2009: 17) berbagai dasar pengukuran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Biaya Historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan.
2. Biaya kini. Aset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas yang seharusnya dibayar bila aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang.
3. Nilai realisasi/penyelesaian. Aset dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal.
4. Nilai sekarang. Aset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal.
Dasar pengukuran yang lazimnya digunakan perusahaan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan adalah biaya historis. Ini biasanya digabungkan dengan dasar pengukuran lain. Misalnya persediaan biasanya dinyatakan sebesar nilai terendah dari biaya historis atau nilai realisasi bersih.
B. Konsep Biaya
a. Definisi akuntansi biaya historis
Salah satu metode pengukuran yang digunakan dalam akuntansi konvensional adalah nilai perolehan historis dengan asumsi unit moneter yang stabil. Menurut Riahi (2007:268) “Nilai perolehan historis suatu aktiva adalah jumlah kas atau setara kas yang sesungguhnya dibayarkan untuk mendapatkan dan menempatkan aktiva pada kondisi siap pakai”.
Menurut Harnanto (2002:40) Historical cost atau nilai perolehan historis merupakan nilai masukan berdasarkan transaksi yang sesungguhnya terjadi di masa lalu. Pada laporan keuangan konvensional, Nilai perolehan biasanya
digunakan sebagai dasar pengukuran atau penilaian untuk aktiva berupa : tanah, bangunan, ekuipmen, serta aktiva tidak berwujud.
Selanjutnya menurut Hery (2013:38) Historical cost yaitu harga tukar barang dan jasa pada saat tanggal pembelian. Contoh item yang diukur dengan biaya historis adalah tanah, bangunan, peralatan, dan kebanyakan persediaan.
Soetjipto (2002:13) mengemukakan bahwa penggunaan nilai historis dalam akuntansi finansial, disebabkan antara lain :
a. Relevan dalam pembuatan keputusan ekonomi, bagi manajer dalam membuat keputusan masa depan, diperlukan transaksi masa lalu.
b. Nilai historis berdasarkan data objektif, yang dapat dipercaya, dapat diaudit, dan lebih sulit untuk dimanipulasi bila dibandingkan dengan nilai lain misalkan current cost ataupun replacement cost.
c. Memudahkan untuk melakukan perbandingan baik antara industri, maupun antar waktu untuk suatu industri.
Biaya historis didasarkan pada keadaan nyata, bukan yang diperkirakan.
Akuntansi biaya historis didasarkan pada catatan dan proses data historis. Laporan keuangan yang disusun berdasarkan harga perolehan berlaku dapat berdasarkan harga pasar pada saat pelaporan, bukan berdasarkan catatan akuntansi.
b. Kelemahan akuntansi biaya historis
Adapun kelemahan dari akuntansi biaya historis yang dikemukakan oleh Soetjipto (2002:20) antara lain:
1. Adanya pembebanan biaya yang berlaku kecil karena pendapatan untuk suatu hal tertentu pada saat tertentu akan dibebani dengan
biaya yang didasarkan pada suatu nilai uang yang telah ditetapkan beberapa periode yang lalu pada saat pencatatan terjadinya biaya tersebut.
2. Nilai aktiva yang dicatat dalam neraca akan mempunyai nilai yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan perkembangan harga daya beli uang terakhir. Disamping itu juga terjadi perubahan-perubahan kurs yang cepat atas aktiva dan passiva dalam valuta asing yang dikuasai perusahaan sehingga mengalami kesulitan dalam perhitungan selisih kurs yang tepat.
3. Alokasi biaya untuk depresiasi, amortisasi akan dibebankan terlalu kecil dan mengakibatkan laba dihitung terlalu besar.
4. Laba/rugi terjadi yang dihasilkan oleh perhitungan laba/rugi yang didasarkan pada asumsi adanya stable monetary unit tersebut tidaklah riil apabila diukur dengan perkembangan daya beli uang yang sedang berlangsung.
Berdasarkan kelemahan tersebut laporan keuangan yang disajikan berdasarkan nilai historis mengasumsikan bahwa harga-harga (unit moneter) adalah stabil. Akuntansi konvensional tidak mengakui adanya perubahan tingkat harga umum maupun tingkat harga khusus.
Sebagai konsekuensinya jika terjadi perubahan harga pada periode inflasi, maka laporan keuangan secara ekonomis tidaklah relevan dan interpretatif.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kodrat (2006:84) bahwa
“Laporan keuangan yang disusun dengan metode Akuntansi biaya historis tidak
interpretatif dan relevan dibanding laporan keuangan yang disusun dengan metode Akuntansi tingkat harga umum”.
C. Akuntansi Tingkat Harga Umum
a. Definisi akuntansi tingkat harga umum.
Dalam prinsip nilai perolehan historis, ada asumsi yang menyatakan bahwa unit moneter (nilai uang) sebagai pengukur transaksi. Menurut Leng (2005:155) “pengukur transaksi sifatnya stabil tapi pada kenyataan nilai uang setiap saat berubah sehingga informasi akuntansi yang berlandaskan asumsi ini cenderung menjadi tidak realistis”. Asumsi ini menimbulkan interpretasi bahwa seolah-olah kita menjumlahkan sesuatu dalam satuan kilometer dengan meter sama dengan meter.
Karena satuan pengukuran transaksi dalam akuntansi, yaitu nilai rupiah/nilai uang setiap waktu mempunyai nilai dan daya beli yang selalu berubah dan perubahan nilai uang ini dalam akuntansi konvensional adalah diabaikan.
Leng (2005:155) mengemukakan bahwa: Di Indonesia, General Price Level Accounting dikenal sebagai Akuntansi tingkat harga umum menyatakan
bahwa nilai sesungguhnya dari rupiah (Rp) ditentukan oleh barang atau jasa yang dapat diperoleh, yang biasa disebut daya beli. Dalam masa inflasi ataupun deflasi, jumlah barang/jasa yang dapat diperoleh berubah dengan nilai uang nominal yang konstan, yang berarti bahwa daya beli Rupiah berubah.
Selanjutnya Kodrat (2006:78) mengemukakan bahwa :Akuntansi tingkat harga umum akan mengadakan penyajian kembali komponen-komponen laporan keuangan ke dalam rupiah pada tingkat daya beli yang sama, namun sama sekali
tidak mengubah prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam akuntansi berdasarkan nilai historis. Penyesuaian atas besaran keuangan untuk inflasi guna mencerminkan nilai harga umum atau tingkat harga umum dan penggunaan nilai yang telah disesuaikan tersebut dalam akuntansi.
Kenyataan inilah yang sering menimbulkan kritik terhadap penggunaan prinsip biaya historis dan mengusulkan untuk menggunakan prinsip lain yang memperhitungkan adanya perubahan nilai mata uang seperti prinsip penyesuaian tingkat harga. Prinsip akuntansi nilai sekarang, dan akuntansi tingkat harga umum.
Leng (2005:149) mengemukakan bahwa : Laporan keuangan yang tidak disesuaikan dengan tingkat harga umum atau dengan kata lain disajikan berdasarkan nilai historis tidak mencerminkan perubahan kemampuan atau daya beli dari bermacam-macam aset dan klaim dalam perusahaan. Sedangkan laporan yang disajikan berdasarkan tingkat harga umum menyajikan data yang mencerminkan purchasing power dari aset dan klaim dalam mata uang tertentu pada akhir periode.
Argumentasi di atas menyatakan bahwa akuntansi biaya historis tidak mengukur pendapatan dengan sewajarnya sebagai hasil matching rupiah dalam laporan laba rugi. Menurut Riahi (2007:288) “Beban-beban yang telah terjadi pada periode sebelumnya dikontrakkan dengan pendapatan-pendapatan yang umumnya dicerminkan dalam nilai rupiah tertentu pada saat ini”. Akuntansi tingkat harga umum menyediakan konsep matching pendapatan dan beban yang lebih baik karena menggunakan nilai uang konstan.
Selanjutnya menurut Kodrat (2006:83) tujuan konsep akuntansi tingkat harga umum adalah:
Metode ini menyajikan informasi tentang akibat perubahan harga terhadap usaha perusahaan, informasi seperti ini berguna bagi manajemen dalam melakukan penilaian terhadap kemajuan perusahaan karena unit moneter yang tercantum dalam laporan keuangan merupakan unit moneter yang mempunyai daya beli sama.
Akuntansi tingkat harga umum meningkatkan daya banding dari laporan keuangan antar periode dalam suatu perusahaan.
Akuntansi tingkat harga umum yang dilaporkan sebagai informasi tambahan terhadap laporan keuangan akuntansi biaya historis dapat meniadakan pengaruh perubahan harga terhadap struktur akuntansi yang baru.
Akuntansi tingkat harga umum ini adalah menyamakan nilai uang/daya belinya dalam satuan skala pengukuran yang sama, dengan tetap berbasis pada akuntansi biaya historis. Akuntansi tingkat harga umum ini biasa disajikan sebagai informasi tambahan dalam pelaporan keuangan.
Penggunaan nilai perolehan kembali sebagai dasar dalam penyusunan laporan keuangan dapat membantu para pemakai laporan keuangan untuk membuat prediksi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas secara lebih akurat dan dapat memberikan evaluasi tentang keadaan dan kinerja finansial perusahaan yang lebih berarti.
b. Jenis-jenis perubahan harga
Harga barang atau jasa selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu, hal ini disebabkan oleh hukum permintaan dan hukum penawaran yang bekerja di lingkungan pasar yang tidak terkendali, inflasi, perkembangan teknologi yang berhubungan dengan barang dan jasa yang dihasilkan. Suwardjono (2006:625) mengemukakan ada tiga jenis perubahan harga, yaitu
1. Perubahan Harga Umum timbul karena adanya perubahan nilai unit moneter selama masa inflasi atau deflasi. Pada keadaan ini semua harga akan bergerak serempak dengan tingkat persentase yang sama, apabila tidak ada perubahan harga-harga struktural atau relatif. Apabila harga bergerak pada tingkat yang berbeda maka ukuran perubahan harga umum diperoleh dengan menghitung rata-rata atau indeks harga untuk menyatakan tingkat harga umum yang membandingkan dengan suatu priode dasar. Perubahan indeks harga relatif yang lebih tinggi berarti harga naik, sebaliknya daya beli rupiah akan turun.
2. Perubahan Harga Khusus mencerminkan harga masing-masing aktiva dan tidak mencerminkan perubahan daya beli umum. Perubahan harga pasar dimasukkan mengakibatkan kenaikan atau penurunan biaya atau beban perusahaan, sedangkan perubahan harga di pasar keluaran menyebabkan pergeseran pendapatan. Penandingan yang lebih relevan akan diperoleh dengan melaporkan sebagai beban harga di pasar masukan dari barang yang dipakai, pendapatan dengan harga di pasar keluaran.
3. Perubahan harga relative menggambarkan sampai sejauh mana harga khusus berubah terhadap indeks harga.
Jadi penyusunan berdasarkan nilai historis akan menghasilkan laporan yang kurang sesuai dengan keadaan sekarang akibat adanya perubahan tingkat harga tersebut. Selanjutnya menurut Soetjipto (2002:22) ada 2 pendekatan untuk melihat pengaruh perubahan harga pada laporan keuangan:
1. Akuntansi Tingkat Harga Umum menyatakan bahwa nilai sesungguhnya dari rupiah ditentukan oleh barang atau jasa yang diperoleh, yang biasa disebut dengan daya beli. Dalam masa inflasi (dimana tingkat harga secara umum naik) ataupun deflasi (Tingkat harga secara umum turun), jumlah barang atau jasa yang dapat diperoleh berubah dengan nilai uang nominal yang konstan, yang berarti bahwa daya beli rupiah berubah.
2. Akuntansi Biaya berjalan Penyesuaian atas besaran keuangan historis untuk inflasi. Guna mencerminkan nilai saat ini dan menggunakan nilai yang disesuaikan tersebut dalam akuntansi. Dalam akuntansi biaya berjalan juga perlu memperhatikan unit moneter dan unit nonmoneter.
Unit moneter tidak perlu disesuaikan karena tidak mengalami perubahan dari priode ke priode berikutnya. Sedangkan unit nonmoneter perlu penyesuaian pada akhir periode karena Current cost dari unit nonmoneter mengalami perubahan dari waktu ke waktu atau periode ke periode.
Berdasarkan penjelasan di atas akuntansi tingkat harga umum akan mengadakan penyajian kembali komponen-komponen laporan keuangan ke dalam rupiah pada tingkat daya beli yang sama, namun sama sekali tidak mengubah
prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan dalam akuntansi berdasarkan nilai historis.
Menurut Riahi (2007:268): Penyesuaian atas besaran keuangan untuk inflasi guna mencerminkan nilai harga umum atau tingkat harga umum dan penggunaan nilai yang telah disesuaikan tersebut dalam akuntansi. Perubahan tingkat harga umum dapat dihitung atau diukur dengan indeks harga konsumen, yaitu suatu indeks yang menyajikan perubahan priodik dalam biaya kelompok barang-barang terpilih yang dibeli konsumen digunakan sebagai ukuran inflasi.
Penyusunan dari nilai historis diubah menjadi tingkat harga umum dapat dilakukan dengan mengkonversikan nilai historis dengan faktor konversi menjadi tingkat harga umum. Dalam penyusunan berdasarkan tingkat harga umum ini perlu memperhatikan unit moneter dan unit non moneter.
c. Item Moneter dan Non Moneter
Dalam akuntansi tingkat harga umum, komponen neraca dikategorikan ke dalam dua kelompok utama yaitu item moneter dan item nonmoneter. Sangat erat kaitannya dengan implikasi perubahan harga adalah karakteristik pos-pos statemen keuangan. Perubahan harga mempunyai implikasi yang berbeda antara pos-pos moneter dan nonmoneter.
Menurut Suwardjono (2006:623) Pos-pos moneter terdiri atas aset moneter dan kewajiban moneter. Aset moneter adalah klaim untuk menerima kas di masa mendatang dengan jumlah dan saat yang pasti tanpa mengaitkannya dengan harga masa datang barang dan jasa tertentu. Kewajiban moneter adalah keharusan untuk
membayar uang di masa mendatang dengan jumlah dan saat pembayaran yang sudah pasti.
Selanjutnya Suwardjono (2006:624) mengemukakan bahwa Implikasi perubahan harga terhadap pos-pos moneter lebih berkaitan dengan perubahan daya beli yang menimbulkan untung atau rugi daya beli (Purchasing gains and losses). Untung atau rugi daya beli timbul kalau perusahaan menahan pos-pos
moneter dalam keadaan daya beli berubah.
Menurut Suwardjono (2006:623) Pos-pos moneter terdiri atas aset moneter dan kewajiban moneter. Aset moneter adalah klaim untuk menerima kas di masa mendatang dengan jumlah dan saat yang pasti tanpa mengaitkannya dengan harga masa datang barang dan jasa tertentu. Kewajiban moneter adalah keharusan untuk membayar uang di masa mendatang dengan jumlah dan saat pembayaran yang sudah pasti. Defenisi resmi yang diterapkan dalam berbagai ketetapan badan akuntansi mempertimbangkan bahwa item moneter merupakan item-item yang jumlahnya tetap karena kontrak dan tidak dipengaruhi oleh perubahan tingkat harga baik tingkat harga umum maupun tingkat harga khusus.
Selanjutnya menurut Suwardjono (2006:624): Pos-pos nonmoneter adalah pos-pos selain yang bersifat moneter juga terdiri dari aset nonmoneter dan kewajiban nonmoneter. Aset nonmoneter adalah aset yang mengandung jumlah rupiah yang menunjukkan nilai dan nilai tersebut berubah-ubah dengan berjalannya waktu.
Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyerahkan barang atau jasa atau potensi jasa lainnya dengan kuantitas tertentu tanpa memperhatikan daya
beli atau potensi jasa tersebut pada saat diserahkan. Implikasi perubahan harga terhadap pos nonmoneter adalah terjadinya perbedaan nilai tukar antara saat pos- pos tersebut diperoleh atau terjadi dan nilai tukar saat diserahkan atau dilaporkan pada akhir periode.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pos-pos moneter berkaitan dengan untung atau rugi daya beli sedangkan pos-pos nonmoneter dengan untung atau rugi penahanan.
d. Penyesuaian Item-Item Spesifik Akibat Perubahan Tingkat Harga Umum Untuk menyusun statemen keuangan lengkap dalam daya beli, semua pos baik neraca atau laba rugi harus dikonversi menjadi tingkat harga umum. Pos-pos neraca dan laba rugi dikonversi menggunakan indeks harga konsumen dalam hal ini terdapat perbedaan perlakuan antara item-item moneter dan nonmoneter.
1. Pemilihan indeks tingkat harga
Dalam proses pengukuran daya beli uang yang sama, maka digunakan suatu indeks harga. Indeks harga yang digunakan ini menggambarkan peningkatan atau penurunan daya beli uang yang berlaku sekarang. Menurut Riahi (2007:280)
“Indeks harga atau indeks tingkat harga adalah suatu indeks yang membandingkan perubahan harga dari waktu ke waktu. Nilai uang yang dikeluarkan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia merupakan cerminan daya beli uang”.
Di Indonesia belum ada ketentuan yang mengatur tentang penggunaaan indeks yang tepat. Indeks Harga Konsumen merupakan hasil pengolahan data harga konsumen (HK) di setiap kota. Pencacahan data harga konsumen meliputi jenis barang dan jasa dengan kualitas/merk yang umumnya banyak dikonsumsi
oleh masyarakat di kota yang bersangkutan. Data harga konsumen diperoleh dari pedagang/responden terpilih.
2. Perlakuan item-item moneter
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa jumlah item moneter adalah tetap menurut rupiah, tanpa memperhatikan perubahan tingkat harga umum atau spesifik. Walaupun jumlah ini tetap nilai item-item menurut daya beli mengalami perubahan. Akibatnya pemegang item-item moneter tersebut memperoleh untung/rugi daya beli akibat adanya perubahan tingkat harga umum.
Untung atau rugi daya beli akibat adanya perubahan tingkat harga umum tersebut merupakan untung/rugi daya beli umum. Untuk lebih jelasnya Riahi (2007:271) menjelaskan sebagai berikut:
a. Selama periode harga-harga naik/inflasi, maka menahan aset moneter menimbulkan daya beli, diakui sebagai kerugian tingkat harga umum.
Sedangkan menahan kewajiban moneter menimbulkan untung daya beli dari kewajiban monoter, diakui sebagai keuntungan tingkat harga umum.
Hal yang sebaliknya terjadi pada masa deflasi ( periode harga-harga turun).
b. Untung/rugi tingkat harga umum dapat dihitung sebagai berikut:
Menghitung posisi aset moneter netto pada awal periode.
Menyatakan kembali posisi aset moneter netto pada awal periode menurut daya beli rupiah pada akhir periode.
Menyatakan kembali seluruh penerimaan moneter pada tahun tersebut dasar suatu indeks pada akhir periode dibandingkan dengan rata-rata indeks harga umum pada periode tersebut.
Menyatakan kembali seluruh pembayaran moneter pada tahun tersebut dengan dasar suatu akhir tahun tertentu dan kurangkan dengan hasil yang diperoleh pada langkah 3.
Kurangi aset moneter netto actual pada akhir periode dari hasil pada langkah 4.
3. Perlakuan item-item nonmoneter dan ekuitas pemegang saham
Item-item nonmoneter dinyatakan kembali menurut daya beli umum dengan menggandakan item biaya yang dilaporkan pada laporan keuangan berbasis biaya historis dengan faktor konversi seperti yang dikemukakan oleh Riahi (2007:274) sebagai berikut:
Pernyataan kembali ekuitas pemegang saham, kecuali laba ditahan, serupa dengan pernyataan kembali item-item moneter. Modal yang diinvestasikan mula- mula, dikalikan dengan faktor konversi berikut:
Sedangkan untuk laba ditahan dapat dinyatakan sebagai berikut:
a. Mula- mula laporan keuangan biaya historis dinyatakan kembali menurut daya beli umum kini. Laba ditahan dapat ditentukan dengan secara
Indeks akhir tahun
Indeks ketika item nonmoneter diperoleh
Indeks akhir tahun
Indeks ketika modal diinvestasikan Indeks akhir tahun
Indeks ketika item nonmoneter diperoleh
sederhana sebagai residual setelah semua item-item lain dalam neraca dinyatakan kembali.
b. Pada periode berikutnya, laba ditahan akhir periode dalam unit-unit daya beli umum kini dapat ditentukan dengan:
1. Penghasilan netto dalam unit daya beli umum kini dapat dilaporkan dalam laporan tingkat harga umum ( mencakup untung/rugi tingkat harga umum dari item-item moneter).
2. Penyesuaian dihasilkan dari kerugian tingkat harga umum pada item-item moneter berupa ekuitas pemegang saham.
e. Number of Dollar attribute sebagai Uji Interpretatif dan Command Over Good attribute sebagai Uji Relevansi Laporan Keuangan
Untuk memperbandingkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan tingkat harga umum dengan biaya historis digunakan uji relevansi dan interpretatif seperti yang dikemukakan oleh Kodrat (2006:85): Analisis yang digunakan dalam perbandingan laporan keuangan yang disusun berdasarkan biaya historis dengan tingkat harga umum adalah Number of Dollar attribute (NOD) untuk mengetahui laporan keuangan tersebut interpretatif dan dianalisis dengan Command Over Good attribute (COG) untuk mengetahui bahwa laporan keuangan tersebut
relevan.
Laporan keuangan yang disusun berdasarkan tingkat harga umum dan laporan keuangan berdasarkan biaya historis dibandingkan dengan menggunakan Number of Dollar attribute (NOD) untuk mengetahui laporan keuangan tersebut
interpretatif dan dianalisis dengan Command Over Good attribute (COG) untuk mengetahui bahwa laporan keuangan tersebut relevan.
1) Uji Relevansi
Untuk mengetahui laporan keuangan tersebut relevan digunakan alat analisis Command Over Good attribute (COG). Dapat dilihat pada rumus yang dikemukakan oleh Kodrat (2006:86) di bawah ini:
COG = Elemen laporan keuangan berdasarkan tingkat harga umum Indeks Harga Konsumen
Hasil dari COG dalam satuan unit.
Jika nilai COG > 1000 unit maka elemen laporan keuangan tersebut dikatakan relevan.
2) Uji Interpretatif
Untuk mengetahui laporan keuangan tersebut interpretatif digunakan alat analisis Number of Dollar attribute (NOD). Dengan menggunakan analisis ini maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan menurut Kodrat (2006:86) antara lain :
a) Menyajikan data laporan keuangan yang telah disusun berdasarkan tingkat harga umum (X)
b) Menyajikan indeks harga konsumen (Y)
c) Setiap nilai dari elemen laporan keuangan (langkah a) dibagi dengan indeks harga konsumen (langkah b) maka diperoleh nilai unit. (Z) Tahun 20.. = X : Y = Z
d) Mencari selisih data elemen laporan keuangan antara 2 periode.
e) Mencari selisih unit antara 2 periode.
f) Jika hasil selisih data elemen laporan keuangan (langkah d) dibagi selisih unit (langkah e) sama dengan indeks harga konsumen maka elemen laporan keuangan tersebut dikatakan interpretatif.
Keterangan:
Indeks harga konsumen dapat diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Elemen laporan keuangan adalah akun-akun yang terdapat dalam laporan keuangan yang terdiri dari harta, kewajiban, modal, pendapatan dan beban.
Selisih data elemen laporan keuangan adalah selisih antara elemen laporan keuangan yang telah disusun berdasarkan tingkat harga umum yaitu selisih antara harta, hutang, modal, pendapatan dan beban yang telah disusun berdasarkan tingkat harga umum dalam satu periode dengan peiode sebelumnya.
Unit adalah hasil bagi dari elemen laporan keuangan berdasarkan tingkat harga umum dengan Indeks Harga Konsumen.
Selisih unit adalah hasil kurang dari unit dalam satu periode dengan periode sebelumnya.
D. Kedudukan masing-masing Laporan Keuangan berdasarkan Biaya Historis dan Laporan Keuangan Berdasarkan Tingkat Harga Umum
Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan yang bertujuan menyajikan informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Beberapa informasi tertentu yang relevan akan lebih efektif disampaikan melalui informasi tambahan di luar laporan keuangan misalnya
pengungkapan perubahan harga. Laporan keuangan bukan satu-satunya alat untuk menyampaikan informasi, meskipun laporan keuangan merupakan alat utama dan pusat perhatian pelaporan keuangan.
Masalah inflasi dalam kaitannya dengan pelaporan keuangan membawa konsekuensi tersendiri dalam penyajian laporan keuangan. Di satu pihak, ada yang menghendaki agar laporan keuangan tingkat harga umum menggantikan kedudukan laporan keuangan konvensional. Sedangkan dipihak lain,menghendaki agar laporan keuangan tingkat harga umum disajikan sebagai laporan pelengkap.
Masalah inflasi sebenarnya bukan terletak pada masalah apakah laporan tersebut lebih baik dan harus menggantikan kedudukan laporan keuangan konvensional sebagai laporan keuangan dasar. Masalah yang sebenarnya adalah apakah laporan keuangan tersebut masuk dalam cakupan pelaporan keuangan.
Suatu informasi (pos) dapat dimasukkan ke dalam laporan keuangan dasar apabila memenuhi kriteria tertentu.
Menurut FASB yang dikutip oleh Yadiati (2007:42) kriteria yang dapat dipergunakan untuk mengakui suatu informasi agar dapat masuk dalam laporan keuangan dasar jelas bahwa pada masa inflasi, laporan keuangan konvensional masih relevan dan tetap berkedudukan sebagai laporan keuangan dasar, meskipun laporan tersebut memiliki salah satu usaha untuk meningkatkan manfaat dan kualitas laporan tersebut adalah dengan menyajikan laporan keuangan tingkat harga umum. Laporan ini dimaksudkan untuk menunjukkan pengaruh perubahan daya beli (inflasi) terhadap pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan.
Laporan keuangan yang dihasilkan akuntansi tingkat harga umum masih didasarkan pada data harga pokok historis. Dengan demikian kelemahan- kelemahan yang terdapat pada laporan keuangan konvensional tidak seluruhnya dapat dihilangkan. Salah satu contoh adalah angka yang dihasilkan akuntansi tingkat harga umum tidak menggambarkan nilai pos moneter yang sebenarnya pada tanggal neraca.Laporan keuangan tingkat harga umum tidak dapat meng gantikan kedudukan laporan keuangan konvensional. Laporan keuangan tingkat harga umum hanya melengkapi laporan keuangan konvensional pada saat laporan tersebut disajikan pada pihak-pihak yang berkepentingan.
E. Kerangka Pikir
Laporan keuangan memberikan sejumlah informasi keuangan yang dibutuhkan baik pihak internal maupun eksternal perusahaan. Informasi tersebut berkaitan dengan prestasi perusahaan di masa lampau dan dapat memberikan petunjuk untuk penetapan kebijaksanaan perusahaan di masa yang akan datang.
Data yang diperoleh dari laporan keuangan yaitu Neraca, Laba rugi, maupun Laporan laba ditahan diolah untuk mendapatkan informasi yang lebih baik.
Laporan keuangan harus mampu memberikan informasi yang realistis yang dapat menggambarkan kondisi keuangan yang sesungguhnya.
Secara umum laporan keuangan disusun berdasarkan nilai historis yaitu menggunakan harga pada saat transaksi dan berasumsi bahwa harga-harga stabil.
Penyusunan laporan keuangan berdasarkan nilai historis ini tidak akan mencerminkan adanya perubahan daya beli sehingga laporan keuangan kurang
mampu mencerminkan keadaan yang sebenarnya jika terjadi perubahan. Hal ini akan menyebabkan laporan keuangan kehilangan keakuratan maupun ketelitiannya.
Laporan keuangan tersebut kurang sesuai jika digunakan sebagai dasar pegambilan keputusan sehingga pihak ekstern maupun pihak intern perusahaan dapat kehilangan kepercayaan terhadap laporan keuangan. Terjadinya inflasi yang cukup tinggi akan menyebabkan semakin tinggi ketidakakuratan laporan keuangan yang dihasilkan. Agar dapat mencerminkan keadaan yang sebenarnya atau paling tidak mendekati keadaan yang sebenarnya, laporan keuangan dapat disusun dengan menggunakan tingkat harga umum. Semakin tinggi tingkat inflasi maka semakin besar perbedaan yang dihasilkan antara laporan keuangan yang disusun berdasarkan nilai historis dengan laporan keuangan yang disusun berdasarkan tingkat harga umum.
Pengaruh perubahan harga terhadap laporan keuangan dapat dilihat dengan menyajikan kembali laporan keuangan tersebut dengan akuntansi tingkat harga umum. Akuntansi tingkat harga umum mampu menyatakan nilai sesungguhnya dari rupiah yang biasa disebut dengan daya beli. Jika terjadi perubahan harga baik inflasi maupun deflasi maka jumlah barang atau jasa yang diterima dengan nilai uang yang sama akan berubah hal ini berarti ada perubahan daya beli.
Penyajian laporan keuangan dengan tingkat harga umum dilakukan dengan menyajikan komponen laporan keuangan ke tingkat daya beli sekarang dengan mengkonversikan nilai historis dengan faktor konversi yaitu indeks harga sekarang dibagi indeks harga tahun dasar. Dan indeks harga yang digunakan
adalah indeks harga konsumen. Dengan menggunakan akuntansi tingkat harga umum maka laporan keuangan akan lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya pada masa inflasi maupun deflasi. Dengan demikian informasi yang dihasilkan akan lebih mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada skema kerangka pikir :
Gambar 1. Kerangka Pikir Analisis perbandingan
komparatif
Analisis NOD
Analisis COG
Kesimpulan:
Laporan Keuangan AKTHU relevan dan interpretatif
Laporan Keuangan
Akuntansi Biaya Historis Pengakuan dan Pengukuran:
Aset
Kewajiban
Pendapatan
Beban
Akuntansi Tingkat Harga Umum Pengakuan dan Pengukuran:
Item moneter
Item non moneter
Dokumentasi PT. Industri Kapal Indonesia
(Persero)
F. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
“Penerapan Akuntansi Tingkat Harga Umum menyajikan informasi yang lebih relevan dan interpretatif pada saat terjadi perubahan harga atau inflasi, sedangkan penerapan Akuntansi Biaya Historis dalam penyusunan laporan keuangan tidak mencerminkan daya beli pada masa inflasi, sehingga laporan keuangan tersebut tidak memberikan informasi yang akurat dan relevan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu penelitian
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, maka penulis memilih obyek penelitian pada perusahaan PT Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar yang bertempat di jalan Galangan Kapal. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 1 bulan sekitar 14 april sampai 10 mei tahun 2014.
B. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Definisi Operasional Variabel
Untuk memperoleh kesamaan persepsi tentang variabel yang dikaji dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan definisi operasionalnya sebagai berikut:
a) Akuntansi Biaya Historis adalah prinsip pengukuran yang didasarkan pada transaksi yang sudah terjadi antara pihak-pihak independen di masa lalu dalam penyusunan laporan keuangan PT Industri Kapal Indonesia (Persero).
b) Akuntansi Tingkat Harga Umum adalah alternatif pengukuran yang berupa penyesuaian metode biaya historis terhadap perubahan tingkat harga umum pada laporan keuangan PT Industri Kapal Indonesia (Persero).
2. Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh penerapan metode biaya historis dan tingkat harga umum sebagai informasi yang
33
mencerminkan perubahan harga pada laporan keuangan PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) di Kota Makassar. Untuk itu pengukuran variabel yang digunakan adalah membandingkan antara penerapan akuntansi biaya historis dengan penerapan akuntansi tingkat harga umum dengan mengkonversi pos-pos moneter dan nonmoneter ke dalam tingkat harga umum. Kemudian membandingkan antara laporan keuangan berdasarkan biaya historis dan berdasarkan tingkat harga umum untuk mengetahui laporan keuangan tersebut relevan dan interpretatif. Dari kedua variabel di atas diukur dengan menggunakan mata uang Rupiah.
C. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah metode dokumentasi. Dokumentasi merupakan kegiatan pengumpulan data dari beberapa sumber dari perusahaan PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) yang dibutuhkan dan relevan dengan masalah penelitian. Adapun data yang dikumpulkan berupa laporan neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan, laporan aktiva tetap dan indeks harga konsumen mulai tahun 2011, 2012, dan 2013.
D. Metode Analisa Data
Metode penerapan yaitu metode yang membandingkan antara penerapan Akuntansi Biaya Historis dengan penerapan Akuntansi Tingkat Harga Umum.
Metode kuantitatif yakni data berupa laporan neraca, laporan laba/rugi, laporan laba ditahan, laporan aktiva tetap dan indeks harga konsumen perbulan.
BAB IV
GAMBARAN PERUSAHAAN
A. Sejaran Singkat Perusahaan
Pada tahun 1962 di Makassar mulai dibangun dua buah proyek pembangunan galangan kapal Paotere dan proyek galangan kapal Tallo. Proyek ini dengan tujuan untuk mengantisipasi permintaan kapal yang meningkat hingga perawatan dan perbaikan kapal yang cukup potensial di kawasan timur Indonesia.
Proyek galangan kapal Paotere dibangun oleh Departemen Perindustrian dan Pertambangan yang mengelolah kapal-kapal baja yang mempunyai daya angkut sebesar 2.500 MT. Sedangkan proyek galangan kapal Tallo dibangun oleh departemen urusan veteran dan demobilisasi untuk memproduksi kapal-kapal kayu sampai ukuran 3.000 MT. proyek ini memiliki sliway dan fasilitas untuk menaikkan dan menurunkan kapal dari dan ke laut yang memiliki panjang 45 meter dan mempunyai daya angkut 500 LT (lifting Ton) yang didatangkan dari Polandia.
Karena adanya keterbatasan biaya, maka pemerintah memutuskan untuk menggabungkan kedua proyek tersebut yang lokasinya antara satu dengan yang lainnyan kira-kira 2 km di bawah pembinaan Departemen Perindustrian dan Pertambangan serta merubah nama menjadi Proyek Galangan Kapal Makassar sesuai dengan Surat Keputusan Presiden nomor 225 Tahun 1963 dan proyek ini dinyatakan sebagai proyek vital oleh pemerintah. Dengan adanya pembangunan tersebut maka:
36
a. Lokasi proyek galangan kapal Tallo dipindahkan dan berdampingan dengan galangan kapal Paotere.
b. Mengadakan redesigning yang disesuaikaan dengan biaya yang ada dengan menitikberatkan pada penyelesaian tahap pertama (eks proyek galangan kapal) dengan sasaran utama pemeliharaan dan reparasi kapal yang berbobot sampai dengan 500 ton.
c. Menunda pembangunan eks proyek galangan kapal Paotere untuk diteruskan pada tahap kedua ( rencana perluasan)
Akhirnya setelah mengalami masa pembangunan selama tujuh tahun, maka pada tanggal 30 maret 1970, penyelesaian dan pemakaian galangan kapal tahap pertama diresmikan Sekertaris Jendral Departemen Perindustrian yang mewakili Departemen Perindustrian.
Selama periode 1970 hingga tahun 1977, galangan kapal Makassar masih berstatus sebagai proyek. Kemudian pada tanggal 29 oktober 1977, di depan notaries, status tersebut diubah menjadi perseroan terbatas (PT) berdasarkan akta Notaris Sistkelimoa, SH. Ujung Pandang nomor 122 Tahun 1977 dengan nama PT. (Persero) Industri Kapal Indonesia Makassar atau disingkat menjadi PT. Industri Kapal Indonesia Makassar yang beralokasi di pantai Paotere kecamatan Tallo sebelah utara Kota Makassar yaitu sekitar 3,5 km dari pusat kota dan mempunyai areal tanah seluas 250.000 meter persegi.
PT.Industri Kapal Indonesia (Persero) mempunyai unit-unit produksi sebagai berikut:
1) Galangan Kapal Padang di Sumatera barat 2) Galangan Kapal Gresik di Jawa Timur
3) Galangan Kapal Makassar di Sulawesi Selatan 4) Galangan Kapal Bitung di Sulawesi Utara
PT. Industri Kapal Indonesia (Persero) Makassar mempunyai sliway horizontal dan sliway miring dengan shifter besar untuk menaikkan atau menurunkan kapal dari laut dan kapal setelah sampai di darat, maka dapat ditarik ke samping salah satu site track (Norman Sistem). Shifter ini mempunyai panjang 150 meter dan mempunyai daya angkut 500 ton dan tinggi air di atas shifter tersebut maksimal tiga meter. Sebelah barat sliway horizontal terdapat dua site track yang panjangnya mencapai 50 meter dan kapasitasnya mencapai 50 meter dan kapasitas 300 ton.
Dengan peralatan yang dimiliki saat ini PT.Industri Kapal Indonesia (Persero) Makassar telah mampu membuat kapal yang beratnya mencapai 500 ton. Pemerintah merencanakan perluasan Industri Kapal Indonesia di seluruh Indonesia yaitu, Palembang, Jakarta, Surabaya dan Makassar sebagai pusat Industri Kapal Indonesia bagian timur.
Dengan didirikannya pusat industri tersebut diharapkan akan mendorong berdirinya industri pembantu di sekitarnya seperti pembuatan komponen- komponen kapal, pengecetan, sub kontraktor dan industri lain yang menunjang.
Sebagai langkah pertama untuk menuju ke arah pusat industri kapal, maka pemerintah merencanakan akan memperluas PT. (Persero) Industri Kapal Indonesia Makassar agar mampu membuat dan mereparasi kapal-kapal sampai
500 GT. Sejak tahun 1976, galangan kapal Makassar dapat membuat kapal baru dan mereparasi kapal. Sedangkan pada tahun1977 galangan kapal menjadi salah satu inti dari PT. (Persero) Industri Kapal Indonesia Makassar antara lain:
a) Reparasi, perbaikan body dan mesin kapal
b) Memodifikasi kapal yang telah ketinggalan mode c) Mengecet Kapal
d) Memproduksi alat-alat suku cadang
e) Membuat kapal baru dengan berbagai model
B. Struktur Organisasi Dan Uraian Tugas
Lazimnya perusahaan dalam menjalankan usahanya agar tujuan yang direncanakan dapat tercapai, maka perencanaan tersebut dikongkritkan dalam suatu bentuk organisasi perusahaan yang jelas dan sejak semula diarahkan kepada proses pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang memadai, baik yang berhubungan dengan masalah-masalah teknis maupun mengenai pemberian tugas pada semua tingkat dalam perusahaan tersebut. Struktur organisasi pada dasarnya meperlihatkan hubungan wewenang dengan tanggung jawab sehingga strukur organisasi dapat menunjukkan tiap-tiap fungsi atau kedudukan dan juga hubungan antar karyawan dalam perusahaan.
Struktur organisasi PT. (Persero) Industri Kapal Indonesia Makassar diatur sesuai dengan Surat Keputusan Direksi nomor 44/DIR-Industri Kapal Indonesia/KPTS/VII/2002, tanggal 20 agustus 2002, yang mulai berlaku tanggal 1 september 2002. Perubahan struktur organisasi ini menggantikan struktur