BAB IV ANALISA
IV.1. ANALISA ASPEK MANUSIA IV.1.1. Pelaku, Jenis dan Urutan Kegiatan
Pelaku kegiatan di dalam perpustakaan ada 3 macam yaitu pengunjung perpustakaan dewasa, pengunjung perpustakaan anak-anak dan staff perpustakaan.
Kegiatan utama yang dilakukan oleh pengunjung adalah membaca dan meminjam buku.
Sedangkan yang dilakukan oleh staff adalah masing-masing bekerja menjalankan tugasnya untuk keberlangsungan perpustakaan itu sendiri.
Analisa Kegiatan Pengunjung Dewasa Membaca dan Meminjam Buku
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
Gambar 15 : kegiatan pengunjung dewasa
Analisa Kegiatan Pengunjung Anak dan Remaja Membaca dan Meminjam Buku
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
Gambar 16 : kegiatan pengunjung anak
Analisa Kegiatan Pengunjung Anak dan Remaja Membaca dan Meminjam Buku
Gambar 17 : kegiatan pengelola
Analisa Kegiatan Staff Perpustakaan
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
Gambar 18 : kegiatan staff perpustakaan
IV.1.2. Kegiatan, Pengguna, Sifat dan Kebutuhan Ruang Kebutuan Ruang Unit Pelayanan Pengunjung
Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang pusat informasi bangunan,
ruang tunggu dan sirkulasi manusia.
Staff dan pengunjung.
Publik, berisik, ramai. Hall / Lobby
ruang perantara menuju ke ruang koleksi dan ruang baca.
Staff dan pengunjung.
Publik, ramai. Foyer
penitipan barang-barang yang tidak diperbolehan masuk.
Staff Publik, mudah di
akses.
Ruang penitipan barang
meminjam dan mengembalikan buku untuk dalam perpustakaan
Staff dan pengunjung
Terbuka, mudah diakses.
Ruang peminjaman
informasi mengenai lokasi dan jenis koleksi yang dicari dalam format komputer.
Pengunjung Terbuka, mudah di akses, pencarian
cepat.
Ruang katalog digital
penyimpanan buku-buku khusus Staff dan pengunjung
Tertutup, tenang, privat.
Ruang rak khusus
penyimpanan buku-buku dengan sistem robotic
Staff dan pengunjung
Terbuka, tenang, nyaman, publik.
Ruang rak buku umum
tempat membaca privat Pengunjung dewasa Tertutup, tenang, nyaman,
menyenangkan
Ruang baca, ruang terbuka
Tempat menyimpan buku anak dan ruang baca anak
Pengunjung anak Tertutup, tenang, nyaman,
menyenangkan
Ruang baca,
Akses komputer dan internet anak-anak
Pengunjung anak Tertutup, tenang, nyaman,
menyenangkan
Ruang komputer
membaca buku, mengerjakan tugas dan berdiskusi.
Pengunjung Terbuka, nyaman, sedikit berisik.
Ruang baca terbuka
menyimpan koleksi surat kabar dan majalah.
Pengunjung Semi terbuka. Ruang surat kabar dan majalah membaca surat kabar, majalah
dan koleksi baru
Pengunjung Semi terbuka, nyaman, santai.
Ruang baca surat kabar dan majalah Pemakaian komputer yang dapat
digunakan pengunjung untuk mengerjakan tugas dan internet
Staff dan pengunjung
Tertutup, tenang, nyaman.
Ruang komputer
peminjaman tablet komputer Staff dan pengunjung
Tertutup, informatif Ruang peminjaman tablet
tempat menyimpan koleksi dalam bentuk audio visual.
Staff dan pengunjung
Tertutup, tenang. Ruang koleksi film (CD & DVD) menyimpan microfilm. Staff dan
pengunjung
Tertutup, privat, tenang.
Ruang Mikrofilm
pemutaran audio dan video. Staff dan pengunjung
Tertutup, tenang, nyaman.
Ruang Audio / Video
peminjaman data dalam bentuk slide.
Staff dan pengunjung
Tertutup, tenang. Ruang
penyimpanan slide membuang air besar dan air
kecil.
Pengunjung. Tertutup, service. Toilet
Tabel 7 : Kebutuhan ruang unit pelayanan pengunjung
Kebutuan Ruang
Unit Penunjang Pelayanan Pengunjung
Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang Sebagai tempat untuk seminar dan
acara-acara yang memerlukan ruang cukup besar.
Staff, pengunjung, umum.
Luas, nyaman, tata ruang dan akustik yang baik.
Auditorium
Sebagai tempat melakukan pameran.
Staff dan pengunjung.
Aman, terlihat. Ruang pameran
Sebagai tempat menjual dan membeli buku.
Staff dan pengunjung.
Mudah terlihat, aman. Toko buku
Sebagai tempat fotocopi. Staff dan pengunjung Terbuka. Copy centre Sebagai tempat beristirahat,
makan dan berkumpul.
Staff dan pengunjung.
Nyaman, santai, semi terbuka, fleksibel.
Cafe atau restaurant
Sebagai tempat berjualan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan di luar perpustakaan.
Staff dan pengunjung.
Mudah Terlihat, aman, berisik.
Kios
Sebagai tempat beribadah bagi pemeluk agama Islam.
Staff dan Pengunjung.
Sholat Mushola
Sebagai tempat membuang air besar dan air kecil.
Pengunjung. Tertutup, service. Toilet
Tabel 8 : Kebutuhan ruang unit penunjang pelayanan pengunjung
Kebutuhan Ruang Unit Service
Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang penyimpanan buku-buku baru. Staff Tertutup dan privat. Gudang buku
sementara penyimpanan buku-buku yang
telah disortir dan akan dimasukkan ke rak buku.
Staff Tertutu, privasi dan
aman.
Gudang buku
penyimpanan sementara untuk perbaikan apabila terdapat perabot perpustakaan yang rusak.
Staff Akses khusus, privat, berisik.
Bongkar muat
perawatan buku-buku yang rusak. Staff Tertutup, privat, aman. Ruang Perawatan istirahat para staff. Staff Nyaman dan tenang. Ruang Istirahat menyiapkan makanan dan
minuman.
Staff Tertutup, perlu
penghawaan yang baik.
Pantry
Katalogisasi dan digitalisasi buku Staff Tertutup, perlu
penghawaan yang baik.
Data Entry Room
Data center dan ruang pengelolaan IT
Staff Tertutup, perlu
penghawaan yang baik.
Server
Tabel 9 : Kebutuhan ruang unit servis
Kebutuhan Ruang Unit Staff Pengelola
Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang bekerja dan beraktifitasnya staff-
staff yang bertugas mengelola buku buku-buku perpustakaan.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Pengadaan
bekerja dan beraktifitasnya staff- staff yang bertugas merencanakan tata ruang dan letak pada
perpustakaan.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Perencanaan
Bekerja dan membeerikan informasi tentang bahan dan teknologi yang digunakan dalam perpustakaan
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang IT
bekerja dan beraktifitasnya staff- staff yang bertugas untuk merencanakan dan menjalankan kersajama dengan perpustakaan atau institusi lain.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Kerjasama (Humas)
bekerja dan beraktifitasnya staff- staff yang bertugas untuk mengelola keuangan perpustakaan.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Keuangan
bekerja dan beraktifitasnya staf- staf yang bertugas untuk mengelola admistrasi perpustakaan.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Administrasi
bekerja dan beraktifitasnya staff- Staff Fungsional, tenang dan Ruang Pengelola
staff yang bertugas mengelola fasilitas yang berhubungan dengan format multimedia.
nyaman. Bidang Multimedia
bekerja dan beraktifitasnya staff- staff yang bertugas memelihara dan memperhatikan semua hal yang berhubungan dengan bangunan perpustakaan.
Staff Fungsional, tenang dan
nyaman.
Ruang Pengelola Bidang Bangunan (Building
Management)
rapat dan diskusi mengenai semua hal yang berhubungan dengan perpustakaan.
Staff Fungsional, tertutup,
tenang dan nyaman.
Ruang Rapat Pengelola
membuang air besar dan air kecil. Staff Tertutup, servis. Toilet Tabel 10 : Kebutuhan ruang unit staff pengelola
IV.1.3. Kebutuhan dan Dimensi Ruang e) Koleksi Buku
• Jumlah Populasi yang dilayani
- Jumlah Penduduk Jakarta yang dilayani : 1.569.247 orang (www.bps.go.id) - Tingkat Pertumbuhan Jakarta 20 tahun mendatang : 1.49 (www.bps.go.id)
- Jumlah Penduduk Jakarta 20 Tahun Mendatang : 1.569.247 orang X 1.49 = 2.338.178.03 orang ~ 2.338.178 orang
• Jumlah Koleksi yang harus diadakan
- Standard jumlah koleksi berdasarkan Populasi layanan untuk layanan diatas 500.000 penduduk : 0.75 koleksi per kapita (Wheeler &Goldhox, 1962)
- Jumlah Total koleksi yang disediakan hingga 20 tahun mendatang : 0.75 x 2.338.178 orang = 1.753.634 koleksi
• Klasifikasi koleksi:
- Buku : 80.2 % : 1.406.414 buah
• Buku anak : 35.5% X 1.406.414 = 499.277 buah
• Buku Remaja dan Dewasa = 1.406.404 buah - Audio video : 10.8 % : 189.392 buah - Elektronik : 3 % : 52.609 buah
- Lain-lain : 6% (microfilm, dan lainnya) : 105.218 buah (Sumber: Studi banding beberapa Perpustakaan)
• Jumlah Komputer yang harus disediakan berdasarkan populasi
- Standard : 1 komputer per 1325 jumlah penduduk - Maka : 2.338.178 orang / 1325 : 1764 komputer
• Perkiraan Komputer Desktop dan Portabel
- Asumsi Komputer desktop yang digunakan sebanyak 1/3 total.
- Maka : 1764 Komputer X 1/3 = 588 komputer Desktop - 1764 – 588 = 1176 komputer Portabel
• Luas lantai
- Standart : 10 m2 untuk setiap 1000 eksemplar
- Maka : 10 x (1.753.634/1000) = 17.536 m2 (Sumber: Studi banding beberapa Perpustakaan)
f) Koleksi Non Buku
• Perbandingan koleksi buku dengan non buku - Perbandingan = 1: ½
- Maka kebutuhan ruang : ½ x 17536 m2 = 8.768 m2 (Sumber: Studi banding beberapa Perpustakaan) b) Koleksi non buku:
- Ruang Audio 20% : 1.754 m2 - Ruang Visual 20% : 1.754 m2 - Ruang Slide 15% : 1.315 m2 - Ruang Mikrofilm 15% : 1.315 m2 - Sirkulasi 30 % : 3507 m2 (Sumber: Studi banding beberapa Perpustakaan)
3) Kapasitas Pengunjung
• Perkiraan Kapasitas Pengunjung yang disediakan
- Standard perbandingan pengunjung yang harus disediakan dan populasi layanan perpustakaan : 0.75 pengunjung per 1000 populasi layanan. (Wheeler
&Goldhox, 1962)
- Jumlah Perkiraan Kapasitas yang harus ditampung : 2.338.178 orangX 0.75 / 1000 = 1.754 orang
- Kapasitas Pengunjung anak = 1.754 X 35.5 % = 623 - Kapasitas Pengunjung Dewasa = 1149
4) Dimensi Kebutuhan Ruang
Dimensi Ruang
Unit Pelayanan Pengunjung
Ruang Standar Sumber Kapasitas Perhitungan Luas
Hall
0,8 m2 /
org NAD 250 0,8 x 250 200.00 m2
Ruang Informasi
2,75 m2 / kom
Allan
Konya 250 2,75 x 250 687.50 m2 R. Penitipan
Barang
0,2 m2 /
org NAD 2000 0,2 x 1200 240.00 m2
R.
Peminjaman Tablet
15 m2 = 1000 tablet
Studi
Banding 1200
15 / 1000
*1200 18.00 m2
R. Koleksi Umum
10 m2 = 1000 eks
Studi
Banding 921201
10 x921201 /
1000 9,212.01 m2
R. Baca Koleksi Umum
2,7 m2 /
org TSS 1149 2,7 x 1149 3,102.30 m2
R. Koleksi umum anak
15 m2 = 1000 eks
studi
banding 499277
10 x499277 /
1000 4,992.77 m2
R. Baca
Koleksi Anak 3 m2 / org TSS 623 2,7 x 623 1,682.10 m2 R. Komputer
Dewasa
2,75 m2 / kom
Allan
Konya 399 2,75 x 399 1,097.25 m2 R. Komputer
Anak
2,75 m2 / kom
Allan
Konya 201 2,75 x 201 552.75 m2
Ruang 10 m2 = Studi 7794 10 x 7794 / 7.79 m2
koleksi film (CD & DVD)
10000 keping
Banding 10.000
Ruang
Mikrofilm 15%
Godfrey
F 8768 15 % x 8768 1,315.20 m2
Ruang Audio
Visual 20%
Godfrey
F 8768 20% x 8768 1,753.60 m2
Ruang Slide 15%
Godfrey
F 8768 15% x 8768 1,315.20 m2
Toilet
1,5 m2 / unit
Studi
Banding 40 unit 1,5 x 40 60.00 m2 SUB TOTAL 26,236.47 m2 Unit Penunjang Pelayanan Pengunjung
Ruang Standar Sumber Kapasitas Perhitungan Luas
Auditorium 2 m2 / org
Allan
Konya 750 2 x750 1,500.00 m2
VIP Room
5 m2 / orang
Studi
Banding 5 org 5 x 5 25.00 m2
Ruang
pameran 1 m2 / org NAD 600 1 x 600 600.00 m2
Toko buku
10 m2 = 1000 eks
Studi
Banding 30.000 bk
10 x 30.000
/ 1000 300.00 m2
Copy centre
5 m2 / mesin
Godfrey
F 20 5 x 20 100.00 m2
Cafe
70%
pengunjung 1m2 orang
Allan
Konya 1240.4 600 x 70% 1,240.40 m2
Dapur 40% luas 496.16 m2
dapur
Kios
15 m2 / unit
Studi
Banding 25 15 x 25 375.00 m2
Mushola 1 m2 / org
Studi
Banding 200 1 x 200 200.00 m2
Toilet
1,5 m2 / unit
Studi
Banding 20 1,5 x 20 30.00 m2
SUB TOTAL 4,866.56 m2 Unit Servis
Ruang Standar Sumber Kapasitas Perhitungan Luas Gudang buku
sementara 6 m2 / vol
Studi
Banding 10000
6 x (10000 /
600) 100 m2
Gudang 6 m2 / vol
Studi
Banding 10000
6 x (10000 /
600) 100 m2
R. Bongkar
muat buku 6 m2 / vol NAD 20000
6 x (20000 /
600) 200 m2
R. Utilitas AC
& AHU 300 m2
Ruang IT
(server)
Studi
Banding 100 m2
Ruang
Perawatan 6 m2 / vol
Studi
Banding 10000
6 x (1000 /
600) 100 m2
Ruang
Istirahat 2 m2 / org
Studi
Banding 20 org
2 x 20 + 20
% sirk 48 m2
Loading Dock
Studi
Banding 120 m2
Pantry 1,5 m2 / Studi 50 1,5 x 50 75 m2
unit Banding
SUB TOTAL 1143 m2 Unit Staff Pengelola
Ruang Standar Sumber Kapasitas Perhitungan Luas
Hall
0,8 m2 /
org NAD 50 0,8 x 50 40 m2
R. Kepala Perpustakaan
15 m2 / orang
Studi
Banding 1 org 1 x 15 15 m2
R. Wakil
Perputakaan 9 m2 / org
Studi
banding 1 org 1 x 15 15 m2
R. Staff 2 m2 / org
Studi
Banding 400
2 x 400 +
20% sirk 960 m2
R. Rapat 2 m2 / org NAD 100 2 x 100 200 m2
Toilet
1,5 m2 / unit
Studi
Banding 15 1,5 x 15 22.5 m2
SUB TOTAL 1252.5 m2
TOTAL 33,498.53 m2
Sirkulasi
20% 6699.7068 m2
Total 40,198.24 m2 Tabel 11 : Kebutuhan besaran ruang
• Luas total dimensi kebutuhan ruang 43.753.24 m2 ~ 43.750 m2
• Perkiraan Tinggi Bangunan:
Luas Tapak : 14.000 m2 KDB 60 % : 8400 m2
2
Maka, perkiraan jumlah lapis banguanan adalah:
Perkiraan luas / lantai : 6000 m2
Maka : 43.750 / 6000 = 7.2 ~ 8 lantai
• Kebutuhan Parkir Perpustakaan:
Berdasarkan standart jumlah parkir, perpustakaan digolongkan dalam bangunan perguruan tinggi yaitu 1 unit mobil untuk setiap 200 m2 lantai bruto, maka:
- Parkir Mobil
43.750 m2 / 200 m2 = 219 unit mobil Luas Parkir: 15 m2 x 219 unit = 3.281 m2 - Parkir Motor
Perbandingan parkir mobil : motor = 1:3 219 x 3 = 656 unit motor
Luas Parkir: 2 m2 x 656 = 1.313 m2
Maka luas kebutuhan lahan untuk parkir adalah:
- 3.281 m2 untuk 219 unit mobil - 1.313 m2 untuk 656 unit mobil
(Sumber: Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE, Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta, 2004)
IV.1.4. Pengelompokkan program ruang
Berdasarkan analisa pelaku kegiatan, sifat kegiatan, dan kebutuhan ruang, maka kegiatan dalam perpustakaan umum daerah Jakarta Barat ini dikelompokkan menjadi :
1. Kegiatan Parkir dan Servis : berisikan kegiatan parkir dan sirkulasinya beserta ruang-ruang servis seperti ruang utilitas.
2. Kegiatan Anak-anak : berisikan ruang-ruang yang berhubungan dengan kegiatan anak-anak seperti
3. Kegiatan googling (pencarian) : berisikan kegiatan-kegiatan yang berisikan pencarian baik itu bahan pustaka atau informasi bangunan.
4. Kegiatan Penyerapan informasi : tempat dimana kegiatan membaca, melihat, mendengar, dan merasakan informasi dilakukan.
5. Kegiatan penunjang : tempat dimana kita melakukan kegiatan lain seperti ruang pertemuan, ruang audio visual, dan lain sebagainya.
6. Kegiatan pelengkap : berisikan kegiatan-kegiatan pelengkap seperti membeli suvenir, restauran, dan lain sebagainya.
7. Kegiatan campur : tempat dimana kita bisa melakukan penyerapan informasi bersamaan dengan aktifitas lain, seperti berdiskusi, berbelanja, bermain di taman, dan lain sebagainya.
8. Kegiatan pengelola : tempat dimana pengelola melakukan kegiatannya.
Kelompok Ruang Besaran
untuk
campur
Ruang Parkir dan servis 5,364 m2
Ruang Googling 1,146 916 m2
Ruang anak-anak 7,228 m2
ruang simpan 10,535 m2
ruang penyerapan informasi 7,268 5,815 m2
ruang penunjang 2,425 1,940 m2
ruang pelengkap 2,442 1,953 m2
ruang campur 2,656 m2
ruang pengelola 1,253 m2
Total 37,659 m2
Total dengan sirkulasi 20% 45,191
Tabel 12 : kelompok program ruang
IV.3 ANALISA ASPEK LINGKUNGAN IV.3.1. Potensi Sekitar Tapak
1) Sekolah Di sekitar tapak, seperti Tarsisius II, dan sekolah negri laiinya yang berada di sekitar tapak, karena kebutuhan informasi dari para pelajar akan meningkatkan tingkat pengunjung dari pelajar TK hingga SMA. Hal lainnya adalah, para penunggu yang mungkin akan menghabiskan waktu mereka di perpustakaan sembari menjemput anak mereka pulang sekolah.
2) Kampus Bina Nusantara, dari kalangan mahasiswa, akan selalu membutuhkan informasi yang berbeda dengan pelajar pada umumnya, juga dengan adanya kampus, maka tersebar kos-kos atau tempat tinggal para mahasiswa yang berasal dari daerah, sehingga mereka yang tinggal di area sekitar tapak, akan memiliki daerah atau tempat baru untuk menghabiskan waktu senjang mereka.
3) Toko bunga / pasar bunga Rawa belong. Jalur Jalan Rawa Belong adalah jalur tradisional yang sudah terbentuk dari dulu, sehinga karakter daerah ini sebenarnya adalah tempat penjualan bunga dan tanaman hias.
IV.3.2. Keterkaitan Tapak dan Lingkungan
Berdasarkan pengembangan tapak, agar tebentuk menjadi kawasan pendidikan dan perumahan, serta perdagangan yang menarik, potensi tapak dengan lingkungan sekitar harus memiliki hubungan timbal balik, baik secara aksesibilitas, maupun secara konteks perkotaan.
ada beberapa macam bangunan yang terdapat di sekitar tapak untuk acuan dalam mendesain bangunan perpustakaan ini nantinya
No Tipe Bangunan Lokasi Gaya Ciri-ciri
1. Perumahan Daerah
antara barat hingga utara tapak
Macam- macam
-beratap genteng -bermaterial beton
2 Kampus Anggrek Bina Nusantara
Jalan raya rawa belong
modern -tinggi
-memiliki warna khas binus
-beratap lengkung dan datar
3 Ruko dan kios kecil Tersebar sepanjang jalan raya
beragam -terbuka langsung ke luar
Memiliki aneka dagangan
4 Sekolah Tarsisius Jalan raya rawa
belong
Modern -Memiliki shading matahari
-
Tabel 13 : analisa bangunan sekitar tapak
IV.3.1. Analisa Pencapaian Dan Sirkulasi Dalam Tapak
Terdapat dua kriteria pencapaian berdasarkan kegiatan, yaitu : A. Kriteria Pencapaian pengelola dan servis
a) Tidak menggangu sirkulasi pengunjung b) Mempunyai pintu masuk khusus
c) Terlindung dari aktifitas pengunjung B. Kriteria pencapaian pengunjung Perpustakaan
d) Mudah terlihat
e) Orientasi menghadap jalan utama f) Tidak memotong arus lalu lintas
Pertimbangan sirkulasi dalam tapak, adalah kemudahan, kenyamanan dan keamana pejalan kaki dan sirkulasi mobil. Dimana terdapat penyelesaian sirkulasi yang baik terhadapa para pejalan kaki, sehingga tidak memotong arus lalu lintas kendaraan bermotor.
Kriteria pengembangan sistem sirkulasi 1. Kejelasan alur sirkulasi
2. Tidak terjadi crossing 3. Efesiensi lahan
4. Memiliki pusat orientasi terhadap tapak
Alternatif pola sirkulasi memasuki tapak 1. Pola jalan masuk tunggal
a. Tidak terdapat pembedaan jalur masuk pengunjung, pengelola, dan servis b. Pejalan kaki dan pengguna kendaraan memasuki tapak dengan jalur yang sama.
2. Pola jalan masuk ganda
a. Ada pembedaan jalur masuk pengunjung dan pengelola b. Sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki dapat dipisahkan.
Dari dua alternatif diatas, pola sirkulasi ganda dipilih karena memisahkan jalur pejalan kaki dan kendaraan bermotor sehingga tidak terjadi crossing sehingga para pejalan kaki tidak merasa terganggu dengan arus kendaraan ketika berjalan, dan juga adanya pemisahan antara sirkulasi pengunjung dan sirkulasi pengelola, sehingga tidak terjadi bentrok aktifitas masing- masing kegiatan.
No Gambar Keterangan
1. Sirkulasi Pintu Masuk Kendaraan menjelaskan pintu masuk kendaraan pengunjung yang berwarna merah diletakkan untuk menghindari antrian panjang sehingga diletakkan di batas site yang terjauh dari tikungan / pertigaan rawa belong dan jalan raya kebon jeruk. Sedangkan sirkulasi pengelola dan servis
ditempatkan pada jalan kecil untuk tidak menggangu sirkulasi utama 2. Sirkulasi Pintu Masuk Pejalan kaki Arus sirkulasi pejalan kaki
dibuat sebebas mungkin dari ganngguan aktifitas kendaraan sehingga tidak terjadi crossing.
Aktifitas pejalan aki dibuat juga disepanajang tepi jalan untuk menghubungkan arah sirkulasi dari jalan ke dua buah jalan besar. Juga dibuatnya jalan pedestrian baru, sehingga masyarakat bisa memanfaatkan halaman perputakaan sebagai taman terbuka
hijau.
Tabel 14 : analisa sirkulasi tapak
IV.3.3. Analisa Orientasi Tapak
Tujuan : Untuk menentukan arah bagi perpustakaan agar mudah terlihat dengan pertimbangan pencapaian dan peraturan kawasan agar mendukung aktifitas dan fungsi perpustakaan itu sendiri, terutama sesuai dengan topik dan tema.
Kriteria-kriteria pemilihan yang mempengaruhi orientasi : 1. View yang menarik
2. Interaksi kegiatan di dalam dan diluar tapak
3. Pertimbangan terhadap perancangan kota yang membuat bangunan ini menjadi penanda bagi lingkungan sekitar
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
gambar 19 : analisa untuk orientasi bangunan
IV.3.4. Analisa Penataan Ruang Luar
Tujuan penataan ruang luar adalah untuk mewujudkan suatu suasana atau kesan yang mendukung kegiatan dan kebutuhan yang ada dalam bangunan, penataan ruang luar ini terbagi atas dua, yaitu :
A. Ruang Luar Aktif
Merupakan ruang terbuka yang mengandung unsur-unsur kegiatan aktif manusia didalamnya, antara lain tempat duduk, pedestrian, sirkulasi kendaraan, plaza dengan aktifitas tertentu. Dalam perencanaany, ruang luar yang ada dimanfaatkan untuk :
1. Parkir, jalur sirkulasi kendaraan, pedestrian, plaza, dan taman
2. Untuk mencukupi kebutuhan parkir, maka dibuat basement, dengan sistem parkir 900 dengan pertimbangan sebagai berikut :
3. Plaza dan pedestrian digunakan untuk kenyamanan sirkulasi pejalan kaki, yang ingin mendapat ruang dalam dan luar atau sebaliknya dab harus
dibuat senyaman mungkin. Sebagai ruang transisi antara ruang luar bangunan, juga dapat digunakan sebagai ruang duduk-duduk.
4. Taman dibuat sebagai penghijauan, sebagian juga dpaat digunakan untuk mereduksi bising baik dari sirkulasi sekitar tapak maupun kebisingan dari sekeliling tapak.
5. Sculpture digunakan untuk memberikan suasana estetik terhadap bangunan tersebut.
6. Adanya taman yang akan digunakan sebagai ruang baca alternatif yang menyenangkan.
B. Ruang luar Pasif
Ruang hijau terbuka merupakan ruang luar terbuka yang tidak mengandung kegiatnan manusia, yang memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Membatasi elemen visual yang tidak diinginkan
2. Penyaring polusi udara dan suara yang ditimbulkan lalu lintas kendaraan.
3. Pendukung penampilan bangunan disamping memelihara lingkungan yang bisa dipandang berguna untuk pengalihan pemandangan terhadap aktifitas perpustakaan yang mungkin membosankan.
4. Area penghijauan dan penyerapan air hujan.
Penataan yang dilakukan pada ruang luar pasif pada perpustakaan umum ini bisa dilakukan dengan cara:
1. Elemen keras. Pemakaian material berupa perkerasan, atau penambahan ornamen
2. Elemen lunak. Penambahan vegetasi pada tapak, selain sebagai pendukung penampilan bangunan seperti penggunaan :
i. Pohon-pohon besar sebagai buffer dan pengarah ii. Rumput untuk menutup tanah
iii. Tanaman hias sebagai pendukung penampilan landscape.
IV.3.1. Zoning Dalam Tapak
Zoning dalam tapak ditentukan oleh : 1. sirkulasi dan pencapaian dalam tapak 2. arah orientasi bangunan
3. sifat kegiatan yang ditentukan berdasarkan kebisingan.
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
gambar 20 : zoning tapak
Pertimbangan:
1. Publik
• berada dibagian depan dan sekitar area bangunan untuk memberiakn akses bagi pengunjung untuk menikmati area publik serta menyumbangkan ruang terbuka untuk kota
• daerah utara tapak digunaka sebagai akses yang bisa menghubungkan sekitar tapak.
2. Semi publik
• Berisikan ruang-ruang dengan kegiatan khusus agar memiliki akses langsung ke jalan besar
3. Privat
• Diletakkan agak masuk ke dalam tapak dan jauh dari jalan raya untuk mengurangi kebisingan, karena berisikan pelayanan pengunjung seperti ruang baca
• Diletakkan dibagian belakang, agar mudah dalam pengelolaan dan hubungannya dengan servis.
4. servis
• diletakkan dibagian belakang, agar langsung berhubungan dengan side enterance atau servis enterance.
• Diletakkan bagian belakang, karena untuk tidak menutupi dan menggangu tampak dari bangunan utama.
IV.2. ANALISA ASPEK BANGUNAN IV.2.1. Sistem Massa Bangunan
1) Analisa Bentuk Massa Bangunan A) Analisa Jenis Massa Bangunan
Penerapan jenis massa bangunan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu jenis massa bangunan tunggal dan jenis massa bangunan majemuk. Dan dalam menentukan jenis masa bangunan terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan, yaitu :
2) Pertimbangan terhadap fungsi bangunan dan tuntunan aktifitas
3) Pertimbangan terhadap kesan visual yang ingin ditampilkan dalam bangunan 4) Pertimbangan terhadap hubungan antar kegiatan.
5) Pertimbangan terhadap konsep dan tema perancangan kota pada bangunan perpustakaan umum di jakarta barat.
Jenis massa Keuntungan Kerugian
Pola massa bangunan tunggal
1. Efesiensi lahan 2. Sirkulasi pencapaian menjadi mudah
3. Pengawasan dan pemeliharaan mudah 4. sifat bangunan terpusat
1. Perlu penyelesaian faktor cahaya 2. Perlunya Pemanfaaatan ruang luar yang optimal
Pola massa bangunan majemuk
1. masing-masing aktifitas berdiri sendiri 2. membentuk ruang terbuka yang saling berinteraksi dengan tata letak masa.
3. baik untuk faktor pengudaraan dan pencahayaan alami
1. membutuhkan lahan yang relatif luas
2. kegiatannya menyebar
sirkulasi relatif lebih luas
3. mahal dalam perawatan.
Tabel 15 : pola masa bangunan
Pada perancangan perpustakaan ini dipilih jenis massa bangunan tunggal karena beberapa pertimbangan sebagai berikut:
- Memudahkan dalam mengawasi peminjaman buku
- Aktivitas yang terpusat pada aktifitas penyerapan informasi/pustaka
- Memudahkan dalam pengawasan sirkulasi buku dan pengunjung serta hubungan antar ruang yang baik
- Mengoptimalkan lahan terbuka hijau dan area publik.
B) Analisa Bentuk Dasar Bangunan
Dalam buku Architecture Form, Space and Order oleh Francis D.K. Ching, disebutkan bahwa bentuk dasar bangunan secara umum ada tiga, yaitu segitiga, segiempat dan lingkaran. Masing-masing bentuk memiliki keunggulan dan kekurangan yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan kesesuaian dan fungsi suatu bangunan, Namun dengan seiring waktu, bentuk dasar bangunan bisa tercipta oleh dalam bentuk yang iregular
Terdapat beberapa kriteria dalama menentukan masa bangunan Perpustakan Umum di Jakarta Barat, yaitu :
1. Sesuai dengan topik dan tema: Perpustakaan sebagai bangunan Landmark informasi kota.
2. Kemudahan dan kelancaran sirkulasi 3. Efektif dalam mewadahi koleksi pustaka 4. Efesien dalam pembagian ruang
5. Memiliki kesesuian tapak
6. Menunjukkan karakteristik bangunan publik yang berfungsi sebagai pusat informasi.
No Kriteria Alt1 Alt2 Alt3 Alt4 Keterangan
1 Kesesuaian dengan bentuk tapak
2 3 1 4 Alt 4 karena bisa
menyesuaikan bnetuk tapak
2 Kesesuaian fungsi didalamnya
1 4 2 3 Alt 2 Karena ruang
penyimpanan yang
modular 3 Orientasi bangunan
terhadap lingkungan
2 3 1 4 Alt.4 karena bentuk
bisa mengikuti orientasi tapak
4 Mendukung topik dan tema
3 2 1 4 Alt.4 karena akan
menimbulkan
kekontrasan dengan bangunan laiinya
5 Mendukung fungsi ruang luar dan kegiatan dalam ruang
1 3 2 4 Alt. 4 karena bisa
menyesuaikan dengan ruang luar
6 Menunjukkan karakteristik bangunan
1 3 2 4 Alt.4 karena
menunjukkan
bangunan yang sejalan dengan perkembangan teknologi informasi
nilai 10 18 9 23
Tabel 16 : bentuk dasar bangunan
C) Analisa Bentuk Masa Bangunan
gambar 21 : besar volume grup ruang gambar 22 :perkiraan dasar volume bangunan vertikal
Dengan membuat suatu perkiraan dasar grup ruang yang memiliki sifat peruntukan yang sejenis, maka kita bisa meletakkann hubungan-hubungan yang ada, dan memperkirakan volume bangunan secara kasar.
D) Analisa Orientasi Masa
gambar 23 : penghubung kawasan perumahan gambar 24 : optimalisasi pedestrian
perlunya membuat area penghubung kawasan perumahan yang berinteraksi dengan perpustakaan dan tapak. Penghubung pedestrian yang sudah ada sebelumnya, sehingga perlu adanya optimalisasi pedestrian ini.
gambar 25: orientasi ke dua kampus gambar 26 : jalan utama dan view sebagai orientasi utama
adanya 2 kampus besar di kawasan ini sehingga bangunan ini nantinya akan berorientasi ke arah mereka agar mudah terlihat. Jalan utama yang berada di rawabelong serta bentuk tapak yang sudut sebagai orientasi utama bangunan, dan tidak lupa view yang menarik ke arah kota juga menghadap ke arah timur.
gambar 27 : perkiraan bentuk dasar bangunan
E) Analisa Penampilan bangunan
gambar 28 : hasil garis yang menghubungkan titik terluar ruang gambar 29 : kulit yang terbentuk
bentuk kulit bangunan, diambil dari bentuk dasar bangunan yang berasal dari perletakan dasar kelompok program ruang serta hubungannya. Diambil dari titik titik terluar dari masing masing ruang, kemudian membentuk kulit luar seperti plastik yang membungkus bangunan.
Pola Masif dan transparan pada kulit bangunan
gambar 30 :kulit yang bisa dijadikan transparant sebagai sumber cahaya gambar 31: kulit masif sebagai penutup bangunan
nantinya bangunan ini akan menggunakan kulit yang masif dan transparan tergantung dari jenis ruang dan kebutuhannya terhadap sinar matahari.
IV.2.2. Analisa Tata Ruang Dalam
Terdapat 2 jenis sirkulasi di dalam bangunan, yaitu sirkulasi horizontal dan seirkulasi vertikal.
A) Analisa Sirkulasi Dalam Bangunan
Ditinjau dari pelaku kegiatan, ada beberapa analisa :
1. sirkulasi pengunjung, diutamakan dalam ruang penyimpanan koleksi pustaka dan alur peminjaman koleksi pustaka.
a. Memperhatikan kejelasan arah
b. Sirkulasi mengalir, sehingga ketika orang mencari penomeran dan rak buku menjadi mudah
c. Memperhatikan besaran koridor sehingga menjamin kenyaman gerak.
d. Sirkulasi antar ruang yang jelas, sehingga pengunjung tau harus mencari ruang yang diinginkan dengan baik
2. Sirkulasi Pengelola.
a. Dibuat untuk tidak menggangu sirkulasi pengunjung ketika melakukan kegiatan sesuai pekerjaannya.
b. Memudahkan dalam pelayanan terhadap pengunjug, ketika diminta untuk membantu dibagian yang diinginkan pengunjung.
• Analisa Sirkulasi Horizontal
Sirkulasi horizontal dapat dibedakan mejadi 2 tipe yaitu sirkulasi linier dan sikulasi radial. Masing-masing jenis sirkulasi memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:
Sistem Sirkulasi Kriteria
Sistem linear 1. fleksibel dapat bereaksi dengan bermacam keadan
2. Menunjukkan suatu arah 3. menggambarkan gerak
4.. menghubungkan ruang secara kontinu Sistem Radial 1. Memiliki titik awal dan akhir pertemuan
2. Merupakan sirkulasi linear yang berkembang dari pusat
3. bersifat ekstrovert dan menuju banyak arah
Sistem Network 1. memperkuat kesan sudut 2. merupakan jalan pintas untuk mempermudah pencapaian
Sistem spiral 1. Bersifat menerus dan tidak berhenti 2. mempunyai titik pusat
3. mempunyai tujuan yang keluar
Sistem grid 1. membutuhkan tingkat pelayanan yang tinggi
Sistem loop (komposisi) gabungan 1. awal dan akhir pergerakan berada di satu titik
2. bersifat menerus
membentuk ruang pusat berbentuk lingkaran
Tabel 17: Jenis sirkulasi horizontal
Berdasarkan analisa di atas, pola sirkulasi yang akan dipakai dalam perancangan perpustakaan ini adalah pola linier menerus dan linear spiral, karena memang sesuai untuk fungsi sebuah bangunan perpustakaan dimana di dalamnya terdapat jajaran rak buku, meja dan kursi yang semuanya harus tertata dengan baik sehingga menghasilkan sirkulai yang optimal. Berikut adalah contoh perpustakaan yang menggunakan pola sirkulasi linear spiral :
gambar 32 : Jenis sirkulasi linear spiral (oma)
• Analisa Sirkulasi Vertikal
Teradapat 2 tipe sirkulasi vertikal di dalam bangunan, yaitu dengan menggunakan lift dan tangga. Kedua sirkulasi tersebut akan di gunakan dalam perancangan perpustakaan ini, berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu:
A) Lift:
- Perkiraan jumlah lantai adalah 8 lantai.
- Diperlukan untuk sirkulasi servis yaitu membawa buku-buku baru ke perpustakaan.
- Sebagai sirkulasi untuk orang-orang cacat, dan memudahkan pencapaian menuju lantai koleksi yang ingin dicapai secara cepat.
Lift merupakan sebuah mesin yang bekerja secara vertikal yang bertujuan sebagai alat penghubung antar lantai dalam sebuah bangunan. Lift biasa digunakan pada bangunan di atas 5 lantai karena lebih efektif dalam waktu tempuh apabila dibandingkan dengan sirkulasi lain seperti tangga dan eskalator. Umumnya lift dibedakan menjadi 2 jenis yaitu lift penumpang dan lift barang.
Penghitungan perkiraan kebutuhan lift:
Diketahui: h = 3,8 m s = 3 m / detik
n = 8 lantai
m = 20 orang
RT = (2h + 4s) (h – 1) + s (3m + 4) s
= (2 . 3,8 + 4 . 3) (3.8 – 1) + 3 (3 . 20 + 4) 3
= 107.2
N = L netto x n 0,04 x RT WT = RT
300 x PB x m N
= 5469 x 4 x 0,04 x 107,2 = 107,2
300 x 4 x 20 6
= 5,4 ~ 6 lift = 17.8
Maka kebuthan lift adalah sebanyak 6 unit, ditambah 2 lift barang untuk keperluan area servis. Total adalah 8 lift.
Gambar 33 : Tata letak lift
B) Tangga:
- Sebagai sirkulasi pendukung ketika sirkulasi utama (lift) tidak bekerja.
- Sebagai sirkulasi antar lantai, tidak perlu menunggu lift.
- Sebagai sirkulasi darurat (tangga darurat).
Untuk bangunan kantor dan pusat perbelanjaan (disaumsikan termasuk perpustakaan) yang jumlah lantainya kurang dari enam lantai, penggunaan eskalator untuk naik turun orang sangat dianjurkan.
- Sepasang eskalator beralur tunggal cocok untuk luas lantai 10.000 m2 - Sepasang eskalator beralur ganda cocok untuk luas lantai 20.000 m2
Gambar 34: Tata letak eskalator
Dari beberapa alternatif di atas, yang akan diaplikasikan ke dalam perancangan perpustakaan ini adalah alternatif kedua (tata letak sejajar/alur berputar) karena lebih terarah dan tidak menghabiskan banyak ruang.
C) Analisa Sirkulasi Darurat
Pendekatan bagi sistem tangga kebakaran pada dasarnya sama, yaitu memberi kemudahan bagi penghuni/pengguna bangunan untuk dapat selamat keluar dari bangunan yang terkena musibah.
Berikut ini adalah persyaratan tangga kebakaran, khususnya yang terkait dengan kemiringan tangga, jarak pintu dengan anak tangga, tinggi pegangan tangga, dan lebar serta ketinggian anak tangga:
Tipikal Tangga Kebakaran
Gambar 35: Tipikal tangga kebakaran
(Sumber: Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE, Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta, 2004)
D) Analisa Sirkulasi Buku dan Penyimpanannya
Dengan Kemajuan teknologi, media pustaka seperti buku, bisa disimpan dalam rak otomatis yang disimpan dan ditata oleh komputer dan robot. Dengan penggunaan metode ini, pengambilan buku oleh pengunjung bisa lebih cepat, dan pengunjung tidak harus mencari ke rak-rak tempat pemyimpanan buku
QuickTime™ and a TIFF (LZW) decompressor are needed to see this picture.
Gambar 36 : Diagram sekuensial pengambilan buku otomatis
1. Buku di cari dan dipesan lewat komputer
2. Buku diambil dan ditransfer dengan alat pengirim otomatis 3. Buku diambil oleh pengunjung atau oleh petugas
4. Hal yang sama berlaku untuk mengembalikannya
IV.2.3. Hubungan Skematik
Hubungan Skematik Program Ruang Secara Umum
Gambar 37 : hubungan skematik program secara umum
Hubungan Skematik Unit Pelayanan Pengunjung Main Entrance
Hall / Lobby Unit Servis
Unit
Pelayanan Pengunjung Unit Penunjang
Pelayanan Pengunjung Unit
Staff Pengelola
Side Entrance Side Entrance
Gambar 38 : hubungan skematik program pengunjung
Hubungan Skematik Unit Penunjang Pelayanan Pengunjung
Main Entrance Hall / Lobby
R. Kontrol R. Peminjaman
Katalog R. Koleksi
Umum
R. Koleksi Khusus R. Baca Tertutup R. Baca
Terbuka
R. Komputer / Multimedia
R. Internet / Digital Library
Unit Penunjang Pelayanan Pengunjung
Unit Staff Pengelola R. Koran &
Majalah
R. Baca Koran
& Majalah R. Audio
R. Video
R. Koleksi Film R. Microfilm
R. Slide Toilet
Servis
Gambar 39 : hubungan skematik pelayanan pengunjung Main Entrance
Hall / Lobby
Unit Staff Pengelola Auditorium
R. Pameran Toko Buku Copy Centre
Kios
Mushola
Side Entrance Hall / Lobby
Unit Servis
Unit Pelayanan Pengunjung
Hubungan Skematik Unit Staff Pengelola
Gambar 40 : hubungan skematik pengelola Main Entrance
Hall / Lobby Unit Penunjang
Pelayanan Pengunjung
Unit Pelayanan Pengunjung
R. Kepala Perpustakaan
R. Wakil Perpustakaan
R. Staff / Divisi
R. Rapat Toilet
Side Entrance
Unit Servis
Hubungan Skematik Unit Staff Pengelola
Gambar 41 : hubungan skematik staff pengelola Main Entrance
Hall / Lobby Unit Penunjang
Pelayanan Pengunjung
Unit Staff Pengelola
Side Entrance
Gudang Buku Sementara Gudang Buku Bongkar Muat
Ruang Perawatan
Unit Pelayanan Pengunjung
Ruang Istirahat
Pantry
IV.2.4. Zoning dalam bangunan A) Zoning
Kelompok Ruang Besaran
Ruang Parkir dan servis 5,364 m2
Ruang Googling 1,146 916 m2
Ruang anak-anak 7,228 m2
ruang simpan 10,535 m2
ruang penyerapan informasi 7,268 5,815 m2
ruang penunjang 2,425 1,940 m2
ruang pelengkap 2,442 1,953 m2
ruang campur 2,656 m2
ruang pengelola 1,253 m2
Total 37,659 m2
Total dengan sirkulasi 20% 45,191
Tabel 18 : Pembagian kelompok ruang
Gambar 42 : zoning vertikal bangunan
Zoning menurut kelompok ruang. Dapat terlihat, bahwa pembagian pembagian kelompok ruang dapat terbagi menurut zoning vertikal dah horizontal. Ruang-ruang yang berada diantara zoning tersebut, nantinya akan dipakai sebagai area baca, dan area campur.
IV.2.5. Struktur Bangunan A) Struktur Bawah
Usulan pondasi untuk bangunan ini adalah :
alt Jenis Pondasi Kelebihan Kekurangan
1 Pondasi dangkal:
1. Pondasi lajur
2. Pondasi Setempat
- pelaksanaanya mudah -tidak membutuhkan peralatan khusus
-tidak menimbulkan getaran
-hanya untuk bangunan sampai bertingkat 4
2 Pondasi tiang pancang -Pekerjannya cepat
-Kemampuan dalam menahan gaya vertikal
-banyak terjadi sambungan, sehingga berbahaya bila sambungan tidak dikerjakan secara teliti -bunyi pekerjaan yang bising
Pondasi bored pile -tidak menimbulkan getaran -diameternya lebih besar, sehingga daya dukung tiap tiang jauh lebihh besar
-pekerjaannya lama -biaya yang lebih besar -perlu diperhatikan bila air tanah tinggi, karena
-cocok untuk segala jenis tanah berbahaya ketika pengecoran Pondasi rakit -memiliki kelebihan dalam
menahan gempa
-ruang pada pondasi bisa dibuat sebagai basement -pelaksanaan tidak bising
-boros dalam pemakaian bahan
-pelaksaan sulit
-pemakaian bahan boros.
Tabel 19 : Jenis-jenis pondasi
Dari perbandingan diatas, maka pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang, karena kemampuannya menahan gaya vertikal.
B) Struktur Atas
Bangunan perpustakaan daerah jakarta barat ini adalah bangunan bermasa tunggal dengan bentuk organik, dalam kategorinya termasuk bangunan tingkat menengah. Oleh karena itu sistem struktur yang mungkin dipakai adalah supesturktur yang terdiri dari rangka baja dan diisi dengan rangka kolom dan balok untuk memikul plat lantai dengan modul 9 x 12 m. Rangka mullion akan membungkus kulit bangunan dipegang dengan sebuah sambungan yang akan di ikat ke plat atau balok bangunan kemudian ditutup dengan kaca, panel surya, dan cladding sekaligus akan menopang berat dari beban struktur didalamnya.
Panel dan modul bentuk baja akan membentuk satu motif yang menandakan kekhasan Jakarta barat sehingga menjadi bentuk yang unik sebagai landmark di jakarta barat.
Gambar 43 : contoh pemakaian rangka baja sbagai kulit bangunan (herzog & de meuron)
IV.2.6. Material A) Material Struktur
a. Material struktur kulit bangunan adalah mullion dengan pelapis anti kebakaran, sehingga dapat menopang beban lantai dan lebih ringan.
b. Struktur untuk menahan lantai dibantu oleh kolom dan plat bondeks cor beton yang menggunakan bahan beton bertulang.
B) Material Lainnya:
a. Untuk mendukung fungsi bangunan sebagai perpustakaan maka, sebagian besar bangunan ditutup dengan mesh glass untuk meredam panas dan cahaya terik di area ruang baca.
Gambar 44 : contoh pemakaian mesh glass untuk meredam panas matahari
b. Sebagai bangunan yang menyediakan informasi bagi masyarkat, maka beberapa bagian dari tampak bangunan akan ditutup dengan led sehingga bangunan nantinya juga bisa menjadi media informasi.
Gambar 45 : Contoh pemakaian led sehingga kulit bangunan bisa menjadi Media informasi.
c. Solar Panel, akan tersebar di kulit bangunan, sehingga bisa menjad penghasil energi, melihat potensi tapak yang terkena sinar matahari cukup lama sepanjang tahun. Solar panel ini akan berseling dengan kaca sehingga terlihat sebagai satu kesatuan
pattern/motif di fasade bangunan.
IV.2.7. Sistem Utilitas
Utilitas bangunan merupakan salah satu faktor keamanan dan kenyamanan dalam kelangsungan kegiatan di dalam bangunan. Oleh karena itu harus memperhatikan beberapa pertimbangan, yaitu adanya kenyamanan pada pengguna atas temperatur suhu, cahaya, kebisingan, dan keamanan akan bahaya kebakaran serta kriminalitas. Yang juga harus diperhatikan adalah kemudahan pemasangan dan pemeliharaan utilitas tersebut.
Penempatan inti bangunan akan berdampak pada kemungkinan penempatan jalur distribusi jaringan utilitas, baik pada arah vertikal yang berdampak pada rancangan denah bangunan, maupun pada arah horizontal yang berdampak pada potongan bangunan. Berikut ini adalah alternatif jalur sirkulasi utilitas bangunan:
Gambar 46 : Jalur sirkulasi utilitas
Dari alternatif jalur sirkulasi di atas, yang akan digunakan dalam perancangan perpustakaan ini adalah pada jalur sirkulasi secara horizontal dan pada inti bangunan secara vertikal. hal tersebut dikarenakan saluran utilitas menjadi terpusat sehingga mudah perawatannnya.
A) Air
a. Sistem distribusi air bersih
keterangan sumber - PDAM Jakarta
- Sumur bor (cadangan) - Recycling water
Penyimpanan - Tangki utama (Reservoir bawah) - Tangki sekunder (Reservoir atas)
Penyaluran - mengggunakan jaringan pipa keseluruh bangunan - letak pemipaan :
vertikal : disalurkan lewat shaft plumbing Horizontal : melalui plafon
Pemakaian Untuk ruang-ruang servis seperti toilet, dapur, tempat wudhu, dan lain sebagainya
Tabel 20 : sistem distribusi air
Sistem penyalurannya dinamakan ”Down Feed Distribution” dimana keuntungannya adalah: hanya perlu satu pompa bila reservoir atas kosong, dan bila listrik mati, air keran tetap dapat mengalir karena tekanan gravitasi.
Gambar 46 : Diagram air bersih
b. Sistem pembuangan air kotor
Pembuangan air kotor menyangkut pembuangan air kotor padat dan air kotor cair.
Air kotor yang terbuang akan masuk kedalam tempat penglahan limbah, dan kemudian akan dipakai kembali. Hal ini dilakukan guna menningkatkan efesiensi penggunaan air dalam bangunan. Air kotor dari air hujan, juga sebisa mungkin ditampung agar bisa diolah dan digunakan kembali ke dalam bangunan.
Gambar 47 : Diagram air kotor
B) Listrik
Sumber daya listrik berasal dari PLN dengan penurunan tegangan di trafo dan didistribusikan melalui panel utama dan sub panel. Tersedia sarana genset untuk pengganti tenaga listrik dalam keadaan darurat.
Gambar 48 : Diagram Listrik
C) Pencahayaan
Standar Pencahayaan menurut Suwana, 2006 adalah : 1. Area Baca (majalah dan surat kabar) : 200 – 500 lux 2. Meja Baca (ruang baca umum) : 300 lux 3. Meja Baca (ruang baca rujukan) : 700 lux 4. Area Sirkulasi : 50 – 100 lux 5. Area Pengolahan : 400 lux 6. Areal Closed Access : 100 lux 7. Area Koleksi Buku : 200 – 500 lux
8. Area Kerja : 500 – 1000 lux
9. Area Pandang Dengar : 100 lux
10. R. Boiler : 200 lux
11. R. Genset : 200 lux
12. R. AHU : 100 lux
13. R. Pompa : 100 lux
14. R. Operator PABX : 200 lux
15. Gudang : 50 lux
16. Tanda pintu darurat / keluar : 50 lux
Pencahayaan dalam bangunan perpustakaan ada dua macam menurut sumbernya, yaitu : 1) Pencahayaan alami
Lokasi yang berada di daerah beriklim tropis dengan mendapat sinar matahari yang sangat baik sudah seharusnya dimanfaatkan untuk penghematan energi. Pada siang hari sinar matahari diupayakan sebisa mungkin masuk ke seluruh ruangan dengan tetap
memperhatikan intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan dari fungsi bangunan sehingga tidak merusak koleksi perpustakaan akibat cahaya yang berlebihan. Mengoptimalkan bukaan terutama dari arah timur, dan mengcover area-area yang tidak memerlukan pencahayaan dengan penyelesaian secara arsitektural.
2) Pencahayaan buatan (artifisial)
Pencahayaan buatan merupakan salah satu upaya untuk memberikan cahaya masuk ke dalam mata melalui pantulan sehingga manusia dapat melakukan aktivitasnya. Sumber daya untuk penerangan buatan ini berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan genset atau diesel yang dipergunakan apabila listrik dari PLN padam.
Dari data diatas, maka kegiatan-kegiatan dalam ruang yang bisa mendapatkan sinar matahari bisa dikategorikan sebagai berikut :
Ruang Cahaya Alami Cahaya Buatan
Hall / Lobby • •
Foyer • •
Ruang penitipan barang •
Ruang peminjaman •
Ruang katalog digital •
Ruang Koleksi Umum • •
Ruang Baca Umum • •
Ruang Koleksi Khusus • •
Ruang Baca Khusus • •
Ruang koran dan majalah • •
Ruang baca koran & majalah • •
Ruang komputer •
Ruang Internet • •
Ruang koleksi film (CD & DVD) •
Ruang Mikrofilm •
Ruang Audio / Video •
Ruang penyimpanan slide •
Toilet •
Auditorium •
Ruang pameran •
Toko buku • •
Copy centre • •
Cafe • •
Kios • •
MusholaToilet •
Toilet •
Gudang buku sementara • •
Gudang buku • •
Bongkar muat • •
Ruang Perawatan • •
Ruang Istirahat • •
Pantry •
R. Pengelola Bid. Pengadaan • •
R. Pengelola Bid. Perencanaan • • R. Pengelola Bid. Pengolahan • •
R. Pengelola Bid. Kerjasama • •
R. Pengelola Bid. Keuangan • •
R. Pengelola Bid. Administrasi • • R. Pengelola Bid. Multimedia • •
R. Pengelola Bid. Bangunan • •
Ruang Rapat Pengelola • •
Tabel 21 : Pencahayaan dalam ruang PERHITUNGAN DAYA LISTRIK
tower
30 watt x luas lantai x jumlah lantai 6398911.35 watt
6398.91135 KW
basement
30 watt x luas lantai x jumlah lantai 756000 watt
756 KW
AC 1.12 KW x total TR 12900.20528 KW
Alarm 5 watt per m2 47699.409 watt
47.699409 KW
Pompa daya pompa ; Ht = 1.3 * h * n 192.66 m
c (daya dukung pompa) 2
Q (kapasitas air per hari) 158.4
waktu guna air 480 menit
n 0.65
Qh maks 0.66
P (0.613x1.2xqh maks*ht)/n 143.9010144 KW
Total Energi bangunan 20246.71706 KW Tabel 22 : Energi Listrik yang dikeluarkan
D) Penghawaan
3) Analisa Sistem Penghawaan
Terbagi menjadi dua macam sistem penghawaan yaitu alami dan buatan. Fungsi dari tata udara sendiri adalah untuk mempertahankan suhu dan kelembapan dalam ruangan dan kemudian terciptanya kenyamanan di dalam bangunan.
Penghawaan atau tata udara alami mengharuskan bangunan banyak memberikan bukaan sehingga udara dapat mengalir dengan baik, dengan konsekuensi ruang dalam bangunan cepat kotor akibat debu yang ikut masuk. Sedangkan penghawaan atau tata udara buatan adalah mempertahankan suhu dan kelembapan di dalam ruangan dengan cara menyerap panas yang ada di dalam ruangan tersebut menggantinya dengan udara dengan suhu yang memberikan kenyamanan.
Dua macam sistem penghawaan, yaitu:
No Jenis Penghawaan Keterangan
1 Penghawaan Alami Pemanfaatan udara alami yang
ada di luar. Dengan memberikan bukaan yang cukup sehingga udara luar bisa masuk, maka udara di dalam yang kotor bisa tergantikan secara terus menerus.
Dengan sistem void, udara mengalir dari tiap-tiap ruang menuju ke satu sirkulasi utama yang berada di void utama.
2 Penghawaan buatan bangunan ini tidak bisa
sepenuhnya bergantung pada udara alami. Diperlukan penghawaan buatan untuk tetap menjaga tempratur udara di dalam bangunan sehingga tercipta kenyaman bagi pengunjung dan keamanan bagi koleksi karena dengan penghawaan udara yang tepat maka keawetan koleksi akan terjaga dengan baik.
Tabel 23 : Skema pertukaran udara