• Tidak ada hasil yang ditemukan

D) Analisa Sirkulasi Buku dan Penyimpanannya

IV.2.7. Sistem Utilitas

3) Analisa Sistem Penghawaan

Terbagi menjadi dua macam sistem penghawaan yaitu alami dan buatan. Fungsi dari tata udara sendiri adalah untuk mempertahankan suhu dan kelembapan dalam ruangan dan kemudian terciptanya kenyamanan di dalam bangunan.

Penghawaan atau tata udara alami mengharuskan bangunan banyak memberikan bukaan sehingga udara dapat mengalir dengan baik, dengan konsekuensi ruang dalam bangunan cepat kotor akibat debu yang ikut masuk. Sedangkan penghawaan atau tata udara buatan adalah mempertahankan suhu dan kelembapan di dalam ruangan dengan cara menyerap panas yang ada di dalam ruangan tersebut menggantinya dengan udara dengan suhu yang memberikan kenyamanan.

Dua macam sistem penghawaan, yaitu:

No Jenis Penghawaan Keterangan

1 Penghawaan Alami Pemanfaatan udara alami yang

ada di luar. Dengan memberikan bukaan yang cukup sehingga udara luar bisa masuk, maka udara di dalam yang kotor bisa tergantikan secara terus menerus.

Dengan sistem void, udara mengalir dari tiap-tiap ruang menuju ke satu sirkulasi utama yang berada di void utama.

2 Penghawaan buatan bangunan ini tidak bisa

sepenuhnya bergantung pada udara alami. Diperlukan penghawaan buatan untuk tetap menjaga tempratur udara di dalam bangunan sehingga tercipta kenyaman bagi pengunjung dan keamanan bagi koleksi karena dengan penghawaan udara yang tepat maka keawetan koleksi akan terjaga dengan baik.

Tabel 23 : Skema pertukaran udara

Dari skema diatas dapat disimpulkan bahwa tetap diperlukan ventilasi alami untuk memasukkan udara segar agar proses penghawaan buatan dapat berjalan dengan baik.

Penghawaan buatan sendiri terdiri dari berbagai jenis, di Indonesia yang beriklim tropis menggunakan mesin pendingin atau yang biasa disebut Air conditioner (AC). Saat ini terdapat 3 jenis AC yang umum digunakan di dalam bangunan, yaitu:

No Jenis AC Keterangan

1 AC Split Untuk jenis AC Split dengan kapasitas yang besar, unit dalam ruang dapat terdiri lebih dari satu unit (multi split) sedang unit ruang luarnya tetap satu. Unit dalam ruang mempunyai berbagai alternatif pemasangan: di dinding, langit-langit, dan lantai, ada pula yang dipasang pada langit-langit di tengah ruangan.

2 Package Unit Berbeda dengan AC Split, package unit

hanya bisa di letakkan di salah satu sisi atau sudut ruangan yang terkadang dihubungkan dengan saluran udara (duckting). Sistem ini juga terkadang mempunyai dua unit terpisah (seperti model AC Split). Unit luar terdiri dari kondensor, kompresor, dan kipas udara. Sedangkan unit dalam terdiri dari kumparan pendingin (Evaporator), saringan udara, filter dan panel kontrol.

3 AC Central Berbeda dengan kedua sistem di atas yang merupakan sistem tata udara langsung, dalam sistem ini refrigeran yang digunakan bukan freon tetapi air es (chiller) dengan suhu sekitar 5oC. Air es dihasilkan dalam chiller. Sistem ini dikenal sebagai sistem tata udara terpusat (Central Air Conditioner System). Sistem ini biasa digunakan pada bangunan

umum seperti kantor dan pusat perbelanjaan. Terdiri dari satu mesin utama yang kemudian disalurkan ke setiap ruangan melalui saluran udara (duckting) dengan tingkat suhu udara yang diatur dari pusat.

Tabel 24 : jenis jenis penghawaan buatan

Dengan sistem penghawaan buatan, kita dapat mengatur sendiri seberapa besar temperatur yang kita perlukan, daerah nyaman thermal bagi manusia dapat dilihat pada temperatur tertentu, yaitu:

- Rentang temperatur antara 24oC – 28oC - Kelembapan (RH) antara 40oC – 60oC - Aliran Udara (Air Velacity) : 0 – 0,20 m/dtk.

Tingkat pengkondisian ruangan yang diinginkan dalam bangunan perpustakaan guna menjaga kualitas koleksi adalah sebagai berikut:

1. Temperatur 22oC – 24oC untuk ruang koleksi buku, ruang baca dan ruang kerja.

2. Temperatur 20oC untuk ruang komputer.

3. Kelembapan 40 – 50 %

(Sumber: Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE, Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta, 2004)

(Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi edisi ke 3,Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta 2004)

Berikut ini adalah tabel pengelompokkan program yang menggunakan penghawaan alami dan penghawaan buatan.

Ruang Penghawaan Alami Penghawaan Buatan

Hall / Lobby

Foyer

Ruang penitipan barang

Ruang peminjaman

Ruang katalog digital

Ruang Koleksi Umum

Ruang Koleksi Khusus

Ruang Baca Umum

Ruang Baca Khusus

Ruang koran dan majalah

Ruang baca koran & majalah

Ruang komputer

Ruang Internet

Ruang koleksi film (CD & DVD)

Ruang Mikrofilm

Ruang Audio / Video

Ruang penyimpanan slide

Toilet

Auditorium

Ruang pameran

Toko buku

Copy centre

Cafe

Kios

MusholaToilet

Toilet

Gudang buku sementara

Gudang buku

Bongkar muat

Ruang Perawatan

Ruang Istirahat

Pantry

R. Pengelola Bid. Pengadaan

R. Pengelola Bid. Perencanaan

R. Pengelola Bid. Pengolahan

R. Pengelola Bid. Kerjasama

R. Pengelola Bid. Keuangan

R. Pengelola Bid. Administrasi

R. Pengelola Bid. Multimedia

R. Pengelola Bid. Bangunan

Ruang Rapat Pengelola

Tabel 25 : Pengelompokkan pencahayaan pada program ruang

TATA UDARA

Luas ruangan Yang membutuhkan AC L. lantai tipikal x jmlh lantai – tangga darurat 213261.045

volume ruangan L. lantai tipikal x tinggi ruang 14766.7185

kebutuhan AC untuk 100 m2 per 2 TR (2 TR X volume ruang) / 100 295.33437

BTU ( TR x 12000) 3544012.44

Total Seluruh Bangunan BTU x jumlah lantai 138216485.2 Tabel 26 : Kebutuhan tata udara

E) Keamanan

Berdasarkan keamanannya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengamankan sebuah bangunan perpustakaan :

A. Pengamanan Terhadap Pencuri

Untuk menghindari pencuri, maka pintu-pintu masuk yan terbatas dan mudah dikontrol, display khusus untuk koleksi pustaka langka, penggunaan CCTV untuk mengontrol aktifitas pengunjung, dan sistem alarm, sistem electronic ID untuk ruang-ruang pengelola.

B. Pengamanan Terhadap Pengrusakan

Untuk menghindari pengrusakan maka diciptakan penataan landscape dengan pemagaran, dan lampu-lampu, pembentukan zona-zona tertutup, terbatas, dan terbuka.

C. Pengamanan Terhadap Kebakaran

Dalam mengamankan dari bahaya kebakaran, terdapat dua cara yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Pencegahan aktif :

No Alat Luas Pelayanan Keterangan 1. Fire Hydrant Jarak max 30 m.

Luas layanan 800 m2

Ditempatkan pada koridor dan tempat yang mudah dicapai

2 Fire Estinguisher Jarak max 25 m.

Luas layanan 200 m2

Ditempatkan di daerah umum seperti dapur, bengkel, dan laboratorium

3 Sprinkler Jarak max 6-9 m.

Layanan 25 m2

Digunakan pada penanggulangan kebakaran pada tingkat awal yang bekerja otomatis pada suhu

135-1600 F

4 Heat dan Smoke Detector Luas layanan 75 m2

Digunakan dengan alarm untuk mendeteksi sendiri adanya kebakaran

5 Pylar Hydrant Jarak max 30 m Ditempatkan pada halaman yang mudah dicapai oleh mobil pemadam kebakaran.

6 Fire Alarm dan Cell Box Diletakkan pada tempat yang strategis, jelas, mudah dicapai umum untuk memberitahuakan kepada petugas bila sewaktu waktu terjadi kebakaran

Tabel 27 : Pencegahan kebakaran aktif

2. Pencegahan Pasif :

No Alat Keterangan

1 Tangga Kebakaran Jarak dari tiap titik max 25 m, dilengkapi dengan blower, lebar tangga minimal 1.2 m. Dilengkapi pula dengan pintu tahan api selama 2 jam dengan lebar 90 cm

2 Koridor Lebar minimal koridor 1,8 m

3 Sumber Listrik Cadangan

Bekerja secara otomatis pada saat sumber listrik mati, melayani lampu-lampu darurat dan pompa hidrant

4 Pintu tahan Api Pintu-pintu ditempatkan pada ruangan-ruangan beresiko tinggi sehingga ruangan tersebut dapat terisolasi bila ada kebakaran.

5 Penerangan Darurat Lampu petunjuk pada pintu darurat, tangga kebakaran, koridor dan arah jalur evakuasi darurat.

Tabel 28 : pencegahan kebakaran pasif

Tangga dan Lift Kebakaran

Gambar 47 : Tangga dan lift kebakaran

Jarak Aman Hidran Halaman

Gambar 48 : Jarak aman hidrant halaman

Kebakaran merupakan salah satu musibah yang sering terjadi pada sebuah bangunan, biasa terjadi akibat kelalaian manusia maupun kesalahan teknis. Proteksi kebakaran pada bangunan perpustakaan berbeda dengan bangunan umum lainnya, karena di dalamnya menyimpan ribuan buku yang akan rusak bila terkena air dari sprinkler apabila kebakaran terjadi. Oleh karena itu pada area-area khusus menggunakan gas khusus (Holon) untuk mematikan api pada saat kebakaran

Konsep konstruksi tahan api terkait pada kemampuan dinding luar, lantai dan atap untuk dapat menahan api di dalam bangunan atau kompartemen. Dengan demikian, setiap komponen bangunan, dinding, lantai kolom dan balok harus dapat tetap bertahan dan dapat menyelamatkan isi bangunan, meskipun bangunan dalam keadaan terbakar. Berikut ini adalah beberapa cara untuk menjadikan baja tahan terhadap api:

Gambar 49 : Tahapan baja tahan api HIDRAN

Tower

n hidran = (2 X luas tipikal )/800 13.6728875 buah

jumlah keseluruhan 533.2426125 buah

Basement

n hidran = (2 X luas tipikal )/800 12.6 buah

jumlah keseluruhan 63 buah 596.2426125 buah

SPRINKLER

Tower

L denah Tipikal / 25 218.7662 buah

keseluruhan lantai 8531.8818

Basement

L denah tipikal /25 201.6 buah

Keseluruhan Lantai 1008 9539.8818 buah Tabel 29 : Jumlah Hidran dan sprinkler yang dibutuhkan

D. Pengamanan terhadap Koleksi pustaka

Pengamanan terhadap koleksi pustaka dirasa penting, sehingga koleksi pustaka ini harus dijaga keawetannya dengan cara:

a. membungkus koleksi dengan hardcover atau penutup lain yang juga bisa digunakan sesuai modul penyimpanan rak robotic

b. Memberikan setiap koleksi dengan anti theft alarm system sehingga ketika koleksi yang belum terdaftar pinjam akan mengaktifasi alarm di dalam bangunan ketika dibawa keluar.

Gambar 50 : Labeling koleksi pustaka dengan sensor anti maling

Gambar 51 : Metode sensor Anti maling dalam perpustakaan

E. Pengamanan terhadap Petir

Penangkal petir adalah penghantar-penghantar di atas atap berupa elektroda logam yang dipasang tegak dan elektroda logam yang dipasang mendatar. Tiang-tiang dari logam dan logam lainnya dapat dimanfaatkan sebagai penangkal petir. Penangkal petir biasanya terdiri dari tiang pendek (finial) dan kepala penangkap petir (air termination). Filial adalah penangkap petir batang pendek yang biasa dipasang pada bangunan atap datar yang menggunakan instalasi penangkal petir sistem kurungan Faraday.

Gambar 52 : Pusat menara penangkal petir

Ada dua jenis penangkal petir yang umum digunakan yaitu

a. Penangkal Petir Sistem Thomas

Sistem Thomas mempunyai jangkauan perlindungan bangunan yang lebih luas, dengan tiang penangkap petir dan sistem pengebumiannya.

b. Penangkal Petir Sistem Prevectron

Mirip dengan Sistem Thomas, dengan areal perlindungan yang berbentuk paraboloid.

Dari analisa sistem penangkal petir di atas, yang akan diterapkan pada perancangan perpustakaan ini adalah Sistem Thomas, karena sistem ini memiliki jangkauan perlindungan bangunan yang lebih luas.

F) Telekomunikasi

Jenis Telekomunikasi Keterangan

1. Komunikasi dari luar bangunan (ekstern)

Telepon jaringan perumahan Telepon umum

2. Telex, PABX, dan Internet Untuk internet dan hubungan dengan keperluan faksimili dan internet

3. Intercon Untuk komunikasi antar ruangg bisa dalam bentuk telepon antar ruang

4. Loudspeaker Berfungsi sebagai pemberitahuan kepada umum

Tabel 30 : Jenis telekomunikasi dalam bangunan

IV.2.8. Teknologi

a) Jaringan Otomasi dan komputer

Perpustakaan sekarang harus mengantisipasi perubahan teknologi terhadap bahan media pustaka yang nantinya akan disimpan, dan bagaimana perpustakaan dapat mengantisipasinya.

Untuk menjawab kebutuhan ini maka, perpustakan ini nantinya harus menyediakan sebuah jaringan wifi yang bisa diakses secara bebas untuk para pengunjung, baik untuk mengakses koleksi digital ataupun internet. Sehingga bangunan perpustakaan dibentuk dalam network atau jaringan komputer secara keseluruhan.

Gambar 53 : Konfigurasi jaringan komputerisasi dalam bangunan

b) Tablet Reader

Keamanan dan keawetan koleksi juga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan, salah satu penyelesaiannya adalah dengan meinjamkan setiap pengunjung sebuah komputer tablet yang bisa mengakses internet dan mengakses data digital di perpustakaan. Dengan seiring

merangkak naiknya jumlah data digital, maka sebuah tablet yang terhubung dengan fitur yang terbatas diharapkan bisa mengnatisipasi penyalahgunaan data oleh pengunjung, karena

menyangkut hak cipta data.

Untuk mengkases data publik yang bisa di ambil, maka pengunjung ditawarkan untuk mengakses jaringan dengan komputer pribadi atau dengan komputer publik yang disediakan perpustakaan.

Gambar 54 : Konfigurasi jaringan komputerisasi dalam bangunan

http://www.engadget.com/media/2006/02/apple_tablet_patent.jp

Keuntungan dengan menggunakan komputer tablet ini adalah dengan

a. tidak menyebarnya data yang memiliki hak cipta, karena komputer ini tidak bisa mentransfer ke betnuk media penyimpanan lain

b. komputer ini dilengkapi dengan alarm, sehingga apabila dibawa keluar bangunan, alarm pencuri akan berbunyi

c) Ruang Googling

Adalah ruang informasi yang pertama di masuki oleh pengunjung. Diruang ini segala macam informasi tentang perpustakaan ditempatkan. Mulai dari informasi tentang bangunan hingga informasi tentang daftar pustaka. Ruang googling ini akan berisikan komputer yang dapat diakses untuk mencari buku yang dimaksud, dengan menyebutkan keywords. Informasi-informasi yang ada di ruang googling ini akan memudahkan pencarian karena memiliki informasi pustaka sebagai berikut :

1. Judul pustaka 2. Pengarang 3. Penerbit 4. Tahun terbit 5. Rekomendasi 6. Review

7. pustaka lain yang memiliki topik yang sama 8. keterangan letak penyimpanan

9. keterangan kesediaan pustaka di perpustkaan

10. informasi lain yang berhubungan dengan media pustaka tersebut

Gambar 55 : Modul komputer pencarian informasi

Dokumen terkait