• Tidak ada hasil yang ditemukan

CASE STUDy SERIES#3. freepik.com KOTA PINTAR RIO DE JANEIRO: Perjalanan yang Penuh Rintangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CASE STUDy SERIES#3. freepik.com KOTA PINTAR RIO DE JANEIRO: Perjalanan yang Penuh Rintangan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA PINTAR RIO DE

JANEIRO:

Perjalanan yang Penuh Rintangan

CASE STUDy SERIES#3

freepik.com

(2)

Pendahuluan

Pada tahun 2013, salah satu kota terbesar di Brazil, yakni Rio de Janeiro, memenangkan penghargaan the World Smart City Award dalam ajang the Smart City Expo World Congress. Dua pilar dari inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro, yaitu Centro Integrado de Comando e Controle (CICC) atau Pusat Komando dan Kontrol Terpadu, dan the Centro das Operac¸o˜es do Rio (COR) atau Pusat Operasi Rio, memegang peranan penting di balik capaian tersebut. CICC berdiri sebagai pusat dari lima saluran darurat di Rio de Janeiro, pemantauan lalu lintas, dan sebagai kantor pusat perencanaan dan operasi keamanan, sedangkan COR berperan untuk mengoordinasi penanggap/penolong pertama, notifikasi peringatan darurat, dan proyek pemetaan kota. Namun demikian, penghargaan yang diterima tersebut masih menjadi perdebatan banyak pihak. Hal ini utamanya dikarenakan inisiatif yang dilakukan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan aspek dan interpretasi dari kota pintar. Setidaknya terdapat tiga aspek utama dari Kota Pintar yang masih menjadi rintangan dalam mengejar visi Rio de Janeiro sebagai kota pintar, yakni kewarganegaraan aktif, isu- isu pola pembangunan, serta

infrastruktur.

/

0

1

Penulis

Lodang Kusumo Jati Habibah Hermanadi Fahreza Daniswara Penyunting Dirgayuza Setiawan Viyasa Rahyaputra

Desainer dan Penyusun Tata Letak Gupita Pramahayekti

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(3)

Pendahuluan

Pada tahun 2013, salah satu kota terbesar di Brazil, yakni Rio de Janeiro, memenangkan penghargaan the World Smart City Award dalam ajang the Smart City Expo World Congress. Dua pilar dari inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro, yaitu Centro Integrado de Comando e Controle (CICC) atau Pusat Komando dan Kontrol Terpadu, dan the Centro das Operac¸o˜es do Rio (COR) atau Pusat Operasi Rio, memegang peranan penting di balik capaian tersebut. CICC berdiri sebagai pusat dari lima saluran darurat di Rio de Janeiro, pemantauan lalu lintas, dan sebagai kantor pusat perencanaan dan operasi keamanan, sedangkan COR berperan untuk mengoordinasi penanggap/penolong pertama, notifikasi peringatan darurat, dan proyek pemetaan kota. Namun demikian, penghargaan yang diterima tersebut masih menjadi perdebatan banyak pihak. Hal ini utamanya dikarenakan inisiatif yang dilakukan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan aspek dan interpretasi dari kota pintar. Setidaknya terdapat tiga aspek utama dari Kota Pintar yang masih menjadi rintangan dalam mengejar visi Rio de Janeiro sebagai kota pintar, yakni kewarganegaraan aktif, isu- isu pola pembangunan, serta

infrastruktur.

/

0

1

Penulis

Lodang Kusumo Jati Habibah Hermanadi Fahreza Daniswara Penyunting Dirgayuza Setiawan Viyasa Rahyaputra

Desainer dan Penyusun Tata Letak Gupita Pramahayekti

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(4)

Definisi dasar dari kota pintar sejatinya dapat dipahami sebagai implementasi dan integrasi yang efektif dari teknologi baru dalam sebuah kota, yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas hidup, mendorong peningkatan ekonomi, mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim, serta menumbuhkan kewarganegaraan yang lebih aktif (Allwinkle dan Cruickshank, 2011). Definisi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi pintar dari teknologi dan aktivitas yang mandiri dapat meningkatkan performa dari sebuah kota dengan cara pandang ke depan dalam hal ekonomi, masyarakat, pemerintahan, mobilitas, lingkungan, kehidupan, serta independensi (Giffinger, et al., 2007). Aksesibilitas terhadap teknologi oleh masyarakat yang mandiri akan menumbuhkan kewarganegaraan yang lebih aktif, dan hal itulah yang menggambarkan kota pintar dalam konteks sosial.

Dalam konteks Rio de Janeiro, definisi tersebut sepertinya tidak berlaku, terutama dalam pembangunan kewarganegaraan aktif. Sangat jelas terlihat bahwa CICC dan COR tidak memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai level pengambilan keputusan dan pemerintahan. Kedua b a d a n t e r s e b u t j u g a t e r l i h a t t i d a k memanfaatkan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kesadaran publik.

Bahkan, CICC tidak memiliki situs web yang dapat dikunjungi. Kesadaran masyarakat mengenai lanskap kota yang akan berubah secara drastis di tengah dua acara olahraga besar, yakni Olimpiade dan Piala Dunia, menjadi penting karena hal tersebut akan menata ulang kehidupan sehari-hari mereka, khususnya dari adanya pengembangan infrastruktur. Lebih lanjut,

/

0

3

Kewarganegaraan Aktif

berbagai jalur transportasi baru, paket hotel stimulus, proyek stadion, tindakan keamanan, dan berbagai proyek lain yang berkaitan dengan Olimpiade Rio 2016 tidak mendapatkan masukan dari tokoh masyarakat sipil, asosiasi kemasyarakatan, dan anggota Dewan Kota, bahkan tidak ada diskusi terlebih dahulu dengan para pihak tersebut (Gaffney dan Robertson, 2016). Satu-satunya bentuk partisipasi dari masyarakat adalah mereka dapat menikmati pembangunan Kota Olimpiade tersebut melalui ponsel pintar mereka (Amorim, et al., 2014).

Minimnya pemanfaatan teknologi dalam kewarganegaraan aktif mendorong masyarakat Rio de Janeiro melakukan kegiatan aktivisme yang paling banyak dilakukan, yaitu media sosial. Facebook dan Twitter sering digunakan untuk membicarakan isu-isu terkait lanskap urban yang bergeser selama pelaksanaan Piala Dunia dan Olimpiade.

“Clictivism” dapat bermanfaat untuk memobilisasi masyarakat dalam isu-isu lanskap urban. Namun di saat yang bersamaan, CICC dengan teknologi keamanannya yang canggih, memiliki wewenang dan kekuasaan yang dapat dengan mudah memblokirnya.

Ketika protes berlangsung pada tahun 2013-2014, pihak kepolisian diduga mematikan layanan seluler untuk mengganggu jaringan aktivis, dan 'secara kebetulan', anggota CICC banyak yang juga merupakan anggota kepolisian (Gaffney dan Robertson, 2016).

Gangguan pada protes yang terjadi pada tahun 2013-2014 tersebut diklaim sebagai salah satu langkah proaktif dan preventif dari Pemerintah untuk menghadapi “bencana

/

0

2

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(5)

Definisi dasar dari kota pintar sejatinya dapat dipahami sebagai implementasi dan integrasi yang efektif dari teknologi baru dalam sebuah kota, yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas hidup, mendorong peningkatan ekonomi, mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim, serta menumbuhkan kewarganegaraan yang lebih aktif (Allwinkle dan Cruickshank, 2011). Definisi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi pintar dari teknologi dan aktivitas yang mandiri dapat meningkatkan performa dari sebuah kota dengan cara pandang ke depan dalam hal ekonomi, masyarakat, pemerintahan, mobilitas, lingkungan, kehidupan, serta independensi (Giffinger, et al., 2007). Aksesibilitas terhadap teknologi oleh masyarakat yang mandiri akan menumbuhkan kewarganegaraan yang lebih aktif, dan hal itulah yang menggambarkan kota pintar dalam konteks sosial.

Dalam konteks Rio de Janeiro, definisi tersebut sepertinya tidak berlaku, terutama dalam pembangunan kewarganegaraan aktif. Sangat jelas terlihat bahwa CICC dan COR tidak memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai level pengambilan keputusan dan pemerintahan. Kedua b a d a n t e r s e b u t j u g a t e r l i h a t t i d a k memanfaatkan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kesadaran publik.

Bahkan, CICC tidak memiliki situs web yang dapat dikunjungi. Kesadaran masyarakat mengenai lanskap kota yang akan berubah secara drastis di tengah dua acara olahraga besar, yakni Olimpiade dan Piala Dunia, menjadi penting karena hal tersebut akan menata ulang kehidupan sehari-hari mereka, khususnya dari adanya pengembangan infrastruktur. Lebih lanjut,

/

0

3

Kewarganegaraan Aktif

berbagai jalur transportasi baru, paket hotel stimulus, proyek stadion, tindakan keamanan, dan berbagai proyek lain yang berkaitan dengan Olimpiade Rio 2016 tidak mendapatkan masukan dari tokoh masyarakat sipil, asosiasi kemasyarakatan, dan anggota Dewan Kota, bahkan tidak ada diskusi terlebih dahulu dengan para pihak tersebut (Gaffney dan Robertson, 2016). Satu-satunya bentuk partisipasi dari masyarakat adalah mereka dapat menikmati pembangunan Kota Olimpiade tersebut melalui ponsel pintar mereka (Amorim, et al., 2014).

Minimnya pemanfaatan teknologi dalam kewarganegaraan aktif mendorong masyarakat Rio de Janeiro melakukan kegiatan aktivisme yang paling banyak dilakukan, yaitu media sosial. Facebook dan Twitter sering digunakan untuk membicarakan isu-isu terkait lanskap urban yang bergeser selama pelaksanaan Piala Dunia dan Olimpiade.

“Clictivism” dapat bermanfaat untuk memobilisasi masyarakat dalam isu-isu lanskap urban. Namun di saat yang bersamaan, CICC dengan teknologi keamanannya yang canggih, memiliki wewenang dan kekuasaan yang dapat dengan mudah memblokirnya.

Ketika protes berlangsung pada tahun 2013-2014, pihak kepolisian diduga mematikan layanan seluler untuk mengganggu jaringan aktivis, dan 'secara kebetulan', anggota CICC banyak yang juga merupakan anggota kepolisian (Gaffney dan Robertson, 2016).

Gangguan pada protes yang terjadi pada tahun 2013-2014 tersebut diklaim sebagai salah satu langkah proaktif dan preventif dari Pemerintah untuk menghadapi “bencana

/

0

2

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(6)

alam.” Dalam konteks ini, bencana alam tidak hanya didefinisikan sebagai banjir atau tanah longsor, tetapi juga protes. Dua contoh pertama, yakni banjir dan longsor, merupakan kejadian alam yang sulit untuk diatasi, namun pengertian yang terakhir masih menjadi perdebatan, terutama dalam pengertian politik. Dalam konteks Rio de Janeiro, hal tersebut bisa sangat politis. Definisi tersebut sampai titik tertentu dapat mengindikasikan bahwa teknologi kota pintar bisa digunakan untuk mengonsolidasikan kekuatan politik. Lebih lanjut, dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi dalam inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro tidak ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik atau kewarganegaraan yang lebih aktif, akan tetapi lebih ditujukan untuk pengawasan sosial.

Isu-isu pembangunan mulai muncul di Brazil dan kesemuanya tidak terlepas dari proses transformasi Rio de Janeiro menjadi sebuah kota pintar.

Melihat Rio de Janeiro sebagai salah satu kota terbesar di Brazil, jauh sebelum agenda Olimpiade, kota tersebut sudah menjadi kontributor terbesar kedua dalam produk domestik bruto Brazil, yang mana berkontribusi hampir 11%

dari total produk domestik bruto di Brazil (Xavier dan Malgahaes, 2003). Dengan kota yang berkembang sangat pesat, dipadukan dengan agenda pembangunan tersebut, terbentuk ruang untuk adanya politisasi dalam pemerintahan serta ruang bagi masyarakat untuk masuk ke dalamnya. Tidak mengherankan apabila dilihat bahwa antara tahun 1997 dan 2010, pendapatan daerah di Rio de Janeiro meningkat 34%, naik dari 97 juta Real Brazil, hingga pada titik di mana investasi diumumkan dan tenggat waktu ditetapkan untuk beberapa tempat olahraga untuk persiapan Olimpiade dan Piala Dunia.

Menariknya, hal ini bukanlah pengecualian terhadap proyek Kota Pintar Rio de Janeiro.

freepik.com

Melalui kerja sama dengan IBM, Rio de Janeiro memberdayakan modal sosial melalui pembukaan peluang usaha untuk para pemuda dan pemikir kreatif, berkolaborasi dengan UNICEF Centro de Promocao de Saude (Wakefield, 2013). Berdasarkan rencana besarnya, terlihat bahwa visi IBM terhadap kota yang ideal adalah kota yang kecerdasannya didasarkan pada sistem yang terintegrasi secara efisien, di mana terdapat reartikulasi dari sebuah kiasan lama, yakni penyederhanaan kota yang kompleks ke dalam sejumlah sistem yang terpisah, namun satu dengan yang lainnya saling terhubung (Gaffney dan Robertson, 2016). Lebih lanjut, sebagaimana yang dimaksud IBM – perusahaan yang menyediakan mekanisme teknologi untuk kepentingan pemerintahan efektif dari Pemerintah Rio de Janeiro – lebih mudah bagi mereka untuk melaporkan permasalahan yang ada, dan membiarkan kota tersebut untuk bereaksi secara mandiri dan sesuai dengan menggunakan bahasa yang disediakan oleh IBM. Masyarakat mungkin melihat keterlibatan dan proyek yang dilakukan oleh IBM dengan cara yang berbeda. Dalam pandangan perusahaan, sistem yang sedang dijual untuk kota dan masyarakat di bawah rubrik “kota pintar” tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan umum. Lebih lanjut, kepentingan para aktor dalam proyek kota pintar adalah pemanfaatan kembali dari berbagai teknologi yang ada, yang mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan maksud awalnya (Greenfield, 2013).

Tanpa mempertimbangkan secara penuh kapabilitas kota, Pemerintah Rio de Janeiro menerima tantangan untuk menjadi sebuah kota pintar, di mana kota tersebut harus dapat mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi yang baru. Akan tetapi, pernyataan diri sebagai kota pintar tersebut hanya didukung dengan sedikit akuntabilitas (Holland, 2008). Menurut Gaffney dan Robertson (2016), kepentingan IBM sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh para eksekutif kota, yang telah memulai perbaikan secara radikal fasilitas perkotaan yang dikatalisasi oleh acara-acara olahraga besar. Pemerintah

Isu-isu terkait Pola Pembangunan

/

0

5 /

0

4

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(7)

alam.” Dalam konteks ini, bencana alam tidak hanya didefinisikan sebagai banjir atau tanah longsor, tetapi juga protes. Dua contoh pertama, yakni banjir dan longsor, merupakan kejadian alam yang sulit untuk diatasi, namun pengertian yang terakhir masih menjadi perdebatan, terutama dalam pengertian politik. Dalam konteks Rio de Janeiro, hal tersebut bisa sangat politis. Definisi tersebut sampai titik tertentu dapat mengindikasikan bahwa teknologi kota pintar bisa digunakan untuk mengonsolidasikan kekuatan politik. Lebih lanjut, dari definisi tersebut, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi dalam inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro tidak ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik atau kewarganegaraan yang lebih aktif, akan tetapi lebih ditujukan untuk pengawasan sosial.

Isu-isu pembangunan mulai muncul di Brazil dan kesemuanya tidak terlepas dari proses transformasi Rio de Janeiro menjadi sebuah kota pintar.

Melihat Rio de Janeiro sebagai salah satu kota terbesar di Brazil, jauh sebelum agenda Olimpiade, kota tersebut sudah menjadi kontributor terbesar kedua dalam produk domestik bruto Brazil, yang mana berkontribusi hampir 11%

dari total produk domestik bruto di Brazil (Xavier dan Malgahaes, 2003). Dengan kota yang berkembang sangat pesat, dipadukan dengan agenda pembangunan tersebut, terbentuk ruang untuk adanya politisasi dalam pemerintahan serta ruang bagi masyarakat untuk masuk ke dalamnya. Tidak mengherankan apabila dilihat bahwa antara tahun 1997 dan 2010, pendapatan daerah di Rio de Janeiro meningkat 34%, naik dari 97 juta Real Brazil, hingga pada titik di mana investasi diumumkan dan tenggat waktu ditetapkan untuk beberapa tempat olahraga untuk persiapan Olimpiade dan Piala Dunia.

Menariknya, hal ini bukanlah pengecualian terhadap proyek Kota Pintar Rio de Janeiro.

freepik.com

Melalui kerja sama dengan IBM, Rio de Janeiro memberdayakan modal sosial melalui pembukaan peluang usaha untuk para pemuda dan pemikir kreatif, berkolaborasi dengan UNICEF Centro de Promocao de Saude (Wakefield, 2013). Berdasarkan rencana besarnya, terlihat bahwa visi IBM terhadap kota yang ideal adalah kota yang kecerdasannya didasarkan pada sistem yang terintegrasi secara efisien, di mana terdapat reartikulasi dari sebuah kiasan lama, yakni penyederhanaan kota yang kompleks ke dalam sejumlah sistem yang terpisah, namun satu dengan yang lainnya saling terhubung (Gaffney dan Robertson, 2016). Lebih lanjut, sebagaimana yang dimaksud IBM – perusahaan yang menyediakan mekanisme teknologi untuk kepentingan pemerintahan efektif dari Pemerintah Rio de Janeiro – lebih mudah bagi mereka untuk melaporkan permasalahan yang ada, dan membiarkan kota tersebut untuk bereaksi secara mandiri dan sesuai dengan menggunakan bahasa yang disediakan oleh IBM. Masyarakat mungkin melihat keterlibatan dan proyek yang dilakukan oleh IBM dengan cara yang berbeda. Dalam pandangan perusahaan, sistem yang sedang dijual untuk kota dan masyarakat di bawah rubrik “kota pintar” tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan kepentingan umum. Lebih lanjut, kepentingan para aktor dalam proyek kota pintar adalah pemanfaatan kembali dari berbagai teknologi yang ada, yang mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan maksud awalnya (Greenfield, 2013).

Tanpa mempertimbangkan secara penuh kapabilitas kota, Pemerintah Rio de Janeiro menerima tantangan untuk menjadi sebuah kota pintar, di mana kota tersebut harus dapat mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi yang baru. Akan tetapi, pernyataan diri sebagai kota pintar tersebut hanya didukung dengan sedikit akuntabilitas (Holland, 2008). Menurut Gaffney dan Robertson (2016), kepentingan IBM sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh para eksekutif kota, yang telah memulai perbaikan secara radikal fasilitas perkotaan yang dikatalisasi oleh acara-acara olahraga besar. Pemerintah

Isu-isu terkait Pola Pembangunan

/

0

5 /

0

4

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(8)

federal, negara ba g i a n , d a n kota t e l a h m e n u n j u k k a n pembentukan pusat kota pintar sebagai peninggalan penting belanja publik Rio de Janeiro untuk Piala Dunia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diduga terdapat

kelalaian yang signifikan untuk melibatkan masyarakat dalam proyek kota pintar, apabila satu-satunya alasan dari proyek yang ambisius ini hanya berpusat pada ambisi para eksekutif dalam acara-acara olahraga besar. Namun di sisi lain, untuk membuat cetak biru proyek kota pintar ini terlaksana, emerintah sejatinya membutuhkan p masyarakatnya untuk terlibat dalam proses peningkatkan kualitas hidup melalui kota pintar (Schereiner, 2016).

Keterlibatan IBM dalam pembentukan Kota Pintar Rio de Janeiro tidak berakhir melalui transfer teknologi. Akan tetapi, hal tersebut merupakan proyek pembangunan multidimensional yang juga berkontribusi terhadap pengembangan kondisi sosio- ekonomi masyarakat, mengingat Rio de Janeiro merupakan salah satu kota dengan tingkat kesenjangan ekonomi yang tinggi. Selain permasalahan geografis, pembangunan Rio de Janeiro harus juga mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap bencana alam maupun yang disebabkan oleh manusia. Jika tidak, maka Rio de Janeiro hanya akan dipandang sebagai proyek lain yang memungkinkan perusahaan menggunakan data urbanisasi untuk memprediksi pergerakan masyarakat ke dalam kota-kota. Hal ini menjadi penting untuk dipertimbangkan mengingat terdapat kemungkinan di masa depan bahwa 75% populasi dunia akan bermigrasi ke wilayah perkotaan (United Nations, 2014), dan proyek kota pintar ini dapat menjadi ambisi bisnis IBM untuk meningkatkan pendapatan tahunannya hingga 150 miliar dolar (Singer, 2012).

/

0

7 /

0

6

Gambar 1 – Kesenjangan Penetrasi Internet di Rio de Janeiro

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

Keterbatasan Infrastruktur

Sumber: Schreiner, 2016.

Infrastruktur teknologi informasi merupakan salah satu elemen penting dalam implementasi pemerintahan digital dan kota pintar. Infrastruktur teknologi informasi yang lebih terintegrasi dan terkoneksi dengan baik akan memungkinkan sebuah kota untuk membangun sistem pemerintahan digital dan jaringan kota pintar yang lebih baik kepada masyarakatnya. Meskipun Rio de Janeiro dipandang sebagai salah satu kota paling terkenal di Brazil, bahkan di seluruh dunia, dapat terlihat bahwa masalah infrastruktur rupanya menahan pemerintah Rio de Janeiro untuk mengimplementasikan sistem pemerintahan digital yang solid. Pada bagian ini, Penulis mengidentifikasi tiga permasalahan infrastruktur terkait dengan sistem teknologi informasi di Rio de Janeiro.

1. Cakupan Jaringan Internet yang Terbatas

Terlepas dari fakta bahwa jumlah pengguna ponsel dan komputer di Rio de Janeiro menunjukkan peningkatan setiap tahun, kesenjangan digital antara orang-orang yang tinggal di wilayah perkotaan dengan yang tinggal di perdesaan masih jelas terlihat. Di wilayah pedesaan di Rio de Janeiro, ketiadaan layanan internet yang terjangkau, membatasi masyarakat lokal untuk mengakses dunia maya (Pedrozo, 2013).

(9)

federal, negara ba g i a n , d a n kota t e l a h m e n u n j u k k a n pembentukan pusat kota pintar sebagai peninggalan penting belanja publik Rio de Janeiro untuk Piala Dunia.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diduga terdapat

kelalaian yang signifikan untuk melibatkan masyarakat dalam proyek kota pintar, apabila satu-satunya alasan dari proyek yang ambisius ini hanya berpusat pada ambisi para eksekutif dalam acara-acara olahraga besar. Namun di sisi lain, untuk membuat cetak biru proyek kota pintar ini terlaksana, emerintah sejatinya membutuhkan p masyarakatnya untuk terlibat dalam proses peningkatkan kualitas hidup melalui kota pintar (Schereiner, 2016).

Keterlibatan IBM dalam pembentukan Kota Pintar Rio de Janeiro tidak berakhir melalui transfer teknologi. Akan tetapi, hal tersebut merupakan proyek pembangunan multidimensional yang juga berkontribusi terhadap pengembangan kondisi sosio- ekonomi masyarakat, mengingat Rio de Janeiro merupakan salah satu kota dengan tingkat kesenjangan ekonomi yang tinggi. Selain permasalahan geografis, pembangunan Rio de Janeiro harus juga mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan terhadap bencana alam maupun yang disebabkan oleh manusia. Jika tidak, maka Rio de Janeiro hanya akan dipandang sebagai proyek lain yang memungkinkan perusahaan menggunakan data urbanisasi untuk memprediksi pergerakan masyarakat ke dalam kota-kota. Hal ini menjadi penting untuk dipertimbangkan mengingat terdapat kemungkinan di masa depan bahwa 75% populasi dunia akan bermigrasi ke wilayah perkotaan (United Nations, 2014), dan proyek kota pintar ini dapat menjadi ambisi bisnis IBM untuk meningkatkan pendapatan tahunannya hingga 150 miliar dolar (Singer, 2012).

/

0

7 /

0

6

Gambar 1 – Kesenjangan Penetrasi Internet di Rio de Janeiro

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

Keterbatasan Infrastruktur

Sumber: Schreiner, 2016.

Infrastruktur teknologi informasi merupakan salah satu elemen penting dalam implementasi pemerintahan digital dan kota pintar. Infrastruktur teknologi informasi yang lebih terintegrasi dan terkoneksi dengan baik akan memungkinkan sebuah kota untuk membangun sistem pemerintahan digital dan jaringan kota pintar yang lebih baik kepada masyarakatnya. Meskipun Rio de Janeiro dipandang sebagai salah satu kota paling terkenal di Brazil, bahkan di seluruh dunia, dapat terlihat bahwa masalah infrastruktur rupanya menahan pemerintah Rio de Janeiro untuk mengimplementasikan sistem pemerintahan digital yang solid. Pada bagian ini, Penulis mengidentifikasi tiga permasalahan infrastruktur terkait dengan sistem teknologi informasi di Rio de Janeiro.

1. Cakupan Jaringan Internet yang Terbatas

Terlepas dari fakta bahwa jumlah pengguna ponsel dan komputer di Rio de Janeiro menunjukkan peningkatan setiap tahun, kesenjangan digital antara orang-orang yang tinggal di wilayah perkotaan dengan yang tinggal di perdesaan masih jelas terlihat. Di wilayah pedesaan di Rio de Janeiro, ketiadaan layanan internet yang terjangkau, membatasi masyarakat lokal untuk mengakses dunia maya (Pedrozo, 2013).

(10)

Lebih lanjut, meskipun terdapat pemasukan dana yang besar untuk dua acara olahraga besar, yakni Piala Dunia 2014 dan Olimpiade Rio 2016, hal tersebut kemudian tidak ditujukan untuk rencana pengembangan infrastruktur teknologi informasi yang tepat sasaran di wilayah kota Rio de Janeiro. Penelitian yang dilakukan oleh Schreiner (2016), menunjukkan bahwa wilayah pemukiman masyarakat menengah ke atas dan kalangan atas (ditunjukkan dengan warna kuning pada Gambar I di atas), cenderung memiliki cakupan jaringan internet yang lebih baik dibandingkan wilayah pemukiman masyarakat dengan penghasilan yang rendah dan daerah kumuh (favela) di Rio de Janeiro.

2. Keamanan Siber

Tindakan kejahatan siber dapat mengakibatkan kerugian finansial dan penerobosan keamanan nasional/daerah (Lobato & Kenkel, 2015). Di Rio de Janeiro, keamanan siber masih menjadi masalah yang mengganggu sistem internet di Rio de Janeiro.

Sebagai contoh, laporan dari Tiger Security – sebuah konsultan keamanan yang disewa untuk mengawasi jalannya Piala Dunia 2014 – menyoroti bahwa di Rio de Janeiro dan kota-kota di Brazil lainnya, banyak terjadi peretasan oleh pihak-pihak tidak dikenal terhadap surel dan informasi pribadi pejabat pemerintah, serta beberapa situs pemerintahan. Data-data tersebut digunakan oleh para peretas untuk memanipulasi sistem pertiketan, membuat informasi palsu, serta menyebarkan penipuan daring. Situasi ini tidak hanya terjadi sekali. Lebih lanjut, pada saat Olimpiade Rio 2016, berbagai data pribadi dan sensitif mengenai para atlet dan performa mereka, yang seharusnya hanya bisa diakses oleh pihak-pihak yang berwenang, juga dicuri oleh para peretas (Duchon, 2016; BBC, 2016).

http://procon.sp.gov.br http://mte.gov.br http://cetem.gov.br http://worldcup2014.gov.br http://esporte.gov.br http://policiamilitar.sp.gov.br http://metro.sp.gov.br http://abin.gov.br http://fcchotels.fifa.com http://cbf.com.br

http://bb.com.br

http://camaraitapipoca.ce.gov.br http://camaradeitapebi.ba.gov.br http://camaradeprado.ba.gov.br http://santaremnovo.pa.gov.br http://afaceesp.org.br http://bbg.unemat.gov.br http://universalmusic.com.br http://itarema.ce.gov.br http://mendes.rj.gov.br

http://itamaraty.gov.br http://copa2014.df.gov.br http://tre-am.jus.br http://pm.go.gov.br http://pm.pe.gov.br http://casaruibarbosa.gov.br http://sumare.sp.gov.br http://ans.gov.br http://policiamilitar.rj.gov.br http://secopa.mt.gov.br

TOP CYBER ATTACKS

SITUS TIDAK

DAPAT DIAKSES SITUS DIRETAS SITUS MENGALAMI KEBOCORAN INFORMASI

Gambar 2 – Da ar Situs Pemerintah di Brazil yang Diretas selama Piala Dunia 2014

Beberapa kejadian tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Rio de Janeiro belum memiliki perlindungan yang baik terhadap dunia maya dari ancaman peretas dan kejahatan daring lainnya. Oleh karena itu, apabila dalam waktu dekat pemerintah Rio de Janeiro bersikukuh untuk melakukan digitalisasi terhadap pelayanan publik dan data masyarakatnya tanpa didukung dengan usaha untuk meningkatkan keamanan siber mereka, akan sangat mencemaskan karena apabila terjadi krisis peretasan secara besar-besaran, hal tersebut akan membahayakan keamanan masyarakat Rio de Janeiro.

3. Cakupan Layanan Daring Pemerintah yang Terbatas

Keterbatasan terhadap cakupan internet di beberapa wilayah di Rio de Janeiro menyebabkan beberapa layanan pemerintah menjadi tidak efektif. Sebagai contoh, CICC di Rio de Janeiro yang ditujukan untuk meningkatkan keamanan melalui pengawasan secara daring hanya berfokus untuk mengawasi area perkotaan Rio de Janeiro, namun membiarkan area pinggiran tanpa pengawasan (Gaffney dan Robertson, 2016, hlm. 8). Ironisnya, fakta menunjukkan bahwa aktivitas kejahatan di Rio de Janeiro mulai berpindah ke wilayah pinggiran kota. Dengan demikian, keterbatasan ini membuat layanan pemerintah daring tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keamanan masyarakat di Rio de Janeiro.

/

0

9 /

0

8

Sumber: Tiger Security Report, 2014.

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(11)

Lebih lanjut, meskipun terdapat pemasukan dana yang besar untuk dua acara olahraga besar, yakni Piala Dunia 2014 dan Olimpiade Rio 2016, hal tersebut kemudian tidak ditujukan untuk rencana pengembangan infrastruktur teknologi informasi yang tepat sasaran di wilayah kota Rio de Janeiro. Penelitian yang dilakukan oleh Schreiner (2016), menunjukkan bahwa wilayah pemukiman masyarakat menengah ke atas dan kalangan atas (ditunjukkan dengan warna kuning pada Gambar I di atas), cenderung memiliki cakupan jaringan internet yang lebih baik dibandingkan wilayah pemukiman masyarakat dengan penghasilan yang rendah dan daerah kumuh (favela) di Rio de Janeiro.

2. Keamanan Siber

Tindakan kejahatan siber dapat mengakibatkan kerugian finansial dan penerobosan keamanan nasional/daerah (Lobato & Kenkel, 2015). Di Rio de Janeiro, keamanan siber masih menjadi masalah yang mengganggu sistem internet di Rio de Janeiro.

Sebagai contoh, laporan dari Tiger Security – sebuah konsultan keamanan yang disewa untuk mengawasi jalannya Piala Dunia 2014 – menyoroti bahwa di Rio de Janeiro dan kota-kota di Brazil lainnya, banyak terjadi peretasan oleh pihak-pihak tidak dikenal terhadap surel dan informasi pribadi pejabat pemerintah, serta beberapa situs pemerintahan. Data-data tersebut digunakan oleh para peretas untuk memanipulasi sistem pertiketan, membuat informasi palsu, serta menyebarkan penipuan daring. Situasi ini tidak hanya terjadi sekali. Lebih lanjut, pada saat Olimpiade Rio 2016, berbagai data pribadi dan sensitif mengenai para atlet dan performa mereka, yang seharusnya hanya bisa diakses oleh pihak-pihak yang berwenang, juga dicuri oleh para peretas (Duchon, 2016; BBC, 2016).

http://procon.sp.gov.br http://mte.gov.br http://cetem.gov.br http://worldcup2014.gov.br http://esporte.gov.br http://policiamilitar.sp.gov.br http://metro.sp.gov.br http://abin.gov.br http://fcchotels.fifa.com http://cbf.com.br

http://bb.com.br

http://camaraitapipoca.ce.gov.br http://camaradeitapebi.ba.gov.br http://camaradeprado.ba.gov.br http://santaremnovo.pa.gov.br http://afaceesp.org.br http://bbg.unemat.gov.br http://universalmusic.com.br http://itarema.ce.gov.br http://mendes.rj.gov.br

http://itamaraty.gov.br http://copa2014.df.gov.br http://tre-am.jus.br http://pm.go.gov.br http://pm.pe.gov.br http://casaruibarbosa.gov.br http://sumare.sp.gov.br http://ans.gov.br http://policiamilitar.rj.gov.br http://secopa.mt.gov.br

TOP CYBER ATTACKS

SITUS TIDAK

DAPAT DIAKSES SITUS DIRETAS SITUS MENGALAMI KEBOCORAN INFORMASI

Gambar 2 – Da ar Situs Pemerintah di Brazil yang Diretas selama Piala Dunia 2014

Beberapa kejadian tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Rio de Janeiro belum memiliki perlindungan yang baik terhadap dunia maya dari ancaman peretas dan kejahatan daring lainnya. Oleh karena itu, apabila dalam waktu dekat pemerintah Rio de Janeiro bersikukuh untuk melakukan digitalisasi terhadap pelayanan publik dan data masyarakatnya tanpa didukung dengan usaha untuk meningkatkan keamanan siber mereka, akan sangat mencemaskan karena apabila terjadi krisis peretasan secara besar-besaran, hal tersebut akan membahayakan keamanan masyarakat Rio de Janeiro.

3. Cakupan Layanan Daring Pemerintah yang Terbatas

Keterbatasan terhadap cakupan internet di beberapa wilayah di Rio de Janeiro menyebabkan beberapa layanan pemerintah menjadi tidak efektif. Sebagai contoh, CICC di Rio de Janeiro yang ditujukan untuk meningkatkan keamanan melalui pengawasan secara daring hanya berfokus untuk mengawasi area perkotaan Rio de Janeiro, namun membiarkan area pinggiran tanpa pengawasan (Gaffney dan Robertson, 2016, hlm. 8). Ironisnya, fakta menunjukkan bahwa aktivitas kejahatan di Rio de Janeiro mulai berpindah ke wilayah pinggiran kota. Dengan demikian, keterbatasan ini membuat layanan pemerintah daring tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keamanan masyarakat di Rio de Janeiro.

/

0

9 /

0

8

Sumber: Tiger Security Report, 2014.

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(12)

Kesimpulan

1. Meningkatkan Kompatibilitas antara Sistem Pemerintahan Digital dengan Karakteristik Masyarakat

Sistem kota pintar di Rio de Janeiro sebagian besar dibangun melalui kerja sama antara pemerintah dengan IBM, sehingga, tidak melibatkan partisipasi masyarakat Rio de Janeiro. Konsekuensinya, sebagian sistem yang ada tidak serta merta merepresentasikan jawaban yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan kurang efektif dan kurang berpengaruhnya sistem kota pintar yang diimplementasikan. Oleh karena itu, dapat diambil pelajaran bahwa partisipasi masyarakat sangat perlu untuk diikutsertakan dalam keseluruhan proses pembangunan sistem kota pintar. Selain dapat menstimulasi praktik berdemokrasi, partisipasi aktif dari masyarakat juga akan meningkatkan efektivitas dari sistem kota pintar. Sebagai negara demokratis, pemerintah Indonesia haruslah menjadikan hal tersebut sebagai salah satu perhatian yang utama dalam agenda pengembangan kota pintar di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak. Dengan demikian, memastikan adanya partisipasi masyarakat juga menjadi implikasi yang lebih lanjut dari hal ini. Namun demikian, hal itu menjadi penting mengingat kota pintar tidaklah

“pintar” sampai masyarakatnya benar-benar ikut mengurus dan menjaga kota tersebut melalui sistem yang inovatif ini.

2. Pentingnya Implementasi Teknologi Web 2.0 dalam Sistem Pemerintahan Digital

Dalam konteks Rio de Janeiro, aplikasi kota pintar seperti CICC, dibuat berdasarkan hierarki, atau struktur top -down, yang menutup adanya p a r t i s i p a s i m a s y a r a k a t u n t u k d a p a t

berkontribusi dalam pengembangan konten situs web terkait. Dengan demikian, disarankan bahwa aplikasi atau situs web kota pintar akan menjadi lebih baik apabila dikembangkan menggunakan teknologi Web 2.0, yang memungkinkan seluruh penggunanya untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan konten situs-situs web, sehingga akan dapat memperkaya data, informasi, dan pengetahuan yang dapat diakses oleh semua orang.

Meskipun Rio de Janeiro mendapatkan penghargaan sebagai salah satu kota pintar terbaik di dunia, inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro rupanya tidak menggambarkan tiga aspek penting mengenai bagaimana seharusnya kota pintar itu. Pertama, pengembangan kota pintar di Rio de Janeiro rupanya tidak mendukung perkembangan peningkatan kesadaran masyarakat, aktivisme sosial, dan kewarganegaraan aktif. Di saat yang sama, hal tersebut justru meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap masyarakatnya, bahkan membatasi aktivitas mereka dengan mengategorikan tindakan-tindakan seperti protes masyarakat sebagai “bencana alam.” Kedua, pola pembangunan Rio de Janeiro dalam pengembangan kota pintar juga menjadi isu tersendiri. Inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro secara eksklusif ditargetkan untuk meningkatkan perekonomian tanpa memikirkan aspek kota pintar lainnya seperti peningkatan kualitas hidup atau indeks pembangunan manusia. Ketiga, performa infrastruktur kota pintar di Rio de Janeiro juga masih diperdebatkan. Adanya keterbatasan terhadap layanan pemerintahan yang menggunakan teknologi, jaringan internet, serta ancaman terhadap keamanan siber menjadi permasalahan yang umum dalam diskursus mengenai infrastruktur dalam inisiatif

kota pintar Rio de Janeiro.

Pelajaran untuk Indonesia

/

1

1 /

1

0

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(13)

Kesimpulan

1. Meningkatkan Kompatibilitas antara Sistem Pemerintahan Digital dengan Karakteristik Masyarakat

Sistem kota pintar di Rio de Janeiro sebagian besar dibangun melalui kerja sama antara pemerintah dengan IBM, sehingga, tidak melibatkan partisipasi masyarakat Rio de Janeiro. Konsekuensinya, sebagian sistem yang ada tidak serta merta merepresentasikan jawaban yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan kurang efektif dan kurang berpengaruhnya sistem kota pintar yang diimplementasikan. Oleh karena itu, dapat diambil pelajaran bahwa partisipasi masyarakat sangat perlu untuk diikutsertakan dalam keseluruhan proses pembangunan sistem kota pintar. Selain dapat menstimulasi praktik berdemokrasi, partisipasi aktif dari masyarakat juga akan meningkatkan efektivitas dari sistem kota pintar. Sebagai negara demokratis, pemerintah Indonesia haruslah menjadikan hal tersebut sebagai salah satu perhatian yang utama dalam agenda pengembangan kota pintar di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak. Dengan demikian, memastikan adanya partisipasi masyarakat juga menjadi implikasi yang lebih lanjut dari hal ini. Namun demikian, hal itu menjadi penting mengingat kota pintar tidaklah

“pintar” sampai masyarakatnya benar-benar ikut mengurus dan menjaga kota tersebut melalui sistem yang inovatif ini.

2. Pentingnya Implementasi Teknologi Web 2.0 dalam Sistem Pemerintahan Digital

Dalam konteks Rio de Janeiro, aplikasi kota pintar seperti CICC, dibuat berdasarkan hierarki, atau struktur top -down, yang menutup adanya p a r t i s i p a s i m a s y a r a k a t u n t u k d a p a t

berkontribusi dalam pengembangan konten situs web terkait. Dengan demikian, disarankan bahwa aplikasi atau situs web kota pintar akan menjadi lebih baik apabila dikembangkan menggunakan teknologi Web 2.0, yang memungkinkan seluruh penggunanya untuk ikut berkontribusi dalam pengembangan konten situs-situs web, sehingga akan dapat memperkaya data, informasi, dan pengetahuan yang dapat diakses oleh semua orang.

Meskipun Rio de Janeiro mendapatkan penghargaan sebagai salah satu kota pintar terbaik di dunia, inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro rupanya tidak menggambarkan tiga aspek penting mengenai bagaimana seharusnya kota pintar itu. Pertama, pengembangan kota pintar di Rio de Janeiro rupanya tidak mendukung perkembangan peningkatan kesadaran masyarakat, aktivisme sosial, dan kewarganegaraan aktif. Di saat yang sama, hal tersebut justru meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap masyarakatnya, bahkan membatasi aktivitas mereka dengan mengategorikan tindakan-tindakan seperti protes masyarakat sebagai “bencana alam.” Kedua, pola pembangunan Rio de Janeiro dalam pengembangan kota pintar juga menjadi isu tersendiri. Inisiatif Kota Pintar Rio de Janeiro secara eksklusif ditargetkan untuk meningkatkan perekonomian tanpa memikirkan aspek kota pintar lainnya seperti peningkatan kualitas hidup atau indeks pembangunan manusia. Ketiga, performa infrastruktur kota pintar di Rio de Janeiro juga masih diperdebatkan. Adanya keterbatasan terhadap layanan pemerintahan yang menggunakan teknologi, jaringan internet, serta ancaman terhadap keamanan siber menjadi permasalahan yang umum dalam diskursus mengenai infrastruktur dalam inisiatif

kota pintar Rio de Janeiro.

Pelajaran untuk Indonesia

/

1

1 /

1

0

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(14)

Allwinkle, S., dan Cruickshank, P. (2011). Creating Smart-Er Cities: An Overview. Journal of Urban Technology, 18(2), hlm. 1-16.

Amorim, B., Mendes, T., dan Borges, W. (2016). Trânsito Lento Deu Prejuízo de R$ 29 Bilhões No R i o E m 2 0 1 3 , A p o n ta E st u d o D a F i r j a n [ d a r i n g ] O G l o b o. Te r s e d i a d i : http://oglobo.globo.com/rio/transito-lento-deu-prejuizo-de-29-bilhoes-no-rio-em- 2013-aponta-estudo-da-firjan-13403826, diakses pada 25 Oktober 2016.

BBC. (2016). Russian Hackers leak Simone Biles and Serena Williams Files [daring] BBC.

Tersedia di http://www.bbc.com/news/world-37352326, diakses pada 25 Oktober 2016.

Duchon, R. (2016). Russian Hackers Publish More Health Data of Rio 2016 Olympics [daring] NBC News. Tersedia di: http://www.nbcnews.com/stor yline/2016-rio-summer- olympics/russian-hackers-publish-more-health-data-rio-2016-olympians-n648656, diakses pada viewed 25 Oktober 2016.

Gaffney, C., dan Robertson, C. (2016). Smarter than Smart: Rio de Janeiro's Flawed Emergence as a Smart City. Journal of Urban Technology, hlm. 1-18.

Giffinger, R., Haindlmaier, G., dan Kramar, H. (2010). The Role of Rankings in Growing City Competition. Urban Research & Practice 3(3), hlm. 299–312.

Greenfield, A. (2013). Against the smart city. Do Projects.

Hollands, R. G. (2008). Will the real smart city please stand up? City: Analysis of Urban Trends, Culture, Theory, Policy, Action, 12(3), hlm. 303-320.

Lobato, L.C. dan Kenkel, K.M. (2015). Discourses of Cyberspace Securitization in Brazil and in the United States. RevistaBrasileira de PoliticaInternacional, 58(2), hlm. 23-43.

Pedrozo, S. (2013). New Media Use in Brazil: Digital Inclusion or Digital Divide?. Online Journal of Communication and Media Technologies, 3(1), hlm. 144-162.

Schreiner, C. (2016). International Case Studies of Smart Cities: Rio de Janeiro, Brazil. Inter- American Development Bank.

Singer, N. (2012). Mission Control, Built for Cities [daring] NY Times. Tersedia di:

http://www.nytimes.com/2012/03/04/business/ibm-takes-smarter-cities-concept-to- rio-de-janeiro.html?_r=0, diakses pada 25 Oktober 2016.

Tiger Security. Analysis Report the State of the Art of Digital Guerilla during the 2014 Brazilian W o r l d C u p [ d a r i n g ] T i g e r S e c u r i t y . T e r s e d i a d i : https://www.tigersecurity.pro/free_reports/ AR_EN20140615_BR_v1.pdf, diakses pada 24 Oktober 2016.

United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division. (2014). World Urbanization Prospects. United Nations.

Wakefield, J. (2013). Tomorrow's cities: Rio de Janeiro's bid to become a smart city [daring] BBC.

Tersedia di: http://www.bbc.com/news/technology-22546490, diakses pada 25 Oktober 2016.

Xavier, H., dan Magalhães, F. (2003). The case of Rio de Janeiro. Urban Slums Reports: University College London, hlm. 1-28.

Referensi

/

1

2

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(15)

Allwinkle, S., dan Cruickshank, P. (2011). Creating Smart-Er Cities: An Overview. Journal of Urban Technology, 18(2), hlm. 1-16.

Amorim, B., Mendes, T., dan Borges, W. (2016). Trânsito Lento Deu Prejuízo de R$ 29 Bilhões No R i o E m 2 0 1 3 , A p o n ta E st u d o D a F i r j a n [ d a r i n g ] O G l o b o. Te r s e d i a d i : http://oglobo.globo.com/rio/transito-lento-deu-prejuizo-de-29-bilhoes-no-rio-em- 2013-aponta-estudo-da-firjan-13403826, diakses pada 25 Oktober 2016.

BBC. (2016). Russian Hackers leak Simone Biles and Serena Williams Files [daring] BBC.

Tersedia di http://www.bbc.com/news/world-37352326, diakses pada 25 Oktober 2016.

Duchon, R. (2016). Russian Hackers Publish More Health Data of Rio 2016 Olympics [daring] NBC News. Tersedia di: http://www.nbcnews.com/stor yline/2016-rio-summer- olympics/russian-hackers-publish-more-health-data-rio-2016-olympians-n648656, diakses pada viewed 25 Oktober 2016.

Gaffney, C., dan Robertson, C. (2016). Smarter than Smart: Rio de Janeiro's Flawed Emergence as a Smart City. Journal of Urban Technology, hlm. 1-18.

Giffinger, R., Haindlmaier, G., dan Kramar, H. (2010). The Role of Rankings in Growing City Competition. Urban Research & Practice 3(3), hlm. 299–312.

Greenfield, A. (2013). Against the smart city. Do Projects.

Hollands, R. G. (2008). Will the real smart city please stand up? City: Analysis of Urban Trends, Culture, Theory, Policy, Action, 12(3), hlm. 303-320.

Lobato, L.C. dan Kenkel, K.M. (2015). Discourses of Cyberspace Securitization in Brazil and in the United States. RevistaBrasileira de PoliticaInternacional, 58(2), hlm. 23-43.

Pedrozo, S. (2013). New Media Use in Brazil: Digital Inclusion or Digital Divide?. Online Journal of Communication and Media Technologies, 3(1), hlm. 144-162.

Schreiner, C. (2016). International Case Studies of Smart Cities: Rio de Janeiro, Brazil. Inter- American Development Bank.

Singer, N. (2012). Mission Control, Built for Cities [daring] NY Times. Tersedia di:

http://www.nytimes.com/2012/03/04/business/ibm-takes-smarter-cities-concept-to- rio-de-janeiro.html?_r=0, diakses pada 25 Oktober 2016.

Tiger Security. Analysis Report the State of the Art of Digital Guerilla during the 2014 Brazilian W o r l d C u p [ d a r i n g ] T i g e r S e c u r i t y . T e r s e d i a d i : https://www.tigersecurity.pro/free_reports/ AR_EN20140615_BR_v1.pdf, diakses pada 24 Oktober 2016.

United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division. (2014). World Urbanization Prospects. United Nations.

Wakefield, J. (2013). Tomorrow's cities: Rio de Janeiro's bid to become a smart city [daring] BBC.

Tersedia di: http://www.bbc.com/news/technology-22546490, diakses pada 25 Oktober 2016.

Xavier, H., dan Magalhães, F. (2003). The case of Rio de Janeiro. Urban Slums Reports: University College London, hlm. 1-28.

Referensi

/

1

2

Kota Pintar Rio de Janeiro: Perjalanan yang Penuh Rintangan

(16)

Center for Digital Society

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Ruang BC 201-202, Gedung BC Lantai 2, Jalan Socio Yustisia 1

Bulaksumur, Yogyakarta, 55281, Indonesia

Telepon : (0274) 563362, Ext. 116 Surel : cfds.fi[email protected] Situs Web : cfds.fisipol.ugm.ac.id

cfds.fisipol.ugm.ac.id

@cfds_ugm

cfds_ugm CfDS UGM facebook.com/cfdsugm

@cfds_ugm

Gambar

Gambar 1 – Kesenjangan Penetrasi Internet di Rio de Janeiro
Gambar 2 – Da ar Situs Pemerintah di Brazil yang Diretas selama Piala Dunia 2014

Referensi

Dokumen terkait

Sejak saat itu ia semakin gencar melakukan dakwah Islam, bukan saja di daerah tempat tinggalnya sendiri, tetapi juga ke berbagai daerah di Sumatera Utara. Beliau terkenal

Abstract- “The only thing of real importance that leaders do is to create and manage culture.” “If you do not manage culture, it manages you, and you may not even be aware of

Risiko biaya usahatani tembakau jenis Muntilan lebih rendah dibandingkan tembakau Temanggung karena sebagian besar petani tembakau Muntilan melakukan proses pasca panen

Metodologi yang digunakan dalam pembangunan Sistem Informasi Administrasi Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor Berbasis Web dengan Fitur Mobile pada UPT.. Pengujian

Membangunkan satu persembahan multimedia interaktif tak linear yang mempunyai elemen multimedia dengan tidak melebihi had saiz fail persembahan yang ditentukan. Menilai

Santosa (2004: 20) mengatakan bahwa seni pertunjukan me- miliki peran yang sangat menonjol dalam konteks kegiatan kepariwisataan, bahkan sebenarnya telah menunjukkan posisinya

Dengan pembagian kelompok pula kemampuan individu siswa tidak akan terlihat oleh guru, walau guru yang bersangkutan berkata bahwa kemampuan individu siswa

Berdasarkan hasil analisa data yang telah diperolah mengenai pengaruh perbedaan variasi temperatur austenisasi terhadap nilai kekerasan material, kekuatan impak dan struktur