PERSEPSI MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP UPACARA LARUNG SESAJI SEBAGAI DAYA TARIK
WISATA TELAGA SARANGAN
(Studi kasus : Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Oleh :
Ahmad Azhar Mahabbii M.
NIM : 11160150000034
PROGRAM STUDI
TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021
i
LEMBAR PENGESAHAN
PERSEPSI MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP UPACARA ADAT LARUNG SESAJI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA TELAGA SARANGAN (Studi Kasus : Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan
Kabupaten Magetan) SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
Ahmad Azhar Mahabbii M.
NIM: 11160150000034 Yang Mengesahkan,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Cut Dhien Nourwahida, M.A Anissa Windarti, M.Sc NIP. 197912212008012016 NIP. 198208022011012005
PROGRAM STUDI TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2021
ii
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi berjudul PERSEPSI MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP UPACARA ADAT LARUNG SESAJI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA TELAGA SARANGAN (Studi Kasus : Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan) disusun oleh Ahmad Azhar Mahabbii M. NIM.
11160150000034, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diajukan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang diterapkan oleh fakultas
Jakarta, 07 Februari 2021
Yang Mengesahkan,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Cut Dhien Nourwahida, M.A Anissa Windarti, M.Sc NIP. 197912212008012016 NIP.198208022011012005
iii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI Saya bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Ahmad Azhar Mahabbii M.
Tempat/Tgl Lahir : Magetan, 22 Februari 1998
NIM : 11160150000034
Jurusan/Prodi : Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial
Judul Skripsi : Persepsi Masyarakat Setempat terhadap Upacara Adat Larung Sesaji sebagai Daya Tarik Wisata Telaga Sarangan (Studi Kasus : Kelurahan
Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan) Dosen Pembimbing : 1. Cut Dhien Nourwahida, M.A
2. Anissa Windarti, M.Sc
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggungjawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat menempuh Ujian Munaqasah.
Jakarta, 07 Februari 2021 Mahasiswa Ybs.
Ahmad Azhar M. M.
NIM. 11160150000034
iv
LEMBAR PERNYATAAN UJI REFERENSI
Seluruh referensi yang digunakan dalam penelitian ini yang berjudul PERSEPSI MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP UPACARA ADAT LARUNG SESAJI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA TELAGA SARANGAN (Studi Kasus : Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan) disusun oleh Ahmad Azhar Mahabbii M. NIM. 11160150000034, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Telah diuji kebenaranya oleh Dosen Pembimbing pada tanggal 07 Februari 2021.
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Cut Dhien Nourwahida, M.A Anissa Windarti, M.Sc NIP. 197912212008012016 NIP. 198208022011012005
v
Persepsi Masyarakat Setempat terhadap Upacara Adat Larung Sesaji sebagai Daya Tarik Wisata Telaga Sarangan (Studi kasus : Kelurahan
Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan) Oleh : Ahmad Azhar M.
ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat setempat mengenai Upacara Adat Larung Sesaji karena Masyarakat mulai tidak lagi peduli dengan budayanya. Hal ini disebabkan semakin gencarnya media elektronik dan internet. Begitu pula masyarakat Desa Sarangan dari tahun ke tahun mulai tidak peduli dengan Upacara Adat Larung Sesaji tersebut. Ditambah upacara larung sesaji diselenggarakan di wisata Telaga Sarangan sehingga seharusnya upacara ini dapat menjadi daya tarik untuk wisata Telaga Sarangan.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan metode kualitatif deskriptif yang mana dalam penelitian tersebut, metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara kepada informan dan pengambilan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 sampai Desember 2020. Penelitian ini menggunakan analisis data yaitu reduksi data kemudian penyajian data dan selanjutnya melakukan penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap Upacara Adat Larung Sesaji adalah dapat menjadi menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan saat berkunjung ke wisata Telaga Sarangan di buktikan dengan intensitas pengujung yang datang ke wisata Telaga Sarangan saat Upacara Adat Larung Sesaji meningkatkan dua kali lipat. Selain itu, dengan adanya upacara larung sesaji membuat wisata Telaga Sarangan lebih dikenal oleh masyarakat luas dan wisatawan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan jika upacara larung sesaji dapat menjadi daya tarik wisata Telaga Sarangan.
Kata Kunci : Upacara Adat, Persepsi Masyarakat, Daya Tarik Wisata
vi ABSTRACT
The background of this research is to find out the perceptions of the local community about the Larung Sesaji Traditional Ceremony because the community starts to no longer care about its culture. This is due to the increasingly incessant electronic media and the internet. Likewise, the people of Sarangan Village from year to year began to not care about the Larung Sesaji Traditional Ceremony. In addition, the offering ceremony is held at the Sarangan Lake, so this ceremony should be an attraction for Sarangan Lake tourism.
This research is a field research with a descriptive qualitative method in which in this study, the data collection method uses observation, interviews with informants and taking documentation. This research was conducted from October 2020 to December 2020. This study used data analysis, namely data reduction then data presentation and then drawing conclusions.
The results of this study conclude that the public's perception of the Larung Sesaji Traditional Ceremony can become a special attraction for tourists when visiting Sarangan Lake tourism as evidenced by the intensity of visitors who come to Sarangan Lake tourism during the Larung Sesaji Traditional Ceremony doubled.
In addition, with the offering ceremony, Sarangan Lake tourism is better known by the wider community and tourists. From this, it can be concluded that the offering ceremony can be a tourist attraction for Sarangan Lake.
Keywords: Traditional Ceremony, Community Perception, Tourist Attraction
vii
KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb
Alhamdullilah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi, yang berjudul “Persepsi Masyarakat Setempat terhadap Upacara Adat Larung Sesaji sebagai Daya Tarik Wisata Telaga Sarangan. Studi Kasus : Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan” Penulisan ini untuk memenuhi Syarat menjadi Sarjana Pendidikan di Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Konsentrasi Sosiologi. Penulis menyadari bahwa Penulisan Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan Skripsi ini.
Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, sehingga pada kesempatan ini, terhadap segala kerendahan hati dan penuh rasa hormat penulis menyampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya bagi semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil baik langsung maupun tidak langsung dalam skripsi ini hingga selesai, terutama kepada yang saya hormati:
1. Ibu Prof. Amany Burhanuddin Lubis, Lc. selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Dr. Sururin, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Dr. Iwan Purwanto, M.Pd selaku Ketua Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Andri Noor Ardiansyah, M.Si selaku Sekretaris Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Dr. Sodikin, S.Pd., M.Si. selaku dosen penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan selama masa perkuliahan saya sejak semester satu hingga sekarang.
viii
6. Ibu Cut Dhien Nourwahida, M.A Dan Ibu Anissa Windarti, M.Sc. Sebagai dosen pembimbing skripsi yang tiada hentinya memberikan arahan dan saran sampai terselesaikannya skripsi ini dengan baik.
7. Bapak /Ibu dosen Tadris Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan para staff di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Yang paling terutama, selalu memberikan tenaga, moril, materiil tanpa pamrih, selama belajar di Universitas Yaitu kedua orang tua penulis. Bapak Marjianto dan Ibu Rahayu Salni yang telah berpulang mendahului kita dan telah tenang berada di surga. Dan sekaligus adik penulis yaitu Ahmad Ammar Al-Ghifari atas segala semangat, motivasi dan kasih sayangnya.
9. Teruntuk Tante saya Sri Utami dan Romi serta Om saya Muhammad Ridwan dan Heri Sukoco. Terimakasih banyak telah membantu saya selama masa perkuliahan baik dalam bentuk moril maupun dalam bentuk materiil.
10. Kepala Kelurahan Sarangan dan para staff Desa Sarangan selaku tempat penulis melakukan penelitian dan mendapatkan data.
11. Masyarakat Desa Sarangan khususnya Kepala Adat Larung Sesaji Desa Sarangan, Sesepuh Desa Sarangan, Ketua Karangtaruna Desa Sarangan, Pelaku Wisata Desa Sarangan dan seluruh Masyarakat Desa Sarangan yang telah membantu terlaksananya penelitian skripsi ini.
12. Terima kasih kepada PMII Rayon Pendidikan IPS dan PMII Komisariat Ilmu Tarbiyah dan Keguruan karena saya banyak belajar dan berproses di organisasi ini selama saya kuliah. Sekaligus menjadi keluarga baru saya.
13. Teruntuk sahabat dan dulurku dari Konsentrasi Sosiologi Pendidikan IPS 2016 yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu, namun tidak mengurangi rasa hormat dan rasa sayang saya kepada kalian semua.
Terimakasih banyak telah memberi banyak cerita dan pengalaman yang positif selama masa perkuliahan. Semoga persahabatan kita tidak berakhir sampai disini. Sukses untuk kalian semua.
14. Teruntuk Sahabat-sahabat Jurusan Tadris IPS Angkatan 2016 yang selalu membantu saya saat masa perkuliahan berlangsung.
ix
15. Serta seluruh pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat menjadi manfaat bagi kita semua. Aamiin aamiin aamiin yarobbal alamiin.
Ciputat, 19 Februari 2021
Ahmad Azhar M.
x DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN UJI REFERENSI ...iv
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB 1 ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Batasan Masalah ... 5
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II ... 8
A. Deskripsi Teoritik ... 8
1. Upacara Adat Larung Sesaji ... 11
2. Teori Persepsi ... 13
3. Pariwisata dan Wisata Budaya ... 18
B. Penelitian yang Relevan... 27
C. Kerangka Berpikir ... 31
BAB III ... 34
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34
B. Metode Penelitian ... 35
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 39
E. Teknik Analisis Data ... 50
BAB IV ... 56
A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 56
B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 61
xi
C. Deskripsi Hasil Penelitian ... 63
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 87
E. Keterbatasan Penelitian ... 102
BAB V ... 103
A. Kesimpulan ... 103
B. Implikasi ... 103
C. Saran ... 104
DAFTAR PUSTAKA ... 106
LAMPIRAN ... 111
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Peta Kelurahan Sarangan ………..56
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan ………..29
Tabel 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian ………33
Tabel 3.1 Waktu Penelitian ………...34
Tabel 3.2 Data Informan ………...38
Tabel 3.3 Pedoman Observasi ………...41
Tabel 3.4 Instrumen Wawancara ………...43
Tabel 3.5 Kisi – Kisi Instrumen Penelitian ………...52
Tabel 4.1 Data Pemeluk Agama di Desa Sarangan ………...57
Tabel 4.2 Data Mata Pencaharian Penduduk Desa Sarangan ………...58
Tabel 4.3 Data Jumlah Penduduk Desa Sarangan ……….60
Tabel 4.4 Data Potensi Wisata di Desa Sarangan ……….60
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Kebudayaan adalah kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat & semua kemampuan kebiasaan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.1 Namun seiring berjalannya waktu dan teknologi semakin canggih, rasa tanggung jawab sudah pudar terhadap budaya. Masyarakat tidak lagi peduli dengan budayanya. Hal ini disebabkan semakin gencarnya media elektronik dan internet. khususnya TV serta media internet yang selalu menayangkan kebudayaan luar. Hal ini dengan mudahnya merusak pola pikir masyarakat khususnya para generasi muda.
Upacara Adat Larung Sesaji di Kelurahan Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur merupakan salah satu produk kebudayaan dari masyarakat Indonesia yang belum punah hingga sekarang.
Upacara Adat Larung Sesaji di Desa Sarangan ini adalah Upacara dengan prosesi tumpeng setinggi kurang lebih dua meter yang dihiasi oleh hasil bumi masyarakat sekitar Desa Sarangan berupa nasi dan sayur – sayuran.
Upacara adat Larung Sesaji ini dilaksanakan setahun sekali pada Bulan Sya’ban Jum’at Pon. Dan Upacara Adat Larung Sesaji di Desa Sarangan ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada Upacara Adat Larung Sesaji di Desa Sarangan tersebut, seluruh elemen masyarakat Desa Sarangan diikutsertakan dalam prosesinya.
Perubahan sosial dirasakan oleh hampir semua manusia dalam masyarakat. Perubahan dalam masyarakat tersebut wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. Kita akan dapat melihat perubahan itu setelah membandingkan keadaan pada beberapa waktu lalu dengan keadaan sekarang. Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspek
1 Tilaar.“Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia”(Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002) hlm. 37
2
kehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.
Begitu halnya dengan Upacara Adat Larung Sesaji di Desa Sarangan. Tidak sedikit masyarakat Desa Sarangan dari tahun ke tahun mulai tidak peduli dengan Upacara Adat Larung Sesaji tersebut. Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat mulai meninggalkan budaya Upacara Adat Larung Sesaji ini antara lain adalah masyarakat melihat upacara adat larung sesaji ini hanyalah sebagai ritual tahunan saja.
Masyarakat Desa Sarangan banyak yang menganggap bahwa Upacara Larung Sesaji tersebut adalah Upacara khusus untuk sesepuh saja. Hal ini dibuktikan dari tahun ke tahun banyak Masyarakat Desa Sarangan yang mulai tidak mengikuti Prosesi Upacara Larung Sesaji khususnya generasi muda. Generasi muda mulai meninggalkan budaya Upacara Larung Sesaji di Desa mereka sendiri dan lebih memilih hanya menonton prosesi upacaranya saja tanpa ikut andil dalam prosesinya. karena peneliti melakukan observasi pra-penelitian jauh sebelum penelitian ini dilakukan dan juga peneliti adalah salah satu penduduk asli Desa Sarangan.
Faktor lain yang membuat masyarakat mulai meninggalkan budaya Upacara Larung Sesaji ini adalah masyarakat lebih berfokus untuk mencari penghasilan melalui Upacara Adat Larung Sesaji ini. Karena upacara ini dilaksanakan di Desa Sarangan. Sedangkan Desa Sarangan sendiri memiliki destinasi wisata berupa Telaga Sarangan. Sehingga banyak wisatawan yang berkunjung atau berlibur ke wisata Telaga Sarangan. Dengan adanya Upacara Adat Larung Sesaji di Desa Sarangan dan berlangsung di wisata Telaga Sarangan, membuat upacara tersebut dikenal oleh masyarakat luas diluar Desa Sarangan. Dan hal ini berpengaruh terhadap pendapat daerah setempat maupun pendapat masyarakat setempat. Sehingga dari tahun ke tahun, jumlah dari pelaku wisata di Telaga Sarangan semakin bertambah saat berlangsungnya Upacara Adat Larung Sesaji, entah dari masyarakat asli
3
Desa Sarangan maupun masyarakat luar yang mencari kesempatan mencari penghasilan saat momentum Upacara Adat Larung Sesaji.
Wisata Telaga Sarangan adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Magetan Jawa Timur. Wisata Telaga Sarangan menyuguhkan keindahan alam berupa telaga yang berada dibawah kaki Gunung Lawu. Hal yang khas dari wisata Telaga Sarangan adalah penyewaan kuda untuk keliling Telaga Sarangan dan juga jasa penyewaan Speedboat mengelilingi Telaga Sarangan. Terdapat juga beberapa penginapan dan villa disekitar Telaga Sarangan. Penjual dagangan souvenir oleh – oleh khas wisata Telaga Sarangan seperti makanan khas Kabupaten Magetan dan kaos bertuliskan Telaga Sarangan juga banyak dijual disana. Serta sayur – sayuran hasil pertanian masyarakat Desa Sarangan juga dijual disana. Selain berbagai potensi wisata yang dimiliki Telaga Sarangan, Upacara Adat Larung Sesaji merupakan sebuah keunikan yang dimiliki wisata Telaga Sarangan yang belum tentu dimiliki oleh tempat wisata lain di Kabupaten Magetan.
Walaupun wisata Telaga Sarangan memiliki banyak kelebihan dengan potensi wisata yang sangat khas dan memiliki budaya didalamnya tetap saja memiliki kelemahan. Kurangnya kesadaran pariwisata yang dimiliki masyarakat menjadi salah satu kelemahan yang sangat menonjol.
Karena kurang sadarnya masyarakat akan pariwisata tentu berdampak besar terhadap wisatawan yang mendapatkan perlakuan langsung ataupun tidak langsung dari masyarakat. Sehingga timbul keluhan dari para wisatawan yang tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari masyarakat.
Keluhan yang dilontarkan oleh wisatawan sesuai pengamatan dari peneliti antara lain pedagang kaki lima yang tidak tertib dalam berjualan dan banyak yang menghadap ke Telaga Sarangan sehingga pemandangan Telaga Sarangan terhalang oleh pedagang kaki lima serta kurang menjaga kebersihan lingkungan sekitar objek wisata sehingga lingkungan terlihat kumuh dan kotor, tarif parkir yang menjengkelkan dan tidak sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku, terlebih tempat parkir yang jaraknya lumayan jauh dari Telaga Sarangan serta fasilitas umum penunjang wisata
4
yang kurang memadai. Fasilitas umum yang kurang memadai dilihat dari belum tersedianya toilet umum yang memenuhi standar kelayakan untuk wisatawan serta masih sangat sedikit tersedianya ATM di wisata Telaga Sarangan.
Masyarakat merupakan salah satu unsur utama di dalam sistem pengembangan pariwisata, saat ini semakin dituntut peran sertanya.
Berbagai program akan berjalan baik apabila masyarakat memiliki keterlibatan secara langsung ataupun tidak dalam peningkatan dan pemeliharaan sarana prasarana. Upaya peningkatan peran serta kualitas keterlibatan masyarakat Desa Sarangan mencakup generasi muda Desa Sarangan, Tokoh Masyarakat Desa Sarangan serta pihak Kelurahan Sarangan dalam pembangunan pariwisata dapat melalui banyak hal.
Pembentukan organisasi Karangtaruna yang bersinergi dengan Masyarakat sekitar Desa Sarangan, pembentukan panitia Upacara Adat Larung Sesaji dengan melibatkan generasi muda Desa Sarangan, komunikasi yang baik antara Masyarakat Desa Sarangan dengan generasi muda Desa Sarangan, Tokoh Masyarakat Desa Sarangan serta pihak Kelurahan Sarangan dapat menjadi sarana pengembangan daya tarik pariwisata yang saat ini dikenal dengan pariwisata berbasis wisata budaya di Telaga Sarangan melalui Upacara Adat Larung Sesaji.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Persepsi Masyarakat Setempat Terhadap Upacara Adat Larung Sesaji Sebagai Daya Tarik Wisata Telaga Sarangan” agar mengetahui lebih detail mengenai persepsi Masyarakat Desa Sarangan mencakup generasi muda Desa Sarangan, Tokoh Masyarakat Desa Sarangan serta pihak Kelurahan Sarangan terhadap Upacara Adat Larung Sesaji sebagai daya tarik wisata di Telaga Sarangan.
5 B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut. Penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1. Masyarakat Indonesia mulai banyak yang tidak peduli terhadap budayanya sendiri. Termasuk masyarakat Desa Sarangan.
2. Masyarakat Desa Sarangan khususnya generasi muda mulai meninggalkan budaya Upacara Larung Sesaji.
3. Masyarakat Desa Sarangan lebih memilih mencari penghasilan di Telaga Sarangan saat prosesi Upacara Larung Sesaji dibanding mengikuti prosesi upacara itu sendiri.
4. Kurang kesadaran pariwisata yang dimiliki masyarakat Desa Sarangan khususnya untuk wisata Telaga Sarangan.
5. Kurang baiknya sinergitas yang terjalin antara Masyarakat Desa Sarangan, Karangtaruna Desa Sarangan, Tokoh Masyarakat Desa Sarangan dan pihak Kelurahan Sarangan dalam upaya pembangunan pariwisata berbasis wisata budaya di Telaga Sarangan melalui Upacara Adat Larung Sesaji.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah ditemukan. Maka penulis membatasi penelitian ini pada persepsi Masyarakat Desa Sarangan terhadap Upacara Adat Larung Sesaji sebagai daya tarik wisata di Telaga Sarangan D. Rumusan Masalah
Berpedoman pada latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dibahas sebelumnya. Penulis merumuskan masalah yaitu “bagaimana persepsi masyarakat Desa Sarangan terhadap upacara adat larung sesaji sebagai daya tarik wisata Telaga Sarangan”
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah yang telah dirumuskan. Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat setempat terhadap upacara adat larung sesaji sebagai daya tarik wisata
6
Telaga Sarangan sehingga Telaga Sarangan tetap menjadi menjadi wisata budaya yang di minati oleh kalangan wisatawan dan tetap menjadi salah satu ikon wisata budaya di derah setempat.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat di lakukannya penelitian ini dapat di uraikan sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat megetahui bahwa upacara larung sesaji ini dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk wisata Telaga Sarangan. Bukan hanya sebagai wisata alam saja yang dinikmati keindahan telaganya. Sehingga menjadi nilai tambahan untuk menunjang promosi wisata di daerah setempat serta menunjang pendapatan ekonomi masyarakat dan daerah setempat 2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak diantaranya :
a) Bagi Masyarakat Desa Sarangan dan pelaku wisata Telaga Sarangan
Memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas kepada masyarakat Desa Sarangan sendiri mengenai upacara larung sesaji di objek wisata telaga sarangan. Dan mengetahui sejarah serta hakikat dan makna yang terkandung dalam upacara adat larung sesaji tersebut. Serta dapat menumbuhkan kesadaran pelaku wisata dalam menjaga wisata Telaga Sarangan tetap menjadi wisata budaya yang diminati. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi wisata melalui upacara larung sesaji tanpa meninggalkan budaya yang ada.
b) Bagi peneliti
Sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana dan untuk menambah wawasan peneliti mengenai upacara adat larung
7
sesaji di objek wisata telaga sarangan dapat menjadi daya tarik tersendiri
c) Bagi pembaca
Memberikan informasi dan pengetahuan terkait sejarah dan prosesi upacara larung sesaji di objek wisata Telaga Sarangan. Serta dapat mengetahui bahwa ternyata wisata Telaga Sarangan terpdapat upacara larung sesaji yang dapat menjadikan daya tarik tersendiri untuk menarik wisatawan yang datang dibanding dengan objek wisata lain di daerah setempat
d) Bagi Dinas Perhubungan dan Pariwisata serta Pemerintah Setempat
Sebagai upaya untuk mengembangkan upacara adat larung larung sesaji sebagai asset budaya yang harus dilestarikan dan juga sebagai promosi wisata sehingga nantinya Telaga Sarangan di kenal oleh masyarakat luas bukan hanya karena telaganya, namun juga terdapat upacara adat yang bisa menjadi daya tarik wisatawan serta menjadi bahan evaluasi untuk pemerintah daerah setempat dalam mengelola wisata Telaga Sarangan sebagai ikon wisata budaya di daerah setempat.
8 BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teoritik
Upacara adat larung sesaji di objek wisata telaga sarangan merupakan salah satu dari berbagai macam budaya yang ada di Indonesia.
Budaya ini telah ada lama dan diwariskan secara turun temurun. Maka dari itu, penulis mengangkat teori sosiologi agama dari Emile Durkheim supaya penelitian bisa relevan dengan landasan teori yang diambil.
Teori Sosiologi Agama Klasik menurut Emile Durkheim
Durkheim menganut padangan bahwa kehidupan sosial membentuk budaya masyarakat (bahasa, hukum, adat istiadat, nilai, dan sebagainya terutama tatanan sosial tentang moralitas dan agama). Di sepanjang karya – karyanya, Durkheim mempertahankan suatu pandangan sosial radikal tentang perilaku manusia sebagai sesuatu yang dibentuk oleh kultur dan struktur sosial. Dalam The Devision of Labour in Society, umpamanya, ia mengemukakan bukti-bukti sejarah untuk menunjukkan bahwa individualisme, yang oleh para pemikir sosial konservatif dianggap bertanggung jawab atas runtuhnya tatanan sosial, sebenarnya merupakan produk sosial juga, yang hanya terdapat pada masyarakat-masyarakat yang kompleks dan berdasarkan pada pembagian kerja2. Dia mengutarakan bahwa perasaan – perasaan terpesona dan takzim yang merupakan respons manusia terhadap "yang sakral" sebenarnya merupakan ekspresi ketergantungan mutlak seseorang terhadap masyarakat.
Melalui pengamatannya terhadap fenomena keagamaan masyarakat Aborigin di Australia, Durkheim membuktikan bahwa agama memiliki fungsi menginteraksikan masyarakat dalam suatu tatanan moral. Anggota masyarakat masing-masing mempunyai peran dalam menyusun tatanan
2 Emile Durkheim, “The Devision of Labour in Society” (New York: The Free Press, 1995), hlm. 78, lihat Dr. Sindung Haryanto, M.Si “Sosiologi agama : dari klasik hingga postmodern” (Yogyakarta : Ar – Ruzz Media, 2015) hlm, 56
9
moral tersebut melalui aktivitas ritual suci sebagai tindakan kolektif yang mencerminkan solidaritas kelompok. Menurut Durkheim, masyarakat dibangun di atas entitas dan realitas moral. Ritual-ritual agama meningkatkan kesadaran dan loyalitas kelompok. Agama menentukan struktur sosial suatu masyarakat. Selain itu, agama mengendalikan perilaku menyimpang pada satu sisi dan pada sisi lain meningkatkan harmoni dan solidaritas sosial. Agama juga meningkatkan kepatuhan dan loyalitas dalam masyarakat. Durkheim percaya bahwa agama merupakan pemujaan masyarakat.3
Emile Durkheim menempatkan dirinya dalam tradisi pemikiran positivis. Hal itu berarti bahwa pemikiran dari studinya tentang masyarakat bersifat netral (tidak memihak) dan ilmiah. la sangat tertarik pada persoalan tentang faktor – faktor apa yang menyebabkan kemajuan masyarakat.
Agama menurutnya merupakan ekpresi kohesi sosial. Ia tertarik untuk memahami bentuk – bentuk dasar kehidupan agama bagi semua masyarakat.
Durkheim mendefinisikan agama dalam karyanya Elementary Forms, sebagai suatu sistem kesatuan kepercayaan dan praktik-praktik relatif suci (sakral) yang dapat dikatakan seperangkat pemisahan dan larangan kepercayaan – kepercayaan serta praktik yang menyatu ke dalam komunitas moral tunggal dinamai sebuah gereja4. Definisi itu merupakan definisi fungsional dari agama, memiliki arti yang menjelaskan peran agama dalam kehidupan sosial. Secara esensial agama menyatukan masyarakat.
Durkheim mendefinisikan agama sebagai sebuah oposisi biner, yakni antara sakral dan profan, akibatnya hal itu paralel dengan pembedaan antara Tuhan dan manusia.
Konsep sakral sendiri dalam pandangan Durkheim merupakan salah satu karakteristik agama. Berdasarkan hasil penelitiannya mengenai totemisme di kalangan suku Aborigin di Australia, Durkheim berkesimpulan bahwa agama merupakan refleksi perhatian masyarakat.
3 Dr. Sindung Haryanto, M.Si, Ibid., hlm, 58
4Dr. Sindung Haryanto, M.Si, Ibid., hlm. 59
10
Setiap suku mempunyai totemismė yang dapat berupa objek tertentu seperti tanaman atau binatang yang disakralkan oleh masyarakat sekaligus menjadi simbol identitas5. Totemisme ini merupakan bentuk paling asli (primitif) dari agama. Dengan demikian, agama dalam pandangan Durkheim, bergerak secara evolusioner. Analisis terhadap bentuk agama sederhana dapat menghasilkan kerangka (building block) teori agama yang lebih kompleks.
Agama bagi Durkheim bukan merupakan "imaginasi", melainkan oleh beberapa penganut kepercayaan dilihat sebagai sesuatu yang esensial.
Agama sangat riil (nyata). Agama merupakan ekspresi masyarakat itu sendiri, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki agama. Orang merasa sebagai individu, ada suatu kekuatan yang lebih besar dari dirinya, yakni kchidupan sosial dan ia sendiri mempunyai persepsi yang bersifat supernatural. Manusia kemudian mengekspresikan dirinya secara religius dalam kelompok dan membangun kekuatan simbolis lebih besar. Agama adalah sebuah ekspresi kesadaran kolektif, yang menggabungkan seluruh kesadaran individu yang kemudian menciptakan realitas dari apa yang dimilikinya6.
Pendekatan Durkheim menghasilkan aliran fungsionalis dalam sosiologi dan antropologi. Fungsionalisme merupakan paradigma sosiologis yang secara asli berusaha menjelaskan institusi sosial sebagai alat kolektif untuk memenuhi kebutuhan biologis individu, fokus pada cara institusi sosial memenuhi kebutuhan sosial, khususnya stabilitas sosial. Jadi, Durkheim melihat agama dipahami sebagai perekat yang mengikat masyarakat.7
5 Emile Durkheim, “The Elementary Forms of Religious Life” (New York: The Free Press, 1995), hlm. 127, lihat louis Leahy, “Aliran-Aliran Besar Atheisme Tinjauan Kritis”
(Yogyakarta: Kanisius, 1985), hlm 38.
6Dr. Sindung Haryanto, M.Si, Ibid., hlm. 60
7Dr. Sindung Haryanto, M.Si, Ibid., hlm. 62
11 1. Upacara Adat Larung Sesaji
a) Pengetian Tradisi atau Adat Istiadat
Adat dapat dipahami sebagai tradisi lokal (lokal custom) yang mengatur interaksi masyarakat. Adat adalah
“Kebiasaan” atau “Tradisi” masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun temurun. Kata “Adat” disini lazim dipakai tanpa membedakan mana yang mempunyai sanksi seperti “Hukum Adat” dan mana yang tidak mempunyai sanksi seperti disebut adat saja8. Tradisi atau adat tersebut dapat berupa nilai, norma sosial, pola kelakuan dan adat kebiasaan lain yang merupakan wujud dari berbagai aspek kehidupan.
Tradisi (Turats) adalah segala warisan masa lampau yang masuk pada kita dan masuk kedalam kebudayaan yang sekarang berlaku. Dengan demikian, Turats tidak hanya merupakan persoalan peninggalan sejarah, tetapi sekaligus merupakan persoalan kontribusi zaman kini dalam berbagai tingkatannya9.
Secara terminology perkataan tradisi mengandung suatu pengertian tersembunyi tentang adanya kaitan antara masa lalu dan masa kini. Ia menunjuk kepada sesuatu yang diwariskan oleh masa lalu tetapi masih berwujud dan berfungsi pada masa sekarang. Tradisi memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal – hal yang bersifat ghaib atau keagamaan.
Di dalam tradisi diatur bagaimana manusia berhubungan dengan manusia lain atau satu kelompok
8 Ensiklopedi Islam, jilid 1. (Cet.3, Jakarta : PT Ictiar Baru Van Hoven, 1999) hlm, 21
9 Moh. Nur Hakim. “Islam Tradisional dan Reformasi Pragmatisme” Agama dalam Pemikiran Hasan Hanafi (Malang : Bayu Media Publishing, 2003) hlm, 29
12
dengan kelompok manusia lain, bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungannya, dan bagaimana perilaku manusia terhadap alam yang lain. Ia berkembang menjadi suatu system yang memiliki pola dan norma yang sekaligus juga mengatur penggunaan saksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan penyimpangan.
Sebagai sistem budaya, tradisi akan menyediakan seperangkat model untuk bertingkah laku yang bersumber dari sistem nilai dan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan utama ini akan terwujud dalam sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem teknologi, sistem ideologi merupakan etika, norma, dan adat istiadat. Ia berfungsi memberikan pengarahan atau landasan terhadap sistem sosial, yang meliputi hubungan dan kegiatan sosialnya masyarakat.
Tidak hanya itu saja sebagai sistem budaya, tradisi juga merupakan suatu sistem yang menyeluruh, yang terdiri dari cara aspek yang pemberian arti laku ujaran, laku ritual, dan berbagai jenis laku lainnya dari manusia atau sejumlah manusia yang melakukan tindakan satu dengan yang lain.
Unsur terkecil dari sistem tersebut adalah simbol. Simbol meliputi simbol konstitutif (yang berbentuk kepercayaan), simbol kognitif ( yang berbentuk ilmu pengetahuan), simbol penilaian normal, dan sistem ekspresif atau simbol yang menyangkut pengungkapan perasaan.10
b) Pengertian Larung Sesaji
larung memiliki makna hanyut, melarungkan berarti menghanyutkan.11 Sesaji sebagai bentuk
10 Mursal Esten. “Kajian Transformasi Budaya”. (Bandung : Angkasa, 1999) hlm, 22
11 Larung (Def.2) (n.d). dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online. Diakses melalui https://kbbi.web.id/larung Diakses pada 20 Agustus 2020 pukul 16:30
13
aktualisasipikiran, keinginan yang kuat serta perasaan masyaraat untuk lebih dekat dengan Tuhannya. Sesaji adalah sebuah simbol penawaran untuk pembicaraan dalam yang berunsur magis-spiritual.12
Upacara Larung Sesaji dapat ditemukan di berbagai daerah khususnya di pulau Jawa terutama yang berdekatan dengan pantai atau sebuah danau atau telaga. Inti dari Upacara Larung Sesaji ini adalah untuk melarungkan atau menghanyutkan sesaji yang terbuat dari berbagai hasil bumi masyarakat sekitar. Pada umumnya, sesaji yang dilarungkan ke telaga berupa tumpeng yang berukuran tinggi kurang lebih 2 meter dan biasanya terdiri dari 2 tumpeng agung dimana tumpeng pertama terbuat dari beras putih dan tumpeng kedua terbuat dari sayur – sayuran hasil bumi masyarakat sekitar.
Waktu pelaksanaan Upacara Larung Sesaji ini setiap daerah berbeda beda. Tergantung kepercyaan dan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat sekitar. Di telaga sarangan, Upacara Larung Sesaji di laksanakan pada bulan sya’ban atau dalam bulan jawa disebut bulan ruwah. Tepatnya pada hari jumat pon.
2. Teori Persepsi
Dengan adanya Upacara Larung Sesaji di Telaga Sarangan membuat seluruh Masyarakat dan pelaku wisata di objek wisata Tealaga Sarangan ikut serta dalam prosesinya.
a) Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan – kesan
12 Anam Miftakhul Huda, dkk. “Functions and Values of Ritual “Larung Sesaji Kelud”
in the local Community of Mount Kelud” Mediator: Jurnal Komunikasi,terbitan ke-2, 18 Desember 2017, hlm. 156
14
indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Persepsi itu penting dalam studi perilaku organisasi karena perilaku orang yang didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa itu realitas dan bukan mengenai realitas itu sendiri.13
Individu itu memprediksikan suatu benda yang sama berbeda – beda, hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama, faktor yang ada pada pelaku persepsi. Yang termasuk faktor pertama adalah sikap, keutuhan atau motif, kepentingan atau minat pengalaman dan pengharapan individu. Kedua, faktor yang ada pada objek atau target yang dipersepsikan yang meliputi hal – hal baru, gerakan bunyi, ukuran latar belakang, dan kedekatan. Ketiga, factor konteks situasi dimana persepsi ini dilakukan yang meliputi waktu, keadaan atau tempat kerja, dan keadaan sosial.14
Menurut Stanton sebagaimana yang dikutip dalam buku prilaku konsumen yang di tulis oleh Nugroho:“
Persepsi dapat di definisikan sebagai makna yang kita pertalikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan stimulus (rangsangan-rangsangan) yang kita terima melalui panca indra (pengelihatan,pendengaran,perasa,dll).15
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan, penerimaan langsung dari suatu serapan, atau merupakan proses seseoarang mengetahui beberapa hal melalui panca indranya.16
13 Vertizal Rivai. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002) hlm, 231
14 Ibid hlm, 232
15 Nugroho J Setiadi, “Prilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran”, (Jakarta : Prenada Media Group. 2013). Hlm, 91
16 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 304
15
Philip kottler memberikan definisi persepsi sebagai proses seorang individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang memiliki arti.17Persepsi disini tidak hanya tergantung pada hal fisik, tetapi juga berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu tersebut. Sedangkan dalam proses memperoleh atau menerima informasi tersebut adalah juga berasal dari objek lingkungan.18Suatu rangsangan dipandang sebagai kejadian- kejadian yang ada di dalam lingkungan eksternal individu yang ditangkap dengan menggunakan alat sel syaraf yang selanjutnya akan terjadi proses pengolahan sensasi. Ketika sejumlah sensasi masuk ke dalam struktur yang lebih dalam dari sistem susunan syaraf, maka sensasi inilah yang disebut sebagai persepsi.19
Faktor – faktor yang mempengaruhi Persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi bisa terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang di artikan atau dalam konteks situasi dimana persepsi tersebut dibuat.20
Berikut faktor – faktor yang mempengaruhi persepsi, antara lain adalah :
a) Personal Effect
Dalam hal ini disebutkan bahwa karakteristik dari individu akan dihubungkan dengan perbedaan persepsi
17 Philip kottler, “Manajemen pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengandalian”, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta ,1997 , hlm. 164
18 Joyce Marcella Laurence, Arsitektur dan Prilaku Manusia, PT. Grasindo, Jakarta, 2004, hlm. 56
19 Oman sukmana, “Dasar – dasar psikologi lingkungan” UMM Pres, Malang 2003, hlm.
52.
20 Stephen P. Robbins, “Prilaku Organisasi”, buku 1, Salemba Empat, Jakarta, 2007, hlm .
174
16
terhadap lingkungan. Hal tersebut, sudah jelas akan melibatkan beberapa faktor antara lain kemampuan perseptual dan pengalaman atau pengenalan terhadap kondisi lingkungan. Kemampuan perseptual masingmasing individu akan berbeda-beda dan melibatkan banyak hal yang berpengaruh sebagai latar belakang persepsi yang keluar.
Proses pengalaman atau pengenalan individu terhadap kondisi lingkungan lain yang dihadapi, pada umumnya mempunyai orientasi pada kondisi lingkungan lain yang telah dikenal sebelumnya dan secara otomatis akan menghasilkan proses perbandingan yang menjadi dasar persepsi yang dihasilkan. Pembahasan terhadap hal-hal yang berpengaruh sebagai latar belakang terbentuknya persepsi dan mencakup pembahasan yang sangat luas dan kompleks.
b) Cultural Effect
Giffrod memandang bahwa konteks kebudayaan yang dimaksud berhubungan dengan tempat asal atau tempat tinggal seseorang. Budaya yang dibawa dari tempat asal dan tinggal seseorang akan membentuk cara yang berbeda bagi setiap orang tersebut dalam “melihat dunia”. Selain itu, Gifford menyebutkan bahwa faktor pendidikan juga dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungan dalam konteks kebudayaan.
c) Physical Effect
Kondisi alamiah dari suatu lingkungan akan mempengaruhi persepsi seseorang yang mengamati, mengenal dan berada dalam lingkungan tersebut.
Lingkungan dengan atribut dan elemen pembentuknya yang menghasilkan karakter atau tipikal tertentu akan menciptakan identitas bagi lingkungan tersebut. Misalnya
17
ruang kelas secara otomatis akan dikenal bila dalam ruang tersebut terdapat meja yang diatur berderet, dan terdapat podium atau mimbar dan papan tulis di bagian depannya.21 Untuk itu dapat disimpulkan bahwa persepsi selain terjadi akibat rangsangan dari lingkungan eksternal yang di tangkap oleh suatu individu juga di pengaruhi oleh kemampuan individu tersebut dalam menangkap dan menterjemahkan rangsangan tersebut menjadi sebuah informasi yang tersimpan menjadi sensasi dan memori atau pengalaman masa lalu. Oleh karna itu, persepsi yang terbentuk dari masing masing individu dapat berbeda beda.
Selanjutnya menurut laurens, dikemukakan bahwa persepsi sangat diperlukan oleh perencana dalam menentukan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat baik secara personal maupun sebagai kelompok penguna. Sebagian besar arsitektur dibentuk oleh persepsi manusia.22Oleh karna itu, dalam menciptakan karya-karya arsitektur faktor persepsi sebagai salah satu bentuk respon yang keluar secara personal setelah menangkap, merasakan dan mengalami karya-karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang cukup penting.
Respon tersebut mencerminkan sesuatu yang diinginkan oleh individu pengguna dan penikmat hasil karya yang ada. Respon yang keluar berdasarkan pengalaman ruangnya, pengetahuan akan bentuk dan simbolisasi yang di dapat dari pendidikanya.23
Proses Terbentuknya Persepsi
Proses persepsi dimulai dari proses menerima rangsangan, menyeleksi, mengorganisasi, menafsirkan, mengecek dan reaksi
21 Elisa Ariyanti, tesis, “Pengembangan pemanfaatan polder kota lama semarang sebagai ruang public yang rekreatif berdasarkan persepsi masyarakat dan pemerintah”, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas diponogoro, 2005
22 Laurens, Op.Cit, hlm. 55
23 Ibid., hlm. 56
18
terhadap rangsangan. Rangsangan dari proses persepsi dimulai dari penangkapan indera terhadap objek persepsi. Ada dua jenis proses persepsi, yaitu24 :
a) Proses Fisik
Proses persepsi dimulai dari pengindraan yang menimbulkan stimulus dari reseptor yang dilanjutkan dengan pengolahan data pada syaraf sensorik otak atau dalam pusat kesadaran. Proses ini disebut juga dengan proses fisiologis.
b) Proses Psikologis
Proses pengolahan data pada syaraf sensorik otak akan menyebabkan reseptor menyadari apa yang dilihat, didengar, atau apa yang diraba.
Terbentuknya persepsi individu maupun suatu komunitas juga sangat tergantung pada stimulus yang jadi perhatian untuk di persepsikan. Di samping itu, kelengkapan data dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sangat menentukan kualitas persepsi dari reseptor. Pada akhirnya, persepsi Masyarakat Desa Sarangan terhadap upacara larung sesaji sebagai daya tarik wisata Telaga Sarangan ditentukan oleh tingkat pemahaman dan faktor internal maupun eksternalnya yang diolah secara berbeda oleh masing - masing individu sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya.
3. Pariwisata dan Wisata Budaya a) Pengertian Pariwisata
Pengertian pariwisata menurut Undang – Undang Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha – usaha
24 Bimo Walgio,Op.Cit, hlm. 102
19
yang terkait di bidang tersebut.25 Pariwisata adalah serangkaian kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh perorangan atau keluarga dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan bukan untuk bekerja di tempat tujuan.
Kunjungan yang dimaksud bersifat sementara dan pada waktunya akan kembali ke tempat tinggal semula.26
Uraian tersebut memiliki pengertian bahwa tidak semua orang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain termasuk kegiatan wisata. Perjalanan rutin seseorang ke tempat bekerja walaupun mungkin cukup jauh dari segi jarak tentu bukan termasuk kategori wisatawan.
Dengan kata lain, kegiatan pariwisata adalah kegiatan bersenang senang yang mengeluarkan uang atau melakukan tindakan konsumtif27
Pariwisata merupakan konsep yang sangat muiltidimensional. Tak bisa dihindari bahwa beberapa pengertian pariwisata dipakai oleh para ahli atau praktisi dengan tujuan perseptif yang berbeda sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Definisi pariwisata memang tidak dapat sama persis diantara para ahli. Berikut beberapa contoh pengertian pariwisata :
1) Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.28
25 Direktorat Jendral Pariwisata, Pengantar Pariwisata Indonesia, dalam Muljalid (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009, hlm. 7
26 Muljadi A.J., Kepariwisataan dan Perjalanan, (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 10
27 Ibid., hlm. 11
28 UU No.10 Tahun 2009 tentang kepariwasataan
20
2) Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari satu tempat ketempat yang lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi tetapi semata – mata untuk menikmati perjalanan hidup guna bertamsya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka ragam29
b) Daya Tarik Wisata
Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan wisata sangat tergantung kepada tiga faktor utama yaitu Atraksi, Aksebilitas, dan Amenitas.30
1) Atraksi, dapat di bedakan menjadi :
Pertama, Tempat : umpanya tempat dengan iklim yang baik, pemandangan yang indah atau tempat-tempat bersejarah. Kedua, Kejadian/Peristiwa : kongres, pameran atau peristiwa-peristiwa olah raga, festival dan sebagainya.
2) Aksebilitas (Mudah dicapai)
Tempat tersebut dekat jaraknya, atau tersedianya transportasi ketempat itu secara teratur, sering, mudah, nyaman, dan aman.
3) Amenitas
Tersedianya fasilitas-fasilitas seperti tempat penginapan, restoran, hiburan, transportasi lokal yang
29 Drs. H. Oka. A. Yoeti, MBA, “Pengantar Ilmu Pariwisata”, (Bandung : Angkasa, 1996) hlm, 108
30Muljadi A.J., Ibid, hlm. 57
21
memungkinkan wisatawan bepergian ketempat itu serta alat-alat komunikasi lainnya.
c) Dampak Aspek Wisata
Pariwisata merupakan suatu gejala sosial yang sangat kompleks, yang menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai macam aspek yang penting, aspek tersebut diantaranya yaitu aspek sosiologis, aspek psikologis,aspek ekonomis, aspek ekologis dan aspek-aspek yang lainnya. Diantara sekian banyak aspek tersebut, aspek yang mendapat perhatian yang paling besar dan hampir merupakan satu-satunya aspek yang dianggap sangat penting adalah aspek ekonomisnya.31
Pengembangan di dalam sektor pariwisata akan berhasil dengan baik, jika masyarakat setempat khusunya pelaku wisata dapat ikut serta secara aktif. Agar masyarakat setempat dan pelaku wisata dapat lebih dapat berdampak serta dalam pembangunan kepariwisataan, maka masyarakat perlu diberi pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pariwisata serta manfaat dan keuntungan-keuntungan apa yang akan diperoleh. Disamping itu, masyarakat juga harus mengetahui hal - hal yang dapat merugikan yang diakibatkan oleh adanya pariwisata tersebut.
Pembangunan disektor kepariwisataan perlu ditingkatkan dengan cara mengembangkan dan mendayagunakan sumber-sumber serta potensi kepariwisataan nasional maupun daerah agar dapat menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan dalam rangka memperbesar penerimaan devisa atau pendapatan asli
31 Drs. H. Oka A. Yoeti, MBA, Pemasaran Pariwisata, (Bandung: Angkasa, 1985) hlm, 56
22
daerah, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja terutama bagi masyarakat setempat.32
Dampak pariwisata saat ini antara lain adalah:
pertama, dampak ekonomi yaitu, sebagai sumber devisa negara; kedua, dampak sosial yaitu, sebagai penciptaan lapangan pekerjaan; dan yang terakhir adalah dampak kebudayaan yaitu, memperkenalkan kebudayaan dan kesenian.33 Karena penulis fokus pada kebudayaan dalam sektor pariwisata, maka berikut dampak pariwisata yang berupa dampak kebudayaan :
1) Mendorong pelestarian budaya dan peninggalan sejarah.
Indonesia memiliki beraneka ragam adat istiadat, kesenian, peninggalan sejarah yang selain menjadi daya tarik wisata juga menjadi modal utama untuk mengembangkan pariwisata. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata akan mengupayakan agar modal utama tersebut tetap terpelihara, dilestarikan dan dikembangkan.
2) Mendorong terpeliharanya lingkungan hidup.
Kekayaan dan keindahan alam seperti flora dan fauna, taman laut, lembah hijau pantai dan sebagainya, merupakan daya tarik wisata. Daya tarik ini harus terus dipelihara dan dilestarikan karena hal ini merupakan modal bangsa untuk mengembangkan pariwisata.
3) Wisatawan selalu menikmati segala sesuatu yang khas dan asli.
Hal ini merangsang masyarakat untuk memelihara apa yang khas dan asli untuk diperlihatkan kepada wisatawan. Dengan menjaga wisata tetap asri dan
32 H. Achmad Dimyanti, Usaha Pariwisata, (Jakarta, 2003), hal, 87
33 Muljadi A.J. Ibid, hlm. 111
23
natural perlu andil masyarakat setempat dan juga pelaku wisata dalam menjaga dan melestarikan lingkungan wisata tersebut supaya tetap menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang akan berkunjung ke tempat wisata tersebut.
d) Wisata Budaya
Wisata Budaya merupakan perjalanan wisata atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan seseorang dengan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau keluar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka.34
Wisata budaya adalah gerakan atau kegiatan wisata yang dirangsang oleh adanya objek-objek wisata yang berwujud hasil-hasil seni budaya setempat : adat istiadat, upacara agama, tata hidup masyarakat, peninggalan sejarah, hasil seni, kerajinan-kerajinan rakyat dan sebagainya.35
Berdasarkan pengertian diatas, wisata budaya adalah salah satu jenis wisata yang menjadi alas an wisatawan berkunjung ke satu tempat. Secara umum, wisata budaya merupakan perjalanan yang bertujuan untuk memuaskan rasa ingin tahu mengenai adat istiadat, keunikan daerah, budaya, dan sejarah suatu tempat. Telaga sarangan juga merupakan wisata budaya karena beberapa alasan mendasar, antara lain telaga sarangan memiliki mitos dan legenda yang masih dipercaya masyarakat luas sehingga telaga sarangan bersifat alami tanpa ada campur tangan orang dalam pembuatannya. Selain itu, telaga sarangan setiap tahun masih mengadakan upacara adat larung sesaji sehingga
34 Nyoman.S. Pendit. “Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana”. (Jakarta : Pradya Paramita, 1999) hlm. 42
35 R.S.Darmadjati. “Istilah – istilah Dunia Pariwisata”. (Jakarta : Pradya Paramita, 1989) hlm. 19
24
menarik minat wisatawan untuk berkunjung ketempat tersebut.
e) Asal – Usul Sejarah Telaga Sarangan
Pada zaman dahulu kala, di lereng Gunung Lawu bagian timur, hiduplah sepasang suami istri bernama Kiai Pasir dan Nyai Pasir.36 Mereka hanya tinggal berdua karena selama bertahun-tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak pun. Tempat tinggal mereka juga sangat terpencil, sangat jauh dari permukiman warga. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka menanam umbi- umbian di sekitar pondok. Sayuran dan buah-buahan didapat dengan mudah di hutan sekitar.
Pada suatu hari, Kiai Pasir pergi ke hutan untuk menebang pohon. Tiba di tengah hutan, Kiai Pasir mencari- cari pohon yang cukup besar dan berbatang lurus supaya kuat dijadikan tiang. Karena semak belukar di sekitar pohon itu sangat lebat, Kiai Pasir ptm terlebih dahulu membersihkannya agar ia mudah mengayunkan kapaknya ke pangkal pohon. Saat ia sedang menyibak dan membersihkan semak itu, dilihatnya ada sebutir telur berukuran cukup besar tergeletak di atas tumpukan dedaunan seperti sarang. Kiai Pasir teringat istrinya yang tentu akan sangat senang mendapat telur untuk santapan. Tanpa berpikir lagi, diambilnya telur itu kemudian dimasukan ke dalam wadah bambu yang sudah kosong.
Nyai Pasir sudah menanti dengan cemas di depan pondok karena hari mulai gelap. Alangkah senangnya ketika
36 Cerita Rakyat Jawa Timur, Terbitan Balai Bahasa Surabaya Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2011. Diakses melalui
https://andrikyawarman.wordpress.com/2017/10/29/asal-usul-telaga-sarangan-magetan/ Diakses pada 26 Februari 2020 pada pukul 10.51
25
dilihat Kiai Pasir pulang dengan selamat, apalagi saat suaminya menyerahkan wadah bambu.
Keesokan harinya Kiai Pasir bangun lebih pagi karena akan melanjutkan menebang pohon. Saat Kiai Pasir menyiapkan peralatan di samping pondok, Nyai Pasir menghidangkan minuman, ubi rebus, sayur, dan telur rebus.
Kiai Pasir masuk ke dalam pondok dengan wajah gembira karena membayangkan lezatnya telur rebus. Sudah lama mereka tidak menyantap hidangan berprotein itu. Nyai Pasir membelah telur itu menjadi dua; yang satu diberikan kepada Kiai Pasir dan satunya disantap sendiri.
Selesai bersantap, Kiai Pasir berangkat ke hutan dengan membawa peralatan seperti biasanya. Dalam perjalanan itu, Kiai Pasir merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa sehat dan segar ketika meninggalkan pondok, tetapi kini badannya terasa panas dan sakit yang tidak terkirakan. Tak kuasa melanjutkan perjalanan, ia pun berhenti dan meletakkan seluruh peralatan yang dibawanya.
Sekujur tubuhnya seperti ditarik-tarik, kulitnya bergerak- gerak membentuk tonjolan-tonjolan yang makin lama makin besar dan terasa sangat gatal. Semakin lama rasa gatal itu semakin tidak tertahankan. Ia pun cepat berguling-guling ke tanah dengan harapan rasa gatalnya akan hilang. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasa gatal semakin menjadi dan tubuhnya serasa kian membengkak dan memanjang.
Tidak lama kemudian tubuhnya sudah berubah menjadi ular naga yang sangat besar. Ular jelmaan Kiai Pasir itu terus berguling-guling di tanah menuju arah pondoknya untuk melihat keadaan Nyai Pasir. Tempat sepanjang ular naga berguling menjadi cekung dan makin lama makin luas.
26
Tanpa diketahui Kiai Pasir, di pondoknya, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama. Setelah suarninya pergi, Nyai Pasir merasakan tubuhnya sangat panas, sakit, dan gatal-gatal. Karena tidak tahan menahan sakit dan gatal, Nyai Pasir juga rebah dan berguling-guling di tanah.
Tubuhnya kian memanjang dan membesar hingga bernbah menjadi ular naga yang sangat besar. Ular naga jelmaan Nyai Pasir itu berguling-guling terus ke luar halaman pondok ke arah perginya Kiai Pasir. Tempat bergulingnya ular naga Nyai Pasir itu juga membentuk cekungan yang kian luas dan dalam.
Nyi Pasir teringat telur yang dibawa pulang suaminya. Dugaannya bahwa telur itu adalah telur ular mungkin benar. Ia merasa menyesal telah memakan telur itu.
Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula.
Naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir akhimya bertemu. Mereka berada di tengah-tengah cekungan yang luas bekas mereka berguling. Tak kuasa mereka menahan air mata karena menyesal telah memakan telur yang bukan miliknya. Rasa gatal pun tak kunjung hilang hingga mereka terus berguling-guling menyebabkan cekungan di tengah kian lama kian dalam. Tiba-tiba cekungan terdalam itu menyemburkan air yang sangat deras hingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, cekungan besar dan luas itu penuh terisi air dan menjadi telaga yang sangat besar. Ular naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir hilang bersamaan dengan berubahnya cekungan itu menjadi telaga.
Penduduk sekitar yang mengetahui peristiwa terbentuknya telaga itu menamainya Telaga Pasir, diambil dari nama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Lambat taut masyarakat
27
menyebutnya dengan Telaga Sarangan karena telaga itu berada di Desa Sarangan.
B. Penelitian yang Relevan
Penulis telah menelaah beberapa hasil kajian penelitian sebelumnya yang meneliti terhadap masalah yang didapatkan yaitu mengenai Persepsi masyarakat setempat dan tokoh masyarakat terhadap upacara adat larung sesaji di objek wisata telaga sarangan. Diantara lain sebagai berikut :
1) Jurnal Penelitian dari Rahayu Setyo Rini tahun 2012 yang berjudul “Labuhan Sarangan Kajian Etnografi Upacara Labuhan Sarangan di Telaga Sarangan Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif karena menjelaskan secara rinci kajian etnografi dalam upacaranya.
Hasil dari penelitian ini adalah diketahui bahwa upacara ini dilakukan sebagai media memohon keselamatan dan media mengucap syukur. Selain itu, tradisi ini juga berkaitan erat dengan pelestarian lingkungan dan pemenuhan kebutuhan religi masyarakat setempat. Persamaan dengan skripsi penulis adalah sama – sama meneliti mengenai upacara adat di Telaga Sarangan namun perbedaannya adalah kajian yang diangkat.37
2) Jurnal penelitian dari Didin Syarifuddin dan Lisna Nurlatipah tahun 2015 yang berjudul “Daya tarik wisata upacara tradisional hajat laut sebagai nilai budaya masyarakat batu karas”. tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan prosesi upacara hajat laut dan memaknai nilai budaya, serta untuk memberikan gambaran tentang daya tarik wisata. Metode penelitian yang digunakan adalah
37 Rahayu Setyo Rini. Labuhan Sarangan Kajian Etnografi Upacara Labuhan Sarangan di Telaga Sarangan Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan (Surabaya : Antropologi FISIP Universitas Airlangga, 2012)
28
metode kualitatif. Metode ini menunjukkan bahwa informasi yang diperoleh atas dasar perspektif informan, yang diposisikan sebagai subjek penelitian. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dan kelompok.
Analisis data dilakukan dengan reduksi dan penyajian data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi upacara hajat laut dilaksanakan satu tahun sekali oleh masyarakat Batukaras. Upacara ini memiliki nilai religi, nilai gotong royong, penghormatan, keindahan, kesenian, kebersamaan, cinta tanah air, dan nilai ekonomi. Daya tarik wisata pada upacara ini adalah aspek tradisi, kerajinan, nilai sejarah, makna lokal dan tradisional, seni dan musik, bernilai agama, bahasa dan pakaian tradisional.38
3) Skripsi dari Siti Mualifah tahun 2009 yang berjudul “Aspek edukatif tradisi larung tumpeng di telaga sarangan (Studi Kasus di Desa Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur)”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah Mengetahui sejarah dan latar belakangnya, bagaimana tata cara atau proses pelaksanaanya, apa saja peralatan yang dibutuhkan dan upaya‐upaya apa yang dilakukan masyarakat guna melestarikan tradisi tersebut, serta mengetahui dampak dari pelaksanaan tradisi Larung Tumpeng, utamanya aspek Edukatifnya. Persamaan dari skripsi ini dengan penelitian penulis adalah Sama – sama meneliti mengenai upacara larung sesaji di Telaga Sarangan sedangkan perbedaannya adalah Menitikberatkan pada
38 Didin Syarifuddin dan Lisna Nurlatipah..”Daya tarik wisata upacara tradisional hajat laut sebagai nilai budaya masyarakat batu karas” (Bandung : Jurnal Manajemen Resort &
Leisure Vol. 12, No. 1, April 2015)
29
aspek edukatifnya terhadap upacara larung sesaji.
Sedangkan penulis pada aspek sosial.39
4) Jurnal Penelitian dari Lina Yuliamalia tahun 2019 yang berjudul “Tradisi Larung Saji Sebagai Upaya Menjaga Ekosistem Di Wisata Telaga Ngebel Ponorogo (Studi Literatur)”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Studi Literatur. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui dan memahami bahwa tradisi ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar terutama alam serta sebagai upaya menjaga ekosistem. Persamaannya adalah Sama – sama meneliti mengenai upacara larung sesaji. Sedangkan perbedaannya adalah Mengkaji aspek yang berbeda dan upacara larung sesaji nya berlokasi di tempat yang berbeda.
Penelitian ini meneliti di Telaga Ngebel Ponorogo sedangkan Penulis meneliti di Telaga Sarangan Magetan.40 Jika disimpulkan dapat dilihat seperti yang terdapat pada tabel 2.1
Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan
No Nama Peneliti Judul Penelitian Persamaan Perbedaan 1 Rahayu Setyo
Rini
Labuhan Sarangan (Kajian Etnografi Upacara Labuhan
Sarangan Di Telaga Sarangan,
Kelurahan Sarangan,
Sama – sama meneliti mengenai
labuhan sarangan atau larung sesaji di telaga Sarangan.
Lokasi sama di telaga Sarangan.
Peneliti ini menitikberatkan
pada kajian etnografi-nya sedangkan penulis lebih memfokuskan
pada prespepsi
39 Siti Mualifah. Aspek edukatif tradisi larung tumpeng di telaga sarangan (Studi Kasus di Desa Sarangan Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan Jawa Timur (Surakarta : Skripsi Program Studi Pendidikan Kwarganegaraan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2009)
40 Lina Yuliamalia. Tradisi Larung Saji Sebagai Upaya Menjaga Ekosistem Di Wisata Telaga Ngebel Ponorogo (Studi Literatur). (Surakarta : Program Studi Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, 2019)