• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Manfaat Penelitian

2. Teori Persepsi

Dengan adanya Upacara Larung Sesaji di Telaga Sarangan membuat seluruh Masyarakat dan pelaku wisata di objek wisata Tealaga Sarangan ikut serta dalam prosesinya.

a) Pengertian Persepsi

Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan – kesan

12 Anam Miftakhul Huda, dkk. “Functions and Values of Ritual “Larung Sesaji Kelud”

in the local Community of Mount Kelud” Mediator: Jurnal Komunikasi,terbitan ke-2, 18 Desember 2017, hlm. 156

14

indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Persepsi itu penting dalam studi perilaku organisasi karena perilaku orang yang didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa itu realitas dan bukan mengenai realitas itu sendiri.13

Individu itu memprediksikan suatu benda yang sama berbeda – beda, hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Pertama, faktor yang ada pada pelaku persepsi. Yang termasuk faktor pertama adalah sikap, keutuhan atau motif, kepentingan atau minat pengalaman dan pengharapan individu. Kedua, faktor yang ada pada objek atau target yang dipersepsikan yang meliputi hal – hal baru, gerakan bunyi, ukuran latar belakang, dan kedekatan. Ketiga, factor konteks situasi dimana persepsi ini dilakukan yang meliputi waktu, keadaan atau tempat kerja, dan keadaan sosial.14

Menurut Stanton sebagaimana yang dikutip dalam buku prilaku konsumen yang di tulis oleh Nugroho:“

Persepsi dapat di definisikan sebagai makna yang kita pertalikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan stimulus (rangsangan-rangsangan) yang kita terima melalui panca indra (pengelihatan,pendengaran,perasa,dll).15

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan, penerimaan langsung dari suatu serapan, atau merupakan proses seseoarang mengetahui beberapa hal melalui panca indranya.16

13 Vertizal Rivai. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002) hlm, 231

14 Ibid hlm, 232

15 Nugroho J Setiadi, “Prilaku Konsumen : Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran”, (Jakarta : Prenada Media Group. 2013). Hlm, 91

16 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2001, hlm. 304

15

Philip kottler memberikan definisi persepsi sebagai proses seorang individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang memiliki arti.17Persepsi disini tidak hanya tergantung pada hal fisik, tetapi juga berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu tersebut. Sedangkan dalam proses memperoleh atau menerima informasi tersebut adalah juga berasal dari objek lingkungan.18Suatu rangsangan dipandang sebagai kejadian-kejadian yang ada di dalam lingkungan eksternal individu yang ditangkap dengan menggunakan alat sel syaraf yang selanjutnya akan terjadi proses pengolahan sensasi. Ketika sejumlah sensasi masuk ke dalam struktur yang lebih dalam dari sistem susunan syaraf, maka sensasi inilah yang disebut sebagai persepsi.19

Faktor – faktor yang mempengaruhi Persepsi

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi bisa terletak dalam diri pembentuk persepsi, dalam diri objek atau target yang di artikan atau dalam konteks situasi dimana persepsi tersebut dibuat.20

Berikut faktor – faktor yang mempengaruhi persepsi, antara lain adalah :

a) Personal Effect

Dalam hal ini disebutkan bahwa karakteristik dari individu akan dihubungkan dengan perbedaan persepsi

17 Philip kottler, “Manajemen pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengandalian”, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta ,1997 , hlm. 164

18 Joyce Marcella Laurence, Arsitektur dan Prilaku Manusia, PT. Grasindo, Jakarta, 2004, hlm. 56

19 Oman sukmana, “Dasar – dasar psikologi lingkungan” UMM Pres, Malang 2003, hlm.

52.

20 Stephen P. Robbins, “Prilaku Organisasi”, buku 1, Salemba Empat, Jakarta, 2007, hlm .

174

16

terhadap lingkungan. Hal tersebut, sudah jelas akan melibatkan beberapa faktor antara lain kemampuan perseptual dan pengalaman atau pengenalan terhadap kondisi lingkungan. Kemampuan perseptual masingmasing individu akan berbeda-beda dan melibatkan banyak hal yang berpengaruh sebagai latar belakang persepsi yang keluar.

Proses pengalaman atau pengenalan individu terhadap kondisi lingkungan lain yang dihadapi, pada umumnya mempunyai orientasi pada kondisi lingkungan lain yang telah dikenal sebelumnya dan secara otomatis akan menghasilkan proses perbandingan yang menjadi dasar persepsi yang dihasilkan. Pembahasan terhadap hal-hal yang berpengaruh sebagai latar belakang terbentuknya persepsi dan mencakup pembahasan yang sangat luas dan kompleks.

b) Cultural Effect

Giffrod memandang bahwa konteks kebudayaan yang dimaksud berhubungan dengan tempat asal atau tempat tinggal seseorang. Budaya yang dibawa dari tempat asal dan tinggal seseorang akan membentuk cara yang berbeda bagi setiap orang tersebut dalam “melihat dunia”. Selain itu, Gifford menyebutkan bahwa faktor pendidikan juga dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap lingkungan dalam konteks kebudayaan.

c) Physical Effect

Kondisi alamiah dari suatu lingkungan akan mempengaruhi persepsi seseorang yang mengamati, mengenal dan berada dalam lingkungan tersebut.

Lingkungan dengan atribut dan elemen pembentuknya yang menghasilkan karakter atau tipikal tertentu akan menciptakan identitas bagi lingkungan tersebut. Misalnya

17

ruang kelas secara otomatis akan dikenal bila dalam ruang tersebut terdapat meja yang diatur berderet, dan terdapat podium atau mimbar dan papan tulis di bagian depannya.21 Untuk itu dapat disimpulkan bahwa persepsi selain terjadi akibat rangsangan dari lingkungan eksternal yang di tangkap oleh suatu individu juga di pengaruhi oleh kemampuan individu tersebut dalam menangkap dan menterjemahkan rangsangan tersebut menjadi sebuah informasi yang tersimpan menjadi sensasi dan memori atau pengalaman masa lalu. Oleh karna itu, persepsi yang terbentuk dari masing masing individu dapat berbeda beda.

Selanjutnya menurut laurens, dikemukakan bahwa persepsi sangat diperlukan oleh perencana dalam menentukan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat baik secara personal maupun sebagai kelompok penguna. Sebagian besar arsitektur dibentuk oleh persepsi manusia.22Oleh karna itu, dalam menciptakan karya-karya arsitektur faktor persepsi sebagai salah satu bentuk respon yang keluar secara personal setelah menangkap, merasakan dan mengalami karya-karya tersebut menjadi salah satu pertimbangan yang cukup penting.

Respon tersebut mencerminkan sesuatu yang diinginkan oleh individu pengguna dan penikmat hasil karya yang ada. Respon yang keluar berdasarkan pengalaman ruangnya, pengetahuan akan bentuk dan simbolisasi yang di dapat dari pendidikanya.23

Proses Terbentuknya Persepsi

Proses persepsi dimulai dari proses menerima rangsangan, menyeleksi, mengorganisasi, menafsirkan, mengecek dan reaksi

21 Elisa Ariyanti, tesis, “Pengembangan pemanfaatan polder kota lama semarang sebagai ruang public yang rekreatif berdasarkan persepsi masyarakat dan pemerintah”, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas diponogoro, 2005

22 Laurens, Op.Cit, hlm. 55

23 Ibid., hlm. 56

18

terhadap rangsangan. Rangsangan dari proses persepsi dimulai dari penangkapan indera terhadap objek persepsi. Ada dua jenis proses persepsi, yaitu24 :

a) Proses Fisik

Proses persepsi dimulai dari pengindraan yang menimbulkan stimulus dari reseptor yang dilanjutkan dengan pengolahan data pada syaraf sensorik otak atau dalam pusat kesadaran. Proses ini disebut juga dengan proses fisiologis.

b) Proses Psikologis

Proses pengolahan data pada syaraf sensorik otak akan menyebabkan reseptor menyadari apa yang dilihat, didengar, atau apa yang diraba.

Terbentuknya persepsi individu maupun suatu komunitas juga sangat tergantung pada stimulus yang jadi perhatian untuk di persepsikan. Di samping itu, kelengkapan data dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sangat menentukan kualitas persepsi dari reseptor. Pada akhirnya, persepsi Masyarakat Desa Sarangan terhadap upacara larung sesaji sebagai daya tarik wisata Telaga Sarangan ditentukan oleh tingkat pemahaman dan faktor internal maupun eksternalnya yang diolah secara berbeda oleh masing - masing individu sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya.

3. Pariwisata dan Wisata Budaya a) Pengertian Pariwisata

Pengertian pariwisata menurut Undang – Undang Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha – usaha

24 Bimo Walgio,Op.Cit, hlm. 102

19

yang terkait di bidang tersebut.25 Pariwisata adalah serangkaian kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh perorangan atau keluarga dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan bukan untuk bekerja di tempat tujuan.

Kunjungan yang dimaksud bersifat sementara dan pada waktunya akan kembali ke tempat tinggal semula.26

Uraian tersebut memiliki pengertian bahwa tidak semua orang yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain termasuk kegiatan wisata. Perjalanan rutin seseorang ke tempat bekerja walaupun mungkin cukup jauh dari segi jarak tentu bukan termasuk kategori wisatawan.

Dengan kata lain, kegiatan pariwisata adalah kegiatan bersenang senang yang mengeluarkan uang atau melakukan tindakan konsumtif27

Pariwisata merupakan konsep yang sangat muiltidimensional. Tak bisa dihindari bahwa beberapa pengertian pariwisata dipakai oleh para ahli atau praktisi dengan tujuan perseptif yang berbeda sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Definisi pariwisata memang tidak dapat sama persis diantara para ahli. Berikut beberapa contoh pengertian pariwisata :

1) Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.28

25 Direktorat Jendral Pariwisata, Pengantar Pariwisata Indonesia, dalam Muljalid (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009, hlm. 7

26 Muljadi A.J., Kepariwisataan dan Perjalanan, (Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 10

27 Ibid., hlm. 11

28 UU No.10 Tahun 2009 tentang kepariwasataan

20

2) Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari satu tempat ketempat yang lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi tetapi semata – mata untuk menikmati perjalanan hidup guna bertamsya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka ragam29

b) Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan wisata sangat tergantung kepada tiga faktor utama yaitu Atraksi, Aksebilitas, dan Amenitas.30

1) Atraksi, dapat di bedakan menjadi :

Pertama, Tempat : umpanya tempat dengan iklim yang baik, pemandangan yang indah atau tempat-tempat bersejarah. Kedua, Kejadian/Peristiwa : kongres, pameran atau peristiwa-peristiwa olah raga, festival dan sebagainya.

2) Aksebilitas (Mudah dicapai)

Tempat tersebut dekat jaraknya, atau tersedianya transportasi ketempat itu secara teratur, sering, mudah, nyaman, dan aman.

3) Amenitas

Tersedianya fasilitas-fasilitas seperti tempat penginapan, restoran, hiburan, transportasi lokal yang

29 Drs. H. Oka. A. Yoeti, MBA, “Pengantar Ilmu Pariwisata”, (Bandung : Angkasa, 1996) hlm, 108

30Muljadi A.J., Ibid, hlm. 57

21

memungkinkan wisatawan bepergian ketempat itu serta alat-alat komunikasi lainnya.

c) Dampak Aspek Wisata

Pariwisata merupakan suatu gejala sosial yang sangat kompleks, yang menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai macam aspek yang penting, aspek tersebut diantaranya yaitu aspek sosiologis, aspek psikologis,aspek ekonomis, aspek ekologis dan aspek-aspek yang lainnya. Diantara sekian banyak aspek tersebut, aspek yang mendapat perhatian yang paling besar dan hampir merupakan satu-satunya aspek yang dianggap sangat penting adalah aspek ekonomisnya.31

Pengembangan di dalam sektor pariwisata akan berhasil dengan baik, jika masyarakat setempat khusunya pelaku wisata dapat ikut serta secara aktif. Agar masyarakat setempat dan pelaku wisata dapat lebih dapat berdampak serta dalam pembangunan kepariwisataan, maka masyarakat perlu diberi pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pariwisata serta manfaat dan keuntungan-keuntungan apa yang akan diperoleh. Disamping itu, masyarakat juga harus mengetahui hal - hal yang dapat merugikan yang diakibatkan oleh adanya pariwisata tersebut.

Pembangunan disektor kepariwisataan perlu ditingkatkan dengan cara mengembangkan dan mendayagunakan sumber-sumber serta potensi kepariwisataan nasional maupun daerah agar dapat menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan dalam rangka memperbesar penerimaan devisa atau pendapatan asli

31 Drs. H. Oka A. Yoeti, MBA, Pemasaran Pariwisata, (Bandung: Angkasa, 1985) hlm, 56

22

daerah, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja terutama bagi masyarakat setempat.32

Dampak pariwisata saat ini antara lain adalah:

pertama, dampak ekonomi yaitu, sebagai sumber devisa negara; kedua, dampak sosial yaitu, sebagai penciptaan lapangan pekerjaan; dan yang terakhir adalah dampak kebudayaan yaitu, memperkenalkan kebudayaan dan kesenian.33 Karena penulis fokus pada kebudayaan dalam sektor pariwisata, maka berikut dampak pariwisata yang berupa dampak kebudayaan :

1) Mendorong pelestarian budaya dan peninggalan sejarah.

Indonesia memiliki beraneka ragam adat istiadat, kesenian, peninggalan sejarah yang selain menjadi daya tarik wisata juga menjadi modal utama untuk mengembangkan pariwisata. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata akan mengupayakan agar modal utama tersebut tetap terpelihara, dilestarikan dan dikembangkan.

2) Mendorong terpeliharanya lingkungan hidup.

Kekayaan dan keindahan alam seperti flora dan fauna, taman laut, lembah hijau pantai dan sebagainya, merupakan daya tarik wisata. Daya tarik ini harus terus dipelihara dan dilestarikan karena hal ini merupakan modal bangsa untuk mengembangkan pariwisata.

3) Wisatawan selalu menikmati segala sesuatu yang khas dan asli.

Hal ini merangsang masyarakat untuk memelihara apa yang khas dan asli untuk diperlihatkan kepada wisatawan. Dengan menjaga wisata tetap asri dan

32 H. Achmad Dimyanti, Usaha Pariwisata, (Jakarta, 2003), hal, 87

33 Muljadi A.J. Ibid, hlm. 111

23

natural perlu andil masyarakat setempat dan juga pelaku wisata dalam menjaga dan melestarikan lingkungan wisata tersebut supaya tetap menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang akan berkunjung ke tempat wisata tersebut.

d) Wisata Budaya

Wisata Budaya merupakan perjalanan wisata atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan seseorang dengan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau keluar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka.34

Wisata budaya adalah gerakan atau kegiatan wisata yang dirangsang oleh adanya objek-objek wisata yang berwujud hasil-hasil seni budaya setempat : adat istiadat, upacara agama, tata hidup masyarakat, peninggalan sejarah, hasil seni, kerajinan-kerajinan rakyat dan sebagainya.35

Berdasarkan pengertian diatas, wisata budaya adalah salah satu jenis wisata yang menjadi alas an wisatawan berkunjung ke satu tempat. Secara umum, wisata budaya merupakan perjalanan yang bertujuan untuk memuaskan rasa ingin tahu mengenai adat istiadat, keunikan daerah, budaya, dan sejarah suatu tempat. Telaga sarangan juga merupakan wisata budaya karena beberapa alasan mendasar, antara lain telaga sarangan memiliki mitos dan legenda yang masih dipercaya masyarakat luas sehingga telaga sarangan bersifat alami tanpa ada campur tangan orang dalam pembuatannya. Selain itu, telaga sarangan setiap tahun masih mengadakan upacara adat larung sesaji sehingga

34 Nyoman.S. Pendit. “Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana”. (Jakarta : Pradya Paramita, 1999) hlm. 42

35 R.S.Darmadjati. “Istilah – istilah Dunia Pariwisata”. (Jakarta : Pradya Paramita, 1989) hlm. 19

24

menarik minat wisatawan untuk berkunjung ketempat tersebut.

e) Asal – Usul Sejarah Telaga Sarangan

Pada zaman dahulu kala, di lereng Gunung Lawu bagian timur, hiduplah sepasang suami istri bernama Kiai Pasir dan Nyai Pasir.36 Mereka hanya tinggal berdua karena selama bertahun-tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak pun. Tempat tinggal mereka juga sangat terpencil, sangat jauh dari permukiman warga. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka menanam umbi-umbian di sekitar pondok. Sayuran dan buah-buahan didapat dengan mudah di hutan sekitar.

Pada suatu hari, Kiai Pasir pergi ke hutan untuk menebang pohon. Tiba di tengah hutan, Kiai Pasir mencari-cari pohon yang cukup besar dan berbatang lurus supaya kuat dijadikan tiang. Karena semak belukar di sekitar pohon itu sangat lebat, Kiai Pasir ptm terlebih dahulu membersihkannya agar ia mudah mengayunkan kapaknya ke pangkal pohon. Saat ia sedang menyibak dan membersihkan semak itu, dilihatnya ada sebutir telur berukuran cukup besar tergeletak di atas tumpukan dedaunan seperti sarang. Kiai Pasir teringat istrinya yang tentu akan sangat senang mendapat telur untuk santapan. Tanpa berpikir lagi, diambilnya telur itu kemudian dimasukan ke dalam wadah bambu yang sudah kosong.

Nyai Pasir sudah menanti dengan cemas di depan pondok karena hari mulai gelap. Alangkah senangnya ketika

36 Cerita Rakyat Jawa Timur, Terbitan Balai Bahasa Surabaya Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2011. Diakses melalui

https://andrikyawarman.wordpress.com/2017/10/29/asal-usul-telaga-sarangan-magetan/ Diakses pada 26 Februari 2020 pada pukul 10.51

25

dilihat Kiai Pasir pulang dengan selamat, apalagi saat suaminya menyerahkan wadah bambu.

Keesokan harinya Kiai Pasir bangun lebih pagi karena akan melanjutkan menebang pohon. Saat Kiai Pasir menyiapkan peralatan di samping pondok, Nyai Pasir menghidangkan minuman, ubi rebus, sayur, dan telur rebus.

Kiai Pasir masuk ke dalam pondok dengan wajah gembira karena membayangkan lezatnya telur rebus. Sudah lama mereka tidak menyantap hidangan berprotein itu. Nyai Pasir membelah telur itu menjadi dua; yang satu diberikan kepada Kiai Pasir dan satunya disantap sendiri.

Selesai bersantap, Kiai Pasir berangkat ke hutan dengan membawa peralatan seperti biasanya. Dalam perjalanan itu, Kiai Pasir merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa sehat dan segar ketika meninggalkan pondok, tetapi kini badannya terasa panas dan sakit yang tidak terkirakan. Tak kuasa melanjutkan perjalanan, ia pun berhenti dan meletakkan seluruh peralatan yang dibawanya.

Sekujur tubuhnya seperti ditarik-tarik, kulitnya bergerak-gerak membentuk tonjolan-tonjolan yang makin lama makin besar dan terasa sangat gatal. Semakin lama rasa gatal itu semakin tidak tertahankan. Ia pun cepat berguling-guling ke tanah dengan harapan rasa gatalnya akan hilang. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasa gatal semakin menjadi dan tubuhnya serasa kian membengkak dan memanjang.

Tidak lama kemudian tubuhnya sudah berubah menjadi ular naga yang sangat besar. Ular jelmaan Kiai Pasir itu terus berguling-guling di tanah menuju arah pondoknya untuk melihat keadaan Nyai Pasir. Tempat sepanjang ular naga berguling menjadi cekung dan makin lama makin luas.

26

Tanpa diketahui Kiai Pasir, di pondoknya, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama. Setelah suarninya pergi, Nyai Pasir merasakan tubuhnya sangat panas, sakit, dan gatal-gatal. Karena tidak tahan menahan sakit dan gatal, Nyai Pasir juga rebah dan berguling-guling di tanah.

Tubuhnya kian memanjang dan membesar hingga bernbah menjadi ular naga yang sangat besar. Ular naga jelmaan Nyai Pasir itu berguling-guling terus ke luar halaman pondok ke arah perginya Kiai Pasir. Tempat bergulingnya ular naga Nyai Pasir itu juga membentuk cekungan yang kian luas dan dalam.

Nyi Pasir teringat telur yang dibawa pulang suaminya. Dugaannya bahwa telur itu adalah telur ular mungkin benar. Ia merasa menyesal telah memakan telur itu.

Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tidak dapat dikembalikan ke keadaan semula.

Naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir akhimya bertemu. Mereka berada di tengah-tengah cekungan yang luas bekas mereka berguling. Tak kuasa mereka menahan air mata karena menyesal telah memakan telur yang bukan miliknya. Rasa gatal pun tak kunjung hilang hingga mereka terus berguling-guling menyebabkan cekungan di tengah kian lama kian dalam. Tiba-tiba cekungan terdalam itu menyemburkan air yang sangat deras hingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, cekungan besar dan luas itu penuh terisi air dan menjadi telaga yang sangat besar. Ular naga jelmaan Kiai Pasir dan Nyai Pasir hilang bersamaan dengan berubahnya cekungan itu menjadi telaga.

Penduduk sekitar yang mengetahui peristiwa terbentuknya telaga itu menamainya Telaga Pasir, diambil dari nama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Lambat taut masyarakat

27

menyebutnya dengan Telaga Sarangan karena telaga itu berada di Desa Sarangan.

Dokumen terkait