1.1. Latar Belakang Masalah
Hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latin, Hospes yang berarti tuan rumah, yang juga menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan). Rumah sakit (hospital) adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya (“Wikipedia”). Pada awalnya rumah sakit hanya berbentuk sebuah institusi kesehatan. Institusi kesehatan spesifik yang pertama kali ditemukan di India, kemudian pada tahun 431 SM di Sri Lanka didirikan Rumah Sakit Brahmanti yang menjadi rumah sakit pertama yang berdiri di Sri Lanka.
Pada abad 18 rumah sakit modern pertama dibangun dengan hanya menyediakan pelayanan dan pembedahan medis. Negara Inggris yang pertama kali memperkenalkan konsep rumah sakit ini. Rumah sakit tersebut memiliki nama Guy’s Hospital, yang didirikan di London pada tahun 1724 atas permintaan saudagar kaya Thomas Guy. Pada perkembangannya rumah sakit – rumah sakit yang dibiayai oleh swasta tersebut mulai tersebar di seluruh Inggris. Dan secara umum pada pertengahan abad 19 hampir seluruh negara Eropa dan Amerika Utara telah memiliki keberagaman rumah sakit.
Pada era modern saat ini keberadaan rumah sakit sudah sangat menjamur di berbagai daerah di dunia. Terlebih lagi rumah sakit modern saat ini dibeda- bedakan menjadi beberapa jenis rumah sakit antara lain, rumah sakit umum, rumah sakit terspesialisasi, rumah sakit penelitian atau pendidikan, rumah sakit perusahaan atau lembaga, dan klinik. Rumah sakit umum melayani hampir seluruh penyakit umum, dan memiliki institusi perawatan siaga 24 jam untuk mengatasi bahaya dan memberikan pertolongan pertama. Rumah sakit terspesialisasi mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus seperti psychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain. “Rumah sakit pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan
pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi” (13). “Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut” (14).
“Rumah Sakit Baptis” Kediri merupakan rumah sakit ternama yang terdapat di kota Kediri. “Rumah Sakit Baptis” Kediri diresmikan pada tanggal 28 Februari 1957 oleh Yayasan Baptis Indonesia. Keberadaannya sudah tidak diragukan lagi oleh masyarakat kota Kediri, karena mengingat usianya yang sudah mencapai setengah abad. “Rumah Sakit Baptis” Kediri memiliki kualitas yang baik dengan adanya tim dokter yang profesional dan kompeten di bidangnya, peralatan yang canggih dan memadai, serta fasilitas-fasilitas pendukung lain yang dimiliki oleh “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Pada saat ini mulai banyak bermunculan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan rumah sakit umum daerah yang menawarkan berbagai macam asuransi kesehatan kepada masyarakat. “Rumah Sakit Baptis” Kediri juga menawarkan asuransi kesehatan namun pemberian asuransi tersebut hanya dengan jumlah yang terbatas. Hal tersebut yang mendorong masyarakat kota kediri dan sekitarnya lebih memilih melakukan pengobatan di puskesmas atau rumah sakit umum daerah lainnya. Keadaan demikian yang menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada “Rumah Sakit Baptis” Kediri, dibuktikan dengan adanya data statistik yang menunjukkan menurunnya jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan dalam 2 tahun terakhir.
Keinginan terbesar “Rumah Sakit Baptis” Kediri saat ini adalah menciptakan rumah sakit berkelas yang diperuntukkan untuk segmentasi masyarakat kalangan ekonomi menengah atas di kota Kediri dan sekitarnya. Lwin dan Aitchison berpendapat bahwa “Segmentasi adalah pembagian pasar dalam kelompok-kelompok kecil konsumen yang dapat dijadikan sasaran melalui karakteristik yang sama.”(111). Alasan “Rumah Sakit Baptis” Kediri adalah karena sudah tidak memungkinkan untuk melakukan persaingan dengan rumah sakit umum daerah dan puskesmas lain yang banyak menawarkan asuransi kesehatan dengan subsidi dari pemerintah, sedangkan “Rumah Sakit Baptis”
Kediri harus tetap mempertahankan keberadaannya. Namun pada kenyataannya
keadaan “Rumah Sakit Baptis” Kediri belum dapat dikatakan sebagai rumah sakit yang berkelas, sehingga saat ini membutuhkan promosi untuk meningkatkan citra
“Rumah Sakit Baptis” Kediri sendiri.
Hann dan Mangun mengatakan bahwa :
promosi adalah semua yang dilakukan untuk membantu penjualan suatu produk atau jasa di tiap tempat jaringan penjualan, mulai dari bahan- bahan presentasi yang digunakan seorang tenaga penjualan ketika melakukan penawaran hingga siaran niaga di televisi atau iklan di surat kabar yang mencoba memikat pelanggan agar memperoleh kesan yang menyenangkan terhadap apa yang diiklankan.” ( 21 ).
Hal yang melatarbelakangi pemilihan “Rumah Sakit Baptis” Kediri adalah karena selama ini belum pernah ditemui secara langsung rumah sakit yang melakukan promosi. Selain daripada itu karena adanya permasalahan yang muncul pada “Rumah Sakit Baptis” Kediri, sehingga membutuhkan perancangan promosi untuk memberikan solusi bagi “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Permasalahan yang diangkat adalah “Rumah Sakit Baptis” Kediri ingin membangun citra dan image sebagai rumah sakit yang berkelas dan dapat mentargetkan diri sebagai rumah sakit yang diperuntukkan secara umum bagi masyarakat golongan ekonomi menengah atas. Oleh karena itu akan diciptakan sebuah perancangan strategi promosi melalui pendekatan hubungan masyarakat (public relation) dan promosi melalui berbagai media.
Moore mengatakan bahwa:
Media komunikasi adalah sarana yang memungkinkan tersampainya suatu pesan. Media massa adalah sarana yang mentransmisikan pesan- pesan yang identik kepada sejumlah besar orang yang secara fisik berpencaran (5).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana cara membangun citra atau image sebagai rumah sakit yang berkelas untuk “Rumah Sakit Baptis” Kediri?
Bagaimana perancangan promosi untuk “Rumah Sakit Baptis” Kediri yang efektif untuk masyarakat Jawa Timur?
1.3. Batasan Ruang Lingkup Perancangan
Perancangan dilakukan untuk menciptakan citra atau image berkelas bagi “Rumah Sakit Baptis” Kediri. Selain daripada itu mempromosikan “Rumah Sakit Baptis” Kediri sebagai rumah sakit yang berkelas yang menawarkan kesehatan, kepraktisan, dan kualitas. Perancangan yang akan dibuat disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi oleh “Rumah Sakit Baptis” Kediri saat ini.
Perancangan promosi akan dilakukan pada bulan Februari hingga April tahun 2007. Perancangan promosi ini akan dibuat melalui periklanan (advertising) yang akan dispesifikasikan menjadi iklan korporat.
Moore mengatakan :
Periklanan (advertising) dilakukan dengan menyewa ruang dan waktu dalam media massa. Suatu komunikasi nonpersona (nonperorangan) melalui berbagai macam media komunikasi, yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi tertentu (5).
Lwin dan Aitchison mengatakan :
Iklan Korporat merupakan bentuk lain dari iklan strategis, ketika sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada publik. Iklan korporat seringkali berbicara tentang nilai-nilai warisan perusahaan, komitmen perusahaan terhadap pengawasan mutu, peluncuran merek dagang atau logo perusahaan yang baru, atau mempublikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hidup (17).
1.4. Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan komunikasi visual promosi “Rumah Sakit Baptis”
Kediri antara lain:
Membangun citra atau image “Rumah Sakit Baptis” Kediri sebagai rumah sakit yang berkelas.
Menciptakan sarana promosi untuk “Rumah Sakit Baptis” Kediri yang efektif dan komunikatif.
1.5. Manfaat Perancangan
Manfaat yang dapat diperoleh melalui perancangan promosi “Rumah Sakit Baptis” Kediri dapat dirasakan oleh beberapa pihak yang bersangkutan di dalamnya.
1.5.1. Bagi Perusahaan (“Rumah Sakit Baptis” Kediri)
Manfaat yang dapat dirasakan oleh “Rumah Sakit Baptis” Kediri adalah:
Meningkatnya citra dan image “Rumah Sakit Baptis” Kediri menjadi rumah sakit yang berkelas.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap “Rumah Sakit Baptis”
Kediri.
Meningkatnya eksistensi “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Memberikan citra positif “Rumah Sakit Baptis” Kediri kepada masyarakat.
1.5.2. Bagi Penulis dan Rekan-Rekan Seprofesi
Menambah pengetahuan langkah-langkah dalam mengahadapi klien.
Dapat meningkatkan cara pemahaman tentang permasalahan yang dihadapi dan mencari solusi permasalahan.
Memberi masukan lebih, bagaimana merancang strategi promosi yang baik dan berhasil pada pelaksanaannya.
Memberikan pengetahuan lebih betapa pentingnya suatu promosi berpengaruh pada perusahaan (“Rumah Sakit Baptis” Kediri).
1.5.3. Bagi Masyarakat
Memberikan fasilitas kesehatan yang berkelas yang lebih berpedoman pada kualitas.
Memberikan kenyamanan pada saat melakukan proses pengobatan di “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Memberikan alternatif baru bagi masyarakat ekonomi menengah atas yang menginginkan rumah sakit berkelas.
Mendapatkan pelayanan yang baik dan sesuai dengan citra dan image yang dibangun oleh “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
1.6. Keaslian Perancangan
Perancangan promosi untuk “Rumah Sakit Baptis” Kediri yang akan dibuat merupakan perancangan promosi baru, yang belum pernah dibuat sebelumnya dan tidak berkaitan dengan promosi apapun. Perancangan promosi akan dibuat sebagai solusi permasalahan yang terdapat pada “Rumah Sakit Baptis” Kediri untuk dapat meningkatkan citra atau image sebagai rumah sakit yang berkelas. Oleh karena itu perancangan promosi ini akan dibuat dengan efektif dan dapat lebih komunikatif, agar dapat benar-benar sesuai dengan tujuan.
1.7. Metode Perancangan
Perancangan promosi yang akan dilakukan harus melalui beberapa metode-metode ilmiah, sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih terarah, terstruktur, dan relevan.
Koentjaraningrat mengatakan :
metode adalah cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Suatu metode dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan obyek studi ( 16 ).
1.7.1. Metode Pengumpulan Data 1.7.1.1. Data Primer
Literatur
Mengumpulkan beberapa data dari buku-buku teoritis sebagai panduan dan pedoman dalam melakukan perancangan promosi “Rumah Sakit Baptis”
Kediri.
Observasi
Menurut Hyman, “observasi sebagai alat untuk melihat lebih dalam suatu yang sedang diteliti dan menggambarkan suatu permasalahan terjadi di dalamnya.”
Observasi dilakukan dengan cara mengamati perusahaan yang akan diteliti, masyarakat sekitar, dan mengumpulkan data-data pendukung secara langsung di lapangan.
Wawancara
Menurut Koentjaraningrat, “metode wawancara yakni suatu cara yang digunakan seseorang dengan bertanya secara lisan kepada seorang responden untuk mendapatkan keterangan secara langsung” (162).
Metode wawancara ini akan dilakukan dengan cara bertanya langsung kepada pemimpin perusahaan, dan masyarakat sekitar.
1.7.1.2. Data Sekunder Media cetak
Media cetak merupakan media tertulis dimana terdapat berbagai macam informasi yang selalu diperbaharui menurut periode terbit tertentu. Media Cetak sifatnya lebih tahan lama karena dapat disimpan. Media Cetak terdiri dari bermacam-macam jenis, diantaranya adalah koran, majalah, jurnal, brosur, dan lain sebagainya.
Media cetak yang digunakan sebagai alat penunjang adalah brosur dari perusahaan lain (rumah sakit lain) sebagai alat untuk memperoleh data pembanding dengan “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Internet
Internet merupakan salah satu dari media elektronik yang memiliki berbagai macam informasi yang selalu diperbaharui menurut kurun waktu tertentu.
Media elektronik memiliki sifat yang cepat hilang.
Data yang digunakan sebagai penunjang dalam perancangan promosi “Rumah Sakit Baptis” Kediri diperoleh melalui beberapa situs-situs internet, seperti wikipedia online.
Media Dokumentasi
Media Dokumnentasi merupakan media tidak tertulis namun disajikan melalui visualisasi yang berisi berbagai macam informasi yang tidak dapat disampaikan melalui kata-kata. Media Dokumentasi sifatnya tahan lama karena dapat disimpan. Media Dokumentasi terdiri dari bermacam-macam jenis, diantaranya adalah fotografi, video, animasi, dan lain sebagainya.
Media dokumentasi yang digunakan sebagai alat untuk memperoleh data sekunder dalam proses perancangan promosi “Rumah Sakit Baptis” Kediri
adalah fotografi. Fotografi digunakan untuk mengambil foto perusahaan, situasi dan keadaan lingkungan sekitar, dan keadaan masyarakat.
1.7.2. Metode Analisa Data
Analisis data memerlukan metode khusus untuk mengolah sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan sebuah promosi. Metode akan digunakan dalam perancangan promosi “Rumah Sakit Baptis” Kediri adalah:
1.7.2.1. Metode Kualitatif
Menurut Tan, metode kualitatif adalah metode yang di dalamnya terdapat variabel kualitatif yang tidak dapat dinyatakan nilainya dalam suatu angka (310).
1.7.2.2. Analisa SWOT
Lwin dan Aitchison mengatakan, “ Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (kesempatan), Threats (ancaman) yang digunakan dalam analisis yang mempengaruhi strategi pemasaran” (113).
Melalui metode ini akan dicari Strengths (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (kesempatan), Threats (ancaman) yang dimiliki oleh
“Rumah Sakit Baptis” Kediri. Data tersebut kemudian diolah dan ditarik satu kesimpulan sebagai panduan untuk penyusunan perancangan komunikasi visual promosi “Rumah Sakit Baptis” Kediri. Analisa SWOT meliputi :
Analisa Produk/Perusahaan
Meliputi fasilitas kesehatan yang ada, dan biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien pada saat melakukan pengobatan di “Rumah Sakit Baptis” Kediri.
Analisa Kompetitor
Meliputi fasilitas kesehatan yang ada, dan biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien pada saat melakukan pengobatan di rumah sakit umum daerah Gambiran.
Analisa Konsep Perusahaan terhadap fasilitas yang ditawarkan
Analisa feedback Target Audience terhadap perusahaan dan fasilitas yang ditawarkan.
1.8. Sistematika Perancangan
Gambar 1.1 Skema Perancangan Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Perancangan
Observasi
Data Perusahan
Data Pemasaran
Analisis Data
Perencanaan Media
Penentuan Tujuan Media
Strategi Media
Program Media
Budget Media
Perancangan Kreatif
Tujuan Kreatif
Strategi Kreatif
Perancangan Kreatif
Budget Kreatif
Final Art Work Permasalahan
feedback