1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan bisnis di Indonesia mengalami peningkatan secara ketat dalam tahun ke tahun meskipun dalam kondisi perekonomian yang tidak stabil.
Salah satu bisnis atau usaha yang mengalami peningkatan secara tajam meskipun dalam kondisi perekonomian yang cenderung tidak stabil yaitu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Seperti dapat dilihat pada gambar 1.1 dan gambar 1.2 berikut ini:
Gambar 1. 1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sumber: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia
Gambar 1.1 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1.1 bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 terus mengalami pertumbuhan dengan trend naik turun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terendah terjadi pada tahun 2015 sebesar 4,88% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi terjadi pada tahun 2018 yaitu sebesar 5,17%.
4,7 4,8 4,9 5 5,1 5,2
2015 2016 2017 2018 2019
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Gambar 1. 2 Pertumbuhan UMKM di Indonesia Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia
Gambar 1.2 menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan yang positif. Hal ini dapat dilihat pada gambar 1.2 bahwa perkembangan perkembangan UMKM dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya.
Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi dan UMKM yang sudah tersedia pada gambar 1.1 dan gambar 1.2 maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan UMKM, dimana UMKM terus mengalami peningkatan setiap tahunnya yang mana hal ini menjadikan tingkat persaingan di dalam UMKM semakin ketat. Dengan adanya tingkat persaingan yang tinggi ini pelaku UMKM didorong untuk saling berkompetisi dengan pelaku UMKM lainnya yang sejenis. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk dapat memenangkan kompetisi atau sekedar dapat bertahan di dalam kompetisi yaitu dengan memberikan perhatian khusus terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan (Faizuddin, Poniman, and Jumi 2015).
2015 2016 2017 2018 2019
59,3 Jt 61,7 Jt 62,7 Jt 64,2 Jt 67,4 Jt
Pertumbuhan UMKM di Indonesi a
Kualitas suatu produk sangat penting bagi perkembangan suatu perusahaan karena dengan kualitas produk yang baik perusahaan dapat mengungguli produk yang dihasilkan oleh perusahaan pesaingnya serta juga akan mendapat kepuasan untuk konsumennya, sehingga kualitas produk merupakan kunci utama bagi perusahaan untuk memperoleh laba yang besar dari tingkat penjualan produk yang tinggi menurut Jha (2013) yang dikutip pada jurnal (Andriani et al. 2018). Menurut Akbar (2018) perusahaan yang sama sekali tidak memperhatikan kualitas produknya sama saja dengan bunuh diri atau tidak peduli dengan masa depan perusahaannya, karena kualitas dari suatu produk akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Salah satu aktivitas untuk menciptakan kualitas produk yang baik yaitu dengan menerapkan sistem pengendalian kualitas. Pengendalian kualitas dilakukan untuk mempertahankan kualitas produk agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Ada berbagai macam cara yang dapat digunakan untuk mengendalikan kualitas salah satunya yaitu statistical quality control (SQC). SQC merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan
untuk memonitor, mengendalikan, menganalisis, mengelola, dan memperbaiki produk dan proses menggunakan metode-metode statistik (Hendrawan, Wirawati, and Wijaya 2020)
UD. Tahu 3 “S” Prima merupakan perusahaan UMKM yang bergerak dalam bidang industri pembuatan tahu. Produk tahu yang dihasilkan UD. Tahu 3 “S” Prima sudah banyak dikenal oleh masyarakat Kota Batu dengan cita rasa yang enak sehingga produk tahu ini merupakan salah satu produk tahu terfavorit
bagi pasar. Dari pernyataan tersebut UD. Tahu 3 “S” Prima sudah bisa dinyatakan sukses dalam menjalankan perusahaannya, tetapi kenyataan dalam perusahaan masih ditemukan permasalahan yang menjadikan jumlah biaya produksi perusahaan tidak seimbang dengan hasil penjualan yang diperoleh perusahaan karena dalam proses produksinya masih sering ditemukan produk tahu yang rusak atau cacat yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk rusak atau cacat diduga diakibatkan dari kelalaian karyawan yang tidak fokus pada saat melakukan proses produksi. Dan berikut merupakan data jumlah produksi dan jumlah produk cacat yang terjadi pada UD. Tahu 3 “S” Prima.
Tabel 1. 1 Jumlah Produksi dan Produk Cacat UD. Tahu 3 “S” Prima Tahun 2020 Bulan Jumlah Produksi Jumlah Produk
Cacat
Persentase Produk Cacat
Januari 116064 6516 5,61%
Februari 96768 5904 6,10%
Maret 89280 4752 5,32%
April 86400 5436 6,29%
Mei 92520 3996 4,32%
Juni 92916 3528 3,80%
Juli 90396 3744 4,14%
Agustus 90324 4104 4,54%
September 90900 3204 3,52%
Oktober 90360 5652 6,25%
November 93276 5724 6,14%
Desember 92880 5364 5,78%
Jumlah 1122084 57924 5,10%
Sumber: UD. Tahu 3 “S” Prima, 2020
Tabel 1.1 menunjukkan bahwa persentase produk cacat yang terjadi pada UD. Tahu 3 “S” Prima sepanjang tahun 2020 sebesar 5,10%. Hal ini tentunya sangat merugikan perusahaan, sehingga perlu dilakukannya pengendalian
kualitas dengan menggunakan metode statistical quality control (SQC) untuk menganalisis dan memperbaiki kualitas produk pada UD. Tahu 3 “S” Prima.
Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat membantu perusahaan untuk meminimalisir jumlah produk cacat, sehingga dapat meningkatkan kualitas produk dan dapat meminimalisir biaya produksi serta memaksimalkan pendapatan penjualan pada perusahaan UD. Tahu 3 “S” Prima.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran latar belakang dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah sistem pengendalian kualitas pada UD. Tahu 3 “S” Prima sudah optimal?
2. Apa saja jenis-jenis kecacatan produk yang terjadi pada UD. Tahu 3 “S”
Prima?
3. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kecacatan produk pada UD. Tahu 3 “S” Prima?
4. Bagaimana cara meminimalisir terjadinya kecacatan produk pada UD. Tahu 3 “S” Prima?
C. Batasan Penelitian
Batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Produk yang diteliti adalah produk tahu putih pada UD. Tahu 3 “S” Prima.
2. Penelitian dilakukan pada proses produksi guna mencari tau faktor-faktor penyebab terjadinya produk cacat.
3. Metode yang digunakan yaitu check sheet (Heizer and Render 2015), diagram sebab akibat (Heizer and Render 2015), dan deskriptif kualitatif (Miles &
Huberman 1992).
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan pengendalian kualitas yang sudah diterapkan pada UD Tahu 3 “S” Prima apakah sudah optimal atau belum.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis produk cacat yang terjadi pada UD. Tahu 3 “S”
Prima.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kecacatan produk pada UD. Tahu 3 “S” Prima.
4. Untuk mengetahui rekomendasi perbaikan yang tepat dalam meminimalisir terjadinya produk cacat pada UD. Tahu 3 “S” Prima.
E. Manfaat Penelitian 1. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kualitas produk.
2. Secara Teoritis
Untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengendalian kualitas produk.