INVENTARISASI BMD
Roy Martfiyanto, AK.,Msi.,CA
Case Stories
Pemprov Jateng Kaji 17 Kasus Temuan BPK Kamis, 16 Juni 2016 | 10:28
• Temuan lain dari BPK, mengenai pengendalian penyaluran insentif, pemungutan pajak Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah yang kurang memadai sehingga realisasinya tidak tertib serta belum didukung dengan data yang memadai.
• Ganjar menyebutkan beberapa aset Pemprov Jateng yang belum jelas pendataannya adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang
sesuai catatan hingga kini merupakan milik pemprov karena tidak ada satu pun yayasan yang mengelola, tanah dan
gedung Stasiun TVRI Semarang juga milik pemprov.
“BPK juga menyampaikan ke saya, ya kamu WTP (wajar tanpa pengecualian) tapi bereskan asetmu, bahkan ada ‘ancaman’ dari BPK, Jateng ‘nek ora bisa nyateti aset sesuk ora WTP’ (kalau tidak bisa mencatat aset, besok tidak WTP)
Case Stories
Selasa, 7 April 2015 | 15:58 WIB Ini Temuan BPK Saat Periksa Pemerintah Daerah
• Harry melanjutkan, dari situ BPK menemukan potensi kerugian daerah senilai Rp1,29 triliun yang terjadi di 43 pemerintah daerah. Salah satunya karena aset berupa mesin, peralatan, dan aset lainnya yang tidak diketahui
keberadaannya• Dalam PDTT atas pengelolaan aset, kami menemukan kelemahan dalam pengelolaan aset daerah yang
berpotensi menimbulkan kerugian daerah. Aset berupa tanah, gedung dan bangunan, serta peralatan mesin
senilai Rp971,70 miliar dikuasai pihak lain, tidak dapat
ditelusuri, tidak diketahui keberadaannya, dan hilang belum diproses," ujarnya.Case Stories
• Pemkot Manado telah menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK-RI tahun anggaran 2013.
Menariknya, dalam LHP itu Pemkot mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WP) dari
target Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Target opini WTP belum terwujud, karena 31 temuan BPK mengganjal hal itu.
Salah satu temuan BPK di LHP yakni keberadaan aset pemkot senilai24.922.235.850 yang tidak tahu keberadaannya alias kabur sehingga perlu ditelusuri aset-aset tersebut.
• http://harianmetro.co.id/index.php
Case Stories
• “Pengetahuan yang kurang tepat tentang prinsip pengelolaan barang/aset
daerah menunjukkan banyak kasus yang
sebenarnya dimulai dari salah kelola dan salah urus masalah aset, sehingga berdampak
kerugian yang tidak sedikit,” jelas Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Ismunandar
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/94533-pengelolaan-aset-disesuaikan-dengan-regulasi.html
Case Stories
• “Beberapa permasalahan terkait dengan pengelolaan aset daerah adalah posisi akhir dan nilai aset. Ini menjadi masalah
klasik yang ditemui di beberapa pemerintah
daerah,”
http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/94533-pengelolaan-aset-disesuaikan-dengan- regulasi.htmlPEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN BMD
• Menkeu menetapkan Kebijakan Umum Pengelolaan BMN
• Mendagri menetapkan Pedoman Teknis Pengelolaan BMD
PSL 69 AYAT (6)
Ketentuan mengenai Pedoman Teknis dan Administrasi Pengelolaan Barang Milik Negara /Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah
Diganti
8
▫ barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
▫ barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
▫ barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
▫ barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
PP 6 Th. 2006
a. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran;
b. Pengadaan;
c. Penggunaan;
d. Pemanfaatan;
e. Pengamanan dan Pemeliharaan;
f. Penilaian;
g. Penghapusan;
h. Pemindahtanganan
i. Penatausahaan;
j. Pembinaan, Pengawasan dan pengendalian
PP 27 Th. 2014
a. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran;
b. Pengadaan;
c. Penggunaan;
d. Pemanfaatan;
e. Pengamanan dan Pemeliharaan;
f. Penilaian;
g. Pemindahtanganan;
h. Pemusnahan;
i. Penghapusan;
j. Penatausahaan;
k. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
LINGKUP PENGATURAN PENGELOLAAN BMD
SKEMA PROGRAM
PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH
Pelaks Ktgsn Pengelolaan BMD
1. Masih terdapatnya barang milik daerah yang belum terinventarisasi secara benar.
2. Kualitas SDM pengelola BMD pada tingkat pengurus barang, penyimpan barang dan petugas akuntansi di SKPD, UPTD dan UPTLTD
yang masih perlu
ditingkatkan.
3. Kurang memadainya informasi potensi optimalisasi asset yang layak dipromosikan
4. Sistem informasi manajemen asset tetap yang masih perlu ditingkatkan.
Permasalahan Pengeloaan BMD
1. Program Pelayanan Administrasi
Perkantoran.
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
3. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur
4. Program Peningkatan Sistem Pengawasan
Internal dan
Pengendalian
Pelaksanaan Kebijakan Kepala Daerah
5. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah
Program Hasil yang diharapkan
1. Meningkatnya Pelayanan PBD kepada SKPD dan Masyarakat
2. Meningkatnya Kualitas LKPD, khususnya pada neraca aset, dan dicapainya WTP
3. Meningkatnya kontribusi
terhadap pendapatan asli daerah
1. Pengadministrasian barang milik daerah yang didukung dengan Sistem Informasi Manajemen Asset Tetap.
2. Penggunaan dan
Pemanfaatan barang milik daerah secara optimal
3. Pelaksanaan monitoring
dan evaluasi
penatausahaan,
pembinaan pengelolaan barang milik daerah, penghapusan, serta melaksanakan tuntutan ganti rugi.
Mengapa BMD perlu dikelola ?
• Kejelasan status kepemilikan BMD
• Inventarisasi kekayaan daerah dan masa pakai BMD
• Optimalisasi penggunaan dan pemanfaatan untuk peningkatan PAD
• Antisipasi kondisi BMD dalam fungsi pelayanan publik
• Pengamanan barang daerah
• Dasar penyusunan neraca
• Kewajiban untuk melaporkan kondisi dan nilai BMD secara berkala
• Sebagai pertanggung jawaban pimpinan (pengguna anggaran dan kuasa pengguna anggaran)
Stu-Ka
TEMUAN BPK RI PERWAKILAN JATENG ATAS LAPORAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN XYZ TAHUN 2012 TERKAIT ASET DAERAH:
SALDO ASET LAINNYA PER 31 DESEMBER 2012 SEBESAR Rp. 14.237.264.238,00 TIDAK DAPAT DIYAKINI
KEWAJARANNYA
Total Aset Tetap Dinas X Kab. XYZ sebesar Rp.
423.160.689.509,00 tidak dapat diyakini kewajarannya
Pengurus Barang masing-masing Unit Kerja tidak
melaksanakan tupoksi penatausahaan barang milik daerah dengan baik
( BPK melihat neraca,), ASET TETAP 423.160.000 = Pengakuan ( Fisik ), Penilaian ( Nilai ) , Pelaporan ( Status )
Definisi secara formil
Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil
pendataan barang milik daerah (Pasal 1 Angka 48 Permendagri 19/2016)
UNTUK APA ??
Definisi Ilmiah (1)
Inventarisasi aset merupakan kegiatan yang terdiri dari dua aspek, yaitu inventarisasi fisik dan yuridis/legal. Aspek fisik terdiri atas bentuk, luas, lokasi, volume/jumlah, jenis, alamat dan lain-lain. Sedangkan aspek yuridis adalah status penguasaan, masalah legal yang dimiliki, batas akhir
penguasaan. Proses kerja yang dilakukan adalah pendataan, kodifikasi/labelling, pengelompokkan dan
pembukuan/administrasi sesuai dengan tujuan manajemen aset.
Siregar (2014:518-520)
Definisi Ilmiah (2)
Inventarisasi aset adalah kegiatan-kegiatan yang meliputi pendaftaran, pencatatan dalam daftar inventaris,
penyusunan atau pengaturan barang-barang milik negara atau daerah serta melaporkan pemakaian barang-barang kepada pejabat yang berwenang secara teratur dan tertib menurut ketentuan dan tata cara yang berlaku sehingga mempermudah dalam penyajian data kekyaan
negara/pemerintah daerah baik barang-barang tetap maupun barang-barang bergerak
Harsono, dkk (2004:163)
Contoh:
Kendaraan Dinas
Mengapa perlu inventarisasi ???
Persoalan klasik:
berapa jumlah kendaraan dinas
adakah yang berada di dalam penguasaan pihak lain yg tdk berhak (mantan pejabat misalnya)
Definisi Operasional
Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan
pengecekan antara data administratif BMD dengan kondisi fisik BMD yang bersangkutan.
Maksud inventarisasi adalah untuk mengetahui jumlah dan nilai serta kondisi BMD yang sebenarnya, yang dikuasai
Pengguna Barang maupun Kuasa Pengguna Barang atas suatu obyek barang
Tujuan Inventarisasi (1):
Meyakini keberadaan fisik barang yang ada pada dokumen invetaris dan ketepatan jumlahnya
Mengetahui kondisi terkini barang (Baik, Rusak Ringan, dan Rusak Berat)
Melaksanakan tertib administrasi yaitu :
a) membuat usulan penghapusan barang yang sudah rusak berat.
b) mempertanggungjawabkan barang-barang yang tidak diketemukan/ hilang.
c) mencatat/membukukan barang-barang yang belum dicatat dalam dokumen inventaris.
Tujuan Inventarisasi (2):
Mendata permasalahan yang ada atas inventaris, seperti sengketa tanah, kepemilikan yang tidak jelas, inventaris yang dikuasai pihak ketiga
Menyediakan informasi nilai Aset Daerah sebagai dasar penyusunan Neraca atau menyajikan nilai koreksi Aset pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Obyek Inventarisasi
Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; dan
Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi:
a) barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
b) barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
c) barang yang diperoleh berdasarkan undang-undang; atau
d) barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Note:
Dalam rangka pertanggungjawaban hasil Inventarisasi BMD untuk tujuan pelaporan keuangan pada Neraca, pengelompokan BMD didasarkan pada kelompok aset tetap sebagaimana diatur di dalam PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), yaitu terdiri dari:
Tanah
Gedung dan Bangunan
Peralatan dan Mesin
Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Konstruksi dalam Pengerjaan
Aset Tetap Lainnya.
Inventarisasi sesuai Permendagri 19/2016
Pasal 476
Pasal 477
Pasal 478
Pasal 479
Output Inventarisasi
Buku Inventaris yang menunjukkan semua kekayaan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
Buku inventaris tersebut memuat data meliputi lokasi, jenis/merk type, jumlah, ukuran, harga, tahun pembelian, asal barang, keadaan barang dan sebagainya, yang berguna untuk:
1) pengendalian, pemanfaatan, pengamanan danpengawasan setiap barang;
2) usaha untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing;dan
3) menunjang pelaksanaan tugas Pemerintah.
Dokumen2 yg Dibutuhkan
Kegiatan Pencatatan
Dokumen yang digunakan dalam kegiatan pencatatan adalah sebagai berikut:
a. Buku Induk Inventaris: kompilasi/gabungan Buku Inventaris.
b. Buku Inventaris (BI): himpunan catatan data teknis dan administrasi yang diperoleh dari Kartu Inventaris Barang hasil inventarisasi.
c. Kartu Inventaris Barang (KIB): kartu untuk mencatat barang inventaris secara tersendiri atau kumpulan/
kolektif yang diperlukan untuk inventarisasi atau tujuan lainnya selama barang tersebut belum dihapuskan.
Dokumen2 yg Dibutuhkan
Contoh KIB yang harus diselenggarakan antara lain KIB Tanah, KIB Gedung, KIB Kendaraan, dan KIB Lainnya.
d. Kartu Inventaris Ruangan (KIR): kartu untuk mencatat barang inventaris yang ada dalam ruangan kerja.
Note:
Dalam Inventarisasi, pencatatan kondisi inventaris dibagi dalam 3 kategori yaitu Baik, Rusak Ringan, dan Rusak Berat. Informasi kondisi barang diperlukan dalam proses penilaian inventaris dan berguna sebagai salah satu data dalam pengambilan keputusan mengenai inventaris oleh pihak pengelola, seperti penghapusan barang, perencanaan pengadaan, perencanaan pemeliharaan, dan lainnya.
Dokumen2 yg Dibutuhkan
Kegiatan Pelaporan
Dokumen yang berkaitan dengan pelaporan adalah sebagai berikut:
a. Daftar Rekapitulasi Inventaris: disusun oleh Kepala Daerah selaku Kuasa/Ordonator Barang dengan
menggunakan bahan dari Rekapitulasi Inventaris Barang yang disusun oleh Pengurus Barang Satuan Kerja/ unit Kerja
b. Daftar Mutasi Barang: memuat data barang yang berkurang dan atau bertambah dalam suatau jangka waktu tertentu, misalnya setiap 3 bulan (LMBT) atau setahun (LT1).
PENGGUNAAN &
PEMANFAATAN BMD
Roy Martfiyanto, AK.,Msi.,CA
Definisi formil
Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Pengguna Barang dalam mengelola dan menatausahakan barang milik daerah yang sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang bersangkutan (Pasal 1 angka 31 Permendagri No. 19/2016)
Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak digunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD dan/atau optimalisasi barang milik daerah
dengan tidak mengubah status kepemilikan (Pasal 1 angka 32 Permendagri No. 19/2016)
KONSEPSI PENGGUNAAN BARANG MILIK DAERAH
Pihak Lain Sekda
Selaku
Pengelola Barang S K P D
Selaku Pengguna Barang
Perolehan BMD
Penyelesaian Dok. Kepemilikan
Usul penetapan status penggunaan
Proses Penetapan
Penggunaan Sesuai Tupoksi
Barang Milik Daerah:
•Tidak sesuai Tupoksi
•Berlebih
SK penetapan status penggunaan
Tanah / bangunan yg telah diserahkan
Pemindahtanganan:
•Jual
•Tukar menukar
•Hibah
•PMD
Pemanfaatan:
•Sewa
•KSP
•BSG/BGS
•Pinjam pakai
Tindak Lanjut:
• Pengalihan Status Penggunaan
• Pemanfaatan
• Pemindahtanganan Tanah/bangunan
diserahkan kpd Pengelola Barang
PENGGUNAAN BARANG
PP 27 Tahun 2014
terdapat pengecualian Penetapan Status Penggunaan yang tidak dilakukan terhadap:
a. BMN/D berupa: barang persediaan; konstruksi dalam pengerjaan; atau barang yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan.
b. BMN yang berasal dari dana dekonsentrasi dan dana penunjang tugas pembantuan, yang direncanakan untuk diserahkan;
c. BMN lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh Pengelola Barang; atau
d. BMD lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh Gubernur/Bupati/Walikota
PP 6 Tahun 2006
penetapan status penggunaan barang berlaku untuk seluruh BMN/D
Hal ini untuk menyederhanakan proses birokrasi. Misal, penggunaan barang
persediaan sangatlah cepat jika harus melewati proses penetapan terlebih dulu justru akan memperlambat proses penggunaan. Untuk barang dalam konstruksi dalam
pengerjaan pada dasarnya belum dapat digunakan sehingga tidak perlu penetapan.
Untuk BMN/D yang dari awal direncanakan untuk dihibahkan atau diserahkan memang seharusnya tidak boleh digunakan untuk kepentingan lain.
PENGGUNAAN BARANG
PP 27 Tahun 2014 menyederhanakan proses penetapan status penggunaan BMN/D sebagai berikut:
a. Pengelola Barang dapat mendelegasikan penetapan status Penggunaan BMN selain tanah/bangunan kepada Pengguna Barang/Kuasa
Pengguna Barang,
b. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mendelegasikan penetapan status Penggunaan atas Barang Milik Daerah selain tanah dan/atau
bangunan dengan kondisi tertentu kepada Pengelola Barang Milik Daerah
c. Dalam kondisi tertentu, Pengelola Barang dapat menetapkan status Penggunaan Barang Milik Negara pada Pengguna Barang tanpa didahului usulan dari Pengguna Barang
Lebih lanjut mengenai ‘kondisi tertentu’ yang dimaksud dalam peraturan ini dapat dilihat di bagian Penjelasan Pasal 16 PP tsb
PENGGUNAAN BARANG
PP 27 Tahun 2014 bahwa :
BMN/D dapat dialihkan status penggunaannya dari Pengguna Barang kepada Pengguna Barang lainnya untuk penyelenggaraan tugas dan
fungsi berdasarkan persetujuan Pengelola Barang.
BMN/D yang telah ditetapkan status penggunaannya pada Pengguna Barang dapat digunakan sementara oleh Pengguna Barang lainnya dalam jangka waktu tertentu tanpa harus mengubah status Penggunaan
BMN/D tersebut setelah terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Pengelola Barang/Gubernur/ Bupati/Walikota
Terdapat pengecualian kewajiban penyerahan BMN/D berupa tanah atau bangunan yang tidak digunakan apabila BMN/D tersebut telah
direncanakan untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh Pengguna Barang, untuk BMN, atau
Gubernur/Bupati/Walikota, untuk BMD
PENGGUNAAN: Dasar Hukum
Pasal 43 sampai dengan
Pasal 77
Permendagri No. 19 Tahun 2016
Stu-Ka
Temuan BPK terhadap penggunaan BMD adalah
penggunaan BMD yang tidak sesuai tupoksi dan
terjadinya inefisiensi
terdapat beberapa Barang Milik Daerah yang belum diserahkan status penggunaannya oleh Kepala
Daerah sebagai Pemegang Kekuasaan Pengelolaan
Barang Milik Daerah
Pengguna Barang Milik Daerah
Pengguna Barang Milik Daerah adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yang berwenang dan
bertanggung jawab untuk:
a) mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
b) mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari
beban APBD dan perolehan lainnya yang sah;
c) melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya;
Pengguna Barang Milik Daerah
d) menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya;
e) mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya;
f) mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak memerlukan persetujuan DPRD dan barang milik daerah selain tanah dan bangunan
Pengguna Barang Milik Daerah
g) menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak
dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada gubernur/bupati/walikota melalui pengelola barang;
h) melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya;
i) menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna
Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola barang.
Penetapan Status Penguasaan dan Penggunaan Barang Milik Daerah
Penetapan status penggunaan merupakan penegasan pemakaian barang milik daerah yang ditetapkan oleh
Kepala Daerah kepada pengguna/kuasa pengguna barang sesuai tugas dan fungsi SKPD yang bersangkutan.
Gubernur/bupati/walikota melakukan pengelolaan barang milik daerah untuk:
1. digunakan oleh instansi/SKPD lain yang memerlukan dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya melalui pengalihan status penggunaan;
2. dimanfaatkan, dalam bentuk sewa, kerja sama pemanfaatan, pinjam pakai, bangun guna serah dan bangun serah guna; atau
3. dipindahtangankan, dalam bentuk penjualan, tukar menukar, hibah, penyertaan modal pemerintah pusat/daerah
Tujuan BMD ditetapkan statusnya
1) dipakaiuntuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsinya.
2) dioperasikan oleh pihak lain untuk menunjang
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD yang menyerahkan Barang Milik Daerah tersebut.
Contoh: Dinas Perhubungan membangun bandara
kemudian diserahkan operasionalnya kepada PT. Angkasa Pura
Tata cara penetapan status penggunaan
1) pengguna melaporkan barang milik daerah yang berada pada SKPD yang bersangkutan kepada pengelola disertai usul
penetapan status penggunaan;
2) pengelola melalui pembantu pengelola, meneliti laporan
barang milik daerah yang berada pada SKPD yang disampaikan oleh pengguna;
3) setelah dilakukan penelitian atas kebenaran usulan SKPD, pengelola mengajukan usul kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan status penggunaannya.
4) penetapan status penggunaan barang milik daerah untuk melaksanakan tugas dan fungsi SKPD dan/atau dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD yang bersangkutan;
Tata cara penetapan status penggunaan
5) penetapan status penggunaan ditetapkan oleh Kepala Daerah melalui Keputusan Kepala Daerah tentang Penetapan Status Penggunaan Barang Milik Daerah.
6) atas penetapan status penggunaan, masing-masing Kepala SKPD melalui penyimpan/pengurus barang wajib
melakukan penatausahaan barang daerah yang ada pada pengguna masing-masing
PEMEGANG KEKUASAAN PENGELOLAAN
BMD
GUBERNUR
PEJABAT PENGELOLA BMD
PENGELOLA BMD
SEKRETARIS DAERAH
PENGELOLA BMD
KEPALA SKPD PENGGUNA BMD
KUASA PENGGUNA
BMD KEPALA UPTD
PENYIMPAN BMD PENGURUS BMD
STAF SKPD/UPTD STAF SKPD/ UPTD
PEMBANTU
PENGELOLA BMD KA. DPPKA
Gub./Bupati/Walikota
Pemegang Kekuasaan PengelolaanBarang Milik Daerah
1. Menetapkan kebijakan pengelolaan BMD;
2. Menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan/atau bangunan;
3. Menetapkan kebijakan pengamanan dan pemeliharaan BMD;
4. Menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan BMD;
5. Mengajukan usul pemindahtanganan BMD yang memerlukan persetujuan DPRD;
6. menyetujui usul pemindahtanganan, pemusnahan, dan penghapusan BMD sesuai batas kewenangannya;
7. menyetujui usul pemanfaatan BMD berupa sebagian tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan; dan
8. Menyetujui usul pemanfaatan BMD dalam bentuk Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur.
Pasal 5 PP 27 Tahun 2014
Sekretaris Daerah Pengelola BMD
1. Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan BMD;
2. Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan BMD;
3. Mengajukan usul Pemanfaatan dan Pemindahtangan BMD yang memerlukan persetujuan Gub/Bupati/Walikota;
4. Mengatur pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, pemusnahan, dan penghapusan BMD;
5. Mengatur pelaksanaan pemindahtanganan BMD yang telah disetujui oleh gubernur/bupati/walikota
atau DPRD;
6. Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi BMD;
7. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan BMD..
Pasal 5 PP 27 Tahun 2014
Kepala SKPD
Pengguna Barang/ Kuasa Pengguna Barang
1. Mengajukan rencana kebutuhan dan penganggaran BMD bagi SKPD yang dipimpinnya;
2. Mengajukan permohonan penetapan status penggunaan BMD yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah;
3. Melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya;
4. Menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.
5. Mengamankan dnn memelihara BMD yg berada dlm penggunaanya
6. Mengajukan usul pemanfaatan dan pemindahtanganan BMD berupa
tanah/bangunan yg tidak memerlukan persetujuan DPRD dan BMD selain tanah bangunan
7. Menyerahkan BMD berupa tanah / bangunan yg tidak digunakan untuk
kepentingan penyelenngaraan tugas pokok dan fungsi SKPD yg di pimpinnya dan sedang tidak di manfaatkan pihak lain kepada Gubernur/Bupati./walikota melalui Pengelola barang
Pasal 5 PP 27 Tahun 2014
Kepala UPTD
Kuasa Pengguna
berwenang dan bertanggung jawab:
a. mengajukan rencana kebutuhan BMD bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada Kepala SKPD;
b. melakukan pencatatan dan inventarisasi BMD yang berada dalam penguasaannya;
c. menggunakan BMD yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan Tupoksi unit kerja yang dipimpinnya;
d. mengamankan dan memelihara BMD yang berada dalam penguasaannya;
e. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan BMD yang ada dalam penguasaannya;
f. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam
penguasaannya kepada Kepala SKPD yang bersangkutan.
Pengakuan Kepemilikan
Asset tetap diakui kepemilikannya setelah:
• Adanya serah terima barang, atau
• Terjadi perpindahan hak
kepemilikan, atau
• Penguasaan secara sah yang didukung dengan bukti-bukti yang kuat
Cakupan Asset Tetap dari Segi Kepemilikan & Penguasaan
Dimiliki dan dikuasai Pemerintah
Dimiliki dan dikuasai BUMN/BUMD
Dimiliki tetapi tidak dikuasai Pemerintah:
• Dikerjasamakan dengan Pihak Ketiga
• Disewakan kepada Pihak Ketiga
• Dikuasai pihak lain dengan izin sah
• Dikuasai pihak lain tidak dengan izin sah
Milik Pemerintah tetapi tidak diketahui
Bukan milik Pemerintah tetapi dikuasai dan digunakan Pemerintah
Pengelolaan Barang Milik Daerah menurut
Permendagri 19/2016
1. perencanaan kebutuhan dan penganggaran
2. Pengadaan
3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran
4. Penggunaan
5. penatausahaan
6. pemanfaatan
7. Pengamanan dan pemeliharaan
8. penilaian
9. penghapusan
10. pemindahtanganan
11. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian
12. pembiayaan
13. TGR
1. PERENCANAAN DAN PENENTUAN KEBUTUHAN
Perencanaan dan Pentuan
Kebutuhan
ALASAN/PERTIMBANGAN:
- Mengetahui besaran organisasi dan personil
- Barang Rusak atau dihapus - Mutasi Staf
- Menjaga tingkat Persediaan barang - Pertimbangan Teknologi
Rencana Kebutuhan Barang ( RKBD ) dan rencana
Kebutuhan Pemeliharaan Barang ( RKPBD )
digunakan sebagai dasar penyusunan RKA SKPD
STANDARISASI BRG STANDARISASI KB STANDARISASI HRG
2. Pengadaan
• Dilaksanakan berdasarkan prinsip efisien, efektif,
transparan dan terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel
• Dilaksanakan oleh pejabat pengelola barang
• Pengadaan BMD dapat dipenuhi dengan cara
pengadaan/pemborongan pekerjaan;
membuat sendiri (swakelola);
penerimaan (hibah atau bantuan/sumbangan atau kewajiban Pihak Ketiga);
tukar menukar; dan
guna susun (peningkatan kualitas dan kapasitas BMD).
3. Penerimaan & Penyaluran Barang
Penerimaan barang dilakukan setelah diperiksa oleh Panitia Pemeriksa Barang dengan membuat BA Pemeriksaan.
Panitia Pemeriksa Barang bertugas untuk memeriksa, meneliti, dan menyaksikan barang yg diserahkan sesuai dg persyaratan yg tertera dlm SPK atau kontrak / perjanjian
BA Pemeriksaan digunakan sebagai salah satu syarat pembayaran
Penyaluran barang / pendistribusian barang dilaksanakan
berdasarkan Surat Perintah Pengeluaran barang/ SPPB dengan Beraita Acara Serah terima
4. Penggunaan
Penetapan status penggunaan barang milik daerah pada
masing-masing SKPD dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
▫ jumlah personil/pegawai pada SKPD;
▫ standar kebutuhan tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan untuk menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi SKPD;
▫ beban tugas dan tanggungjawab SKPD; dan
▫ jumlah, jenis dan luas, dirinci dengan lengkap termasuk nilainya
KONSEPSI PENGGUNAAN BARANG MILIK DAERAH
Pihak Lain Sekda
Selaku
Pengelola Barang S K P D
Selaku Pengguna Barang
Perolehan BMD
Penyelesaian Dok. Kepemilikan
Usul penetapan status penggunaan
Proses Penetapan
Penggunaan Sesuai Tupoksi
Barang Milik Daerah:
•Tidak sesuai Tupoksi
•Berlebih
SK penetapan status penggunaan
Tanah / bangunan yg telah diserahkan
Pemindahtanganan:
•Jual
•Tukar menukar
•Hibah
•PMD
Pemanfaatan:
•Sewa
•KSP
•BSG/BGS
•Pinjam pakai
Tindak Lanjut:
• Pengalihan Status Penggunaan
• Pemanfaatan
• Pemindahtanganan Tanah/bangunan
diserahkan kpd Pengelola Barang
5. Penatausahaan
PEMBUKUAN
Mencatat pada KIB disesuaikan dengan Kebijakan Akuntansi terutama kapitalisasi dan menyimpan bukti kepemilikannya
INVENTARISASI
•Pengguna Barang melakukan inventarisasi BMD 5 th sekali, yang hasilnya disampaikan kepada Pengelola Barang;
•Persediaan dan Konstruksi Dalam Pengerjaan dilaksanakan inventarisasi oleh Pengguna Barang setiap tahun anggaran;
•Laporan hasil inventarisasi disampaikan kepada Pengelola Barang.
PELAPORAN
• Pengguna Barang menyampaikan LBPS dan LBPT kepada Pengelola Barang;
• Pengelola Barang menyusun Laporan BMD untuk NERACA DAERAH.
KEGIATAN PENATAUSAHAAN BMD
PENATAUSAHAAN: Pembukuan (Pencatatan & Pelaporan)
PENYIMPAN BARANG PENGURUS BARANG PENGGUNA/KUASA PENGGUNA
Rencana Kebutuhan BMD
(RKBMD)
Rencana Kebutuhan Pemeliharaan
(RKPBMD)
Pengadaan Barang
Pemeliharaan Barang Penerimaan
Barang
Buku Penerimaan Barang (BPB)
Buku Pengeluaran Barang (BPnB)
Buku Barang Inventaris (BBI)
Buku Barang Pakai Habis
(BBPH)
Daftar Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna (DBP/
DBKP) Buku Inventaris
(BI)
Kartu Barang (KB) Pakai Habis Kartu Barang (KB)
Inventaris
Kartu Persediaan Barang (KPB)
Inventaris
Kartu Persediaan Barang (KBP)
Pakai Habis
Laporan Semester Penerimaan &
Pengeluaran Barang Inventaris
Penyaluaran barang
Barang Inventaris
& Pakai habis dicatat terpisah
Dicatat per jenis barang (kuantitas)
Dicatat per jenis barang (kuantitas
& harga)
Laporan Semester Penerimaan &
Pengeluaran Barang Pakai
Habis
Laporan Mutasi Barang (LMB)
Kartu Pemeliharaan
Barang
Rekap Laporan Mutasi Barang
(RLMB)
Daftar Mutasi Barang (DMB)
Laporan Pemeliharaan
Barang
Rekap Daftar Mutasi Barang
(RDMB)
Laporan Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna Semesteran (LBPS/LBKPS)
Laporan Barang Pengguna/Kuasa
Pengguna Tahunan (LBPT/
LBKPT) Laporan Pemeliharaan
Barang
PENATAUSAHAAN: Inventarisasi (Pencatatan & Pelaporan)
PENGURUS BARANG PENGELOLA/KUASA
PENGELOLA PENGGUNA/KUASA
PENGGUNA
Juknis Sensus
Kartu Inventaris Barang (KIB) A.
Tanah KIB B. Mesin &
Peralatan
Melakukan Inventarisasi
Barang
Kartu Inventaris Ruangan (KIR)
BUKU INVENTARIS (BI) KIB B. Mesin &
Peralatan
KIB D. Jalan, irigasi & jaringan
KIB E. Aset Tetap Lainnya KIB F. Konstruksi Dalam Pengerjaan
DAFTAR BARANG PENGGUNA/
KUASA PENGGUNA (DBP/DBKP)
BUKU INVENTARIS (BI)
DAFTAR BARANG MILIK DAERAH (DBMD)
BUKU INDUK INVENTARIS (BII)
Daftar Usulan Barang Yang Akan
Dihapus
Daftar Barang Milik Daerah Yang
Akan Digunausahakan
Daftar Usulan Barang Yang Akan
Dihapus
Daftar Barang Milik Daerah Yang
Akan Digunausahakan
Daftar Usulan Barang Yang Akan
Dihapus
Daftar Barang Milik Daerah Yang
Akan Digunausahakan Dilakukan tiap 5
tahun sekali
Inventarisasi dilakukan tiap tahun sekali bersama dengan barang persediaan
REKAP BI REKAP BII
REKAP BI
6. Pemanfaatan :
1.SEWA
2. PINJAM PAKAI
3. KERJASAMA PEMANFAATAN 4. BANGUN GUNA
SERAH atau
BANGUN SERAH GUNA
5. KERJASAMA PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR
61
Manfaat Pemanfaatan
• Membuka lapangan kerja
• Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar
• Menambah PAD
Ketentuan Sewa Menyewa Pinjam Pakai KSP BGS/BSG
Kerjasama penyediaan Infrastruktur Pokok
Belum/ tidak dimanfaatkan untuk jangka waktu tertentu Mendapatkan penerimaan negara atau menguntungkan negara
Mitra Semua Subyek
Hukum Pemerintah Semua Badan Hukum
Semua Badan Hukum
Semua Badan Hukum & koperasi
Jangka Waktu
5 tahun 5 tahun 30 tahun
30 tahun 50 tahun Dapat diperpanjang
Dapat
diperpanjang sekali
Dapat diperpanjang
Besaran Formula tarif Tidak dipungut biaya
•Kontribusi tetap
•Kontribusi tetap
•Pembagian keuntungan
•Pembagian kelebihan keuntungan
•kontribusi barang (optional)
•Plg sdkt 10%
bangunan du gunakna untk tugas
pemerintah
Penetapan Mitra Penetapan Pengelola
Penetapan Pengelola
minimal 5
peserta/ peminat
minimal 5 peserta/
peminat sesuai peraturan
63
1. S E W A
a. MENGOPTIMALKAN DAYA GUNA (Brg belum dimanfaatkan) b. MENGUNTUNGKAN PEMDA
c. PENYERAHAN HAK PENGGUNAAN
d. TDK MERUBAH STATUS KEPEMILIKAN
e. JANGKA WAKTU PALING LAMA MAKSIMAL 5 TH DAN DPT DIPERPANJANG f. DIATUR DLM SURAT PERJANJIAN
g. FORMULA BESARAN SEWA TIM PENAKSIR f. DITUANGKAN DLM PERJANJIAN SEWA MENYEWA
HASIL SEWA DISETOR KE KAS
65
2. PINJAM PAKAI
Adalah penyerahan penggunaan barang milik daerah kepada instansi pemerintah, antar pemerintah daerah, yang ditetapkan dengan Surat Perjanjian untuk jangka
waktu tertentu, tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut
berakhir, barang diserahkan kembali
kepada Pemerintah daerah
1. Antara Pemerintah
- Pusat dengan Daerah.
- Daerah dengan Pusat.
- Daerah dengan Daerah
1. Jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun, dapat diperpanjang sekali.
2. Tanpa menerima imbalan.
3. Tidak merubah status kepemilikan.
4. Biaya Ops dan Pemeliharaan ditanggung oleh Peminjam.
66
3. Kerjasama Pemanfaatan
Pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain
tersebut dalam jangka waktutertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu
4. Bangun Guna Serah
Pemanfaatan Barang Milik Daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya
diserahkan dan di catat dalam neraca selanjutnya didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu
tertentu yang disepakati
Bangun Serah Guna
Dilakukan antara pemerintah dan Badan Usaha, yaitu:
a. Perseroan terbatas;
b. BUMN;
c. BUMD; dan/atau
d. Koperasi.
Jangka waktu kerja sama penyediaan infrastruktur paling lama 50 tahun dan dapat diperpanjang
Contoh : Aset non operasional
untuk rekreasi
Aset luas disewakan untuk lapangan golf
Aset kolam renang untuk waterboom
Aset BUMD untuk hotel
7. Pengamanan & Pemeliharaan
PEMELIHARAAN BMD
8. Penilaian
• Penilaian BMD dilakukan dalam rangka pengamanan dan penyusunan neraca daerah, pencatatan, inventarisasi,
pemanfaatan dan pemindahtanganan
• Penilaian BMD berpedoman pada SAP
• Kegiatan penilaian BMD harus didukung dengan data yang akurat atas seluruh kepemilikan barang milik daerah yang tercatat dalam daftar inventarisasi BMD
• Penilaian tanah dan bangunan ditetapkan oleh Kepala Daerah melalui tim dan dapat melibatkan lembaga independen
bersertifikat
• Penilaian BMD selain tanah dan bangunan oleh tim yang ditetapkan oleh pengelola barang dan dapat melibatkan lembaga independen bersertifikat
• Penilaian kembali hanya di perbolehkan jika : 1).nilainya di ragukan, 2).nilainya Rp 1, 3). akan di kerjasamakan dengan pihak ketiga
Studi kelayakan
Aplikasi untuk bidang keuangan
Penetapan pajak atas properti
Transaksi properti
Laporan keuangan
Prospektus investasi
Proses likuidasi
Kompensasi pengambil-alihan
Sengketa hukum atas properti
Asuransi
TUJUAN PENILAIAN
9. Penghapusan
• Dalam hal barang sudah tidak berada pada pengguna atau kuasa pengguna barang, beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan, atau sebab sebab lainnya
• Pemusnahan barang dilakukan oleh pengguna barang sepengetahuan pengelola barang setelah mendapat persetujuan dari kepala daerah
• Penghapusan barang milik Daerah :
▫ barang tidak bergerak seperti tanah dan/atau bangunan
ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan DPRD
▫ barang-barang inventaris lainnya selain tanah dan/atau bangunan sampai dengan Rp. 5.000.000.000,-00 (lima milyar rupiah)
dilakukan oleh Pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.
10. Pemindahtanganan
Pengalihan kepemilikan sebagai tindak lanjut dari penghapusan
Pemindahtanganan tanah dan bangunan serta selain tanah dan bangunan senilai >5milyar rupiah harus dengan persetujuan DPRD yang diajukan oleh kepala daerah
Pemindahtanganan tanah dan bangunan tanpa persetujuan DPRD jika;
Tidak sesuai lagi dengan peruntukan tata ruangnya
Anggaran pengganti telah tersedia
Diperuntukkan bagi pegawai negeri
Diperuntukkan untuk kepentingan umum
Dikuasai oleh negara berdasarkan keputusan pengadilan dan berkekuatan hukum
PEMINDAHTANGANAN
BMD yg diperlukan bagi penyelenggaraan tugas pemerintahan tidak dapat dipindahtangankan.
Bentuk pemindahtanganan :
Penjualan
Tukar menukar
Hibah
Penyertaan Modal
11. Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian
Pembinaan
Pengawasan
Pengendalian
usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, dan supervisi
usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan, apakah dilakukan sesuai
peraturan perundangundangan
usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang
dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
12. Pembiayaan
• Dalam pelaksanaan tertib administrasi pengelolaan
barang milik daerah, disediakan anggaran yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
• Pejabat/pegawai yang melaksanakan pengelolaan barang milik daerah yang menghasilkan pendapatan dan
penerimaan daerah, diberikan insentif.
• Penyimpan barang dan pengurus barang dalam
melaksanakan tugas diberikan tunjangan khusus yang besarannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan
daerah dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.
13. Tuntutan Ganti Rugi
• Setiap kerugian daerah akibat kelalaian,
penyalahgunaan/pelanggaran hukum atas pengelolaan Barang Milik Daerah diselesaikan melalui tuntutan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
• Setiap pihak yang mengakibatkan kerugian daerah dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
• Untuk pengamanan dan penyelamatan barang milik daerah, dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang sanksi terhadap pengelola, pembantu pengelola, pengguna/kuasa pengguna, dan penyimpan dan/atau pengurus barang berupa Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang karena perbuatannya merugikan daerah