• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuatan Mekanik Bahan Logam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kekuatan Mekanik Bahan Logam"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

Kekuatan Mekanik Bahan Logam

TK3106 Peralatan Proses

01

Dr. Pramujo Widiatmoko Dr. A. Zainal Abidin

Teknik Kimia – FTI ITB

(2)

Sifat Logam dan

Kemampuan Bahan Menahan Beban

02

SIFAT LOGAM

❑ Sifat mekanik : kelakuan terhadap beban (tarikan, lenturan, puntiran, geseran, tekanan dan sebagainya).

❑ Sifat fisik : kelakuan terhadap perubahan fisik (panas, listrik, magnet dan sebagainya).

❑ Sifat teknologi : kelakuan terhadap pengerjaan (penuangan, las, pemotongan, dan sebagainya).

BEBAN

❑ Beban adalah gaya luar yang bekerja pada alat.

❑ Beban cenderung merubah bentuk bagian-bagian alat.

❑ Dalam keadaan benda diam, resultante gaya-gaya yang bekerja sama dengan nol.

❑ Satuan beban: kg, ton, kgf, lbf, dsb.

(3)

Beban

03

P P

Beban tarik (tension)

P P

Beban tekan (compression) A

A A

A

Kondisi diam → σ 𝐹 = 0 F1 F2

F3

F4

(4)

Tegangan ( Stress )

04

P P

A

A

A

A

P P

❑ Reaksi gaya kohesif bahan terhadap beban

❑ Tegangan normal (tegak lurus bidang kerja)

❑ Beban tarik mengakibatkan tegangan tarik (tensile stress)

❑ Beban tekan mengakibatkan tegangan tekan (compression stress)

❑ Intensitas beban

σ = tegangan (kg/m2; N/m2 atau Pa)P = beban (kg atau kgf)

A = luas penampang (m2)

σ = P/A

Anggapan

❑ bahan homogen

❑ beban terbagi merata

❑ penampang tegak lurus arah beban

(5)

Regangan ( Strain )

05

❑ Ukuran perubahan bentuk (deformasi) yang diakibatkan oleh beban.

❑ Regangan bisa berasal dari beban mekanik atau pemuaian/pengerutan akibat perbedaan temperatur

ε = L/L

o ε = regangan (tak berdimensi)

L = pertambahan panjang (m) Lo = panjang mula-mula (m)

(6)

Diagram Stress – Strain

06

Keterangan

❑ Batas proporsional (A)

❑ Batas elastik (B)

❑ Titik mulur /yield point (C)

❑ Kekuatan puncak/ultimate stress (D)

❑ Titik patah/breaking point (E)

σ

ε

A B

C

D

E

O σ

u

σ

y

❑ Perancangan selalu bekerja dalam daerah OA

❑ Yield stress logam umumnya 200 s/d 750 MN/m2

(7)

Hukum Hooke

07

❑ Regangan berbanding lurus dengan tegangan.

❑ Berlaku sampai nilai tegangan tertentu (di daerah elastis)

❑ Berdasarkan definisi tegangan/regangan, maka:

❑ Satuan modulus elastisitas : N/m2, psi, kg/cm2

ε = regangan (-)

σ = tegangan (N/m2)

E = Modulus elastisitas/Young (N/m2)

σ = E ε

L = P L / (A E)

(8)

Contoh Data Bahan Teknik

08

Modulus Elastisitas Bahan (106 kg/cm2)

❑ Baja : 2.15

❑ Baja tuang : 0,75 – 1,00

❑ Baja per : 2,25

❑ Tembaga : 1,15

❑ Kuningan : 0,9

❑ Aluminimum : 0,675

❑ Timah hitam : 0,05

❑ Gelas : 0,7

Catatan : regangan bahan teknik jarang melebihi 0,001

(9)

Contoh 1

09

Baja sepanjang 10 in dengan modulus elastisitas 14.000 ton/in2 mengalami tegangan tarik sebesar 10 ton/in2. Berapakah pertambahan panjang akibat beban tersebut?

Diketahui:

L0 = 10 in

E = 14.000 ton/in2 σ = 10 ton/in2

Dengan persamaan dan Maka:

ε = 10/14.000 = 0,00071

L = 10 x 0,0007

= 0,007 in

σ = E ε ε = L/L

o

(10)

Contoh 2

10

Uji tarik terhadap spesimen (diameter 0,798 in dan panjang 4 in) memberikan data sebagai berikut:

o Pada batas proporsional, beban tercatat 8,2 ton dan panjang spesimen bertambah 0,0048 in.

o Pada titik mulur (yield point) beban tercatat 8,6 ton dan pada titik puncak (ultimate point) beban tercatat 15,3 ton.

o Panjang setelah spesimen patah (gabungan dua patahan) adalah 5,56 in dan diameter neck adalah 0,632 in.

Tentukan:

a. Modulus elastisitas bahan

b. Tegangan pada batas proporsional c. Yield stress

d. Ultimate tensile stress e. Regangan

f. Area reduction

(11)

Contoh 2

11

Pada batas proporsional, berlaku Hukum Hooke

P = 8,2 ton L = 4 in ΔL = 0,0048 in A = π D2/4 = π 0,7982/4 = 0,5 in2

(a) Modulus elastisitas

E = P L/(A Δ L ) = 8,2 x 4/(0,5 x 0,0048) = 13.600 ton/in2 (b) Tegangan pada batas proporsional

σ = P/A = 8,2/0,5 = 16,4 ton/in2 (c) Yield stress

σy = P/A = 8,6/0,5 = 17,2 ton/in2 (d) Ultimate tensile stress

σu = P/A = 15,3/0,5 = 30,6 ton/in2 (e) Regangan

ε = (5,56 – 4)/4 x 100% = 39%

(12)

Contoh 3

12

Hitung beban maksimum yang bisa ditanggung oleh baja berdiameter 12 in dan panjang 100 m yang memiliki karakteristik tegangan regangan sesuai kurva berikut.

(13)

Perbandingan Poisson

13

❑ Regangan memanjang (longitudinal) diikuti oleh pengerutan (kontraksi) pada arah sisi (lateral).

❑ Dalam keadaan elastik, regangan sisi berbanding lurus dengan regangan memanjang.

❑ Perbandingan poison = regangan tegak lurus arah beban dibagi dengan regangan searah beban

ε

y

=  ε

x

 = Poisson ratio

P P

x

y Poisson Ratio (1/m)

Baja : 3,3 – 3,6m Besi tuang : 4

Tembaga : 3

Beton : 5,5 - 12 Aluminimum : 3,6

Timah hitam : 2,3

Gelas : 4,5

(14)

14

Regangan Volume

❑ Benda mengkerut/mengembang jika mengalami tekanan eksternal/internal.

❑ Untuk balok : εv = εx (1 - 2)

εv = V/Vo ε v = regangan volume (-)

V = volume panjang (m3) Vo = volume mula-mula (m3)

Lo

ao ao

Vo = ao2 Lo dan V = a2 L

Sesudah penarikan, L = Lo + εx Lo & a = ao - εy ao V = (ao - εy ao)2 (Lo + εx Lo)

= ao2 Lo (1- εy)2 (1+ εx)

= ao2 Lo (1- 2εy + εy2 + εx - 2 εx εy + εx εy2)

= ao2 Lo (1- 2εy + εx)

V = ao2 Lo (1- 2εy + εx) = ao2 Lo (1+ εx(1 - 2εyx)

= Vo (1+ εx(1 - 2εyx)

V/Vo = (V – Vo)/Vo = {Vo (1+ εx(1 - 2εyx) – Vo}/Vo

= εx(1 - 2εyx)

= εx(1 - 2ν)

(15)

15

Tegangan Kerja ( Working Stress )

❑ Tegangan yang dialami bagian alat dalam keadaan normal (operasi)

❑ Umumnya di bawah batas elastis

❑ σw ≤ tegangan maksimum yang masih dapat ditahan pada kondisi elastis

❑ σmaks = tegangan tarik maksimum (ultimate stress)

❑ σf atau σb = tegangan pada waktu patah (break stress atau fracture stress)

FAKTOR TEGANGAN (Stress factor)

❑ Perbandingan tegangan mulur atau tegangan puncak terhadap tegangan kerja

❑ Faktor keamanan (safety factor) jika ultimate stress dibandingkan terhadap working stress (σmaksw > 1 atau 3 s/d 12)

❑ Faktor beban (load factor) jika break stress dibandingkan terhadap working stress

(16)

16

Contoh Soal 4 (Siapkan Kertas)

Batang ABCD mengalami beban P1, P2, P3 dan P4 seperti tampak pada gambar. P1, P3 dan P4 masing-masing 5.000, 25.000 dan 15.000 kg. Luas penampang batang AB, BC dan CD masing-masing 5, 20 dan 10 cm2 sedangkan panjangnya masing-masing 100, 50 dan 75 cm. Tentukan nilai P2 dan pertambahan panjang batang jika modulus

elastisitas bahan diketahui 2x106 kg/cm2.

A B C D

P

1

P

2

P

3

P

4

(17)

17

Contoh Jawaban Soal 4

Dalam keadaan setimbang (resultan gaya bernilai nol):

P1 – P2 + P3 – P4 = 0 → P2 = P1 + P3 – P4 = 15.000 kg Perpanjangan batang AB (beban tarik) => pemanjangan

PAB = P1 = P2 + P4 – P3 → ΔLAB = PAB LAB/(E AAB) Perpanjangan batang BC (beban tekan) => pemendekan

PBC = P1 – P2 = P4 – P3 < 0 → Δ LBC = PBC LBC/(E ABC) Perpanjangan batang CD (beban tarik) => pemanjangan

PCD = P4 = P1 – P2 + P3 → Δ LCD = PCD LCD/(E ACD) Perpanjangan total

ΔL = ΔLAB – ΔLBC + Δ LCD

A B C D

P

1

P

2

P

3

P

4

(18)

18

PR

Determine the diameter d of the steel bolts N of a press for a maximum

compressive force P = 100,000 lbs, see

figure. The working stress for steel in

this case is σ

w

= 10,000 psi. Determine

the total elongation of the bolts at the

maximum load, if the length between

their heads is l = 50 in.

(19)

Energi Regangan ( Resilience )

19

L P

• Energi regangan adalah kerja oleh beban untuk menahan regangan

• U = 0,5 P L = (σ2/2E) A L

• Reselience adalah energi regangan per volume

• U = (σ2/2E)

(20)

Contoh 1

20

Hitung energi regangan dari baut di atas jika mengalami beban tarik 1 ton (UK). Diketahui 1 ton UK = 2.240 lb dan modulus elastisitas bahan 30106 lb/in2.

2" 1"

0 ,6 2 2 " 0 ,7 5 0 "

Luas penampang di bagian ulir = 0,25 π (0,622)2 = 0,304 in2 Luas penampang di bagian batang = 0,25 π (0,750)2 = 0,442 in2 Tegangan di bagian ulir = 2.240/0,304 = 7.380 lb/in2

Tegangan di bagian batang = 2.240/0,442 = 5.070 lb/in2 Energi regangan total = (σ12 A1 L1 + σ22 A2 L2)/(2E)

(21)

Contoh 2 (Siapkan Kertas)

21

Hitung energi regangan dari baut di atas jika mengalami beban tarik 1 ton (UK).

Diketahui 1 ton UK = 2.240 lb dan modulus elastisitas bahan 30106 lb/in2.

2" 1"

0,622"

❑ Luas penampang bagian ulir maupun batang baut sama. Tegangan merata di sepanjang baut (panjang total 3 in)

❑ Luas penampang di bagian ulir maupun batang sama = 0,25 π (0,622)2 = 0,304 in2

❑ Tegangan di bagian ulir maupun batang sama = 2.240/0,304 = 7.380 lb/in2

Energi regangan total = σ2 A L/(2E) = 7.3802  0,304  3 /(2  30106) = 0,827

(22)

Beban Kejut ( Impact Load )

22

W (h + L) = ½ P L, L = PL/(A E) W (h + [PL/(A E)]) = ½ P [PL/(A E)]

½ P

2

– W P – W h A E/L = 0 Akar positif:

P = W + (W

2

+ 2W h A E/L)

½

= W {1 + [1 + 2 h A E / (W L)]

½

} Suddenly applied load, h = 0,

P = 2W ?

h

L W A

L

(23)

Contoh

23

Misalkan berat benda 200 lb dan jatuh dari ketinggian 2 in di atas pelat yang digantung pada batang dengan diameter 1 in dan panjang 10 ft. Hitung tegangan

maksimum pada batang jika modulus elastisitas batang

3010

6

lb/in

2

.

(24)

Contoh

24

σ = P/A = W {1 + [1 + 2 h (¼ π d

2

) E / (W L)]

½

}/(¼ π d

2

)

= 200

𝜋 ⋅ 1

2

/4 1 + 1 + 2 ⋅ 2 ⋅ (𝜋 ⋅ 1

2

/4) ⋅ 30 ⋅ 10

6

200 ⋅ 120

= 16.200 lb/in2

1 + 1 + 2 ⋅ 2 ⋅ (𝜋 ⋅ 1

2

/4) ⋅ 30 ⋅ 10

6

200 ⋅ 120 ≈ 64

Catatan:

(25)

Beban Kejut ( Impact Load )

25

W = 200 lb

d

1

= 1 in, d

2

= 0,5 in L

1

= L

2

= 5 ft

h = 2 in

Tegangan maksimum ? Pertambahan panjang ?

h

L1 d1

W

L d2

L2

(26)

Contoh

26

Misalkan P adalah beban yang ekivalen dengan beban benda yang dijatuhkan secara perlahan:

L = (L

1

/A

1

+ L

2

/A

2

) x (P/E) = a P dimana a = (L

1

/A

1

+ L

2

/A

2

) / E

= 60/(¼ π 0,5

2

+ 60/(¼ π 1

2

} /3010

6

= 1,27 10

-5

in/lb Persamaan energi

W (h + L) = ½ P L

W (h + a P) = ½ P a P

P

2

– 2W P – 2 W h/a = 0

P = W {1 + [1 + 2h/(Wa)]

½

}

(27)

Contoh

27

P = 200 {1 + [1 + 2  2/(200  1,2710

-5

)]

½

}

= 8.140 lb

Tegangan maksimum terjadi pada batang yang lebih kecil σ = P/ (¼ π 0,5

2

) = 41.500 lb/in

2

Pertambahan panjang maksimum

L = a P = 1,27 10

-5

x 8.140 = 0,103 in

(28)

Contoh

28

Beban yang akan diangkat oleh sebuah lift boleh dijatuhkan dari

ketinggian 4 in di atas lantai lift. Berat kotak lift adalah 224 lb. Lift ditahan oleh kawat baja sepanjang 80 ft

dengan berat 0,6 lb/ft. Kawat

tersebut terdiri dari 49 kawat kecil berdiameter 1/16 in. Tegangan kerja kawat adalah 13.000 psi dan modolus elastisitas kawat 10,6 10

6

psi.

Berat maksimum yang boleh diangkut

oleh lift ?

h

49 kawat σmaks

(29)

Contoh

29

Tegangan mula-mula (tanpa benda jatuh):

σ

o

= (224 + 80 x 0,6) / [49 x ¼ π (1/16)

2

] = 1.810 psi Tegangan tambahan yang masih dapat ditahan

σ

t

= σ

kerja

– σ

o

= (13.000 – 1.810) = 11.190 psi Beban statis untuk tambahan tegangan tersebut P = σ

t

A = 11.190 x {49 x ¼ π (1/16)

2

} = 1.680 lb

Pertambahan panjang oleh tambahan tegangan tersebut

 L = σ

t

L/E = 11.190 x 960/ (10,6 10

6

) = 1,025 in Persamaan energi

W (h + L) = ½ P L atau W = ½ P L / (h + L)

W = ½ x 1.680 x 1,025 / (4 + 1,025) = 171 lb

(30)

Contoh

30

d D

x

dx

P P

L

= න

0

𝐿 4𝑃

𝜋(𝑑 + (𝐷 − 𝑑)𝑥/𝐿)2𝐸 𝑑𝑥

= 4𝑃𝐿 𝜋𝐸𝐷𝑑

Diameter pada posisi x d + (D – d) x/L

Pertambahan panjang (L)

(31)

Contoh

31

σa=P/a σA

σ (A+dA) ρAdx

x

dx

Kesetimbangan gaya σ (A+dA) – σA = ρAdx dA/A = ρ /σ dx

ln A = (ρ/σ) x + C SB : A│

x=0

= a

→ C = ln a A = a e

(ρx/σ)

Syarat sebuah tiang

agar memiliki kekuatan merata ?

 = berat jenis bahan tiang a = luas penampang puncak

(32)

Batang Majemuk

32

• Batang yang terbuat dari dua atau lebih bahan berlainan

• Pertambahan/pengurangan panjang sama untuk semua bahan

• Dapat juga terjadi pada sistem mur-baut

(33)

Baja Lapis Tembaga ( Copper Clad Steel )

33

 L

1

= L

2

atau

P

1

/(A

1

E

1

) = P

2

/(A

2

E

2

) P = P

1

+ P

2

➢ Regangan sama

➢ Beban terdistribusi

➢ P 1 = P A 1 E 1 / (A 1 E 1 + A 2 E 2 )

➢ P 2 = P A 2 E 2 / (A 1 E 1 + A 2 E 2 )

A1, E1

A2, E2

P P

tembaga baja

(34)

Contoh

34

Sebuah batang majemuk baja-tembaga dengan luas penampang masing-masing ½ in

2

dan panjang 24".

Batang mengalami beban tarik sehingga meregang sebesar 1/64". Berapakah tegangan yang dialami

masing-masing bahan ? Berapa beban maksimum yang masih dapat ditahan batang secara aman ? Modulus

elastisitas baja dan tembaga masing-masing 30x10

6

psi dan 15x10

6

psi. Tegangan kerja baja dan tembaga

masing-masing 20.000 psi dan 6.000 psi.

(35)

Contoh

35

Fe

= 

Cu

=  = L/ L

o

= (1/64 ")/24" = 1/1536 σ =  E  σ

Fe

= (E

Fe

/E

Cu

) σ

Cu

 σ

Fe

= 2 σ

Cu

σ

Cu

=  E

Cu

= 15·10

6

/1536 = 9.765 psi > σ

kerja-Cu

σ

Fe

= 2 x 9.765 = 19.530 psi < σ

kerja-Fe

Ambil σ

Cu

≤ σ

kerja-Cu

= 6.000 psi

P

maks

= (σ

Cu

A

Cu

+ σ

Fe

A

Fe

) = σ

Cu

A

Cu

+ 2σ

Cu

A

Fe

= 6.000 x ½ + 2 x 6.000 x ½

= 9.000 lb

(36)

Baut – Pipa

36

• Setelah dikencangkan, baut mengalami beban tarik dan pipa mengalami beban tekan

• Gaya tarik pada baut sama dengan gaya tekan pada pipa

• Pergeseran mur = pemanjangan + pengkerutan

(37)

Contoh

37

Pipa tembaga (diameter dalam 1", diameter luar 1

5

/8") dikencangkan dengan sebuah baut baja (diameter ¾") seperti tampak pada gambar. Baut dikencangkan hingga baja mengalami tegangan tarik 1.000 psi. Setengah dari pipa tembaga kemudian dibubut sedalam

1

/16"). Hitung tegangan yang dialami baja setelah pipa tembaga dibubut.

Modulus elastisitas baja ≈ dua kali modulus elastisitas tembaga.

S1 C1 S2 C2A C2B

C = copper, S = steel

(38)

Contoh

38

Kesetimbangan gaya ketika baut dikencangkan

σ

S1

A

S1

= σ

C1

A

C1

 σ

S1

¼d

S12

= σ

C1

¼(d

C1,o2

– d

C1,i2

) σ

C1

= d

S12

/(d

C1,o2

– d

C1,i2

) x σ

S1

= (¾)

2

/{(1

5

/8)

2

– 1

2

} x 1.000

= 343 psi

Kesetimbangan gaya setelah tembaga dibubut σ

S2

A

S2

= σ

C2A

A

C2A

= σ

C2B

A

C2B

σ

C2A

= (A

S2

/ A

C2A

) σ

S2

dan σ

C2B

= (A

S2

/ A

C2B

) σ

S2

atau

σ

C2A

= d

S22

/(d

C2A,o2

– d

C2A,i2

) · σ

S2

(a)

σ

C2B

= d

S22

/(d

C2B,o2

– d

C2B,i2

) · σ

S2

(b)

(39)

Contoh

39

Persamaan regangan

pengurangan panjang baut = pengurangan panjang pipa

S1

– σ

S2

) L/E

S

= (σ

C2A

– σ

C1

) ½L/E

C

+ (σ

C2B

– σ

C1

)

½L/E

C

Karena E

S

= 2E

C

σ

S2

+ σ

C2A

+ σ

C2B

= σ

S1

+

C1

(c) Dari (a), (b), (c) dan informasi yang diberikan/telah

dihitung, diperoleh:

σ

S2

= 940 psi, σ

C2A

= 423 psi dan σ

C2B

= 323 psi

(40)

Contoh

40

Gambar di atas menampilkan sistem baut dan pipa tembaga. Mur mula- mula dikencangkan tanpa tegangan. Mur selanjutnya dikencangkan lagi sebanyak ¼ putaran. Hitung tegangan di masing-masing bahan. Jarak antar ulir baut (pitch) 1/8 in, penampang baut 1 in

2

dan penampang pipa 2 in

2

. Modulus elastisitas tembaga dan bahan baut masing-masing 16·10

6

dan 30·10

6

psi.

30"

(41)

Contoh

41

Pergeseran mur = pemendekan pipa + pemanjangan baut Putaran x Pitch = P L / (A

C

E

C

) + P L / (A

S

E

S

)

P = (Putaran x Pitch / L) {1/(A

C

E

C

) + 1/(A

S

E

S

)}

P = {(¼ x 1/8)/30} {1/(2 x 1610

6

) + 1/(2 x 1610

6

)}

= 16.129 lb

σ

C

= P/A

C

= 16.129 / 2 = 8.064,5 psi

σ

S

= P/A

S

= 16.129 / 1 = 16.129 psi

(42)

Tegangan Suhu

42

• Bahan memuai/mengkerut karena perubahan temperatur

• Tegangan timbul karena pemuaian/pengkerutan ditahan

• Dinyatakan sebagai koefisien muai panjang (λ)

(43)

Tegangan Suhu

43

Regangan suhu (≈ regangan tekan karena pemuaian ditahan)

e = L o λT / {L o + L o λT} ≈ λT Tegangan suhu (≈ tegangan tekan karena

pemuaian ditahan) σ = E λ T

T

o

L

o

T

o

+T

L = L

o

λT

(44)

Tegangan Suhu

44

• Penahanan menyebabkan bahan 1 mengalami beban tekan P dan bahan 2 mengalami beban tarik P.

• Penahanan menyebabkan bahan 1 mengalami beban tekan σ

1

dan bahan 2 mengalami beban tarik σ

2

.

λ2T λ1T

1

2

1 - λ2)T

2

1

1 - λ2T)

(45)

Tegangan Suhu pada Batang Majemuk

45

Regangan tekan bahan 1

1

= P L

o

/ (E

1

A

1

) Regangan tarik bahan 2

2

= P L

o

/ (E

2

A

2

)

Persamaan regangan e

1

– e

2

= 

1

+ 

2

Regangan suhu bahan 1 e

1

= λ

1

L

o

T

Regangan suhu bahan 2 e

2

= λ

2

L

o

 T

𝑃 = (𝜆

1

− 𝜆

2

)Δ𝑇 1 ൗ

𝐸

1

𝐴

1

+ ൗ 1

𝐸

2

𝐴

2

(46)

Contoh

46

Batang tembaga (d= 5/8 in) ditempatkan dalam pipa baja (d

o

= 1 in, d

i

= ¾ in) dan kedua ujungnya ditahan oleh pelat. Dalam

keadaan awal (60 °F), tidak terdapat tegangan. Hitung tegangan pada batang dan pipa jika temperatur dinaikkan menjadi 400 °F.

Tembaga: E = 14·10

6

psi, λ = 10·10

-6

/°F. Baja: E = 30·10

6

psi, λ =

6·10

-6

/°F.

(47)

Contoh

47

Luas penampang

A

C

= ¼d

S2

= ¼ 0,625

2

= 0,307 in

2

A

S

= ¼(d

o2

- d

i2

) = ¼ (1

2

- 0,75

2

) = 0,344 in

2

Beban

𝑃 = (10 − 6) ⋅ 10−6 ⋅ 340

(14 ⋅ 106 ⋅ 0,344)−1 + (30 ⋅ 106 ⋅ 0,307)−1 = 4.127 𝑝𝑠𝑖

• Tegangan

σ

C

= 4.127/0,307 = 1,34·10

4

psi

σ

S

= 4.127/0,344 = 1,20·10

4

psi

(48)

Terima Kasih

48

Gambar

Gambar di atas menampilkan sistem baut dan pipa tembaga. Mur mula- mula-mula dikencangkan tanpa tegangan

Referensi

Dokumen terkait

Tingkat pengetahuan orang tua dalam memilih jajanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian obesitas pada anak disabilitas, sehinggaanak disabilitas

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis ingin melakukan sebuah penelitian dengan judul Pengaruh Program Islamic Social Reporting (ISR) Terhadap Citra Perushaan

Karena bernilai positif, maka berarti kelompok pertama (Eksperimen) memiliki Mean lebih tinggi dari pada kelompok kedua (kontrol). Dari hasil penelitian ini telah ditemukan

Kemudian jika bahan baku sesuai dengan purchase order maka akan dilakukan pengecekan kelayakan bahan baku kembali, jika kelayakan bahan baku tidak sesuai dengan standar

Windi, 3033, fakta, apakah masyarakat msh mendasarkan Pancasila, sbg pandangan Hidup Bangsa Indonesia Adit 3066, indonesia bukan negara agama (Teokrasi),.. Popi

Pada tahun anggaran 2015 Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Lombok Barat telah melaksanakan pelayanan perpustakaan keliling ke desa dan sekolah secara

Berdasarkan hasil pengujian yang mengacu pada perumusan serta tujuan dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel pengalaman,

Independensi adalah sikap tidak memihak kepada kepentingan siapapun dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan yang dibuat oleh pihak manajemen (Persadi 2012)