Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binja 1 ANALISA DAN PERANCANGAN ANTENA KALENG
SEBAGAI APLIKASI WIFI 2,4 Ghz
Relita Buaton, ST., M.Kom.
1, Yani Maulita S.Kom., M.Kom.
2Program Studi Teknik Informatika, STMIK Kaputama
Jln.Veteran No.4A-9A, Binjai, Indonesia
Abstrak
Penulisan ini, bertujuan untuk merancang dan membuat antena kaleng sebagai aplikasi wifi 2,4 GHz. Antena kaleng yang telah dirancang akan diaplikasikan sebagai antena penerima atau antena client. Anten akaleng adalah merupakan alternative lain sebagai pengganti reflektor yang terbuat dari bahan kaleng bekas dan sepotong kawat tembaga yang disolder ke ujung konektor tipe N-fimale, untuk peralian dari kabel Coaxial ke bumbung gelombang elektromagnetik.
Antena kaleng tergolong antena jenis circular waveguide, yang mempunyai ruas penampang berbentuk lingkaran. dalam penulisan ini antena dirancang menggunakan perhitungan ¼ λ. Untuk dapat memudahkan perhitungan dalam pembuatan antena kaleng dapat menggunakan software cantennator 1.0. Antena kaleng yang telah dirancang memiliki gain sebesar 8,2817 Db. Berdasarkan hasil pengukuran pola radiasi, antena kaleng yang telah dirancang memiliki pola pancar jenis directional.
Kata Kunci : Antena Kaleng, Wireless LAN 2,4 GHz, Line Of Sight.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Seiring dengan perkembangan zaman pada masa sekarang ini, internet sangat dibutuhkan hampir setiap orang.
Dimana jaringan internet dibutuhkan untuk saling berkomunikasi dan bertukar data.
Apalagi sekarang ini sudah banyak di kantor-kantor, kampus, sekolah-sekolah maupun instansi-instansi lain yang menyediakan Free Hostpot. Free hotspot yaitu jaringan wifi yang dibuka secara bebas atau gratis. Dalam arti kata semua orang dapat menggunakannya dengan secara bebas. Sehingga timbul pemikiran seseorang untuk dapat terkoneksi dengan jaringan internet di rumah tanpa harus ke warnet dengan memanfaatkan jaringan internet di lingkungan hostpot tersebut.
Pada umumnya, untuk terkoneksi dengan jaringan internet dilingkungan hotspot membutuhkan sebuah perangkat untuk penerimaan sinyalnya yaitu “Antena”.
Dimana antena pada umunya digunakan untuk menerima sinyal dari stasiun pemancar.
Mengingat semakin banyaknya instansi-instansi yang menyediakan hotspot secara bebas atau gratis, maka timbul pemikiran seseorang untuk membuat antena dengan sepotong kawat tembaga yang di solder ke ujung konektor dengan
menggunakan reflektor dari sebuah kaleng bekas untuk menerima sinyal wifi pada lingkungan hotspot. Atau lebih di kenal dengan istilah “Antena Kaleng”.
Antena kaleng, pada masa sekarang ini sangat banyak digunakan dilingkungan hotspot untuk menerima sinyal dari stasiun pemancar dengan jarak berkisar 1 – 2 Km Line Of sight. Dari artikel-artikel yang telah dibaca, antena kaleng banyak digunakan di daerah pulau jawa. Bahkan sudah banyak di blog – blog juga website yang menyertakan
“Step By Step” pembuatan antena kaleng.
Namun tutorial yang ada di internet memiliki cara dan hasil yang berbeda-beda.
Bahkan ada juga yang menyertakan di dalam blog, antena kaleng tidak memilik gain.
Dalam arti kata antena kaleng tidak dapat di gunakan dalam penangkapan sinyal wifi 2,4 GHz. Dan ada juga yang menyertakan di dalam blog, besar dan kecilnya gain antena kaleng tergantung dengan diameter dan panjang kalengnya.
1.2 Perumusan Masalah Penelitian Berdasarkan uraian di atas akan diajukan perumusan masalah penelitian ini, sebagai berikut :
1. Bagaimana cara membuat antena kaleng sebagai aplikasi WIFI 2,4 GHz.
2. Kelebihan dan kekurangan dari antena
kaleng.
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 2
3. Hanya membahas perangkat – perangkat fisik jaringan Wireless Lan.
4. Kaleng OLI UNION yang berukuran 1 liter dan berdiameter 10 cm.
5. Pengukuran paremeter antena menggunakan software cantennator.
6. Pengujian dilakukan hanya sebatas pada terkoneksinya Server
( access point) dengan antena kaleng.
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1. Membuat antena kaleng untuk dijadikan sebuah aplikasi WIFI 2,4 GHz di lingkungan hotspot.
2. Memanfaatkan jaringan wifi dilingkungan hotspot dengan menggunakan antena kaleng.
3. Untuk mendapatkan antena kaleng yang dapat beroperasi pada jaringan Wireless Lan 2,4 Ghz.
1.3 Manfaat Penelitian
1. Memberikan solusi kemudahan kepada masyarakat yang ingin terkoneksi dengan jaringan internet dilingkungan hotspot tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.
2. Dapat mengakses internet dirumah tanpa harus ke warnet.
3. Menambah wawasan dalam bidang teknologi jaringan internet, khususnya untuk mengetahui perkembangan- perkembangan dalam pembuatan antena wireless-LAN.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Antena
Antena secara umum adalah sebuah perangkat yang di gunakan untuk menerima sinyal dari stasiun pemancar. Dan juga dapat disebut perangkat komunikasi yang tidak memerlukan kabel sebagai alat penghubungnya, namun memakai gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ke udara melalui sebuah antena.
Antena (antenna atau areal) didefinisikan sebagai suatu struktur yang berfungsi sebagai pelepas energi gelombang elektromagnetik di udara dan juga bisa sebagai penerima/penangkap energi gelombang elektromagnetik diudara.
Antena digunakan untuk pertama kalinya, tahun 1989 oleh heinrich Rudolph hertz (1857 – 1894), yang tujuannya untuk membuktikan keberadaan gelombang
elektromagnetik yang sebelumnya telah diprediksi oleh James Clerk Maxwell.
Asal kata antena berhubungan dengan apa yang diciptakan oleh Guglielmo Marconi. Pada tahun 1895, Marconi mencoba untuk menguji adanya gelombang radio dengan menggunakan tiang yang tingginya 2,5 meter. Dan kawat digunakan sebagai radiasi dan menerima aliran listrik.
Dalam bahasa italia dikenal sebagai antena central dan kawat yang melilitnya disebut
“Antenna”.
2.2 Karakteristik Antena 1. Pola Radiasi Antena
Pola radiasi (radiation pattern) merupakan salah satu parameter penting dari suatu antena. Parameter ini sering dijumpai dalam spesifikasi suatu antena, sehingga pembaca dapat membayangkan bentuk pancaran yang dihasilkan oleh antena tersebut. Dalam hal ini, maka pola radiasi disebut juga pernyataan secara grafis yang menggambarkan sifat radiasi dari antena (pada medan jauh) sebagai fungsi dari arah.
Dimensi pola radiasi yang sudah diplot sesuai dengan hasil pengukuran sinyal radiasi dari suatu antena.
2. Polarisasi (Polarization)
Polarisasi didefinisikan sebagai orientasi medan listrik gelombang elektromagnetik. Polarisasi pada umumnya digambarkan seperti elips. Dua kasus istimewa polarisasi elips adalah polarisasi linear dan polarisasi sirkular. Awal polarisasi gelombang radio ditentukan oleh antena.
Dalam polarisasi sirkular, vektor medan listrik kelihatannya berotasi dengan gerakan berputar searah arah propagasi, membuat satu putaran penuh untuk setiap siklus RF. Rotasi ini mungkin berada di sebelah kanan atau sebelah kiri. Pilihan polarisasi adalah salah satu pilihan bentuk yang tersedia kepada sistem perancang RF.
3. Directivity dan Gain
Directivity adalah kemampuan
antena untuk memusatkan energi di arah
yang tertentu sewaktu memancarkan, atau
untuk menerima energi dari arah yang
tertentu sewaktu menerima. Jika sebuah
sambungan nirkabel menggunakan lokasi
tetap untuk kedua sisi, maka sangat
memungkinkan untuk menggunakan antena
directivity untuk memusatkan sorotan radiasi
di arah yang diinginkan.
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 3
Gain (Penguatan) bukanlah kuantitas yang bisa didefinisikan dalam bentuk fisik seperti Watt atau Ohm, tetapi Gain adalah rasio yang tidak berdimensi.
Gain diberikan sesuai dengan rujukan kepada antena standar. Dua antena yang biasanya digunakan sebagai rujukan adalah antena isotropic dan antena dipole setengah gelombang. Antena Isotropic memancar sama baiknya ke segala arah. Antena isotropic yang sesungguhnya tidak pernah ada, tetapi antena ini menyediakan pola antena teoretis yang berguna dan sederhana yang dapat dibandingkan yang dengan antena sesungguhnya.
Gain sebuah antena pada sebuah arah adalah banyaknya energi yang dipancarkan dalam arah itu sebanding dengan energi yang diradiasikan oleh antena isotropic dalam arah yang sama ketika didorong dengan daya masukan yang sama.
Biasanya kita hanya tertarik pada gain maksimum, yang merupakan gain dalam arah dimana antena memancarkan sebagian besar dayanya. Metode mengukur gain dengan membandingkan antena yang sedang diuji terhadap antena standar yang ada, yang mempunyai gain yang terkalibrasi, secara teknis dikenal sebagai teknik gain transfer.
Metode lain untuk mengukur gain adalah metode 3 antena, dimana metode 3 antena ini membandingkan nilai level sinyal yang tertinggi dari ke tiga antena tersebut.
4. Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) SWR atau lebih lengkapnya VSWR adalah singkatan dari Voltage Standing Wave Ratio, biasa di sebut dengan SWR.
Atau kalau diterjemahkan secara bebas adalah, Perbandingan Tegangan Gelombang Berdiri. Mungkin kata “berdiri” di sini akan menimbulkan kesan atau pertanyaan tersendiri. Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan menconba memberikan gambaran mengenai VSWR. SWR ini harus diamati pada waktu kita memasang antena untuk mendapatkan hasil yang baik dan menjaga awetnya perangkat transceiver.
Perbandingan antara arus maksimum dengan arus minimum atau perbandingan antara voltage maksimum dengan voltage minimum in disebut Standing Wave Ratio (SWR).
SWR ini besarnya tergantung dari besarnya arus balik, makin besar arus balik, maka SWR menjadi makin besar pula.
Adanya standing wave pada feeder line ini tidak dikehendaki karena hal ini memberikan indikasi adanya mismatch. Arus balik ini akan masuk ke final dan ditransformasikan menjadi panas, dimana panas ini bila cukup tinggi akan dapat merusak final.
5. Beamwidth
Beamwidth antena biasanya dipahami sebagai lebar beam saat daya setengah. Puncak intensitas radiasi ditemukan, dan lalu ujung kedua puncak yang melambangkan setengah daya intensitas puncak ditemukan. Jarak bersiku diantara ke dua ujung daya setengah didefinisikan sebagai beamwidth. Setengah daya yang diekspresikan dalam decible adalah -3dB, sehingga beamwidth setengah daya beamwidth kadang-kadang dirujuk sebagai beamwidth 3dB. Beamwidth Horizontal maupun Vertikal biasanya dipertimbangkan.
6. Bandwidth
Bandwidth atau lebar pita frekuensi dari suatu antena adalah daerah frekuensi kerja suatu antena yang dibatasi oleh VSWR tertentu. Biasanya bandwidth dibatasi pada VSWR ≤ 2. Pada antena pita lebar atau broadband, bandwidth merupakan perbandingan antara frekuensi atas dengan frekuensi bawah, contoh : bandwidth 10:1 mengindikasikan bahwa frekuensi atas 10 kali lebih tinggi dari frekuensi bawah.
Sedangkan pada antena pita sempit atau narrowband, bandwidth dinyatakan dalam persentase dari perbedaan frekuensi (atas dikurangi bawah) yang melewati frekuensi tengah bandwidth, contoh: bandwidth 5%
mengindikasikan bahwa perbedaan frekuensi adalah 5% dari frekuensi tengah bandwidth.
Adapun persamaan untuk mendapatkan bandwith yang diinginkan dinyatakan dengan :
Dimana : BW = bandwidth lebar pita, MHz untuk VSWR < 2:1
f = frekuensi operasi, GHz
t = tebal bahan, dalam Inchi (kebanyakan ketebalan board tersedia dalam satuan 1/32 Inchi = 0,794 mm)
7. Impedansi Saluran
32 / 4
21 t
f
BW
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 4
Pada frekuensi tinggi tiap daerah pada kabel transmisi memiliki nilai impedansi yang berbeda-beda. Untuk mencapai kondisi transfer daya maksimal, maka impedansi beban harus sama dengan impedansi saluran. Demikian juga pada bagian sumber, impendansi output sumber harus sama dengan impedansi input saluran.
2.3 Signal Propagation 1. Jenis Propagation Signal
Propagasi sinyal dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu;
a. Graud Wave Propagation.
Perambatan sinyal jenis ini adalah untuk sinyal dengan frekuensi dibawah 2 MHz. Sinyal dengan frekuensi rendah akan cendrung merambat mengikuti skuktur bumi.
b. Sky Wave Propagation
Selain perambatan sinyal dengan mengikuti struktur bumi, juga dapat merambatkan sinyal melalui udara dan dapat dipantulkan dengan bantuan ionosphere.
Namun untuk perambatan sinyal melalui udara harus memperhatikan frekuensi yang akan dipancarkan, karena ionosphere hanya dapat memantulkan frekuensi antara 2 sampai 30 MHz. Sinyal dengan frekuensi diatas 30 MHz akan diteruskan ke luar angkasa dan tidak kembali ke bumi lagi.
c. LOS Propagation
Untuk sinyal dengan frekuensi diatas 30 MHz harus memasang antena pemancar dan penerima secara Line Of Sight atau dengan kata lain kedua antena harus dapat terlihat masing-masing sisi sehingga sinyal yang terpancar dapat langsung diterima oleh antena yang lain.
Pada dasarnya antena digunakan untuk memperpanjang jarak pancar. Ada banyak tipe antena yang dapat digunakan, tergantung pada aplikasi dan lokasi dimana akan dipasang :
a. Disisi client, biasanya digunakan antena pengarah, seperti antena parabola, antena kaleng dan lain sebagainya.
d. Disisi access point, digunakan antena omni (atau antena vertikal), antau antena sektoral.
Karena pengukuran ini menggunakan frekuensi 2,4 GHz, maka harus menggunakan line of sight agar sinyal yang dipancarkan melalui udara tidak hilang keluar ionosphere.
2.4 Wireless
Teknologi komunikasi wireless adalah suatau operasi komunikasi tanpa menggunakan suatu media yang terlindung atau terbungkus seperti kabel, tetapi menggunakan media udara sebai jalur komunikasi untuk mengirimkan sinyal atau data pada setiap tujuannya. Sistem wireless menggunakan suatau gelombang radio atau gelombang elektromagnetik sebagai jalur komunkasinya.
Pada awalnya teknologi ini berasal dari penemuan Telegraf yang diciptakan pada tahun 1895 dan terus berkembang sehingga akhirnya saat ini telah banyak terjadi kemajuan dibidang telekomunikasi, contohnya Radio, Televisi, Telepon Selular, dan komunikasi Satelit. Selain itu masih terdapat beberapa model alat yang menggunakan teknologi wireless yaitu peralatan komputer tanpa kabel seperti keyboard dan mouse wireless, remote control, global positioning system (GPS), dan wireless-LAN.
2.5 Wireless-LAN
Wireless-LAN adalah salah satu aplikasi pengembangan dari wireless yang digunakan untuk komunikasi data. Wireless- LAN adalah jaringan lokal (dalam satu gedung, ruang, kantor, wilayah, dan sebagainya, bukan antar kota) yang menggunkan kabel.
Dengan adanya wireless-LAN ini, maka biaya pengeluaran yang digunakan untuk membuat suatu infrastruktur jaringan dapat ditekan menjadi lebih rendah dan mendukung suatu jaringan Mobile (dapat berpindah) yang menawarkan berbagai keuntungan dalam hal Efisiensi proses akulasi, dan biaya pengeluaran.
2.6 Perangkat WIFI (Wireless Fidelity) Adapun perangkat WIFI digunakan untuk penerus sinyal dan penerima sinyal, antara lain :
1. Acces Point
Access Point atau sering disebut dengan AP, sebenarnya mempunyai kesamaan fungsi dengan Hub dan Switch.
Access point merupakan tipe spesial dari wireless station yang menerima transmisi radio dari station radio lainnya di jaringan wireless dan meneruskan sinyal-sinyal tersebut ke jaringan terakhir.
Access Point bisa merupakan
sebuah perangkat yang berdiri sendiri atau
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 5
sebuah komputer yang berisikan sebuah adapter jaringan wireless yang berhubungan dengan special access point management software.
2. PCI WLAN card (Peripheral Component Interconnect Wereless Local Area Netwotk)
PCI WLAN card dapat digunakan untuk indoor dan juga outdoor. WLAN card yang bisa digunakan di outdoor perlu disambungkan dengan antena luar, jadi jarak jangkauannya bisa lebih luas. Perlu dicatat bahwa tidak semua PCI WLAN card dapat digunakan komunikasi jarak jauh diluar ruangan (Purbo, 2003).
3. PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association)
PCMCIA adalah merupakan Adapter yang ini sering digunakan pada laptop yang mempunyai slot PCMCIA, namun pada laptop sekarang sudah dilengkapi perangkat WIFI yang terintegrasi.
Salah satunya adalah laptop dengan teknologi Centrino milik Intel Alat ini dapat ditambahkan pada notebook dengan pada PCMCIA slot. Model PCMCIA juga tersedia dengan tipe G atau double transmit.
4. USB WIFI Adaptor (Universal Serial Bus Wireless Fidelity)
USB WIFI merupakan perangkat baru dan praktis pada teknologi WIFI. Alat ini mengambil power 5V dari USB port.
Untuk kemudahan USB WIFI adapter dengan fleksibel ditempatkan bagi notebook dan PC. Tetapi pada perangkat USB WIFI Adapter memiliki keterbatasan. Sebaiknya mengunakan USB port 2.0 karena kemampuan sistem WIFI mampu mencapai data rate 54 Mbps. Jika ingin memerlukan kepraktisan, penambahan perangkat Wireless USB adaptor adalah pilihan yang tepat, karena bentuknya yang praktis dan dapat dilepas. Tetapi perlu diingat bahwa dengan supply power kecil dari USB port juga memilki jangkauan lebih rendah, selain bentuk antena yang ditanam didalam cover plastik akan menghambat daya pancar dan penerimaan pada jenis perangat ini.
Perangkat ini lebih praktis, karena pemasangannya tidak perlu membongkar casing. Cukup colokan saja pada port USB yang ada pada komputer, atau pada laptop.
2.5 Kabel Coaxial
Kabel Coaxial digunakan untuk menghubungkan pemancar radio ke antena
seperti terlihat pada Gambar 2.20. Setiap kabel Coaxial didsain dengan macam- macam impedansi. Dalam peralatan WIFI, biasanya kabel coaxial menggunakan impedansi sebesar 50 Ohm, jika tidak ada impedansi, maka sinyal radio yang akan dipantulkan kembali ke pemancarnya. Untuk menghindari pemantulan kembali dari sinyal yang dipancarkan, maka impedansi dari kabel coaxial harus tepat 50 Ohm. Berikut dibawah ini merupakan kabel coaxial yang terlihat isi dari bagian dalamnya.
2.6 Konektor
Pada umumnya konektor digunakan sebagai media transmisi penghubung.
Dimana jenis-jenis konektor serta kegunaannya dapat dilihat berikut ini.
1. Jenis-Jenis Konektor
Sambungan antara peralatan WLAN, coaxial, dan antena menjadi sangat penting artinya. Arena konektor merupakan peredam daya jika instalasinya kurang baik.
Paling tidak konektor yang baik akan membutuhkan daya sekitar 0.3 -0.5 dB.
Konektor N dan SMA dirancang untuk bekerja pada frekuensi tinggi. Ada beberapa tipe konektor yang digunakan untuk instalasi WLAN yaitu :
a. N-Female
N-Female biasanya digunakan pada sisi antena yang akan menghubungkan antena dengan radio.
b. N-Male
N-Male biasanya digunakan pada sisi radio yang akan menghubungkan radio dengan antena.
c. Konektor SMA Male
Biasanya dihubungkan dengan kabel coaxial kecil (pigtail) untuk duhubungkan ke konektor pada WLAN card. Kadang-kadang dikenal juga sebagai Reserver Polarity konektor SMA.
d. Konektor SMA Female
Konektor SMA berfungsi untuk menyambungkan WLAN card yang terpasang konektor SMA untuk coaxial kecil ke kabel coaxial LMR atau Heliax yang diameternya lebih besar, biasnaya dibuatkan kabel penghubung dengan konektor yang berbeda (N dan SMA). Kabel ini dikenal sebagai pigtail.
2.7 Pigtail
Pada frekuensi 2,4 GHz, biasanya
menggunakan konektor tipe N untuk antena
maupun kabel coaxial yang digunakan.
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 6
Karena konektor yang ada di WLAN card biasanya lebih kecil, maka perlu penggunaan adapter yang bisa disebut pigtail. Pada dasarnya sebuah kabel coaxial pendek yang mempunyai konektor tipe SMA atau lainnya diujung yang lain.
2.8 Teori Waveguide
Waveguide adalah saluran tunggal yang berfungsi untuk menghantarkan gelombang elektromagnetik (microwave) dengan frekuensi 300 MHz – 300 GHz.
Dalam kenyataannya, waveguide merupakan media transmisi yang berfungsi memandu gelombang pada arah tertentu. Secara umum waveguide dibagi menjadi 3 yaitu, yang pertama adalah Rectanguler Waveguide (waveguide dengan penampang persegi) dan yang kedua adalah Circular Waveguide (waveguide dengan penampang lingkaran), dan Ellips Waveguide (waveguide dengan penampang ellips).
Sedangkan panjang waveguide dapat dihitung dengan persamaan rumus di bawah ini:
2
. 706 .
1 1
D
G
Keterangan :
G = Panjang Waveguide (cm)
= Panjang Gelombang (m/s) D = Diameter (cm)
Untuk perhitungan panjang gelombang
f
C
Keterangan :
C = Cepat Rambat Cahaya (3x10
8m/s)
Panjang Gelombang f = Frekuensi
3. METODOLOGI PENULISAN Untuk menyelesaikan penelitian ini, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Metode pengumpulan data, metode ini dilakukan dengan cara mempelajari buku-buku tentang antena dan browsing di Internet tentang tutorial pembuatan antena kaleng.
2. Metode Perancangan, yaitu melakukan perancangan bagai mana untuk merancang antena kaleng.
3. Metode eksperimen, yaitu melakukan percobaan - percobaan berkenaan penelitian pembuatan antena kaleng guna untuk memperoleh hasil yang lebih bagus.
4. Menganalisa hasil – hasil percobaan, serta mengaplikasikan penelitian ini ke sistem yang nyata dimana akan diterapkan dikalangan masyarakat.
3.1 Alat dan Bahan Yang Dibutuhkan Dalam Pembuatan Antena Kaleng
Sebelum melakukan langkah perancangan dan pembuatan antena kaleng sebagai aplikasi WIFI 2,4 GHz, terlebih dahulu untuk menyiapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan. Antara lain sebagai berikut :
1. Alat
Adapun alat-alat yang dibutuhkan untuk membuat antena kaleng sebagai aplikasi WIFI 2,4 GHz, antara lain yaitu :
a. Mesin Bor
b. Mata Bor (3.5mm dan 12mm) c. Penggaris/meteran
d. Solder e. Timah f. Tang Potong g. Obeng 2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat antena kaleng sebagai aplikasi WIFI 2,4 GHz, antara lain yaitu :
a. Kaleng
b. Kawat Tembaga c. Konektor N-Female d. Pigtail
3.2 Langkah-Langkah Perancangan Dan Pembuatan Antena Kaleng
Adapun langkah-langkah perancangan sebelum melakukan pembuatan antena kaleng sebagi aplikasi WIFI 2,4 GHz antara lain yaitu langkah-langkah pengukuran yang mana susunannya dapat dilihat sebagai berikut:
1. Mengukur Diameter Kaleng
Saat pembuatan antena kaleng 2,4 GHz, hal utama yang harus dilakukan adalah mengukur diameter kaleng.
Dimana diameter kaleng disimbolkan dengan D. Berikut ditunjukan pada gambar III.1.
D
Program Studi : Teknik Informatika, STMIK Kaputama Binjai 7
Gambar III.1 Diameter kaleng Dari gambar diatas, maka diameter antena kaleng adalah merupakan jenis circular waveguide. Yaitu antena yang mempunyai ruas penampang berbentuk lingkaran.
Dimana telah ditetapkan dalam perhitungan circular wavegudie, untuk frekuensi 2,4 GHz ini mempunyai ketetapan ukuran diameter pada frekuensi yang digunakan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran, Tabel Circular Waveguide Size.
2. Panjang Waveguide
Antena kaleng merupakan antena yang bersifat waveguide circular, antena yang memiliki ruas penampang berbentuk lingkaran. Antena ini memiliki panjang minimum atau L minimum 0,75 G, dimana G adalah panjang waveguide yang dapat dihitung dengan persamaan (1).
2
. 706 .
1 1
D
G
2