• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK ANALISA PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUMAH RAMAH GEMPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK ANALISA PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUMAH RAMAH GEMPA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK ANALISA PERENCANAAN PEMBANGUNAN RUMAH RAMAH GEMPA

Ondra Eka Putra, S.Kom, M.Kom, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

e-mail : [email protected]

Abstract - The thesis is to build an expert system for the elucidation foundation dimensions, dimensions and reinforcement columns, beams, roof beams Sloof and appropriate to the building earthquake-friendly homes with Forward Chaining method. Aim to help ordinary people in the earthquake-friendly home plans precast system. This system analyzes the problem of determining the dimensions of the foundation, dimensions and reinforcement columns, beams, and roof beams Sloof.

Foundation dimensions, dimensions and reinforcement columns, beams, and roof beams Sloof is determined by the type of precast structural system, number of floors, type of soil, and the area of the earthquake zone. The results obtained from these experts is sitem information form the foundation dimensions, dimensions and reinforcement columns, beams, roof beams Sloof and appropriate for earthquake-friendly homes are planned. The analysis is done by determining the basis of precast structural system, number of floors, type of soil, and the area of the earthquake zone that is displayed by this expert system program, the design of the system uses forward chaining inference, with the implementation of the system using the system MySQL database and PHP programming language.

From design expert system application is made, then the layman with civil engineering to determine the dimensions of the foundation, dimensions and reinforcement columns, beams, roof beams Sloof and appropriate for earthquake-friendly homes with running expert system application.

Keywords: expert systems, foundations, precast structure system, soil type, zone earthquake area

Latar Belakang

Sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti layaknya para pakar (expert). Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli.

Pengembangan sistem pakar, diharapkan bahwa orang awam pun dapat menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli. Bagi para ahli, sistem pakar ini juga akan membantu aktifitasnya sebagai asisten yang sangat berpengalaman.

Seiring dengan terjadinya gempa di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Sumatera Barat, maka sangat penting membuat bangunan yang ramah gempa untuk meminimalisir terjadinya kerusakan akibat gempa. Penentuan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap rumah dalam pembangunan sangat menentukan apakah bangunan rumah tersebut ramah terhadap gempa. Pada penelitian ini penulis ingin membahas tentang penerapan sistem pakar pada proyek pembangunan rumah ramah gempa dengan menggunakan

metode Fordward Chaining yang merupakan Inferensi Enggine dalam sistem pakar. Sistem pakar dengan menggunakan metode Forward Chaining sudah banyak dikembangkan dalam berbagai bidang, diantaranya dalam bidang medis, kesehatan, dan ilmu pengetahuan lainnya. Forward Chaining merupakan proses penurutan yang dimulai dengan menampilkan kumpulan data atau fakta yang meyakinkan menuju konklusi akhir.

Berkaitan dengan kebutuhan informasi yang begitu cepat tanpa mengenal ruang dan waktu pada saat ini, maka sistem pakar pembangunan rumah ramah gempa ini dibuat berbasiskan web. Ini akan memudahkan masyarakat untuk mengakses sistem dan memudahkan pakar untuk mengupdate pengetahuan, sehingga akan menghasilkan sistem yang lebih baik dan up to date.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dari pemilihan judul diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah. Diantaranya yaitu :

1. Bagaimana merancang sistem pakar yang mampu menganalisa proyek pembangunan rumah ramah gempa?

2. Bagaimana cara memasukkan pengetahuan pakar pembangunan rumah ramah gempa dalam sistem pakar ?

(2)

3. Bagaimana cara menguji sistem pakar untuk menganalisa pembangunan rumah ramah gempa?

Landasan Teori Sistem Pakar

Sistem Pakar adalah salah satu teknik kecerdasan buatan yang menirukan proses penalaran manusia. Sistem pakar menirukan apa yang dikerjakan oleh seorang pakar ketika mengatasi permasalahan yang rumit, berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, (Sri Hartati, Sari Iswanti , 2008).

Sistem pakar adalah program komputer yang merupakan cabang dari penelitian ilmu komputer yang disebut AI (Anita Desiani, Muhammad Arhami, 2005).

Tujuan ilmu AI adalah membuat sesuatu menjadi cerdas dalam hal pemahaman melalui program komputer yang ditunjukkan dengan tingkah laku cerdas.

Sistem pakar merupakan program AI yang difungsikan untuk menirukan pakar manusia harus bisa melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan oleh seorang pakar. Program ini sangat inovatif dalam menghimpun dan mengemas pengetahuan. Keampuhan paling utamanya terletak pada kemampuan dan penggunaan praktisnya bila di satu tempat tidak ada seorang pakar dalam suatu bidang ilmu.

Oleh karena itu, sistem pakar akan mengubah peta keahlian. Ilmu pengetahuan selama ini hanya dimonopoli oleh pakar-pakar yang langka dan hanya ada di kota-kota besar dan kota yang memiliki Universitas. Suatu saat nanti, kepakaran akan tersebar secara luas di seluruh pelosok tanah air. Sebagai akibat logis penyebaran kepakaran, daerah-daerah yang langka pakar akan terbantu dalam mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. Sistem pakar akan memberikan nilai tambah baru pada teknologi untuk membantu kita menangani informasi yang sekarang ini semakin canggih. Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, sistem pakar akan memberikan sumbangan besar dalam melaksanakan pembangunan di berbagai bidang yang pada gilirannya akan membutuhkan pakar-pakar yang tangguh dan berpengalaman.

Sistem pakar adalah sebuah perangkat lunak komputer yang memiliki basis pengetahuan untuk domain tertentu dan menggunakan penalaran inferensi menyerupai seorang pakar dalam memecahkan masalah (I Made Sukarsa, Ni Wayan Wisswani. 2009.

Rancang Bangun Sistem Pakar Untuk Perbaikan Kecepatan dan Kegagalan Koneksi

Peralatan Eksternal Pada Personal Komputer.

Jurnal Teknologi Elektro, vol 8).

Lebih lanjut, sistem pakar merupakan tipe khusus sistem basis pengetahuan karena mengandung pengetahuan heuristis. Heuristis pertama-tama berasal dari pengalaman kehidupan nyata dan bukan dari teksbook. Heuristis merupakan pengetahuan yang datang secara langsung dari pakar-pakar berpengalaman, yang telah bekerja selama bertahun-tahun dalam suatu disiplin ilmu.

Heuristis adalah pengetahuan yang berasal dari “belajar dari pengalaman” (learning by doing). Heuristis merupakan pengetahuan yang sangat berguna, terutama berhubungan dengan masalah sehari-hari yang sedang bergulat mencari solusi, untuk menghasilkan keputusan-keputusan positif.

Struktur Sistem Pakar

Sistem Pakar memiliki beberapa komponen utama yaitu antar muka pengguna (user interface), basis data sistem pakar (expert system database), fasilitas akuisisi pengetahuan (knowledge acquisition facility), dan mekanisme inferensi (inference machinism). Selain itu ada satu komponen yang hanya ada beberapa sistem pakar yaitu fasilitas penjelasan (explanation facility) (Kusrini , 2006), berikut gambar struktur sistem pakar :

User

Antarmuka

Aksi Yang Direkomendasikan

Fasilitas Penjelasan

- Interpreter - Scheduler - Consitency Enforcer

BLACKBOARD

Rencana Agenda

Solusi Deskripsi

Penyaring Pengethuan

Basis Pengetahuan Fakta : Apa yang diketahui tentang area

domain Aturan : Logical Reference

Rekayasa Pengetahuan

Pengetahuan Ahli Motor Inferensi

Penambahan Pengetahuan Fakta-fakta tentang

kejadian khusus

Gambar 1 Struktur Sistem Pakar (Sri Kusumadewi, 2003)

Berdasarkan struktur sistem pakar pada gambar 2.1 komponen-komponen sistem pakar terdiri dari :

1. Basis Pengetahuan, berisi pengetahuan- pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami, memformulasikan dan menyelesaikan masalah.

(3)

2. Subsistem Penambahan Pengetahuan, bagian ini digunakan untuk memasukan pengetahuan, mengkontruksi atau memperluas pengetahuan dalam basis pengetahuan. Pengetahuan itu berasal dari ahli, buku, basisdata, penelitian dan gambar.

3. Inference Enggine, program yang berisi metodologi yang digunakan untuk melakukan penalaran terhadap informasi- informasi dalam basis pengetahuan dan blackboard, serta digunakan untuk memformulasikan konklusi, ada 3 elemen utama dalam inference enggine, yaitu:

1. Interpreter : mengeksekusi item- item agenda yang terpilih dengan menggunakan aturan-aturan dalam basis pengetahuan yang sesuai.

2. Scheduler : akan mengontrol agenda.

3. Consistency Enforcer : akan berusaha memelihara kekonsistenan dalam merepresentasikan solusi yang bersifat darurat.

4. Blackboard, merupakan area dalam memori yang digunakan untuk merekam kejadian yang sedang berlangsung termasuk keputusan sementara. Ada 3 tipe keputusan yang akan direkam, yaitu :

1. Rencana : bagaimana menghadapi masalah.

2. Agenda : aksi-aksi yang potensial yang sedang menunggu untuk dieksekusi.

3. Solusi : calon aksi yang akan dibangkitkan.

5. Antarmuka , digunakan untuk media komunikasi antara user dan program.

6. Subsistem Penjelasan, digunakan untuk melacak respon dan memberikan penjelasan tentang kelakuan sistem pakar secara interaktif melalui pertanyaan : 1. Mengapa suatu pertanyaan

ditanyakan oleh sistem pakar ? 2. Bagaiman konskulasi dicapai ? 3. Mengapa ada alternatif yang

dibatalkan ?

4. Rencana apa yang digunakan untuk mendapatkan solusi ?

7. Sistem Penyaring Pengetahuan, sistem ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem pakar itu sendiri untuk melihat apakah pengetahuan- pengetahuan yang ada masih cocok untuk digunakan di masa mendatang.

Metode Forward Chaining

Forward chaining adalah metode inference enggine yang mencocokan fakta

atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis. (Sri Kusumadewi, 2003).

Pelacakan ke depan (Forwad Chaining) merupakan pelacakan yang memulai penalarannya dari sekumpulan data menuju suatu kesimpulan (Ali Ibrahim, 2010.

Pengembangan Sistem Pakar Identifikasi Hama dan Penyakit Tanaman Kelapa. Jurnal Generic, 1907- 4093).

Operasi dari sistem fordward chaining dimulai dengan memasukan sekumpulan fakta yang diketahui ke dalam memori kerja (working memory), kemudian menurunkan fakta baru berdasarkan aturan yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui. Proses ini dilanjutkan sampai dengan mencapai goal atau tidak ada lagi aturan yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui (Riskadewi dan Antonius Hendrik, 2005. Penerapan Sistem Pakar Fordward Chaining Berbasis Aturan Pada Pengawasan Status Penerbangan. Jurnal INTEGRAL, vol 10).

Gambar 2 Bagan Dari Forward Chaining

Contoh pemakaian forward chaining dimana konklusi yang dicari adalah G (Goal: G) R1 = Jika A dan C Maka E

R2 = Jika D dan C Maka H R3 = Jika B dan E Maka F R4 = Jika B Maka C R5 = Jika F Maka G

Langkah-langkah yang diambil oleh proses penalaran dengan forward chaining diatas adalah sebagai berikut:

1. Komputer mengambil rule yang pertama (R1). Terdapat A pada posisi JIKA karena nilai A belum ada pada memori dan tidak ada rule yang memuat konklusi A, maka komputer akan menanyakan jawaban dari A kepada user (diasumsikan benar).

2. Setelah A terpenuhi maka giliran C yang akan diperiksa nilainya, tetapi tidak ada nilai C pada memori. Meski demikian C merupakan konklusi dari rule R4. Sistem akan beralih ke rule R4.

3. Terdapat B pada posisi JIKA dari rule R4. Karena tidak terdapat pada memori dan bukan merupakan konklusi dari rule, maka komputer akan menanyakan

(4)

jawaban untuk B (diasumsikan dijawab benar). Dengan demikian konklusi C diinputkan ke memori.

4. Dengan diinputkannya konklusi C pada memori, maka syarat untuk konklusi E pada rule R1 terpenuhi juga. Konklusi E diinputkan ke memori, kemudian komputer akan mencari rule dengan E pada posisi JIKA dan akan mendapatkan rule R3.

5. Pada rule R3 nilai B dan E terdapat pada memori dengan nilai benar, maka konklusi F terpenuhi dan akan diinputkan ke memori. Komputer kemudian mencari lagi rule dengan F pada posisi JIKA dan akan mendapatkan rule R5.

6. Konklusi G pada rule R5 terpenuhi, karena F bernilai benar dan sistem pakar akan menghasilkan kesimpulan G.

Rumah Ramah Gempa

Suatu bangunan dikatakan ramah gempa bila mengikuti filosofi bangunan ramah gempa :

1. Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun pada komponen strukturalnya.

2. Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-strukturalnya akan tetapi komponen struktural tidak boleh rusak.

3. Bila terjadi gempa besar, banguan boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen strukturalnya, akan tetapi jiwa penghuni bangunan tetap selamat.

Artinya sebelum bangunan runtuh masih cukup waktu bagi penghuni bangunan untuk keluar dari bangunan.

Sistem Struktur Pracetak

Sistem struktur pracetak yaitu sistem struktur yang dibuat terlebih dahulu sebelum dilakukan pemasangan pada bangunan, ada 2 sistem struktur pracetak yang sangat berkembang : 1. Struktur Open Frame

Pada struktur portal terbuka (open frame), dinding sering digunakan sebagai partisi pemisah dibagian dalam atau penutup luar bangunan pada struktur portal beton bertulang maupun struktur portal baja, khususnya untuk bangunan rendah dan bertingkat sedang. Dinding pengisi tersebut dipasang apabila struktur utama sudah selesai dikerjakan, jadi pelaksanaannya bersamaan dengan pelaksanaan finishing bangunan. Oleh sebab itu, dalam perencanaannya

dianggap sebagai komponen non- struktur, bahkan keberdaannya tidak menjadi permasalahan dalam pemodelan struktur asalkan intensitas beban yang timbul sudah diantisipasi terlebih dahulu (dianggap sebagai beban merata).

Meskipun dikategorikan sebagai komponen non-struktur tetapi dinding mempunyai kecendrungan berinteraksi dengan portal yang ditempatinya terutama bila ada beban horizontal (akibat gempa) yang besar.

2. Struktur Infilled Frame

System struktur dinding pengisi dimana kontribusi infill panel (dinding atau panel pengisi rangka) diperhitungkan dalam menahan beban lateral.

Gambaran Umum

Sistem pakar untuk mnentukan perencanaan rumah ramah gempa ini menggunakan metode inferensei maju (Fordward Chaining). Pemilihan metode ini didasari karena metode ini cocok diterapkan untuk memperoleh hasil keputusan untuk menentukan perencanaan rumah ramah gempa.

Dalam menentukan rumah ramah gempa, bahwa ada beberapa faktor secara umum yang mempengaruhi dalam perencanaan rumah ramah gempa, yaitu : sistem struktur yang digunakan, jenis tanah, jumlah lantai rumah, dan zona wilayah gempa.

Sistem Struktur Bangunan Jenis Tanah Jumlah Lantai Zona Wilayah Gempa HASIL ANALISIS

Gambar 3 Faktor yang mempengaruhi Penentuan Dimensi Pondasi, Dimensi dan Tulangan Kolom, Balok, Sloof dan Balok Atap

Berdasarkan gambar diatas dijelaskan bahwa, sistem struktur dibagi atas sistem open frame dan infilled frame, jenis tanah yang terdiri dari tanah keras, dan tanah lunak untuk menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap.

(5)

Analisa kebutuhan

Analisa kebutuhan merupakan langkah pertama untuk menentukan pembuatan sistem seperti apa yang akan dihasilkan. Perangkat lunak yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, dan pengguna sangat tergantung kepada keberhasilan dalam melakukan analisa kebutuhan.

Pada sistem pakar perencanaan rumah ramah gempa, dimulai dengan pembuatan sebuah basis pengetahuan.

Pengetahuan yang berasal dari pakar tersebut dipresentasikan kedalam bentuk-bentuk satuan pengetahuan.

Proses inferensi yang digunakan perencanaan rumah ramah gempa ini adalah pelacakan maju (Fordward Chaining). Proses penalaran dimulai dari sekumpulan data yang menuju pada suatu kesimpulan. Dalam penalaran ini aturan (rule) akan diuji melalui penalarannya dari sekumpulan data yang mendukung hipotesa tersebut menuju kesimpulan. Penalaran maju (Forward Chaining) dimulai dengan user menentukan sistem struktur pracetak yang digunakan, dari sistem struktur tersebut user dapat melihat dan menentukan gambaran umum dari struktur bangunan berupa jumlah lantai bangunan yang akan dibangun oleh user. Kemudian user memilih dan menentukan jenis tanah dan zona wilayah gempa pada lokasi tempat mendirikan bangunan. Berdasarkan pilihan user, sistem pakar akan membaca aturan atau fakta untuk mencari aturan yang cocok, tahap berikutnya sistem pakar akan membaca aturan dan mencocokannya kembali. Dari proses tersebut akan didapatkan kesimpulan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap pada bangunan tersebut, jika ada aturan atau rule yang baru maka akan dijadikan sebagai pengetahuan yang baru oleh sistem secara otomatis.

Knowledge Base

Berdasarkan gambar 4.2 knowledge base merupakan pemrosesan yang dilakukan oleh sistem pakar untuk pemrosesan pengetahuan, bukan pemrosesan data seperti yang dikerjakan dengan pemrograman secara konvensional yang kebanyakan dilakukan oleh sistem informasi.

Cara merepresentasikan pengetahuan berbasis kaidah memanfaatkan apa yang disebut dengan kaidah, yang tidak lain adalah pernyataan IF-THEN dimana bagian THEN akan bernilai benar jika satu atau lebih sekumpulan fakta atau hubungan antar fakta diketahui benar, memenuhi bagian IF. Secara umum, dalam bentuk kaidah produksi IF premis THEN konklusi; maka

untuk premis yang lebih dari satu dapat dihubungkan dengan operator and atau or.

Sedangkan bagian konklusi dapat berupa kalimat tunggal, beberapa kalimat yang dihubungkan dengan and, dan dimungkinkan dikembangkan dengan else.

Dalam penelitian ini, knowledge base berisi dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap serta faktor-faktor yang menentukannya.

Dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap diasumsikan sebagai objek, dan faktor-faktor yang menentukannya diasumsikan sebagai daftar atribut.

Dalam merepresentasikan pengetahuan, sistem pakar akan menampilkan pilihan jenis-jenis sistem stuktur, zona wilayah gempa, pilihan yang diberikan oleh user akan disimpan sebagai fakta di database.

Dalam mendukung penalaran untuk perencanaan rumah ramah gempa, maka pengetahuan yang diperoleh dari pakar dapat direpresentasikan dalam bentuk pohon keputusan sebagaimana terlihat pada gambar 4.3

Hasil Analisis dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap.

P K1 K2 B1 B2 F1 F2 C1 C2

A1 A2 A3 A4

S1 S2 L1 L2 T1 T2 Z1 Z2

Gambar 4.3 Desain Aktivitas Perencanaan Rumah Ramah Gempa

(6)

Dari gambar 4.3 terlihat bahwa setiap faktor yang mempengaruhi penentuan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap pada rumah ramah gempa mempunyai beberapa kreteria, misalnya untuk menentukan faktor jenis sistem struktur pracetak (A1), terdiri dari beberapa pilihan untuk jenis sistem struktur pracetak. Penentuan jenis sistem struktur bertujuan untuk mengetahui sistem struktur pracetak yang digunakan, kerena karakteristik dari sistem struktur berbeda. Jenis sistem struktur “Open Frame (S1)” merupakan jenis sistem struktur rangka terbuka. Jenis sistem struktur “Infilled Frame (S2) merupakan sistem struktur rangka dengan dinding pengisi.

Setelah menentukan jenis sistem struktur pracetak yang digunakan dilanjutkan dengan penentuan “Jumlah Lantai (A2)”

rumah yang akan dibangun. Jumlah lantai “1 Lantai (L1)” untuk luas rumah 36 m2. Jumlah lantai “2 Lantai (L2)” untuk luas rumah 66 m2.

Setelah menentukan jumlah lantai dari rumah yang akan dibangun dilanjutkan dengan penentuan “Jenis Tanah (A3)” tempat dibangunnya rumah. Penentuan jenis tanah ini bertujuan untuk mengetahui jenis tanah, karena karakteristik dari tanah dari suatu tempat yang satu dengan tempat yang lain tidak selalu sama. Jenis Tanah “Keras (T1)”

Teg ijin yang terjadi 1 Kg/cm2. Jenis Tanah

“Lunak (T2)” teg ijin yang terjadi 0,5 Kg/cm2. Setelah menentukan jenis tanah tempat lokasi mendirikan rumah dilanjutkan dengan penentuan “Zona Wilayah Gempa (A4)” tempat mendirikan bangunan yang

ditetapkan oleh BMKG. Zona wilayah gempa Indonesia terbagi atas 6 Zona. Dalam penentuan zona wilayah gempa dipilih zona yang mewakili yaitu “Wilayah Gempa 4”

untuk spektrum gempa sedang dan “Wilayah Gempa 6” untuk spektrum gempa kuat.

Berdasarkan representasi pengetahuan untuk perencanaan rumah ramah gempa dalam menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap maka disusun aturan (rule) sebagai berikut :

Tabel 1 Daftar Aturan (Rule)

(7)

Inference Engine

Mesin Inference merupakan otak dari sistem pakar, berupa perangkat lunak yang melakukan tugas inferensi penalaran sistem pakar, biasa dikatakan sebagai mesin pemikir (Thingking Machine). Pada prinsipnya mesin inilah yang akan mencari solusi dari suatu permasalahan. Konsep yang biasanya digunakan untuk mesin inferensi adalah runut balik (Backward Chaining), yaitu proses penalaran yang berawal dari tujuan yang kita inginkan menelusuri fakta-fakta yang mendukung untuk mencapai tujuan. Selain itu dapat juga menggunakan runut maju (Forward Chaining), yaitu proses yang bermula dari kondisi yang diketahui menuju tujuan yang diinginkan.

Inference Engine berfungsi menganalisa data yang ada dan menarik kesimpulan berdasarkan aturan yang ada. Pada sistem pakar untuk perencanaan rumah ramah gempa ini terdapat fasilitas untuk membantu user dalam melakukan identifikasi perencanaan rumah ramah gempa, terlebih dahulu user harus mengisi data identitas.

Setelah melakukan pengisian identitas, user diarahkan kehalaman perencanaan rumah ramah gempa untuk memulai identifikasi masalah dengan memilih kategori input sebagai fakta berupa pemilihan sistem struktur yang digunakan, jumlah lantai yang direncanakan, jenis tanah dan zona wilayah gempa mendirikan rumah. Kemudian sistem akan mencocokan fakta dengan premisnya berdasarkan aturan (rule) yang ada pada knowledge base. Proses ini dilanjutkan sampai dengan mencapai goal atau tidak ada lagi aturan yang premisnya cocok dengan fakta yang diketahui. Untuk lebih jelasnya inference enggine dapat dilahat pada gambar dibawah ini :

(8)

START

Cek Dalam Basis Aturan

Tampilkan Goal Apakah Fakta Sesuai

Premis ? - Jenis Sistem Struktur Open Frame - Jumlah Lantai “ 2Lantai”

- Jenis Tanah “Tanah Keras”

- Zona Wilayah Gempa “ WG 4”

Pencarian Atrutan

STOP

Dimensi Pondasi : 1.3 x1.3 x 0.2 Dimensi Kolom : 150 x 150, Tulangan Kolom : 4D16 Dimensi Balok : 150 x 150, Tulangan Balok : 4D13 Dimensi Sloof : 150x200,Tulangan Sloof : 4D10 Dimensi Balok Atap : 150x150,Tulangan Balok Atap : 4D10

T Y

Gambar 4 Inference Enggine Forward Chaining

Algorithma sistem pakar untuk menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap dalam perencanaan rumah ramah gempa.

Digambarkan pada gambar 4 pada algorithma tersebut terlihat proses penelusuran dimulai dengan memilih sistem struktur.

START

Input Identitas User

Input Kategori

Form ! Null

Hasil Keputusan

STOP T

Y

Y T

Y Pilih Event

Validasi Form

Form ! Null

Validasi Form Pilih Event

Select From Database Where Pilihan Baca Pilihan Kategori

Gambar 5 Flow Chart Algorithma Inference Engine

Explaining Facilities (Fasilitas Penjelasan)

Fasilitas penjelasan sistem pakar dirancang dengan tujuan untuk memberikan penjelasan user bagaimana sistem pakar ini dijalankan. Bentuk penjelasannya dapat berupa keterangan tutor mengenai sistem struktur, jenis tanah dan spektrum gempa.

Tampilan Interface Sistem

Berikut tampilan antarmuka sistem dengan user berupa pemilihan kategori input sistem.

Gambar 6 Gambar Interface Sistem

Setelah user melakukan login, maka selanjutnya user memilih kategori yang ada

(9)

pada sistem. untuk mendapatkan hasil atau keputusan sistem maka user harus memilih semua kategori. User memilih sistem struktur pracetak yang digunakan dengan cara klik sistem struktur pracetak yang diinginkan. Jenis sistem struktur ada 2 pilihan, seperti Open Frame dan Infilled Frame. Kemudian user memilih jumlah lantai rumah yang akan dibangun. Jumlah lantai ada 2 pilihan seperti 1 lantai dan 2 lantai. Kemudian user memilih jenis tanah pada lokasi rumah yang akan dibangun. Jenis tanah ada 2 pilihan seperti tanah keras dan tanah lunak. Kemudian user memilih zona wilayah gempa pada lokasi rumah yang akan dibangun. Zona wilayah gempa ada 2 pilihan seperti WG 4 dan WG 6.

Kemudian untuk melihat hasil diagnosa user memilih event “Lihat Hasil”.

Tampilan Form Kesimpulan

Tampilan form kesimpulan yang merupakan tampilan jawaban dari pilihan user. Sistem akan bekerja dan memberika kesimpulan kepada user berupa dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, balok atap, dan sloof yang digunakan.

Penentuan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, balok atap, dan sloof didapat dari analisa yang dilakukan oleh penulis dan faktor-faktor penentuan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, balok atap, dan sloof yang benar adalah penentuan sistem struktur yang digunakan, jumlah lantai, jenis tanah dan zona wilayah gempa. Gambar form kesimpulan dapat dilihat pada gambar 5.5 :

Gambar 7 Tampilan Form Kesimpulan Pengujian Sistem

Setelah perangkat lunak yang dibuat bisa dijalankan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian.

Pengujian sistem dilakukan untuk melihat sejauh mana kebenaran dari sistem pakar ini bekerja, dengan melihat kesamaan hasil antara pengujian manual dengan pengujian sistem.

Untuk mengetahui hasil pengujian output dari sistem pakar ini, pertama dilakukan proses input data user, kemudian dilanjutkan dengan proses diagnosa, proses dimana sistem akan memberikan sejumlah pertanyaan berupa sistem struktur yang akan digunakan, jumlah lantai, jenis tanah dan zona wilayah gempa lokasi mendirikan rumah. Pengujian sistem dilakukan user dengan memilih pertanyaan yang diberikan, berikut pengujian sistem yang dilakukan user dengan memilih kategori sebagai fakta bagi sistem berdasarkan rule dibawah ini :

Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Ada beberapa faktor yang menentukan

dalam perencanaan rumah ramah gempa.

Faktor yang mempengaruhi tersebut diperoleh dari beberapa pilihan yang diberikan sistem, sehingga akan dihasilkan perencanaan rumah ramah gempa dalam penentuan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap.

2. Jenis / karakteristik tanah, jumlah lantai dan zona wilayah gempa sangat mempengaruhi dalam menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap untuk rumah ramah gempa.

3. Sistem yang dirancang dapat menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap yang tepat untuk rumah ramah gempa berdasarkan data pilihan user yang dimasukan. Penalaran fordward chaining bisa digunakan untuk melakukan penelusuran faktor-faktor dan kriteria-

(10)

kriteria untuk mendapatkan hasil dalam menentukan dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap dalam perencanaan rumah ramah gempa.

4. Output dari sistem ini dalam bentuk informasi dimensi pondasi, dimensi dan tulangan kolom, balok, sloof dan balok atap yang tepat untuk perencanaan rumah ramah gempa.

DAFTAR PUSTAKA

Arhami, M & Desiani, Anita. 2005. Konsep Kecerdasan Buatan. Penerbit ANDI : Palembang.

Hakim, Lukmanul. 2008. Membongkar Trik Rahasia Para Master PHP. Penerbit LOKOMEDIA : Yogyakarta.

Hartati, Sri & Iswanti, Sari. 2008. Didtem Pakar & Pengembangannya. Graha ilmu : Yogyakarta.

Iano, J. 2002. Dasar-Dasar Kontruksi Bangunan. Erlangga : Jakarta Kadir, Abdul. 2009. Aplikasi Web Dengan

PHP + Database MySQL. Penerbit ANDI : Yogyakarta.

Kusrini. 2006. Aplikasi Sistem Pakar. Penerbit ANDI : Yogyakarta.

Kusuma, Gideon & Takim Andriono. 1993.

Desain Struktur Rangka Beton Bertulang Di Daerah Rawan Gempa. Erlangga : Jakarta

Kusumadewi, Sri. 2003. Artificial Intelligence.

Graha Ilmu : Yogyakarta.

Nawy, E.G & Tavio, Benny Kusuma. 2010.

Beton Bertulang. ITSpress : Surabaya

Nugroho, Bunafit. 2005. Database Relasional Dengan MySQL. Penerbit ANDI : Yogyakarta.

Gambar

Gambar  1  Struktur  Sistem  Pakar  (Sri  Kusumadewi, 2003)
Gambar  3  Faktor  yang  mempengaruhi  Penentuan  Dimensi  Pondasi,  Dimensi  dan  Tulangan  Kolom,  Balok,  Sloof  dan  Balok  Atap
Gambar  4.3  Desain  Aktivitas  Perencanaan  Rumah Ramah Gempa
Tabel 1 Daftar Aturan (Rule)
+3

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan untuk plat lantai dan tangga beton. Tahap V : Perencanaan kolom dan balok Meliputi asumsi dimensi awal kolom dan balok, analisis beban yang terjadi

Struktur atas mencakup perencanaan atap (kuda-kuda) dan beton bertulang ( plat lantai, tangga, balok dan kolom), sedangkan struktur bawah mencakup struktur pondasi. Dalam

Struktur atas mencakup perencanaan atap (kuda-kuda) dan beton bertulang ( plat lantai, tangga, balok dan kolom), sedangkan struktur bawah mencakup struktur pondasi. Dalam

Diagram gaya aksial kolom akibat beban gempa ke arah kanan (positif) pada portal awal .... Tulangan longitudinal pada Kolom

Batasan dari perencanaan struktur ini adalah, perencanaan struktur atap (kuda-kuda) dan beton bertulang (plat lantai, tangga, balok, kolom dan perencanaan pondasi)

Sistem struktur frame murni (balok – kolom) sebagai penahan gempa tidak efisien untuk membatasi defleksi lateral akibat gaya gempa, karena dimensi frame mirni

d) Dapat membuat permodelan elemen struktur precast (pondasi, sloof, dinding dan ring balk) pada rumah sederhana tahan gempa berbasis

Perancangan gedung perkuliahan ini mencakup struktur plat atap, plat lantai, tangga, kolom, balok, pondasi tiang pancang, poer dan sloof. Kata kunci: perancangan, sistem