Feng Shui Concept At The Chinese Tombs Site Of Pandan Island Kendari Amaluddin Sope
Abstract
The issues raised in this study are how characteristics of Chinese tombs on the Kendari Pandan Island site and feng shui principles in Chinese tombs? The purpose of this study is to capture artifact data that can provide information about the characteristics of Chinese tombs consisting of several attributes and the application of Feng Shui principles in tomb buildings. The research is built on a survey model framework supported by literature stud- ies. The results of the analysis showed that each tombs has the same attributes of the tomb, due to damage to some attributes of the tomb, thus complicating the identification process.
However, in general, the Chinese tombs are seen from the aspects of location, orientation, and attribute form, based on the perspective of Feng Shui is appropriate and has a lot of positive energy (Sheng Chi-naga cosmic breath) flowing.
Keywords: feng shui; sheng chi; chinese tomb
1. Pendahuluan
Wilayah Indonesia yang pertama kali di- datangi oleh bangsa Cina berdasarkan ke- terangan sejarah Cina adalah Palembang, yang merupakan pusat perdagangan kera- jaan Sriwijaya pada masa lalu (Jayusman, 2019:5). Bukti arkeologis yang mendukung keberadaan orang Cina di Indonesia, yaitu berupa penemuan keramik Cina dari masa Dinasti Han (abad ke-2 M) (Efflina 2009:1).
Diaspora orang Cina ke Indonesia dapat di- golongkan ke dalam beberapa periode, masa
kerajaan, kedatangan bangsa Eropa, dan ma- sa kolonialisme Belanda (Chusna, 2009:18).
Periode pertama, Nusantara masih di- perintah oleh raja-raja. Jumlah orang Cina masih sedikit, bermukim di sekitar pelabuhan dan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Periode ini dikenal dengan kedatangan bangsa Cina untuk berdagang. Periode kedua, terjadi setelah bangsa Eropa datang di wilayah Asia Tenggara pada abad XVI. Kehadiran orang- orang Eropa membuat wilayah Asia
Pascasarjana Arkeologi Universitas Gadjah Mada.
Jln. Sosio Humaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
KONSEP FENG SHUI PADA MAKAM CINA DI SITUS PULAU PANDAN KENDARI
Abstrak. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteris- tik makam Cina pada situs Pulau Pandan Kendari dan prinsip Feng Shui pada makam- makam Cina tersebut? Tujuan penelitian ini untuk menjaring data artefaktual yang dapat memberikan informasi mengenai karakteristik makam Cina yang terdiri atas beberapa atribut dan penerapan prinsip Feng Shui pada bangunan makam. Penelitian dibangun ber- dasarkan kerangka kerja model survei yang ditunjang dengan studi pustaka. Hasil analisis memperlihatkan bahwa masing-masing makam memiliki perbedaan karena terjadinya keru- sakan pada beberapa atribut makam, sehingga menyulitkan proses identifikasi. Namun, secara umum, makam-makam Cina tersebut dilihat dari aspek lokasi, orientasi dan bentuk atribut, berdasarkan perspektif Feng Shui sudah sesuai dan memiliki banyak energi positif (Sheng Chi-nafas kosmis Naga) yang mengalir.
Kata kunci: feng shui; sheng chi; makam cina
Tenggara semakin ramai. Situasi tersebut mendorong migrasi bangsa Cina yang se- makin meningkat dan diikuti kegiatan berdagang. Periode ketiga, ketika kekuasaan Nusantara berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Periode ini menandai bang- sa Cina dalam jumlah yang besar, mereka tidak hanya didorong oleh kepentingan da- gang, tetapi juga kebutuhan ekonomi secara umum. Selain itu, Belanda sengaja menda- tangkan orang-orang Cina untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja bagi proyek per- tambangan dan perkebunan (Chusna, 2009:18-19)
Orang Cina di Asia Tenggara adalah su- ku-suku Hokkian, Teochiu, Kanton, Hakka, dan Hainan. Hal ini disebabkan, berdasarkan asal mereka yang kebanyakan dari wilayah Provinsi Selatan, seperti Guandong, Fujian dan Guangxi (Dahana 2000:56). Kehadiran orang Cina atau yang selanjutnya disebut etnis Tionghoa di Indonesia diikuti juga dengan kehadiran Tridharma, yaitu Kon- fusianisme, Taoisme, dan Buddhisme yang menjadi dasar falsafah etnis Tionghoa hing- ga kini.
Dalam pandangan etnis Tionghoa, ke- matian bukanlah kesedihan dan makam merupakan bagian penting dalam tahapan kehidupan selanjutnya. Masyarakat Tiong- hoa mengagungkan sebuah konsep ke- percayaan bahwa arwah leluhur masih dapat berpengaruh pada keberkahan hidup keluar- ga yang ditinggalkan. Oleh sebab itu masyarakat Tionghoa berusaha untuk melakukan penghormatan terhadap leluhur.
Bagian dari usaha tersebut adalah memilih lokasi yang tepat untuk pembangunan
makam dengan menggunakan prinsip ilmu Feng Shui yang merupakan tradisi turun temurun (Asiati, 2017:16).
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana karakteristik makam Cina pada situs Pulau Pandan Kendari dan prinsip Feng Shui pada makam-makam Cina terse- but?. Adapun hal-hal yang melandasi pen- tingnya penelitian ini dilakukan, yaitu didasari atas pertimbangan bahwa eksplorasi terhadap potensi arkeologis di wilayah situs Pulau Pandan Kendari merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan. Selain itu, penelitian yang berkenaan dengan makam- makam Cina di Kendari juga belum pernah dilakukan. Dari eksplorasi tersebut ter- ungkap temuan berupa makam-makam Cina yang kondisinya sudah mengalami kerusa- kan pada beberapa atribut makam. Diketahui berdasarkan hasil penelusuran, bahwa makam-makam Cina di situs Pulau Pandan adalah satu-satunya makam Cina di Kota Kendari yang berasal dari masa Belanda dan lokasinya terpisah dari pemakaman umum Cina di Kendari.
Penelitian ini bertujuan untuk menge-
tahui karakteristik makam Cina dan penera-
pan prinsip ilmu Feng Shui pada makam
Cina di situs Pulau Pandan Kendari. Karak-
teristik makam diperlukan dalam analisis
Feng Shui, karena setelah memperoleh
karakteristik makam secara umum, maka
dapat membantu menemukan prinsip-prinsip
Feng Shui yang terdapat pada makam Cina
tersebut. Karakter secara umum adalah salah
satu atribut atau ciri-ciri yang membuat ob-
jek dapat dibedakan. Dengan demikian,
karakter dapat digunakan untuk memberikan gambaran atau deskripsi fisik dengan penekanan terhadap sifat-sifat, ciri-ciri yang spesifik dan khusus, yang membuat objek tersebut dapat dikenali dengan mudah dalam (Cynthia, 2007:6). Sedangkan dengan mengetahui penerapan Feng Shui pada makam Cina tersebut dapat membantu mengetahui bahwa etnis Tionghoa di Ken- dari masih dipengaruhi konsep kepercayaan budaya leluhur, yaitu penghormatan yang diaplikasikan pada sebuah bangunan makam dengan mengikuti petunjuk Feng Shui da- lam pembangunannya agar dapat mem- berikan berkat dan perlindungan bagi ke- turunannya.
Diaspora berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti penyebaran atau pena- buran. Diaspora adalah emigran dan ke- turunannya yang tinggal di luar negara tem- pat leluhurnya namun masih memiliki hu- bungan emosianal dengan negara asalnya (Shinta, 2019:7). Istilah diaspora juga berla- ku bagi para perantau yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk pergi ke daerah lain untuk mencari pendidikan, penghasilan dan kehidupan yang lebih baik daripada di tempat asalnya. Agar diperoleh batasan (2007:259) yang menyatakan bahwa diaspo- ra adalah jejaring yang tersebar dari orang- orang yang secara kultur dan etnis saling terkait (Narottama and Arianty, 2017:181).
Dalam teori migrasi, terdapat faktor-faktor atau komponen-komponen yang mempengaruhi orang untuk mengambil keputusan bermigrasi, yaitu daerah asal, migrasi kembali, daerah tujuan, rintangan, kesempatan, dan migrasi paksaan. Daerah
asal akan ditinggalkan apabila kebutuhan tidak terpenuhi seperti ekonomi, sosial, poli- tik, etnik, agama, dan faktor alam (Umar, 2002:17).
Diketahui banyak orang Cina yang melakukan diaspora dan telah tinggal di luar negara asalnya selama beberapa generasi, namun masih memegang kuat identitas bu- dayanya (Alkadrie, Hanifa, and Irawan, 2017:130). Hall (1990) menjelaskan bahwa identitas budaya (atau juga disebut sebagai identitas etnis) dapat dilihat sebagai sebuah wujud (identity as being) dan identitas bu- daya sebagai proses menjadi (identity as be- coming). Identitas budaya dilihat sebagai suatu kesatuan yang dimiliki bersama, atau yang merupakan "bentuk dasar/ asli" se- sorang dan beradyang jelas, dipergunakan konsep dari Sutrisno a dalam diri banyak orang yang memiliki kesamaan sejarah dan leluhur. Identitas budaya adalah cerminan kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang men- jadi "satu” walaupun dari “luar” mereka tampak berbeda (Narottama and Arianty, 2017:185).
2. Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Pulau Pandan,
Kecamatan Abeli, Kota Kendari dengan le-
tak atronomis situs 03058’45.2”LS dan
122035’23.0”BT. Dalam upaya menjawab
topik permasalahan penelitian, digunakan
pendekatan deskriptif dengan tipe penalaran
induktif, yang berdasar pada pengamatan
tinggalan arkeologi di lapangan secara de-
tail. Pengumpulan data dilakukan melalui
studi pustaka dari berbagai sumber dan
metode survei, yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang data penelitian dan potensinya melalui proses identifikasi.
Data hasil identifikasi tinggalan arkeolo- gi tersebut kemudian dianalisis menggunakan prinsip-prinsip ilmu Feng Shui untuk menjawab topik yang diangkat dalam penelitian. Tahap terakhir dalam penelitian ini, yaitu interpretasi data ber- dasarkan penafsiran terhadap seluruh data yang telah dikumpukan dan dianalisis.
3. Pembahasan
3.1. Makam Cina Secara Umum
Makam bagi etnis Tionghoa terutama mereka yang beragama Khonghucu, bukan- lah sekedar makam pada biasanya, melain- kan suatu bangunan yang memiliki arti pen- ting akan kehidupan selanjutnya dan didiri- kan untuk leluhur agar tetap terjalin penghormatan kepada arwah leluhur.
Adapun atribut makam Cina secara umum terbagi atas delapan komponen, yai- tu; (1) Mu Qiu (bukit makam), tempat untuk meletakkan peti jenazah dan berbentuk se-
perti gundukan bukit, (2) Mu An Qian Kao, tembok yang mengelilingi bukit makam, (3) Mu An Hou Kao atau Mu Cheng, tembok yang melapisi Mu An Qian Kao, (4) Bong Pay, batu nisan, (5) Altar, untuk mem- berikan persembahan dan hio (dupa) kepada yang dimakamkan, (6) Qu Shou, tembok yang mengelilingi bagian depan batu nisan (lekukan tangan), (7) Altar untuk Hou Tu (Ratu Bumi), Tudi Gong (Kakek Bumi) atau Fushen (Dewa Rejeki), (8) Tempat memba- kar uang doa (Alputila, 2014:57).
3.2. Data Arkeologi 3.2.1. Makam Cina 1
Makam berorientasi utara-selatan. Kondi- si makam telah mengalami kerusakan, tam- pak lapisan permukaan semen pada makam mengelupas dan sisi timur dinding yang mengelilingi makam runtuh. Hampir kese- luruhan makam memiliki konstruksi dari susunan bata merah. Bukit makam (Mu Qiu) memiliki konstruksi berupa lapisan tanah dengan permukaan yang datar. Tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao) memiliki bentuk persegi panjang
Gambar 1. Kondisi Makam Cina 1 (Sumber: Dok. Penulis, 2021)
dengan sisi utara berbentuk setengah ling- karan. Kondisi tembok mengalami kerusa- kan pada sisi timur.
Pada permukaan Mu An Qian Kao di- tumbuhi lumut akibat kelembaban yang cukup tinggi. Batu nisan (Bong Pay) terletak disisi utara makam, memiliki bentuk persegi panjang dan bagian atas memiliki bentuk setengah lingkaran mengerucut ke atas dengan dua undakan. Permukaan nisan di- tumbuhi lumut dan mengelupas. Tidak ditemukan keterangan mengenai siapa yang dimakamkan pada nisan.
Altar pembakaran hio (dupa) pada
makam tidak tampak karena sudah tertim- bun oleh tanah. Kondisi tembok yang mengelilingi bagian depan batu nisan (Qu Shou) mengalami kerusakan berupa kere- takan, kemudian pada permukaannya di- tumbuhi lumut dan mengelupas. Altar ratu bumi (Hou Tu) berada di sisi selatan makam berjarak 50 cm dari Qu Shou. Memiliki ben- tuk dasar setengah lingkaran mengerucut keatas. Tempat pembakaran uang doa me- miliki bentuk persegi panjang, terletak di sisi barat makam, menyatu dengan Mu An Qian Kao.
3.2.2. Makam Cina 2
Gambar 2. Tempat Pembakaran Uang Doa (Sumber: Dok. Penulis, 2021)
NAMA PANJANG LEBAR TINGGI TEBAL DIAMETER
Mu Qiu 320 cm 210 cm - - -
Mu An Qian Kao 380 cm 264 cm 95 cm 27 cm -
Bong Pay - 150 cm 107 cm 28 cm -
Qu Shou 80 cm 75 cm 60 cm 42 cm -
Hou Tu - 52 cm 35 cm - 74 cm
Tempat pembakaran uang 118 cm 60 cm 17 cm 13 cm -
Tabel 1. Ukuran Bagian-Bagian Makam Cina 1 (Sumber: Penulis, 2021)
Makam berorientasi utara-selatan. Per- mukaan bukit makam (Mu Qiu) tampak rata.
Tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao) memiliki bentuk persegi panjang terbuat dari bata merah. Tembok bagian utara mengalami kerusakan. Batu nisan (Bong Pay) memiliki kondisi utuh, terletak di sisi utara makam, berbentuk persegi panjang dan memiliki dua undak yang mengerucuk keatas. Tidak ditemukan keterangan siapa yang dimakamkan. Altar hio (dupa) memiliki bentuk persegi pan- jang .
3.2.3. Makam Cina 3
Makam berorientasi utara-selatan. Bukit makam (Mu Qiu) memiliki bentuk persegi panjang. Tembok yang mengelilingi bukit
makam (Mu An Qian Kao) berbentuk persegi panjang terbuat dari susunan bata merah. Selain itu, pada bagian dasar tembok yang mengelilingi bukit makam, terdapat tambahan yang timbul kepermukaan sekitar 5 cm dan tinggi dari permukaan tanah 14 cm. Batu nisan terletak disisi utara makam, namun telah terpisah dari posisi semula aki- bat adanya pohon yang tumbuh diatas makam.
3.2.4. Makam Cina 4
Orientasi makam utara-selatan Kondisi makam mengalami kerusakan pada bukit makam (Mu Qiu) dan tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao). Bahan penyusun kedua bagian makam tersebut tersebar di sekeliling makam. Tam-
Gambar 3. Kondisi Makam Cina 2 (Sumber: Dok. Penulis, 2021)
NO NAMA PANJANG LEBAR TINGGI TEBAL
1 Mu Qiu 180 cm 117 cm - -
2 Mu An Qian Kao 193 cm 146 cm 53 cm 13 cm
3 Bong Pay - 56 cm 86 cm 13 cm
4 Altar Hio (dupa) 68 cm 32 cm 8 cm 13 cm
Tabel 2. Ukuran Bagian-Bagian Makam Cina 2 (Sumber: Penulis, 2021)
pak bata merah penyusun makam dengan ukuran panjang 25 cm dan tebal 5 cm. Bagi- an-bagian makam yang tersisa, yaitu bukit makam (Mu Qiu), batu nisan (Bong Pay), altar hio (dupa) bertingkat dua dan tembok yang mengelilingi bagian depan batu nisan (Qu Shou).
Bukit makam (Mu Qiu) berasal dari tanah, namun ditutupi dengan reruntuhan tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao). Batu nisan (Bong Pay) me- miliki bentuk persegi panjang dengan dua undakan yang mengerucut ke atas, terletak di sisi utara makam. Namun, tidak ditemukan keterangan siapa yang dimaka- mkan. Batu nisan terbuat dari susunan bata merah yang permukaannya diratakan. Altar
hio (dupa) berbentuk persegi panjang dan memiliki dua lantai.
3.2.5. Makam Cina 5,6,7
Secara keseluruhan makam berorientasi utara-selatan dan tebuat dari campuran se- men dan kerikil yang permukaannya dira- takan. Bukit makam (Mu Qiu) tersusun dari tanah dengan permukaan datar. Makam Cina 5,6,7 masing-masing memiliki tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao). Tembok yang mengelilingi makam memiliki bentuk persegi panjang. Kondisi dinding tembok utuh, namun mengalami beberapa kerusakan di sisi timur, selatan dan barat. Batu nisan (Bong Pay) memiliki ben- tuk setengah lingkaran, terletak di sisi utara NO NAMA PANJANG LEBAR TINGGI TEBAL
1 Mu Qiu 218 cm 160 cm - -
2 Mu An Qian Kao 231 cm 173 cm 47 cm 13 cm
3 Bong Pay - - 14 cm 5.5 cm
Tabel 3. Ukuran Bagian-Bagian Makam Cina 3 (Sumber: Penulis, 2021)
Gambar 4. Kondisi Makam Cina 4 (Sumber: Dok. Penulis, 2021)
makam. Kondisi batu nisan utuh, namun mengalami kerusakan berupa lapisan semen permukaan mengelupas. Terdapat tulisan MICELIM pada dinding nisan makam Cina 6, NELCE ELIM pada dinding nisan makam 7 dan NTO pada nisan makam 8.
3.2.6. Makam Cina 8,9,10,11
Keseluruhan makam berorientasi utara- selatan. Makam tebuat dari campuran semen dan kerikil yang permukaannya diratakan.
Makam terdiri, bukit makam (Mu Qiu), tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao), batu nisan (Bong Pay), tembok yang mengelilingi batu nisan (Qu Shou) dan altar hio (dupa) yang sudah ter- timbun tanah.
Bukit makam (Mu Qiu) terbuat dari tanah, memiliki bentuk persegi panjang dengan permukaan datar. Makam Cina 8,9,10,11 masing-masing memiliki tembok yang mengelilingi bukit makam (Mu An Qian Kao), berbentuk persegi panjang.
Kondisinya utuh, namun mengalami kerusa- kan pada sisi timur. Batu nisan (Bong Pay) berbentuk setengah lingkaran, namun men- galami kerusakan berupa pengelupasan lapisan semen pada permukaannya. Tulisan nama yang dimakamkan pada nisan makam Cina 8, 9,10, tidak dapat diidentifikasi, han- ya nisan makam Cina 11 tertulis LIMTEOUNSU.
3.3. Kematian Dan Makam Dalam Per- NO NAMA PANJANG LEBAR TINGGI TEBAL
1 Mu Qiu 218 cm 160 cm - -
2 Mu An Qian Kao 231 cm 173 cm 47 cm 13 cm
3 Bong Pay - - 14 cm 5.5 cm
Tabel 4. Ukuran Bagian-Bagian Makam Cina 4 (Sumber: Penulis, 2021)
Gambar 5. Kondisi Makam Cina 4 (Sumber: Dok. Penulis, 2021) Keterangan: Lantai 1* dan Lantai 2**
spektif Etnis Tionghoa
Menurut ajaran Khonghucu kematian adalah kwie thian atau gui tian, pulang kepa- da langit atau berpulang kepada Tuhan. Ke- matian tidaklah terlepas dari Y in dan Y ang.
Yin diartikan dalam diri manusia sebagai nyawa dan roh, dan Y ang adalah jasad (Masruroh, 2014:24). Di dalam unsur Y ang (warna putih, terang-aktif-positif) terdapat unsur Y in (warna hitam-gelap-pasif-negatif), pada unsur Y in terdapat unsur Y ang (Setyono, 2002:31).
Dalam pandangan etnis Tionghoa, setelah kematian akan ada kehidupan selanjutnya dan arwah leluhur dapat berpengaruh pada kehidupan keturunan. Oleh sebab itu, mengharuskan mereka melakukan penghor- matan terhadap arwah leluhur. Ada dua ang- gapan mengenai penghormatan leluhur bagi etnis Tionghoa, pertama yang menganggap arwah akan abadi dan kedua, sebagai peringatan bagi leluhur yang telah mem- berikan hidup kepadanya (Sahotri, 2018:1).
Beragam kebudayaan yang dimiliki etnis Tionghoa merupakan hasil warisan leluhur dan telah berlangsung turun temurun dari generasi kegenerasi, diantaranya adalah tradisi pemakaman. Makam pada dasarnya
berbentuk sebuah gundukan tanah dan ter- dapat nisan, baik dari batu ataupun kayu se- bagai penanda orang yang dimakamkan. Pa- da etnis Tionghoa, makam memiliki makna yang berbeda. Pemaknaan tersebut berdasar- kan orientasi mereka yang melakukan penghormatan kepada arwah leluhur. Oleh sebab itu, makam dimaknai harus berupa bangunan yang megah dan besar.
Menurut ajaran Konfusius mereka yang telah meninggal lebih memilih dimakamkan, sebagai rumah singgah terakhir (Masruroh, 2014: 22) daripada diabukan. Makam diang- gap sebagai rumah terakhir, sehingga perlu mengikuti aturan dan ketentuan tertentu la- yaknya membuat rumah hunian. Hal per- tama yang harus dilakukan dalam mem- bangun rumah makam, adalah mempertim- bangkan alam yang hendak dipilih menjadi rumah makam. Setelah itu mulai menen- tukan lokasi. Penggunaan Feng Shui akan berperan besar dan dapat menentukan penemuan energi baik (Sheng Chi) atau bu- ruk (Sha Chi) pada makam yang bersangku- tan. Jika makam telah dibuat sesuai dengan Feng Shui, maka keturunan akan mendapat- kan keberkahan hidup (Masruroh, 2014:28) 3.4. Prinsip Feng Shui
NO NAMA PANJANG LEBAR TINGGI TEBAL
1 Mu Qiu 115 cm 112 cm
2 Mu An Qian Kao 137 cm 156 cm 41 cm 22 cm
3 Bong Pay - 111 cm 56 cm 20 cm
4 Qu Shou 21 cm - 41 cm 24 cm
Tabel 5. Ukuran Bagian-Bagian Makam Cina 5,6,7 (Sumber: Penulis, 2021)