• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

10 1. Wayang Kulit

a. Sejarah dan perkembangan Wayang Kulit

Menurut sejarahnya, pada awal mula di pergelarkan, wayang digunakan untuk memuja para ruh leluhur. Setelah zaman Kerajaan Kadari di Singasari, terutama pada zaman Airlangga dan Jayabaya, ketika kebudayaan Hindu dari India tersebar dalam kehidupan manusia Jawa, muncullah cerita Mahabharata dan Ramayana. Kemudian, dengan zaman Islam dengan ditandai runtuhnya kerajaan besar Majapahit, wayang berubah fungsi menjadi media dakwah oleh para wali penyebar ajaran Islam.Cerita dalam lakon pewayangan tersebut dianggap sebagai cerminan kehidupan manusia di dunia dan mengandung nilai-nilai pendidikan moral yang tinggi. (Ardian Kresna, 2012: 30)

Sedangkan asal-usul wayang menurut Ardian Kresna (2012: 17) dimulai sekitar tahun 1500 SM di mana masyarakat pada saat itu meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai ruh baik dan ruh jahat.Kemudian wayang dibuat sebagai bentuk ilusi atau bayangan serta perwujudan dari upaya penggambaran kehidupan manusia pada umumnya.

Sejarah dan perkembangan wayang di Desa Kertanegara Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu sama saja dengan perkembangan wayang di Cirebon. Kesenian wayang di Cirebon mulai tumbuh dan berkembang sejak dibawa oleh Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga. Menurut Babad Cirebon, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali melakukan pertunjukan wayang sekaligus menjadi dalangnya dengan diiringi gamelan sekaten asli Cirebon.

Wayang kemudian menjadi bagian dari prosesi upacara keagamaan pada masyarakat Hindu dan Budha dengan ditambahkannya

(2)

sesaji.Kemudian, ketika Islam masuk, para Wali Songo menggunakan wayang tersebut untuk menyebarkan agama dengan menyisipkan nama- nama dan lakon cerita yang bernafaskan Islam.Mengacu pada penjelasan Musium Wayang, para Wali Songo saat berperan dalam mempengaruhi bentuk wayang kulit di Cirebon.

Wayang di Cirebon masih mengacu pada Kitab Ramayana dan Mahabharata kemudian oleh Sunan Panggung (Sunan Kalijogo) ceritanya dibuat bernafaskan Islam kemudian diperbarui dan disesuaikan dengan dasar-dasar ajaran agama Islam.Tokoh punakawan pun menjadi 9 orang yang melambangkan jumlah 9 orang Wali Songo yang menjalankan dakwah Islamiyah diantaranya: Semar, Bagong, Ceblek, Gareng, Dawala, Cingkring, Witorata, Bagol Buntung, dan Curis.

Mengenai asal kelahiran wayang kulit itu ada beberapa pendapat.

Kalau kita kelompokkan ada tiga pendapat yang berbeda yaitu ada yang menyatakan bahwa wayang berasal dari India, dipihak lain mengemukakan bahwa wayang berasal dari Cina dan kelompok ketiga mengemukakan bahwa wayang kulit merupakan kebudayaan dari tanah Jawa. (Soetarno, 1995: 4)

Berdasarkan pendapat dari Soetarno, penulis dapat mengatakan bahwa asal-usul wayang ini memiliki tiga pendapat ada yang mengatakan dari India, Cina, dan Indonesia khususnya di tanah jawa. Menurut sepemaham penulis mengapa ada pendapat bahwa wayang dari india, karena wayang banyak mengambil cerita-ceritanya dari kitab Ramayana dan Mahabrata dan cerita tersebut berasal dari India, mulai masuk di Indonesia dengan menyebarkan agama Hindu dan Budha. Kemudian pendapat lain mengatakan bahwa wayang berasal dari tanah Jawa, pendapat tersebut muncul karena setelah wayang masuk dari India dengan menyebarkan agam Hindu dan Budha, maka di modifikasi oleh para wali songo dari Jawa dengan menggantikan cerita-cerita wayang dengan ajaran-ajaran Islam guna alat dakwah dalam penyebaran agama Islam bagi masyarkat Jawa

(3)

Wayang pada mulanya banyak di kenal di pulau Jawa. Namun sesuai dengan perkembangannya yang terus menerus mulai pesat, wayang banyak disenangi dan diupayakan untuk dikembangkan oleh berbagai elemen masyarakat di nusantara ini. Wayang memberikan sebuah media untuk memasukan berbagai macam ideologi dalam kehidupannya, sehingga ide-ide yang bermunculan dalam kehidupannya akan menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Konon, kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada zaman Hindu menjadi salah satu zaman di mana wayang dicoba untuk dikembangkan sedemikian rupa, sehingga wayang pada waktu itu banyak disenangi, sebagai bentuk falsafah, pelajaran penting yang bisa dianut dalam kehidupannya. Bahkan ketika itu wayang dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan kearifan terhadap sebuah kelompok masyarakat. (Amrin Ra’uf, 2010:21-22)

Gambar wayang atau wayang kulit purwa adalah hasil karya pujangga-pujangga Indonesia yang umurnya telah berabad-abad dengan mengalami perubahan dan perkembangan.(Soekatno, 2009: 9)

Dalam pementasannya wayang memiliki pakem atau sempalan cerita yang hampir sama yaitu umumnya merujuk pada kisah Ramayana dan Mahabharata. Namun dalam setiap pertunjukan, dalang memiliki keleluasaan untuk memodifikasi cerita atau menambahkan pesan-pesan moral dalam lakon yang akan disampaikan.

Keberadaan wayang kulit purwa hingga saat ini masih digemari oleh sebagian lapisan masyarakat Jawa.Hal tersebut terlihat dari berbagai pertunjukan wayang yang masih diminati dibandingkan jenis kesenian tradisi yang lainnya. Salah satu hal yang menjadi daya tarik adalah keragaman cerita wayang yang sangat banyak.(Adrian Kresna, 2012: 21)

Dari uraian di atas dapat penulis berpendapat bahwa wayang kulit ini pada mulanya digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai memuja ruh para leluhur yang ketika pada zaman dahulu kepercayaan nenek

(4)

moyang itu animisme dan dinamisme, kemudian pada zaman kerajaan dan masuknya kebudayaan Hindu Budha yang menyebarkan cerita pewayangan Mahabharata dan Ramayana sehingga pada proses Islamisasi wayang digunakan oleh para wali songo yaitu sunan kalijaga guna menyebarkan agama Islam untuk menarik masyarakat dengan jamus kalimasada (dua kalimat syahadat) agar masyarakat masuk Islam, yang pada saat itu masyarakat memang membutuhkan suatu hiburan.

b. Makna Wayang Kulit

Kata “wayang” tidaklah asing di telinga masyarakat Indonesia, bahkan wayang yang diidentikkan budaya Jawa telah menjadi seni budaya nasional yang sampai kini sering menghiasi acara pentas budaya di televisi nusantara ini. Walaupun demikian, bagi budaya luar (non- Jawa)

Wayang kulit merupakan suatu kebudayaan sebagaimana dalam fungsi lembaga kebudayaan yaitu sebagai sarana menghibur masyarakat.Kebudayaan Jawa terbagi menjadi kebudayaan pesisir dan kebudayaan pedalaman.Keanekaragaman dari segi geografis tersebut melahirkan kebudayaan, seni, dan tradisi yang berbeda pula, missal dialek dan makanan.Sifat, watak, tabiat, dan karakter penduduk kedua wilayah yang berbeda juga berbeda satu dengan yang lainnya. Manusia jawa dapat di bedakan pula berdasarkan sistem kelompok sosial dan perekonomian serta agamanya, menjadi kaum priayi, wong cilik, kaum santri, dan kaum abangan. (Ardian Kresna, 2012: 18)

Berdasarkan pendapat dari Adrian Kresna, penulis dapat mengatakan bahwa wayang kulit merupakan budaya di mana pengertian dari budaya adalah hasil, cipta, karya, dan karsa manusia. Disetiap daerah memiliki cirri khas budaya masing-masing serta letak geografis sangat mempengaruhi kebudayaan yang ada dari setiap tingkah laku masyarakatnyapun akan berbeda, perbuatan yang dilakukan secara terus

(5)

menerus dan menjadi sebuah kebiasaan akan melahirkan kebudayaan yang baru.

Wayang sebagai seni pertunjukan kebudayaan Jawa sering diartikan sebagai “bayangan” atau samar-samar yang dapat bergerak sesuai lakon yang dihidupkan oleh seorang dalang.Bayangan itu juga dipahami sebagai gambaran perwatakan dan karakter manusia sebagai gambaran kehidupan berdasarkan isi cerita. Model wayang di Jawa yang terkenal adalah wayang kulit purwa, suatu tokoh wayang dalam lakon tertentu sering dipakai untuk memberikan pemahaman terhadap perjalanan hidup sehari-hari, dalam masa dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang. (Ardian Kresna, 2012: 21)

Sedangkan menurut Soetarno (1995: 1) Wayang kulit adalah salah satu bentuk seni pertunjukan yang sangat popular dan disenangi oleh berbagai lapisan masyarakat di Jawa.Selain kepopulerannya wayang kulit juga merupakan satu-satunya jenis wayang yang ada di Jawa yang masih bertahan sampai sekarang.Sedangkan jenis-jenis wayang yang tidak mendapat tempat di hati masyarakat.

Budaya Jawa wayang ini terbuat dari kulit, menggambarkan manusia dan binatang, yang terlihat dari sisi, jadi miring. Beberapa raksasa dan kera agak kelihatan dari depan, sehingga dua matanya nampak. Isi keseluruhan cerita-ceritanya merupakan pandangan Jawa tentang dunia (Jawa) mulai dari zaman purba – itu sebabnya disebut wayang purwa – sampai raja-raja yang langsung menurunkan raja-raja Jawa.

Muchyar Abi Tofani (2013: 5) juga menjelaskan pngertian wayang, wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bisa dimaknai “bayangan”, hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari balik kelir atau hanya bayangannya saja.

Wayang adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit dimainkan oleh seorang

(6)

dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.

Sedangkan M. Masturi (2006: 98) yang dikutip oleh Amrin Ra’uf (2010: 34) mengatakan bahwa wayang merupakan sebuah dunia yang memiliki tokoh dan problemnya sendiri yang bisa dipelajari dalam kehidupan umat manusia.

Menurut Maria A. Sardjono (1992) yang dikutip oleh Ardian Kresna (2012: 21), pedalangan wayang kulit adalah suatu rangkuman tindakan simbolis yang terpadu dan terdiri dari berbagai unsur.

Seperangkat gamelan, seperangkat wayang kulit, seperangkat lakon, seperangkat lagu, dan seperangkat manusia yang mempergunakan aturan- aturan, termasuk tata cara dalam hal berpakaian, bersikap, dan berbahasa, begitu erat dengan kehidupan orang Jawa.

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis berpendapat bahwa negara kita merupakan negara yang multikultural, dari setiap daerah masing- masing memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, letak suatu geografis sangat mempengaruhi suatu kebudayaan dari suatu daerah.Seperti kebudayaan di Jawa telah membentuk kesenian salah satuya kesenian wayang kulit. Wayang kulit merupakan suatu bayangan karena tertutup oleh kain yang berwarna putih dan lakonnya di gerakan oleh seorang dalang yang juga menceritakan dari setiap lakon di pertunjukannya, disertai dengan adanya alat musik tradisional seperti gamelan, dan di lengkapi dengan sinden yang menyanyikan dengan lagu jawa.

(7)

c. Wayang Kulit Sebagai Budaya

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah

“puncak-puncak dari kebudayaan daerah”.Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan.Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional.

Dunia pewayangan merupakan sebuah dunia yang muncul dari ruang lingkup kebudayaan kita.Pewayangan dikatakan sebagai sebuah kebudayaan, karena berdasarkan sebuah kesepakatan masyarakat yang mengakar dan bisa melahirkan sebuah kearifan masyarakat yang dibentuk dan membentuk pola pikir, perilaku masyarakat, yang pada mulanya kurang baik dalam bisa menjadi lebih baik. (Amrin Ra’uf, 2010:

14-15)

Wayang dikagumi oleh masyarakat Indonesia bukan hanya sebagai pementasan yang hampa makna, melainkan wayang menjadi sebuah ruang penting yang bisa membuat kehidupan masyarakat semakin baik.

Banyak orang yang dalam kehidupannya selalu membuat wayang sebagai salah satu referensi dalam kehidupannya, tentu saja mampu menciptakan pandangan-pandangan humanis yang sangat memperhatikan manusia lain dengan sebaik-baiknya.

Pementasan wayang disini bukan hanya menciptakan kecerdasan rasionalitas yang kadang kala manusia menjadi jenuh, akan tetapi pementasan wayang justru menjadi sebuah realitas kebudayaan yang mampu menyuarakan sesuatu dalam kehidupan sosial. Segala kemungkinan terjadi dalam kehidupan masyarakat bisa menjadi ruang yang tepat untuk mengekspresikan sesuatu yang lebih baik. Wayang pada akhirnya akan mampu membentuk sebuah kenyataan hidup yang lebih

(8)

baik dan konstruktif. Ruang kebudayaan dalam seni wayang bisa dijadikan sebagai salah satu acuan untuk menjalankan kehidupan ke depan.

Wayang kulit sebagai salah satu unsur budaya masyarakat memiliki peran yang penting dalam perkembangan sejarah Islam di Cirebon.Ketika dipentaskan dalam berbagai acara seperti perayaan kelahiran, sunatan, resepsi pernikahan, ataupun upacara tolak bala, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreatif yang menghibur masyarakat.Namun, wayang kulit juga memiliki fungsi religiusitas di mana di dalam pertunjukan wayang tersebut juga diselipkan muatan dakwah dan pesan- pesan keagamaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa kesenian wayang kulit sebagai kebudayaan adalah hasil, cipta, karsa masyarakat Jawa yang kemudian dijaga, lestarikan serta diperkenalkan ke masyarakat umum yang tidak hanya di Indonesia akan tetapi di seluruh dunia. Wayang dikagumi oleh berbagai elemen masyarakat dari anak- anak, remaja, hingga orang tua bukan hanya sekedar suatu hiburan semata, namun sebagian orang mengagumi kebudayaan wayang ini karena sebagai pedoman hidup dalam bertingkah laku karena disetiap ceritanya mengajarkan akhlakul karimah.

2. Remaja (usia 12-21 tahun) a. Makna Remaja

Istilah individu berasal dari kata individera berarti satu kesatuan organism yang tidak dapat dibagi-bagi atau tidak dapat dipisahkan.Makna pertumbuhan pada hakikatnya berbeda dengan makna perkembangan.Istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan kuantitatif mengenai aspek fisik atau biologis.Misalnya, fisik manusia mengalami pertumbuhan tubuh dari anak-anak menjadi remaja, kemudian dewasa. (Enung Fatimah, 2010: 11)

(9)

Dilihat dari bahasa inggris "teenager", remaja artinya yakni manusia berusia belasan tahun. Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.

Hal tersebut menyatakan bahwa seorang remaja sangat perlu bimbingan serta arahan dari orang dewasa terutama bagi pendidik yang memberikan ilmu serta mengajarkan sistem sosial berupa nilai-nilai dan moral yang sebelumnya mereka belum memahami akan semua itu untuk digunakan dalam berinteraksi sosial di masyarakat.

Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu memproduksi.Menurut Zulkifli (1993: 63-64) Orang Barat menyebut remaja dengan istilah “puber”, sedangkan orang Amerika menyebutnya “adolesensi”.Keduanya merupakan transisi dari masa anak-anak menjadi dewasa. Sedangkan di Negara kita ada yang menggunakan istilah “akil balig”, “pubertas”, dan yang paling banyak menyebutnya “remaja”. Panggilan adolesensi dapat diartikan sebagai pemuda yang keadaannya sudah mengalami ketenangan .

Penggunaan istilah untuk menyebutkan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa, ada yang memberiistilah : puberty (Inggris), puberteil (Belanda), pubertas (Latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian. Ada pula yang mengggunakan istilah Adulescentio (Latin) yaitu masa muda.(Sri Rumini dan Siti Sundari, 2004: 53)

Dari uraian pendapat tokoh di atas, penulis dapat mengatakan bahwa remaja memiliki banyak istilah disetiap Negara memiliki istilah masing-masing dalam menyebutkan remaja, namun semua pada intinya memiliki arti yang sama, yaitu seorang individu yang mengalami proses peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa sehingga

(10)

mengalami perubahan baik fisik maupun psikis dan organ-organ dalam tubuhnya mulai mengalami kematangan.

Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa di mana :

1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda- tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dan kanak-kanak menjadi dewasa.

3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri.(Sarllito W. Sarwono, 2013:11-12)

Berdasarkan uraian WHO di atas, penulis dapat mengatakan bahwa remaja merupakan individu yang mengalami perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangannya serta sudah mulairasa ingin mandiri, artinya menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan akan ketergantungan sosial-ekonominya, dalam hal ini sudah memiliki tanggung jawab atas apa yang diperbuat dilingkungan masyarakat yang sesuai dengan nilai-norma yang ada. Dalam segi ekonominya mulai belajar memenuhi kebutuhannya sendiri dengan cara bekerja.

Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut : konopka (1973 dalam pikunas, 1976; Ingersoll 1989) yang dikutip oleh Hendriati Agustiani (200: 29) :

1) Masa remaja awal (12-15 tahun)

Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unnik dan tidak bergantung pada orang tua.

(11)

2) Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)

Masa ini ditandai dengan berkebangnya kemampuan berpikir yang baru, individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri.

3) Masa remaja akhir (19-22 tahun)

Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.

Berdasarkan uraian atas, penulis berpendapat bahwa remaja merupakan suatu fase peralihan dari masa kanan-kanak menuju ke masa dewasa, di mana seseorang mulai mengalami perubahan kematangan terhadap fisik maupun dalam pemikirannya. Remaja sudah mulai diberikan sistem nilai dan norma yang ada di masyarakat, mereka juga sudah mengerti yang baik dan juga yang tidak bagi dirinya.

b. Karakteristik Remaja

Dalam masa remaja mengalami krisis identitas. Selama perkembangan mengalami kegoncangan karena perubahan dalam dirinya maupun dari luar dirinya, yaitu sikap orang tua, guru, cara mengajar dan masih banyak lagi serta melepaskan diri dari orang tua dan bergabung dengan teman sebaya. Apa yang diperoleh dan dianut / dipatuhi menjadi goyah karena berkenalan dengan nilai-nilai baru. Jadi dalam pembentukan identitas diri mengalami kegoncangan yang disebut krisis identitas.(Sri Rumini dan Siti Sundari, 2004: 75)

Berdasarkan pendapat Sri Rumini dan Siti Sundari, penulis dapat mengatakan bahwa masa remaja dalam perkembangannya mengenal nilai-nilai baru serta mulai melepaskan diri dari orang tua dan lebih sering bergabung dengan teman sebayanya, artinya dalam setiap aktivitasnya tidak selalu dibantu dan dibimbing oleh orang tuanya, remaja mulai belajar mandiri dan bertanggunng jawab atas segala yang diperbuatnya. Namun semua itu remaja mengalami hambatan-hambatan sehingga menimbulkan kegoncangan bagi dirinya.Tidak semua

(12)

perubahan dapat diterimanya dengan mudah, remaja butuh pengenalan serta penyesuaian terhadap hal-hal yang baru untuk dapat mereka terima.

Menurut Desmita (2012: 37-38) Masa remaja ditandai dengan sejumlah karakteristik penting, yaitu:

1) Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya

2) Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

3) Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif 4) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa

lainnya.

5) Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya.

6) Mengembangkan sifat positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan memilih anak.

7) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga Negara.

8) Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.

9) Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

10) Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas.

Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja.Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139). Berikut ini akan dijelaskan mengenai hubungan remaja dengan teman sebaya dan orang tua:

(13)

1) Hubungan dengan Teman Sebaya

Menurut Santrock (2003: 219) teman sebaya (peers) adalah anak- anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan yang dikutip oleh Santrock (2003: 220) mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.

2) Hubungan dengan Orang Tua

Menurut Steinberg yang dikutip oleh Santrock (2002: 42) mengemukakan bahwa masa remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak.

Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan- harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.

(http://belajarpsikologi.com/karakteristik-remaja/. diakses pada tanggal 25 Juni 2015 pukul 22.00 wib)

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis menyatakan bahwa mengapa sikap remaja ini terkadang menyimpang, karena masa peralihanya dari masa kanak-kanak menjadi dewasa serta perkenalan

(14)

akan sistem nilai-nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat yang sebelumnya pada saat masa kanak-kanak mereka belum memahami akan hal tersebut, sehingga membuatnya perlu melakukan penyesuaian diri.

c. Remaja dan Pendidikan

Masa remaja merupakan masa mencari jati diri sehingga ia memiliki sikap yang terlalu tinggi dalam menilai dirinya atau sebaliknya.

Remaja umumnya belum memahami benar tentang nilai dan norma sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakatnya hal itu menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi dengan kondisi yang terjadi dalam masyarakat.

Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial.Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan ruang kepada mereka ke arah perilaku yang bermanfaat dan dapat diterima oleh masyarakat umum.

Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Anak-anak SMP usia 13-14 tahun atau pada usia awal remaja (pre-adolescence) sudah mengenal sistem pendidikan baru yang berbeda dengan saat mereka duduk di sekolah dasar. Hal ini menunjukkan perlunya kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap situasi pendidikan baru yang beragam dan kompleks. Di SMP, anak mulai mengenal berbagai mata pelajaran yang harus dipelajari dengan guru-guru yang berbeda-beda sifat dan karakteristiknya. Pada saat berusia 15-18 tahun, yaitu saat mereka duduk dibangku SLTA, pemilihan program pendidikan atau jurusan telah pula diperkenalkan.

(Enung Fatimah, 2010: 174)

Selain pengenalan terhadap sistem pendidikan, para remaja tersebut memiliki teman yang semakin luas lingkungannya.Dengan kata remaja memiliki masyarakat baru dan memiliki tiga lingkungan pendidikan yang

(15)

pola dan karakteristiknya berbeda-beda. Ketiga lingkungan itu ialah keluarga, sekolah, dan masyarakat.Pertama,Lingkungan pendidikan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak.Pendidikan keluarga lebih menekankan aspek moral atau pembentukan kepribadian daripada pendidikan untuk menguasi ilmu pengetahuan Enung Fatimah (2010: 175).Dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat individual sesuai dengan pandangan hidup keluarga masing-masing.Ada keluarga yang dalam mendidik anak-anaknya berdasaran pada kaidah-kaidah agama, ada pula yang dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikannya berorientasi pada kehidupan sosial ekonomi dengan tujuan menjadikan anak-anaknya orang yang produktif dalam kehidupan masyarakat.

Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.

Kedua,SekolahMenurut Enung Fatimah (2010: 175) merupakan lingkungan pendidikan formal yang sengaja diciptakan diciptakan oleh pemerintah dan masyarakat sebagai media pendidikan bagi generasi muda, khususnya memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan di kemudian hari.Saat ini, manusia telah mengalami banyak perubahan yang mendasar. Dalam aspek pendidikan, ternyata keluarga tidak lagi menjadi satu-satunya lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan.Efektivitas keluarga selaku lembaga pendidikan, untuk sebagiannya diserahkan kepada sekolah.Sekolah kini telah menjadi alternative utama karena system administrasi modernnya sebagai sarana pembelajaran. Sekolah dianggap sebagai sebuah sistem yang secara khusus terkait dengan proses belajar-mengajar atau proses pendidikan.

Ketiga,Masyarakat Enung Fatimah (2010: 175) merupakan lingkungan pendidikan informal yang dikenal oleh anak-anak. Anak remaja telah banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai nilai dan normasosial. Secara konsepsional tanggung jawab pendidikan

(16)

oleh masyarakat antara lain mengawasi, menyalurkan, membina dan meningkatkan kualitas anggotanya.Sedangkan menurut Fuad Ihsan (2005: 39) masyarakat merupakan lembaga pendidikan ketiga yang ikut bertanggung jawab dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melalui pendidikan di masyarakat peserta didik akan dibekali dengan penalaran, keterampilan dan sikap makarya, sering juga pendidikan di masyarakat ini dijadikan upaya mengoptimalkan perkembangan diri.

Dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut lingkungan pendidikan informal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak sistematis. Secara fungsional masyarakat menerima semua anggotanya yang pluralistik (majemuk) itu dan mengarah menjadi anggota masyarakat yang baik untuk tercapainya kesejahteraan social para anggotanya yaitu kesejahteraan mental spiritual dan fisikal atau kesejahteraan lahir dan batin yang dalam GBHN disebut masyarakat adil dan makmur dibawah lindungan Allah SWT.

Secara fungsional struktural, masyarakat ikut mempengaruhi terbentuknya sikap sosial para aggotanya, melalui berbagai pengalaman yang berulang kali.Mengingat pengalaman yang beraneka ragam, maka sikap sosial anggotanya pun beraneka ragam pula.

Kalau dilembaga pendidikan pendidiknya adalah guru, kalau pendidikan dimasyarakat pendidiknya adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya melalui sosialisasi lanjutan yang diletakkan dasar-dasar oleh keluarga dan juga oleh sekolah sebelum mereka masuk ke dalam masyarakat. Melalui sosialisasi lanjutan ini, maka kedewasaan social para anggotanya (rasa tanggung jawab terhadap kepentingan orang banyak) akan terbentuk.

Dengan demikian yang bersangkutan akan melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang banyak. Dengan demikian para pemimpin resmi maupun tidak resmi adalah pendidik dalam masyarakat.

(17)

Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa, terdapat tiga lembaga pendidikan formal, nonformal dan informal. Selain kita mendapatkan pendidikan formal atau pendidikan sekolah kita juga mendapatkan pendidikan informal yang tidak semua manusia mendapatkan pendidikan formal karena beberapa faktor, namun pendidikan informal semua manusia pasti mendapatkannya dan lembaga pendidikan masyarakat merupakan lembaga pendidikan informal, suatu pendidikan yang kita dapatkan dari lingkungan masyarakat dari berbagai semua yang ada di masyarakat seperti kebudayaan yang merupakan suatu gagasan, pendapat, kebiasaan, hasil, cipta, karsa manusia. Sedangkan masyarakat sendiri artinya sekelompok manusia yang memiliki aturan serta suatu tujuan yang sama.

3. Implikasi Wayang Terhadap Pendidikan Remaja a. Makna Pendidikan

Arti pendidikan secara etimologi, Paedagogie berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata “PAIS”, artinya anak, dan “AGAIN”

diterjemahkan membimbing, jadi paedagogie yaitu bimbingan yang diberikan kepada anak.(Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 2001: 69)

Menurut Fuad Ihsan (2005: 1) dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.

Berdasarkan pendapat Fuad Ihsan, penulis dapat mengatakan bahwa pendidikan dapat menggali serta mengembangkan kemampuan- kemampuan yang dimiliki manusia untuk dapat dimanfaatkan bagi dirinya maupun orang lain serta dapat membentuk kepribadian yang lebih baik dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Definisi pendidikan maha luas, Redja Mudyahardjo (2013:

3)menyatakan bahwa pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala

(18)

pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu.

Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan nilai moral (kekuatan batin, karakter), fikiran dan tumbuh anak yang antara satu dan lainnya saling berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras. (Zeim Mubarok, 2008: 2)

Pendidikan merupakan suatu pengalaman hidup yang didapat karena pendidika bisa kita dapatkan di mana saja tidak hanya disuatu lembaga pendidikan seperti sekolah.Manusia mendapat pendidikan sejak lahir di dunia, pendidikan pertama yang didapat adalah dari keluarga kemudian sekolah dan masyarakat.

Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.(Fuad Ihsan, 2005: 5)

Ahmad D. Marimba menyatakan pendapatnya bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (Hasbullah, 2003: 3)

Pendidikan sebagai proses upaya meningkatkan nilai peradaban individu dari keadaan tertentu ke suatu keadaan yang lebih baik, secara institutional peranan dan fungsinya semakin dirasakan oleh sebagian besar warga bangsa. Karena itu keberadaan suatu lembaga pendidikan di suatu daerah, merupakan salah satu faktor penentu dalam upaya peningkatan kualitas warga bangsa di daerah tersebut. Sebab melalui lembaga pendidikan akan dapat kita ketahui berkualitas atau tidaknya warga bangsa, melalui lembaga pendidikan juga, akan dapat diketahui kemampuan masyarakat dalam menilai dan kemauan mereka dalam

(19)

memanfaatkan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Untuk jangka waktu tertentu, akan dapat diketahui bahwa bagi suatu bangsa yang di kendalikan oleh orang-orang yang berpendidikan, maka program pembangunannnya akan berjalan sesuai dengan yang di rencanakan. Sebaliknya bagi suatu bangsa yang di kendalikan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, maka dapat diprediksi program pembangunannya tidak akan berjalan dengan baik karena tidak terencana dan tidak terarah sehingga rapuh dan mudah roboh.

b. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar.Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan.Tujuan pendidikan adalah tidak terbatas. Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup.(Redja Mudyahardjo, 2013: 4)

Menurut Hasbullah (2003: 11) secara singkat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.

Berdasarkan uraian tokoh di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan merupakan mencerdaskan manusia untuk membentuk SDM (sumber daya manusia) yang dapat mengolah SDA (sumber daya alam) yang dimiliki negaranya serta mampu memajukan bangsa bersaing dengan Negara lain.

Tujuan pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh pandangan hidup (way of life) orang yang mendesain pendidikan itu. Tujuan pendidikan Indonesia sudah termaktub dalam undang-undang sistem pendidikan no.

20 tahun 2003 yaitu melahirkan manusia Indonesia yang sesuai dengan Pancasila. (Ahmad Tafsir. Filsafat Pendidikan Islami, Integrasi Jasmani, Rohani dan KalbuMemanusiakan manusia.

Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa, tujuan pendidikan adalah mencerdaskan bangsa dengan mengembangkan daya pikir dan bertingkah laku dipimpin oleh akal, menegakkan keadilan

(20)

dalam Negara sehingga terbentunya warga Negara yang baik yang menaati pada aturan-aturan yang berlaku.Tujuan pendidikan menggambarkan tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur yaitu:

Pertama, tujuan pendidikan nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yng harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan.Tujuan pendidikan umum dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang- undang nomor 20 Tahun 2003 pasal 3.Kedua, tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan.Ketiga, tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi.Tujuan kurikkuler juga pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan.Keempat, tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran dalam satu kali pertemuan.

c. Fungsi Pendidikan

Pendidikan hadir ditengah-tengah masyarakat memiliki banyak fungsi yang tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa an sich, tetapi juga berfungsi sebagai pencerdasan diri,sosial, negara bangsa, bukan dunia.

(21)

Fungsi pendidikan secara makro menurut Choirul Mahfud (2011:

48-49 )yaitu:

1) Pengembangan pribadi 2) Pengembangan warga Negara 3) Pengembangan kebudayaan 4) Pengembangan bangsa

Berdasarkan pendapat Choirul Mahfud, penulis dapat mengatakan bahwa fungsi pendidikan adalah Berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa fungsi pendidikan adalah mengembangkan pribadi, artinya menjadi suatu kepribadian yang baik sehingga dapat di terima oleh masyrakat, seorang yang tidak memiliki kepribadian yang baik sulit baginya untuk di terima di masyarakat. Pengembangan warga Negara, telah disinggung diatas bahwa Negara kita memiliki hukum atau aturan, yang mana sebagai warga Negara menaati peraturan yang di buat guna untuk ketertiban dan ketentraman bersama. Pengembangan kebudayaan, kebudayaan yang diteruskan oleh generasi muda dengan menjaganya serta memperkenalkan pada Negara lain akan membawa suatu kebanggaan bagi Negara Indonesia. Pengembangan bangsa, dengan pendidikan yang baik di suatu Negara maka akan membawa Negara tersebut maju.

Menurut Made Pidarta (1988:192) pendidikan melaksanakan fungsi rangkap terhadap masyarakat yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharu atau penerang, oleh Stoop disebut sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin. Dikatakan fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan disebut fungsi pemimpin sebab pendidikan memimpin masyarakat disertai dengan penemuan-penemuan untuk memajukan kehidupan masyarakat. Fungsi layanan tidak hanya terbatas kepada pemberian pendidikan dan pengajaran kepada para peserta didik, akan tetapi juga melayani aspirasi masyarakat daerah setempat.

(22)

Menurut Anis Baswedan yang dikutip oleh Munif Chatib (2013:

xiii), pendidikan dapat dipandang sebagai proses penting untuk memenuhi janji kemerdekaan. Pendidikan yang berkualitas akan mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas.

Prof. Dr. Hasan Langgulung berpendapat bahwa secara garis besar fungsi pendidikan itu ada 3. Pertama, menyiapkan generasi muda untuk memiliki kemampuan agar bisa memegang peranan-peranan pada masa yang akan datang di tengah kehidupan bermasyarakat. Kedua, memindahkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan peranan-peranan di atas dari generasi tua ke ke genarasi muda.Ketiga, Memindahkan nilai- nilai dari generasi tua ke generasi muda dengan tujuan agar keutuhan dan kesatuan masyarakat terpelihara, sebagai syarat utama berlangsungnya kehidupan suatu masyarakat dan juga peradaban.

Sementara Broom berpendapat bahwa fungsi pendidikan adalah agar terjadi proses tansmisi budaya, selain itu juga untuk mengembangkan kepribadian, mengingkatkan persatuan atau integrasi sosial masyarakat, serta mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja. Semua fungsi menurut Broom tersebut memang suatu proses yang sangat penting agar kehidupan bermasyarakat terus bertahan dan berkembanag menjadi jauh lebih baik lagi.http://dbagus.com/pengertian-dan-fungsi-pendidikan- menurut-para-ahli.

d. Implikasi wayang terhadap pendidikan remaja

Wayang merupakan seni tradisi dan warisan adiluhung dari nenek moyang yang mengandung kearifan lokal, nilai-nilai dan ajaran kebijaksanaan serta keluhuran budi pekerti yang relevan dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam cerita wayang sebagai “tontonan” juga merupakan

“tuntunan”, karena di dalamnya banyak terdapat pesan moral dan filosofi yang memiliki korelasi dalam kehidupan nyata.

(23)

Wayang dapat dipakai sebagai media informasi, karena dari segi penampilannya sangat komunikatif di dalam masyarakat. Wayang dapat dipakai untuk memahami sesuatu tradisi, sebagai alat untuk mengadakan pendekatan masyarakat, memberikan informasi mengenai masalah- masalah kehidupan dan segala seluk-beluknya. (Soekatno, 2009: 1)

Wayang juga merupakan media hiburan yang dipakai dalam berbagai keperluan.Dalam perkembangannya pertunjukan wayang sering diisi dengan Campursari, lawak dan sebagainya.Namun tetap berpegang pada tujuan perunjukan pagelaran wayang yaitu sebagai tontonan dan tuntunan.Wayang dapat juga dipakai sarana pendidikan, terutama pendidikan watak dan mental.Hal tersebut sangat penting untuk membangun karakter bangsa dalam membangun manusia seutuhnya.

(Muchyar Abi Tofani, 2013: 3)

Pembangunan mental sangat penting untuk membangun manusia seutuhnya khususnya remaja.Oleh karena itu, pengenalan nilai wayang sebagai kesenian klasik yang adi luhung perlu digalakkan. Sekolah sebagai pusat kebudayaan dan pusat pumpunan generasi muda yang menjadi penerus bangsa perlu dikenalkan, diresapkan dan ditanamkan nilai-nilai wayang.(Soekatno, 2009: 1)

Unsur-unsur pendidikan dalam cerita pewayangan di antaranya, masalah kebenaran, keadilan, kejujuran, ketaatan, kesetiaan, kepahlawanan, spiritual, psikologi, filsafat segala aspek perwatakan manusia dan problematikanya.

Unsur pendidikan dalam pagelaran wayang bukan sekedar dalam ceritanya saja namun juga terdapat pada perwujudan gambar masing- masing wayang yang merupakan gambaran watak, sifat manusia.

Sebagian besar sifat dasar, watak manusia digambarkan dalam bentuk raut muka wayang, yaitu wujud, posisi dan warnanya.Perwujudan raut muka pada bentuk mata, hidung, mulut dan warna wayang dapat mengekspresikan perwatakan, sifat wayang. Demikian juga pada posisi

(24)

raut wajah, yang luruh, longok, dan lengak melukiskan perwatakan yang berbeda.(Muchyar Abi Tofani, 2013: 5-6)

Kehidupan pewayangan mengembangkan konsep-konsep diantaranya konsep isi.Konsep pewayangan mempunyai “roso” (rasa hayatan), “watak” (temperamen) dan “isi” atau “karep” (kehendak atau tujuan).Humardani yang dikutip oleh Soetarno (1973: 12).Dalam suatu pertunjukkan wayang kulit setelah melihatnya orang biasanya membicarakan makna lakon dan peristiwa yang ada didalamnya, mendiskusikan watak dan temperemen dari tokoh-tokoh wayang.Sedangkan pada ujud pakeliran (pertunjukannya) dicari isi.Kadang-kadang orang mengupas karakter tokoh wayang dari satu lakon.Peristiwa panggung atau yang disajikan sebenarnya hanya merupakan rangsangan untuk mengunggah perhatian terhadap masalah yang di tampilkan oleh dalang.

Memahami lakon wayang sering dikatakan oleh sekelompok orang ataupun sarjana bahwa pihak pandawa atau kanan adalah pihak yang baik.Sedangkan kurawa atau yang kiri adalah pihak yang jahat. Namun kalau kita amati dan kita kaji lewat pertunjukan wayang, karakter dari tokoh-tokoh yang ada di pihak kurawa itu tidak demikian halnya.

Demikian pula pemahaman makna lakon serta karakter tokoh tidak semata-mata ditentukan oleh baiknya lakon, tetapi tergantung dalang penyaji, seberapa jauh kemampuan garapannya dalam menyajikan lakon tersebut.Setiap dalang mempunyai latar belakang dan kemampuan yang berbeda-beda.Maka kualitas pertunjukan wayang sangat tergantung pada kemampuan dalang penyaji yang dilatar belakangi pengalaman kejiwaan, pendidikan dan daya persepsi.

Penggarapan nilai-nilai dalam pertunjukan wayang sangat terbatas karena adanya kaidah-kaidah dalam pedalangan, bangunan lakon (struktur), serta medium yang digunakan.Nilai yang digarap dalam pertunjukan wayang adalah nilai-nilai hidup kemanusiaan khususnya pandangan hidup orang jawa. Dibawah ini beberapa lakon wayang yang

(25)

pernah dilihat oleh penulis “ketika terjadi perang Barathayudha sifat Yudhistira yang merupakan kakak tertua dari pandawa tetap jujur meski di dalam perang banyak strategi-strategi yang di lakukan lawan dengan kebohongan atau tipu daya, tetapi Yudhistira tidak melakukan perbutan itu menurutnya hal tersebut adalah dosa besar” dapat kita petik bahwasanya kejujuran itu tidak harus melihat situasi akan tetapi dalam kondisi apapun kita harus tetap bisa jujur. Itu merupakan salah satu nilai pendidikan yang kita dapat dari lakon pewayangan.

Keberadaan wayang kulit purwa yang serat dengan nilai hidup untuk membangun perwatakan manusia Jawa, khususnya agar menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan budaya Jawa (manusia utama).(Soetarno, 1973: 12)

Berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa kesenian wayang kulit ini tidak hanya sebagai suatu sarana hiburan bagi masyarakat, namun di dalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan bagi yang menyaksikan pertunjukannya. Disetiap ceritanya memberikan pesan moral kepada kita seperti suatu tindakan yang dilakukan oleh para kurawa tidak baik untuk di contoh salah satunya merebut kekuasaan yang bukan haknya, berbuat licik untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tidak menghormati orang yang lebih tua. Penting bagi kita terutama generasi muda penerus bangsa yang saat ini banyaknya suatu kebudayaan asing yang masuk kedalam Negara Indonesia tanpa masyarakat filter baik atau tidaknya suatu kebudayaan asing tersebut, sehingga banyak anak muda yang lupa akan nilai dan norma dari jati diri Negara Indonesia.

e. Kesenian Wayang Kulit Sebagai Media Pendidikan

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari suatu generasi ke generasi lainnya. Nilai- nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada 3 bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa

(26)

tanggungjawab dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki misalnya tata cara perkawinan, dan tidak cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal. Disini tampak bahwa,proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas menyiapkan peserta didik untuk hari esok.

Pada tahun 2003 wayang Indonesia diakui oleh UNESCO sebagai warisanluhur budaya dunia, menjadi salah satu dari sekian banyak kekay aan elemen budayaIndonesia yang digunakan sebagai identitas kebangsaan generasi muda Indonesiasaat ini. Kesadaran yang tinggi akan kekayaan budaya dan cerita Wayang Indonesia.

Media pendidikan dalam wayang kulit tidak hanya terdapat pada cerita-ceritanya, cara pentas atau pakelirannya, instrument dan seni pedalangannya, tetapi juga pada perwujudan gambar wayang itu masing- masing. Wayang-wayang itu merupakan gambaran watak-watak manusia. Tidak kurang dari 200 watak manusia digambarkan pad kurang lebih 200 macam gambar wayang kulit. (Soekatno, 2009: 2)

Dalam pertunjukan pagelaran wayang di dalamnya terkadung banyak nilai serta ajaran-ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa medium yang lain banyak mengandung nilai filosofi. Seperti simpingan wayang, orang telah mempunyai penilaian.Bahwa simpingan kanan melambangkan tokoh yang baik, simpingan yang kiri melambangkan tokoh yang jahat atau buruk. Pesan yang disampaikan terutama bahwa kejahatan, keburukan akan dikalahkan oleh kebenaran dan kebaikan.

Menurut Muchyar Abi Tofani (2013: 6), di dalam pagelaran wayang sangat kaya akan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Diantaranya :

1) Nilai keadilan, nilai keadilan ini terdapat pada tokoh wayang Kresna, dan lain-lain.

(27)

2) Nilai ketaatan, terdapat pada tokoh wayang Werkudara, dan lain- lain.

3) Nilai kesetiaan, terdapat pada tokoh wayang Dewi Shinta, Dewi Madrim, dan lain-lain.

4) Nilai kepahlawanan, terdapat pada tokoh wayang Kumbakarna, Abimanyu, Dipati Karna, dan lain-lain.

5) Nilai kejujuran, terdapat pada tokoh wayang Puntadewa, dan lain- lain.

Kita telah melihat nilai-nilai yang terungkap dalam pewayangan.Kita dapat memahami bahwa wayang tentunya bukan saja merupakan salah-satu sumber pencarian nilai-nilai yang amat diperlukan bagi kelangsungan hidup bangsa, tetapi wayang juga merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan watak yang baik sekali.

Pertama, pertunjukan wayang itu sendiri merupakan alat pendidikan watak yang menawarkan metode pendidikan yang amat menarik. Karena wayang mengajarkan ajaran dan nilai-nilainya tidak sebagai dogmatis sebagai suatu indoktrinasi, tetapi ia menawarkan ajaran dan nilai-nilai kebaikan; terserah kepada penonton (masyarakat dan individu-individu) sendiri untuk menafsirkannya, menilai dan memilih ajaran dan nilai-nilai mana yang sesuai dengan pribadi atau hidup mereka. Selanjutnya wayang mengajarkan ajaran dan nilai-nilai itu tidak secara teoretis saja (berupa ajaran dan nilai-nilai) melainkan secara konkret dengan menghadirkan kehidupan tokoh-tokohnya yang konkret sebagai teladan.

Pertama, wayang juga tidak mengajarkan ajaran dan nilai-nilai itu secara kaku atau akademis, melainkan ia di samping mengajak penonton untuk berpikir dan mencari sendiri (sebagai dilambangkan adegan wayang golek di akhir pertunjukan), ia juga mendidik penonton melalui hati/ rasanya dengan jalan adegan-adegan lucu, mengharukan atau menyentuh hati, membuat hati geram. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode pendidikan watak yang dipakai dalam pertunjukan wayang adalah metode total tetapi non-formal.

(28)

Kedua, materi pendidikan watak yang ada dalam wayang (berupa lakon-lakon, tokoh-tokoh dan ajaran serta nilai-nilainya) dapat digunakan bagi pendidikan watak dengan metode lain seperti pendidikan agama, pendidikan moral atau kita sebut pada masa lalu bidang studi PMP (pendidikan Moral Pancasila).

Fungsi dan peran pertunjukan kesenian wayang kulit sendiri pertama,sarana ungkap orang jawa dalam memahami alam semesta, baik rohani maupun jasmani. Kedua, penghubung antara budaya tradisional klasik (baca kraton) dengan budaya tradisional kerakyatan.Ketiga, frame of reference dalam mengeseimbangkan ekspresi moral (etika), keindahan seni (estetika), peribadatan (devosional), dan hiburan.

Isi cerita yang disampaikan oleh para dalang sangatlah penting artinya karena akan memberikan pengalaman jiwa yang mendalam.

Pesan-pesan tersebut menyangkut nilai-nilai religius, moral, kemanusiaan, keadilan, kesetiaan, kesetiakawanan sosial, dan patriotisme.Artinya para dalang mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman beserta kebutuhan masyarakatnya dengan menyajikan karya-karya yang lebih berkembang dan variatif dengan tetap berpegang pada konsep etika dan estetika. (Adrian Kresna, 2012: 42)

B. Kajian Penelitian yang Relavan

Setelah peneliti menelusuri penelitian-penelitian yang dilakukan oleh orang lain atau sebuah lembaga dalam masalah yang sama, atau memiliki kemiripan baik yang berkenaan dengan “pengaruh kesenian wayang kulit terhadap pendidikan masyarakat remaja di Desa Kertanegara Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu” ditemukan beberapa hasil penelitian sebagai berikut:

1. Umar Abdurrahman(2013): PENGARUH BUDAYA KESENIAN WAYANG TERHADAP INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

(29)

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa,dengan berkembangnya globalisasi dan pengaruh budaya luar terma suk budaya barat yang masuk ke negara Indonesia, sudah mulai banyak budaya-budaya lokal yang dilupakan, salah satunya yaitu budaya kesenian yang tersebar luas macam dan ragamnya di seluruh nusantara yaitu wayang. Banyak anak Indonesia yang mulia mengganti kesenian local dengan kesenian luar. Oleh karena itu industri kreatif yang juga mulai berkembang pesat di Indonesia dapat membantu bangkitnya kembali budaya-budaya kesenian yang ada di Indonesia khususnya kesenian wayangdengan membangkitkan kembali budaya-budaya dan kesenian khususnyawayang, generasi Indonesia yang akan datang akan mengenali dasar budaya yang pernah ada di Indonesia, salah satu caranya dengan mengambil konsep padawayang itu sendiri ke dalam karya industri kreatif Indonesia dan internasionalagar budaya wayang juga dapat dikenal dan mungkin dapat mempengaruhi perkembangan industri kreatif, budaya dan globalisasi di seluruh dunia.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penelitian umar Abdurrahman dengan penelitian peneliti sama-sama mengharapkan generasi muda tidak meninggalkan kebudayaan khususnya kesenian wayang kulit di era globalisasi ini. Namun penelitian umar membangkitkan kesenian wayang kulit dengan industri kreatif yang sedang pesat di Indonesia akan tetapi dalam penelitianpeneliti menanamkan nilai-nilai pendidikan yang ada dalam pertunjukkan kesenian wayang kulit tehadap masyarakat remaja guna remaja dapat menjaga kelestarian wayang kulit dengan keikutsertaanya tersebut.

2. Dessi Stifa Ningrum(2010):PERAN TOKOH PUNAKAWAN DALAM WAYANG KULIT SEBAGAI MEDIA PENANAMAN KARAKTER

(30)

DI DESA BENDOSEWU KECAMATAN TALUN KABUPATEN BLITAR

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Latar cerita Punakawan dalam kesenian wayang kulit bermula dari keinginan Walisanga dalam menyebarluaskan agama Islam ke dalam Indonesia. (2) Karakter Punakawan dalam kesenian wayang kulit, Karakter Punakawan adalah simbol atau pola dari pembantu pimpinan yang ideal. (3) Peran Punakawan dalam menanamkan karakter pada masyarakat Bendosewu di dalam pertunjukan wayang kulit yaitu penghibur , penasehat, pengkritik dan pengingat (mengingatkan orang) dari semua tokoh-tokoh Punakawan memiliki peran sebagai lelucon belaka. (4) Peran Dhalang dalam menghidupkan peran Punakawan dalam pentas wayang kulit yaitu dalam menghidupkan Punakawan selalu diiringi dengan lagu-lagu lelucon dan gendhing-gendhing, memerankan Punakawan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.(5) Persepsi masyarakat mengenai peran Punakawan dalam menanamkan karakter pada pentas wayang kulit di Desa Bendosewu, Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pendukung dan kelompok acuh tak acuh.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penelitianDessi Stifa Ningrum dengan penelitian penelitisama-sama berpendapat kesenian wayang kulit sebagai penanaman karakter.

Perbedaanya dalam penelitian peneliti penanaman nilai-nilai pendidikan dalam pertunjukan kesenian wayang kulit terhadap remaja, tidak hanya karakter akan tetapi mencakup semua pendidikan seperti pendidikan sejarah, agama, filosofi dan lain sebagainya.

3. Ahmad Dimyati (2012):EKSISTENSI WAYANG KULIT SEBAGAI MEDIA KRITIK SOSIAL (STUDI PADA GROUP WAYANG KULIT GEMA RINJANI H. LALU NASIB AR).

(31)

Dari analisis yang telah dijabarkan untuk membahas fokus penelitian, peneliti menyimpulkan dengan dua bagian sesuaidengan fokus penelitian yang telah diteliti, yaitu: (1) Eksistensi wayang kulit Gema Rinjani sebagai media kritik sosial.Wayang Gema Rinjani merupakan media tradisional yang sudah melekat dikehidupan sosial masyarakat NTB, kehadiran dan keberadaannya memberikan nilai yang positif bagi penggemar pewayangan dan masyarakat yang mencari informasi yang terkandung didalam lakon wayang tersebut. Keberadaannya yang turut memeriahkan dunia komunikasi dan informasi, memberikan pengalaman baru tentang sebuah informasi dari keberadaannya yang sudah lama menjadi kesenian masyarakat. Sebagai media komunikasi publik dan terus berkembang ke media komunikasi massa, merupakan kesempatan untuk memberikan sebagian pengetahuan yang dimiliki seorang komunikator pewayangan.

Pesan yang disampaikan berupa kritik sosial, norma, pendidikan, agama, sangat efektiff ketika dimanfaatkan dengan seksama untuk merubah dan mengontrol perilaku sosial masyarakat. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi wayang kulit Gema Rinjani sebagai media kritik sosial. Komunikasi modern dan tradisioanal tidak terlepas dari pasang surut dalam mempertahankan keeksistensiannya. Wayang kulit Gema Rinjani dalam mempertahankan keeksistensiannya ditengah pengaruh globalisasi media informasi modern, menerapkan tiga hal utama sebagai motor penggerak keberadaanya meliputi: (a) Ritual, suatu prosesi yang dilakukan sebelum dimulainya acara pegelaran wayang kulit Gema Rinjani dan ritual ini sifatnya mistis. (b) Kredibilitas komunikator, yang dimiliki seorang dalang ataupun komunikator sebagai pendukung citra kepada masyarakat. (c) Bahasa, tak kenal maka tak sayang, pepatatah yang digunakan dalang Lalu Nasib dalam menyiasati timbal balik yang diinginkan dari pesan yang disampaikan dalam setiap pengelarannya dengan menggunakan bahasa yang mudah dan sederhana. (d) Sanggar, ini merupakan suatu komunitas yang berdikari sebagai atap dari segala kegiatan didalamnya yang bertujuan untuk cepat dikenal dan diakui

(32)

masyarakat. Dari faktor di atas menjadi hal yang cukup berpengaruh selama keberadaan wayang kulit Sasak dikembangkan menjadi media hiburan dan sosialiasi masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penelitianAhmad Dimyati dengan penelitian peneliti sama-sama berpendapat bahwa kesenian wayang kulit banyak mengandung nilai-nilai positif dan perbedaanya penelitian Ahmad Dimyati lebih kepada wayang sebagai media kritik sosial masyarakat sedanngkan penelitian peneliti lebih kepada penanaman nilai-nilai pendidikan yang akan didapat masyarakat remaja baik masyarakat remaja yang mengenyam pendidikan maupun yang tidak.

4. Jimmy Setiawan (2010): UNSUR PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa: (1) Karakteristik seni wayang kulit melalui pertunjukan, diiringi gamelan dengan membawakan lakon-lakon yang identikan para tokoh yang berhubungan dengan tatanan kehidupan manusia, mengandung makna kewajiban melaksanakan ibadah, haji, menegakan ajaran Islam, tasawuf, keampuhan kalimat tauhid, ke-Esaan Tuhan, kemenangan Islam, serta tentang sifat- sifat Tuhan. (2) Pandangan Islam tentang seni merupakan sosialisasi mengoptimalkan sinergi yang positif terhadap apa yang di yakini manusia terhadap Tuhan yang diharapkan secara tidak langsung seni dapat membrantas kemaksiatan dengan menempatkan ajaran Islam sebagai sumber inspirasi. (3) Nilai pendidikan Islam pada pertunjukan wayang kulit antara lain terkandung dalam ungkapan bimbingan berupa ajaran dan nilai-nilai kemanusiaan, dan pendidikan watak (filsafat) yang berguna bagi kemashlahatan manusia.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penelitian Jimmy Setiawan dengan penelitian peneliti sama-sama berpendapat dalam pertunjukan kesenian wayang kulit mengajarkan ajaran-ajaran islam melihat latar belakang kesenian wayang kulit yang

(33)

disebarkan oleh walisanga. Namun perbedaanya dalam penelitian peneliti semua nilai-nilai pendidikan tidak hanya pendidikan agama saja.

C. Kerangka Pikir

Seni adalah suatu nilai hakiki yang takbisa dipisahkan dari kehidupan manusia.Dalam seluruh sejarah kebudayaan manusia pun ditandai dengan seni manusia sebagaimana terungkap dalam pelbagai ragam karya seni.Seni adalah nilai yang secara kreatif mendorong manusia kea rah pemenuhan martabat manusia sebagai manusia.Seni juga merupakan segi batin masyarakat, yang juga berfungsi sebagai jembatan penghubung antar kebudayaan yang berlainan coraknya. Rusmin Tumanggor, dkk (2008: 140).

Kesenian wayang kulit ini bisa kita jumpai di beberapa daerah di Indonesia khusunya di Jawa ini sendiri. Menurut Anderson dan Woro Aryadini (2002) yang di kutip oleh Ardian Kresna (2012:22), wayang adalah unsur terpentig dalam kebudayaan Jawa, yaitu sebagai Compelling religious mythology, yang berarti bahwa cerita-cerita dalam pewayangan mampu menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, meliputi seluruh daerah geografi Jawa dan semua golongan social masyarakat Jawa.

Perlindungan hukum wayang kulit diatur di dalam undang-undang hak cipta no 19 tahun 2002 maupun intangible cultural heritage (ICH).Kedua aturan yang mengatur tentang perlindungan folklor khususnya terhadap wayang kulit.Undang-Undang Republik Indonesianomor 19 tahun2002tentanghak ciptadengan rahmat Tuhan Yang Maha Esapresiden Republik Indonesia, dalam menimbang salah satu isinya bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni dan sastra dengan pengembangan pengembangannya yang memerlukan perlindungan Hak Cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut.

Seperti isi dalam undang-undang diatas yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki banyak keanekaragaman suku, budaya serta kekayaan di bidang seni dan sastra.Untuk itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus

(34)

bangga dan menjaga serta memeliharanya kebudyaan yang kita miliki, salah satunya seperti kesenian wayang kulit. Tanpa sadar banyak pengetahuan pendidikan sejarah yang kita dapat dari kesenian wayang kulit, kesenian wayang kulit merupakan salah satu proses dalam pendidikan informal, dimana suatu pendidikan yang kita dapat dari keluarga, masyarakat atau lingkungan yang ada di sekitarnya.

Pendidikan perlu mengantisipasi dampak global yang membawa masyarakat berbasis pengetahuan dimana IPTEKS (Ilmu pengetahuan, Teknologi, dan seni) sangat berperan sebagai penggerak utama perubahan.

Pendidikan harus terus menerus melakukan adaptasi dan penyesuaian perkembangan IPTEKS sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan.(Sholeh Hidayat, 2013: 93)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Perubahan IV) BAB XIII pendidikan dan kebudayaan Pasal 31 ayat (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Pasal 32 ayat (1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Menurut Ki Hajar Dewantara yang sekaligus merupakan bapak pendidikan Indonesia.Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Dengan kebudayaan, manusia berusaha memahami lingkungan sekitarnya sehingga dapat menguasai, memandang dan memahami segala gejala yang tampak sekaligus memilah-milah dan menentukan tata cara serta strategi pengaturannya.

Masyarakat terdiri atas sekelompok manusia yang menempati daerah tertentu, menunjukan integrasi berdasarkan pengalaman bersama berupa kebudayaan, memiliki sejumlah lembaga yang melayani kepentingan

(35)

bersama, mempunyai kesadaran akan kesatuan tempat tinggal dan bila perlu dapat bertindak bersama. (Nasution, 2009:150)

Tiap masyarakat mempunyai sesuatu yang khas, lain daripada yang lain, walaupun tampaknya sama dari luar misalnya mengenal hal-hal fisik seperti pakaian. Yang memberi kekhasan pada suatu masyarakat adalah hubungan sosialnya. Hubungan sosial ini antara lain dipengaruhi oleh besarnya masyarakat itu.

Kekhasan dari masyarakat itu yang akan memunculkan suatu budaya baru bagi masyarakat daerah tersebut, kekhasan kebudayaan Jawa akan kesenian wayang kulit memang sudah diakui dimata Negara kita dan internasional buktinya sudah adanya suatu undang-undang tersendiri tentang perlindungan wayang kulit.

Gambar 2.1

Keterkaitan kesenian wayang kulit terhadap pendidikan masyarakat remaja

Berdasarkan gambar 2.1 dapat dijelaskan bahwa, adanya keterkaitan antara komponen-komponen yang ada. Masyarakat yang tinggal dalam suatu tempat, maka menghasilkan sebuah kebudayaan, kesenian, dan pendidikan.

Kebudayaan yang muncul akibat kebiasaan-kebiasaan dari masyarakatnya, dari sebuah kebudayaan akan lahir suatu kesenian seperti kesenian wayang

Budaya

Kesenian Wayang Kulit Pendidikan

Masyarakat Remaja

(36)

kulit. Kesenian wayang kulit memberikan suatu kontribusi terhadap pendidikan masyarakat remaja, kemudian budaya dan pendidikan saling memberikan kontribusi dan saling keterkaitan satu sama lain. Semua komponen tersebut berasal dari sekelompok orang yang mendiami suatu tempat tinggal yang sama dan mempunyai tata aturan atau norma serta memiliki tujuan yang sama yaitu masyarakat, maka terbentuklah komponen- komponen seperti gambar yang diatas.

Referensi

Dokumen terkait

Berdiskusi secara kelompok cara desain dan pengemasan karya kerajinan bahan lunak dengan perangkat Berdiskusi secara kelompok cara desain dan pengemasan karya kerajinan bahan

Penelitian ini menganalisa gerakan AHTS MP Premier saat operasi towing dalam ranah time domain, selain itu Penelitian ini meninjau kemungkinan terjadinya slamming dan greenwater

Dalam penyusunan konsep produk dilakukan pembuatan pohon klasifikasi konsep untuk menentukan beberapa alternatif penyelesaian masalah yang terjadi dalam proses perakitan

Kesimpulan yang dapat dibuat di dalam kajian ini adalah polifenol daripada minyak kelapa dara mencegah lipid peroksida pada sel MC3T3-E1 yang telah diaruh dengan H 2 O 2 dengan

Antibakteri adalah zat yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktifitas bakteri, salah satu metoda uji aktivitas antibakteri yaitu dengan metode difusi cara cakram

Kadar protein ditentukkan regresi liniernya terhadap kurva standar BSA (Harjanto, 2017). Pembuatan hidrogel ekstrak kulit nanas a. 2) Mencampurkan etanol 96% ke dalam

Banyak sungai Kunjungan rumah / Monitoring kurang Material Metode Gerakan masyarakat untuk kerjabakti Kurangnya Penyuluhan Bebas BAB disembarang tempat Kesadaran masyarakat

Pada penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah faktor predisposisi (umur, pendidikan, pengetahuan, sikap dan budaya), faktor pendukung (penghasilan keluarga dan jarak