PENGARUH VARIASI FRAKSI VOLUME, TEMPERATUR DAN WAKTU POST-CURING TERHADAP KARAKTERISTIK BENDING
KOMPOSIT POLYESTER - PARTIKEL HOLLOW GLASS MICROSPHERES
• Kevin Yoga Pradana 2109 100 054
• Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Ir. Wajan Berata, DEA
Latar Belakang
Keterbatasan persediaan material logam
- Material ringan
- Sifat mekanik sesuai kebutuhan
Particulate Composite
Problem
Need
Solution
Aplikasi Material
Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh variasi volume fraksi HGM pada komposit terhadap karakteristik bending.
Bagaimana pengaruh perbedaan
temperatur dan waktu penahanan pada proses post-curing terhadap karakteristik bending dalam volume fraksi tetap.
1.
2.
Tujuan
Menganalisa pengaruh variasi volume fraksi HGM pada komposit terhadap karakteristik bending.
Menganalisa pengaruh perbedaan temperatur dan waktu penahanan pada proses post-curing komposit terhadap karakteristik bending dalam volume fraksi tetap.
1.
2.
Batasan Masalah
Temperatur pada proses pembuatan dan pengujian dianggap konstan, yaitu 27°C
Spesimen yang dihasilkan dari proses pencetakan dianggap baik (porositas maksimal yang diijinkan adalah 2%)
Komposisi dan dimensi Hollow Glass Microspheres
(HGM) dianggap sama
DASAR TEORI
Komposit adalah suatu bahan yang merupakan gabungan atau campuran dari dua material atau lebih untuk membentuk material ketiga yang lebih bermanfaat ( Jones, 1975 )
Matriks
Filler
Particulate
Composite
Matriks
Material yang berfungsi sebagai pengisi dan pengikat yang mendukung, melindungi, dan mendistribusikan beban dengan baik ke material penguat komposit (Sumber : Principles Of Composite Material Mechanics, R.F Gibson)
Jenis komposit berdasarkan
matriks-nya
MMC (Metal Matriks
Composite)
CMC
(Ceramic Matriks Composite)
PMC
(Polymer Matriks Composite)
Ex : Alumunium, magnesium,
titanium
Ex : Alumina, alumunium titanate, silicon
carbide
Ex : thermoplastik, thermoseting
Jenis komposit berdasarkan
penguatnya
fibricus composite
laminated composite
particulate
composite Hybrid Composite
Penguat
Berfungsi memperkuat matrik karena pada umumnya filler jauh lebih kuat dari pada matriks dan nantinya akan memperkuat pembentukan bahan dengan mempengaruhi sifat fisik dan mekanik bahan yang terbentuk (Sumber : Principles Of Composite Material Mechanics, R.F Gibson)
Polymer Matriks Composite
Polyester (Matriks)
Hollow Glass Microspheres
(Pengisi)
Particulate Composites
Ringan
Mudah dibentuk
Biaya produksi rendah Daya tahan simpan lama
Tahan korosi
Resin Unsaturated Polyester
1. Kaku dan rapuh 2. Viskositas rendah
3. Temperatur kerja 100 – 140°C 4. Harga relatif murah
5. Waktu curing yang cepat
Hollow Glass Microspheres
1. Dimensi rata-rata 22 μm
2. Range temperatur kerja 30°C-220°C dan softening point-nya 600
oC
3. Menurunkan konduktivitas termal dan juga densitas
Pengujian Spesimen
Uji Bending • Tegangan Bending
• Modulus elastisitas
Curing
• Agar terjadi ikatan crosslink antara polyester dan pengisi.
• Untuk mempercepat post-curing
Studi Terdahulu
Komposit campuran resin epoksi + serbuk kaca + katalis
dituang ke cetakan dan dibiarkan selama 24 jam pada suhu kamar kemudian ditempatkan dalam oven pada 50°C selama 3 jam untuk post-curing
adanya kenaikan modulus elastisitas pada komposit yang mengandung 20% serbuk kaca, 30% serbuk kaca dan yang berisi 10% serbuk kaca + 10% partikel grafit.
komposit diperkuat dengan 10% serat kaca + 10%
partikel grafit memiliki tegangan bending tertinggi serta kekakuan yang sangat baik.
Sumber : A.A.Ibrahim, “Flexural Properties of Glass and Graphite Particles Filled Polymer Composites”, College of
Technical-Baghdad, Foundation of Technical Education, 2010.
Studi Terdahulu
Sumber : Aruniit A., Kers J., “Preliminary Study of the Influence of Post Curing Parameters to the Particle Reinforced Composite's Mechanical and Physical Properties” , Department of Materials Engineering, Tallinn University of Technology, 2011.
METODOLOGI PENELITIAN
START
Studi Literatur
Proses curing komposit selama 24 jam
Pemilihan variabel yang divariasikan
Pemotongan spesimen sesuai standart dimensi pengujian bending
Proses post-curing spesimen dengan temperatur 60°C selama 3
jam dan 5 jam
Proses post-curing spesimen dengan temperatur 110°C selama
3 jam dan 5 jam Proses post-curing spesimen
dengan temperatur 90°C selama 3 jam dan 5 jam
Pencatatan data hasil pengujian
Pengamatan struktur makro dan mikro/SEM
Analisa data dan Pembahasan
END Kesimpulan Uji bending Pembuatan spesimen dengan variasi volume fraksi HGM mulai
0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%
dan 30%
Pengujian komposit
Uji DSC Uji bending
Pembuatan komposit dengan volume fraksi yang menghasilkan
kekuatan bending optimum
Material yang Digunakan
Resin unsaturated polyester
HGM jenis K42HS
Katalis MEKPO
Peralatan yang Digunakan
1. Mesin Uji Tekan-Bending Wolfert 2. Cetakan Kaca Komposit
3. Heater ( furnace ) 4. Termokopel
5. Alat bantu : gerinda, kapi, soket pengaduk, pipet, plastisin, wax
6. Alat ukur : timbangan digital, jangka sorong, gelas ukur
Peralatan yang Digunakan
7. Mikroskop Stereo Zeiss STEMI DV4 8. Mesin SEM Zeiss EVO MA 10
9. Mesin DSC Mettler-Toledo
Variabel Penelitian
Kode Spesim en
Fraksi Volum e HGM
(%)
Tempe ratur Penaha nan (°C)
Jumlah Resin
(gr) HGM (gr)
0a, 0b,
0c
0%
27
3 27,337 0 5a,
5b, 5c
5% 3 25,970 0,675
10a, 10b, 10c
10% 3 24,603 1,35
15a, 15b, 15c
15% 3 23,236 2,025
20a, 20b, 20c
20% 3 21,87 2,7
25a, 25b, 25c
25% 3 20,503 3,375
30a, 30b, 30c
30% 3 19,136 4,05
Kode Spesimen
Fraksi Vol.
HGM (%) Temp. Post- Curing
(°C)
Waktu Penahanan
(jam)
Jumlah
A.1 A.2 A.3
X
27 24 3
B.3.1 B.3.2 B.3.3
60
3 3
B.5.1 B.5.2 B.5.3
5 3
B.3.1 B.3.2 B.3.3
90
3 3
B.5.1 B.5.2 B.5.3
5 3
B.3.1 B.3.2 B.3.3
110
3 3
B.5.1 B.5.2 B.5.3
5 3
Variasi temperatur-waktu penahanan post-curing Variasi fraksi volume
Langkah Percobaan
- Membuat batas cetakan dengan kaca
- Batas samping dan dasar cetakan kaca dilapisi wax
- Berat polyester resin dan HGM diukur sesuai perbandingan fraksi volume
- Campuran diaduk sampai merata, ditambahkan katalis, setelah dicampurkan langsung dituang ke cetakan
- Komposit dilepas dari cetakan, didiamkan selama 24 jam pada suhu kamar kemudian dilakukan uji bending - Setelah didapat volume fraksi dengan tegangan dan
modulus tertinggi, komposit dengan penambahan HGM tertentu tersebut selanjutnya akan divariasikan temperatur-waktu penahanan post-curing pada 60°C, 60°C, dan 60°C masing-masing selama 3 dan 5jam, kemudian diuji bending
Prosedur Uji Bending
Sumber : ASTM Standards, D 790M-84, Standard Test Method for Flexural and Reinforced Plastics and Electrical Insulating Materials
Data Pengujian Bending
Kode spesi
men
Fraksi volume
HGM (%)
Temp.
Penahan an (°C)
P (K N)
Defle ksi (mm)
S (Mpa)
S Rata (Mpa)
E (Gpa)
E (Gpa)
0.a
0
Temper
atur kamar
(±27)
0.b
0.c
5.a
5
5.b
5.c
10.a
10
10.b
10.c
15.a
15
15.b
15.c
20.a
20
20.b
20.c
25.a
25
25.b
25.c
30.a
30
30.b
30.c
No Fraksi
Vol.
HGM (%)
Temp.
Post Curing
(°C)
Waktu Penahanan
(jam) P (KN) Defleksi
(mm) S
(Mpa) S Rata (Mpa) E
(Gpa) E Rata (Gpa) A.1
X
27 24
A.2
A.3
B.3.1
60
3
B.3.2
B.3.3
B.5.1
5
B.5.2
B.5.3
C.3.1
90
3
C.3.2
C.3.3
C.5.1
5
C.5.2
C.5.3
D.3.1
110
3
D.3.2
D.3.3
D.5.1
5
D.5.2
D.5.3
Variasi fraksi volume Variasi temperatur-waktu penahanan post-curing
DATA HASIL PENELITIAN VARIASI VOLUME FRAKSI
Kode Spesimen
Fraksi vol.
HGM
Temp. Post-
Curing P (KN) Defleksi
(mm) S (Mpa) S Rata
(Mpa) E (Gpa) E Rata (Gpa) (°C)
0.a
0%
27
0,5 4 68,055
72,593 21,177
22,589
0.b 0,55 4 74,861 23,295
0.c 0,55 4 74,861 23,295
5.a
5%
0,6 3,5 81,667
74,861 22,236
23,206
5.b 0,5 4 68,056 21,177
5.c 0,55 4,5 74,861 26,206
10.a
10%
0,55 4,5 74,861
79,398 26,206
23,559
10.b 0,6 3,5 81,667 22,236
10.c 0,6 3,5 81,667 22,236
15.a
15%
0,5 4,5 68,056
77,13 23,824
23,824
15.b 0,6 4 81,667 25,412
15.c 0,6 3,5 81,667 22,236
20.a
20%
0,55 4,5 74,861
72,593 26,206
23,559
20.b 0,6 4 81,667 25,412
20.c 0,45 3,5 61,25 19,059
25.a
25%
0,5 4 68,056
63,519 21,177
20,559
25.b 0,45 4,5 61,25 21,442
25.c 0,45 4 61,25 19,059
30.a
30%
0,3 6 40,833
43,102 19,059
19,236
30.b 0,3 5,5 40,833 14,559
30.c 0,35 6,5 47,638 24,089 Volume fraksi HGM (%)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30%
Tegangan (MPa)
Volume fraksi HGM (%)
Hasil Foto Makro
Arah Pembebanan
Crack initiation
Arah Pembebanan
Arah pengambilan foto makro
komposit penambahan HGM 0% dengan perbesaran 10x
komposit penambahan HGM 10% dengan perbesaran 12x komposit penambahan HGM
5% dengan perbesaran 10x Arah Pembebanan
Arah Pembebanan
Crack initiation
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
komposit penambahan HGM 15% dengan perbesaran 15x
komposit penambahan HGM 20% dengan perbesaran 20x Permukaan patah
ulet Permukaan patah getas
Crack initiation Arah Pembebanan
Arah Pembebanan
komposit penambahan HGM 25% dengan perbesaran 15x
komposit penambahan HGM 30% dengan perbesaran 15x Permukaan patah
ulet Permukaan patah getas
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas Arah Pembebanan
Arah Pembebanan
HASIL UJI DSC
Tg Polyester = 76,98°C
Tg HGM = 132,79°C
HASIL UJI DSC
Gambar grafik hasil uji DSC pada komposit dengan penambahan fraksi volume 10% HGM
Tg Komposit > Tg HGM dan Polyester Jadi, komposit dapat bekerja pada temperatur
lebih tinggi dibandingkan polyester
Hasil Uji SEM Polyester 100%
Perbesaran 35x
Perbesaran 400x Arah pembebanan
Hasil Uji SEM Polyester komposit dengan penambahan HGM 10%
Perbesaran 35x
Perbesaran 500x
Matrix cracking Void
Arah pembebanan
HGM yang rusak Debonding
Hasil Uji SEM Polyester komposit dengan penambahan HGM 30%
HGM yang rusak Debonding
Void Perbesaran 35x
Perbesaran 500x
DATA HASIL PENELITIAN VARIASI TEMPERATUR DAN WAKTU PENAHANAN POST CURING
No.
Fraksi Volume HGM (%)
Temp. Post
Curing (°C) Waktu Penahanan
(jam) P (KN) Defleksi
(mm) S (Mpa) S Rata
(Mpa) E (Gpa) E Rata (Gpa)
A.1
10
27 24
0,55 4,5 74,861
79,398 26,206
23,559 A.2
0,6 3,5 81,667 22,236
A.3
0,6 3,5 81,667 22,236
B.3.1
60
3
0,75 3 102,08
102,08 23,824
26,647 B.3.2
0,7 3 95,278 22,236
B.3.3
0,8 4 108,89 33,883
B.5.1
5
0,7 4 95,278
106,62 29,648
39,001 B.5.2
0,85 5 115,69 45,001
B.5.3
0,8 5 108,89 42,354
C.3.1
90
3
0,8 4 108,89
117,96 33,883
45,883 C.3.2
0,8 6 108,89 50,824
C.3.3
1 5 136,11 52,942
C.5.1
5
0,9 6 122,5
124,77 57,177
48,177 C.5.2
0,85 5 115,69 45,001
C.5.3
1 4 136,11 42,354
D.3.1
110
3
0,55 4 74,861
72,593 23,295
23,559 D.3.2
0,5 4 68,056 21,177
D.3.3
0,55 4,5 74,861 26,206
D.5.1
5
0,5 3,5 68,056
65,787 18,53
22,942 D.5.2
0,5 5 68,056 26,471
D.5.3
0,45 5 61,25 23,824
Hasil Foto Makro
Arah Pembebanan
Arah pengambilan foto makro
komposit penambahan HGM 10% dipost curing 60°C selama 3 jam perbesaran 10x
komposit penambahan HGM 10% dipost curing 60°C selama 5 jam perbesaran 10x
Arah Pembebanan
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
Crack initiation
Arah Pembebanan
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
komposit penambahan HGM 10% dipost curing 90°C selama 5 jam perbesaran 10x komposit penambahan HGM
10% dipost curing 90°C selama 3 jam perbesaran 10x
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
Crack initiation
Crack initiation Arah Pembebanan
Arah Pembebanan
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas
Permukaan patah ulet
Permukaan patah getas Arah Pembebanan
Arah Pembebanan
komposit penambahan HGM 10% dipost curing 110°C selama 3 jam perbesaran 10x
komposit penambahan HGM 10% dipost curing 110°C selama 5 jam perbesaran 10x
HASIL UJI DSC
Tg 60°C – 3 jam = 99,67°C
Tg 60°C – 5 jam = 101,18°C
Tg 90°C – 3 jam = 102,73°C
Tg 90°C – 5 jam = 103,31°C
Tg 110°C – 3 jam = 105,90°C
Tg 110°C – 5 jam = 108,54°C
Grafik Hasil Pengaruh Temperatur dan Waktu Post-Curing Komposit dengan Penambahan 10%
HGM terhadap Temperature of Cure (%) Grafik Hasil Pengaruh Temperatur dan Waktu
Post-Curing Komposit dengan Penambahan 10%
HGM terhadap Glass Transition Temperature (Tg)
Temperatur post curing Tg
Sumber: Jurnal Thermal Properties of Polymers
http://plc.cwru.edu/tutorial/enhanced/files/polymers/therm/therm.htm
Crosslink Enthalpy Crosslink