• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN BAGIAN SORTASI DAN PENGEPAKAN MENGGUNAKAN METODE WORK SAMPLING DAN NASA-TLX DI PTPN III KEBUN RANTAU PRAPAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN BAGIAN SORTASI DAN PENGEPAKAN MENGGUNAKAN METODE WORK SAMPLING DAN NASA-TLX DI PTPN III KEBUN RANTAU PRAPAT"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN BAGIAN SORTASI DAN PENGEPAKAN MENGGUNAKAN METODE WORK SAMPLING DAN NASA-TLX DI PTPN III KEBUN RANTAU

PRAPAT

TUGAS SARJANA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Oleh

LAILAN RAHMADANI HARAHAP NIM : 120403168

D E P A R T E M E N T E K N I K I N D U S T R I F A K U L T A S T E K N I K

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N

2 0 1 7

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Sarjana ini dengan baik.

Tugas Sarjana ini merupakan langkah awal bagi penulis untuk mengenal dan memahami lingkungan kerja serta menerapkan ilmu yang telah dipelajari dan diperoleh selama perkuliahan dan ditujukan untuk memenuhi syarat dalam mendapatkan gelar sarjana teknik di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Judul tugas sarjana ini adalah “Analisis Beban Kerja Karyawan Bagian Sortasi dan Pengepakan Menggunakan Metode Work Sampling dan NASA-TLX di PTPN III Kebun Rantau Prapat”.

Penulis menyadari bahwa Tugas Sarjana ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga tugas sarjana ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan juga pembaca lainnya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENULIS

MEDAN, APRIL 2017

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat mengikuti pendidikan di Departemen Teknik Industri USU serta telah memberikan nikmat kesehatan dan ilmu kepada penulis selama masa kuliah dan dalam penyelesaian laporan Tugas Sarjana ini.

Dalam penulisan Tugas Sarjana ini penulis telah mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi maupun administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Orangtua penulis tercinta, Ayahanda Ahmad Saidi Harahap, Ibunda Alm.

Rosmawati Nasution, dan Ibu Ramadhani Hasibuan yang tiada hentinya mendukung baik secara moril maupun materil sehingga laporan ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Ibu Dr. Meilita T. Sembiring. S.T., M.T., selaku Ketua Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. Harmein Nasution, MSIE. selaku Dosen Pembimbing I atas waktu, bimbingan, arahan, dan masukan yang diberikan kepada penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

4. Ibu Ir. Dini Wahyuni, MT. selaku Dosen Pembimbing II yang dengan sabar memberikan arahan, masukkan, perhatian dan ilmu kepada penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

(4)

5. Bapak Ir. Mangara T. Tambunan, M.Sc, selaku Koordinator Tugas Akhir atas saran, nasihat dan dukungan yang diberikan kepada penulis selama penyelesaian Tugas Sarjana ini.

6. Seluruh dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pengajaran selama perkuliahan yang menjadi bekal penulis dalam meyelesaikan penulisan Tugas Sarjana ini.

7. Seluruh staff dan karyawan Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara yang banyak membantu dalam penyelesaian administrasi untuk melaksanakan Tugas Sarjana ini.

8. Bapak Vits dan Istri, Bang Rahmat serta staff PTPN III Kebun Rantau Prapat yang telah memberikan bantuan kepada penulis selama penelitian di PTPN III Kebun Rantau Prapat.

9. Adik-adik tersayang Fahriatunnisyah Harahap, Liza Khairani Harahap, M Akbar Siddiq Harahap, Sabila Nur Alya Harahap, Yumna Sari Jannah Harahap, dan Ali yang selalu membantu dan mendukung penulis selama penyelesaian Tugas Sarjana ini.

10. Rekan-rekan seperjuangan Tugas Akhir (Sahabat TA) di PTPN III Kebun Rantau Prapat, Khairini Wijaya, Rahmat Solihin Putra, dan Tioni Rohana Manurung yang telah banyak memberi motivasi dan saran kepada penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

11. Sahabat-sahabat seperjuangan dan sepermainan di Departemen Teknik Industri; Grup Wedew (Dika Ayu, Yulianti Irawati, Tioni Rohana Manurung, Khairini Wijaya, Tengku Henny Kartika, Laila Asri Daulay), Grup Three

(5)

Must Keter (Rahmat dan Ocon), Grup Kita-Kita Nih (Ridho, Oka, Aulia Solly, Akbar, Sendy, Askari, Rian, Rori, Fakhrin, Arif, Elsa), D’brother, dan sahabat lain yang tidak bisa disebutkan selama ini selalu membantu dan mendukung dalam setiap kegiatan perkuliahan, serta dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

12. Teman-teman, abang/ kakak dan adik-adik di Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara khususnya angkatan 2012 (Duabelati) yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penyelesaian Tugas Sarjana ini.

(6)

ABSTRAK

PTPN III Kebun Rantau Prapat merupakan perusahaan yang bergerak dalam industry pengolahan karet. Proses pengolahan lateks menjadi Ribbed Smoke Sheet terdiri dari beberapa tahap. Salah satu tahap proses produksi adalah sortasi dan pengepakan. Pada karyawan bagian sortasi dan pengepakan PTPN III Kebun Rantau Prapat ditemukan gejala-gejala kelelahan seperti lesu, letih, lemas, dan kurangnya semangat dalam bekerja. Berdasarkan masalah yang ada maka perlu dilakukan analisis beban kerja karyawan. Perhitungan waktu produktif karywan dilakukan dengan menggunakan metode work sampling. Perhitungan beban kerja mental karyawan dilakukan menggunakan kuisioner NASA-TLX, sedangkan beban kerja fisik karyawan didapatkan dari perhitungan konsumsi energy karyawan. Jumlah konsumsi energi karyawan didapatkan dari pengukuran denyut nadi karyawan secara langsung. Berdasarkan pengukur menggunakan work sampling diketahui bahwa waktu produktif karyawan cukup baik dengan nilai berkisar antara 83%-88%. Pada pengukuran beban kerja menggunakan NASA- TLX diketahui bahwa beban mental setiap karyawan berbeda dengan nilai 80%, sedangkan pada pengukuran beban kerja fisik menggunkan konsumsi energi didapatkan 4 orang karyawan mengalami beban kerja berat dan 3 orang karyawan dengan beban kerja sedang. Beban kerja paling berat dialami oleh karyawan 7 dengan total konsumsi energi 407,9109 kkal/jam.

Kata Kunci: NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Index), Beban Kerja, Work Sampling

(7)

DAFTAR ISI

BAB HALAMAN

LEMBAR JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

SERTIFIKAT EVALUASI TUGAS SARJANA ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

UCAPAN TERIMA KASIH ... v

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

I PENDAHULUAN ... I-1 1.1. Latar Belakang ... I-1 1.2. Rumusan Permasalahan ... I-5 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... I-5 1.4. Batasan dan Asumsi Penelitian ... I-6 1.5. Sistematika Penulisan Laporan ... I-6

II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... II-1 2.1. Sejarah Perusahaan ... II-1

(8)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha ... II-3 2.3. Lokasi Perusahaan ... II-3 2.4. Daerah Pemasaran ... II-4 2.5. Dampak Ekonomi dan Lingkungan ... II-4 2.6. Organisasi dan Manajemen Perusahaan ... II-5 2.6.1. Struktur Organisasi ... II-5 2.6.2. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja ... II-6 2.6.2.1. Jumlah Tenaga Kerja... II-6 2.6.2.2. Jam Kerja ... II-10 2.6.3. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya ... II-10 2.7. Proses Produksi ... II-11

III LANDASAN TEORI ... III-1 3.1. Manusia dan Pekerjaannya ... III-1 3.2. Beban Kerja ... III-2 3.2.1. Beban Kerja Mental ... III-4 3.2.2. Beban Kerja Fisik ... III-8 3.3. Pengukuran Denyut Jantung ... III-9 3.4. Metode NASA-TLX (National Aeronautics and

Space Administration Task Load Index) ... III-10

(9)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

3.1. Work Sampling ... III-16

IV METODOLOGI PENELITIAN ... IV-1 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... IV-1 4.2. Jenis Penelitian ... IV-1 4.3. Instrumen Penelitian ... IV-1 4.4. Variabel Penelitian ... IV-2 4.5. Kerangka Berpikir ... IV-4 4.6. Populasi dan Sampel ... IV-5 4.7. Metode Pengumpulan Data ... IV-5 4.7.1. Data Primer ... IV-5 4.7.2. Data Sekunder ... IV-6 4.8. Metode Pengolahan Data ... IV-6 4.9. Prosedur Penelitian ... IV-9

V PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ... V-1 5.1. Pengumpulan Data ... V-1 5.1.1. Data Umum Karyawan ... V-1 5.1.2. Data Work Sampling ... V-1 5.1.2.1. Rating Factor Karyawan ... V-5

(10)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

5.2.2.2. Allowance ... V-6 5.1.3. Data Beban Kerja ... V-7 5.1.4. Data Denyut Nadi Karyawan ... V-9 5.2. Pengolahan Data ... V-10 5.2.1. Pengolahan Data dengan Work Sampling ... V-10

5.2.1.1. Pengukuran Waktu Produktif

Karyawan ... V-10 5.2.1.2. Uji Keseragaman Data ... V-13 5.2.1.3. Uji Kecukupan Data ... V-15 5.2.1.4. Perhitungan Derajat Ketelitian ... V-16 5.2.1.5. Perhitungan Waktu Standard... V-17 5.2.2. Perhitungan Beban Kerja Mental dengan

Mengggunakan NASA-TLX ... V-18 5.2.3. Perhitungan Beban Kerja Fisik dengan

Menggunakan Pengukuran Denyut Nadi ... V-20 5.2.3.1. Metode Penilaian Secara Langsung .... V-20

VI ANALISA PEMECAHAN MASALAH ... VI-1 6.1. Beban Kerja Karyawan Sortasi dan Pengepakan

di PTPN III Kebun Rantau Prapat ... VI-1

(11)

DAFTAR ISI (LANJUTAN)

BAB HALAMAN

6.1.1. Analisis Beban Kerja Mental Karyawan Sortasi dan Pengepakan di PTPN III Kebun

Rantau Prapat dengan NASA-TLX ... VI-1 6.1.2. Analisis Beban Kerja Fisik Karyawan

Sortasi dan Pengepakan di PTPN III Kebun Rantau Prapat dengan Pegukuran Denyut

Nadi ... VI-4 6.2. Analisis Jumlah Karyawan Sortasi dan

Pengepakan Optimal di PTPN III Kebun Rantau

Prapat ... VI-5

VII KESIMPULAN DAN SARAN ... VII-1 7.1. Kesimpulan ... VII-1 7.2. Saran ... VII-1

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(12)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

2.1. Data Karyawan Pimpinan ... II-9 2.2. Data Karyawan Pelaksana ... II-9 3.1. Indikator Dalam Metode NASA-TLX ... III-13 5.1. Data Karyawan Stasiun Sortasi dan Pengepakan ... V-1 5.2. Waktu Pengamatan ... V-2 5.3. Rekapitulasi Pengamatan Work Sampling (Menit) ... V-4 5.4. Westinghouse Factor Karyawan 1 ... V-5 5.5. Rating Factor Karyawan Stasiun Sortasi dan Pengepakan ... V-6 5.6. Allowance Karyawan Pria ... V-6 5.7. Allowance Karyawan Wanita ... V-7 5.8. Rekapitulasi Data Kuisioner Pemberian Rating ... V-7 5.9. Rekapitulasi Data Tally dari Pembobotan ... V-8 5.10. Pembobotan NASA-TLX Karyawan 1 ... V-9 5.11. Rekapitulasi Data Pembobotan ... V-9 5.12. Rekapitulasi Data Pengukuran Denyut Nadi ... V-10 5.13. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 1 ... V-11 5.14. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 2 ... V-11 5.15. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 3 ... V-11 5.16. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 4 ... V-12 5.17. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 5 ... V-12

(13)

DAFTAR TABEL (LANJUTAN)

TABEL HALAMAN

5.18. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 6 ... V-12 5.19. Rekapitulasi Persentase Waktu Produktif Karyawan 7 ... V-13 5.20. Rekapitulasi Uji Keseragaman Data Karyawan ... V-14 5.21. Rekapitulasi Uji Kecukupan Data Karyawan ... V-16 5.22. Rekapitulasi Uji Derajat Ketelitian Masing-Masing Karyawan .... V-17 5.23. Rekapitulasi Beban Kerja Mental Karyawan 1 ... V-19 5.24. Rekapitulasi Total WWL Karyawan Sortasi dan Pengepakan ... V-19 5.25. Hasil Perhitungan Konsumsi Energi dan Kategori Beban Kerja

Karyawan Sortasi dan Pengepakan ... V-21 6.1. Rekapitulasi Waktu Produktif, Kategori Beban Kerja

Berdasarkan Konsumsi Energi, dan Total Workload Hasil

NASA-TLX ... VI-6

(14)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Lokasi PT. Pekebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat . II-4 2.2. Struktur Organisasi Kebun Rantau Prapat ... II-7 2.3. Struktur Organisasi Pabrik Pengolahan Karet Kebun

Rantau Prapat ... II-8 2.4. Alur Proses Pengolahan RSS ... II-12 4.1. Kerangka Berpikir ... IV-4 4.2. Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian... IV-11 5.1. Peta Kontrol Produktivitas Karyawan 1 ... V-14 6.1. Grafik Persentase Beban Mental Karyawan Stasiun Sortasi

dan Pengepakan ... VI-3 6.2. Grafik Konsumsi Energi Karyawan Stasiun Sortasi dan

Pengepakan ... VI-5

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan tenaga kerja, karyawan, buruh atau pegawai yang bekerja pada sebuah perusahaan. SDM adalah salah satu aspek penting dalam sebuah perusahaan selain faktor modal, mesin, dan informasi, sehingga SDM harus dikelola dengan baik untuk bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi sebuah perusahaan.

Karyawan merupakan satu-satunya sumber daya yang memiliki akal perasaan, keinginan, keterampilan, pengetahuan, dorongan, daya, dan karya, oleh karena itu karyawan disebut sebagai salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan perusahaan (Sutrisno, 2009). Setiap karyawan ditugaskan untuk menyelesaikan beban kerja yang ada dan setiap beban kerja yang diterima karyawan harus sesuai dan seimbang terhadap kemampuan fisik maupun mental karyawan yang menerima beban kerja tersebut agar tidak terjadi kelelahan.

Beban kerja dapat didefinisikan sebagai harga atau nilai dari pencapaian suatu target kegiatan (Hart, 1990). Jika harga ini terlalu tinggi dari pelaksana maka tingkat kelelahan juga tinggi. Kelelahan adalah siklus perubahan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut atau lebih singkatnya kelelahan adalah berkurangnya kapasitas kerja dan ketahanan tubuh (Tarwaka, 2004). Hal ini menimbulkan terjadinya hambatan-hambatan yang menyebabkan berkurangnya nilai produktifitas.

(16)

Penurunan produktifitas suatu perusahaan berbanding lurus dengan penurunan kinerja karyawan. Penurunan kinerja karyawan dapat diakibatkan oleh banyak hal seperti kelelahan, stress, dan buruknya lingkungan kerja. Dampak yang ditimbulkan oleh adanya penurunan kinerja karyawan adalah penurunan kualitas produk, penurunan kapasitas produksi, dan biaya yang dikeluarkan untuk membayar karyawan lepas.

PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat adalah industri yang bergerak dalam produksi karet khususnya Ribbed Smoke Sheet (RSS).Proses produksi RSS meliputi pengenceran lateks, penggumpalan campuran lateks, penggilingan koagulan, pengasapan lembaran-lembaran koagulan yang telah digiling, kemudian dilakukan sortasi sesuai kualitas RSS dan dilakukan pengepakan.

Sortasi adalah pemisahan produk yang sudah bersih menjadi bermacam- macam kualitas atas dasar sifat-sifat fisik, sedangkan grading adalah sortasi produk menjadi bermacam-macam fraksi kualitas sesuai dengan standar klasifikasi yang telah diakui atas dasar nilai komersial dan kegunaannnya.

Stasiun sortasi dan pengepakan merupakan bagian yang menangani RSS yang telah diasapi. Pemisahan RSS dilakukan berdasarkan klasifikasi kualitas yang telah ditentukan oleh perusahaan. Pemilihan RSS dilakukan dengan cara memotong bagian yang cacat. Kecacatan yang timbul dapat berupa jamur, bergelembung, dan tidak matang secara merata. Lembaran dengan cacat kematangan yang tidak merata akan dipotong dan dikembalikan ke bagian pengasapan.

(17)

Proses sortasi dilakukan secara manual menggunakan pisau/gunting besi yang disediakan perusahaan. Lingkungan kerja disekitar stasiun sortasi sangat dipengaruhi oleh cuaca. Suhu udara di area pabrik cenderung panas dan gersang.

Udara di sekitar pabrik juga memiliki bau menyengat yang diakibatkan latex.

Kelelahan yang diakibatkan paparan bau secara terus menerus dapat diketahui dengan menurunnya sensitifitas penciuman pada bau-bauan lainnya. Keadaan mental/psikologis (tegangan, emosi, dan ingatan) dipengaruhi penciuman1

Beban kerja mental tersebut harus segera diatasi karena jika terus berlanjut dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi para karyawan

. Gejala-gejala kelelahan yang tampak pada karyawan adalah lesu, kantuk, pusing, dan kurangnya semangat dalam bekerja. Gejala-gejala kelelahan tersebut merupakan indikasi adanya beban kerja mental yang dirasakan karyawan.

2

Terdapat beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengukuran beban kerja karyawan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Anton Moretno dan Haryono di pabrik particle board. Operator mesin di pabrik tersebut hanya bertugas mengawasi kondisi mesin saja, sedangkan tugas Quality Control dilakukan secara manual oleh operator lain. Hal ini menyebabkan beban kerja Quality Control lebih tinggi dari operator mesin. Hasil penelitian menunjukkan setiap operator Quality Control rata-rata membutuhkan tambahan jam lembur 2,63 . Penurunan konsentrasi karyawan dapat berujung pada penurunan produktivitas perusahaan serta meningkatnya resiko kecelakaan kerja. Akibat dari masalah tersebut dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan.

1Suma’mur (1967). Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta

2 Ridley Jhon. (2004), Health and Safety in Brief, Third Edition. England

(18)

jam perhari untuk menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan operator mesin rata- rata hanya membutuhkan tambahan jam lembur 1,10 jam.

Penelitian lain tentang analisis beban kerja karyawan dilakukan oleh Amy Umyatipada perusahaan pengolahan air. Metode yang digunakan adalah pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan kuesioner NASA- TLX.Penggunaan metode tersebut diawali dengan mengetahui job description dari masing-masing bagian sehingga menjadi acuan dalam menerjemahkan indikator- indikator yang terdapat pada kuesioner NASA-TLX. Dilanjutkan dengan pengisian kuesioner, pembobotan dan peratingan indikator sehingga dapat dihitung skor beban mentalnya. Hasil pengukuran menunjukkan nilai rata-rata beban kerja mental yang dialami karyawan bagian Alum Cair sebesar 49,17 dengan kategori sedang. Nilai rata-rata beban kerja mental yang dialami oleh karyawan Seksi Operasi adalah 61,5 dengan kategori tinggi. Nilai rata-rata beban kerja mental yang dialami karyawan Laboratorium Analisa Kimia sebesar 53.5 dengan kategori sedang. Sedangkan indikator yang paling berpengaruh untuk ketiga Dinas tersebut adalah indikator EF (Effort).

Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis beban kerja karyawan sortasi dan pengepakan di PTPN III Kebun Rantau Prapat menggunakan metode NASA- TLX agar dapat mengalokasikan beban kerja dengan tepat.

(19)

1.2. Rumusan Permasalahan

Permasalahan pada penelitian ini adalah terdapat gejala kelelahan pada karyawan secara fisik maupun mental. Kelelahan pada karyawan dapat mengakibatkan rendahnya produktifitas dan tingginya resiko kecelakaan kerja, sehingga perlu dilakukan analisis beban kerja pada karyawan stasiun sortasi dan pengepakan.

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis beban kerja mental dan beban kerja fisik karyawan pada stasiun sortasi dan pengepakan di PTPN III Kebun Rantau Prapat.

Tujuan khusus

1. Mengetahui waktu produktif karyawan stasiun sortasi dan pengepakan.

2. Mengetahui tingkat beban kerja mental karyawan stasiun sortasi dan pengepakan.

3. Mengetahui tingkat beban kerja fisik karyawan dengan metode pengukuran denyut nadi.

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian adalah :

1. Dengan diperolehnya beban kerja mental dan beban kerja fisik, akan didapatkan standard kerja yang optimal.

2. Sebagai referensi perusahaan untuk mendesain kerja dengan menganalisis beban kerja fisik dan beban keja mental.

(20)

1.4. Batasan dan Asumsi Penelitian

Batasan masalah yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Pengukuran beban kerja fisik dilakukan dengan metode pengukuran denyut nadi karyawan.

2. Pengukuran hanya dilakukan pada karyawan tetap bagian sortasi dan pengepakan PTPN III Kebun Rantau Prapat

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Dalam melakukan pengukuran, responden tidak dipengaruhi oleh pihak lain.

2. Karyawan dianggap sudah mengetahui dan paham terhadap prosedur kerja yang dilakukan.

1.5 Sistematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan laporan dari tugas sarjana akan disajikan dalam beberapa bab sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang permasalahan yang mendasari dilakukannya penelitian, perumusan permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian serta sistematika penulisan laporan penelitian.

Bab II Gambaran Umum Perusahaan, menguraikan sejarah singkat dari PTPN III Kebun Rantau Prapat, ruang lingkup bidang usaha, lokasi perusahaan, organisasi dan manajemen, standar bahan, uraian proses produksi dan bahan- bahan produksi.

(21)

Bab III Landasan Teori, berisi tinjauan Pustaka yang berisi teori-teori yang mendukung pemecahan permasalahan penelitian. Teori yang digunakan adalah manusia dan pekerjanya, beban kerja, beban kerja mental, beban kerja fisik, pengukuran denyut jantung, metode NASA-TLX.

Bab IV Metodologi Penelitian, berisikan lokasi dan waktu penelitian, rancangan penelitian, Instrumen penelitian, metode pengumpulan data, populasi dan sampel, kerangka berpikir, dan prosedur penelitian.

Bab V Pengumpulan Data dan Pengolahan Data, memuat data-data yang dikumpulkan peneliti yang berhubungan dengan pemecahan permasalahan penelitian yaitu, pengumpulan data karyawan, pengumpulan data menggunakan metode work sampling, penentuan rating factor, penentuan allowance, pengumpulan data dengan menggunakan metode NASA-TLX, pengumpulan data denyut nadi, pengolahan data work sampling, pengukuran waktu produktif karyawan, uji keseragaman data, uji kecukupan data,perhitungan derajat ketelitian, perhitungan waktu standard, perhitungan beban kerja mental menggunakan metode NASA-TLX, perhitungan beban kerja fisik menggunakan metode pengukuran denyut nadi.

Bab VI Analisis Pemecahan Masalah, memaparkan analisis terhadap hasil dari pengolahan data dan hasil pemecahan permasalahan penelitian, meliputi analisis beban mental karyawan menggunakan metode NASA-TLX, analisis beban kerja fisik karyawan menggunakan metode pengukuran denyut nadi dan analisis jumlah karyawan stasiun sortasi dan pengepakan.

(22)

Bab VII Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian, serta saran-saran yang bermanfaat bagi perusahaan dan pengembangan penelitian selanjutnya.

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat yang disingkat dengan KRPPT pada mulanya berasal dan bernama Kebun Pala Rantau Prapat Ost/West, salah satu kebun milik Pemerintah Belanda yang ada di Sumatera Utara. Terbitnya Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 oleh Pemerintah Republik Indonesia maka perusahan perkebunan milik Belanda ini kemudian diambil alih menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) dan Kebun Rantau Prapat termasuk dalam PPN Karet VII.

PPN Karet VII beberapa kali mengalami perubahan bentuk/status badan hukum, sejalan dengan perubahan Undang-Undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) yang berlaku. Pada tahun 1963 PPN dipecah menjadi beberapa kesatuan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) yang selanjutnya pada tahun 1974 bentuk hukumnya berubah menjadi PT. Perkebunan (Persero) dimana Kebun Rantau Prapat merupakan salah satu unit PT. Perkebunan III (Persero).

Pemerintah merestrukturisasi BUMN subsektor perkebunan dengan melakukan penggabungan usaha berdasarkan wilayah eksploitasi dan perampingan struktur organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan usaha perusahaan BUMN. Penggabungan managemen pada tahun 1994 merupakan langkah awal pemerintah dalam merestrukturisasi BUMN subsector perkebunan. Tiga BUMN Perkebunan yang terdiri dari PT Perkebunan III

(24)

(Persero), PT Perkebunan IV (Persero), dan PT Perkebunan V (Persero) disatukan pengelolaannya ke dalam managemen PT Perkebunan Nusantara III (Persero).

Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah No.8 Tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996, ketiga perseroan tersebut digabungkan dan diberi nama PT Perkebunan Nusantara III (Persero). Kantor pusat PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berkedudukan di Medan, dan perkebunan-perkebunan PTPN III tersebar di Sumatera Utara sampai ke perbatasan Aceh dan Sumatera Barat.

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) telah mencanangkan Program Transformasi Bisnis pada bulan Agustus 2003, sebagai upaya untuk merespon perubahan berbisnis, yang dicirikan oleh perubahan dari era ekonomi industrial ke era ekonomi digital. Implementasi ini diawali dengan pelatihan-pelatihan karyawan yang bertujuan untuk memahami seluk beluk program Transformasi Bisnis. Hasil dari pelaksanaan pelatihan tersebut telah dirumuskan untuk dijadikan sebagai pedoman bagi operasional perusahaan. Pelatihan yang diberikan pada karyawan adalah Paradigma Bisnis, The Winning Formula, yang terdiri dari Visi, Misi, Tata Nilai, dan Strategi, Indikator Kerja atau Key Performance Indicator (KPI), dan upaya strategis atau Strategic Initiatives.

Salah satu perubahan yang dilaksanakan adalah menyeimbangkan tanggung jawab dan wewenang antara Kantor Direksi dengan Kebun/Unit dan perubahan Struktur Organisasi dengan dibentuknya Distrik Manajer yang membawahi beberapa Kebun/Unit dan Kebun Rantau Prapat merupakan salah satu Kebun dibawah Distrik Labuhan Batu III (DLAB3) PT. Perkebunan Nusantara III.

(25)

2.2. Ruang Lingkup Bidang Usaha

PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat adalah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan industri salah satu diantaranya adalah pengolahan Sheet atau RSS (Ribbed Smoke Sheet). Industri pengolahan karet mulai beroperasi pada tahun 1958 dengan hasil produksi RSS I, RSS II, RSS III dan Cutting. RSS I berisikan lembaran dengan kualitas utama (tanpa cacat), RSS II merupakan lembaran dengan tingkat kecacatan rendah, dan RSS III untuk lembaran dengan kecacatan besar/banyak. PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat mengelola 1 (satu) Pabrik Pengolahan Karet (PPK) dengan Ribbed Smoked Sheet (RSS) sebagai produk utamanya dan melakukan budidaya komoditi Karet Kelapa dan Sawit dengan memiliki 6 (enam) Afdeling.

2.3. Lokasi Perusahaan

Pabrik Pengolahan Karet Kebun Rantau Prapat adalah salah satu Pabrik Karet PTPN III yang berlokasi di Desa Afdeling I Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhan Batu, berjarak ± 284 Km dari Kota Medan dan ± 4,5 Km dari Kota Rantau Prapat. Sedangkan areal Kebun Rantau Prapat terletak di Desa Afdeling I dan Desa Afdeling II Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhan Batu. Kantor Kebun Rantau Prapat ± 4,5 km dari Kota Rantau Prapat yang merupakan Ibu Kota Labuhan Batu. Dari Kantor Direksi letak Kebun Rantau Prapat ± 284 km, berada di pinggir jalan lintas Sumatera Rantau Prapat – Medan.

Letak Geografis Pabrik Pengolahan Karet Kebun Rantau Prapat dapat dilihat pada Gambar 2.1.

(26)

Sumber : Google Maps

Gambar 2.1. Lokasi PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat

2.4. Daerah Pemasaran

Daerah pemasaran PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat mencakup daerah lokal (Industri Karet Deli-Medan) dan internasional, yang di eksport melalui Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) Belawan ke beberapa negara seperti Jepang dan Singapura.

2.5. Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Keberadaan PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat memiliki dampak terhadap ekonomi dan lingkungan di daerah sekitar pabrik. Dampak ekonomi secara langsung maupun tidak langsung adalah terciptanya lapangan pekerjaan di sekitar area pabrik. Lapangan kerja yang terbuka dalam skala besar memicu perkembangan di daerah sekitar perusahaan. Perusahaan menerapkan sistem operasi yang ramah lingkungan. Pengelolaan limbah yang ramah lingkungan merupakan salah satu upaya untuk mencegah adanya pencemaran

(27)

lingkungan pada daerah sekitar pabrik. Upaya tersebut akan terus ditingkatkan sebagai suatu bagian penting dari operasional perusahaan.

2.6. Organisasi dan Manajemen Perusahaan 2.6.1. Struktur Organisasi

Organisasi adalah suatu kerangka hubungan kerja antara satu individu dengan individu lainnya dalam rangka mencapai satu tujuan dengan menggunakan aturan-aturan yang telah disepakati secara bersama. Struktur dalam organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mencapai tujuan, dalam struktur organisasi terdapat pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas.

Struktur organisasi pada suatu perusahaan akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas sehingga kinerja perusahaan tersebut akan meningkat. Struktur ini dapat menentukan kelancaran aktivitas perusahaan dalam mencapai keuntungan yang maksimal serta agar dapat berproduksi secara kontinu dan berkembang pesat.

Bentuk struktur organisasi yang digunakan pada PT Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat adalah gabungan organisasi lini dan fungsional, dimana pucuk pimpinan dibantu oleh staf pimpinan ahli dengan tugas sebagai pembantu pucuk pimpinan dalam menjalankan roda organisasi. Pimpinan bagian di tiap bidang dapat memerintah dan meminta pertanggungjawaban dari semua pimpinan bagian pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya. Pimpinan puncak dipegang oleh seorang manajer dan dalam pelaksanaan tugas-tugasnya dibantu oleh beberapa asisten kepala bidang yang didalamnya terdapat batasan-

(28)

batasan pertanggungjawaban dari setiap bidang pekerjaan. Hubungan antara satu bidang dengan bidang lainnya ditunjukkan melalui fungsi masing-masing bidang.

Struktur organisasi PT Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat ditunjukkan pada Gambar 2.2. Struktur organisasi pabrik pengolahan karet kebun rantau prapat dapat dilihat pada Gambar 2.3. Fungsi masing-masing bagian dapat dilihat pada Lampiran 3.

2.6.2. Jumlah Tenaga Kerja dan Jam Kerja 2.6.2.1. Jumlah Tenaga Kerja

Sumber daya manusia yang kompeten diperlukan agar bisa mengelola dan menjalankan kegiatan perusahaan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing- masing. PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat memiliki kekuatan tenaga kerja yang terdiri dari 14 orang karyawan pimpinan dan 889 orang karyawan pelaksana. Data karyawan pimpinan PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat ditunjukkan pada Tabel 2.1. Data karyawan pelaksana PT.

Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat ditunjukkan pada Tabel 2.2.

(29)

Manager

Askep Rayon A Askep Rayon B

Asisten Afd I

Asisten Afd II

Asisten Afd III

Asisten Afd IV

Asisten Afd V

Asisten Afd VI

Asisten

Pengolahan A S T A B A T U A P K Papam

Karyawan Pelaksana

Keterangan :

Garis Komando Garis koordinasi

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat

Gambar 2.2. Struktur Organisasi Kebun Rantau Prapat

(30)

Asisten Pengolahan

Krani timbang

Krani produksi

Pembantu Krani

Karyawan Pengolahan

Krani Kepala Mandor

Pengolahan Mandor Giling Mandor Kamar

Asap Mandor Sortasi Petugas Analisa

Lateks

Karyawan Giling

Karyawan Kamar Asap

Karyawan Sortasi

Pembantu Analis

Keterangan :

Garis Komando

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat

Gambar 2.3. Struktur Organisasi Pabrik Pengolahan Karet Kebun Rantau Prapat

(31)

Table 2.1 Data Karyawan Pimpinan

Afdeling/

Bagian

Karyawan (Orang)

Lk Pr Jumlah

I 1 0 1

II 1 0 1

III 1 0 1

IV 1 0 1

V 1 0 1

VI 1 0 1

Kantor 4 0 4

DCC 0 0 0

Personalia 1 0 1

Keamanan 1 0 1

DS / T 1 0 1

PPK 1 0 1

Jumlah 14 0 14

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat

Table 2.2 Data Karyawan Pelaksana

Afdeling/

Bagian

Karyawan (Orang)

Lk Pr Jumlah

I 120 3 123

II 122 0 122

III 197 0 197

IV 79 0 79

V 128 0 128

VI 70 0 70

Kantor 19 3 21

DCC 2 0 2

Personalia 11 10 21

Keamanan 19 0 19

DS / T 55 2 57

PPK 46 3 49

Jumlah 868 21 889

Sumber : PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat

2.6.2.2.Jam Kerja

(32)

Jumlah hari kerja pada PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat adalah lima hari kerja dalam seminggu (Senin sampai Jumat) untuk bagian produksi dan non produksi, sedangkan bagian keamanan bekerja setiap hari (Senin sampai Minggu). Pembagian jam kerja untuk setiap bagian adalah sebagai berikut:

1. Bagian Pengolahan : 14.00 – 23.00 WIB 2. Laboratorium : 13.00 – 19.00 WIB 3. Bagian Kamar Asap

a. Shif I : 06.30 – 14.30 WIB b. Shift II : 14.30 – 22.30 WIB c. Shift II : 22.30 – 06.30 WIB 4. Bagian Sortasi : 07.00 – 12.00 WIB 5. Administrasi & Umum : 07.00 – 17.00 WIB

2.6.3. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya

Penetapan upah dasar pada PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat diberikan sesuai ketentuan yang dikeluarkan pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja mengenai UMR (Upah Minimum Regional) yang berlaku. Pemberian upah ditetapkan setelah melihat jam kerja, hari kerja, lembur dan golongan karyawan. Adapun sistem pengupahan karyawan perusahaan dibagi atas:

1. Gaji bulanan untuk karyawan tetap

(33)

Karyawan tetap adalah karyawan yang bekerja tetap pada perusahaan yang setiap bulannya menerima gaji pada akhir bulan.

2. Gaji harian untuk karyawan harian

Karyawan harian adalah karyawan yang bekerja dan mendapat upah menurut jam kerja dalam sehari dan dibayarkan setiap akhir minggu.

3. Gaji borongan untuk karyawan borongan

Karyawan borongan adalah karyawan yang bekerja dan mendapat upah atas suatu beban pekerjaan yang diborongkan kepadanya dan upah dibayarkan menurut satuan pekerjaan selama seminggu.

2.7. Proses Produksi

Lateks merupakan bahan baku dalam proses produksi ribbed smoke sheet.

Lateks adalah cairan berwarna putih dan kekuning-kuningan yang diperoleh dengan cara penyadapan (membuka pembuluh lateks) pada kulit tanaman karet.

Alur tahapan proses produksi ribbed smoke sheet oleh PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat dapat dilihat pada blok diagram Gambar 2.4.

(34)

Penimbangan

Pembekuan

Penggilingan dan Penirisan

Pengasapan

Sortasi dan Pengepakan Pengenceran Penyaringan

Gambar 2.4. Alur Proses Pengolahan RSS

Uraian proses produksi ribbed smoke sheet oleh PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat adalah sebagai berikut:

1. Penimbangan

Lateks yang diangkut oleh LTT (Latex Transport Tank) ditimbang terlebih dahulu untuk diketahui berat lateks dan kotoran dalam lateksyang dibawa dari afdeling.

2. Penyaringan

Lateks yang diangkut oleh LTT dituang ke saringan 40 mesh dan dialirkan ke dalam talang penerimaan menuju bak pengenceran. Sampel lateks diambil untuk dianalisa DRC (Dry Rubber Content) dan kadar amoniak (NH3).

(35)

3. Pengenceran

Lateks yang telah ditampung di bak pengenceran kemudian ditambahkan dengan air sehingga lateks mengencer. Kemudian lateks dialirkan melalui talang dan dibagikan ke bak koagulasi (500-600 Liter) yang sebelumnya disaring dengan saringan 20 mesh.

4. Pembekuan

Petugas pembekuan melakukan penyisiran buih dan melakukan penyaringan kembali dengan saringan 600/60 mesh agar lateks benar-benar bersih dari kotoran. Untuk pembekuan lateks dilakukan pembubuhan formic acid yang diencerkan menjadi 3-5% dengan dosis 10-20 liter air per 500-650 cc formic acid. Setelah itu dilakukan pengadukan sebanyak 16-20 kali adukan agar formic acid dapat tersebar merata. Petugas kemudian melakukan penyisiran buih yang terbenuk akibat adukan. Selanjutnya petugas melakukan pemasangan plat skoten, dimulai dengan membagikan bak koagulasi menjadi 2 bagian yang sama, demikian seterusnya sampai semua plat terpasang. Bila penggumpalan telah sempurna (dibuthkan waktu 2-4 jam setelah pembubuhan asam) bak koagulasi direndam air sampai melebihi permukaan dan plat dicabut secara hati-hati oleh petugas.

5. Penggilingan

Petugas penggilingan mencabut plat-plat skoten secara hati-hati dan menyusun plat tersebut di ujung bak koagulasi. Petugas penggilingan mengambil koagulum dari bak koagulasi kemudian memasukkan ke talangan untuk ditransfer ke mesin giling (sheeter machine six in one). Koagulum

(36)

masuk ke mesin sheeter yang memiliki 6 roll dan koagulum yang telah digiling memiliki ketebalan 2-4 mm jatuh ke bak pembilas. Sheet yang telah digiling digantungkan di bamboo yang kemudian disusun pada trolly, penirisan dilakukan selama 2-4 jam sebelum masuk ke kamar asap sambil dilakukan peregangan agar sheet tidak lengket.

6. Pengasapan

Setelah penirisan, sheet yang berada di trolly dimasukkan ke kamar asap dan dicatat tanggal masuk, nomor trolly, jumlah lembaran serta keterangan lain yang diperlukan. Pengasapan dilakukan selama 5 hari dengan norma temperatur yang berbeda-beda setiap harinya.

7. Sortasi dan Pengepakan

Setelah lembaran diasapkan selama 5 hari hingga bebas dari kandungan air, lembaran sheet dibawa ke ruang sortasi. Lembaran sheet disortasi berdasarkan mutu, dikelompokkan ke dalam RSS I, RSS II, RSS III, dan cutting untuk selanjutnya disusun menjadi bandela. Bandela disusun dalam papan cetakan ukuran (50x50x50) cm, lalu di press dengan mesin Press (Electric Automatic Gydraulic) menjadi loose ball dan dibiarkan selama 12- 16 jam. Loose ball dikapur untuk mencegah jamur dan terhindar dari kotoran lain dan kemudian diberi label. Selanjutnya dilakukan deteksi terhadap serpihan bahan metal dan loose ball disimpan di gudang penyimpanan.

(37)

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Manusia dan Pekerjaannya

Sistem kerja yang terdiri atas manusia, bahan, mesin dan peralatan, serta lingkungan kerja baik tunggal maupun sebagai suatu kesatuan akan mempengaruhi hasil kerja3

Kelompok faktor luar terdiri atas faktor-faktor yang hampir sepenuhnya berada di luar diri pekerja dan umumnya dalam penguasaan pimpinan perusahaan untuk mengubahnya. Semua faktor dalam kelompok ini dapat diubah dan diatur.

. Kriteria yng digunakan untuk mengukur keberhasilan dapat berupa kriteria ongkos, kualitas dan waktu penyelesaian yang berhubungan dengan kuantitas keluaran.

Manusia adalah pusat dari sistem itu, baik manusia sebagai pencipta sistem, maupun karena manusia harus berinteraksi dengan sistem guna untuk mengendalikan proses yang sedang berlangsung dalam proses sehingga banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan kerjanya. Faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok faktor diri (individual) terdiri dari faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pekerja sendiri dan seringkali sudah ada sebelum pekerja tersebut memasuki lingkungan kerja tersebut.

Kelompok yang termasuk adalah aptitude, sifat, sistem nilai, karakteristik fisik, minat, motivasi, usia, jenis kelamin, pendidikan, pengalaman, dan lain-lain.

Kecuali pendidikan dan pengalaman, semua faktor diatas tidak dapat diubah.

3 Sutalaksana, I.Z., dkk. (1979), Teknik Tata Cara Kerja. Bandung.

(38)

Secara garis besar faktor situasional ini terbadi menjadi faktor-faktor fisik, seperti:

mesin, peralatan kerja, bahan, lingkungan kerja, pengawasan, perupahan, lingkungan sosial dan sebagainya.

3.2. Beban Kerja

Definisi beban kerja menurut Henry R. Jex (1988) adalah selisih antara tuntutan beban kerja dari suatu tugas dengan kapasitas maksimum beban mental seseorang dalam kondisi termotivasi. Grandjean E (1982) workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi permntaan/ tujuan dari pekerjaan tersebut. Stanton Neville (2004) beban kerja mental merupakan perbedaan antara tuntutan kerja dengan kemampuan mental yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan.

4

1. Mengetahui prosedur kerja yang lebih efisien untuk menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang memenuhi standar perusahaan

Pengukuran beban kerja adalah teknik yang diciptakan untuk menetapkan waktu bagi seorang pekerja yang memenuhi syarat dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dan manfaat pengukuran beban kerja adalah:

2. Menetapkan jumlah tenaga kerja atau peralatan-peralatan yang diperlukan 3. Menetapkan waktu baku.

Beban kerja yang berlebihan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja. Kelelahan merupakan salah satu gangguan kesehatan

4 Bagian Ketatalaksanaan Biro Hukum dan Organisasi SEKJEN DEPDIKNAS,”Pedoman Pengukuran Beban Kerja”,repository.ung.ac.id/get/kms/260/Pengukuran-Beban-Kerja.pdf, pada tanggal 19 Januari 2017 pukul 18.50 WIB.

(39)

yang dapat terjadi pada pekerja dengan beban kerja berlebihan. Kelelahan fisik maupun mental pada pekerja menyebabkan penurunan produktivitas dari masing- masing pekerja yang kemudian menjadi penyebab menurunnya produktivitas perusahaan secara keseluruhan dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.

Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi “permintaan” dari pekerjaan tersebut5

Analisis beban kerja ini banyak digunakan diantaranya dapat digunakan dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning); analisis ergonomi;

analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); hingga ke perencanaan penggajian.

. Kapasitas adalah kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun mental seseorang. Beban kerja yang dimaksud adalah ukuran (porsi) dari kapasitas operator yang terbatas yang dibutuhkan untuk melakukan kerja tertentu. Misalkan, suatu pekerjaan kuli angkut mempunyai “demand”

berupa mengangkat 100 karung per hari. Jika pekerja hanya mampu mengangkat 50 karung per hari, berarti pekerjaan tersebut melebihi kapasitasnya.

Mesin juga mempunyai kapasitas dan jika beban yang diterima melebihi kapasitasnya, maka akan menurunkan usia pakai mesin tersebut dan menjadi rusak. Manusia juga demikian, jika ia diberikan beban kerja yang berlebihan, maka akan menurunkan kualitas hidup (kelelahan, dan sebagainya) dan kualitas kerja orang tersebut (tingginya error rate), dan juga dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja.

5 Adelina Simanjuntak, Risma. (2010), Analisis beban kerja mental dengan metode Nasa-TLX.

Teknik industri, Institusi sains & Teknologi AKPRIND.

(40)

Perhitungan beban kerja setidaknya dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik, mental, dan penggunaan waktu. Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis). Sedangkan pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.

Secara umum, beban kerja fisik dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi fisiologis dan biomekanika. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dan lain- lain. Namun, biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.

Perhitungan beban kerja berdasarkan pemanfaatan waktu bisa dibedakan antara pekerjaan berulang (repetitif) atau pekerjaan yang tidak berulang (non- repetitif). Pekerjaan repetitif biasanya terjadi pada pekerjaan dengan siklus pekerjaan yang pendek dan berulang pada waktu yang relatif sama. Contohnya adalah operator mesin di pabrik-pabrik. Sedangkan pekerjaan non-repetitif mempunyai pola yang relatif “tidak menentu”. Seperti pekerjaan administratif, tata usaha, sekretaris, dan pegawai-pegawai kantor pada umumnya.

3.2.1 Beban Kerja Mental

Menurut Henry R. Jex beban kerja mental yaitu selisih antara tuntutan beban kerja dari suatu tugas dengan kapasitas maksimum beban mental seseorang

(41)

dalam kondisi termotivasi6

6 Ibid, hal 25-27

. Aspek psikologis dalam suatu pekerjaan berubah setiap saat. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan aspek psikologis dapat berasal dari dalam diri sendiri (internal) atau dari luar diri sendiri seperti pekerjaan dan lingkungan (eksternal). Faktor internal maupun eksternal sulit dilihat dari kasat mata sehingga dalam pengamatan hanya dilihat dari hasil pekerjaan atau faktor yang dapat diukur secara obyektif ataupun dari tingkah laku dan penuturan si pekerja sendiri yang dapat diidentifikasi. Selain itu beberapa individu memiliki kondisi tubuh dan melakukan aktivitas yang sama, secara obyektif menunjukan tingkat performansi yang sama. Sebagian individu berpendapat bahwa pekerjaan yang dilakukan ringan dan tidak menguras otak sementara individu lainnya berpendapat sebaliknya. Hai ini mendasari munculnya ide mengenai beban kerja mental.

Beban kerja yang bersifat mental harus pula dinilai setelah beban kerja fisik telah dinilai. Penilaian beban kerja mental tidaklah semudah menilai beban kerja fisik. Pekerjaan yang bersifat mental sulit diukur melalui perubahan fungsi faal tubuh. Berdasarkan aspek fisiologis, aktivitas mental terlihat sebagai suatu jenis pekerjaan yang ringan sehingga kebutuhan kalori untuk aktivitas mental juga lebih rendah. Padahal secara moral dan tanggung jawab, aktivitas mental jelas lebih berat dibandingkan dengan aktivitas fisik, karena lebih melibatkan kerja otak (white-collar) dari pada kerja otot (blue-collar). Dewasa ini aktivitas mental lebih banyak didominasi oleh pekerja-pekerja kantor, supervisor dan pimpinan sebagai pengambil keputusan dengan tanggung jawab yang lebih besar.

(42)

Menurut Grandjean (1993) setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsur persepsi, interpretasi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensor untuk diambil suatu keputusan atau proses mengingat informasi yang lampau. Permasalahan yang ada pada manusia adalah kemampuan untuk memanggil kembali atau mengingat informasi yang disimpan. Proses mengingat kembali ini sebagian besar menjadi masalah bagi orang tua. Kemampuan orang tua mengalami banyak penurunan seperti penurunan daya ingat. Demikian penilaian beban kerja mental lebih tepat menggunakan penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja. Jenis pekerjaan yang lebih memerlukan kesiapsiagaan tinggi seperti petugas air traffic controllers di bandar udara adalah sangat berhubungan dengan pekerjaan mental yang memerlukan konsentrasi tinggi. Semakin lama orang berkonsentrasi maka akan semakin berkurang tingkat kesiapsiagaannya. Uji yang lebih tepat untuk menilai kesiapsiagaan tinggi adalah tes waktu reaksi. Waktu reaksi sering dapat digunakan sebagai cara untuk menilai kemampuan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan mental. Menurut Mac Cormick dan Sanders (1988) pelaksanaan pengukuran beban kerja mental memiliki beberapa kriteria yaitu:

1. Sensitivity

Dalam pengukuran beban kerja mental seharusnya mencirikan sesuatu yang berbeda dalam situasi pekerjaan tertentu.

2. Selectivity

Pengukuran beban mental sebaiknya tidak dipengarui oleh faktor-faktor selain dari beban mental itu seperti fisik dan emosional.

(43)

3. Interference

Dalam pelaksanaan pengukuran beban kerja mental hendaknya tidak mempengaruhi atau mengintrupsi kepada beban kerja yang telah diprediksi.

4. Reliability

Mengukur beban kerja hendaknya dapat dipercaya hasil pengukurannya.

5. Acceptability

Hasil pengukuran beban kerja dapat diterima masyarakat umumnya dan khususnya untuk tempat penelitian dilakukan.

Pengukuran beban kerja mental atau psikologis dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Pengukuran beban mental secara objektif

Pengukuran beban kerja psikologis secara obyektif dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

a. Pengukuran denyut jantung

Secara umum, peningkatan denyut jantung berkaitan dengan meningkatnya level pembebanan kerja.

b. Pengukuran waktu kedipan mata

Secara umum, pekerjaan yang membutuhkan atensi visual berasosiasi dengan kedipan mata yang lebih sedikit dan durasi kedipan lebih pendek.

c. Pengukuran dengan metode lain

Pengukuran dilakukan dengan alat flicker, berupa alat yang memiliki sumber cahaya yang berkedip makin lama makin cepat sehingga pada suatu saat sukar untuk diikuti oleh mata biasa.

(44)

2. Pengukuran beban mental secara subyektif

Pengukuran beban kerja psikologis secara subjektif dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

a. NASA-Task Load Index (TLX)

b. Subjective Workload Assesment Technique (SWAT) c. Modief Cooper Harder Scaling (MCH)

3.2.2. Beban Kerja Fisik

Konsep beban kerja fisik pertama kali dikemukakan oleh Frederick W.

Taylor. Beban kerja fisik ditimbulkan oleh pekerjaan yang didominasi oleh aktivitas fisik. Beban kerja fisik relatif lebih mudah diukur untuk tenaga kerja langsung karena adanya output yang mudah terukur. Namun pengukuran beban kerja fisik dapat pula diterapkan untuk tenaga kerja tidak langsung dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

Pengukuran beban fisik diukur dari pendekatan work sampling. Metode work sampling merupakan salah satu metode pendekatan yang bisa digunakan untuk mengukur produktivitas dengan mudah. Work sampling juga dapat digunakan untuk mengetahui aktivitas produktif dan tidak produktif operator.

Selain itu,work sampling juga dapat digunakan untuk pengamatan yang bersifat diskrit (Wignjosoebroto, 2008).

Dengan konsep pendekatan pengukuran beban mental dan beban fisik yang digunakan pada penelitian ini, diharapkan peneliti mampu mengatasi

(45)

ketidakseimbangan jumlah operator dan mesin untuk mencegah terjadinya beban kerja yang tinggi sehingga dapat mencegah dampak buruk bagi karyawan.

a. Pengukuran Denyut Jantung

Derajat beratnya beban kerja tidak hanya tergantung pada jumlah kalori yang dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada jumlah otot yang terlibat pada pembebanan otot statis7

1. Temperatur sekeliling yang tinggi.

. Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat jika hanya ditunjang oleh sejumlah kecil otot relatif terhadap sejumlah besat otot.

Begitu juga untuk konsumsi energi dapat juga untuk menganalisis pembebanan otot statis dan dinamis. Peningkatan denyut jantung dapat dikarenakan oleh:

2. Tingginya pembebanan otot statis.

3. Semakin sedikit otot yang terlibat dalam suatu kondisi kerja.

Salah satu peralatan yang digunakan untuk menghitung denyut nadi adalah telemetri dengan menggunakan rangsangan Electro Cardio Graph (ECG). Apabila peralatan tersebut tidak tersedia, maka dapat dicatat secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut (Kilbon). Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut :

n 60 Perhitunga Waktu

Denyut 10

Nadi

Denyut = x denyut/menit

Muller memberikan beberapa definisi sebagai berikut :

1. Denyut jantung pada saat istirahat (resting pulse) adalah rata-rata denyut

7 Eko Nurmianto. (2008), Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Yogyakarta

(46)

jantung sebelum suatu pekerjaan di mulai.

2. Denyut jantung selama bekerja (working pulse) adalah rata-rata denyut jantung selama (pada saat) seorang bekerja.

3. Denyut jantung untuk kerja (work pulse) adalah selisih antara denyut jantung selama bekerja dan selama istirahat.

4. Denyut jantung selama istirahat total (total recovery cost or recovery cost) adalah jumlah aljabar denyut jantung dari berhentinya denyut pada saat suatu pekerjaan selesai dikerjakan sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya.

5. Denyut kerja total (total work pulse or cardiac cost) adalah jumlah denyut jantung dari mulainya suatu pekerjaan sampai dengan denyut berada pada kondisi istirahatnya.

3.4. Metode NASA-TLX (National Aeronautics and Space Administration Task Load Index)

Metode NASA-TLX dikembangkan oleh Sandra G. dari NASA research center dan Lowell E. Staveland dari San Jose State University8

8 Op,cit. hal 27-30

. Metode ini di kembangkan berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuran subjektif yang terdiri dari skala sembilan factor. Kesulitan tugas, tekanan waktu, jenis aktivitas, usaha fisik, usaha mental, performansi, frustasi, stress dan kelelahan. Dari Sembilan faktor ini disederhanakan lagi menjadi 6 yaitu:

(47)

Kebutuhan Fisik (FK), kebutuhan waktu (KW), performansi (P), usaha (U) dan tingkat stress (TF). Hart dan Staveland (1991), merumuskan masalah pembuatan skala peringkat beban kerja sebagai berikut :

1. Memilih kumpulan subskala masalah yang paling tepat.

2. Menentukan bagaimana menghubungkan subskala tersebut untuk memperoleh nilai beban kerja yang berbeda, baik diantara tugas maupun diantara pemberi peringkat.

3. Menentukan prosedur terbaik untuk memperoleh nilai numerik untuk sub skala tersebut.

Ada tiga katagori pemilihan sub skala yaitu :

1. Skala yang berhubungan dengan tugas (kesulitan tugas, tekanan waktu dan jenis aktivitas).

Peringkat yang diberikan pada kesulitan tugas memberikan informasi langsung terhadap persepsi kebutuhan subjek yang dibebankan oleh tugas.

Tekanan waktu dinyatakan sebagi faktor utama dalam defenisi dan model beban kerja yang paling operasional dikuantifikasi dengan membandingkan waktu yang diperlukan serangkaian tugas dalam eksperimen. Peringkat yang diberikan pada jenis aktivitas ternyata tidak pernah berkorelasi secara signifikan untuk beban kerja keseluruhan. Dengan demikian, pada skala yang berhubungan dengan tugas hanya faktor kesulitan tugas dan tekanan waktu yang memberikan informasi yang signifikan mengenai beban kerja.

2. Skala yang berhubungan dengan tingkah laku (usaha fisik, usaha mental dan performansi)

(48)

Faktor usaha fisik mencerminkan manipulasi eksperimen dengan faktor kebutuhan fisik sebagai komponen beban kerja utama. Hasil eksperimen menunjukan bahwa faktor usaha fisik tidak memiliki korelasi yang tinggi dan tidak member konstribusi yang signifikan terhadap beban kerja keseluruhan.

Namun faktor ini ternyata berhubungan kuat dengan faktor tekanan waktu (tugas dengan tekanan waktu yang tinggi memerlukan tingkat respon yang tinggi pula) dan faktor stress (untuk tugas yang lebih kompleks). Faktor usaha mental merupakan kontribusi penting pada beban kerja pada saat jumlah tugas operasional meningkat karena tanggung jawab operator berpindah dari pengendalian fisik langsung menjadi pengawasan. Peringkat usaha mental berkorelasi dengan peringkat beban keseluruhan dalam setiap kategori eksperimen dan merupakan faktor kedua yang paling tinggi korelasinya dengan beban kerja keseluruhan. Peringkat ini diberikan faktor performansi sehingga memberikan informasi yang berguna dan signifikan tentang bagaimana subjek merasakan performansi mereka. Peringkat performansi berkorelasi secara signifikan dengan peringkat beban kerja keseluruhan.

3. Skala yang berhubungan dengan subjek (frustasi, stress dan kelelahan)

Frustasi merupakan faktor beban kerja beban kerja ketiga yang paling sesuai.

Peringkat frustasi berkorelasi dengan peringkat beban kerja keseluruhan secara signifikan pada semua katagori eksperimen. Peringkat stress mewakili manipulasi yang mempengaruhi peringkat kerja beban keseluruhan merupakan skala yang independen. Sementara faktor kelelahan tidak berhubungan dengan beban kerja.

(49)

Dalam pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan metode NASA TLX, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :

1. Pemberian rating

Pada bagian pertama responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator beban mental. Indikator tersebut terlihat pada Tabel di bawah ini.

Tabel 3.1 Indikator Dalam Metode NASA-TLX

SKALA RATING KETERANGAN

MENTAL DEMAND (MD)

Rendah,Tinggi Seberapa besar aktivitas mental dan perceptual yang dibutuhkan untuk melihat, mengingat dan mencari. Apakah pekerjaan tsb mudah atau sulit, sederhana atau kompleks, longgar atau ketat .

PHYSICAL DEMAND (PD)

Rendah, Tinggi Jumlah aktivitas fisik yang dibutuhkan (mis.mendorong, menarik, mengontrol putaran, dll)

TEMPORAL DEMAND (TD)

Rendah, tinggi Jumlah tekanan yang berkaitan dengan waktu yang dirasakan selama elemen pekerjaan berlangsung. Apakah pekerjaan perlahan atau santai atau cepat dan melelahkan

PERFORMANCE (OP)

Tidak tepat, Sempurna

Seberapa besar keberhasilan seseorang di dalam pekerjaannya dan seberapa puas dengan hasil kerjanya

FRUSTATION LEVEL (FR)

Rendah,tinggi Seberapa tidak aman, putus asa, tersinggung, terganggu, dibandingkan dengan perasaan aman, puas, nyaman, dan kepuasan diri yang dirasakan.

EFFORT (EF) Rendah, tinggi Seberapa keras kerja mental dan fisik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan

2. Pembobotan

Pada bagian kedua responden diminta untuk melingkari salah satu dari dua indikator yang dirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaan tersebut. Kuesioner yang diberikan berbentuk perbandingan berpasangan yang terdiri dari 15 indikator perbandingan berpasangan. Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally dari setiap indikator

(50)

yang dirasakan paling berpengaruh kemudian dibagikan dengan 15. Jumlah tally ini kemudian akan menjadi bobot untuk tiap indikator beban kerja mental. Untuk mendapatkan skor beban kerja mental NASA TLX, bobot dan rating dikalikan untuk setiap indikator.

𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊𝑊 = 𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵 𝑥𝑥 𝑅𝑅𝑅𝑅𝐵𝐵𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅 Keterangan : Bobot = Jumlah tally/15

Rating = skor yang diberikan responden pada 6 indikator pertanyaan

Berdasarkan penjelasan Hart dan Staveland dalam teori NASA-TLX, skor beban kerja yang diperoleh terbagi dalam tiga bagian yaitu pekerjaan menurut para responden tergolong berat jika nilai >80, nilai 50-80 menyatakan beban pekerjaan sedang, sedangkan nilai <50 menyatakan beban pekerjaan ringan.

Output yang dihasilkan dari pengukuran dengan NASA-TLX ini berupa tingkat beban kerja mental yang dialami oleh pekerja. Hasil pengukuran ini biasa menjadi pertimbangan manajemen untuk melakukan langkah lebih lanjut, misalnya dengan mengurangi beban kerja untuk pekerjaan yang memiliki skor diatas 80, kemudian mengalokasikannya pada pekerjaan yang memiliki beban kerja dibawah 50 atau langkah-langkah yang lainnya.

Keterangan 6 indikator NASA-TLX yaitu sebagai berikut:

1. Mental Demand, merupakan kemampuan tiap-tiap orang dalam memproses informasi terbatas, hal ini mempengaruhi tingkat kinerja per orang yang dapat dicapai. Hubungan antara beban kerja dan kinerja dapat dilihat pada kurva u yang terbalik. Kinerja manusia pada tingkat rendah tidak juga baik, jika tidak

(51)

banyak hal yang biasa dikerjakan, orang akan mudah bosan dan cendrung kehilangan ketertarikan terhadap pekerjaan yang dilakasanakannya. Dalam kondisi underload, peningkatan beban kerja setelah titik ini akan menyebabkan degradasi dalam kinerja. Pada tingkat beban kerja yang sangat tinggi atau overload, pada kondisi ini informasi penting akan hilang akibat dari penyederhanaan atau pemfokusan perhatian hanya satu aspek dari pekerjaan.

2. Physical Demand, merupakan dimensi mengenai kebutuhan fisik pada NASA-TLX memiliki deskripsi yaitu tentang seberapa banyak aktivitas fisik yang dibutuhkan seperti mendorong, menarik, memutar, mengontrol, mengoperasikan dan sebagainya. Selanjutnya mengenai tugas fisik yang dilakukan tersebut apakah termasuk dalam kategori mudah atau sulit untuk dikerjakan, gerakan yang dilakukan selama aktivitas cepat atau lambat, serta melelahkan atau tidak.

3. Temporal Demand, merupakan dimensi kebutuhan waktu hal ini tergantung dari ketersediaan waktu dan kemampuan melengkapi dalam menjalankan suatu aktivitas. Hal ini berkaitan erat dengan analisis batas waktu yang merupakan metode primer untuk mengetahui apakah subjek dapat menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang diberikan.

4. Performance, merupakan dimensi yang memiliki pengertian tentang seberapa berhasil atau sukseskah pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya yang telah ditetapkan oleh atasannya. Serta apakah pekerja puas dengan performansi dirinya sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya.

(52)

5. Effort, merupakan dimensi usaha dimana seberapa besar usaha yang dilakukan oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dalam hal ini usaha yang dilakukan meliputi usaha mental dan fisik.

6. Frustration Demand, merupakan dimensi yang berkaitan dengan kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya kebingungan, frustasi dan ketakutan selama melaksanakan suatu pekerjaan menyebabkan lebih sulit dilakukan dari pada sebenarnya. Pada keadaan stress rendah, orang cendrung satai. Sejalan dengan meningkatnya stress, maka terjadi pengacauan konsentrasi terhadap aspek yang relevan dari suatu pekerjaan yang lebih, hal ini disebabkan adanya faktor individual subjek. Faktor-faktor ini antara lain motivasi, kelelahan, ketakutan, tingkat keahlian, suhu, kebisingan, getaran, dan kenyamanan.

3.5. Work Sampling

Work sampling pertama sekali digunakan oleh L.H.C Tippet di industri tekstil British dan work sampling ini diperkenalkan ke negara lain dengan nama

“ratio delay”9

1. Activity and delay sampling untuk mengukur manusia atau mesin keadaan bekerja atau menganggur. Sebagai contoh, untuk menentukan persentase seseorang yang bekerja dan seseorang yang tidak bekerja.

. Work sampling mempunya 3 bagian utama :

2. Perfomance sampling untuk mengukur waktu kerja dan waktu tidak bekerja seseorang dalam melakukan kegiatan manual dan menetapkan indeks perfomance seseorang selama bekerja.

9 Ralph, Barnes. (1980), Motion and Time Study Design and Measurement of Work

(53)

3. Work measurement untuk menetapakan waktu standard untuk sebuah operasi.

Work sampling mempunyai beberapa kegunaan lain di bidang produksi, selain untuk menghitung waktu penyelesaian. Kegunaan-kegunaan dari work sampling adalah sebagai berikut10

1. Mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu kerja oleh pekerja atau kelompok kerja.

:

2. Mengetahui tingkat pemanfaatan mesin-mesin atau alat-alat di pabrik.

3. Menentukan waktu baku bagi pekerja-pekerja tidak langsung.

4. Memperkirakan kelonggaran bagi suatu pekerjaan.

Pada dasarnya, langkah-langkah dalam melakukan sampling pekerjaan tidak berbeda dengan cara jam henti. Langkah-langkah yang dilakukan sebelum melakukan work sampling, yaitu :

1. Menetapkan tujuan pengukuran, yaitu untuk apa sampling dilakukan, menentukan besarnya tingkat ketelitian dan keyakinan.

2. Melakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui ada tidaknya sistem kerja yang baik.

3. Memilih operator.

4. Pelatihan bagi operator agar terbiasa dengan sistem kerja yang dilakukan.

5. Melakukan pemisahan kegiatan sesuai yang ingin didapatkan.

6. Menyiapkan peralatan yang diperlukan berupa papan pengamatan, lembaran- lembaran pengamatan, alat tulis.

10 Sutalaksana, I.Z., dkk. (1979), Teknik Tata Cara Kerja. Bandung

(54)

Pengamatan yang dilakukan dalam work sampling haruslah ditentukan secara acak (random). Oleh karena itu, maka penggunaan tabel angka acak merupakan metode yang terbaik guna menjamin bahwa sampel pengamatan yang diambil benar-benar dipilih secara acak. Tabel angka acak terutama sekali dapat dipakai sebagai alat untuk menetapkan waktu setiap harinya, dimana pengamatan harus dilaksanakan.

(55)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PTPN III Kebun Rantau Prapat yang berlokasi di Desa AfdelingI Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhan Batu, berjarak ± 284 Km dari Kota Medan dan± 4,5 Km dari Kota Rantau Prapat.

Penelitian ini dimulai dari bulan Desember 2016 sampai Maret 2017.

4.2. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian bersifat deskriptif secara umum.Secara khusus jenis penelitian adalah job and activity analysis.Suatu penelitian deskriptif yang ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang agar mendapatkan rekomendasi untuk berbagai keperluan (Sinulingga, 2011).

4.3. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kuesioner

Kuesioner yang disebarkan kepada karyawan sortasi dan pengepakan di PTPN III Kebun Rantau Prapat merupakan kuesioner pengukuran beban kerja, dimana variabel yang ukur pada penelitian ini adalah mental demand, physical demand, temporal demand, performance, frustation level, dan effort.

(56)

2. Stopwatch

Stopwatch digunakan untuk melakukan pengukuran waktu kerja karyawan sortasi dan pengepakan di PTPN III Kebun Rantau Prapat.

3. Lembar Pengamatan Work Sampling

Lembar Pengamatan Work Sampling digunakan untuk mencatat kegiatan (work/idle) karyawan selama waktu pengamatan.

4.4. Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi atau ditentukan oleh variabel lain. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Persentase produktif berdasarkan work sampling

b. Nilai beban fisik karyawan sortasi dan pengepakan berdasarkan pengukuran denyut nadi

2. Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini merupakan variabel yang menjadi variable bebas yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Jenis kegiatan/ work karyawan sortasi dan pengepakan b. Waktu idle karyawan sortasi dan pengepakan

c. Beban mental karyawan sortasi dan pengepakan berdasarkan NASA-TLX, yaitu:

Gambar

Gambar 2.1. Lokasi PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Rantau Prapat
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Kebun Rantau Prapat
Gambar 2.3. Struktur Organisasi Pabrik Pengolahan Karet Kebun Rantau Prapat
Gambar 2.4. Alur Proses Pengolahan RSS
+6

Referensi

Dokumen terkait