PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA MELALUI METODE KOOPERATIF MODEL STAD BIDANG STUDI IPS MATERI PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN PADA
SISWA KELAS V DI SDN 3 SUMBERINGIN KECAMATAN KARANGAN TRENGGALEK SEMESTER II TAHUN 2014/2015
Oleh:
Giyat Sukarti
SDN 3 Sumberingin, Karangan, Trenggalek
Abstrak. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas V SDN 3 Sumberingin melalui pembelajaran Kooperatif model STAD pada bidang studi IPS. Metode kooperatif STAD merupakan pendekatan pembelajaran yang paling sederhana. Siswa dalam satu kelas di pecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan berasal dari berbagai suku serta memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek Tahun 2014/2015 yang dilaksanakan dalam bulan Pebruari sampai bulan Maret 2015 pada bidang studi IPS materi pembelajaran peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan. Sedangkan kelas yang dijadikan obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek Tahun 2014/2015 yang kelasnya berjumlah 14 siswa.Dari hasil data selama penelitian ini berlangsung prestasi belajar siswa (hasil tes belajar) dengan menggunakan model belajar Diskusi menunjukkan prestasi belajar yang meningkat dari setiap siklusnya dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pada siswa Kelas V SDN 3 Sumberingin sebelum siklus: 71,43 dengan ketuntasan 57,14%, siklus I: 72,14 dengan ketuntasan 71,43% dan siklus II:
89,29 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 92,86%. Hal ini menandakan keberhasilan dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberingin Tahun 2014/2015.
Kata Kunci: Kooperatif model STAD, IPS, Prestasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memung- kinkan berlangsungnya kegiatan mengajar yang efektif.
Menurut Winarno Surahmad dalam bukunya Metodologi Pembelajaran Nasional dituliskan: "Perbuatan belajar mengandung
semacam perubahan diri seseorang yang melakukan perbuatan belajar. Perubahan ini dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan, suatu sikap, suatu penger- tian atau penelitian". (Winarno Surahmad, 2005, hal. 8).
Menurut ilmu Jiwa, daya belajar adalah usaha melatih daya-daya itu agar berkembang, sehingga orang dapat berfikir, mengingat dan sebagainya. Menurut ilmu jiwa: asosiasi Belajar adalah membentuk hubungan stimulasi agar berkaitan". (Demar Hamalik2 006, hal. 30).
Dari pernyataan dan ahli di atas dapat disimpulkan, dengan belajar dapat terjadi perubahan dalam diri seseorang, perubahan ini dapat dinyatakan sebagai suatu kecakap- an, kebiasaan, sikap pengertian dan kete- rampilan berfikir cepat menganalisa situasi, tekun menghadapi situasi yang sulit dan dapat mengambil keputusan dengan tepat.
Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen yaitu peserta didik (siswa), pendidik (guru), tujuan pembelajar- an, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti perubahan secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behavior) yang dapat diamati melalui alat indra oleh orang lain baik tutur katanya, motoric, dan gaya hidupnya.
Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya yang menurut penulis penting adalah metodologi mengajar. Meng- ajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
Dalam kegiatan belajar mengajar ba- nyak metode yang biasa dipakai oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Dari sekian banyak metode tidak ada metode yang paling baik, begitu sebaliknya juga tidak ada metode yang paling buruk. Metode yang dipakai untuk menyampaikan pelajaran dinamakan dengan metode pengajaran.
Masing-masing metode pengajaran selalu mempenyai kekurangan maupun kelebihan. Kekurangan maupun kelebihan itu sendiri disamping menjadi karakter khu-
sus dari metode itu sendiri, juga kekurangan maupun kelebihan metode pengajaran itu sangat ditentukan oleh factor lain, yaitu audience atau objek yang dikenai metode itu, bias pula jenis mata pelajaran yang di- ajarkan. Mengingat karakter maupun jenis informasi yang dimilki oleh setiap mata pelajaran itu tidak sama, maka tidak ada satu metode yang baik untuk semua mata pelajaran. Demikian pula tidak ada metode yang buruk untuk semua mata pelajaran.
Karena itu bisa jadi metode pengajar- an tertentu sangat baik untuk pelajaran itu pula, demikian seterusnya. Selanjutnya yang menjadi persoalan adalah belum adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa untuk metode tertentu sangat baik untuk mata pelajaran tertentu, demikian sebaliknya jangan menggunakan metode itu, karena sangat tidak tepat untuk mata pelajaran itu.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) meru- pakan salah satu mata pelajaran yang diberi- kan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/
MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, pe- serta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggungjawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang un- tuk mengembangkan pengetahuan, pemaha- man, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di mas- yarakat. Dengan pendekatan tersebut diha- rapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: (a) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya; (b) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, inkuiri; (c) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan; (d) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkom- petisi dalam masyarakat yang majemuk, ba- ik di tingkat lokal, nasional, dan global.
Ruang lingkup mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (a) Manusia, tempat, dan lingkungan; (b) Waktu, keberlanjutan dan perubahan; (c) Sistem sosial dan budaya; (d) Perilaku Ekonomi dan kesejahteraan.
Selama ini ada beberapa masalah yang menyebabkan sebagian besar siswa tidak menyukai mata pelajaran IPS diantaranya:
(1) Siswa mengganggap pelajaran IPS kurang menarik dan kurang bermakna, (2) Komunikasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran IPS masih berjalan satu arah, (3) sebagian guru kurang tepat dalam memilih dan menerapkan metode pembela- jaran yang digunakan dan (4) sebagian guru belum menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi.
STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan pendekatan pembela- jaran yang paling sederhana. Siswa dalam satu kelas di pecah menjadi kelompok-
kelompok dengan anggota 4-5 orang. Setiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki- laki dan perempuan berasal dari berbagai suku serta memiliki kemampuan tinggi, se- dang, dan rendah. Model STAD dapat digu- nakan untuk menyalurkan bahan pembela- jaran sehingga dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada akhirnya dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapai.
Model pembelajaran STAD termasuk model pembelajaran kooperatif. Semua mo- del pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Dalam proses pembe- lajaran dengan model pembelajaran koope- ratifsiswa didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menye- lesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperaif adalah pres- tasi belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan kete- rampilan sosial.
Pengertian Model Belajar Tipe STAD oleh para ahli antara lain: (1) Menurut Robert L. Cilstrap dan William R. Martin (2008:242) menjelaskan bahwa pembelajar- an kooperatif merupakan model pembelajar- an menggunakan sistem pengelompokkan atau tim kecil,yaitu antara 4-5 orang yang mempunyai latar belakang kemampuan aka- demik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda (heterogen); (2) Johnson (dalam Etin Solihatin, 2005: 4) menyatakan bahwa:
pembelajaran kooperatif adalah pemanfaat- an kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama; (3) Slavin mengemukakan dua alasan bah- wa: pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memper-
baiki pembelajaran selama ini. Pertama, be- berapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekali- gus dapat menngkatkan kemampuan hu- bungan sosial, menumbuhkan sikap meneri- ma kekurangan diri dan orang lain,serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasi- kan kebutuhan siswa dalam belajar, berfikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan (Slavin, 2015:202).
Prinsip Pembelajaran kooperatif, ya- itu: (a) Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya; (b) Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempu- nyai tujuan yang sama; (c) Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; (d) Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi; (e) Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepe- mimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya; (f) Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungja- wabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Masih menurut Nur dalam Chotimah (2007), ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut: (a) Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai; (b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda- beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetara-
an gender; (c) Penghargaan menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Langkah-langkah model pembelajaran STAD dapat dilihat pada Tabel 1 seperti berikut.
Tabel 1 Enam Langkah Model Pembelajar- an STAD
Langkah Indikator Tingkah laku guru 1 Menyampaikan
tujuan dan Memotivasi siswa
Guru menyampaikan tu- juan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta me- motivasi siswa 2 Menyajikan
informasi
Guru menyajikan infor- masi kepada siswa 3 Mengorganisasikan
siswa ke dalam ke- lompok-kelompok belajar
Guru menginformasikan pengelompokkan Siswa
4 Membimbing
kelompok belajar Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok-kelom- pok belajar
5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi pembelajaran yang telah dilaksanakan 6 Memberikan
penghargaan
Guru memberi penghargaan hasil belajar
individual dan kelompok
Model pembelajaran STAD dikem- bangkan oleh Robert Slavin dan temante- mannya di Universitas John Hopkins. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri atas laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim meng- gunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui diskusi dan kuis.
Sintaks model Pembelajaran STAD dalam Chotimah (2007) antara lain: (a) Guru
membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen; (b) Guru menyaji- kan pelajaran; (c) Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota- anggota kelompok; (d) Peserta didik yang bisa mengerjakan tugas/soal menjelaskan kepada anggota kelompok lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu menger- ti; (e) Guru memberi kuis/pertanyaan kepa- da seluruh peserta didik. Pada saat menja- wab kuis/pertanyaan peserta didik tidak boleh saling membantu; (f) Guru memberi penghargaan (rewards) kepada kelompok yang memiliki nilai/pointer tinggi; (g) Guru memberikan evaluasi; (h) Penutup.
Kelebihan model pembelajaran Ko- operatif STAD menurut Davidson (dalam Nurasma,2006:26): (a) Meningkatkan keca- kapan individu; (b) Meningkatkan kecakap- an kelompok; (c) Meningkatkan komitmen;
(d) Menghilangkan prasangka buruk terha- dap teman sebaya; (e) Tidak bersifat kompe- titif; (f) Tidak memiliki rasa dendam. Keku- rangan model pembelajaran kooperatif STAD menurut Slavin (dalam Nurasma 2006:2007) yaitu konstribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang.
Dalam proses belajar mengajar guru sebagai pelaksana pengajaran harus dapat menciptakan kondisi yang dapat melibatkan siswa secara aktif. Dengan demikian diha- rapkan terjadi interaksi antara guru dan sis- wa yang pada umumnya akan merasa men- dapat motivasi yang tinggi apabila guru melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Selain itu siswa akan lebih memahami dan mengerti konsep-konsep fisika secara benar.
Pembelajaran kooperatif dapat me- ningkatkan motivasi belajar siswa secara konsisten baik bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, dan
resistensi (daya lekat) terhadap materi pelajaran menjadi lebih panjang (Ellyana, 2007). Pembelajaan kooperatif yang dike- mas dalam kegiatan pembelajaran yang ber- variasi dengan model STAD dapat menum- buhkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
Pengajaran fisika yang disajikan dengan model pembelajaran STAD memungkinkan untuk memberikan pengalaman-pengalaman sosial sebab mereka akan bertanggung ja- wab pada diri sendiri dan anggota kelom- poknya. Keberhasilan anggota kelompok merupakan tugas bersama.
Dalam pembelajaran STAD ini anggo- ta kelompok berasal dari tingkat prestasi yang berbeda-beda, sehingga melatih siswa untuk bertoleransi atas perbedaan dan kesa- daran akan perbedaan. Disamping itu pembelajaran yang disajikan dengan model STAD akan melatih siswa untuk mencerite- rakan, menulis secara benar apa yang diteliti dan diamati. Apabila ditinjau dari proses pelaksanaannya, kegiatan model pembela- jaran STAD lebih membawa siswa untuk memahami materi yang disajikan oleh guru, karena siswa aktif dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan uraian di atas, pe- ngajaran fisika yang disajikan dengan de- ngan penerapan model pembelajaran STAD akan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksa- nakan di SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggaalek Tahun 2014/2015 yang dilaksanakan dalam bulan Pebruari sampai bulan Maret 2015 pada bidang studi IPS materi pembelajaran Peris- tiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan.
Sedangkan kelas yang dijadikan obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
Siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberi- ngin Kecamatan Karangan Kabupaten Tre- nggalek Tahun 2014/2015 yang kelasnya berjumlah 10 siswa.
Dalam menyiapkan penelitian tindak- an kelas ini dilakukan langkah-langkah se- bagai berikut: (1) Mengubah formasi tempat duduk dan bangku siswa menurut model yang ada pada penelitian tindakan; (2) Menginformasikan kepada siswa untuk mempelajari buku paket keluaran terbaru dari Depdiknas; (3) Mengajak seorang mitra guru untuk menjadi pengamat sekaligus kolaborator dalam penilaian.
Pelaksanaan penelitian ini berbentuk siklus yang terdiri dari 2 siklus yang ma- sing-masing meliputi: planning (perencana- an), action (pelaksanaan), observation (pe- ngamatan) dan replection (refleksi). Ma- sing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan.
Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan tuju- an yang ingin dicapai. Permasalahan yang belum dapat dipecahkan dalam siklus I dire- fleksikan bersama tim peneliti dalam suatu pertemuan kolaborasi, untuk mencari penye- babnya, selanjutnya peneliti merencanakan berbagai langkah perbaikan untuk diterap- kan dalam siklus II.
Hal itu dilaksanakan terus dari satu siklus ke siklus berikutnya sampai masalah yang dihadapi dapat dipecahkan secara tun- tas pada siklus dalam penelitian ini tindakan yang diberikan berupa penggunaan Metode kooperatif dalam proses pembelajaran.
Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN 3 Sumberingin kecamat- an Karangan Trenggalek tahun 2014/2015 semester II yang berjumlah 14 siswa. Pe-
neliti memilih siswa kelas V dikarenakan peneliti adalah salah satu guru pengajar yang diberi tugas mengajar kelas V di SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Treng- galek.
Untuk mengumpulkan data hasil pene- litian, maka peneliti menggunakan beberapa instrument penelitian antara lain: (1) Lem- bar Observasi; (2) Lembar Tertulis; (3) Do- kumen Siswa; (4) Lembar Angket; (5) Daf- tar nilai.
Analisis data dilakukan dengan meng- gunakan teknik analisis data kualitatif, baik yang bersifat linear (mengalir) maupun yang bersifat sirkuler. Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah- langkah berikut: (1) Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan; (2) Mereduksi data yang didalamnya melibatkan kegiatan peng- kategorian dan pengklasifikasian; (3) Me- nyimpulkan dan memverifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus
Peneliti bersama kolaborator peneliti- an mengidentifikasi permasalahan yang ada di kelas V SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggaalek yaitu tentang rendahnya nilai prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Indikasi ini terlihat dari hasil ulangan harian siswa yang terus merosot. Untuk itu peneliti berupaya untuk memperbaiki pembelajaran IPS di Kelas V dengan menerapkan model pembe- lajaran Kooperatif model STAD. Sebagai perbandingan hasil prestasi belajar siswa maka akan ditampilkan data nilai siswa prasiklus pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Tabel Nilai Siswa Prasiklus
no nilai (n) frekuensi (f) n x f persentase keterangan
1 50 1 50 7.143 Tidak Tuntas
2 60 4 240 28.571 Tidak Tuntas
3 70 1 70 7.143 Tidak Tuntas
4 80 8 640 57.143 Tuntas
jumlah 14 1000 100.000
Berdasarkan data hasil prasikus diatas nilai siswa yang mencapai nilai 80 adalah 8 siswa sedangkan siswa yang mencapai nilai 70 adalah 1 orang, yang mencapai nilai 60 adalah 4 siswa sedangkan nilai 50 sebanyak 1 orang sedangkan untuk nilai rata-rata satu kelas mencapai 71,43 dengan ketuntasan se- besar 57,14% untuk lebih jelasnya tabel prestasi belajar pada pra siklus terdapat pada lampiran.
Siklus Pertama
Perencanaan (Planning)
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pa- da tahap perencanaan ini adalah: (1) Peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran, ya- itu satuan pelajaran dan rencana pembelajar- an yang meliputi: definisi pokok bahasan, penjabaran pokok bahasan, penerapan po- kok bahasan pada kelas atau kehidupan she ari-hari dan yang memuat soal-soal; (2) Pe- neliti mempersiapkan instrumen penelitian, yaitu lembar observasi guru dan siswa, lembar angket minat siswa dan catatan lapangan; (3) Peneliti mempersiapkan alat tes; (4) Peneliti membuat perangkat sistem penilaian; (5) Peneliti menyusun jadwal penelitian, yang diadopsi dari jadwal pelajaran IPS di Kelas V.
Pelaksanaan (Action)
Pertemuan I, terdiri dari: (1) Kegiat- an Awal, meliputi: (a) Guru mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama; (b) Guru mulai mengabsen siswa; (c) Guru
menyampaikan metode metode pembelajar- an yang akan diterapkan. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru menyampaikan materi yang akan dibahas; (b) Guru membentuk kelompok secara heterogen; (c) Guru mem- berikan tugas pada masing-masing kelom- pok; (d) Guru membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok; (e) Guru mengevaluasi hasil pekerjaan siswatentang materi proklamasi; (f) Melaporkan hasil diskusi; (g) Bersama guru menyimpulkan hasil kelompok; (h) Mengerjakan soal tes tulis mandiri. (3) Kegiatan Akhir, meliputi:
(a) Tanya jawab sesuai materi secara lisan;
(b) Tindak lanjut memberikan tugas rumah.
Pertemuan 2, terdiri dari: (1) Kegiat- an Awal, meliputi: (a) Guru mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama; (b) Guru mulai mengabsen siswa; (c) Guru membahas hasil pekerjaan rumah siswa; (d) Guru menanyakan kembali materi yang disampaikan pada pertemuan I. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru melanjutkan menje- laskan kembali secara singkat mengenai negara; (b) Guru membentuk kelompok se- cara heterogen yang berbeda pada siklus I;
(c) Guru memberikan tugas kelompok pada masing-masing siswa; (d) Guru membim- bing siswa dalam kegiatan pembelajaran ke- lompok; (e) Guru melakukan evaluasi pada hasil diskusi kelompok; (f) Guru meminta salah satu siswa menyampikan hasil diskusi kelompoknya; (g) Guru membantu siswa dalam menyimpulkan materi proklamasi; (h) Untuk mengetahui hasil prestasi siswa guru meminta beberapa siswa mengerjakan soal
di papan tulis. (3) Kegiatan Akhir, meliputi:
(a) Tanya jawab sesuai materi secara lisan;
(b) Mengumumkan akan diadakan ulangan pada pertemuan berikutnya.
Pengamatan (Observation)
Hasil tes akhir pembelajaran me- nujukkan peningkatan prestasi belajar siklus ke siklus I untuk mengetahui berapa jumlah siswa yang tuntas dan yang belum tuntas akan ditajukkan pada Tabel 3.
Berdasarkan data Tabel 3 dapat dike- tahui bahwa dengan jumlah siswa 14 siswa yang tuntas terdapat 4 siswa sedangkan yang belum tuntas sebanyak 3 siswa nilai ter- tinggi pada siklus I yaitu sebesar 80 dan nilai terendah sebesar 50. Pada siklus I nilai rata-rata siswa mencapai 72,14 dengan ketuntasan 71,43% hasil ini masih belum memenuhi ketuntasan dan nilai rata-rata yang peneliti harapkan yaitu dengan nilai rata-rata 75 dan ketuntasan 85% maka dari itu perlu diadakan penelitian lanjutan pada siklus II.
Refleksi
Berdasarkan hasil pantauan guru pene- liti dan guru pengamat maka pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat direfleksikan sebagai berikut: (a) Semua tindakan efektif yang direncanakan dapat terlaksana meski- pun belum efektif; (b) Guru peneliti menya-
dari adanya kekurangan-kekurangan yang timbul saat proses pembelajaran; (c) Siswa lebih memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan sesuatu permasalahan, hal ini disebabkan pandangan siswa dengan guru tidak terhalang siswa lain.
Dengan belum efektifnya tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dalam menerapkan model pembela- jaran Kooperatif maka pencapaian prestasi belajar siswa belum maksimal, yaitu hanya memperoleh nilai rata-rata sebesar 72,14 dengan tingkat daya serap siswa sebesar 71,43%. Untuk itu masih diperlukan lagi tindakan perbaikan pada siklus selanjutnya.
Siklus Kedua
Perencanaan (Planning)
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka guru melakukan tindakan untuk siklus II, diantaranya adalah: (a) Pada siklus ini diberi perubahan tindakan pada pelaksa- naan pembelajaran semua kelompok berke- wajiban untuk menjelaskan pokok bahasan yang menjadi bahasan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah adanya anggota kelompok yang kurang aktif. Pembelajaran dilakukan oleh semua anggota secara bergiliran; (b) Kegiatan pembelajaran tidak diarahkan secara rinci namun setiap kelompok diberi kebebasan untuk melakukan pembelajaran dengan tujuan jelas.
Tabel 3. Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I
no nilai (n) frekuensi (f) n x f persentase keterangan
1 50 3 150 21.429 Tidak Tuntas
2 60 1 60 7.143 Tidak Tuntas
3 80 10 800 71.429 tuntas
jumlah 14 1010 100.000
Tabel 4. Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II
no nilai (n) frekuensi (f) n x f persentase keterangan
1 70 1 70 7.143 Tidak Tuntas
2 80 4 320 28.571 Tuntas
3 90 4 360 28.571 Tuntas
4 100 5 500 35.714 Tuntas
jumlah 14 1250 100.000
Pelaksanaan (Action)
Pertemuan 1, terdiri dari: (1) Pen- dahuluan, meliputi: (a) Guru membuka pembeljaaran dengan berdoa bersama; (b) Guru mulai mengabsen siswa; (c) Menyanyi lagu hari merdeka; (d) Tanya jawab tentang peristiwa sekitar proklamasi. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru menginformasikan materi pembelajaran tentang peristiwa seki- tar proklamasi; (b) Guru membentuk ke- lompok-kelompok dalam kelas, yang mana setiap kelompok terdiri dari 2 anak. Penge- lompokan dilakukan bersama teman sebang- ku; (c) Guru memberikan tugas kelompok;
(d) Guru membimbing siswa dalam menger- jakan tugas kelompok; (e) Guru melakukan evaluasi mengenai hasil pekerjaan siswa; (f) Siswa melaporkan hasil diskusi; (g) Siswa bersam guru menyimpulkan hasil diskusi;
(h) Untuk mengevaluasi kepahaman siswa guru meminta beberapa siswa secara bergi- liran mengerjakan sola di papan tulis. (3) Kegiatan Akhir, meliputi: (a) Pemajangan hasil tes; (b) Penegasan catatan siswa.
Pertemuan 2, terdiri dari: (1) Penda- huluan, meliputi: (a) Guru membuka pem- belajaran dengan berdoa bersama; (b) Guru mulai mengabsen siswa; (c) Guru melaku- kan Tanya jawab dengan siswa mengulang materi pada pertemuan pertama; (d) Guru memerankan tokoh proklamator Ir. Soekar- no ketika membacakan teks proklamasi. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru meminta siswa nerkumpul bersama teman kelompok- nya yang terdiri dari 2 orang yang dipilih secara acak oleh guru; (b) Siswa mencermati buku sumber tentang beberapa tokoh pahla- wan nasional pada masa kemerdekaan; (c) Guru meminta siswa secara berkelompok untuk berdiskusi mengisi lembar kerja yang telah disiapkan; (d) Guru meminta kelom-
pok terpilih untuk membacakan hasil kerja kelompok siswa yang lain menambah atau menyempurnakan; (e) Secara klasikal men- catat cara-cara menghargai dan mengenang jasa para pahlawan. (3) Kegiatan Akhir, meliputi: Memajangkan hasil diskusi kelompok.
Pengamatan (Observation)
Berdasarkan hasil peningkatan prestasi belajar pada tabel diatas dapat diketahui bahwa siswa yang mencapai nilai 100 se- banyak 5 siswa, siswa yang mencapai nilai 90 adalah 4 siswa, siswa yang mencapai nilai 80 adalah 4 siswa sedangkan siswa yang mendapat nilai rendah yitu 70 adalah 1 siswa dengan melihat tabel di atas dapat diketahui bahawa jumlah siswa yang tuntasn mencapai 13 siswa. Pada kegiatan pembe- lajaran siklus II ini nilai rata-rata siswa sudah mencapai prestasi yang diharapkan peneliti yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 89,29 dengan ketuntasan 92,86% untuk lebih jelasnya tabel peningkatan prestasi siswa terdapat pada lampiran.
Refleksi
Dari hasil pengamatan guru peneliti dan guru pengamat pada siklus II dapat dihasilkan sebagai berikut: (a) Semua tin- dakan yang direncanakan dapat berjalan dengan lancar; (b) Siswa terlatih untuk me- ngerjakan soal-soal latihan yang berkaitan dengan materi Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan.
Dengan terlaksananya model pembela- jaran Kooperatif dengan baik maka penca- paian prestasi belajar siswa dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan perolehan nilai rata-rata sebesar 89,29 dan daya serap siswa mencapai
92,86%. Dengan demikian maka penelitian ini berakhir pada siklus II.
Dari hasil data selama penelitian ini berlangsung prestasi belajar siswa (hasil tes belajar) dengan menggunakan model belajar kooperatif STAD menunjukkan prestasi belajar yang meningkat dari setiap siklusnya dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pada siswa Kelas V SDN 3 Sumberingin tahun 2014/2015 semester II sebelum siklus: 71,43 dengan ketuntasan 57,14%, siklus I: 72,14 dengan ketuntasan 71,43% dan siklus II:
89,29 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 92,86%. Hal ini menandakan keberhasilan dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberingin Tahun 2014/2015, dengan hasil penelitian yang selalu meningkat setiap siklusnya berarti bahwa penelitian yang berhasil. Berikut adalah tabel nilai rata-rata siswa dan ketuntasan belajar siswa dari pra siklus sampai siklus II:
Tabel 5. Nilai Rata-rata dan Ketuntasan Siswa
RATA-RATA KETUNTASAN
Sebelum Siklus 71.43 57.14
Siklus I 72.14 71.43
Siklus II 89.29 92.86
Untuk dapat lebih jelasnya dalam peningkatan prestasi belajar ini peneliti sajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:
PENUTUP Kesimpulan
Dalam dalam pembelajaran IPS di Kelas V SDN 3 Sumberingin peneliti meng- gunakan model belajar diskusi. Melalui mo- del belajar ini peneliti berusaha untuk meli- batkan siswa dalam membangun penge- tahuan dan pemahamannya. Peneliti dalam pembelajaran berusaha menjadi fasilitator dalam pembelajaran secara merata baik dalamkegiatan diskusi kelompok maupun kegiatan presentasi. Dari hasil data selama penelitian ini berlangsung prestasi belajar siswa (hasil tes belajar) dengan mengguna- kan model belajar Kooperatif STAD menu- njukkan prestasi belajar yang meningkat da- ri setiap siklusnya dapat diketahui bahwa ni- lai rata-rata pada siswa Kelas V SDN 3 Sumberingin sebelum siklus: 71,43 dengan ketuntasan 57,14%, siklus I: 72,14 dengan ketuntasan 71,43% dan siklus II: 89,29 de- ngan persentase ketuntasan belajar siswa se- besar 92,86%. Hal ini menandakan keber- hasilan dalam meningkatkan prestasi belajar pada siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberingin Tahun 2014/2015, dengan ha- sil penelitian yang selalu meningkat setiap siklusnya berarti bahwa penelitian yang berhasil.
Gambar 1. Peningkatan Hasil Prestasi Belajar Siswa
Saran
Penerapan metode kooperatif dalam pembelajaran IPS yang telah diuraikan di atas, hendaknya guru dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh tenaga guru la-
innya. Perpustakaan sekolah agar mengusa- hakan keberadaan buku-buku bacaan po- puler yang ada sangkut pautnya dengan IPS.
DAFTAR RUJUKAN
Chotimah. 2007. Psikologi Pembelajaran.
Jakarta: Gramedia.
Demar, Hamalik. 2006. Ilmu Jiwa. Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Elyana. 2007. Diagnostik Rongen. Jakarta:
Erlangga
Etin Solihatin. 2005. Belajar Aktif IPS, Jakarta: Pusat Perbukuan, Depdiknas.
Nurasma. 2006. Panduan Menghadapi Ulangan Harian. Solo.
Robert L. Cilstrap dan William R. Martin.
2008. Pengertian Pembelajaran ko- operatif, Remaja Rosdakarya, Ban- dung.
Slavin. 2015. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
Gramedia.
Winarno Surahmad. 2005. Metodologi Pem- belajaran. Jakarta Gramedia.