1
Universitas Kristen Petra
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara Asia yang kaya akan flora dan fauna, salah satu fauna yang dimiliki oleh Indonesia adalah penyu. Penyu merupakan binatang seperti kura-kura memiliki cangkang, berkaki empat yang mendayung, sehingga memiliki ketangkasan dalam berenang dan hidup di dalam air, namun penyu berbeda dengan kura-kura, batok pada kura-kura dapat dijadikan sebagai tempat untuk menyembunyikan kepala dan kakinya, sedangkan penyu tidak dapat. Penyu adalah binatang yang dapat hidup didarat juga,karena penyu bernapas dengan menggunakan paru-paru, tetapi binatang ini hanya datang kedarat apabila sedang bertelur saja (Bai 111), dan usia penyu mencapai 100 tahun. Penyu mengalami siklus bertelur beragam, berkisar 2-8 tahun, dimana penyu betina akan kedarat untuk bertelur, jumlah telur yang dikeluarkan oleh induk penyu adalah ratusan, dimana setelah bayi-bayi penyu (tukik) lahir, mereka akan berjalan ke laut kembali untuk tumbuh. Namun penyu pada saat ini mulai mengalami kepunahan dikarenakan manusia yang sering memburunya. Penyu diburu dengan dijual telur dan dagingnya, bahkan kulitnya juga digunakan sebagai aksesoris. Walaupun sekali bertelur penyu betina dapat menghasilkan lebih dari 100 butir, tetapi tetap tidak dapat menghindari kepunahan.
“Kondisi inilah yang menyebabkan semua jenis penyu di Indonesia diberikan status dilindungi oleh Negara sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi”(Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI 15).
Pulau Sangalaki merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di Kalimantan Timur, Kabupaten Berau, yang merupakan bagian kecil dari pulau Derawan. Pulau Sangalaki merupakan kepulauan yang memiliki habitat penyu, yaitu penyu hijau atau yang dikenal dengan nama Chelonia mydas, dikarenakan penyu hijau merupakan penyu yang paling banyak di daerah pulau Sangalaki. Menurut
2
Universitas Kristen Petra
Adnyana et al, Pulau ini adalah dengan kepadatan bertelur tertinggi, menyumbang lebih dari 30% dari total keseluruhan populasi bertelur di Kabupaten Berau.
Pemantauan populasi yang dilakukan di pulau ini sejak awal Tahun 2002 menunjukkan terjadinya kecenderungan populasi yang semakin menurun Bahkan jika dibandingkan dengan total sarang telur penyu yang dicatat pada periode tahun 1985- 1990, rerata (±SD) jumlah sarang pada periode 2002–2007 (4151 ±1088) adalah sekitar 57,5% dari rerata yang diperoleh pada periode 1995 – 2000 (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI 36).
Tabel 1.1. Klasifikasi Chelonia Mydas
Kingdom Animalia
Phylum Chordata
Class Reptilia
Order Chelonia
Family Cheloniidae
Genus Chelonia
Species mydas
Menurut Jansen, Chelonia mydas dikenal memiliki ukuran besar dan umur panjang. Bayinya menetas dari telur dengan berat sekitar satu ons dan memiliki panjang dua inci. Penyu hijau remaja memiliki berat rata-rata 200-350 kilogram dengan panjang cangkang setidaknya dua setengah kaki. Tetapi pada penyu hijau dewasa umumnya dapat mencapai berat hingga 400 pound, memiliki cangkang dan empat kaki, serta dapat hidup hingga usia 80 tahun bahkan lebih (dalam Meyer et al 1-2).
Menurut Green Sea Turtles penyu hijau dewasa merupakan binatang herbivora, karena itu mereka memiliki bakteri tertentu dalam usus untuk membantu dalam proses pencernaan bahan tanaman, seperti rumput laut dan ganggang. Berbeda
3
Universitas Kristen Petra
dengan penyu hijau muda yang merupakan binatang omnivora, mereka memakan plankton, ubur-ubur dan invertebrata lain yang dapat ditemukan di habitat laut mereka (dalam Meyer et al 2). Kedua jenis kelamin penyu tidak mudah dapat dibedakan. Ekor Penyu jantan lebih panjang daripada ekor betina dan agak menebal pada pangkalnya. (“Cheloniidae”.ensiklopedi Indonesia seri fauna reptilia dan amfibia 30) penyu-penyu sangalaki dilindungi, karena di pulau ini terdapat lembaga pelestarian penyu, yaitu pembiakan telur-telur penyu, Hal ini dikarenakan bahwa
“presentase penetasan telur hewan ini secara alami hanya sekitar 50 % “ (Kasim par.6).
Pulau Sangalaki merupakan salah satu pulau kecil di Indonesia yang terletak didaerah Kalimantan timur. “Pulau Sangalaki terkenal sebagai tempat penyu penyu bertelur, sehingga di balik pulau di dirikan sebuah tempat monitoring penyu penyu laut” (Brotoseno,par.6). Pulau ini memiliki lembaga pelestarian penyu yaitu tempat memonitoring penelitian penyu yang bekerja sama dengan BKSDA, WWF, Pemda Berau Turtle Foundation dan KEHATI. Lembaga tersebut adalah “sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut” (Under,par.1). LSM di Sangalaki sendiri bekerja sama dengan pemerintah, yang bertugas memonitoring penyu, menjaga telur penyu dari serangan binatang dan manusia, dan mencatat setiap hari penyu yang lahir.
Menurut Adnyana et al pulau Sangalaki adalah pulau dengan kepadatan bertelur tertinggi, menyumbang lebih dari 30% dari total keseluruhan populasi bertelur di Kabupaten Berau (Direktorat Konservasi dan Taman Nasional laut, Direktorat Jendral Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,Departemen Kelautan dan Perikanan RI 36).
dimana setiap malamnya ada sekitar 10 sampai dengan 30 penyu betina bertelur disana.” Pulau Sangalaki sudah sejak tahun 2001 ditetapkan sebagai kawasan larang ambil telur penyu (fully protected) melalui instruksi Bupati Berau No.60/2346- Um/XII/2001”( Giffari 6) Menurut bapak Juhriansyah yang bekerja di lembaga pelestarian penyu,di pulau Sangalaki penyu yang datang bertelur di sangalaki ada setiap hari disepanjang waktu, hari dan tahun, sehingga para wisatawan sering datang
4
Universitas Kristen Petra
ke Sangalaki untuk melihat penyu tersebut, hal ini dikarenakan akses ke pulau Sangalaki tidak jauh dan sulit, sehingga banyak wisatawan yang datang untuk melihat penyu bertelur, lebih terfokus pada Pulau Sangalaki.
Dengan adanya penangkaran penyu tersebut diharapkan dapat membuat Penyu tidak mengalami kepunahan, tetapi sayangnya sampai saat ini banyak masyarakat yang belum menyadari akan pentingnya habitat penyu tersebut, dan tidak peduli bahwa penyu- penyu tersebut akan mengalami kepunahan dalam jangka waktu yang cepat, apabila mereka tidak ikut dalam membantu melindungi habitat penyu yang saat ini .
Maka sangat diperlukan media yang dapat menyadarkan masyarakat dan dapat mengajak masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan agar dapat ikut dalam pelestarian atau melindungi penyu-penyu yang berada saat ini khususnya daerah Sangalaki, hal ini sendiri bertujuan untuk memenuhi sasaran media (Sumarnek 125).
agar penyu-penyu tersebut tidak mengalami kepunahan, dan jumlahnya dapat terus bertambah dari tahun ke tahun, sehingga aset negara kita tidak hilang.
“Secara umum foto esai, yang sering disebut dengan foto cerita, adalah kumpulan dua foto atau lebih (biasanya 6-12 foto) yang disusun sedemikian rupa dan saling terkait menceritakan fenomena atau suatu peristiwa dari sudut pandang fotografer”(Dhieliem,par. 2).
Foto Esai atau foto jurnalistik memiliki keunggulan, yaitu mampu mengatasi keterbatasan manusia pada huruf dan kata. Aspek penting yang harus ada dalam foto jurnalistik adalah mengandung unsur-unsur fakta, informative, dan mampu bercerita (Wijaya 17).
Esai Fotografi merupakan media yang dapat menarik perhatian masyarakat tentang masalah yang dihadapi saat ini. yaitu semakin punah atau berkurangnya habitat penyu hijau di Sangalaki dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap habitat penyu hijau. Dengan foto esai, dimana dimuat foto yang menunjukkan realita yang ada, sehingga dapat dilihat oleh masyarakat luas. Secara umum foto esai, yang sering disebut dengan foto cerita, adalah kumpulan dua foto
5
Universitas Kristen Petra
atau lebih (biasanya 6-12 foto) yang disusun sedemikian rupa dan saling terkait menceritakan fenomena atau suatu peristiwa dari sudut pandang fotografer (Dhieliem,par. 2).
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana cara mengajarkan dan mengajak masyarakat untuk ikut dalam pelestarian penyu hijau di pulau Sangalaki Kalimantan Timur.
Bagaimana menciptakan Esai Fotografi yang dapat menyadarkan masyarakat pelestarian penyu hijau di pulau Sangalaki Kalimantan Timur.
1.3. Batasan/ Lingkup Perancangan
Target: masyarakat Kalimantan dan masyarakat Indonesia
Berupa esai fotografi Untuk memperkenalkan, mengajak, dan mengajarkan masyarakat tentang pelestarian penyu hijau di pulau Sangalaki
1.4. Tujuan Perancangan
Mengajak dan mengajarkan masyarakat untuk ikut peduli dalam pelestarian penyu hijau di pulau Sangalaki Kalimantan Timur.
Menciptakan buku Esai Fotografi untuk mengajak dan mengajarkan masyarakat melakukan pelestarian penyu hijau di daerah Sangalaki Kalimantan Timur.
1.5. Manfaat Perancangan a. Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah menambah wawasan bagi peneliti
Menginplementasikan ilmu yang didapatkan terhadap permasalahan yang ada
Sebagai sarana penerapan ilmu yang teah dipelajari
6
Universitas Kristen Petra
b. Bagi Masyarakat
dapat mengenal tentang pulau Sangalaki, dan mengetahui bahwa pulau tersebut memiliki tempat budi daya penyu/penangkaran.
Membuat masyarakat menyadari bahwa penyu pada saat ini hampir punah, dan perlunya masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melindungi penyu tersebut.
c. Bagi Akademik
Memperoleh tambahan media pendukung edukasi yang efektif.
Menambah wawasan kepada rekan seprofesi
Mendorong mahasiswa untuk menemukan ide baru dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitar
1.6. Definisi Operasional
Penyu menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah kura-kura yang hidup di laut, apabila ingin bertelur naik ke darat, dan menyimpan telurnya dipasir.(666)
Tukik adalah anak Penyu didalam kamus bahasa Indonesia (967).
Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia Pelestarian adalah perlindungan dari kerusakan dan kemusnahan, sedangkan melestarikan sendiri adalah menjadikan (membiarkan) tetap tidak berubah untuk mempertahankan kelangsungan (520).
Pulau Sangalaki merupakan pulau yang terdapat di Kalimantan Timur, luas pulau ini 280 HA. Secara geografis terletak antara 11824'23"-11825'26" Bujur Timur dan 25'14"-26'5" Lintang Utara (Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, par.2) .
Konservasi menurut Rijksen (1981), merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.
7
Universitas Kristen Petra
Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumber daya alam untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan(459).
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) internasional wwf, wwf sendiri merupakan adalah sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan, dulunya bernama World Wildlife Fund dan masih menjadi nama resmi di Kanada dan Amerika Serikat yang bekerja untuk melindungi fauna dan flora dari kepunahan.
Foto esai, yang sering disebut dengan foto cerita, adalah kumpulan dua foto atau lebih (biasanya 6-12 foto) yang disusun sedemikian rupa dan saling terkait menceritakan fenomena atau suatu peristiwa dari sudut pandang fotografer (dhieliem,par. 2).
1.7. Metodologi Perancangan 1.7.1. Data yang Dibutuhkan 1.7.1.1. Data Primer
Merupakan data yang langsung diambil dari objek penelitian, perorangan, kelompok, organisasi.
a. Metode Wawancara
Metode wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung kepada responden, dalam hal ini pertanyaan yang ditanyakan kepada orang yang berkaitan dengan objek yang diteliti.
b. Observasi
Metode observasi digunakan sebagai alat untuk memberi gambaran yang tepat dari suatu gejala. Observasi berupa pengumpulan data melalui pengamatan
8
Universitas Kristen Petra
langsung terhadap objek penelitian. Sehingga berguna untuk menentukan strategi yang akan digunakan.
1.7.1.2. Data Sekunder
Yang dimaksud dengan data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk yang tersedia melalui publikasi dan informasi yang dikeluarkan di berbagai organisasi atau perusahaan
a. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Penelitian sendiri dilakukan dengan mengumpulkan data-data dari buku-buku yang berkaitan dengan topik atau objek yang diteliti.
b. Browsing
Browsing adalah mencari data-data penting dalam melakukan penelitian, sehingga kita dapat memiliki informasi dengan cara mudah
c. Metode Dokumentasi Data
Metode dokumentasi data adalah mengumpuolkan data-data guna untuk objek penelitian, baik itu dari pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada atau catatan-catatan yang tersimpan, baik itu berupa catatan transkrip, buku, surat kabar, dan lain sebagainya.
1.7.2. Metode Pengumpulan Data 1.7.2.1. 5W1H
What : Apa permasalahan yang akan dibahas When : Kapan Penelitian akan dilakukan Why : Mengapa masalah itu diambil
Who : Siapa yang menjadi target dalam penelitian Where: Dimana penelitian akan dilakukan
9
Universitas Kristen Petra
How : Bagaimana cara menyelesaikan masalah yang terjadi
1.7.3. Metode Analisis Data
Data yang dikumpulkan dari perancangan ini adalah data Kualitatif, yaitu dengan observasi dan wawancara yang dilakukan. Data tersebut akan membuat kita mengetahui masalah yang diteliti, dan menambah kelengkapan data. sehingga dengan data kualitatif yang ada dapat digunakan untuk membuat esai foto agar masyarakat sadar dan peduli terhadap penyu hijau di Pulau Sangalaki Kalimantan Timur.
10
Universitas Kristen Petra
1.8. Skematika Perancangan
Tabel 1.2. Sistematika Perancangan Program
Kreatif
Biaya Kreatif Strategi
Kreatif Tujuan
Kreatif
Perancangan Media Latar Belakang
Masalah Rumusan Masalah
Penentuan Tujuan Perancangan Investarisasi
Data Analisis
Sintesis
Program Media
Biaya Media Strategi
Media Tujuan
Media
Perencanaan Kreatif
Visualisasi
Layout
Final Design