• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian, Tujuan dan Peran dari Akuntansi Biaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian, Tujuan dan Peran dari Akuntansi Biaya"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian, Tujuan dan Peran dari Akuntansi Biaya

Menurut Mulyadi “Akuntansi biaya merupakan bagian dari dua tipe akuntansi, akuntansi keuangan dan akuntansi manejemen. Oleh karena itu, sebelum membahas akuntansi biaya, perlu diketahui lebih dahulu perbedaan karakteristik dua tipe pokok akuntansi tersebut”.

Mulyadi (2016:1)

Pada prinsipnya, akuntansi adalah suatu proses untuk mentransformasi input menjadi output. In

putnya adalah data akuntansi, sedangkan outputnya adalah informasi akuntansi. Data akuntansi dapat berupa data keuangan dan data nonkeuangan. Akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengidentifikasian, pendefinisian, pengukuran, pelaporan, dan analisis berbagai unsur biaya langsung dan biaya tidak langsung yang berhubungan dengan proses menghasilkan dan memasarkan produk.

Riwayadi (2014:24-25).

“Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, peringkasan dan penyajian biaya, pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah biaya”. Mulyadi (2016:7).

Proses pencatatan penggolongan, peringkasan dan penyajian, serta penafsiran informasi biaya adalah tergantung untuk siapa proses tersebut ditujukan. Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar perusahaan. Dalam hal ini proses akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik akuntansi keuangan.

Dengan demikian akuntansi biaya dapat merupakan bagian dari akuntansi keuangan. Mulyadi (2016: 7).

(2)

“Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam perusahaan. Dalam hal ini biaya harus memperhatikan karakteristik akuntansi manejemen. Dengan demikian akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi manejemen”. Mulyadi (2016: 7).

Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok: penentuan kos produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus. Untuk memenuhi tujuan penentuan kos produk, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan, dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya yang telah terjadi di masa yang lalu atau biaya historis. Umumnya akuntansi biaya untuk penentuan kos produk ditunjuk untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan. Oleh karena itu, untuk melayani kebutuhan pihak luar tersebut, akuntansi biaya untuk penentuan kos produk tunduk pada prinsip prinsip akuntansi yang lazim. Disamping itu, penentuan kos produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilayani oleh akuntansi manejemen yang tidak selalu terikat dengan prinsip akuntansi yang lazim. Lihat misalnya metode variabel costing untuk penentuan kos produk dan penyajian informasi biaya untuk memenuhi kebutuhan manejemen dan perencanaan dan pengambilan keputusan jangka pendek. Mulyadi (2016:7).

Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya di keluarkan untuk memproduksi satu satuan produk.

Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan biaya yang seharusnya tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan analisis terhadap penyimpangan biaya sesungguhnya dengan biaya yang seharusnya dan menyajikan informasi mengenai penyebab terjadinya selisih tersebut. Dari analisis biaya penyimpangan dan penyebabnya tersebut manejemen akan dapat

(3)

mempertimbangkan tindakan koreksi, jika hal ini perlu dilakukan. Dari analisis ini juga manajemen puncak akan dapat mengadakan penilaian prestasi para manajer dibawahnya. Akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya ini lebih ditujukan untuk pengendalian biaya ini lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak dalam perusahaan.

Aspek perilaku manusia dalam akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya adalah besar. Dengan demikian akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya merupakan bagian dai akuntansi manejemen, lihat sistem biaya standar, baik dengan full costing maupun variabel costing. (Mulyadi, 2016:7).

Pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus selalu berhubungan dengan keputusan yang akan datang. Akuntansi biaya untuk pengambilan keputusan khusus menyajikan biaya masa yang akan datang (future costs). Informasi biaya ini tidak dicatat dalam catatan akuntansi biaya, melainkan hasil dari suatu proses peramalan. Karena keputusan khusus merupakan sebagian besar kegiatan manajemen perusahaan, laporan akuntansi biaya untuk memenuhi tujuan pengambilan keputusan adalah bagian dari akuntansi manajemen. Untuk memenuhi kebutuhan manejemen dalam pengambilan keputusan, akuntansi biaya mengembangkan berbagai konsep informasi biaya untuk pengambilan keputusan seperti: biaya kesempatan (opportunity cost), biaya hipotesis (hypothetical cost),

(4)

biaya tambahan (incremental cost), biaya terhindarkan (avoidable cost),dan pendapatan yang hilang (forgone revenues). Mulyadi (2016:8).

Akuntansi biaya menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan. Akuntansi biaya mungukur dan melaporkan setiap informasi keuangan dan non keuangan yag terkait dengan biaya perolehan atau pemanfaatan sumber daya dalam suatu organisasi. Akuntansi biaya memasukkan bagian-bagian akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan tentang bagaimana informasi biaya dikumpulkan dan di analisis. Horngren (2008:3)

Adapun menurut Lukman Surjadi “Akuntansi biaya (cost accounting) adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya-biaya pembuatan dan penjualan produk atau penyerahan jasa dengan cara-cara tertentu beserta penafsiran terhadap hasilnya”. Lukman Surjadi (2013:1)

Tujuan akuntansi biaya adalah menyediakan informasi biaya untuk kepentingan manajemen guna membantu mereka mengelola perusahaan dan bagian-bagiannya, yaitu:

a. Perencanaan laba melalui budget.

Tujuan utama perusahaan adalah mendapatkan laba yang maksimal. Tercapainya tujuan ini tergantung pada beberapa unsur, antara lain unsur waktu dan kegiatan. Unsur waktu menunjukkan masalah ketidakpastian karena biasanya kita tidak akan bisa meramalkan apa yang akan tejadi masa akan datang. Untuk memperkecil faktor ketidakpastian itu maka perlu adanya perencanaan yang matang yang dituangkan ke dalam bentuk budget.

(5)

Budget adalah rencana tertulis yang dinyatakan dalam satuan uang yang merupakan rencana kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuannya dalam periode tertentu. Budget sering disebut

“Accounting in the Future”.

b. Pengendalian biaya melalui responsibility accounting.

Pengendalian biaya dimaksudkan agar tujuan yang telah ditetapkan perusahaan dapat dicapai dengan biaya seminimal mungkin. Dalam pengendalian biaya harus diperhatikan beberapa masalah pokok, yaitu:

1) Menetapkan tanggung jawab pengendalian biaya.

2) Mambatasi usaha-usaha pengendalian perorangan pada biaya- biaya yang dapat dikendalikan.

3) Laporan pelaksanaan orang-orang yang bersangkutan.

c. Menghitung laba untuk setiap periode, termasuk penilaian terhadap persediaan akhir.

Seperti diketahui, tujuan utama perusahaan adalah mendapatkan laba. Untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut memperoleh laba atau tidak, harus diadakan perbandingan antara biaya yang telah dikeluarkan dengan pendapatan yang telah diterima dalam periode tertentu. Preses perbandingan biaya dengan pendapatan ini disebut matching of expired costs with revenue.

Harga pokok produksi merupakan unsur penting dalam dalam menetapkan harga pokok penjualan. Dengan mengetahui harga pokok produksi, kita dapat menentukan harga pokok penjualan.

(6)

Yang membedakan harga pokok produksi dengan harga pokok penjualan adalah nilai persediaan awal dan akhir barang jadi, barang dalam proses, dan bahan baku. Pembebanan dan penilaian tersebut perlu didahului dengan proses penghitungan biaya produksi yang melibatkan kegiatan pencatatan, pengklasifikasian, dan penghikhtisaran biaya. Akuntansi biaya memberikan peranan yang cukup penting dalam penentuan biaya produksi. Data tersebut digunakan untuk menentukan harga pokok penjualan dan penilaian persediaan akhir, sehingga laba setiap periode dapat diketahui.

d. Membantu menetapkan harga jual dan kebijakan harga.

Penetapan harga jual produk adalah sangat penting bagi perusahaan karena erat hubungannya dengan pendapatan yang akan diperolehnya. Untuk mengetahui harga jual, lebih dahulu harus dihitung biaya produksi per unit, yang kemudian untuk menetapkan kebijakan mengenai harga jual produk tersebut. Untuk menghitung harga pokok produksi, kita dapat menggunakan metide full costing dan variabel costing.

e. Memberikan data biaya yang relevan untuk proses analisis pada pengambilan keputusan.

Pimpinan perusahaan sering menghadapi masalah dalam mengambil keputusan diantara dua alternatif atau lebih. Keputusan- keputusan tersebut sering bersifat kompleks, dalam arti banyak kemungkinan pilihan; atau keputusan bersifat sederhana seperti keputusan menerima atau menolak suatu order.

(7)

Biaya relevan adalah biaya yang ditaksir akan menjadi pada waktu yang akan datang atas pilihannya salah satu alternatif dari beberapa alternatif yang ada. (Lukman Surjadi, 2013:2-4)

Akuntasi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk dan jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Objek kegiatan akuntansi biaya adalah biaya. Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok: penentuan harga pokok produk, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan khusus. Untuk memenuhi tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan, dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya yang telah terjadi dimasa yang lalu atau biaya historis. Ony Widilestariningtyas (2012:10)

Menurut Baldric Siregar, akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai proses pengukuran, penganalisisan, perhitungan dan pelaporan biaya, profitabilitas, dan kinerja operasi. Informasi akuntansi biaya dirancang untuk kepentingan manajer. Karena manajer mengambil keputusan hanya untuk perusahaannya sendiri maka kriteria penting informasi akuntansi biaya adalah relevansi informasi bagi pengambilan keputusan oleh manajer. Akuntansi biaya dapat membantu manajemen dalam melaksanakan fungsinya, pengumpulan, penyajian, dan penganalisisan informasi yang berhubungan dengan biaya dapat membantu manajemen dalam penyusunan anggaran, pengendalian, penentuan harga, penentuan laba, pemilihan alternatif untuk pengambilan keputusan, dan pengendalian biaya dalam lingkungan teknologi maju. (Baldric Siregar, 2013:10)

(8)

2. Pengertian Biaya

Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Ada 4 unsur pokok dalam definisi biaya tersebut diatas:

a. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, b. Diukur dalam satuan uang,

c. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi,

d. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu. (Ony Widilestariningtyas, 2012:10-11)

“Akuntan telah mendefinisikan biaya sebagai nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan untuk memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, pengeluaran atau pengorbanan pada saat akuisisi diwakili oleh penyusutan saat ini atau dimasa yang akan datang dalam bentuk kas atau aktiva lain”. William K. Carter (2006:29)

3. Cara Penggolongan Biaya

Akuntansi biaya menekankan pada pencatatan dan pengkuran elemen biaya yang terjadi pada proses produksi. Aliran biaya pada perusahaan manufaktur berjalan seiring dengan jalannya proses produksi. Biaya produksi terdiri dari bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Proses produksi berjalan mulai dari bahan baku, barang dalam proses, sampai menjadi barang jadi. Kautsar Riza Salman (2013:40)

“Akumulasi biaya (cost accumulation) adalah kumpulan data biaya yang diorganisir dengan cara sejumlah yang menggunakan sarana berupa sistem akuntansi”. Horngren (2008:34)

(9)

Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung

a. Biaya langsung suatu objek biaya terkait dengan suatu objek biaya dan dapat dilacak ke objek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomi (biaya-efektivitas). Sebagai contoh, biaya kaleng atau botol merupakan biaya langsung dari Pepsi Cola. Biaya kaleng atau botol dapat dengan mudah dilacak atau diidentifikasi pada minuman tersebut. Istilah biaya terlacak (cost tracing) digunakan untuk menggambarkan pembebanan biaya langsung atas suatu objek biaya.

b. Biaya tidak langsung suatu objek biaya berkaitan dengan sutau objek biaya namun tidak dapat dilacak ke objek biaya tertentu dengan cara yang layak secara ekonomis (biaya-efektivitas). Sebagai contoh, gaji supervisi yang juga mengawasi produksi sejumlah produk minuman ringan lain yang pembotolnya dilakukan di pabrik Pepsi merupakan biaya tidak langsung bagi Pepsi Cola. Biaya supervisi terkait dengan objek biaya (Pepsi-Cola) karena supervisi merupakan kegiatan yang diperlukan untuk mengelola produksi dan penjualan Pepsi Cola.

Biaya supervisi merupakan biaya tidak langsung sebab pensuprvisi juga mengawasi produk lain, seperti 7-up. Tidak seperti biaya kaleng dan botol, gaji supervisi sulit sekali untuk dilacak pada lini pepsi- cola. Istilah alokasi biaya (cost allocation) digunakan untuk menggambarkan pembebanan biaya tidak langsung pada suatu objek biaya. Horngren (2008:35)

Menurut Ony Widilestariningtyas, akuntansi biaya digolongkan dengan berbagai macam cara, yaitu:

a. Penggolongan Biaya Menurut Objek Pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengelaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”.

b. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu:

(10)

1) Biaya produksi

Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi ini dibagi menjadi: biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik (factory overhead cost). Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut pula dengan istilah biaya utama (prime cost), sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik sering pula disebut dengan istilah biaya konversi (conversion cost), yang merupakan biaya untuk mengkonversi (mengubah) bahan baku menjadi produk jadi.

2) Biaya pemasaran

Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan ke gudang pembeli.

3) Biaya administrasi dan umum

Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contohnya biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntan, biaya fotocopy.

(11)

Jumlah biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum sering pula disebut dengan istilah biaya komersial (commercial expenses).

c. Penggolongan Biaya Menurut hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen.

Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokan menjadi dua golongan:

1) Biaya Langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

2) Biaya Tidak Langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang di biayai. Biaya langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik. Dalam hubungannya dengan departemen, biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi di suau departemen, tetapi manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen.

d. Penggolongan Biaya Menurut Perilakunya Dalam Hubungannya Dengan Perubahan Volume Kegiatan

Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, hanya dapat digolongkan menjadi:

(12)

1) Biaya variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

Contohnya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

2) Biaya semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel.

3) Biaya semifixed

Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu

4) Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gajih direktur produksi.

e. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua: pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan 1) Pengeluaran modal (capital expenditures) adalah biaya yang

mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Pengeluaran modal ini pada saat terjadi dibebankan sebagai

(13)

harga pokok aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi, diamortisasi, dan dideplesi.

2) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. (Ony Widilestariningtyas, 2012:12-15).

Biaya produksi (manufacturing cost) adalah biaya yang terjadi pada fungsi produksi. Fungsi produksi adalah fungsi yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Untuk menghasilkan produk diperlukan bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, tenaga kerja tidak langsung, bahan penolong, dan fasilitas, seperti gedung, mesin, listrik, dan peralatan lainnya. Karena biaya yang terkaitan dengan tenaga kerja tidak langsung, bahan penolong, dan fasilitas yang digunakan umumnya tidak dapat secara mudah dan akurat ditelusuri ke produk, biaya ini diklasifikasikan sebaga biaya tidak langsung produk atau istilah umumnya dikenal dengan biaya overhead pabrik (factory overhead cost). Riwayadi (2014:47)

Pada dasarnya prosedur-prosedur dalam siklus akuntansi biaya tidak berbeda dengan apa yang dipelajari dalam akuntansi keuangan.

Akuntansi biaya lebih rinci dalam menyajikan persediaan yang dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

a. Persediaan bahan baku, adalah akun persediaan untuk bahan baku yang belum diolah dalam proses produksi.

b. Persediaan barang dalam proses adalah akun persediaan untuk barang yang ada pada saat pelaporan masih di dalam proses produksi.

c. Persediaan barang jadi adalah akun persediaan untuk barang siap dijual. (Firdaus Ahmad Dunia, 2012:31)

(14)

4. Metode Penentuan Biaya Produksi

Menurut Baldric Siregar, biaya proses adalah penentuan biaya dengan cara mengumpulkan biaya berdasarkan proses produksi atau berdasarkan departemen. Metode ini tepat digunakan oleh perusahaan yang bekerja berdasarkan proses. Perusahaan yang bekerja berdasarkan proses meliputi perusahaan yang produknya bersifat homogen, atau perusahaan yang produknya tidak perlu dibedakan berdasarkan unitnya atau memang tidak praktis untuk membedakan berdasarkan unitnya.

Dalam metode biaya proses, semua biaya suatu proses yang dikeluarkan dalam suatu periode, dibagi dengan unit yang diproduksi sehingga terdapat biaya per unit. Bila produk suatu departemen akan diproses lebih lanjut di departemen berikutnya, biaya per unitnya harus dihitung pada setiap proses. Baldric Siregar (2013:38)

Menurut Mulyadi metode penentuan biaya produksi adalah:

a. Full Costing

Full Costing merupakan metode penentuan kos produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya yang ke dalam kos produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap. Dengan demikian kos produksi menurut metode full costing terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini:

Biaya bahan baku Rp xxx

Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx Biaya overhead pabrik variabel Rp xxx Biaya overhead pabrik tetap Rp xxx

Kos produksi Rp xxx

Kos produksi yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur kos produksi (biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik tetap) ditambah dengan biaya nonproduksi (biaya pemasaran, biaya administrasi dan umum).

(15)

b. Variabel Costing

Variabel Costing merupakan metode penentuan kos produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam kos produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Dengan demikian kos produksi menurut metode variabel costing terdiri dari unsur biaya produksi sebagai berikut ini:

Biaya bahan baku Rp xxx

Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx Biaya overhead pabrik variabel Rp xxx

Kos produksi Rp xxx

Kos produksi yang dihitung dengan pendekatan variabel costing terdiri dari unsur kos produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel) ditambah degan biaya nonproduksi variabel (biaya pemasaran variabel dan biaya administrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap). (Mulyadi, 2016: 17-19)

5. Depresiasi Aktiva Tetap a. Pengertian Depresiasi

Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang sacara sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi. Menurut PSAK No. 17, depresiasi (penyusutan) adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktiva tetap yang dapat disusutkan adalah aktiva yang:

1) Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.

(16)

2) Memiliki masa manfaat yang terbatas.

3) Dimiliki oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang atau jasa, untuk disewakan atau untuk tujuan administrasi. Zaki Baridwan (2013:305)

b. Sebab-sebab Depresiasi

Faktor-faktor yang menyebabkan depresiasi bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1) Faktor-faktor fisik

Faktor-faktor fisik yang mengurangi fungsi aktiva tetap adalah aus karena dipakai (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan kerusakan-kerusakan.

2) Faktor-faktor fungsional

Faktor-faktor fungsional yang membatasi umur aktiva tetap antara lain, ketidak mampuan aktiva untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu diganti dan karena adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan, atau karena adanya kemajuan teknologi sehingga aktiva tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai. (Zaki Baridwan, 2013:306)

c. Faktor-faktor dalam Menentukan Biaya Depresiasi

Menurut Zaki Baridwan ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan beban depresiasi setiap periode, yaitu:

1) Harga perolehan (cost) yaitu uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul dan biaya-biaya lain yang terjadi dalam

(17)

memperoleh suatu aktiva dan menempatkannya agar dapat digunakan.

2) Nilai sisa (residu) suatu aktiva yang didepresiasi adalah jumlah yang diterima bila aktiva itu dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika aktiva tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi pada saat menjual/menukarnya.

3) Taksiran umur kegunaan (masa manfaat) sutau aktiva dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan dan kebijakan- kebijakan yang dianut dalam depresiasi. Taksiran umur ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau satuan jam kerjanya. Dalam menaksir umur (masa manfaat) aktiva, harus dipertimbangkan sebab-sebab keausan fisik dan fungsional. (Zaki Baridwan, 2013:307)

d. Metode Perhitungan Depresiasi

1) Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode ini adalah metode depresiasi yang paling sederhana dan banyak digunakan. Dalam cara ini beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama. (kecuali kalau ada penyesuaian-penyesuaian).

Depresiasi = HP−NS

n

…...… (1)

Keterangan:

HP = Harga perolehan (cost) NS = Nilai sisa (residu)

(18)

n = Taksiran umur kegunaan

Perhitungan depresiasi (penyusutan) dengan metode garis lurus ini didasarkan pada anggapan-anggapan sebagai berikut:

a) Kegunaan ekonomis dari suatu aktiva menurun secara proporsional setiap periode.

b) Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap-tiap periode jumlahnya relatif tetap.

c) Kegunaan ekonomis berkurang karena lewatnya waktu.

d) Penggunaan (kapasitas) aktiva tiap-tiap periode relatif tetap.

Dengan adanya cara anggapan-anggapan seperti diatas, metode garis lurus sebaiknya digunakan untuk menghitung depresiasi gedung, mebel, dan alat-alat kantor. Biaya depresiasi yang dihitung dengan cara ini jumlahnya setiap periode tetap, tidak menghiraukan kegiatan dalam periode tersebut.

2) Metode jam jasa (Service hours method)

Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva (terutama mesin-mesin) lebih cepat rusak bila digunakan sepenuhnya (full time) disbanding dengan yang penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time). Dalam cara ini beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan jam jasa. Beban depresiasi periodik besarnya akan sangat terhantung pada jam jasa yang terpakai (digunakan).

Depresiasi per jam = HP−NS

n

…...… (2)

(19)

Keterangan:

HP = Harga perolehan (cost) NS = Nilai sisa (residu) n = Taksiran umur kegunaan

3) Metode hasil produksi (Productive output method)

Dalam metode ini umur kegunaan aktiva ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil produksi. Beban depresiasi (penyusutan) dihitung dengan dasar satuan hasil produksi, sehingga depresiasi tiap periode berfluktuasi sesuai dengan fluktusi dalam hasil produksi. Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu aktiva itu dimiliki untuk menghasilkan produk, sehingga depresiasi juga didasarkan pada jumlah produk yang dapat dihasilkan.

Depresiasi per unit = HP−NS

n

…...… (3)

Keterangan:

HP = Harga perolehan (cost) NS = Nilai sisa (residu)

n = Taksiran hasil produksi (unit)

4) Metode beban berkurang (Reducing charge methods)

Dalam metode ini beban depresiasi (penyusutan) tahun- tahun pertama lebih besar daripada beban depresiasi tahun-tahun berikutnya. Metode ini didasarkan pada teori bahwa aktiva yang baru dapat digunakan dengan lebih efisien dibandingkan dengan aktiva yang lebih tua. Begitu juga biaya reparasi dan pemeliharaannya. Biasanya aktiva yang baru memerlukan reparasi dan pemeliharaan yang lebih sedikit dengan aktiva yang lama. Jika dipakai metode ini maka diharapkan jumlah beban

(20)

depresiasi dan biaya reparasi dan pemeliharaan dari tahun ke tahun akan relatif stabil, karena jika depresiasinya besar maka biaya reparasi dan pemeliharaannya kecil (dalam tahun pertama), dan sebaliknya dalam tahun terakhir, beban depresiasi kecil sedangkan biaya reparasi dan pemeliharaannya besar. Ada 4 langkah untuk menghitung beban depresiasi yang menurun dari tahun ke tahun yaitu:

a) Metode jumlah angka tahun (sum of year’s digits method) Di dalam metode ini depresiasi (penyusutan) dihitung dengan mengalikan bagian pengurang (reducing fractions) yang tiap tahunnya selalu menurun dengan harga perolehan dikurangi nilai residu. Bagian pengurang ini dihitung sebagai berikut:

Pembilang = bobot (weight) untuk tahun yang bersangkutan Penyebut = jumlah angka tahun selama umur ekonomis aktiva atau jumlah angka bobot (weight) Jumlah angka tahun = n ((𝑛+1)

2 )

…...… (4)

Keterangan:

n = Umur ekonomis

b) Metode saldo menurun (Declining balance method)

Beban depresiasi (penyusutan) periodik dihitung dengan mengalikan tarif yang tetap dengan nilai buku aktiva.

Karena nilai buku aktiva ini setiap tahun selalu menurun

(21)

maka beban depresiasi tiap tahunnya juga selalu menurun.

Tarif ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

T = 1 - √𝑛 𝑁𝑆

𝐻𝑃

…... … (5)

Keterangan:

T = Tarif

N = Umur ekonomis NS = Nilai sisa (residu) HP = Harga perolehan

c) Double declining balance method

Dalam metode ini, beban depresiasi (penyusutan) tiap tahunnya menurun. Untuk dapat menghitung beban depresiasi yang selalu menurun, dasar yang digunakan adalah persentase depresiasi dengan garis lurus. Persentase ini dikalikan dua dan setiap tahunnya dikalikan pada nilai buku aktiva tetap. Karena nilai buku selalu menurun maka beban depresiasi juga selalu menurun.

d) Metode tarif menurun (declining rate on method)

Disamping metode-metode yang telah diuraikan dimuka, kadang-kadang dijumpai dengan menghitung depresiasi dengan menggunakan tarif (%) yang selalu menurun. Tarif ini setiap periode dikalikan dengan harga perolehan. Penurunan tarif setiap periode dilakukan tanpa menggunakan dasar yang pasti, tetapi ditentukan berdasarkan kebijakan pimpinan perusahaan. Karena

(22)

tarifnya setiap periode selalu menurun maka beban depresiasinya juga selalu menurun.

Metode lain yang dapat digunakan untuk menghitung beban depresiasi adalah metode perhitungsn bunga majemuk.

Dalam metode ini beban depresiasi bisa dihitung dengan annuitet atau sinking fund. (Zaki Baridwan, 2013:308-316) 6. Penentuan Harga Pokok Produk

a. Metode Harga Pokok Pesanan (Full Costing)

Bahwa perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan mengumpulkan harga pokok produksinya dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan umtuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. Mulyadi (2016:35)

1) Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan

Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik kegiatan produksi perusahaan tersebut. Oleh karena itu sebelum dibahas metode harga pokok pesanan, perlu diuraikan lebih dahulu karakteristik kegiatan usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan yang berpengaruh terhadap metode biaya produksi.

a) Karkteristik Usaha Perusahaan yang Produksinya Berdasarkan Pesanan

(1) Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus.

Jika pesanan yang satu selesai dikerjakan, proses

(23)

produksi diberhentikan, dan mulai dengan pesanan berikutnya.

(2) Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesanan. Dengan demikian pesanan yang satu dapat berbeda dengan pesanan yang lain.

(3) Produksi ditujukan untuk memenuhi pesana, bukan untuk memenuhi persediaan di gudang.

b) Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan

(1) Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.

(2) Biaya produksi harus golongkan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi dua kelompok berikut ini: biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.

(3) Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan istilah biaya overhead pabrik.

(4) Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok produksi pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedagkan biaya overhead pabrik

(24)

diperhitungkan ke dalam harga pokok pesanan berdasarkan terif yang ditentukan dimuka.

(5) Harga pokok produksi per unit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. (Mulyadi, 2016:38)

c) Manfaat Informasi Harga Pokok Produksi Per Pesanan (1) Menentukan Harga Jual yang Akan Dibebankan Kepada

Pemesan.

Pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dengan demikian pengertian biaya mencakup pula biaya yang akan datang, yang akan dikorbankan untuk tujuan tertentu. Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan sangat ditentukan oleh besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Formula untuk

(25)

menentukan harga jual yang akan di bebankan kepada pemesan adalah sebagai berikut:

Taksiran biaya produksi untuk pesanan Rp xx Taksiran biaya non produksi yang dibebankan

Kepada pesanan xx +

Taksiran total biaya pesanan Rp xx Laba yang diinginkan xx+

Taksiran harga jual yang dibebankan

Kepada pemesan Rp xx

Dari formulir tersebut terlihat bahwa informasi taksiran biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan yang diinginkan oleh pemesan dipakai sebagai salah satu dasar untuk menentukan harga jual yang akan debebankan kepada pemesan. Untuk menaksir biaya produksi yang akan dikeluarkan dalam memproduksi pesanan tertentu perlu dihitung unsur- unsur biaya berikut ini:

a) Taksiran biaya bahan baku Rp xx b) Taksiran biaya tenaga kerja langsung xx c) Taksiran biaya Overhead Pabrik xx+

Taksiran biaya produksi Rp xx

(2) Mempertimbangkan Penerimaan atau Penolakan Pesanan.

Adakalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah terbentuk di pasar, sehingga keputusan yang yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak pesanan. Untuk memungkinkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen

(26)

memerlukan informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga pokok pesanan memberikan dasar perlindungan bagi manajemen agar di dalam menerima pesanan perusahaan tidak mengalami kerugian. Tanpa memiliki informasi total harga pokok pesanan, manajemen tidak memiliki jaminan apakah harga yang diminta oleh pemesan dapat mendatangkan laba bagi perusahaan. Total harga pokok pesanan dihitung dengan unsur biaya berikut ini:

Biaya produksi pesanan:

Taksiran biaya bahan baku Rp xx Taksiran biaya tenaga kerja Rp xx Taksiran biaya overhead pabrik Rp xx + Taksiran total biaya produksi Rp xx Biaya non produksi:

Taksiran biaya adm & umum Rp xx Taksiran biaya pemasaran Rp xx +

Taksiran total biaya non produksi Rp xx + Taksiran total harga pokok pesanan Rp xx (3) Memantau Realisasi Biaya Produksi.

Informasi taksiran biaya produksi pesanan tertentu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dasar untuk menetapkan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan. Informasi taksiran biaya produksi juga bermanfaat sebagai salah satu dasar untuk mempertimbangkan diterima tidaknya suatu pesanan.

Jika pesanan telah diputuskan untuk diterima,

(27)

manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap pesanan yang diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi pesanan tertentu menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya. Pengumpulan biaya produksi per pesanan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. Perhitungan biaya produksi sesungguhnya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dilakukan dengan formula berikut ini:

Biaya bahan baku sesungguhnya Rp xx Biaya tenaga kerja sesungguhnya Rp xx Taksiran biaya overhead pabrik * Rp xx + Total biaya produksi sesungguhnya Rp xx Keterangan

* Pesanan dibebani dengan biaya overhead pabrik menurut tarif yang ditentukan di muka (taksiran) kerena harga pokok pesanan harus dihitung pada saat pesanan selesai, padahal tidak semua biaya overhead pabrik dapat di hitung pada saat itu.

(4) Menghitung Laba atau Rugi Bruto Tiap Pesanan.

Untuk mengetahui apakah pesanan tertentu mampu menghasilkan laba bruto atau mengakibatkan rugi bruto, manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi

(28)

pesanan tertentu. Informasi laba atau rugi bruto tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya nonproduksi dan menghasilkan laba atau rugi bruto tiap pesanan. Laba atau rugi bruto tiap pesanan dihitung sebagai berikut:

Harga jual yang dbebankan kepada pemesan Rp xx Biaya produksi pesanan tertentu:

Biaya bahan baku sesungguhnya Rp xx

BTKL sesungguhnya Rp xx

Taksiran biaya overhead Rp xx +

Total biaya produksi pesanan Rp xx -

Laba Bruto Rp xx

(5) Menentukan Harga Pokok Persediaan Produk Jadi dan Produk Dalam Proses yang Disajikan Dalam Neraca.

Pada saat manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keunngan periodik, manajemen harus menyediakan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Di dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan catatan biaya produksi tiap pesanan.

Berdasarkan catatan biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang melekat pada pemesanan yang telah selesai diproduksi, namun pada tanggal neraca belum diserahkan kepada pemesan. Disamping itu, berdasarkan catatan tersebut,

(29)

manajmen dapat pula menentukan biaya produksi yang melekat pada pesanan yang pada tanggal neraca masih dalam proses pengerjaan. Biaya yang melekat pada pesanan yang belum selesai pada tanggal neraca disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk dalam proses. (Mulyadi, 2016:39-42)

b. Metode Harga Pokok Proses

Metode pengumpulan biaya produksi ditentukan oleh karakteristik proses produk perusahaan. Dalam perusahaan yang berproduksi massa, karakteristik produksinya adalah sebagai berikut:

1) Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.

2) Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.

3) Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu. Mulyadi (2016:63)

c. Perbedaan Metode Harga Pokok Proses dengan Metode Harga Pokok Pesanan.

Untuk memahami karakteristik metode harga pokok proses, berikut ini disajikan perbedaan metode harga pokok proses dengan metode harga pokok pesanan. Perbedaan diantara dua metode pengumpulan biaya produksi tersebut terletak pada:

1) Pengumpulan Biaya Produksi.

Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulkan biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi.

(30)

2) Perhitungan Harga Pokok Produksi Per Satuan.

Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.

Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai diproduksi. Metode harga proses menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan.

Perhitungan ini dilakukan setiap akhir periode akuntansi (biasanya akhir bulan).

3) Penggolongan Biaya Produksi.

Di dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung dibebankan kepada produk berdasar biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tarif yang ditentukan di muka. Di dalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk. Karena harga pokok per satuan produk dihitung

(31)

setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk diatas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi.

4) Unsur yang Digolongkan dalam Biaya Overhead Pabrik.

Di dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung dan biaya produksi lain selain biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan di muka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya biaya tenaga kerja (baik yang langsung maupun yang tidak langsung). Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnya terjadi selama periode akuntansi tertentu.

(Mulyadi, 2016:64-65)

Biaya overhead pabrik dapat digolongkan dengan tiga cara penggolongan:

a) Peggolongan biaya overhead pabrik menurut sifatnya.

(1) Biaya bahan penolong adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relatif kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.

(32)

(2) Biaya reparasi dan pemeliharaan berupa biaya suku cadang (spareparts), biaya bahan habis pakai (factory supplies) dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan emplasemen, perumahan, bangunan pabrik, mesin-mesin dan ekuipmen, kendaraan, perkakas laboratorium, dan aktiva tetap lain yang digunakan untuk keperluan pabrik.

(3) Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja pabrik yang upahnya tidak dapat diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. Biaya tenaga kerja tidak langsung terdiri dari upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan yang dikeluarkan untuk tenaga kerja tidak langsung tersebut.

(4) Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian terhadap aktiva tetap, biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya depresiasi emplasemen pabrik, bangunan pabrik, mesin dan ekuipmen, perkakas laboratorium, alat kerja, dan aktiva tetap lain yang digunakan di pabrik.

(5) Biaya yang timbul sebagai akibat berlalunya waktu.

Biaya-biaya dalam kelompok ini antara lain adalah biaya-biaya asuransi gedung dan emplasemen, asuransi mesin dan ekuipmen, asuransi kendaraan, asuransi

(33)

kecelakaan karyawan, dan biaya amortisasi kerugian trial-run.

(6) Biaya overhead pabrik lain yang secara langsung memerlukan pengeluaran uang tunai. Biaya overhead pabrik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah biaya reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan, biaya listrik PLN, dan sebagainya.

b) Penggolongan biaya overhead pabrik menurut perilakunya dalam hubungan dengan perubahan volume produksi.

Ditinjau dari perilaku unsur-unsur biaya overhead pabrik dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya overhead pabrik dapat dibagi menjadi tiga golongan: biaya overhead pabrik tetap, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik semivariabel.

(1) Biaya overhead pabrik variabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

(2) Biaya overhead pabrik tetap adalah biaya overhead pabrik yang tidak berubah dalam kisar perusahaan volume kegiatan tertentu.

(3) Biaya overhead pabrik semivariabel adalah biaya overhead pabrik yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Untuk keperluan penentuan tarif biaya overhead pabrik dan untuk mengendalikan

(34)

biaya, biaya overhead pabrik yang bersifat semivariabel dipecah menjadi dua unsur biaya tetap dan biaya variabel.

c) Penggolongan biaya overhead pabrik menurut hubungannya dengan departemen.

Jika disamping memiliki departemen produksi, perusahaan juga mempunyai departemen-departemen pembantu, maka biaya overhead pabrik meliputi juga semua jenis biaya yang terjadi di departemen-departemen pembantu ini, yang meliputi biaya tenaga kerja, depresiasi, reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, asuransi yang terjadi di departemen pembantu tersebut.

Ditinjau dari hubungannya dengan departemen- departemen yang ada dalam pabrik, biaya overhead pabrik dapat digolongkan menjadi dua kelompok

(1) Biaya overhead pabrik langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang terjadi dalam departemen tertentu dan manfaatnya hanya dinikmati oleh departemen tersebut. Contoh biaya ini adalah gaji mandor departemen produksi, biaya depresiasi mesin, dan biaya bahan penolong.

(2) Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen adalah biaya overhead pabrik yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contoh biaya

(35)

overhead pabrik ini adalah biaya depresiasi, pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik (catatan:

gedung pabrik digunakan oleh beberapa departemen produksi). (Mulyadi, 2016:193-195)

d. Metode Harga Pokok Proses Produk Diolah Melalui Satu Departemen Produksi

Perhitungan harga pokok produk dalam metode harga pokok proses, diterapkan dalam perusahaan yang mengolah produknya melalui satu departemen produksi tanpa menghitung adanya persediaan produk dalam proses awal periode.

1) Perhitungan Harga Pokok Produksi Per Satuan Tabel 1

Perhitungan Harga Pokok Produk Per Satuan Unsur Biaya Produksi

(1)

Total Biaya (2)

Unit Ekuivalen

(3)

Biaya Produksi Per Satuan

(4) Biaya Bahan Baku Rp. xxx E = x + (y x z) Rp. xxx Biaya Bahan Penolong Rp. xxx E = x + (y x z) Rp. xxx Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx E = x + (y x z) Rp. Xxx Biaya Overhead

Pabrik

Rp. xxx E = x + (y x z) Rp. xxx

Total Rp. xxx E = x + (y x z) Rp. xxx

Sumber : Mulyadi (2016:70)

Keterangan

a) Unit Ekuivalen = produk jadi + (tingkat penyelesaian x produk dalam proses)

b) Biaya produksi per Satuan = Total Biaya : Unit Ekuivalen Setelah biaya produksi per satuan dihitung, harga pokok

produk jadi yang ditransfer ke gudang dan harga pokok persediaan dalam proses.

(36)

2) Perhitungan Pokok Produk Jadi dan Persediaan produk dalam proses

Harga pokok produk jadi: Rp. xxx

Biaya Bahan Baku Rp. xxx Biaya Bahan Penolong Rp. xxx Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx +

Rp. xxx +

Jumlah biaya produksi Rp. xxx

Sumber: Mulyadi (2016:70) 3) Laporan Biaya Produksi

Tabel 2 UD. Putra Mandiri Laporan biaya produksi 2017 Data Produksi

Dimasukkan dalam proses Rp. xxx

Produk jadi yang ditransfer ke gudang Rp. xxx Produk dalam proses akhir Rp. xxx Jumlah produk yang dihasilkan Rp. xxx Biaya yang Dibebankan

Total Per Satuan Biaya Bahan Baku Rp. xxx Rp. xxx Biaya Bahan Penolong Rp. xxx Rp. xxx Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx Rp. xxx Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx Rp. xxx

Jumlah Rp. xxx Rp. xxx

Perhitungan Biaya:

Harga pokok produk jadi: Rp. xxx Biaya Bahan Baku Rp. xxx

Biaya Bahan Penolong Rp. xxx Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx +

Rp. xxx +

Jumlah biaya produksi Rp. xxx

Sumber: Mulyadi (2016:71) 4) Jurnal Pencatatan Biaya Produksi

Berdasarkan informasi yang disajikan dalam laporan biaya produksi, dicatat dengan jurnal berikut ini:

(37)

a) Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku:

(D) BDP-Biaya Bahan Baku Rp. xxx (K) Persediaan Bahan Baku Rp. xxx b) Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong:

(D) BDP-Biaya Bahan Penolong Rp. xxx (K) Persediaan Bahan Penolong Rp. xxx c) Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja:

(D) BDP-Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx

(K) Gaji dan Upah Rp. xxx

d) Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik:

(D) BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx (K) Berbagai Rekening Yang Dikreditkan Rp. xxx

e) Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang:

(D) Persediaan Produk Jadi Rp. xxx

(K) BDP-Biaya Bahan Baku Rp. xxx (K) BDP-Biaya Bahan Penolong Rp. xxx (K) BDP-Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx (K) BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx

f) Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai diolah pada akhir bulan:

(D) Persediaan Produk Dalam Proses Rp. xxx

(K) BDP-Biaya Bahan Baku Rp. xxx (K) BDP-Biaya Bahan Penolong Rp. xxx (K) BDP-Biaya Tenaga Kerja Rp. xxx (K) BDP-Biaya Overhead Pabrik Rp. xxx Sumber: Mulyadi (2016:71-72)

(38)

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Berikut adalah hasil penelitian terdahulu yang penulis jadikan referensi untuk akhir ini :

Tabel 3

Hasil Penelitian Terdahulu Identitas Penelitian

Aspek

Sholehah A03140054 Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin 2017

Didik Maulana A03140011 Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin 2017

Pahriah A03150040 Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Banjarmasin 1. Judul Perhitungan harga

pokok produk per biji gorong-gorong dengan

menggunakan metode harga pokok proses pada CV Tiga Sumber Rezeki

Banjarmasin

Perhitungan Harga Pokok Produk Per Biji Paving Dengan Menggunakan Metode Harga Pokok Proses Pada UD Beton Jaya Banjarbaru

Perhitungan Harga Pokok Produk Per Biji Gypsum dengan menggunakan Metode Harga Pokok Proses pada UD Putra Mandiri.

2. Institusi/Perusahaan yang diteliti

CV Tiga Sumber Rezeki

Banjarmasin

UD Beton Jaya Banjarbaru

UD Putra Mandiri

3. Permasalahan Penelitian

Bagaimana perhitungan harga pokok produk per biji gorong-gorong dengan

menggunakan metode harga pokok proses pada CV Tiga Sumber Rezeki

Banjarmasin yang sesuai dengan konsep akuntansi biaya yang seharusnya?

Bagaimana penggolongan biaya produksi dan perhitungan harga pokok produk yang sesuai dengan konsep akuntansi biaya

Bagaimana perhitungan harga pokok produk gypsum per biji dengan

menggunakan metode harga pokok proses pada UD Putra Mandiri sesuai dengan konsep akuntansi biaya?

4. Tujuan Penelitian Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai perhitungan harga pokok produk per biji gorong-gorong dengan

menggunakan metode harga

Untuk mengetahui bagaimana

penggolongan biaya dan

perhitungan harga pokok produk Paving pada UD Beton Jaya yang sesuai dengan

Untuk mengetahui perhitungan harga pokok produk per biji gypsum dengan metode harga pokok proses pada UD. Putra Mandiri sesuai konsep akuntansi biaya

(39)

pokok proses pada CV Tiga Sumber Rezeki

Banjarmasin yang sesuai dengan akuntansi biaya yang seharusnya

konsep akuntansi biaya

5. Metode Penelitian Metode harga pokok dengan metode harga pokok proses

Metode harga pokok dengan metode harga pokok proses

Metode harga pokok dengan metode harga pokok proses 6. Hasil Penelitian Pembebanan yang

dilakukan CV Tiga Sumber Rezeki Banjarmasin masih kurang tepat karena adanya temuan biaya non produksi yang

diperhitungkan ke dalam biaya produksi.

UD Beton Jaya Banjarbaru masih kurang tepat dalam melakukan

perhitungan harga pokok produk per satuan, karena tidak menggolongkan biaya yang sesuai dengan konsep akuntansi biaya.

Sumber : Sholehah (2017) dan Didik Maulana (2017)

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan yang memproduksi massa, menghitung harga pokok produksinya dengan mengumpulkan biaya produksi untuk setiap proses selama jangka waktu tertentu cara

Laporan harga pokok produksi adalah kumpulan biaya produksi yang tediri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead ditambah persediaan

Pengertian harga pokok produksi menurut Bustami dan Nurlela (2010:49) yaitu : “Harga pokok produksi adalah k umpulan biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga

Didalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja (baik yang langsung

Perhitungan harga pokok produksi konvensional menurut Slamet (2007:98) adalah “perhitungan yang hanya membebankan biaya produksi pada produk, biaya produk biasanya

Unsur yang digolongkan dalam biaya overhead pabrik, metode harga pokok pesanan biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung

Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan harga pokok produksi adala biaya yang dikeluarkan mulai dari biaya bahan baku,biaya karyawan,biaya overhead