• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KURIKULUM BOARDING SCHOOL DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI:Studi Evaluatif di SIT Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI KURIKULUM BOARDING SCHOOL DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI:Studi Evaluatif di SIT Al-Multazam Kabupaten Kuningan."

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

i

BAB II EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM BOARDING SCHOOL DALAM PROSES PEMBELAJARAN BIOLOGI A. Konsep Evaluasi Kurikulum . . . 16

A.1. Pengertian Evaluasi . . . 16

(2)
(3)

iii

A.2. Pemahaman Guru Biologi terhadap Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School . . . 116

A.3. Kemampuan Guru Biologi dalam Mengimplementasikan Kurikulum Boarding School . . . 120

B. Interpretasi Data Hasil Penelitian . . . 133

B.1. Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School. . . . . . . . 133

(4)

iv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(5)

v

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 2.1 : Urutan Proses Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan

(6)

vi

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 2.1 : Urutan Proses Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan

(7)

vii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Karakteristik Responden . . . 96 Tabel 4.1. Struktur Program Kurikulum Kelas VIII SMP IT Al-Multazam

Semester II Tahun Pelajaran 2005 / 2006 . . . 105 Tabel 4.2. Struktur Program Kurikulum Kelas VIII SMP Negeri / Diknas

Semester II Tahun Pelajaran 2005 / 2006 . . . 107 Tabel 4.3. Perbedaan Program Kurikulum SMP IT Al-Multazam -

SMP Negeri / Diknas . . . . . . 108 Tabel 4.4. Pendekatan dan Metode pada Implementasi Kurikulum Boarding

School dalam Proses Pembelajaran Biologi . . . 115

Tabel 4.5. Observasi Kelas Proses Pembelajaran Biologi - di SMP IT

Al-Multazam . . . 123 Tabel 4.6. Observasi Pengayaan Proses Pembelajaran Biologi -

(8)
(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

Pendidikan dapat menjadi tolok ukur tinggi rendahnya harga diri suatu bangsa, karena tinggi rendahnya mutu suatu bangsa dapat dinilai dari sistem, proses, dan produk pendidikan. Seringkali arti penting proses pendidikan terabaikan, serta penerapan sistem pendidikan di Indonesia cenderung masih diwarnai budaya kolonialisme yang pada umumnya menghasilkan produk yang kurang kreatif, tidak banyak inovatif, serta belum tingginya rasa tanggung jawab, sehingga berakibat lemahnya kemampuan untuk mengantisipasi perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global yang begitu cepat.

Untuk menghasilkan produk pendidikan berkualitas yang diharapkan sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional maupun tujuan suatu lembaga pendidikan, maka setiap sistem pendidikan atau persekolahan harus memiliki kurikulum yang berfungsi sebagai alat untuk mencapainya. Oleh karena itu kurikulum memegang peranan yang sangat penting dalam membina kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk kemampuan berpikir dengan kadar yang tinggi. Banyak pakar berpendapat bahwa unsur terpenting dalam pendidikan sekolah ialah sistem kurikulumnya, karena itu kurikulum adalah unsur yang paling strategis dari sistem pendidikan sekolah.

(10)

2

Permasalahan besar yang sering dihadapi oleh pendidikan nasional kita antara lain menyangkut pemerataan kesempatan pendidikan, mutu, relevansi, efektivitas, dan efisiensi pendidikan. Permasalahan ini menimbulkan keresahan pada masyarakat yang seringkali mengemuka dalam media cetak maupun elektronik serta dalam seminar maupun kegiatan ilmiah lainnya. Keresahan tersebut harus ditanggapai secara serius dan dipecahkan secara komprehensif dan terpadu tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah saja, tetapi oleh siapa saja yang termasuk komponen bangsa demi suksesnya pendidikan kita yang juga berarti susksesnya pembangunan bangsa dan negara kita.

(11)

3

(SIT) Al-Multazam sangat memperhatikan kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan individu bahwa anak belumlah cukup apabila hanya dididik dalam aspek pengetahuan (kognitif) saja tetapi juga harus dibekali dengan aspek perilaku mulia (ahklak) dan keterampilan (skill) dengan berlandaskan kepada pengembangan kualitas umat Islam dalam iman dan takwa (IMTAK)

Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam, dimana sistem kurikulum yang diterapkan di sekolah alternatif ini bersifat terpadu, dalam arti kurikulum nasional merupakan acuan utama, kemudian dipadukan dengan kurikulum yang disusun Yayasan. Waktu kegiatan pembelajaran jelas berbeda dengan sekolah negeri atau Diknas, yaitu selama 24 (dua puluh empat) jam peserta didik selalu ada dalam bimbingan dan pengawasan sekolah karena selama waktu itu mereka berada di lingkungan asrama (boarding), yang aktivitasnya dimulai dari bangun pagi pukul 04.00 WIB untuk melakukan aktivitas rutin keseharian yang terbagi menjadi Program: Pokok, Penunjang, dan Ekstrakurikuler hingga berakhir pada pukul 09.00 malam (21.00 WIB) untuk memperoleh istirahat panjang yaitu tidur. Untuk tempat dan proses tidurpun para peserta didik harus mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan sekolah / yayasan.

Penelitian ini memfokuskan pada sistem pendidikan terpadu karena Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam di Kabupaten Kuningan merupakan perpaduan antara sistem sekolah negeri / Diknas dengan sistem pondok

pesantren modern, dalam arti: sistem sekolah (school) negeri atau Diknas

(12)

4

mondok atau menginap di asrama (boarding) selama menempuh pendidikan,

yang kemudian disebut dengan istilah Boarding School (Sekolah Berasrama). Peneliti ingin mengkaji lebih dalam tentang kurikulum yang digunakan dalam sistem Boarding School ini, khususnya pada implementasi kurikulum dalam proses pembelajaran Biologi.

B. Rumusan Masalah.

Berdasar pada Latar Belakang Masalah yang memberikan gambaran bahwa permasalahan yang ada adalah pada bagaimana implementasi Kurikulum Boarding School tersebut dalam proses pembelajaran Biologi. Dengan melakukan

evaluasi terhadap implementasi Kurikulum Boarding School ini diharapkan dapat memberikan masukan atau nilai tambah yang cukup berarti bagi guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam proses pembelajaran Biologi. Selain itu, melalui evaluasi implementasi Kurikulum Boarding School dapat juga dijadikan bahan kajian dalam melaksanakan kurikulum ini yang lebih dalam dengan meninjau dari berbagai aspek, terutama yang menjadi ciri khas dari Kurikulum yang diimplementasikan di SMP IT Al-Multazam Kabupaten Kuningan, dibanding sekolah negeri / Diknas.

(13)

5

diterapkan sekolah untuk dapat dikembangkan lagi oleh setiap guru di dalam Proses Pembelajaran.

Proses Pembelajaran di kelas / laboratorium merupakan perwujudan dari implementasi kurikulum yang nyata. Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan Proses Pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Proses Pembelajaran yang meliputi tahap perencanaan (menentukan tujuan, mengumpulkan dan memilih materi, menetapkan strategi / pendekatan / metode, serta menyiapkan penilaian), kemudian tahap pelaksanaan (dalam hal ini guru melakukan Proses Pembelajaran berdasarkan kepada perencanaan, namun dapat menyesuaikan dengan situasi yang terjadi pada saat pelaksanaan berlangsung), yang berakhir dengan tahap penilaian / evaluasi.

Faktor lain yang turut menentukan dalam proses pembelajaran adalah terletak pada peserta didik. Bakat, minat, serta kemampuan yang ada pada setiap peserta didik dalam proses pembelajaran adalah sesuatu yang sangat penting. Ketiga faktor tersebut dalam menerima dan memahami materi pembelajaran merupakan faktor penentu dalam keberhasilan implementasi kurikulum. Keberhasilan belajar peserta didik dapat ditentukan oleh bakat, minat, serta kemampuan dalam mengikuti setiap proses pembelajaran.

(14)

6

mencakup sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam Proses Pembelajaran Biologi.

Oleh karena itu penelitian ini akan diarahkan pada implementasi Kurikulum Boarding School dalam proses pembelajaran Biologi. Hasil yang diharapkan

adalah menyangkut dampak positif maupun negatif dari berbagai aturan dan kebijaksanaan sekolah sehubungan dengan pengimplementasian Kurikulum Boarding School. Diprediksi dampak positifnya adalah, peserta didik menerima

materi pembelajaran yang lebih dari sekolah negeri / Diknas, baik dari sisi akademis (pendidikan umum dan agama) maupun perkembangan jiwa yang berupa kemandirian. Dengan demikian perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Implementasi Kurikulum Boarding School dalam

Proses Pembelajaran Biologi di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam

Kabupaten Kuningan ?”.

C. Batasan Masalah.

Masalah penelitian akan dibatasi pada :

1. Evaluasi Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang

SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) AL-Multazam Kabupaten Kuningan.

2. Evaluasi pemahaman guru Biologi kelas VIII (delapan) terhadap Ruang

(15)

7

3. Evaluasi kemampuan guru Biologi kelas VIII (delapan) mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

D. Pertanyaan Penelitian.

Berdasarkan pada Batasan Masalah seperti yang telah tertulis di atas, berikut

ini adalah Pertanyaan Penelitian yang akan dicari solusinya yaitu:

1.Bagaimana Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang

SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan ?

2.Bagaimana pemahaman guru Biologi kelas VIII (delapan) terhadap Ruang

Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan ?

3.Bagaimana kemampuan guru Biologi kelas VIII (delapan) mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al – Multazam Kabupaten Kuningan ?

E. Tujuan Penelitian.

(16)

8

SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Mutazam Kabupaten Kuningan. Adapun yang menjadi tujuan khususnya adalah :

1. Untuk memperoleh gambaran mengenai Ruang Lingkup Kurikulum

Boarding School pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT)

Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

2. Untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman guru Biologi kelas

VIII (delapan) terhadap Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

3. Untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan guru Biologi kelas

VIII (delapan) mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

F. Manfaat Penelitian.

Diharapkan hasil dari penelitian ini bermanfaat sebagai salah satu rujukan khususnya untuk lembaga pendidikan yang menerapkan Kurikulum Boarding School. Di samping itu juga dapat digunakan sebagai acuan atau bahan

(17)

9

mendalam. Berikutnya, manfaat penelitian ini dibagi dalam dua macam yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

F.1. Manfaat Teoritis.

Dengan evaluasi implementasi Kurikulum Boarding School ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti dalam mengembangkan kurikulum yang selama ini digunakan oleh sekolah untuk dapat memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi berkembangnya suatu Kurikulum Boarding School, antara lain tentang kemampuan guru dalam proses pembelajaran Biologi. Selain itu adalah menyangkut hal-hal bersifat inovatif yang akan dihasilkan dari proses pembelajaran tersebut.

F.2. Manfaat Praktis.

Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini antara lain dapat dijadikan bahan masukan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas sistem pendidikan yang menerapkan Kurikulum Boarding School pada umumnya, serta Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Multazam Husnul Khotimah Kabupaten Kuningan ini pada khususnya.

G. Penjelasan Istilah.

(18)

10

1. Implementasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan

tahun 1999 (cetakan terakhir) oleh Balai Pustaka – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang menjadi Departemen Pendidikan Nasional) diartikan sebagai pelaksanaan; penerapan. Oleh karena itu, apabila dikaitkan dengan istilah kurikulum dapat diartikan sebagai segala sesuatu menyangkut aktivitas pelaksanaan / penerapan kurikulum dalam proses pembelajaran , yang tentunya berkenaan dengan keterampilan guru dalam merencanakan / menyiapkan materi pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, sampai kepada penilaian / evaluasinya. Implementasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Implementasi Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran Biologi yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, serta kegiatan penutup, yang akan dijelaskan berikut ini :

a. Kegiatan pendahuluan adalah berkenaan dengan guru membuka pembelajaran dengan cara memberikan berbagai motivasi kepada peserta didik, mengevaluasi pembelajaran sebelumnya, kemudian menghubungkan materi sebelumya dengan materi baru, dan selanjutnya menjelaskan pentingnya materi baru dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang.

(19)

11

pelengkap. Desilingi dengan evaluasi proses (sebagai evaluasi sementara dari Proses Pembelajaran) melalui pemberian beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada peserta didik – baik bersifat individu maupun kelas – menyangkut materi yang telah disampaikan. Seandainya ada peserta didik yang belum mengerti, maka guru akan memberikan penjelasan ulang sampai peserta didik tersebut betul – betul mengerti.

c. Kegiatan penutup, guru membuat rangkuman dan kesimpulan (dengan mengupayakan keterlibatan peserta didik), yang kemudian dilakukan pertanyaan ulang – dalam bentuk kuis - sebagai evaluasi yang berkenaan dengan materi yang terakhir dijelaskan sehubungan dengan adanya siswa yang belum mengerti. Diakhiri dengan memberikan informasi menyangkut materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya, serta memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

2. Kurikulum Boarding School adalah Kurikulum yang dikembangkan

(20)

12

selama 24 (duapuluh empat) jam peserta didik berada dalam pembinaan dan pengawasan sekolah.

Kurikulum ini terdiri dari :

a. Core curriculum (kurikulum inti) yang materinya sama dengan sekolah negeri / Diknas, yaitu kurikulum yang berlaku secara nasional dan ditetapkan oleh Mendiknas.

b. Special curriculum (kurikulum khusus) adalah kurikulum pendidikan Islam dengan muatan pesantren yang terdiri dari: Kajian (membaca, menulis, menghafal, dan mentafsirkan) Al Qur’an, bimbingan ibadah, pembinaan aqidah dan akhlaq, serta pemikiran Islam kontemporer.

c. Complement curriculum (kurikulum tambahan) memberikan materi tambahan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik pada masa kini dan yang akan datang, seperti: Komputer, bahasa Arab dan Inggris aktif, melakukan penelitian sederhana berikut karya tulis ilmiah, pramuka, life skill dan out bound, bela diri, serta apresiasi seni Islam.

(21)

13

keseharian yang terkait dengan Kurikulum Inti, Kurikulum Khusus, maupun Kurikulum Tambahan.

3. Pemahaman dan kemampuan guru dalam implementasi Kurikulum

Boarding School adalah pemahaman dan kemampuan guru dalam hal

merencanakan (menyusun Perangkat Pembelajaran yang terdiri dari Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Skenario / Rencana Pembelajaran) dan melaksanakan Proses Pembelajaran Biologi kelas VIII (delapan) pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

Secara umum menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, Guru adalah :

a. Pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

(22)

14

tenaga profesional itu berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Pada bagian yang lain dari Undang – Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tersebut mengemukakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada kalimat tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Yang dimaksud dengan :

a. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan diri / individu yang

berakhlak mulia, mantap, serta berwibawa sehingga menjadi teladan peserta didik.

b. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi

pembelajaran secara luas dan mendalam.

c. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran

(23)

15

d. Kompetensi sosial adalah kemampuan untuk berkomunikasi dan

berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua / wali peserta didik, serta masyarakat sekitar.

e. Sehat jasmani dan rohani adalah kondisi kesehatan fisik dan mental

(tidak ditujukan kepada penyandang cacat) yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik.

(24)
(25)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Berikut ini adalah uraian mengenai pelaksanaan penelitian yang sesuai

dengan tujuan yang akan dicapai dalam studi evaluatif Implementasi Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran Biologi. Maka akan dijelaskan

sebagai berikut, yaitu:

A. Pendekatan dan Metode.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan naturalistik. Hal ini sesuai dengan pendapat Rossi dan Freeman (1985) dalam Hamalik (1993:36) bahwa pendekatan naturalistik dimaksudkan agar evaluator dapat menggunakan apa yang diobservasi sebagaimana deskripsi kejadian – kejadian aktual yang terjadi selama observasi berlangsung. Data hasil wawancara diperlukan, demikian pula beberapa kali diskusi menyangkut masalah yang terkait, serta pola berbagai observasi juga dianalisa. Oleh karena itu penelitian ini akan menggali data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang serta perilaku yang dapat diamati dari lapangan. Data lapangan yang akan diambil berkenaan dengan implementasi Kurikulum Boarding School dalam proses pembelajaran Biologi.

Sedangkan untuk metode evaluasi yang digunakan adalah kualitatif. Menurut Hasan (1988 : 128) bahwa ciri khas dari metode evaluasi kualitatif ini

(26)

82

adalah fokus perhatian utamanya ada pada proses pelaksanaan kurikulum. Pendapat lain diungkapkan oleh Nasution (1988 : 5) mendefinisikan tentang penelitian kualitatif yaitu pada hakekatnya mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus turun ke lapangan dan berada di sana dalam waktu yang relatip lama.

Mengacu pada metode yang digunakan, maka peneliti ingin mengetahui ruang lingkup Kurikulum Boarding School . Lebih dalam lagi penelitian ini akan mengkaji pemahaman guru tentang Kurikulum Boarding School yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran Biologi dari mulai perencanaan, pelaksanaan, sampai kepada penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik. Di samping itu pula untuk mengetahui pendekatan dan metode yang diterapkan dalam mengimplementasikan Kurikulum Boarding School tersebut.

Untuk memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih rinci, Ibrahim dan Sudjana (2001 : 197 - 200) mengemukakan ciri – ciri pokok penelitian kualitatif:

1. Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung.

Situasi pendidikan, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagaimana adanya (alami) tanpa dilakukan perubahan dan intervensi oleh peneliti. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam situasi / lingkungan alamiah seperti interaksi antar siswa, siswa – guru, siswa / guru – lingkungan, merupakan kajian utama penelitian kualitatif.

(27)

83

Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, cuplikan tertulis dari dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk dan bilangan statistik. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi melalui analisis komparasi, sepanjang tidak menghilangkan data aslinya.

3. Tekanan penelitian ada pada proses, bukan pada hasil.

Berbagai pertanyaan seperti: Apa, mengapa, dan bagaimana - akan mengungkap suatu proses - bukan hasil dari suatu kegiatan. Apa yang ia lakukan, mengapa hal itu dilakukan, dan bagaimana cara melakukannya, memerlukan pemaparan suatu proses mengenai suatu fenomena tidak bisa dilakukan dengan ukuran frekuensi atau perhitungan enumirasi.

4. Penelitiannya bersifat induktif.

Penelitian kualitatif dimulai dari lapangan, yakni fakta empiris atau induktif. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan – kesimpulan, serta melaporkannya. Laporan dan catatan yang telah dibuat terus disempurnakan berdasarkan temuan – temuan berikutnya.

5. Mengutamakan makna.

(28)

84

Generalisasi tidak dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam konteks ruang, waktu, dan situasi tertentu. Realitas berdimensi jamak, berubah, dan saling berinteraksi, sehingga peneliti dituntut waktu yang relatif lama di lapangan.

Dalam penelitian ini, metode evaluasi yang dipergunakan adalah model Stake atau disebut juga model evaluasi kualitatif. Karena model ini lebih sesuai

dengan kondisi pendidikan yang ada di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Stake dalam Hasan (1988 : 103) lebih lanjut menyatakan bahwa suatu evaluasi formal harus memberikan perhatian terhadap keadaan sebelum suatu kegiatan kelas berlangsung dan terhadap kegiatan kelas itu sendiri. Hasan (1988:128) mengatakan bahwa model ini memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dimana suatu inovasi kurikulum dilakukan. Keberhasilan suatu implementasi sebagai kurikulum dalam pengertian proses dapat dipahami dengan memberikan perhatian terhadap lingkungan tersebut.

B. Sumber Data.

Sumber data yang digunakan berasal dari Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam dengan sistem Boarding School (Sekolah Berasrama) yang didirikan dan dikelola oleh Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Multazam Husnul Khotimah yang berada di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat.

(29)

85

(1) Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang SMP

di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan; Maka sebagai Sumber Data adalah Pengurus Yayasan, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, dan Guru Biologi.

(2) Pemahaman guru Biologi kelas VIII (delapan) terhadap ruang

lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan;

Sumber Data dalam hal ini adalah tunggal, yaitu guru Biologi kelas VIII (delapan), yang ternyata 1 (satu) orang.

(3) Kemampuan guru Biologi kelas VIII (delapan) mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran pada jenjang SMP di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan;

Sebagai Sumber Data untuk penelitian adalah guru Biologi kelas VIII (delapan) berikut peserta didiknya sebanyak 3 (tiga) kelas, yaitu kelas VIII A, VIII B, dan VIII C.

C. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data.

Sebagai penelitian kualitatif, maka pengumpulan data dilakukan oleh

peneliti sendiri dengan cara terjun langsung ke lapangan agar dapat melihat, memahami, dan terlibat secara langsung berbagai aktivitas yang sesuai dengan konteksnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

(30)

86

Hasan (1988:131) menganggap bahwa pengamatan atau observasi merupakan teknik pengumpulan data yang sangat dianjurkan dalam model studi evaluatif. Posisi penting ini dikarenakan anggapan bahwa observasi adalah cara yang memungkinkan evaluator langsung berhubungan dengan evaluan. Dengan hubungan langsung tersebut evaluator dapat melihat langsung pula apa yang terjadi. Instrumen tidak lagi menjadi penghubung antara evaluator dengan evaluan.

Ada beberapa alasan mengapa dalam penelitian kualitatif memanfaatkan observasi atau pengamatan, seperti yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (1985) dalam Moleong (1989:4-5) :

1. Teknik pengamatan ini didasarkan atas pengalaman secara langsung yang merupakan alat ampuh untuk mengetes suatu kebenaran. Jika suatu data yang diperoleh kurang meyakinkan, biasanya peneliti ingin menanyakannya kepada subjek, tetapi karena ia hendak memperoleh keyakinan tentang keabsahan data tersebut, jalan yang ditempuhnya adalah mengamati sendiri yang berarti mengalami langsung peristiwanya.

2. Teknik pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya.

(31)

87

tersebut lahirlah istilah Catatan Lapangan, yang merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif.

4. Pengamatan merupakan alternatif terbaik untuk mengecek tingkat kepercayaan data. Dari pengalaman penelitian sering terjadi ada keraguan pada peneliti, karena kekhawatiran data yang diperolehnya menyimpang atau bias. Kemungkinan bias – yang dapat mengurangi tingkat kepercayaan - itu terjadi antara lain karena kurang dapat mengingat peristiwa atau hasil wawancara, adanya jarak antara peneliti dengan yang diwawancarai, atau karena reaksi peneliti yang emosional pada suatu saat, dan lain – lain.

5. Teknik pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi – situasi yang rumit atau kompleks. Situasi yang rumit mungkin terjadi jika peneliti ingin memperhatikan beberapa tingkah laku sekaligus. Jadi, pengamatan dapat menjadi salah satu alat yang ampuh untuk menghadapi situasi – situasi yang rumit dan untuk perilaku yang kompleks.

(32)

88

berbicara banyak dengan orang lain, sangat sibuk, mempunyai kepribadian menyimpang.

Seandainya dirangkum alasan secara metodologis digunakannya pengamatan atau observasi dalam Penelitian Kualitatif adalah:

1. Mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan, dan sebagainya;

2. Memungkinkan observer atau pengamat untuk melihat dunia sebagaimana yang dilihat oleh subjek penelitian, hidup pada saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek, menangkap kehidupan budaya dari segi pandangan dan anutan para subjek pada keadaan waktu itu;

3. Pengamatan atau observasi memberi peluang kepada peneliti untuk merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subjek sehingga memungkinkan pula sebagai peneliti menjadi sumber data ; dan

4. Pengamatan atau observasi memungkinkan pembentukan pengetahuan yang diketahui bersama, baik dari pihaknya maupun dari pihak subjek.

C.2. Wawancara.

(33)

89

harus menjelaskan apa tujuan kita mewawancarainya, keterangan apa yang diharapkan daripadanya. Penjelasan mengarahkan jalan pikiran sehingga ia tahu apa yang akan disampaikannya. Penjelasan itu sedapat – dapatnya dilakukan dalam bahasa dan istilah – istilah yang lazim digunakan dalam lingkungan adat istiadat dan atau budaya responden. Sering terjadi, responden menganjurkan / menginginkan agar kita sebagai pewawancara menggunakan ungkapan dan istilah yang biasa digunakannya dalam pergaulan sehari – hari.

Lebih lanjut Nasution (1988:74) menjelaskan mengenai tiga pendekatan yang harus dilakukan dalam melaksanakan wawancara, yaitu :

1. Dalam bentuk percakapan informal, yang mengandung unsur spontanitas, kesan santai, tanpa pola atau arah yang ditentukan sebelumnya.

2. Menggunakan lembaran berisi garis besar pokok – pokok, topik, atau masalah yang dijadikan pegangan dalam pembicaraan.

3. Menggunakan daftar pertanyaan yang lebih rinci, namun bersifat terbuka yang telah dipersiapkan lebih dahulu dan akan diajukan menurut urutan dan rumusan yang tercantum atau telah dibuat sebelumnya.

(34)

90

pelaksanaannya. Pertanyaan disampaikan secara lisan. Deretan pertanyaan diajukan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pelaksanaan wawancara menerapkan ketiga cara yang dianjurkan Nasution di atas, dengan harapan wawancara yang dilakukan selalu sesuai dengan karakter orang, situasi, dan kondisi yang akan diwawancarai, sehingga dapat memperoleh hasil wawancara yang maksimal sesuai tujuan penelitian. Dalam hal wawancara ini ingin diperoleh persepsi dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru Biologi, Pengurus Yayasan, serta perwakilan peserta didik dari tiga kelas yang diteliti mengenai :

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School yang diimplementasikan di SIT Al-Multazam Kabupaten Kuningan;

2. Pemahaman guru Biologi kelas VIII (delapan) terhadap Ruang Lingkup Kurikulum Boarding School pada jenjang SMP di SIT Al-Multazam Kabupaten Kuningan, yang antara lain meliputi :

a. Kendala dalam menyiapkan Perangkat Pembelajaran;

b. Perbedaan mata pelajaran Biologi di SMP IT Al-Multazam dengan di SMP Negeri / Diknas;

c. Kelebihan dan kekurangan Proses Pembelajaran Biologi di SMP IT Al-Multazam dibandingkan dengan di SMP Negeri / Diknas;

(35)

91

3. Kemampuan guru Biologi Kelas VIII mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran pada jenjang SMP di SIT

Al-Multazam Kabupaten Kuningan;

C. 3. Dokumentasi.

Untuk memperoleh dan mengumpulkan informasi sehingga didapatkan data yang maksimal, penelitian kualitatif memberi alternatif upaya ketiga setelah pengamatan dan wawancara – sebagai cara yang paling dominan - yaitu kajian terhadap dokumen / bahan tertulis, yang lazim disebut Dokumentasi. Dokumen yang dikaji berupa arsip, program kerja, atau benda – benda lain yang relevan dengan kebutuhan penelitian. Keistimewaan bahan tertulis ini antara lain bahwa bahan tersebut telah ada dan siap dimanfaatkan. Menggunakan bahan ini relatip tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu, kejelian, dan ketekunan untuk mengkajinya. Banyak yang dapat diperoleh atau diambil pengetahuan dari bahan – bahan itu apabila kita mampu dengan cermat, sehingga besar manfaatnya bagi penelitian yang sedang dilakukan.

Sumber dokumen yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah berupa dokumen dari Kurikulum Boarding School (dalam bentuk pustaka / buku, makalah, dan perangkat kurikulum), dokumen Perangkat Pembelajaran (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rencana / Skenario Pembelajaran), dokumen arsip guru, dokumen arsip Yayasan, dokumen siswa.

(36)

92

dalam dengan banyak melibatkan judgement. Dalam pelaksanaannya – sebagaimana salah satu ciri khas penelitian kualitatif – peneliti sekaligus berfungsi sebagai alat penelitian yang tentunya tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari unsur subjektivitas.

D. Teknik Analisis Data.

Analisa data dalam penelitian kualitatif telah dapat dilaksanakan manakala peneliti masih berada di lapangan. Bahkan analisis ini telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, hal ini dilakukan sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung sampai penulisan hasil penelitian ini. Menurut Nasution (1988:128) bahwa tidak ada satu cara tertentu yang dapat dijadikan pegangan bagi semua penelitian. Salah satu cara yang dapat dianjurkan adalah dengan mengikuti langkah – langkah seperti berikut ini:

D.1. Reduksi data.

(37)

93

kelas dan atau laboratorium. Aspek lainnya yaitu guru Biologi sebagai pelaksana kurikulum melalui Proses Pembelajaran dalam hal menjabarkan Perangkat Pembelajaran, menyusun Rencana / Skenario Pembelajaran, melaksanakan Proses Pembelajaran dengan merapkan berbagai Pendekatan dan Metode.

D.2. Display data.

Adalah langkah berikutnya setelah Reduksi Data. Dalam penelitian, aktivitas ini bertujuan untuk melihat gambaran keseluruhan atau bagian – bagian tertentu dari penelitian itu dan harus diupayakan membuat berbagai macam matriks, grafik, network, serta charts. Dengan demikian peneliti dapat menguasai

data dan tidak tenggelam dalam tumpukan detail.

D.3. Mengambil kesimpulan.

Kesimpuilan dalam penelitian, mula – mula sangat tentatif, kabur, diragukan, akan tetapi dengan bertambahnya data, maka kesimpulan itu lebih grounded. Jadi kesimpulan senantiasa harus diverivikasi selama penelitian

berlangsung.

E. Tahap Pelaksanaan Penelitian.

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

E.1. Tahap Persiapan.

Kegiatan tahap persiapan ini meliputi :

(38)

94

Langkah pertama yang dilakukan sebelum menyusun rancangan penelitian ini, terlebih dahulu diadakan survey awal lapangan dan studi literatur. Dengan studi literatur dan dokumen Kurikulum Boarding School yang meliputi Kurikulum 2004 / Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kurikulum dari Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Multazam Husnul Khotimah, maka diketemukan permasalahan dalam hal implementasi di lapangan. Hal ini didapatkan ketika peneliti mengadakan survey awal terhadap SMP IT Al-Multazam di Kabupaten Kuningan. Tempat ini dipilih dengan alasan sebagai salah satu Sekolah Islam yang menerapkan sistem Boarding School.

Dari hasil survey awal ini diperoleh gambaran bahwa : Kurikulum Boarding School masih perlu dikaji implementasinya dengan melihat

pemahaman dan kemampuan guru Biologi dalam melaksanakan Proses Pembelajaran serta kesiapan peserta didik dalam aktivitasnya; Masih kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia untuk menunjang Proses Pembelajaran Biologi, terutama menyangkut tempat, alat - bahan, serta media pembelajaran.

Tetapi dari sisi yang lain, lingkungan sekolah yang asri dengan hawa yang sejuk karena banyak pepohonan serta lokasinya di kaki gunung memberikan suasana nyaman dan kondusif untuk terselenggaranya pembelajaran yang baik, serta hubungan antara guru – peserta didik, serta antar warga sekolah yang terjalin begitu dekatnya, namun tetap suasana islami terjaga dengan indahnya.

(39)

95

2. Menyusun rancangan penelitian.

Berdasarkan hasil survey awal, maka disusunlah rancangan penelitian

dalam bentuk proposal untuk dapat diajukan dalam Seminar Proposal. Setelah melalui beberapa tahap diskusi di hadapan tim penguji, maka diperoleh banyak masukan yang sangat berharga untuk memantapkan garis – garis besar / hal – hal pokok dari penelitian yang akan dilaksanakan.

3. Menetapkan lokasi penelitian.

Dengan alasan utama lokasi penelitian relatip dekat dengan tempat

tinggal dan bekerja, lagi pula telah disetujui dalam forum Seminar Proposal, maka Sekolah Islam Terpadu (SIT) AL-Multazam di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat telah ditetapkan sebagai lokasi penelitian.

4. Mengurus perizinan.

Pelaksanaan penelitian ini berdasarkan Surat Permohonan untuk

mengadakan penelitian yang dikeluarkan Program Pascasarjana UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung tanggal 31 Oktober 2005 dengan nomor 2450/J33.7/PP.03.06/2005 yang ditujukan kepada Kepala SMP IT Al-Multazam Kabupaten Kuningan.

E.2. Tahap Pelaksanaan dan Pengujian penelitian.

(40)

96

(ditetapkan secara sembarang, namun masih berkaitan dengan penelitian ini). Peneliti membagi menjadi beberapa bagian dalam responden yaitu: Responden I adalah Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Responden II adalah guru Biologi, Responden III adalah pengurus yayasan, Responden IV adalah wakil peserta didik SMP kelas VIII masing – masing tiga orang dari tiga kelas (seluruh kelas yang diteliti). Adapun kodenya adalah sebagai berikut :

1. Responden I : A. KS dan B. WKS

Adapun Karakteristik responden dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.1

C. PY S1 Sarjana Hukum Juli 2002 Pengurus Yayasan

(41)

97

Berdasarkan data ini pula peneliti melakukan wawancara dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah serta beberapa siswa yang dapat dimintai tanggapan atau masukannya tentang mata pelajaran Biologi atau Implementasi Kurikulum Boarding School yang dilaksanakan dalam Proses Pembelajaran Biologi di kelas atau laboratorium.

Proses Pembelajaran sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman guru sebagai implementator kurikulum dalam kelas / laboratorium serta sebagai orang yang harus mengetahui, memahami, dan akhirnya mampu mengaplikasikan berbagai pendekatan dan metode serta menguasai pengetahuan tentang dunia pendidikan secara umum, khusunya menyangkut pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam yang pada saat peneliti melakukan penelitian belum menyelenggarakan pendidikan jenjang SMA baru memiliki guru berjumlah 24 orang (daftar nama guru terlampir) yang kesemuanya adalah guru tetap yayasan, artinya mereka harus tinggal dan berdomisili di lingkungan sekolah bersama para peserta didik. Dengan sistem seperti ini maka bimbingan dan pengawasan terhadap peserta didik akan sangat terjamin.

(42)

98

terwujudkan melalui pelatihan tentang Pendekatan dan Metode pembelajaran oleh para pakar pendidikan yang sengaja diundang dari perguruan tinggi yang berkompeten dalam dunia pendidikan seperti UPI, UNJ, dan UNY atau praktisi pendidikan yang sangat berpengalaman seperti dari Kantor Diknas Pusat, Propinsi, maupun Kabupaten, atau juga dari sekolah – sekolah sejenis lain yang telah lama berdiri dan berkembang untuk saling tukar menukar informasi. Juga melalui jalur formal, yaitu sebagian guru yang berlatar belakang non kependidikan diikutkan untuk menempuh Program Akta IV / Mengajar sebagai hasil kerja sama antara Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Multazam Husnul Khotimah dengan Program Akta IV / Mengajar Universitas Kuningan. Penambahan pengetahuan dan wawasan tentang kependidikan ini sangat penting untuk meningkatkan mutu guru dalam Proses Pembelajaran.

(43)

99

Walaupun pengalaman dalam Proses Pembelajaran belum banyak namun guru Biologi mampu menemukan suasana pembelajaran yang baik karena didukung oleh inovasi dan kreativitas yang tinggi sehingga membuat guru tidak hanya jalan di tempat yang berakibat peserta didik sulit mengerti apalagi memahami terhadap materi yang diberikan di kelas / laboratorium. Penguasaan teori – teori kependidikan pendekatan dan metode dalam pembelajaran juga ditentukan oleh semangat dan kemauan yang tinggi dalam Proses Pembelajaran. Variasi dalam penyampaian metode dan pendekatan harus betul – betul dikuasai oleh guru untuk dapat mencapai indikator dan kompetensi yang telah ditetapkan. Efektivitas pembelajaran tidak hanya diukur dari penguasaan materi semata tetapi juga memahami dan mampu memerapkan teknologi pembelajaran yang terus berkembang seiring dengan makin majunya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni di masyarakat.

(44)

100

Setelah informasi diperoleh, maka peneliti melakukan pengumpulan data lapangan. Pelaksanaannya meliputi 3 (tiga) tahap yaitu :

1. Tahap orientasi.

Pada tahap ini peneliti mengadakan pendekatan melalui silaturahmi terhadap Pimpinan Yayasan sambil menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan peneliti. Setelah pihak pimpinan Yayasan memahami dengan cara menerima sangat baik, baru keesokan harinya mengadakan wawancara pendahuluan dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah. Kegiatan ini bertujuan agar dalam melaksanakan penelitian dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diajukan. Di samping itu, peneliti berupaya mengadakan pendekatan personal dengan guru Biologi yang akan dijadikan responden.

2. Tahap eksplorasi.

Dalam tahap ini fokus penelitian akan lebih jelas sehingga dapat dikumpulkan data yang lebih terarah dan lebih spesifik. Tahap eksplorasi ini dilaksanakan dengan observasi di kelas, wawancara, dan studi dokumentasi dengan responden yang ditunjuk, yaitu :

(45)

101

dalam mengimplementasikan Proses Pembelajaran di kelas / laboratorium.

2. Wawancara dilaksanakan dengan guru Biologi SMP kelas VIII sebagi responden. Berkaitan dengan ini fokusnya adalah bagaiman guru memahami dan menjabarkan Kurikulum Boarding School sehingga mampu merencanakan dan menyusun Perangkat Pembelajaran (yang terdiri dari : Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rencana / Skenario Pembelajaran), sehingga mengimplementasikan Proses Pembelajaran di kelas / laboratorium.

3. Melaksanakan observasi untuk melihat secara langsung dan nyata berada di tengah – tengah peserta didik pada saat guru mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam Proses Pembelajaran Biologi di kelas / laboratorium. Dalam kegiatan ini yang menjadi fokusnya adalah tahap – tahap dari Proses Pembelajaran, yang meliputi kegiatan: A. Pendahuluan; B.

Kegiatan inti; dan C. Penutup.

4. Melakukan kajian dokumentasi terhadap Kurikulum Boarding School (berbagai dokumen tertulis menyangkut perangkat kurikulum yang saat ini diberlakukan oleh Diknas, beserta dokumen – dokumen sejenis dan Yayasan)

(46)

102

terlampir). Dalam pelaksanaan kegiatan ini peneliti melihat kesulitan dan hambatan yang dihadapi peserta didik sekaligus guru yang berhubungan dengan implementasi Proses Pembelajaran Biologi.

Tahap ini dilaksanakan mulai 1 Nopember 2005 sampai dengan Proses Pembelajaran berakhir (jadwal lapangan terlampir).

3. Tahap Member Check.

Tujuan dari Member Check ini adalah agar responden menge-check / memeriksa kebenaran laporan itu agar hasil penelitian lebih dapat dipercaya (Nasution, 1988 : 34). Hasil dari observasi, wawancara, dan kajian dokumentasi ini dideskripsikan dalam bentuk Laporan Lapangan yang hasilnya dikembalikan kepada responden untuk ditelaah dan mungkin pula direvisi (ditambah, dikurangi, dan dapat pula dibetulkan apabila ada kesalahan).

E.3. Analisis Data.

(47)

103

Tahap analisis data ini adalah mereduksi data (data mentah dianalisis), lalu dibuat narasi data sehingga dapat diinterpretasikan dan disusun dalam bentuk sebuah laporan awal. Langkah selanjutnya adalah mengadakan verifikasi atau penarikan kesimpulan penelitian.

(48)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Bab kelima ini akan mengemukakan Kesimpulan dengan berdasarkan pada Pembahasan Hasil Penelitian yang telah dikemukakan dalam Bab IV sebelumnya, baik yang bersifat umum maupun yang khusus. Atas dasar Kesimpulan tersebut, selanjutnya dikemukan Rekomendasi.

A. Kesimpulan.

Kesimpulan yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah :

1. Ruang lingkup Kurikulum Boarding School yang diimplementasikan di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al-Multazam Kabupaten Kuningan mencakup Perangkat Pembelajaran (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, dan Skenario / Rencana Pembelajaran) berdasarkan kurikulum yang sedang diberlakukan Departemen Pendidikan Nasional yaitu Kurikulum 2004 / Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dipadukan dengan Kurikulum Yayasan (berisi arahan dan petunjuk) yang secara rutin dan berkala disampaikan oleh pimpinan sekolah dan pengurus yayasan.

2. Pemahaman guru Biologi terhadap ruang lingkup Kurikulum Boarding School di SIT Al-Multazam Kabupaten Kuningan dimulai dari pengertian

(49)

146

dan perencanaan (penyusunan Perangkat Pembelajaran untuk satu tahun ajaran) sampai kepada pelaksanaan Proses Pembelajaran di kelas / laboratorium sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Namun yang perlu mendapat perhatian guru Biologi adalah bahwa Kurikulum Boarding School dibentuk oleh beberapa bagian yaitu : Kurikulum Inti (Core

Curriculum), Kurikulum Khusus (Special Curriculum), Kurikulum

Tambahan (complement curriculum), dan Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curriculum). Bermacam istilah kurikulum inilah yang masih belum dapat dipahami meskipun dalam pelaksanaan di kelas / laboratorium menunjukkan bahwa implementasi dari kurikulum tersebut dapat dijalankan dengan baik oleh guru. Disisi lain, kurikulum yang disusun yayasan – sebagai bagian dari Kurikulum Boarding School - masih belum berbentuk dokumen tertulis yang baku sehingga ketika guru Biologi menyusun perencanaan dan melaksanakan Proses Pembelajaran cenderung mencari sendiri referensi atau pendukung lainnya.

(50)

147

(51)

148

Biologi selalu bervariasi sehingga membuat peserta didik lebih dapat dengan mudah menerima materi tersebut. Pada Kegiatan Penutup digunakan oleh guru Biologi untuk mengevaluasi materi yang telah disampaikan melalui Kuis dalam bentuk pertanyaan tertulis yang berhubungan dengan materi saat itu. Apabila peserta didik masih memerlukan penjelasan ulang, maka guru Biologi akan menjelaskan kembali materi tersebut. Kuis yang diberikan oleh guru terlihat masih dalam aspek penguasaan pengetahuan saja, masih kurang dalam hal ketrampilan dan sikap. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek keterampilan dan sikap peserta didik dapat dinilai ketika Proses Pembelajaran berlangsung dalam kelas / laboratorium, atau guru Biologi sedang menerapkan strategi Moving Class. Dalam Kegiatan Penutup ini juga peserta didik diberi tugas atau latihan sebagai persiapan untuk menerima materi pertemuan berikutnya.Situasi dan kondisi kelas, dengan fasilitas yang ada, serta ditunjang oleh kebijaksanaan sekolah / yayasan dapat mendorong guru Biologi untuk selalu berinovasi dan mengembangkan kreatifitasnya dalam Proses Pembelajaran secara keseluruhan.

(52)

149

sehingga harus tetap menjaga stamina untuk dapat membimbing dan mengawasi peserta didik di luar Jam Pelajaran (karena guru juga tinggal di sekolah), sekaligus mengajar di kelas / laboratorium. Kondisi siswa juga membantu terlaksananya implementasi kurikulum Boarding School dalam kelas. Ketika peserta didik dalam kondisi yang baik, maka implementasi yang dilaksanakan oleh guru dapat terlaksana sesuai dengan rencana tetapi sebaliknya apabila kondisi kelas yang terkadang kurang kondusif untuk dapat menerima pembelajaran, maka guru akan cenderung menggunakan waktu yang relatif lama untuk memberikan nasehat atau motivasi kepada para peserta didik.

5. Kemampuan guru Biologi mengimplementasikan Kurikulum Boarding S'chool dalam Proses Pembelajaran masih perlu mendapat perhatian dari

(53)

150

ditingkatkan oleh guru adalah tentang manajemen kelas yang masih belum terlaksana dengan baik. Padahal manajemen kelas dibutuhkan juga dalam proses pembelajaran sehingga tujuan dan target yang direncanakan dapat tersampaikan dengan baik. Aspek lain yang masih perlu juga mendapat perhatian adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang masih belum mencukupi, sesuai dengan tuntutan kurikulum. Demikian pula menyangkut media atau alat peraga seharusnya dapat menunjang ketika guru Biologi melaksanakan Proses Pembelajaran sehingga dapat memenuhi kompetensi atau target sesuai harapan kurikulum.

B. R e k o m e n d a s i.

Berdasarkan kesimpulan di atas, berikut ini akan dikemukakan rekomendasi yang ditujukan kepada pihak guru, Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Multazam Husnul Khotimah, pengembang kurikulum, dan peneliti berikutnya.

B.1. G u r u.

(54)

151

2. Perencanaan pembelajaran agar dapat diimplementasikan secara maksimal sehingga ketika menyampaikan materi yang dilakukan di kelas / laboratorium lebih terarah dengan baik.

3. Selalu mengkaitkan materi pembelajaran dengan perkembangan psikologis peserta didik karena sekolah menggunakan sistem berasrama, sehingga mereka terhindar dari rasa jenuh berkepanjangan yang pada akhirnya ingin keluar / pindah sekolah.

4. Agar pengembangan materi pembelajaran tidak hanya terpaku pada aspek yang ada dalam buku pegangan atau kurikulum saja tetapi juga mengembangkan materi Biologi disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno!ogi.

5. Memaksimalkan penggunaan media atau alat bantu pembelajaran yang telah disediakan oleh sekolah dalam setiap Proses Pembelajaran Biologi di kelas / laboratorium.

B.2. Yayasan.

1. Memberikan pemahaman kepada guru dalam rangka sosialisasi tentang sistem Boarding School yang kurikulumnya berbeda dengan sekolah negeri / Diknas sehingga dalam membuat perencanaan pembelajaran lebih dapat diimplementasikan dengan baik oleh guru.

(55)

152

kemampuan mengimplementasikan Kurikulum Boarding School dalam kelas / laboratorium

3. Memberikan pelatihan tentang pembuatan rencana pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku bagi guru, dan melakukan evaluasi yang lebih intensif sehingga membuat guru lebih disiplin dalam merencanakan pembelajaran.

4. Mengadakan supervisi kelas untuk melihat tercapainya tujuan / kompetensi pembelajaran, dan bukan memberikan penilaian hanya berdasarkan pada hasil yang telah dicapai oleh peserta didik saja tetapi juga mengetahui tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dalam kelas / laboratorium, sehingga apabila ada kesulitan yang dialami oleh guru dapat segera terpecahkan.

5. Membentuk tim ahli untuk mengkaji lebih dalam tentang Kurikulum Boarding School yang tengah diimplementasikan sehingga sekolah secara

keseluruhan tidak mendapat beban untuk ikut mengkaji kurikulum tersebut tetapi sekolah lebih memfokuskan diri pada pengembangan dan peningkatan kualitas lulusan.

6. Mengembangkan dokumen Kurikulum Yayasan untuk dapat dijadikan pedoman sekolah (pimpinan dan para guru) dalam mengimplementasikan Kurikulum Boarding School di kelas / laboratorium.

(56)

153

ujung tombak dari suksesnya pendidikan sehingga yayasan atau sekolah mempunyai arah yang jelas dalam menjalankan arah pendidikan.

8. Membuat berbagai program yang dapat meningkatkan kesejahteraan / taraf hidup seluruh komponen sekolah sehingga konsentrasi dalam mengemban visi dan misi pendidikan dapat tercapai sesuai dengan harapan.

9. Memberikan kesempatan kepada pimpinan sekolah dan guru untuk dapat membuka diri dengan mengikuti Kelompok Kerja Guru (KKG) atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dapat juga mengadakan kerjasama dengan instansi lain untuk dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan guru.

B.3. Pengembang Kurikulum.

(57)

154

B.4. Peneliti Berikutnya.

Bagi para ahli / pemerhati kurikulum yang penulis harapkan adanya penelitian lanjutan yang berkaitan dengan masalah-masalah yang belum muncul dalam implementasi atau studi evaluatif dari Kurikulum Boarding School ini yang tidak hanya pada jenjang SMP / SLTP saja tetapi juga dari

tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Gambar

Gambar  2.1.     :   Pengertian Kurikulum Boarding School . . . . . . . . . . . . . .
Tabel  3.1 Karakteristik  Responden . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Tabel  3.1 Karakteristik  Responden

Referensi

Dokumen terkait

Melihat pemahaman wajib pajak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dan mengingat juga bahwa penerapan peraturan pajak hotel atas rumah kos

Dengan penggunaan bit rate dan spectrum yang besar, IMT-2000 akan dapat memberikan layanan yang jauh lebih banyak daripada sistem komunikasi bergerak

Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara kepada Kepala Bidang Pemungutan dan Penagihan Dinas Pendapatan Kabupaten Bojonegoro dalam pencapaian realisasi

Prinsip tersebut pada hakekatnya adalah perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, sehingga dalam melaksanakan pembangunan lingkungan tetap terjaga dengan baik.. Kata

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan GCG yang diukur berdasarkan skor CGPI serta kepemilikan saham institusional secara simultan mempunyai pengaruh terhadap

Rancang Bangun Sistem Alarm Pada Pintu Air Sebagai Sumber Informasi Peringatan Dini Dari Peluang Terjadinya Bahaya Banjir ini adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk

Alat pengundi elektronik memiliki keluaran yang terdiri dari tujuh buah LED, LED tersebut terdiri dari enam buah LED berwarna merah dan satu buah LED berwarna hijau. LED yang

memahaminya, maka saya dengan sadar dan tanpa paksaan bersedia berpastisipasi dalam penelitian ini untuk diteliti oleh peneliti Dara Puspita sebagai mahasiswa FKG USU, dengan