Eco-Entrepreneurship Seminar & Call for Paper "Improving Performance by Improving Environment" 2012 Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang
P a g e | 190
ANALISIS PENGARUH SIKAP, NORMA SUBYEKTIF DAN EFIKASI DIRI TERHADAP INTENSI BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SYIAH KUALA (Studi Pada Mahasiswa Fakutas Ekonomi Universitas Syiah Kuala)
Manda Andika1 Iskandarsyah Madjid2
Abstract
Degree and diploma graduates is increasing and limited employment causes unemployment. One solution in solving the problem is with entrepreneurship. Entrepreneurship lot of emphasis on the younger generation of students, because students have the knowledge and ideas that continue to evolve and look for a different, creative and innovative. Therefore it is necessary to know the factors that influence entrepreneurship through the views of the intentions of Ajzen's theory of behavior.Entrepreneurship is the intention of a person's concern or interest to things entrepreneurial. If you already know which factors affect entrepreneurial intentions then one can be motivated to become entrepreneurs through these factors. Theory of Planned Behavior (TPB) Ajzen developed a theory that explains human behavior, which contain three things that consideration, will and behavior. The consideration consists of three dimensions, namely attitude, subjective norm and behavioral control (self efficacy). Three dimensions can be known dimensions which affect the factors that encourage entrepreneurship intentions. The research was done on the influence of factors analisisis attitudes, subjective norms and behavioral control (self efficacy). The purpose of this study to answer the question of whether the variable attitudes and subjective norms of behavior control (self efficacy) have an influence on entrepreneurial intentions. This study sampled 100 students of Faculty of Economics Unsyiah with purposive random sampling method. Methods of data collection by questionnaire is given directly to respondents. Analytical test equipment used in this study is to regression analysis through the program SPSS 16.0 For Windows. It’s founded that, simultaneously there was a significant correlation among attitudes, subjective norms and behavioral control (self efficacy) to entrepreneurial intentions students of Faculty of Economics Unsyiah (Sig F = 0,000 < α = 0,05).Partially there was a significant correlation among attitude (Sig t = 0,001 < α = 0,05) and self efficacy (Sig t = 0,005 < α = 0,05) to entrepreneurial intentions, but there was no significant correlation among subjective norm to entrepreneurial intentions students of Faculty of Economics Unsyiah (Sig t = 0,393 > α = 0,05).
Keywords : entrepreneurship,attitude, subjective norm, self efficacy and entrepreneurial intentions
1. PENDAHULUAN
Pengangguran dan kemiskinan merupakan masalah klasik yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Tingginya angka pengangguran merupakan fenomena yang terjadi di Indonesia. Banyaknya jumlah angkatan tenga kerja yang ingin memasuki dunia pekerjaan tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara Indonesia adalah terlampau banyaknya tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal, sehingga ketika pekerjaan di sektor formal tidak tumbuh dan berkembang orang tidak berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor swasta. Hal inilah yang
mengakibatkan tingginya jumlah pengangguran dan rendahnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
menunjukan untuk tingkat pendidikan diploma dan sarjana menyumbang angka pengangguran yang tinggi. Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada tabel 1.1 dibawah ini.
Tabel 1.1 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Salah satu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah pengangguran dan kemiskinan di atas adalah dengan memberdayakan masyarakat melalui program kewirausahaan (entrepreneurship). Menggalakkan budaya kewirausahaan dalam masyarakat akan mampu membantu membuka lapangan pekerjaan, sehingga dengan Menurut McClelland (1971), suatu negara akan maju jika terdapat wirausaha (entrepreneur) minimal sebanyak 2% dari total jumlah penduduk di negara tersebut. Entrepreneur di Indonesia masih bisa dapat dikatakan cukup rendah. Pada tahun 2010 lalu, dari 230 juta penduduk hanya 0.2% saja yang berwirausaha. Indonesia masih membutuhkan banyak stimulus untuk menambah jumlah pengusaha. Setidaknya butuh 4.8 juta pengusaha, agar indonesia bisa menjadi negara maju.
Pengaruh pendidikan kewirausahaan selama ini telah dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penting untuk menumbuhkan dan mengembangkan hasrat, jiwa dan perilaku berwirausaha di kalangan generasi muda (Kourilsky dan Walstad, 1998). Terkait dengan pengaruh pendidikan kewirausahaan tersebut, diperlukan adanya pemahaman tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha muda yang potensial sementara mereka berada di bangku pendidikan. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa keinginan berwirausaha para mahasiswa merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha-wirausaha masa depan (Kourilsky dan Walstad, 1998). Sikap, perilaku dan pengetahuan mereka tentang kewirausahaan akan membentuk
kecenderungan mereka untuk membuka usaha-usaha baru di masa mendatang.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala yang menekuni ilmu manajerial, teori dan praktek ilmu ekonomi khususnya kewirausahaan, diharapkan memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, sehingga hal ini akan mampu membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas. Dengan kondisi tersebut, maka perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mampu menyiapkan didikan untuk menjadi wirausaha yang unggul agar tidak menggantungkan kerja pada orang lain, tetapi diperlukan keberanian untuk membuka usaha sendiri atau berwirausaha. Untuk itu perguruan tinggi sebagai lembaga yang menjadi salah satu panutan masyarakat dapat mendorong budaya berwirausaha. Perguruan tinggi diharapkan juga mampu menciptakan wirausahawan-wirausahawan yang handal, sehingga mampu memberi dorongan minat bagi mahasiswa untuk berwirausaha. Mahasiswa sebagai komponen masyarakat yang terdidik, sebagai harapan masyarakat untuk dapat membuka lapangan pekerjaan dengan menumbuhkan minat berwirausaha.
Berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB)(Ajzen dalam Dharmmesta, 1998) bahwa sebuah perilaku dengan keterlibatan tinggi membutuhkan keyakinan dan evaluasi untuk menumbuhkan sikap, norma subyektif, dan kontrol keperilakuan dengan intensi sebagai mediator pengaruh berbagai faktor-faktor motivasional yang berdampak pada suatu perilaku. Keputusan berwirausaha merupakan perilaku
dengan keterlibatan tinggi (high involvement) karena dalam mengambil keputusan akan melibatkan faktor internal seperti kepribadian, persepsi, motivasi, pembelajaran (sikap), faktor eksternal seperti keluarga, teman, tetangga dan lain sebagainya (norma subyektif). Kemudian mengukur kontrol keperilakuan yang dirasakan (efikasi diri) yaitu suatu kondisi bahwa orang percaya tindakan itu mudah atau sulit untuk dilakukan dengan memahami berbagai risiko atau rintangan-rintangan yang ada apabila mengambil tindakan tersebut (Ajzen, 2008).
Menurut Assael (2001) sikap didefinisikan kecenderungan yang dipelajari untuk memberikan respon kepada obyek atau kelas obyek secara konsisten baik dalam rasa suka maupun tidak suka. Sedangkan menurut Mowen dan Minor (2002) sikap merupakan afeksi atau perasaan terhadap sebuah rangsangan. Berdasarkan dua definisi di atas sikap dapat disimpulkan sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk memberi respon atau menerima rangsangan terhadap obyek secara konsisten baik dalam rasa suka maupun tidak suka. Sikap berwirausaha yaitu kecenderungan untuk bereaksi secara afektif dalam menanggapi risiko yang akan dihadapi dalam suatu bisnis. Sikap berwirausaha diukur dengan skala sikap berwirausaha (Gadaam, 2008) dengan indikator tertarik dengan peluang usaha, berfikir kreatif dan inovatif, pandangan positif mengenai kegagalan usaha, memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab, dan suka menghadapi risiko dan tantangan.
Menurut Baron dan Byrne (2003), norma subyektif adalah persepsi individu tentang apakah orang lain akan mendukung atau tidak terwujudnya tindakan tersebut. Hogg dan Vaughan (2005) memberikan penjelasan bahwa norma subyektif adalah produk dari persepsi individu tentang beliefs yang dimiliki orang lain. Feldman (1995) menjelaskan bahwa norma subyektif adalah persepsi tentang tekanan sosial dalam melaksanakan perilaku tertentu. Norma subyektif yaitu keyakinan individu untuk mematuhi arahan atau anjuran orang di sekitarnya untuk turut dalam melakukan aktifitas berwirausaha. Normasubjektif diukur dengan skala subjective norm(Ramayah & Harun, 2005) dengan indikatorkeyakinan peran keluarga dalam memulai usaha, keyakinan dukungan temandalam usaha, keyakinan dukungan dari dosen, keyakinan dukungan dari pengusaha-pengusaha yang sukses, dankeyakinan dukungan dalam usaha dari orang yangdianggap penting.
Bandura (1977: 2) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan seseorang atas kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Atau dengan kata
lain, kondisi motivasi seseorang yang lebih didasarkan pada apa yang mereka percaya dari pada apa yang secara objektif benar. Persepsi pribadi seperti ini memegang peranan penting dalam pengembangan intensi seseorang. Efikasi diri yaitu kepercayaan (persepsi) individu mengenai kemampuan untuk membentuk suatu perilaku berwirausaha. Efikasi diri diukur dengan skala (Gadaam, 2008) dengan indikator kepercayaan diri akan kemampuan mengelola usaha, kepemimpinan sumber daya manusia, kematangan mental dalam usaha, dan merasa mampu memulai usaha.
Menurut Wijaya (2007) intensi adalah kesungguhan niat seseorang untuk melakukan perbuatan atau memunculkan suatu perilaku tertentu. Intensi kewirausahaan dapat diartikan sebagai proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembentukan suatu usaha (Katz dan Gartner, 1988). Sedangkan Menurut Yanto (1996: 23-24) intensi wirausaha adalah kemampuan untuk memberanikan diri dalam memenuhi kebutuhan hidup serta memecahkan permasalahan hidup, memajukan usaha atau menciptakan usaha baru dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Intensi wirausaha adalah gejala psikis untuk memusatkan perhatian dan berbuat sesuatu terhadap wirausaha itu dengan perasaan senang karena membawa manfaat bagi dirinya (Santoso,1993: 19). Intensi berwirausaha yaitu tendensi keinginan individu untuk melakukan tindakan wirausaha dengan menciptakan produk baru melalui peluang bisnis dan pengambilan risiko. Intensi berwirausaha diukur dengan skala entrepreneurial intention (Ramayah & Harun, 2005) dengan indikator memilih jalur usaha dari pada bekerja pada orang lain, memilih karir sebagai wirausahawan, membuat perencanaan untuk memulai usaha, meningkatkan status sosial (harga diri) sebagai wirausaha dan mendapatkan pendapatan yang lebih baik.
2. METODE PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini adalah menganalisis pengaruh sikap, norma subyektif dan efikasi diri terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.
Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah seluruh mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala yang berjumlah 3.193 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang mahasiswa yang diambil berdasarkan rumus Slovin. Dengan penentuan sampel menggunakan teknik purposive random sampling. Dengan kriteria sebagai
berikut :
1. Mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi Unsyiah semester genap 2010/2011.
2. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah yang telah mengikuti mata kuliah minimal satu semester. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa mahasiswa tersebut telah memilki suatu pandangan terhadap kegiatan dan pandangan terhadap ilmu ekonomi.
Definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Tabel 1 Variabel Operasional
No Variabel Variabel Definisi Indikator
Independen
1 Sikap (X1)
Kecenderungan untuk bereaksi secara afektif dalam menanggapi risiko yang akan
dihadapi di dalam bisnis (Gadaam,2008)
Tertarik dengan peluang usaha
Berfikir kreatif dan inovatif
Pandangan positif terhadap kegagalan
Memiliki jiwa kepemimpinan & tanggung jawab
Suka menghadapi risiko & tantangan
2 Norma Subjektif (X2)
Keyakinan individu untuk mematuhi arahan atau anjuran orang sekitarnya untuk turut
dalam aktivitas berwirausaha (Ramayah & Harun,2005)
Keyakinan dukungan dari peran keluarga
Keyakinan dukungan teman
Keyakinan dukungan dari dosen
Keyakinan dukungan dari pengusaha sukses
Keyakinan dukungan dari orang yang dianggap penting
3 Efikasi diri (X3)
Kepercayaan (persepsi) individu mengenai kemampuan untuk membentuk suatu
perilaku berwirausaha (Gadaam, 2008)
Kepercayaan diri mengelola usaha
Kepemimpinan sumber daya manusia
Kematangan mental dalam memulai usaha
Memiliki keyakinan yang teguh dalam memulai usaha
Dependen
4
Intensi Berwirausaha (Y)
Tendensi keinginan individu melakukan tindakan wirausaha dengan menciptakan produk baru melalui peluang bisnis dan
pengambilan risiko (Ramayah & Harun 2005)
Memilih berwirausaha daripada bekerja pada orang lain
Memilih berkarir sebagai wirausahawan
Melakukan perencanaan untuk memulai usaha
Meningkatkan status sosial dan harga diri sebagai wirausaha
Mendapatkan pendapatan yang lebih baik
3. ANALISIS DAN HASIL PENELITIAN
Untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen sikap (X1), norma subyektif (X2) dan efikasi diri (X3) terhadap variabel dependen intensi berwirausaha (Y) maka digunakan model analisis linier
berganda. Adapun pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara rinci dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini sebagai berikut:
Tabel 2
Estimasi Pengaruh Sikap, Norma Subyektif dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah
Nama Variabel B Standar
Error
thitung ttabel Sig.
Konstanta 1,23
5 0,427 2,890
1,9
84 0,005
Sikap 0,37
1 0,110 3,384
1,9
84 0,001
Norma Subyektif 0,07
9 0,092 0,858
1,9
84 0,393
Efikasi Diri 0,31
3 0,108 2,885
1,9
84 0,005
Koefisien korelasi (R) = 0,616 (a) Koefisien determinasi (R2) = 0,380 Adjusted (R2) = 0,361
Fhitung = 19,614 Ftabel = 2,699 Sig. F = 0,000 (a)
a. Variabel prediktor: sikap, norma subyektif dan efikasi diri
b. Variabel dependen: Intensi Berwirausaha
Berdasarkan hasil uji statistik regresi linier berganda diperoleh dengan pengolahan data SPSS versi 16.0 yang terlihat pada tabel diatas, maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 +e
Y = 1,235 + 0,371 x1 + 0,079 x2 + 0,313 x3 + e
Dari ketiga nilai koefisien pada variabel-variabel independen di atas diperoleh variabel sikap memiliki nilai koefisien terbesar dengan nilai koefisien 0,371, sedangkan nilai koefisien terkecil diperoleh oleh variabel norma subyektif dengan 0,079. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh bahwa variabel sikap merupakan faktor yang paling dominan yang mempengaruhi intensi berwirausaha, sedangkan variabel norma subyektif memiliki pengaruh terkecil dibandingkan variabel independen lainnya.
Hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 3 di
Berdasarkan tabel 3 diatas Derajat keeratan hubungan antara ketiga variabel independen (sikap, norma subyektif dan efikasi diri) dengan intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah termasuk kategori kuat, ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,616. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,380 yang menandakan bahwa sebesar 38 % intensi berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah dipengaruhi / dijelaskan oleh variabel-variabel sikap, norma sbyektif dan efikasi diri sedangkan sisanya sebesar 62% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak teramati.
4. KESIMPULAN
Dari hasil analisis data di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Variabel sikap, norma subyektif dan efikasi diri secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah dengan nilai Fhitung sebesar 19,614 yang lebih besar dari Ftabel pada tingkat signifikansi α = 5% sebesar 2,699 dengan tingkat signifikansi 0,000.
2. Variabel sikap dan efikasi diri secara parsial berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi
Unsyiah, sedangkan variabel norma subyektif secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah. Dalam penelitian ini sikap memiliki nilai thitung 3,384 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001, variabel efikasi diri memiliki nilai thitung 2,885 dengan tingkat signifikansi 0,005, dan variabel norma subyektif memiliki thitung 0,858 dengan tingkat signifikansi 0,393.
3. Nilai koefisien determinasi pada nilai R2 = 0,380 atau 38,0%, hal ini berarti bahwa intensi berwirausaha yang dapat dijelaskan dengan persamaan regresi sebesar 38,0% dipengaruhi sikap, norma subyektif dan efikasi diri, sedangkan sisanya 62,0% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak teramati dalam penelitian ini, kemungkinan dipengaruhi oleh konteks pendidikan kewirausahaan dan pengalaman kerja.
4. Derajat keeratan hubungan antara ketiga variabel independen yaitu sikap (X1), norma subyektif (X2) dan efikasi diri (X3) dengan intensi berwirausaha (Y) termasuk kategori kuat, ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,616.
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, Icek (1991). The Theory of Planned Behavior. Journal ofOrganizational Behavior and Human Decision Processes, Vol. 50, 179 – 211.
Ajzen, I., 2008. Attitudes and Attitude Change. Psychology Press: WD Cranoeds
Assael, H., 2001, 6th ed, Consumer Behavior and Marketing Action, New York University: South Western College Publishing.
Bandura, A., 1977. Social Learning Theory, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall. Baron, R.A and Byrne, D.,Social Psychology, Understanding Human Interactions. 6th Edition.
Feldman, Robert S. 1995. Thinking Critically: A Psychoogy Student’s Guide. USA:
McGraw-Hill, Inc.
Gaddam, Soumya., 2008. Identifying the Relayionship Between Behavioral Motives and Entrepreneurial Intentions: An Empirical Study Based Participations of Business Management Students. The Icfaian Journal of Management Research. Vol.7,pp. 35-5.
Gujarati, Damodar (2003). Ekonometrika Dasar. Cetakan ke Empat, Alih Bahasa : Drs. Ak. Sumarno Zein, MBA, Erlangga, Jakarta Hogg, M. A., & Vaughan, G. M. (2003). Social
Psychology. British: Prentice Hall
Katz, J., dan W. Gartner, 1988. Properties of emerging organizations. Journal of Academy of Management Review. Vol. 13 (3) pp. 429-441. Kourilsky, M. L. dan W. B. Walstad, 1998.
Entrepreneurship and female youth: knowledge, attitude, gender differences, and educational practices. Journal of Business Venturing. Vol. 13 (1) pp. 77-88.
McClelland, D., 1971. The Achievement Motive in Economic Growth, in: P. Kilby (ed.) Journal Entrepreneurship and Economic Development, New York The Free Press, pp. 109-123.
Mowen, John C & Minor, 2002, Consumer Behavior, Canada: McMillan.
Ramayah, T., & Harun, Z., 2005. Entrepreneurial Intention Among the Studen of Universiti Sains Malaysia (USM). International
Journalof Management and
Entrepreneurship, Vol. 1 pp. 8-20.
Santoso. 1993. Lingkungan Tempat Tinggal dalam Menentukan Minat Berwiraswasta FKIP UNS. (Laporan Penelitian). Surakarta: UNS. Wijaya, Tony, 2008. Kajian Model Empiris
Berwirausaha UKM DIY dan Jawa Tengah. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan.
(Studi Pada Mahasiswa Fakutas Ekonomi Universitas Syiah Kuala)
Eco-Entrepreneurship Seminar & Call for Paper "Improving Performance by Improving Environment" 2012
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang