PENGARUH SIKAP SKEPTISISME PROFESIONAL AUDITOR, BUKTI AUDIT KOMPETEN DAN TEKANAN WAKTU TERHADAP PENDETEKSIAN KECURANGAN PADA INSPEKTORAT ACEH

Teks penuh

(1)

20 - Volume 4, No. 1, Februari 2015

PENGARUH SIKAP SKEPTISISME PROFESIONAL

AUDITOR, BUKTI AUDIT KOMPETEN DAN TEKANAN

WAKTU TERHADAP PENDETEKSIAN KECURANGAN

PADA INSPEKTORAT ACEH

1)Cutria Umri, 2)Islahuddin, 3)Nadirsyah

1)Magister Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

2,3)Prodi Magister Akuntansi Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh 23111, Indonesia

Cutria1907@yahoo.com

Abstract: This study was aimed at examining the effect of the auditor's attitude of professional skepticism, competent audit evidences and time pressures toward fraud detection. The population of this study was all auditors at Provincial Inspectorate of Aceh totaling 55 auditors. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that auditor's attitude of professional skepticism, competent audit evidences and time pressures influence simultaneously or partially on the detection of fraud at Provincial Inspectorate of Aceh.

Keywords: professional skepticism, competent audit evidences, time pressures and fraud detection.

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu audit terhadap pendeteksian kecurangan . Populasi dalam penelitian ini adalah semua auditor pada Inspektorat Aceh yang berjumlah 55 auditor. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu berpengaruh secara simultan ataupun secara parsial terhadap pendeteksian kecurangan pada Inspektorat Aceh.

Kata kunci: Skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten, tekanan waktu, pendeteksian kecurangan.

PENDAHULUAN

Maraknya tuntutan reformasi birokrasi dan transparansi oleh masyarakat terhadap pengelolaan keuangan pemerintah Aceh menyebabkan seringnya suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengeluarkan statement dugaan korupsi di lingkungan

Pemerintahan. Sebagai contoh, baru-baru ini, LSM Gerak Aceh telah mensinyalir dana hibah dan bantuan sosial Pemerintah Aceh dalam APBD 2013 sebesar Rp.354 miliar yang terindikasi korupsi, namun ternyata menurut Kepala Inspektorat Aceh, Syahrul Badaruddin, data (bukti) yang digunakan Gerak berbeda dengan data yang ada pada pihak Inspektorat (Anonymous, 2014).

(2)

21 - Volume 4, No. 1, Februari 2015 Sebagai auditor internal Pemerintahan Aceh, Inspektorat Aceh harus tanggap dan kritis untuk mencegah dan menangani segala bentuk kemungkinan dan kecurangan yang terjadi dilingkungan Pemerintahan Aceh. Kinerja Inspektorat Aceh menjadi perhatian masyarakat. Oleh karena itu, auditor Inspektorat Aceh harus memiliki kemampuan untuk membasmi segala bentuk tindakan kecurangan pada Pemerintahan Aceh sehingga dapat mewujudkan harapan masyarakat untuk menciptakan good governance. Selain itu, sebagai pengawas daerah, Inspektorat Aceh juga diharapkan mampu membuktikan ada tidaknya dugaan korupsi/kecurangan tersebut.

Pada hakekatnya, kecurangan dilakukan secara tersembunyi sehingga tidak dapat dipastikan apakah kecurangan benar-benar terjadi atau tidak. Untuk mendapatkan bukti bahwa kecurangan telah terjadi, seorang auditor harus mampu mendeteksinya, dan membuktikan bahwa kecurangan benar - benar telah terjadi. Oleh karena itu, seorang auditor tidak boleh sepenuhnya mempercayai auditan. Sikap ini diperlukan agar auditor tidak tertipu oleh para auditan yang sangat lihai dan cerdas dalam melakukan kecurangan. Sikap ketidakpercayaan tersebut dikenal dengan istilah skeptisisme.

Skeptisisme menjadi sebuah sikap yang penting bagi auditor agar dapat mendeteksi kecurangan, karena dengan memiliki sikap skeptis, seorang auditor bisa memutuskan atau menentukan sejauh mana tingkat keakuratan dan kebenaran atas bukti (IAI, 2001).

Saat mengidentifikasi bukti audit, auditor harus mempertimbangkan kompetensi data yang akan dijadikan bukti audit, sehingga bukti-bukti yang kompeten tersebut mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksaan terkait dengan pendeteksian kecurangan (SPKN BPK, 2007; Karyono, 2013:132, Nadirsyah dkk, 2011).

Disamping kedua hal diatas, audit/ pendeteksian kecurangan dipengaruhi oleh tekanan/ jangka waktu (BPKP, 2009; McNamara and Gregory, 2008). Hal ini berarti, apabila kurangnya tekanan waktu dalam proses audit, kesempatan untuk memperoleh bukti – bukti kompeten yang cukup juga akan lebih besar, sehingga semakin besar juga kemungkinan suatu kecurangan akan dapat terdeteksi. Dengan demikian, pendeteksian kecurangan dipengaruhi oleh sikap skeptisisme auditor, bukti audit kompeten serta tekanan waktu.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh sikap skeptisisme professional auditor, bukti audit kompeten tekanan waktu audit terhadap pendeteksian kecurangan pada Inspektorat Aceh.

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Pendeteksian Kecurangan

(3)

Volume 4, No. 1, Februari 2015 - 22 tidak jujur yang merugikan orang lain

(Karyono, 2013:3; Koroy, 2008).

Pendeteksian kecurangan adalah upaya untuk mendapatkan indikasi awal yang cukup mengenai tindak kecurangan, sekaligus mempersempit ruang gerak para pelaku kecurangan (yaitu ketika pelaku menyadari prakteknya telah diketahui, maka sudah terlambat untuk berkelit) (Kumaat, 2011:156).

Oleh karena itu, Auditor harus waspada pada kemungkinan adanya situasi atau peristiwa yang merupakan indikasi kecurangan. Mereka harus menerapkan prosedur pemeriksaan tambahan untuk memastikan apakah kecurangan telah terjadi dengan cara merancang pemeriksaan yang bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam mendeteksi kecurangan

Sedangkan, langkah – langkah dalam mendeteksi kecurangan yaitu dengan melakukan pengujian pengendalian intern, dengan audit keuangan atau audit operasional, pengumpulan data intelijen dengan teknik elisitasi terhadap gaya hidup dan kebiasaan pribadi, penggunaan prinsip pengecualian dalam pengendalian dan prosedur, melakukan kaji ulang terhadap penyimpangan dalam kinerja operasi, melakukan pendekatan reaktif (Karyono, 2013:92).

Sikap Skeptisisme Profesional Auditor

Pengertian skeptisisme menurut AICPA (2002:230.70) adalah sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti

audit. Seorang auditor yang skeptis tidak menerima begitu saja penjelasan dari auditan, tapi akan mengajukan pertanyaan untuk memperoleh alasan, bukti dan konfirmasi mengenai objek yang dipermasalahkan (Novianty, 2007; Karyono, 2013:164-174; BPKP, 2009).

Penelitian Beasley (2001) membuktikan bahwa kegagalan auditor dalam mendeteksi kecurangan disebabkan oleh rendahnya skeptisisme dalam melakukan audit.

Bukti Audit Kompeten

Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lainnya yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya (Mulyadi 2002:74). Bukti audit haruslah yang kompeten. Bukti audit yang kompeten harus sah dan relevan. Keabsahan sangat tergantung atas keadaan yang berkaitan dengan pemerolehan bukti tersebut

(IAI, 2001:326.1).

Menurut Arens et al. (2003:151) terdapat enam karakteristik bukti audit kompeten yaitu: relevansi, independensi penyedia data, efektifitas pengendalian intern, pemahaman langsung yang diperoleh auditor, kualifikasi orang yang menyediakan informasi, tingkat obyektifitas.

(4)

23 - Volume 4, No. 1, Februari 2015 Tekanan Waktu

Tekanan waktu menuntut agar auditor melakukan efisiensi terhadap waktu terbatas yang telah disusun dengan sangat ketat dan kaku agar tercapainya hasil audit yang optimal (Sososutikno, 2003; BPKP, 2009). Tekanan waktu merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja seorang, apalagi dalam melakukan audit, mutu, waktu dan biaya merupakan hal yang tidak dipisahkan untuk mengungkap sebuah kecurangan. Mutu hasil audit senantiasa dipengaruhi oleh waktu dan biaya yang digunakan dalam pelaksanaan audit. Penggunaan waktu untuk pelaksaan audit harus direncanakan dengan baik (BPKP, 2009; Ahituv dan Igbaria, 1998). Apabila alokasi waktu yang diberikan terlalu sempit, maka dapat menyebabkan perilaku yang kontraproduktif, dikarenakan adanya tugas-tugas yang diabaikan maka jangka waktu audit harus disesuaikan dengan kebutuhan, jika diperlukan perpanjangan waktu, maka harus dibuat Surat Tugas perpanjangan waktu audit yang tentu harus didukung alasan yang tepat (BPKP, 2009; Prasita dan Hadi, 2007). Pernyataan ini diperkuat oleh pembuktian Waggoner dan Cashell (1991) yang menyatakan bahwa semakin sedikit waktu yang disediakan maka semakin besar transaksi yang tidak diuji oleh auditor.

Fungsi dan Kewenangan Inspektorat

Bastian (2007 : 35) menjabarkan tugas yang dilakukan Inspektorat yaitu: melakukan tinjauan terhadap sistem pengendalian intern

dan sitem akuntansi pemerintahan daerah, memeriksa dan menyempurnakan laporan keuangan daerah yang disusun oleh bagian keuangan pemerintah daerah serta membantu kepala daerah dalam menentukan kewajaran laporan keuangan yang disusunnya. Sedangkan fungsi Inspektorat di dalam Qanun Pemerintah Aceh nomor 5 tahun 2007, salah satunya yaitu melakukan pengusutan atas dugaan adanya korupsi, kolusi dan nepotisme. Dari berbagai sumber mengenai tugas, fungsi dan wewenang Inspektorat, sangat jelas bahwa pada intinya Inspektorat memiliki hak dan wajib mendeteksi kecurangan entitas yang diperiksanya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada Inspektorat Aceh. Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu terhadap pendeteksian kecurangan. Penelitian ini bersifat kausal. Unit analisis penelitian ini adalah individu (auditor/APIP) yang bekerja pada Inspektorat Provinsi Aceh.

(5)

Volume 4, No. 1, Februari 2015 - 24 Metode analisis data yang digunakan

pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda (mutiple regression analysis) dengan persamaan sebagai berikut:

Y =α +β1X1 +β2X2 +β3X3 + ε

Dimana Y adalah Pendeteksian kecurangan, α adalah Konstanta, β1β2β3 adalah Koefisien regresi, X1 adalah Sikap Skeptisisme Profesional Auditor , X2 adalah Bukti Audit Kompeten, X3 adalah Tekanan Waktu, dan ε adalah Error.

HASIL PENELITIAN DAN

PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Dari 55 responden, peneliti mengelompokkan kedalam 4 karakter yaitu jenis kelamin, umur, pendidikan terakhir dan masa kerja. Responden berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 37 orang (67,3%) adalah pria dan 18 orang (32,7%) adalah wanita. Responden yang berusia 30-34 tahun sebanyak 4 orang (7,3%), usia 35-39 tahun sebanyak 9 orang (16,4%), dan usia diatas 39 tahun sebanyak 42 orang (76,4%). Berdasarkan pendidikan terakhir, yang memiliki pendidikan tingkat SLTA sebanyak 1 orang (1,8%), tingkat sarjana sebanyak 32 orang (58,2%), dan tingkat pasca sarjana sebanyak 22 orang (40,0%). Sedangkan responden yang memiliki masa kerja selama 1-5 tahun sebanyak 3 orang (5,5%), 6-10 tahun sebanyak 22 orang (40%) dan diatas 10 tahun sebanyak 30 orang (54,5%).

Hasil Pengujian Validitas dan Reabilitas

Pengujian

validitas

data

dalam

penelitian ini dilakukan secara statistik,

yaitu dengan menggunakan uji

pearson

correlation

. Selain dilihat dari tingkat

signifikan, output perhitungan menyatakan bahwa seluruh pernyataan dinyatakan valid apabila masing-masing pernyataan memiliki nilai koefisien korelasi di atas nilai kritis korelasi product moment. Nilai kritis 5% (N=55) adalah sebesar 0,2656.

Sedangkan untuk mengetahui realibilitas suatu variabel dilakukan uji statistik dengan melihat nilai cronbach alpha. Jika nilai cronbach alpha > 0,60 maka pernyataan yang

digunakan untuk mengukur variabel tersebut adalah reliabel. Hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini menghasilkan nilai cronbach alpha dari masing-masing variabel > 0.60, sehingga seluruh variabel yang digunakan dinyatakan reliabel.

Hasil Pengujian Hipotesis

Hasil pengujian hipotesis menghasilkan suatu hasil regresi dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1.

(6)

25 - Volume 4, No. 1, Februari 2015 Berdasarkan tabel 1, diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

Y = 0,914 + 0,385 X1 + 0,507 X2+

(-0,125) X3 + ε

Dari persamaan regresi diatas diperoleh nilai konstanta sebesar 0,914 yang bermakna bahwa jika sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu dianggap konstan, maka besarnya nilai yang diperoleh dari variabel pendeteksian kecurangan adalah sebesar 0,914 pada satuan skala ordinal. Koefisien korelasi (R) sebesar 0,686 menunjukkan bahwa sikap skeptisisme

professional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu memiliki hubungan (korelasi) terhadap pendeteksian kecurangan sebesar 68,6%. Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,470 bermakna bahwa pendeteksian kecurangan dipengaruhi oleh sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu sebesar 47%. Sedangkan sebesar 53% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Tabel diatas menyatakan juga bahwa koefisien regresi masing-masing variabel independen menunjukkan tidak sama dengan nol (β ≠ 0) yaitu β1 = 0,385, β2 = 0,507, β3 = (- 0,125). Hal ini menunjukkan hipotesis diterima, artinya sikap skeptisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu berpengaruh terhadap pendeteksian kecurangan. Hal ini berarti bahwa pendeteksian kecurangan dapat ditingkatkan dengan adanya peningkatan skeptisisme profesional auditor, peningkatan bukti audit yang kompeten serta pengurangan tekanan waktu pada saat audit.

Secara parsial, sikap skeptisisme yang dimiliki oleh seorang auditor berpengaruh positif terhadap tingkat kecurangan yang terdeteksi. Hasil penelitian ini didukung oleh Adnyani et al. (2014) yang menunjukkan bahwa skeptisisme profesional auditor berpengaruh terhadap tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan dan kekeliruan laporan keuangan. Auditor yang memiliki sikap skeptisisme yang tinggi akan memiliki keinginan yang besar untuk mencari informasi Variabel Unstandardized

Coefficients

Std.

Error

Konstanta 0.914 0.771

Sikap Skeptisisme Profesional Auditor

0.385 0.161

Bukti Audit Kompeten

0.507 0.113

Tekanan Waktu -0.125 0.109 Koefisien Korelasi (R) = 0,686

Koefisien Determinasi (R2) = 0,470 Adjusted R Squere = 0,439

(7)

Volume 4, No. 1, Februari 2015 - 26 yang terkait gejala penipuan (Fullerton dan

Cindy, 2004).

Sedangkan bukti audit kompeten berpengaruh positif terhadap pendeteksian kecurangan pada auditor/APIP Inspektorat Aceh. Hal ini berarti bahwa perlunya bukti audit kompeten untuk mengetahui seberapa besar tingkat kecurangan yang terdeteksi karena semakin banyak bukti audit kompeten yang dikumpulkan maka semakin besar kemampuan auditor dalam mendeteksi suatu kecurangan. Penelitian ini didukung oleh Zakari dan Nassr (2014) yang menyatakan bahwa bukti audit berpengaruh pada kualitas laporan audit dan penelitian Morariu et al (2009) yang menegaskan bahwa pentingnya bukti audit dalam mengungkapkan opini audit.

Terakhir, ditemukan bahwa waktu berpengaruh negatif terhadap pendeteksian kecurangan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan waktu yang diberikan kepada auditor untuk melakukan suatu pemeriksaan, maka semakin berkurang kemampuan auditor dalam melakukan pendeteksian kecurangan.

Penelitian ini didukung oleh Prasita dan Hadi (2007) yang menyatakan tekanan waktu berpengaruh terhadap keberhasilan pendeteksian kecurangan. Jika tingginya tekanan waktu audit, maka auditor akan menyelesaikan prosedur audit pada batas akhir waktu (bahkan melewati batas waktu), hal ini akan mengakibatkan kualitas audit yang buruk yaitu tidak memenuhi persyaratan pelaporan (Glover et al., 2015).

KESIMPULAN

Setelah dilakukan pengujian dan analisis data dalam penelitian ini, secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap skpetisisme profesional auditor, bukti audit kompeten dan tekanan waktu secara simultan berpengaruh terhadap pendeteksian kecurangan pada Inspektorat Aceh. Tingginya sikap skpetisisme dimiliki auditor berakibat semakin besar kecurangan yang akan terdeteksi. Kemudian, semakin banyaknya bukti audit yang kompeten terkumpul, maka akan semakin besar keyakinan auditor mendeteksi kecurangan. Namun sebaliknya, jika tekanan waktu besar, maka akan semakin sedikit kecurangan yang terdeteksi oleh auditor.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Adnyani, Nyoman. Anantawikrama Tungga Atmadja & Nyoman Trisna Herawati. 2014. Pengaruh Skeptisisme Profesional Auditor, Independensi, dan Pengalaman Auditor Terhadap Tanggung Jawab Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan dan Kekeliruan Laporan Keuangan. e-Journal S1 AK Universitas Pendidikan GaneshaJurusan Akuntansi Program S1, Volume 2 No. 1 Tahun 2014: 1-11. Ahituv, Niv dan Igbaria Magid. 1998. The

Effect of Time Pressure and Completeness of Information on Decision Making. Journal Management Information Systems. Vol 15 No.2 :153 – 172.

(8)

27 - Volume 4, No. 1, Februari 2015 Arens, A. A., & Loebbecke, J.k. 2003.

Auditing: Pendekatan terpadu. (Alih bahasa Jusuf, A.A.). Jakarta : Penerbit Salemba Empat.

Bastian, Indra. 2007. Audit Sektor Publik. Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.

Beasley, M.S., Carcello, J.V., and Hermanson, D.R. Top 10 Audit Deficiencies. Journal of Accountancy (April 2001): 63-66.

BPKP. 2009. Modul Diklat Pembentukan Auditor Investigatif “Pra perencanaan dan Perencanaan Audit Investigatif”. Buku II. Ciawi.

2009. Modul Diklat Pembentukan Auditor Investigatif “Teknik Wawancara”. Buku V. Ciawi

Fullerton, Rosemary. Dan Cindy Durtschi. 2004. The Effect of Professional Skepticism on the Fraud Detection Skills of Internal Auditors. 11 November 2004: 39 – 47.

Glover, Steven M. James C. Hansen and Timothy A. Seidel. 2015. The Effect of Deadline Imposed Time Pressure on Audit Quality. Brigham Young University and Weber State University Goddard School of Business and Economics. February 6, 2015 page: 62- 76.

IAI. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. Cetakan Kedua. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Karyono. 2013. Forensic Fraud, Edisi 1. Yogyakarta: ANDI.

Koroy, Tri Ramaraya. 2008. Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Laporan Keuangan oleh Auditor Eksternal.Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 10, No. 1: 22-33.

Kumaat,Valery G. 2011. Internal Audit. Jakarta: Erlangga

McNamara, Shaun M and Gregory A.L. 2004. Time budget pressure and auditor

dysfunctional behaviour within an occupational stress model. Accountancy Business and the Public Interest, Vol. 7, No. 1, 2008: 1-43. diakses 7 April 2008. Mulyadi. 2002. Auditing. Buku Satu. Edisi 6.

Salemba Empat: Jakarta.

Morariu, Ana, Tanti Cercel et al. 2009. Audit Evidence – Top Argumen For Final Audit Opinion. Academy of Economic Studies Bucharest. Page: 501-507.

Nadirsyah. Mirna Indriani & Iskandar Usman. 2011. Pengalaman anggaran waktu Audit, Kompleksitas Dokumen Audit dan Pengalaman Auditor Terhadap Pertimbangan Audit Sampling Pada Badan Pemetiksaan Keuangan (BPK) Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh. Jurnal Telaah dan Riset Akuntansi, Vol. 4 No. 2.Juli 2011. Hal 176-186.

Noviyanti, Suzy. 2007. Skeptisisme Profesional Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. 5(1): 102-125.

Prasita, Andin dan Hadi Priyo, 2007.Pengaruh Kompleksitas Audit dan Tekanan Anggaran dan Waktu Terhadap Kualitas Audit Dengan Moderasi Pemahaman Terhadap System Informasi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, edisi September 2007: 1-24.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga.

Republik Indonesia, Peraturan Badan Pemeriksaan Keuangan UU No.1 Tahun 2007 Tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

(9)

Volume 4, No. 1, Februari 2015 - 28 Simposium Nasional Akuntansi VI.

Surabaya: 16-17 Oktober 2003.

Waggoner, Jeri B and Cashell James D. 1991.The Impact of Time Pressure on Auditors’ Performance.CPA Journal Jan-April. Ohio. Page. 27 – 32.

Figur

tabel 1,

tabel 1,

p.6

Referensi

Memperbarui...