Panduan Penilaian AMDAL atau UKL UPL unt (1)

69 

Teks penuh

(1)

Panduan Penilaian

AMDAL atau UKL/UPL untuk Kegiatan

Pembangunan Bandara

Disusun Oleh:

(2)

Panduan Penilaian

AMDAL atau UKL/UPL untuk Kegiatan

Pembangunan Bandara

Disusun Oleh:

Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan

Deputi MENLH Bidang Tata Lingkungan

(3)

PENGARAH

Hermien Roosita

Plh. Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan

EDITOR

Sri Wahyuni Herly Kabid Pengembangan

Asdep Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan

Ary Sudijanto

Kabid Penyelenggaraan

Asdep Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan

TIM PENYUSUN

Farid Mohammad Amanda Widyadwiana Rachma Venita Wahyu Puspita Sari Sena Pradipta

Jan Weber

Idris Maxdoni Kamil

Puji dan Syukur ke hadirat Allah Swt atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku panduan penilaian AMDAL atau UKL-UPL untuk kegiatan pembangunan bandar udara ini dapat tersusun dengan bekerjasama dengan GTZ. Buku panduan ini berisi tentang hal-hal yang yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian dokumen AMDAL atau UKL-UPL kegiatan pembangunan bandar udara. Penyusunan buku panduan ini ditujukan untuk mempermudah anggota Komisi Penilai AMDAL atau UKL-UPL dalam melakukan proses penilaian.

Diharapkan dengan hadirnya buku panduan ini, proses penilaian dokumen AMDAL atau UKL-UPL kegiatan pembangunan bandar udara menjadi lebih mudah dan terarah, sehingga kualitas dokumen AMDAL menjadi lebih baik.

Masukan dan saran guna penyempurnaan buku panduan ini sangat diharapkan demi terwujudnya pembangunan bandar udara yang benar-benar memperhatikan aspek lingkungan melalui dokumen AMDAL atau UKL-UPL yang baik.

Jakarta, November 2007

Plh. Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan

Ir. Hermien Roosita, MM APRESIASI

Ucapan terima kasih disampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu penerbitan buku ini, khususnya kepada Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ), Dr. I.B. Ardhana Putra, Dr. Ari Sandhyavitri, Djoko

Priyambodo (Ditjen Perhubungan Udara), Guritno (Ditjen Perhubungan Udara), Harni Sulistyowati, Widhi Handoyo, Esther Simon, Endah Sri Sudewi, Muhammad Askary, Estamina Silalahi, Rachma Venita, Mawan Wicaksono, Tarmidi, Tanuwijaya, Pemi Suthiathirtarani, Istiqomah, Ira Haryani, Ahmad Djunaedi, Darno, Sopiyan, Khamim Huda, Suryatini Verias, dan seluruh pihak yang turut membantu terselesaikannya buku panduan ini.

Cetakan Pertama – 2007

Disclaimer

Panduan ini adalah pedoman lepas dalam penilaian AMDAL atau UKL dan UPL kegiatan pembangunan bandar udara. Dampak yang potensial terjadi pada suatu rencana kegiatan sangat bergantung pada rencana kegiatan serta situasi, kondisi ekosistem, ekonomi, kesehatan masyarakat, dan sosial budaya setempat. PENERBIT

ASISTEN DEPUTI URUSAN PENGKAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN DEPUTI MENLH BIDANG TATA LINGKUNGAN

KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP Gedung A Lantai 6 Otorita Batam

(4)

KATA PENGANTAR ... 1

PENDAHULUAN... 1

DESKRIPSI KEGIATAN... 2

1. Identitas Pemrakarsa ... 2

2. Pelaksanaan Proyek... 2

3. Lokasi Kegiatan ... 2

4. Jenis Bandar Udara ... 3

5. Deskripsi Fasilitas Utama... 3

6. Deskripsi Fasilitas Penunjang ... 4

7. Utilitas Umum ... 4

8. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) ... 5

9. Batas-Batas Kawasan Kebisingan ... 6

10. Daerah Lingkungan Kerja Bandar Udara (DLKr)... 7

11. Sistem Tanggap Darurat / PK PPK (Pertolongan Kecelakaan Pesawat dan Pemadam Kebakaran) ... 7

KOMPONEN LINGKUNGAN YANG DIPERHATIKAN ... 9

1. Komponen Tata Ruang ... 9

A. Kebijakan Tata Ruang ... 9

B. Penggunaan Lahan ... 9

C. Kegiatan lain di sekitar ... 9

2. Komponen Fisik ... 9

A. Fisiografi ... 9

B. Iklim ... 9

C. Kualitas Udara dan Kebisingan ... 9

D. Kualitas Air dan Kuantitas Air ... 10

E. Geologi... 10

3. Komponen Biologi ... 10

A. Flora ... 10

B. Fauna... 10

4. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya... 10

POTENSI DAMPAK YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN UNTUK DIKAJI (SITUASIONAL TERGANTUNG KONDISI SETEMPAT DAN RENCANA KEGIATAN) ... 11

1. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan ... 11

2. Penurunan Kualitas Udara ... 11

3. Peningkatan Kebisingan... 12

4. Penurunan Kualitas Air ... 12

5. Peningkatan Air Larian (run off) dan Potensi Genangan ... 12

6. Gangguan terhadap Flora dan Fauna Endemik ... 12

7. Peningkatan Kepadatan Lalu Lintas ... 12

8. Perubahan Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk ... 12

9. Peningkatan Kesempatan Kerja dan Berusaha ... 12

10. Timbulnya Keresahan dan Persepsi Negatif Masyarakat ... 13

RENCANA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN 1. Perubahan Fungsi dan Tata Guna Lahan ... 14

2. Penurunan Kualitas Udara ... 14

3. Peningkatan Kebisingan... 14

4. Penurunan Kualitas Air ... 14

5. Peningkatan Air Larian (run off) dan Potensi Genangan ... 14

6. Gangguan terhadap Flora dan Fauna Endemik ... 15

7. Peningkatan Kepadatan Lalu Lintas ... 15

8. Perubahan Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk ... 15

9. Peningkatan Kesempatan Kerja dan Berusaha ... 16

10. Keresahan dan Persepsi Negatif Masyarakat ... 16

PENUTUP ... 17 LAMPIRAN

(5)
(6)

Transportasi udara merupakan moda transportasi yang cepat dan efisien. Kelancaran kegiatan transportasi tersebut didukung oleh ketersediaan bandar udara yang baik. Bandar udara (bandara), merupakan lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan bongkar muat kargo, serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan.

Sebelum tahun 1960-an rencana induk bandara dikembangkan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan penerbangan lokal. Namun sesudah tahun 1960-an rencana tersebut telah digabungkan ke dalam suatu rencana induk bandara yang tidak hanya memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan di suatu daerah, wilayah, propinsi atau negara. Agar usaha-usaha perencanaan bandara untuk masa depan berhasil dengan baik, usaha-usaha itu harus didasarkan kepada pedoman-pedoman yang dibuat berdasarkan pada rencana induk dan sistem bandara yang menyeluruh, baik berdasarkan peraturan FAA, ICAO ataupun Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan dan Kepmen Perhubungan No. KM 44 Tahun 2002 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional.

Secara umum, dampak yang paling signifikan dalam pembangunan dan pengoperasian bandar udara adalah perubahan tata guna lahan dan peningkatan kebisingan. Frekuensi kebisingan yang ditimbulkan akan semakin meningkat dengan semakin padatnya arus

lalu lintas penerbangan pada lokasi tersebut. Selain itu, perubahan tata guna lahan dan tata ruang dapat terjadi pada daerah disekitar bandara. Dengan terbangunnya suatu bandara, maka akan ada suatu wilayah yang disebut KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan), dimana pada lokasi tersebut pembatasan pembangunan seperti pembangunan gedung-gedung bertingkat, menara komunikasi, rumah sakit, dan lain sebagainya.

Mengingat potensi dampak lingkungan yang timbul dari kegiatan ini, maka sebagai upaya dalam melakukan pengendalian dampak lingkungan, baik pada saat pra konstruksi, konstruksi, dan operasi bandar udara tersebut, diperlukan perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam dokumen pengelolaan lingkungan (dokumen AMDAL maupun UKL/UPL).

Sebagai salah satu acuan dalam melakukan penilaian dokumen pengelolaan lingkungan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup menerbitkan Panduan Penilaian AMDAL atau UKL/UPL untuk kegiatan pembangunan bandar udara. Diharapkan, panduan ini akan dapat bermanfaat bagi anggota Komisi Penilai AMDAL dan instansi yang mengawasi pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL sebagai gambaran proses pembangunan bandar udara.

(7)

Dalam setiap pembangunan Bandar Udara, deskripsi kegiatan yang akan dilakukan harus jelas dan harus mencakup antara lain:

1. IDENTITAS PEMRAKARSA

Terdapat penjelasan tentang nama dan alamat pemrakarsa, struktur organisasi, penanggungjawab proyek dan bagian yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan lingkungan.

2. PELAKSANAAN PROYEK

Terdapat penjelasan tentang jadwal waktu pelaksanaan setiap tahapan proyek (prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi).

3. LOKASI KEGIATAN

Terdapat informasi spesifik mengenai lokasi kegiatan termasuk didalamnya:

ƒ Hasil studi rencana induk yang disetujui, sebagai pedoman rencana pengembangan bandara di masa yang akan datang;

ƒ Nama desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, luas lahan yang akan digunakan harus jelas dan sebaiknya dilengkapi dengan letak geografis (koordinat);

ƒ Luas area yang dibutuhkan mencakup deskripsi layout proyek serta mengacu pada

KKB (Kawasan Kebisingn Bandara) yang ditetapkan dengan SK MenHub, berupa area yang berada dalam kontur kebisingan WECPNL-70 dan 80;

ƒ Kesesuaian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (sesuai dengan RTRW Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota), harus disertakan Peraturan Daerah yang mengatur tata ruang tersebut;

ƒ Kondisi ekosistem setempat (rawa, tanah mineral, gambut, sawah, pesisir, DAS, Estuaria, dll).

ƒ Penjelasan umum tentang lokasi tersebut apakah membutuhkan kegiatan pemadatan atau pengurugan, datar atau berbukit (apakah akan dilakukan kegiatan cut and fill?), kemungkinan dilakukan reklamasi, dan kemungkinan relokasi penduduk.

Airport Authority

Airport Master Planning

Departemen Pemerintah

Government control authorities (bea ckai, imigrasi, keamanan,

militer, dll Operator, pengguna pesawat, organisasi yang

representatif, pabrik pembuat pesawat &

perlengkapannnya Planning Team Director

Planning Team Staff

Central & Local government land planning authority

Aviation Consultant Local & National

Transport Authority

Airport Management System

Gambar 1. Organisasi yang terkait dengan Master Plan (Sumber: Ari Sandhyavitri 2007) Airport Authority

Airport Master Planning

Departemen Pemerintah

Government control authorities (bea ckai, imigrasi, keamanan,

militer, dll Operator, pengguna pesawat, organisasi yang

representatif, pabrik pembuat pesawat &

perlengkapannnya Planning Team Director

Planning Team Staff

Central & Local government land planning authority

Aviation Consultant Local & National

Transport Authority

Airport Management System Airport Authority

Airport Master Planning

Departemen Pemerintah

Government control authorities (bea ckai, imigrasi, keamanan,

militer, dll Operator, pengguna pesawat, organisasi yang

representatif, pabrik pembuat pesawat &

perlengkapannnya Planning Team Director

Planning Team Staff

Central & Local government land planning authority

Aviation Consultant Local & National

Transport Authority

Airport Management System

(8)

4. JENIS BANDAR UDARA

Berdasarkan statusnya, kegiatan bandara dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

ƒ Bandar Udara Umum, merupakan bandar udara yang digunakan untuk melayani kepentingan umum;

ƒ Bandar Udara Khusus, merupakan bandar udara yang digunakan untuk melayani kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.

Kegiatan kebandarudaraan dapat diselenggarakan secara langsung oleh pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah, maupun melalui badan usaha kebandarudaraan atau perusahaan tertentu. Secara prinsip, pemrakarsa sebagai penanggungjawab kegiatan harus jelas, sehingga dalam pengelolaan dampak lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan kebandarudaraan akan dapat tertangani dengan baik.

Sesuai dengan fasilitas bandar udara, kegiatan operasional bandar udara, dan jenis pengendalian ruang udara di sekitar bandar udara (Tingkat Pelayanan Lalu lintar Udara), bandara diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:

Mengingat bandara sebagai pintu gerbang suatu negara, maka berdasarkan penggunaannya, bandara dibagi menjadi bandara terbuka yang melayani perjalanan internasional dan bandara tidak terbuka yang hanya melayani perjalanan domestik. Selain itu, berdasarkan fungsi simpul dalam jaringan

transportasi udara, bandara dibedakan menjadi Bandar Udara Penyebaran, dan Bandar Udara Bukan Penyebaran. Pembedaan bandar udara tersebut ditentukan berdasarkan penilaian atas kriteria sebagai berikut (PP 07/2001):

Status kota dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang meliputi:

1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN);

2. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW);

3. Pusat Kegiatan Lokal (PKL).

Status Penggunaan Bandar Udara yang meliputi :

1. Internasional;

2. Domestik.

Jumlah kepadatan penumpang yang meliputi:

1. Datang dan berangkat;

2. Transit;

3. Frekuensi penerbangan.

Rute penerbangan yang meliputi :

1. Rute penerbangan dalam negeri;

2. Rute penerbangan luar negeri;

3. Rute dalam negeri yang menjadi cakupannya

5. DESKRIPSI FASILITAS UTAMA

Fasilitas utama yang dimiliki oleh bandara adalah fasilitas sisi udara, fasilitas sisi darat, fasilitas navigasi penerbangan, fasilitas alat bantu pendaratan visual, dan fasilitas komunikasi penerbangan. Deskripsi fasilitas

9 m =x < 9 m

Jarak Sisi Terluar Roda Pesawat

(9)

utama tersebut harus menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

ƒ Fasilitas sisi udara, mencakup panjang, lebar, arah konfigurasi, dan bahan baku konstruksi untuk run way (landasan pacu), taxi way (penghubung landasan pacu), Apron (pelataran parkir pesawat udara), Run way stripe, Run way and safety area, dan Over run;

ƒ Fasilitas sisi darat, mencakup luas bangunan dan jenis bangunan bangunan terminal (terminal penumpang dan terminal kargo) dan kompleks bangunan operasi dan adminstrasi, prediksi jumlah penumpang tahunan, prediksi volume kargo tahunan, prediksi jumlah penumpang pada jam sibuk, jenis pesawat terbang terbesar, dan adanya kemungkinan melayani penerbangan haji;

ƒ Fasilitas navigasi penerbangan; ƒ Fasilitas alat bantu pendaratan visual; ƒ Fasilitas komunikasi penerbangan.

6. DESKRIPSI FASILITAS

PENUNJANG

Pada umumnya, bandar udara memiliki fasilitas penunjang seperti dibawah ini.

ƒ penyediaan hanggar pesawat udara; ƒ perbengkelan pesawat udara; ƒ pergudangan;

ƒ fasilitas boga pesawat udara;

ƒ fasilitas pelayanan teknis penanganan pesawat udara di darat termasuk fasilitas bahan bakar

ƒ fasilitas pelayanan penumpang dan bagasi; ƒ fasilitas penanganan kargo;

ƒ fasilitas penunjang lainnya.

Secara prinsip, setiap pembangunan fasilitas penunjang tersebut harus memperhatikan luas area yang dibangun, air limbah yang ditimbulkan, potensi limbah domestik, dan ceceran limbah B3 (seperti minyak pelumas bekas dan bahan bakar minyak).

7. FASILITAS UMUM

ƒ Penyediaan Air Bersih dan

Jaringannya: terdapat penjelasan estimasi kebutuhan air bersih (liter/orang/hari dan jumlah total m3

/hari), sumber penyediaan air bersih yang digunakan (PDAM, sumur air dangkal, sumur air dalam, sungai atau sumber air tambahan lainnya), adakah fasilitas sumber air bersih cadangan, perlu penjabaran pula mengenai jaringan distribusi air bersih;

ƒ Penyediaan Listrik dan Jaringannya: terdapat penjelasan perincian sumber dan daya listrik yang digunakan (Apakah dari transmisi PLN atau terdapat sumber lain seperti generator), sistem jaringan distribusi listrik;

ƒ Jaringan Telekomunikasi: terdapat penjelasan jenis dan jumlah satuan sambungan telekomunikasi dan potensi pemanfaatan teknologi baru dalam sistem satelit dan nir-kable / internet;

ƒ Sistem Penyediaan Bahan Bakar Pesawat: terdapat penjelasan mengenai sistem yang digunakan dan kapasitas penyediaan bahan bakar. Jenis-jenis bahan bakar yang disediakan;

ƒ Jalan akses dan fasilitas transportasi umum: terdapat penjelasan tentang dimensi jalan akses ke bandara serta rencana jaringan transportasi umum menuju bandara;

(10)

ƒ Fasilitas penginapan/hotel (jika ada); ƒ Fasilitas penyediaan toko dan restoran (jika ada).

8. KAWASAN KESELAMATAN

OPERASI PENERBANGAN (KKOP)

Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) adalah tanah dan/atau perairan dan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan. Kawasan keselamatan operasi penerbangan ditentukan berdasarkan pada Undang-undang No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan, Keputusan Menteri Perhubungan No. 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum, dan No. 44 Tahun 2002, tentang Tatanan Kebandaraudaraan Nasional. Kawasan keselamatan operasi penerbangan disekitar bandar udara terdiri dari:

ƒ Kawasan pendekatan dan lepas landas: adalah suatu kawasan perpanjangan kedua ujung landasan, yang dibatasi oleh ukuran panjang dan lebar tertentu;

ƒ Kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan: adalah sebagian dari kawasan pendekatan yang berbatasan langsung dengan ujung-ujung landasan dan mempunyai ukuran tertentu, yang dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya kecelakaan;

ƒ Kawasan di bawah permukaan horisontal dalam: adalah bidang datar di atas dan di sekitar bandar udara yang dibatasi oleh ardius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan pesawat udara melakukan terbang rendah pada wakut akan mendarat atau setelah lepas landas;

ƒ Kawasan di bawah permukaan horisontal luar: adalah bidang datar di sekitar bandar

udara yang dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan keselamatan dan efisiensi operasi penerbangan antara lain pada waktu pesawat melakukan pendekatan untuk mendarat dan gerakan setelah tinggal landas atau gerakan dalam hal mengalami kegagalan dalam pendaratan;

ƒ Kawasan di bawah permukaan kerucut: adalah bidang dari suatu kerucut yang bagian bawahnya dibatasi oleh garis perpotongan dengan horisontal dalam dan bagian atasnya dibatasi oleh garis perpotongan dengan permukaan horisontal luar, masing-masing dengan radius dan ketinggian tertentu dihitung dari titik referensi yang ditentukan;

ƒ Kawasan dibawah permukaan transisi: adalah bidang dengan kemiringan tertentu sejajar dengan dan berjarak tertentu dari poros landasan, pada bagianbawah dibatasi oleh titik perpotongan dengan garis-garis datar yang ditarik tegak lurus pada poros landasan dan pada bagian atas dibatasi oleh garis perpotongan dengan permukaan horisontal dalam;

ƒ Permukaan utama: adalah permukaan yang garis tengahnya berhimpit dengan sumbu landasan yang membentang sampai panjang tertentu diluar setiap ujung landasan dan lebar tertentu, dengan ketinggian untuk setiap titik pada permukaan utama diperhitungkan sama dengan ketinggian titik terdekat pada sumbu landasan;

ƒ Kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi penerbangan: adalah kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi penerbangan di dalam dan/atau diluar daerah lingkungan kerja, yang penggunaanya harus memenuhi persyaratan tertentu guna menjamin kinerja/efisiensi alat bantu navigasi penerbangan dan keselamatan penerbangan;

(11)

permukaan garis sudut yang dibatasi oleh garis jarak dengan radius dan ketinggian tertentu dihitung dari titik referensi yang ditentukan pada masing-masing peralatan.

Batas kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) merupakan batas yang ditentukan berdasarkan atas batas ruang di sekitar bandar udara yang terbebas dari berbagai gangguan untuk menjamin keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara masyarakat sekitarnya. Secara umum, KKOP sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada yaitu kepadatan lalu lintas udara dan Obstacle Limitation Surface yang meliputi: kawasan pendekatan dan lepas landas, kawasan di bawah permukaan transisi, kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan, kawasan di bawah permukaan horisontal dalam, kawasan di bawah permukaan horisontal luar, kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi udara. Dalam dokumen AMDAL atau UKL-UPL kegiatan bandar udara harus disertakan peta KKOP.

9. BATAS-BATAS KAWASAN

KEBISINGAN

Kawasan kebisingan adalah kawasan tertentu disekitar bandar udara yang terpengaruh gelombang suara mesin pesawat udara dan yang dapat mengganggu lingkungan. Fungsi kawasan kebisingan bandar udara adalah untuk mengendalikan pemanfaatan tanah dan ruang udara disekitar bandar udara yang terkena dampak kebisingan akibat pengoperasian bandar udara.

Kawasan kebisingan bandar udara digambar berdasarkan tingkat kebisingan yang direkomendasikan oleh ICAO dengan indeks WECPNL. WECPNL (Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level) atau nilai ekivalen tingkat kebisingan yang dapat diterima terus menerus selama suatu rentang

waktu dengan pembobotan tertentu, adalah rating terhadap tingkat gangguan bising yang mungkin dialami oleh penduduk di sekitar bandar udara sebagai akibat dari frekuensi operasi pesawat udara pada siang dan malam hari.

Kawasan kebisingan diukur dan ditentukan dengan bertitik tolak pada rencana pengembangan bandar udara berdasarkan:

ƒ Prakiraan jenis pesawat udara; ƒ Frekuensi penerbangan; dan

ƒ Periode waktu operasi pesawat udara.

Pembuatan kawasan kebisingan di bandar udara meliputi inventarisasi data dan analisis data untuk menentukan kawasan kebisingan.

Data yang diperlukan untuk pembuatan kawasan kebisingan bandar udara adalah:

Data eksisting yang terdiri dari:

ƒ Data landas pacu yang antara lain panjang, lebar, elevasi, temperatur, orientasi landas pacu serta koordinat geografis ujung-ujung landas pacu;

ƒ Jadwal dan frekuensi penerbangan; ƒ Jenis pesawat udara dan jumlah masing-masing jenis pesawat yang beroperasi.

Prosedur operasi penerbangan

ƒ Prosedur kedatangan (Arrival Procedure); ƒ Prosedur keberangkatan (Departure Procedure).

Analisis data untuk menentukan kawasan kebisingan meliputi:

ƒ Dimensi landasan pacu sampai tahap akhir (ultimate) sesuai dengan rencana pengembangan bandar udara/rencana induk bandar udara;

(12)

landas pesawat yang dibagi dalam 3 (tiga) tenggang waktu tertentu siang, sore dan malam hari;

ƒ Perhitungan jumlah masing-masing jenis pesawat udara yang akan dilayani sampai tahap akhir (ultimate) sesuai rencana pengembangan bandar udara/rencana induk bandar udara;

ƒ Prakiraan frekuensi dari masing-masing jenis pesawat yang melakukan pendaratan maupun lepas landas dan penggunaan arah landasannya;

ƒ Prakiraan frekuensi dari masing-masing jenis pesawat yang melakukan pendaratan maupun lepas landas dan penggunaan arah landasan pacu beserta tenggang waktunya (siang, sore dan malam);

ƒ Identifikasi prakiraan prosedur operasi penerbangan berdasarkan prosedur operasi penerbangan yang berlaku saat ini;

ƒ Jenis pelayanan pesawat udara komersial.

Keterbatasan lahan runway dalam suatu bandara merupakan salah satu kendala dalam pengoperasian pesawat karena akan menyebabkan tingkat kebisingan yang tinggi ketika pesawat tersebut akan melakukan tinggal landas dan mendarat.

10. KERJA LINGKUNGAN

BANDAR UDARA (DLKR)

Daerah lingkungan kerja bandar udara adalah wilayah daratan dan/atau perairan yang dipergunakan secara langsung untuk kegiatan bandar udara. Fungsi daerah lingkungan kerja bandar udara antara lain:

ƒ Untuk tertib anggaran dalam pengoperasian dan perawatan fasilitas bandar udara;

ƒ Untuk mempermudah proses pembangunan dan pengembangan fasilitas bandar udara;

ƒ Untuk mempermudah pihak ketiga dalam melaksanakan kerja sama, pembangunan dan pengoperasian di dalam areal bandar udara;

ƒ Untuk mempermudah pengurusan hak atas tanah.

11. SISTEM TANGGAP DARURAT

/ PK PPK (PERTOLONGAN

KECELAKAAN PESAWAT DAN

PEMADAM KEBAKARAN)

Dalam dokumen AMDAL atau UKL-UPL kegiatan bandar udara harus terdapat penjelasan tentang adanya unit pertolongan kecelakaan penerbangan di dalam kawasan Bandar Udara, di antaranya:

Gambar 3. Batas permukaan horizontal dalam(Sumber: Manual of Standards Part 139—Aerodromes http://www.casa.gov.au/rules/1998casr/139/139m07.pdf)

(13)

ƒ Kapasitas tangki mobil pemadam kebakaran;

ƒ Pakaian pelindung petugas pemadam kebakaran;

ƒ Peralatan Komunikasi; ƒ Peralatan bantu pernapasan; ƒ Fire station dan fasilitas latihan; ƒ Kapasitas persediaan air; ƒ Emergency access road;

ƒ Jumlah ambulan;

ƒ Keberadaan Emergency Operation Center;

ƒ Staging Area;

ƒ Rendezvous Response Time;

ƒ Grid map.

(14)

1. KOMPONEN TATA RUANG

A. Kebijakan Tata Ruang

Lokasi kegiatan harus sesuai dengan peruntukan rencana tata ruang wilayah setempat, harus dilampirkan Perda Tata Ruang Kabupaten atau Kota (jika tidak tersedia gunakan Perda Tata Ruang Provinsi) serta peta. Akan lebih baik apabila disertakan overlay antara lokasi kegiatan dengan peta tata ruang setempat.

B. Penggunaan Lahan

Meliputi luas penggunaan lahan, status lahan dan produktivitas lahan.

C. Kegiatan lain di Sekitar

Perlu diperhatikan keberadaan permukiman/perkampungan penduduk lokal, daerah wisata, situs bersejarah, kawasan pendidikan, kawasan bisnis dan perkantoran (keberadaan konstruksi bangunan tinggi), kawasan lindung.

2. KOMPONEN FISIK

A. Fisiografi

Yaitu kondisi topografi setempat (yang dinyatakan ketinggian dalam meter di atas permukaan laut guna menentukan ketinggian agar mengacu pada peta topografi di mana diberikan garis kontur ketinggian serta sumber-sumber lain seperti foto satelit), kemiringan lahan, perhatikan lokasi kegiatan, badan-badan air serta daerah-daerah relevan lain yang akan terkena dampak, inventarisasi

daerah terlindungi, tangkapan air, elevasi muka air banjir dan daerah banjir pada lokasi kegiatan dan sekitarnya. Potensi erosi, longsor dan land subsidence. Perlu diperhatikan pula potensi terjadinya perubahan fungsi lahan, dan sedimentasi. Perhatikan lebih lanjut komponen lingkungan spesifik yang berkaitan, apabila tapak kegiatan bandar udara yang direncanakan berada di wilayah pesisir atau memerlukan lahan hasil reklamasi.

B. Iklim

Diperlukan pula data iklim setempat yang mencakup curah hujan rata-rata, maksimum dan minimum; jumlah bulan hujan, bulan kering; suhu rata-rata, maksimum, minimum; kelembaban rata-rata, maksimum dan minimum; penyinaran matahari, arah dan kecepatan angin.

C. Kualitas Udara dan Kebisingan

(15)

sudu-sudu turbin diteruskan kebelakang. Pada saat lepas landas kebisingan yang dominan berasal dari bising jet primer yang berasal dari fan exhaust. Pada saat mendarat kebisingan mesinlah yang paling utama. Cara efektif mengurangi kebisingan adalah mesin dan primer adalah dengan mengurangi dorong dengan mengurangi kecepatan pesawat (dampak negatifnya adalah kemungkinan pesawat jatuh karena kurangnya daya dorong). (Basuki, 1990). Setiap bandara yang akan dibuat harus menetapkan noise certificate yang berlaku yang ada di bandara tersebut. Hal ini diperlukan untuk dari tingkat kebisingan yang melebihi batas yang telah ditetapkan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk Kebisingan bandara adalah bahwa kontur kawasan bising yang dijadikan acuan merupakan lampiran dari SK MenHub mengenai Kawasan Kebisingan Bandara (KKB). Perlu diperhatikan pula bahwa kontur bising tersebut merupakan kontur prediksi untuk masa (waktu) tertentu. Oleh karena itu, untuk kebutuhan AMDAL perlu dilakukan penyesuaian terhadap kontur bising eksisting saat pekerjaan AMDAL dilakukan. KKB tersebut terdiri dari beberapa garis kontur yang menunjukkan batas-batas area dengan tingkat bising (WECPNL) yang berbeda. Namun perlu menjadi perhatian bahwa dalam waktu pengambilan data untuk rona awal, yang didapatkan adalah data kebisingan berupa LSM (dBA) bukanlah WECPNL.

Pengambilan data kebisingan WECPNL tidak dapat dilakukan karena belum ada pesawat yang beroperasi pada saat pengambilan data rona awal, sehingga perlu dilakukan konversi

data kebisingan dBA menjadi WECPNL. Relasi WECPNL dengan LSM:

D. Kualitas Air dan Kuantitas Air

Kualitas dan kuantitas air (air permukaan, air tanah).

E. Geologi

Meliputi struktur tanah, bearing capacity, kondisi geologi, kegempaan, potensi tsunami, patahan, sesar

3. KOMPONEN BIOLOGI

A. Flora

Vegetasi (apakah terdapat vegetasi endemik, keragaman, kerapatan)

B. Fauna

Fauna terutama fauna darat dan udara (apakah ada satwa endemik yang dilindungi, apakah ada habitat satwa yang terganggu)

4. KOMPONEN SOSIAL,

EKONOMI, DAN BUDAYA

Meliputi tingkat pendapatan masyarakat lokal, jenis mata pencaharian dan demografi penduduk (jumlah dan komposisi penduduk), kesehatan masyarakat, nilai dan norma budaya masyarakat lokal. Adanya keluhan masyarakat kaitannya dengan kebisingan (presepsi negatif masyarakat).

(16)

1. PERUBAHAN FUNGSI

DAN TATA GUNA LAHAN

Pembangunan bandar udara akan mengubah tata guna lahan, perhatikan pula kaitan tata guna lahan dengan KKOP

2. PENURUNAN KUALITAS

UDARA

Partikulat Termasuk peningkatan debu akibat kegiatan konstruksi dan peningkatan emisi HC, CO, SOx dan getaran dari sumber bergerak yaitu pesawat dan lalu lintas darat. Setiap pesawat harus melakukan landing atau take off sedemikian rupa adar tidak melebihi kebisingan yang melebihi batas kebisingan bandar udara yang ditetapkan oleh otorita bandara.

3. PENINGKATAN KEBISINGAN

Kebisingan pada kegiatan bandar udara terutama berasal dari kegiatan tahap konstruksi dan tahap operasional bandar udara serta kebisingan akibat kegiatan lalu lintas darat di sekitar bandar udara. Kebisingan yang ditimbulkan pada tahap operasional umumnya disebabkan oleh aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat, run up, taxiing serta fly over diatas area sekitar bandara. Dalam dokumen AMDAL

atau UKL-UPL kegiatan bandar udara harus tingkat bising rata-rata harian sebagai akibat kegiatan baik pada tahap konstruksi serta kontur tingkat bising (WECPNL) pada tahap operasi untuk kondisi eksiting dan yang diprediksi untuk kurun waktu tertentu. Tingkat bising sebagai akibat meningkatnya kegiatan lalu lintas terjadi di daerah sepanjang jalan yang menghubungkan bandara dengan lingkungan diluar bandara ditampilkan dan ditentukan dengan mengacu pada metode penetapan tingkat bising lalu lintas.

Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kebisingan di bandar udara antara lain ditentukan oleh:

(17)

ƒ Operasional pesawat didalam melakukan gerak (manuver);

ƒ Test engine pesawat, dsb.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan runway dalam suatu bandara, diperlukan rekayasa engineering dengan metode pendekatan permukaan untuk mengatasi masalah tersebut.

4. PENURUNAN KUALITAS AIR

Kegiatan bandar udara akan berpotensi menimbulkan dampak penurunan kualitas air pada badan air setempat terutama dari discharge air limbah domestik dan non domestik (seperti dari pencucian pesawat atau kegiatan bongkar muat bahan bakar pesawat) dari kegiatan operasional bandara pada badan air penerima

5. PENINGKATAN AIR LARIAN

(RUN OFF)

DAN POTENSI

GENANGAN

Kegiatan pembukaan lahan, pemotongan dan pengurugan tanah pada tahap konstruksi akan mengakibatkan perubahan struktur dan sifat tanah, misalnya permukaan tanah menjadi terbuka, agregat tanah hancur dan menjadikan tanah peka terhadap erosi. Kegiatan yang berpotensi meningkatkan air larian adalah pembangunan fasilitas utama dan fasilitas penunjang bandar udara.

Kegiatan pemadatan tanah pada tahap konstruksi juga mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah, sehingga akan meningkatkan volume air limpasan (run off). Hal tersebut akan terus berlangsung sampai tahap operasi, sehingga jika pemrakarsa tidak memiliki perencanaan yang matang mengenai jaringan saluran drainase dan upaya pencegahan banjir setempat yang baik maka bencana banjir akan terjadi

6.

GANGGUAN TERHADAP FLORA

DAN FAUNA ENDEMIK

Kegiatan Bandar Udara akan memberikan dampak yang sangat penting terhadap flora dan fauna setempat termasuk gangguan terhadap wilayah makan (feeding ground) burung dan lain-lain. Kemungkinan terjadinya tubrukan atau tabrakan antara burung dan pesawat terbang, adanya lalu lintas pesawat terbang akan mengganggu aktivitas fauna udara. Apabila hal ini tidak dikelola dengan baik maka terdapat kemungkinan besar aktivitas penerbangan akan terganggu

7.

PENINGKATAN KEPADATAN

LALU LINTAS

Kegiatan Bandar Udara dengan sendirinya akan meningkatkan kepadatan lalu lintas namun intensitas kepadatan akan sangat bergantung kepada jenis bandar udara yang akan dibangun. Informasi dari master-plan tentang rencana sistem jaringan jalan yang ada perlu dicantumkan untuk mengatasi bangkitan lalu lintas yang terjadi akibat aktifitas bandara.

8. PERUBAHAN MATA

PENCAHARIAN DAN

PENDAPATAN PENDUDUK

Keberadaan bandar udara akan memberikan dampak cukup signifikan pada mata pencaharian dan pendapatan penduduk termasuk peluang kerja dan usaha, spekulasi harga lahan terutama pada tahap pra konstruksi

9.

PENINGKATAN KESEMPATAN

KERJA DAN BERUSAHA

(18)

kerja dan berusaha bagi penduduk di sekitar kawasan bandar udara

10. TIMBULNYA KERESAHAN

DAN PERSEPSI NEGATIF

MASYARAKAT

Timbulnya persepsi negatif masyarakat karena adanya pembebasan lahan, peningkatan kebisingan, penurunan kualitas udara, perubahan struktur sosial ekonomi dan budaya masyarakat akibat pembangunan bandar udara.

(19)

1. PERUBAHAN FUNGSI DAN

TATA GUNA LAHAN

A. Rencana Pengelolaan

Membuat desain kegiatan yang sesuai dengan tata guna lahan eksisting.

B. Rencana Pemantauan

Pemantauan tata guna lahan secara berkala untuk memastikan tidak ada perubahan tata guna lahan.

2. PENURUNAN KUALITAS

UDARA

A. Rencana Pengelolaan

Pembersihan lahan tidak dilakukan dengan pembakaran, dilakukan penyiraman secara berkala pada jalan yang dilalui oleh truk pengangkut dan penutupan bak truk pada tahap konstruksi, melaksanakan program penghijauan

B. Rencana Pemantauan

Pemantauan konsentrasi partikulat (debu), HC, SOx, NOx dan getaran.

3. PENINGKATAN KEBISINGAN

A. Rencana Pengelolaan

Menetapkan noise certification sebagai acuan dalam pengendalian kebisingan dan membuat kontur kebisingan yang memberikan prediksi tingkat bising paling tidak dalam 5 tahun yang akan datang untuk memperkirakan dampak bising pada area disekitar bandara serta kategorisasi tata guna lahan. Membangun barrier atau embankment yang direncanakan dengan tepat pada batas bandara dengan daerah yang dianggap perlu dilindungi dari kebisingan aktivitas gerakan pesawat di area landasan. Pada tahap konstruksi diusahakan menggunakan alat berat dengan umur < 5 tahun, Melakukan perawatan alat-alat konstruksi

B. Rencana Pemantauan

Melakukan pemantauan kebisingan dengan menggunakan peralatan Noise Monitoring System secara berkala dan menyesuaikan hasil pemantauan dengan kontur kebising untuk masa (waktu) yang sama. Oleh karena itu diperlukan pekerjaan pembuatan kontur kebisingan eksisting pada saat pemantuan dilakukan.

4. PENURUNAN KUALITAS AIR

(20)

Mengalirkan seluruh air limbah terlebih dahulu ke dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang pada badan air penerima

B. Rencana Pemantauan

Melakukan pemantauan kualitas air limbah pada inlet dan outlet IPAL secara berkala

5. PENINGKATAN AIR LARIAN

(RUN OFF)

DAN POTENSI

GENANGAN

A. Rencana Pengelolaan

Membuat drainase sementara pada tahap konstruksi untuk mencegah air larian menuju area tapak proyek, membuat sistem drainase permanen yang terpisah dengan sistem penyaluran air buangan untuk kelancaran operasional bandar udara

B. Rencana Pemantauan

Pemantauan secara berkala terhadap kelancaran saluran drainase bandar udara.

6. GANGGUAN TERHADAP FLORA

DAN FAUNA ENDEMIK

A. Rencana Pengelolaan

Melakukan relokasi habitat flora dan fauna endemik langka yang terganggu akibat kegiatan bandara, Melakukan population control terhadap fauna endemik yang mungkin dapat menggangu operasional bandar udara (seperti penggunaan predator alami terkontrol atau memanfaatkan teknologi yang tersedia),Tidak menanam tanaman yang dapat menarik burung yang mungkin mengganggu kegiatan operasional bandara, Selalu menjaga tempat sampah tertutup agar tidak mengundang perhatian burung yang mungkin mengganggu. Selain itu metode biologis (alami) dapat juga dilakukan, yaitu dengan menyediakan

predator (musuh alami) terlatih sehingga burung-burung tersebut akan menjauh dari kawasan bandara.

B. Rencana Pemantauan

Melakukan pengawasan satwa secara berkala di area bandar udara untuk memastikan kegiatan bandar udara tidak terganggu oleh perilaku satwa di sekitar bandar udara

7. PENINGKATAN KEPADATAN

LALU LINTAS

A. Rencana Pengelolaan

Mengatur aliran arus lalu lintas di sekitar bandar udara, memasang rambu lalu lintas yang memadai di sekitar bandar udara dan menyediakan lahan parkir yang mencukupi sesuai dengan kapasitas bandar udara, termasuk menentukan batas kecepatan kendaraan.

B. Rencana Pemantauan

Memantau secara berkala volume lalu lintas dan simpul-simpul kemacetan di sekitar bandar udara, serta melakukan pengukuran tingkat bising lalu lintas pada daerah yang dianggap sensitif terhadap bising (misalnya daerah pemukiman penduduk).

8. PERUBAHAN MATA

PENCAHARIAN DAN

PENDAPATAN PENDUDUK

A. Rencana Pengelolaan

ƒ Memprioritaskan penduduk lokal sebagai tenaga kerja baik pada tahap konstruksi dan operasi;

ƒ Melaksanakan program pengembangan usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan penduduk lokal.

(21)

ƒ Pemantauan perubahan mata pencaharian penduduk lokal pada saat kegiatan pembebasan lahan;

ƒ Pemantauan tingkat pendapatan penduduk yang terkena pembebasan lahan.

9. PENINGKATAN KESEMPATAN

KERJA DAN BERUSAHA

A. Rencana Pengelolaan

ƒ Memprioritaskan penduduk lokal sebagai tenaga kerja baik pada tahap konstruksi dan operasi;

ƒ Melaksanakan program pengembangan usaha kecil untuk meningkatkan kesempatan berusaha penduduk lokal.

B. Rencana Pemantauan

ƒ Pemantauan tingkat penyerapan tenaga lokal pada tahap konstruksi dan operasi;

ƒ Pemantauan tingkat kesempatan berusaha penduduk lokal.

10. KERESAHAN DAN PERSEPSI

NEGATIF MASYARAKAT

A. Rencana Pengelolaan

ƒ Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat tentang rencana dan mekanisme pembebasan lahan;

ƒ Mekanisme pembebasan lahan dilaksanakan berdasarkan musyawarah mufakat.

B. Rencana Pemantauan

Metode pemantauan dilalakukan dengan cara observasi lapangan, survey dan wawancara dengan masyarakat

(22)

Buku panduan ini adalah alat bantu penilaian dokumen AMDAL atau UKL-UPL yang bersifat umum dan cukup fleksibel terhadap kemungkinan perubahan terhadap hal-hal yang perlu diperhatikan akibat perbedaan kondisi di lapangan.

Kegiatan pembangunan bandar udara memiliki beberapa aspek yang sangat tergantung pada kondisi setempat, sehingga

diharapkan penilai dapat memperhatikan pula kondisi lokal dalam melakukan penilaian. Semoga buku panduan ini dapat memberikan manfaat untuk terwujudnya pembangunan yang berwawasan lingkungan, khususnya pada pembangunan bandar udara.

z

(23)

Lampiran

Daftar Proses Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup (AMDAL, UKL/UPL)

DAFTAR PROSES

PENYUSUNAN DOKUMEN LINGKUNGAN HIDUP

(AMDAL, UKL/UPL)

Jenis Proyek:

BANDAR UDARA

(24)

[ ] AMDAL [ ] UKL/UPL

[ ] Pemantauan / Inspeksi

0.2a Judul Proyek: _________________________________________________

_________________________________________________

0.2b Varian Proyek: _______________________________________________

0.3 Lokasi : _____________________________________________________

0.4 Surat permohonan diterima oleh: ______________________________

_________________________________________________________

0.5 Tanggal : _________________________________________________

DOKUMEN TERLAMPIR / DOKUMEN YANG AKAN DILAMPIRKAN 0.6 Dokumen-dokumen Resmi

(Pembenaran, pemberitahuan, kesepakatan)

o ____________________________________________________

o ____________________________________________________

0.7 Dokumen Korespondensi/Komunikasi (Tanggapan, anotasi, rekomendasi)

o ____________________________________________________

o ____________________________________________________

0.8 Lampiran Penelitian Lain

(Studi-studi tambahan, penilaian, prognosa, d.s.b., sesuai dengan Kerangka Acuan mengenai AMDAL.

o ___________________________________________________

(25)

BAGIAN KE 1: INFORMASI YANG DIPERLUKAN

Catatan: Bagian ini menyatakan informasi yang harus diserahkan oleh pemrakarsa proyek sebagai lampiran pada Daftar Proses, tanpa lampiran ini pengajuan tidak akan diterima.

Lampiran Catatan

1.1

Peta Topografi,

Memperlihatkan lokasi proyek dan significant landmarks, badan-badan air serta daerah-daerah relevan lain yang akan mengalami dampak yang penting dalam evaluasi proyek.

‰ skala 1:50,000

‰ skala 1:10,000 1.2

‰ Disain/gambar teknik pra-rencana mengenai proyek, jalan akses, akomodasi (sementara) pekerja serta perkantoran dan komponen lainnya termasuk penyediaan air minum dan tenaga listrik, pembuangan sampah dan air-buangan. 1.3

Inventarisasi daerah-daerah lindung dan daerah banjir di lokasi proyek dan sekitarnya.

‰ pada kedua sisi dalam jarak 1 km

‰ pada kedua sisi dalam jarak 5 km 1.4

‰ Sertifikat zona. 1.5

‰ Perkiraan jadwal konstruksi.

(diserahkan setelah tender dilakukan) 1.6

‰ Inventarisasi bahan-bahan konstruksi dan asalnya (kualitas dan kuantitas)

‰ Peta lubang-lubang galian dan lokasi penggalian bagi bahan konstruksi.

1.7

‰ Catatan konsep sebagai diserahkan kepada BRR. 1.8

(26)

2.1.01 Nama Projek ___________________________________________ _______________________________________________________

2.2 Jenis Projek _______________________________________________

2.3 Lokasi Projek

Desa: __________________________________________________

Kecamatan: _____________________________________________

Kapubaten/kota: __________________________________________

Koordinat Geografis (Ditentukan dgn GPS): ________________________ ___________________________________________________________

2.4 Pemrakarsa ________________________________________________

Petugas Penghubung: _____________________________________

Alamat: ________________________________________________

Tlp/Fax #: _____________________________________________

Hp #: _____________________________________________

E-mail: _____________________________________________

2.5 Kepemilikan Proyek

Jenis Kepemilikan:

[ ] Kepemilikan Tunggal [ ] Kemitraan atau Kerjasama

[ ] Perusahaan [ ] Cooperatives

[ ] Lain-lain ____________________________________________

2.6 Kontraktor ____________________________________________

Petugas Penghubung: _____________________________________ Alamat: ____________________________________________

Tlp/Fax #: ____________________________________________

Hp #: ____________________________________________

E-mail: ____________________________________________

2.7 Pihak-pihak Terkait

Kelompok masyarakat yang berpotensi mengalami dampak proyek.

a) Dalam jarak 4000 m – 6000 m dari ujung runway dan 800 m – 1000 m dari sisi

runway: ______________________________________

__________________________________________________________

b) Dalam jarak > 6000 m dari ujung runway dan > 1000 m dari sisi runway : __________________________________________________________ __________________________________________________________

2.8 Informasi untuk Umum

Pemberian informasi pada masyarakat dilakukan

[ ] Ya [ ] Tidak

Dimana? _________________________________________

Kapan? _________________________________________

Oleh siapa? Nama: ________________________________________

Tlp.-no: _______________________________________

(27)

BAGIAN 3: DESKRIPSI PROJEK

3.1 Deskripsi Proyek / Tujuan

____________________________________________________________ ____________________________________________________________

3.2 Rencana Pelaksanaan

____________________________________________________________ ____________________________________________________________

3.3 Kapasitas / Skala

3.3.1 Luas yang tercakup dalam proyek : ____________ ha / m2

3.3.2 Panjang Landasan Pacu: ____________ m

3.3.3 Kapasitas Penumpang: ___________ per hari; ___________ per tahun (maksimum) Kapasitas pesawat komersial:____________per hari;___________ per tahun (maksimum)

Kapasitas pesawat militer:____________per hari;___________ per tahun (maksimum)

Kapasitas helikopter:____________per hari;___________ per tahun (maksimum) Kapasitas pesawat propeler:____________per hari;___________ per tahun (maksimum)

Kapasitas pesawat lain-lain:____________per hari;___________ per tahun (maksimum)

3.4 Biaya Projek

Total (estimasi) Biaya Projek: ____________________ Cara Pendanaan Proyek:

[ ] Dana Sendiri [ ] Pinjaman Bank [ ] Dana Pemerintah [ ] Lain-lain

3.3 Kepemilikan Tanah

Total Luas Tanah: ______________________

Klasifikasi Umum Tanah: [ ] Tanah Negara [ ] Tanah Pribadi

Bila tanah Negara, apa klasifikasinya:

________________________________________________ ________________________________________________ ________________________________________________ Status Kepemilikan Tanah:

________________________________________________ ________________________________________________

3.4 Klasifikasi Tata-Guna Tanah

Peruntukan tanah sekarang di lokasi yang akan tercakup oleh proyek; berdasarkan zona tata-guna tanah yang berlaku:

[ ] Pertanian [ ] Perumahan [ ] Lain-lain (Sebutkan): [ ] Industri [ ] Forest Land ___________________

[ ] Komersial [ ] Open Space ___________________

[ ] Pariwisata [ ] Kelembagaan ___________________

Apakah proyek sesuai dengan rencana tata-guna tanah sekarang ini? [ ] Ya [ ] Tidak

Bila Tidak, jelaskan:

(28)

3.5 Komponen Proyek

3.5.1 Bidang beraspal (landasan pacu, taxiway, parkir, pemeliharaan, pelayanan etc.)

No. Deskripsi Luas

(m2)

Panjang (km)

Bahan Konstruksi

1

2

3

3.5.2 Bangunan (terminal, menara, hanggar dsb.)

No. Nama/Deskripsi Luas

(m2)

Tinggi (m)

Bahan Konstruksi

1

2

3

3.5.3 Komponen lainnya (a.l.: jalan akses)

No. Nama/Deskripsi Luas

(m2)

Bahan Konstruksi

1

2

3.6 Penyediaan Air

3.6.1 Kebutuhan

Perkiraan keperluan air harian untuk seluruh proyek selama masa operasi proyek : _______ m3

3.6.2 Penyediaan

(29)

[ ] PDAM [ ] Sumur Dalam

[ ] Sungai [ ] Lain-lain (jelaskan): ___________________________ Adakah sumber air bersih lain?:

[ ] Ada [ ] Tidak

Bila ada, jelaskan sumbernya dan nyatakan dlmana lokasinya:

[ ] Sumur [ ] Sungai [ ] Lain-lain (jelaskan): ________________ Apakah ada penggunaan lahan lagi untuk penyediaan air cadangan untuk tujuan darurat?

[ ] Ada [ ] Tidak

Apakah yang akan digunakan sebagai cadangan sumber air darurat? [ ] Air hujan yang dikumpulkan dalam tangki penyimpanan;

Jumlah tangki: __________; Kapasitas/tangki: ___________ [ ] Air hujan yang dikumpulkan dalam tandon air/reservoir:

Jumlah reservoir: ___________; Kapasitas ___________ [ ] Lain-lain (jelaskan): __________________________________

3.7 Air Buangan dan Limbah

3.7.1 Sistim drainase

Jenis drainase (secara umum):

[ ] Saluran terbuka

[ ] Tertutup/drainase bawah tanah

[ ] Limpahan terbuka ke daerah sebelahnya

[ ] Lain-lain (jelaskan): _______________________________________

Kemanakah sistim drainase mengalirkan limbahnya?

[ ] sistim drainase umum [ ] pengaliran alamiah ke laut/badan air

Lokasi titik pembuangan akhir:

_________________________________________________________

[ ]Tandai di peta!

Badan air apa (misalnya sungai, anak sungai, kali) yang akan dimanfaatkan sebagai tempat pelepasan akhir sistim air buangan dan drainase?

___________________________________________________________________ Dimana lokasinya?

___________________________________________________________________

[ ]Lampirkan gambar detil rencana drainase!

3.7.2 Limbah Rumah Tangga / Sistim Pengumpulan

[ ] Tanki septik dengan dasar kedap air. [ ] Tanki septic umum.

Jelaskan disain dari sistim limbah rumah tangga

____________________________________________________________ ____________________________________________________________

3.7.3 Pembuangan/Pengolahan Limbah Rumah Tangga:

[ ] Pengolahan dalam tangki septik perorangan dengan pengaliran limbah cari ke bidang resapan atau sumur pelindian.

(30)

[ ] Lain-lain (jelaskan): ______________________________________

3.8 Pengendalian Bahan Buangan

3.8.1 Sistim pengumpulan:

[ ] Pengumpulan bahan bekas konstruksi selama fase pra-konstruksi dan konstruksi yang diatur oleh proyek.

[ ] Pengumpulan sampah selama tahap operasi, yang diatur oleh proyek. [ ] Di-integrasikan kedalam sistim pengumpulan sampah kotapradja. [ ] Lain-lain (jelaskan):

________________________________________________________ Apakah akan diterapkan sistim pemisahan /pemilahan sampah sebelum pembuangan akhir?

[ ] Ada [ ] Tidak

3.8.2 Sistim Pembuangan

[ ] Pengendalian sampah padat secara ekologis (misalnya pembuatan kompos)

[ ] Tempat pembuangan akhir terbuka diluar lokasi proyek

[ ] Daerah landfill kotapradja

[ ] Lain-lain (jelaskan): ______________________________________

3.8.3 Siapa yang akan mengoperasikan sistim pengendalian sampah (pengumpulan dan pembuangannya)?

[ ] Perusahaan

[ ] Lain-lain (jelaskan): _________________________________

__________________________________________________

__________________________________________________

3.9 Tenaga Listrik

Sumber tenaga listrik:

[ ] Perusahaan Listrik Negara: ___________________________

[ ] Generator Sendiri - Kapasitas (DK): ________________

[ ] Lain-lain (jelaskan): _________________________________

3.10 Tenaga Kerja dan Pekerjaan

Berapa banyak orang akan dipekerjakan oleh proyek?

Selama perioda pra-konstruksi/konstruksi: _________________________ Selama perioda operasi dan pemeliharaan: _________________________

3.11 Jadwal Konstruksi

Berapa lama perioda pra-konstruksi/konstrukis akan berlangsung? ____________________________________________________ Mulai: ____________________

Berakhir: _________________

(31)

No. Deskripsi Jadwal Waktu Total

3.12 Peralatan Konstruksi

Jenis mesin/truk yang akan digunakan, tujuan penggunaan dan nomornya.

Jenis mesin/truk Tujuan penggunaan Jumlah units

SECTION 4: DESCRIPTION OF PROJECT SITE AND SURROUNDINGS

4.1 Lingkungan Fisik

4.1.1 Sifat umum dari daerah proyek:

Nyatakan ketinggian dalam meter diatas permukaan laut. Guna menentukan ketinggian, agar mengacu pada peta topografi, dimana diberikan garis kontur ketinggian serta sumber-sumber lain seperti peta baru pada geo-risks dan foto satelit, dll.!

No. Ketinggian Estimase % daerah/panjang total

< 0 m

0 – 5 m

5 – 20 m

20 -100 m

> 100 m

Sumber Informasi: _____________________________________________________

4.1.2 Kemiringan dan topografi pada daerah sekitarnya (1 km):

No. Kemiringan Estimase % daerah/panjang total

Daerah rata atau sangat landai (kemiringan 0 – 3 %)

Landai hingga berombak( kemiringan 3 – 8 %)

Kemiringan lebih dari 8 %

4.1.3 Erosi tanah:

(32)

___________________________________________________________

4.1.4 Terjadinya longsor di lokasi proyek: [ ] Ada [ ] Tidak Sebab-sebab terjadinya longsor:

[ ] Gempa-bumi [ ] Banjir

[ ] Lereng tidak stabil [ ] Gerak tanah

[ ] Lain-lain (jelaskan): _________________________________________ ______________________________________________________________

4.1.5 Jenis tanah di daerah tersebut:

No. Ketinggian Estimase % luas total

Pasir

Lempung

Tanah lempung berpasir

Lain-lain (jelaskan):

[ ] Lampirkan data terinci mengenai tanah!

[ ] Apabila kondisi tanah kurang jelas, lakukan pengambilan sampel dan analisa jenis tanah!

4.1.6 Apakah wilayah proyek (atau sebagiannya) mengalami dampak tsunami 12/2004? [ ] Ya [ ] Tidak

Bila ya, apakah daerah itu (atau sebagiannya) diliputi:

[ ] Air laut [ ] Bahan hancuran

[ ] Substansi berminyak [ ] Benda-benda logam [ ] Substansi lainnya yang diakibatkan tsunami (jelaskan): __________________________________________________ __________________________________________________ __________________________________________________

4.1.7 Apakah daerah tersebut mengalami banjir selama musim hujan atau pada pasang laut besar?

[ ] Ya [ ] Tidak Sebab banjir:

[ ] Daerah/ketinggian yang rendah [ ] Drainase yang jelek

[ ] Daerah genangan air

[ ] Lain-lain (jelaskan): ______________________________ _______________________________________________ _______________________________________________ _______________________________________________ Tanggal banjir terakhir: ____________________________________

4.1.8 Badan air terbuka di lokasi dan sekitarnya (< 500 m)

No. Jenis*) Nama Lokasi /

Bagian jalan (km)

Perkiraan kapasitas dalam m3 musim

hujan

(33)

*) misalnya: anak sungai, mata air, danau, tambak ikan, lain-lain

Tandai semua badan air dalam peta topografi terlampir!

Apabila badan air tidak bernama, nyatakan badan air dengan nomor.

4.1.9 Apakah daerah proyek berada dalam atau dekat wilayah tangkapan air? [ ] Ya [ ] Tidak

Bila ya, jelaskan: ___________________________________ _____________________________________________

_____________________________________________ _____________________________________________

Estimasi jarak: ________________ m

4.1.10 Apakah ada jalan akses menuju lokasi proyek?: [ ] Ada [ ] Tidak

Jenis jalan: _________________________________________ Panjang: ___________________ m

4.1.11 Iklim setempat (data dasar):

Musim hujan: dari _____________ sampai _______________ Musim kering: dari _____________ sampai _______________

Suhu rata-rata: ______ºC; maksimum _____ ºC; minimum _______ ºC Curah hujan rata-rata: _______ m3/tahun

Kelembaban relatif: _______ %

Arah angin rata – rata: _______ Kecepatan angin rata-rata: _______

4.1.12 Ciri-ciri iklim mikro dari lokasi dan sekitarnya (radius < 1.000 m): Secara dominan diliputi vegetasi (dan pohon-pohon)

[ ] Ya [ ] Tidak Lokasi proyek terdapat di:

[ ] Lembah [ ] Dataran

[ ] Lereng [ ] Daerah bangunan/perkotaan [ ] Lain-lain (jelaskan): _____________________________ ________________________________________________

Masukan udara segar (dari pantai, perbukitan, lahan terbuka):

[ ] Ya [ ] Tidak

4.1.13 Apakah ada masalah polusi udara di lokasi atau sekitarnya (radius < 1.000 m) [ ] Ada [ ] Tidak

Sumber emisi:

[ ] Pabrik

[ ] Pembakaran sampah

[ ] Kepadatan lalu-lintas yang tinggi

[ ] Lain-lain (jelaskan): ______________________________

4.2 Lingkungan Biologis

(34)

Spesies lainnya:

[ ] Lampirkan suatu daftar lengkap spesies sesuai dengan persyaratan Bapedalda (UKL/UPL) / Komisi AMDAL (KA-ANDAL)!

[ ] Lampirkan lokasi tepat dari struktur/spesies vegetasi yang disebut (peta)! [ ] Lampirkan evaluasi mengenai kondisi sekarang!

4.2.2 Habitat spesifik ekologis (kritis dan sensitif) di lokasi proyek dan sekitarnya (dalam jarak < 500 m):

Berikan beberapa contoh dalam kotak dibawah!

No. Habitat Kritis / sensitif?

Sekitarnya (jarak < 500 m):

[ ] Lampirkan daftar habitat dan spesies penunjuk – sesuai persyaratan Bapedalda (UKL/UPL) / Komisi AMDAL (KA-ANDAL)!

[ ] Lampirkan lokasi yang tepat dari habitat yang dinyatakan (peta)! [ ] Lampirkan evaluasi mengenai kondisi sekarang!

4.2.3 Apakah proyek berlokasi disalah satu daerah berikut? [ ] Ya [ ] Tidak

Jenis daerah yang ada:

[ ] Daerah hutan bakau asli

[ ] Bekas daerah hutan bakau (sekarang rusak) [ ] Daerah bakau direncanakan (berpotensi). [ ] Hutan lindung

4.2.4 Apakah lokasi memperlihatkan struktur vegetasi yang mengalami dampak tsunami 12/2004?

[ ] Ya [ ] Tidak

4.2.5 Burung-burung dan bentuk kehidupan liar di lokasi proyek:

Berikan beberapa contoh dalam kotak dibawah!

No. Spesies Terancam? Burung:

[ ] Lampirkan suatu daftar lengkap spesies sesuai dengan persyaratan Bapedalda (UKL/UPL) / Komisi AMDAL (KA-ANDAL)!

[ ] Lampirkan lokasi tepat dari struktur/spesies vegetasi yang disebut (peta)! [ ] Lampirkan evaluasi mengenai kondisi sekarang!

4.2.6 Sumber daya perikanan dalam badan-badan air di lokasi proyek:

Berikan beberapa contoh dalam kotak dibawah!

(35)

sensitif?

[ ] Lampirkan suatu daftar lengkap spesies sesuai dengan persyaratan Bapedalda (UKL/UPL) / Komisi AMDAL (KA-ANDAL)!

[ ] Lampirkan lokasi tepat dari struktur/spesies vegetasi yang disebut (peta)! [ ] Lampirkan evaluasi mengenai kondisi sekarang!

4.3 Lansekap / bentang darat

4.3.1 Karakteristik bentang darat yang khas dan cirri-ciri tunggal yang unik di lolkasi proyek dan sekitarnya surroundings (dalam jarak < 1.000 m)

Berikan beberapa contoh dalam kotak dibawah!

No. Deskripsi singkat

Karakteristik lansekap:

Ciri-ciri tunggal:

[ ] Lampirkan foto-foto yang memperjelas!

[ ] Lampirkan evaluasi terinci mengenai lansekap (kualitas tampaknya,, karakteristik, jarak penglihatan, cirri-ciri utama; kerusakan dan distorsi – lihat 4.3.3!)

4.3.2 Struktur pemukiman yang khas atau ciri tunggal yang penting di lokasi proyek dan sekitarnya (radius < 1.000 m)

[ ] Ya [ ] Tidak

If ya, jelaskan: _______________________________________________

____________________________________________________________

4.3.3 Gangguan pandangan / penyimpangan bentang darat akibat (saat ini) [ ] Pemukiman

[ ] Pergerakan tanah / penambangan

[ ] Bangunan industry dan komersial / pembangkit listrik

[ ] Infrastruktur (a.l.. jalan, jembatan, saluran listrik, pelabuhan) [ ] Erosi / tsunami / longsoran

[ ] Lain-lain (jelaskan) ______________________________________

Berikan beberapa contoh dalam kotak dibawah!

No. Lokasi Deskripsi singkat

(36)

4.4 Lingkungan Sosio-Ekonomi

4.4.1 Penggunaan tanah sekarang di lokasi proyek:

[ ] Tanah Murni Pertanian [ ] Kebun buah-buahan

[ ] Padang rumput [ ] Rawa/Hutan bakau

[ ] Kolam ikan [ ] Telah dibangun

[ ] Lain-lain (jelaskan) ______________________________________

4.4.2 Pemukiman yang ada di lokasi proyek: Apakah perlu relokasi pemukiman akibat proyek bandara?

[ ] Ya [ ] Tidak

Bila ya: Jumlah rumah tangga atau keluarga: ________________ Jumlah pemilik resmi tanah: ________________

Jumlah penyewa: _________________ Jumlah penghuni liar: ________________

Sumber informasi: ________________________________________________

4.4.3 Jumlah total penduduk total masyarakat di sekitar proyek(1.000m): ______

4.4.4 Rata-rata jumlah orang per keluarga: ___________________

4.4.5 Sumber kehidupan utama / sekunder:

[ ] / [ ] Pertanian [ ] / [ ] Perikanan [ ] / [ ] Ternak unggas [ ] / [ ] Penjaja / jual beli [ ] / [ ] Lain-lain (jelaskan) ___________________________________ [ ] / [ ] Lain-lain (jelaskan) ___________________________________

4.4.6 Organisasi lokal yang ada didaerah tersebut

(kelompok terorganisir seperti asosiasi, koperasi, dsb.) [ ] Ada [ ] Tidak

Bila ada, apa saja: __________________________________________

_____________________________________________________________

4.4.7 Infrastruktur sosial / budaya di wilayah tersebut

[ ] Sekolah [ ] Mesjid

[ ] Tempat suci (a.l.. syiah kuala) [ ] Lokasi arkeologis / bersejarah [ ] RS / Puskesmas / klinik [ ] Tempat berkumpul

[ ] Lain-lain (jelaskan) ______________________________________

4.4.8 Apakah lokasi sesuai dengan rencana tata guna tanah kota / kotapraja? [ ] Ya [ ] Tidak

Bila tidak, sebut nama kota/kotapraja serta uraian ke-tidak sesuaian! __________________________________________________ __________________________________________________

4.4.9 Struktur, pembangunan, fasilitas pemukiman/ komersial atau industri sekitar lokasi proyek:

[ ] Ada [ ] Tidak

(37)

4.4.10 Apakah alokasi lahan dan jalan akses serta fasilitas lainnya terintegrasi kedalam jaringan jalan dan layanan dan pola pemukiman yang terdapat diluar batas-batas lokasi proyek?

[ ] Ya [ ] Tidak

Bila tidak, jelaskan: ______________________________________ ______________________________________________________ ______________________________________________________

4.4.11 Kelompok penduduk asli bermukim di lokasi atau sekitarnya (< 5 km)? [ ] Ada [ ] Tidak

Bila ada, catat dan nyatakan lokasinya: ____________________ _____________________________________________________ _____________________________________________________

Bila ada, apakah kelompok-kelompok ini disertakan dalam perencanaan proyek? [ ] Ya [ ] Tidak

Bila ya, uraikan partisipasinya: ____________________________ ______________________________________________________

______________________________________________________

BAGIAN 5: ANALISA DAMPAK LINGKUNGAN (KAJIAN RISIKO)

Catatan: Bagian berikut ini mengatur identifikasi mengenai potensi dampak yang diakibatkan oleh proyek (kajian risiko lingkungan). Ini merupakan suatu kajian awal singkat yang menyatakan apakah suatu jenis dampak berkemungkinan terjadi atau tidak (opsi Ya/Tidak). Apabila diperlukan (misalnya sebagai hasil dari proses peliputan AMDAL – KA-ANDAL), maka perlu dilaksanakan pengumpulan data secara mendetil, analisis, kajian dan prognosa yang hasilnya dilampirkan pada Daftar Proses (studi tambahan), yang mengindikasikan pokok terkait dari bagian ini. Studi-studi tambahan ini harus dicatat pada Label (halaman 2) dari Daftar Proses ini (Bagian 0.8).

Lampiran terlampir “Kriteria Evaluasi Baku untuk AMDAL (SEC)” memberikan pendekatan-pendektan awal pada risiko dari dampak yang tercatat dibawah ini; pokok terkait pada Lampiran ditandai pada sisi kanan masing-masing nomor dari bagian berikutnya (→ SEC).

5.1 Lingkungan Fisik

5.1.1 Kehilangan lapisan penutup tanah dan/atau kehilangan fungsi tanah yang penting. [ ] Ya [ ] Tidak

Karena:

[ ] Pekerjaan pemindahan tanah (penggalian, pemotongan lereng, dsb.) [ ] Penutupan permanen (pengaspalan, fasilitas dan bangunan tambahan) [ ] Penutupan sementara (peralatan, bangunan, daerah pembuangan, konstruksi, jalan, dsb..)

Luas yang tercakup: ___________m2

(→ SEC: A.1.a)

[ ] Lampirkan rincian kajian risiko lebih lanjut!

5.1.2 Risiko erosi dan tanah longsor

[ ] Ada [ ] Tidak

(38)

[ ] Pembuangan yang tidak tepat (dari tanah, peralatan penggalian dan konstruksi materials)

Perinci dan tandai lokasinya: ___________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________

(→ SEC: A.1.c)

[ ] Lampirkan rincian kajian risiko lebih lanjut!! [ ] Tandai daerah risiko pada peta terlampir!

5.1.3 Risiko berbagai dampak (sekunder) dari lubang galian dan galian bahan untuk konstruksi:

[ ] Ada [ ] Tidak

[ ] Tandai lubang galian dan lokasi galian pada peta terlampir!

[ ] Lampirkan daftar rincian bahan konstruksi dan asalnya (kualitas dan kuantitas) (berkaitan dengan bagian 1.6)

[ ] Dalam hal teridentifikasi risiko signifikan (Ada), perlu diprakarsai

kegiatan evaluasi/pemantauan lingkungan yang sesuai untuk daerah dampak yang terkait (misalnya, lokasi tambang, pabrik bahan bangunan, dsb.) dengan menerapkan Daftar Proses (misalnya UKL/UPL, AMDAL dan/atau pemantauan yang diprakarsai badan bersangkutan)!

5.1.4a Risiko terjadinya sedimentasi / penyumbatan pada pola drainase atau aliran air permukaan akibat berseraknya timbunan persediaan tanah dan bahan lainnya.

[ ] Ada [ ] Tidak

[ ] Lampirkan rincian kajian risiko lebih lanjut!

5.1.4b Risiko terjadinya penyumbatan pada aliran air tanah karena terpotongnya lapisan akifer yang peka oleh badan konstruksi (badan jalan dan konstruksi lain)

[ ] Ada [ ] Tidak

[ ] Lampirkan rincian kajian risiko lebih lanjut!

(→ SEC: A.2.a)

5.1.5 Risiko (a) polusi air tanah, (b) polusi air permukaan, (b) polusi tanah

(a) / (b) / (c) (a) / (b) / (c)

[ ] / [ ] / [ ] Ada [ ] / [ ] / [ ] Tidak Disebabkan oleh:

[ ] / [ ] / [ ] Terbuangnya bahan berbahaya (a.l. minyak, bahan bakar, pelumas, emisi mesin, kecelakaan dan bahan konstruksi berbahaya) pada tahap (pra-) konstruksi,

[ ] / [ ] / [ ] Emisi mesin, kecelakaan, kebocoran minyak, bahan bakar, pelumas dan kerusakan dan aus selama masa operasional, [ ] / [ ] / [ ] Limbah (pengendalian limbah kurang tepat) selama tahap

(pre-) construction,

[ ] / [ ] / [ ] Limbah (pengendalian limbah kurang tepat) selama tahap operasional,

[ ] / [ ] / [ ] Limbah domestik / sistim sanitasi kurang baik selama tahap (pre-) konstruksi,

[ ] / [ ] / [ ] Limbah domestik / sistim sanitasi kurang baik selama tahap konstruksi,

[ ] / [ ] / [ ] Pembersihan lahan (pebongkaran vegetasi pelindung dan lapisan tanah)

Figur

Gambar 1. Organisasi yang terkait dengan Master Plan (Gambar 1. Organisasi yang terkait dengan Master Plan (Sumber: Ari Sandhyavitri 2007Sumber: Ari Sandhyavitri 2007))
Gambar 1 Organisasi yang terkait dengan Master Plan Gambar 1 Organisasi yang terkait dengan Master Plan Sumber Ari Sandhyavitri 2007Sumber Ari Sandhyavitri 2007 . View in document p.7
Gambar 3. Batas permukaan horizontal dalam (Sumber: Manual of Standards Part 139—Aerodromes http://www.casa.gov.au/rules/1998casr/139/139m07.pdf)
Gambar 3 Batas permukaan horizontal dalam Sumber Manual of Standards Part 139 Aerodromes http www casa gov au rules 1998casr 139 139m07 pdf . View in document p.12
Gambar 3. Batas permukaan horizontal dalam (Sumber: Manual of Standards Part 139—Aerodromes http://www.casa.gov.au/rules/1998casr/139/139m07.pdf)
Gambar 3 Batas permukaan horizontal dalam Sumber Manual of Standards Part 139 Aerodromes http www casa gov au rules 1998casr 139 139m07 pdf . View in document p.12
Gambar 4. Pendekatan permukaan yang digunalan untuk pendekatan runway (Sumber: Ari Sandhyavitri 2007)
Gambar 4 Pendekatan permukaan yang digunalan untuk pendekatan runway Sumber Ari Sandhyavitri 2007 . View in document p.16

Referensi

Memperbarui...