• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

PERENCANAAN JEMBATAN GRINDULU KABUPATEN PACITAN DENGAN BOX GIRDER PRESTRESSED SEGMENTAL SISTEM KANTILEVER

Dimas Eka Budi Prasetio (3110100087)

Prof. Dr. Ir. I Gusti Putu Raka, DEA. (195004031976031003) , Dr. Ir. Djoko Untung , DEA. (195001301976031001) Teknik Sipil , Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Sukolilo, Surabaya, 60222

Email : [email protected] & [email protected] ABSTRAK

Perencanaan Jembatan Grindulu di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini dirancang dengan beton box girder pratekan memiliki bentang keseluruhan 180 meter yang dibagi menjadi 3 be ntang yang berdiri pada 2 abutment dan 2 pi lar dengan panjang 40 meter, 100 meter, 40 meter, serta direncanakan lebar jembatan 13 meter sudah termasuk kerb.

Pada metode konstruksi digunakan sistem kantilever menggunakan form traveler dengan pengecoran in-situ pada setiap segmen-segmennya dalam pengerjaannya. Selain itu dengan mempertimbangkan medan yang cukup sulit.

Perencanaan ini dimulai dengan pengumpulan data- data teknis yang diperlukan dalam perencanaan, seperti data : tanah, hidrologi, transportasi. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai latar belakang pemilihan tipe jembatan, perumusan tujuan perencanaan, pembahasan, dan dasar-dasar perencanaan yang mengacu pada peraturan perencanaan jembatan RSNI T- 02-2005 dan SNI T-12-2004. Setelah itu barulah dilakukan preliminary design dengan menentukan dimensi-dimensi utama jembatan. Pada tahap awal perencanaan dilakukan perhitungan terhadap struktur sekunder jembatan seperti : pagar pembatas, dan trotoar yang nantinya akan digunakan untuk analisa beban yang terjadi. Analisa beban yang terjadi seperti : analisa berat sendiri, beban mati tambahan, beban lalu lintas, dan analisa pengaruh waktu seperti creep dan kehilangan gaya prategang. Kemudian dari hasil analisa tersebut dilakukan kontrol tegangan yang terjadi pada struktur, perhitungan penulangan box, perhitungan kekuatan dan stabilitas struktur, dan tahap yang terakhir dari perencanaan ini adalah perencanaan perletakan.

Akhir dari perencanaan ini adalah didapat bentuk dan dimensi penampang box girder dengan menggunakan sistem kantilever menggunakan launching gantry sebagai metode pelaksanaan dan direncanakan menggunakan zona gempa zona 5 (lima) yang mampu menahan beban-beban tersebut sehingga didapatkan desain struktur jembatan yang aman. Perencanaan ini juga harus memenuhi peraturan mengenai bangunan tahan gempa, seperti SNI T-02-2005, SNI T-12-2004,Pedoman perencanaan jembatan SKBI-1.3.28.1987 DPU, serta aturan mengenai beton pratekan yang sesuai dengan konsep jembatan box girder pratekan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jembatan Grindulu dibangun untuk menghubungkan jalan yang terputus oleh sungai Grindulu yang terletak di kabupaten Pacitan. Kabupaten Pacitan termasuk dalam rencana pembangunan jalan nasional Lintas Selatan provinsi Jawa Timur. Sebagai upaya menyeimbangkan pertumbuhan antara kawasan pantai utara Pulau Jawa dan pantai selatan Pulau Jawa serta untuk menghadapi tantangan kepadatan jalur pantura Jawa akibat kegiatan interaksi sosial dan ekonomi salah

satunya adalah dengan memaksimalkan pembangunan infrastruktur pada jalan lintas selatan. Jalan lintas selatan provinsi Jawa Timur bagian selatan direncanakan untuk menghubungkan 4 pr ovinsi lainnya di Pulau Jawa, yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Ir. Taufik Widjojono, MSc. Direktorat Bina Marga, 2008).

1.2 Perumusan Masalah Rumusan masalah, antara lain :

1. Bagaimana merencanakan dimensi dan menganalisa kekuatan box girder?

2 Bagaimana metode pelaksanaan dari box girder prestressed segmental dengan sistem kantilever?

3 Bagaimana merencanakan Struktur bagian bawah?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah tugas akhir ini, antara lain :

1. Teknik pelaksanaan dibahas hanya secara umum.

2. Tidak merencanakan perletakan

3. Tidak merencanakan perkerasan dan desain (oprit).

4. Tidak meninjau Beban akibat aliran air, benda hanyutan dan tumbukan pada pilar jembatan.

5. Tidak meninjau scouring pada profil sungai.

6. Tidak meninjau permasalahan akibat temperature.

7. Tidak merencanakan differential settlement

8. Tidak menganalisa biaya konstruksi dan waktu pelaksanaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Metode Erection di Lapangan

Dalam tugas akhir ini dipilih metode kantilever menggunakan launching gantry. Pada sistem ini balok jembatan dipasang balok precast tiap segmen demi segmen sebagai kantilever di kedua sisi agar saling mengimbangi (balance) atau satu sisi dengan pengimbang balok beton yang sudah dilaksanakan lebih dahulu..

Gambar 2.6 Sistem launching gantry (Sumber : VSLID) 2.9 Perencanaan Pier dan Pondasi

Langkah-langkah yang dikerjakan dalam perencanaan struktur tersebut adalah :

1. Menghitung beban total dari struktur atas 2. Merencanakan Dimensi Pier

3. Mencari daya dukung tanah

4. Menentukan jenis pondasi yang akan digunakan.

5. Menentukan efisiensi dari pondasi grup tiang pancang 6. Merencanakan pile cap

(2)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

2.10 Peraturan Struktur

 Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan RSNI T-02- 2005 dan SNI T-12-2004

Tabel VSL (Penyedia Jasa Prestressed Concrete)

 Pedoman perencanaan pembebanan jembatan jalan raya SKBI-1.3.28.1987 Departemen Pekerjaan Umum BAB III

METODOLOGI

PRELIMINERY DESAIN :

• Penentuan tinggi penampang box

• Penentuan lebar melintang box

• Penentuan efisien penampang box

• Penentuan panjang segmen box girder

• Penentuan Layout kabel tendon dengan jumlah kabel prestress

• Metode yang digunakan dalam pelaksanaan

START

ANALISA PEMBEBANAN :

• Data perencanaan jembatan

• Dasar pembebanan struktur

• Input pembebanan struktur utama

• Beban mati struktur utama

• Beban hidup struktur utama

• Beban angin struktur utama

• Beban gempa struktur utama ANALISA STRUKTUR UTAMA JEMBATAN :

• Desain Box Girder Pratekan

• Analisa tegangan terhadap berat sendiri, beban mati tambahan dan beban hidup

• Perhitungan gaya pratekan awal

• Perhitungan kehilangan gaya pratekan

• Perhitungan Penampang Memanjang dan Melintang

KONTROL KEKUATAN DAN KESTABILAN : Kontrol analisa tegangan akhir

Kontrol momen retak Kontrol momen batas Kontrol Torsi Kontrol Geser Kontrol Lendutan MENGUMPULKAN DATA DAN LITERATUR YANG BERKAITAN DENGAN PERENCANAAN :

• Data umum kondisi lapangan, elevasi dan data gempa

• Data Gambar

• Buku dan Literatur yang berkaitan

• Peraturan yang berkaitan

MERENCANAKAN DIMENSI STRUKTUR SEKUNDER :

• Desain pelat lantai kendaraan

• Desain Trotoar

• Desain pagar

Analisa struktur Jembatan (menggunakan SAP 2000)

OK NOT OK

A

PENULANGAN BOX DESAIN PERLETAKAN

Menuangkan hasil perhitungan dalam bentuk laporan dan gambar

REALISASI PELAKSANAAN A

FINISH Merencanakan Abutment dan Pondasi

BAB IV

PEMBAHASAN 4.1 Preliminery

4.1.1 Struktur Sekunder 4.1.1.1 Tiang Sandaran

Dipakai 4Ø10 (A spakai = 314 mm2) Sengkang praktis Ø8 – 150 (334,93 mm2) 4.1.1.2 Trotoar

direncanakan :

Lebar : 80 cm

Tebal : 25 cm (diletakkan di atas lantai kendaraan) 4.1.1.3 Kerb

Dipakai 10Ø12 (Aspakai = 1130,4 mm 2)

Tulangan sengkang praktis D13 – 100 (1326,65 mm2) 4.1.1.4 Kontrol Geser Ponds

Gaya Geser (Vn) < Kapasitas Geser (Vu) 2632,5 Kg< 0,7 X 15.336,231 Kg 2632,5 Kg<10735,362 Kg (OK) 4.1.2 Analisa Pembebanan 4.1.2.1 Berat Mati Sendiri

Berat sendiri Box Girder tiap segmen = 410,652 KN/m 4.1.2.2 Beban mati Tambahan

o Berat Lapisan aspal (surface) = 28,6 KN/m

o Berat Trotoar = 12 KN/m

o Berat Kerb = 24 KN/m

o Berat tiang sandaran = 0,33 KN/m o Berat air hujan (5 cm) = 6,5 KN/m +

Total beban mati tambahan = 64,93KN/m 4.1.2.3 Beban rencana terbagi rata(BTR)

o Untuk penyebaran gaya arah melintang L = 100 m Sepanjang 11,5 m

Jadi UDL = 71,6625 Kn/m

yang bekerja merata sepanjang 100 m

o Untuk penyebaran gaya arah melintang L = 40 m Sepanjang 11,5 m

Jadi UDL = 96,46875 Kn/m yang bekerja merata sepanjang 40 m 4.1.2.4 Beban rencana garis terpusat (BGT)

(3)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

I y M I

y e F A

Fo o b

×

b

× +

− ×

6

Besarnya beban BGT = 49 kN/m BGT = 780,325 KN

yang bekerja merata sepanjang 180 m.

4.2 Tahap Kantilever

Gambar Tendon Kantilever Perhitungan pada pemasangan segmen 11 dan 14 : Digunakan tendon strand seven wires stress relieved :

• Diameter = 15,2 mm

• Luas nominal (As) = 143,3 mm2

• Modulus elastisitas (Es) = 200.000 MPa Kontrol tegangan akibat tendon pada joint 3:

Serat atas fo =

I y M I

y e F A

Fo o a G

×

a

× +

− ×

= – 0,585 MPa (tekan) <

σ

tarik =0Mpa..……..OK Serat bawah

fo =

I y M I

y e F A

Fo + o× × bG× b

= – 0,021 MPa (tekan) <

σ

tekan =-23,4 MPa …..OK

Gambar Diagram Tegangan joint 12 - 13 kantilefer (MPa) 4.3 Tahap Service

Gambar letak eksentrisitas tendon 4.3.1 Kontrol Tendon Menerus

Diambil contoh untuk perhitungan pada x=10 meter dengan kombinasi pembebanan 1 :

Serat atas fo Menerus =

I y M I

y e F A

Fo o a

×

a

× − + ×

6

= – 0,871MPa (tekan) fo total = fo Menerus + fo Kantilever

= -19,297 <

σ

tarik =0 MPa……….OK Serat bawah

fo =

= – 0,627 MPa (tekan) fo total = fo Menerus + fo Kantilever

= -0,627MPa + -2,482

= -3,109 MPa <

σ

tekan =27 MPa …………..OK

• Maka Tendon menerus direncanakan Sesuai Tabel VSL strand 15,2mm , dipakai Jenis Tendon type 6-42-42 sc dengan F = 10500 KN dan memakai 2 tendon.

4.3.7 Pemilihan Angkur Dead End

Digunakan angkur mati yang disesuaikan dengan jenis tendon menerus.

Gambar Dimensi dan detail Angkur mati 4.4 Kehilangan Prategang

4.4.1 Perpendekan Elastik Beton

Kehilangan prategang akibat perpendekan elastic beton dihitung :

cir

ES

f

Eci K Es

ES .  .

 

= 

Contoh Perhitungan, saat x = 8 meter pada tendon kantilever

%Loss =

. 100 % ,1 466 % 14

, 1862 7 , 0

161 ,

21 =

x

4.4.2 Akibat Gesekan Kabel (Wooble Effect)

Kehilangan prategang akibat Gesekan terhadap kabel dihitung : Fx = F0 x e-μα+KL

Contoh perhitungan saat x = 8 meter pada tendon kantilever

% Loss = 2,30 % 4.4.3 Akibat Slip Angker

Kehilangan prategang akibat Slip Angker dihitung : Δσ = 2σ0. x

L K . .

 

 +

α

µ ; x =

. . ) (

.

0

+ L K

d Es

α σ µ

% Loss =

σ

0

σ

= 5 , 1303

396 ,

2 = 0,184 %

4.4.4 Akibat Rangkak Beton

Kehilangan prategang akibat rangkak beton dihitung : CR =

. .(

fcir fcds

)

Ec

Kcr Es

 −

 

Contoh perhitungan saat x = 8 meter pada tendon kantilever :

%Loss = 2,255 % 4.4.5 Akibat Susut Beton

Kehilangan prategang akibat susut beton dihitung : SH =

8 , 2 10

6

. . . 1 0 , 0236 .( 100

RH

)

S E V

K

x SH s

 −

 

  −

Contoh perhitungan saat x = 8 meter pada tendon kantilever :

%Loss = 0,005 %

Nilai kehilangan Susut Beton pada tendon kantilever maupun tendon menerus adalah sama.

A 700 mm

B 550 mm

C 1200 mm

D 150 mm

Dimensi

(4)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

4.4.6 Akibat Relaksasi Baja

Kehilangan prategang akibat relaksasi baja dihitung : RE = (KRE – J(SH + CR + ES) x C

Contoh perhitungan saat x = 8 meter pada tendon kantilever :

% Loss = 6,12 %

4.4.7 Kontrol Tegangan setelah kehilangan

% Loss = .100%

7 , 0

) (

fPU

RE ES CR SH+ + + feff = . 0

100

% 100− Loss F

Contoh perhitungan saat x = 8 meter pada tendon kantilever : feff = 166913,305 N

Serat Atas :

f = I

y M I

y e F A

F

o

. .

t

+ .

t

f = -8,925 MPa < σtekan , OK Serat Bawah :

f = I

y M I

y e F A

F

+

o

. .

t

− .

t

f = 0,000665 MPa < σtarik , OK 4.5 Penulangan Utama (Tulangan Lentur)

Momen maksimum yang terjadi pada permodelan jembatan : Flens atas MU1 = 1.266.518.700 N.mm Flens bawah MU2 = 633.259.400 N.mm Flens tegak MU3 = 621.000.000 N.mm

Gambar penulangan Lentur pada penampang 4.6 Perencanaan Tulangan Geser

Gambar Bidang geser akibat beban kombinasi maksimum Pada prestressed concrete, retak-retak yang mungkin terjadi berupa retakan miring akibat lentur atau akibat tegangan tarik utama (retak pada badan). Perencanaan kekuatan geser harus di tinjau pada dua jenis mekanisme retak sebagai berikut :

• Retak akibat geseran pada badan penampang (Vcw)

• Retak miring akibat lentur (Vci)

Prosedur perencanaan perhitungan geser adalah sebuah analisa untuk menentukan kekuatan geser beton (vc) yang dibandingkan terhadap tegangan geser batas pada penampang yang ditinjau (vu).

Gambar Retak akibat tegangan geser

perhitungan diambil pada joint 26:

Pada joint ini dilewati dua tendon yaitu 2Sc dan 5Sc Vp(11) = ( F(9Sc) × Slope(9Sc) )+( F(10Sc) × Slope(10Sc) )

= 141540.404 N

Vu = -777355.51 N (dari hasil analisa struktur dengan SAP)

Vu =

V

u

' + V

p(26)

=

141540.404 − + ( 777355.51)

= 635815.106 N a. Perhitungan gaya geser pada tahap service

Contoh perhitungan diambil pada x = 30 m:

Pada joint ini dilewati tendon tumpuan (42Sc).

Vp(x=30m) = ( F(42Sc) × 2 ×Slope(42Sc) ) = 529049.26 N Vu(x=30m) = -855354.5 N (dari hasil analisa struktur dengan SAP)

Vu =

V

u

'

(x=30m)

+ V

p(x=30m) = 326305.225 N

4.6.1 Perhitungan kemampuan retak geser pada badan di dekat tumpuan (Vcw).

Diambil contoh perhitungan pada joint 12 : Vp = 562725.529 N

Vcw =

{ 0 , 3 ⋅ ( f

c

' + f

pc

) × b

w

× d } + V

p

= 70.652.428 N

4.6.2 Perhitungan kemampuan retak geser terlentur pada tengah bentang (Vci).

Contoh perhitungan pada x = 20 m:

Vci =





 × ×

≥

 

 ×

+

+



 × × f b d

M M V V

d f b

w cr c

L d w

c

7 ' 20

'

max

= 46.306.783 N ≤ 62.576.345,21 N … Not OK Maka memerlukan tulangan geser.

4.6.3 Perhitungan Tulangan Geser

a. Gaya geser yang harus dipikul oleh tulangan geser Contoh perhitungan pada x= 20 m :

Vu = 1983768,215 N

Vn = 1983768.215/0,7 = 2833954.592 N Vs = |Vn - Vc| = 28675142.4 N

b. Perencanaan jarak tulangan (S) dan diameter tulangan Data perencanaan (contoh perhitungan pada joint 15):

dipakai Av = 3692.64 mm2. Dipakai tulangan geser 6 D28-200

Kontrol momen retak pada saat pemasangan tendon kantilefer.

dalam hal ini adalah joint 27. Berikut adalah contoh perhitungannya :

Mcr > Mu

96.494.603.112,46 Nmm > 219.301.425.000 Nmm … OK Kontrol momen retak pada saat service dan telah menjadi struktur statis tak tentu.

Untuk kontrol pada tahap service yang dilakukan pada daerah lapangan, yang mengalami momen terbesar adalah pada tengah bentang pada joint 27. Berikut adalah contoh perhitungannya :

Mcr > Mu

91.012.759.920 Nmm > 53.241.399.641 Nmm ... OK

(5)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

Sedangkan untuk kontrol pada tahap service yang dilakukan pada daerah tumpuan, yang mengalami momen terbesar yaitu joint 12.

Berikut adalah contoh perhitungannya :

Mcr > Mu

120.105.470.370 Nmm > 67.756.414.563 Nmm …….

OK 4.6.4 Torsi ijin

Tulangan puntir tidak diperlukan apabila : 25

, 0

<

cr u

T T

φ

(SNI T-12-2002 persamaan.5.4-2) Tu ijin =

φ × T

cr

× 0 , 25

= 0,7 × 40.717.750.761,9 × 0,25

= 7.125.606.383 N.mm Syarat :

Tu ijin < Tu

7.125.606.383 N.mm < 14.805.483.470 N.mm … OK Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak diperlukan adanya tulangan torsi.

4.6.5 Momen Batas

Momen tahanan batas untuk bentang tengah (joint 12) pada saat service adalah sebagai berikut :

3 , ' ≤ 0

= ⋅

c ps p

p f

ρ

f

ω

= 0,0221

≤ 0 , 3

…. OK

Tp = Aps × fps= 22928 × 1725,43 = 39.560.684.41 N 1) Keseimbangan statik aksial

Mu > M.max

80.365.507.110 Nmm > 53.310.000.000 Nmm …… OK 4.7 Perencanaan shear key pada joint antar segmen

Perencanaan joint pada balok segmental diambil sebagai contoh adalah pada joint 12 yang menghubungkan segmen 11 dan 12 Pada sayap = 170 cm × 15 cm

Pada badan atas = 390 cm × 15 cm Pada badan bawah = 315 cm × 15 cm

Gambar Letak pengunci joint antar segemen

Gambar Potongan A-A

• Gaya geser (Vu) yang bekerja pada joint 12 pada saat service adalah : Vn = 132.924,7 N

• Momen (Mu) yang terjadi pada joint 12 pada saat service adalah: Mn = 36.550.000.000 Nmm

• Gaya Prategang (F) yang bekerja pada joint 12 adalah : F = 19.995.007,3 N

• Perhitungan tegangan di titik 1 :

I y M A

F

n

×

a

1

= σ

= – 2,511 MPa (tekan) Tegangan di titik 2 :

I y M A

F

n

×

a

2

= σ

= – 3,558 MPa (tekan) Kontrol tegangan geser :

Titik 1 :

1

=

1.

σ

t – 2,51 + 1,39 = -1,25 MPa < 3,873 MPa … OK

2

=

1

σ

t – 2,51 – 1,39 = -3,77 MPa < –27 MPa ... OK Titik 2 :

1

=

2.

σ

t – 2,51 + 1,874 = -0,637 MPa < 3,873 MP…OK

2

=

2

σ

t – 2,51 – 1,874 = –4,385 MPa < –27 MPa … OK 4.8. Kontrol Lendutan

Dari hasil analisa dengan program SAP didapat lendutan maximum pada saat service yaitu sebesar 98.1 mm.

service

∆ < ∆ijin

service

∆ <

800

L

98,1 mm <

800 100

98,1 mm < 125 mm …. OK Persyaratan Lendutan Memenuhi.

4.9 Struktur Bangunan Bawah

Dari hasil perhitungan didapat : 4.9.1 Penulangan Pier Head

PONDASI BORE PILE

f'c = 30 Mpa f'c = 60 Mpa STRUKTUR BAWAH

STRUKTUR ATAS PRESTRESS BOX GIRDER PIER HEAD

KOLOM PIER PERSEGI PILE CAP

Notasi (m) Notasi (m) Notasi (m) Notasi (m)

b1 3 h1 1 b2 2 Lc 5.5

b2 2 h2 1 Tinggi Pier = 9.5 m

L1 2.3 Lp 6.6

Notasi (m) Notasi (m)

hp 1 Bx 10

ht 2 By 12

Balok Pier Kolom Pier

Pile-cap

(6)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6

Tulangan Pier = 84 D32 Tulangan tekan Pier = 42 D32 4.9.2 Penulangan Kolom Pier

Tulangan Kolom = 84 D32 4.9.3 Penulangan Poer/ Pile Cap

Tulangan Poer = 384 D32 Jarak antar tul. = Ø32 – 100 ,,

3.9 Metode Balance Cantilever dengan Launching Gantry

Metode ini menggunakan beton precast (fabrikasi). Pada metode ini digunakan launcher. Berikut langkah-langkah pelaksanaan Sistem Kantilever menggunakan launcher (Asiyanto, 2005) :

a. Selesaikan terlebih dahulu bagian abutmen dan pilar jembatan.

b. Pemasangan segmen dengan cara precast menggunakan launcher dan perancah.

c. Dilakukan pemasangan segmen secara bertahap, yang sementara ditahan dengan perancah.

d. Setelah kekuatan beton cukup, dilakukan stressing pada tendon kantilever pada segmen tersebut untuk mengimbangi berat sendiri box girder pada saat pelaksanaan dengan bantuan tendon temporary.

e. Dilakukan pada bagian yang sama atau dapat dilakukan bersamaan saat dilakukan pada sisi yang lainnya.

f. Dilakukan penyambungan cor pada tengah bentang.

5.1 Ringkasan

1. Tegangan yang terjadi dikontrol sesuai urutan pelaksanaan yang disyaratkan SNI T-12-2004 yaitu kontrol tegangan akibat tahap kantilefer yang semuanya telah sesuai dengan syarat tegangan saat transfer yaitu

σ

tekan

<

23,4 MPa dan

σ

tarik

>

0 MPa.

Kemudian dilakukan kontrol tegangan akibat beban mati tambahan dan beban lalu lintas pada semua kombinasi pembebanan, serta akibat kehilangan pratekan, yang semuanya sesuai dengan syarat tegangan saat service yaitu

σ

tekan

<

27 MPa dan

tarik

>

σ

0 MPa.

2. Kontrol kekuatan dan stabilitas terhadap momen retak, momen batas dan lendutan telah memenuhi syarat yang ditetapkan. dan kontrol torsi tidak diperlukan tulangan torsi.

3. Lendutan yang terjadi dikontrol pada beberapa kondisi yaitu saat transfer pada saat beban yang berpengaruh adalah beban mati dan gaya pratekan akibat tendon kantilefer, serta pada saat service pada saat beban yang berpengaruh adalah beban mati tambahan, beban hidup, dan gaya pratekan tendon kantilefer dan tendon menerus, serta kehilangan pratekan yang telah terjadi pada tendon kantilefer maupun menerus.

4. Perhitungan geser didasarkan pada retak geser badan (Vcw) dan retak geser miring (Vci). Hasil perhitungan Vcw dan Vci dibandingkan yang paling menentukan untuk perencanaan tulangan geser.

5.2 Saran

1. Penggunaan metode pelaksanaan dengan alat launching gantry sebaiknya dicek pengaruhnya terhadap struktur jembatan. Besarnya pengaruh tersebut dalam memberikan tambahan beban pada struktur jembatan perlu diketahui secara pasti.

2. Kontrol tegangan dan analisa yang didapatkan sebaiknya dicek terhadap berbagai jenis kombinasi pembebanan yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Badan Standardisasi Nasional Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SNI T-12-2004), 2004

[2] Badan Standardisasi Nasional. Standar Peraturan Pembebanan untuk Jembatan (RSNI T-02-2005), 2005.

[3] Departemen Pekerjaan Umum Bina Marga, Bridge Management System (BMS) Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, 1992

[4] Lin Ned, T.Y., dan Burns, 1996. N.H., Desain Struktur Beton Prategang Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.

[5] Nawy, Edward G, 2001 Prestressed Concrete : A Fundamental Approach, 2nd Edition, Prentice Hall, New Jersey.

[6] Purnowo, Rahmat., 2005. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa, Surabaya: ITS Press.

[7] Sigit Sidharta, Ananta., 2004. Modul Mekanika Teknik Statis Tak Tentu, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

[8] Supartono, F.X, 1996. Jembatan Segmental Beton Pratekan dengan Cara Kantilever, Short Course Perencanaan dan Teknologi Konstruksi Jembatan, Semarang.

[9] Budi Adi, Andri, 2008. Desain Praktis Beton Prategang, Jakarta

[10] Tabel VSL Indonesia [11] Materikulasi Pondasi Dalam

Gambar

Gambar 2.6  Sistem launching gantry (Sumber : VSLID)  2.9  Perencanaan Pier dan Pondasi
Gambar  Tendon Kantilever  Perhitungan pada pemasangan segmen 11 dan 14 :  Digunakan tendon strand seven wires stress relieved :
Gambar  penulangan Lentur pada penampang  4.6  Perencanaan Tulangan Geser
Gambar  Letak pengunci joint antar segemen

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang diatas maka permasalahan yang akan timbul adalah bagaimana mendesain ulang sebuah jembatan yang sudah jadi, dengan mengganti materialnya

Abu terbang (fly ash) yang memiliki sifat mekanik yang lebih unggul daripada alumunium dengan densitas yang ringan, cocok digunakan sebagai penguat..

Berdasarkan hasil survei dan analisis data, diperoleh headway untuk arah Krian-Sidoarjo pada hari Minggu pagi sebesar 2,96 menit sedangkan pada Minggu sore sebesar

Perancangan algoritma sistem kontrol proses pembuatan exhaust camshaft TR-Kai part pada mesin bubut CNC “ILA-0007” dapat digunakan dalam proses produksi engine TR-Kai

Agar proses analisa yang dilakukan lebih focus, maka perlu diberikan beberapa batasan permasalahan antara lain massa dan panjang lengan hanya divariasikan sebanyak

Sebagai referensi untuk proteksi dengan arus paksa untuk struktur (pipa) yang kontak dengan air laut, kebutuhan arus proteksi untuk pipeline baja karbon rendah (API 5 L

Dari pengamatan kerusakan akibat korosi yang terjadi pada pressure vessel serta dengan mencocokkan kriteria dari RBI 581, thinning pada peralatan tersebut

Dari hasil kuisioner yang telah diolah, maka akan didapatkan nilai pengaruh terhadap nilai mata kuliah tiap semester menggunakan Fuzzy Quantification Theory I.. Setelah