QBD 2
Topik :
Metode Identifikasi: Primer dan SekunderNarasumber :
Prof. Dr.drg. Elza Auerkeri MBiomed drg Nurtami S,PhD
drg. Mindya Yuniastuti, Ms Pertanyaan :
1. Jelaskan tentang berbagai metode identifikasi.
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan metode identifikasi primer dan sekunder serta berikan contoh kasusnya masing-masing di bidang Odontologi Forensik.
3. Jelaskan apa yang dimaksud sidik bibir, klasifikasi, metode pengambilan dan cara analisisnya.
4. Jelaskan apa yang dimaksud sidik palatal, klasifikasi, metode pengambilan dan cara analisisnya.
5. Jelaskan apa yang dimaksud sidik DNA, serta sebutkan apa saja yang dapat menjadi barang bukti DNA dari rongga mulut (gigi,saliva, mukosa), metode pengambilan DNA, dan cara analisisnya.
Referensi
1. INTERPOL. Disaster Victim Identification Guide [Internet]. 2014. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15003161%5Cnhttp://cid.oxfordjournals.org/looku p/doi/10.1093/cid/cir991%5Cnhttp://www.scielo.cl/pdf/udecada/v15n26/art06.pdf
%5Cnhttp://www.scopus.com/inward/record.url?eid=2-s2.0-84861150233&partnerID=tZOtx3y1
2. Taylor J. Forensic Odontology: Principles and Practices. UK: John Wiley & Sons; 2016. 3. Senn DR, Weems RA. Manual of Forensic Odontology. 5th ed. Boca Raton: Taylor &
Francis Group; 2013.
4. Adams, Catherine. Forensic Odontology: An Essential Guide. UK: John Wiley & Sons; 2014.
5. Rachana V. A study of lip print pattern in goan dental students-a digital approach. J Forensic Leg Med. 2012;19:390–5.
6. Dineshshankar J, Ganapathi N, Yoithapprabhunath R. Lip prints: Role in forensic odontology. J Pharm Bioallied Sci. 2013;5(1):95–7.
7. More C. Cheiloscopy: a review. Indian J Forensic Med Toxicol. 2009;
2012;4(1):47–52.
9. Prabhu R. Collection of lip print as a forensic evidence at the crime scene- an insight. J oral Heal Res. 2010;1(4).
10. Paliwal A, Sangeeta W, Parwani R. Palatal rugoscopy: Establishing identity. J Forensic Dent Sci. 2010;2(1):27–31.
11. Thabitha R, Reddy R, Manjula M. Evaluation of palatal rugae pattern in establishing identification and sex determination in Nalgonda children. J Forensic Dent Sci. 2015;7(3):232–7.
12. Shetty D, Juneja A, Jain A, Khanna K. Assessment of palatal rugae pattern and their reproducibility for application in forensic analysis. J Forensic Dent Sci. 2013;5(2):106–9. 13. Singh B, Batth N, Singh K, Kaur H. Palatal Rugae: A finger print of oral cavity.
14. Kaur J, Rai B. Evidence-Based Forensic Dentisty. Berlin: Springer; 2013.
15. Haechandani N, Marathe S, Rochani R, Nisa S. Palatal Rugoscopy: A new era for forensic identification.
16. Datta, Pankaj, Bhargava, Pooja, Deepak. DNA Profilling. J indian Acad forensic Dent. 2012;34:156–9.
Produk :
Metode Identifikasi: Primer dan Sekunder
Korban bencana massal diidentifikasi dalam basis multifaktorial. Tingkat keparahan jenazah, lama kematian, dan perubahan-perubahan yang terjadi pada jenazah mempengaruhi kondisi dan kualitas data postmortem serta penerapan metode identifikasinya. Metode identifikasi yang digunakan dalam bencana massal haruslah memiliki bukti ilmiah, reliable, dapat diaplikasikan di lapangan, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu yang proporsional. Terdapat dua metode identifikasi: primer dan sekunder.1
I. Metode Identifikasi Primer
Berdasarkan DVI Interpol (2014), metode primer dan yang merupakan paling reliable adalah analisis sidik jari, analisis perbandingan dental, dan analisis DNA.1Menurut Taylor (2016), identifikasi primer dilakukan dengan analisis visual, sidik jari, data dental, dan analisis medis antropologis.2 Senn dan Weems (2013) menyatakan analisis sidik jari, forensik odontologi, analisis dna, dan alat-alat kesehatan digunakan dalam metode identifikasi primer.3 Namun demikian, identifikasi yang hanya didasari foto sangat bersifat unreliable dan sebisa mungkin dihindari. Identifikasi visual mungkin memberikan indikasi identitas namun tidak cukup untuk memberikan identifikasi positif korban dalam skala bencana massal, karena korban biasanya mengalami trauma berat sehingga perbandingan visual hampir tidak mungkin dilakukan. Alasan lainnya juga karena kerabat seringkali tidak mampu mengatasi emosi dan stress psikologis dalam kasus keluarga meninggal dunia. Jadi, identifikasi yang hanya berdasar pada foto tidak reliable dan harus dihindari. Semua data post-mortem yang diperoleh dari jenazah nantinya dievaluasi dengan referensi pada informasi mengenai orang hilang..1
Analisis friction ridge pada permukaan jari1:
Terdapat tiga alasan mengapa sidik jari merupakan indikator identifikasi yang reliable:
1. Sidik jari sifatnya unik.
Tidak ada kesamaan absolut antar papillary ridges pada jari jemari dua orang berbeda atau dua jari yang berbeda pada orang yang sama.
Papillary ridges terbentuk pada bulan keempat di masa kehamilan dan tidak berubah bahkan setelah seseorang meninggal. Pola sidik jari akan terbentuk kembali dengan pola yang sama setelah injuri mayor. Injuri yang parah dapat mengakibatkan
timbulnya bekas luka permanen 3. Sidik jari dapat diklasifikasikan.
Karena sidik jari dapat diklasifikasikan, mereka dapat diidentifikasi dan
diatur/disusun secara sistematis dan dengan demikian dapat dengan mudah diakses kembali untuk perbandingan.
Forensik Odontologi (analisis dental)1:
Struktur dan karakteristik unik dan gigi dan rahang manusia memberikan keuntungan terhadap bidang forensik sehingga terus dipakai dan semakin berkembang sampai saat ini. Data dental dapat diperoleh pada saat pemeriksaan post-mortem dan dibandingkan dengan data ante-mortem yang didapat dari dokter gigi korban selama hidupnya. Gigi geligi terlindung di dalam rongga mulut dan mampu bertahan terhadap banyak pengaruh eksternal. Gigi memiliki kekerasan dan resiliensi tertinggi di dalam tubuh sehingga saat tubuh mulai memburuk (membusuk), karakteristik dental tetap dapat diakses dalam kondisi baik. Terlebih lagi pada korban yang menjalani perawatan gigi, seperti penambalan dan mahkota restoratif dan estetis, PSA, dan gigi tiruan, karena tiap perawatan dilakukan dan dibuat unik pada masing-masing individual sesuai bentuk gigi. Namun pada kondisi tidak ada perawatan,
1. Identifikasi (terdapat kepastian absolut data PM dan rekam AM adalah orang yang sama)
2. Identifikasi probable (Karakteristik spesifik sesuai antara rekam AM dan data PM tetapi data PM atau AM, atau keduanya jumlahnya hanya sedikit)
4. Identifikais excluded (data PM dan rekam AM berasal dari dua orang berbeda)
5. Tidak ada perbandingan yang dapat dilakukan.
Menurut ABFO2:
1. Identifikasi positif (data AM dan PM sesuai dengan detail yang cukup untuk menyimpulkan bahwa data berasal dari individu yang sama dan juga tidak ada perbedaan yang bermakna
2. Identifikasi possible (data AM dan PM memiliki ciri yang konsisten, namun, karena kualitas salah satu data, antara AM atau PM, tidak mungkin ditetapkan identifikasi positif.
3. Insufficient evidence (informasi yang tersedia tidak memadai untuk membangun suatu kesimpulan)
4. Exclusion (data AM dan PM sangat inkonsisten)
Panduan yang dibentuk oleh INTERPOL menggunakan empat kriteria yang serupa dengan ABFO guideline, namun perbedaannya ada pada identifikasi probable. Kedua guideline ini sebenarnya memberikan deskripsi bahwa kesimpulan satu dengan lainnya dibedakan dari mana yang aplikasinya lebih baik. Namun, kata-kata yang hampir mirip mungkin menciptakan kebingungan saat kondisi peradilan. Sebagai contoh, ABFO guideline menyatakan sesuai dengan “sufficient detail”, sedangkan guideline interpol menggunakan bahasa “absolute certainty”. Kedua guideline bermaksud berkata bahwa identifikasi telah berhasil, namun guideline satu hanya membutuhkan “sufficient detail”, sedangkan yang lainnya membutuhkan “absolute certainty”2
Analisis DNA1:
DNA telah terbukti sebagai sumber material yang digunakan untuk identifikasi karena bagian signifikan dari informasi genetik yang terkandung dalam sel sifatnya unik pada setiap individu spesifik, dan dengan demikian, kecuali pada kembar identik, dapat membedakan satu orang dengan lainnya. Tes DNA dapat dilakukan bahkan pada sisa-sisa bagian tubuh. Pencocokan DNA adalah cara terbaik untuk identifikasi bagian tubuh yang terpisah. Pencocokan DNA dapat dilakukan berdasarkan profil keluarga, sampel pribadi, atau barang kepunyaan. Untuk DNA profilling, dibutuhkan sampel yang dari tubuh atau bagian tubuh korban, dikirim ke laboratorium, dan dianalisis sesuai standar internasional1.
II. Metode identifikasi sekunder
dilakukan dengan terbatas atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Oleh sebab itu data-data sekunder ini tidak boleh diabaikan saat mengumpulkan data AM.1
Gambar 1.11
Informasi medik1:
Informasi medik yang dikumpulkan mungkin dapat dikategorikan dalam beberapa cara: eksternal vs. internal, kongenital vs. acquired, dan variasi normal vs. penyakit. Informasi ini biasanya diambil oleh profesi kesehatan, namun keterlibatan forensik antropologis juga disarankan.
Deskripsi personal terdiri atas data basic (umur, jenis kelamin, tinggi, suku) dan ciri pembeda lainnya. Temuan medis, seperti luka, temuan penyakit, serta pengangkatan organ merupakan informasi krusial mengenai riwayat medis korban. Tipe-tipe operasi seperti appendicectomy perlu diperhatikan. Nomor unik yang ditemukan pada heart pacemaker dan alat prostetik lainnya merupakan informasi penting. Tato, tahi lalat, dan disfiguration juga merupakan indikator identifikai.
Informasi Patologi1:
Kondisi kongenital eksternal yang dicatat adalah yang benar-benar berdeviasi dari kondisi normal yang ditemukan pada umumnya. Bentuk kepala mungkin diperlukan begitu juga dengan karakter unik pada mata. Warna mata biasanya tidak terlalu membantu dalam kondisi meninggal dunia namun bentuk pupil mungkin membantu. Bentuk dan ukuran hidung juga mungkin diperlukan. Malformasi kongenital thorax mungkin dapat dilihat secara eksternal. Pada alat gerak, terdapat variasi seperti pronounced bow knee, tidak adanya atau justru supernumerari jari jemari.
Kondisi acquired eksternal mungkin merupakan akibat dari penyakit atau juga karena operasi kostemtik. Kondisi akibat penyakit biasanya meninggalkan luka atau dan deformitas tulang. Hernia ventral dan ingual juga merupakan karakteristik lainnya. Hernia ingual meliputi tato dan tindik. Operasi kosmetik mungkin memerlukan perhatian dari ahli untuk dideteksi namun biasanya meninggalkan luka yang tersembunyi pada natural openings atau lipatan kulit. Yang paling umum adalah breast implants.
skeleton dideteksi dengan CT scan, sedangkan keunikan pada jaringan lunak membutuhkan otopsi.
Informasi antropologi1:
Forensik antropologi akan berkonsentrasi pada modifikasi jaringan keras. Mereka juga akan berkonsentrasi pada identifikasi lokasi dari riwayat fraktur bahkan jika alat ortopedik telah dimasukkan. Hal lainnya adalah pada penyakit dan trauma di skeleton dalam usaha untuk identifikasi riwayat-riwayat penyakit dan kejadian, agar terbentuk koneksi dengan rekam medik atau ingatan keluarga dengan bukti yang diambil saat post-mortem. Akses pada radiograf AM juga diperlukan.
Articles/Evidence/Clothing1:
Kategori ini mencakup seluruh efek yang ditemukan pada jenazah (perhiasan, desain baju, dan dokumen personal). Adakalanya pakaian yang ada pada korban bukan milik korban seperti misalnya dipinjami oleh orang lain atau alasan lainnya. Oleh sebab itu, perhiasan atau aksesoris yang terpasang langsung pada tubuh seperti anting atau cincin bisa membantu proses identifikasi.
Contoh kasus:
Gambar 1.24
Sidik bibir, klasifikasi, metode pengambilan dan cara analisisnya.
Sidik bibir merupakan suatu pola berupa celah atau fissure yang terdapat pada permukaan mukosa bibir. Ilmu yang memperlajari mengenai pola sidik bibi disebut cheiloscopy.5 Cheiloscopy adalah studi mengenai pola yang terbentuk dari suci laborium. Suci Laborium adalah kerutan dan sulkus di mukosa labial. Hal ini pertama kali dijelaskan oleh Fisher pada tahun 1902, dan pertama kali digunakan untuk kepentingan kriminologi oleh Edmond Locard tahun 1932 di Perancis. Di tahun 1974, Suzuki dan Tschihashi mengonfirmasi bahwa sidik bibir tetap sama setelah penyembuhan pasca trauma. Beberapa studi menerangkan bahwa sidik bibir itu unik pada setiap individu kecuali pada kembar monozigot, stabil over time, dan berbeda tiap gender.3
I. Klasifikasi Sidik Bibir
Pada tahun 1967, Santos merupakan orang pertama yang membentuk klasifikasi lip grooves. Santos membaginya menjadi empat tipe utama6:
Klasifikasi Santos I. Straight Line II. Curved Line III. Angled Line IV. Sine-Shaped line
Suzuki dan Tsuchihashi pada 1970 membentuk klasifikasi sidik bibir sebagai berikut6,7:
Klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi
Type I: A clear-cut groove running vertically across the lip.(complete vertical)
Type I: Partial-length groove of Type I.(incomplete vertical) Type II: A Branched groove.
Gambar 2.16
Gambar 2.27,8
Klasifikasi ini merupakan klasifikasi yang paling banyak digunakan untuk merekam pola bibir.
Klasifikasi sidik bibir oleh Renaud merupakan klasifikasi yang paling lengkap. Bibir dibagi menjadi dua bagian yaitu kanan dan kiri, dan setiap groovenya, berdasarkan bentuknya, memiliki kode (Seperti di tabel). L menandakan bagian atas kiri dan R menandakan bagian atas kanan. Huruf kecil untuk mengklasifikasikan tiap bentuk groovenya. Untuk bibir bawah kebalikannya, huruf kapital untuk groove, dan huruf kecil untuk bagian kanan atau kiri bibir.8
Klasifikasi oleh Afchar-Bayat (1979) adalah sebagai berikut: Klasifikasi Tipe groove
A Complete vertical B Incomplete vertical C Complete bifurcated D Incomplete bifurcated E Complete bifurcated F Incomplete branched G Reticular pattern
H X or coma form
I Horizontal
J Bentuk lain(elips, segitiga)
Klasifikasi Tipe groove
A1 Vertical and straight grooves, covering the whole lip A2 Like the former, but not covering the whole lip B1 Straight branched grooves
B2 Angulated branched grooves
C Converging grooves
D Reticular pattern grooves
II. Metode Pengambilan dan Pendokumentasian Sidik Bibir
Individu yang diduga sebagai orang yang meninggalkan sidik bibir, harus diperiksa dan dianalisis sidik bibirnya. Pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir dapat dilakukan secara langsung. Untuk mendapatkan hasil yang optimal pemilihan metode pengambilan sidik harus dilakukan dengan benar. Metode pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir telah dikembangkan dari waktu ke waktu sejak tahun 1970. Suzuki mengembangkan tehnik pengambilan sidik bibir dengan menggunakan lipstik, Tsucihashi mengembangkan teknik fotografi, lalu kemudian seiring kemajuan teknologi, Munakhir dan Vorghese mengembangkan teknik pengambilan sidik bibir dengan menggunakan bahan cetak kedokteran gigi. Berbagai metode pengambilan sidik bibir yang telah dikembangkan saat ini memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Diharapkan dokter gigi maupun tenaga medis lain dapat memilih metode yang paling sesuai untuk mendapatkan hasil sidik bibir yang optimal sehingga dapat menunjang proses identifikasi individu.
a. Metode pengambilan dan dokumentasi7
Berikut ini hal yang dapat dilakukan untuk merekam sidik bibir di lokasi kejadian: i. Foto langsung jika sidik bibir ada di permukaan kaca
Sidik bibir dapat didokumentasikan secara langsung dengan menggunakan foto konvensional maupun foto digital. Pemanfaatan foto digital lebih sering digunakan karena hasilnya dapat dilihat langsung sehingga pengambilan foto dapat diulang jika hasilnya kurang bagus. Selain itu hasil foto dapat dilakukan perbaikan kualitas gambar dengan menggunakan beberapa bantuan software seperti Adobe Photoshop. Tsucihasi merupakan salah satu peneliti yang mengembangkan metode fotografi untuk pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir dengan menggunakan kamera medical Nikkor F200.
ii. Penggunaan fingerprint powder
bibir laten tersebut, ditaburkan bubuk sidik jari, lalu diratakan dengan menggunakan kuas sampai terlihat sidik bibir yang menempel pada kertas tersebut.
iii. Penggunaan lipstik
Metode pendokumentasian dan pengambilan sidik bibir menggunakan lipstick dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode single motion dan metode Prabhu. Dalam metode single motion dibutuhkan beberapa alat dan bahan antara lain, lipstik berwarna merah, selotif transparan lebar 0,9 cm, gunting, kertas putih polos, kaca pembesar dan kertas tissue. Sedangkan pada metode Prabu diperlukan alat dan bahan antara lain kertas putih, lipstick, glass plate, dan kaca pembesar.
Tahapan pengambilan dan pendokumentasian sidik bibir dengan menggunakan metode lipstik yaitu, lipstik dioleskan pada bibir subyek secara merata, kemudian selotif ditempelkan pada bibir yang telah diolesi lipstik, lalu ditekan secara perlahan setelah itu selotif ditarik satu arah, dari kanan ke kiri atau kiri ke kanan.
Perbedaan antara metode single motion dan metode prabu terletak pada cara penempelan selotif ke bibir subjek, jika pada metode single motion selotip ditempelkan searah dari arah kanan ke kiri atau sebaliknya kemudian selotif dilepas searah, akan tetapi jika metode prabu, selotif ditempelkan pada bibir bagian tengah kemudian baru selotif ditekankan pada bibir bagian kanan dan kiri.
iv. Penggunaan bahan cetak gigi (polyvinyl siloxane v. Penggunaan aquaprint dan cyanoacrylamide vi. Penggunaan fluorescent dyes
b. Analisis Sidik Bibir7,9
i. Semua sidik bibir yang ada itu penting, bahkan yang tidak terlihat. Bagian vermilion border pada bibir memiliki kelenjar saliva minor dan kelenjar sebaceous, yang dapat melembabkan sehingga membuat lip prints menjadi laten/tidak terlihat/tersembunyi.
iii. Pemrosesan lip prints tergantung anatomi, morfologi, dan histologi jaringan pada bibir.
iv. Tahap pertama membuat foto dari lip prints agar ada bukti. Foto juga setiap langkah yang dilakukan
v. Kemudian observasi menggunakan sinar putih dan sinar UV
vi. Jika lip prints ada di permukaan non porus maka foto diperbesar lalu kemudian lakukan tracing
vii. Dalam kondisi lain, sidik bibir dilapisi dengan bahan yang memungkinkan dilakukannya observasi langsung dan foto
b. Keuntungan dan kelemahan metode pengambilan sidik bibir dengan foto Keuntungan:
i. Hasil dokumentasi sidik bibir tahan lama sehingga dapat digunakan sebagai second opinion dikemudian hari
ii. Proses pengambilan praktis dan tidak membutuhkan waktu yang lama iii. Dapat diaplikasikan pada beberapa subjek masal
Kelemahan:
i. Masih belum ada standar baku SOP teknik fotografi
ii. Jika foto kurang maksimal, akan menyulitkan dalam analisa iii. Alat dan bahan yang digunakan mahal
c. Keuntungan dan kelemahan metode pengambilan sidik bibir dengan lipstik
Keuntungan:
i. Bahan yang digunakan tidak mahal ii. Mudah dan praktis untuk diaplikasikan
iii. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengaplikasikannya Kerugian:
i. Belum terdapat standar warna yang baku dari lipstik yang digunakan ii. Tidak semua subjek mau diaplikasikan lipstik, terutama laki-laki
IV. Keterbatasan Sidik Bibir
V. Pola Sidik Bibir dalam Identifikasi Jenis Kelamin
Identifikasi sidik bibir lebih mudah dilakukan pada kelompok usia 20-40 tahun karena perubahan usia dapat mempengaruhi ukuran dan bentuk bibir sehingga dapat mengubah bentuk pola sidik bibir yang dihasilkan. Berdasarkan klasifikasi oleh Suzuki :
i. Pola sidik bibir pada tipe I merupakan pola sidik bibir yang paling banyak muncul pada kelompok jenis kelamin pria
ii. Pola IV merupakan sidik bibir yang paling banyak ditemukan pada jenis kelamin perempuan.
Sidik palatal, klasifikasi, metode pengambilan dan cara analisisnya: I. Sidik Palatal
Memperkirakan identitas korban dapat menjadi proses yang sangat sulit dalam identifikasi forensik. Perbandingan bukti dental, sidik jari, dan DNA merupakan teknik paling umum yang digunakan dalam konteks ini. Namun demikian, adakalanya teknik tersebut tidak dapat digunakan sehingga teknik yang simpel terkadang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi dengan sukses, seperti palatal rugoscopy¸yang merupakan studi mengenai palatal rugae.10
Palatoscopy, atau palatal rugoscopy, merupakan studi mengenai rugae palatina guna mengidentifikasi identitas seseorang. Palatal rugae seringkali dibandingan dengan sidik jari.11 Palatal rugae (rugae palatina) dapat ditemukan pada bagian anterior mukosa palatal di kedua sisi median palatal raphe meluas dari papila insisivus, posterior dari papila insisivus dan gigi insisif sentral maksila. Kerutan-kerutan (ridges) ini terdiri atas lipatan
anatomis pada jaringan lunak palatum dan tersusun oleh jaringan ikat fibrosa.3,10,12 Secara anatomis, rugae-rugae tersebut memiliki 3-7 lipatan/kerutan yang keras dan oblik. Fungsi ruga palatina adalah untuk memfasilitasi transport makanan dan
membantu pengunyahan. Selain itu, dengan adanya reseptor gustatori dan taktil pada ruga palatal, maka ruga palatal juga berkontribusi dalam persepsi rasa, posisi lidah, dan tekstur makanan.3,13
Telah ditemukan bahwa palatal rugae memiliki morfologi yang sangat individualistik dan bentuk yang konsisten sepanjang hidup individu.3,10–12 Studi juga menunjukkan pola palatal rugae adalah unik untuk setiap manusia, bahkan pada kembar identik. Setelah terbentuk pada minggu ke 12 sampai 14 kehidupan prenatal, palatal rugae tetap stabil dan tidak mengalami perubahan kecuali dalam hal ukuran panjangnya yang dikarenakan pertumbuhan normal, dan akan terus berada di posisi yang sama sepanjang hidup seseorang. Adanya penyakit, agresi kimiawi, ataupun trauma nampaknya tidak mengubah pola palatal rugae. Perubahan yang terjadi akibat pergerakan ortodontik, ekstraksi, penuaan, dan ekspansi palatum tidak cukup signifikan untuk menghambat identifikasi dengan rugae palatina. Penelitian yang dilakukan oleh Hemanth et al. (2010) menunjukkan kurang dari 1% kesalahan terjadi saat menggunakan software komputer untuk membandingan rugae dalam identifikasi manusia.3,14
a. Klasifikasi Gloria (1911)
Kasifikasi ini merupakan sistem klasifikasi ruga palatina pertama namun merupakan suatu error. Pola ruga dikategorikan dalam dua cara: menspesifikasikan jumlah ruga dan menspesifikasikan perluasan zona ruga relatif terhadap gigi. Pada sistem ini, gabungan 2 atau lebih cabang ruga dihitung menjadi satu, baik berbentuk V ataupun Y. Goria kemudian membedakan dua tipe tersebut sebagai: tipe simpel/primitif, dan tipe kompleks (developed).
b. Klasifikasi Lopez De Leon (1924)
Berawal dari 1924, klasifikasi ini hanya memiliki relevansi sejarah. Penulis mengajukan hubungan antara personality seseorang dengan morfologi ruga palatinanya. Dalam hal ini, disusun 4 tipe ruga berbeda.
Tipe Rugae Palatina B-bilious personality rugae N-nervous personality rugae S-sanguinary personality rugae L-lymphatic personality rugae
Huruf B,N,L,dan S merupakan singkatan dari personality yang berbeda-beda. Huruf l dan r merupakan sigkatan dari left dan right mengindikasikan lokasi ruga, dan kemudian diikuti angka mengindikasikan nomor ruga di tiap sisi.
c. Klasifikasi Trobo (1932)
Klasifikasi ini membagi ruga ke dalam dua kelompok: simple ruga, diklasifikasikan sebagai A-F, dan composed rugae¸ diklasifikasikan sebgai huruf X. Composed rugae merupakan gabungan dari 2 atau lebih simple rugae.
Klasifikasi Tipe Ruga
Tipe A Point (Titik)
Tipe B Line (Garis)
Tipe C Curve (Kurva)
Tipe D Angle (Bersudut)
Tipe E Sinuous
(Bergelombang)
d. Klasifikasi Carrea (1937)
Klasifikasi Carrea merupakan salah satu klasifikasi yang digolongkan berdasarkan arah. Arah rugae palatina ditentukan dengan mengukur sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan asal dan akhir terhadap garis tegak lurus ke median raphe.
Klasifikasi Karakteristik Simbol Keterangan
Tipe I Posterior-anterior PA Sudut positif
Tipe II Perpendikular P Sudut nol
Tipe III Anterior-posterior AP Sudut negatif
Tipe IV Berbagai arah R
e. Klasifikasi Da Silva (1938)
juga mendeskripsikan seluruh sistem ruga palatina (deskripsi tiap ruga berdasarkan nomornya), sehingga klasifikasi ini sulit untuk digunakan.
Klasifikasi Tipe Ruga 1 Line (Garis)
2 Curve (Kurva)
3 Angle (Bersudut) 4 Circle (Sirkular) 5 Wavy (Bergelombang) 6 Point (Titik)
f. Klasifikasi Martin Dos Sontos (1946)
Berdasarkan bentuk dan posisi setiap ruga palatal, klasifikasi ini berisi:
1. Satu rugae initial: Pada rugae palatina di sisi kanan, rugae palatina yang terletak pada posisi paling anterior diberi simbol dengan huruf kapital, sedangkan
2. Beberapa rugae complimentary: rugae dengan posisi lainnya pada sisi kanan diberikan simbol angka, begitu juga dengan
3. Satu rugae subintial: rugae palatina di sisi kiri, pada rugae palatina yang posisinya terletak paling anterior diberi simbol huruf kapital sedangkan
g. Klasifikasi L.Lysell (1955)
Klasifikasi L.Lysell pada tahun 1955 merupakan klasifikasi yang paling penting dan telah banyak digunakan. Klasifikasi ini bersifat komprehensif dan mencakup pula inter rugae (IR). Rugae diukur dalam garis lurus antara titik awal sampai titik akhir dan dikelompokkan dalam 3 kategori:
Klasifikasi Karakteristik Simbol
Primary ≥5mm Pr
Secondary 3-5mm Sc
Fragmented 2-3mm Fg
Rugae yang panjangnya kurang dari 2 mm tidak diperhitungkan. Klasifikasi ini merupakan versi simpel dari rugae seharusnya. Klasifikasi ini kemudian dikembangkan oleh Thomas dan Kotze.
h. Klasifikasi Basauri (1961)
Seperti klasifikasi Trobo, klasifikasi ini sangat mudah digunakan. Klasifikasi ini membedakan antara ruga prinsipal (utama), mana yang lebih anterior (dilabeli dengan huruf), dan ruga aksesoris (tambahan) yang merupakan ruga selain yang anterior (dilabeli dengan angka)
Principal Rugae Classification
Accesoory Rugae Classificaion
Rugae Anatomy
A 1 Point
B 2 Line
C D
3 4
E
Klasifikasi ini terdiri atas empat tipe utama: punctate, straight, curved, dan composite.
j. Klasifikasi Tzatsheva dan Jordanov (1970)
Klasifikasi ini membagi ruga berdasarkan arah, percabangan, kesimetrisan, dan radialitas.
k. Klasifikasi Sistem Cormoy
Sistem ini mengklasifikasikan ruga palatal berdasarkan ukurannya:
Kriteria Ukuran
Principle Rugae Lebih dari 5 mm
Accessory Ruga 3-4mm
Fragmental Rugae Kurang dari 3 mm
l. Klasifikasi Thomas dan Kotze (1983)
Klasifikasi Thomas dan Kotze merupakan salah satu klasifikasi yang cukup sering digunakan. Thomas dan Kotze pada tahun 1983 memberikan detail lanjutan mengenai primary rugae pada klasifikasi oleh Lysell. Detail tersebut termasuk di dalamnya, yaitu branched, unified, cross-linked, annular, dan papillary. Klasifikasi Thomas CF dan Kotze TFW ini membedakan pola rigi tiap individu, klasifikasi tersebut meliputi jumlah, panjang, bentuk, dan unifikasi dari ruga.
*Journal of Forensic Dental Science
III. Analisa dan Pencatatan Ruga Palatal14
Ada beberapa metode dalam menganalisis ruga palatal, yaitu:
a. Pemeriksaan intraoral mungkin merupakan metode yang paling banyak digunakan dan juga paling mudah dan paling murah. Hanya cukup menggunakan kaca mulut maka dapat terlihat gambaran ruga palatal seseorang. Namun, merode ini memberikan kesulitan jika hendak membandingkan antara ruga palatal satu individu dengan individu lain. Oleh sebab itu, dibutuhkan metode yang lebih detail, tepat, dan akurat.
b. Membuat fotografi oral dapat dilakukan dengan menggunakan kamera intraoral. Cara ini memungkin perbandingan satu individu dengan individu lainnya.
kaliper atau penggaris (contoh penggaris Kenson). Untuk analisis perbandingan dibuat calcorrugoscopy, atau overlay print rugae palatal pada cast maksila. Dengan menggunakan stereoscopy, penguji dapat memperoleh gambaran tiga dimensi anatomi ruga palatina dengan menganalisis dua gambar yang diambil dari kamera yang sama dari sudut yang berbeda dengan alat khusus. Teknik lainnya adalah stereophotogrammetry yang menggunakan alat khusus, seperti traster marker, yang menentukan posisi dan panjang masing-masing ruga palatina. Teknik yang paling sering digunakan adalah cetakan model rahang atas karena kesederhanaan teknik, harga, dan reliabilitasnya.
IV. Metode Baru Analisis Ruga Palatal14
Terdapat software khusus yang disebut Palatal Rugae Comparison Software (PRCS 2.0). Titik awal dan titik akhir ruga palatal ditandai pada foto klinis dengan menggunakan software Paint 5.1. Proses penandaan titik tersebut adalah sebagai berikut: pertama, ujung dari papila insisif, kemudian masing-masing ruga ditandai oada bagian tengan dan ujung lateral. Tandai ruga sisi kiri sebelum menandai sisi kanan. Tanda-tanda ini akan diproses dengan software dan informasinya disimpan berurutan sesuai dengan posisi pixel. Semua foto disimpan di dalam softwar. Kemudian foto-foto yang sama dimuat ke software satu per satu. Setelah menandai titik pada foto kedua, software akan mencari persamaan dengan foto-foto sebelumnya
V. Kekurangan Rugoscopy14
a. Identifikasi postmortem tidak mungkin dilakukan bila tidak ada catatann antemortem
b. Pola ruga yang kompleks dapat meyebabkan intra atau interobserver error c. Telah dilakukan penelitian bahwa gigi yang aus, malposisi, dan adanya
patologi palatal dapat menyebabkan perubahan pola ruga
d. Pola ruga ditentukan secara genetik sehingga dapat digunakan dalam mendiferensiasi populai dan juga mengidentifikasi individu
e. Pada kasus yang melibatkan api, ruga palatal bisa saja hancur
g. Posisi palatal ruga yang berada di dalam rongga mulut membuat analisa terhadapnya tidak memainkan peranan dalam penyelidikan kejahatan untuk menghubungan korban dengan pelaku
h. Ruga palatal tidak dapat digunakan untuk menentukan paternitas/keturunan i. Bukti yang hanya berasal dari hanya berasal dari analisa ruga palatal saja tidak
cukup untuk bisa mengidentifikasi positif seseorang. Dibutuhkan dukungan data-data dari metode identifikasi lainnya seperti gigi, tulang, atau DNA. j. Banyaknya klasifikasi ruga palatal. Perlu dilakukan konsensus mengenai
klasifikasi yang dipakai dalam rugoskopi.
VI. Penggunaan Rugoscopy pada Forensik Odontologi14 a. Identifikasi
Thomas dan van Wyk (1987) dengan sukses mengidentifikasi jasad yang telah terbakar dengan parah dengan membandingkan pola gigi tiruan lama korban b. Grup etnis
Terdapat hubungan signifikan antara pola ruga dengan etnis. Kapali et al meneliti pola ruga palatal suku aborigin australia dengan kulit putih. Mereka memeriksa jumlah, ukuran panjang, bentuk arah, dan unifikasi ruga. Mereka menyimpulkan bahwa rata-rata jumlah ruga primer pada suku aborigin lebih banyak dibandingkan orang kulit putih meskipun orang kulit putih memiliki lebih banyak ruga primer yang panjangnya lebih dari 10mm. Bentuk ruga paling umum pada kedua etnis ini adalah wavy dan curved. Bentuk straight dan circular jarang ditemukan. Anak-anak jepang memiliki lebih banyak ruga primer dibandingkan dengan anak-anak di India, tetapi kedua kelompok tersebut memiliki jumlah ruga palatial transversal yang sama. Ruga lurus jarang ditemukan pada populasi India Utara. Penelitian oleh Shetty et al yang memandingkan populasi dari Mysorean (India) dan Tibet juga menunjukkan adanya perbedaan pola ruga palatal berdasarkan ras.
c. Sex determination
Insidensi ruga lurus lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria, ruga wavy lebih banyak ditemukan pada laki-laki
d. Difference between edentulous and denture
Ciri yang lebih dominan ditemukan pada individu yang lebih tua adalah ruga yang lebih sedikit, lebih pendek, lebih tidak kompleks, dan posisinya lebih anterior-lateral.
I. Teknologi DNA dan forensik odontologi
Peran signifikan forensik kedokteran gigi dalam identifikasi manusia, khususnya ketika terdapat bukti yang kurang untuk melakukan identifikasi (contohnya pada tragedi kebakaran, ledakan, tubuh yang terdekomposisi, atau hanya tinggal kerangka) telah membuat ahli odontologi forensik lebih familiar dengan teknologi biologi molekular. Identifikasi korban bencana masal biasanya dilakukan oleh tim yang terdiri atas polisi, ahli odontologi forensik, dokter, dan patologis dengannn membandingkan data antemortem dengan data postmortem korban. Pada banyak kasus, investigasi odontologi forensik gagal karena kurangnya data antemortem. Apabila tidak tersedia data antemortem, identifikasi yang tepat sulit untuk dilakukan, dan hanya DNA profiling system yang dapat mengidentifikasi seseorang dengan tepat. Karena sifat jaringan dental yang tahan terhadap lingkungannya (seperti pembakaran, perendaman, trauma, mutilasi, dan dekomposisi), gigi merupakan sumber DNA yang baik. DNA yang didapat dari gigi korban yang belum teridentifikasi akan dibandingkan dengan DNA dari sampel antemortem seperti darah, sikat gigi, sisir, pakaian, sel bukal dengan DNA-SALTM, cervical smear, biopsy, atau DNA orang tua atau saudara.2,4,14
II. Panduan Pengambilan DNA Dental3,14
Berikut adalah panduan pengambilan DNA dental:
a. Tentukan apakah terdapat jaringan lunak atau darah yang menempel dengan gigi yang harus dijadikan sampel.
b. Bersihkan gigi dari plak atau kalkulus dengan kuret dan bersihkan dengan hidrogen peroksida diikuti etanol.
c. Apabila gigi utuh dan diperkirakan belum lama dicabut, dapat dilakukan akses dan instrumentasi endodontik
d. Memotong gigi memberikan akses yang lebih besar ke pulpa.
e. Setelah gigi terbuka, dinding pulpa dapat dikuret dengan bur. Kemudian jaringan pulpa dapat diambil dengan tube steril.
f. Pada kasus spesimen keting, pulpa dapat termumufikasi. Setelah instrumentasi, ruang pulpa diirigasi dengan larutan buffer. Selanjutnya, ultrafiltrasi (penyaringan) dari larutan akan didapat materi sel yang dibutuhkan untuk analisis..
g. Terakhir, gigi mungkin harus dihancurkan.
I. DNA dari Gigi
Gigi dikenal akan kemampuannya bertahan dari kebanyakan kejadian postmortem, termasuk kejadian dekomposisi natural dan autolisis, kejadian lingkungan seperti perendaman (immersion), penguburan (burial), dan api hingga 1.100 oC. Di dalam gigi, dentin dan pulpa merupakan sumber kaya DNA, yang dapat diambil dengan sukses. Jumlah DNA yang memadai dapat diambil dari mahkota, akar, dan ujung akar gigi (akar merupakan area yang memiliki DNA yang paling banyak). Sel-sel neurovascular pada pulpa dan odontoblas, yang tertanam pada lapisan predentin dan terperangkap saat mineralisasi di tubulus dentin, terbukti menjadi sumber penting bukti DNA ketika jaringan tubuh lainnya telah hancur atau hilang.3,14
Metode ekstraksi DNA dari gigi:
Washington. Teknik ini juga digunakan oleh militer Amerika untuk mengidentifikasi pasukan yang hilang saat bertugas dan pada kasus masal dimana gigi diambil dan mungkin hanya gigi tersebut yang diberikan kepada anggota keluarganya.3,14
Metode yang lebih tidak destruktif seperti yang dilakukan oleh Krzyzanska, menggunakan microfluidic pump untuk membilas sel gigi dengan membilas pulpa dari orifis ke lubang kecil di permukaan oklusal. Metode ini memungkina recovery DNA tanpa merusak gigi.3,14
Selanjutnya, Sweet menyarankan penghancuran (crushing) atau penghalusan (grinding) seluruh gigi menjadi bubuk/serbuk halus akan memberikan jumlah kuantitas DNA maksimal. Metode ini akan mendapatkan DNA dari sisa-sisa sel pulpa dan sel-sel pada jaringan keras.3,14
Tsuchimochi et al (2002) menganalisa Chelex 100 chelating resin untuk mengekstrak DNA dari pulpa untuk selanjutnya diaplikasikan pada analisis PCR. Mereka menemukan bahwa ekstraksi DNA dari pulpa menggunakan resin ini akan mendapatkan sampel DNA dengan kualitas tinggi untuk PCR amplification. Pulpa memberikan sinyal PCR amplification terkuat, sedangkan sinyal dentin dan sementum hampir sama satu sama lain. Pada studi lainnya, profil DNA didapatkan pada 4 dari 5 sampel teruji yang tersusun oleh 250 μl deposit saliva dalam kulit.3,14
II. DNA dari Saliva3,14
Ahli forensik odontologi juga harus ditanyakan mengenai rekomendasi terhadap masalah megenai karakter biologis mukosa oral dan DNA saliva. DNA saliva dapat ditemukan di berbagai tempat seperti objek mati, termasuk pakaian, makanan, produk tembakau, alat kebersihan oral, tempat minum, protesa dental, perangko, dan amplop.
DNA saliva dari lokasi bitemarks:
Saliva keluar dari tiga kelenjar saliva mayor dan ratusan kelenjar kecil lainnya yang menyebar pada regio orofaringeal. Lebih dari 2/3 dari 1-1.5 L saliva yang diproduksi keluar dari kelenjar submandibular, sedangkan kelenjar parotid menghasilkan 25% dari total volume, dan kelenjar sublingual hanya 5%. Komposisi biologis cairan saliva berbeda tergantung pada kelenjar yang mensekresi, dan volume saliva yang disekresi bervariasi sesuai dengan stimulasi fisiologis atau kondisi medis dan farmakologis seseorang. Namun secara umum, sekresi saliva paling banyak saat makan.
mengidentifikasi adanya stain saliva. Meskipun amilase ditemukan juga pada cairan tubuh lainnya, amilase paling banyak ditemukan di saliva, 50 kali lebih banyak dibanding sumber lainnya.
Amylase-dependent forensic screening test makin banyak tersedia. Beberapa uji ini sangat spesifik dan berfokus pada enzim α-amylase saliva manusia. Uji yang lebih umum akan berubah warna ketika mendeteksi aktivitas amilase, menandakan adanya saliva.
Visual screening noda saliva dilakukan dengan cahaya khusus. Cahaya ultraviolet dapat digunakan untuk melihat adanya cairan biologis, akan tetapi, cahaya ultraviolet gelombang rendah berbahaya bagi kesehatan dan dapat mengganggu molekul DNA dan mengurangi kemampuan untuk melakukan uji DNA. Cahaya alternatifnya, seperti laser yang difilter sehingga menghasilkan satu gelombang dapat digunakan untuk screening saliva, termasuk pada kulit. Kelebihan dari sumber cahaya alternatif ini adalah sampel DNA tidak terganggu.
Komponen selular yang ada di saliva yang membuatnya menjadi sumber DNA. Ssel-sel ini tidak diproduksi oleh kelenjar saliva, melainkan terdapat pada lingkungan mulut dan bergabung dengan saliva. Contohnya, sel mukosa oral lepas dan bergabung ke saliva ketika pergantian sel dan aktivitas masktikasi.
Sweet et al memngajukan teknik double-swabbing pada tahun 1997, yang kemudian membantu membangun standar praktik pengambilan DNA di kulit.Tekniknya dalah sebagai berikut:
a. Lembabkan ujung cotton swab dengan air suling steril.
b. Gulungkan swab pada area yang terdapat saliva dengan tekanan sedang dan gerakan melingkar.
c. Biarkan swab pertama ini kering pada lingkungan bebas kontaminasi selama setidaknya 30 menit.
d. 10 detik setelah menyelesaikan swab pertama, gulungkan ujung swab kedua yang kering pada area yang telah lembab tadi.
e. Lakukan gerakan memutar dengan tekanan ringan untuk menyerap air dari kulit ke swab kedua.
g. Setelah kering, kedua swab disimpan, ditutup, dan ditandai dengan nomor.
h. Sampel dikirim ke laboratorium.
Karena kulit korban juga mungkin ikut terambil sebagai sampel DNA, perlu diambil sampel eliminasi DNA korban untuk mengeliminasi hasil dari prosedur double-swab. Sampel korban dapat diambil dari darah, buccal swab, atau apabila korban sudah meninggal, sampel jaringan diambil saat autopsi.
III. DNA dari Mukosa Bukal3,14
Penggunaan buccal swab sebagai alternatif pengambilan darah yang cepat dan non-invasif telah menjadi rutin yang terus berkembang di bidang forensik odontologi. Target teknik pengumpulan ini adalah sel epitel skuamosa bertingkat yang dapat diambil dari bagian dalam pipi. Ketika buccal swabs dilakukan untuk membantu identifikasi orang hilang atau tidak teridentifikasi, bagian laboratorium akan membantu menyediakan daftar donor sesuai urutan hubungannya dengan korban. Anggota keluarga mana yang lebih didahulukan menjadi donor sebenarnya bergantung pada teknik DNA typing apa yang digunakan. Secara umum, ketika autosomal STRs yang digunakan, urutan berikut adalah yang dipakai untuk pemilihan donor:
a. Korban (diambil sebelum kejadian dan telah properly preserved) b. Orangtua kandung/biologis korban
c. Anak kandung korban dan orangtua lainnya (istri/suami korban) d. Anak kandung korban
e. Saudara kandung korban
f. Saudara tiri korban (sama ibunya atau sama ayahnya)
Prosedur yang sederhana, tidak sakit, ditambah dengan kebutuhan pelatihan yang minimal membuat metode pengambilan DNA ini menjadi pilihan banyak praktisi. Kebanyakan protokol pengumpulan DNA denngan buccal swabs prinsipnya sama. Dimulai dari dokumentasi indetitias pendonor atau membuat penomoran unik pada sampel bila identitias tidak diketahui. Berikut adalah proses buccal swabs:
a. Gunakan gloves dan hindari kontaminasi swabs dengan permukaan apapun atau aerosol selain yang ada pada pendonor
b. Intruksikan pendonor untuk berkumur dengan air dan buang airnya . Dilakukan berulang kali.
d. Usapkan area mukosa yang telah kering dengan swab sebanyak 10 kali, dengan memutar ujung swab perlahan. Hindari area dekat dengan duktus Stenson.
e. Ulangi proses ini dengan swab kedua pada sisi mukosa kontralateral.
f. Letakkan swab ke dalam amplop yang telah diberi label dan tutup.
g. Pastikan label dan isi amplop sesuai.
h. Isi chain-of-custody form dan kirim paket ke laboratorium. Usahakan paket berada dalam lingkungan sejuk, kering, dan bebas dari sinar ultraviolet.
Berkumur sebelum pengambilan DNA dapat mengurangi sisa-sisa makanan atau debri, dan juga mengurangi risiko kontaminasi oleh nonnative DNA source. Menyeka mukosa juga dapat menghilangkan debri yang menempel.
Perlu diketahui untuk kasus tersuspek pemerkosaan, berkumur atau penyekaan sebelum buccal swab harus dihindari. Pada situasi ini, tujuannya bukan untuk mengambil sampel donor, tapi untuk mendapatkan bukti biologis dari pelaku.
IV. Aplikasi DNA Profiling di Forensik Kedoktern Gigi3,13,16
Uji profil DNA yang ada sekarang reliabel dan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik fisik individu, etnis, area asal, dan jenis kelamin. Uji ini juga diterima sebagai bukti legal di pengadilan.
a. Restriction Fragment Length Polymorphosm (RFLP) Typing
Uji ini digunakan untuk menganalisa panjang variabel fragmen DNA dengan memproses sampel DNA dengan enzim restriction endonuclease yang membagi DNA menjadi beberapa pola sekuen tertentu yang disebut dengan restriction endonuclease recognition site. RFLP membutuhkan jumlah DNA yang banyak sehingga tidak bisa digunakan apabila sampel sudah terdegradasi karena fakor lingkungan. RFLP juga membutuhkan waktu lama untuk medapatkan hasil.
b. STRs Typing
Tiap manusia memiliki STR yang diwariskan dari ayah dan ibu, namum tidak ada individu yang memiliki STR yang identic dengan ayah atau ibunya. Keunikan STR ini memberikan identitas yang berguna dalam identifikasi forensik dan uji paternity.
banyak dibanding pada tulang. Tingkat kesuksesan identifikasi yang paling tinggi adalah dengan sampel dari tulang femur dan gigi utuh.
Combined DNA Index System (CODIS) dibuat oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) berdasarkan STR. CODIS merupakan database nasional Amerika. CODIS dibuat untuk memberikan akses pada laboratorium DNA forensik untuk mencari profil DNA pada database DNA.
c. Mitochondrial DNA (mtDNA) Analysis
Adanya jarak panang antara waktu kematian dan pemeriksaan akan menyulitkan identifikasi dengan nuclear DNA dan kadang hanya tulang dan gigi yang tersisa yang dapat dianalisa. Gigi merupakan sumber mtDNA.
Tiap individu memiliki mtDNA yang sama dengan ibu kandung mereka karena mitochondrion embrio berasal dari sel telut ibu. Pada identifikasi orang hilang, dapat dilakukan perbandingan mtDNA korban dan ibu kandung. Akan tetapi, analisis mtDNA mahal dan sifatnya matrilineal sehingga kurang informatif.
d. Y-Chromosome Analysis
DNA-polumorphism pada kromosom Y merupakan alat yang penting dalam mempelajari evolusi manusia, migrasi, dan menentukan relasi laki-laki. Mayoritas kromosom Y manusia diwariskan dari ayah kandung ke anak. Variasi DNA kromosom Y digunakan untuk menginvestigasi hubungan paternity.
e. X-Chromosome STR
Chromosome X specific STR digunakan untuk mengidentifikasi berbagai kelompok etnis di dunia.
f. Single Nucleotide Polymorphism (SNP)
SNP adalah variasi sekuens DNA yang terjadi ketika nukelotida single (A, T, C, atau G) berubah. Contohnya SNP mengubah sekuens DNA AAGGCTAA menjadi ATGGCTAA. STR dapat menentukan identitias dan menentukan jenis kelamin.
Daftar Referensi:
1. INTERPOL. Disaster Victim Identification Guide [Internet]. 2014. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15003161%5Cnhttp://cid.oxfordjournals.org/loo kup/doi/10.1093/cid/cir991%5Cnhttp://www.scielo.cl/pdf/udecada/v15n26/art06.pdf
%5Cnhttp://www.scopus.com/inward/record.url?eid=2-s2.0-84861150233&partnerID=tZOtx3y1
2. Taylor J. Forensic Odontology: Principles and Practices. UK: John Wiley & Sons; 2016.
Francis Group; 2013.
4. Adams, Catherine. Forensic Odontology: An Essential Guide. UK: John Wiley & Sons; 2014.
5. Rachana V. A study of lip print pattern in goan dental students-a digital approach. J Forensic Leg Med. 2012;19:390–5.
6. Dineshshankar J, Ganapathi N, Yoithapprabhunath R. Lip prints: Role in forensic odontology. J Pharm Bioallied Sci. 2013;5(1):95–7.
7. More C. Cheiloscopy: a review. Indian J Forensic Med Toxicol. 2009;
8. Prabhu R, Dinkar AD, Prabhu V, Rao PK. Cheiloscopy: Revisited. J Forensic Dent Sci. 2012;4(1):47–52.
9. Prabhu R. Collection of lip print as a forensic evidence at the crime scene- an insight. J oral Heal Res. 2010;1(4).
10. Paliwal A, Sangeeta W, Parwani R. Palatal rugoscopy: Establishing identity. J Forensic Dent Sci. 2010;2(1):27–31.
11. Thabitha R, Reddy R, Manjula M. Evaluation of palatal rugae pattern in establishing identification and sex determination in Nalgonda children. J Forensic Dent Sci. 2015;7(3):232–7.
12. Shetty D, Juneja A, Jain A, Khanna K. Assessment of palatal rugae pattern and their reproducibility for application in forensic analysis. J Forensic Dent Sci.
2013;5(2):106–9.
13. Singh B, Batth N, Singh K, Kaur H. Palatal Rugae: A finger print of oral cavity. 14. Kaur J, Rai B. Evidence-Based Forensic Dentisty. Berlin: Springer; 2013.
15. Haechandani N, Marathe S, Rochani R, Nisa S. Palatal Rugoscopy: A new era for forensic identification.