MATA KULIAH EKONOMI SUMBER DAYA ALAM
TUGAS MAKALAH
PENGELOLAAN ENERGI UNTUK KEMAKMURAN
MASYARAKAT DALAM PANDANGAN ISLAM
Dosen : Sri Muljaningsih, M.Sp.
Penyusun
Muhammad Said Hannaf
145020501111025
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap.
Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS 7:56)
Peranan energi sangat penting bagi akselerasi aktivitas perekonomian, utamanya sebagai bahan bakar untuk proses produksi. Mesin produksi hanya dapat bekerja optimal jika energi yang tersedia mencukupi dan sesuai dengan karakteristik mesin. Selain sebagai bahan bakar, energi juga dapat dipakai sebagai bahan baku produk. Kebutuhan energi akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional yang dicirikan antara lain dengan perkembangan sektor industri dan peningkatan jumlah penduduk. Namun pemerintah mengalami kesulitan untuk mengimbangi kenaikan permintaan tersebut dengan penyediaan energi yang cukup dan tepat sasaran serta energi yang ekonomis. Untuk itu, pemerintah berupaya untuk menciptakan kebijakan yang ideal sedemikian agar kenaikan kebutuhan energi dapat diimbangi dengan kenaikan penyediaan energi yang akan menghasilkan tambahan output. Permasalahan energi di Indonesia dalam sebuah situs berita okezone.com 21 Mei 2014 menjadi hal yang urgent bagi Indonesia.
Pengamat Energi Sofyano Zakaria mencatat sejumlah persoalan besar yang menjadi tantangan di sektor energi dan sumber daya mineral untuk disikapi serta harusnya menjadi bagian visi dan misi Presiden-Wakil Presiden terpilih. Mengingat hal ini menjadi pilar utama pendorong perekonomian nasional, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
"Langkah strategis untuk memaksimalkan pendapatan negara di sektor energi dan sumber daya mineral seharusnya menjadi program kerja prioritas pemerintahan baru," ungkap Sofyano di Jakarta, Rabu (21/5/2014)
Lalu bagaimana presiden dan wakil presiden terpilih terhadap keberadaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Banyak tantangan peningkatan produksi minyak nasional, sebab target lifting minyak dalam 10 tahun pemerintahan terakhir terus merosot.
“Lifting 870.000 barel yang dipatok dalam APBN 2014 kembali meleset, hanya tercapai kurang
dari 820.000 barel. Dan kini ditetapkan 810.000 barel dalam APBN-Perubahan 2014," sambungnya.
kepada rakyat atau mengeluarkan solusi lain?" Kata dia.
Kemudian, memaksimalkan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ke depan, Pemerintah mau tidak mau harus mampu menjalankan tata kelola dan manajemen gas yang terintegrasi (integrated gas management) yang meliputi pengelolaan gas secara menyeluruh termasuk LNG dan gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG).
"Dibidang ketenagalistrikan nasional, maraknya kasus pemadaman dan rendahnya rasio elektrifikasi (RE), menempatkan program ketenagalistrikan masih perlu ditata ulang untuk memperkuat dan keandalan pasokan listrik di seluruh wilayah NKRI," jelasnya.
Kemudian dibidang pertambangan, kebijakan larangan ekspor mineral mentah sebagai amanah dari UU No 4/2009 tentang Mineral dan Batubara perlu mendapat perhatian agar UU tersebut tetap bisa dijalankan secara efektif dan sebagai pelindung dari para pengeruk bumi yang tidak
bertanggung jawab.
(rzy)
Kemudian dalam berita yang disampaikan melalui situs kementerian perindutrian dan perdagangan, pengembangan industri berskala besar di Indonesia selalu terhambat dengan masalah energi dan buruh. Membahas persoalan energi berhubungan dengan pemangku kebijakan dan kepentingan oleh karena itu energi yang bersumber dari alam ini harus kita kelola dengan optimal melalui sebuah sudut pandang yang baru.
Lebih lanjut potensi berbagai regulasi yang diciptakan oleh pemerintah seperti undang-undang no 30 tahun 2007 tentang energi dan undang-undang No 4 tahun 2009 tentang mineral dan batubara menjadi legal framework pengaturan energi nasional sehingga menciptakan pengelolaan tata energi nasional yang menjamin seluruh hak masyarakatnya. Melihat peluang yang ada dan membaca situasi pasar. Berdasarkan data, Indonesia memiliki peluang untuk menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai tambah hasil dari penggunaan gas dan minyak bumi dalam proses produksinya. Dengan asumsi bagaimana pemerintah mampu mengawal dengan baik industrialisasi energi untuk swasembada energi. karena potensi yang besar itu juga menjadi celah dalam kecurangan dan kejahatan mafia yang berpengauh besar terhadap produksi energi nasional ini. Peluang masyarakat dalam industrialisasi energi nasional hal ini juga membuka kran kesempatan kerja dan peningkatan transfer teknologi sehingga memengaruhi seluruh kegiatan perekonomian agregat.
memicu terjadinya ketidakteraturan antara industri-industri yang membutuhkan gas dalam kegiatannya. Oleh karena itu alur koordinasi kelembagaan yang perlu diperbaharui sangat penting untuk mendorong keberhasilan swasembada energi di Indonesia.
Permasalahan terkait energi
Gambar 1
Bagaimana ketiga dimensi ini saling bersinggungan yang mana menciptakan keberhasilan pembangunan ekonomi, perlindungan terhadap lingkungan dan ketersediaan energi dalam batas aman. Islam menghendaki sebuah prinsip pengelolaan sumber daya alam yang bertuju pada pemenuhan kebutuhan dan ramah lingkungan sebagaimana dijelaskan, perilaku tersebut tentunya sebagai bentuk amanah dan pertanggungjawaban manusia dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta Ala nantinya.
1.2. Masalah
2. Bagaimana Islam membentuk pengelolaan energi yang optimal dan berkelanjutan?
1.3. Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan ini difokuskan untuk mengetahui dua poin penting, yaitu : Bagaimana peran negara dalam pengelolaan energi menurut pandangan Islam serta bagaimana solusi teknis untuk mewujudkan swasembada energi (sumber daya alam).
1.4.
Manfaat PenulisanEkspektasi dari penulisan ini adalah timbulnya kebermanfaatan yang berkelanjutan, adapun kebermanfaatan tersebut dibagi dalam dua aspek, yaitu:
Manfaat Akademis Penulisan ini diharapkan mampu menjadi tambahan
informasi kepada pihakpihak lain, terkait kebijakan pengelolaan energi di Indonesia
Manfaat Praktis Penulisan ini diharapkan mampu menjadi solusiBAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Energi
Kata energi berasal dari bahasa Yunani yakni energia yang artinya ialah kegiatan/ aktivitas. Terdiri dari dua kata yaitu en (dalam) dan ergon (kerja). Jadi energi mempunyai arti umum yaitu kemampuan untuk melakukan sebuah pekerjaan atau usaha.
Beberapa ahli yang mengemukakan penjelasan mengenai energi
1. Pardiyono menjelaskan bahwa energi merupakan bentuk kekuatan yang
dihasilkan atau diperoleh dari suatu benda
2. Aip Saripudin mengatakan energi kemampuan untuk melakukan urusan
atau bisnis
3. Sumantoro mengatakan bahwa energi merupakan kemampuan untuk
melakukan sebuah pekerjaan yang sifatnya mendorong atau memindahkan benda atau objek.
4. Arif Alfatah dan Muji Lestari mereka menerangkan bahwa energi
merupakan sesuau yang amat dibutuhkan oleh tubuh manusia supaya dapat melakukan suatu pekerjaan bisnis.
5. Alvin Hadiyyono bahwa energi ialah sesuatu yang bergerak dan juga mempunyai hubungan dengan uang dan waktu.
6. Campbell, Reece dan Mitchell, menurut mereka energi ialah sebuah
kemampuan untuk mengatur ulang materi. Secara ringkas energi ialah kemapuan/ kapasitas untuk melakukan sebuha pekerjaan.
7. Robert L. Wolke dikatakannya energi merupakan kemampuan untuk
membuat sesuatu terjadi.
8. Young untuk melakukan pekerjaan memerlukan energi
10.Mikrajuddin mengatakan energi sebagai kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan sebuah pekerjaan objek
11.Michael J Moran energi merupakan konsep dasar dari termodinamika yang
menjadi aspek yang penting dari analisis teknis.
Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa energi berfungsi sebagai penunjang aktivitas kehidupan.
2.2. Kebijakan pengelolaan energi di Indonesia
Sejak tahun 1980an, pemerintah sudah menyadari pentingnya peranan energi dalam pembangunan. Melalui Kebijakan Umum Bidang Energi yang dikeluarkan tahun 1981, pengelolaan energi Indonesia telah mulai ditata. Namun demikian sampai sekarang, kebijakan energi nasional yang telah dikeluarkan belum menghasilkan perubahan yang berarti dalam mencapai kondisi keenergian yang positif. Permasalahan implementasi, koordinasi dan payung regulasi masih menjadi kendala utama. Melihat kondisi demikian, pada tahun 2007 pemerintah bersama DPR mengesahkan UU No. 30 tahun 2007 tentang Energi yang salah satu amanatnya menyusun Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang dirumuskan Dewan Energi Nasional dan ditetapkan Pemerintah setelah mendapat persetujuan DPR. KEN ini akan menjadi pedoman bagi Rencana Umum Energi Nasional serta Rencana Umum Energi Daerah. Sampai saat ini, Draft KEN yang sudah tersusun belum dibahas bersama DPR. Sementara proses penyusunan RUEN masih bersifat sosialisasi. Walaupun demikian beberapa daerah telah menyusun draft RUED. Isu strategis dalam semua proses tersebut di atas adalah keselarasan antara ketiga produk tersebut. Hal ini akan menentukan keberhasilan implementasi kebijakan energi di masa mendatang.
tingginya elastisitas energi Indonesia yang berada pada kisaran 1,6, mencerminkan belum efisiennya penggunaan energi di Indonesia. Sebagai perbandingan, Thailand dan Singapura memiliki elastisitas energi sebesar 1,4 dan 1,1. Sementara negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika memiliki elastisitas energi yang berkisar antara 0,1 dan 0,2.
Namun pertumbuhan energi yang tinggi ini tidak pula ditunjang dengan kebijakan penyediaan energi yang bsaik. Data menunjukkan, pada tahun 2011, minyak masih menjadi energi dengan pangsa terbesar yang mencapai 49,5 persen dari jumlah total energi sebesar 1,176 miliar Setara Barel Minyak (SBM)/Barrel Oil Equivalent (BOE). Pangsa terbesar selanjutnya adalah Batubara dan Gas dengan jumlah proporsi masing-masing sebesar 26 persen dan 20,4 persen (Gambar 2). Hal ini menunjukkan sangat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang mencapai 95 persen.
Tingginya pertumbuhan dan elastisitas energi ternyata belum diiringi dengan tingginya konsumsi energi per kapita Indonesia. Berdasarkan data tahun 2011, konsumsi energi per kapita Indonesia hanya mencapai 0,85 Ton Oil Equivalent (TOE) di bawah ratarata konsumsi dunia sebesar 1,7 TOE dan beberapa negara ASEAN (Singapura 3,7 TOE, Malaysia 2,5 TOE, dan Thailand 1,5 TOE) (Gambar 3).
Gambar 3 Rasio Perbandingan Konsumsi Energi perkapita dan elastisitas energi
nasional yang turut menentukan keberhasilan pembangunan Indonesia di masa mendatang. Sebagai ilustrasi mengenai peran strategis sektor energi, gambar berikut ini memperlihatkan adanya korelasi antara pertumbuhan sektor energi dengan pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dalam suatu negara.
Gambar 4 Korelasi GDP dengan Konsumsi Listrik di beberapa negara pada tahun 2010
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Jenis Penulisan dan Pendekatan Penulisan
Penulisan karya tulis ini melakukan kegiatan literatur. Jenis penulisan yang digunakan adalah deskriptif. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Saryono (2010), penulisan dengan pendekatan kualitatif digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial.
3.2 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder. Data sekunder berupa hasil studi kepustakaan melalui buku, jurnal, publikasi instansi resmi pemerintah.
3.3 Metode Pengumpulan Data
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Perkembangan Kebijakan Pengelolaan Energi Nasional
Sampai dengan tahun tujuh puluhan, sumber daya energi dianggap masih sangat melimpah. Persoalan utama pada masa itu adalah usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak bumi melalui kontrak bagi hasil. Dengan meningkatnya produksi minyak maka penerimaan negara yang masih bertumpu pada ekspor komoditas ini diharapkan semakin besar. Gagasan penyusunan kebijakan energi di Indonesia itu sendiri pertama kali muncul pada tahun 1976. Tujuan dari kebijakan tersebut adalah untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya energi. Pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) yang setingkat dengan departemen dan bertanggung jawab memformulasikan kebijakan energi serta mengkoordinasikan implementasi kebijakan ini. BAKOREN untuk pertama kalinya mengeluarkan Kebijaksanaan Umum Bidang Energi (KUBE) pada tahun 1981. Kebijakan ini terus menerus diperbarui sesuai dengan perkembangan strategis lingkungan yang mempengaruhi pembangunan energi di Indonesia.
Aspek lingkungan mulai mendapat perhatian dan kebijakan energi mulai diarahkan untuk menggunakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Pada tahun 1998, BAKOREN menyusun KUBE baru menggantikan KUBE 1991. KUBE ini bertujuan untuk menciptakan iklim yang mendukung terlaksananya strategi pembangunan bidang energi dan memberikan kepastian kepada pelaku ekonomi dalam kaitannya dengan pengadaan, penyediaan dan penggunaan energi. Dalam KUBE ini mulai diindikasikan adanya keterbatasan sumber daya energi, terutama minyak bumi. Minyak bumi diarahkan secara bertahap untuk digunakan di dalam negeri sebagai bahan bakar dan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai tambah yang tinggi. Kebijakan energi yang perlu ditempuh mencakup lima kebijakan utama dan sembilan kebijakan pendukung (BAKOREN 1998). Kebijakan utama tersebut adalah:
a. Diversifikasi, yaitu penganekaragaman pemanfaatan energi, baik yang
terbarukan maupun yang tidak terbarukan. Untuk energi fosil tidak menutup kemungkinan untuk melakukan impor sejauh menguntungkan secara ekonomis dan tidak merusak lingkungan.
b. Intensifikasi, yaitu pencarian sumber energi melalui kegiatan survei dan eksplorasi agar dapat meningkatkan cadangan baru terutama energi fosil. Pencarian sumber daya energi diarahkan di daerah yang belum pernah disurvei dan untuk daerah yang terindikasi dilakukan upaya untuk peningkatan status cadangan menjadi lebih pasti.
c. Konservasi, yang dilakukan mulai dari sisi hulu sampai ke hilir.
d. Penetapan harga rata-rata energi yang secara bertahap diarahkan mengikuti
mekanisme pasar.
e. Memperhatikan aspek lingkungan dalam pembangunan di sektor energi
termasuk didalamnya memberikan prioritas dalam pemanfaatan energi bersih.
infomasi, penelitian dan pengembangan, serta pengembangan kelembagaan dan pengaturan.
Pada akhir tahun 2003, DESDM mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) baru dan Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau). Kebijakan ini merupakan pembaruan dari KUBE tahun 1998 yang penyusunannya dilakukan bersama-sama dengan stakeholders di bidang energi. Selain itu, kebijakan ini juga menjadi acuan utama dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang energi yang saat itu sedang dipersiapkan. Kebijakan yang ditempuh masih serupa dengan KUBE sebelumnya yaitu intensifikasi, diversifikasi, dan konservasi dengan menambah instrumen legislasi dan kelembagaan. Secara umum, sasaran dari kebijakan energi, yaitu mengurangi ketergantungan pada minyak bumi sebagai sumber energi melalui diversifikasi dan intensifikasi sumber daya energi, sudah cukup berhasil. Namun sasaran efisiensi penggunaan melalui konservasi dapat dikatakan gagal. Hal ini disebabkan adanya kontradiksi antara kebijakan konservasi dengan kebijakan pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM). Meskipun proses pembuatan kebijakan energi dari waktu ke waktu mengalami perbaikan tetapi masih banyak terjadi kontradiksi materi kebijakan. Strategi pengembangan energi baik jangka pendek maupun jangka panjang juga belum tersusun dengan jelas. Kebijakan-kebijakan yang ada masih terkesan sebagai kebijakan parsial yang tidak ada aliran strategis terhadap program jangka panjangnya.
Dalam perkembangannya, kebijakan-kebijakan tersebut belum dapat
menjawab permasalahan secara menyeluruh, sehingga untuk
Tahun 2006 tersebut, tujuan kebijakan energi nasional adalah untuk mengarahkan upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Sementara sasaran kebijakan energi nasional adalah: a. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari satu pada tahun 2025. b. Terwujudnya bauran energi primer dengan peranan masing-masing jenis energi pada tahun 2025 adalah:
Minyak bumi menjadi kurang dari 20 persen.
Gas Bumi menjadi lebih dari 30 persen.
Batubara menjadi lebih dari 33 persen.
Bahan bakar nabati menjadi lebih dari 5 persen.
Panasbumi menjadi lebih dari 5 persen.
Biomassa, nuklir, mikrohidro, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi 5 persen.
Batubara yang dicairkan menjadi lebih dari 2 persen.
Sasaran kebijakan energi nasional seperti disebutkan dalam Perpres No. 5 Tahun 2006 merupakan suatu tantangan yang cukup berat untuk diwujudkan. Mengingat bauran energi primer pada saat ini masih menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap minyak bumi.Untuk itu, pemerintah telah menerbitkan Undang-undang No.30 tahun 2007 tentang Energi yang diharapkan akan dapat menjawab persoalan bidang energi. Pada era setelah UU Energi ini, kebijakan energi nasional akan bergeser tidak hanya bertujuan untuk mengamankan pasokan energi seperti di Perpres 2006 tetapi juga mencakup kebijakan pemanfaatan energi.
4.2. Kepemilikan dan Kebijakan Energi dalam pandangan Islam
masyarakat yang mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan seperti dalam Al Quran surat al Araf ayat 56 dan Ar Ruum ayat 41-42 sehingga kembali pada
tujuan manusia diutus ke muka bumi sebagai khalifah yang membawa rahmatan lil
alamin bagi seluruh alam. Secara umum kita dapat mengatakan bahwa kepemilikan energi sumber daya alam adalah wewenang dari negara oleh karena itu milik negara adalah harta yang merupakan milik kaum muslimin, sementara pengelolaannya menjadi wewenang khalifah. Dimana dia bisa mengkhususkan sesuatu kepada sebagian kaum muslimin, sesuai dengan apa yang menjadi pandangannya. Makna pengelolaan oleh khalifah ini adalah, adanya kekuasaan yang dimiliki khalifah untuk mengelolanya. Inilah kepemilikan karena makna kepemilikan adalah, adanya kekuasaan pada diri seseorang atas harta miliknya. Atas dasar inilah, maka tiap hak milik yang pengelolaannya tergantung pada pandangan dan ijtihad khalifah, maka hak milik tersebut dianggap hak milik negara.
As Syari telah menjadikan harta-harta tertentu sebagai milik negara, dimana khalifah berhak untuk mengelolanya sesuai dengan pandangan dan ijtihadnya, semisal harta rampasan perang cukai tanah dan pajak bagi orang non muslim, sebab syara tidak pernah menentukan objek dalam pemberian harta tersebut. Sementara, kalau syara’ telah menentukan objek yang akan diberi harta tersebut, dan tidak diserahkan kepada pandangan dan ijtihad khalifah maka harta tersebut bukan merupakan hak milik negara. Namun menjadi hak semata milik objek yang telah ditentukan oleh syara’. Oleh karena itu zakat tidak termasuk dalam hak milik negara, melainkan menjadi milik delapan asnaf yang telah ditentukan oleh syara’.
Baitul mal hanya menjadi tempat penampungannya, sehingga bisa dikelola mengikuti objek-objeknya.
memberikan harta tersebut kepada individu tertentu, sementara yang lain tidak, dimana negara juga berhak untuk mencegah dari individu, apabila negara memiliki pandangan demikian dalam rangka melayani urusan mereka, disatu sisi tanpa memberikan harta tersebut kepada mereka.
Kemudian kaitannya dengan energi sebagai sumber daya alam yang digunakan untuk hajat orang banyak maka diqiyaskan terhadap kepemilikan negara dalam hal ini ulil amri yang berwenang untuk mengelola dan melestarikannya melalui ijtihadnya. Oleh karena itu berdasarkan dalil al-Quran Klasifikasi ayat secara umum yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam secara umum adalah sebagai berikut: Ayat yang berbicara tentang manfaat air adalah QS. Al-Baqarah/2: 22 dan 164, Al- AlAn’ām/6: 99, Ar-Ra’du/13: 4 dan 17, Ibrahīm/14: 32,
Al- Mu’minūn/23: 18-21, AlFurqān/25: 48-49, An-Naml/27: 60, Luqmān/31: 10,
Az-Zumār/39: 21,Fussilat/41: 43, Qāf/50: 9. Ayat yang berbicara tentang maanfaat
angin adalah QS. Al Baqarah/2: 164, Al-A’rāf/7: 57, Al-Hijr/15: 22, Al-Furqān/25: 48, Ar-Rum/30: 48 dan 51. Ayat yang berbicara tentang manfaat batu adalah QS. Al-Hijr/15: 82, Al-Fajr/89: 9. Ayat yang berbicara tentang manfaat besi adalah QS. An-Nahl/16: 81, Al-Anbiyā’/21: 80, Saba’/34: 11, Al-Hadīd/57: 25. Ayat yang tentang binatang adalah QS. Al-Baqarah/2: 173 dan 205, Alī- Imrān/3: 14, Al
-Māidah/5: 96, Al-An’ām/6: 118 dan 142, An-Nahl/16: 66, alMu’minūn/23: 2, al
-Mu’minūn/23: 79-80. Ayat tentang buah-buahan adalah QS. Baqarah/2: 22,
Al-An’ām/6: 95, Ibrahīm/14: 32, An-Nahl/16: 69, al-Mu’minūn/23: 19.
165. dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi
Dalam Islam pengembalian nilai moral yang berkaitan dengan kecerdasan Emosional, Spiritual, Sosial, dan Intelektual. berkaitan erat dengan pendidikan dan pengajaran yang ada dalam masyarakat. Bagaimana pendidikan non formal menjadi penunjang bagi terciptanya manusia yang sadar akan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya alam kaitannya dengan energi yang ramah lingkungan. Moral untuk menyadari betapa pentingnya sumber daya alam dan energi yang ramah lingkungan tercermin pula pada kebiasaaan dan kecerdasan masyarakat untuk menggunakan energi dengan efektif dan efisien. Kembali kepada ayat al Quran yang tercantum dalam muqaddimah bahwa Alloh menghendaki alam yang dijaga dan dilestarikan.
4.3. Menuju pengelolaan energi sumber daya alam yang optimal dan berkelanjutan
1. Menghimpun kemauan politik (political will) untuk mengurangi subsidi energi: Angka subsidi bahan bakar minyak Indonesia sudah diketahui umum, yakni lebih dari $30 miliar setiap tahunnya. Jika kita bandingkan, jumlah tersebut melampaui pos pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan. Jumlah itu juga hampir setara dengan biaya pembangunan 31.000 kilometer jalan baru; 2.000 rumah sakit kelas C; atau tiga kilang minyak kelas dunia per tahun. Jika kondisi ini terus berlangsung, kami memperkirakan bahwa 2 Semua angka yang dinyatakan dalam laporan ini dalam bentuk dollar Amerika Serikat. biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk subsidi energi Indonesia akan mencukupi semua kebutuhan infrastruktur antara tahun 2011 hingga 2025 yaitu sekitar $200 miliar sesuai dengan masterplan pembangunan ekonomi pemerintah.
Upaya untuk mengurangi subsidi tentunya memerlukan kemauan politik. Kami setuju bahwa masih terdapat bagian dari masyarakat Indonesia yang masih memerlukan subisidi. Namun demikian, penyaluran subsidi perlu diberikan langsung hanya kepada mereka yang membutuhkan, untuk menjamin bahwa mereka yang membutuhkan terlindungi, sementara dana yang vital dapat direalokasikan untuk pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur yang akan mengakselerasi pertumbuhan Indonesia dalam jangka panjang.
Kami juga menyarankan agar pengurangan subsidi dilaksanakan secara cepat daripada dilaksanakan secara bertahap dalam waktu lama. Dari pengamatan kami di berbagai negara, pengurangan bertahap cenderung akan menimbulkan resistensi, dan terkadang kemauan politik cenderung memudar seiring berjalannya waktu.
2. Mengatasi akar permasalahan di balik lambatnya penambahan kapasitas pembangkit listrik: Industri listrik di Indonesia masih jauh dari optimal; pemerintah memberikan subsidi berjumlah besar kepada konsumen guna menjaga harga tetap rendah dan akibatnya pendapatan produsen listrik saat ini hanya dapat menutupi dua pertiga biaya produksi. Program untuk meningkatkan kapasitas pembangkit mengalami keterlambatan. Misalnya, pada tahun 2011, pembangkit listrik tenaga minyak diproyeksikan sebesar 5 persen dari keseluruhan pembangkit pada tahun 2013, tetapi jumlah aktualnya adalah 13 persen. Program tersebut terkendala oleh tantangan-tantangan seperti pembebasan lahan, perizinan, dan eksekusi konstruksi di lapangan. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap hal ini, namun akar permasalahannya adalah sistem yang rumit yang tidak mampu menyelaraskan kebutuhan dan insentif para politisi dan birokrat di tingkat pusat dengan tingkat regional, berbagai kementerian terkait, independent power producers (IPP) dan PLN.
pelaksanaan yang seragam di seluruh nusantara. Terdapat peluang untuk mengkaji struktur industri untuk tidak hanya mendorong kompetisi tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain yang berkeinginan untuk meningkatkan infrastruktur kelistrikan. Banyak negara telah berhasil memisahkan peran regulator dan operator dalam sektor kelistrikan dan memperoleh manfaat yang cukup signifikan baik untuk pemain industri maupun konsumen. Pemberlakuan perbedaan tarif atau penetapan harga secara regional juga dapat dipertimbangkan. Sebagai contoh, pemerintah pusat dapat memberikan subsidi kepada masyarakat kelas bawah dengan membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk melakukan penambahan (top up) nilai subsidinya di daerahnya masing-masing jika dirasa perlu.
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Indonesia mencanangkan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik dari 42 GW pada akhir tahun 2013 menjadi 90 GW pada tahun 2022, dan di saat yang bersamaan juga meninggalkan penggunaan bahan bakar minyak yang mahal. Dalam menjawab tantangan tersebut sebuah inisiatif telah mulai dilakukan oleh Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Kementerian Keuangan. Inisiatif tersebut perlu didukung, dipertahankan, dan diperkuat, serta idealnya diberikan mandat untuk memastikan proses pelaksanaannya.
3. Memperkenalkan insentif yang sesuai (tailored incentives) untuk
eksplorasi dan pengembangan minyak dan gas, termasuk minyak
nonkonvensional: Indonesia memerlukan penemuan besar dan
Di tahun 2012, rasio penggantian cadangan minyak (Reserve Replacement Ratio) hanya sebesar 52%, dibandingkan dengan dengan gas sebesar 127%. Meskipun harga minyak tetap bertahan di tingkat yang tinggi dan terus meningkatnya harga gas alam, kegiatan pengeboran eksplorasi mengalami penurunan, dan di setiap tahunnya hanya sekitar 50% dari sumur eksplorasi yang ditargetkan dilaksanakan pengeborannya.
Meskipun para ahli di bidang industri melihat potensi yang tinggi sektor sumber daya di Indonesia, sejumlah tantangan masih menghadang. Rezim fiskal untuk sumber daya konvensional di Indonesia masih merupakan salah satu yang paling memberatkan di dunia. Government
“take” atau proporsi nilai yang diambil pemerintah dari berbagai proyek
migas di Indonesia berkisar di angka 82,7% (Bagan 2).
menarik berbagai perusahaan baru untuk bergabung dalam aktivitas pengembangan cadangan energi.
Selain persepsi permasalahan seperti korupsi dan kolusi, para pelaku industri juga berpendapat bahwa kondisi hukum di Indonesia turut berandil atas melambatnya pengembangan di sektor energi serta menambah waktu dan biaya produksi. Kurangnya kejelasan akan implementasi Undang-Undang nomor 22 (yang menjelaskan ruang lingkup regulasi migas di Indonesia) dan kekhawatiran akan kepatuhan kontrak menambah permasalahan yang telah ada.
Untuk mengatasi masalah penurunan produksi, Indonesia perlu melakukan tiga hal: 1) menciptakan insentif tambahan untuk eksplorasi dan pengembangan energi non-konvensional; 2) menegakkan semua kontrak hukum dan memperjelas peraturan pelaksanaan; 3) menangani kasus korupsi di seluruh lini sistem.
4. Mengakselerasi pembuatan ‘cetak biru’ infrastruktur gas nasional:
Indonesia pernah menjadi pelopor ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) di era 1970-an dan memproduksi gas yang melebihi kebutuhan pasar dalam negerinya. Indonesia terus melanjutkan ekspor LNG dari fasilitas LNG yang terkenal, seperti Arun, Bontang, dan Tangguh. Apabila melihat kedepan, proyekproyek utama Hulu di Indonesia juga berada pada sektor
gas, seperti misalnya, Donggi Senoro Indonesia Deepwater Development
(IDD), Jangkrik, dan Masela.
Indonesia akan membutuhkan infrastruktur regasifikasi LNG baru di Jawa dan Bali, bersama dengan jalur pipa transmisi untuk menghubungkan pasar utama di Jawa dengan sumber gas di Indonesia bagian timur. Untuk memenuhi semua ini, investasi yang dibutuhkan akan mencapai sekitar $2 miliar.
Di Indonesia bagian timur, kilang “LNG mini” (fasilitas berskala
kecil yang memungkinkan lapangan yang lebih kecil untuk dikembangkan) dapat digunakan untuk memasok gas dari sumbersumber baru ke pulau-pulau di seluruh nusantara dengan cara yang efisien, bersamaan dengan “modular power” (unit pembangkit listrik berskala kecil yang dapat dipindahkan setelah sumber bahan bakar telah habis). PLN memiliki beberapa pembangkit listrik berskala kecil bertenaga disel dan fuel oil. Konversi dari pembangkit tersebut akan mendorong efisiensi yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah. Selain itu, beberapa
produsen Hulu di Indonesia melakukan pembakaran (“flare”) gas dengan
jumlah yang signifikan dikarenakan infrastruktur yang kurang memadai dan menyebabkan hilangnya potensi keuntungan negara sekitar $ 100 juta setiap tahun. Gas ini dapat dikonversi untuk menjadi pasokan listrik lokal melalui penyedia teknologi baru. Mengakselerasi ‘cetak biru infrastruktur
gas’ untuk Indonesia harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah yang
baru.
5. Memperbaharui kilang lama secepat mungkin: Lima kilang minyak dan
gas utama Indonesia mengalami kerugian sekitar $1 miliar per tahun mengacu pada harga pasar saat ini. Seandainya kilang-kilang ini dioperasikan dengan sempurnapun, kelima kilang tersebut masih akan mengalami kerugian dengan nilai yang hampir sama. Penyebabnya adalah konfigurasi teknis kilang tersebut pada saat dibangun yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi Indonesia pada saat ini. Sejumlah faktor seperti usia kilang, teknologi yang masih sederhana, dan fakta bahwa kilang
didesain pada saat itu untuk minyak mentah Indonesia yang berupa sweet
memenuhi kebutuhan saat ini. Alhasil, harga bensin dan diesel dari kilang-kilang tersebut jauh lebih mahal untuk diproduksi dibandingkan dengan harga produk impor.
Guna mendorong daya saing dan profitabilitas, kilang-kilang ini perlu diperbaharui secara signifikan. Total pembelanjaan modal yang perlu digelontorkan berada di kisaran $12 hingga $17 miliar. Pembaharuan kilang yang ada lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan alternatif untuk membangun kilang baru. Hal ini berpotensi meningkatkan produksi bensin dan solar dua hingga tiga kali lebih besar untuk investasi yang sama. Keuntungan ekonominya akan jauh lebih tinggi daripada proyek greenfield karena memanfaatkan infrastruktur dan lahan yang sudah ada. Pembaharuan ini memiliki potensi untuk menjadi proyek yang bernilai sangat tinggi bagi negara. Selain itu, terdapat pula potensi untuk menggandakan pasokan bahan bakar minyak (BBM) domestik.
6. Meningkatkan mutu jaringan distribusi bahan bakar: Indonesia memiliki
salah satu rantai pasokan produk bahan bakar yang paling kompleks di dunia karena kondisi geografis (negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau) dan sebaran penduduknya. Negara juga bergantung pada impor bahan bakar jadi dari pasar regional dan kemungkinan akan terus membutuhkan impor di tahun-tahun mendatang. Indonesia perlu melakukan investasi secara agresif untuk meningkatkan jaringan infrastruktur bahan bakar, serta fasilitas penyimpanan dan armada tanker demi memastikan keandalan dan efisiensi pasokannya.
lokasi geografis dan menjadi pusat alih muatan (trans-shipment hub) dan perdagangan migas, mengikuti jejak Singapura dan Johor.
7. Investasi pada energi terbarukan: Bauran bahan bakar (fuel mix) yang direncakan di Indonesia dirancang untuk mencapai produksi berbiaya termurah dengan memaksimalkan persentase batubara dan gas dalam bauran tersebut. Kontribusi batubara dan gas diproyeksikan untuk mencapai 84% dari total produksi listrik di tahun 2017. Namun terdapat pula kesempatan untuk meningkatkan kontribusi dari energi terbarukan dalam fuel mix Indonesia, khususnya dengan geothermal, hidro, dan biomassa. Potensi geothermal diperkirakan akan mencapai 27 GW dibanding kapasitas terpasang saat ini yang sekitar 1 GW, sedangkan potensi yang belum dimanfaatkan pada hidro di Indonesia sekitar 70 GW. Tenaga surya memiliki potensi yang lebih rendah, namun masih menjanjikan, khususnya di Indonesia bagian timur. Sejumlah teknologi ini, termasuk biomassa, masih membutuhkan pengembangan teknologi lebih lanjut sebelum mencapai tingkat ekonomis (economically viable). Energi terbarukan lain seperti tenaga surya masih belum kompetitif dalam skala besar dan untuk mencapai paritas grid (grid parity), namun bisa menjadi pilihan ekonomis untuk pembangkit listrik yang tersebar dibandingkan dengan bahan bakar minyak dan distilat yang sangat mahal (keduanya memiliki biaya energi1 yang disetarakan di kisaran 2.300 -
2.500 Rupiah/kilowatt).
Energi geothermal telah kompetitif di beberapa kawasan, namun kenaikan tarif atas kebutuhan geothermal perlu disepakati guna memberi insentif kepada produsen hulu untuk berinvestasi, dan perlu dibarengi dengan upaya percepatan lisensi dan perizinan. Guna mendorong adopsi
teknologi energi terbarukan secara aktif, pemerintah dapat
memperkenalkan feed-in-tariff per wilayah dan mempercepat penerbitan lisensi dan perizinan.
1
8. Investasi pada gas untuk transportasi: Urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi yang pesat mendorong pertumbuhan yang signifikan pada kendaraan transportasi di kota-kota besar Indonesia. Hal ini menyebabkan ekspansi yang signifikan atas subsidi bahan bakar karena kendaraan tersebut mengonsumsi bensin dan solar serta menyebabkan polusi udara di perkotaan. Penggunaan compressed natural gas (CNG) untuk kendaraan adalah pilihan yang menarik yang dapat mengurangi subsidi dan meningkatkan kualitas udara. Hal ini telah berhasil diimplementasikan di beberapa kota di Asia, termasuk New Delhi, Mumbai, dan Bangkok. Di Indonesia, hal ini akan membutuhkan pendekatan terpadu yang menggabungkan beberapa elemen: 1) insentif ekonomi bagi konsumen, produsen, dan pemasar; diperlukan penentuan harga optimal untuk solar agar konsumen dapat memulihkan investasi yang mereka keluarkan dengan mengonversi kendaraan dalam kurun waktu 12 bulan; 2) produsen dan pemasok mendapatkan laba investasi yang memadai; 3) pemasar mendapatkan margin yang sesuai; 4) dukungan peraturan yang mewajibkan kendaraan transportasi untuk beralih menggunakan CNG; dan 5) menyiapkan infrastruktur penting yang memungkinkan pemasangan converter kit dan pompa bensin untuk mengisi bahan bakar di lokasi yang mudah terjangkau.
Indonesia perlu mematok target untuk mengonversi sekitar 250.000 kendaraan umum dalam lima tahun mendatang. Kami memperkirakan langkah ini dapat menghemat subsidi negara hingga $2 miliar.
berpotensi menghemat biaya tahunan sekitar $100 juta. Guna mencapai penghematan ini, diperlukan tindakan terkoordinasi karena fasilitas bahan bakar LNG harus didirikan di pelabuhan-pelabuhan utama; insentif ekonomi perlu ditawarkan kepada operator perkapalan; dan peraturan pendukung perlu dibuat bagi industri.
9. Mempromosikan kendaraan listrik di kota-kota besar: Kendaraan listrik (electric vehicles atau EV) dinilai dapat menghasilkan pengaruh yang signifikan sebagai salah satu opsi transportasi darat. Hal ini didasarkan pada efisiensi energi yang unggul, dampak lingkungan yang positif dan potensi bisnis yang mendukung. EV sangat relevan bagi masyarakat yang memiliki banyak jarak tempuh per tahun namun terbatas di perkotaan. Taksi adalah salah satu contoh yang bagus karena menempuh ribuan kilometer per tahun, namun masih berada dalam jangkauan yang dekat dengan stasiun pengisian. EV juga memiliki emisi karbon dioksida yang jauh lebih rendah, dan beremisi nol untuk polutan lainnya (nitrogen oksida, sulfur oksida, partikel). EV sangat dimungkinkan sebagai bentuk transportasi alternatif di kota-kota besar seperti Jakarta yang berpenduduk sangat terkonsentrasi dan memiliki proporsi tinggi untuk perjalanan jarak pendek. Dengan kemajuan teknologi baterai terbaru, kini kinerja, keamanan dan biaya baterai telah menjadi lebih terjangkau.
Karena sistem subsidi yang kurang efisien di Indonesia, peralihan ke EV akan membantu mengurangi beban subsidi (mobil akan lebih hemat energi dengan menggunakan tenaga listrik, bukan solar/bensin). Potensi penghematan subsidi adalah sebesar Rp 800 miliar untuk setiap lot 100.000 kendaraan yang dikonversi dari bensin atau solar ke listrik.2 Mengingat bahwa terdapat sekitar 5,5 juta kendaraan di Jakarta saja (tidak termasuk sepeda motor dan skuter), terdapat potensi pengurangan subsidi BBM yang sangat besar. Barangkali hal yang paling penting untuk
2
Dengan asumsi 30.000 km/tahun untuk setiap kendaraan, Rp 5.000 / L subsidi bensin,
dibenahi Indonesia saat ini adalah para pemimpin industri dan kemampuan di seluruh bidang penting di sektor energi.
10. Membangun kapabilitas dan pemimpin lokal yang andal: Indonesia adalah
pemimpin energi di masa lalu. Sebagai contoh, pembangunan sistem Production Sharing Contract untuk mengembangkan sumber daya hulu dan didirikannya fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia pada era 1970-an.
Di masa mendatang, teknologi, kapabilitas, dan pemimpin adalah faktor utama untuk memenangi persaingan. Sebagai contoh, Indonesia memerlukan akses teknologi yang lebih mutakhir serta para ahli teknis guna meningkatkan produksi di ladang yang telah siap dengan
menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil
Recovery (IOR). Hal ini serupa dengan teknologi non-konvensional seperti
Coal Bed Methane (CBM) dan ekstraksi shale gas. Peningkatan mutu kilang membutuhkan kemampuan eksekusi proyek berskala besar yang belum pernah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia. Teknologi batu bara baru, termasuk clean coal dan coal-to-liquids memiliki potensi untuk memperbaharui kembali industri ini.
Dewasa ini, Indonesia hanya memiliki segelintir pusat litbang minyak dan gas berkelas dunia untuk mengembangkan teknologi canggih. Hanya sedikit lulusan yang siap menjadi profesional di bidang industri minyak dan gas. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan upaya yang terkoordinasi untuk mengembangkan kapabilitas andal di sektor ini dan mencontoh negara lain seperti Norwegia, Malaysia, dan Brazil yang mampu mengembangkan keterampilan yang andal karena mereka telah mengembangkan sumber daya alamnya sendiri.
Yang diperlukan adalah:
Membangun lembaga bertaraf internasional untuk
mengembangkan 2.000-3.000 doktor di bidang migas dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan dengan melakukan kolaborasi dengan institusi pendidikan perminyakan terkemuka di dunia;
Mengembangkan insentif bagi operator dan perusahaan jasa
internasional untuk membangun pusat litbang mereka di Indonesia dengan fokus kepada teknologi yang relevan untuk kawasan Indonesia; dan
Mendorong para pemimpin (champion) migas nasional
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan makalah diatas berdasarkan pandangan Islam prinsip-prinsip umum pengelolaan SDA di Indonesia telah baik dilakukan mengingat peran-peran segelintir masyarakat tertentu yang memainkan peran dalam pengembangan energi sumber daya alam. Pengoptimalan sumber daya alam melalui peningkatan pelaksanaan kebijakan energi dan sumber daya alam untuk meciptakan kesejahteraan.
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
AS Hikam, Muhammad. Ketahanan Energi Indonesia 2015-2025 Tantangan dan
Harapan. 2014. CV Rumah Buku : Jakarta
Budiman, Arief. dkk. Sepuluh gagasan untuk menguatkan kembali sektor energi
Indonesia. 2014. New Media Australia.
http://economy.okezone.com/pr pemerintah baru mengenai industri migas diakses
pada selasa 10 November 2015 Pukul 11.00 WIB
http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/05/21/128312/hadapi-krisis-energi-indonesia-bersiap-impor-gas diakses pada 9 november Pukul 10.02 WIB http://prasetya.ub.ac.id/industrialisasi energi alternatif
http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/pembangunan%20berkelanjutan%20-%20abdurrahman.pdf diakses pada selasa 10 November 2015 Pukul 11.00 WIB
http://www.opi.lipi.go.id/data/1228964432/data/13086710321320248308.makalah .pdf diakses pada selasa 10 November 2015 Pukul 11.00 WIB
http://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/10-pengertian-energi-menurut-para-ahli.html diakses pada selasa 10 November 2015 Pukul 11.00 WIB
Kementerian Perindustrian. Perencanaan Kebutuhan Energi Sektor Industri
Dalam Rangka Akselerasi Industrialisasi. 2012.
Mardianshah, Deby. Bagaimana Ketahanan Energi Dalam Islam. 2015.
Muhartono, Erikh. Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Alam. 2014. UIN