• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRIM 7 Recent site activity Anggun Hari Kusumawati S.Farm.,M.Si.,Apt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KRIM 7 Recent site activity Anggun Hari Kusumawati S.Farm.,M.Si.,Apt"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

FORMULASI SEDIAAN CAIR DAN SEMIPADAT

“KRIM”

(2)

DEFINISI

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung

satu atau lebih bahan terlarut atau terdispersi dalam bahan

dasar yang sesuai

(FI V, hal 46).

Krim adalah sediaan semi solid kental, umumnya berupa

emulsi M/A (krim berair) atau emulsi A/M (krim berminyak)

(The Pharmaceutical Codex 1994, hal 134).

(The Pharmaceutical Codex 1994, hal 134).

Krim adalah sediaan multi fase yang terdiri dari fase lipofil

(3)

PENGGOLONGAN

Berdasarkan tipe

• Tipe M/A atau O/W

• Krim M/A (Vanishing krim) yang digunakan melalui kulit akan hilang tacnpa bekas.

Pembuatan krim M/A sering menggunakan zat pengemulsi campuran dari surfaktan (jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih popular.

• Contoh : shaving cream, hand cream, foundation cream (RPPS 21th ed, p. 887)

• Contoh : shaving cream, hand cream, foundation cream (RPPS 21 ed, p. 887) • Tipe A/M atau W/O

• Krim berminyak mengandung zat pengemulsi A/M yang spesifik seperti wool alkohol atau ester asam lemak dengan atau garam dari asam lemak dengan logam bervalensi 2, misal Ca. Krim A/M dan M/A membutuhkan emulgator yang berbeda-beda. Jika emulgator tidak tepat, dapat terjadi pembalikan fasa. Penggunaan krim jenis ini umumnya pada penggunaan dengan waktu kontak yang lebih lama, contoh krim malam dan pelembab kaki.

• Contoh : cold cream, emollient cream (RPPS 21th ed, p. 887)

Berdasarkan pemakaian

• Untuk kosmetik, Contoh : Cold cream

(4)

KEUNTUNGAN SEDIAAN KRIM

Mudah dicuci dan dihilangkan dari kulit dan pakaian

Tidak lengket (emulsi m/a)

Basis krim mengandung air dalam jumlah banyak sedangkan sel hidup biasanya lembab.Hal ini akan mempercepat pelepasan obat.

Krim mudah dipakai, memberikan dispersi obat yang baik pada permukaan kulit dan mudah dicuci dengan air.

Absorbsi obat yang optimal adalah pada obat yang larut air dan larut minyak, maka bentuk pembawa yang cocok untuk memperoleh

(5)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

merancang sediaan krim adalah :

Sediaan krim yang baik dapat menjamin stabilitas sistem dispersi,

tetapi juga cukup lunak sehingga mudah dioleskan. Bebas dari

partikel kasar atau partikel yang tidak larut. Bioavalabilitas

optimal.

Pemilihan

zat aktif

untuk sediaan krim harus

dalam bentuk aktif

nya.

Pemilihan

bahan pembantu seminimal mungkin

. Semakin banyak

bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul,

Pemilihan

bahan pembantu seminimal mungkin

. Semakin banyak

bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul,

seperti masalah inkompatibilitas. Akan lebih baik jika menggunakan

eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam.

Penentuan tipe krim disesuaikan dengan kelarutan atau kestabilan

zat aktif yang digunakan.

Zat aktif sebaiknya larut di fasa luar

(6)

 Nilai pH stabilitas zat aktif harus diperhatikan. Kompatibilitaszat aktif dengan

bahan tambahan maupun basis dalam sediaan harus diperhatikan. Sifat termolabil zat aktif mempengaruhi proses pencampuran zat aktif ke dalam basis. Konsistensi sediaan krim yang diinginkan adalah konsistensi yang cukup kental, untuk menjamin stabilitas dispersi, tetapi cukup lunak sehingga mudah dioleskan.

 Pada pembuatan krim perlu ditambahkan pengawet, karena :

-Krim mengandung fase air yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

merancang sediaan krim adalah :

pertumbuhan mikroorganisme.

- Kontaminasi mikroorganisme yang berasal dari bahan baku, alat maupun selama penggunaan sediaan (TPC,151).

 Krim mengandung minyak. Jika krim menggunakan minyak nabati,maka perlu

ditambahkan antioksidan untuk mencegah terjadinya dekomposisi, akibat terjadi reaksi oksidasi (TPC ed 6,151). Jika zat aktif berupa antioksidan (contoh Vitamin C), maka antioksidan yang dipakai adalah harus zat yang memilliki potensial

(7)

Bila sediaan yang terutama ditujukan untuk penggunaan pada luka

terbuka yang besar atau kulit yang parah, maka krim harus

steril

.

Proses

sterilisasi yang biasa digunakan adalah filtrasi atau panas kering selama 1

jam dengan suhu kurang dari 150

o

C. Tapi perkembangan lebih lanjut

banyak diterapkan proses aseptic

(TPC ed 6,151)

.

Jika krim diwadahkan dalam tube aluminium, maka tidak boleh digunakan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

merancang sediaan krim adalah :

Jika krim diwadahkan dalam tube aluminium, maka tidak boleh digunakan

pengawet senyawa raksa organik

(Fornas, Hal 313)

karena akan terbentuk

kompleks pengawet aluminium dan untuk mengatasinya tube harus dilapisi

dengan bahan yang inert

.

Untuk itu, saat memasukkan krim ke dalam tube,

krim dimasukkan beserta kertas perkamennya, untuk melindungi dari

(8)

 Pemberian Etiket:

 Pada etiket BIRU harus tertera “Obat Luar”dan: (BP 2002 hal 1904; BP ’88, Hal 650)  Bila perlu, dapat ditambahkan pada etiket bahwa krim tersebut steril.

 Tanggal kadaluarsa, dimana krim tidak boleh digunakan lagi.  Kondisi penyimpanan.

 Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba sebagai pengawet yang

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

merancang sediaan krim adalah :

 Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba sebagai pengawet yang

ditambahkan.

 Penyimpanan :

 Krim sebaiknya disimpan pada suhu tidak lebih dari 25oC, kecuali dinyatakan lain oleh

produsen. Krim tidak boleh didinginkan karena airnya dapat mengkristal(BP 2002, Hal 1905).

 Wadah :

 Wadah tertutup rapat, sehingga mencegah penguapan dan kontaminasi dari isinya.

(9)

FORMULA

FORMULA UMUM

Zat aktif

Basis

Bahan tambahan lain

Catatan :

Catatan :

Formulasi yang lebih baik adalah krim yang dapat

(10)

BASIS KRIM

Pemilihan basis krim tergantung dari jenis aktivitas farmakologi

yang diinginkan, kompatibilitas dengan komponen lain, stabilitas

fisikokimia dan mikrobiologi produk, kemudahan dalam pembuatan,

penuangan, dan ketersebaran, lamanya waktu kontak, kemungkinan

terjadinya reaksi hipersensitivitas, dan kemudahan pencucian krim

dari daerah aplikasi (Pharmaceutical Manufacturing Handbook, p

269).

269).

Persyaratan basis

(RPS 18

th

ed. hal 1603)

antara lain:

noniritasi

mudah dibersihkan

Tidak tertinggal di kulit

stabil

Tidak tergantung pada pH

(11)

Faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan

basis adalah:

kualitas dan kuantitas bahan

cara pencampuran, kecepatan dan tipe

pencampurannya

suhu pembuatan

suhu pembuatan

jenis emulgator

dengan konsentrasi yang kecil sudah dapat

(12)

Basis krim terdiri atas basis emulsi tipe A/M dan

tipe M/A

(RPS 18

th

ed hal. 1603)

 Basis emulsi tipe A/M. Contoh: lanolin, cold cream

 Sifat :

 emolien

 oklusif

 mengandung air

 beberapa mengabsorpsi air yang ditambahkan  beberapa mengabsorpsi air yang ditambahkan

 berminyak

 Basis emulsi tipe M/A. Contoh: hydrophilic ointment (c/ : Cetomacrogol 1000 + Cetostearyl alcohol)

 Sifat:

 mudah dicuci dengan air

 tidak berminyak

 dapat diencerkan dengan air

(13)

Basis emulsi terdiri dari 3 komponen

yaitu fasa minyak, pengemulsi dan fasa air. Fasa minyak biasanya

terbentuk dari petrolatum atau liquid petrolatum dengan satu atau

lebih alkohol berbobot molekul tinggi seperti setil atau stearil

alkohol.

Stearil alkohol dan petrolatum membentuk fasa minyak yang

mempunyai kegunaan menghaluskan dan membuat nyaman kulit.

Stearil alkohol juga berperan sebagai adjuvan pengemulsi.

Stearil alkohol juga berperan sebagai adjuvan pengemulsi.

Fasa air mengandung pengawet, pengemulsi atau bagian dari

pengemulsi dan humektan.

Humektan biasanya berupa gliserin, propilen glikol atau

polietilenglikol.

Fasa air juga bisa mengandung komponen larut air dari sistem

(14)

ZAT TAMBAHAN LAIN

Pengawet

 Kriteria pengawet yang ideal adalah sebagai berikut (RPS ed 21, p 887):

 Efektif pada konsentrasi yang relatif rendah untuk spektrum

luasatauberbagaimacammikroorganisme yang dapatmenyebabkanpenyakit.

 Larut dalam konsentrasi yang digunakan

 Tidak toksik dan tidak mensensitisasi pada konsentrasi yang digunakan  Tidak toksik dan tidak mensensitisasi pada konsentrasi yang digunakan

 Tidak mempengaruhi (inert)/ dapat bercampur dengan bahan lain dalam

formula dan bahan pengemas

 Lebih mempunyai daya bakterisid daripada bakteriostatik

 Tidak berbau dan tidak berasa

 Stabil pada kondisi penyimpanan

 Tidak mahal

 Tahan terhadap serangan mikroorganisme

 Aktivitas tetap bertahan walaupun terdapat banyak bakteri

(15)

Contoh pengawet dan keterbatasan pemakaiannya

:

(Cooper & Guns, p. 137-138)

Senyawa ammonium kuarterner. Senyawa ini dapat diinaktivasi oleh senyawa ionik, nonionik

dan protein. Efektif pada bakteri gram (-) Pseudomonas aeruginosa. Konsentrasi 0,002-0,01 % untuk penggunaan eksternal.

Senyawa organik merkuri. Senyawa ini cenderung toksik dan mensensitisasi kulit. Pemakaian

dibatasi dalam formulasi untuk digunakan dekat atau dalam mata. Phenyl mercuric nitrat & acetate  0,004-0,01% mengandung emulgator nonionik.

Formaldehid. Bersifat mudah menguap dan berbau, mengiritasi kulit dan reaktivitas tinggi.  Fenol terhalogenasi. Senyawa ini berbau, dapat diinaktivasi olehsenyawa nonionik, anionik  Fenol terhalogenasi. Senyawa ini berbau, dapat diinaktivasi olehsenyawa nonionik, anionik

dan protein. Aktivitas terbatas untuk bakteri Gram negatif. Contoh: Hexachlorophene-o-chloro-m-cresol (HPCMC), p-chloro-m-xylenol (PCMX), dichloro-m-xylenol (DCMX).

Asam sorbat. Contoh: Kalium sorbat, untuk formula dengan pH 6,5 -7, pada konsentrasi

tinggi dapat teroksidasi oleh cahaya matahari dan menyebabkan penghilangan warna

sediaan, terbatas hanya untuk antibakteri. Konsentrasi 0,1-0,2% untuk mengawetkan musilago akasia dan tragakan serta emulsi yang terdiri dari surfaktan nonionik.

Asam benzoat. Contoh: Natrium benzoat, untuk formula dengan pH 5.5 atau kurang. Tidak

(16)

Metilparaben atau propilparaben. Senyawa ini umum digunakan. Menurut Fornas edisi II., hlm. 313 untuk metilparaben sejumlah 0,12%-0,18%, sedangkan untuk propil paraben sejumlah 0,02%-0,05%. Tetapi penggunaan Tween 80 dan Tween 20 dapat mengikat metil paraben dan propil paraben sehingga pengawet menjadi tidak aktif. Metil paraben & propil paraben dapat terikat pada Tween 80 sebanyak 57% dan 90% sehingga agar keduanya tetap efektif sebagai

antimikroba, maka konsentrasinya harus ditingkatkan. (Lachman, Teori & Praktek Ind. Far., 1066)(Di ebook halamanya Cuma sampe 902. Tp itu edisi 3. Jd gatau bukunya sama ato ga). Pada pembuatan krim, metil paraben dan propil paraben dilarutkan terlebih dahulu dalam alkohol, lalu ditambahkan ke dalam basis krim yang sudah dingin.

 Pengawet yang lain adalah klorokresol yang mempunyai aktivitas sebagai antifungi dan

Contoh pengawet dan keterbatasan pemakaiannya

:

(Cooper & Guns, p. 137-138)

 Pengawet yang lain adalah klorokresol yang mempunyai aktivitas sebagai antifungi dan antibakteri. Konsentrasi klorkresol yang dipakai 0,1% untuk pemakaian luar.

Na Benzoat sebagai pengawet antimikroba, potensinya akan turun dengan adanya makromolekul, tetapi masih lebih baik dibandingkan turunan paraben. Oleh karena itu, penggunaan Na benzoate biasanya dalam konsentrasi tinggi, bisa mencapai 0,5%. Larut dalam 2 bagian air.

Penandaan pengawet ("Pharmaceutical Codex" 2nd ed., hlm. 155)

(17)

Pendapar

Pertimbangan penggunaan pendapar adalah untuk

menstabilkan zat aktif, untuk meningkatkan bioavailabilitas

yang maksimum.

Dalam memilih pendapar harus diperhatikan pengaruh

pendapar tersebut terhadap stabilitas krim dan zat aktif.

pendapar tersebut terhadap stabilitas krim dan zat aktif.

Pertimbangan untuk didapar dilakukan pada sediaan dengan

(18)

Humektan atau pembasah

Humektan digunakan untuk meminimalkan hilangnya air dari

sediaan semi solid, mencegah kekeringan (kehilangan air) dan

meningkatkan penerimaan terhadap produk dengan meningkatkan

kualitas usapan dan menjagakonsistensi secara umum.

Pemilihan humektan didasarkan pada sifatnya untuk menahan air

dan efeknya terhadap viskositas dan konsistensi produk akhir.

Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai humektan pada krim

Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai humektan pada krim

dan gel adalah: gliserol, propilenglikol, sorbitol, dan makrogol

dengan BM rendah.

("Pharmaceutical Codex" 12nd ed., hlm. 150)

Poliol, gliserin, propilenglikol, sorbitol 70 dan PEG dengan BM yang

(19)

SURFAKTAN

Tipe surfaktan HLB

Anionik Nonionik Keterangan

Clocusate sodium Pahit, busa

Na-lauril sulfat Pahit, busa

Polysorbate 65 10,5 Pahit

Octoxynol 9 12,2 Pahit

Nonoxynol 60 13,2 Pahit

Polysorbate 60 14,9 Pahit

Polysorbate 80 15 Biasa digunakan, pahit Polysorbate 40 15,6 Toksisitas rendah, pahit

Polysorbate 20 16,7 Pahit

(20)

SURFAKTAN

Nilai HLB mengindikasikan fungsi dari masing-masing

emulgator, emulgator dengan HLB 1 -3 bersifat sebagai

antibusa, 7-10 sebagai wetting agent, 13-15 sebagai

detergent, 13-20 sebagai solubilizers.

Emulsi M/A biasanya memiliki HLB dengan rentang 8-16

sementara emulsi A/M 3-8.

sementara emulsi A/M 3-8.

Secara umum, surfaktan lipofil memiliki nilai HLB dengan

rentang 0-10 sebagai antibusa atau wetting agent

denganemulsi A/M. Surfaktan hidrofil memiliki nilai dengan

rentang 10-20 denganbentukemulsi M/A.

Surfaktan nonionik efektif pada rentang pH 3-10, surfaktan

(21)

Antioksidan

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan antioksidan:

potensi, sifat

iritan, toksisitas, stabilitas, kompatibilitas, warna, bau.

Adakala juga,

antioksidan ditambahkan lebih dari 2 karena memanfaatkan sifatnya yang

sinergis.

(theory and practice of industrial pharmacy by Lachmananda

Lieberman 3

rd

Ed, p 554)

Antioksidan yang dapat ditambahkan

("Teknologi Likuida dan Semisolida",

Goeswin A., hlm. 124):

Goeswin A., hlm. 124):

 Antioksidan sejati : tokoferol, alkil galat, BHA, BHT. Mencegah oksidasi dengan

cara bereaksi dengan radikal bebas & mencegah reaksi cincin.

 Antioksidan sebagai agen pereduksi : garam Na dan K dari asam sulfit. Zat-zat

ini mempunyai potensial oksidasilebih rendah sehingga lebih mudah teroksidasi dibandingkan zat yang lain, kadang-kadang bekerja dengan cara bereaksi dengan radikal bebas.

 Antioksidan sinergis : asam edetat dan asam-asam organik seperti sitrat,

(22)

Pengompleks

Pengompleks diperlukan untuk membuat kompleks

logam yang ada dalam sediaan yang dapat

mengoksidasi.

Logam dapat timbul dari proses pembuatan atau pada

penyimpanan karena wadah yang kurang baik. Contoh

sitrat, EDTA.

sitrat, EDTA.

Pada penggunaan sitrat, harus diperhatikan untuk

sediaan suspensi gel atau sediaan yang mengandung

selulosa akan mengubah viskositas karena memutuskan

ikatan polimer tersebut atau mempengaruhi pelepasan

(pelepasan akan menurun jika viskositas naik).

(23)

Zat Pengemulsi / Emulgator

Asam Lemak dan Alkohol,

Contoh:

asam stearat, asam oleat, dan lemak alcohol seperti:

ketostearil, stearil ,dan setil alkohol. Asam stearat biasanya digunakan

dalam krim yang basisnya dapat dicuci dengan air, sebagai zat

pengemulsi untuk memperoleh konsistensi krim tertentu serta untuk

memperoleh efek yang tidak menyilaukan pada kulit.

Jika sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi, maka umumnya

Jika sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi, maka umumnya

kalium hidroksida atau trietanolamin ditambahkan secukupnya agar

bereaksi dengan 8-20% asam stearat.

Asam lemak yang tidak bereaksi meningkatkan konsistensi krim. Krim ini

(24)

Zat Pengemulsi

Penambahan zat-zat polar yang bersifat lemak, seperti

setil alkohol cenderung menstabilkan emulsi M/A

sediaan semipadat. Ion-ion polivalen, seperti Mg, Ca,

dan Al cenderung menstabilkan emulsi A/M dengan

membentuk ikatan silang dengan gugus-gugus polar

membentuk ikatan silang dengan gugus-gugus polar

bahan lemak.

Magnesium aluminium silikat juga membantu

menstabilkan emulsi A/M jika digunakan dengan

pengemulsi yang cocok, mungkin dengan efek

(25)

Emulgator

 Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan anion,

kation atau nonionik. Jenis emulgator yang digunakan ada 3: surfaktan, emulgator alam (contoh: tragakan dan akasia) dan serbuk padat terbagi halus.

 Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang

dikehendaki. Untuk krim tipe M/A digunakan zat pengemulsi seperti trietanolaminil stearat (TEA-stearat) dan golongan sorbitan, polisorbat poliglikol, sabun.

 Untuk membuat krim tipe A/M digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu

domba, setil alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgid. domba, setil alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgid.

 Emulgator yang ideal untuk farmaseutika (Pharmaceutical Codex, 12ed, hlm. 84):

 Stabil.  Inert.

 Bebas dari bahan yang toksik dan iritan.

(26)

Campuran pengemulsi yang banyak digunakan,

adalah :

Emulsifying wax BP

surfaktan anionik

(Aulton, Pharmaceutical Practise, Hal

110).

Campuran dari Na-lauril sulfat 10% dengan Cetostearyl Alkohol 90%

Lannex wax

Campuran etil dan stearil alkohol yang disulfonasi

Cetrimide emulsifying wax

surfaktan kationik

(Aulton, Pharmaceutical

Practise, Hal 110).

Campuran dari Cetrimide 10% dengan Cetostearyl

Cetrimide emulsifying wax

surfaktan kationik

(Aulton, Pharmaceutical

Practise, Hal 110).

Campuran dari Cetrimide 10% dengan Cetostearyl

alkohol 90%

Emulsifying wax non ionik

(Aulton, Pharmaceutical Practise, Hal 110).

80% setostearil alkohol dan 20% macrogol 1000

Cetomacrogol emulsifying wax.

(27)

Faktor pemilihan emulgator :

 Berdasarkan harga HLB butuh, umumnya kombinasi

 Sifat ionik emulgator:

Emulgator kationik:

 Efektif pada pH 3-7 (Dispensing for Pharmaceutical Students, Cooper & Guns,

hlm 128), digunakan dalam emulsi yang mengandung bahan obat kationik, konsentrasi elektrolit yang tinggi, keasaman yang tinggi.

konsentrasi elektrolit yang tinggi, keasaman yang tinggi.

 pH kulit ±5,5 emulgator kationik cocok untuk tujuan topikal. Memiliki

aktivitas antimikroba sehingga tidak perlu penambahan pengawet. Kompatibel dengan bahan obat kationik dan dengan ion kalsium dan

magnesium, tetapi sensitif pada surfaktan anionik  dalam konsentrasi kecil sekalipun  efek pengawet berkurang dan juga terjadi dengan surfaktan nonionik konsentrasi tinggi.

 Sifat-sifat emulgator kationik: daya pengemulsi lemah dan merupakan

eksipien yang dapat mempertinggi konsistensi.

 Contohnya senyawa amonium kuarterner seperti cetrimide, benzalkonium klorida, dan

(28)

Emulgator anionik.

 Efektif pada pH 7-8 digunakan dalam emulsi yang mengandung bahan obat

anionik. Contohnya natrium lauril sulfat,natrium ketostearil sulfat, TEA stearat, dan kalsium oleat.

Emulgator nonionik.

 Banyak digunakan untuk emulsi m/a ataupun sebaliknya a/m.

Faktor pemilihan emulgator :

 Banyak digunakan untuk emulsi m/a ataupun sebaliknya a/m.

 Efektif pada pH 4-9 dandiatas pH 9 banyak yang terhidrolisis, karena banyak berupa

golongan ester.

 Tidak dipengaruhi oleh elektrolit,

 Efek iritasi lebih berkurang daripada emulgator ionik dan tida kmemberikan efek iritasi.  Salah satu kelemahan dari emulgator nonionik adalah kecenderungan untuk mengikat atau

menginaktivasi pengawet golongan asam karboksilat dan fenolat. Contohnya: gliserin, monostearat, sorbitan monolaurat, sorbitan menooleat, sorbitan monopalmitat, polioksi 8 stearat, dll. (TPC ed 6, hal 87)

 Tipe kimia emulgator→ Perbedaan tingkat kejenuhan komponen lipofilik dari

emulgator mempengaruhi stabilitas emulsi.

(29)

Yang harus diperhatikan dari emulgator:

Perbandingan gugus hidrofil dan lipofil. HLB adalah ukuran

keseimbangan keadaan lipofil dan hidrofil yang merupakan

karakteristik emulgator golongan surfaktan.

A. Cara substitusi

Contoh: polisorbat 80 (HLB= 15) dan sorbitan monooleat (HLB=4,3)

digunakan sebagai emulgator dalam sistem M/A berikut:

Parafin cair (HLB butuh =12) 30 g

 Parafin cair (HLB butuh =12) 30 g

 Wool fat (HLB butuh = 10) 5 g

 Emulgator 5 g

 Air ad 100 g

1) HLB butuh pada fasa minyak

2) emulgator yang diperlukan, mis: polisorbat x%, sorbitan 100-x%

Polisorbat yang diperlukan = 69% x 5 g = 3,458g

(30)

Cara aligasi

(31)

Emulgator yang sering digunakan:

Golongan alam: akasia, alginate, pectin, gom arab,

tragakan

Semi Sintetik: anionik: Na dodecyl sulfat, kationik:

benzalkonium klorida, nonionic: PEG 400 monostearat,

amfolitik: turunan asam amino rantai panjang

amfolitik: turunan asam amino rantai panjang

TEA-stearat, TEA-lauril sulfat, Na-stearat, Span/Tween

20,40,60,80,85, macrogol-300, 4000, 1540, setil

alkohol, GMS, emulgid.

Zat terbagi halus: veegum (alumunium silikat), bentonit

(32)

Beberapa Contoh Emulgator:

Stearil alkohol

Asam Stearat

Trietanolamin

Setil alkohol

Polysorbates (Tween)

Sorbitan esters (Span)

Na-lauril sulfat

Cetomacrogol 1000

(33)

PROSEDUR PEMBUATAN

1. Metode in situ

(Emulsions and Emulsion Technology,

Part I Vol. 6,Lissant, KJ. Hlm. 758)

Yaitu sabun yang

digunakan sebagai emulsifier dalam emulsi M/A

terbentuk selama proses emulsifikasi. Contoh: asam

stearat dan trietanolamin (TEA) membentuk sabun

trietanolamin stearat. Cara:

trietanolamin stearat. Cara:

Panaskan air dan TEA hingga suhu 70

o

C.

Lelehkan asam stearat pada suhu 65°C.

Campurkan keduanya dalam wadah (yang masih panas

tersebut).

(34)

2. RPS 18 hlm. 1606-1607

Bahan-bahan larut minyak dan lemak dilelehkan dalam

suatu wadah hingga suhu 75°C.

Air dipanaskan bersama komponen-komponen larut air

(biasanya termasuk emulgator) dalam wadah lain dengan

suhu diatas 75

o

C.

PROSEDUR PEMBUATAN

suhu diatas 75

o

C.

Keduanya dicampurkan pada suhu yang sama (75

o

C) dan

dicampur sampai suhu mendekati 35°C.

Pengadukan dilakukan hingga krim halus terbentuk.

Pengadukan dilakukan perlahan-lahan tapi terus-menerus

dan diaduk dengan hati-hati, artinya pengemulsi tidak

(35)

3. Dispensing of Medication (Martin) hlm. 831-832

Fasa minyak dilelehkan sebagian dimulai dengan bahan yang

mempunyai titik leleh paling tinggi. Fasa minyak yang lain kemudian

ditambahkan untuk menurunkan titik leleh.

Fasa air dipanaskan beberapa derajat diatas suhu titik leleh fasa

minyak.

PROSEDUR PEMBUATAN

minyak.

Kemudian kedua fasa digabungkan. Bila yang akan dibuat adalah

sistem A/M maka tambahkan fasa air ke dalam fasa minyak dan

lakukan pengadukan.

Bahan-bahan yang mudah menguap seperti parfum, mentol, kamfer

tambahkan setelah basis didinginkan ± 40°C.

Bila bahan obat adalah padatan dan tidak larut dalam basis maka

(36)

Metode pelelehan

(

Teknologi Farmasi Likuida dan Semisolida, metode sedian

semisolid hlm. 123

)

Prinsip : jumlah yang dilebihkan adalah jumlah sediaan yang akan dibuat (10%).  Zat pembawa + zat aktif, dilelehkan dan diaduk hingga membentuk fasa

homogen. Perhatikan stabilitas zat yang berkhasiat terhadap suhu pada saat pelelehan.

PROSEDUR PEMBUATAN

pelelehan.

 Penimbangan bahan aktif dan bahan tambahan sesuai kebutuhan, jika bahan

tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan penimbangan berlebih 10% sebelum dihaluskan dan dilakukan penimbangan ulang sesuai kebutuhan setelah

dihaluskan.

 (* jika zat aktif larut air, maka dipanaskan bersama fasa air dan jika zat aktif

larut minyak maka dilelehkan bersama fasa minyak).

 Bahan basis krim dan bahan tambahan yang larut lemak serta tahan terhadap

(37)

METODE PELELEHAN

Bahan-bahan yang larut air dan tahan panas, serta air yang diperlukan

dipanaskan sampai 70

o

C.

Fasa air dan fasa minyak yang telah dipanaskan hingga suhu 70

o

C

dicampurkan dalam mortir steril, kemudian diaduk sampai terbentuk massa

krim yang homogen. (Catatan : bahan yang mudah menguap ditambahkan

setelah basis dingin + 40

o

C).

Krim didinginkan hingga suhu kamar.

Krim didinginkan hingga suhu kamar.

Krim ditimbang dengan kertas perkamen sejumlah yang diperlukan, lalu

kertas perkamen digulung menutupi sediaan krim.

Krim yang digulung dalam gulungan perkamen dimasukkan ke dalam tube

dalam kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup. Kemudian tube

ditutup dengan melipat bagian belakang yang terbuka.

Etiket ditempelkan pada tube basis krim, diberi brosur, dan dimasukkan ke

dalam kotak.

(38)

TRITURASI

Zat yang tidak larut didistribusikan dengan sedikit (sejumlahsama) basis

atau dengan salah satu zat pembantu, tambahkan sisa basis. Dapat juga

digunakan pelarut organik untuk melarutkan terlebih dulu zat aktif

kemudian dicampurkan dengan basis yang akan digunakan.

Penimbangan bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak tahan panas

sesuai kebutuhan, jika bahan tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan

sesuai kebutuhan, jika bahan tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan

penimbangan berlebih 10% sebelum dihaluskan dan dilakukan

penimbangan ulang sesuai kebutuhan setelah dihaluskan.

Bahan basis dan bahan tambahan yang tahan panas ditimbang berlebih

10-20%.

(39)

 Bahan-bahan yang larut air dan tahan panas, serta air yang diperlukan

dipanaskan sampai 70oC di atas penangas air.

 Fasa air dan fasa minyak yang telah dipanaskan hingga suhu 70oC dicampurkan

dalam mortir hangat (dengan cara membakar alkohol di dalam mortir), kemudian diaduk menggunakan “ultrathurax“ sampai terbentuk massa basis krim yang

homogen. (Catatan : bahan yang mudah menguap ditambahkan setelah basis dingin + 40oC).

 Basis krim didinginkan hingga suhu kamar. Sejumlah basis krim ditimbang sesuai

dengan yang diperlukan.

 Zat aktif dan bahan tambahan yang tidak tahan panas dicampur hingga homogen

di dalam mortir (jumlahnya tidak dilebihkan, yang dilebihkan adalah jumlah

di dalam mortir (jumlahnya tidak dilebihkan, yang dilebihkan adalah jumlah

sediaan yang akan dibuat (10%)) kemudian basis ditambahkan secara geometris dan digerus hingga homogen.

 Krim ditimbang di atas kertas perkamen sejumlah yang diperlukan, lalu kertas

perkamen digulung menutupi sediaan krim.

 Krim yang digulung dalam gulungan perkamen dimasukkan ke dalam tube dalam

kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup. Kemudian tube ditutup dengan melipat bagian belakang yang terbuka.

 Etiket ditempelkan pada tube basis krim, diberi brosur, dan dimasukkan ke dalam

(40)

PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN

Cracking,

yaitu koalesen dari globul yang

terdispersi dan pemisahan fase terdispersihingga

membentuk lapisan yang terpisah. Penyebab

cracking adalah :

Penambahan emulgator dengan tipe berlawanan,

Penambahan emulgator dengan tipe berlawanan,

Contoh :

Sabun-sabun dari logam monovalen (soaps of monovalen

metals) yang menghasilkan emulsi M/A ditambahkan ke

dalam soaps of divalenmetals yang menghasilkan emulsi

A/M dan begitu pula sebaliknya.

Penggunaan emulgator anionik dan kationik yang tidak

(41)

 Dekomposisi atau pengendapan emulgator, Contoh :

 Sabun alkali dapat terdekomposisi dengan adanya asam kemudian terjadi

pembebasan asam lemak dan garam alkalisehingga tidak mempunyai kekuatan sebagai emulgator akibat penambahan asam ini

 Terjadinya salting out dari natrium atau kalium soaps oleh adanya NaCl dan

elektrolit tertentu lain sehingga emulgator mengendap

Emulgator anionik yang tidak kompatibel dengan bahan yang mempunyai

 Emulgator anionik yang tidak kompatibel dengan bahan yang mempunyai

konsentrasi kation tinggi, begitu pula sebaliknya, emulgator non ionik tidak kompatibel dengan fenol

 Penambahan gum, protein gelatin, dan kasein yang tidak larut dalam alkohol

apabila alkohol digunakan pada emulsi yang dibuat dengan emulgator maka emulgator akan mengendap.

 Penambahan larutan dimana fase terdispersi dan pendispersinya dalam

bentuk terlarut pada sistem satu fasa yang merusak emulsi. Contoh:

(42)

Creaming,

terjadi emulsi yang terkonsentrasi sehingga membentuk krim

pada permukaan emulsi.

Creaming

merupakan pergerakan keatas droplet

yang terdispersi dalam fase pendispersi. Sedangkan

sedimentasi

adalah

pergerakan partikel-partikel ke bawah. Kedua hal ini masih dapat

diterima asalkan dapat direkonstitusi saat dikocok. Creaming dapat diukur

secara visual, mikroskopik, dielektrik, analitik, dan teknik radioisotop.

(

Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker,

Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse Sistem vol 1, 1998, New York, Hlm

PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN

(

Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker,

Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse Sistem vol 1, 1998, New York, Hlm

237)

Creaming dapat diminimalkan dengan :

 Mengurangi ukuran partikel terdispersi dan distribusi ukuran globul

 Meningkatkan viskositas fase pendispersi untuk mempertahankan pergerakan

globul

 Disimpan ditempat sejuk

(43)

Flokulasi (agregasi)

 Flokulasi terjadi sebelum, saat, atau setelah creaming. Flokulasi merupakan

agregasi yang reversibel dari droplet fase dalam berbentuk cluster 3 dimensi.

 Penyebab flokulasi : kurang emulgator

 Flokulasi hanya dapat terjadi saat barier mekanik/elektrik tidak cukup

mencegah terjadinya koalesen, droplet

PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN

mencegah terjadinya koalesen, droplet

Flokulasi : partikel-partikel membentuk suatu kumpulan

Coalesence : bersatunya agglomeratmenjadi drops yang lebih besar.

 Teknik yang digunakan untuk memeriksa koalesen dan pemisahan fase yaitu

secara visual, photomicrography, dan coutler counter (untuk ukuran partikel).

 Emulsi yang stabil tidak akan menunjukkan koalesen, creaming pada saat self

time atau saat dibekukan dan dicairkan berulang-ulang atau pada suhu tinggi (40-50oC)

(Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker, Pharmaceutical

(44)

 Antimikroba (jamur dan bakteri), oleh karena itu emulsi sebaiknya

menggunakan pengawet yang dapat tidakmerusak agen pengemulsi dan menyebabkan cracking

 Inkorporasi dari fase terdispersi yang berlebihan

 Jika partikel dari fase terdispersi berbentuk sferis dan seragam maka

volume fase terdispersi tidak akan melebihi 74% dari volume total emulsi, tetapi kebanyakan bentuk partikel tidak sferis dan tidak seragam maka tetapi kebanyakan bentuk partikel tidak sferis dan tidak seragam maka volume yang terjadi lebih dari 74% dari volume total sehingga terjadi cracking.

Referensi

Dokumen terkait