FORMULASI SEDIAAN CAIR DAN SEMIPADAT
“KRIM”
DEFINISI
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, mengandung
satu atau lebih bahan terlarut atau terdispersi dalam bahan
dasar yang sesuai
(FI V, hal 46).
Krim adalah sediaan semi solid kental, umumnya berupa
emulsi M/A (krim berair) atau emulsi A/M (krim berminyak)
(The Pharmaceutical Codex 1994, hal 134).
(The Pharmaceutical Codex 1994, hal 134).
Krim adalah sediaan multi fase yang terdiri dari fase lipofil
PENGGOLONGAN
Berdasarkan tipe
• Tipe M/A atau O/W
• Krim M/A (Vanishing krim) yang digunakan melalui kulit akan hilang tacnpa bekas.
Pembuatan krim M/A sering menggunakan zat pengemulsi campuran dari surfaktan (jenis lemak yang ampifil) yang umumnya merupakan rantai panjang alkohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih popular.
• Contoh : shaving cream, hand cream, foundation cream (RPPS 21th ed, p. 887)
• Contoh : shaving cream, hand cream, foundation cream (RPPS 21 ed, p. 887) • Tipe A/M atau W/O
• Krim berminyak mengandung zat pengemulsi A/M yang spesifik seperti wool alkohol atau ester asam lemak dengan atau garam dari asam lemak dengan logam bervalensi 2, misal Ca. Krim A/M dan M/A membutuhkan emulgator yang berbeda-beda. Jika emulgator tidak tepat, dapat terjadi pembalikan fasa. Penggunaan krim jenis ini umumnya pada penggunaan dengan waktu kontak yang lebih lama, contoh krim malam dan pelembab kaki.
• Contoh : cold cream, emollient cream (RPPS 21th ed, p. 887)
Berdasarkan pemakaian
• Untuk kosmetik, Contoh : Cold cream
KEUNTUNGAN SEDIAAN KRIM
Mudah dicuci dan dihilangkan dari kulit dan pakaian
Tidak lengket (emulsi m/a)
Basis krim mengandung air dalam jumlah banyak sedangkan sel hidup biasanya lembab.Hal ini akan mempercepat pelepasan obat.
Krim mudah dipakai, memberikan dispersi obat yang baik pada permukaan kulit dan mudah dicuci dengan air.
Absorbsi obat yang optimal adalah pada obat yang larut air dan larut minyak, maka bentuk pembawa yang cocok untuk memperoleh
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
merancang sediaan krim adalah :
Sediaan krim yang baik dapat menjamin stabilitas sistem dispersi,
tetapi juga cukup lunak sehingga mudah dioleskan. Bebas dari
partikel kasar atau partikel yang tidak larut. Bioavalabilitas
optimal.
Pemilihan
zat aktif
untuk sediaan krim harus
dalam bentuk aktif
nya.
Pemilihan
bahan pembantu seminimal mungkin
. Semakin banyak
bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul,
Pemilihan
bahan pembantu seminimal mungkin
. Semakin banyak
bahan yang digunakan, semakin banyak pula masalah yang timbul,
seperti masalah inkompatibilitas. Akan lebih baik jika menggunakan
eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam.
Penentuan tipe krim disesuaikan dengan kelarutan atau kestabilan
zat aktif yang digunakan.
Zat aktif sebaiknya larut di fasa luar
Nilai pH stabilitas zat aktif harus diperhatikan. Kompatibilitaszat aktif dengan
bahan tambahan maupun basis dalam sediaan harus diperhatikan. Sifat termolabil zat aktif mempengaruhi proses pencampuran zat aktif ke dalam basis. Konsistensi sediaan krim yang diinginkan adalah konsistensi yang cukup kental, untuk menjamin stabilitas dispersi, tetapi cukup lunak sehingga mudah dioleskan.
Pada pembuatan krim perlu ditambahkan pengawet, karena :
-Krim mengandung fase air yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
merancang sediaan krim adalah :
pertumbuhan mikroorganisme.
- Kontaminasi mikroorganisme yang berasal dari bahan baku, alat maupun selama penggunaan sediaan (TPC,151).
Krim mengandung minyak. Jika krim menggunakan minyak nabati,maka perlu
ditambahkan antioksidan untuk mencegah terjadinya dekomposisi, akibat terjadi reaksi oksidasi (TPC ed 6,151). Jika zat aktif berupa antioksidan (contoh Vitamin C), maka antioksidan yang dipakai adalah harus zat yang memilliki potensial
Bila sediaan yang terutama ditujukan untuk penggunaan pada luka
terbuka yang besar atau kulit yang parah, maka krim harus
steril
.
Proses
sterilisasi yang biasa digunakan adalah filtrasi atau panas kering selama 1
jam dengan suhu kurang dari 150
oC. Tapi perkembangan lebih lanjut
banyak diterapkan proses aseptic
(TPC ed 6,151)
.
Jika krim diwadahkan dalam tube aluminium, maka tidak boleh digunakan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
merancang sediaan krim adalah :
Jika krim diwadahkan dalam tube aluminium, maka tidak boleh digunakan
pengawet senyawa raksa organik
(Fornas, Hal 313)
karena akan terbentuk
kompleks pengawet aluminium dan untuk mengatasinya tube harus dilapisi
dengan bahan yang inert
.
Untuk itu, saat memasukkan krim ke dalam tube,
krim dimasukkan beserta kertas perkamennya, untuk melindungi dari
Pemberian Etiket:
Pada etiket BIRU harus tertera “Obat Luar”dan: (BP 2002 hal 1904; BP ’88, Hal 650) Bila perlu, dapat ditambahkan pada etiket bahwa krim tersebut steril.
Tanggal kadaluarsa, dimana krim tidak boleh digunakan lagi. Kondisi penyimpanan.
Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba sebagai pengawet yang
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
merancang sediaan krim adalah :
Pada label dicantumkan nama dan konsentrasi antimikroba sebagai pengawet yang
ditambahkan.
Penyimpanan :
Krim sebaiknya disimpan pada suhu tidak lebih dari 25oC, kecuali dinyatakan lain oleh
produsen. Krim tidak boleh didinginkan karena airnya dapat mengkristal(BP 2002, Hal 1905).
Wadah :
Wadah tertutup rapat, sehingga mencegah penguapan dan kontaminasi dari isinya.
FORMULA
FORMULA UMUM
Zat aktif
Basis
Bahan tambahan lain
Catatan :
Catatan :
Formulasi yang lebih baik adalah krim yang dapat
BASIS KRIM
Pemilihan basis krim tergantung dari jenis aktivitas farmakologi
yang diinginkan, kompatibilitas dengan komponen lain, stabilitas
fisikokimia dan mikrobiologi produk, kemudahan dalam pembuatan,
penuangan, dan ketersebaran, lamanya waktu kontak, kemungkinan
terjadinya reaksi hipersensitivitas, dan kemudahan pencucian krim
dari daerah aplikasi (Pharmaceutical Manufacturing Handbook, p
269).
269).
Persyaratan basis
(RPS 18
thed. hal 1603)
antara lain:
noniritasi
mudah dibersihkan
Tidak tertinggal di kulit
stabil
Tidak tergantung pada pH
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan
basis adalah:
kualitas dan kuantitas bahan
cara pencampuran, kecepatan dan tipe
pencampurannya
suhu pembuatan
suhu pembuatan
jenis emulgator
dengan konsentrasi yang kecil sudah dapat
Basis krim terdiri atas basis emulsi tipe A/M dan
tipe M/A
(RPS 18
thed hal. 1603)
Basis emulsi tipe A/M. Contoh: lanolin, cold cream
Sifat :
emolien
oklusif
mengandung air
beberapa mengabsorpsi air yang ditambahkan beberapa mengabsorpsi air yang ditambahkan
berminyak
Basis emulsi tipe M/A. Contoh: hydrophilic ointment (c/ : Cetomacrogol 1000 + Cetostearyl alcohol)
Sifat:
mudah dicuci dengan air
tidak berminyak
dapat diencerkan dengan air
Basis emulsi terdiri dari 3 komponen
yaitu fasa minyak, pengemulsi dan fasa air. Fasa minyak biasanya
terbentuk dari petrolatum atau liquid petrolatum dengan satu atau
lebih alkohol berbobot molekul tinggi seperti setil atau stearil
alkohol.
Stearil alkohol dan petrolatum membentuk fasa minyak yang
mempunyai kegunaan menghaluskan dan membuat nyaman kulit.
Stearil alkohol juga berperan sebagai adjuvan pengemulsi.
Stearil alkohol juga berperan sebagai adjuvan pengemulsi.
Fasa air mengandung pengawet, pengemulsi atau bagian dari
pengemulsi dan humektan.
Humektan biasanya berupa gliserin, propilen glikol atau
polietilenglikol.
Fasa air juga bisa mengandung komponen larut air dari sistem
ZAT TAMBAHAN LAIN
Pengawet
Kriteria pengawet yang ideal adalah sebagai berikut (RPS ed 21, p 887):
Efektif pada konsentrasi yang relatif rendah untuk spektrum
luasatauberbagaimacammikroorganisme yang dapatmenyebabkanpenyakit.
Larut dalam konsentrasi yang digunakan
Tidak toksik dan tidak mensensitisasi pada konsentrasi yang digunakan Tidak toksik dan tidak mensensitisasi pada konsentrasi yang digunakan
Tidak mempengaruhi (inert)/ dapat bercampur dengan bahan lain dalam
formula dan bahan pengemas
Lebih mempunyai daya bakterisid daripada bakteriostatik
Tidak berbau dan tidak berasa
Stabil pada kondisi penyimpanan
Tidak mahal
Tahan terhadap serangan mikroorganisme
Aktivitas tetap bertahan walaupun terdapat banyak bakteri
Contoh pengawet dan keterbatasan pemakaiannya
:
(Cooper & Guns, p. 137-138)
Senyawa ammonium kuarterner. Senyawa ini dapat diinaktivasi oleh senyawa ionik, nonionik
dan protein. Efektif pada bakteri gram (-) Pseudomonas aeruginosa. Konsentrasi 0,002-0,01 % untuk penggunaan eksternal.
Senyawa organik merkuri. Senyawa ini cenderung toksik dan mensensitisasi kulit. Pemakaian
dibatasi dalam formulasi untuk digunakan dekat atau dalam mata. Phenyl mercuric nitrat & acetate 0,004-0,01% mengandung emulgator nonionik.
Formaldehid. Bersifat mudah menguap dan berbau, mengiritasi kulit dan reaktivitas tinggi. Fenol terhalogenasi. Senyawa ini berbau, dapat diinaktivasi olehsenyawa nonionik, anionik Fenol terhalogenasi. Senyawa ini berbau, dapat diinaktivasi olehsenyawa nonionik, anionik
dan protein. Aktivitas terbatas untuk bakteri Gram negatif. Contoh: Hexachlorophene-o-chloro-m-cresol (HPCMC), p-chloro-m-xylenol (PCMX), dichloro-m-xylenol (DCMX).
Asam sorbat. Contoh: Kalium sorbat, untuk formula dengan pH 6,5 -7, pada konsentrasi
tinggi dapat teroksidasi oleh cahaya matahari dan menyebabkan penghilangan warna
sediaan, terbatas hanya untuk antibakteri. Konsentrasi 0,1-0,2% untuk mengawetkan musilago akasia dan tragakan serta emulsi yang terdiri dari surfaktan nonionik.
Asam benzoat. Contoh: Natrium benzoat, untuk formula dengan pH 5.5 atau kurang. Tidak
Metilparaben atau propilparaben. Senyawa ini umum digunakan. Menurut Fornas edisi II., hlm. 313 untuk metilparaben sejumlah 0,12%-0,18%, sedangkan untuk propil paraben sejumlah 0,02%-0,05%. Tetapi penggunaan Tween 80 dan Tween 20 dapat mengikat metil paraben dan propil paraben sehingga pengawet menjadi tidak aktif. Metil paraben & propil paraben dapat terikat pada Tween 80 sebanyak 57% dan 90% sehingga agar keduanya tetap efektif sebagai
antimikroba, maka konsentrasinya harus ditingkatkan. (Lachman, Teori & Praktek Ind. Far., 1066)(Di ebook halamanya Cuma sampe 902. Tp itu edisi 3. Jd gatau bukunya sama ato ga). Pada pembuatan krim, metil paraben dan propil paraben dilarutkan terlebih dahulu dalam alkohol, lalu ditambahkan ke dalam basis krim yang sudah dingin.
Pengawet yang lain adalah klorokresol yang mempunyai aktivitas sebagai antifungi dan
Contoh pengawet dan keterbatasan pemakaiannya
:
(Cooper & Guns, p. 137-138)
Pengawet yang lain adalah klorokresol yang mempunyai aktivitas sebagai antifungi dan antibakteri. Konsentrasi klorkresol yang dipakai 0,1% untuk pemakaian luar.
Na Benzoat sebagai pengawet antimikroba, potensinya akan turun dengan adanya makromolekul, tetapi masih lebih baik dibandingkan turunan paraben. Oleh karena itu, penggunaan Na benzoate biasanya dalam konsentrasi tinggi, bisa mencapai 0,5%. Larut dalam 2 bagian air.
Penandaan pengawet ("Pharmaceutical Codex" 2nd ed., hlm. 155)
Pendapar
Pertimbangan penggunaan pendapar adalah untuk
menstabilkan zat aktif, untuk meningkatkan bioavailabilitas
yang maksimum.
Dalam memilih pendapar harus diperhatikan pengaruh
pendapar tersebut terhadap stabilitas krim dan zat aktif.
pendapar tersebut terhadap stabilitas krim dan zat aktif.
Pertimbangan untuk didapar dilakukan pada sediaan dengan
Humektan atau pembasah
Humektan digunakan untuk meminimalkan hilangnya air dari
sediaan semi solid, mencegah kekeringan (kehilangan air) dan
meningkatkan penerimaan terhadap produk dengan meningkatkan
kualitas usapan dan menjagakonsistensi secara umum.
Pemilihan humektan didasarkan pada sifatnya untuk menahan air
dan efeknya terhadap viskositas dan konsistensi produk akhir.
Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai humektan pada krim
Bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai humektan pada krim
dan gel adalah: gliserol, propilenglikol, sorbitol, dan makrogol
dengan BM rendah.
("Pharmaceutical Codex" 12nd ed., hlm. 150)
Poliol, gliserin, propilenglikol, sorbitol 70 dan PEG dengan BM yang
SURFAKTAN
Tipe surfaktan HLB
Anionik Nonionik Keterangan
Clocusate sodium Pahit, busa
Na-lauril sulfat Pahit, busa
Polysorbate 65 10,5 Pahit
Octoxynol 9 12,2 Pahit
Nonoxynol 60 13,2 Pahit
Polysorbate 60 14,9 Pahit
Polysorbate 80 15 Biasa digunakan, pahit Polysorbate 40 15,6 Toksisitas rendah, pahit
Polysorbate 20 16,7 Pahit
SURFAKTAN
Nilai HLB mengindikasikan fungsi dari masing-masing
emulgator, emulgator dengan HLB 1 -3 bersifat sebagai
antibusa, 7-10 sebagai wetting agent, 13-15 sebagai
detergent, 13-20 sebagai solubilizers.
Emulsi M/A biasanya memiliki HLB dengan rentang 8-16
sementara emulsi A/M 3-8.
sementara emulsi A/M 3-8.
Secara umum, surfaktan lipofil memiliki nilai HLB dengan
rentang 0-10 sebagai antibusa atau wetting agent
denganemulsi A/M. Surfaktan hidrofil memiliki nilai dengan
rentang 10-20 denganbentukemulsi M/A.
Surfaktan nonionik efektif pada rentang pH 3-10, surfaktan
Antioksidan
Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan antioksidan:
potensi, sifat
iritan, toksisitas, stabilitas, kompatibilitas, warna, bau.
Adakala juga,
antioksidan ditambahkan lebih dari 2 karena memanfaatkan sifatnya yang
sinergis.
(theory and practice of industrial pharmacy by Lachmananda
Lieberman 3
rdEd, p 554)
Antioksidan yang dapat ditambahkan
("Teknologi Likuida dan Semisolida",
Goeswin A., hlm. 124):
Goeswin A., hlm. 124):
Antioksidan sejati : tokoferol, alkil galat, BHA, BHT. Mencegah oksidasi dengan
cara bereaksi dengan radikal bebas & mencegah reaksi cincin.
Antioksidan sebagai agen pereduksi : garam Na dan K dari asam sulfit. Zat-zat
ini mempunyai potensial oksidasilebih rendah sehingga lebih mudah teroksidasi dibandingkan zat yang lain, kadang-kadang bekerja dengan cara bereaksi dengan radikal bebas.
Antioksidan sinergis : asam edetat dan asam-asam organik seperti sitrat,
Pengompleks
Pengompleks diperlukan untuk membuat kompleks
logam yang ada dalam sediaan yang dapat
mengoksidasi.
Logam dapat timbul dari proses pembuatan atau pada
penyimpanan karena wadah yang kurang baik. Contoh
sitrat, EDTA.
sitrat, EDTA.
Pada penggunaan sitrat, harus diperhatikan untuk
sediaan suspensi gel atau sediaan yang mengandung
selulosa akan mengubah viskositas karena memutuskan
ikatan polimer tersebut atau mempengaruhi pelepasan
(pelepasan akan menurun jika viskositas naik).
Zat Pengemulsi / Emulgator
Asam Lemak dan Alkohol,
Contoh:
asam stearat, asam oleat, dan lemak alcohol seperti:
ketostearil, stearil ,dan setil alkohol. Asam stearat biasanya digunakan
dalam krim yang basisnya dapat dicuci dengan air, sebagai zat
pengemulsi untuk memperoleh konsistensi krim tertentu serta untuk
memperoleh efek yang tidak menyilaukan pada kulit.
Jika sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi, maka umumnya
Jika sabun stearat digunakan sebagai pengemulsi, maka umumnya
kalium hidroksida atau trietanolamin ditambahkan secukupnya agar
bereaksi dengan 8-20% asam stearat.
Asam lemak yang tidak bereaksi meningkatkan konsistensi krim. Krim ini
Zat Pengemulsi
Penambahan zat-zat polar yang bersifat lemak, seperti
setil alkohol cenderung menstabilkan emulsi M/A
sediaan semipadat. Ion-ion polivalen, seperti Mg, Ca,
dan Al cenderung menstabilkan emulsi A/M dengan
membentuk ikatan silang dengan gugus-gugus polar
membentuk ikatan silang dengan gugus-gugus polar
bahan lemak.
Magnesium aluminium silikat juga membantu
menstabilkan emulsi A/M jika digunakan dengan
pengemulsi yang cocok, mungkin dengan efek
Emulgator
Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan anion,
kation atau nonionik. Jenis emulgator yang digunakan ada 3: surfaktan, emulgator alam (contoh: tragakan dan akasia) dan serbuk padat terbagi halus.
Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang
dikehendaki. Untuk krim tipe M/A digunakan zat pengemulsi seperti trietanolaminil stearat (TEA-stearat) dan golongan sorbitan, polisorbat poliglikol, sabun.
Untuk membuat krim tipe A/M digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu
domba, setil alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgid. domba, setil alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgid.
Emulgator yang ideal untuk farmaseutika (Pharmaceutical Codex, 12ed, hlm. 84):
Stabil. Inert.
Bebas dari bahan yang toksik dan iritan.
Campuran pengemulsi yang banyak digunakan,
adalah :
Emulsifying wax BP
surfaktan anionik
(Aulton, Pharmaceutical Practise, Hal
110).
Campuran dari Na-lauril sulfat 10% dengan Cetostearyl Alkohol 90%
Lannex wax
Campuran etil dan stearil alkohol yang disulfonasi
Cetrimide emulsifying wax
surfaktan kationik
(Aulton, Pharmaceutical
Practise, Hal 110).
Campuran dari Cetrimide 10% dengan Cetostearyl
Cetrimide emulsifying wax
surfaktan kationik
(Aulton, Pharmaceutical
Practise, Hal 110).
Campuran dari Cetrimide 10% dengan Cetostearyl
alkohol 90%
Emulsifying wax non ionik
(Aulton, Pharmaceutical Practise, Hal 110).
80% setostearil alkohol dan 20% macrogol 1000
Cetomacrogol emulsifying wax.
Faktor pemilihan emulgator :
Berdasarkan harga HLB butuh, umumnya kombinasi
Sifat ionik emulgator:
Emulgator kationik:
Efektif pada pH 3-7 (Dispensing for Pharmaceutical Students, Cooper & Guns,
hlm 128), digunakan dalam emulsi yang mengandung bahan obat kationik, konsentrasi elektrolit yang tinggi, keasaman yang tinggi.
konsentrasi elektrolit yang tinggi, keasaman yang tinggi.
pH kulit ±5,5 emulgator kationik cocok untuk tujuan topikal. Memiliki
aktivitas antimikroba sehingga tidak perlu penambahan pengawet. Kompatibel dengan bahan obat kationik dan dengan ion kalsium dan
magnesium, tetapi sensitif pada surfaktan anionik dalam konsentrasi kecil sekalipun efek pengawet berkurang dan juga terjadi dengan surfaktan nonionik konsentrasi tinggi.
Sifat-sifat emulgator kationik: daya pengemulsi lemah dan merupakan
eksipien yang dapat mempertinggi konsistensi.
Contohnya senyawa amonium kuarterner seperti cetrimide, benzalkonium klorida, dan
Emulgator anionik.
Efektif pada pH 7-8 digunakan dalam emulsi yang mengandung bahan obat
anionik. Contohnya natrium lauril sulfat,natrium ketostearil sulfat, TEA stearat, dan kalsium oleat.
Emulgator nonionik.
Banyak digunakan untuk emulsi m/a ataupun sebaliknya a/m.
Faktor pemilihan emulgator :
Banyak digunakan untuk emulsi m/a ataupun sebaliknya a/m.
Efektif pada pH 4-9 dandiatas pH 9 banyak yang terhidrolisis, karena banyak berupa
golongan ester.
Tidak dipengaruhi oleh elektrolit,
Efek iritasi lebih berkurang daripada emulgator ionik dan tida kmemberikan efek iritasi. Salah satu kelemahan dari emulgator nonionik adalah kecenderungan untuk mengikat atau
menginaktivasi pengawet golongan asam karboksilat dan fenolat. Contohnya: gliserin, monostearat, sorbitan monolaurat, sorbitan menooleat, sorbitan monopalmitat, polioksi 8 stearat, dll. (TPC ed 6, hal 87)
Tipe kimia emulgator→ Perbedaan tingkat kejenuhan komponen lipofilik dari
emulgator mempengaruhi stabilitas emulsi.
Yang harus diperhatikan dari emulgator:
Perbandingan gugus hidrofil dan lipofil. HLB adalah ukuran
keseimbangan keadaan lipofil dan hidrofil yang merupakan
karakteristik emulgator golongan surfaktan.
A. Cara substitusi
Contoh: polisorbat 80 (HLB= 15) dan sorbitan monooleat (HLB=4,3)
digunakan sebagai emulgator dalam sistem M/A berikut:
Parafin cair (HLB butuh =12) 30 g
Parafin cair (HLB butuh =12) 30 g
Wool fat (HLB butuh = 10) 5 g
Emulgator 5 g
Air ad 100 g
1) HLB butuh pada fasa minyak
2) emulgator yang diperlukan, mis: polisorbat x%, sorbitan 100-x%
Polisorbat yang diperlukan = 69% x 5 g = 3,458g
Cara aligasi
Emulgator yang sering digunakan:
Golongan alam: akasia, alginate, pectin, gom arab,
tragakan
Semi Sintetik: anionik: Na dodecyl sulfat, kationik:
benzalkonium klorida, nonionic: PEG 400 monostearat,
amfolitik: turunan asam amino rantai panjang
amfolitik: turunan asam amino rantai panjang
TEA-stearat, TEA-lauril sulfat, Na-stearat, Span/Tween
20,40,60,80,85, macrogol-300, 4000, 1540, setil
alkohol, GMS, emulgid.
Zat terbagi halus: veegum (alumunium silikat), bentonit
Beberapa Contoh Emulgator:
Stearil alkohol
Asam Stearat
Trietanolamin
Setil alkohol
Polysorbates (Tween)
Sorbitan esters (Span)
Na-lauril sulfat
Cetomacrogol 1000
PROSEDUR PEMBUATAN
1. Metode in situ
(Emulsions and Emulsion Technology,
Part I Vol. 6,Lissant, KJ. Hlm. 758)
Yaitu sabun yang
digunakan sebagai emulsifier dalam emulsi M/A
terbentuk selama proses emulsifikasi. Contoh: asam
stearat dan trietanolamin (TEA) membentuk sabun
trietanolamin stearat. Cara:
trietanolamin stearat. Cara:
Panaskan air dan TEA hingga suhu 70
oC.
Lelehkan asam stearat pada suhu 65°C.
Campurkan keduanya dalam wadah (yang masih panas
tersebut).
2. RPS 18 hlm. 1606-1607
Bahan-bahan larut minyak dan lemak dilelehkan dalam
suatu wadah hingga suhu 75°C.
Air dipanaskan bersama komponen-komponen larut air
(biasanya termasuk emulgator) dalam wadah lain dengan
suhu diatas 75
oC.
PROSEDUR PEMBUATAN
suhu diatas 75
oC.
Keduanya dicampurkan pada suhu yang sama (75
oC) dan
dicampur sampai suhu mendekati 35°C.
Pengadukan dilakukan hingga krim halus terbentuk.
Pengadukan dilakukan perlahan-lahan tapi terus-menerus
dan diaduk dengan hati-hati, artinya pengemulsi tidak
3. Dispensing of Medication (Martin) hlm. 831-832
Fasa minyak dilelehkan sebagian dimulai dengan bahan yang
mempunyai titik leleh paling tinggi. Fasa minyak yang lain kemudian
ditambahkan untuk menurunkan titik leleh.
Fasa air dipanaskan beberapa derajat diatas suhu titik leleh fasa
minyak.
PROSEDUR PEMBUATAN
minyak.
Kemudian kedua fasa digabungkan. Bila yang akan dibuat adalah
sistem A/M maka tambahkan fasa air ke dalam fasa minyak dan
lakukan pengadukan.
Bahan-bahan yang mudah menguap seperti parfum, mentol, kamfer
tambahkan setelah basis didinginkan ± 40°C.
Bila bahan obat adalah padatan dan tidak larut dalam basis maka
Metode pelelehan
(
Teknologi Farmasi Likuida dan Semisolida, metode sedian
semisolid hlm. 123
)
Prinsip : jumlah yang dilebihkan adalah jumlah sediaan yang akan dibuat (10%). Zat pembawa + zat aktif, dilelehkan dan diaduk hingga membentuk fasa
homogen. Perhatikan stabilitas zat yang berkhasiat terhadap suhu pada saat pelelehan.
PROSEDUR PEMBUATAN
pelelehan.
Penimbangan bahan aktif dan bahan tambahan sesuai kebutuhan, jika bahan
tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan penimbangan berlebih 10% sebelum dihaluskan dan dilakukan penimbangan ulang sesuai kebutuhan setelah
dihaluskan.
(* jika zat aktif larut air, maka dipanaskan bersama fasa air dan jika zat aktif
larut minyak maka dilelehkan bersama fasa minyak).
Bahan basis krim dan bahan tambahan yang larut lemak serta tahan terhadap
METODE PELELEHAN
Bahan-bahan yang larut air dan tahan panas, serta air yang diperlukan
dipanaskan sampai 70
oC.
Fasa air dan fasa minyak yang telah dipanaskan hingga suhu 70
oC
dicampurkan dalam mortir steril, kemudian diaduk sampai terbentuk massa
krim yang homogen. (Catatan : bahan yang mudah menguap ditambahkan
setelah basis dingin + 40
oC).
Krim didinginkan hingga suhu kamar.
Krim didinginkan hingga suhu kamar.
Krim ditimbang dengan kertas perkamen sejumlah yang diperlukan, lalu
kertas perkamen digulung menutupi sediaan krim.
Krim yang digulung dalam gulungan perkamen dimasukkan ke dalam tube
dalam kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup. Kemudian tube
ditutup dengan melipat bagian belakang yang terbuka.
Etiket ditempelkan pada tube basis krim, diberi brosur, dan dimasukkan ke
dalam kotak.
TRITURASI
Zat yang tidak larut didistribusikan dengan sedikit (sejumlahsama) basis
atau dengan salah satu zat pembantu, tambahkan sisa basis. Dapat juga
digunakan pelarut organik untuk melarutkan terlebih dulu zat aktif
kemudian dicampurkan dengan basis yang akan digunakan.
Penimbangan bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak tahan panas
sesuai kebutuhan, jika bahan tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan
sesuai kebutuhan, jika bahan tersebut perlu dihaluskan maka dilakukan
penimbangan berlebih 10% sebelum dihaluskan dan dilakukan
penimbangan ulang sesuai kebutuhan setelah dihaluskan.
Bahan basis dan bahan tambahan yang tahan panas ditimbang berlebih
10-20%.
Bahan-bahan yang larut air dan tahan panas, serta air yang diperlukan
dipanaskan sampai 70oC di atas penangas air.
Fasa air dan fasa minyak yang telah dipanaskan hingga suhu 70oC dicampurkan
dalam mortir hangat (dengan cara membakar alkohol di dalam mortir), kemudian diaduk menggunakan “ultrathurax“ sampai terbentuk massa basis krim yang
homogen. (Catatan : bahan yang mudah menguap ditambahkan setelah basis dingin + 40oC).
Basis krim didinginkan hingga suhu kamar. Sejumlah basis krim ditimbang sesuai
dengan yang diperlukan.
Zat aktif dan bahan tambahan yang tidak tahan panas dicampur hingga homogen
di dalam mortir (jumlahnya tidak dilebihkan, yang dilebihkan adalah jumlah
di dalam mortir (jumlahnya tidak dilebihkan, yang dilebihkan adalah jumlah
sediaan yang akan dibuat (10%)) kemudian basis ditambahkan secara geometris dan digerus hingga homogen.
Krim ditimbang di atas kertas perkamen sejumlah yang diperlukan, lalu kertas
perkamen digulung menutupi sediaan krim.
Krim yang digulung dalam gulungan perkamen dimasukkan ke dalam tube dalam
kondisi ujung tube keluar dalam keadaan tertutup. Kemudian tube ditutup dengan melipat bagian belakang yang terbuka.
Etiket ditempelkan pada tube basis krim, diberi brosur, dan dimasukkan ke dalam
PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN
Cracking,
yaitu koalesen dari globul yang
terdispersi dan pemisahan fase terdispersihingga
membentuk lapisan yang terpisah. Penyebab
cracking adalah :
Penambahan emulgator dengan tipe berlawanan,
Penambahan emulgator dengan tipe berlawanan,
Contoh :
Sabun-sabun dari logam monovalen (soaps of monovalen
metals) yang menghasilkan emulsi M/A ditambahkan ke
dalam soaps of divalenmetals yang menghasilkan emulsi
A/M dan begitu pula sebaliknya.
Penggunaan emulgator anionik dan kationik yang tidak
Dekomposisi atau pengendapan emulgator, Contoh :
Sabun alkali dapat terdekomposisi dengan adanya asam kemudian terjadi
pembebasan asam lemak dan garam alkalisehingga tidak mempunyai kekuatan sebagai emulgator akibat penambahan asam ini
Terjadinya salting out dari natrium atau kalium soaps oleh adanya NaCl dan
elektrolit tertentu lain sehingga emulgator mengendap
Emulgator anionik yang tidak kompatibel dengan bahan yang mempunyai
Emulgator anionik yang tidak kompatibel dengan bahan yang mempunyai
konsentrasi kation tinggi, begitu pula sebaliknya, emulgator non ionik tidak kompatibel dengan fenol
Penambahan gum, protein gelatin, dan kasein yang tidak larut dalam alkohol
apabila alkohol digunakan pada emulsi yang dibuat dengan emulgator maka emulgator akan mengendap.
Penambahan larutan dimana fase terdispersi dan pendispersinya dalam
bentuk terlarut pada sistem satu fasa yang merusak emulsi. Contoh:
Creaming,
terjadi emulsi yang terkonsentrasi sehingga membentuk krim
pada permukaan emulsi.
Creaming
merupakan pergerakan keatas droplet
yang terdispersi dalam fase pendispersi. Sedangkan
sedimentasi
adalah
pergerakan partikel-partikel ke bawah. Kedua hal ini masih dapat
diterima asalkan dapat direkonstitusi saat dikocok. Creaming dapat diukur
secara visual, mikroskopik, dielektrik, analitik, dan teknik radioisotop.
(
Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker,
Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse Sistem vol 1, 1998, New York, Hlm
PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN
(
Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker,
Pharmaceutical Dosage Forms : Disperse Sistem vol 1, 1998, New York, Hlm
237)
Creaming dapat diminimalkan dengan :
Mengurangi ukuran partikel terdispersi dan distribusi ukuran globul
Meningkatkan viskositas fase pendispersi untuk mempertahankan pergerakan
globul
Disimpan ditempat sejuk
Flokulasi (agregasi)
Flokulasi terjadi sebelum, saat, atau setelah creaming. Flokulasi merupakan
agregasi yang reversibel dari droplet fase dalam berbentuk cluster 3 dimensi.
Penyebab flokulasi : kurang emulgator
Flokulasi hanya dapat terjadi saat barier mekanik/elektrik tidak cukup
mencegah terjadinya koalesen, droplet
PERMASALAHAN DALAM SEDIAAN
mencegah terjadinya koalesen, droplet
Flokulasi : partikel-partikel membentuk suatu kumpulan
Coalesence : bersatunya agglomeratmenjadi drops yang lebih besar.
Teknik yang digunakan untuk memeriksa koalesen dan pemisahan fase yaitu
secara visual, photomicrography, dan coutler counter (untuk ukuran partikel).
Emulsi yang stabil tidak akan menunjukkan koalesen, creaming pada saat self
time atau saat dibekukan dan dicairkan berulang-ulang atau pada suhu tinggi (40-50oC)
(Lieberman, Herbert A, Martin M. Rieger , and Gilbert S. Banker, Pharmaceutical
Antimikroba (jamur dan bakteri), oleh karena itu emulsi sebaiknya
menggunakan pengawet yang dapat tidakmerusak agen pengemulsi dan menyebabkan cracking
Inkorporasi dari fase terdispersi yang berlebihan
Jika partikel dari fase terdispersi berbentuk sferis dan seragam maka
volume fase terdispersi tidak akan melebihi 74% dari volume total emulsi, tetapi kebanyakan bentuk partikel tidak sferis dan tidak seragam maka tetapi kebanyakan bentuk partikel tidak sferis dan tidak seragam maka volume yang terjadi lebih dari 74% dari volume total sehingga terjadi cracking.