Asesmen Alternatif dalam Pembelajaran Bahasa
Tugas Matakuliah Landasan Pengajaran BahasaRetno Pamungkas 16070835050 Prodi S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Asing
1. Asesmen dan Tes
Di dalam pengajaran dan pembelajaran dikenal istilah pengukuran (measurement), asesmen/penilaian (assessment), pengujian (test) dan evaluasi (evaluation). Semua istilah tersebut digunakan dalam komponen penilaian pembelajaran. Namun, mungkin yang paling sering digunakan adalah istilah pengujian (test), karena penilaian lebih sering menggunakan tes untuk melihat hasil belajar peserta didik. Tes dalam hal ini bisa diartikan sebagai metode atau alat, yaitu seperangkat pertanyaan atau masalah yang dirancang untuk menetapkan tingkat pengetahuan, kecerdasan, atau kecakapan seseorang. Brown (…: 401) memberikan definisi tes sebagai berikut:
“A test is an instrument or procedure designed to elicit performance from learners with the purpose of measuring their attainment of specified criteria. “
Tes adalah sebuah instrument atau prosedur yang dirancang untuk memperoleh hasil dari peserta didik dengan tujuan untuk mengukur pencapaian dari suatu kriteria tertentu. Jadi bisa dikatakan bahwa tes hanyalah salah satu cara yang bisa dilakukan dalam proses penilaian atau asesmen.
Dalam bukunya yang lain, Brown (2001: 251) menjelaskan perbedaan tes dan asesmen sebagai berikut:
“Tests are formal procedures, usually administered within strict time limitations, to sample the performance of a test-takers in specified domain. Assessment connotes a much broader concept in that most of the time when teachers are teaching, they are also assessing. Assessment includes all occasion from informal impromptu observations and comments up to and including tests. “
Tes adalah suatu prosedur formal yang biasanya dilakukan dalam batasan waktu yang ketat, untuk menunjukkan pencapaian seorang peserta tes pada domain tertentu. Asesmen memiliki konsep yang lebih luas, di mana ketika guru mengajar, mereka juga melakukan asesmen atau penilaian. Asesmen terdiri dari semua kegiatan observasi informal dan memberikan komentas, termasuk juga tes. Jadi bisa dikatakan bahwa semua jenis tes termasuk dalam asesmen namun tidak semua bentuk asesmen merupakan tes.
Kegunaan utama asesmen sebagai bagian dari proses belajar ialah refleksi (cerminan) pemahaman dan kemajuan peserta didik secara individual. Asesmen memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Dilaksanakan secara formal oleh para guru di sekolah;
- Merupakan suatu proses atau upaya pengumpulan dan pengolahan informasi termasuk membuat dokumentasi terkait hasil belajar peserta didik;
- Berkaitan dengan evaluasi tentang seberapa positif minat peserta didik terhadap sekolah, serta evaluasi terhadap perkembangan dan pertumbuhan peserta didik di sekolah. (Basuki, 2015: 15)
Baehr dan Bayerlein (dalam Basuki, 2015: 16) juga menyatakan bahwa asesmen yang berkualitas harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Berfokus pada perbaikan, bukan pertimbangan;
- Berfokus kepada kinerja, bukan yang mengerjakan (performer);
- Suatu proses yang dapat memperbaiki setiap tataran kinerja peserta didik;
- Umpan baliknya bergantung kepada kedua belah pihak, baik kepada asesor maupun kepada peserta didik yang dinilai;
- Memerlukan kesepakatan mengenai kriteria penilaian; - Memerlukan analisis dari hasil observasi;
- Umpan balik asesmen hanya diterima jika ada saling percaya dan saling menghargai antara asesor dan peserta yang dinilai;
- Hanya digunakan jika ada kesempatan yang baik bagi adanya perbaikan; - Hanya efektif jika peserta yang dinilai menggunakan umpan balik dari asesor.
2. Asesmen tradisional dan asesmen alternatif
Seorang anak mengalami kebingungan saat mengerjakan soal dengan salah satu pilihan jawabannya adalah “semua jawaban salah”, sehingga dia tidak memilih jawaban apapun. Akibatnya dia tidak mendapat poin untuk soal tersebut. Ilustrasi ini bisa menunjukkan problematika yang dihasilkan oleh tes baku atau tes yang dibuat oleh guru. Dalam hal ini siswa mendapat nilai kurang karena pemahamannya pada bahasa dan format tes yang kurang, bukan pemahaman pada subyek yang diujikan. Situasi tes atau ujian itu sendiri juga bisa memunculkan perasaan kegelisahan atau nervous dan akhirnya mempengaruhi performa siswa. Siswa mungkin juga mengalami gangguan dari dirinya sendiri, misalnya sakit, yang juga akan mempengaruhi performanya saat menjalani tes. Problematika seperti ini masih belum bisa diatasi oleh tes tradisional, karena hanya melihat dari hasilnya saja. Oleh karena itu, dibentuklah bentuk asesmen lain yaitu asesmen alternatif atau otentik yang lebih berfokus pada proses sehingga hasilnya lebih baik, karena peserta tes melakukan tes tersebut pada saat terbaiknya.
Asesmen alternatif sering diartikan sebagai bentuk lain dari tes baku dan diharapkan mampu mengatasi permasalahan pada tes baku, terutama yang berhubungan dengan performa peserta tes. Tidak ada definisi tetap untuk istilah asesmen alternative, hanya saja bentuk penilaian ini sering disebut dengan nama lain untuk membedakan dengan tes baku. Garcia dan Pearson (dalam Richards, 2008: 339) menggunakan label lain seperti performance assessment, authentic assessment, portofolio assessment, informal assessment, situated (or contextualized) assessment, dan assessment by exhibition.
Basuki (2015: 168) mendefinisikan penilaian otentik sebagai cermin nyata dari kondisi pembelajaran siswa. Penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang mengharuskan para siswa untuk melaksanakan tugas-tugas dunia nyata yang menunjukkan penerapan dari suatu pengetahuan atau keterampilan. Asesmen ini sengaja dirancang untuk menjamin keaslian dan kejujuran penilaian serta hasilnya terpercaya. Berbeda dengan asesmen tradisional, asesmen otentik akan mengkondisikan siswa untuk menunjukkan apa yang mereka bisa. John Mueller (dalam Basuki, 2015: 173) membandingkan antara penilaian tradisional dengan penilaian autentik sebagai berikut:
Penilaian Tradisional Penilaian Otentik
1. Tanggapan berupa pilihan (selected response)
2. Buatan (contrived) atau simulasi 3. Mengingat/mengenali
4. Struktur oleh guru 5. Bukti tidak langsung
1. Mengerjakan tugas 2. Dunia nyata
3. Konstruksi/penerapan 4. Struktur oleh siswa 5. Bukti langsung
Asesmen alternatif disebut juga asesmen kinerja (performance assessment), karena siswa diminta menunjukkan penguasaannya tentang bidang ilmu tertentu, menjelaskan dengan kata-kata dan caranya sendiri tentang peristiwa tertentu, atau diminta memecahkan masalah matematika dengan cara dan hasil yang benar.
Asesmen Tradisional (tes) Asesmen Alternatif
1. Penilaian di lakukan untuk menilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.
2. Tes yang di berikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa.
3. Tes terpisah dari pembelajaran yang di lakukan siswa.
4. Dapat diskor dengan reliabilitas tinggi.
5. Hasil tes di berikan dalam bentuk skor.
1. Penilaian di lakukan untuk menilai kualitas produk dan unjuk kerja siswa.
2. Tugas yang di berikan berhubungan obyektivitas. Pada bentuk tes standar atau baku hal-hal ini bisa diteliti dengan jelas, namun tidak demikian pada bentuk asesmen altenatif. Permasalahn yang sering muncul antara lain:
- Apakah bentuk asesmen ini mampu mengukur apa yang hendak diukur? - Apakah pengukuran dalam bentuk asesmen tersebut konsisten?
- Apakah bentuk asesmen tersebut tidak menunjukkan bias? (Richards, 2008: 340)
hal tertentu), baik disadari maupun tidak. Sebuah tes baku merupakan bentuk kompromi dari sekelompok orang yang secara kolektif memiliki bias yang sama. Jadi bisa dikatakan tes baku tidak lebih obyektif dari asesmen alternatif, dan sebaliknya, asesmen alternatif tidak bisa disebut kurang obyektif dibandingkan dengan tes baku.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan kelebihan dan kelemahan asesmen alternatif sebagai berikut:
Kelebihan asesmen Alternatif Kekurangan asesmen Alternatif
1. Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan ketrampilan-ketrampilan yang tidak dapat di nilai dengan asesmen tradisional. 2. Menyajikan hasil penilaian yang
langsung, yang lebih hakiki dan lengkap.
3. Meningkatkan motivasi siswa. 4. Mendorong pembelajaran dalam
situasi yang nyata.
5. Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan evaluasi pada dirinya.
6. Membantu guru untuk menilai efektifitas pembeljaran yang telah di lakukan.
7. Meningkatkan daya transferbilitas hasil belajar.
1. Membutuhkan banyak waktu. 2. Adanya unsur subjektivitas dalam
penskoran.
3. Ketepatan penskoran rendah. 4. Tidak tepat untuk kelas besar.
Old paradigm New paradigm
Basuki (2015: 55) memberikan beberapa bentuk asesmen altenatif, antara lain a) Presentasi kelas (classroom presentation)
Bentuk penilaian ini mengharuskan siswa untuk menyampaikan secara verbal pengetahuannya tentang suatu subyek atau topic tertentu dari bahan ajar, memilih dan meghadirkan contoh hasil karyanya yang telah selesai, serta mengorganisasikan pemikirannya untuk menyampaikan ringkasan dari pemahamannya tentang bahan ajar.
Penilaian tugas presentasi Landeskunde
harus bisa mengkondisikan kegiatan konferensi ini sebagai hal yang biasa dan seperti kegiatan yang tidak dinilai. Beberapa pertanyaan yang bisa membantu dalam konferensi : - Apa yang kamu sukai dari tugas ini?
- Apa yang menurut telah kamu kerjakan dengan baik?
- Bagaimana tugas ini menunjukkan perkembangan dari tugas sebelumnya?
- Apakah ada hal yang tidak kau sukai dari tugas ini? Apakah ada hal yang ingin kamu perbaiki?
- Apakah ada kesulian dalam mengerjakan tugas ini? Jika ada, pada bagian apa dan bagaimana caramu mengatasinya?
- Strategi apa yang kamu gunakan untuk mengetahui arti kata-kata sulit?
- Apa yang kamu lakukan jika kamu tidak tahu sebuah kata (dalam bahasa asing) yang sebenarnya ingin kamu tulis?
c) Pameran/demonstrasi (exhibition/demonstration)
Pameran/demonstrasi adalah suatu bentuk kinerja di mana siswa menjelaskan, menerapkan suatu proses, prosedur, dan lain-lain, dengan suatu cara yang kongkret untuk menunjukkan kecakapan individunya tentang suatu keterampilan tertentu atau kecakapan menguasai pengetahuan tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mempertunjukkan prestasi individu tentang keterampilan dan pengetahuan khusus dalam situasi public.
d) Wawancara (interview)
Wawancara merupakan percakapan antar muka dalam kesempatan di mana seluruh pihak (guru, siswa, dan orang tua) menggunakan keingintahuannya untuk saling berbagi pengetahuan dan pemahaman terhadap suatu isu, topic, atau masalah yang menjadi minat bersama. Untuk menerapkan bentuk penilaian ini, guru harus mempertimbangkan bahwa wawancara dapat menghabiskan waktu yang banyak, terutama jika guru tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang memandu wawancara.
e) Pengamatan (observation)
keputusan yang dibutuhkan bagi pengajran yang efektif. Untuk menerapkan bentuk penilaian ini, guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Secara spesifik menentukan obyek pengamatan
- Menentukan berapa banyak siswa yang diamati dalam satu waktu
- Menyiapkan perangkat lain untuk membantu jika ada hal yang terlewatkan dalam pengamatan
- Membuat sistem yang bisa merekan performa yang sedang diamati - Membatasi elemen-elemen yang bisa diamati dalam satu waktu - Merencanakan berapa kali observasi yang akan dilakukan
- Secara spesifik menentukan bagaimana penggunaan hasil observasi nantinya
f) Tugas kinerja (performance task)
Unjuk kerja (performance) adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Penilaian unjuk kerja bisa dilakukan dengan daftar cek atau skala penilaian :
- Daftar Cek (Check-list): dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (baik-tidak baik). Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati, baik-tidak baik. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah.
- Skala Penilaian (Rating Scale): memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna.
Format Daftar Cek Penilaian Sandiwara “Aschenputtel”
Nama siswa : ………. Kelompok : ………
Kelas : ………. No : ………
Aspek yang dinilai 4 3 2 1
1 Penulisan naskah
2 Penampilan
3 Kelancaran dialog
4 Kostum
5 Kerja sama
g) Portofolio (portfolio)
Portofolio adalah koleksi yang sistematis dari contoh-contoh karya siswa sepanjang waktu tertentu. Portofolio memiliki tujuan untuk mendokumentasikan karya dan kemajuan siswa yang khas, menyediakan pandangan yang komprehensif tentang kemajuan, daya upaya, dan prestasi siswa, membangun rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri, dan membangun rasa percaya diri siswa pada kemampuannya.
Contoh :
Kumpulan hasil tulisan dalam ‘Aufsatz’ setelah dikoreksi baik oleh teman atau guru dan kemudian tulisan perbaikan dari siswa yang bersangkutan.
h) Jurnal tanggapan (response journal)
Jurnal tanggapan adalah catatan pribadi siswa yang merupakan tulisan hasil refleksi dalam menanggapi suatu bacaan, pandangan seseorang, mendengarkan sesuatu, atau hasil diskusi. Jurnal tanggapan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencatat pemikiran pribadinya, emosi, gagasan, pertanyaan-pertanyaan, refleksi koneksi, dan pembelajaran baru dari apa yang pernah didengarnya, dilihatnya, dibacanya, ditulisnya, didiskusikan, dan dipikirkannya.
Contoh:
Buku jurnal untuk menganalisis novel “Die blauenn und grauen Tage” berisi:
- Rangkuman cerita sesuai pemahaman siswa, bisa dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jerman. Siswa diberi kebebasan seberapa banyak bagian novel yang sudah dibaca. - Kata-kata sulit dan tidak dimengerti
- Pertanyaan-pertanyaan dalam bahasa Jerman yang bisa dijawab sesuai cerita yang sudah dibaca.
i) Penilaian diri (self assessment)
menuju kesadaran dan pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya sendiri sebagai pembelajar. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain:
- Dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.
- Peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
- Dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian.
Mata Pelajaran : Bahasa Jerman Alokasi Waktu : 1 Semester
Nama Siswa : _________________
Kelas : XII/1
No Standar Kompetensi/ KompetensiDasar
Tanggapan
Keterangan
1 0
1 Memahami jenis artikel pada kata benda dan penggunaannya
1=Paham 0=TdkPaham
2 ... dst
Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya, karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran.
PARTISIPASI DALAM DISKUSI KELOMPOK
Nama : Nama-nama anggota kelompok : Kegiatan kelompok : ---Isilah pernyataan berikut dengan jujur. Untuk No. 1 s.d. 5, tulislah huruf A,B,C atau D di depan tiap pernyataan:
1. --- Selama diskusi saya mengusulkan ide kpd klp utk didiskusikan
2. --- Ketika kami berdiskusi, tiap org diberi kesempatan mengusulkan sesuatu 3. --- Semua anggota kelompok kami melakukan sesuatu selama kegiatan 4. --- Tiap orang sibuk dengan yang dilakukannya dalam kelompok saya 5. --- Selama kerja kelompok, saya….
--- mendengarkan orang lain --- mengajukan pertanyaan --- mengorganisasi ide-ide saya --- mengorganisasi kelompok --- mengacaukan kegiatan --- melamun
6. Apa yang kamu lakukan selama kegiatan berlangsung?
---Dalam pemilihan dan penyusunan bentuk asesmen alternatif ini prngajar perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Mengidentifikasi pengetahuan dan ketrampilan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah mengerjakan/ menyelesaikan tugas.
- Merancang tugas-tugas yang memungkinkan siswa dapat menunjukkan kemampuan berpikir dan ketrampilan. Tugas-tugas tersebut harus dapat diselesaikan, menantang dan memotivasi siswa untuk belajar. Setiap tugas harus memiliki kedalaman dan keluasan serta sepadan dengan tingkat perkembangan siswa.
4. Daftar Rujukan
Brown, H. Douglas. 2001. Teaching by Principles: An Alternative Approach to Language Pedagogy. San Francisco: Longman
Basuki, Ismet & Hariyanto. 2015. Asesmen Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Brown, H. Douglas. 2000 . Language Assessment: Principles & Classroom Practice. San Francisco: Longman
Wiggins, Grant. 1998. Educative Assessment. San Fransisco: Josey Bass.