ANALISIS NOVEL “MIDAH SI MANIS BERGIGI EMAS” MENGGUNAKAN KERANGKA SOSIOLOGI SASTRA
Disusun guna memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Kritik Sastra Dosen Pengampu: Sumartini, S.S., M.A.
Oleh :
1. Ahmad Burhanuddin (2101412110)
2. Diah Puspitaningrum (2101412116)
3. Fuad Akbar Adi (2101413065)
4. Khoyriyah Asadah (2101413091)
5. Tri Mulyani (2101413095)
Kelompok : 10
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS BAHASA DAN SENI
▸ Baca selengkapnya: novel leftenan adnan peristiwa yang menimbulkan kemarahan kepada pembaca
(2)PRAKATA
Dengan mengucapkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat beliau kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Anisisi Novel Midah Si Manis Bergigi Emas”. Dengan harapan semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menjadikan referensi bagi kita sekaligus manfaat apabila kita mempelajari pelajaran ini.
Makalah ini juga sebagai persyaratan tugas pada mata kuliah Kritik Sastra.Akhir kata, semoga bisa bermanfaat bagi para mahasiswa, pelajar,dan umum,khususnya pada kelompok kami dan semua yang membaca makalah ini semoga bisa di pergunakan dengan semestinya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. 1
PRAKATA ………. 2
DAFTAR ISI ………. 3
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ………. 4
B. RUMUSAN MASALAH ………... 4
C. TUJUAN ………. 4
BAB II PEMBAHASAN
A. SINOPSIS ………. 5
B. LANDASAN TEORI ………. 6
C. HASIL ANALISIS ………. 10
BAB III PENUTUP
A. SIMPULAN ………... 17
B. SARAN ………... 17
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sastra lahir, tumbuh dan hidup dalam masyarakat. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Sastra lahir disebabkan dorongan dasar manusia untuk menaruh minat terhadap masalah manusia dan kemanusiaan juga menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman. Pengungkapan realitas kehidupan tersebut menggunakan bahasa yang indah, sehingga dapat menyentuh emosi pembaca.
Sastra berurusan dengan manusia dalam masyarakat sepertii halnya sosiologi. Usaha manusia untuk menyelesaikan diri dan usahannya dalam masyarakat itu. Hubungan manusia dengan keluargannya, lingkungannya, politik, negara, dan sebagainya. Dalam penelitian murni, jelas tampak bahwa novel berurusan dengan tekstur sosial, ekonomi dan politik yang juga menjadi urusa sosiologi. Penulis menggunakan kerangka sosiologi sastra dalam menganilisis novel “Midah Si Manis Bergigi Emas” Karya Pramoedya Ananta Toer. Penulis bertujuan untuk mengetahui kehidupan yang terjadi dalam novel ini dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat pada saat ini.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana konsep sosiologi sastra?
b. Apakah hasil analisis novel Midah Si Manis Bergigi Emas menggunakan kerangka sosilogi Sastra?
C. TUJUAN
a. Mengetahui konsep sosiologi sastra
BAB II PEMBAHASAN A. SINOPSIS
Judul : Midah, Si Manis Bergigi Emas
Karya : Pramoedya Ananta Toer
Midah adalah putri tunggal dari Haji Abdul, seorang pedangan di Cibatok. Ia merupakan anak tunggal, sehingga ia sangat disayang dan dimanja oleh keluarganya. Hingga saat Midah berusia 9 tahun, ibunya melahirkan anak lagi. Otomatis kasih sayang kedua orang tuanya mulai terbagi. Kemudian lahir pula adik-adik Midah yang lain, dan kasih sayang kedua orang tuanya berkurang dan hampir tidak diperhatikan. Hal ini membuat Midah tidak betah di rumah, sering keluar rumah, dan pulang telat, tetapi anehnya, orang tua Midah tidak pernah menegur perbuatannya. Akhirnya Midah semakin jarang pulang ke rumah. Ia mulai tertarik dengan lagu-lagu keroncong yang dibawakan pengamen para jalanan dan Midah pun membeli beberapa piringan hitam yang berisi lagu keroncong. Saat Midah menyanyikannya, Haji Abdul yang alim terkejut. Baginya keronconh itu haram, lalu dihancurkannya piringan hitam Midah. ak hanya itu, Midah juga ditampar dan dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya. Beberapa waktu kemudian, Midah dijodohkan oleh orang tuanya dengan Haji Terbus dari Cibatok. Namun, Midah merasa kecewa karena ternyata Haji Terbus telah beristri banyak.
Di lain pihak, Haji Abdul jatuh sakit mendengan Midah menjadi pengamen jalanan. Midah akhirnya pindah ke Jatinegara karena takut ditemukan orang tuanya. Di sana, ia mengamen dengan menggendong anaknya. Tak disangka, ia bertemu dengan polisis Ahmad lagi dan ia diajak menginap di rumah polisi itu. Awalnya ia tidak curiga sedikitpun pada polisi itu. Midah malah jatuh cinta padanya. Mereka berdua pun hidup layaknya suami-istri. Mereka semakin tenggelam dalam dosa. Sementara itu, ibu Midah mendapat informasi rumah Midah, lalu mendatanginya. Namun yang dijumpainya di rumah Midah hanya Ibu Ahmad dan anak Midah, Rodjali. Ibu Midah lalu membawa Rodjali pulang kerumahnya dan merawatnya. Haji Abdul merasa senang melihat kedatangan cucunya. Di lain sisi, Midah diketahui hamil lagi. Ia meminta pertanggung jawaban dari Ahmad, tapi Ahmad tidak mengakuinya. Kini Midah sadar bahwa Ahmad adalah lelaki pengecut. Karena putus asa, Midah akhirnya kembali ke rumah orang tuanya dan menceritaka semua kejadian yang menimpanya. Orang tuanya hanya bisa pasrah dan berdoa setiap harinya. Lebih parah lagi, para tetangganya mulai menghina Midah. Sekarang situasi berubah, Haji Abdul dianggap sebagai orang pintar, danmulai banyak orang yang berkunjung ke rumahnya. Midah pun pergi dari rumahnya karena dia ingin tidak mencemarkan nama baik ayahnya. Sebelum pergi, Midah mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah lahir dari cinta, beda dengan ketika Midah mengandung bayi dari Hati Terbus.
Waktu terus berlalu, setelah lewat 9 bulan, sang bayi pun lahir dan Midah menggendongnya kemana-mana sambil mencari pekerjaan. Akhirnya pekerjaan lamanya sebagai penyanyi radio kembali ia dapat. Namun, sekarang Midah tidak hanya menjadi penyanyi, dia juga menjadi pelacur. Midah tidak lagi memikirkan dosa. Setelah menjadi terkenal melalui radio, Midah kemudian mulai menggeluti dunia film. Dia juga sukses karena dia memiliki wajah yang manis dan terkenal dimana-mana.
B. LANDASAN TEORI 1. Sosiologi Sastra
sosialisasi, proses belajar secara kultural, yang dengannya individu-individu dialokasikan pada dan menerima peranan-peranan tertentu dalam strutur sosial. Di samping itu sosiologi juga menyangkut mengani perubahan-perubahan sosial yang terjadi secara berangsur-angsur maupun secara revolusioner dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut (Damono, 1978).
2. Sasaran Penelitian Sosiologi Sastra a. Konteks Sosial Pengarang
Konteks sosial sastrawan ada hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Dalam bidang pokok ini termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya. Oleh karena itu, yang terutama diteliti adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana sastrawan mendapatkan mata pencaharian; apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung atau bekerja rangkap.
2) Profesionalisme dalam kepengarangan; sejauh mana sastrawan menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi.
3) Masyarakat yang dituju oleh sastrawan. Dalam hal ini, kaitannya antara sastrawan dan masyarakat sangat penting sebab seringkali didapati bahwa macam masyarakat yang dituju itu menentukan bentuk dan isi karya sastra mereka (Damono, 1979: 3-4).
b. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat
Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sejauh mana sastra dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakatnya. Kata “cermin” di sini dapat menimbulkan gambaran yang kabur, dan oleh karenanya sering disalahartikan dan disalahgunakan. Dalam hubungan ini, terutama harus mendapatkan perhatian adalah.
1) Sastra mungkin dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ia ditulis, sebab banyak ciri masyarakat yang ditampilkan dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis.
2) Sifat “lain dari yang lain” seorang sastrawan sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.
3) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat.
masyarakat. Demikian juga sebaliknya, karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan keadaan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipercaya sebagai bahan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus diperhatikan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat (Damono, 1979: 4).
c. Fungsi Sosial Sastra
Pendekatan sosiologi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Sampai berapa jauh nilai sastra berkait dengan nilai sosial?”, dan “Sampai berapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial?” ada tiga hal yang harus diperhatikan.
1) Sudut pandang yang menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Dalam pandangan ini, tercakup juga pandangan bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak.
2) Sudut pandang lain yang menganggap bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka. Dalam hal ini gagasan-gagasan seni untuk seni misalnya, tidak ada bedanya dengan usaha untuk melariskan dagangan agar menjadi best seller.
3) Sudut pandang kompromistis seperti tergambar sastra harus mengajarkan dengan cara menghibur (Damono, 1979: 4).
mana terjadi sintesis antara kemungkinan point a dan b diatas (Damono, 1978).
3. Sastra dan Masyarakat
Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat (Semi, 1990: 73). Sastra dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat, tetapi tidak berarti struktur masyarakat seluruhnya tergambarkan dalam sastra, yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai mikrokosmos sosial, seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat jelata, dan sebagainya. Sastra sebagai gambaran masyarakat bukan berarti karya sastra tersebut menggambarkan keseluruhan warna dan rupa masyarakat yang ada pada masa tertentu dengan permasalahan tertentu pula. Novel merupakan salah satu di antara bentuk sastra yang paling peka terhadap cerminan masyarakat.
Sketsa kehidupan yang tergambar dalam novel akan memberi pengalaman baru bagi pembacanya, karena apa yang ada dalam masyarakat tidak sama persis dengan apa yang ada dalam karya sastra. Hal ini dapat diartikan pula bahwa pengalaman yang diperoleh pembaca akan membawa dampak sosial bagi pembacanya melalui penafsiran-penafsirannya. Pembaca akan memperoleh hal-hal yang mungkin tidak diperolehnya dalam kehidupan. Menurut Hauser (Ratna, 2003: 63), karya seni sastra memberikan lebih banyak kemungkinan dipengaruhi oleh masyarakat, daripada mempengaruhinya.
Sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat, sebenarnya erat kaitannya dengan kedudukan pengarang sebagai anggota masyarakat. Sehingga secara langsung atau tidak langsung daya khayalnya dipengaruhi oleh pengalaman manusiawinya dalam lingkungan hidupnya. Pengarang hidup dan berelasi dengan orang lain di dalam komunitas masyarakatnya, maka tidaklah heran apabila terjadi interaksi dan interelasi antara pengarang dan masyarakat.
1. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap espek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga difungsikan oleh masyarakat. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan.
2. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut.
3. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menentukan citra dirinya dalam suatu karya (Ratna, 2006: 322-333). Dengan demikian, dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra adalah salah satu pendekatan untuk mengurai karya sastra yang mengupas masalah hubungan antara pengarang dengan masyarakat, hasil berupa karya sastra dengan masyarakat, dan hubungan pengaruh karya sastra terhadap pembaca. Namun dalam kajian ini hanya dibatasi dalam kajian mengenai gambaran pengarang melalui karya sastra mengenai kondisi suatu masyarakat.
C. HASIL ANALISIS
Berdasarkan landasan teori tersebut, penulis akan menganalisis gambaran atau potret sosial yang terdapat dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas. Penulis menggunakan teori Wellek & Warren yang mengklasifikasikan 3 ranah penelahaan sosiologi dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas yakni :
1. Sosiologi Pengarang
Sosiologi pengarang yakni memasalahkan tentang status sosial, ideologi politik dan lain – lain yang menyangkut diri pengarang. Novel Midah Si Manis Bergigi Emas merupakan karya Pramoedya Ananta Toer. Pram berusaha menggambarkan kondisi masyarakat pada masa itu secara detil dan rinci melalui kata-kata dalam novel. Kondisi yang digambarkan merupakan kondisi yang benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Hanya saja Pram menambahkan unsur-unsur fiksi di dalamnya. 2. Sosilogi karya sastra
a. Disorganisasi Keluarga
370). Disorganisasi yang tergambar dalam novel Midah Si Manis Bergigi Emas yakni beralihnya perhatian orang tua terhadapnya anaknya. Pada awalnya Midah menjadi anak yang dibanggakan dan dipuja-puja. Namun semenjak kehadiran adik-adiknya Midah tidak diperhatikan lagi oleh keluarganya dan malah diacuhkan. Hubungan antara orang tua dan anak yang semakin jauh ini menyebabkan anak tersebut tidak lagi senang tinggal di rumah. Begitu pula dengan Midah. Ia tidak mendapat sesuatu lagi dari ibu dan bapaknya—sesuatu yang dahulu indah dan nikmat. Ia mencari yang indah dan nikmat itu di luar rumahnya Seperti dalam kutipan :
... Sejak kelahiran si adik ia tidak mendapat perhatian dari bapak juga dari emak. Berbagai lagak dan laguk ia perlihatkan tapi semua luput. ... (halaman 15)
Klimaks dari disorganisasi keluarga ini ketika Midah ditampar oleh ayahnya sendiri karena memutar lagu keroncong di rumahnya. Tamparan ayahnya justru membuat Midah lebih sakit hati dari pada menyakiti badannya. Dapat dilihat dalam kutipan berikut ini :
... dan waktu dilihatnya Midah masih asyik mengiringi lagu itu, ia tampar gadis itu pada pipinya. Midah terjatuh di lantai. Kekagetan lebih terasa padaya dari pada kesakitan. Ia pandangi bapaknya yang bermata merah di depannya, kemudian dengan ketakutan ia bangun. Ia menangis perlahan. Dan waktu dilihat mata bapaknya masik mendelikinya, ia menjerit ketakutan. ... (halaman 18)
Disorganisasi keluarga juga terjadi pada rumah tangga Midah dengan Hadji Terbus, tidak adanya kejujuran diantara mereka membuat Midah merasa terbohongi karena ternyata Hadji Terbus telah memiliki istri banyak. Sehingga Midah memilih untuk meninggalkan suaminya dengan keadaan hamil 3 bulan.
... apalagi setelah diketahuinya bahwa Hadji Terbus bukan bujang dan bukan muda. Bininya telah tersebar banyak diseluruh Cibatok. Ini diketahuinya waktu ia mengandung tiga bulan. Waktu ia tak sanggup lagi menanggung segalanya, dengan diam-diam ia kembali ke Jakarta. Tetapi tak berani ia terus ke rumah orang tuanya. ... (halaman 21)
Pada novel ini ditemukan realitas bahwa masyarakat pada masa itu masih mengenal adat perjodohan. Hadji Abdul mengharuskan Midah mendapatkan jodoh yang berasal dari Cibatok dan telah bergelar Hadji. Midah dijodohkan dengan Hadji Terbus. Seorang Hadji di Cibatok yang memiliki harta berlimpah. Seperti pada kutipan :
...
I”Midah, sekarang engkau sudah besar. Sebentar lagi kawin. Jangan kira engkau tidak cantik. Sudah banyak bapakmu menerima lamaran. Tapi bapakmu hanya mau menerima lamaran kalau ada hadji dari Cibatok yang mengerjakannya. ... ...
I... Idemikian pada suatu hari yang mendung, Midah dikawinkan dengan Hadji Terbus dari Cibatok. ... (halaman 20)
c. Kemiskinan
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut (Soerjono Soekanto, 1990:365). Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan masalah sosial sampai saatnya perdagangan berkembang dengan pesat dan timbulnya nilai-nilai sosial yang baru. Pada masyarakat modern yang rumit, kemiskinan menjadi suatu problem sosial karena sikap yang membentuk kemiskinan tadi. Seseorang bukan merasa miskin karena kurang makan, pakaian atau perumahan. Tetapi merasa harta miliknya dianggap tidak cukup untuk memenuhi taraf kehidupan yang ada. Hal ini terlihat di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta. Pada novel ini terlihat pada :
... Waktu pagi-pagi bangun ia merasa lelah. Sejak hari itu ia tidak ikut bekerja dan mencoba menghemat simpanannya sedapat mungkin. Ia kuranngi makannya. ... (halaman 48)
Selain itu juga terdapat pada kutipan :
.... Orang yang dahulu selalu merasa puas akan dirinya, akan kejayaan dan kebenaran dirinya ini kini mengalami ketumbangan segala : perusahaan, iman, hari depan, dan kebesaran yang hendak pamerkannya di kampung asalnya Cibatok. .... (halaman 68)
Hadji Abdul sikapnya berubah setelah kemiskinan menimpa dirinya.
d. Pelacuran
Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah (Soerjono Soekanto, 1990:374). Apakah pelacuran merupakan masalah sosial atau tidak, tidak akan dipersoalkan di sini. Yang penting adalah bahwa soal tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap moral. Pelacuran yang dijumpai di kota Jakarta misalnya (dan juga di kota-kota besar lainnya) dikatakan bukan masalah sosial utama, karena pengaruhnya terhadap ekonomi negara, stabilitas politik, kebudayaan bangsa atau kekuatan nasional kecil sekali. Pada novel ini dikisahkan bahwa Midah akhirnya menjadi seorang pelacur karena kekecewaannya pada lelaki. Terlihat pada kutipan :
... sekali ia hidup untuk beberapa bulan di villa peristirahatan dengan hartawan Indonesia, tionghoa, Arab dan bangsa apalagi yang tidak. ... (halaman 132)
e. Perbedaan persepsi
Persepsi yang berbeda dari setiap orang kadangg kala menimbulkan sebuah konflik. bukti adanya perbedaan persepsi dalam novel ini dapat dilihat pada kejadian ketika Midah mulai menyukai lagu keroncong. Kesukaannya pada lagu Mesir itu juga mengalami perubahan. Dalam pengembaraannya di sekitar Kampung Duri, Jakarta—tempat ia tinggal sejak dilahirkan—ia menemukan satu rombongan pengamen kroncong. Situasi demikian menandakan perbedaan pandangan atau pemahaman antara Hadji Abdul dan Midah. Perbedaan itu kemudian menunjukkan adanya kekuasaan atas kelompok yang dianggap lemah. Hadji Abdul tampak melakukan dominasi dengan melakukan tindakan kekerasan, namun perlu dicurigai bahwa di dalamnya juga ada bentuk-bentuk kepemimpinan moral dan intelektual atas kelas yang dianggap lemah.
f. Ironi sosial
Ironi sosial adalah kondisi dimana kondisi yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. yang tercermin dalam novel ini terlihat pula pada saat Midah melahirkan di rumah sakit. Kondisi Rumah sakit tersebut sangat kurang fasilitas. Terbukti pada kutipan berikut :
... dari sana sini terdengar keluhan. Dan waktu Midah melihat tiga ulat mati dalam kangkungnya, ia letakkan kembali makanan itu di mejanya. ... (halaman 53)
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan kondisi yang seharusnya dengan kenyataannya. Rumah Sakit yang seharusnya menjadi tempat yang bersih dan steril malah ditemukan kejadian demikian.
3. Sosiologi Sastra
diri dengan lingkungannya, mekanisme kemasyarakatan dan kebudayaan.
1. Penilaian negatif terhadap seni tarik suara musik keroncong
Dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas terdapat penilaian negative terhadap seni tarik suara khususnya pada music keroncong. Musik keroncong dianggap sebagai musik haram yang dibawakan oleh orang-orang jalanan yang mempunyai adab dan pergaulan yang buruk. Ditunjukkan oleh reaksi Haji Abdul yang mengetahui Midah memutar music keroncong yang kemudian membuat Haji Abdul murka.
Mendengar Mores komelayang-layang di rumahnya, jauh-jauh Bapak sudah berteriak dengan suara kejam: “Haram! Haram! Siapa memutar lagu itu di rumah” dan waktu dilihatnya, Midah masih asyik mengiringi lagu itu, ia tampar gadis itu dipipinya. Midah terjatuh di lantai. (halaman 18)
Selain itu, kejadian lain yang membuat music keroncong terlihat negative yaitu pergaulan yang terjadi pada para anggota music keroncong yang tidak membedakan jenis kelamin. Anggota pengamen keroncong pun gemar melakukan perjudian, dan segala tindakan asusila.
…Di malam hari, di kala anggota-anggota gerombolan mengembara mencari saluran hawa nafsunya, atau sedang bergulat mesra dengan Nini atau sedang berjudi di bawah lampu listrik yang redup itu, ia berdoa di pojok-pojok kamar. (halaman 45)
Dari fenomena-fenomena yang diceritakan dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas berkaitan dengan pengamen keroncong, membawa pembaca pada penilaian yang negatif pula terhadap para pengamen music keroncong.
2. Fenomena lembaga kesehatan yang memandang dari uang
Beberapa kejadian dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas menjelaskan adanya fenomena dibidang kesehatan terutama tentang pelayanan pada lembaga kesehatan yang selalu memandang baiknya pelayanan dilihat dari penampilan fisik saja. Dijelaskan dari kejadian Midah yang melahirkan anaknya di Rumah Sakit, namun dibuat rumit oleh perawat karena Midah dating sendiri untuk melahirkan. Kedatangan Midah yang seorang diri ini membuat pandangan meragukan dari para perawat untuk member pelayanan yang baik. Selain itu, Midah juga enggan memberitahu identitasnya saat ditanya oleh bidan yang melayaninya.
…..Berkali-kali iabilang, bahwa ia sanggup membayar biaya perawatan melahirkan, tetapi segala usahanya tidak berhasil. (halaman 48-49)
3. Hubungan antara orang tua dan anak
Orang tua akan selalu melindungi dan menjaga anaknya, seburuk apapun keadaan yang dialami oleh anak, orang tua senantiasa menyayangi darah dagingnya. Seperti kejadian yang digambarkan dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas ketika Midah selalu melindungi anaknya yang masih dalam kandungan serta ketika anaknya sudah terlahir dan selalu dicaci oleh orang lain sebagai orok jahanam dan anjing kesakitan. Midah yang selalu memberanikan diri untuk melawan orang-orang setiap kali anaknya dihina.
Omong kosong, seru yang lain. Yang kedengaran bukan nyanyianmu, tapi tangis si orok jahanam itu!
Jahanam? Engkau jahanam anakku?(halaman 58)
Selain hubungan antara orang tua dan anak antara Midah dengan anaknya Djali yang selalu penuh dengan kasih sayang, hubungan orang tua dan anak yang disorot dalam cerita Midah adalah hubungan Midah dengan orang tuanya Haji Abdul dan Nyonya Abdul. Sebagaimana jeleknya kelakuan dan kejadian yang dialami Midah, orang tua Midah akhirnya menyesali perbuatan yang telah dilakukan hingga membuat Midah menjalani hidup yang penuh derita.
….Haji Abdul sendiri memerlukan ikut campurtangan dalam mencari anaknya. Ia terus berjalan kaki dari kampong kekampung, dari jalan ke jalan….
Perusahaannya dibiarkannya terlantar. Tiap hari kerjanya hanya mencari anaknya. (halaman 67-68)
Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas mengenai hubungan orang tua dan anak membuat pembaca dapat mengambil pelajaran untuk dapat menjalani hubungan orangtua dan anak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
BAB III PENUTUP 3.1. SIMPULAN
Pendekatan yang memandang tentang pandangan pembaca dan pengaruhnya dengan keadaan social masyarakat. Sosiologi sastra dibagi menjadi 3 yaitu sosiologi pengarang yang menerangkan tentang bagaimana keadaan sosiologi pengarang dilihat dari karya sastra yang dihasilkannya ketika membuat karya sastra tersebut. Selain sosiologi pengarang, juga terdapat sosiologi sastra, yang melihat keadaan sosiologi yang terdapat dalam karya sastra itu sendiri, serta sosiologi pembaca yaitu tentang keadaan pembaca dan pengaruh yang didapatkan berkaitan dengan sosiologi masyarakat.
Novel Midah, Simanis Bergigi Emas merupakan novel karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang ingin hidup bebas karena efek dari kehidupan keluarga yang tak lagi bahagia seperti ketika ia masih kecil dan masih menjadi seorangang anak tunggal dan hanya satu-satunya sumber kebahagiaan orang tuanya. Namun kebebasan yang ia dapatkan adalah kebebasan yang tidak sejalan dengan baiknya keadaan orang tuanya.
Dalam novel tersebut memuat keadaan sosial yang bermacam-macam dan merupakan keadaan sosial yang sesuai dengan keadaaan nyata yang ada. Keadaan social masyarakat yang terdapat dalam novel Midah, Simanis Bergigi Emas menjadi sindiran-sindiran tersendiri untuk para pembaca terhadap fenomena sosial yang sekarang ini terjadi.
3.2. SARAN
Dalam analisis karya sastra berdasarkan sosiologi sastra, harus memperhatikan dengan baik tentang segala aspek. Mampu menghubungkan antara pengarang, karya sastra, dan pembaca dengan kehidupan social atau keadaan social kemasyarakatan yang ada dan terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Toer, Pramodya Ananta. 2010. Midah Simanis Bergigi Emas. Jakarta: Lentera Dipantara.