• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah makanan yang halal keracunam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah makanan yang halal keracunam"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata pelajaran Akidah Akhlak. Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar dapat membantu pembaca dalam memahami salah satu materi Al-qur’an & Hadist tentang Makanan yang Baik dan Halal, yang kami sajikan berdasarkan dari berbagai sumber informasi dan referensi. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat membantu dalam memahami materi pembelajaran tentang Makanan yang Halal dan Baik dan memberikan wawasan. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada guru pembimbing penulis meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah penulis di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Banjarmasin, Januari 2017

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Rumusan Masalah...1

1.3. Tujuan dan Manfaat...2

BAB II PEMBAHASAN...3

2.1. Pengertian Makanan yang Baik dan Halal...3

2.2. Kewajiban Mengonsumsi Makanan yang Baik dan Halal...4

2.3. Syarat Makanan yang Baik dan Halal...4

2.4. Dalil Tentang Makanan yang Baik dan Halal...5

2.5. Manfaat Memakan Makanan yang Baik dan Halal...14

BAB III PENUTUP...16

3.1. Kesimpulan...16

3.2. Saran...17

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Makanan yang halal dan baik merupakan tuntunan agama. Halal dari segi dhahiriyah dan sumber untuk mendapatkan makanan tersebut apakah melalui cara yang halal. Memakan makanan yang halal dan baik merupakan bukti ketaqwaan kita kepada Allah SWT. karena memakan makanan halal dan baik merupakan salah satu ibadah.

Allah membolehkan manusia memakan makanan yang telah diberikan Allah di bumi ini, yang halal dan yang baik saja, serta meninggalkan yang haram.

Allah menyeru manusia supaya menikmati makanan-makanan yang baik dalam kehidupan mereka dan menjahui makanan-makanan yang tidak baik, karena dunia diciptakan untuk seluruh manusia. Karunia Allah bagi setiap manusia adalah sama, baik yang beriman maupun tidak beriman.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang makanan yang halal dan baik yang meliputi pengertian makanan halal dan baik, dalil tentang makanan halal dan baik, manfaatnya, serta hal lain yang bersangkutan dengan makanan yang halal dan baik.

1.2. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah:

1. Apa pengertian makanan yang baik dan halal?

(4)

4. Apa dalil tentang makanan yang baik dan halal?

5. Bagaimana penjelasan dari dalil tentang makanan yang baik dan halal? 6. Apa manfaat dari memakan makanan yang baik dan halal?

1.3. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat dari pembuatan makalah ini adalah: 1.3.1. Tujuan

a. Untuk mengetahui dan memahami pengertian makanan yang baik dan halal.

b. Untuk mengetahui dan memahami dalil tentang makanan yang baik dan halal.

c. Untuk mengetahui dan dapat menentukan mana makanan yang baik dan halal sesuai Al-Qur’an dan Hadist.

d. Untuk mengetahui manfaat memakan makanan yang baik dan halal.

1.3.2. Manfaat

a. Membantu dalam melengkapi materi pembelajaran Al-qur’an & Hadist tentang Makanan yang Baik dan Halal.

b. Membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran Al-qur’an & Hadist tentang Makanan yang Baik dan Halal.

c. Menambah wawasan siswa tentang Makanan yang baik dan halal.

BAB II PEMBAHASAN

(5)

Kata halal berasal dari bahasa Arab ( للح) yang berarti disahkan, diizinkan, dan diperbolehkan. Jadi makanan yang halal artinya makanan yang boleh dikonsumsi atau digunakan. Kebalikan halal adalah haram, yakni tidak boleh dikonsumsi atau digunakan.

Barang yang halal, baik berupa makanan maupun minuman boleh dikonsumsi. Namun, tidak semua makanan dan minuman baik untuk dikonsumsi, ada juga makanan yang halal dikonsumsi, namum tidak baik bagi tubuh atau kesehatan kita. Jadi, baik artinya adalah baik bagi tubuh kita, atau tidak mengganggu kesehatan tubuh, baik dalam waktu dekat maupun dalam waktu yang akan datang.

Pada prinsipnya semua makanan dan minuman yang ada di dunia ini halal untuk dimakan dan diminum, kecuali ada larangan dari Allah SWT. yaitu yang terdapat dalam Al-Qur'an dan yang terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW. Tiap benda di permukaan bumi menurut hukum asalnya adalah halal kecuali jika ada larangan secara syar'i.

Makanan yang halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syari’at untuk dikonsumsi kecuali ada larangan dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Agama Islam menganjurkan kepada umatnya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Makanan halal maksudnya makanan yang diperoleh dari usaha yang diridhai Allah. Sedangkan makanan yang baik adalah yang bermanfaat bagi tubuh, atau makanan bergizi.

2.2. Kewajiban Menkonsumsi Makanan yang Baik dan Halal

(6)

tidak termasuk makanan yang diharamkan oleh Allah, dan halal pada cara mendapatkannya.

Di dalam Al-Quran Allah SWT. memerintahkan seluruh hamba-Nya yang beriman dan yang kafir agar mereka memakan makanan yang baik lagi halal, sebagaimana firman-Nya:

     

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168)

2.3. Syarat Makanan yang Baik dan Halal

2.3.1. Suci, bukan najis atau yang terkena najis. Allah berfirman :           



“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan nama selain Allah.” [QS. Al Baqarah:173].

2.3.2. Aman, tidak bermudharat baik yang langsung maupun yang tidak langsung. Allah berfirman :

    

“Dan janganlah kamu menjerumuskan diri kamu kedalam kebinasaan.” [QS. Al Baqarah:195].

2.3.3. Tidak memabukkan. Rasulullah SAW bersabda :

“setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar adalah haram.” [HR.Muslim,2003].

(7)

2.4. Dalil Tentang Makanan yang Baik dan Halal 2.4.1. QS. Al-Baqarah: 168-169

                             

168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

169. Sesungguhnya syaitan itu Hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Ayat 168 diawali dengan kata seruan: “Wahai manusia”. Maka ayat ini bersifat umum, yaitu ditujukan pada segenap manusia. Ibnu Abbas mengatakan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kebiasaan suatu kaum yang terdiri dari Bani Tsaqi, Bani Amir Bin Sha’sha’ah, Khuza’ah, dan Bni Mudhid. Mereka mengharamkan makanan menurut kemauan mereka sendiri. Mereka memakan beberapa jenis binatang seperti bihirah, yaitu unta betina yang sudah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu dibelah atau dipotong telinganya. Juga washilah, yaitu domba yang beranak dua ekor, satu jantan dan satu betina, lalu anak yang jantan tidak boleh dimakan, melainkan harus diserahkan kepada berhala. Padalah Allah SWT tidak mengharamkan dua jenis binantang diatas.

(8)

dan selalu menaati seluruh perintah dan peraturannya serta tidak segan-segan menyuruh manusia untuk membuat peraturan dan hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum Allah, sehingga akan kacau balaulah peraturan agama dan tidak dapat diketahui lagi mana yang peraturan agama dan mana yang bukan. Syaitan berupaya untuk menerobos segala pertahanan manusia sampai akhirnya terperdaya oleh strategi mereka. Jika ia gagal menggoda dan memperdaya manusia dari satu pintu maka ia akan datang dari pintu yang lain. Begitu seterusnya tanpa mengenal kata menyerah dalam perjuangannya untuk memperdaya manusia. Syaitan itu mnyusup kedalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah dalam tubuh.

Mengenai pengertian kaliamat “Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan”, Qatadah dan as-Suddi menafsirkan dengan “Setiap perbuatan maksiat kepada Allah termasuk langkah setan”. Abu Maljaz mengatakan “Nazar dalam kemaksiatan”.

Pintu masuk syaitan itu sangat banyak. Berikut adalah pintu-pintu yang syaitan manfaatkan untuk untuk menggelincirkan manusia dalam nafsu dan syahwat.

Pintu syaitan yang paling luas untuk merayu dan menyesatkan manusia adalah Nafsu dan Syahwat, yaitu syahwat jasad yang terdiri dari syahwat perut (Makanan), syahwat untuk memiliki kekayaan yang berlebihan dan syahwat kemaluan. Tentang syahwat perut ini Rasulullsh SAW pernah bersabda : “Tidak ada wadah yang dipenuhkan oleh anak adam yang lebih buruk daripada memenuhkan perutnya sendiri dengan makanan”.

(9)

Ayat 169 sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya, yaitu antara makanan dengan godaan syaitan. Syaitan masuk dalam segala pintu menurut tingkatan orang yang dimasukinya dan kebanyakan adalah karena mencari makanan pengisi perut. Demi memperoleh makanan manusia mau melakukan apa saja termasuk cara-cara yang dilarang oleh agama seperti mencuri, merampok, menipu, memeras, memanipulasi, korupsi, kolusi bahkan rela membunuh sesama demi keuntungan materi. Semuanya merupakan perangkap yang dipasang syaitan untuk menjerumuskan manusia.

Pada akhirnya, manusia akan mabuk oleh kebiasaan-kebiasaan syaitan. Dia akan mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan agama: dia akan mengatakaan tuhan tidak adil, apa itu agama, apa itu puasa, apa itu jilbab, dll. Manusia akan menjadi corong syaitan dalam mengikuti jejak atau petunjuknya sehingga perbuatannya tidak terkontrol lagi dan hatinya mejadi keras membatu. Maka sesatlah manusia.

2.4.2. QS. Al-Baqarah: 172-173

                                          

(10)

173. Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah[108]. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Didalama ayat 172 Allah mengulangi kembali agar memakan makanan yang baik, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat 168. Tetapi, dalam ayat ini Allah secara khusus menyerukan kepada orang-orang yang beriman, agar memakan makanan yang baik.

Selanjutnya didalam ayat ini Allah menyuruh orang yang beriman agar mensyukuri nikamatnya, jika benar-benar beribadah atau menghambakan diri kepadanya. Bersyukur artinya menggunakan nikmat Allah untuk mengabdi kepadanya, atau menggunakan nikmat Allah sesuai dengan yang dikehendakinya. Antara syukur dan beribadah erat kaitannya, sebab manifestasi syukur pada hakikatnya adalah beribadah kepaada Allah.

Dalam ayat 173 Allah menjelaskan jenis-jenis makanan yang diharamkan, yaitu:

 bangkai  Darah

 daging babi, dan

 binatang yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah

Larangan memakan empat jenis itu juga disebutkan dalam surat lainnya.

(11)

                

145. Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang". (QS.Al-an’am: 145)

                                                                  

(12)

untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Al-Ma’idah: 3)

Bangkai adalah binatang bernyawa yang mati karena tidak disembelih, baik itu karena tercekik, penyakit, terjatuh, terjepit, tertabrak atau sebab-sebab lainnya. Semuanya haram kecuali bangkai ikan dan belalang. Akal nuranipun dapat menerima bahwa bangkai itu menjijikan dan kotor, dan dari segi kesehatan bangkai adalah makanan yang tidak baik. Apalagi penyebabnya itu adalah penyakit, maka bisa saja penyakit itu menular kepada pemakannya. Disamping itu makanan yang mati dengan tidak disembelih dengan baik dan tidak mengalami proses pnyembelihan rasanya tidak enak.

Demikian pula darah yang mengalir, diharamkan untuk dimakan. Ibnu Abbas pernah ditanyakan tentang limpa (thinal) maka jawaban beliau adalah “Makanlah”. Orang-orang kemudian berkata “Bukankah itu darah ?”, Ibnu Abbas menjawab “Darah yang diharamkan bagi kamu adalah darah yang mengalir”.

(13)

Makanan yang diharamkan yang keempat adalah binatang yang disembelih bukan karena Allah yaitu binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, misalnya nama berhala. Kaum penyembah berhala (watsaniyyin) apabila hendak menyembelih binatang mereka akan menyebut nama berhala seperti laata, uzza, dll ini berarti suatu bentuk taqarrub kepada selain Allah dan menyembahnya. Jadi sebab (illat) diharamkannya diharamkannya binatang yang disembelih bukan karena Allah disini adalah semata-mata illat agama, dengan tujuan untuk melindungi kemurnian aqidah atau tauhid dan memberantas kemusyrikan. Dengan demikian menyebuat asma Allah ketika itu berarti suatu pemberitahuan bahwa ialah yang memperkenankan untuk menyembelih berarti meniadakan perkenaan ini dan ia berhak melarang memakanan binatang yang disembelih itu.

Semua makanan yang diharamkan diatas adalah berlaku ketika dalam keadaan normal. Sedangkan dalam keadaan darurat maka hukumnya halal. Darurat dalam masalah ini misalnya apabila tidak memakannya bisa mengakibatkan kematian, karena tidak ada lagi makanan selain itu. Atau karena diintimidasi apabila tidak memakannya, maka akan dibunuh.

Lamanya waktu boleh memakannya dalam keadaan darurat menurut sebagian ulama berpendapat sehari semalam. Imam malik memberi batasan yaitu sekedar kenyang dan boleh menyimpannya hingga mendapatkan makanan yang lain. Ahli fiqh yang lain berpendapat tidak boleh makan melainka sekedar dapat mempertahankan sisa hidupnya.

Yang disebut ghaira baghin yaitu tidak mencari-cari alasan karena untuk memenuhi keinginan (selera). Sedangkan yang dimaksud dengan wala’din yaitu tidak melewati batas ketentuan darurat.

(14)

“Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Wajib atas kamu berpegang teguh dengan Al-qur’an, apa saja yang kamu jumpai dalam Al-qur’an halal, maka halalkan dan apa saja yang kamu jumpai dalam Al-qur’an haram, maka haramkanlah, ketahuilah, tidak halal hewan buas yang memiliki taring, keledai jinak, barang temuan dari harta oang kafir mu’ahad (yang menjalin perjanjian dengan negara islam) kecuali ia tidak membutuhkannya. Dan siapapun laki-laki yang bertamu kepada suatu kaum dan mereka tidak menjamunya, maka baginya untuk menuntut ganti yang seperti jamuan untuknya” (HR.Abu Dawud).

Hadist tersbut menjelaskan mengenai salah satu ciri atau karakteristik hewan yang tidak halal untuk dikonsumsi yakni hewan buas yang bertaring. Selain itu rasul juga menyeebutkan secara spesifik yang diharamkan Allah yakni keledai jinak dan barang temuan dari orang kafir mu’ahad.

Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-tamhid dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in kemudian merinci ketentuan tersebut. Menurut kedua ulama, binatang haram yang dimaksud Rasulullah masuk kedalam istilah dziinaab. Ini adalah binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia. Termasuk didalamnya serigala, singa, macan tutul, harimau, beruang, kera dan sejenisnya. “Semua itu haram dimakan”, papar kedua ulama. Imam Ibnu Abdil barr menambahkan beberapa jenis hewan yang masuk kedalam kriteria ini, yakni gajah dan anjing. Ulama ini bahkan tidak sekedar melarang untuk mengonsumsi, melainkan juga untuk tidak memperjual belikan daging hewan itu sebab tidak ada manfaatnya.

(15)

Dengan begitu, apapun yang berkaitan dengan binatang ini hukumnya haram, tidak terkecuali hewan yang di terkam binatang buas dan telah dimakan sebagian dagingnya. Menurut Syekh Al-Qardhawi, tidak boleh dikonsumsi meski darahnya mengalir dan bagian lehernya yang terkena.

Namun tidak bisa dipungkiri, saat ini disebagian masyarakat masih menyimpan kepercayaan bahwa daging hewan buas mengandung khasiat bagi kesehatan. Dengan demikian, beberapa jenis hewan buas dan bertaring justru menjadi konsumsi favorit. Anggapan itu tentu masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Sebaliknya berdasarkan penelitian medis, hewan-hewan ini memiliki penyakit yang bersifat zoonosis (yang dapat menular kepada manusia), yakni rabies. Menilik alasan tersebut, islampun melarang umat untuk mengonsumsi hewan buas dan bertaring tadi.

2.4.4. HADIST 2

(16)

haram dan diliputi dengan yang haram, lalu bagaimana akan dikabulkan do’anya”. (HR.Tirmidzi)

2.5. Manfaat Memakan Makanan yang Baik dan Halal

2.5.1. seseorang yang mengonsumsi makanan halal akan mudah bangkit guna melakukan ketaatan dan ibadah.

Habib Abdullah bin Husain bin Thahir pernah mengatakan, “Memakan makanan yang halal adalah sumber kebaikan yang besar. Dampak suatu ibadah tidak dapat muncul kecuali jika asupan makanannya adalah baik dan tidak bercampur dengan syubhat.” 2.5.2. doa orang yang mengonsumsi makanan yang halal mudah

dikabulkan oleh Allah.

Dalam suatu kesempatan, Sa`ad bin Abi Waqqash meminta kepada Rasulullah SAW agar berdoa kepada Allah, minta dijadikan sebagai orang yang doanya mudah dikabulkan oleh-Nya. Lalu, Rasul SAW berkata kepada Sa`ad, “Perbaiki makanan yang engkau makan niscaya engkau menjadi orang yang doanya mudah dikabulkan.” (HR. Thabrani)

2.5.3. keturunan orang yang menjaga mutu makanan yang dikonsumsi dapat melahirkan keturunan yang shalih-shalihah.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam bukunya Al Ghun-yah, mengatakan, “Bila telah tampak tanda kehamilan pada diri seorang perempuan hendaklah suaminya betul-betul menjaga kebersihan makanannnya dari hal yang haram atau syubhat agar anak itu tidak ada jalan bagi setan untuk masuk dalam penciptaannya.”

2.5.4. hati menjadi terang dan penuh hikmah.

(17)

2.5.5. makanan yang halal dapat menjadi obat penyembuh bagi penyakit yang diderita.

(18)

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan

3.1.1. Makanan yang baik ddan halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syari’at untuk dikonsumsi kecuali ada larangan dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta baik bagi tubuh kita, atau tidak mengganggu kesehatan tubuh, baik dalam waktu dekat maupun dalam waktu yang akan datang.

3.1.2. Allah SWT. memerintahkan seluruh hamba-Nya yang beriman dan yang kafir agar mereka memakan makanan yang baik dan halal. 3.1.3. Syarat makanan yang halal adalah baik, aman, tidak memabukan,

dan disembelih sesuai syari’at islam jika makanan tersebut berupa daging hewan.

3.1.4. Dalam QS.Al-Baqarah: 168-169 Allah memerintahkan kepada manusia agar memakan makanan yang halal dan baik. Serta memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah syaitan, karena syaitan adalah musuh manusia yang nyata.

3.1.5. Rasulullah juga memerintahkan kepada manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik melalui sunnahnya (hadist).

3.1.6. Dengan memakan makanan yang halal dan baik, kita akan memperoleh Ridha Allah dan mendatangkan banyak manfaat bagi kehidupan manusia.

3.2. Saran

(19)

Oleh karena itu, kita hendaknya selektif dalam memilih makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, dengan tidak sekedar memperturut nafsu dan syahwat saja, namun juga memperhatikan kehalalan dan kebaikannya. Karena makanan yang kita konsumsi akan berpengaruh dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

(20)

http://berobatalami.blogspot.co.id/2012/06/manfaat-makanan-halal.html

http://www.bilvapedia.com/2013/07/makanan-dan-minuman-halal-dan-haram_24.html

http://abuabdurrohmanmanado.org/tag/kriteria-makanan-halal-dan-haram-dalam-agama-islam/

Referensi

Dokumen terkait

Using this knowledge, we can interpret significant departures from this value (as occur in 1970) to be indicative of either collinearity with other explanatory

Bagian utama (naskah karya tulis) diberi nomor halaman menggunakan angka arab yang dimulai dengan nomor halaman 1 (satu) dan diketik di sebelah kanan bawah dengan

sementara wyckof (dalam tjiptono 1996:59) mengartikan kualitas jasa atau layanan, yaitu : tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk

Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan

Target luaran yang diharapkan dari usaha ini, yaitu dapat menghasilkan inovasi kedelai menjadi sosis yang disukai dan bermanfaat bagi kesehatan. Memanfaatkan kedelai agar

Table 2 reports structural information from experiment, ab initio method, and semiempirical molecular orbital theory (AM1). The experimental data are from the

Pembelajaran dan Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Keterampilan Dasar Bolabasket ” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan

Sebagai contoh, epinephrine dan norepinephrine meningkatkan masukan kalsium ke dalam sel oleh mekanisme fosforilasi pada kanal kalsium melalui cyclic AMP (cAMP)-