(2)
Abstrak— Iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu dan cuaca menyatakan status atmosfer pada sembarang waktu tertentu. Dua unsur utama iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia sebagai daerah tropis ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar. Dengan asumsi bahwa curah hujan yang terjadi atau turun di suatu wilayah bersifat musiman (seasonality) dan dipengaruhi oleh curah hujan tahun sebelumnya, maka dalam penelitian ini akan dianalisis terkait data curah hujan di salah satu stasiun pengukur curah hujan yaitu Stasiun Jabung dengan perbandingan rata-rata curah hujan antar tahun dalam bulan yang sama selama kurun waktu 1994-2003. Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Maret sedangkan musim tidak hujan (kemarau) jatuh pada bulan April sampai September. Pada bulan Mei menunjukkan kecenderungan perubahan musim sehingga mengakibatkan beberapa data curah hujan yang tercatat menjadi data outlier. Pada bulan Oktober yang seharusnya merupakan musim hujan menunjukkan bahwa intensitas hujan cenderung jauh lebih rendah. Pengujian kesamaan mean data curah hujan per bulan setiap tahun menunjukkan bahwa rata-rata data curah hujan yang berbeda diakibatkan karena adanya pergeseran waktu datangnya musim. Selain itu beberapa data yang menujukkan tidak adanya data curah hujan dalam satu bulan tidak dapat dilakukan pengujian karena nilai varians sebesar nol.
Kata Kunci—Iklim, Curah Hujan, Stasiun Jabung, Outlier, Perbandingan Mean 2-populasi.
I. PENDAHULUAN
emanasan global merupakan salah satu isu yang penting terkait perubahan cuaca. Pemanasan global tersebut menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan intensitas kejadian cuaca ekstrim. Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan temperatur udara, kelembaban udara, tekanan atmosfer, curah hujan, dan angin yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 50-100 tahun. Curah hujan sebagai salah satu faktor penentu perubahan iklim sangat penting untuk diramalkan.
P
Iklim dapat didefinisikan sebagai ukuran statistik cuaca untuk jangka waktu tertentu dan cuaca menyatakan status atmosfer pada sembarang waktu tertentu. Dua unsur utama iklim adalah suhu dan curah hujan. Indonesia sebagai daerah
tropis ekuatorial mempunyai variasi suhu yang kecil, sementara variasi curah hujannya cukup besar [1]. Oleh karena itu curah hujan merupakan unsur iklim yang paling sering diamati dibandingkan dengan suhu.
Menganalisis variabilitas curah hujan tidak lepas dari pengetahuan tentang pola dasar curah hujan yang ada di wilayah Indonesia. Sebelum terjadi perubahan musim akibat pemanasan global, musim hujan di Indonesia terjadi pada bulan Oktober sampai Maret, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September.
Dengan asumsi bahwa curah hujan yang terjadi atau turun di suatu wilayah bersifat musiman (seasonality) dan dipengaruhi oleh curah hujan tahun sebelumnya, maka dalam penelitian ini akan dianalisis terkait data curah hujan di salah satu stasiun pengukur curah hujan yaitu Stasiun Jabung dengan perbandingan rata-rata curah hujan antar tahun dalam bulan yang sama selama kurun waktu 1994-2003.
II. LANDASAN TEORI
A. Statistika Deskriptif
Statistika Deskriptif merupakan bagian dari ilmu statistika yang hanya mengolah dan menyajikan data tanpa mengambil keputusan atau kesimpulan yang lebih luas untuk suatu populasi. Statistika deskriptif hanya berusaha untuk melukiskan atau melihat gambaran secara umum dari data yang didapatkan. Beberapa statistika deskriptif yang digunakan pada penelitian ini diantaranya sebagai berikut. 1. Rata-rata (mean)
Didefinisikan sebagai jumlah data yang dibagi dengan banyaknya data. Mean dianggap nilai sentral dan dapat digunakan sebagai pengukuran lokasi sebuah distribusi frekuensi.
Apabila terdapat n data yang dinyatakan dengan x1, x2, x3,
…, xn, maka rata-ratanya adalah :
´
x
=
∑
i=1
n
x
in
(1)
dimana : n = banyaknya data xi = nilai data ke-i
2. Nilai Tengah (Median)
Didefinisikan suatu nilai tengah sedemikian rupa sehingga 50% data berada di bawah dan 50% data berada di atasnya.
Analisis Data Curah Hujan di Stasiun Jabung
Tahun 1994-2003
Nuzilatul Firdausi1, Idayati2, Rosna Malika3, Flashy Fitria Nurfida4
Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
dimana :
Lm = batas bawah kelas yang memuat median n = banyaknya data
u = frekuensi kumulatif dari interval sebelum interval memuat median
f = frekuensi dari interval yang memuat median h = lebar interval
3. Varians
Varians adalah suatu ukuran yang menunjukan keragaman data atau variasi data. Untuk varians sampel disimbolkan s2 dan varians populasi σ2.
s
2 data yang lainnya dalam suatu rangkaian data. Adanya dataoutlier ini akan membuat analisis terhadap serangkaian data menjadi bias, atau tidak mencerminkan fenomena yang sebenarnya. Istilah outlier juga sering dikaitkan dengan nilai esktrim, baik ekstrim besar maupun ekstrim kecil.
B. Boxplot
Boxplot merupakan ringkasan distribusi sampel yang disajikan secara grafis yang bisa menggambarkan bentuk distribusi data (skewness), ukuran tendensi sentral dan ukuran penyebaran (keragaman) data pengamatan.
Terdapat 5 ukuran statistik yang bisa kita baca dari
boxplot, yaitu:
Nilai minimum : nilai observasi terkecil
Q1 : kuartil terendah atau kuartil pertama Q2 : median atau nilai pertengahan Q3 : kuartil tertinggi atau kuartil ketiga Nilai maksimum: nilai observasi terbesar.
Selain itu, boxplot juga dapat menunjukkan ada tidaknya nilai outlier dan nilai ekstrim dari data pengamatan
C. Analisis Pengujian Mean Dua Populasi dengan Uji T
Analisis ini digunakan untuk pengujian hipotesis bagi
μ
1−
μ
2,σ
1=
σ
2denganσ
1 danσ
2 yang tidak diketahui.Dengan,
H0 : µ1 - µ2 = d0
T hitung yang digunakan:
t
=
( ´
x
1− ´
x
2)−
d
0adalah z < -zα, apabila z hitung berada di wilayah kritik
maka keputusannya adalah tolak H0, apabila berada diluar
wilayah kritik maka keputusannya adalah gagal tolak H0.
b. Jika H1: µ1-µ2 > d0, maka wilayah kritik yang digunakan
adalah z > zα, apabila z hitung berada di wilayah kritik
maka keputusannya adalah gagal tolak H0. apabila berada
diluar wilayah kritik maka keputusannya adalah gagal tolak H0.
c. Jika H1: µ1-µ2 ≠ d0, maka wilayah kritik yang digunakan
adalah z < - zα atau z > zα, apabila z hitung berada di
wilayah kritik maka keputusannya adalah gagal tolak H0.
apabila berada diluar wilayah kritik maka keputusannya adalah gagal tolak H0.
D. Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan dikelompokkan menurut tingkat presipitasi :
a) Gerimis -- ketika tingkat presipitasinya <
25 millimeter (0.98 in) per jam
b) Hujan sedang -- ketika tingkat presipitasinya antara
25 millimeter(0.98 in) - 76 millimeter (3.0 in) atau 10 millimeter (0.39 in) per jam
c) Hujan deras -- ketika tingkat presipitasinya
>76 millimeter (3.0 in) per jam, atau antara 10 millimeter (0.39 in) dan 50 millimeter (2.0 in) per jam
d) Hujan badai -- ketika tingkat presipitasinya >
50 millimeter (2.0 in) per jam
III. METODOLOGI PENELITIAN
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari salah satu stasiun pengukur hujan yaitu Stasiun Jabung selama periode 1994 sampai 2003.
Langkah-langkah analisis untuk mencapai tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pra-proses data dengan mendefinisikan nilai yang kosong sebagai data yang bernilai nol (tidak ada hujan) serta mengidentifikasi jumlah hari pada masing-masing bulan per tahunnya.
2. Mendeskripsikan data pengamatan curah hujan per tahun pada bulan yang sama dengan menggunakan statistika deskriptif dan boxplot.
3. Melakukan pengujian mean antara data curah hujan bulan yang sama pada tahun yang berdekatan dengan mengunakan 2-sample T-test.
4. Mengambil kesimpulan dari hasil analisis yang dilakukan. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Curah Hujan Bulan Januari 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung bulan Januari tahun 1993-2003.
Tabel 4.1 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Januari 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Jan_94 15,1 338,69 0 8 66
Jan_96 12,74 243,2 0 7 49
Jan_97 8,65 144,64 0 0 42
Jan_98 8,39 316,05 0 0 69
Jan_99 10,68 146,89 0 6 39
Jan_00 11,19 595,03 0 0 127
Jan_01 8,84 205,01 0 3 59
Jan_02 9,55 261,12 0 4 80
Jan_03 12,81 285,96 0 7 60
Pada Bulan Januari merupakan musim hujan. Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa rata-rata curah hujan yang terjadi pada bulan Januari tahun 1994 sebesar 15,1 cm. Dari data yang tercatat oleh Stasiun Jabung menunjukkan bahwa selama bulan Januari 1994 beberapa hari tidak ada hujan yang turun sehingga mengakibatkan variasi yang cukup besar yaitu sebesar 338,69 cm. Sejak Januari tahun 1994 sampai 2003 menunjukkan intensitas tertinggi curah hujan terjadi pada Januari tahun 2000 yaitu 127 cm dan intensitas terendah bulan Januri sejak tahun 1994 sampai dengan 2003 terjadi pada Januari tahun 1997 dengan volume curah hujan yang terukur sebesar 42 cm. Untuk menunjukkan kondisi tersebut dapat dijelaskan dengan Boxplot berikut:
JAN_03
Gambar 4.1Boxplot Curah Hujan Bulan Januari
Berdasarkan Gambar 4.1 terlihat bahwa pada bulan Januari sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2003 terdapat beberapa kondisi aneh yang ditunjukkan dengan volume curah hujan yang cenderung jauh lebih tinggi dibandingkan dengan volume curah hujan yang terjadi pada hari yang lain. Berdasarkan Boxplot tersebut kondisi curah hujan yang terjadi pada bulan Januari tahun 1994 sampai dengan tahun 2003 menunjukkan kondisi yang hampir sama. Kesamaan kondisi curah hujan tidak hanya dapat dilihat secara visual, namu perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap rata-rata curah hujan yang terjadi bulan Januari 1994-2003.
Tabel 4.2Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Jan 1994 dan Jan 1995 0,195
Jan 1995 dan Jan 1996 0,428
Jan 1996 dan Jan 1997 0,251
Jan 1997 dan Jan 1998 0,947
Jan 1998 dan Jan 1999 0,556
Jan 1999 dan Jan 2000 0,916
Jan 2000 dan Jan 2001 0,645
Jan 2001 dan Jan 2002 0,855
Jan 2002 dan Jan 2003 0,441
Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa kondisi curah hujan bulan Januari 1994 dan Januari 1995 memiliki rata-rata curah hujan yang sama. Begitupula dengan curah hujan bulan Januari pada setiap tahunnya dengan lag 1 juga menunjukan
kondisi mean curah hujan yang sama karena p-value pengujian lebih besar dari α = 5%.
B. Curah Hujan Bulan Februari 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan februari dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.3 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Februari 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Feb_94 16,29 318,88 0 11 59
Feb_95 12,11 235,88 0 6 54
Feb_96 11,45 229,54 0 7 60
Feb_97 17,25 431,75 0 9,5 61
Feb_98 14,21 280,77 0 5,5 55
Feb_99 9,04 150,33 0 4,5 47
Feb_00 17,38 424,32 0 9 70
Feb_01 14,14 1248,5 0 0 158
Feb_02 13,79 358,47 0 2,5 66
Feb_03 8,64 121,79 0 0 34
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pada bulan Februari tahun 1994-2003 menunjukkan kondisi curah hujan yang relatif tinggi yang dibuktikan dengan rata-rata curah hujan yang tinggi. Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut juga dapat diketahui bahwa pada Februari 2001 dan 2003 menunjukkan bahwa pada bulan tersebut hujan relatif jarang terjadi. Untuk lebih menjelaskan dekripsi curah hujan dapat diketahui dari
Boxplot berikut:
Gambar 4.2Boxplot Curah Hujan Bulan Februari
Berdasarkan Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa dalam beberapa tahun terjadi kondisi keanehan pada curah hujan yang tercatat di Stasiun Jabung. Kondisi yang paling ekstrem
terjadi pada Februari 2001, rata-rata yang terjadi hanya sebesar 14,14 cm namun terdapat 4 hari yang memiliki curah hujan yang jauh lebih tinggi dari rata-rata tersebut. Untuk mengetahui kesamaan mean perlu dilakukan pengujian terhadap rata-rata curah hujan bulan Februari 1994-2003.
Tabel 4.4Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Feb 1994 dan Feb 1995 0,352
Feb 1995 dan Feb 1996 0,871
Feb 1996 dan Feb 1997 0,232
Feb 1997 dan Feb 1998 0,55
Feb 1998 dan Feb 1999 0,192
Feb 1999 dan Feb 2000 0,07
Feb 2000 dan Feb 2001 0,673
Feb 2001 dan Feb 2002 0,963
Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa kondisi curah hujan bulan Februari 1994 dan Februari 1995 memiliki rata-rata curah hujan yang sama. Begitupula dengan curah hujan bulan Februari pada setiap tahunnya dengan lag 1 juga menunjukan kondisi mean curah hujan yang sama karena p-value pengujian lebih besar dari α = 5%.
C. Curah Hujan Bulan Maret 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan Maret dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.5 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Maret 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Mar_94 13,84 260,81 0 7 60
Mar_95 13,39 394,05 0 5 76
Mar_96 6,16 232,27 0 0 65
Mar_97 2,258 26,665 0 0 21
Mar_98 8,77 315,18 0 3 92
Mar_99 11,48 328,46 0 0 65
Mar_00 10,81 232,23 0 5 65
Mar_01 10,84 212,54 0 0 47
Mar_02 8,65 137,9 0 4 52
Mar_03 4,45 165,26 0 0 68
Berdasarkan Gambar 4.5 dapat diketahui bahwa rata-rata curah hujan bulan Maret relatif tinggi setiap tahunnya kecuali tahun 1996, 1997, dan 2003 yang memiliki rata-rata kecil. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut, intensitas hujan bulan Maret relatif kecil. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat melalui Boxplot berikut :
MAR_03
Gambar 4.3Boxplot Curah Hujan Bulan Maret
Berdasarkan Gambar 4.3 menunjukkan bahwa pada bulan Maret 1994-2003 banyak terjadi kondisi keanehan. Keanehan ini meliputi volume curah hujan yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan rata-ratanya. Selain itu dalam beberapa tahun, pada bulan Maret intensitas hujan sangat kecil sehingga tidak ada curah hujan yang tercatat.
Tabel 4.6Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Maret 1994 dan Maret 1995 0,922
Maret 1995 dan Maret 1996 0,113
Maret 1996 dan Maret 1997 0,182
Maret 1997 dan Maret 1998 0,054
Maret 1998 dan Maret 1999 0,554
Maret 1999 dan Maret 2000 0,874
Maret 2000 dan Maret 2001 0,993
Maret 2001 dan Maret 2002 0,517
Maret 2002 dan Maret 2003 0,185
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa curah hujan bulan Maret 1994 dan Maret 1995 memiliki rata-rata yang sama. Kesamaan mean juga terjadi pada bulan Maret di setiap tahun dengan lag 1 karena semua nilai p-value yang dihasilkan dari pengujian lebih besar dari α = 5%.
D. Curah Hujan Bulan April 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan April dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.7 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan April 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Apr-94 8,8 312,92 0 0 78
Apr-95 7,63 303 0 0 78
Apr-96 0,3 1,321 0 0 5
Apr-97 6,43 72,05 0 0 30
Apr-98 14,03 275,76 0 10 65
Apr-99 12,27 426,55 0 0 84
Apr-00 12,07 400,27 0 5 99
Apr-01 8,4 181,56 0 0 46
Apr-02 6,07 229,17 0 0 56
Apr-03 5,53 255,09 0 0 65
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa curah hujan yang terjadi pada bulan April relatif dalam kondisi standart jika dilihat dari rata-ratanya. Namun pada tahun 1996 tercatat bahwa jarang terjadi hujan sehingga mengakibatkan rata-ratanya hanya sebesar 0,3 cm dan volume maksimum yang tercatat hany 5 cm. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat melalui Boxplot berikut :
Apr-03
Gambar 4.4Boxplot Curah Hujan Bulan April
Berdasarkan Gambar 4.4 dapat diketahui bahwa pada bulan April kondisi hujan sudah tidak stabil. Beberapa tahun menunjukkan volume curah hujan yang terlampau tinggi. Hal serupa jelas telihat pada tahun 2002 dan 2003 yang menunjukkan bahwa rata-rata pada bulan April tahun 2002 dan 2003 tidak terjadi hujan, namun sekali terjadi hujan memiliki internsitas yang sangata tinggi sehingga variasi yang dihasilkan juga tinggi. Selanjutnya untuk mengetahui kesamaan mean yang terjadi pada bulan April setiap tahunnya perlu dilakukan pengujian mean.
Tabel 4.8Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Apr 1994 dan Apr 1995 0,798
Apr 1995 dan Apr 1996 0,029
Apr 1997 dan Apr 1998 0,031
Apr 1998 dan Apr 1999 0,716
Apr 1999 dan Apr 2000 0,970
Apr 2000 dan Apr 2001 0,409
Apr 2001 dan Apr 2002 0,531
Apr 2002 dan Apr 2003 0,895
Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa rata-rata mean
yang terjadi bulan April setiap tahun dengan lag 1 adalah sama. Namun pada April 1995 dan April 1996, April 1996 dan April 1997, serta April 1997 dan 1998 memiliki rata-rata yang berbeda. Hal ini dikarenakan pada April 1996 hanya terjadi hujan sekali dan tahun 1998 intensitas hujan yang terjadi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
E. Curah Hujan Bulan Mei 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan Mei dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.9 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Mei 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Mei-94 1,23 37,51 0 0 34 Curah hujan maksimum yang tercatat sejak tahun 1994-2003 hanya sebesar 49 cm. Volume ini dikatakan kecil jika dibandingkan dengan bulan lainnya. Untuk menjelaskan deskripsi data curah hujan dapat melalui Boxplot berikut:
Mei-03
Gambar 4.5Boxplot Curah Hujan Bulan Mei
Berdasarkan Gambar 4.5 dapat diketahui bahwa pada bulan Mei kondisi keanehan mulai banyak terjadi. Hal ini disebabkan pada bulan Mei rata-rata hujan sudah jarang terjadi, namun pada saat turun hujan curah hujan yang tercatat menunjukkan volume yang sangat tinggi. Hal ini terjadi pada setiap tahun yang menunjukkan bahwa volume hujan yang tercatat pada bulan Mei adalah sebagai outlier. Selanjutnya untuk mengetahui kesamaan mean yang terjadi pada bulan Mei setiap tahunnya perlu dilakukan pengujian mean.
Tabel 4.10Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Mei 1994 dan Mei 1995 0,693
Mei 1995 dan Mei 1996 0,718
Mei 1996 dan Mei 1997 0,807
Mei 1997 dan Mei 1998 0,043
Mei 1998 dan Mei 1999 0,029
Mei 1999 dan Mei 2000 0,036
Mei 2000 dan Mei 2001 0,445
Mei 2001 dan Mei 2002 0,643
Mei 2002 dan Mei 2003 0,602
Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa rata-rata
mean yang terjadi bulan Mei setiap tahun dengan lag 1 adalah sama. Namun pada Mei 1997 dan Mei 1998, Mei 1998 dan Mei 1999, serta Mei 1999 dan 2000 memiliki rata-rata yang berbeda. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut terjadi beberapa kali hujan dengan volume yang tercatat sangat tinggi.
F. Curah Hujan Bulan Juni 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan Juni dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.11 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Juni 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Jun-94 0 0 0 0 0
Jun-03 0,967 28,033 0 0 29
Berdasarkan tabel 4.11 menunjukkan bahwa pada bulan Juni adalah memasuki musim tidak hujan. Namun kenyataannya dalam beberapa tahun masih terjadi hujan dengan volume yang tercatat oleh stasiun cukup tinggi yaitu antara 29 cm sampai dengan 57 cm sehingga menyebabkan terbentuknya variasi curah hujan yang besar.
Jun-03
Gambar 4.6Boxplot Curah Hujan Bulan Juni
Berdasarkan gambar 4.6 dapat diketahui bahwa pada bulan Juni sudah jarang terjadi hujan. Namun pada tahun 1995, 1998, 2000, 2001, dan 2003 terdapat beberapa kali hujan. Volume hujan yang tercatat ini dianggap sebagai outlier
karena seharusnya pada bulan Juni adalah musim tidak hujan. untuk mengetahui kesamaan mean yang terjadi pada bulan Juni setiap tahunnya perlu dilakukan pengujia mean.
Variabel P-value
Jun 1994 dan Jun 1995 *
Jun 1995 dan Jun 1996 *
Jun1996 dan Jun 1997 *
Jun 1997 dan Jun 1998 *
Jun 1998 dan Jun 1999 *
Jun 1999 dan Jun 2000 *
Jun 2000 dan Jun 2001 0,103
Jun 2001 dan Jun 2002 *
Jun 2002 dan Jun 2003 *
Berdasarkan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa hanya pada Juni 2000 dan Juni 2001 yang dapat dilakukan pengujian
mean dengan nilai p-value sebesar 0,103. Sedangkan untuk yang lainnya tidak dapat dilakukan pengujian rata-rata untuk curah hujan bulan Juni pada setiap tahunnya dengan lag 1 karena curah hujan bernilai 0 dalam 1 bulan penuh sehingga varian yang dihasilkan bernilai 0.
G. Curah Hujan Bulan Juli 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan Juli dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.13 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Juli 1994-2003
Tahun Mean Var Min Med Max
Jul-94 0 0 0 0 0
Berdasarkan teori, diketahui bahwa pada pada bulan Juli seharusnya merupakan musim tidak hujan. Namun pada kenyataannya pada tahun 1998 masih terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi yaitu 63 cm sehingga menyebabkan terbentuknya variasi curah hujan yang sangat besar pada tahun tersebut. Begitu pula dengan pada tahun 2001, terjadi hujan dengan intensitas rendah yaitu 6 cm. Terjadinya keanehan pada tahun 1998 dan 2001 ini memberikan bukti konkret terjadinya perubahan iklim. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
JUL_8
Boxplot of JUL, JUL1, JUL_1, JUL_2, JUL_3, JUL_4, JUL_5, JUL_6, ...
Gambar 4.7Boxplot Curah Hujan Bulan Juli
Berdasarkan Gambar 4.7 terlihat bahwa pada tahun 1998 terdapat 4 curah hujan yang memiliki perilaku yang aneh, begitu pula dengan pada tahun 2001. Sedangkan pada tahun-tahun lainnya antara 1994-2003 tidak terjadi hujan sama sekali
pada bulan Juli. Namun gejala keanehan tersebut tidak cukup hanya secara visual saja, perlu dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap rata-rata curah hujan pada bulan Juli 1994-2003.
Pada bulan Juli yang secara teori merupakan musim tidak hujan dan terlihat dengan sebagian besar curah hujan yang bernilai 0 pada 1 bulan penuh, sehingga tidak dapat dilakukan pengujian rata-rata untuk curah hujan bulan Juli pada setiap tahunnya dengan lag 1 karena varian yang dihasilkan bernilai 0 (nol).
H. Curah Hujan Bulan Agustus 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan Agustus dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.14 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Agustus 1994-2003
Tahun Mean Var Min Med Max
Ags-94 0 0 0 0 0 Agustus seharusnya merupakan musim tidak hujan. Namun pada kenyataannya pada tahun 1996 masih terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi yaitu 71 cm sehingga menyebabkan terbentuknya variasi curah hujan yang sangat besar pada tahun tersebut. Begitu pula dengan pada tahun 1998 dan 2000, terjadi hujan dengan intensitas sedang yaitu 40 cm dan 33 cm. Terjadinya keanehan pada tahun 1996, 1998 dan 2000 ini memberikan bukti konkret terjadinya perubahan iklim. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
AGS_8
Boxplot of AGS, AGS1, AGS_1, AGS_2, AGS_3, AGS_4, AGS_5, AGS_6, ...
Gambar 4.8Boxplot Curah Hujan Bulan Agustus
Pada bulan Agustus yang secara teori merupakan musim tidak hujan dan terlihat dengan sebagian besar curah hujan yang bernilai 0 pada 1 bulan penuh, sehingga tidak dapat dilakukan pengujian rata-rata untuk curah hujan bulan Agustus pada setiap tahunnya dengan lag 1 karena varian yang dihasilkan bernilai 0.
I. Curah Hujan Bulan September 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung pada bulan September dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.15 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan September 1994-2003
Tahun Mean Var Min Med Max
Sep-94 0 0 0 0 0 September seharusnya merupakan musim tidak hujan. Namun pada kenyataannya pada tahun 1995 masih terjadi hujan dengan intensitas yang rendah yaitu 1 cm. Begitu pula dengan pada tahun 1998, 2001, dan 2003 terjadi hujan dengan intensitas sedang yaitu 21 cm, 32 cm, dan 10 cm. Terjadinya keanehan pada tahun 1995, 1998, 2001, dan 2003 ini memberikan bukti konkret terjadinya perubahan iklim. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
SEP_8
Boxplot of SEP, SEP1, SEP_1, SEP_2, SEP_3, SEP_4, SEP_5, SEP_6, ...
Gambar 4.9Boxplot Curah Hujan Bulan September
Berdasarkan Gambar 4.9 terlihat bahwa pada September tahun 1995 terjadi hujan pada 1 hari dengan intensitas 1 cm, sedangkan pada bulan yang sama tahun 1998 terjadi hujan dalam 6 hari dengan intensitas rendah hingga sedang, sedangkan pada tahun 2001 terjadi hujan pada 2 hari dan 1 hari pada tahun 2003. Kondisi ini memberikan bukti yang semakin mengerucut bahwa telah terjadi perubahan iklim yang ditandai dengan terjadinya perubahan siklus musin (curah hujan) karena musim pada bulan yang sama di tahun yang berbeda memiliki kondisi musim yang berbeda. Namun perubahan tersebut tidak cukup hanya dengan mendeteksi secara visual saja, perlu dilakukan pengujian lebih lanjut
terhadap rata-rata curah hujan pada bulan September 1994-2003. untuk curah hujan bulan Agustus pada setiap tahunnya dengan lag 1 karena varian yang dihasilkan bernilai 0.
J. Curah Hujan Bulan Oktober 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan yang diukur di Stasiun Jabung bulan Oktober dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.16 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Oktober 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Okt_94 0 0 0 0 0
Okt_95 0.226 1.581 0 0 7
Okt_96 11.65 833.04 0 0 145
Okt_97 0 0 0 0 0
Okt_98 3.10 57.29 0 0 34
Okt_99 6.87 175.18 0 0 46
Okt_00 7.35 189.24 0 0 48
Okt_01 7.42 243.38 0 0 61
Okt_02 0 0 0 0 0
Okt_03 2.61 164.31 0 0 71
Berdasarkan Tabel 4.16 menunjukkan bahwa Intensitas turun hujan mulai terasa walupun tidak setiap hari. Hal ini dapat diketahui dari 10 tahun pengamatan 7 tahun diantaranya pada bulan Oktober terjadi hujan walaupun volumenya tidak begitu besar seperti yang terjadi pada Oktober 1995 dimana volume maksimumnya hanya 7 cm. Namun ada tahun 1996 volume hujan yang tercatat sangat besar sebesar 145 cm. Untuk lebih menjelaskan deskripsi data curah hujan maka dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
OKT_03
Gambar 4.10Boxplot Curah Hujan Bulan Oktober
Berdasarkan Gambar 4.10 menunjukkan bahwa masih terlihat adanya outlier terhadap data curah hujan. Outlier
tersebut terlihat jelas terjadi pada tahun 1996 dimana volume hujan yang tercatat sangat tinggi. Hal serupa juga terjadi pada tahun sesudah itu. Selanjutnya untuk mengetahui kesamaan
mean yang terjadi pada bulan Oktober setiap tahunnya perlu dilakukan pengujian mean.
Tabel 4.17Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Okt 1994 dan Okt 1995 *
Okt 1996 dan Okt 1997 *
Okt 1997 dan Okt 1998 *
Okt 1998 dan Okt 1999 0,175
Okt 1999 dan Okt 2000 0,888
Okt 2000 dan Okt 2001 0,986
Okt 2001 dan Okt 2002 *
Okt 2002 dan Okt 2003 *
Berdasarkan Tabel 4.17 menunjukkan bahwa hanya 4 pasang tahun yang dapat dilakukan pengujian mean. dari 4 pengujian yang dilakukan tersebut hanya 3 yang memiliki
mean yang sama yaitu Oktober 1998 dengan Oktober 1999, Oktober 1999 dengan Oktober 2000, dan Oktober 2000 dan Oktober 2001. Sedangkan untuk yang lainnya tidak dapat dilakukan pengujian karena curah hujan bernilai 0 dalam 1 bulan penuh sehingga varian yang dihasilkan bernilai 0.
K. Curah Hujan Bulan Nopember 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan bulan Nopember tahun 1993-2003.
Tabel 4.18 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Nopember 1994-2003
Variabel Mean Var Min Med Max
Nop_94 8.63 390.10 0 0 91
Nop_95 17.27 217.17 0 15.5 52
Nop_96 8.60 227.70 0 4.5 77
Nop_97 4.50 74.40 0 0 29
Nop_98 8.03 129.14 0 0 41
Nop_99 14.87 342.74 0 9 63
Nop_00 17.13 463.09 0 9 93
Nop_01 5.43 180.74 0 0 60
Nop_02 11.70 446.70 0 2.5 101
Nop_03 15.60 554.59 0 7.5 115
Berdasarkan Tabel 4.18 menunjukkan bahwa musim hujan sudah kembali terjadi. Hal ini dapat terlihat dari nilai rata-rata dan varians pada masing-masing tahun. Curah Hujan terbesar terjadi pada Nopember 2003 dengan volume yang tercatat sebesar 115cm. Pada Nopember 1997 curah hujan maksimumnya hanya mencapai 29 cm. Karena pada bulan Nopember juga terdapat beberapa hari yang tidak ada hujan maka menyebabkan nilai variasinya cukup tinggi. Untuk menjelaskan deskripsi data curah hujan dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
NOP_03
Gambar 4.11Boxplot Curah Hujan Bulan Nopember
Berdasarkan Gambar 4.11 menunjukkan curah hujan yang terjadi pada Nopember cukup tinggi walaupun pada Nopember 2001 masih didominasi tidak turun hujan. Berdasarkan gambar tersebut juga terlihat bahwa banyak data yang masuk sebagai
outlier karena volume yang tercatat di Stasiun cukup tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Selanjutnya untuk
mengetahui kesamaan mean yang terjadi pada bulan Oktober setiap tahunnya perlu dilakukan pengujian mean.
Tabel 4.19Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Nop 1994 dan Nop 1995 0,060
Nop 1995 dan Nop 1996 0,028
Nop 1996 dan Nop 1997 0,203
Nop 1997 dan Nop 1998 0,181
Nop 1998 dan Nop 1999 0,091
Nop 1999 dan Nop 2000 0,664
Nop 2000 dan Nop 2001 0,015
Nop 2001 dan Nop 2002 0,177
Nop 2002 dan Nop 2003 0,502
Berdasarkan tabel 4.19 menunjukkan bahwa hanya pada Nopember 1995 dengan Nopember 1996 dan Nopember 2000 dengan Nopember 2001 yang memiliki mean yang tidak sama. Sedangkan yang lainnya memiliki mean yang sama setiap tahunnya dengan lag 1.
L. Curah Hujan Bulan Desember 1994 sampai 2003
Berikut ini adalah analisis mengenai kondisi curah hujan bulan Desember dari tahun 1993-2003.
Tabel 4.20 Statistika Deskriptif Curah Hujan Bulan Nopember 1994-2003
Variabel Mean Variasi Min Med Max
Des_94 6.13 140.52 0 0 40
Des_95 8.94 402 0 0 92
Des_96 13.13 783.52 0 0 142
Des_97 8.29 526.15 0 0 118
Des_98 11.45 229.46 0 7 67
Des_99 10.84 192.21 0 7 55
Des_00 5.48 203.72 0 0 56
Des_01 9.9 249.49 0 0 51
Des_02 17.97 391.03 0 12 82
Des_03 5.19 168.16 0 0 60
Berdasarkan Tabel 4.20 diketahui bahwa curah hujan bulan Nopember dari tahun 1994 sampai 2003 cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tahun 1996 dan 1997 dengan curah hujan yang mencapau 140 cm. Selain itu rata-rata dan varian dari data curah hujan setiap tahunnya juga menunjukkan jumlah yang cukup tinggi. Untuk menjelaskan deskripsi data curah hujan dapat diketahui melalui Boxplot berikut :
DES_03
Gambar 4.12Boxplot Curah Hujan Bulan Desember
kesamaan mean yang terjadi pada bulan Oktober setiap tahunnya perlu dilakukan pengujian mean.
Tabel 4.21Compare Mean Two Sample T-test
Variabel P-value
Des 1994 dan Des 1995 0,506
Des 1995 dan Des 1996 0,501
Des 1996 dan Des 1997 0,460
Des 1997 dan Des 1998 0,525
Des 1998 dan Des 1999 0,869
Des 1999 dan Des 2000 0,139
Des 2000 dan Des 2001 0,252
Des 2001 dan Des 2002 0,081
Des 2002 dan Des 2003 0,004
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa curah hujan bulan Desember 1994 dan Desember 1995 memiliki rata-rata yang sama. Kesamaan mean juga terjadi pada bulan Desember di setiap tahun kecuali Desember 2002 dengan Desember 2003 karena nilai p-value yang dihasilkan dari pengujian kurang besar dari α = 5%.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Musim hujan terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Maret sedangkan musim tidak hujan (kemarau) jatuh pada bulan April sampai September. Pada bulan Mei menunjukkan kecenderungan perubahan musim sehingga mengakibatkan beberapa data curah hujan yang tercatat menjadi data outlier. Pada bulan Oktober yang seharusnya merupakan musim hujan menunjukkan bahwa intensitas hujan cenderung jauh lebih rendah.
Pengujian kesamaan mean data curah hujan per bulan setiap tahun menunjukkan bahwa rata-rata data curah hujan yang berbeda diakibatkan karena adanya pergeseran waktu datangnya musim. Selain itu beberapa data yang menujukkan tidak adanya data curah hujan dalam satu bulan tidak dapat dilakukan pengujian karena nilai varians sebesar 0.
Sebagai saran untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya data yang digunakan tidak hanya dari satu stasiun, mengingat semakin banyak stasiun yang digunakan maka semakin banyak pula informasi yang dapat diperoleh sehingga kesimpulan yang diambil dapat mewakili kondisi sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Hermawan, Eddy. 2010. Kondisi Iklim Indonesia Saat ini dan
Prediksinya dalam Beberapa Bulan Mendatang Berbasis Data Iklim Global. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung
[2] Rahmathia Sari, Mega. 2012. Metode Bayesian Model Averaging (BMA)
dengan Pendekatan Markov Chain Monte carlo (MCMC) untuk Peramalan temperatur Udara Studi Kasus: Stasiun Metorologi Juanda. Tugas Akhir. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember
[3] Walpole, E ronald. 1995. Pengantar Statistika. Jakarta: PT. Gramedia