STUDI HADIS Oleh : Syahrul Budiman
NIM : 12 PEDI 2832
A. PENDAHULUAN
Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah Alquran. Selain sebagai sumber, hadis juga berfungsi sebagai penjelas dan penafsir Alquran. Berdasarkan hal tersebut, maka kajian tentang hadis memiliki kedudukan yang penting di dalam studi ilmu-ilmu sumber dalam Islam.
Sepeninggalnya Rasulullah SAW., perhatian terhadap hadis terus berkembang, dimulai periwayatan secara lisan, ditulis serta dibukukan, meng-isnad dan sampai pada klasifikasi dan susunan dari kitab-kitab hadis. Seiring dengan perkembangan hal di atas, muncul pula hadis-hadis palsu, yang melatarbelakangi kegiatan pemeliharaan hadis, sehingga sangat perlu dilakukan studi hadis.
Dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan tentang studi hadis, langkah awal yang akan dibahas mencakup pada pengertian Hadis, Sunnah, Khabar dan Atsar, Sanad, Matan, Rawi, Perkembangan awal Studi Hadis, Pendekatan utama dalam Studi Hadis, Perkembangan Mutakhir dan kritik terhadap Studi Hadis, Referensi Utama dalam Studi Hadis, serta Konstribusi Sarjana Barat dalam Studi Hadis.
B. PENGERTIAN HADIS, SUNNAH, KHABAR DAN ATSAR, SANAD, MATAN, RAWI.
1. Hadis
(yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-khabar, yang berarti kabar atau berita.1
Menurut Muhammad Mustafa Azami sebagaimana yang dikutip Nawir Yuslem, Hadis Secara etimologis berarti “komunikasi, cerita, percakapan, baik dalam konteks agama atau duniawi, atau dalam konteks sejarah atau peristiwa dan kejadian aktual”.2
Didalam Alquran, terdapat 23 kali penggunaan kata hadis dalam bentuk mufrad atau tunggal, dan 5 kali dalam bentuk jamak. Keseluruhannya adalah dalam pengertiannya secara etimologis diatas, hal berikut dapat dilihat dalam beberapa contoh berikut :3
1) Pengertiannya dalam konteks komunikas religius, wahyu atau Alquran.
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al quran….(QS.al-Zumar [39]: 23).
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Aquran ini…..(QS.Al-Qalam [68]: 44)
2) Dalam konteks cerita duniawi atau cerita secara umum.
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakkan pembicaraan yang lain….(QS. Al-Anam [6]: 68).
1 M.Agus Solahuddin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis (Bandung:CV. Pustaka Setia,
2011) h. 13.
3) Dalam konteks sejarah atau kisah masa lalu.
Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa ? (QS. Thaha [20]: 9)
4) Dalam konteks cerita atau percakapan aktual.
Dan ingatlah ketika Nabi SAW membicarakan suatu rahasia kepada (hafsah) salah seorang dari istri-istri beliau….(QS. Al-Tahrim [66]: 3)
Menurut Subhi al-Shalih sebagaimana yang dikutip Nawir Yuslem, kata hadis juga merupakan bentuk isim dari tahdits, yang mengandung arti: memberitahukan, mengabarkan. Berdasarkan pengertian inilah, selanjutnya setiap perkataan, perbuatan, atau penetapan (taqrir) yang disandarkan kepada Nabi SAW dinamai dengan Hadis. 4
2. Sunnah
Menurut bahasa, Sunnah adalah,
.ةموم ذم وأ تناك ةدومحم ةقيرطلا
Jalan yang dilalui, baik terpuji atau tercela.5Sunnah dalam pengertian etimologi lainnya, dapat dilihat dalam Alquran surat Kahfi [18] ayat 55; surat Fathir [35] ayat 43; surat al-Anfal [8] ayat 38; surat al-Hijr [15] ayat 3; dan surat al-Ahzab [33] ayat 38 dan ayat 62. Sedangkan Sunnah secara terminologi seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Ajaj al-Khatib sebagaimana yang dikutip oleh Atang Abd.Hakim, adalah :
4Ibid, h. 36
ملسسسو هسسيلع هسسللا ىلسسص لوسسس رلا نع رثأ ام لك
ةسسيقلخ وا ةيقلخ ةفصوا ريرقت وا لعف وا لوق نم
اهدعب ما ةثعبلا لبق كلذ ناكا ةريس وا
Segala yang bersumber dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan perbuatann, taqrir, sifat khalaqah atau khuluqiyah maupun perjalana hidupnya sebelum atau sesudah ia diangkat menjadi rasul.6
3. Khabar dan Atsar
Khabar menurut bahasa adalah semua berita yang disampaikan oleh seseorang kepada orang lain. Menurut ulama ahli hadis, Khabar
sama artinya dengan hadis. Keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang
marfu’, mauquf, dan maqtu’, dan mencakup segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW, sahabat dan tabi’in. Sebahagian ulama mengatakan bahwa khabar adalah sesuatu yang datang, selain dari Nabi Muhammad SAW, karena yang datang dari Nabi Muhammad SAW disebut hadis, sebahagian ulama lainnya mengatakan bahwa hadis lebih umum dari khabar, sehingga tiap hadis dapat dikatakan khabar, tetapi tidak setiap khabar dapat dikatakan hadis.7
4. Sanad
Sanad dari segi bahasa berartiضأرلا نمل عفترأاامل , yaitu bagian bumi yang menonjol, sesuatu yang berada dihadapan anda dan yang jauh dari kaki bukit ketika anda memandangnya. Adapun tentang pengertian Sanad menurut terminologi, para ahli hadis memberikan defenisi yang beragam, diantaranya :
6 Atang Abd.Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam (Bandung:PT.Remaja
Rosdakarya, 2011) h. 84-85.
نرمللا ىلا ةلصومللا ةقيأطلا
Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis
yakni rangkaian para perawi yang memindahkan matan dari sumber primernya. Jalur ini adakalanya disebut sanad, adakalanya karena periwayat bersandar kepadanya dalam menisbatkan matan kepada sumbernya, dan adakalanya karena hafidz bertumpu kepada yang menyebutkan sanad dalam mengetahui sahih atau dhaif suatu hadis.8
نرمللل ةلصومللا لاجألا ةلسلس
Silsilah orang-orang yang menghubungkan kepada matan hadis
Silsilah orang-orang maksudnya adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadis tersebut, sejak yang disebut pertama sampai kepada Rasul SAW., yang perkataan dan perbuatan, taqrir, dan lainnya merupakan materi atau matan hadis.9
Al-Tahanawi mengemukakan definisi sanad sebagaimana yang dikutip oleh Nawir Yuslem adalah sebagai berikut :
ةبرأمل هراوأ ءاملسأ يأ , نرمللا ىلا ةلصومللا قيأطلا
Sanad adalah : Jalan yang menyampaikan kepada matan Hadis, yaitu nama-nama perawinya secara berurutan.
5. Matan
Kata matan atau al-matn menurut bahasa berarti mairtafa’a min al-ardi (tanah yang meninggi), sedangkan menurut istilah adalah :
املكلا نمل دنسسلا هيلا ىترسيامل
Artinya : Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.
Adalagi redaksi yang lebih sederhana lagi, yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad (gayah as-sanad). Semua pengertian diatas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan matan ialah materi hadis
atau lafal hadis itu sendiri.10
8 Solahuddin, Hadis, h. 89 9Ibid, h. 90.
6. Rawi
Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadis (Naqil Al-Hadis). Sebenarnya antara sanad dan rawi
itu merupakan dua istilah yang hampir sama. Sanad-sanad hadis pada tiap-tiap tingkatannya juga disebut rawi, jika yang dimaksud dengan
rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadis. Akan tetapi yang membedakan antara kedua istilah diatas, jika dilihat lebih lanjut, adalah dalam dua hal, yaitu: pertama, dalam hal pembukuan hadis. Orang-orang yang menerima hadis-hadis, kemudian menghimpunnya dalam satu kitab disebut dengan rawi.
C. PERKEMBANGAN AWAL STUDI HADIS
Membicarakan sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis bertujuan untuk mengangkat fakta dan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW, kemudian secara periodik pada masa-masa sahabat dan tabi’in serta masa-masa berikutnya. Diantara para ulama terdapat perbedaan dalam menyusun periodesasi pertumbuhan dan perkembangan hadis ini, ada yang membaginya dalam tiga periode saja, yaitu masa Rasulullah SAW, sahabat dan tabi’in, namun ada yang membaginya dalam periodesasi lain yang lebih terperinci, yaitu lima hingga tujuh periode dengan spesifikasi yang cukup jelas.
Dalam makalah ini akan dijelaskan dengan singkat periodesasi perkembangan studi hadis dengan enam periode awal sebagai berikut :
1). Periode Pertama; Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah SAW.
ada jarak atau penghambat yang dapat menghalangi bertemu dengan Rasulullah SAW.11
Dalam riwayat Bukhari, disebutkan Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW, menyampaikan hadisnya dengan berbagai cara sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya, dan tidak mengalami kejenuhan. Ada beberapa cara Rasulullah SAW dalam menyampaikan hadis kepada sahabat, yaitu : Pertama, melalui para jamaah yang berada dipusat pembinaan atau majelis al-ilmi. Kedua,
Rasulullah SAW menyampaikan hadisnya melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikannya pada orang lain. Ketiga, caralain yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menyampaikan hadis adalah melalui ceramah tau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada’.12
Pada masa Rasulullah SAW, kepandaian baca tulis dikalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis dikalangan sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghafal, memahami, memelihara, mematerikan dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta menyampaikannya pada orang lain. Tidak ditulisnya hadis pada Rasulullah SAW, bukan berarti tidak ada sahabat yang menulis hadis. Dalam sejarah penulisan hadis terdapat nama-nama sahabat yang menulis hadis, diantaranya, Abdullah Ibn Amr Ibn ‘Ash, Shahifahnya
disebut As-Shadiqah, selanjutnya Ali Ibn Abi Thalib, penulis hadis tentag hukum diyat, hukum keluarga dan lain-lain, kemudian Anas Ibn Malik.13
2) Periode Kedua; Perkembangan Hadis pada Masa Khulafa’ Ar-Rasyidin (11 H – 40H).
11 Mudasir, Hadis, h. 87-88. 12Ibid, h. 88-89
Periode ini disebut masa membatasi dan menyedikitkan riwayat. Nabi SAW wafat pada tahun 11 H, kepada umatnya, beliau meninggalka dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidup, yaitu Alquran dan Hadis yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat. Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar secara terbatas, penulisan hadis pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi, bahkan saat itu Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadis, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk menyebarluaskan Alquran.14
3). Periode Ketiga; Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in.
Periode ini disebut, masa berkembang dan meluasnya periwayata, hadis. Pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni ke negeri Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut, terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadis. Karena meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga hadis di berbagai daerah di seluruh negeri. Diantara bendaharawan hadis yang banyak menerima, menghafal dan mengembangkan atau meriwayatkan hadis adalah :
1. Abu Hurairah, menurut Ibn Al-Jauzi beliau meriwayatkan 5.347 hadis, sedangkan menurut Al-Kirmany, beliau meriwayatkan 5.364 hadis.
2. ‘Abdullah Ibn Umar meriwayatkan 2.630 hadis
3. ‘Aisyah, Istri Rasulullah SAW, meriwayatkan 2.276 hadis 4. ‘Abdullah Ibn ‘Abbas meriwayatkan 1.660 hadis
5. Jabir Ibn ‘Abdullah meriwayatkan 1.540 hadis 6. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan 1.170 hadis.15
Tercatat beberapa kota yang menjadi pusat pembinaan dalam periwayatan hadis sebagai tempat tujuan para tabi’in dalam mencari hadis, yaitu Madinah Al-Munawarah, Mekah Al-Mukaramah, Kufah, Basrah, Syam, Mesir, Maghrib dan Andalas, Yaman dan Khurasan. Pusat pembinaan pertama adalah Madinah karena disinilah Rasulullah SAW, disini pula Rasulullah SAW membina masyarakat Islam yang terdiri dari Muhajirin dan Anshor.16
Beberapa Tokoh penting dalam pengembangan, hadis pada lembaga-lembaga pembinaan periwayatan hadis diantaranya adalah sebagai berikut :17
a) Madinah, Tokohnya adalah : Abu Bakar, Umar, Alu, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibn Umar, Sa’id Al-Khudri, Zaid Ibn Tsabit (dari kalangan sahabat), Urwah, Sa’id Az-Zuhri, Abdullah Ibn Umar, Al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abi Bakar, Nafi’, Abu Bakar Ibn Abd Al-Rahman Ibn Hisyam, dan Abu Zinab (dari kalangan tabi’in).
b) Mekah, Tokohnya adalah : Ali, ‘Abdullah Ibn Mas’ud, Sa’ad Ibn Abi Waqas, Sa’id Ibn Zaid, Khabbah Ibn A’Arat, Salman Alfarisi, Abu Juhaifat (Sahabat), Masruq, Ubaididah, Al-Aswad, Syuraih, Ibrahim, Sa’id Ubn Jubair, Amir Ibn Syurahil, Asy-Sya’bi (tabiin) c) Basrah, Tokohnya adalah : Anas Ibn Malik, ‘Utbah, Imran Ibn
Husain, Abu Barzah, Ma’qil Ibn Yasar, Abu Bakrah, Abd Ar-Rahman Ibn Sumirah, dll.
d) Syam, Tokohnya adalah : Mu’adz Ibn Jabbal, Ubaidah Ibn Tsamit, Abu Darda (sahabat), Abu Idris al-Khaulani, Qasibah Ibn Dzuaib,Makhul, Raja’ Ibn Haiwah (tabiin).
e) Mesir, Tokohnya adalah : ‘Abdullah Ibn Amr, Uqbah Ibn Amir, Kharijah, dll.
Pada periode ketiga ini mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Ali
RA, pada masa ini umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama, golongan Ali Ibn Abi Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syiah. Kedua, golongan Khawarij, yang menentang Ali, Ketiga, golongan Jumhur (golongan pemerintah pada masa itu).18
4). Preriode Keempat; Perkembangan Hadis Pada Abad II dan III Hijriah.
Dapat kita simpulkan bahwa pada periode pertama sampai ketiga hadis diriwayatkan hanya melalalui mulut ke mulut dan masing-masing perawi meriwayatkan berdasarkan kekuatan hafalan-hafalan. Kemudian pada periode keempat ini, dimana kekhalifahan dipegang oleh khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz dari dinasti amawiyah, hadis mulai dibukukan. Orang yang dipercaya waktu itu adalah Abu Bakar Ibn Hazm dan buku hadis tertulis pertama kali adalah tulisan beliau. Sedangkan kitab yang paling tua dewasa ini dan masih ada adalah kitab al-Muwatha’ karangan
Imam Malik. Sistem pembukuan pada periode ini masih bersifat temporer, yakni masih berbaur antara Sunnah Nabi SAW., fatwa-fatwa sahabat, juga fatwa-fatwa tabi’in sehingga muncullah istilah hadis
marfu’, mauquf, dan maqthu’. 19
Tokoh-tokoh yang masyhur pada abad kedua hijriah ini adalah
Malik, Yahya Ibn Sa’id Al-Qaththan, Waki Ibn al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syu’bah Ibnu Hajjaj, Abdul Ar-Rahman Ibn Mahdi, Al-Auza’I, Al-Laits, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i.20
5). Periode Kelima; Masa Men-tashih-kan Hadis dan Penyusunan Kaidah-kaidahnya.
18Ibid, h. 38.
19Muhaimin, Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi & Pendekatan (Jakarta:Kencana
Prenada Media Group, 2012), h. 150.
Pada periode ini para Ulama Hadis mulai memisahkan mana hadis dan mana fatwa sahabat dan tabiin, demikian juga memilah dan memilih mana hadis shahih, hasan maupun yang dhaif . Disamping itu juga menerapkan kaidah-kaidah hadis, ilat-ilat hadis dan tafsir sejumlah perawi-perawi hadis sehingga muncullah Ilmu Dirayah hadis yang banyak macamnya disamping Ilmu Riwayah hadis.21
Ulama hadis yang mula-mula menyaring dan membedakan hadis-hadis yang shahih dari yang palsu dan yang lemah adalah Ishaq Ibn Rahawaih, seorang Imam hadis yang sangat termasyhur.Pekerjaan yang mulia ini kemudian diselenggarakan oleh Imam Al-Bukhari. Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-Jamius Shahih. Di dalam kitabnya, ia hanya membukukan hadis-hadis yang dianggap shahih, kemudian usaha Al-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu Imam Muslim. Tokoh-tokoh hadis yang lahir dalam masa ini adalah : Ali Ibnul Madany, Abu Hatim Ar-Razy, Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, Muhammad Ibn Sa’ad, Ishaq Ibnu Ruhawaih, Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’I, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibu Qutaibah Ad-Dainuri. 22
6). Periode Keenam; Dari Abad IV hingga Tahun 656 H
Para Muhaddisin yang hidup pada abad kedua dan ketiga dinamakan “mutaqaddimin” sedang yang hidup pada abad keempat dinamakan “mutaakhirin” dan kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan adalah dari petikan atau nukilan dari kitab-kitab
mutaqaddimin.23
Pada Periode keenam ini muncul kitab-kitab shahih yang tidak terdapat dalam kitab shahih abad ketiga. Kitab-kitab ini antara lain : As-Shahih, susunan Ibnu Khuzaimah, At-Taqsim wa Anwa’, susunan Ibnu Hibban, Al-Mustadrok, susunan Al-Hakim, Ash-Shalih, susunan Abu
‘Awanah, Al-Muntaqa, susunan Ibnu Jarud, Al-Mukhtarah, susunan Muhammad Ibnu Abdul Wahid Al Maqdisy.24
Sistematika susunan hadis pada periode ini laebih baik dari periode sebelumnya, karena upaya ulama pada periode ini bukan mencari, namun hanya mengumpulkan dan selanjutnya mensistematisasi menurut kehendak pengarang sendiri. Ada yang mensistematisasi dengan mendahulukan bab thaharah, wudhu, kemudian shalat dan seterusnya, ada juga yang mensistematisasi denga bagian-bagian, yaitu bagian seruan, larangan, khabar, ibadah dan af’al. Demikian pula ada yang menyusun berdasarkan abjad hijaiyah, seperti kitab al-Jami’ shaghir oleh al-Syuyuthi.25
D. PENDEKATAN UTAMA DALAM STUDI HADIS.
Perhatian umat Islam cukup besar terhadap hadis Nabi Saw., sejak masa sahabat mereka berusaha mengumpulkannya semaksimal mungkin dan menyampaikannya kepada orang lain sebagaimana mestinya. Oleh karena itu hadis yang disampaikan tersebut harus benar-benar terjaga kesahihannya. Dalam studi hadis ada beberapa pendekatan dan metodologi yang ditempuh, yakni pendekatan dari segi sanad dan matan. Kedudukan sanad
dalam riwayat hadis sangat penting sekali, sehingga para ulama hadis tidak akan menerima sebuah berita yang dinyatakan sebagai hadis apabila tidak ada sanadnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Abd.Allah Ibn al-Mubarak (w.181 H/ 797 M) seperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem, bahwa : Sanad hadis merupakan bahagian dari Agama. Sekiranya sanad hadis tidak ada, maka siapa saja akan dapat mengatakan (atas nama Nabi SAW) apa saja yang dikehendakinya.26
Penelitian matan pada dasarnya dapat dilakukan dengan pendekatan dari segi kandungan hadis dengan menggunakan rasio, sejarah, dan
prinsip-24 Solahuddin, Hadis, h.45-46 25 Muhaimin, Islam, h. 153
26 Nawir Yuslem, Metodologi Penelitian Hadis (Bandung:Citapustaka Media Perintis,
prinsip ajaran Islam. Sedangkan pendekatan sanad dilakukan karena keadaan dan kualitas sanad merupakan hal yang pertama diperhatikan dan dikaji oleh para ulama hadis dalam melakukan penelitian.
Dari kedua unsur inilah –sanad dan matan- menjadi sebagai pendekatan utama dalam studi hadis yang nantinya akan menimbulkan cabang ilmu yang banyak. Sanad, sebagaimana telah dijelaskan defenisinya terdahulu, adalah tempat bersandarnya suatu hadis. Tanpa sanad, maka hadis itu akan tertolak keabsahannya. Sedangkan matan adalah lafal-lafal hadis yang dikandung, yang memiliki makna-makna tertentu.
Upaya mengetahui kualitas hadis melalui dua unsur ini, dapat dilakukan berbagai pendekatan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan Ilmu Hadis Riwayah
Kata riwayah artinya periwayatan atau cerita, secara bahasa Ilmu hadis riwayah berarti ilmu hadis yang berupa periwayatan. Para ulama berbeda-beda dalam mendefenisikan ilmu hadis riwayah, namun yang paling terkenal diantara defenisi-defenisi tersebut adalah defenisi Ibnu Al-Akhfani, yaitu : Ilmu Hadis Riwayah adalah ilmu yang membahas ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Nabi SAW., periwayatannya, pencatatannya, dan penelitian lafazh-lafazhnya.27 Dengan kata lain, ilmu hadis riwayah adalah ilmu tentang hadis itu sendiri. Tokoh perintis pertama dari ilmu hadis riwayah ini adalah Muhammad bin Shihab al-Zuhri (w. 124 H).
2. Pendekatan Ilmu Hadis Dirayah
Dirayah artinya mengetahui, atau ilmu untuk mengetahui bagaimana kedudukan hadis, Hasbi Ash-Shidiqi dalam karyanya yang berjudul Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, sebagaimana dikutip oleh Totok Jumantara, Ilmu Hadis Dirayah adalah Ilmu untuk mengetahui keadaan sanad dan matan dari jurusan diterima atau ditolak dan yang bersangkut paut dengan itu.28
27 Solahuddin, Hadis, h. 106
Dengan kata lain ilmu Hadis Dirayah merupakan kumpulan kaidah untuk mengetahui dan mengkaji permasalahan sanad dan matan serta yang berkaitan dengan kualitasnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui hadis yang dapat diterima dari hadis yang ditolak. Ilmu ini mulai dirintis dalam garis-garis besar sejak pertengahan abad ke-3. Kemudian sekitar abad ke-4 ilmu ini dibukukan sejajar dengan ilmu-ilmu lain. Ilmu hadis dirayah bersama dengan ilmu hadis riwayah adalah merupakan ilmu utama yang digunakan dalam studi hadis.
3. Pendekatan Ilmu Rijalul Hadis
Ilmu ini mempelajari hal ihwal para perawi, baik dari kalangan sahabat, tabiin maupun generasi sesudahnya. Ilmu ini mempelajari sejarah kehidupan para rawi, akhlaknya, keadaannya dalam menerima hadis serta mazhab yang dianutnya dan sebagainya yang terkait dengan rijal yang dilakukan secara mendalam. Ilmu ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam ranah kajian ilmu hadis karena kajian ilmu hadis pada dasarnya terletak pada dua hal, yaitu sanad dan matan. Ilmu Rijal al-hadis mengambil tempat yang khusus mempelajari persoalan-persoalan sekitar sanad maka mengetahui keadaan rawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan.29
4. Pendekatan Ilmu Jarh dan Ta’dil
Secara Bahasa kata jarh artinya cacat atau luka, ta’dil artinya mengadilkan atau menyamakan.30 Jadi Ilmu Jarh dan ta’dil yaitu ilmu yang secara khusus mempelajari keadaan perawi hadis dari segi sifat-sifat baik dan sifat-sifat jeleknya, serta kuat tidak hafalannya yang akan mempengaruhi diterima atau ditolak periwayatannya.
5. Pendekatan Ilmu Gharib al-Hadis
Gharib al-Hadis adalah ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalaam matan hadis yang sukar diketahui maknanya dan
jarang terpakai oleh umum.31yang dimaksudkan dalam ilmu hadis ialah bertujuan untuk menjelaskan satu hadis yang dalam matan-nya terdapat lafaz yang pelik, dan yang susah untuk dipahami, karena jarang dipakai (lafal-lafalnya sudah terlalu lama sehingga tidak lagi digunakan oleh masyarakat Arab), sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadis tersebut. Orang yang pertama menyusun dalam gharib al-hadis
adalah Abu Ubaidah Ma’mar ibn al-Mutsanna (w. 210 H). 6. Pendekatan Ilmu ‘Illah al-Hadits
‘Illah menurut istilah ahli hadis adalah suatu sebab yang tersembunyi yang dapat mengurangi status kesahihan hadis padahal
dhahirnya tidak nampak ada cacat. Ilmu ini membahas sebab-sebab tersembunyinya yang dapat menyebabkan cacatnya hadis secara lahiriah mungkin tidak kelihatan. Oleh karena itu, ilmu ini mempunyai cara-cara pembahasan yang lebih halus dan mendalam.
7. Pendekatan Ilmu Asbab al-Wurud
Asbab al-Wurud menjadi sangat penting dalam memahami hadis. Karena, terkadang Nabi mengeluarkan hadisnya sebagai jawaban atas masalah-masalah tertentu. Sehingga ia memberikan pemahaman khusus, yakni berkaitan dengan masalah itu.
8. Pendekatan Ilmu Nasikh dan Mansukh
Ilmu Nasikh wa mansukh yaitu ilmu yang membahas hadis-hadis yang antara satu dengan lainnya saling bertentangan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan. Karena itu ilmu ini mempelajari manakah hadis-hadis tersebut yang lebih dahulu datang dan mana yang kemudian. Hadis yang lebih dahulu datang dinyatakan tidak berlaku lagi
(mansukh) dan kedudukannya digantikan dengan hadis yang kemudian
(nasikh).32
E. PERKEMBANGAN MUTAKHIR (TAHUN 1900 S/D SEKARANG) DAN KRITIK TERHADAP STUDI HADIS
Berbeda dengan Alquran, keotentikan hadis seringkali dipersoalkan. Sejumlah kritikan ditujukan kepada hadis dan bahkan ada yang menolaknya. Kendatipun telah sekian lama melengkapi sumber ajaran Islam (Alquran), hadis sekiranya masih perlu diuji keabsahan dan validitasnya. Satu diantara beberapa penyebabnya adalah selain tidak adanya jaminan yang tegas tentang kesahihannya, juga akibat keterlambatan penulisan hadis itu sendiri. Sehingga sangat mungkin diduga periwayatan hadis banyak yang palsu. Mengapa kritik hadis itu perlu dilakukan, karena banyak silang pendapat, perbedaan, serta konflik di tengah kehidupan masyarakat muslim akibat hadis-hadis yang mengundang interpretatif, baik dari sanad maupun
matan-nya.
Dengan statusnya sebagai sumber kedua dari ajaran Islam, tentunya hadis yang dimaksud bukanlah hadis sembarangan, yaitu hadis yang kadar
sanad dan matan-nya tidak jelas dan tidak memiliki sandaran yang kuat. Untuk mengukur ke-dhabitan (kevalidan) hadis, biasanya dikalangan akademis lebih memilih istilah kritik hadis, yaitu sebuah upaya untuk menilai dan menimbang hadis dari berbagai sisi, baik dari segi sanad
maupun matan-nya yang memungkinkan diterimanya keabsahan dan
ke-dhabitan hadis tersebut.
Islam yang kedua. Hal yang paling ringan dan mungkin juga bisa kita terima, ketika sebagian pemikir mengeluarkan statement, “Tidak semua yang datang dari Rasul dianggap hadis atau wahyu”. Dr. Yusuf el-Qordhawi pernah dikritik ketika beliau mengungkapkan bahwa Nabi juga berijtihad dan pernah salah dalam Ijtihadnya. Dengan ungkapan lain, tidak semua yang datang dari nabi itu wahyu. Jadi agaknya, kalau hadis dianggap wahyu Tuhan, maka perlu ada pembatasan dalam mendefinisikannya, bukan seperti definisi konvesional yang meng-umum-kan definisi hadis sehingga mencakup segala hal dari Nabi. Kita harus membedakan antara Nabi sebagai Ibnu Abdullah (manusia biasa) dan Nabi sebagai Rasulullah. Namun, kalau hadis dianggap bukan sebagai wahyu, maka timbul masalah baru, yakni ada hadis yang tidak wajib dijadikan teladan bagi umat manusia.33
Untuk menegaskan hal ini, Yusuf Qardhawi mengungkapkan beberapa kasus yang terjadi di masa Rasul SAW. Pertama, kasus Ibnu Ummu Maktum ketika datang pada Rasul, lalu dicueki oleh Rasul, dan Rasul lebih mementingkan untuk melayani pemuka kafir Quraisy. Allah SWT menegur Muhammad dengan wahyu (QS. ‘Abasa [80]: 1-10), dan mencela perlakuannya kepada Ibnu Ummu Maktum. Kedua, kasus ketika Muhammad memberi izin kepada orang munafik untuk mundur dari perang Tabuk tanpa alasan. Allah juga menegur Muhammad dengan wahyu-Nya (QS. At-Taubah [9]: 43-45). Ketiga, kasus ketika beliau tidak setuju dengan cara penyerbukan pohon kurma di Madinah, dan terbukti kemudian, beliau salah dalam ketidaksetujuannya itu. Beliau bersabda, “Aku hanya berprasangka, dan jangan ambil prasangkaku itu. Tapi ambillah apa yang aku ceritakan kepada kalian yang wahyu dari Allah, karena aku tidak akan pernah berbohong terhadap Allah. Dan kamu lebih tahu urusan duniamu.” (HR. Muslim dari Aisyah dan Anas). Kasus-kasus seperti ini (Nabi berijtihad) juga terjadi di nabi-nabi yang lain, seperti Nabi Daud dan Sulaiman, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79; Nabi
33http://arifin-jahari.blogspot.com/2011/02/makalah-studi-hadis-bagian-v.html,
Musa, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Kahf [18]: 60-82; Nabi Yunus ketika meningalkan kaumnya dalam keadaan marah, lalu beliau ditelan ikan dan berdoa seperti tercantum dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 87. Lebih jauh, dalam buku yang sama Yusuf el-Qardhawi, melegalkan ijtihad Nabi bahkan sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan agama. Beliau mengutip beberapa pendapat ulama sebelumnya beserta dengan argumen-argumen mereka yang kuat.34
Kalau di atas ada usaha untuk menolak sebagian hadis sebagai wahyu, jauh lebih berani, Goldziher dan konconya berkomentar, bahwa hadis bukan berasal dari Muhammad Saw., melainkan sesuatu yang lahir pada abad pertama dan kedua Hijriah. Para pemikir Islam kontemporer “sibuk” menghadapi pemikiran orientalis yang satu ini. Mereka mengeluarkan buku, sebagai balasan dan bantahan atas statemen Goldziher tersebut. Seperti buku as-Sunnah Qablat Tadwin, karya Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib; buku Difa’un ‘anis Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah; buku as-Sunnatu wa Makanatuha fi at-Tasyri’il Islami, karya Dr. Mushthafa as-Siba’i; dll.35
Menurut Muhammad al-Ghazali, ulama telah sepakat menempatkan Alquran sebagai sumber hukum dan perundang-undangan Islam, sementara hadis sebagai implementasinya. Oleh karena itu Alquran haruslah dijadikan sebagai ukuran kesahihan suatu hadis. Hadis yang sejalan dengan Alquran dapatlah dinyatakan sebagai hadis sahih dan hadis yang tidak sejalan dengan Alquran haruslan ditinggalkan.36
Tidak hanya dari kalangan ummat Islam, kritik terhadap hadis yang bisa disebut sebagai perkembangan mutahir dari studi hadis adalah adanya kritikan dari para orientalis akan orisinilitas hadis sebagai sumber hukum kedua dalam Islam. Menurut Syamsuddin Arif, gugatan orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 Masehi tatkala hampir seluruh
34 Ibid 35 Ibid
36Bustamin, dan M.Isa A. Salam, Metodologi Kritik Hadis (Jakarta; PT. Raja Grafindo
bagian dunia Islam telah masuk cengkeraman kolonialisme bangsa-bangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger (orientalis asal Jerman yang pernah lama tingal di India), yang pertama kali mempersoalkan status hadis dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat Nabi Muhammad Saw., ia mengklaim bahwa hadis merupakan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik).37
Klaim tersebut diamini oleh William Muir, seorang orientalis asal Inggris yang menyebutkan bahwa dalam literature hadis, nama Nabi Muhammad Saw. sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (“…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities”).38 Kemudian muncul Ignaz Goldziher, yang pendapatnya tentang hadis jauh lebih negatif dibandingkan para pendahulunya.
Menurut Goldziher, hadis lebih merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah awal perkemangan Islam: “Das Hadith wird uns nicht als Document fur die Kindheitsgeschichte des Islam, sondern als Abdruck der in der Gemeinde hervortretenden Bestrebungen aus der Zeit seiner reifen Entwicklungsstadien dienen”.39
Ini berarti menurutnya, hadis adalah produk buatan masyarakat Islam beberapa abad setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Pendapat menyesatkan ini telah disanggah oleh sejumlah ilmuan seperti Syaikh Musthafa al-Siba’i, Muhammad Abu Shuhbah, dan Abd al-Ghani Abd al-Khaliq.
Pada intinya gugatan para orientalis terhadap hadis pada awalnya adalah mempersoalkan ketiadaan data historis dan bukti tercatat
(documentary evidence) yang dapat memastikan otensitas hadis, sehingga
37 Syamsuddin Arif, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008),
h. 28.
sejumlah pakar melakukan penelitian intensif perihal sejarah literatur hadis guna mematahkan argumen orientalis yang mengatakan bahwa hadis baru dicatat pada abad kedua dan ketiga hijriah. Maka penelitian tersebut pada akhirnya pasti membutuhkan referensi utama dan pendukung untuk melakukan studi terhadap hadis tersebut.
F. REFERENSI UTAMA DALAM STUDI HADIS.
Untuk melakukan studi hadis, tentunya dibutuhkan referensi dan literatur yang akan mendukung setiap aspek dari pengkajian yang dilakukan. Referensi utama yang digunakan pada pengkajian dan studi hadis, tentu adalah kitab-kitab hadis itu sendiri.
Cukup banyak kitab-kitab hadis yang banyak ditemukan dalam khasanah kajian Islam, beberapa diantaranya adalah kitab-kitab hadis yang sudah sangat populer bagi umat Islam karena digunakan di banyak lembaga pendidikan Islam seperti di Pondok Pesantren serta di madrasah-madrasah pendidikan agama Islam lainnya, seperti: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan al-Tarmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Al-Muwaththa’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Daud Sulaiman al-Tayalisi (133 – 203 H), Al-Kabir; Al-Wasith, Al-Shaghir
ketiganya karya Imam at-Tabrani, Al-Mustadrak Imam Hakin al-Naisaburi,Al-Mustakhraj Abu Bakar al-Isma’ili, Syu’abul Iman al-Baihaqi;
dll.
Karya-karya terkenal lainnya dalam ilmu musthalah al-hadits
adalah:40
1. Al-Muhaddits al-Fashil Baina al-Rawi wa al-Wa’i,
karya Qadhi Abu Musa Hasan bin Abd Rahman bin Khallad al-Ramahurmuzy (w. 360 H), tetapi tidak mencakup semua pembahasan
musthalah.
2. Ma’rifatu’Ulum al-Hadits, karya Abu Abdillah
Muhammad bin Abdillah al-Hakim al-Naisabury (w. 405 H), hanya saja
pembahasan-pembahasannya belum diperbaiki dan tidak disusun dengan menarik dan sistematik.
3. Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifati ‘Ulumil Hadits, karya
Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (w. 430 H), di dalamnya ia melengkapi apa yang ditulis oleh al-Hakim al-Naisaburi dalam kitabnya Ma’rifatu ‘Ulum al-Hadits.
4. Al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdadi yang mashur (w. 463 H).
5. Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa Adabi al-Sami’, karya al-Khatib al-Baghdadi.
6. Al-Ilma’ ila Ma’rifati Ushul al-Riwayah wa
Taqyidu al-Sami’, karya al-Qadhi ‘Iyadh bin Musa al-Yakhshuby (w. 544 H).
7. Maa Laa Yasa’u al-Muhadditsu Jahluhu, karya Abu
Hafsh Umar bin Abd al-Majid al-Mayanji (w. 580 H).
8. Ulum al-Hadits, karya Abu Amr Utsman bin Abd
al-Rahman al-Syahrazuri yang masyhur dengan sebutan Ibn al-Shalah (w. 634 H), dan kitabnya terkenal dengan nama “Muqaddimah Ibn al-Shalah”, yang merupakan kitab terbaik dalam ilmu mushtalah. Dalam kitab ini, penyusun mengumpulkan apa yang terpisah dalam karya al-Khatib dan ulama sebelumnya. Kitab ini kemudian menjadi pedoman bagi para ulama sesudahnya,
9. Al-Taqrib wa al-Taisir li Ma’rifati Sunan al-Basyiri
wa al-Nadzir, karya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H).
fenomenal, berjudul Ulum al-Hadis, yang kemudian kondang dengan sebutan Muqaddimah Ibn al-Shalah. Kitab ini merupakan upaya yang sangat maksimal dalam melengkapi kelemahan di sana-sini karya-karya sebelumnya, seperti karya-karya al-Khatib dan ulama lainnya. Dalam kitabnya itu, ia menyebutkan secara lengkap 65 cabang ilmu Hadis dan menuangkan segala sesuatunya dengan detail.41
Kitab-kitab tersebut, hanya sedikit dari ribuan kitab yang menjadi referensi dalam studi hadis. Masih terdapat ratusan atau bahkan ribuan lagi jumlah kitab yang dapat dipelajari dan dikaji oleh para peminat studi hadis.
G. KONSTRIBUSI SARJANA BARAT DALAM STUDI HADIS
Pasca terbitnya buku “Orientalism” karya Edward Said, kecurigaan negatif terhadap karya-karya sarjana barat yang meneliti dunia timur semakin menguat. Kecurigaan terhadap karya ilmiah barat tidak lagi dipandang sebagai hal yang tulus. Peneliti barat yang mengkaji timur kini dicurigai membawa agenda terselubung yang akan merugikan dunia timur. Peneliti barat yang ingin meneliti timur, terutama Islam harus diperiksa terlebih dulu niatnya, apakah untuk menjelek-jelekkan nama Islam atau penaklukan kolonialisme. Padahal beberapa orientalis Barat memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan khazanah timur, terutama Islam. Orientalis barat dianggap tidak bisa dijadikan representasi dari karya dan kajian Islam karena bukan dari kalangan Islam sendiri. Edward Said berhasil menjadikan kata “orientalisme” sebagai kata yang ditakuti oleh para pengkaji dunia timur. Setelah beberapa tahun pasca penulisan tersebut, kini berkembang aliran baru orientalisme yang disebut post-orientalisme. Untuk membahas hal ini, Jaringan Islam Liberal mengadakan diskusi bulanan yang membahas perihal post-orientalisme tersebut bersama Muhammad Ali, Asisten Professor di University of California, AS dan Luthfi Assyaukanie,
41Ali Mustafa Yaqub (Guru Besar Ilmu Hadis IIQ Jakarta dan Imam Besar Masjid
Istiqlal Jakarta), dari situs http://www.idhamlim.com/2009/09/perkembangan-ilmu-hadis.html,
dosen Universitas Paramadina, Jakarta. Edward Said adalah seorang kelahiran Palestina. Pernah belajar di Mesir, tetapi pada usia yang masih belia sudah pindah ke Amerika Serikat. Sehingga Said bahkan tidak bisa bahasa Arab sama sekali. Padahal, orientalis yang dikritik oleh Said sangat mahir dalam berbahasa Arab (arabisist). Namun menurut Ali, Said tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang Arab. Said menganggap dirinya hibrid, dan lebih senang mengaku sebagai seorang humanis dan lepas dari dikotomi timur-barat. Pemikiran Said tidak sedikit mendapatkan kritikan tajam dari para orientalis. Misalnya Bernard Lewis, seorang orientalis sejarah Arab dan Islam yang mengkritik Said paling keras. Ada dua poin kritik Lewis terhadap Said. Pertama, bahwa kritikan Said terhadap Barat sebenarnya balik mengkritik pemikiran dia sendiri, karena pendekatan yang digunakan oleh Said adalah pendekatan Barat. Kedua, pendekatan generalisasi bahwa semua orientalis buruk dan bertujuan untuk kolonialisme sangat tidak masuk akal. Lewis mencontohkan para orientalis Jerman yang mempunyai banyak kajian tentang dunia timur, tapi sama sekali bukan negara kolonial. Lewis juga menyayangkan pendekatan Said yang menyerang struktur daripada hasil dari karya orientalisme. Nah, menurut Ali gagasan post-orientalisme ingin merespon perdebatan ini.42
Post-orientalisme tidak menjadi antitesa bagi orientalisme, tetapi menjadi bagian atau lanjutan dari orientalisme. Namun ada beberapa perbedaan antara orientalisme dan orientalisme. Pertama, post-orientalisme menggunakan self-criticism yang cenderung tidak digunakan oleh para sarjana orientalis. Para penggiat post-orientalisme sadar bahwa ada beberapa hal yang mereka harus akui dalam mengkaji dunia timur, misalnya pra-konsepsi, tujuan, dan seterusnya. Kedua, bila orientalisme cenderung lebih mengutamakan kajian pada bahasa dan teks, maka kajian
post-orientalisme lebih cenderung mengkaji masyarakat Islam (life Islam) atau Islam yang sudah dipraktekkan. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan adalah social science, seperti antropologi, ilmu politik, teori kritis, gender studies, cultural studies, dst. Jadi post-orientalisme lebih dekat dengan ilmu sosial dan melepas fokus kajian tentang asal usul agama. Ketiga, pendekatan yang digunakan adalah kosmopolitanisme yakni tidak ada pemisahan dan pembedaan antar manusia. Sehingga tidak ada lagi dikotomi negara timur-barat, Islam-non Islam, dst. Keempat, post-orientalisme juga mengkritik pendekatan pencerahan (enlightment) yang terkesan universal dan trans-historis. Sehingga dalam hal ini post-orientalisme juga berperan sebagai post-enlightment. Ali mencontohkan kritik Talal Asad tentang anggapan bahwa Islam hanya dipahami sebagai agama (religion), padahal banyak juga masyarakat Islam yang menganggap bahwa Islam tidak hanya agama tetapi way of life, syariat, dll. Sehingga pendekatan era pencerahan yang universal dan trans-historis tidak lagi relevan, karena tidak lokal dan spesifik.43
Kemudian Luthfi menyebutkan salah satu kritik Said terhadap orientalisme, yaitu bahwa barat mengkritik Islam berdasarkan pra-konsepsi yang dibuat barat sendiri. Menurut Luthfi awal sejarah orientalisme bukan dari sejarah tulisan, tetapi sejarah lukisan. Pada saat itu medium informasi tentang dunia timur di barat hanya lewat lukisan. Baru pada abad 17 mediumnya berubah menjadi tulisan. Menurut Luthfi, yang dimaksud oleh Said adalah informasi tentang dunia timur lewat lukisan yang terbatas. Pada saat itu perjumpaan antara timur-barat memang sangat terbatas. Kalaupun ada perjumpaan antara dunia barat-timur, maka itupun perjumpaan yang antagonistik, permusuhan, dan konflik. Kritik lain Said terhadap orientalisme adalah bahwa orientalisme berkaitan erat dengan kepentingan barat dalam imperialisme, yang oleh para penganut post-kolonialisme sebagai relasi kekuasaan dan pengetahuan. Said mengkritik orientalis Inggris dan Prancis yang pada saat itu negaranya sedang gencar berekspansi
ke dunia timur. Menurut Luthfi banyak sekali kritikan terhadap Edward Said, bahkan jauh lebih banyak daripada yang membelanya. Menanggapi kritikan Bernard Lewis tentang Jerman, Said menulis secara khusus dan menjelaskan bahwa kasus Jerman adalah kasus yang unik. Dan ini yang menurut Luthfi awal dari keruntuhan tesis Said terhadap orientalisme. Bahwa cara generalisasi dan esensialis yang dibawa oleh Said sangat lemah. Kesalahan lain dari Said dengan mengabaikan fakta bahwa orientalisme sudah terjadi jauh sebelum gagasan kolonialisme itu muncul. Luthfi mencontohkan misalnya Roger Bacon yang pergi ke Maghribi di Andalusia pada abad 15 menerjemahkan karya-karya disana ke bahasa latin dan prancis. Dan itu sekali lagi tidak ada hubungannya dengan kolonialisme.44
Di akhir diskusi Luthfi berbicara tentang sumbangan besar para orientalis barat terhadap dunia Islam. Menurut Luthfi, kalau tidak ada orientalisme mungkin umat Islam tidak secepat ini bisa mengakses kitab-kitab klasik. Pada akhir tahun 80-an kitab-kitab-kitab-kitab hadits, tafsir dan fiqh di Arab hampir semuanya di edit (tahqiq) oleh para orientalis. Baru belakangan ini setelah ada upaya dari pemerintah dan perguruan tinggi Arab, bermunculanlah pengedit yang berasal dari kalangan Islam sendiri. Penjelasan akan hal ini, menurut Luthfi karena pada abad 19 tidak ada muslim yang bisa men-tahqiq buku. Maka orang-orang seperti Goldziher-lah yang men-tahqiq kitab-kitab klasik. Ada satu orientalis yang sangat berjasa terhadap khazanah Arab-Islam yaitu Gustaf Flugel. Dia men-tahqiq dan menerbitkan buku “Al-Fihris Ibnu Nadim” yang ditulis pada 3 H. Buku tersebut berisi buku-buku yang terbit dan yang hilang pada saat itu. Kalo tidak ada jasa-jasa orientalis seperti Flugel, mungkin akses umat Islam modern terhadap karya klasik akan terlambat. Selain itu, jasa orientalis lainnya terhadap Islam adalah mengembangkan studi kritis terhadap Islam. Sebelumnya studi Islam tidak bisa bersifat kritis karena ada pandangan konservatif seperti sesat atau kafir. Luthfi mencontohkan orientalis seperti Arthur Jeffery yang mengkaji Al-Quran terutama Al-Fatihah yang sangat
detail. Hasilnya pun sangat mencengangkan. Jeffery mengkaji kenapa Al-Fatihah tidak dicantumkan dalam mushaf Ibnu Mas’ud. Kemudian Jeffery mengkaji secara antropologis dan hasilnya dia menemukan bahwa bacaan sembahyang masyarakat syiria dulu sangat mirip dengan bacaan Al-Fatihah. Dan cara studi seperti ini menurut Luthfi sangat sehat untuk umat Islam dalam mengembangkan pengetahuan.45
H. PENUTUP
Akhirnya, makalah singkat ini menghantarkan kepada beberapa kesimpulan, yaitu: Hadis adalah adalah segala berita yang dinukilkan dari Nabi Muhammad Saw. baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir, pengajaran sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi Saw. diangkat menjadi Rasul, maupun setelahnya.
Studi hadis tidak terlepas dari berbagai pendekatan sebagai ilmu bantu ke arah pengkajian intensif. Beberapa di antara pendekatan dan ilmu bantu tersebut adalah: ilmu hadis dirayah, ilmu hadis riwayah, ilmu rijalul hadis, ilmu jarh dan ta’dil, gharibul hadis, nasikh dan mansukh, mukhtaliful hadis,
dll. Kemudian yang perlu dipahami adalah bahwa semua ilmu tersebut terkonsentrasi pada dua unsur pokok hadis, yaitu sanad dan matan.
Dalam perkembangannya secara ke kinian, keotentikan hadis seringkali dipersoalkan. Banyak kritikan ditujukan kepada hadis, bahkan ada yang menolaknya. Bahwa kendatipun telah sekian lama melengkapi sumber ajaran Islam (Alquran), hadis sekiranya masih perlu diuji keabsahan dan validitasnya. Satu diantara beberapa penyebabnya adalah selain tidak adanya jaminan yang tegas tentang kesahihannya, juga akibat keterlambatan penulisan hadis itu sendiri. Sehingga sangat mungkin diduga periwayatan hadis banyak yang palsu. Kritik terhadap hadis itu memang perlu dilakukan, karena banyak silang pendapat, perbedaan, serta konflik di tengah kehidupan masyarakat muslim akibat hadis-hadis yang mengundang interpretatif, baik dari sanad
maupun matan-nya banyak kritik yang dilontarkan oleh para pemikir, apakah
dari barat atau bahkan dari timur sendiri, terhadap studi hadis. Hal ini ada baik dan jeleknya, ada sisi positif dan negatif, tergantung pada motif dan tujuan kritik itu.
Dalam melakukan studi hadis, supaya kajian yang dilakukan lebih dapat dipertanggungjawabkan dan tentunya supaya kritik studi hadis juga dapat lebih objektif serta penolakan terhadap kritik hadis juga dapat lebih beralasan, maka salah satu langkah yang mesti ditempuh adalah dengan merujuk kepada referensi utama dalam kajian hadis, dimana beberapa diantara referensi tersebut telah dipaparkan di atas.
Sumbangan besar para orientalis barat terhadap dunia Islam. Menurut Luthfi, kalau tidak ada orientalisme mungkin umat Islam tidak secepat ini bisa mengakses kitab-kitab klasik. Pada akhir tahun 80-an kitab-kitab hadits, tafsir dan fiqh di Arab hampir semuanya di edit (tahqiq) oleh para orientalis. Baru belakangan ini setelah ada upaya dari pemerintah dan perguruan tinggi Arab, bermunculanlah pengedit yang berasal dari kalangan Islam sendiri. Penjelasan akan hal ini, menurut Luthfi karena pada abad 19 tidak ada muslim yang bisa men-tahqiq buku. Maka orang-orang seperti Goldziher-lah yang men-tahqiq kitab-kitab klasik. Ada satu orientalis yang sangat berjasa terhadap khazanah Arab-Islam yaitu Gustaf Flugel. Dia men-tahqiq dan menerbitkan buku “Al-Fihris Ibnu Nadim” yang ditulis pada 3 H. Buku tersebut berisi buku-buku yang terbit dan yang hilang pada saat itu. Kalo tidak ada jasa-jasa orientalis seperti Flugel, mungkin akses umat Islam modern terhadap karya klasik akan terlambat.
dengan bacaan Al-Fatihah. Dan cara studi seperti ini menurut Luthfi sangat sehat untuk umat Islam dalam mengembangkan pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abd.Hakim, Atang dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam,
Arif,Syamsuddin, Orientalis & Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani, 2008.
Bustamin, dan M.Isa A. Salam, Metodologi Kritik Hadis, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
http://arifin-jahari.blogspot.com/2011/02/makalah-studi-hadis-bagian-v.html, diunggah tanggal 22 Februrai 2013, pukul 16.00 wib
Mudasir, Ilmu Hadis, Bandung:CV.Pustaka Setia, 2005.
Muhaimin, Studi Islam, Dalam Ragam Dimensi & Pendekatan, Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2012.
Solahuddin, M.Agus, dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung:CV. Pustaka Setia, 2011
Uddarojat,Rofi, Reportase Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal Kajian Islam
Pasca Orientalisme (http://islamlib.com/id/artikel/kajian-islam-pasca-orientalisme) diunggah pada tanggal 22 februari 2013, pukul 18.30 wib.
Yaqub,Ali Mustafa (Guru Besar Ilmu Hadis IIQ Jakarta dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), dari situs
http://www.idhamlim.com/2009/09/perkembangan-ilmu-hadis.html,
diunggah pada tanggal 22 Februari 2013, pukul 16.20 wib.
Yuslem, Nawir, Ulumul Hadis, Jakarta:PT.Mutiara Sumber Widya,2001.