MAKALAH
HADIS PADA TAHUN 656 H HINGGA TAHUN 911 H
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sejarah Perkembangan Studi Hadis
Dosen Pengampu : Hasan Su’aidi, M.S.I
Disusun Oleh :
1. Shinta Nurani (2031112002)
2. Samsuddin (2031112006)
JURUSAN USHULUDDIN PRODI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa ini, kedudukan hadis sebagai sumber kedua dalam sumber hukum Islam sudah tidak diragukan lagi dan terbukti keotentikannya. Meskipun di lain pihak banyak juga yang mengkritik tentang keorisinilan dan keotentikan hadis. Namun, kritik ini sudah selayaknya menjadi semangat keilmiahan untuk lebih mengkaji dan meneliti lebih mendalam mengenai seluk beluk hadis termasuk dari segi historis perkembangan hadis.
Dalam perkembangannya, hadis selalu dinamis berkembang namun tidak selamanya berjalan mulus tanpa ada hambatan dan tantangan. Apalagi pada tahun 656 H hingga 911 H umat Islam sedang mengalami kemunduran ilmu pengetahuan dan kemujudan pemikiran. Walaupun demikian, perkembangan hadis tahun 656 H hingga 911 H mengalami perkembangan dan sudah sampai menerbitkan isi kitab-kitab hadis, menyaringnya serta menyusun kitab-kitab takhrij.1
Berdasarkan dari uraian tersebut, maka kami akan membahas perkembangan hadis pada periode tersebut dengan membuat makalah yang berjudul Hadis pada Tahun 656 H hingga masa Imam al-Suyuthi (911 H).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana perkembangan hadis pada tahun 656 H hingga 911 H? 2. Bagaimana pusat-pusat studi hadis pada tahun 656 H hingga 911 H?
3. Siapa sajakah tokoh-tokoh dalam kajian hadis pada tahun 656 H hingga 911 H?
4. Apa sajakah tantangan internal dan eksternal umat Islam pada tahun 656 H hingga 911 H?
5. Bagaimanakah pengaruhnya terhadap kajian hadis pada tahun 656 H hingga 911 H?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini ialah:
1. Untuk mengetahui perkembangan hadis pada tahun 656 H hingga 911 H. 2. Untuk mengetahui pusat-pusat studi hadis pada tahun 656 H hingga 911 H. 3. Untuk mengetahui tokoh-tokoh dalam kajian hadis pada tahun 656 H hingga
911 H.
4. Untuk mengetahui tantangan internal dan eksternal umat Islam pada tahun 656 H hingga 911 H.
5. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kajian hadis pada tahun 656 H hingga 911 H.
D. Metodologi Penulisan
Ada beberapa metode yang dilakukan dalam penyusunan makalah, yakni: 1. Metode literatur study
Tahapan pertama, penulis mengumpulkan dan membaca referensi yang menjadi sumber rujukan utama dan penulis juga mengambil beberapa sumber rujukan baik dari buku maupun dari literatur lain yang sesuai dengan tema makalah.
2. Metode deskripsi
Selanjutnya, penulis berusaha untuk memberikan gambaran umum dan menjelaskan secara komprehensif dari pembahasan makalah berdasarkan referensi-referensi yang telah ada.
3. Metode interaksi/diskusi
Melalui data yang terkumpul, penulis melakukan diskusi dengan teman tentang pembahasan dari makalah berdasarkan tema yang kemudian akan dipaparkan kepada teman-teman.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Studi Hadis Tahun 656 H hingga 911 H
Periode ini merupakan periode sesudah meninggalnya khalifah Abasiyyah ke XVII yaitu Al-Mu’tashim (w. 656 H). Periode ini dinamakan
Ahdu As-Sarhi Al-Jami’ wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-takhrij-an, dan pembahasan.
kitab-kitab takhrij, serta membuat kitab-kitab-kitab-kitab jami’ yang umum, kitab-kitab-kitab-kitab yang mengumpulkan hadis hukum, mentakhrijkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab, mentakhrijkan hadis-hadis yang terkenal dalam masyarakat, dan menyusun kitab Athraf.2
Pada periode ini disusun kitab-kitab Zawa’id yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, diantaranya Kitab Zawa’id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa’id As-Sunan Al-Kubra disusun oleh Al-Bushiry, dan masih banyak lagi kitab zawa’id yang lain. Disamping itu, para ulama hadis periode ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah kitab Jami’ Al-Masanid wa As-Sunan Al-Hadits li Aqwami Sunan, karangan Al-Hafidz Ibnu Katsir dan Jami’ul Jawami’ susunan Al-Hafidz As-Suyuthi (911 H).3
Kegiatan ulama hadis pada masa ini berkenaan dengan upaya mensyarahi kitab-kitab hadis yang sudah ada, menghimpun dan mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab-kitab yang sudah ada, mentakhrij hadis-hadis dalam kitab tertentu, dan membahas kandungan kitab-kitab hadis. Hal ini misalnya, pengumpulan isi kitab yang enam, seperti yang dilakukan oleh ‘Abd al-Haq ibn Abd al-Rahman al-Asybili (terkenal dengan Ibn al-Kharrat, w. 583 H) ‘al-Fayir al-Zabadi, dan Ibn al-Atsir al-Jaziri, juga penyusunan kitab-kitab hadis yang mengenai hukum, di antaranya oleh al-Daruquthni, al-Bayhaqi, Ibn Daqiq al-‘Id, Ibn Hajar al-Asqalani, dan Ibn Qudamah al-Maqdisi.
Mulai abad keempat Hijriyah terus berlangsung beberapa abad berikutnya. Dengan demikian masa perkembangan hadis ini melewati dua fase sejarah perkembangan Islam, yakni fase pertengahan dan modern. Pada masa abad terakhir muncul penulis hadis seperti al-Laknawi, al-Qasimi, dan Al-Bani
2 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 105.
serta ulama lain yang menghimpun hadis-hadis berdasarkan kualitas atau topik tertentu.4
B. Pusat-Pusat Studi Hadis
India dan Mesir memegang peranan penting dalam perkembangan hadis. Mulai dari masa Baghdad dihancurkan oleh Hulagu Khan, berpindahlah kegiatan perkembangan hadis ke Mesir dan India. Dalam masa ini banyaklah kepala-kepala pemerintahan berkecimpung dalam bidang ilmu hadis seperti al-Barquq.
Disamping itu tidak dapat dilupakan usaha-usaha ulama-ulama India dalam mengembangkan kitab-kitab hadis. Banyak kitab-kitab hadis yang berkembang dalam masyarakat Islam dengan usaha penerbitan yang dilakukan oleh ulama-ulama India. Merekalah yanng menerbitkan kitab Ulumul hadis
karangan al-Hakim.
Pada masa akhir ini berpindah pula kegiatan itu ke daerah kerajaan Saudi Arabia.5
C. Tokoh-Tokoh Hadis
Diantara ulama-ulama hadis yang terkenal dalam masa ini, ialah:6
1. Al-Hafidzh Abdul Ghani al-Maqdisi (W.600 H) 2. Ibnu al-Atsir (W. 606 H)
3. Adh-Dhiya’ al-Maqdisi (W.643 H) 4. Al-Hafidzh al-Mundziri (W. 656 H) 5. Izz bin Abdussalam (W.660 H) 6. Ad-Dimyaty (705 H)
7. Abu Abbas ibnu Taimiyah (W.728 H) 8. Ibnu Saiyidinas (734 H)
4 Idri, Studi Hadis, (Jakarta:Kencana 2010), hlm. 51-52.
5 Teungku Muhammad Hasby Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, cet-4 (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999) hlm. 105
16. Az-Zarkasyi (794 H)
Tantangan-tantangan internal yang terjadi pada tahun 656 H hingga tahun 911 H, antara lain sebagai berikut:7
a. Kemunduran ilmu pengetahuan dan terjadinya kemujudan pemikiran sebagaimana yang telah telah terjadi sejak awal abad kelima Hijriyah. b. Musibah yang menimpa umat Islam ketika itu adalah pergolakan
internal antar sebagian para pemimpin Islam, dimana setiap amir kota dan pelosok menyerang wilayah keamiran kecil disekitarnya. Sungguh banyak wilayah-wilayah kecil didalam daulah Islam yang saling berhadapan, khususnya pada negeri Syam dan Afrika utara, apalagi kejadian yang sudah masyhur di Andalusia yang banyak terdapat daulah-daulah kecil yang saling berhadapan.
2. Tantangan Eksternal
Adapun tantangan yang datangnya dari luar dalam periode tahun 656 H hingga tahun 911 H yaitu sebagai berikut:8
a) Ekspedisi militer pasukan salib terhadap negeri kaum Muslimin, setelah kekalahan mereka di peperangan Hithein 583 H dan pengusiran mereka
dari Baitul Maqdis oleh panglima perang Muzhaffar Shalahuddin al-Ayyubi, pendiri Daulah Ayyubiyah di Mesir dan Syam. Mereka masih tetap eksis disebagian negeri Syam sekitar satu abad setelah kekalahan mereka di perang Hithein, dimana perang terakhir yaitu perang Ukka pada 690 H, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz adz-Dzahabi tentang kejadian-kejadian pada tahun tersebut dalam kitabnya Tarikh al-Islam,
dan menyebutkan bahwa ia sendiri menghadiri peristiwa itu, padahal umurnya baru 17 tahun. Perang itu dipimpin oleh para ulama dari kalangan fuqaha dan muhadis yang terpercaya dimana dahulu mereka melempar menjanik (meriam pelempar batu) dengan tangan-tangan mereka dalam keadaan membaca secara tartil ayat-ayat jihad dan memohon doa.
b) Ujian dahsyat dan musibah yang amat pedih yang menerpa kaum Muslimin disebabkan serangan tentara Tartar si penyembah berhala hingga mencapai puncaknya, yang kemudian berakhir dengan jatuhnya kota Baghdad di tangan Tartar pada 656 H. Peperangan mereka yang sengit melawan kaum Muslimin terus berlangsung sampai Allah SWT menghancurkan mereka sebanyak dua kali melalui tangan Muslimin.
Pertama, peperangan dibawah pimpinan Malik Muzhaffar al-Quthuz pada perang Ain al-Jalut (nama kota di Palestina) pada 658 H.
Kedua, peperangan di bawah pimpinan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan para muridnya pada peperangan Syaqhab dekat kota Damaskus pada 702 H. Setelah peristiwa ini, Tartar tidak lagi kembali menyebrang kaum Muslimin.
ath-Thusi terhadap khalifah al-Abbasi di Baghdad. Ibnu al-Alqami senantiasa menghasut khalifah untuk memberhentikan para tentara perang yang pada awalnya jumlah mereka lebih dari 300.000 personil sampai menjadi 10.000 personil ketika terjadi serangan Tartar atas Baghdad.
3. Dukungan dari Tantangan
Namun terdapat juga dukungan-dukungan situasi yang terjadi, diantaranya yaitu:9
Pertama, kesungguhan para ulama Ahlus Sunnah wa al Jamaah untuk
melawan kemunduran ilmu pengetahuan dan kebekuan pemikiran, di antara mereka adalah al-Hafidzh abu Bakar al-Baihaqi, al-Khathib al-Baghdadi, Muhammad bin Thahir yang dikenal dengan Ibnu al-Qaisarani, Muhyi as-Sunnah (penghidup sunnah) Baghawi, Abu Bakar Hazimi, Abu al-Walid al-Baji,abu Abdullah al-Humaidi, Abdul Haq al-Isybili, Abu al-Abbas al-Qurthubi, al-Qadhi Iyadh, Razin bin Muawiyah dan ulama-ulama Barat lainnya.
Kemudian terbitlah cahaya ilmu pengetahuan baru di awal abad ketujuh hijriyah di tangan ulama sunnah dari kalangan para ahli hadis dan ahli fikih seperti Hafidzh Abdul Ghani Maqdisi (w.600 H), Ibnu al-Atsir (w. 606 H), adh-Dhiya’ al-Maqdisi (w.643 H.), al-Hafidzh al-Mundziri (w. 656 H), dan sultan al-Ulama (pemimpin ulama), al-Izz bin Abdussalam (w.660 H), dan lain sebagainya.
Kebangkitan ilmu pengetahuan ini sampai puncaknya ketika berada ditangan syaikhul Islam al-Hafidzh Abu Abbas ibnu Taimiyah (w.728 H) dan para muridnya seperti al-Mizzi (w.742 H), Ibnu al-Qayyim (w.751 H), Alamuddin al-Barzali (w.739 H), Syamsuddin adz-Dzahabi (w.748 H), dan lain-lainnya.
rasul-Nya, baik itu dari kalangan orang-orang kafir maupun munafik ahli kebatinan. Adapun para penguasa tersebut adalah :
Sebagaimana Kmctekin bin Daneshmend (w. 499 H) berhasil menggagalkan kemenangan pertama tentara salib, kemudian Imaduddin Zanki (w.540 H) dan anaknya, Nuruddin Mahmud asy-Syahid bin Zanki (w. 569 H). Nuruddin ini mempunyai andil besar dalam menghidupkan sunnah dan menyebarkan keadilan sesama manusia, mempunyai andil dalam mendekati para ulama, dan menghormati orang-orang shalih. Diantara bukti kesungguhannya adalah munculnya panglima perang Shalahuddi al-Ayubi (w. 589 H) yang mana Allah SWT meluluh lantakan kekuatan tentara salib melalui tangannya pada perang Hithein, dan dia menaklukan kembali Baitul Maqdis dengan tangannya sendiri, sebagaimana dia menghilangkan Daulah Bathiniyyun dan Ubaidiyyun. Dia menghapus madzhab Rafidzah al-Bathiniyah yang mana mereka berusaha menyebarkannya kepada kaum Muslimin melalui perguruan tinggi al-Azhar yang mereka bangun untuk tujuan ini, setelah masuknya kaum Rafidhah ke kota Mesir setelah pertengahan abad keempat Hijriyah.
Demikian juga al-Malik al-Muzhaffar Quthuz bin Abdullah (w.658 H.) yang meluluhlantakkan Tartar pada peperangan ain al-Jalut pada 658 H dan para sultan daulah Ayyubiyah Mamalik lainnya.
keinginan para pentolan dari musuh-musuh kaum muslimin kecuali dengan menyebarkan kebodohan dan ummiyah (buta huruf) di tengah masyarakat.
Dengan demikian, umat akan berkembang menjadi bodoh terhadap ajaran agamanya dan ajaran Rasulullah dalam kehidupan ini, tenggelam hawa nafsunya dan sibuk dengan mencari nafkah sehari-harinya, sehingga umat ini sibuk dengan semua yang telah di atur dan direncanakan sedemikian rupa oleh penguasa dan pimpinan ahli bid’ah.
Sebagaimana pula para ulama mengetahui hak-hak para penguasa dan pemimpin yang baik dan yang jahat diantara mereka, berupa mendengar dan mematuhi perintah mereka, memberikan nasihat dan menjelaskan kebenaran kepada mereka, mempersatukan mereka, dan tidak boleh keluar dari kepemimpinan mereka selama mereka tidak melakukan kekafiran terang-terangan disisi mereka dan mereka didalamnya mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
E. Pengaruh terhadap Studi Hadis
Setelah abad kelima hijriyah para ulama telah menempuh dalam medan pengabdian terhadap sunnah yang suci dan ilmunya beragam cara dalam karya tulis mereka tentang hadis. Selain itu, dengan adanya berbagai tantangan dan dukungan akhirnya berpengaruh terhadap studi hadis. Hal tersebut nampak dari sela-sela amal berikut ini:10
1. Mereka sangat memperhatikan kitab-kitab salaf, baik dalam hal periwayatan, dirayah, syarah, dan penulisan biografi para perawi hadisnya. 2. Memperhatikan ilmu-ilmu hadis, baik dari penyusunan, pengurutan, dan
peringkasannya sehingga banyak ditemukan di abad ini kitab-kitab
musthalahah hadis yang ditulis secara sistematis dan ringkas, baik matannya maupun syarahnya.
a. Menyusun kembali kitab-kitab ulama terdahulu, baik dalam matan
ataupun perawinya agar mudah dipelajari.
b. Kitab-kitab yang memperhatikan pengumpulan hadis-hadis tematik, misalnya Kitab al-Maudhu’at (hadis-hadis palsu), Kitab al-Ahkam
(tentang hukum), dan lain-lainnya.
c. Kitab-kitab yang berhidmat kepada kitab-kitab lain atau mencakup tematik umum dan universal, misalnya kitab takhrij al-Hadis, kitab
Zawa’id, dan lainnya.
F. Kitab-Kitab Hadis pada Tahun 656 H sampai 911 H
Diantara kitab-kitab yang disusun dalam periode ini, ialah sebagai berikut:
1. Kitab-kitab Zawaid
Dalam periode ini ulama mengumpulkan hadis-hadis yang tak terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnya kedalam sebuah kitab yang tertentu. Kitab-kitab itu mereka namai Kitab Zawaid. Diantara kitab Zawaid yang terkenal, ialah:
a. Kitab Zawaid sunan Ibnu majah yakni hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang tiada terdapat dalam kitab-kitab yang lain.
b. Kitab Ith-Thaful Maharah bi zawaidil Masanidil ‘Asyrah.
c. Kitab Zawaid As-Sunanil Kubra, yaitu hadis-hadis yang tak terdapat dalam kitab enam. Ketiga kitab ini disusun oleh Al-Bushiry (840 H). d. Kitab Al-Muthalibul ‘Aliyah fi Zawaidil Masanadits Tsamaniyah,
susunan Al-Hafidh Ibnu Ibnu Hajar (852 H).
e. Majma’uz Zawaid, susunan Hafidh Nuruddin Abul Husain Al-Haitsamy (807 H), dan banyak lagi kitab-kitab Zawaid yang lain.
2. Kitab-kitab jawami yang umum.
Ulama-ulama hadis dalam periode ini mengumpulkan pula hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab, kedalam sebuah kitab yang tertentu. Di antara kitab yang merupakan jawami’ yang umum, ialah:
hadis-hadis Al-Bukhary, Muslim, Sunan An-Nasai’, Abu Daud, At-Turmidzi, Ibnu Majah, Musnad Ahmad. Selain itu juga ada Al-Mu’jamul Kabir, susunan Ath-Thabary.
b. Jami’ul Jawami’, susunan Al-Hafidh As-Suyuthi (911). Dalam kitab ini dikumpulkan hadis-hadis kitab enam dan lain-lain. kitab ini mengandung banyak hadis dha’if dan maudlu’. Alauddin Al-Hindy (975 H) telah menerbitkan kitab-kitab ini dalam sebuah kitab yang dinamai Kanzul Ummal fi Sunanil Aqwali wal Af’al. Kemudian diringkaskannya dalam kitab Muntakhabu Kanzil Ummal. As-Suyuthi sendiri telah mengikhtisarkan kitab itu. Mukhtasarnya dinamai Al-Jami’us Saghir fi Hadisil Basyiri Nadzir.
3. Kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis hukum
Di antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis hukum yang disusun dalam periode ini, ialah:
a. Kitab Al-Imam fi ahadisil Ahkam, susunan Ibnu Daqiqil ‘Id (702 H). Kitab ini disyaratkan dalam sebuah kitab yang dinamai Al-Imam, sebuah syarah yang sangat besar.
b. Kitab Taqribul Asanid wa Tartibul Masanid, susunan Zainuddin Al’Iraqi (806 H). Di dalamnya beliau kumpulkan hadis-hadis hukum yang diriwayatkan oleh imam-imam yang terkenal yang diberi julukan dengan Assuhhul Asanid. Kitab ini disyarahkannya dalam sebuah kitab yang dinamai Tharhut Tatsrib fi Syarhit Taqrib. Syarah ini disempurnakan oleh putra beliau yang bernama Abu Zur’ah.
c. Kitab Bulughul Maram min Ahadisil Ahkam, oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani (852 H). Kitab ini mengandung 1400 buah hadis dan telah disyarahkan oleh banyak ulama. Diantaranya, Al-Qadli Al-Husain Muhammad ibn Isma’il As-San’ani (1182 H) dalam kitab yang bernama Subulus Salam dan Siddiq Hasan khan (1307 H) dalam kitab yang dinamai Fathul ‘Allam.
Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut siapakah perawinya dan siapa pentakhrijnya dan tidak pula diterangkan nilainya. Maka sebagian ulama berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab yang tertentu. Diantara kitab-kitab takhrij ini, ialah:
a. Takhrij Ahadis Tafsir Al-Kasysyaf, karangan Al-Zaila’i (762 H). Akan tetapi kitab ini tidak mentakhrijkan seluruh hadis yang disebut oleh pengarang Al-Kasysyaf secara isyarat.
b. Al-Kafisi Syafi’ Takhriji Ahadisi Kasysyaf oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dalam kitab ini ditakhrijkan hadis-hadis yang lupa ditakhrijkan oleh Al-Zaila’i.
c. Takhrij Ahadisil Baidlawi, oleh Abdul Rauf Al-Manawi, dan lainnya. 5. Kitab-kitab takhrij hadis yang terkenal dalam masyarakat
Banyak hadis yang terkenal dan bernilai dalam masyarakat. Maka ulama-ulama hadis mengumpulkan hadis-hadis itu dalam suatu kitab untuk diterangkan nilai-nilai dan derajat-derajat hadis.
a. Al-Maqoshidu Khasanah, oleh asy-Syahoi. Kitab ini telah diikhtisharkan oleh murid-murid beliau yaitu Abdurrahman ibnu ad-Dhaiba Asyaibani dan dinamai Tamziyuth Thoyibi minal Khobis.
b. Tasilus Subul ila Kasyfilibas, oleh Izzuddin Muhammad ibnu Ahmad al-Kholili (1507 H).
c. Kasyful Khofa wa Mushilul Albas, oleh Khafidz al-Ajalu (1162 H). 6. Kitab-kitab Athraf
Sebagaimana dalam periode ke-6 H muncul kitab-kitab Athraf yang disusun oleh tokoh-tokoh hadis, maka dalam periode ini bangun pula beberapa ulama menyusun kitab-kitab Athraf itu, seperti:
a. It-hhaful Maharah Biathrafil ‘Asyarah oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. b. Athraful Musnad Al-Mu’tali bi Athrafi Musnadil Hanbali oleh Ibnu Hajar. c. Athraful Musnadil Firdaus oleh Ibnu Hajar.
d. Athraful Sahih Ibnu Hibban oleh Al-‘Iraqi.
Inilah beberapa usaha penting oleh ulama-ulama untuk mengumpulkan hadis, menertibkannya. Dan dalam periode inilah lahir kitab-kitab syarah hadis yang besar-besar, seperti Fathul Bari, Umdatul Qari, Irsyadus Sari, dan lain-lain.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perkembangan hadis pada 656 H adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abasiyyah ke XVII Al-Mu’tashim (w. 656 H). Disamping itu, para ulama hadis periode ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah kitab Jami’ Al-Masanid wa As-Sunan Al-Hadi li Aqwami Sunan, karangan Al-Hafidz Ibnu Katsir dan Jami’ul Jawami’ susunan Al-Hafidz As-Suyuthi (911 H).
Pada masa ini adalah masa bangkitnya kembali setelah Islam diserang oleh tentara salib dan adanya seragan dari bangsa Tartar yang dapat menaklukan Baghdad. Namun dari faktor internal Islamnya sendiri juga turut andil mengancurkan kekuasaan Islam dengan saling mengambil kekuasaan di daerah-daerah Islam yang kecil. India dan Mesir memegang peranan penting dalam perkembangan hadis.
Kemudian terbitlah cahaya ilmu pengetahuan baru di awal abad ketujuh hijriyah di tangan ulama sunnah dari kalangan para ahli hadis dan ahli fikih seperti al-Hafidzh Abdul Ghani al-Maqdisi (W.600 H), Ibnu al-Atsir (W. 606 H), adh-Dhiya’ al-Maqdisi (W.643 H.), al-Hafidzh al-Mundziri (W. 656 H), dan sultan al-Ulama (pemumpin ulama) al-Izz bin Abdussalam (W.660 H), dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasby. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.
Az-Zahrani, Muhammad bin Mathar. 2011. Kitab-kitab Rujukan Hadis terj.
Tadwin As-Sunnah An-Nabawiyyah oleh Muhammad Rum. Jakarta: Darul Haq. Idri. 2010. Studi Hadis. Jakarta: Kencana.