Landasan Pendidikan
Kelompok 1 :
Amani Fadhilah (1504164)
Reka Putra Pandega (150)
Anysa (150)
Tiara Arfah (150)
MANUSIA
DAN
A. Hakikat Manusia
1. Manusia adalah Makhluk Tuhan YME
Bagaimanakah asal-usul alam semesta
dan asal-usul keber-ada-an dirinya
sendiri ????
Menurut J.D Butler, 1968
A
lir
a
n
Evolusionesim eMenurut Evolusionisme
Manusia adalah hasil puncak dari
mata rantai evolusi yang terjadi
di alam semesta.
Manusia-sebagaimana halnya alam
semesta-ada dengan sendirinya
berkembang dari alam itu
Menurut Kreasionisme
Asal-usul manusia
sebagaimana halnya alam
semesta adalah ciptaan
suatu
Creative Cause
atau
Personality, yaitu Tuhan
4 argumen penolakan
secara filosofis :
Argumen Ontologis
Argumen Ontologis
Argumen Kosmologis
Argumen Kosmologis
Argumen Teleologis
Argumen Teleologis
Argumen Moral
Argumen ontologis
Semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, bahwa realitas
(kenyataan) lebbih sempurna daripada ide manusia. Sebab itu, Tuhan pasti ada dan realitas ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide
Argumen Kosmologis
Manusia bermoral, ia dapat
membedakkan perbuatan yang
baik dan yang jahat, dsb. Ini
menunjukkan adanya dasar,
sumber dan tujuan moralitas.
Dasar, sumber, dan tujuan
Argumen Teleologis
Segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta
termasuk manusia adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian
sebab-akibat, namun tentunya mesti ada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya. Sebab pertama adalahh sumber
Argumen Moral
Segala sesuatu memiliki tujuan
(contoh; mata untuk melihat,
kaki untuk berjalan dsb.).
Sebab itu, segala sesuatu
(realitas) tidak terjadi dengan
sendirinya melainkan
2. Manusia sebagai
Kesatuan Badani-Rohani
Julien de La Mettrie
dan Feuerbach Plato
Julien de La Mettrie dan Feuerbach
Bahwa esensi manusia semata-mata
bersifat badani (tubuh/fisiknya). Sebab itu, segala hal yang bersifat kejiwaan/spiritual dipandang hanya sebagai resonansi dari berfungsinya badan/organ tubuh. Tubuhlah yang mempengaruhi jiwa. Pandangan
hubungan antara badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai Epiphenomenalisme
Plato
Bahwa esensi manusia bersifta
kejiwaan/spiritual/rohaniah. Menurut plato jiwa mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada badan. Jiwa berperan sebagai pemimpin
badan, jiwalah yang mempengaruhi badan, karena itu badan mempunyai ketergantungan kepada jiwa. Pandangan tentang hubungan badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai
Rene Descartes
Pandangan ini secara tegas bersifat dualistik.
Esensi manusia terdiri atas 2 substansi, yaitu
badan dan jiwa. Maka dalam gagasannya ia berpendapat bahwa antara keduanya tidak
terdapat hubungan saling mempengaruhi (S.E. Frost Jr., 1957). Namun dalam pikiran
commonsense-nya bahwa setiap peristiwa
kejiwaan selalu pararel dengan peristiwa badaniah, atau sebaliknya. Pandangan hubungan antara
badan dan jiwa seperti itu dikenal sebagai
E.F. Schumacher
Semua pandangan tesebut dibantah oleh
pandangan bahwa manusia adalah kesatuan dari yang bersifat badani dan rohani yang secara prinsipal berbeda daripada benda, tumbuhan, hewan, maupun Tuhan. Sejalan dengan ini Abdurahman Sholih Abdullah (1991) menegaskan: “meski manusia
3. Individualitas/personalitas
Manusia memiliki perbedaaan dengan yang lainnya sehingga setiap individu bersifat unik. Setiap manusia memiliki subjektivitas (ke-diri-sendirian), maka hakikatnya pribadi. Adapun
pribadi/subjek, setiap manusia bebas mengambil tindakan atas pilihan serta tanggung jawab sendiri (otonom)
untuk menandaskan keberadaannya di dalam lingkungan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa manusia dalah individu/pribadi, artinya menusia
4. Sosialitas
Manusia tidak mungkin hidup sendirian. Manusia harus hidup bersama dengan sesamanya (bermasyarakat), setiap individu menepati kedudukan (status) tertentu, mempunyai dunia dan
tujuannya masing-masing. Sehubungan dengan ini aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk
bermasyarakat (Ernst Cassirer, 1987). Ernst menyatakan: “manusia takkan menemukan diri, manusia takkan menyadari individualitasnya kecuali melalui perantara pergaulan sosial”.
Adapun Theo Hujibers mengemukakan: “dunia hidupku dipengaruhi oleh orang kain sedemikian rupa, sehingga demikian mendapat arti sebenarnya dari aku
Karena setiap manusia adalah pribadi/individu, dan karena terdapat hubungan pengaruh timbal balik antara individu dengan sesamanya, maka idealnya situasi hubungan
antaranya itu tidak merupakan hubungan antara subjek dengan objek, melainkan subjek dengan subjek yang oleh Martin Buber disebut hubungan I-Thou/ Aku Engkau (Maurice S. Friedman, 1954). Selain itu, hendaknya terdapat keseimbangan antara individualitas dan sosialitas
5. Keberbudayaan
Kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat, 1985). Ada 3 jenis wujud kebudayaan, yaitu:
sebagai kompleks dari ide-ide, ilmu pengetahuan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dsb;
sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
sebagai benda-benda hasil karya manusia
Manusia menggunakan kebudayaan dalam ranga memenuhi berbagai kebutuhannya atau untuk berbagai tujuannya. Bahkan
Didalam kebudayaan dan dengan
kebudayaan itu manusia menemukan dan mewujudkan diri. Ernst menegaskan:
“Manusia tidak menjadi manusia karena sebuah faktor didalam dirinya, misalnya naluri atau akal budi, melainkan fungsi kehidupannya, yaitu pekerjaannya,
kebudayaannya”. (C.A. Van Peursen, 1988).
Itu menunjukkan bahwa kebudayaan
memiliki fungsi positif bagi kemungkinan eksistensi manusia, namun apabila
manusia kurang bijaksana dalam
mengembangkannya maka kebudayaan dapat menimbulkan kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi manusia. Kebudayaan tidak besifat statis,
melainkan dinamis. Kodrat dinamika pada diri manusia membuat adanya perubahan dan pembaruan kebudayaan. Hal ini
6. Moralitas
Manusia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat. Menurut Immanuel Kant pada manusai terdapat
rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorial
imperative). Sebagai subjek yang otonom manusia selalu dihadapkan pada suatu
alternatif tindakan/perbuatan yang harusnya dipilih.
Kebebasan untuk bertindak itu selalu berhubungan dengan
norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang juga harus dipilihnya. Karena manusia memliliki kebebasan memilih untuk bertindak, maka selalu ada penilaian moral atau
7. Keberagaman
Merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama. Manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Tuhan pun telah menurunkan wahyu melalui Utusan-utusan-Nya, dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan oleh manusia agar manusia beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dalam keberagamaan ini hidup manusia akan bermakna dan
8. Historisitas
Artinya bahwa keberadaan manusia pada saat ini terpaut kepada masa lalunya,. Historisitas memiliki fungsi dalam eksistensi manusia. Karl Jaspers menyatakan: “Manusia harus tahu
siapa dia tadinya, untuk menjadi sadar
kemungkinan menjadi apa dia nantinya. Masa lampaunya yang historis adalah faktor dasar yang tidak dapat dihindarkan bagi masa
depannya”. (Fuad Hasan, 1973). Tujuan hidup manusia mencakup 3 dimensi, yaitu:
1) Dimensi ruang (di sini – disana, dunia – akhirat)
2) Dimensi waktu (masa sekarang-masa datang)
3) Dimensi nilai (baik-tidak baik)
9. Komunikasi/Interakasi
Komunikasi/interaksi ini
dilakukannya baik secara
vertikal, yaitu dengan
Tuhan-Nya; secara horizontal yaitu
dengan alam dan sesama
manusia serta budayanya;
dan bahkan dengan “dirinya
sendiri”. Demikianlah
10. Dinamika
N. Drijarkara S.J. (1986) menyatakan bahwa manusia mempunyai atau berupa dinamika (manusia sebagai dinamika), artinya
manusia tidak pernah berhenti, selalu dalam keaktifan, baik dalam aspek fisiologik
maupun spiritualnya. Dinamika arah horisontal maupun arah transendental.
Dinamika itu adalah untuk penyempurnaan diri baik dalam hubungannya dengan
sesama, dunia dan Tuhan. Karena manusia subjek, ia dapat mengontrol dinamikanya, namun karena manusia dibekali nafsu
sebagai insan sosial mamka dinamika itu tidak sepenuhnya selalu dapat dikuasainya. Terkadang muncul dorongan dan pengaruh negatif. Sehubungan dengan itu, idealnya manusia harus secara sengaja dan secara prinsipal menguasai dirinya agar
11. Eksistensi Manusia adalah untuk Menjadi Manusia
Eksistensi manusia bersifat dinamis. Bereksistensi artinya merencanakan,
berbuat dan menjadi. Eksistensi manusia tiada lain adalah untuk menjadi manusia. Tegasnya ia harus menjadi manusia ideal.
Idealitas ini bersumber dari Tuhan melalui ajaran agama yang diturunkan-Nya, dan dari sesamaa dan budayanya, bahkan dari diri manusia itu sendiri. Adapun manusia ideal yang dimaksud adalah manusia yang
mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal, sehingga beriman dan
bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan,
berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa
B. Prinsip-Prinsip Antropologis
Keharusan Pendidikan: Manusia
sebagai Makhluk yang perlu Didik
dan Mendidik Diri
Prinsip Historisitas
Prinsip Historisitas
Prinsip Idealitas
Prinsip Idealitas
Prinsip Historitas
Manusia terpaut dengan masa lalunya
sekaligus mengarah ke masa depan
untuk mencapai tujuan hidupnya.
Manusia berada dalam perjalanan
hidup, dalam perkembangan dan
pengembangan diri. Ia adalah manusia
tetapi sekaligus “belum selesai”
Prinsip Idealitas
Manusia mengemban tugas untuk
menjadi manusia ideal. Sosok manusia
ideal merupakan gambaran manusia
yang dicita-citakannya aau yang
seharusnya. Sebab itu, sosok manusia
ideal tersebut belum terwujudkan
Prinsip Posibilitas/Aktualitas
Perkebambangan manusia bersifat terbuka. Manusia memang telah dibekali berbagai
potensi untuk mampu menjadi manusia. Namun setelah kelahirannya, bahwa berbagai potensi tesebut mungkin terwujud, mungkin kurang terwujud, atau mungkin pula tidak terwujud. Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya, sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya. Contoh: Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan
fenomena perilaku orang-orang yang
berperilaku sesuai dengan nilai dan norma budaya masyarakatnya. Sebaliknya, ada fenomena orang-orang yang berperilaku
Perkembangan manusia bersifat terbuka atau serba mungkin, dan hal ini didukung bukti. Inilah prinsip
posibilitas/prinsip aktualitas. Dapat dipahami bahwa berbagai kemampuan yang seharusnya dilakukan manusia tidak di
bawa sejak kelahirannya, melainkan harus diperoleh setelah kelahirannya dalam perkembangan menuju kedewasaannya. Tapi mungkin saja diperoleh manusia melalui upaya bantuan dari pihak lain. Mungkin dalam bentuk pengasuhan,
pengajaran, latihan, bimbingan, dan berbagai bentuk
kegiatan lainnya yang dapat dirangkumkan dalam istilah
pendidikan. Manusia juga harus belajar atau harus mendidik diri. Mengapa manusia harus belajar??? Sebab, dalam
eksistensi yang harus meng-ada-kan/mnejadikan diri itu hakikatnya adalah manusia itu sendiri. Tetapi apabila
Menurut Immanuel Kant, manusia belum selesai menjadi manusia, ia dibebani keharusan untuk
menjadi manusia tetapi ia tidak dengan sendirinya menjadi manusia, untuk menjadi manusia ia perlu dididik dan mendidik diri. “Manusia dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan”. Berdasarkan uraian tersebut disimpulka bahwa manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan mendidik diri.
Terdapat tiga prinsip antropologis yang menjadi
asumsi perlunya manusia mendapatkan pendidikan dan perlu mendidik diri, yaitu:
1) Prinsip historisitas. 2) Prinsip idelaitas.
C. Prinsip-Prinsip
Kemungkinan Pendidikan:
Manusia sebagai Makhluk
Dapat Dididik
Prinsip Potensialitas
Prinsip Potensialitas
Prinsip Dinamika
Prinsip Dinamika
Prinsip Individualitas
Prinsip Individualitas
Prinsip Sosialitas
Prinsip Sosialitas
Prinsip Potensialitas
Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. Antara lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, bermoral/berakhlak muliar, cerdas, berperasaan, berkemauan, mampu berkarya, dst. Manusia memiliki potensi, yaitu:
1) Potensi untuk berima dan bertaqwa kepada Tuhan YME.
2) Potensi untuk mampu berbuat baik. 3) Potensi cipta, rasa, karsa.
Prinsip Dinamika
Manusia (peserta didik) itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi ideal. Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Manusia selalu menginginkan dan mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah ada atau yang dicapainya.
Manusia berupaya untuk mengaktualisasikan diri agar menjadi manusia ideal, baik dalam rangka
interaksi/komunikasinya secara horisontal maupun vertikal. Karena itu dinamika manusia
Prinsip Individualitas
Praktek pendidikan merupakan upaya pendidik memfasilitasi manusia yang antara lain
diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya
sendiri (menjadi seseorang/pribadi). Manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki
ke-diri-sendirian (subyektivitas), bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab itu individualitas mengimpilikasikan bahwa
Prinsip Sosialitas
Pendidikan hakikatnya berlangsung dalam
interaksi/komunikasi antar sesama manusia. Melalui interaksi/komunikasi pengaruh pendidikan
disampaikan oleh pendidik dan diterima oleh peserta didik. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk
sosial, ia hidup bersama dengan sesamanya. Akan terjadi hubungan timbal balik dimana setiap individu akan menerima pengaruh dari individu yang lainnya. Sebab itu sosialitas mengimpilikasikan bahwa
Prinsip Moralitas
Pendidikan bersifat normatif, artinya dilaksanakan berdasarkan sistem norma dan nilai tertentu.
Pendidikan juga bertujuan agar manusia berakhlak mulia; agar manusia berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari agama, masyarakat dan budayanya. Manusia mampu
D. Pendidikan Sebagai
Humanisasi
Definisi Pendidikan, keharusan manusia , sebagimana dinyatakan Karl Japers bahwa: “to be a man is to become a man” / ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan, 1973). Adapun manusia akan dapat menjadi manusia hanya melalui pendidikan. Impilikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia).
Sebagai Humanisasi, pendidikan mengandung pengertian yang sangat luas. Karena itu, pendidikan hendaknya tidak direduksi menjadi sebatas
pengajaran saja. Pendidikan jangan
direduksi menjadi sebatas latihan saja. Pendidikan jangan pula direduksi hanya menjadi sebatas sosialisasi saja. Sebagai humanisasi pendidikan seharusnta
meliputi berbagai bentuk kegiatan
dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagamaan, moralitas, individualitas, sosialitas, dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintergrasi.
Pendidikan adalah bagi siapapun, berlangsung dimanapun, melalui berbagai bentuk kegiatan, dan
Prinsip sosialitas mengimplikasi bahwa pendidik mempunyai kemungkinan untuk dapat mempengaruhi peserta didik.
tetapi, humanisasi bukanlan
pembentukkan peserta didik atas dasar kehendak sepihak dari pendidik.
Alasanya, karena peserta didik
hakikatnya adalah subjek yang otonom. Sekuat apapun upaya yang dilakukan pendidik, apabila dilakukan dengan melanggar prinsio individualitas dari
peserta didik, maka upaya itu tidak akan berhasil. Implikasinya peranan pendidik bukanlah membentuk peserta didik,
melainkan membantu atau memfasilitasi peserta didik untuk mewujudkan dirinya dengan mengacu kepada semboyan
ingarso sung tulodo (memberikan teladan), ing madya mangun karso
Sifat pendidik yang normatif dan dimensi moralitas
mengimplikasikan bahwa pendidikan hanyalah bagi
manusia, tidak ada pendidikan bagi hewan. Karena manusia memiliki potensi untuk mampu berbuat baik, dan dibekali kata hati. Sementara hewan, tidak memiliki kemampuan untuk membedakkan baik/tidak baiknay suatu perbuatan,
Tujuan dan fungsi pendidikan, pendidikan diupayakan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya/ dicita-citakan. Sosok manusia yang dicita-citakan atau yang menjadi tujuan pendidikan adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; dll. Pendidikan harus berfungsi
untuk mewujudkan