• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KONDISI SOSIO POLITIK DALAM PEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KONDISI SOSIO POLITIK DALAM PEN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KONDISI SOSIO POLITIK DALAM PENAFSIRAN

AL-QUR’AN

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Masa’il Tafsir

Dosen Pengampu : Ibu Hj. Shofa Ussamawati

Disusun Oleh :

Dina Novita (NIM: 14301100....)

Nurul Faizatul Alifah (NIM: 14301100....)

Mahrus Ali Faiz (NIM: 1430110077)

Muhammad Ulinnuha(NIM: 14301100....)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS JURUSAN USHULUDDIN

(2)

2017

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah sumber utama dan fundamental bagi agama Islam, ia di samping berfungsi sebagai petunjuk (hudan) juga berfungsi sebagai pembeda (furqan). Sadar bahwa al-Qur’an menempati posisi sentral dalam studi keislaman, maka lahirlah niatan di kalangan pemikir Islam untuk mencoba memahami isi kandungan al-Qur’an yang dikenal dengan aktivitas penafsiran.

Dalam kaitanya dengan penafsiran al-Qur'an, manusia memiliki kemampuan membuka cakrawala atau perspektif, Dari sini tidak dapat disangsikan terdapat penafsiran yang beragam terkait dengan masalah politik antara lain : Pertama, yang menyatakan bahwa al-Qur'an memuat ayat-ayat yang menjadi landasan etik moral dalam membangun sistem sosial politik. Kedua, al-Qur'an sebagai sumber paling otoritatif bagi ajaran Islam, sepanjang terkait dengan masalah politik tidak menyediakan prinsip-prinsip yang jelas, demikian pula dengan as-sunnah. Ketiga, terdapat penafsiran yang menyatakan al-Qur'an mengandung aturan berbagai dimensi kehidupan umat manusia di dalamnya termasuk mengatur sistem pemerintahan dan pembentukan negara Islam.

Tidak ada perdebatan dikalangan para cendekiawan muslim baik dari masa klasik maupun kontemporer bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi setiap orang yang bertaqwa dan kepada orang yang ingin belajar karena pemahaman terhadap Al-Qur’an selalu bersifat terbuka dan tidak pernah selesai, pemahaman selalu berkembang sesuai dengan umat islam yang terus terlibat dalam penafsiran.

Sebagai petunjuk hidup, Al-Qur’an mencakup berbagai hal dalam kehidupan manusia baik dalam hal ibadah, muamalah, ekonomi, bahkan tidak lupa juga Al-Qur’an tampil guna menjadi petunjuk dalam hal politik. Sungguhpun demikian ayat-ayat tentang politik sangat jarang ditemukan dalam kitab-kitab klasik, oleh sebab itu dengan perkembangan zaman serta terjadinya dialektika antara Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu modern seperti sains, seni dan gaya hidup modern maka penafsiran Al-Qur’an lebih bersifat modern dan bervariasi.

B. Rumusan Masalah

(3)

PEMBAHASAN

Kajian tafsir Sosio-Politik tidak terlepas dari dua aspek yaitu pertama politisasi tafsir yaitu upaya seseorang baik itu individu ataupun kelompok untuk menguasai serta menjustifikasi faham dan ideologi dan kedua penafsiran ayat-ayat politik yaitu upaya seorang mufassir untuk menggali nilai-nilai ataupun unsur-unsur politik dalam Al-Qur’an.

Politisasi tafsir telah terjadi pada masa klasik, dapat dikatakan jari-jari politik pada masa klasik telah mengambil tempat tersendiri dalam memasuki tafsir Al-Qur’an al-karim seperti contoh apa yang terjadi pada perdebatan dalam tahkim yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib r.a. dengan umayyah yang disana menimbulkan beberapa golongan antara lain Syi’ah yang setia dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib serta golongan khawarij yang menolak tahkim tersebut dan menanamkan benih kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib.1

Berangkat dari peristiwa tersebut kedua golongan tersebut berlomba-lomba untuk menafsirkan Al-Qur’an untuk kepentingan golongan masing-masing agar dapat menguasai satu dengan lainnya. kedua golongan tersebut merupakan salah satu sampel bahwa telah terjadi politisasi tafsir dalam hal ini untuk kepentingan politik golongan mereka masing-masing.

Menurut Goldziher ada dua motif terbentuknya golongan islam pada masa klasik yaitu motif teologi dan motif ideologi politik kedua motif tersebut sangat mempengaruhi terhadap upaya kelompoknya dalam menafsirkan Al-Qur’an oleh karena itu tidak mengherankan jika kita menemukan para mufassir dari dinasti umayyah serta dinasti abbasiyah yang mengkonsentrasikan aktivitas gerakan mereka dengan mengkaji Al-Qur’an untuk membenarkan madzhab.2

Sekali lagi menurut Goldziher bahwa golongan yang paling banyak dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan kepentingan madzhab dan politiknya adalah Syi’ah, demikian luas penafsiran mereka sehingga mereka memiliki kitab-kitab tafsir sendiri yang khas. Bahkan diantara mereka ada yang mampu terlampau “nekat” dalam menafsirkan sehingga jauh menyimpang.3

1 Ahmad Asy-Syirbasyi, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, (Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001) Hlm. 149

2 Ignaz Goldziher, Mazhab Tafsir Dari Aliran Klasik Hingga Modern, (Penerbit Elsaq Press, Yogyakarta, 2006) Hlm. 324

(4)

Sekelumit kisah diatas merupakan refleksi politik yang terjadi pada masa klasik bahkan fenomena politisasi tafsir masih terjadi sampai masa sekarang karena manusia memiliki naluri untuk menguasai atas lainnya.

Terlepas dari kepentingan politik para mufassir kontemporer melakukan penafsiran secara tematik terhadap ayat-ayat yang memiliki nilai-nilai dan unsur-unsur politik. kajian ini relative sangat baru karena perkembangan ilmu politik sendiri baru mengalami perkembangan pada masa kontemporer, adapun beberapa contoh nilai-nilai atau unsur-unsur politik dalam Al-Qur’an adalah prinsip-prinsip pemerintahan yang meliputi musyawarah, keadilan dll.

A. Karakteristik Tafsir Sosio-Politik

Sejarah tafsir Politik merupakan sejarah politik islam juga karena tafsir Sosio-Politik memiliki pengaruh yang sangat kuat didalam terbentuknya perpolitikan islam. adapun pengaruh tersebut tidak terlepas dari karakteristik tafsir Sosio-Politik tersebut yang berbeda dari corak tafsir yang lain yaitu antara lain:

Pertama : Tematik,

Sejak masa klasik sampai masa kontemporer tafsir Sosio-Politik selalu mendahulukan fenomena atau ideologi dari pada teks Qur’an dalam artian Al-Qur’an menjadi objek penafsiran sedangkan mufassir sebagai subjek yang mendahulukan tema-tema politik (tematik) terlebih dahulu kemudian menafsirkannya sesuai dengan keadaan ideologi mufassir.

Kedua : Bersifat Ideologis,

Sebaaimana dalam pembahasan definisi tafsir Sosio-Politik yaitu tafsir yang menggunakan ideologi sebagai upaya untuk menguasai serta mewarnai wawasan perpolitikan, oleh sebab itu tujuan utama dalam tafsir Sosio-Politik adalah penanaman ideologi.

Ketiga : Sekterianisme,

Para mufassir mengunakan tafsir untuk mendukung kepentingan madzhab / kekuasaan dan tujuannya agar melanggengkan eksistensi politik dan kekuasaan yang pada individu ataupun kelompok

Keempat : Kebenaran Subjektif,

(5)

penafsiran lainnya, maka para mufassir mencari alasan-alasan lainnya untuk membenarkan pendapat mereka meskipun alasan-alasan tidak sesuai dalam artian terlampau “nekat” dan tidak didasarkan pada keilmuan.

B. Metodologi Tafsir Sosio Politik

Tafsir Sosio-Politik merupakan tafsir yang mengkombinasikan antara metode tematik dengan komparasi pendapat para ulama, metode tematik (maudhu’i) digunakan dengan alasan pengambilan ayat-ayat yang ingin ditafsirkan hanya berkisar pada ayat-ayat politik saja, ini tidak mengherankan karena mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat politik berangkat dari respon terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi atau menyoroti kejadian-kejadian bernuansa politik yang sedang populer.

Pengunaan tematik sebagai metode penafsiran dalam tafsir Sosio-Politik merupakan upaya yang dilakukan para mufassir untuk memudahkan dalam transfer ideologi, karena dengan mengunakan metode maudhu’i penyampaian akan lebih komprhehensif dan mudah dipahami sebagaimana yang dilakukan oleh amina wadud dia bukan hanya melakukan ijtihad fiqhiyah yang mana hanya berupaya menggali hukum yang ada dalam Al-Qur’an saja akan tetapi lebih dalam lagi adalah amina wadud berupaya mentransformasikan gagasan feminismenya kepada masyarakat lewat karya-karyanya.

Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam proses penafsiran Sosio-Politik menurut Abu Hay al-Farmawy dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’i secara rinci menyebutkan ada tujuh langkah yang ditempuh kami hanya menyebutkan empat dari tujuh tersebut karena keempat langkah tersebut merupakan langkah yang selalu digunakan para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat politik yaitu :

1. Menetapkan masalah yang berkaitan dengan politik atau menetapkan fenomena-fenomena dan kejadian-kejadian bernuansa politik baik yang sedang berlangsung atau yasng sudah usai.

2. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena dan kejadian politik tersebut guna mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur’an kepada fenomena tersebut ataupun sebaliknya mentransformasikan ideologi politik terhadap penafsiran ayat-ayat tersebut 3. Mengkontekstualisakan ayat-ayat tersebut sesuai dengan kebutuhan serta tujuan yang

dikehendaki penafsir

(6)

C. Sumber Penafsiran

Guna memberikan penafsiran yang komprehensif ada beberapa elemen atau unsur-unsur yang diperlukan antara lain:

o Al-Qur’an o Hadits Nabi o Fenomena Politik

o Konteks Sosial Masyarakat o Tokoh dan Contoh Penafsiran

o Kekuatan Formatif Latar Belakang Penafsir

Berangkat dari orientasi pemahaman politik yang terdapat dalam tafsir, maka aa beberapa ulama’ yang masuk dalam kategori mufassir tafsir Sosio-Politik yaitu antara lain : Sayyid Quthub dalam kitabnya yang berjudul Tafsir fi Dhilallil Qur’an, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho dalam tafsir fenomenalnya yaitu Tafsir Al-Manar kemudian ada Hasan Al-Bana dalam tafsirnya yang berjudul Tafsir Siyasi lil Islam bahkan mufassir indonesia yang memiliki konsentrasi perpolitikan dalam tafsir adalah Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. D. Contoh Tafsir Sosio-Politik

Adapun contoh penafsiran Sosio-Politik, kami hanya mencamtumkan beberapa penafsiran dari 2 Mufassir, yakni Sayyid Quthub dan Buya Hamka.

Sayyid Qhutub atas Tafsirnya

Tafsir fi Dhilal al-Qur`an karya Sayyid Qhutub ditulis di penjara dalam “situasi konflik” dengan penguasa. Dengan demikian ini harus dijelaskan melalui pendekatan antropologi fungsional konflik dimana sebuah konflik justru dipandang sebagai penyulut dinamika.

Masing-masing kelompok merasa harus menyingkirkan rivalnya jika ingin menjaga otoritas dan eksistensinya. Qutbistes (kelompok Qutub) dengan kekuatan solidaritas ideologisnya harus membasmi kelompok lain yang jahil, kafir, salah, buruk, taghut, dan kedaulatan manusia. Pemikiran seperti ini tidak menyelesaikan konflik dan tidak menciptakan ketentraman. Yang muncul justru menguatnya ketegangan internal antara umat Islam sekaligus hubungan eksternal antara Islam dan Barat.

(7)

ننوررففاكنللا مرهر كنئفلنل وأرفن هرللن لا لنزننلأن امنبف ملكرحلين مللن نلمنون

...

Artinya: “...Barang siapa tidak memutuskan hukum berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah maka mereka kafir”.

Sayid Qutub memaparkan konsep “jahiliyah modern” sembari mengkritik keras kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi. Sayid Qutub berkata : “Sesungguhnya karakteristik paling khusus dari sifat keilahian Allah adalah konsep kedaulatan Allah (al-hakimiyyah lillah). Dan seseorang yang membuat undang-undang bagi segenap kelompok manusia maka ia telah mencoba menduduki posisi Tuhan. Rakyat yang mengikutinya adalah budak-budak pemerintah dan bukan hamba Tuhan. Mereka terperangkap dalam agama pemerintah dan bukan dalam agama Allah”… “Jahiliyyah bukanlah periode tertentu pada masa lalu, tetapi ia dapat mewujud pada masa kini jika karakteristiknya mewujud pada sebuah sistem pemerintahan yang kebijakannya dikembalikan kepada legislasi hawa nafsu manusia”… “Individu, kelompok, atau suara mayoritas di parlemen yang membuat undang-undang adalah jahiliyyah”.4

Konsep kedaulatan Tuhan adalah ciri pemikiran kalangan fundamentalis anti demokrasi. Selain Sayid Qutub, Taqiyuddin Nabhani dan tokoh-tokoh HIzbut Tahrir lainnya juga mengusung pemikiran ini. Dalam sejarahnya, kedaulatan Tuhan memang pernah ada, tapi hanya terjadi pada era pemerintahan Rasulullah, dimana segala kebijakan pemerintah senantiasa dikawal oleh petunjuk wahyu. Namun, kawalan wahyu secara langsung tersebut telah berakhir seiring dengan wafatnya Rasulullah. Pasca pemerintahan Rasulullah, kebijakan pemerintah Islam tidak dikawal lagi oleh wahyu secara langsung, melainkan hanya berdasarkan “pemahaman atas wahyu”.

Lebih dari itu, konsep kedaulatan Tuhan yang dibangun oleh Sayid Qutub guna menghantam kedaulatan rakyat adalah sebuah konsep politis berdasarkan penafsiran “tekstual” (harfiyah) terhadap QS. al-Maidah: 44. Padahal, sejatinya, ayat tersebut turun dalam konteks mengkritik kaum Yahudi yang menyembunyikan hukum rajam bagi pelaku zina. Para ahli tafsir seperti Qurthubi, Wahidi, Suyuthi, Baydhawi, Nasafi, al-Thabari, dan al-Zamakhsyari sepakat menyatakan bahwa ayat tersebut turun untuk kaum Yahudi.

Ironisnya, ayat tersebut dipolitisir oleh Sayid Qutub untuk mengkafirkan semua umat Islam yang menganut sistem pemerintahan parlementer dan demokrasi yang memposisikan

(8)

manusia sebagai legislator undang-undang. Namun, menurut kami, dengan berdemokrasi kita tidak otomatis kafir sebab demokrasi tidak hendak menyingkirkan hukum Tuhan.

Demokrasi justru memberikan ruang kepada rakyat untuk menyampaikan berbagai aspirasinya, tak terkecuali aspirasi dari para pemeluk Islam, asalkan aspirasi tersebut tidak mendiskriminasikan pemeluk agama lain.

Contoh penafsiran Buya Hamka

Hamka dalam karyanya tidak memberikan definisi secara jelas tentang syura. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan hadis tidak memberikan informasi detail tentang bagaimana melakukan syura. Sebagai bahan pertimbangan Rasulullah dalam hal ini memakai menteri-menteri utama seperti Abu Bakar, Umar, dan menteri tingkat kedua yakni Usman dan Ali, kemudian terdapat enam menteri lain, serta satu menteri ahli musyawarah dari kalangan Anshar. Islam menurut Hamka telah mengajarkan pentingnya umat mempraktikkan sistem syūra ini. Sementara itu, teknik pelaksanaanya tergantung pada keadan tempat dan keadaan zaman.

Sementara itu, menurut Hamka dalam (QS: Asy Syu'araa' : 38)

ممولرعلملن ممولين تفقنليمفلف ةررنحنسلنلٱ عنمفجرفن

Artinya :“Lalu dikumpulkan Ahli-ahli sihir pada waktu yang ditetapkan di hari yang ma’lum”(QS: Asy Syu'araa' : 38)

Mengandung penjelasan bahwa kemunculan musyawarah disebabkan karena adanya jamaah. Dalam melakukan shalat diperlukan musyawarah untuk menentukan siapa yang berhak untuk menjadi imam. Dengan demikian, menurut Hamka dasar dari musyawarah telah ditanamkan sejak zaman Makah. Sebab, ayat ini diturunkan di Makah. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa dalam menjalankan musyawarah harus didasarkan pada asas al-maslahat. Nabi dalam hal ini menegaskan segala urusan terkait dengan dunia, misal masalah perang, ekonomi, hubungan antar sesama manusia dibangun atas dasar dibangun atas dasar timbangan maslahat dan mafsadat-nya.5

Hamka dalam hal ini mengkontekskan ayat Al-Qur’an tentang syura dalam konteks keindonesiaan. Menurutnya, bangsa Indonesia dapat memilih sistem pemerintahan dalam bentuk apapun untuk menjalankan roda pemerintahan, tetapi tidak boleh meninggalkan sistem syura yang di dasarkan atas maslahat. Sampai di sini dapat dikatakan bahwa maslahat

(9)

adalah prinsip dasar dalam melakukan syura yang wajib dilakukan oleh setiap bangsa dan negara.

DAFTAR PUSTAKA

Asy-Syirbasyi Ahmad, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, (Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001) Goldziher Ignaz, Mazhab Tafsir Dari Aliran Klasik Hingga Modern, (Penerbit Elsaq Press, Yogyakarta, 2006)

Budiardjo Mirtan, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Gramedia, Jakarta, 2009)

El-Guyani Gugun, Who Want To Be The Next President, (Gramedia, Jakarta, 2010) Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Raja Grafindo Persada, jakarta, 1982) Qutub Sayyid, Tafsir Fi Dhilal Al-Quran, Vol. I, Cet. Dar Al-Syuruq,

Referensi

Dokumen terkait

Diketahui dari berbagai sentimen masyarakat yang disampaikan melalui komentar di media sosial twiter terhadap operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi

Di Afrika Selatan ekstrak methanol dari 56 rumput laut yang berasal kelas Chlorophyta (hijau), Phaeophyta (coklat) dan Rhodophyta (merah), dari ketiga kelas rumput

Meskipun persentase penggunaan biaya variabel untuk operasional lebih besar dibandingkan persentase biaya tetap untuk investasi, atau secara rata-rata total biaya mencapai

Penelitian ini dimulai dengan mencari nilai Hue dan Saturation pada citra HSV dan menentukan range nilai kulit manusia yang dapat dibedakan juga dengan objek yang memiliki

komponen apa aja yang kita masukkan di form) – private – public – end – var), Ini juga sudah secara otomatis dimasukkan oleh delphi nya, bagian deklarasi program

Molekul HDL yang relatif kecil dibanding lipoprotein lain dapat melewati sel endotel vascular dan masuk ke dalam jaringan tubuh untuk mengangkut kembali

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 149 Tahun 2O00 tentang Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan berupa Uang Pesangon, Uang Tebusan Pensiun,