SUKA BERSAMA TETAPI SULIT BEKERJA SAMA (1)

28 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SUKA BERSAMA TETAPI SULIT BEKERJA SAMA

(STUDI KASUS MOTIVASI DAN PENGEMBANGAN USAHA PADA

WIRAUSAHA PERANTAU MINANGKABAU DI YOGYAKARTA)

Ilham Setiawan, Trias Setiawati

Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta Email: ilhamfernando93@gmail.com

Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta Email: triassetiawati@gmail.com

ABSTRAK:

Penelitian ini berjudul “Suka Bersama tetapi Sulit Bekerjasama” Studi Kasus Motivasi dan Pengembangan Usaha pada Wirausaha Perantau Minangkabau di Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran latar belakang, gambaran motivasi, gambaran proses pengembangan usaha, gambaran keberhasilan usaha, gambaran hambatan dan tantangan yang dihadapi, dan gambaran peran Ikatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta (IKBMY) terhadap Orang Minang dan Ranah Minang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data adalah wawancara dan dokumentsi. Narasumber dalam penelitian ini adalah Gusremon, Alfen Subrata dan Riko Afrianto merupakan perantau Minang yang terjun ke dunia wirausaha. Untuk mengetahui keabsahan data digunakan uji kredibilitas dan uji transferability. Metode pengujian data menggunakan triangulasi sedangkan metode analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan conclusion drawing/verification.

Penelitian ini menemukan bahwa latar belakang kehidupan para wirausaha berbeda-beda, alasan perantau Minang untuk meninggalkan kampung halamannya adalah faktor ekonomi dan ingin menuntut ilmu. Terdapat dua macam motivasi yang mendorong perantau Minang untuk terjun ke dunia wirausaha, yakni karena alasan finansial dan pengaruh lingkungan. Selain itu, terdapat motivasi pendukung seperti ingin melakukan sesuatu tanpa ada intervensi dari orang lain, melihat peluang usaha, tidak suka diatur orang lain, ingin jauh dari akhlakul madhmumah, serta menyalurkan jiwa sosial. Pengembangan usaha yang dilakukan adalah dari segi produksi, jaringan kerjasama, pemasaran dan pelayanan. Keberhasilan usaha yang diraih oleh perantau Minang yang berwirausaha yakni investasi dan asset, pengalaman berpindah segmen dan pengalaman jatuh bangunnya usaha. Masalah yang muncul yakni persaingan dengan kompetitor, pemahaman akan teknologi dan kesulitan dalam pengelolaan manajemen. Adapun tantangannya berupa fluktuasi untung dan rugi, percepatan proses produksi dan juga berkaitan dengan hutang. Peran IKBMY bagi perantau Minang yang berwirausaha hanya sebatas menjalin tali silaturahmi,

sharing dan berbagi informasi. Sedangkan peran IKBMY untuk ranah Minang seperti mempertahankan kearifan dan kebudayaan Minangkabau di rantau serta ikut berkontribusi dalam memberikan bantuan jika terjadi bencana.

Kata kunci: Perantau Minangkabau, Wirausaha, Motivasi, Pengembangan usaha, Keberhasilan Usaha.

ABSTRACT:

(2)

This research found that the entrepreneur’s background were variative. The reason why Minang people leave their hometown were caused by economic factors and want to study in Yogyakarta. The two motivation types that dominate and push were financial reasons and environmental influences. The additional motivation were want to do something without others intervention, looking for business opportunities, do not want to be ruled by others, want to avoid bad behavior and also delivering social life. Their business development were production, teamwork relationship, marketing and service. The successful business achievement were not only infestations and asset but also changing segment experience and business failure. The problem emerged were competition problems with competitor, technological skill and difficulties in business management. The challenges were profit and loss fluctuation, process production time and its related to debt. Role of IKBMY for Minang peoples were communicate one another, sharing and giving information. The IKBMY role for Minang land was to keep the Minang culture and wisdom in outside home town, and they can contribute for giving help.

Keywords: Minang people, entrepreneurship, motivation, business development, business success

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara dengan penduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa atau etnis bangsa. Menurut Elfindri, Ayunda dan Saputra (2008) Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki kekhasan budaya yang unikdan heterogen tapi dibingkai dalam satu kesatuan nusantara. Indonesia terdiri dari beraneka ragam budaya yang saling berbeda seperti Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda, Bugis, Dayak dan lainnya. Etnis di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, salah satunya adalah etnis Minangkabau. Menurut Elfindri, Ayunda dan Saputra (2008) keunikan Minangkabau dilihat dari sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. Minangkabau merupakan suku yang menganut sistem Matrilineal. Navis (1984) mengatakan bahwa setiap orang, terutama anak muda akan senantiasa didorong dan ditarik agar pergi merantau oleh kaum kerabatnya dengan berbagai cara. Falsafah matrilineal Minangkabau mendorong anak muda agar kuat mencari harta kekayaan guna memperkukuh atau meningkatkan martabat kaum kekerabat agar setaraf dengan orang lain. Pada tahun 2015 jumlah penduduk Minangkabau di Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 10.000 orang atau sekitar 350 kepala keluarga (Widiyanto, 2015).

Manusia dalam kelangsungan hidupnya memerlukan berbagai aktifitas yang harus dilakukan. Salah satunya adalah bekerja. Bekerja adalah aktifitas yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berwirausaha salah satu pilihan dalam bekerja. Menurut Hisrich, Peters dan Shepard (2008) kewirausahaan diartikan sebagai proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi.

(3)

Motivasi atau dorongan dari diri sendiri maupun orang lain dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk berwirausaha. Ini dibuktikan dalam penelitian mengenai Motivasi Berwirausaha Pada Etnis Tionghoa yang ditulis oleh Yulianti (2010). Dari hasil penelitiannya didapatkan data bahwa faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya motivasi berwirausaha yaitu karena faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kebutuhan fisiologis, contohnya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Faktor eksternal juga yang manjadi penyebab timbulnya motivasi berwirausaha contohnya seperti dorongan dari orang lain.

Dunia usaha terus berkembang dari waktu ke waktu. Mengembangkan usaha adalah bagian dari perencanaan kewirausahaan. Penelitian yangdilakukan oleh Setiawati dan Paramitha (2010) dengan judul Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha (Studi Kasus Wirausaha Handicraft di Yogyakarta). Hasil dari penelitian tersebut adalah motivasi awal yang muncul pada diri seorang ibu rumah tangga untuk menjadi seorang pengusaha perempuan adalah keuangan keluarga. Pengembangan Usaha yang dilakukan adalah gencar dari segi promosi dan pemasaran, menjalin kerjasama dan hubungan bisnis yang baik dengan sistem kepercayaan, memberikan pelayanan yang terbaik, komunikasi yang baik dengan para supplier dan memperhatikan kualitas barang. Permasalahan yang dihadapi mulai dari masalah teknis produksi yang belum baik, permasalahan dengan kompetitor yang dihadapi dengan cara mengikuti mode yang berkembang dan selalu menciptakan inovasi dan kreasi baru pada produknya.

Keberhasilan usaha dapat dipengaruhi oleh kemampuan usaha yang tercermin diantarannya melalui pengetahuan, sikap, dan keterampilan dari pengusaha. Kegiatan berwirausaha selalu mempunyai tujuan atau sasaran untuk memperoleh keuntungan atau laba nyata dalam bentuk rupiah. Namun demikian, laba bukanlah merupakan satu-satunya tujuan kegiatan usaha, akan tetapi masih terdapat tujuan-tujuan lain yang dapat dicapai, seperti mengurangi pengangguran atau memberi kesempatan kerja, membantu masyarakat sekitarnya, perkembangan perusahaan, prestise, dan membantu meningkatkan pendapatan pemerintah melalui pajak (Asri, 1986).

Masalah dan tantangan bukanlah hal baru yang harus dihadapi para wirausahawan. Masalah yang muncul merupakan akibat dari tidak mampunyai seseorang dalam mencegah maupun meminimalisir hambatan yang datang. Penelitian yang dilakukan oleh Setiawati dan Paramitha (2010) dengan judul Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha (Studi Kasus Wirausaha Handicraft di Yogyakarta). Hasil dari penelitian membahas mengenai permasalahan yang dihadapi mulai dari masalah teknis produksi yang belum baik, permasalahan dengan kompetitor yang dihadapi dengan cara mengikuti mode yang berkembang dan selalu menciptakan inovasi dan kreasi baru pada produknya. Kemudian permasalahan terkait dengan hutang dari mengajukan pinjaman. Penelitian di atas memiliki topik yang sama dengan penelitian yang dilakukan, yaitu kewiraushaan dan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, perbedaannya terletak pada narasumber penelitian.

(4)

lalu, serta mempunyai fokus budaya di dalam satu atau beberapa elemen-elemen simbolik yang menyatakan akan keanggotaannya, seperti pola-pola keluarga, ciri-ciri fisik, aliansi agama dan kepercayaan, bentuk-bentuk dialek atau bahasa, afiliasi kesukuan, nasionalitas, atau kombinasi dari sifat-sifat tersebut yang pada dasarnya terdapat ikatan antar anggotanya sebagai suatu kelompok

Banyak orang minang dan perantau minang yang berkecimpung didalam dunia wirausaha, dengan memiliki karakteristik yaitu motivasi yang positif dan tinggi dalam berwirausaha. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk memberikan gambaran latar belakang dari narasumber, 2) untuk memberikan gambaran motivasi perantau Minang di Yogyakarta dalam berwirausaha, 3) untuk memberikan gambaran proses pengembangan usaha perantau Minang di Yogyakarta, 4) untuk memberikan gambaran keberhasilan usaha yang telah dicapai, 5) untuk memberikan gambaran hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta, 6) untuk memberikan gambaran peran IKBMY terhadap Orang Minang dan Ranah Minang.

TINJAUAN LITERATUR Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai Motivasi Berwirausaha pada Etnis Tionghoa yang ditulis oleh Yulianti (2010). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan penelitian studi kasus. Subjek penelitian ini adalah pria dewasa etnis Tionghoa yang berwirausaha dengan usia 33 tahun. Teknik Pengumpulan Data dengan wawancara dan Observasi. Hasil dari penelitiannya adalah Faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya motivasi berwirausaha pada wirausaha etnis Tionghoa tersebut yaitu karena faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kebutuhan Fisiologis dan faktor eksternal seperti dorongan dari orang lain. subjek memiliki dorongan berprestasi yang tinggi dilihat dari subjek menambah luas tempat usaha, adanya kepercayaan pelanggan dan bertambahnya pelanggan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis lakukan adalah memiliki variabel yang sama yaitu karakteristik kewirausahaan. Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian dan narasumber penelitian yang mana pada penelitian ini narasumbernya merupakan perantau Minangkabau.

(5)

menjalin kerjasama dan hubungan bisnis yang baik dengan sistem kepercayaan, memberikan pelayanan yang terbaik, komunikasi yang baik dengan para supplier dan memperhatikan kualitas barang. Permasalahan yang dihadapi mulai dari masalah teknis produksi yang belum baik, permasalahan dengan kompetitor yang dihadapi dengan cara mengikuti mode yang berkembang dan selalu menciptakan inovasi dan kreasi baru pada produknya. Kemudian permasalahan terkait dengan hutang dari mengajukan pinjaman. Penelitian di atas memiliki topik yang sama dengan penelitian yang dilakukan, yaitu kewiraushaan dan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, perbedaannya terletak pada narasumber penelitian.

Berbagai faktor mendorong sesorang untuk berwirausaha. Faktor religiuspun dapat mendorong orang untuk berwirausaha. Ini dibuktikan dalam penelitian yang berjudul Entrepreneurial Motivation in Pondok Pesantren yang ditulis oleh Siswanto, Armanu, Setiawan, dan Nimran (2013) memberikan hasil penelitian berikut ini, motivasi wirausaha para santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Jawa Timur terdiri dari lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Motivasi dari lingkungan eksternal adalah keprihatinan para santri akan riba untuk mengembangkan suatu bisnis dan wirausaha. Motivasi lingkungan internal adalah ingin menyediakan apa yang dibutuhkan para santri dan masyarakat, ingin mengkonsumsi dari sumber yang halal dan keinginan untuk membangun sistem pendidikan berbasis karakter. Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang penulis lakukan yakni topik mengenai motivasi berwirausaha meski narasumber yang digunakan bukan lagi santri.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Ratnawati (2011) dengan judul Peran Pemberdayaan Perempuan Miskin Pedesaan Melalui Pengembangan Kewirausahaan. Hasil dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan usaha perlu dilakukan pengembangan keterampilan yang dimiliki. Persamaannya dengan penelitian ini terletak pada variabel atau topik yang sama yaitu kewirausahaan dan pengembangan usaha. Perbedaannya terletak pada narasumber yang diteliti dan lokasi penelitian.

Karakterisitik wirausaha atau pengusaha sukses sangat sulit dipahami termasuk pengusaha etnis Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian berjudul Faktor Determinan Keberhasilan Pedagang Etnis Bugis Dalam Mengembangkan Bisnis yang ditulis oleh Munizu (2010) Hasil dari penelitian tersebut adalah Faktor determinan keberhasilan pengusaha etnis Bugis dalam memulai dan mempertahankan bisnisnya terdiri atas lima topik/tema utama yakni: (1) keluarga dan pengaruhnya, (2) otonomi, (3) keterlibatan secara aktif dalam menjalankan bisnis dan memiliki tujuan, (4) ketahanan, ketekunan, dan optimisme, dan (5) pengorbanan pribadi. Persamaannya terletak pada variabel atau topik yang hampir mendekati yaitu faktor determinan atau motivasi dan kewirausahaan. Dan perbedaannya dengan yang akan peneliti teliti terletak pada narasumber yang akan diteliti dan lokasi penelitiannya.

(6)

dalam pemilihan jenis usahanya. Adapun profil seorang wirausaha yang sukses dipengaruhi oleh pemilihan jenis usaha yang individu tersebut. Persamaannya dengan penelitian ini terletak pada salah satu variabel atau topik yang sama yaitu kberhasilan wirausaha. Perbedaannya terletak pada narasumber yang diteliti dan lokasi penelitian.

Secara umum, penelitian terdahulu dengan penelitian ini memiliki persamaan variabel yang digunakan namun terdapat dalam berbagai bidang dan berbagai narasumber. Berdasarkan penelitian terdahulu, posisi penelitian ini adalah untuk memberi gambaran mengetahui latar belakang dan alasan perantau Minang meninggalkan kampung halamannya, motivasi perantau etnis Minang dalam berwirausaha, pengembangan usaha oleh perantau Minang, keberhasilan usaha yang dicapai dan bagaimana peran IKBMY bagi perantau Minang yang berwirausaha dan peran IKBMY terhadap ranah Minang. Penelitian ini berorientasi pada proses yang dihadapi oleh masing-masing narasumber karena penelitian ini bersifat kualitatif.

Landasan Teori

Manajemen Sumber Daya Manusia. Manajemen Sumber Daya Manusia adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi serta proses penggunaan sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Stoner dan Freeman, 2003). Menurut Flippo (dalam Handoko, 2012) manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat. Menurut Dessler (2006) Manajemen Sumber Daya Manusia adalah adalah proses memperoleh, melatih, menilai dan memberikan kompensasi kepada karyawan, memerhatikan hubungan kerja mereka, kesehatan, keamanan, dan masalah keadilan.

Peran Hard Approach dan Soft Approach. Menurut (Alwi, 2001) dalam pengembangan MSDM dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan hard approach dan soft approach. Dalam proses pembentukan sumber daya manusia yang unggul melalui pendekatan keras (hard approach), ada tiga faktor yang secara signifikan saling terkait dan crucial sifatnya terutama dalam tahap attaracting (menarik) dan developing (berkembang) yaitu sistem rekrutmen dan seleksi, sistem pelatihan dan pengembangan. Sedangkan soft approach memandang komitmen karyawan merupakan kunci penentu kinerja kompetitif. Karyawan yang bekerja dalam kultur komitmen yang tinggi dipersiapkan untuk bekerja dalam jangka panjang. Komitmen tumbuh dan iklim kepercayaan (Alwi, 2008).

(7)

yang dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan. Motivasi berhubungan dengan dorongan atau kekuatan yang berada dalam diri manusia dan tidak terlihat dari luar (Suryana dan Bayu, 2010). Motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan (Rivai dan Sagala, 2009). Dorongan motivasi terdiri dari dua komponen, yaitu : arah perilaku (kerja untuk mencapai tujuan) dan kekuatan perilaku (seberapa kuat usaha individu dalam bekerja).

Teori Motivasi. Menurut Kadarisman (2012) motivasi dibedakan menjadi dua macam yaitu teori isi (content theory) dan teori proses (process theories). Teori-teori yang dikenal diantaranya adalah teori kebutuhan Maslow (dalam Kadarisman, 2012). Teori ini menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan (need) yang munculnya sangat bergantung pada kepentingannya secara individu. Berdasarkan hal tersebut, ia membagi kebutuhan manusia dalam lima tingkatan sehingga sering disebut dengan ‘the five hierarchy need’. Kelima kebutuhan tersebut ialah, kebutuhan fisiologis (physiological need), kebutuhan rasa aman (safety need), kebutuhan sosial (social need), kebutuhan harga diri (esteem need), dan kebutuhan aktualisasi diri (need of self actualization). Teori ERG menurut Aldefer (dalam Rivai dan Sagala, 2009) menyebutkan terdapat tiga kategori kebutuhan individu, yaitu eksistensi (exsistence), keterhubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori Motivasi Berprestasi Clelland (dalam Suryana dan Bayu, 2010) terdapat tiga kebutuhan manusia, yakni: kebutuhan akan persahabatan (Need for Affiliation), kebutuhan akan kekuasaan (Need for Power), kebutuhan akan prestasi (Need for Achivement). Expectancy Theory dikemukakan oleh Vroom (dalam Rivai dan Sagala, 2009) menyatakan bahwa tindakan seseorang cenderung untuk dilakukan karena harapan hasil yang akan didapatkan.

Kewirausahaan. Menurut Hisrich, Peters dan Sheperd (2004) kewirausahaan diartikan sebagai proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Menurut Timmons dan Spinelli (2008) kewirausahaan adalah suatu cara berpikir, menelaah dan bertindak yang didasarkan pada peluang bisnis, pedekatan holistic dan kepemimpinan yang seimbang. Kewirausahaan menghasilkan kreasi, kemajuan, realisasi dan pembaruan nilai perusahaan bukan hanya bagi pemilik namun juga bagi pegawainya.

Menurut Saiman (2009) kewirausahaan adalah proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani mengambil resiko utama dengan syarat-syarat kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau penyediaan nilai untuk berbagai barang dan jasa. Sedangkan menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) mengatakan seorang wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang signifikan dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan sehingga sumber daya-sumber daya itu bisa dikapitalisasikan.

(8)

dirintis, antara lain: 1) Memulai usaha; 2) Mencari peluang bisnis; 3) Modal berwirausaha 4) Strategi komunikasi bisnis; 5) Strategi memilih lokasi; 6) Strategi pemasaran Strategi keuangan; 7) Strategi bersaing.

Keberhasilan Wirausaha. Kegiatan berwirausaha selalu mempunyai tujuan atau sasaran untuk memperoleh keuntungan atau laba nyata dalam bentuk rupiah. Namun demikian, laba bukanlah merupakan satu-satunya tujuan kegiatan usaha, akan tetapi masih terdapat tujuan-tujuan lain yang dapat dicapai, seperti mengurangi pengangguran atau memberi kesempatan kerja, membantu masyarakat sekitarnya, perkembangan perusahaan, prestise, dan membantu meningkatkan pendapatan pemerintah melalui pajak (Asri, 1986). Menurut Primiana (2009) mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah permodalan sudah terpenuhi, penyaluran yang produktif dan tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan menurut Noor (2007) mengemukakan bahwa Keberhasilan usaha pada hakikatnya adalah keberhasilan dari bisnis mencapai tujuanya, suatu bisnis dikatan berhasil bila mendapatkan laba, karena laba adalah tujuan dari seseorang melakukan bisnis.

Faktor Penentu Keberhasilan Usaha. Menurut Tambunan (2002) faktor-faktor yang mampengaruhi keberhasilan usaha dapat diketahui dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang diantaranya yaitu; kualitas SDM, penguasaan organisasi, struktur organisasi, sistem manajemen, partisipasi, kultur/budaya bisnis, kekuatan modal, jaringan bisnis dengan pihak luar, dan tingkat entrepreneurship. Faktor eksternal dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor pemerintah dan non pemerintah. Faktor pemerintah diantaranya, kebijakan ekonomi, birokrat, politik, dan tingkat demokrasi. Faktor non pemerintah yaitu; sistem perekonomian, sosio-kultur budaya masyarakat, sistem perburuhan dan konsidisi perburuhan, kondisi infrastrukur, tingkat pendidikan masyarakat, dan lingkungan global.

Menurut Hutagalung dkk (2010) banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha para pengusaha baik yang bersal dari internal maupun eksternal. Faktor internal lebih banyak berasal dari pengusaha itu sendiri diantaranya adalah: latar belakang pendidikan, usia, pengalaman, efikasi diri, motivasi dan masalah internal lainnya. Faktor eksternal dihadapkan kepada permasalahan di luar organisasi diantaranya: lingkungan, peluang, persaingan, sistem informasi global, dan masalah eksternal lainnya. Menurut Suryana (2009) mengemukakan tiga faktor penyebab keberhasilan seorang wirausaha, antara lain: 1) Kemampuan dan kemauan; 2) Tekad yang kuat dan kerja keras; 3) Kesempatan dan peluang.

Menurut Astamoen (2005) terdapat beberapa persyaratan untuk mencapai keberhasilan wirausaha, diantaranya: 1) Mandiri tetapi bisa bekerja sama dengan orang lain dan mampu berinteraksi dengan prinsip; 2) Mempunyai cita-cita, impian, visi, harapan, ambisi tapi bukan ambisius, obsesi, tantangan dianggap sebagai titik awal untuk mencapai tujuan dalam meraih kesuksesan; 3) Selain bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarganya, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan; 4) Berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan sifat negatif ketika memandang dan memperlakukan orang lain; 5) Selalu berpandangan dan bersikap positif terhadap orang lain; 6) Berpikir sebagai wirausaha yang sukses, karena wirausaha yang sukses harus berpikir seperti seorang wirausaha yang sukses dan bukan berpikir selayaknya orang yang gagal; 7) Merubah kebiasaan, sifat, dan pola pikir sebagai pribadi yang unggul.

(9)

beberapa hal tertentu, karena kurang belajar dan berlatih; 2) Kurang pengalaman; 3) Kurang baik mengatur waktu; 4) Kurang berani mengambil resiko; 5) Kurang pandai meyakionkan orang; 6) Kurang cepat bertindak; 7) Kurang mampu melihat dan memanfaatkan peluang; 8) Tidak mepati janji; 9) Tidak jujur cepat merasa puas. Faktor eksternal: 1) SDM yang tidak memadai, kialitas dan kuantitasnya; 2) Komitmen pihak lain yang tidak terbukti; 3) Kenaikan harga barang yang tidak terduga; 4) Perubahan ekonomi global; 5) Kebijakan pemerintah; 6) Krisis ekonomi, politik,hukum; 7) Perkembangan iptek.

Menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya: 1) Tidak kompeten dalam manajerial; 2) Kurang berpengalaman; 3) Kurang dapat mengendalikan keuangan; 5) Gagal dalam perencanaan; 6) Lokasi yang kurang memadai; 7) Kurangnya pengawasan peralatan; 8) Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha 9) Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Anoraga (2002) Ada beberapa alasan-alasan atau penyebab terjadinya kegagalan dalam berwirausaha antara lain: 1) Seorang wirausaha terlalu cepat masuk ke dalam dunia kewirausahaaan; 2) Seorang wirausaha kehabisan uang atau modal; 3) Kegagalan perencanaan jelas merupakan suatu kesalahan.

Minangkabau dan Merantau. Menurut Daya dkk (2003) nama Minangkabau konon berasal dari peristiwa “adu kerbau” dengan orang-orang dari Kerajaan Majapahit yang akhirnya dimenangkan oleh orang “Minangkabau”. Cerita lainnya tentang nama “Minangkabau” berasal dari kata-kata “Minanga Kabawa” atau “Minanga Tamwan” yang artinya pertemuan dua sungai besar yaitu Sungai Kampar di Riau dan Sungai Batanghari di Jambi atau Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan di daerah Riau. Yang lain mengatakan Minangkabau berasal dari kata Pinang Khabu yang artinya “tanah asal”. Dikaitkan dengan tanah asal raja-raja yang sempat bertahta di berbagai daerah rantau Minangkabau seperti: Jambi, Palembang dan Riau. Minangkabau merupakan suku yang menganut sistem Matrilineal. Menurut Elfindri, Ayunda dan Saputra (2008) dalam sistem matrilineal, garis keturunan mengikuti garis keturunan ibu. Anak mewarisi suku ibu dalam sistem keturunan di Minangkabau. Filosofi yang diajarkan dalam sistem ini memberikan pengaruh untuk orang Minang menjadi seorang pengusaha, dikarenakan: 1) Dalam sistem matrilineal, laki-laki tidak memiliki hak terhadap harta pusaka; 2) Tidak adanya peranan laki-laki dalam harta warisan mendorong mereka untuk merantau; 2) Laki-laki tidak berhak terhadap rumah peninggalan orang tua atau kaum; 4) Hak waris berada pada wanita maka muncul keinginan dari kaum wanita Minang untuk mennjaga dan mengembangkan harta tersebut. Dalam kondisi diatasbenar bahwasanya sistem matrilineal memberikan pengaruh yang besar terhadap munculnya jiwa-jiwa kewirausahaan dalam diri masyarakat Minangkabau.

(10)

Ayunda dan Saputra (2008) merantau merupakan proses interaksi masyarakat Minangkabau dengan dunia luar. Kegiatan ini merupakan subuah petualangan pengalaman dan geografis, dengan meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di negeri orang.

Kebiasaan merantau ini bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya berkembang pada saat ini saja (Naim, 2013). Kebiasaan merantau telah diajarkan nenek moyang sejak zaman dahulu, bahkan telah dimulai sejak kecil. Seorang anak, terutama laki-laki, bermain, tidur, dan mengaji di surau. Pengaturan tempat tinggal ini menjadi awal lepasnya ketergantungan laki-laki Minangkabau pada keluarganya. Menurut Elfindri, Ayunda dan Saputra (2008) merantau merupakan sebuah cara ideal untuk mencapai kematangan dan kesuksesan. Dengan merantau tidak hanya harta kekayaan dan ilmu pengetahuan yang didapat namun juga prestise dan kehormatan individu di tengah lingkungan adat. Menurut Daya dkk, (2003) Salah satu ungkapan kiasan yang menjadi pendorong kultural bagi putra Minangkabau untuk meninggalkan ranah atau kampung halaman mereka yang berbunyi: Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun, Marantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun. Menurut Navis (1984) mengatakan bahwa setiap orang, terutama anak muda akan senantiasa didorong dan ditarik agar pergi merantau oleh kaum kerabatnya dengan berbagai cara. Falsafah matrilineal Minangkabau mendorong anak muda agar kuat mencari harta kekayaan guna memperkukuh atau meningkatkan martabat kaum kekerabat agar setaraf dengan orang lain. Dibalik fenomena merantau, terkandung semangat, etos dan motivasi yang dilandasi semangat untuk bertahan hidup di wilayah rantau.

Perkumpulan Etnis. Menurut Subagijo (1999) Perkumpulan kedaerahan adalah perkumpulan yang anggotanya berasal dari daerah yang sama. Sedangkan perkumpulan etnis adalah perkumpulan yang anggotanya berdasarkan pada etnis yang sama sehingga warna kultural pada perkumpulan ini begitu kental. Schermerhorn (dalam Tilaar, 2007) melengkapinya dengan mengatakan bahwa suatu kelompok etnis adalah suatu masyarakat kolektif yang mempunyai atau digambarkan memiliki kesatuan nenek moyang, mempunyai pengalaman sejarah yang sama di masa lalu, serta mempunyai fokus budaya di dalam satu atau beberapa elemen-elemen simbolik yang menyatakan akan keanggotaannya, seperti pola-pola keluarga, ciri-ciri fisik, aliansi agama dan kepercayaan, bentuk-bentuk dialek atau bahasa, afiliasi kesukuan, nasionalitas, atau kombinasi dari sifat-sifat tersebut yang pada dasarnya terdapat ikatan antar anggotanya sebagai suatu kelompok.

METODE PENELITIAN

(11)

(Moleong, 2005). Dalam Penelitian ini strategi peneltian yang digunakan adalah studi kasus. Penelitian studi kasus meneliti obyek pada kondisi yang terkait dengan kontekstualnya. Menurut Yin (2009) penelitian studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok apabila fokus penelitiannya terletak pada fenomena masa kini di dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, penelitian studi kasus meneliti kehidupan nyata, yang dipandang sebagai kasus.

Narasumber Penelitian. Setelah melalui beberapa proses petimbangan, kriteria yang akan dipilih menjadi narasumber dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Perantau asal Minangkabau 2) Tergabung dalam IKBMY 3) Hidup diperantauan selama lima tahun 4) Omzet Rp 50.000.000 per bulan. Berdasarkan kriteria tersebut, penulis memilih Narasumber dalam penelitian ini yaitu Gusremon, Alfen Subrata dan Riko Afrianto.

Gusremon narasumber pertama dalam penelitian ini. Perantau Minang asal Solok Selatan, Sumatra Barat. Sudah berdomisili di Yogyakarta dari tahun 1999. Pendidikan terakhir Strata I Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis usaha yang dijalani dibidang konveksi dan grosir yang menjual berbagai macam model pakaian muslim. Memiliki tujuh cabang toko di wilayah Yogyakarta dengan omzet sebesar Rp 500.000.000,00 per bulan.

Alfen Subrata merupakan narasumber kedua dalam penelitian ini. Lahir di Pesisir Selatan pada tanggal 12 Desember 1981. Pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA). Merantau dari Ranah Minang sejaktahun 2003. Memiliki beberapa kios di Pasar Beringharjo salah satunya adalah Aneka Cantik Aksesoris dan Kerajinan yang menjual berbagai macam aksesoris seperti kalung, gelang, souvenir, jepit rambut, gantungan kunci baik itu grosir maupun eceran. Omzet dalam sebulan berkisar Rp 200.000.000,00 sampai Rp 250.000.000,00. Telah berwirausaha secara mandiri dari tahun 2008.

Riko Afrianto adalah narasumber ketiga dari penelitian ini. Lahir di Padang pada tanggal 16 Januari 1982, pendidikan terakhir S1 Keuangan Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Usaha yang dijalani yaitu menjual berbagai macam jilbab dan pakaian muslim. Telah berwirausaha kurang lebih 9 tahun. Omzet yang dihasilkan per bulannya sekitar Rp 60.000.000,00.

Untuk memperkuat data yang disampaikan oleh narasumber, maka dibutuhkan narasumber pendukung. Narasumber pendukung dari Gusremon yaitu Syahrial, Yon Hendri dan Yurman Idrus yang merupakan teman seperantauan dari Gusremon. Kemudian narasumber pendukung dari Alfen Subrata yaitu Elda Oktavera yang merupakan istrinya dan dua orang karyawannya yaitu Diah dan Gilang. Narasumber pendukung dari Riko Afrianto yaitu Edward bot merupakan teman baik semasa kuliah, Adri Syahrial merupakan senior Riko dan aktif bersama di salah satu UKM kampus, kemudian Reza Aldino yang merupakan junior Riko pada saat kuliah, ketiga narasumber pendukung dari Riko ini aktif dalam organisasi yang sama.

(12)

Instrumen Penelitian. Dalam penelitian kulitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai instrument juga harus ‘divalidasi’ seberapa jauh peneliti kualitatif siap untuk melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. (Sugiyono, 2012). Selanjutnya Nasution (dalam Sugiyono, 2012) mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasannya ialah segala sesuatunya belum membentuk yang pasti karena belum dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Adapun masalah yang akan diteliti adalah latar belakang, motivasi perantau Minang yang mendorong mereka untuk terjun ke dunia wirausaha, pengembangan usaha, keberhasilan usaha atau prestasi bisnis, Masalah dan tantangan dalam berwirausaha serta peran IKBMY bagi perantau Minang yang berwirausaha dan bagi Ranah Minang.

Latar Belakang dan Alasan Merantau

Latar belakang dan alasan merantau adalah untuk mengetahui bagaimana kehidupan narasumber sebelum merantau dan apa alasan yang mendorong narasumber untuk merantau. Permasalahan yang diteliti: Latar belakang keluarga; tujuan dan alasan merantau; alasan memilih Yogyakarta sebagai tempat merantau; lama waktu merantau; kondisi awal waktu merantau; kehidupan sebagai perantau yang berwirausaha; Persaingan dengan perantau dari etnis lainnya dalam wirausaha; kendala bersosialisasi atau berkomunikasi

Motivasi Berwirausaha

Berbagai macam alasan digunakan untuk terjun ke dunia wirausaha. Beberapa diantaranya justru sangat fundamental seperti alasan finansial dan karena pengaruh lingkungan. Permasalahan yang akan diteliti: Motivasi awal menjadi seorang pengusaha; hal yang menarik menjadi seorang pengusaha; hal yang ingin dicapai dengan menjadi seorang pengusaha; peranan pribadi dalam pengambilan keputusan untuk menjadi seorang pengusaha; peranan faktor ekonomi dalam pengambilan keputusan untuk menjadi seorang pengusaha; peranan keluarga dalam pengambilan keputusan untuk menjadi seorang pengusaha; peranan lingkungan dalam pengambilan keputusan untuk menjadi seorang pengusaha; pandangan dan cara mengimplementasikan kebutuhan akan prestasi yang ada dalam berwirausaha; pandangan dan cara mengimplementasikan kebutuhan akan kekuasaan yang ada dalam berwirausaha; pandangan dan cara mengimplementasikan kebutuhan akan berafiliasi yang ada dalam berwirausaha.

Pengembangan Usaha

Pengembangan usaha perlu dilakukan oleh seorang wirausaha agar usahanya dapat bertahan dan memenangkan persaingan pasar. Permasalahan yang akan diteliti: Proses mengembangkan usaha dari awal berdiri sampai sekarang; hal yang menarik dari proses pengembangan usaha; tujuan dari pengembangan usaha; pengembangan usaha dari segi proses produksi. pengembangan usaha dari segi pemasaran; pengembangan usaha dari segi finansial; pengembangan usaha dari segi pelayanan; Pengembangan usaha dari segi jaringan kerjasama.

Keberhasilan Usaha

(13)

Masalah dan Tantangan Berwirausaha

Sering muncul masalah dan tantangan yang terjadi saat berwirausaha. Maka dari itu dibutuhkan berbagai solusi agar masalah tersebut dapat diatasi. Permasalahan yang diteliti: Masalah yang muncul dalam berwirausaha; masalah yang muncul dari lingkungan sekitar; Masalah psikologis yang dihadapi; cara mengatur waktu berwirausaha; Pandangan tentang rasa khawatir atau lemah mental dalam berwirausaha; pandangan tentang rasa malu atau gengsi dalam berwirausaha; pandangan tentang rasa mudah menyerah dalam berwirausaha; pandangan tentang cara menghadapi tantangan dalam berwirausaha.

Etnis Minang dan IKBMY

Suku Minang menonjol dalam bidang pendidikan dan perdagangan. Lebih dari separuh jumlah keseluruhan anggota suku ini berada dalam perantauan. Diperantauan, untuk mencari saudara, teman, relasi, dukungan dan tempat untuk melepas rasa rindu terhadap kampung halaman dengan penggunaan bahasa daerah secara bebas dapat dirasakan dengan ikut bergabung ke dalam suatu ikatan kekeluargaan. Permasalahan yang akan diteliti: Asal daerah atau kampung halaman; tradisi atau adat yang diketahui oleh perantau Minang; Budaya dan tradisi yang masih melekat di diri perantau Minang; makna “Menjadi Orang” dalam Minangkabau; Identitas resmi IKBMY; peran IKBMY untuk perantau; peran IKBMY untuk ranah Minang; kegiatan rutin IKBMY.

Metode Pengumpulan Data. Metode pengumpulan data untuk penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara menurut Esterberg dalam Sugiyono (2012), wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden lebih mendalam. Peneliti menggunakan jenis wawancara terstruktur yang mengacu pada situasi ketika seorang peneliti melontarkan sederet pertanyaan temporal pada tiap-tiap narasumber berdasarkan kategori-kategori tertentu/terbatas. Selama proses ini, narasumber akan mendapatkan sederet pertanyaan yang sama dan menjawab secara berurutan (Denzin dan Lincoln). Kemudian dokumentasi. Selain melalui wawancara, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali infomasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna. (Rahardjo, 2011). Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan adalah wawancara semi terstruktur. Alat-alat wawancara yaitu buku catatan, digital voice recorder dan kamera.

(14)

ditampilkan. Data tersebut dapat dimasukkan ke dalam hasil penelitian untuk memperkuat data sehingga data menjadi rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya sehingga pembaca menjadi jelas.

HASIL PENELITIAN

Latar Belakang Kehidupan dan Alasan Meranatau. Latar belakang kehidupan perantau Minang berbeda-beda, dilihat dari latar belakang keluarga, pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Berbagai alasan yang melatarbelakangi perantau Minang untuk meninggalkan kampung halaman seperti faktor finansial atau faktor ekonomi, daya tarik kota dan ada yang disebabkan karena ingin menuntut ilmu, seperti pernyataan berikut:

“Dulu itu tuntutan ekonomi, karena kelas 4 SD ayah uda sudah meninggal dunia. Sejak itu kan tinggal hanya dengan orang tua perempuan otomatis cita-cita agak sulit mencapainya, contoh pendidikan. Saat itulah, apapun nama kerja yang menghasilkan uda jalani, pernah jadi kernet angkot setelah SMA, jadi sopir angkot juga. Pada saat itu untuk memiliki mobil angkot sendiri cukup sulit ya, kompetisi didalamnya sangat ketat dan banyak. Karena kakak sudah di Jogja disuruh pergi ke Jogja, ternyata uda punya daya tarik untuk berdagang. Disitu mulai untuk berdagang, serius, ternyata berdagang enak. Tenaga tidak terlalu diforsir.” (Alfen, 30/01/16 08.45)

Dan ada yang memiliki alasan untuk menuntut ilmu, seperti pernyataan yang disampaikan oleh salah satu narasumber:

“Kuliah, sekolah, pendidikan. Tapi gak sebatas sekolah, alam takambang jadi guru. Jalan-jalan ke Malioboro, bertemu sama orang Minang ternyata ada komunitas. Bisa bergaul. Silaturahmi dapat menumbuhkan etos kerja untuk mencari tambahan uang sehingga timbul jiwa-jiwa bisnis tadi. Karena bergaul dengan orang-orang minang yang berwirausaha di sekitaran malioboro dulu. Dulu itu tiada hari tanpa Malioboro.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Alasan yang melatarbelakangi perantau Minang untuk meninggalkan kampung seperti faktor finansial atau faktor ekonomi, daya tarik kota dan ada yang disebabkan karena ingin menuntut ilmu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Naim (2013). Menurut Naim faktor penyebab orang merantau di Minangkabau ada sepuluh yaitu faktor fisik seperti ekologi dan lokasi, faktor ekonomi dan demokrasi, faktor pendidikan, daya tarik kota, keresahan politik, faktor sosial, arus baru, faktor sosial bagi migrasi di antara masyarakat-masyarakat yang lain, faktor agregatif bagi migrasi, dan tipologi migrasi.

(15)

“Itu karena lingkungan ya. Karena bergaul dengan orang-orang minang yang berwirausaha di sekitaran malioboro dulu. Kemudian seiring berjalannya waktu berubah jadi hobby, terus ada keingintahuan dan kemauan. Harus yakin dan percaya diri.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Dan juga ada yang memiliki motivasi internal menyatakan motivasinya dalam berwirausaha disebabkan oleh alasan finansial seperti pernyataan berikut:

“Ooh merdeka, maksudnya merdeka baik dari segi finansial, segi sikap nah kan gitu.” (Riko, 04/02016 12.30)

Dilihat dari Teori Motivasi, wirausahawan dalam memulai usahanya dipengaruhi oleh Teori Kepuasan dan Teori Proses. Dalam Teori Kepuasan yang mempengaruhi adalah Teori Hierarki Kebutuhan Maslow (dalam Kadarisman, 2012) dimana alasan finansial termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis dan juga masuk ke dalam teori ERG yaitu Eksistensi (Existence) dari Alderfer (dalam Rivai dan Sagala, 2009). Faktor lingkungan bisa dimasukkan ke dalam teori ERG keterhubungan (Relatedness). Jika dalam teori Clelland (dalam Suryana dan Bayu, 2010) alasan ingin melakukan sesuatu tanpa ada intervensi dari orang lain bisa difokuskan ke dalam kebutuhan akan kekuasaan dan alasan peluang usaha bisa difokuskan ke dalam kebutuhan akan prestasi. Sedangkan dari Teori Proses yang mempengaruhi adalah Expectancy Theory dari Vroom (dalam Rivai dan Sagala, 2009) dimana alasan ingin melakukan sesuatu tanpa ada intervensi orang lain, menyalurkan jiwa sosial, menjauhi akhlakul Mazmummah dapat difokuskan ke dalam effort performance relationship dan performance reward relationship.

Pengembangan Usaha. Perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta melakukan pengembangan usaha dari segi produksi, jaringan kerjasama, pemasaran dan pelayanan. Proses produksi yang dikembangkan adalah dengan menambah kuantitas dan meningkatkan kualitas produk.

“Dalam produksi pasti ada, perubahan kuantitas dan kualitas. Mengikuti trend dan motif-motif baru, menambah jumlah produksinya.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat, seorang wirausahawan dituntut untuk dapat mengembangkan usahanya. Untuk itu, perantau Minangpun melakukan pengembangan usaha dari segi produksi. Berikut bukti pernyataannya:

“Ada, kalo kerudung sekarang ada yang produksi sendiri. Itu dari bahan dan konsepnya ya.” (Riko, 04/02/16 12.30)

(16)

yang dilakukan perantau Minang yaitu, memvariasikan bentuk produk, dan memperluas jangkauan pasar.

“Memang setau uda ada yang beberapa di produksi, kalau pemasaran pak haji itu punya beberapa toko dan nyuplai ke toko-toko besar. Kerjasama nya luar biasa itu sampai kemana-mana. Sumatra, Kalimantan, kalau bisnis itu konsepnya kepercayaan.” (Yon, 04/03/16 00.30)

Berikut pernyataan mengenai kerjasama yang dilakukan oleh perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta:

“Ada, biasanya jumlah barang yang diambil dari pengrajin ditambah. Biasanya cuma order sekian sekarang bertambah. Terus kita instruksikan ke pengrajin itu untuk mempercepat waktu produksi, memvariasikan jenis dan bentuk barang yang diproduksi. Kita selalu komunikasi, apapun keluhan konsumen kita selalu informasikan ke pengrajin.” (Alfen 14/01/16 13.00)

Banyak orang mulai mengembangkan usahanya dengan cara memasuki dunia maya, salah satunya toko online. Toko online bisa dilakukan lewat media sosial. Dalam segi pemasaran yang dikembangkan adalah dengan menggunakan media sosial sebagi sarana promosi bahkan menjual produk-produk yang mereka tawarkan.

“Kalau jilbab sekarang mungkin dari segi pemasaran, uda liat di sosial media bang riko ini juga memasarkan produknya. Jadi gak cuma offline saja online juga.” (Edward, 07/02/16 16.30)

Pelayanan yang baik terhadap konsumen ataupun pelanggan punya dampak yang sangat besar terhadap tingkah laku pembelian. Sebab layanan pelanggan mempengaruhi kepercayaan terhadap penjual. Dan dari segi pelayanan memberikan pelayanan terbaik dan ramah serta menuruti permintaan pelanggan.

“Kalau dari segi pelayanan itu hal yang paling utama, apak punya prinsip lebih baik kehilangan banyak karyawan daripada satu orang pelanggan, biasanya ya memberikan pelayanan yang terbaik jangan sampai berkonfrontasi dengan pelanggan, apak berpesan gitu ke karyawan.” (Remon, 02/03/16 20.30)

(17)

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Setiawati dan Paramitha (2010) dengan judul Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha (Studi Kasus Wirausaha Handicraft di Yogyakarta). Pengembangan Usaha yang dilakukan dalam penelitian terdahulu ditemukan kesamaan dengan penelitian penulis, yaitu pengembangan usaha yang dilakukan oleh perantau Minang adalah dari segi produksi, kerjasama, pemasaran dan pelayanan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2011) pada perempuan yang dilakukan dibeberapa kabupaten di Jawa Timur menyatakan bahwa pengembangan usaha bagi perempuan di daerah tersebut dengan cara melakukan pengembangan keterampilan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian diatas, terdapat perbedaan pada narasumber penelitian yaitu perempuan sedangkan dalam penelitian ini laki-laki namun dalam cara pengembangan usaha yang dilakukan oleh narasumber sama yaitu adalah dengan selalu mencari peluang yang ada. Perantau Minang memulai usaha, membaca peluang usaha, memiliki modal usaha, memilih lokasi usaha dan melakukan pemasaran dengan media sosial dapat difokuskan kedalam strategi yang dikemukakan Rianse (2011) yaitu memulai usaha, mencari peluang bisnis, modal berwirausaha, strategi komunikasi bisnis dan strategi memilih lokasi.

Keberhasilan Usaha. Keberhasilan usaha atau prestasi bisnis dari perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta dalam penelitian ini adalah memiliki investasi dan pengalaman.

Pentingnya investasi dalam suatu usaha atau bisnis sama pentingnya dengan menghadapi kegagalan dalam bisnis. Setiap orang pasti mendambakan ingin menjadi pengusaha yang sukses. Akan tetapi dari sebagian banyak orang, ada yang dapat mampu mewujudkannya dan ada pula yang kandas di perjalanan. Pada saat roda perekonomian sedang kacau dan bisnis terancam, maka disanalah fungsi dari investasi untuk menutupi kebutuhan. Peran dari investasi sangat besar dalam kondisi seperti itu.

“Kalau prestasinya ya asetnya banyak, kan suatu prestasi itu. Investasinya banyak. Kalau misalkan perekonomian kacau kan asetnya bisa menutupi. Toko, tanah, rumah. Ada di malioboro, wirobrajan, beringharjo, banyaklah. Toko nya az-zikra, Mekkah, Jabal Rahmah, Raudah, banyaklah pokoknya. (Syahrial, 03/04/16 16.30)

Pengalaman adalah sesuatu hal yang dapat dijadikan pembelajaran di masa yang akan datang. Banyak pengalaman yang didapatkan oleh perantau Minang mulai dari awal memulai usaha, pengalaman berpindah segmen dan pengalaman jatuh bangun dalam berwirausaha.

“Dulu dia kan mulainya dari kios-kios kecil di malioboro itu, terus di sunmor. Pencapaiannya paling tinggi itu sepenglihatan uda ya waktu toko jam di klithikan itu. Sukses dia. Tapi ya yang namanya hidup kita gak tau jatuh bangunnya ya. Tapi bang Riko ini sudah menang di pengalaman. Pengalaman itukan ilmu yang berharga ya, dari pengalaman bisa memperkuat strategi.” (Edward, 07/02/16 16.30)

(18)

“Dulu apak tu bisnis kosmetik, underwear, kerudung, pakaian muslim. Kosmetik itu tahun 2005 kosmetik Cina, di 2007 kan ada permasalahan tentang kosmetik Cina. Tidak terdaftar dalam BPOM, apak gak mau masuk ke dalam hal bisnis yang melawan arus. Terus berubah ke pakaian dalam sekitar setahunan. Terus ganti lagi, masuk ke segmen kerudung, karena sudah tidak jadi trend fashion makanya kemudian dikembangkan ke pakaian muslim. Lebih safety, minim resikonya.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Kemudian pengalaman berpindah tempat yang dilakukan oleh perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta, mulai dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

“Awalnya itu uda di sunmor, itu jualan baju batik, daster, terus pakaian dalam, pin itu tahun 2006. Tahun 2007 sampai 2009 uda jualan baju kaos-kaos jogja, aksesoris di malioboro dan beringharjo. Tahun 2010 bangun bisnis baru itu jualan jam tangan, aksesoris, bahan batik, payung, sarung dan banyak yang lain itu di kuncen dan berjalannya waktu itu jatuh dengan kerugian yang besar. Akhir tahun 2014 jual kerudung di malioboro lagi, awal 2015 baru buka toko disini di jalan ngasem.” (Riko, 04/02/16 12.30)

Berdasarkan informasi di atas, keberhasilan usaha atau prestasi bisnis dari perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta dalam penelitian ini adalah memiliki investasi dan pengalaman. Ditemukan kemiripan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2013) dengan judul Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Wirausaha. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan. Persamaannya seperti motivasi dari diri sendiri dan faktor lingkungan. Perbedaannya tidak semua narasumber dalam penelitian ini yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian penelitian selanjutnya berjudul Faktor Determinan Keberhasilan Pedagang Etnis Bugis Dalam Mengembangkan Bisnis yang ditulis oleh Munizu (2010) Hasil dari penelitian Terdapat beberapa kesamaan dalam penelitian ini yaitu keterlibatan secara aktif dalam menjalankan bisnis dan memiliki tujuan, ketahanan, ketekunan, dan optimisme, dan pengorbanan pribadi.

Kemudian perantau Minang yang berwirausaha memiliki kemampuan dan kemauan, membaca peluang dan tekad kuat serta bekerja keras, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan yi (2009) yang mengemukakan tiga faktor penyebab keberhasilan seorang wirausaha yaitu: 1) Kemampuan dan kemauan; 2) Tekad yang kuat dan kerja keras; 3) Kesempatan dan peluang. Dan bisa juga difokuskan ke dalam Faktor internal keberhasilan usaha menurut Tambunan (2002) yaitu; kultur/budaya bisnis dan Faktor non pemerintah yaitu; sosio-kultur budaya masyarakat. Menurut Hutagalung dkk (2010) banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha para pengusaha baik yang bersal dari internal maupun eksternal. Faktor internal diantaranya adalah: latar belakang pendidikan, usia, pengalaman dan motivasi. Faktor eksternal diantaranya: lingkungan, peluang, persaingan.

(19)

Kompetitor dalam dunia usaha memang hampir dipastikan akan selalu ada disetiap aspek dan jenis sebuah usaha. Seunik apapun jenis bisnis atau usaha harus selalu siap dengan adanya persaingan. Persaingan adalah hal yang wajar dalam sebuah bisnis atau usaha.

“Kompetitor, itu gak bisa dihindarkan. Terus sekarang ini online shop sudah sangat banyak, dalam segmen apapun.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Dalam kehidupan modern ini kita diharuskan untuk mengenal dan paham akan teknologi. Semakin lama manusia menginginkan sesuatu yang lebih cepat dan praktis dalam melakukan aktifitas. Seoranng yang berwirausaha harus berani melakukan perubahan dalam organisasinya. Ketidakmampuan mengikuti perubahan teknologi tidak membuat usaha dapat mati begitu saja tetapi pergerakan usaha perlahan-lahan lambat dan berangsur-angsur ketinggalan dengan usaha lain yang lebih cepat menanggapi perubahan teknologi.

“Itu yang menjadi kelemahan uda, teknologi. Itu yang menjadi kendala dalam pemasaran uda, tapi uda tetap akan belajar karena sekarang itu ya teknologi ya. Contohnya ya pemasaran melalui sosial media atau ya seperti stock barang lewat komputer, sistem barcode biar gampang dan tertata dengan baik. Sosial media, website kalau bisa ya dengan iklan yang sangat kreatif.”

Bisnis konvensional terbatas dengan ruang pemasaran sedangkan online shop cakupannya lebih luas. Permodalan pada bisnis konvensional cukup besar karena harus menyediakan tempat, stok barang, biaya gaji pegawai, dan biaya operasional lainnya. Pernyataan diatas didukung oeh pernyataan dari narasumber pendukung sebagai berikut:

“Itu pesaing ya. Apalagi yang online shop ya. Kalau toko kan harus mikir gaji karyawan, bayar listrik, dekorasi dan operasional lainnya, kalau online kan enggak. Tapi persaingan itu wajar sih dalam bisnis.” (Syahrial, 03/03/16 16.30)

Pada dasarnya sesuatu yang bergerak dengan kecepatan tertentu dan sudah mencapai jarak tertentu, akan bisa dikejar oleh sesuatu yang lain yang juga bergerak kearah yang sama dengan kecepatan tertentu bila yang kedua ini memiliki percepatan yang cukup. Percepatan dalam proses produksi sangatlah penting untuk memnuhi skala order yang besar.

“Kita kan handmade ya, jadi faktor SDM dan faktor produksi sangat menetukan untuk memenuhi skala order. Teknologi atau alat kurang mendukung, kurang cepat dalam proses produksi. Contohnya jika konsumen order 1.500 harusnya selesai, jika percepatan pengerjaan atau produksi bisa dilakukan. Kualitas barang dan cara pengerjaan juga menetukan loh, ada prosedur biar hemat waktu produksi.”

(20)

baik. Sistem manajemen yang buruk akan mengakibatkan adanya biaya yang tidak perlu seperti bahan baku yang terbuang, pekerja yang tidak produktif karena pengawasan yang tidak efektif dan deskripsi pekerjaan yang tidak jelas.

“Ya kalau abang nilai miss management tadi, terus tergoda dengan investasi-investasi besar namun kurang pertimbangan, misalkan pinjaman bank untuk pengembangan toko, namun tidak diiringi strategi yang baik untuk menutupi pembayaran pinjaman tadi. Tidak up to date, menyesuaikan dengan zaman. Miss management nya terjadi karena tidak memiliki strategi untuk mengembalikan investasi atau hutang bank tadi dengan pendapatan yang diperoleh.” (Adri, 07/03/16 14.30)

Dalam menjalankan bisnis, untung dan rugi merupakan hal yang sudah menjadi konsekuensi atau resiko yang harus dihadapi. Dalam bisnis juga penting untuk menimbang resiko untung rugi agar bisa meminimalisir kerugian.

“Kalau tantangan dalam bisnis untung rugi ya, biasanya kan dalam berwirausaha itu memikirkan untung ya, sebelum usaha rata-rata orang mencoba menghitung untung yang didapatkan jika usaha itu dijalani. Jadi apak merasakan tantangan disitu. Apakah bisnis ini menguntungkan atau merugi.” (Remon, 02/03/16 20.30)

Berhutang dalam dunia usaha adalah hal biasa, karena dunia usaha adalah dunia yang serba tidak pasti. Banyak pihak yang bisa memberikan pinjaman, contohnya keluarga, teman dekat, rekan bisnis dan bank. Seseorang bisa pinjam ke bank dengan resiko berurusan dengan riba dan birokrasi. Hutang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam berwirausaha karena jika usaha yang kita jalani tersebut tidak sesuai harapan maka akan dikejar-kejar oleh tagihan hutang dan hutang tersebut bisa menggerogoti bisnis yang dijalani.

“Tantangannya ya karena berhutang bank tadi. Kalau bisa ya jangan berhutang, kalau hutang itu menggerogoti bisnis kita, untung dan modal digerogoti. Misalkan bisnis kita sepi ya pembayaran hutang dari modalkan. hutang bank beda dengan hutang barang. Cara menghadapinya ya dengan silaturrahmi tadi, pinjaman dari orang terdekat, teman.” (Riko, 04/02/16 12.30)

(21)

Pemahaman akan teknologi dan kesulitan dalam pengelolaan manajemen difokuskan dengan faktor kegagalan yang dikemukakan oleh Astamoen (2005) seperti kurang pandai dalam beberapa hal tertentu karena kurang belajar dan berlatih, kurang pengalaman, kurang cepat bertindak dan perkembangan iptek. Masalah percepatan proses produksi difokuskan ke dalam komitmen pihak lain yang tidak terbukti, Untung-Rugi dapat difokuskan ke dalam resiko kewirausahaan yang dikemukakan oleh Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu pendapatan yang tidak tentu, Membutuhkan waktu lama dan kerja keras pengelolaan manajemen dapat difokuskan kedalam resiko kewirausahaan harus memiliki tanggung jawab penuh. Hutang dapat difokuskan kedalam Resiko kehilangan seluruh investasi atau modal dan Rasa keputusasaan jika hutang tersebut telah menggerogoti usaha yang dijalani.

Masalah dalam pengelolaan manajemen bisa juga difokuskan kedalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu: Tidak kompeten dalam manajerial dan kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan. Hutang dapat difokuskan ke dalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal yaitu kurang dapat mengendalikan keuangan. Dan juga dapat difokuskan ke dalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu: Gagal dalam perencanaan. Kurangnya pemahaman akan teknologi dapat difokuskan kedalam ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Peran IKBMY bagi perantau Minang dan Ranah Minang. Peran IKBMY untuk perantau Minang yang berwirausaha hanya sebatas menjalin tali silaturahmi, sharing dan berbagi informasi.

“Untuk sharing berbagi informasi, ajang silaturahmi.”(Alfen 30/01/16 08.45)

Sedangkan peran IKBMY untuk ranah Minang seperti mempertahankan kearifan dan kebudayaan Minangkabau di rantau dan ikut berkontribusi dalam memberikan bantuan.

“Mempertahankan dan mengangkat kearifan lokal budaya Minang di rantau. Di Jogja kan mau dibikin rumah gadang juga. Terus biasanya kalau perantau Minang pulang ke ranah biasanya membawa keluarga, saudara, atau orang-orang di kampung untuk bekerja di rantau, mereka di didik biar mandiri. Kan mengurangi beban pemerintah mengatasi pengangguran. Jangan menilai fisik daerah aja ya, tapi beban masyarakat yang ditanggung pemerintah juga dinilai. Terus ikut berkontribusi ketika ada bencana, mengurus kematian.” (Remon, 02/03/16 20.30)

(22)

satu atau beberapa elemen-elemen simbolik yang menyatakan akan keanggotaannya, seperti pola-pola keluarga, ciri-ciri fisik, aliansi agama dan kepercayaan, bentuk-bentuk dialek atau bahasa, afiliasi kesukuan, nasionalitas, atau kombinasi dari sifat-sifat tersebut yang pada dasarnya terdapat ikatan antar anggotanya sebagai suatu kelompok.

DISKUSI HASIL

Suka Bersama Tetapi Sulit Bekerjasama. Berbagai alasan yang melatarbelakangi perantau Minang untuk meninggalkan kampung halamannya. Ada yang disebabkan oleh faktor finansial, dan ada yang disebabkan karena ingin menuntut ilmu. Merantau merupakan gambaran kehidupan orang Minang yang ulet, gesit, berjiwa wirausaha, mandiri dan rela mengalami kesulitan untuk mendapatkan kesuksesan. Kondisi alam Minangkabau bukanlah kawasan industri, tidak kaya oleh pabrik dan hasil tambang. Dulu hanya ada dua yang cukup dikenal, yaitu PT. Semen Padang di Kota Padang dan Perusahaan Negara Tambang Batu Bara Ombilin (PNTBO) di Kota Sawahlunto. Dapat dikatakan daerah Sumatera Barat miskin dari sisi industri, pabrik dan tambang. Hal ini dapat juga menjadi alasan mengapa masyarakat Minangkabau merantau.

David McClelland mengemukakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur sedikitnya dua persen dari jumlah penduduk. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga (dalam Sasongko, 2015) jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 1,65 persen. Dapat dikatakan bahwa kalau bangsa Indonesia masih saja berkutat sebagai bangsa buruh, karena masih banyak yang mencari kerja dan menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Karena itu, prinsip orang Minang adalah mencari uang, bukan mencari kerja. Maksudnya disini kebanyakan perantau Minang akan berwirausaha di daerah perantauannya, dengan begitu perantau Minang di daerah perantauan bukanlah untuk mencari kerja tetapi mencari uang.

Membangun suatu usaha bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi mempertahankan bahkan mengembangkan usaha merupakan suatu tantangan yang harus dipecahkan oleh seorang wirausahawan. Perantau Minang yang berwirausaha melakukan pengembangan usaha dari segi produksi, jaringan kerjasama, pemasaran dana pelayanan. Mengembangkan usaha merupakan bagian dari perencanaan kewirausahaan. Kegiatan berwirausaha selalu mempunyai tujuan dan sasaran untuk memperoleh keuntungan atau laba nyata dalam bentuk rupiah. Keberhasilan yang telah dicapai perantau Minang berupa investasi dan pengalaman berpindah segmen dan pengalaman jatuh bangun serta pengalaman berpindah lokasi. Di dalam dunia usaha pasti menghadapi satu masalah dan tantangan terlebih dahulu sebelum mencapai suatu kesuksesan. Hambatan dan masalah tersebut bukanlah hal baru yang harus dihadapi para pengusaha. Masalah yang dihadapi oleh perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta seperti persaingan dengan kompetitor, pemahaman akan teknologi dan kesulitan dalam pengelolaan manajemen. Sedangkan tantangannya berupa untung dan rugi, percepatan proses produksi dan juga berkaitan dengan hutang.

(23)

halaman. Di Yogyakarta terdapat suatu organisasi kekeluargaan Minangkabau yang didirikan sudah cukup lama yaitu Ikatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta (IKBMY). Peran IKBMY untuk ranah Minang cukup besar dengan mempertahankan kearifan dan kebudayaan Minangkabau di rantau dan ikut berkontribusi dalam memberikan bantuan ketika ada bencana atau musibah dan memberikan penyambutan tamu dari Sumatra Barat. Namun sebaliknya, orang Minang juga paling dikenal sebagai masyarakat yang susah bekerja sama dalam konteks bisnis dan politik. Padahal, dengan keberadaan orang Minang di mana-mana merupakan sebuah potensi besar bila mampu melakukan kerja sama untuk kegiatan bisnis. Hal ini juga terbukti, IKBMY tidak terlalu memanfaatkan peran struktural organisasi. Seharusnya, dengan memanfaatkan peran organisasi dapat membentuk suatu divisi agar dapat mengadakan kegiatan seperti pelatihan maupun edukasi. Contohnya membentuk suatu divisi kewirausahaan dan mengedukasi para perantau yang berwirausaha dengan kegiatan seperti seminar, pelatihan untuk industri kreatif dan lain sebagainya atau membentuk suatu koperasi agar dapat membantu para anggotanya.

PENUTUP

Pertama. Latar belakang kehidupan perantau Minang yang berwirausaha berbeda-beda, dilihat dari latar belakang keluarga, pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Berbagai alasan yang melatarbelakangi perantau Minang untuk meninggalkan kampung halaman seperti faktor finansial, daya tarik kota dan ada yang disebabkan karena ingin menuntut ilmu. Hal yang menjadi alasan untuk merantau adalah faktor ekonomi, faktor pendidikan, dan daya tarik kota. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Naim (2013) faktor penyebab orang merantau di Minangkabau ada sepuluh yaitu faktor fisik seperti ekologi dan lokasi, faktor ekonomi dan demokrasi, faktor pendidikan, daya tarik kota, keresahan politik, faktor sosial, arus baru, faktor sosial bagi migrasi di antara masyarakat-masyarakat yang lain, faktor agregatif bagi migrasi, dan tipologi migrasi.

(24)

Ketiga. Perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta melakukan pengembangan usaha dari segi produksi, jaringan kerjasama, pemasaran dan pelayanan. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Setiawati dan Paramitha (2010) dengan judul Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha (Studi Kasus Wirausaha Handicraft di Yogyakarta). Pengembangan Usaha yang dilakukan dalam penelitian terdahulu adalah gencar dari segi promosi dan pemasaran, menjalin kerjasama dan hubungan bisnis yang baik dengan sistem kepercayaan, memberikan pelayanan yang terbaik, komunikasi yang baik dengan para supplier dan memperhatikan kualitas barang. Hal diatas juga sesuai dengan yang dikemukan oleh Suryana dan Bayu (2010) dalam pengembangan usaha yaitu pengembangan jaringan produksi, jaringan kerjasama, pemasaran dan pelayanan. Dilihat dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rahmawati (2011) pada perempuan yang dilakukan dibeberapa kabupaten di Jawa Timur menyatakan bahwa pengembangan usaha bagi perempuan di daerah tersebut dengan cara melakukan pengembangan keterampilan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian di atas, terdapat perbedaan pada narasumber penelitian yaitu perempuan sedangkan dalam penelitian ini laki-laki namun dalam cara pengembangan usaha yang dilakukan oleh narasumber sama yaitu adalah dengan selalu mencari peluang yang ada. Perantau Minang memulai usaha, membaca peluang usaha, memiliki modal usaha, memilih lokasi usaha dan melakukan pemasaran dengan media sosial dapat difokuskan kedalam strategi yang dikemukakan Rianse (2011) yaitu memulai usaha, mencari peluang bisnis, modal berwirausaha, strategi komunikasi bisnis dan strategi memilih lokasi.

Keempat. Keberhasilan usaha dari perantau Minang yang berwirausaha di Yogyakarta dalam penelitian ini adalah memiliki investasi dan pengalaman. Ditemukan kemiripan dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2013) dengan judul Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Wirausaha. Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan. Persamaannya seperti motivasi dari diri sendiri dan faktor lingkungan. Perbedaannya tidak semua narasumber dalam penelitian ini yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemudian penelitian selanjutnya berjudul Faktor Determinan Keberhasilan Pedagang Etnis Bugis Dalam Mengembangkan Bisnis yang ditulis oleh Munizu (2010). Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan dengan penelitian ini yaitu keterlibatan secara aktif dalam menjalankan bisnis dan memiliki tujuan, ketahanan, ketekunan, dan optimisme, dan pengorbanan pribadi. Perantau Minang yang berwirausaha memiliki kemampuan dan kemauan, membaca peluang dan tekad kuat serta bekerja keras, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Suryana (2009) yang mengemukakan tiga faktor penyebab keberhasilan seorang wirausaha yaitu: 1) Kemampuan dan kemauan; 2) Tekad yang kuat dan kerja keras; 3) Kesempatan dan peluang. Dan bisa juga difokuskan ke dalam Faktor internal keberhasilan usaha menurut Tambunan (2002) yaitu; kultur/budaya bisnis dan Faktor non pemerintah yaitu; sosio-kultur budaya masyarakat. Menurut Hutagalung dkk (2010) banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha para pengusaha baik yang bersal dari internal maupun eksternal. Faktor internal diantaranya adalah: latar belakang pendidikan, usia, pengalaman dan motivasi. Faktor eksternal diantaranya: lingkungan, peluang, persaingan.

(25)

rugi, percepatan proses produksi dan juga berkaitan dengan hutang. Ditemukan kemiripan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Setiawati dan Paramitha (2010) dengan judul Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha (Studi Kasus Wirausaha Handicraft di Yogyakarta). Hasil dari penelitian tersebut membahas permasalahan yang dihadapi oleh ibu rumah tangga dalam berwirausaha adalah masalah teknis produksi yang belum baik, permasalahan dengan kompetitor dan dihadapi dengan cara mengikuti mode yang berkembang dan selalu menciptakan inovasi dan kreasi baru pada produknya. Kemudian permasalahan terkait dengan hutang dari mengajukan pinjaman. Ditemukan kesamaan masalah yang dihadapi perantau Minang dalam penelitian ini diantaranya percepatan proses produksi, kompetitor dan hutang. Pemahaman akan teknologi dan kesulitan dalam pengelolaan manajemen difokuskan dengan faktor kegagalan yang dikemukakan oleh Astamoen (2005) seperti kurang pandai dalam beberapa hal tertentu karena kurang belajar dan berlatih, kurang pengalaman, kurang cepat bertindak dan perkembangan iptek. Masalah percepatan proses produksi difokuskan ke dalam komitmen pihak lain yang tidak terbukti, Untung-Rugi dapat difokuskan ke dalam resiko kewirausahaan yang dikemukakan oleh Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu pendapatan yang tidak tentu, Membutuhkan waktu lama dan kerja keras pengelolaan manajemen dapat difokuskan kedalam resiko kewirausahaan harus memiliki tanggung jawab penuh. Hutang dapat difokuskan kedalam Resiko kehilangan seluruh investasi atau modal dan Rasa keputusasaan jika hutang tersebut telah menggerogoti usaha yang dijalani. Masalah dalam pengelolaan manajemen bisa juga difokuskan kedalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu: Tidak kompeten dalam manajerial dan kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan. Hutang dapat difokuskan ke dalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal yaitu kurang dapat mengendalikan keuangan. Dan juga dapat difokuskan ke dalam faktor yang menyebabkan wirausaha gagal menurut Zimmerer dan Scarborough (2004) yaitu: Gagal dalam perencanaan. Kurangnya pemahaman akan teknologi dapat difokuskan kedalam ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...