m.k Manajemen Perencanaan Bisnis Perikanan dan Kelautan
RENCANA USAHA PENDEDERAN IKAN LELE
Disusun oleh: Uswatun Khasanah
C14110013
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
RINGKASAN USAHA
CV Centra Clarias Farm merupakan usaha bersama pemuda/i Dukuh Mlangi Desa Tersono, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Ikan lele memiliki potensi usaha yang besar dalam dunia perikanan, baik dilihat dari harga dan permintaan pasarnya. Faktor itulah yang menyebabkan para pemuda/i Dukuh Mlangi, Desa Tersono bergabung dan membentuk usaha ini. Selain itu, perusahaan ini berlokasi di Desa Tersono dan merupakan lokasi yang tepat untuk dijadikan usaha pendederan ikan lele karena ketersediaan air yang melimpah serta berbagai fasilitas yang menunjang jalannya usaha tersebut. Tujuan dari usaha pendederan ikan lele ini adalah memenuhi kebutuhan benih ikan lele di wilayah Batang. Oleh karena itu, produksi pendederan ikan lele ini dilakukan secara intensif pada kolam terpal dengan sistem air hijau. Jumlah produksi ikan lele yang meningkat dari tahun ke tahun menjamin besarnya permintaan benih ikan lele dan keuntungan yang sangat menggiurkan. Di tingkat pembenih, harga jual benih lele ukuran 2-3 cm adalah Rp. 60/ekor dan dalam waktu 4 minggu dapat mencapai ukuran 5-7 cm yang dihargai Rp. 200/ekor.
DESKRIPSI ASPEK-ASPEK BISNIS a. Deskripsi Usaha
CV Centra Clarias Farm merupakan usaha yang bergerak di bidang perikanan dengan aspek utama adalah pendederan ikan lele. Usaha pendederan lele ini menggunakan sistem air hijau pada kolam terpal yang berlokasi di Desa Tersono RT.02/RW.05 Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Hasil produksinya merupakan benih ikan lele berukuran 5-7 cm yang ditujukan untuk para pembudidaya pembesaran ikan lele di Batang dan sekitarnya. Komoditas utama ikan lele yang dibudidayakan adalah ikan lele sangkuriang karena memiliki nilai jual yang tinggi.
Pendederan ikan lele di CV Centra Clarias Farm diawali dengan pembuatan dan persiapan wadah berupa kolam terpal dengan ukuran 2,5 m x 1,5 m x 0,5 m dengan tinggi air 20 cm sehingga volume airnya sebesar 750 liter. Jumlah kolam yang digunakan pada setiap siklusnya adalah 5 buah. Persiapan wadah dilakukan setelah pembuatan kolam terpal, yakni kolam terpal dicuci dari kotoran kemudian dibilas sampai bersih. Setelah bersih dilakukan pengisian air setinggi 20 cm. Selanjutnya ditambahkan pupuk kandang berupa kotoran ayam yang dibungkus dengan plastik yang telah dilubangi dan direndam selama 4-5 hari. Tujuan pemupukan adalah menumbuhkan pakan alami berupa fitoplankton & zooplankton. Dosis pupuk kandang yang digunakan adalah 500 gram/m2. Setelah
pakan alami tumbuh dilakukan penebaran benih ukuran 2-3 cm.
Padat penebaran yang dilakukan pada pembudidayaan yaitu 40 ekor/liter maka pada satu kolam terpal dibutuhkan 30.000 ekor benih ikan lele berukuran 2-3 cm, sehingga dalam 1 kali proses produksinya membutuhkan 150.000 benih ikan lele ukuran 2-3 cm yang didapatkan dari tempat pembenihan lele di sekitar Batang. Benih dengan ukuran 2-3 cm dipelihara dalam kolam terpal selama 4 minggu. Pakan yang diberikan adalah pelet F800 dengan frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 4 kali sehari dengan metode ad satiation (sekenyangnya).
pemeliharaan dilakukan penghitungan populasi dan biomassa total ikan dari tiap kolam. Analisa kualitas air dilakukan setiap hari, parameter yang diukur adalah temperatur dan pH. Panen dilakukan setelah benih berukuran 5-7 cm. Kemudian dilakukan pengemasab dan benih siap di pasarkan.
b. Hierarki CV Clarias Maju Jaya
Direktur Utama : Muhammad Khanif
Manajer Produksi : Nur Rokhman
Manajer Pemasaran dan Keuangan : Nur Khasanah Sekretaris dan Manajer Pakan : Uswatun Khasanah Manajer Kualitas Air dan Kesehatan : Shobirin
Manajer Saprokan : Karyanto
c. Keunikan Produk Atau Pelayanan
Keunikan produk benih ikan lele yang dihasilkan adalah benih ikan ukuran 5-7 cm yang berkualitas dan harga yang ditawarkan sangat bersaing dengan perusahaan lainnya.
ASPEK PEMASARAN
1. Target Pasar : Target pasar dalam usaha pendederan ikan lele ini adalah masyarakat/pembudidaya ikan yang bergerak di bidang usaha pembesaran ikan lele.
2. Segmentasi pasar: meliputi segmentasi geografi (aksestabilitas dalam pemasaran, keberlanjutan), segmentasi demografi (kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi produk perikanan, ketertarikan masyarakat terhadap produk perikanan, masyarakat yang kurang dalam mengkonsumsi produk perikanan), segmentasi psikografi (status sosial masyarakat, kebiasaan atau gaya hidup dalam mengkonsumsi, kegemaran dalam mengkonsumsi) dan segmentasi tingkah laku (pengetahuan, sikap, reaksi terhadap produk baru). 3. Situasi Persaingan: selaku pengusaha yang bergerak di bidang pendederan
ikan lele akan mencari, medapatkan dan mempertahankan konsumen atau pelanggan kami dengan cara memberikan pelayanan yang memadai dan memuaskan serta keberlanjutan dan hubungan yang baik dalam menjalin kerjasama. Faktor kepuasan pelanggan adalah hal yang akan menjadi perhatian besar dari pihak kami demi menjaga konsistensi dan keberlanjutan usaha demi untuk mendapatkan keuntungan bersama.
4. Strategi Penetapan Harga: Penetapan harga dalam usaha pembesaran kerapu ini berdasarkan Market Based Pricing yaitu penentuan harga ditentukan berdasarkan hukum penawaran dan permintaan yang ada di pasar. Hal tersebut berarti kondisi pasar mejadi pedoman dalam penentuan harga.
pasar. Isi informasi yang disajikan, antara lain harga ikan lele, alamat budidaya, keunggulan produk yang dihasilkan, profil usaha, dan jenis ikan lele yang ditawarkan.
PENELITIAN, MODEL DAN PENGEMBANGAN a. Pengembangan dan Rancangan Desain
Usaha ini dapat dikembangkan tidak hanya sebagai usaha dalam peendederan ikan lele, tetapi juga sebagai usaha dalam pembenihan ikan lele. Benih ikan lele yang dihasilkan selain untuk digunakan dalam usaha sendiri juga dijual untuk pengusaha pendederan ikan lele lainnya. Selain itu, pengembangan usaha lainnya adalah produksi pakan sendiri, sehingga mengurangi kebutuhan akan pakan dari penyuplai pakan ikan lele. Kedua hal tersebut akan berpengaruh pada arus kas, yaitu pendapatan meningkat akibat usaha pembenihan dan berkurangnya biaya untuk pembelian pakan.
b. Hasil-Hasil Penelitian Teknologi
Salah satu teknologi yang memberi keuntungan para pembudidaya, misalnya teknologi hibridisasi atau kawin silang spesies ikan yang berbeda dalam satu kerabat (seperti ikan lele sangkuriang yang dihasilkan dari perkawinan ikan lele dumbo dengan lele afrika). Hasil hibridisasi ini diharapkan dapat menghasilkan iken lele yang unggul, yaitu konversi pakan rendah, efisiensi pakan tinggi, pertumbuhan cepat, dan tahan terhadap penyakit.Hasil penelitian lainnya adalah aplikasi teknologi untuk mencegah masuknya penyakit dalam wadah budidaya. Misalnya penerapan biosekuriti dan penggunaan vaksin.
ASPEK PRODUKSI a. Analisis Lokasi
Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk budidaya ikan lele adalah faktor resiko seperti keadaan ketersediaan air, kualitas air, ketersediaan listrik, faktor kenyamanan seperti dekat dengan sarana transportasi serta berbagai sarana dan prasarana yang menunjang dalam proses produksi benih ikan lele. Atas dasar pertimbangan di atas, maka kegiatan budidaya ikan lele di Desa Tersono RT.02/RW05 Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang. Lokasi ini merupakan lokasi yang tepat untuk dijadikan usaha pendederan ikan lele karena ketersediaan air melimpah, kualitas air relatif baik, tersedia listrik, dan dekat dengan sarana transportasi serta berbagai sarana dan prasarana yang menunjang dalam proses produksi benih ikan lele.
Kebutuhan Produksi : Fasilitas Dan Peralatan
b. Penyuplai/Faktor-Faktor Transportasi
Penanganan pascapanen adalah dengan menggunakan transportasi terbuka dengan jerigen air yang telah diberi lubang, maupun transportasi tertutup yang dapat dilakukan dengan menggunakan kantong plastik seperti pada pengangkutan benih. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh dapat digunakan kantong plastik volume 50–100 liter. Suhu media dalam kantong 17–22 C, untuk mengatur suhu air dapat diberi es baik langsung dalam kantong maupun di luar kantong dalam bentuk kepingan es yang telah dibungkus. Untuk ukuran kantong 60 liter dan diisi media air 20 liter, diisi gas oksigen 30 liter dapat mengangkat ikan seberat 4–5 kg selama 4–5 jam.
c. Suplai Tenaga Kerja
Tenaga teknis dalam usaha pendederan lele ini, dalam jangka panjang disajikan pada table 1.
Tabel 1. Pembagian tugas tenaga teknis
No Divisi Tugas
1 Produksi 1. Menyediakan benih
2. Menentukan perencanaan usaha (menyediakan benih, menentukan padat tebar, lama pemeliharaan)
2. Mentritmen ikan yang sakit (jika ada) 3. Melakukan penggantin air
3 Pakan 1. Menghitung kebutuhan pakan
2. Menghitung pakan yang habis perharinya 3. Bertanggung jawab terhadap kesediaan pakan 4 Saprokan
(Sarana produksi perikanan)
1. Menyediakan alat dan bahan 2. Melakukan setting alat
5 Pemasaran 1. Menentukan target dan segmen pasar 2. Mencari konsumen
3. Menentukan stategi penetapan harga 4. Memasarkan hasil panen
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR Persiapan wadah dan pengisian air
Tujuan : Mencegah terjadinya wabah penyakit yang disebabkan bibit penyakit yang terdapat pada wadah
Penanggung jawab : Divisi Produksi
Wadah tempat pendederan ikan lele dibersihkan dan dibilas untuk menghindari kemungkinan penyakit.
Penebaran benih
Tujuan : Mencegah terjadinya kematian benih yang dikarenakan kesalahan prosedur penebaran
Penanggung jawab : Divisi Produksi
Aklimatisasi suhu air wadah benih dilakukan pada saat penebaran benih di kolam. Wadah sementara benih dibersihkan dengan cara dibasuh dengan air untuk menghilangkan debu atau kemungkinan adanya bibit penyakit yang menempel. Aklimatisasi dilakukan dengan cara memasukkan benih (beserta wadah) sampai suhu air dalam wadah dan suhu air kolam setara. Air kolam dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam wadah benih agar kondisi air wadah dan akuarium tidak terlalu berbeda. Selanjutnya benih dikeluarkan dari wadah secara perlahan.
Pengendalian kualitas air
Tujuan : Menjaga kualitas media agar tetap optimal selama pemeliharaan. Penanggung jawab : Divisi Kualitas Air dan Kesehatan
- Suhu
Suhu air dipertahankan pada kisaran 28-30 ° C. Hal ini dilakukan dengan menggunakan heater.
Pengukuran suhu dilakukan setiap pagi hari. - pH
pH air dipertahankan pada kisaran 6,5 – 8,5
Daun ketapang yang direndam digunakan untuk menurunkan pH Tawas digunakan untuk menaikkan kadar pH
Penggantian air sebanyak 5% dilakukan pada sore hari setiap harinya. Pengendalian Penyakit
Tujuan : Menjaga alat, media, dan pakan media agar terhindar dari bibit penyakit. Penanggung jawab : Divisi Kualitas Air dan Kesehatan
Pengendalian penyakit yang dilakukan berupa pencegahan terhadap bibit penyakit a. Alat-alat yang akan dan telah digunakan direndam menggunakan cairan
PK. Setelah direndam, sebelum digunakan, alat-alat produksi dibilas terlebih dahulu menggunakan air bersih.
b. Cacing sutra yang akan diberikan dibersihkan dari kotoran dan direndam menggunakan air kunyit selama beberapa menit untuk mencegah tersebarnya bibit penyakit yang terdapat pada pakan.
Sampling dan sortasi
Tujuan : Mengetahui pertumbuhan ikan dan untuk menghitung jumlah pakan selanjutnya. Sortasi dilakukan untuk mengelompokkan benih ikan sesuai ukuran untuk mencegah kanibalisme.
a. Sampling dilakukan setiap satu minggu sekali sebanyak 30 ekor ikan dari masing-masing kolam untuk diukur panjang dan bobotnya.
ASPEK USAHA a. Struktur Biaya
Biaya yang digunakan meliputi tiga komponen biaya opersional, yaitu biaya investasi, biaya variabel, dan biaya tetap.
Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk memulai suatu usaha yang umumnya digunakan untuk pengadaan sarana berupa bangunan fisik, peralatan proses produksi serta sarana penunjangnya. Bangunan fisik, peralatan produksi dan sarana penunjang lainnya memilliki umur pemakaian lebih dari satu tahun. Umur pemakaian disebut juga umur teknis dan digunakan untuk menentukan biaya penyusutan dari komponen biaya investasi tersebut. Rincian umur teknis, nilai pembelian, nilai sisa, dan nilai penyusutan CV Centra Clarias Farm disajikan pada lampiran 1. Biaya tetap adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan ketika ada atau
tidaknya proses produksi. Biaya tetap tidak akan berubah dengan adanya pertambahan volume produksi. Rincian biaya tetap usaha pendederan ikan lele dapat dilihat pada lampiran 2.
Biaya variabel adalah biaya yang harus dikeluarkan saat produksi berlangsung, apabila tidak melakukan produksi maka biaya ini tidak dikeluarkan. Biaya variabel ikut bertambah ketika volume produksi bertambah, begitu pula sebaliknya. Rincian biaya variabel usaha pendederan ikan lele dapat dilihat pada lampiran 3.
b. Aspek Resiko
Jika diasumsikan waktu pemeliharaan selama 4 Minggu = 30 hari/siklus dengan tingkat kelangsungan hidup (SR) sebesar 60%. Dengan benih awal ukuran 2-3 cm dengan harga pembelian Rp.60/ ekor dan padat tebar 40 ekor/Liter dan volume kolam 750liter/kolam. Dengan target panen adalah benih lele ukuran 5-7 cm dengan harga jual Rp.200/ekor.
Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan total biaya yang dikeluarkan untuk produksi selama satu tahun. Biaya operasional didapatkan dengan menjumlahkan biaya tetap dan biaya produksi.
Biaya operasional = Biaya tetap + Biaya variabel = Rp. 2.273.068 + Rp. 13.925.000 = Rp16.198.068
Penerimaan per Bulan
Penerimaan per bulan merupakan hasil dari suatu kegiatan usaha yang didapatkan dengan cara mengalikan banyaknya produk yang dihasilkan selama satu bulan dengan harga jual per produk.
Penerimaan per tahun = Harga jual x Jumlah produksi 1 bulan = Rp. 200/ekor x (150.000 X 60%) = Rp 18.000.000
Break Event Point (BEP) merupakan keadaan yang didalamnya tidak terjadi adanya keuntungan maupun kerugian. BEP dibagi menjadi 2, yaitu BEP harga produksi dan BEP unit.
BEP Harga =
= Rp. 2.273.068
(1- (Rp 13.925.000/ Rp.18.000.000)) = Rp. 10.040.548
BEP unit =
= Rp. 2.273.068
Rp.200-( Rp 13.925.000/90.000) = 50.203 ekor benih
Keuntungan
Keuntungan atau laba yang didapatkan dari penguraan penerimaan per tahun dengan biaya operasional.
Keuntungan = Penerimaan per bulan – biaya operasional = Rp 18.000.000- Rp 16.198.068
= Rp.1.801.932
Rasio penerimaan dan pengeluaran (R/C Ratio)
R/C ratio merupakan perbandingan penerimaan dan pengeluaran dari kegiatan usaha.
R/C =
= 18.000.000/16.198.068 = 1,11
Berdasarkan nilai R/C ratio dapat disimpulkan bahwa setiap Rp. 1 yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan Rp.1.11. Nilai R/C yang bernilai lebih dari 1 menunjukkan bahwa usaha pendederan ikan lele ini layak untuk diusahakan.
Jangka Waktu Pengembalian Modal (Pay Back Period)
Pay Back Period merupakan jangka waktu tertentu yang digunakan untuk memperoleh kembali seluruh modal yang diinvestasikan dalam suatu usaha.
PP =
= Rp 3.969.500 X 12 bulan Rp. 1.801.932
= 26,43 bulan = 2,20 tahun