Seminar NasionalAGSI Provinsi Lampung 2017 ISBN : 978-979-3262-13-0
MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES ILMIAH PESERTA DIDIK DENGAN PEMBELAJARAN MODEL LEARNING CYCLE DI KELAS XII IPA SMAN 1 WAWAY KARYA
Anis Kurniawan1 1
SMAN 1 Waway Karya
Jl. Raya Ds. Karya Basuki Kec. Waway Karya Lampung Timur
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah dalam melakukan penelitian atau investigasi biologi sederhana. Model siklus belajar terdiri atas empat fase, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi. Subjek yang diteliti adalah 25 peserta didik di kelas XII SMAN 1 Waway Karya TP 2016/2017. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua kali tatap muka dan satu kali review proyek investigasi. Pengukuran keterampilan proses menggunakan instrument lembar observasi. Keterampilan Proses yang diamati meliputi kemampuan merumuskan masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan data/informasi, menganalisis data, menarik kesimpulan dan melaporkan hasil/presentasi. Masing-masing keterampilan proses yang diamati akan di jumlahkan dan dibuat persentase skor keterampilan proses. Hasil dari persentase skor keterampilan proses kemudian dikonversi dalam kriteria keterampilan proses ilmiah yaitu Baik Sekali (BS), Baik (B), Cukup Baik (CB), kurang Baik (KB) dan Tidak Baik (TB). Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle)
dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah peserta didik. Penerapan model pembelajaran siklus belajar (learning cycle) lebih menarik minat peserta didik apabila dalam pembelajaran diimplementasikan metode yang sesuai dengan materi ajar, dalam penelitian ini mengunakan metode direct instruction, simulasi dan
think pair share (TPS).
Kata kunci: Siklus belajar, Keterampilan proses, Inkuiri
I.
PendahuluanKemampuan akademik peserta didik di kelas pada umumnya heterogen, kondisi seperti ini merupakan suatu kesulitan tersendiri bagi seorang guru, terutama dalam pengelolaan kelas. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu mengatasi hal tersebut melalui penentuan dan penerapan suatu metode dengan tepat. Kegiatan pembelajaran kini harus mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada penyesuaian guru terhadap kebutuhan peserta didik, sehingga peserta didik dapat lebih aktif, kreatif dan merasa senang dalam lingkungan belajarnya.
Pembelajaran Biologi mengacu pada pandangan bahwa pengetahuan adalah bentukan sendiri (konstruksi) siswa. Berdasarkan paham konstruktivis, belajar adalah proses mencapai tujuan dalam untuk memperoleh pengetahuan melalui konstruksi sendiri pengertian baru mengenai fenomena yang diamati oleh peserta didik. Pembelajaran berbasis konstruktivisme dapat mengoptimalkan peserta didik menjadi kreatif dan bukan sekedar menerima pengetahuan dari orang lain. Hal ini seperti yang dikemukakan Martin (1997) bahwa kunci dari teori konstruktivisme adalah peserta didik belajar melalui keaktifan untuk membangun pengetahuannya sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang telah dimiliki, dan menggunakan semua pengetahuan atau pengalaman itu untuk bekerja melalui perbedaan-perbedaan yang ada pada pengetahuan baru dan lama untuk mencapai pemahaman baru.
meliputi bertanya, menyarankan penyebab serta memprediksi konsekuensi dan (4) pengembangan sikap positif terhadap sains, sekolah, kelas, guru, dan karir.
Kelas XII merupakan tangga terakhir dimana peserta didik melakukan interaksi pembelajaran di sekolah. Meskipun demikian, peserta didik di SMAN 1 Waway Karya masih awam untuk melakukan penelitian kecil berbasis investigasi individual. Oleh sebab itu, keterampilan proses mereka dalam menerapkan langkah-langkah metode ilmiah dan menemukan pemecahan masalah secara mandiri terindikasi masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari masih sulitnya peserta didik memuat kalimat rumusan masalah, sulit membuat prediksi jawaban dari permasalahan yang dibuat, masih bingung memulai prosedur pengumpulan data karena tidak terbiasa membuat metode penelitian sendiri, hasil dari kesimpulan masih merupakan salinan materi dari buku teks dan bukan merupakan interpretasi data, serta masih sulitnya mengomunikasikan hasil atau ide yang mereka miliki kepada orang lain dalam hal ini guru dan teman sekelas.
Salah satu model pembelajaran yang dianggap sesuai oleh peneliti untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah siklus belajar (learning cycle). Bodner (1986 dalam Sadia, 2008) menjelaskan bahwa model siklus belajar (learning cycle model) merupakan suatu strategi pembelajaran yang berbasis pada paham konstruktivisme dalam belajar, dengan asumsi dasar bahwa “pengetahuan dibangun di dalam pikiran pebelajar”. Sunal (1985 dalam Fuad, 2004) memberikan definisi bahwa siklus belajar merupakan kerangka filosofi dalam pembelajaran IPA berdasarkan atas filosofi konseptual. Filosofi ini menyajikan strategi yang melibatkan pengalaman, penafsiran dan pengembangan model. Suatu siklus belajar adalah cara berpikir atau bertindak yang konsisten dengan bagaimana peserta didik belajar. Model pembelajaran ini secara efektif dapat diterapkan untuk peserta didik pada semua tingkat. Siklus belajar terdiri dari empat fase, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi. Keempat fase tersebut dijelaskan oleh Susanto (1999) sebagai berikut: (1) Eksplorasi merupakan tahap untuk menggali pengetahuan awal peserta didik dengan menyajikan fenomena atau fakta nyata. Peserta didik dirangsang untuk merumuskan masalah yang berkaitan dengan fenomena tadi sesuai konsep mengenai topik yang akan dipelajari. Peserta didik juga diminta untuk mengajukan hipotesis berdasarkan masalah yang dirumuskan; (2) Eksplanasi yaitu tahap dimana peserta didik difasilitasi untuk dapat menjawab masalah yang dirumuskan pada tahap eksplorasi, peserta didik bisa diajak untuk melakukan percobaan, demonstrasi oleh guru, kegiatan simulasi atau dengan metode pembelajaran lain, dengan begitu peserta didik akan mendapatkan informasi atau data yang relevan. Peserta didik diminta untuk menganalisa informasi atau data yang diperoleh serta dibimbing untuk membuat kesimpulan berdasarkan data. Setelah peserta didik mampu membuat kesimpulan, guru membimbing peserta didik untuk berdiskusi untuk mengkomunikasikan hasil dari kegiatan yang diperoleh pada peserta didik atau kelompok lain. Dari diskusi ini, peserta didik kemudian dibimbing agar mampu menemukan konsep sendiri ; (3) Ekspansi, merupakan tahap pengembangan dan aplikasi konsep. Pada tahap ini peserta didik dibantu untuk mengembangkan idenya lebih lanjut melalui aktifitas fisik dan mental tambahan. Guru kemudian membantu peserta didik untuk memperhalus ide-ide dan mengembangkan keterampilan proses ilmiah, mendorong terjadinya komunikasi melalui kerjasama kelompok, dan pengalaman yang lebih mengenai ilmu pengetahuan alam serta teknologi; (4) Evaluasi, merupakan tahap terakhir dalam siklus belajar. Evaluasi merupakan tahap untuk mengevaluasi konsep yang telah diperoleh peserta didik, dengan cara menguji perubahan-perubahan pada peserta didik dan pengamatan keterampilan proses ilmiah. Pada fase ini peserta didik didorong oleh guru untuk tertarik pada ide dan pemikiran temannya.
Purwosari Pasuruan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran siklus belajar dapat meningkatkan kerja ilmiah siswa. Persentase rata-rata kemampuan bekerja ilmiah kelompok pada siklus I masih mencapai 55% dan masuk dalam kriteria cukup (C), kemudian meningkat pada siklus II yang mencapai 86% dengan kriteria baik (B).
II.
Metode PenelitianPenelitian tindakan Kelas (Class Action Research) ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 kali tatap muka dan satu kali review penilitian sederhana yang dilakukan oleh peserta didik. Subjek yang diteliti adalah peserta didik kelas XII IPA 2 SMAN 1 Waway Karya pada semester ganjil TP 2016/2017 yang berjumlah 25 peserta didik (7 laki-laki dan 18 perempuan).
Prosedur penelitian yang dilakukan meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (act), mengamati
(observe) dan refleksi (reflect). Refleksi siklus I merupakan pemecahan masalah yang akan ditindak lanjuti pada perencanaan dan pelaksanaan siklus II. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan integrasi metode pembelajaran yaitu direct instruction atau ceramah, simulasi dan Think-Pair-Share (TPS). Pengintegrasian beberapa metode dalam pembelajaran model siklus belajar adalah dalam rangka upaya peningkatan kualitas pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan proses sebagai akibat adanya kekurangan yang ditemukan setiap akhir siklus penelitian.Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan instrumen berupa Lembar Observasi Pencapaian Keterampilan Proses Ilmiah Peserta Didik. Adapun rubrik penilaian yang digunakan sebagai indikator keterampilan proses ilmiah peserta didik ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Lembar Observasi Keterampilan Proses Ilmiah Peserta Didik
Keterampilan proses Indikator Skor
Melakukan pengamatan/investigasi dengan cara yang salah, data salah
Melakukan pengamatan/investigasi dengan cara yang benar, data salah atau sebaliknya
Bisa menarik kesimpulan, dari hasil analisis data,kesimpulan benar 4
Melaporkan/ presentasi
Tidak bisa membuat laporan/melakukan presentasi
Bisa membuat laporan/melakukan presentasi, sebagian besar isinya salah (≥50%)
Bisa membuat laporan/melakukan presentasi, sebagian kecil isinya salah (< 50%)
Bisa membuat laporan/melakukan presentasi, semua isinya benar1
2
3
4
Diadaptasi dari Azizah (2008)
Data yang diperoleh dari lembar observasi berupa skor dari indikator keterampilan proses ilmiah peserta didik yang muncul pada setiap pertemuan kemudian direduksi pada akhir siklus. Reduksi data kemudian dianalisis untuk memperoleh deskripsi tentang peningkatan keterampilan proses ilmiah peserta didik dengan cara mengubah skor rata-rata keterampilan proses menjadi persentase keterampilan proses dengan rumus:
(Arikunto, 2003)
Keterangan: P = % tingkat keterampilan proses, F = rata-rata skor keterampilan proses dan N = jumlah skor keterampilan proses ideal (total tertinggi). Hasil perhitungan tersebut kemudian dikonversi ke dalam tingkat keterampilan proses (Tabel 2). Keterampilan proses ilmiah peserta didik dikatakan telah meningkat jika target lebih dari 60% dari total peserta didik memiliki kriteria Baik (B).
Tabel 2. Tingkat Keterampilan Proses Ilmiah
Rentang Persentase keterampilan proses Tingkatan keterampilan proses
92-100% 75-91% 50-74% 25-49% 0-24%
Baik sekali (BS) Baik (B)
Cukup baik (CB) Kurang baik (KB) Tidak baik (TB)
Diadaptasi dari Rantaurina (2007)
III.
Hasil dan PembahasanPeningkatan keterampilan proses ilmiah peserta didik juga dapat dilihat dari rata-rata kriteria keterampilan proses ilmiah peserta didik yang semakin meningkat disetiap dari Siklus I dan Siklus II, dengan nilai standar deviasi yang semakin kecil. (Tabel 3). Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Dasna (2007) bahwa pembelajaran dengan model siklus belajar (learning cycle) dapat mengembangkan keterampilan proses peserta didik dan memberi kesempatan kepada mereka melakukan percobaan sains secara langsung dan membuat pembelajaran lebih bermakna.
Tabel 3. Rata-rata Data Pencapaian Keterampilan Proses Ilmiah Peserta Didik
Analisis
Keterampilan Proses Ilmiah (%)
Siklus I Siklus II
P1 Kriteria P2 Kriteria P1 Kriteria P2 Kriteria
Rata rata 62.33 Cukup
Baik 66.83
Cukup
Baik 80.67 Baik 88.17 Baik
Standar deviasi 8.11 7.56 6.46 5.73
Hasil Penelitian juga menunjukkan bahwa 25 peserta didik di kelas XII IPA 2 SMAN 1 Waway Karya dalam mengikuti pembelajaran memiliki tingkat kriteria keterampilan proses ilmiah yang beragam di setiap pertemuan pada siklus I maupun II.
Pada Siklus I rata-rata hanya terdapat 2 kriteria keterampilan proses ilmiah peserta didik, yaitu peserta didik dengan kriteria Cukup baik (CB) dan Baik (B). Peserta didik dengan kriteria baik adalah (B) hanya mencapai 18% sedangkan sebagian besar peserta didik masih memiliki keterampilan proses dengan kriteria Cukup baik (CB) yang cukup tinggi mencapai 82%. Persentase keterampilan proses ilmiah peserta didik pada siklus I dengan kriteria baik (B) belum mencapai 50% dari total keseluruhan peserta didik (100%). Faktor yang menyebabkan masih rendahnya persentase tersebut ditemukan pada saat refleksi siklus I, dari hasil refleksi tersebut ditemukan beberapa faktor penyebab rendahmya persentase keterampilan proses peserta didik dengan kriteria baik (B) pada siklus I.
Banyak peserta didik yang belum terlibat aktif dalam setiap tahapan pembelajara merupakan faktor pertama. Penerapan langkah-langkah pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) telah 100% dilaksanakan oleh guru tapi tanggapan dari pihak peserta didik mengenai penerapan model pembelajaran ini masih rendah, karena mereka belum pernah melaksanakan tahapan-tahapan pembelajaran model siklus belajar sebelumnya sehingga jumlah peserta didik yang terlibat aktif dalam setiap tahapan pembelajaran masih rendah. Seperti yang dikemukakan Iwan (2008) yang menyatakan bahwa inkuiri dalam pembelajaran menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran peserta didik lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam pemecahan masalah. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan inkuiri mensyaratkan keterlibatan peserta didik. Kurangnya keterlibatan aktif peserta didik pada setiap tahapan pembelajaran menyebabkan pengalaman belajar yang seharusnya dilaksanakan oleh peserta didik untuk memahami fenomena melalui serangkaian tahapan keterampilan proses tidak dapat diperoleh.
Kurangnya keterlibatan aktif peserta didik secara keseluruhan dalam tahapan pembelajaran ditunjukkan oleh faktabahwa 72% memiliki skor 4 dan sebagian kecil peserta didik masih kesulitan dalam hal menyusun sebuah rumusan masalah yang berawal dari sebuah fenomena yang diberikan kepada mereka. Holil (2008) menjelaskan bahwa terdapat kemampuan dan komponen-komponen fundamental yang harus dimiliki peserta didik dalam keterampilan proses ilmiah, salah satunya mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab melalui penyelidikan ilmiah dalam hal ini peserta didik seharusnya mengembangkan untuk lebih menajamkan dan memfokuskan pertanyaan ke arah objek-objek atau gejala-gejala yang dapat dideskripsikan, dijelaskan atau diramalkan.
menyimpulkan materi pembelajaran bukan dari hasil analisis datanya sendiri hal ini dapat dilihat dari temuan penelitian bahwa peserta didik langsung menyalin konsep-konsep dari buku referensi yang mereka miliki. Masih banyak peserta didik yang cenderung malu dan takut untuk berbicara dalam hal melaporkan atau mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, hal ini sejalan dengan data pengamatan yang menunjukkan bahwa hanya 42% peserta didik yang berani melakukan presentasi dan cenderung peserta didik yang sama pada setiap pertemuan sehingga tidak merata. Kegiatan ini belum dapat dimanfaatkan oleh peserta didik untuk mengkomunikasikan hasil analisis data, menyampaikan pertanyaan ataupun berargumen berdasarkan data dan teori.
Faktor kedua adalah belum maksimalnya pembelajaran learning cycle oleh guru. Walaupun guru telah 100% melaksanakan tahapan-tahapan learning cycle dalam pembelajaran, tetapi juga terdapat kekurangan pada guru yang memungkinkan menjadi penyebab rendahnya persentase keterampilan proses ilmiah peserta didik dengan kriteria baik (B) pada siklus I yaitu: 1) kurang tegas pada peserta didik-peserta didik yang sering membuat gaduh di kelas saat pembelajaran berlangsung; 2) beberapa pertanyaan yang direncanakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), tidak dapat diaplikasikan guru secara keseluruhan; dan 3) terlalu lama membiarkan peserta didik berdiskusi kelas tanpa memberikan stimulus solusi pemecahan masalah yang diperdebatkan oleh peserta didik, sehingga waktu banyak terbuang. Retnaningati dkk. (2014) memberikan pendapat bahwa model pembelajaran yang diterapkan bukanlah satu-satunya faktor yang harus diperbaiki dalam proses belajar mengajar. Faktor pendukung lain yang sangat penting adalah kemampuan guru untuk merancang dan mengatur skenario pembelajaran. Kemampuan untuk mengawali kelas, menarik fokus peserta didik, memberikan motivasi, mengatur pembagian waktu antar kegiatan, kecermatan guru dalam mengawal kegiatan, dan mengawasi kedisiplinan peserta didik dengan punish and reward berupa kritik dan pujian, merupakan hal-hal yang harus diperhatikan.
Sejalan dengan penjelasan tersebut Holil (2008) menambahkan bahwa dalam proses belajar peserta didik seharusnya mendapat bantuan dan bimbingan guru agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan maupun tujuan pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik. Straits dan Wilke dalam Ibrahim (2007) memberi keterangan bahwa meskipun sudah cukup bukti-bukti yang menunjukkan keunggulan pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan inkuiri, dewasa ini masih banyak guru dan dosen yang merasa keberatan atau tidak mau menerapkannya. Kebanyakan guru dan dosen masih tetap bertahan pada strategi pembelajaran tradisional, karena menganggap inkuiri sulit diterapkan.
Meskipun ada kekurangan dari guru dalam melaksanakan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) dengan pendekatan inkuiri terbimbing dengan metode direct instruction pada siklus I, tetapi juga terdapat kelebihan yang tetap dipertahankan pada siklus II, diantaranya adalah: (1) pelaksanaan tahapan-tahapan siklus belajar di kelas dirasakan menarik dan peserta didik sangat antusias mengikuti proses pembelajaran karena pembelajaran model siklus belajar belum pernah dilaksanakan di kelas yang menjadi subjek penelitian, sehingga peserta didik yang sebelumnya tidak terlalu tertarik dengan pelajaran biologi, sekarang mulai tertarik, bahkan ada yang aktif pada saat pengumpulan data sampai pada saat diskusi kelas berlangsung; (2) pelaksanaan tahapan siklus belajar yang dilaksanakan oleh peneliti (sebagai guru) telah sesuai dengan RPP yang telah disiapkan. Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa tidak terdapat (0%) peserta didik yang memiliki keterampilan proses ilmiah dengan kriteria Tidak Baik (TB) dan Kurang Baik (KB).
Peserta didik telah terbiasa dengan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) yang telah dilaksanakan pada siklus I sehingga banyak peserta didik yang ikut terlibat aktif dalam setiap tahapan pembelajaran pada siklus II, dampak dari hal tersebut adalah meningkatnya keterampilan proses ilmiah peserta didik. Keterlibatan aktif peserta didik ini mengakibatkan semua pengalaman belajar dalam keterampilan proses ilmiah dapat dilaksanakan peserta didik secara utuh, runtut dan sistematis melalui tahapan dalam pembelajaran learning cycle.
Paparan data siklus II menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu merumuskan masalah dengan baik, hal ini sesuai dengan fakta bahwa 86% peserta didik telah memiliki skor 4 dalam lembar observasi meningkat 14% dari siklus I. Jawaban sementara yang diajukan juga semakin baik mengalami peningkatan yaitu sebanyak 86% mampu membuat hipotesis dengan benar (skor 4) meningkat 26% dari siklus I. prosedur kerja yang disusun telah sistematis sehingga peserta didik sudah mampu dengan percaya diri mengumpulkan data dari hasil pengamatannya sendiri, hal ini sesuai dengan data penelitian sebanyak 84% peserta didik telah mampu mengumpulkan data dengan benar meningkat sangat signifikan dari siklus I. Keterampilan peserta didik dalam hal melakukan analisis data juga cenderung meningkat, ini dapat diketahui dari peningkatan jumlah peserta didik yang mampu melakukan analisi data dengan benar dan sesuai pada siklus II sebesar 81% meningkat 23% dari Siklus I. Kesimpulan yang dibuat oleh peserta didik pada siklus II juga mengalami peningkatan yaitu sebanyak 86% (meningkat 25% dari siklus I) peserta didik telah mampu menyimpulkan hasil analisis data dengan benar sesuai dengan analisis datanya. Penguasaan peserta didik tentang konsep dari penelitian sederhana yang dilakukan secara mandiri serta tahapan Pair pada integrasi Think-Pair-Share (TPS) pada model learning cycle ternyata menambah keberanian mereka untuk mengomunikasikan hasil penelitian sederhana mereka melalui presentasi di depan kelas, temuan penelitian menunjukkan bahwa 76% peserta didik telah mampu melakukan presentasi dengan benar, meningkat 34% dari siklus I yang hanya mencapai 42%.
Pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) peserta didik belajar sebagai suatu kesatuan pelaku, proses sikap dan teknologi, dalam konteks sebagai pelaku, peserta didik aktif mempelajari fakta, prinsip, hukum, dan teori yang ada di dalamnya, dalam konteks sebagai proses, peserta didik belajar bagaimana cara memperoleh pengetahuan secara mandiri. Peserta didik juga belajar bagaimana seorang ilmuan bersikap yaitu tekun, terbuka, jujur, objektif dan saling menghargai. Pengalaman belajar yang dialami peserta didik juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dalam lingkungan peserta didik. Hal tersebut juga dikatakan Evans dalam Nuryani (2005) memberikan keterangan bahwa sains mengandung empat hal yaitu konten atau pelaku, proses atau metode, sikap dan teknologi. Siklus belajar dengan integrasi metode Think-Pairs-Share (TPS) menurut Parlina (2010) akan dapat meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas. Karena siswa akan berdiskusi dengan pasanganya (pairs) untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, kemudian siswa juga berbagi (share) kepada teman-teman sekelasnya dengan mempresentasikan hasil diskusinya dengan pasangannya. Selain itu dengan penerapan metode ini siswa akan lebih menguasai materi, karena siswa harus berpikir (think) untuk menyelesaikan masalah yang ditugaskan kepadanya. Beberapa dampak positif metode ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas peserta didik. Penerapan metode Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu tindakan memperbaiki proses pembelajaran. Brunner dalam Winkle (1996) melengkapi bahwa cara belajar dengan menemukan sendiri sesuai dengan hakikat manusia sebagai seorang yang mencari-cari secara aktif dan menghasilkan pengetahuan dan pemahaman yang sungguh-sungguh bermakna. Kelebihan dari cara belajar ini ialah hasilnya lebih berakar dan mengendap dari pada cara belajar yang lain.
pengetahuan awal (prakonsep) tentang konsep yang sedang dipelajari bergerak ke arah penguasaan konsep yaesng lebih dalam atau ke pemahaman konsep yang benar bila prakonsepnya kurang benar (miskonsepsi) atau pengalaman belajar bergerak dari pengalaman pribadi ke prinsip sains. Ketiga, alur pembelajaran juga dapat bergerak dari penguasaan prinsip sains ke penerapan. Keempat, pengajaran dapat berawal dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari berjalan ke pengalaman baru.
IV.
SIMPULANBerdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Setiap peserta didik telah memiliki keterampilan proses ilmiah dengan kriteria Cukup Baik (CB) sebelum dilakukan tindakan, hal ini dapat diketahui dari Siklus I dimana tidak ada (0%) peserta didik yang masuk dalam kriteria keterampilan proses Tidak Baik (TB) dan Kurang Baik (KB); (2)Penerapan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah siswa di kelas XII IPA 2 SMAN 1 Waway Karya, hal ini didasarkan pada meningkatnya rata-rata jumlah siswa yang memiliki keterampilan proses dengan kriteria baik (B) dari siklus I ke siklus II, dimana pada siklus I sebanyak 18% dan pada siklus II 72% . (3) Peningkatan tersebut juga dapat dilihat disetiap aspek keterampilan proses ilmiah yang diamati, dimana semua aspek mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
Azizah, Kurrotun N. 2008. Penerapan Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri dengan Model Learning Cycle untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 MA Al-Ittihad Poncokusumo Malang. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Dasna, I wayan. 2004. Penerapan Model Learning Cycle Melalui Pengembangan Bahan Ajar. Malang: Dirjen Dikti Depdiknas dan JICA-IMSTEP
Fajaroh, Faizatul, Dasna, I wayan. 2007. Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle),
(Online) (http://lubisgrafura.wordpress.com/, diakses 30 Oktober 2016)
Fuad, M. 2004. Penerapan Metode Discoveri-inkuiri melalui Siklus Belajar pada Pembelajaran IPA-Biologi untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa Kelas XI IPA 2 MAN 3 Malang. Skripsi Tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Holil, Anwar. 1995. Menjadi Manusia Pembelajar, (Online)
(http://anwarholil.blogspot.com/2009/05/permudah-pemahaman-konsep-pembelajaran.html,
diakses 30 Oktober 2016)
Ibrahim, Muslimin. 2007. Pembelajaran Inkuiri, (Online) (http://kpicenter.org/ index.php? option=com_content&task=view&itemid=1, diakses 9 Nopember 2016)
Martin. 1997. Teaching Science for All Children. Massachussetts: A Vicom Company
Nurhadi, Yasin B., Senduk. A.G. 2004. Pembelajaran Konstektual dan Penerapanya Dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang
Nuryani. 2005. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Malang: UM Press
cawas Kabupaten klaten, Skripsi (http://eprints.uns.ac.id/6216/1/138981008201010361.pdf, diakses 24 Februari 2017)
Patmawati. 2006. Penerapan Model Inkuiri Dengan Siklus Belajar Dalam Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kemampuan Bekerja Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-7 SMAN 2 Malang. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Rantaurina, Devita. 2007. Penerapan Pembelajaran Fisika Metode Inkuiri Terbimbing dengan Model Siklus Belajar Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Bekerja Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-7 SMAN 2 Malang. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Retnaningati D., Maridi, Sugiharto B. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Siklus Belajar (Learning Cycle) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X-2 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011. Jurnal BIO-PEDAGOGI Oktober 2014 Volume 2, Nomor 2 Halaman 53-60, ISSN: 2252-6897
Sadia, I wayan. 2008. Model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis (suatu persepsi guru). Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXXI April 2008, ISSN: 0215-8250
Susanto, Pudyo. 1999. Strategi Pembelajaran Biologi Disekolah Menengah. Malang: UM press
Winkle, W.S.1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Wulaningsih, Ucik. 2006. Pembelajaran Menggunakan Siklus Belajar Dengan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Siswa Pada Pelajaran Biologi Kelas VII-A SMPN 1 Purwosari Pasuruan. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang