STRUKTUR KOMUNITAS ORGANISME AKUATIK PADA EKOSISTEM
Struktur komunitas merupakan suatu konsep yang mempelajari sususan atau komposisi spesies dan kelimpahannya dalam suatu komunitas. Struktur komunitas berkaitan erat dengan habitat serta parameter kimia dan fisikanya, maka dari itu struktur komunitas plankton, perifiton, dan benthos yang ditemukan di perairan menggenang, mengalir, dan estuari berbeda. Struktur komunitas diamati dengan menghitung indeks nilai keanekargaman, keseragaman, dan dominansinya. Di perairan menggenang struktur komunitas perifiton lebih rendah dari pada komunitas plankton, sedangkan untuk perairan mengalir struktur komunitas perifiton lebih besar kecuali di perairan mengalir yang keruh. Data yang diperoleh dari analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai indeks keanekaragaman dari organisme plankton, perifiton, dan benthos di perairan menggenang, mengalir, dan estuari menunjukkan angka yang cenderung tinggi. Rata-rata nilai indeks keseragaman dari masing-masing organisme di setiap perairan cenderung mendekati 1 atau lebih dari 1 sehingga tingkat keseragamannya tinggi dan dominansinya cenderung rendah.
Kata kunci: struktur komunitas, keanekaragaman, keseragaman, dominansi
Abstract
Comunnity structure is a concept or species composition and the abundance of the community. Community structure is closely related to eviroment and its physical and chemicals parameters. Therefore, the community structure of plankton, peryphyton and benthos which found in stagnant watesr, flow waters, and estuary ecology is different. Community structure observed by calculatingindex of diversity, index of uniformity,and index of dominance. Community structure of peryphyton in stagnant waters is lower than plankton community, meanwhile in flowing waters the community of plankton is higher except in murky flowing waters. Data obtained from analysis data shows the average index of diversity value of plankton, peryphyton, and benthos tend to be high. The average data of index value uniformity of each organism is any waters tend to approach 1 or more than 1, therefore the dominance of every organism tend to be low.
Key word:community structure, diversity, uniforminty, dominance
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
kehidupan komunitas tumbuhan dan hewan yang menghuninya (Rachmawati 2012).
Komunitas menurut Utami (2014) merupakan kumpulan populasi yang hidup di suatu lingkungan tertentu, saling berinteraksi dan bersama – sama membentuk tingkat trofiknya. Interaksi dalam komunitas menurut Utami (2014) membentuk organisasi yang menghasilkan pola-pola atau struktur komunitas. Struktur komunitas merupakan suatu konsep yang mempelajari sususan atau komposisi spesies dan kelimpahannya dalam suatu komunitas (Duwiri 2010). Struktur komunitas di suatu perairan menurut Utami (2014) dapat ditentukan oleh kondisi lingkungan dan ketersedian makanan. Struktur komunitas dapat dipelajari berdasarkankomposisi, ukuran, dan keragaman spesies (Masitho 2012). Struktur komunitas berkaitan erat dengan habitat, maka dari itu struktur komunitas plankton, perifiton, dan benthos yang ditemukan di perairan menggenang, mengalir, dan estuari berbeda. Jumlah perifiton di perairan menggenang menurut Arman (2007) lebih rendah dari fitoplankton, sedangkan untuk perairan mengalir peranan prifiton lebih besar kecuali diperairan yang keruh.
TUJUAN
Praktikum struktur komunitas bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas pada ekosistem perairan menggenang, ekosistem perairan menalir, dan ekosistem estuari.
METODOLOGI
PENGUMPULAN DATA
Data yang digunakan pada praktikum struktur komunitas perairan menggenang merupakan data gabungan antara MSP dan THP yang dilakuka di Situ Gede, Bogor Jawa Barat. Data yang digunakan pada praktikum struktur komunitas perairan mengalir merupakan data primer yang diambil di Sungai Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Data yang digunakan untuk struktur komunitas estuari merupakan data primer yang diambil di Blanakan, Subang, Jawa Barat.
ANALISIS DATA
Data yang dihitung dan ditabulasikan merupakan data keseragaman, indeks keragaman, indeks keanekaragaman, dan indeks dominansi. Data struktur komunitas perairan menggenang inlet, midlet, dan outlet merupakan data gabungan antara MSP dan THP, sementara data perairan mengalir dan perairan estuari merupakan data primer. Analisis komunitas fitoplankton dilakukan dengan menggunakan indeks biologi yang meliputi indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi (Abida 2010).
1. Indeks Keanekaragaman Shannon (H’) a. Plakton (Fitoplankton dan Zooplankton)
�
′= − ∑ � ln �
��=
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner Pi = ��
�
ni = Jumlah individu dari jenis ke-i N = Jumlah total individu
b. Perifiton (Fitoperifiton dan Zooperifiton)
Keanekaragaman fitoperifiton dan zooperifiton dihitung berdasarkan indeks Shannon-Wienner
�
′= − ∑ � ln �
��=
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner Pi = ��
�
ni = Jumlah individu dari jenis ke-i N = Jumlah total individu
c. Benthos
Keanekaragaman Makrozoobenhos dihitung berdasarkan indeks Shannon-Wienner
�
′= − , ∑ � log �
��=
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner Pi = ��
�
ni = Jumlah individu dari jenis ke-i S = Jumlah taksa
2. Indeks Keseragaman
jumlah individu antara spesies dalam suatu komunitas ikan (Hermanto 2013). Untuk menganalisis indeks keseragaman digunakan rumus indeks keseragaman jenis Shannon.
a. Plakton (Fitoplankton dan Zooplankton)
= ln � = �′ , �′ln �
E = Indeks keseragaman
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner S = Jumlah taksa
d. Perifiton (Fitoperifiton dan Zooperifiton)
Keseragaman fitoperifiton dan zooperifiton dihitung berdasarkan indeks keseragaman
=
ln �
�
′
E = Indeks keseragaman
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner S = Jumlah taksa
e. Benthos
Keseragaman Makrozoobenhos dihitung berdasarkan indeks keseragaman
=
� � � =
�
′
, log �
�
′
E = Indeks keseragaman
H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner S = Jumlah taksa
3. Indeks Dominansi
Indeks dominansi merupakan tingkat seberapa banyak suatu organisme yang mendominasi secara ekstrim organisme lain dalam suatu ekosistem.
= ∑ �
��= C = Indeks dominansi
Pi = �� �
S = Jumlah taksa
HASIL
Hasil yang didapat dari sampling parameter biologi di lapang pada perairan menggenang, perairan mengalir, dan perairan estuari dan hasil
keseragaman (E), dan dominansi (D). Parameter biologi yang diidentifikasi adalah plankton, perifiton, dan benthos.
Tabel 1 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi fitoplankton di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet.
Tabel 1 Indeks Nilai Fitoplankton pada Perairan Menggenang
INLET TENGAH OUTLET
INDEKS KEANEKARAGAMAN
(H’) 2.3555 2.7456 2.6808
INDEKS
KESERAGAMAN (E) 0.7412 0.7171 0.7370
INDEKS DOMINANSI (D)
0.1445 0.1209 0.1187
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman fitoplankton pada perairan menggenang, indeks nilai keanekaragaman paling tinggi adalah bagian tengah sebesar 2.7456, indeks nilai keseragaman fitoplankton paling tinggi adalah dibagian inlet sebesar 0.1445, dan indeks nilai dominansi tertinggi dibagian inlet
sebesar 0.1445.
Tabel 2 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi zooplankton di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet.
Tabel 2 Indeks Nilai Zooplankton pada Perairan Menggenang
INLET TENGAH OUTLET
INDEKS KEANEKARAGAMAN
(H’) 1.8094 2.1761 2.2935
INDEKS
KESERAGAMAN (E) 0.7282 0.7849 0.7789
INDEKS DOMINANSI (D)
0.2400 0.4303 0.1553
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman zooplankton pada perairan menggenang, indeks nilai keanekaragaman paling tinggi adalah bagian
outlet sebesar 2.2935, indeks nilai keseragaman zooplankton paling tinggi adalah dibagian tengah sebesar 0.784, dan indeks nilai dominansi tertinggi dibagian tengah sebesar 0.4303.
Tabel 3 Indeks Nilai Fitoperifiton pada Perairan Menggenang
KESERAGAMAN (E) 0.1450 0.0769 0.0930
INDEKS DOMINANSI (D)
0.1709 0.0964 0.0577
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman fitoperifiton pada perairan menggenang, indeks nilai keanekaragaman paling tinggi adalah bagian
outlet sebesar 3.1608, indeks nilai keseragaman fitoperifiton paling tinggi adalah dibagian inlet sebesar 0.1450, dan indeks nilai dominansi tertinggi dibagian inlet
sebesar 0.1709.
Tabel 4 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi zooperifiton di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet.
Tabel 4 Indeks Nilai Zooperiftion pada Perairan Menggenang
INLET TENGAH OUTLET
INDEKS KEANEKARAGAMAN
(H’) 1.6827 0.5623 0.9371
INDEKS
KESERAGAMAN (E) 0.7658 0.8112 0.6760
INDEKS DOMINANSI (D)
0.2881 0.6250 0.5147
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman zooperifiton pada perairan menggenang, indeks nilai keanekaragaman paling tinggi adalah bagian
inlet sebesar 1.6827, indeks nilai keseragaman zooperifiton paling tinggi adalah dibagian tengah sebesar 0.8112, dan indeks nilai dominansi tertinggi dibagian tengahsebesar 0.6250.
Tabel 5 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi benthos di perairan menggenang pada bagian
inlet, tengah, dan outlet.
Tabel 5 Indeks Nilai Bentos pada Perairan Menggenang
INLET TENGAH OUTLET
INDEKS KEANEKARAGAMAN
(H’) 0.8097 0.8697 0.8240
INDEKS
KESERAGAMAN (E) 0.8485 0.8697 0.7397
INDEKS DOMINANSI (D)
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman benthos pada perairan menggenang, indeks nilai keanekaragaman paling tinggi adalah bagian tengah sebesar 0.8697, indeks nilai keseragaman benthos paling tinggi adalah dibagian tengah sebesar 0.8697, dan indeks nilai dominansi tertinggi dibagian
inlet sebesar 0.1856.
Tabel 6 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi benthos di perairan mengalir Sungai Ciapus yang dianalisis oleh MSP dan sungai Cihideung yang dianalisis oleh THP.
Tabel 6 Indeks Nilai Bentos pada Perairan Mengalir
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 1.1305 1,5454
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.3064 0,8763
INDEKS DOMINANSI (D) 0.1204 0,0411
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman benthos pada perairan mengalir lebih tinggi pada Sungai Cihideung sebesar 1.5454, indeks keseragaman benthos lebih tinggi pada Sungai Cihideung sebesar 0.8763, dan indeks dominansi lebih tinggi pada Sungai Ciapus sebesar 0.1204.
Tabel 7 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi fitoperifiton di perairan mengalir Sungai Ciapus yang dianalisis oleh MSP dan sungai Cihideung yang dianalisis oleh THP. Tabel 7 Indeks Nilai Fitoperifiton pada Perairan Mengalir
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 2.3441 2,018
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.7194 0,537
INDEKS DOMINANSI (D) 0.1699 0.2546
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman fitoperifiton pada perairan mengalir lebih tinggi pada Sungai Ciapus sebesar 2.3441, indeks keseragaman fitoperifiton lebih tinggi pada Sungai Ciapus sebesar 0.7149, dan indeks dominansi lebih tinggi pada Sungai Cihideung sebesar 0.2546.
Tabel 8 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi zooperifiton di perairan mengalir Sungai Ciapus yang dianalisis oleh MSP dan sungai Cihideung yang dianalisis oleh THP. Tabel 8 Indeks Nilai Zooperifiton pada Perairan Mengalir
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 2.3511 1,7400
INDEKS KESERAGAMAN
INDEKS DOMINANSI (D) 0.1080 0,2440
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman zooperifiton pada perairan mengalir lebih tinggi pada Sungai Ciapus sebesar 2.3511, indeks keseragaman zooperifiton lebih tinggi pada Sungai Ciapus sebesar 0.9461, dan indeks dominansi lebih tinggi pada Sungai Cihideung sebesar 0.2440.
Tabel 9 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi benthos di perairan estuari Blanakan, Subang. Petak 1 dianalisis oleh MSP dan petak 2 dianalisis oleh THP.
Tabel 9 Indeks Nilai Benthos pada Estuari
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 0.2281 0,6987
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.3264 0,8979
INDEKS DOMINANSI (D) 0.7820 0,2188
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman benthos pada perairan estuari lebih tinggi pada petak 2 sebesar 0.6987, indeks keseragaman benthos lebih tinggi pada petak 2 sebesar 0.8979, dan indeks dominansi lebih tinggi pada petak 1 sebesar 0.7820.
Tabel 10 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi fitoperifiton di perairan estuari Blanakan, Subang. Petak 1 dianalisis oleh MSP dan petak 2 dianalisis oleh THP.
Tabel 10 Indeks Nilai Fitoperifiton pada Estuari
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 1.7510 2,4412
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.5845 0,6760
INDEKS DOMINANSI (D) 0.2850 0,1388
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman fitoperifiton pada perairan estuari lebih tinggi pada petak 2 sebesar 2.4412, indeks keseragaman fitoperifiton lebih tinggi pada petak 2 sebesar 0.6760, dan indeks dominansi lebih tinggi pada petak 1 sebesar 0.2850.
Tabel 11 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi zooplerifiton di perairan estuari Blanakan, Subang. Petak 1 dianalisis oleh MSP dan petak 2 dianalisis oleh THP.
Tabel 11 Indeks Nilai Zooperifiton pada Estuari
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 2.3627 0
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.9212 0
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman zooperifiton pada perairan estuari lebih tinggi pada petak 1 sebesar 2.3627, indeks keseragaman zooperifiton lebih tinggi pada petak 1 sebesar 0.9212, dan indeks dominansi lebih tinggi pada petak 2 sebesar 1.
Tabel 12 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi fitoplankton di perairan estuari Blanakan, Subang. Petak 1 dianalisis oleh MSP dan petak 2 dianalisis oleh THP.
Tabel 12 Indeks Nilai Fitoplankton pada Estuari
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 2. 5644 1,9374
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.7871 0,6179
INDEKS DOMINANSI (D) 0.1251 0,2457
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman fitoplankton pada perairan estuari lebih tinggi pada petak 1 sebesar 2.5644, indeks keseragaman fitoplankton lebih tinggi pada petak 1 sebesar 0.7871, dan indeks dominansi lebih tinggi pada petak 2 sebesar 0.2457.
Tabel 13 berikut merupakan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi zooplankton di perairan estuari Blanakan, Subang. Petak 1 dianalisis oleh MSP dan petak 2 dianalisis oleh THP.
Tabel 13 Indeks Nilai Zooplankton pada Estuari
MSP THP
INDEKS
KEANEKARAGAMAN (H’) 2.4984 0
INDEKS KESERAGAMAN
(E) 0.7761 0
INDEKS DOMINANSI (D) 0.1629 1
Berdasarkan tabel diatas indeks nilai keanekaragaman zooplankton pada perairan estuari lebih tinggi pada petak 1 sebesar 2.4984, indeks keseragaman zooplankton lebih tinggi pada petak 1 sebesar 0.7761, dan indeks dominansi lebih tinggi pada petak 2 sebesar 1.
PEMBAHASAN
H’ < 6.9078 sebagai keanekaragaman sedang dan kestabilan komunitas sedang, dan H’ > 6.9078 sebagai keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi.
Berdasarkan data yang diperoleh, maka indeks keanekaragaman fitoplankton di bagian inlet, tengah, dan outlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang sedang dengan kestabilan komunitas sedang.. Indeks keanekaragaman zooplankton di bagian inlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang kecil dengan kestabilan komunitas rendah, sementara nilai indeks keanekaragaman zooplankton dibagian tengah dan outlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang sedang dengan kestabilan komunitas sedang. Organisme zooplankton yang mendominasi di perairan menggenang Situ Gede, Bogor adalah Diaptomus. Perairan Situ Gede, Bogor sangat subur diduga karena banyaknya unsur hara, cahaya yang cukup dan suhu yang memadai untuk fitoplankton hidup dan berkembang biak. Hal ini sesuai dengan pendapat Hidayah
et al. (2014) yaitu kehidupan fitoplankton dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan unsur hara, cahaya matahari, dan suhu. Hal tersebut menyebabkan keanekaragaman fitoplankton di Situ Gede, Bogor lebih banyak dibandingkan dengan zooplankton.
Berdasarkan data yang diperoleh, maka indeks keanekaragaman fitoplankton di perairan estuari Blanakan, Subang petak 1 lebih besar daripada petak 2, sementara indeks keanekaragaman zooplankton di Petak 1 lebih besar daripada petak 2. Menurut Pranoto et al. (2005) kelimpahan zooplankton Sangat dipengaruhi oleh kelimpahan fitoplankton, zooplankton adalah pemakan fitoplankton sehingga kelimpahan fitoplankton yang cukup tinggi akan memberikan kesempatan bagi zooplankton untuk mendapatkan makanan yang cukup.
Berdasarkan data yang diperoleh, Indeks keanekaragaman fitoperifiton di bagian inlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang kecil dengan kestabilan komunitas rendah, sementara nilai indeks keanekaragaman fitoperifiton dibagian tengah dan outlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang sedang dengan kestabilan komunitas sedang. Berdasarkan data yang diperoleh, Indeks keanekaragaman zooperifiton di bagian inlet, tengah, dan outlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang kecil dengan kestabilan komunitas rendah. Faktor dasar yang mengontrol pertumbuhan fitoperifiton menurut Angelina (2010) adalah suhu, cahaya, ketersediaan makro-mikronutrien dan substrat dan ada daerah yang dalam biasanya cahaya menjadi faktor pembatas pertumbuhan perifiton. Mengacu pada Angelina (2010), keanekaragaman fitoperiton dan zooperifiton terendah berada pada bagian tengah, karena bagian tengah Situ Gede memiliki kedalaman yang lebih dalam dari bagian outlet dan inlet nya maka dari itu cahaya membatasi pertumbuhan dari fitoperifiton dan zoo perifiton.
keanekaragaman fitoperifiton di perairan estuari Blanakan, Subang petak 2 lebih besar daripada petak 1, sementara indeks keanekaragaman zooperifiton di Petak 1 lebih besar daripada petak 2.
Berdasarkan data yang diperoleh, Indeks keanekaragaman benthos di bagian inlet, tengah, dan outlet dapat dikatakan sebagai keanekaragaman yang kecil dengan kestabilan komunitas rendah, namun diantara ketiganya nilai kenekaragaman yang paling tinggi terletak pada bagian tengah. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai indeks keanekaragaman benthos di Sungai Cihideung lebih besar daripada Sungai Ciapus. Berdasarkan data yang diperoleh, maka indeks keanekaragaman benthos di perairan estuari Blanakan, Subang petak 2 lebih besar daripada petak 1, sementara indeks keanekaragaman benthos di Petak 1 lebih besar daripada petak 2. Sebagian besar komunitas makrozoobentos yang ditemukan di perairan lentik menurut Oktarina dan Syamsudin (2015) dijumpai pada kondisi lingkungan dengan pH, suhu air, oksigen terlarut dan TSS yang tinggi.
Keseragaman adalah komposisi individu tiap genus yang terdapat dalam suatu komunitas. Indeks keseragaman digunakan untuk mengetahui berapa besar kesamaan penyebaran jumlah individu dalam suatu komunitas (Wijaya 2009). Indeks keseragaman (E) menurut Wijaya (2009) berkisar 0-1. Bila nilai mendekati 0 berarti keseragaman rendah karena adanya jenis yang mendominasi, dan bila mendekati 1 keseragaman tinggi yang menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi. Indeks keseragaman dan indeks dominansi berbanding terbalik, saat nilai indeks keseragaman tinggi maka nilai indeks dominansi akan menurun, dan sebaliknya. Nilai indeks dominansi yang rendah menyatakan konsentrasi yang rendah atau tidak ada organisme yang mendominansi. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas dalam keadaan stabil. Sebaliknya, jika indeks nilai dominansi mendekati 1 menunjukkan kisaran dominansi suatu organisme tinggi. Nilai indeks dominansi yang tinggi menyatakan konsentrasi dominansi yang tinggi atau ada individu yang mendominansi. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi stuktur komunitas dalam keadaan labil dan terjadi tekanaan ekologis (Fikri 2014).
Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman fitoplankton di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman fitoplankton di Danau Situ Gede, Bogor tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman zooplankton di perairan menggenang pada bagian inlet,
tengah, dan outlet mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman zooplankton di Danau Situ Gede, Bogor tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas fitoplankton dan zooplankton di Danau Situ Gede, Bogor dalam keadaan stabil.
keseragamannya 0 dan nilai indeks dominansinya 1. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi stuktur komunitas dalam keadaan labil dan terjadi tekanaan ekologis. Nilai indeks keseragaman fitoplankton lebih tinggi pada petak 2 daripada petak 1, sementara untuk zooplankton indeks keseragamannya lebih tinggi pada petak 1 daripada petak 2.
Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman fitoperifiton di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman fitoperifiton di Danau Situ Gede, Bogor tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman zooperifiton di perairan menggenang pada bagian inlet,
tengah, dan outlet mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman zooperifiton di Danau Situ Gede, Bogor tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas fitoperifiton dan zooperifiton di Situ Gede, Bogor dalam keadaan stabil.
Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman fitoperifiton di perairan mengalir Sungai Ciapus dan Sungai Cihideung mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman fitoperifiton dan zooperifiton di Sungai Ciapus dan Cihideung tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas fitoperifiton dan zooperifiton di Sungai Ciapus dan Sungai Cihideung, Bogor dalam keadaan stabil.
Berdasarkan data yang diperoleh, nilai indeks keseragaman fitoperifiton di perairan estuari Blanakan, Subang pada petak 1 ditemukan sebesar 0.5845 dan pada petak ke 2 sebesar 0,6760 hal ini menunjukkan hal yang hampir imbang antara indeks keseragaman dan indeks dominanasi. , nilai indeks keseragaman zooperifiton di perairan estuari Blanakan, Subang pada petak 1 ditemukan sebesar 0.7761 dan pada petak ke 2 sebesar 1 hal ini menunjukkan bahwa pada petak 1 nilai indeks keseragaman hampir mencapai angka 1 sementara kebalikannya pada petak ke 2 nilai indeks keseragamannya 0 dan nilai indeks dominansinya 1. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi stuktur komunitas dalam keadaan labil dan terjadi tekanaan ekologis. Nilai indeks keseragaman fitoperifiton lebih tinggi pada petak 2 daripada petak 1, sementara untuk zooperifiton indeks keseragamannya lebih tinggi pada petak 1 daripada petak 2.
Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman benthos di perairan menggenang pada bagian inlet, tengah, dan outlet Situ Gede, Bogor mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman benthos di Situ Gede, Bogor tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas benthos di Situ Gede, Bogor dalam keadaan stabil.
Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman benthos di perairan mengalir Sungai Ciapus tidak mendekati angka 1, hal ini menunjukkan bahwa kondisi stuktur komunitas dalam keadaan labil dan terjadi tekanaan ekologis. Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman benthos di perairan mengalir Sungai Cihideung mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman benthos di Sungai Cihideung tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas benthos di Sungai Cihideung, Bogor dalam keadaan stabil.
tekanaan ekologis. Berdasarkan data yang diperoleh, indeks keseragaman benthos di perairan estuari Blanakan, Subang petak 2 mendekati angka 1, dapat disimpulkan bahwa tingkat keseragaman benthos di perairan estuari Blanakan, Subang petak 2 tinggi dan tingkat dominansinya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi struktur komunitas benthos di perairan estuari Blanakan, Subang petak 2dalam keadaan stabil.
Berdasarkan tabel lampiran diketahui bahwa organisme plankton dan perifiton yang paling banyak ditemukan di Situ Gede, Jawa Barat adalah Synedra. Synedra merupakan diatom dominan di perairan tawar Indonesia baik pada ekosistem lotik maupun lentik. Synedra menurut Samudera et al (2013) mampu bertahan hidup di lingkungan perairan yang keruh, maka dari itu Synedra banyak ditemukan di Situ Gede, Jawa Barat yang memiliki air cenderung hijau keruh. Bentos yang dominan ditemukan di Situ Gede adalah pleurocera yangmerupakan gastropoda.
Berdasarkan tabel lampiran diketahui bahwa organisme perifiton di perairan mengalir Sungai Ciapus yang mendominansi adalah closterium, sementara organisme perifiton yang mendominansi di Sungai Cihideung adalah
Synedra. Organisme benthos yang mendominansi di Sungai Ciapus adalah
Chauliodes dan organisme benthos yang mendominansi di Sungai Cihideung adalah Gonatozygon. Di perairan menggenang struktur komunitas perifiton lebih rendah dari pada komunitas plankton, sedangkan untuk perairan mengalir struktur komunitas perifiton lebih besar kecuali di perairan mengalir yang keruh (Mashito 2012).
Berdasarkan tabel lampiran diketahui bahwa organisme plankton yang mendominansi perairan estuari Blanakan, Subang, Jawa Barat di plot A adalah
Melosira sementara yang mendominansi di plot B adalah L. Macroceros. Setiap spesies organisme plankton menunjukkan persyaratan yang berbeda terhadap nutrien, sehingga organisme yang ditemukan antara plot A dan Plot B berbeda (Abida 2010). Perifiton perairan estuari yang mendominansi di plot A adalah
Nitzschia sementara yang mendominansai di plot B adalah Rhizosolenia.
Organisme benthos perairan estuari yang mendominansi di plot A dan plot B sama, yaitu Terebra sp. Selain Terebra sp. yang mendominansi perairan estuari ada beberapa organisme benthos yang didapatkan pada plot A namun tidak dijumpai pada plot B. Perbedaan frekuensi Kemunculan organisme benthos diduga perbedaan habitat yang disukai oleh hewan makrobentos itu sendiri (Wijayanti 2012).
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Abida I W. 2010. Struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton di Perairan Muara Sungai Porong Sidoarjo. Jurnal Kelautan. Volume 2 no 1.
Angelina D F. 2010. Perkembangan komuniras perifiton pada substrat buatan dengan kedalaman berbeda di Danau Lido, Bogor. [Skripsi]. Bogor[ID]: Institut Pertanian Bogor.
Arman E & Supriyanti S. 2007. Struktur Komunitas Fitoplankton pada Substrat Kaca Di Lokasi Pemeliharaan Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Teluk Jakarta. Jurnal Hidrosfir. 1(2): 67-74.
Duwiri Y. 2013. Struktur komunitas lamun (seagrass) di Perairan Pantai Kampung Isenebuai dan Yariari Distrik Rumberpon Kabupaten Teluk Wondama. [Skripsi]. Manokwari [ID] : Universitas Negeri Papua.
Fikri N. 2014. Keanekaragaman dan kelimpahan makrozoobenthos di Pantai Kartika Jaya Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. [Skripsi]. Surakarta: [ID]. Universitas Muhammdiyah Surakarta.
Hermanto W. 2013. Struktur komunitas ikan di Perairan Danau Limboto Desa Pentadio Barat Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. Jurnal Universitas Negeri Gorontalo
Hidayah T, Ridho M R, Suheryanto. 2014. Struktur komunitas fitoplankton di Waduk Kedungombo Jawa Tengah. Maspari Journal. Vol 6 No 2.
Latuconsina H, Nessa N M, dan Rappe R A. 2012. Komposisi spesies dan struktur komunitas ikan padang lamun di Perairan Tanjung Tiram – Teluk Ambon Dalam. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 4 No 1 : 35-46.
Mashito I. 2012. Produktivitas primer dan struktur komunitas perifiton pada berbagai substar buatan di Sungai Kromong Pacet Mojokerto. [Skripsi]. Surabaya [ID] : Universitas Airlangga.
Oktarina A dan Syamsudin T S. 2015. Keanekaragaman dan distribusi makrozoobentos di perairan lotik dan lentik Kawasan Kampus Teknologi Bandung, Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. Volume 1 no 2 : 227-235.
Prabowo RE, Ardli ER, Sastranegara MH, Lestari W, Wijayanti G. 2010. Biodiversitas dan bioteknologi sumberdaya akuatik. Prosiding Seminar Nasional Biologi. Semarang.
Rachmawati D A. 2012. Studi keanekaragaman jenis fitoplankton untuk mengetahui kualitas perairan di Telaga Jongge Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. [Skripsi]. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.
Samudra S R, Soeprobowati T R, dan Izzati M. 2013. Komposisi, kemelimpahan, dan keanekaragaman fitoplankton Danau Rawa Pening Kabupaten Semarang. BIOMA. Vol 15 No 1: 6-13.
Utami M, Pratomo A, Lestari F. 2014. Struktur komunitas biota makrozoobentos infauna berdasarkan bentuk mulut liang di Kawasan Perairan Teluk Dalam Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang. [Makalah]. FKIP UMRAH.
Wijaya H K. 2009. Komunitas perifiton dan fitoplankton serta parameter fisika- kimia perairan sebagai penentu kualitas air di bagian hulu Sungai Cisadane, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor [ID] : Institur Pertanian Bogor. Wijayanti M H. 2007. Kajian kualitas perairan di Pantai Kota Bandar Lampung
berdasarkan komunitas hewan makrozoobenthos. [Tesis]. Semarang [ID] : Universitas Diponegoro.
Zahidin M. 2008. Kajian kualitas air di Muara Sungai Pekalongan ditinjau dari indeks keanekaragaman makrobenthos dan indeks saprobitas plankton. [Tesis]. Semarang [ID] : Unversitas Diponegoro.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel parameter biologi
Tabel 14. Komunitas fitoplankton ekosistem perairan menggenang
No. Organisme Inlet Tengah Outlet
1 Ankistrodesmus 2 1
2 aphanizomenon 2 3
3 Aphanocapsa sp. 1 1
4 Botryococcus 25
5 Bulbhochaete 1 4
6 Chaetophora 2 3
7 Chlorella 2
8 Cladophora 1
9 Closterium 32 57 9
10 Cocconeis 2
11 Coelosphaenium 1
12 Coscinodiscus 1
13 Cosmarium 3 2
14 Crucigenia 1
15 Cyclotella 2
Tabel 15. Komunitas zooplankton ekosistem perairan menggenang
Tabel 16. Komunitas fitoperifiton ekosistem perairan menggenang
16 Cyclotella 4 1
Tabel 17. Komunitas zooperifiton ekosistem perairan menggenang
7 Macrothrix 2
Tabel 18. Komunitas bentos ekosistem perairan menggenang
No. Organisme Inlet Tengah Outlet
Tabel 19. Komunitas fitoperifiton ekosistem mengalir MSP
23 Tetraspora 2
24 Thalassionema 3
25 Trebouxia 2
26 Zygnema 3
Tabel 20. Komunitas zooperifiton ekosistem mengalir MSP
No. Organisme Jumlah
Tabel 21. Komunitas bentos ekosistem mengalir MSP
30 Isonychia 16
Tabel 22. Komunitas fitoperifiton ekosistem mengalir THP
Tabel 23. Komunitas zooperifiton ekosistem mengalir THP
Tabel 24. Komunitas bentos ekosistem mengalir THP
41 Mytilina 3
Tabel 25. Komunitas fitoplankton ekosistem estuari MSP
No. Organisme Jumlah
1 Biddulphia 11
2 Cerataulina pelagica 1
3 Closterium 3
18 Pennate diatom- naviculoid type 9
19 Phorimidium 1
20 Pleurosigma 9
21 Polykrikoa schwarzi 1
22 Pyramimonas 1
23 Rhizosolenia 6
24 Synedra 2
25 Tetmemorus 6
Tabel 26. Komunitas zooplankton ekosistem estuari MSP
8 Dictyocysta celeganas 1
9 Eubranchipus 1
10 Euchlanis 3
11 Flavella ehrenbergi 1
12 Gymnodinium 2
Tabel 27. Komunitas fitoperifiton ekosistem estuari MSP
Tabel 28. Komunitas zooperifiton ekosistem estuari MSP
Tabel 29. Komunitas bentos ekosistem estuari MSP
No. Organisme Jumlah
Tabel 30. Komunitas fitoplankton ekosistem estuari THP
No. Organisme Jumlah
1 Aphanizomenon 3
2 B. Mobiliensi 4
3 Coatalilina pelagica 1
4 Corethron criophium 4
11 Leprotintinnis pellucidus 1
Tabel 31. Komunitas zooplankton ekosistem estuari THP
No. Organisme Jumlah
1 Ceratium 30
Tabel 32. Komunitas fitoperifiton ekosistem estuari THP
No. Organisme Jumlah
1 B. Regia 11
2 Centric danicum 21
3 Cerataulina pelagica 1
4 Chaetoceros densum 3
11 Guinardia flaccida 90
12 Gyrodinium glaucum 1
13 Halosphaera viridis 2
14 Helicostomella sobolata 4
15 Helisctomeila subulatu 2
16 Isochiysis sp. 3
31 Salpingella acuminata 1
32 Skeletonema costatum 14
33 Spirogyra sp. 1
34 Steentropia steentropii 1
35 Thalassionema nitzchiodes 1
36 Tontonia gracillima 1
37 Zygnema sp. 1
Tabel 33. Komunitas zooperifiton ekosistem estuari THP
No. Organisme Jumlah
Tabel 34. Komunitas bentos ekosistem estuari THP
No. Organisme Jumlah
1 Chauliodes 13
2 Collembola 7
3 Dryopidae 1
4 Larva Bivalvia 7
5 Tarebra sp. 17
6 Thiara sp 9
Lampiran 2. Contoh perhitungan
Plankton Chaetophora di perairan menggenang
�� = ��
�� =
Pi = 0,0063 Pi ln pi = -0,0320 Pi2 = 0,00004
1. Indeks Keanekaragaman (H’)
�′= − ∑ � ln �
�
�= H’ = 2,355518
2. Indeks Keseragaman
= ln ��′
= , 555
E = 2,35555 3. Indeks Dominansi
= ∑ �
�
�=
D = 0,144523
Perhitungan Indeks Keragaman (H’) benthos Amnicola sp. di perairan menggenang
�� = ��
�� =
Pi log pi = -0,0758 Pi2 = 0,0040
�′ = − ∑ � � � �
�
�=
H’ = 0,8098