• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PELABUHAN JAYAPURA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PELABUHAN JAYAPURA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

e-ISSN : 2528-3987

* Korespondensi: 1

Email : [email protected]

STUDI STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PELABUHAN JAYAPURA

Ade Kurniawan1* dan Wero Febriadi Mandala1

1Program Studi Budidaya Perairan - Universitas Yapis Papua

Received: 23 Oktober 2019 - Accepted: 11 Desember 2019

ABSTRACT

The objective of this study was to determine the phytoplankton community structure of the water surrounding Jayapura (Yos Sudarso) Port as bio indicators of the fertile water.

Some quantitative measurements were applied in this study to analyse the presence of phytoplankton, i.e. abundance, diversity index, and saprobic coefficient. Data were collected from samples obtained from 4 different stations each during dry and rainy seasons. A total of 9 classes of phytoplankton was found with the individual numbers that were different on both seasons which was 252 and 485 for dry and rainy season, respectively. The abundance of phytoplankton at station I, II, III, and IV at dry season were approximately around 2.44, 2.68, 2.16, and 2.8 cell/L, subsequently. Whereas in rainy season the amount reached 4.68, 5.61, 3.32 and 5.8 cell/L at respective station I, II, III, and IV. Its biodiversity in dry season at each station were 1.5, 1.52, 1.53, and 1.48, correspondingly. On the contrary in rainy season the biodiversity had values of 1.29, 1.7, 1.1, as well as 1.51 at station I, II, III, and IV accordingly.

The saprobic coefficients in dry season at station I was 0.79, station II had the value of 0.82, station III of 0.77 and station IV of 1. In contrast, during the rainy season the coefficient values were found to be around 0.62, 0.67, 0.39 and 0,63 for station I, II, III, and IV, respectively.

Keywords: fitoplankton, fotosintesis, dan ocean waters

PENDAHULUAN

Plankton didefinisikan sebagai semua jasad hidup nabati (tumbuhan) dan hewani (hewan) yang hidup bebas di perairan dengan kemampuan gerak terbatas, sehingga sebagian besar geraknya secara pasif mengikuti pergerakan arus air (Newell, 1979). Fitoplankton adalah organisme renik yang melayang-layang dalam air atau mempunyai kemampuan berenang yang sangat lemah dan pergerakannya selalu dipengaruhi oleh pergerakan massa air (Asriyana dan Yuliana, 2012).

Fitoplankton di sisi lain bisa ditunjukkan sebagai penanggung jawab utama untuk konsumsi sebagian besar oksigen dalam air (Boyd, 1982).

Fitoplankton digunakan dalam produksi pada suplemen, biofuel dan juga sebagai makanan pada budidaya ikan atau udang (Creswell, 2010). Permasalahan disini adalah tidak stabilnya kondisi perairan di sekitar pelabuhan Jayapura (Teluk Yos Sudarso) yang digunakan sebagai akses kapal dan sebagai daerah lokasi rekreasi dan masuknya buangan limbah dari kawasan pusat jual beli Ampera dan limbah rumah

(2)

Ade Kurniawan dan Wero Febriadi Mandala, Studi Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Pelabuhan Jayapura

2

tangga yang berasal dari pemukiman warga.

Effendi et al., (2016) menambahkan bahwa komunitas fitoplankton juga digunakan sebagai indikator status ekologi.

Fitoplankton juga sebagai indeks kualitas air (Komala et al.,2013)

Fitoplankton yang sehat dapat berfungsi sebagai nutrient sponge, artinya sebagai pengisap larutan-larutan ammonia, nitrit, nitrat, atau fosfat dan bahan-bahan racum seperti logam berat dan pestisida.

Perlu diingat bahwa makanan alami terutama unicellular algae mengandung asam lemak tidak jenuh yang sangat dibutuhkan oleh larva ikan dan udang (Kordi dan Tancung, 2007).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dari fitoplankton yang terdapat di sekitas perairan pelabuhan Jayapura (Yos Sudarso)

untuk menjadi tolok ukur atau bioindikator kesuburan perairan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di sekitar pelabuhan Jayapura (Yos Sudarso) (Gambar 1). Sampel diambil dari 4 stasiun yang berada disekitar lokasi tersebut yakni Stasiun I yang berada di antara kayu pulo dan pulau kosong, Stasiun II yang berada di daerah sekitar pelabuhan jayapura, Stasiun III yang berada di sekitar belakang hotel Swiss – Bell, Stasiun IV yang berada di daerah rekreasi. Pengambilan atau sampling fitoplankton dilakukan sebanyak 2 kali yakni pada bulan April (musim panas) dan Juni (musim hujan).

Gambar 1. Lokasi Penelitian

(3)

* Korespondensi: 3

Email : [email protected]

Sampling fitoplankton dilakukan dengan cara menarik plankton net secara horizontal. Kemudian, sampel air yang tersaring dimasukan ke dalam botol sampel dan di tetesi cairan formalin 4%. Sampel dibawa untuk diidentifikasi dan diklasifikasi. Kelimpahan, biodiversitas, dan koefisien saprobik pada fitoplankton dikalkulasi.

Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah air laut, sampel fitoplankton, formalin. Peralatan yang digunakan adalah plankton net, termometer, DO meter, refrakto meter, pH meter, botol sampel, dan cool box.

Analisis kuantitatif

Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat status ekologi pada daerah penelitian yakni antara lain:

kelimpahan fitoplankton, indeks biodiversitas, dan koefisien saprobik.

Kelimpahan fitoplankton merupakan jumlah individu atau sel per unit volume.

Jumlah individu fitoplankton dikalkulasi menggunakan formula sebagai berikut:

𝑁 = 𝑛 𝑚 𝑥 𝑠

𝑎 𝑥 1 𝑣 Keterangan:

- N - n - m - s - a - v

=

=

=

=

=

=

Kelimpahan Fitolankton (sel/L) Jumlah sel yang dihitung

jumlah tes contoh yang diperiksa

volume contoh dengan pengawetnya (ml)

volume tiap tetes contoh volume air tersaring

Indeks biodiversitas didasarkan pada indeks Shannon dan Wiener’s dengan mengikuti formulasi sebagai berikut:

H = ∑𝑁𝑖=1𝑃𝑖 . ln. 𝑃𝑖 Keterangan:

- H - Pi - N

=

=

=

Indeks biodiversitas Shannon- Wiener’s

ni/N; ni = jumlah spesies individu - ith

jumlah total individu.

Saprobik merupakan indeks polusi organik pada perairan oleh komunitas alga (Barinova et al., 2006). Berikut merupakan formula untuk menghitung saprobik:

𝑋 =𝐶 + 3𝐷 − 𝐵 − 3𝐴 𝐴 + 𝐵 + 𝐶 + 𝐷 Keterangan:

- X = Koefisien Saprobik; A, B, C, D

= Kelompok organisme

Nilai Koefisien saprobik (Barinova et al., 2006):

(i) Xenosaprobik (air bersih maksimal) X

= 0 - 0,50;

(ii) (ii) Oligosaprobik (air bersih) X = 0,51-1,5;

(iii) (iii) β- mesosaprobik (air bersih sedang) X = 1,51 – 2,50;

(iv) (iv) α – mesosaprobik (air yang terkontaminasi) X = 2,51 – 3,50;

(v) (v) polisaprobik (air tercemar) X = 3.51 – 4,00.

(4)

Ade Kurniawan dan Wero Febriadi Mandala, Studi Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Pelabuhan Jayapura

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Komposisi fitoplankton

Sampling fitoplankton dilakukan pada empat titik pada lokasi penelitian. Jenis fitoplankton yang ditemukan pada 4 titik tersebut akan tampilkan pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Grafik komposisi Fitoplankton perairan pelabuhan Jayapura

Dari tampilan Gambar 2 terdapat perbedaan yang terjadi antara komunitas pada musim hujan dam musim panas.

Komunitas fitoplankton pada musim hujan lebih tinggi daripada musim panas. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi lingkungan yang mempengaruhi komposisi tersebut.

Ditemukan jumlah komposisi fitoplankton pada stasiun I sebesar 61 ftioplankton pada musim panas kemudian terjadi peningkatan jumlah fitoplankton pada musim hujan sebesar 117 fitoplankton, stasiun II sebesar 67 fitoplankton pada musim panas kemudian pada musim hujan terjadi peningkatan jumlah fitoplankton sebesar 140 fitoplankton, stasiun III sebesar 54 fitoplankton pada musim panas kemudian terjadi peningkatan jumlah fitoplankton pada musim hujan sebesar 83 fitoplankton, dan stasiun IV mempunyai komunitas fitoplankton sebesar 70 fitoplankton kemudian terjadi peningkatan pada musim hujan sebesar 145 fitoplankton.

Situasi ini menandakan musim hujan mempunyai pengaruh dalam peningkatan umlah fitoplankton. Hal ini relevan dengan

pernyataan Lekang (2007) yang menjelaskan bahwa tujuan dari pada oksigenasi pada perairan adalah untuk melepaskan gas-gas seperti N, P, dan C dari perairan atau untuk meningkatkan gas seperti oksigen di dalam perairan. Maka, diduga gas N dan P yang terlepas ke udara akan terbawa kembali oleh air hujan yang akan mengekibatkan jumlah komunitas fitoplankton menjadi tinggi pada musim hujan. Kemudian, dari grafik diatas dapat dinyatakan bahwa pada Stasiun IV dan Stasiun II mempunyai jumlah komunitas fitoplankton terbanyak hal ini dikarenakan pada Stasiun IV merupakan Tempat Pusat rekreasi, Pemukiman, dan buangan limbah Rumah Sakit Dok II. Sedangkan, pada Stasiun II merupakan sebuah Pelabuhan dan tempat buangan limbah pemukiman maupun limbah dari pusat bisnis Ampera. Stasiun I jumlah komunitas fitoplankton berada di bawah Stasiun II. Jumlah pada Stasiun I lebih sedikit daripada Stasiun IV dan II dikarenakan di daerah ini hanya merupakan tempat pemukiman warga dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk pada Stasiun IV dan II. Kemudian Stasiun III merupakan Stasiun dengan jumlah komunitas fitoplankton dengan nilai terkecil dikarenakan pada Stasiun ini, jumlah buangan limbah tidak terlalu banyak karena lokasi ini terletak di kawasan perkantoran.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Boyd (1982) yang menyatakan bahwa meningkatnya jumlah fitoplankton dikarenakan pemupukan yang dilakukan pada tambak dengan N dan P.

Pada jumlah komunitas fitoplankton di stasiun ini sumber N dan P berasal dari buangan limbah sebagai bahan organik.

Kelimpahan fitoplankton

Kelimpahan fitoplankton adalah ukuran jumlah individu per satuan volume

61 67 54 70

117 140 83 145

1 2 3 4

Panas Hujan

(5)

* Korespondensi: 5

Email : [email protected]

1 2 3 4

Panas 2,44 2,68 2,16 2,8

Hujan 4,68 5,61 3,32 5,8

2,44 2,68 2,16 2,8

4,68 5,61 3,32 5,8

KELIMPAHAN (SEL / L)

K E LIM PA H A N F ITO P LA N K TO N

0,36

0,8

0,24 0,24

0,6

0,2 0,20

0,40,6 0,81

Ichtyodontum var parerthium

Gronbladia inflata Hyalotheca undulata (Gronbil)

Lyngbya spirulinoides

Tollypothrix sp Stauroneis acutum

Desmidiceae Zygnematophyceae Cyanophyceae Bacillariophyceae

Stasiun I. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) Musim Panas

0,6

1,44 1,04

0,32 0,2

1,08

0,501 1,52

Gonatozygon montenium

Chaetoceros messanensis

Chaetoceros sp Amphora sp Pleurosygma anguatum

Dictyocha sp

Zygnematophyceae mediophyceae Bacillariophyceae Dictyochophyceae

Stasiun I. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) Musim Hujan

air yang umumnya dinyatakan dalam sel per satuan volume (Aryawati et al., 2017).

Raymond (1980) menambahkan bahwa ketika kelimpahan fitoplankton tinggi atau meningkat, air cenderung memiliki produktivitas tinggi. Berikut gambar 3.

Grafik kelimpahan fitoplankton

Distribusi fitoplankton sangatlah bervariasi pada setiap stasiun, dari grafik diatas pada musim panas kelimpahan maksimum muncul pada stasiun IV (2,8 sel/L), diikuti oleh stasiun II (2,68 sel/L), stasiun I (2,44 sel/L), sedangkan kelimpahan minimum dicatat pada stasiun III (2,16 sel/L). Pada musim hujan, kelimpahan fitoplankton maksimum muncul pada stasiun IV (5,8 sel/L), diikuti oleh stasiun II (5,61), stasiun I (4,68 sel/L), sedangkan kelimpahan minimum dicatat pada stasiun III (3,32 sel/L). Berikut Gambar 4. Stasiun I Kelimpahan fitoplankton.

Gambar 3. Grafik kelimpahan fitoplankton

Gambar 4. Stasiun I kelimpahan fitoplankton Dari Gambar 4 terlihat beberapa

kelimpahan spesies fitoplankton yang berada pada stasiun I (Kayu pulo dan Pulau

kosong) dengan musim yang berbeda yakni musim panas dan musim hujan. Pada musim panas, kelas Zygnematophyceae dengan

(6)

Ade Kurniawan dan Wero Febriadi Mandala, Studi Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Pelabuhan Jayapura

6

0,4 0,72

0,28 0,32 0,8

0,16 0,501

Synedra acus Epithema argus Gonatozygon aculatum

Gronbladia inflata Hyalotheca dissiliensis (Bled)

merismoedia minuta

Fragilariophyceae Bacillariophyceae Zygnematophyceae Cyanophyceae

Stasiun II. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim panas)

0,2

1,2

0,56 0,4 0,33

0,96 0,68

1,28

0,501 1,5

Epithema argus Nitzschia lorenziana

Pinnularia tabellaria

Spirulina sp Chaetoteros messanensis

Dictyocha sp Eutintinnus lusus - undae

Rhizosolenia alata Bacillariophyceae Cyanophyceae Mediophyceae Dictyochophyceae Oligotrichea Coscinodiscophyceae

Stasiun II. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim hujan)

spesies Greonbladia inflata mempunyai kelimpahan tertinggi dengan nilai kelimpahan yakni 0,8 sel/L dan kelas Bacillariophyceae dengan spesies Stauroneis acutum dengan nilai kelimpahan terendah yakni 0,2 sel/L.

Kemudian kelas Desmidiceae dengan spesies Ichtyodontum var pararthium mempunyai nilai kelimpahan yakni 0,36 sel/L, kelas Zygnematophyceae dengan spesies Hyalotheca undulata mempunyai nilai kelimpahan yakni 0,24 sel/L, kelas Cyanophyceae dengan spesies Lyngbya spirulinoides mempunyai nilai kelimpahan yakni 0,24 sel/L dan kelas Cyanophyceae dengan spesies Tollipothrix sp mempunyai nilai kelimpahan yakni 0,6 sel/L.

Pada musim hujan, kelas Mediophyceae dengan spesies Chaetaceros messanensis mempunyai nilai kelimpahan tertinggi yakni berkisar 1,44 sel/L, dan kelas Bacillariophyceae dengan spesies Pleurosygma anguatum mempunyai nilai kelimpahan terendah yakni berkisar 0,2 sel/L. Kemudian diantara kedua spesies tersebut, terdapat beberapa spesies yang berada pada stasiun I yakni dari kelas

Mediophyceae dengan spesies Chaetoceros sp dengan nilai kelimpahan berkisar 1,04 sel/L, kelas Zygnematophyceae dengan spesies Gonatozygon mentenium mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,6 sel/L, kelas Dictyochophyceae dengan spesies Dictyocha sp mempunyai nilai kelimpahan berkisar 1,08 sel/L, kemudian kelas Bacillariophyceae dengan spesies Amphora sp mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,32 sel/L.

Kelas Bacillariophyceae dan Zygnematophyceae tetap ditemukan pada musim hujan setelah pengukuran terlebih dahulu dilakukan pada musim panas. Hal ini diduga kedua kelas tersebut mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang beragam dibandingkan dengan kelas- kelas yang lain. Sesuai dengan Arinardi et al., (1997) dalam Aryawati et al., (2017) yang menyatakan bahwa kelas Bacillariophyceae beradaptasi dengan baik terhadap kondisi lingkungan, mempunyai toleransi dan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Berikut Gambar 5. Stasiun II Kelimpahan fitoplankton.

Gambar 5. Stasiun II kelimpahan fitoplankton

(7)

* Korespondensi: 7

Email : [email protected]

0,56 0,36 0,4 0,32 0,36

0,16 0,20

0,40,6

Synedra acus Epithema argus Gonatozygon aculatum

Gronbladia inflata Hyalotheca dissiliensis (Bled)

merismoedia minuta Fragilariophyceae bacillariophyceae Zygnematophyceae Cyanophyceae

Stasiun III. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim panas)

0,36 0,44 0,56

0,2

0,88

0,28

0,6

0 0,5 1

Synedra acus Epithema argus Nitzschia curvulla

Nitzschia vermicularis

Spirulina sp Tollyphotrix sp Rizhosolenia sp

Fragilariophyceae Bacillariophyceae Cyanophyceae Coscinodiscophyceae

Stasiun III. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim hujan)

Dari Gambar 5 terlihat beberapa kelimpahan spesies fitoplankton yang berada pada stasiun II (Perairan sekitar Pelabuhan Jayapura) dengan musim yang berbeda yakni musim panas dan musim hujan. Pada musim panas, kelas Zygnematophyceae dengan spesies Hyalotheca dissiliensis (Bled) yang mempunyai kelimpahan tertinggi dengan nilai kelimpahan yakni 0,8 sel/L, kemudian spesies Geonbladia inflata yang mempunyai nilai kelimpahan fitoplankton yakni 0,32 sel/L dan spesies Gonatozygon aculatum dengan nilai kelimpahan fitoplankton yakni 0,28 sel/L.

Selanjutnya kelas Bacillariophyceae dengan spesies Epithema argus yang mempunyai nilai kelimpahan fitoplankton yakni 0,72 sel/L, kelas Flagilariophyceae dengan spesies Synedra acus yang memiliki nilai kelimpahan fitoplankton yakni 0,4 sel/L, dan kelas Cyanophyceae dengan spesies Merismoedia minuta mempunyai nilai kelimpahan fitoplankton yakni 0,16 sel/L

Pada musim hujan, kelas Coscinodiscophyceae dengan spesies Rhizosolenia alata mempunyai nilai kelimpahan tertinggi yakni berkisar 1,28 sel/L. Kemudian kelas Bacillariophyceae dengan tiga spesies yakni spesies Nitzschia lorenziana mempunyai nilai kelimpahan sebesar 1,2 sel /L, spesies Ephitema argus mempunyai nilai kelimpahan terkecil sebesar 0,2 sel/L, dan spesies Pinullaria tabellaria mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,56 sel/L. Selanjutnya kelas Cyanophyceae dengan spesies Spirulina sp mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,4 sel/L, kelas Mediophyceae dengan spesies Chaetoceros messanensis mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,33 sel./L, kelas Dictyochophyceae dengan spesies Dictyocha sp mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,96 sel/L, dan kelas Oligotrachea dengan spesies Eutintinnus lusus-undae mempunyai nilai kelimpahan 0,68 sel/L.

Berikut Gambar 6. Stasiun III Kelimpahan fitoplankton.

Gambar 6. Stasiun III kelimpahan fitoplankton

(8)

Available Online At : http//jurnal.uniyap.ac.id/index.php/Perikanan The Journal of Fisheries Development, Januari 2020 Volume 4, Nomor 1 Hal : 1 – 12 e-ISSN : 2528-3987

8

0,12

0,68 0,72 0,8

0,48 0

0,5 1

Rhizosolenia alata Tricodesmium sp Ichtyodontum var parerthium

Gronbladia inflata Eutintinnus lusus - undae Coscinodiscophyceae Cyanophyceae Desmidiacea Zygnematophyceae Oligotrichea

Stasiun IV. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim panas)

0,56 0,56 0,88 0,72 0,68 0,76 0,72 0,92

0 0,5 1

Chaetoteros messanensis

Dictyocha sp Micrasterias lux josh

Nitzschia vermicularis

Pinnularia tabellaria

Spirulina sp Synedra acus Rhizosolenia alata

Mediophyceae Dictyochophyceae Zygnematophyceae Bacillariophyceae Cyanophyceae Fragilariophyceae Coscinodiscophyceae

Stasiun IV. Kelimpahan fitoplankton (sel/L) (musim hujan)

Dari Gambar 6 terlihat beberapa kelimpahan spesies fitoplankton yang berada pada stasiun III (Perairan disekitar hotel) dengan musim yang berbeda yakni musim panas dan musim hujan. Pada musim panas, kelas Flagilariophyceae dengan spesies Synedra acus merupakan spesies dengan nilai kelimpahan tertinggi yakni 0,56 sel/L,

Kelas Zygnematophyceae dengan tiga spesies yakni spesies Gonatozygon aculatum mempunyai nilai kelimpahan berkisar 0,4 sel/L, spesies Greonbladia inflata dengan nilai kelimpahan berkisar 0,32 sel/L, dan spesies Hyalotecha dissiliensis dengan nilai kelimpahan sebesar 0,36 sel/L, kelas Bacillariophyceae dengan spesies Epithema argus mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,36 sel L, dan kelas Cyanophyceae dengan spesies Merismoedia minuta mempunyai nilai kelimpahan sebesar 0,16 sel/L.

Pada musim hujan, kelas Cyanophyceae dengan dua spesies adalah Spirulina sp yang mempunyai nilai kelimpahan tertinggi yakni berkisar 0,88 sel/L dan spesies Tollipothrix sp dengan nilai kelimpahan berkisar 0,28 sel/L.

Selanjutnya, kelas Bacillariophyceae dengan tiga spesies yakni spesies Epithema argus dengan nilai kelimpahan berkisar 0,44 sel/L, spesies Nitzschia curvulla dengan nilai kelimpahan berkisar 0,56 sel/L, dan spesies Nitzschia virmicularis dengan nilai kelimpahan berkisar 0,2 sel/L. kemudian kelas Flagilariophyceae dengan spesies Synedra acus yang mempunyai nilai kelimpahan berkisar 0,36 sel/L, dan kelas Coscinodiscophyceae dengan spesies Rizhosolenia sp yang mempunyai nilai kelimpahan berkisar 0,6 sel/L. Berikut Gambar 7. Stasiun IV kelimpahan fitoplankton.

Gambar 7. Stasiun IV kelimpahan fitoplankton Dari Gambar 7 terlihat beberapa

kelimpahan spesies fitoplankton yang berada pada stasiun IV (Pantai Dok II) dengan musim yang berbeda yakni musim

panas dan musim hujan. Pada musim panas, terdapat 5 kelas yang berada pada stasiun IV yakni kelas Zygnematophyceae dengan spesies Greonbladia inflata merupakan

(9)

* Korespondensi: 9

Email : [email protected]

spesies yang mempunyai nilai kelimpahan tertinggi yakni 0,8 sel/L,

Kelas Desmidiceae dengan spesies Ichtyodontum var parerthium yang mempunyai nilai kelimpahan berkisar 0,72 sel/L, kelas Cyanophyceae dengan spesies Tricodesmium sp yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,68 sel/L, kelas Oligotrichea dengan spesies Eutintinnus lusus-undae yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,48 sel/L dan kelas Coscinodiscophyceae dengan spesies Rhizosolenia alata yang mempunyai nilai kelimpahan terkecil yakni berkisar 0,12 sel/L.

Pada musim hujan, kelas Coscinodiscophyceae dengan spesies Rhizosolenia alata yang mempunyai nilai kelimpahan tertinggi yakni berkisar 0,92 sel/L selanjutnya kelas Zygnematophyceae dengan spesies Micrasterias lux josh yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,88 sel/L, kelas Cyanophyceae dengan spesies Spirulina sp yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,76 sel/L.

Kelas Bacillariophyceae dengan dua spesies yakni spesies Nitzschia virmicularis yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,72 sel/L, dan spesies Pinullaria tabellaria dengan nilai kelimpahan berkisar 0,68 sel/L, kemudian kelas Fragilariophyceae dengan spesies Synedra acus yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,72 sel/L, kelas Mediophyceae dengan spesies Chaetaceros messanensis yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,56 sel/L, dan kelas Dictyochophyceae dengan spesies Dictyocha sp yang mempunyai nilai kelimpahan yakni berkisar 0,56 sel/L

Adapaun persentase total kelimpahan fitoplankton pada musim hujan lebih tinggi dari pada musim panas, hal ini disebabkan air hujan mengandung N dan P yang berasal dari penguapan air laut yang melepas gas- gas yang merugikan ke atmosfer. Hal ini

yang menyebabkan total kelimpahan fitoplankton pada musim hujan lebih tinggi dari musim panas.

Koefisien Saprobik

Saprobik merupakan indeks polusi organik pada perairan oleh komunitas alga (Barinova et al., 2006). Berikut adalah grafik koefisien saprobik pada masing-masing stasiun pada lokasi penelitian.

Gambar 8. Grafik koefisien saprobik pada ke-4 stasiun

Dari Gambar 8 dibagi menjadi dua kategori sebagai perbandingan yakni musim panas dan hujan. Pada musim panas, nilai tertinggi Koefisien saprobik terjadi pada stasiun IV yakni 1, diikuti oleh stasiun II dengan nilai Koefisien saprobik yakni 0,82 kemudian stasiun I yakni 0,79 dan stasiun III yakni 0,77. Hal ini berarti bahwa koefisien saprobik pada stasiun I, stasiun II, stasiun III dan stasiun IV dikategorikan yakni Oligosaprobik (air bersih).

Pada musim hujan, nilai tertinggi koefisien saprobik terjadi pada stasiun II yakni 0,67 dan diikuti oleh stasiun IV dengan koefisien saprobik yakni 0,63 kemudian stasiun I yakni 0,62 dan stasiun III yakni 0,39. Hal ini berarti bahwa Koefisien saprobik pada stasiun I, stasiun II, stasiun IV tergolong dalam kategori oligosaprobik (air bersih) dan stasiun III berada dalam kategori Xenosaprobik (air bersih maksimal).

1 2 3 4

Panas 0,79 0,82 0,77 1

Hujan 0,62 0,67 0,39 0,63

0 0,5 1 1,5

KOEFISIEN SAPROBIK

Koefisien Saprobik

(10)

Ade Kurniawan dan Wero Febriadi Mandala, Studi Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Pelabuhan Jayapura

10

Indeks Biodiversitas Shannon-Wiener’s (H’)

Biodiversitas spesies merupakan ciri tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologinya dan dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas. Kumari et al., (2018) menambahkan bahwa keanekaragaman hayati (biodiversitas) merupakan keragaman diantara semua organisme hidup dalam ekosistem tertentu, indeks ini juga dapat menentukan status polusi pada perairan dan nilai normal untuk indeks ini berkisar dari 0 - 4.

Wilhm and Dorris (1968) menambahkan bahwa nilai indeks melebihi 3 mengindikasikan perairan tersebut bersih, nilai 1-3 mengindikasikan polusi sedang, dan nilai <1 mengindikasikan sangat tercemar. Berikut adalah gambar grafik Biodiversitas fitoplankton pada setiap stasiun di perairan pelabuhan jayapura, Dok II.

Gambar 9. Grafik indeks biodiversitas pada ke-4 stasiun

Dari Gambar 9 indeks H’ diatas dibagi menjadi dua kategori sebagai perbandingan yakni muim panas dan hujan. Pada musim panas, nilai tertinggi indeks H’ terjadi pada stasiun III yakni 1,53 dan diikuti oleh stasiun II dengan nilai H’ yakni 1,5 dan stasiun IV yakni 1,48. Hal ini berarti bahwa indeks H’

pada stasiun I, stasiun I, stasiun III dan stasiun IV dikategorikan sebagai polusi sedang (tidak tercemar).

Pada musim hujan, nilai tertinggi indeks Shannon-Wiener’s (H’) terjadi pada stasiun II yakni 1,7 dan diikuti oleh stasiun IV dengan indeks H’ yakni 1,51 kemudian stasiun I yakni 1,29 dan stasiun III yakni 1,1.

Hal ini berarti bahwa indeks H’ pada stasiun I, stasiun I, stasiun III dan stasiun IV dikategorikan sebagai polusi sedang (tidak tercemar).

Sisi lain pada Gambar 9 adalah grafik pada musim panas, grafik terlihat relatif hampir sama, hal ini berbeda yang terjadi pada musim hujan. Grafik yang terlihat pada musim hujan mengalami fluktuasi yang signifikan. Diduga jumlah N dan P pada musim hujan lebih tinggi dibandingkan musim panas yang mengakibatkan pertumbuhan fitoplankton meningkat.

Pada musim panas, stasiun II dan IV mempunyai kelimpahan lebih tinggi dibandingkan stasiun I dan III hal ini dikarenakan lokasi stasiun II dan IV berada di perairan pelabuhan dan perairan tempat rekreasi hal ini yang diduga produksi N dan P lebih banyak dibandingkan dengan stasiun I dan III kejadian ini berbanding lurus dengan Biodiversitas fitoplankton di lokasi tersebut. Hal ini juga didukung dengan pernyataan Kostryukova et al., (2018) yang menyatakan bahwa daerah lokalisasi kelimpahan fitoplankton dan biomassa dibatasi sampai ke daerah pantai pada kompleks polusi organik (pantai) dan teluk dangkal

Adapun indeks H’ pada musim hujan meningkat dan ini dikarenakan selain lokasi stasiun II dan IV tersebut dapat memproduksi N dan P lebih banyak dibandingkan dengan stasiun I dan III, air hujan juga menambah asupan N dan P pada perairan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lekang (2007) yang menjelaskan bahwa tujuan dari pada aerator atau oksigenasi adalah untuk melepaskan gas-gas seperti N dan P dari perairan atau untuk meningkatkan gas seperti oksigen di dalam perairan.

0 2

1 2 3 4

BIODIVERSITAS

STASIUN

Biodiversitas

Panas Hujan

(11)

* Korespondensi: 11

Email : [email protected]

Dari pernyataan Lekang (2007), peneliti menyimpulkan air hujan yang jatuh mengadung unsur N dan P yang berasal dari perairan tersebut. Selain itu, meningkatnya kadar N dan P pada perairan maka akan berdampak pada pertumbuhan fitoplankton dengan meningkatnya kelimpahan dan biodiversitas fitoplankton di daerah tersebut.

Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan Boyd (1982) yang menyatakan bahwa pemupukan (fertilization) dengan Phosporus (P) atau Nitrogen (N) ditambah dengan Phosporus (P) akan menyebabkan meningkatnya kelimpahan fitoplankton.

PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan struktur komunitas fitoplankton. Komunitas fitoplankton pada perairan pelabuhan jayapura (Yos Sudarso) pada musim panas berjumlah 252 fitoplankton sedangkan pada musim hujan berjumlah 485 fitoplankton, Kelimpahan fitoplankton diperairan pelabuhan jayapura (Yos Sudarso) pada ke-4 stasiun yang diteliti didapatkan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun IV yang terletak pada daerah rekreasi di musim panas dengan nilai kelimpahan 2,8 sel/L diikuti dengan stasiun II yang terletak pada perairan pelabuhan dengan nilai kelimpahan berkisar 2,68 sel/L, stasiun I yang terletak pada pulau kososng dan kayu pulo dengan nilai kelimpahan berkisar 2,44 sel/L, dan stasiun III yang terletak pada sekitar hotel swiss-bell dengan nilai kelimpahan berkisar 2,16 sel/L. Pada musim hujan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun IV yakni berkisar 5,8 sel/L, stasiun 2 dengan nilai kelimpahan berkisar 5,61 sel/L, stasiun I dengan nilai kelimpahan berkisar 4,68 sel/L, dan stasiun III nilai kelimpahan berkisar 3,32 sel/L.

REFERENSI

Aryawati, R., D. G. Bengen., T. Prartono., and H. Zulkifli. 2017. Abundance of Phytoplankton in The Coastal Waters of South Sumatera. Ilmu Kelautan.

Vol. 22. No. 1. Hal. 31 – 39. DOI:

10.14710/ik.ijms.22.1.31-39.

Asriyana dan Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Cetakan pertama. Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta. hal. 11 – 36.

Barinova SS, Medvedeva LA, Anisimova OV. 2006. Diversity of algae indicators in enviromental assessment. Pilies Studio, Tel Aviv.

[Russian]

Boyd, C, E., 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture.

First Edition. Elsevier Science Publishers B. V. AE Amsterdam. p.

202 – 235

Creswell, L, 2010. Phytoplankton culture for aquaculture feed. Southern Regional Aquaculture Centre. SRAC Publication No 5004 September 2010, p: 1 – 13.

Effendi, H., M. Kawaroe., D. F. Lestari., Mursalin., and T. Permadi. 2016.

Distribution of phytoplankton diversity and abundance in Mahakam Delta, East Kalimantan. Procedia Environmental Science. Vol. 33. Hal:

496 – 504.

Komala, H. P., L. Nanjundaswami., and A.

G. D. Prasad. 2013. An assessment of Plankton diversity and abundance of Arkavathi River with reference to pollution. Pelagia Research Library.

Vol. 4. No. 2. Hal: 320 – 324.

Kordi dan Tancung, 2007. Pengelolaan Kualitas Air. Cetakan pertama.

Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta. hal.

1 – 201.

(12)

Ade Kurniawan dan Wero Febriadi Mandala, Studi Struktur Komunitas Fitoplankton Di Perairan Pelabuhan Jayapura

12

Kostryukova, A, M., I. V. Mashkova., T. G.

Krupnova., and N. O. Erogov. 2018.

Phytoplankton biodiversity and its relationship with aquatic environmental factors in Lake Uvildy, South Urals, Russia. Biodiversitas.

Vol. 9. No. 4. Hal. 1422 – 1428.

Kumari, S. P., Gayathri. S., and Ramachandra. M. M. 2018.

Phytoplankton Diversity in Bangalore Lakes, Importance of Climate Change and Nature’s Benefits to People.

Journal of Ecology & Natural Resources. Vol. 2. No. 1. DOI:

10.23880/jenr-16000118

Lekang, O. I. 2007. Aquaculture Engineering. First published.

Blackwell Publishing Ltd, 9600 Garsington Road, Oxford OX4 2DQ, UK, p. 97 – 120

Newell, R. C, 1979. Biology of intertidal animal. Marine Ecological Surveys LTD. P. O. Box 6, Faversham, Kent.

U.K. p. 115 - 120.

Raymont, J. E. G. 1980. Plankton and Productivity in the Ocean. Second Edition. Pergamon International Library.

Wilhm, J. L and T. C. Dorris. 1968.

Biological Parameters for Water Quality Criteria. University of california press. Vol. 18. No. 6. Hal:

477 – 481.

Gambar

Gambar 1. Lokasi Penelitian
Gambar 2. Grafik komposisi Fitoplankton  perairan pelabuhan Jayapura
Grafik kelimpahan fitoplankton
Gambar 5. Stasiun II kelimpahan fitoplankton
+5

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur komunitas fitoplankton (komposisi jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Struktur Komunitas Cacing Parasitik pada Ikan Kembung ( Rastrelliger brachysoma dan R. kanagurta ) di Perairan Teluk Banten dan

bahwa di dalam struktur komunitas fitoplankton yang sedang diamati tidak terdapat spesies yang secara ekstrim mendominasi spesies lainnya, parameter- parameter

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2016 sampai Januari 2017. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas perairan, struktur komunitas fitoplankton serta

Ruang lingkup penelitian ini adalah mencermati perubahan kelimpahan dan struktur komunitas Fitoplankton di daerah sekitar reklamasi perairan pantai Seruni Kabupaten

Namun terdapat dua parameter yang tidak termasuk faktor yang diamati pada baku mutu kualitas perairan pelabuhan yaitu nitrat dan fosfat, namun memiliki pengaruh besar

Fitoplankton merupakan salah satu mikroorganisme autotrop yang hidup di perairan dan memiliki fungsi sebagai produsen primer. Keberadaan fitoplankton sangat penting karena

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS PERAIRAN PULAU LOS KOTA TANJUNGPINANG PROVINSI KEPULAUAN RIAU SKRIPSI NURHASIMAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA