KAJIAN EKONOMI MAKRO DAERAH DALAM UPAYA MENYUSUN DOKUMEN PERENCANAAN YANG AKURAT DAN KOMPREHENSIF
(Studi Pada Daerah Kabupaten Gresik)
Oleh: S u t i k n o *
I. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mendorong terciptanya percepatan dan peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi, maka analisis perencanaan yang digunakan harus tidak bersifat parsial yang hanya melihat pengaruh kebijakan sektor tertentu terhadap perkembangan sektor tersebut pula, tetapi haruslah terintegrasi antar sektor dan wilayah. Ini berarti bahwa eksekutif dan legislatif harus memperhitungkan bagaimana kebijakan yang diterapkan pada suatu sektor akan berpengaruh pada sektor lainnya, serta terhadap sejumlah indikator makro ekonomi daerah seperti pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, analisis hubungan antar sektor tesebut juga diperlukan dalam menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah, seperti Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Namun, pada tingkat implementasinya, banyak daerah di seluruh Indonesia (tidak hanya di Kabupaten Gresik) yang mengalami kesulitan terutama dalam hal menganalisis maupun melakukan prediksi terhadap sejumlah indikator makro ekonomi daerah yang dijadikan indikator kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah. Permasalahan utama yang dihadapi antara lain adalah banyak daerah yang melakukan analisis maupun prediksi dengan metode yang sangat sederhana, seperti regresi linier, atau bahkan ada yang lebih sederhana lagi, yaitu hanya menggunakan asumsi berdasarkan hasil pengamatan obyek tertentu. Memang metode-metode tersebut diijinkan untuk digunakan seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010. Namun, kenyataan yang harus disadari adalah bahwa fenomena ekonomi itu tidak bergerak secara linier. Fenomena ekonomi selalu berfluktuasi, bisa bergerak naik, atau turun, akibat berbagai faktor yang mempengaruhinya yang juga bergerak secara unlinier. Fenomena ekonomi bergerak membentuk suatu siklus yang banyak dikenal sebagai business cycles. Karena itu, tidak tepat jika kemudian metode analisis ataupun metode prediksi yang dipergunakan adalah metode linier. Jika dipaksakan mempergunakan metode linier, maka bisa dipastikan hasil analisis maupun prediksinya akan jauh dari kondisi realitasnya.
II. TUJUAN PENELITIAN
pembangunan daerah. Secara lebih khusus, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
menganalisis dan memprediksi indikator-indikator ekonomi makro daerah yang dibutuhkan untuk menyusun dokumen perencanaan;
menganalisis keterkaitan sektoral baik keterkaitan ke belakang (backward linkages) maupun keterkaitan ke depan (forward linkages), serta keterkaitan sektoral regional;
mengidentifikasi sektor yang berpotensi besar untuk dikembangkan karena efek multipliernya (linkage-nya).
III. METODE ANALISIS
Untuk menjawab tujuan kegiatan ini serta untuk menghasilkan output yang ditargetkan pada kegiatan ini, membutuhkan sejumlah metode analis maupun pendekatan teknis tertentu.
3.1. Analisis Input Output (I-O)
Model input-output (untuk selanjutnya disebut model I-O) merupakan sebuah model yang menggunakan kerangka dasar dari Tabel I-O. Model ini dapat digunakan untuk analisis deskriptif yang menggambarkan struktur perekonomian suatu wilayah, dan keadaan transaksi aliran antar sektor maupun intra sektor. Selain itu juga dapat digunakan untuk melakukan perencanaan (planning) dan prediksi (forcasting). Hirschman mengungkapkan segi keterkaitan (linkages) di antara berbagai ragam kegiatan ekonomi. Hal itu menyangkut keterkaitan antar sektor maupun keterkaitan intra sektor. Keterkaitan dengan kegiatan industri di tahap menyusul (industri hilir) bersifat forward linkages. Sebaliknya, keterkaitan dengan kegiatan industri di tahap yang mendahuluinya (industri hulu) adalah bersifat backward linkage
(Djojohadikusumo, 1994)
Setelah disiapkan matrik I-O daerah pada dua kurun waktu berbeda, tahap berikutnya adalah melakukan analisis I-O yang terdiri atas tiga bagian meliputi: (1) analisis keterkaitan, (2) analisis sektor-sektor kunci, dan (3) analisis efek multiplier.
3.2. Artificial Neural Network
Artificial neural network (ANN) atau jaringan syaraf tiruan, merupakan suatu model pengelolaan informasi dengan karakteristik dan ide dasar yang berasal dari struktur dan cara kerja otak serta sel syaraf manusia (neuron) karena manusia dianggap sebagai sistem yang paling sempurna. ANN dilahirkan sebagai salah satu upaya generalisasi model matematik dengan diilhami dari model jaringan syaraf biologis. Berbagai usaha memodelkan otak manusia telah dilakukan dan memunculkan tiga golongan model (Affandi, 1994). Adapun golongan tersebut adalah sebagai berikut:
° golongan kedua meniru cara kerja manusia yang tidak. pernah
dilakukan dalam variabel tegas (crisp). Semua variabel yang diolah dalam otak manusia bersifat samar (fuzzy). Dengan menggabungkan variabel samar dengan sistem pakar meka lahirlah fuzzy logic;
° golonganketiga lahir dari usaha memodelkan sel syaraf. Oleh karena itu, disebut sebagai jaringan syaraf tiruan atau artificial neural network
(ANN).
IV. HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Analisis dan Prediksi Indikator Ekonomi Makro Daerah
Prediksi indikator ekonomi makro maupun indikator-indikator bidang urusan lainnya dilakukan dengan menerapkan metode
Tabel 1. Hasil Analisis dan Prediksi Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Gresik
No
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
A ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
A.I Indikator Kesejahteraan dan Pemerataan Eko.
1 Pertumbuhan PDRB 6.8851 7.3628 7.3725 6.4333 7.1273 7.8450 8.2647 6.8850
2 Laju inflasi 6.9600 3.7900 4.1900 6.5800 4.2500 2.3700 2.5959 2.7595
3 PDRB per kapita 1,237,675 1,270,351 1,307,995 1,393,651 1,487,760 1,599,681 1,758,460 1,871,552
4 Indeks Gini 0.5700 0.5300 0.4909 0.4462 0.4156
5 Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia 0.1500 0.1601 0.1735 0.1887 0.2024
6 Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) 0.7400 0.6853 0.6352 0.5705 0.5293
7 Persentase penduduk diatas garis kemiskinan 0.8544 0.8634 0.8724 0.8822 0.8930 0.9007
8 Angka kriminalitas yang tertangani 436 201 332 311 288 267 243 226
A.I
I Indikator Pendidikan
1 Angka rata-rata lama sekolah 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun 8 Tahun
2 Angka partisipasi kasar 0.8724 0.9123 0.9182 0.9236 0.9294 0.9346 0.9402 0.9443
3 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 0.9880 0.9877 0.9886 0.9894 0.9901 0.9909 0.9918 0.9923
4 Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 0.9395 0.9473 0.9512 0.9541 0.9574 0.9608 0.9643 0.9668
5 Angka Partisipasi Murni (APM))
SMA/SMK/MA/Paket C 0.6221 0.7247 0.7450 0.7614 0.7785 0.7956 0.8154 0.8283
A.I
II Indikator Kesehatan
1 Angka usia harapan hidup 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun 71 Tahun
2 Persentase balita gizi buruk 0.0107 0.0135 0.0132 0.0755 0.0706 0.0647 0.0592 0.0552
A.I
V Indikator Ketenagakerjaan
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 A.
V Indikator Kebudayaan
1 Jumlah grup kesenian 174 234 250 265 284 306 333 355
A.
VI Indikator Pemuda dan Olahraga
1 Jumlah klub olahraga 513 510 541 578 620 671 731 783
2 JJumlah gedung olahraga 383 383 338 359 385 413 454 484
B ASPEK PELAYANAN UMUM I Indikator Layanan Urusan Wajib I.1 Pendidikan dasar:
1 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah 535 540 544 547 551 555 559 562
2 Rasio guru/murid 915.0482 918.8322 930.7055 935.0871 939.6961 944.7224 949.8982 953.0473
I.2 Pendidikan menengah:
1 Rasio guru terhadap murid 915.0482 918.8322 930.7055 935.3941 940.1954 944.7165 950.1145 953.6737
2 Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) 0.9447 0.9509 0.9546 0.9576 0.9605 0.9639 0.9670 0.9692
I.3 Fasilitas Pendidikan:
1 Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik 0.8917 0.8866 0.8884 0.8953 0.9035 0.9103 0.9189 0.9247
2 Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA kondisi bangunan baik 0.9315 0.9338 0.9351 0.9394 0.9438 0.9478 0.9531 0.9565
I.4 Kesehatan
1 Rasio posyandu per satuan balita 0.0765 0.0758 0.0738 0.0754 0.0771 0.0790 0.0810 0.0823
2 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk 0.0881 0.0858 0.0833 0.0844 0.0855 0.0867 0.0879 0.0888
3 Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk 0.0048 0.0047 0.0069 0.0071 0.0073 0.0075 0.0078 0.0079
4 Rasio dokter per satuan penduduk 0.1050 0.1197 0.1261 0.1309 0.1360 0.1409 0.1459 0.1498
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
6 Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 0.8622 0.8435 0.9181 0.9230 0.9287 0.9340 0.9406 0.9444
7 Cakupan puskesmas 1.7778 1.7778 1.7778 1.7778 1.7778 1.7778 1.7778 1.7778
8 Cakupan puskesmas pembantu 0.2333 0.2333 0.2333 0.2333 0.2333 0.2333 0.2333 0.2333
I.5 PekerjaanUmum
1 Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik 0.2794 0.2842 0.3417 0.3516 0.3631 0.3747 0.3869 0.3943
2 Rasio Jaringan Irigasi
3 Rasio tempat ibadah per satuan penduduk 0.0000 3.1684 2.9236 2.9992 3.0756 3.1542 3.2357 3.2870
4 Persentase rumah tinggal bersanitasi 93.5000 95.4600 95.7939 96.0651 96.3719 96.6467 96.9880 97.1855
5 Panjang jalan dilalui Roda 4 626.2600 626.0000 626.0100 627.4579 629.2034 630.7297 632.4938 633.7997
6 Jalan Penghubung dari ibukota kecamatan ke kawasan pemukiman penduduk (mimal dilalui roda 4)
7 Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik ( > 40 KM/Jam ) 0.2533 0.2656 0.3359 0.3469 0.3571 0.3673 0.3803 0.3887
I-6 Perumahan
1 Rumah tangga pengguna air bersih 93.5000 95.4600 95.8036 96.0650 96.3445 96.6478 96.9359 97.1297
2 Rumah tangga pengguna listrik 98.8900 99.8800 99.8886 99.8956 99.9024 99.9093 99.9185 99.9237
3 Rumah tangga ber-Sanitasi 82.3900 85.1200 86.1111 87.0799 87.9473 88.8635 89.8345 90.5515
I.7 Penataan Ruang
1 Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan 0.1580 0.1589 0.1629 0.1637 0.1645 0.1653 0.1663 0.1670
I.8 Perencanaan Pembangunan
1 Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
2 Tersedianya Dokumen Perencanaan: RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
4 Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
I.9 Perhubungan
1 Jumlah arus penumpang angkutan umum
2 Rasio ijin trayek 0.0004 0.0004 0.0004 0.0004 0.0004 0.0004 0.0004 0.0004
I.1
0 Pertanahan
1 Penyelesaian izin lokasi 0.6875 0.7600 0.9474 0.9509 0.9546 0.9582 0.9619 0.9645
I,1
1 Kependudukan dan Catatan Sipil
1 Kepemilikan KTP 0.9843 0.9732 0.9750 0.9768 0.9787 0.9806 0.9819
2 Ketersediaan database kependudukan skala provinsi Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
3 Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Belum Belum Ada Ada Ada Ada Ada Ada
I.1
2 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 0.0247 0.0335 0.0340 0.0345 0.0351 0.0357 0.0363 0.0368
2 Partisipasi perempuan di lembaga swasta 0.1955 0.2697 0.3129 0.3209 0.3285 0.3366 0.3456 0.3518
3 Rasio KDRT 0.0108 0.0180 0.0177 0.0172 0.0166 0.0158 0.0149 0.0141
4 Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur
5 Partisipasi angkatan kerja perempuan 0.9115 0.9179 0.9244 0.9295 0.9341 0.9391 0.9451 0.9488
I.1
3 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
1 Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I 0.3186 0.3195 0.3108 0.3088 0.3065 0.3036 0.3002 0.2973
I.1
4 Ketenagakerjaan
1 Angka partisipasi angkatan kerja 0.5932 0.5825 0.5874 0.5918 0.5958 0.6002 0.6046 0.6076
2 Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun 0.1759 0.1376 0.1172 0.1134 0.1089 0.1035 0.0972 0.0915
3 Tingkat partisipasi angkatan kerja 0.6878 0.6503 0.6058 0.6152 0.6249 0.6363 0.6478 0.6554
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
5 Tingkat pengangguran terbuka 0.0770 0.0469 0.0652 0.0632 0.0608 0.0579 0.0543 0.0513
6 Keselamatan dan perlindungan 0.6135 0.7392 0.7188 0.7380 0.7559 0.7749 0.7977 0.8122
7 Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah 0.8837 0.7761 0.7833 0.7986 0.8123 0.8274 0.8437 0.8537
I.1
5 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah
1 Persentase koperasi aktif 0.8042 0.8248 0.8298 0.8418 0.8539 0.8657 0.8780 0.8856
2 Usaha Mikro dan Kecil 0.0043 0.0103 0.0173 0.0232 0.0302 0.0354
I.1
6 Penanaman Modal
1 Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 154 246 448 472 495 521 548 567
I.1
7 Kepemudaan dan Olahraga
1 Jumlah organisasi pemuda 569 569 381 394 409 423 440 451
2 Jumlah organisasi olahraga 513 510 541 567 594 622 651 669
3 Lapangan olahraga 0.3095 0.3015 0.2584 0.2715 0.2852 0.2987 0.3142 0.3254
I.1
8 Kesatuan Bangsadan Politik Dalam Negeri
1 Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk 172 164 166 168 170 172 173
2 Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk 170.2386 165.8361 99.4729 89.7801 77.9858 65.7401 50.3750 36.3543
3 Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan adiministrasi pemerintah Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
4 Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten 0.0170 0.0166 0.0099 0.0094 0.0088 0.0080 0.0071 0.0063 I.1
9 Ketahanan Pangan
1 Regulasi ketahanan pangan 1 1 1 1 1 1 1 1
I.2
0 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 I.2
1 Statistik
1 Buku ”kabupaten dalam angka” Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
2 Buku ”PDRB kabupaten” Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
I.2
2 Komunikasi dan Informatika
1 Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 1.2176 1.1587 1.3349 1.3137 1.2871 1.2559 1.2169 1.1849
2 Web site milik pemerintah daerah Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
I.2
3 Perpustakaan
1 Jumlah perpustakaan 1 1 1 1 1 1 1 1
2 Indikator Layanan Urusan Pilihan I.2
4 Pertanian
1 Produktivitas padi atau bahan pangan utama
lokal lainnya per hektar 5.2535 4.8895 4.9275 4.9580 4.9895 5.0278 5.0657 5.0918
2 Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB 0.0851 0.0817 0.0783 0.0773 0.0758 0.0741 0.0718 0.0700
3 Kontribusi sektor pertanian (palawija) terhadap PDRB 0.3945 0.3880 0.3815 0.3545 0.3236 0.2856 0.2355 0.1965
4 Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB 0.0233 0.0235 0.0238 0.0246 0.0253 0.0260 0.0269 0.0274
I.2
5 Energi dan Sumber Daya Mineral
1 Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB 0.0432 0.0451 0.0472 0.0492 0.0511 0.0533 0.0556 0.0573
I.2
6 Pariwisata
1 Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB 0.0015 0.0016 0.0016 0.0016 0.0016 0.0016 0.0016 0.0016
I.2
7 Kelautan dan Perikanan
1 Produksi perikanan 1.3033 1.8101 1.8455 1.8787 1.9117 1.9485 1.9716
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
3 Cakupan bina kelompok nelayan 0.0003 0.0003 0.0003 0.0009 0.0016 0.0022 0.0029 0.0034
4 Produksi perikanan kelompok nelayan 0.2829 0.2925 0.1696 0.1917 0.2151 0.2376 0.2640 0.2812
I.2
8 Perdagangan
1 Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB 0.2132 0.2211 0.2282 0.2296 0.2311 0.2327 0.2346 0.2358
2 Ekspor Bersih Perdagangan 733,202,
348 2,540,515,272 1,637,844,764 1,780,131,870 1,936,000,756 2,098,956,664 2,270,697,460 2,373,087,946 I.2
9 Perindustrian
1 Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB 0.5073 0.5007 0.4952 0.4929 0.4900 0.4865 0.4827 0.4793
2 Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri 0.0526 0.0530 0.0532 0.0534 0.0535 0.0537 0.0538 0.0539
3 Pertumbuhan Industri. 0.0560 0.0597 0.0620 0.0624 0.0628 0.0632 0.0637 0.0639
I.3
0 ASPEK DAYA SAING DAERAH
1 Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita 306,597 311,633 316,446 317,586 318,621 319,621 320,805 321,550
2 Pengeluaran konsumsi non pangan perkapita 0.4519 0.4939 0.4967 0.4994 0.5021 0.5050 0.5079 0.5099
I.3
1 Perhubungan
1 Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan 0.0018 0.0014 0.0014 0.0013 0.0013 0.0012 0.0011 0.0011
I.3
2 Penataan Ruang
1 Luas wilayah industri 0.0252 0.0252 0.0252 0.0252 0.0252 0.0252 0.0252
I.3
3 Lingkungan Hidup
1 Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih 0.2040 0.2077 0.2109 0.2122 0.2137 0.2151 0.2165 0.2176
I.3
4 Komunikas dan Informatika
1 Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik 0.5948 0.7190 0.6820 0.6904 0.7001 0.7091 0.7181 0.7249
. INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 I.3
5 Inikator Iklim Berinvestasi
1 Angka kriminalitas 5.8093 5.6599 6.0398 5.9357 5.8149 5.6650 5.4772 5.3094
2 Jumlah demo 40 38 58 60 62 64 67 69
3 Lama proses perijinan 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari 7,7 hari
4 Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah 10 pajak
33 retribusi 33 retribusi10 pajak 33 retribusi10 pajak 33 retribusi10 pajak 33 retribusi10 pajak 33 retribusi10 pajak
5 Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha 5 3 3 3 3 3 3
4.2. Analisis Backward Linkages dan Forward Linkages
Setiap aktivitas ekonomi suatu daerah tentunya akan menghasilkan efek terhadap aktivitas ekonomi lainnya. Berdasarkan hasil analisa input-output Kabupaten Gresik, nilai multiplier yang dapat dihasilkan oleh masing masing sektor adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Analisis Input-Output
19 Hasil Perkebunan Lainnya 1.18274 1.00607
20 Sapi 1.40686 1.23237
26 Ternak dan hasil ternak lainnya 1.38591 1.00937
27 Perikanan Laut 1.67414 1.13348
28 Ikan Darat Dan Hasil Perairan Darat
1.64447 1.18816
29 Minyak Bumi 1.03025 1.18859
30 pertambangan dan penggalian
Kode Uraian Sektor
33 Roti, Biskuit Dan Sejenisnya 1.44567 1.25132
34 Industri makanan lainnya 1.68834 1.36002
35 Minuman 1.40234 1.07066
36 Tekstil, Dan Bahan Tekstil 1.40720 1.11124
37 Pakaian Jadi 1.36871 1.25511
38 Permadani, Tali Dan Tekstil Lainnya
1.55022 1.47926
39 Kulit, Dan Barang Dari Kulit 1.48669 1.04053
40 Alas Kaki 1.63662 1.05574
41 Bambu Kayu Dan Rotan 1.47132 1.34992
42 Kertas Dan Karton 1.54169 2.07516
43 Barang-Barang Dari Kertas Dan Karton
1.10077 1.00053
44 Kimia Dasar Kecuali Pupuk 1.14349 1.73799
45 Pupuk Dan Pestisida 1.05238 5.97191
46 Obat-Obatan Dan Jamu 1.07800 1.42588
47 Sabun, Barang Pembersih Dan Kosmetik
1.45436 1.42158
48 Barang-Barang Kimia Lainnya 1.42175 1.65920
49 Barang-Barang Hasil Kilang
Minyak 1.62831 2.47538
50 Karet Remah Dan Barang Dari Karet
53 Kaca Dan Barang-Barang Dari Kaca
1.62057 1.20131
54 Semen, Kapur Dan Barang Lainnya Bukan Logam
1.04236 1.38282
55 Logam Dasar Besi Dan Baja 1.64732 1.35770
56 Industri Barang Dari Logam 1.66115 2.75578
57 Industri Mesin Dan
60 Kapal Dan Perbaikannya 1.52958 1.11703
Kode Uraian Sektor
63 Listrik Dan Gas 1.31605 2.38898
64 Air Bersih 1.78343 1.57392
65 Bangunan 1.40636 1.58404
66 Jasa Perdagangan 1.17267 6.99905
67 Jasa Perhotelan 1.51598 1.01273
68 Jasa Restoran 1.58603 1.16558
69 Angkutan Kereta Api 1.65758 1.00872
70 Angkutan jalan raya 1.79723 2.11942
71 Angkutan Laut 1.95426 1.64041
72 Angkutan Penyeberangan 1.87489 1.01658
73 Jasa Penunjang angkutan 1.03730 1.07528
74 Jasa Komunikasi 1.04015 1.29812
75 Bank 1.99371 1.81109
76 Lembaga Keuangan Lainnya 1.69641 1.49048
77 Sewa Bangunan 1.10772 1.34830
78 Jasa Perusahaan 1.51270 1.40516
79 Jasa Pemerintahan 1.68312 1.58181
80 Jasa Pendidikan Swasta 1.36365 1.28620
81 Jasa Sosial Kemasyarakatan Lainnya
1.34508 1.02245
82 Jasa Hiburan, Rekreasi Dan Kebudayaan
1.67241 1.16342
83 Jasa Perorangan Dan Rumah Tangga
1.45958 2.10102
Dalam penghitungan indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan tabel input-output Kabupaten Gresik, setidaknya terdapat 14 sektor yang masuk dalam kategori memiliki nilai indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan yang tinggi. Sektor-sektor ini masuk dalam kategori unggulan di Kabupaten Gresik. Sektor-sektor ini diyakini, berdasarkan pendekatan analisa input-output, memiliki kemampuan untuk menggerakkan sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang atau penyuplai input sektor tersebut yang tinggi di atas rata-rata total perekonomian, serta output sektor tersebut banyak dimanfaatkan oleh sektor lainnya di Kabupaten Gresik sebagai input antara. Sektor-sektor unggulan tersebut antara lain:
Kode Uraian Sektor Daya
38 Permadani, Tali Dan Tekstil Lainnya 1.063960 1.015261 38 Permadani, Tali Dan Tekstil Lainnya 1.063960 1.015261
42 Kertas Dan Karton 1.058105 1.424241
49 Barang-Barang Hasil Kilang Minyak 1.117558 1.698927
56 Industri Barang Dari Logam 1.140096 1.891377
64 Air Bersih 1.224020 1.080227
70 Angkutan jalan raya 1.233493 1.454620
71 Angkutan Laut 1.341264 1.125862
75 Bank 1.368345 1.243002
76 Lembaga Keuangan Lainnya 1.164297 1.022958
79 Jasa Pemerintahan 1.155177 1.085640
83 Jasa Perorangan & RT 1.001752 1.441991
E. Sektor-sektor Potensial
Kabupaten Gresik memiliki delapan sektor potensial dengan karakteristik memiliki kemampuan pemanfaatan output oleh sektor lainnya/keterkaitan ke depan yang di atas rata-rata total seluruh perekonomian namun memiliki kemampuan untuk menyerap sektor yang menyumbang input/keterkaitan ke belakang masih dibawah rata-rata total seluruh perekonomian. Sektor tersebut masih potensial untuk dikembangkan karena masih memiliki keunggulan dari salah satu keterkaitan. Sektor-sektor potensial tersebut antara lain:
Tabel 4. Hasil Analisis Sektor Potensial
Kode Uraian Sektor Daya
Penyebaran
Derajat Kepekaan
44 Kimia Dasar Kecuali Pupuk 0.784811 1.192834
45 Pupuk Dan Pestisida 0.722280 4.098703
48 Barang-Barang Kimia Lainnya 0.975793 1.138758
52 Bahan Bangunan, Keramik Dan Barang-Barang Dari Tanah Liat
0.690376 1.099601
58 Barang-Barang Elektronika, Komunikasi Dan Perlengkapannya
0.739410 1.066435
63 Listrik Dan Gas 0.903246 1.639627
65 Bangunan 0.965226 1.087176
66 Jasa Perdagangan 0.804838 4.803657
lainnya yang dimiliki oleh kabupaten Gresik adalah sektor potensial yang memiliki karakteristik tinggi keterkaitan ke belakang namun keterkaitan ke depan yang rendah. Sektor-sektor tersebut masih dapat masuk dalam kategori potensial karena setidaknya memiliki kemampuan untuk menggerakan sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang. Sektor-sektor potensial tersebut antara lain:
Tabel 6. Hasil Analisis Sektor Potensial
Kode Uraian Sektor Daya
10 Tanaman Bahan Pangan lainnya 1.081485 0.793478
23 Ayam 1.057126 0.858857
24 Telur 1.039467 0.69704
25 Unggas Lainnya 1.039036 0.687911
27 Perikanan Laut 1.149015 0.777944
28 Ikan Darat Dan Hasil Perairan Darat 1.128649 0.815469 31 Pengol. & Pengawetan Ikan & Biota 1.035549 0.983127
32 Beras 1.396346 0.688282
34 Industri makanan lainnya 1.158758 0.933426
39 Kulit, Dan Barang Dari Kulit 1.020361 0.714145
40 Alas Kaki 1.123260 0.724585
41 Bambu Kayu Dan Rotan 1.009809 0.926491
50 Karet Remah Dan Barang Dari Karet 1.048766 0.799067
51 Barang-Barang Plastik 1.098946 0.906508
53 Kaca Dan Barang-Barang Dari Kaca 1.112246 0.824491
55 Logam Dasar Besi Dan Baja 1.130606 0.931831
57 Industri Mesin Dan Perlengkapannya 1.028593 0.859652
60 Kapal Dan Perbaikannya 1.049799 0.766653
67 Jasa Perhotelan 1.040462 0.695066
68 Jasa Restoran 1.088539 0.799972
69 Angkutan Kereta Api 1.137647 0.692313
72 Angkutan Penyeberangan 1.286796 0.697711
78 Jasa Perusahaan 1.038213 0.964405
82 Jasa Hiburan, Rekreasi Dan Kebudayaan
1.147822 0.798493
Berdasarakan hasil analisis dan mengamati secara langsung dinamika kondisi makro ekonmi daerah Kabupaten Gresik, maka ditemukan beberapa temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut.
Pertama, berdasarakan hasil analisis terhadap indikator kinerja ekonomi makro dari aspek kesejahteraan masyarakat ditemukan ada beberapa indikator yang menunkkukkan nilai positif dan sebagian kecil masih perlu diperbaiki. Indikator yang menunjukkan nilai positif diantaranya: (a) laju inflasi dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend menurun; (b) PDRB per Kapita menunjukkan trend meningkat; (c) Indeks Gini dan indeks pemerataan, dan indeks ketimpanganregional menunjukkan nilai penurunan, dengan demikian tingkat pemerataan semakin membaik; (d) persentase penduduk diatas garis kemiskinan, menunjukkan trend meningkat. Sedangkan indikator yang masih perlu ditingkatkan kinerjanya dan memerlukan kebijakan khusus antara lain indikator: (a) pertumbuhan PDRB dalam lima tahun terakhir masih belum stabil; (b) angka kriminalitas juga masih menunjukkan trend yang fluktuastif, bahakan tahun 2012 meningkat hampir 60% dibandingkan tahun 2011. Sedangkan berdasarakan hasil analisis dari indikator pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta seni budaya dan olahraga secara umum menunjukkan hasil posistif.
Berdasarakan hasil analisis terhadap indikator kinerja ekonomi makro dari aspek pelayanan umum dari seluruh inidkator secara umum sudah menunjukkan hasil yang positif, namun ditemukan beberapa inidkator yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu: (a) pelayanan pendidikan dari aspek fasilitas fisik secara kuantitas sudah menunjukkan capaian yang postif, namun dari aspek rasio kecukupan guru baik di tingkat sekolah dasar dan menengah masih relatif kurang; (b) pelayanan tempat pelayanan kesehatan baik posyandu dan puskesmas sudah relatif memadai, namun jumlah tenaga medis masih perlu ditambah, mengingat rasionanya masih relatif tinggi (satu tenaga medis melayani 80-100 orang); (c) perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah masih sering terjadi.
Kedua, berdasarkan analisis keterkaitan sektoral baik keterkaitan ke belakang (backward linkages) maupun keterkaitan ke depan (forward linkages), ditemukan beberapa temuan yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) Sektor yang mempunyai nilai backward linkages dan forward linkages tinggi (Indeks Daya penyebaran > 1, Indeks Derajat Kepekaan > 1) antara lain: padi, mangga, permadani, kertas, barang-barang hasil kilang minyak, industri barang dari logam, air bersih, angkutan jalan raya, angkutan laut, bank, lembaga keungan lainnya, jasa pemerintah, dan jasa perorangan dan rumah tangga; Sektor ini di yakni berdasarkan pendekatan analisa input-output memiliki kemampuan untuk menggerakan sektor yang memiliki keterkaitan kebelakang atau penyuplai input sektor tersebut yang tinggi diatas rata-rata total perekonomian serta output sektor tersebut banyak dimanfaatkan oleh sektor lainnya di Kabupaten Gresik sebagai input antara; (b) Sektor yang mempunyai nilai backward linkages rendah dan forward linkages tinggi (Indeks Daya penyebaran < 1, Indeks Derajat Kepekaan > 1) antara lain: kimia dasar, pupuk dan pestisida, barang kimia lainnya, bahan bangunan, barang elektronik, listrik dan gas, bangunan, dan jasa perdagangan; Sektor tersebut memiliki keterkaitan kebelakang yang rendah diakibatkan oleh faktor input yang digunakan untuk memproduksi sektor tersbut pada umumnya diperoleh dari impor luar daerah gresik baik impor antar daerah maupun impor dari luar negeri; (c) Sektor yang mempunyai nilai backward linkages tinggi dan forward linkages rendah (Indeks Daya penyebaran > 1, Indeks Derajat Kepekaan < 1) antara lain: jagung, katela pohon, umbi-umbian, kacang tanah, kedele, kacang-kacangan lain, sayur-sayuran, tanaman bahan pangan, ayam, telur, unggas, perikanan laut, ikan darat, pengolahan dan pengawetan ikan dan biota, beras, indsutri makanan dan minuman, kulit, alas kaki, bambu, karet, barang plastik, kaca, logam dasar, industri mmesin, kapal, jasa hotel, jasa restoran, angkutan kereta api, angkutan penyeberangan, jasa perusahan, dan jasa hiburan.
Ketiga, berdasarakan analisis sektor yang berpotensi besar untuk dikembangkan karena efek multipliernya (linkage-nya), ditemukan beberapa temuan sebagai berikut: (a) sektor yang paling berdampak
Berdasarakan hasil temuan-temuan diatas, maka saran yang bisa disampaikan dalam kajian ini antara lain:
1. Dalam upaya menyusun produk rencana yang akurat dan komprehensif tentunya dibutuhkan ketersediaan data yang lengkap. Dalam kajian ini tidak semua indikator bisa dianalisis karena keterbatasan data, untuk itu kedepan kelengkapan data perlu mendapat perhatian.
tinggi, namun masih cenderung fluktuatif. Lima tahun kedepan sebaiknya fokus pemerintah lebih mengarah pada stabilitas dan pemerataan pertumbuhan, melalui perbaikan iklim dan pemerataan invastasi ke daerah tertinggal.
3. Penyediaan pelayanan umum masih perlu ditingkatkan khususnya pada aspek peningkatan kualitas pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan terutama kulitas pendidik dan ketersediaan tenaga medis.
4. Pelayanan fasilitas umum terutama jalan dan jembatan perlu tingkatkan dalam upaya mendorong lalulintas barang-barang industri dan perdagangan anatar daerah.
5. Penanganan ketertiban umum perlu ditingkatkan, melalui pendekatan yang lebih persuasif, terutama yang berkaitan dengan demo dan senketa pengusaha dan buruh. Kondisi ini bisa mengancam iklim investasi yang kondusif di Kabupaten Gresik. 6. Dalam pengembangan ekonomi sektoral, Sebaiknya pemerintah
tidak hanya fokus pada sektor industri saja, mengingat potensi sektor pertanian khususnya tanaman pangan dan perikanan sangat potensial untuk menggerakkan ekonomi di Kabupaten Gresik.
7. Pemerintah sebaiknya juga mengembangkan agroindustri dan makanan minuman untuk mengintegrasikan antara sektor pertanian dan industri di kabupaten Gresik.
Abdullah, P., Alisjahbana, A., Effendi, N., Boediono. 2002. Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indonesia, BPFE Yogyakarta.
Adisasmita, Raharjo, 2005, Dasar-dasar Ekonomi Wilayah, Graha Ilmu, Yogyakarta
Akita, T.1999.The Role of the Kanto Region in the Growth of Japanese Regional Economies 1965-1985: An Extended Growth Factor Decomposition Analysis. In Understanding and Interpreting Economic Structure, edited by G.J.D. Hewing, M.Sonis, M. Madden dan Y.Kitamura, 155-166, Gerlin/Heidelberg. Springer-Verlag.
Amirudin, Ardani. 1992. Analysis of Regional Growth and Disparity The Impac Analysis of the INPRES Project on Indonesia Development, a Doctor desertasion, USA: University of Pennsylvania Philadelphia
Anderson, J, (1978). Public Policy-Making, Second edition, Holt, Rinehart and Winston: 1979 dalam Islamy, Irfan, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara, Cetakan 12, Bumi Aksara, Jakarta:2003.
Arief, M Idris. 2007. PengembanganEkonomi Rakyat. www.ekofeum.or.id. Arsyad Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan (Edisi Ketiga), Yogyakarta:
STIE-YKPN.
Arsyad Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, BPFE, Yogyakarta
Badrudin Rudy. 1999. Pembangunan Wilayah Propinsi Istimewa Yogyakarta Pendekatan Teoritis. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. 4 No. 2
Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik . Penerbit BPFE, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Biro Neraca Produksi dan Biro Neraca Konsumsi dan Akumulasi, 1995, Tabel Input – Output, Kerangka Teori dan Analisa, Biro Pusat Statistik, Vieky Citra Buana, Jakarta
Boediono, 1985. Ekonomi Makro. Yogyakarta: BPFE
Blakely, Edward. J. 1994. Planing Local Economic Development Theory and Practice, Second Edition,USA, Sage Publication.
Blau, M Peter dan M. W. Meyer.1987. BirokrasiMasyarakat Modern, EdisiKedua, CetakanPertama, AlihBahasa Gary RachmanJusuf, UI-Press, Jakarta.
BPS, 2000 Teknik Penyusunan Tabel Input –Output, Jakarta
BPS. (1998). 1996 Economic Census Complete Count Result: Indonesia, Jakarta: Biro Pusat Statistik.
D.A. Garvin, 1994, KualitasProduk :AlatStrategi Yang Penting, Free Press Dick, H., Fox, J. J., & Mackie, J. (Eds.). 1993. Balanced Development:
East Java in the New Order, Singapore: Oxford University Press Gujarati, Damodar. 1995. Basic Ekonometrics (3rd edition ed), New York,
Mc-Graw Hill, Inc
Glasson, J. 1974. An Introduction to Regional Planning, Hutchinson Education, London
Haerudin, Andi. 2001. Identifikasi Kecamatan Sebagai Pusat Pertumbuhan Wilayah di Kabupaten Soppeng 1994/1995-1999/2000, Tesis S-2 Program Pascasarjana UGM, Tidak dipublikasikan.
Harris, Richard, 1995, Cointegration Analysis in Econometric Modelling, Prentice Hall, New York.
Hill, H. 1996. The Indonesian Economy Since 1966: Southeast Asia's Emerging Giants, Cambridge: Cambridge University Press.
Isard, W. 1956. Location and Space Economy, Cambridge: MIT Press. Juoro, U. 1989. Perkembangan Studi Ekonomi Aglomerasi dan Implikasi
Bagi Perkembangan Perkotaan di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Vol. 37 No. 2
Kadariah. 1985. Ekonomi Perencanaan, Lembaga Penerbit FE-UI
Kuncoro M. 2003. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi (Bagaimana Meneliti dan Menulis Tesis), Erlangga, Jakarta.
Kuncoro M. 2001. Analisis Spasial dan Regional (Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia, UPP AMPYKPN, Yogyakarta
Kuncoro, M., Adji, A., & Pradiptyo. R. (1997).Ekonomi Industri: Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia, Yogyakarta: Widya Sarana Informatika.
Kuncoro, M. (2003). Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan. (1st ed.), Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kuncoro, M dan Aswandi, H. 2002. Evaluasi Penetapan kawasan andalan: studi empiris di Kalimantan Selatan 1993 – 1999, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia , Vol. 17, No. 1. 27 – 45. UGM, Jogjakarta
Kunarjo, 2000. Perencanaan dan Pembiayaan Pembangunan, Jakarta, UI Press
Nazara, Suahasil, 1994, Pertumbuhan Ekonomi Regional Indonesia, Suatu Aplikasi Fungsi Produksi Agregat Indonesia, 1985 – 1991, Prisma, No 04 April
Nazara, Suahasil, 2005, Analisa Input – Ouput, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Maijidi, Nasyith. 1997. Anggaran Pembangunan dan Ketimpangan Ekonomi antar Daerah,Prisma, No. 3
Mishkin, Frederic S., 1996, “What Monetary Policy Can and Cannot Do,” Conference on Monetary Policy in Transition in East and West: Strategies, Instruments and Transmission Mechanism, November 17-19, Vienna.
Mishkin, Frederic S., 2001, The Economics of Money, Banking, and Financial Market, sixth edition, Addison Wesley Longman.
Mulyana Soekarni PPSK- BI / FE UNPAD, Profil dan Pemetaan Daya Saing Ekonomi Daearah Kabupaten/Kota, PT.Raja Grafindo Persada Jakarta
Munir, Badrul, 2002, Perencanaan Pembangunan Daerah dalam Perspektif Otonomi Daerah, cetakan ke-2 2002, Bappeda Propinsi NTB, Mataram.
Perroux. 1950. Ekonomic Development Culture Change, Growth and Development, Hafner Publishing Company, New York
Sadono,Sukirno, 1976,BeberapaAspekDalamPersoalan
PembangunanDaerah, FakultasEkonomiUniversitas Indonesia, Jakarta
Setyarini, Djati. 1999. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesenjangan Pembangunan Ekonomi antar Daerah di Propinsi Jawa Tengah,
Tesis S-2 Program Pascasarjana, UGM, Tidak dipublikasikan.
SetiawanBudi. 2009,Analisis Peran Sektor Ekonomi Yang Berpengaruh Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja(Studi Pada Kabupaten/Kota Di Wilayah Jawa Timur). Tesis.FAkultasEkonomiUniversitasBrawijaya Simanjuntak, Payaman J. 1998. PengantarEkonomiSumberDayaManusia.
Jakarta: FE UI.
Sjafrizal. 1997. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat, Prisma, LP3ES, No.3
Soepono, Prasetyo. 1998. Peranan Daerah Perkotaan Bagi Pembangunan Regional: Penerapan Model Van Thunen yang dimodifikasi di Indonesia,Junal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 13 No.2
Soepono, Prasetyo. 1999. Teori Lokasi: Representasi Landasan Mikro Bagi Teori Pembangunan Daerah, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 14 No.4
Sumarsono, Sony. 2003. EkonomiManajemenSumberDayaManusia dan Ketenagakerjaan. Yogyakarta :GrahaIlmu.
Sukirno, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan, LP3ES UI, Jakarta Sukirno, Sadono, 1995. MakroEkonomi. Edisi 1, CetakanKetiga, PT. Raja
GrafindoPersada, Jakarta.
Sukirno, Sadono. 2005. MakroEkonomi Modern. Jakarta : Raja GrafindoPersada.
Sutarno. 2002. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan PDRB Per Kapita Antar Kecamatan Di Kabupaten Banyumas, (1993-2000), Tesis S-2 Program Pascasarjana UGM, Tidak dipublikasikan
Suzetta, P. 2007 . Perencanaan Pembangunan Indonesia . Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS . www.bappenas.go.id. (pdf) Di akses, 3 November 2007
Todaro, Michael, P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh (diterjemahkan oleh Haris Munandar), Erlangga, Jakarta Warpani, Suwarjoko. 1983. Analisis Kota dan Daerah, Edisi ketiga, ITB
Bandung
Wei, Y., Dennis and Fan, C., Cindy. 2000. Regional Inequality in China: Acase Study of Jiangsu Province, Asian Economic Journal, Vol 52 Williamson, J.G. 1965. Regional Inequality and The Process of National
Development, a description of Pattern, Economic Development and Cultural Change, Vol. XXXVII No. 27, 11-13.
Ying, Long, G. 2000. China’s Changing Regional Disparities during the Reform Period, Economic Geography, Vol. XXIV No. 7